Another Rainy Days [Oneshot]

another

Tittle                : Another Rainy Days

Genre              : SadRomance

Cast                 : Lee Hyuk Jae, Kim Yoojin

Sequel from On Rainy Days

2012, Musim Hujan

Ada satu hal yang sedari tadi mengganggu pikiran Yoo Sung Eun [Tunangan Lee Hyuk Jae]. Mengapa ia merasa atmosfir yang ia rasakan tadi begitu membuatnya takut, ia melihat dengan jelas bagaimana reaksi kedua manusia tersebut saat saling memberitahu nama masing-masing. Apalagi Sung Eun hampir tak percaya bahwa laki-laki yang sudah lama ia kenal akan melakukan hal seperti itu, didepan matanya.

“Apa benar oppa baru mengenalnya?”

“Maksudmu?”

“Desainer Kim. Namanya Kim Yoojin. Saat mendengar namanya wajah oppa langsung pucat. Apa oppa mengenali sebelumnya?”

“Kurasa ada kesalahpahaman, aku punya kenalan dengan nama yang hampir sama dan aku kaget mendengar namanya. Kau bisa memintakan maaf untukku Eun?”

Sung Eun mengangguk. “Bukan masalah besar. Selama aku mengenal Desainer Kim, ia selalu baik jadi mungkin kejadian tadi tidak begitu dimasukkan hati.”

“Baguslah.”

“A-apa kenalan oppa itu perempuan juga?”

“Laki-laki. Dia seorang laki-laki. Heh, aku sempat lupa ternyata,” ujar Hyuk Jae sambil tersenyum mengingat kebodohannya. Sung Eun ikut tersenyum dan ia pun kembali tenang kembali. Tak lagi memikirkan kejadian  tadi.

Sedangkan Lee Hyuk Jae belum bisa menjernihkan otaknya. Walaupun ia berhasil membohongi dan menutupi kenbenaran pada Sung Eun, tapi ia belum berhasil menipu hatinya. Kim Yoojin. Perempuan 15 tahun yang ia kenal, perempuan aneh yang selalu menemaninya kemana pun dia pergi, perempuan yang membuatnya menyesali masa remajanya.

Hyuk Jae kaget dengan reflek tangannya saat menarik tangan, menahan kepergiaan Yoojin saat perempuan itu meninggalkan mejanya bersama seorang perempuan. Hyuk Jae tidak menyangka dirinya akan berbuat seperti itu. Bahkan mungkin ia sudah gila, kehilangan akal sehatnya saat tahu perempuan yang selama ini ia cari duduk dihadapannya. Tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa, tak ada yang berubah, semuanya masih sama dimatanya namun… Hyuk Jae sendiri tak tahu apakah hati perempuan bernama Yoojin itu masih sama seperti 15 tahun lalu.

“Sung Eun…”

“Apa oppa?”

“Aku sedikit kurang enak badan. Apa kita bisa lebih cepat meninggalkan restoran ini? Aku akan mengantarmu pulang dulu.”

“Oppa sakit? Mana yang sakit?”

Hyuk Jae tersenyum, ia menggenggam tangan calon pengantin. Memberikan tatapan untuk tidak gusar, bahwa Hyuk Jae masih baik-baik saja selagi Sung Eun segera meninggalkan restoran ini secepatnya.

“Baiklah, kita pergi setelah aku makan dessert ini.”

“Kau tidak takut gemuk? Gaunmu sudah jadi dan kau masih menikmati makan yang manis-manis.”

“Ah. Aku lupa oppa.” Sung Eun tertawa tapi juga sedih karena dessert yang di restoran ini sangat terkenal enaknya. Tapi untuk pesta pernikahan yang sudah dekat ia tak bisa menikmatinya.

“Setelah kita menikah. Aku janji akan membelikan dessert yang banyak.”

Sung Eun langsung mencium pipi Hyuk Jae. “Gomawo oppa. Kita pulang sekarang kalau begitu.”

Hyuk Jae mengangguk, ia langsung menggandeng tangan Sung Eun dengan erat. Entah mengapa ia merasakan kalau dirinya perlu pegangan dimana ia tidak akan jatuh. Ia sudah memutuskan hidupnya setelah kejadian yang menimpanya 15 tahun yang lalu, perempuan disampingnya adalah cintanya, ia tidak akan berpikir gila lagi, ia akan membahagiakan perempuan yang sudah menyelamatkannya.

Eh?

Sung Eun kaget dengan genggaman tangan Hyuk Jae yang erat. Sekilas dirinya memandang calon pengantin dan dengan hati riang ia membalas genggaman tangan kekar itu. Ia yakin kebahagiannya akan terus ia rasakan jika bersama Hyuk Jae.

“Oppa istirahat saja di rumahku. Aku khawatir akan terjadi sesuatu di jalan nanti.”

“Tidak usah Eun. Aku bisa menahannya.”

“Setelah sampai rumah, langsung telepon. Kalau bandel aku akan menyuruh eommonim mengantar oppa ke rumah sakit.”

“Iya nona manis. Belum juga menikah kau sudah cerewet.”

“Hehehehe….”

Sung Eun melepaskan sabuk pengaman mobil dan mencium pipi Hyuk Jae sekali lagi. “Saranghae.”

“Saranghae.”

Sung Eun keluar dari mobil dan tak lupa memberi sinyal kepada Hyuk Jae untuk langsung meneleponnya setelah sampai rumah. Hyuk Jae melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sung Eun, ia memutar jalur mengemudinya. Sepertinya ia tidak bisa pulang ke rumah dan tidur nyenyak. Ia perlu membersihkan pikirannya dari Kim Yoojin.

Hyuk Jae memilih apartemen sebagai tempat istirahatnya malam ini. Mungkin ia akan berbohong kepada Sung Eun lagi tapi bagaimana lagi… ia tidak ingin perempuan itu mengetahui keadaannya sekarang ini. Sebenranya ia pernah menceritakan masa remajanya saat tinggal di Seoul pada Sung Eun namun ia tidak yakin gadis itu masih mengingat dengan jelas. Karena gadis itu tidak terlalu menyukai  atau lebih tepat Sung Eun sangat benci masa remajanya, cemburu dengan perempuan yang memenuhi pikiran Hyuk Jae dulu.

krek

Pat.

Hyuk Jae menghidupkan lampu apartemennya. Ia senang karena bibi yang dibayarnya untuk membersihkan apartemen setiap minggu menjalankan pekerjaannya dengan baik. Ia berjalan memasuki dan menatap ruang yang penuh dengan canvas-canvas bediri tegak dibeberapa sudut.

“Kau kembali saat aku ingin melupakan semua tentangmu.”

Hyuk Jae membuka kain putih disetiap lukisannya. “Kim Yoojin. Kim Yoojin.”

Lukisan yang ia buat memang tak lain adalah siluet wajah Kim Yoojin yang ia ingat selama 15 tahun ini. Wajah seorang anak perempuan berumur 15 yang jarang menunjukkan senyuman manisnya. Perempuan yang selalu ingin mengenakan rok terusan yang penuh dengan motif bunga.

Tak sanggup lagi menahan rasa sakit dalam hatinya. Hyuk Jae jatuh terduduk dihapadan salah satu lukisannya. Ia mulai menangis. Menangis dan menangis. Entah apa yang ia tangisi, perasaanya  bercampur jadi satu hingga ia tidak bisa memilahnya. Namun, Hyuk Jae merasakan sakit yang sama seperti 15 tahun lalu saat ia meninggalkan Yoojin.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

1997, Musim Hujan

Malam ini Hyuk Jae diajak Ayahnya merayakan ulang tahunnya di sebuah restoran di sebuah hotel milik kenalan Ayahnya. Cukup membuat Hyuk Jae terpukau dengan keindahan arsitekturnya dan banyak pula barang-barang mewah yang tergantung menambah hotel itu nampak menawan dan mewah. Ayahnya memang tidak suka dengan kemewahan makanya rumah mereka hanya berisi barang-barang mewah yang sedikit dan malah terlihat sederhana. Sedangkan Ibu tirinya lebih menyukai barang-barang berkilau, alhasil kadang sering terjadi perdebatan yang membuat Hyuk Jae akhirnya yang memilih keputusan untuk mereka.

“Bagaimana Hyuk Jae, kau menyukai tempatnya?”

“Benar-benar terlihat mewah Ayah. Terima kasih sudah membawaku kemari.”

“Ayah sudah janji padamu jika kau pindah ke Seoul, Ayah akan membawamu ke tempat paling mahal.”

“Ibu ingin sekali merasakan tinggal di hotel ini. Apakah bisa memesankan satu kamar untukku, sayang?”

Hyuk Jae sudah bisa menebak apa maunya Ibu tirinya ini. Ayah menggeleng, Hyuk Jae hanya bisa menahan tawanya. “Ini untuk Hyuk Jae. Kalau kau ingin menginap disini. Kau bisa memakai uangmu sayang.”

“Jahat. Ternyata aku masih belum cukup membuatmu lebih perhatian padaku,” omel Ibu tiri Hyuk Jae. Kecewa akan sikap suaminya yang masih saja menomor satukan Hyuk Jae, kapanpun dan dimanapun.

Tak lama kemudian kue ulang tahun dan beberapa hidangan tersaji. Beberapa pelayan yang mengantarkan makanan, berdiri sejenak sambil menunggu pemilik hotel tersebut datang menyambut kedatangan keluarga Lee.

“Terima kasih karena sudah menyediakan tempat yang luar biasa ini,” ujar Tuan Lee kepada sahabatnya.

“Tentu saja aku harus melakukan ini untuk berterima kasih padamu yang telah membantuku membangun hotel semegah ini. Dan.. untuk Lee Hyuk Jae kuucapkan selamat ulang tahun untukmu.”

“Terima kasih Tuan Nam.”

Setelah perbincangan sederhana, Ayah Hyuk Jae segera menyuruh istrinya untuk menyiapakan kue ulang tahun dan menyanyikan lagu untuk Hyuk Jae. Ini pertama kalinya ia merayakan bersama keluarga barunya, karena tahun sebelumnya ia merayakan sendirian karena Ayahnya ada kepentingan bisnis. Dan saat itu hubungan dengan Ibu tirinya tidak begitu baik seperti sekarang. Mereka bertiga menikmati makan malam itu penuh canda tawa, namun dalam hati Hyuk Jae tidak begitu menikmatinya. Ia ingin menghabiskan sebagian waktu ulang tahunnya bersama Kim Yoojin. Andai perempuan itu tidak begitu keras kepalanya, mungkin Hyuk Jae akan merasa sedikit senang.

Setelah lama menghabiskan waktu bersama-sama, Hyuk Jae dan keluarganya segera pulang. Mereka langsung pergi ke ruang tidur untuk beristirahat kecuali Hyuk Jae yang masih duduk di sofa. Entah mengapa ia sedikit merasakan bahwa ada seseorang yang tengah menungguinya. Padahal hujan deras tengah turun, jika memang ada yang sedang menungguinya, apakah ia boleh berharap orang itu adalah Kim Yoojin. Tanpa berpikir lagi Hyuk Jae keluar dari rumahnya dengan menggunakan mantel.

“Kurasa firasatku salah. Perempuan itu tidak mungkin ada disini sekarang.”

Hyuk Jae sadar bahawa sebelum ia pergi dari rumah jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malan. Dan artinya hari ulang tahunnya sudah berakhir.

“Sebaiknya aku pulang saja,” ujar Hyuk Jae, tapi sebelum ia berbalik arah, ia melihat sebuah bayangan dibelakang permainan luncuran. Pelan-pelan Hyuk Jae berjalan mendekat dan tanpa sadar senyuman sudah mengembang di bibirnya.

“Kim Yoojin.”

Seorang perempuan yang tengah berteduh dari guyuran hujan deras itu langsung menegakkan kepalanya saat mendengar nama lengkapnya dipanggil. Dan hanya satu orang yang memanggilnya dengan cara tersebut.

“Kau datang juga. Aku datang,” ujar Yoojin.

“Kau datang kemari? Sejak kapan?”

“Aku tidak tahu.”

Hyuk Jae masih terus tersenyum sampai ia manyadari bahwa badan Yoojin menggigil. Perempuan itu ternyata hanya mengenakan rok terusan dan memakai jaket tipis untuk membalut tangannya dari terpaan angin malam. Hyuk Jae langsung meraih tangan Yoojin.

“K-kau sudah lama menunggu bukan? Tanganmu sangat dingin sekali bodoh.”

Yoojin hanya tersenyum. “Maafkan kata-kataku tadi siang di sekolah. Aku tidak berniat mengatakannya.”

“Bodoh.”

“Selamat ulang tahun Lee Hyuk Jae.”

Hyuk jae tersenyum, mendengar bahwa orang yang sangat ia harapkan kehadirannya akhirnya mengatakan selamat padanya. Tapi…

“Ini bukan hari ulang tahunku. Kau terlambat Kim Yoojin.”

“Ah, sudah lewat tengah malam rupanya,” bisiknya sedih.

“Mana hadiah untukku?” tanya Hyuk Jae.

“Eh?”

“Hadiah. Kau tidak menyiapkan apa-apa untukku?”

Yoojin menggeleng tanpa bersalah, sebenarnya ia tidak berpikir untuk memberi hadiah pada Hyuk Jae karena ia hanya berpikir untuk minta maaf saja. Ia tidak tahu bahwa Hyuk Jae akan meminta hadiah untuknya.

“Bagaimana kalau payung ini?” Hyuk Jae mengembil payung yang baru dikembalikannya lusa kemarin dari tangan Yoojin. Namun, dengan cepat Yoojin menarik kembali payung itu dari tangan Hyuk Jae.

“Ini bukan hadiahnya.”

“Lalu?”

Yoojin diam dan berpikir apa yang akan harus ia berikan dalam keadaan seperti ini.

“Chingu.”

“Hm?” Hyuk Jae mecondongkan wajahnya tepat didepan wajah Yoojin. Bingung.

“Hari ini kita berteman. Itu hadiahku buatmu Lee Hyuk Jae.”

Hahahaha…. Hyuk Jae tidak tahu bahwa malam ini ia akan tertawa sekeras ini mendengar apa yang dikatakan Yoojin. Teman. Ternyata perempuan itu menyerah juga, dan dalam hati Hyuk Jae senang bahwa mereka berhasil menjadi teman.

Hyuk Jae mengacungkan jari kelingkingnya. “Kita buat janji bahwa tidak ada yang berkhianat.”

Sekarang giliran Yoojin yang bingung, setaunya tidak ada hal semacam itu.

“Sudah lakukan apa yang kukatakan,” ucap Hyuk Jae. Tangannya segera menarik tangan Yoojin dan mengikatkan jari kelingking perempuan itu padanya. Hyuk Jae tersenyum kemudian disusul Yoojin yang ikut tersenyum. Dan sejak itu mereka berdua menghabiskan waktu bersama seharian, tanpa tahu badai apa yang akan datang merusak persahabatan keduanya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Seperti biasa sepulang sekolah Hyuk Jae akan mampir ke rumah besar Yoojin. Pertama kali ia datang dan melihat betapa luas rumah Yoojin, Hyuk Jae sempat kaget karena tahu bahwa Yoojin tinggal sendirian sejak Ibunya pergi.

“Kau akan memasak lagi?”

“Kau ingin makan apa? Aku akan coba membuatkannya.”

“Kare saja, aku suka kare buatanmu. Ahh… perutku sudah lapar ternyata.”

“Duduklah. Kau mulai saja mengerjakan tugasnya, aku menyiapkan makan siang dulu.”

Hyuk Jae mengangguk, sudah tahu apa yang biasanya mereka lakukan. Ia menuju ruang santai dan menghidupkan televisi untuk menciptakan suasana ramai. Hyuk Jae membuka buku sekolahnya dan mulai melihat tugas yang ia dapat dari sekolah.

“Yoojin-ah, kau sudah menyalin sejarah minggu kemarin?” tanya  Hyuk Jae.

“Cari saja bukunya di rak.” Hyuk Jae bangkit dan melihat rak besar, sebagian dipenuhi buku-buku pelajaran dan beberapa album foto. Hyuk Jae tahu Yoojin sangat menyukai belajar tapi ia tidak tahu kalau koleksi bukunya akan sebanyak ini. Bukannya mengambil buku catatan sejarah, Hyuk Jae malah mengambil sebuah album dan terkikik saat melihat banyak sekali potretan Yoojin kecil.

“Jangan membuka album seenakmu Hyuk Jae!”

“Ah! Kau melihatku membukanya?!”

“Tidak. Tapi firasatku memberitahuku kalau kau sedang mencuri lihat albumku.”

“Cih,” Hyuk Jae segera membalikkan lembaran album tersebut dengan cepat dan tanpa sepengetahuan Yoojin, Hyuk Jae mengambil salah satu foto Yoojin yang sedang tersenyum lebar di sebuah ayunan. Seperti ayunan yang berada di taman, tempat mereka berdua pertama kali bertemu.

Hyuk Jae mengembalikan album di tempatnya dan kembali ke niat awalnya mencari catatan sejarah milik Yoojin. Ia menyalin satu demi satu sambil menunggu masakan Yoojin siap.

“Tada~…”

“Oh! Apa yang kau gambar Hyuk Jae!” pekik Yoojin saat melihat lelaki itu serius menggambar di sebuah buku sketsa.

“Ahhh, kau melihatnya?” tanya Hyuk Jae, wajahnya sempat kaget karena ia tidak ingin perempuan dihadapannya ini tau apa yang ia gambar barusan.

Yoojin menggeleng. “Aku ingin lihat. Mana?” Yoojin meminta buku yang dipegang Hyuk Jae.

“Lain kali.”

“Ya!”

“Lain kali aku akan memberimu lukisan yang lebih bagus daripada yang kugambar barusan.”

“Jinjja?”

Hyuk Jae mengangguk. “Aku janji. Ayo makan.”

—-

Yoojin masih fokus mengerjakan tugas matematikanya setelah mengisi perut kosongnya dengan nasi Kare buatannya. Sedangkan Hyuk Jae, baru dua soal dikerjakan lelaki itu sudah tak kuat menahan kantuk. Dan akhirnya Hyuk Jae tertidur diatas meja.

“Selesai juga,” ujar Yoojin. Ia membereskan buku miliknya dan saat melihat Hyuk Jae yang masih tidur ia hanya tersenyum. Pelan-pelan ia berpindah ke samping Hyuk Jae, melihat muka laki-laki itu tidur membuat hatinya tenang. Baru kali ini ia melihat laki-laki tidur sepulas ini. Tanpa sadar tangan Yoojin ingin menyentuh poni yang menutupi dahi Hyuk Jae tapi ia segera menahannya. Dan akhirnya Yoojin hanya meletakkan kepalanya di atas meja, berhadapan dengan posisi kepala Hyuk Jae dan lama-lama ia tertidur.

Hyuk Jae perlahan membuka matanya dan kaget saat melihat Yoojin yang tertidur dihadapan matanya, ia tidak menyangka akan sekaget ini. Muka Yoojin yang sangat dekat, baru pertama kali ia lihat. Hyuk Jae belum juga mengangkat kepalanya dari meja, dirinya malah memperhatikan Yoojin yang tertidur pulas.

“Cantik,” ujar Hyuk Jae. Ia bangun dan mulai mencari pensil serta buku sketsanya. Mulailah ia membuat sketsa wajah Yoojin yang sedang tidur.

Sebenarnya Hyuk Jae sangat ingin menjadi pelukis seperti Ibunya dulu yang sempat memenangkan beberapa penghargaan atas lukisannya dan berhasil masuk galeri internasional. Hyuk Jae mempunyai ambisi tersebut, apalagi sejak kecil Ibunya sangat membantunya, membimbingnya hingga kini ia bisa melukis dengan baik. Ia jarang melukis benda hidup, karena lukisan pertamanya yang berhasil ia buat adalah pemandangan pantai Jeju. Saat itu Hyuk Jae menikmati setiap ia melukis, namun saat Ibunya meninggalkan rumah dan bercerai dengan Ayahnya, ia merasa ia tidak bisa melukis lagi.

Namun, melihat Yoojin, melihat senyuman manisnya, atau wajah cemberut saat ia jahili entah mengapa Hyuk Jae ingin sekali mengabadikannya disebuah gambar. Dan mungkin ia akan berusaha untuk melukis kembali. Melukis potret Yoojin dengan berbagai ekspresi sebanyak-banyaknya, bahkan jika bisa setiap hari ia akan melukis untuk mengabadikan setiap kenangan mereka.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

2012, Musim Hujan

Drrrt drrrttt…

Getaran ponsel milik Hyuk Jae terus bergetar tanpa henti membuat lelaki itu bangun. Ia mengambilnya lalu melihat layar dan memutuskan untuk menerima panggilan telepon tersebut.

“Eomma….” ujar Hyuk Jae dengan suara serak, ia bangun dari kasur dan mencoba untuk menegakkan kepalanya yang berat. Rasanya pusing sekali dan saat ia membuka tirai kamarnya, matanya terlalu silau menerima sinar matahari yang sudah meninggi.

“Kau ada dimana sekarang? Sung Eun terus menelepon ke rumah. Kalian bertengkar?”

“Tidak eomma, kami baik-baik saja. Tolong beritahu Sung Eun aku akan ke rumahnya dan jangan beritahu kalau semalam aku tidak pulang ke rumah.”

“Baiklah, hari pernikahan kalian sudah dekat. Eomma tidak ingin semuanya rusak, kalau ada masalah segera selesaikan bersama Sung Eun.”

“Hmm.”

“Jadi, dimana kau semalam?”

“Di apartemen.”

Deg. Ibu tiri Hyuk Jae kaget saat mendengar kata apartemen karena sudah lama sekali Hyuk Jae tidak pernah mendatangi tempat tersebut. Sebagai ibu ia tahu apa yang disembunyikan anaknya, luka masa kecil yang harus anaknya tanggung dan kehidupan yang tidak adil untuk Hyuk Jae saat itu.

“Kau baik-baik saja? Ibu akan kesana mengirimkan baju dan makanan.”

Hyuk Jae tersenyum. Ibu tirinya masih saja sama seperti dulu, masih menganggapnya anak 15 tahun. “Aku bertemu dengan Kim Yoojin, ternyata dia adalah desainer gaun pengantin Sung Eun. Dia tidak berbeda sedikit pun eomma….” Hyuk Jae menerawang wajah Kim Yoojin dewasa. “Dia masih cantik.”

“Hyuk Jae….”

“Aku tidak akan mengejarnya lagi eomma. Sudah ada Sung Eun yang selalu ada disampingku. Aku tidak akan menjadi lelaki jahat, tenang saja. Ahh, sudah dulu aku tutup teleponnya.”

Hyuk Jae memutuskan hubungan telepon dan melihat kelayar ponselnya, wallpaper ponselnya adalah foto pertunangannya dengan Sung Eun. Mereka berdua terlihat bahagia dan ia menemukan dirinya yang tersenyum.  Dan Hyuk Jae sadar bahwa pertemuannya dengan Kim Yoojin sudah ditakdirkan dan ini hanyalah prahara sesaat untuk mengujinya. Ia tidak ingin lemah, bagaimana pun mereka berdua sudah memilik kehidupan yang baru, jika ia sendiri masih hidup bersama cinta pertamanya Hyuk Jae takut tidak bisa merengkuh kebahagian bersama Sung Eun.

“Yobseyo. Sung Eun-ah… “

“Oppa!! Mengapa baru telepon sekarang?!”

“Saranghae…”

“Eh? Oppa..wae?”

“Hahahaha… kau bertanya ‘wae’ ke calon suamimu? Lucunya…”

“Habis oppa tiba-tiba bilang seperti itu aku jadi bingung. tapi.. saranghae. Aku juga mencintaimu oppa.”

“Apakah mengurus pernikahan begitu berat? Aku akan menyuruh ibu untuk membantumu.”

“Tidak usah, aku bisa mengerjakannya kok. Ada pelayan juga yang membantuku oppa. Sekarang oppa serius saja membantu Ayah di kantor, jangan sampai telat bekerja.”

“Betul juga. Aku harus berangkat kerja, nanti aku akan ke rumahmu dulu.”

“Aku akan menunggu oppa.”

Hyuk Jae tersenyum, ia akan segera melupakan kenangannya bukan. Sudah saatnya untuk mengambil tindakan, tidak ada gunanya menyimpan semuanya didalam hati dan memori otaknya. Hyuk Jae memandang beberapa lukisannya dengan pandangan nanar.

“Kim Yoojin bogoshipo.”

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

“Maaf kalau aku merepotkan oppa.”

“Tidak apa-apa, kau bisa menyusul kesini setelah pekerjaanmu selesai. Aku akan menunggu.”

Hyuk Jae memutuskan sambungan teleponnya dengan Sung Eun, sejak awal ia memang mencari kesempatan tapi ia tidak tahu akan secepat ini. Untung saja ia sudah menyiapkan semuanya. Sore ini Sung Eun menyuruhnya untuk ke cafe Rosemary untuk bertemu dengan Yoojin. Dan perempuan itu belum datang sampai sekarang, 10 menit berlalu dan hujan diluar masih deras.

“Apakah kau akan datang Yoojin?” ujar Hyuk Jae pelan. Ia memperhatikan hujan diluar melalui kaca cafe. Dan tak lama kemudian seorang perempuan tergopoh-gopoh masuk ke cafe dengan bawaan kotak yang begitu besar hampir memenuhi seisi meja saat ia meletakkannya.

“Maaf, aku terlambat nona Yoo. Hujan sangat deras dan lalulintasnya ramai, aku perlu memutar jalan,” Yoojin masih membungkuk minta maaf. Ia belum tahu siapa yang duduk didepannya sampai akhirnya…

“Kim Yoojin.”

Yoojin membeku sesaat saat mendengar suara laki-laki yang ada dihadapannya, dan intonasi saat memanggilnya. Hanya dua orang yang selalu memanggilnya dengan nama panjanganya tanpa ragu-ragu, Jo Woon dan…

Lee Hyuk Jae.

“Kuharap kau tidak akan kabur lagi setelah melihatku.”

Yoojin tidak tahu harus berbuat apalagi, tapi memang tidak ada jalan untuk melarikan diri. Mereka berdua memang harus bicara, bukankah ia sudah menungguinya selama 15 tahun.

“Lee Hyuk Jae..”

“Senang mendengarmu memanggil namaku. Bagaimana kabarmu?”

“Baik. Bagaimana dengan hidupmu selama ini?”

“Aku hidup dengan baik bersama ibu tiriku. Terima kasih sudah membantu Sung Eun menyelesaikan gaunnya. Aku tidak tahu kalau selama ini kau yang menjadi perancang gaun pengantin kami.”

Yoojin tidak menyangka lelaki ini akan membicarakan masalah pengantin wanitanya pada dirinya dihari pertama mereka bertemu seperti ini.

“Aku senang bisa membantu nona Yoo, jika aku tahu pengantin laki-lakinya adalah kau mungkin aku akan memikirkan dua kali untuk menerima tawarannya.”

Hyuk Jae menatap Yoojin yang juga memandanganya dengan tatapan tajam. Sepasang mata itu agak berubah, seperti ada amarah yang dipendam Yoojin saat melihat Hyuk Jae. Perempuan itu seperti ingin membentaknya tapi berusaha menahan.

Yoojin memanggil pelayan dan memesan halzenut panas.

“Mianhae Yoojin. Aku minta maaf tidak bisa bertemu denganmu dia hari ulangtahunmu.”

“Kau mengingatnya juga, hari dimana kau pergi tanpa pernah kembali lagi. Janjimu untuk selalu menjadi temanku, selalu ada disampingku dan selalu melindungiku. Kau hanya seorang pembohong Lee Hyuk Jae.” Tiba-tiba Yoojin merasakan darahnya mendidih, mungkin sudah lama ia ingin memarahi laki-laki dihadapannya ini.

“Maafkan aku Kim Yoojin. Aku tahu kesalahan ini akan…”

“Aku selalu menunggu di taman itu, berharap kau hanya pergi satu dua hari atau seminggu tapi sejak saat itu kau tidak pernah kembali lagi.”

Hyuk Jae merenungkan kata-kata Yoojin, ia tau ia bersalah. Tapi saat itu, kejadian berdarah saat itu tidak bisa ia lupakan setiap mengingat tempat ia tinggal di Seoul. Karena dihari ia pergi adalah hari paling ia benci dan ingin ia lupakan, dimana saat itu ayahnya dibunuh oleh mafia dan ibunya dipukuli sampai pingsan sedangkan dirinya hanya bisa duduk terikat melihat itu semua. Ia ingin menjelaskan semuanya tapi ia terlalu takut untuk menceritakannya.

“Yoojin-ah..”

“Jangan panggil aku seakrab itu.”

Hyuk Jae tertawa sebentar, ia meraih gelasnya dan meminum orang juice milinya. Tangannya sedikit bergetar tapi ia tidak mau Yoojin melihat ketakutannya. Ia berusaha tenang.

“Kau tidak akan memaafkanku, bukan? Karen aku juga sudah membuat hatimu sakit,” ujar Hyuk Jae menatap Yoojin. “Aku sudah membuat kenangan terburuk saat hari-harimu juga sudah gelap. Aku memang pembohong dan laki-laki brengsek. Tapi yang perlu kau tahu Kim Yoojin saat itu aku memikirkanmu. Selalu.”

Yoojin mencengkeram celana jeans yang ia pakai. “Liar…” desis Yoojin.

Hyuk Jae tersenyum kearah Yoojin. Senyuman yang sudah menyihir Yoojin, membuatnya percaya akan semua kata-kata laki-laki 15 tahun. Percaya bahwa mereka akan menjadi teman. Percaya bahwa perasaan yang ia rasakan saat bersama laki-laki itu adalah cinta. Yoojin kesal jika harus mengakui bahwa sebenci-benci dirinya pada Hyuk Jae, ia tetap merindukan sosok Lee Hyuk Jae.

“Aku selalu berdoa untuk kebahagianmu walaupun aku tidak bisa bertemu denganmu.”

Hyuk Jae menarik nafas pelan. Ada sesuatu yang harus ia katakan sebelum terlambat.

“Aku Lee Hyuk Jae. Umur15 tahun.”

“Ya! Seragam merah!”

“Kim Yoojin.”

“Kim Yoojin….Kim Yoojin…!”

Hyuk Jae seperti memutar kembali kenangan pertamanya saat bertemu dengan gadis cantik 15 tahun bernama Kim Yoojin. Dan tanpa bisa dibendung lagi Yoojin mulai terisak dalam tangisannya.

“Aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi Kim Yoojin. Terima kasih untuk kenangan singkat yang sangat membahagiankan.”

“Babo…” ujar Yoojin disela-sela tangisannya. Ia masih terus menangis menutupi wajahnya, menutupi kelemahannya, ia tidak ingin menujukkan perasaannya yang sebenarnya dihadapan Hyuk Jae. Ia tidak ingin laki-laki tahu betapa ia sangat merindukan sosok Lee Hyuk Jae selama 15 tahun ini.

Hyuk jae masih ditempatnya ia duduk. Walaupun ia ingin memeluk Yoojin saat itu juga, ia tidak bisa melewati batas yang sudah ia buat. Biarkanlah ia tetap duduk dan melihat gadis yang selama ini selalu ada dalam hatinya, menjadi bagian terpenting dalam hidupnya selama 15 tahun ini.

“Mianhae.. Kim Yoojin,” kata Hyuk Jae terakhir kali. Kita harus mengakhiri semuanya demi kebahgaian masing-masing dari kita dan kebahagian orang disekitar kita juga.

——

Setelah beberapa menit berlalu, Yoojin akhirnya mengakhiri tangisannya. Ia terlalu malu jika terus menangis dihadapan Hyuk Jae.

“Kau memang tidak berubah. Si cengeng.”

“Jangan menyebutku cengeng. Aku sudah berubah.”

Hyuk Jae masih saja menggoda Yoojin dan akhirnya mereka berdua sama-sama tertawa menyadari sifat kekanak-kanakan mereka. “Aku tidak tahu kau akan menjadi seorang pengusaha, kupikir kau akan menjadi pelukis profesional.”

Mereka berdua memang sudah banyak mengobrol berbagi cerita selama kehidupan 15 tahun. Dan Hyuk Jae masih menutupi sisi gelap hidupnya, hanya sedikit yang ia ceritakan.

“Aku masih melukis, kadang aku menjualnya.”

“Selamat atas pernikahnamu. Kurasa aku tidak pernah mengatakan hal ini tapi setelah mengatakannya aku yakin kau akan bahagia bersama nona Yoo.”

“Panggil saja Sung Eun, dia pasti akan lebih senang jika kau memanggilnya dengan akrab.”

“Gaun pengantinnya sangat indah, aku membuatnya sesuai Sung Eun inginkan. Dan Tuxedo yang kau mau aku sudah mencarinya dan kurasa akan pas dipakai olehmu.”

“Terima kasih.”

“Yup. Itu sudah pekerjaanku.” Yoojin tersenyum. Hatinya sedikit sakit tapi ia tahu waktu akan menyemuhkannya.

“Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu,” ujar Hyuk Jae. Ia mengambil sebuah bingkisan seperti canvas yang tertupi, ia menyerahkannya ke dekat bangku Yoojin. “Hadiah ulangtahunmu.”

“Ulang tahunku?”

Hyuk Jae mengangguk. “Kurasa belum telat, besok hari ulang tahunmu bukan? Aku masih mengingatnya dan.. lukisan itu kubuat untukmu.”

“Kau masih mengingatnya. Kau tidak banyak berubah Hyuk Jae.”

“Ada lagi yang kau inginkan? Aku akan mengabulkan permintaanmu sebagai pengganti hadiah 15 tahun berlalunya ulang tahunmu.”

Yoojin tersenyum, ia bahagia karena hadiah yang sangat ia inginkan dari Hyuk Jae akhirnya ia dapatkan. Belum lama setelah ia tahu jika Hyuk Jae punya minat ke seni lukis, Yoojin berharap bahwa suatu saat nanti laki-laki ini akan melukis wajahnya. Walaupun ia tidak begitu pasti apa yang dilukis Hyuk Jae di canvas yang diberikan padanya, ia tetap akan senang.

“Bahagialah. Aku ingin kau bahagia,” ucap Yoojin.

Hyuk Jae kaget dengan kata-kata perempuan itu.

“Aku ingin kau bahagia dengan ….”

“Kau juga harus bahagia,” ujar Hyuk Jae memotong ucapan Yoojin yang belum selesai. “Setelah ini mungkin kita tidak akan sering bertemu lagi. Aku mencintaimu Kim Yoojin, kau adalah cinta pertamaku dan hari ini aku akan berhenti mencintaimu.”

Yoojin kaget dengan pernyataan Hyuk Jae, tapi ia berusaha untuk mengontrol perasaannya. “Kau baru saja mengungkapkan perasaanmu. Jadi selama ini kau tidak mencintai calon istrimu. Napeun namja…”

“Aku memang jahat dan sebelum aku menjadi lebih jahat lagi. Aku akan melupakan semuanya, semua yang berhubungan saat umurku 15 tahun. Hari ini aku mengungkapkan semuanya padamu dan kumohon kau juga berpikiran sama denganku Yoojin. Apa yang sekarang aku rasakan padamu akan aku akhiri. Terima kasih untuk semuanya.”

“Kau benar-benar akan melupakan semuanya?” tanya Yoojin.

“Maafkan aku.”

“Kau akan bahagia?” tanya Yoojin.

“Aku pasti akan bahagia.”

Yoojin tersenyum. Yoojin berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya kearah Hyuk Jae. “Mari kita akhiri dengan senyuman.” Hyuk Jae mengulurkan tangannya dan menyambut tangan Yoojin. Mereka bersalaman cukup lama.

“Kim Yoojin, umur 30 tahun. Salam kenal.”

“Lee Hyuk Jae, 30 tahun. Senang berkenalan dengan anda.”

Dan kedua tangannya itu pun terlepas. Keduanya masih tersenyum sambil bertatapan.

“Kuharap kau tidak pernah menyesal mengenal Lee Hyuk Jae.”

Yoojin menggeleng. “Aku tidak akan pernah menyesal. Selamat tinggal.”

“Bye…”

Hyuk Jae mengambil bungkusan kardus yang berisi gaun dan tuxedo. Sedangkan Yoojin mengambil lukisan hadiah dari Hyuk Jae. Mereka berjalan keluar dari cafe. Hujan diluar sudah berhenti seperti menandakan bahwa kenangan diantara mereka berdua juga sudah berakhir.

“Oppa!” seru Sung Eun dari dalam mobilnya. Hyuk Jae melambaikan tangannya.

“Aku pergi dulu. Terima kasih untuk semuanya Yoojin-sshi.”

“Hati-hati di jalan.”

Hyuk Jae berjalan meninggalkan cafe dan mendekati mobil. Ia memasukkan bungkusan kardus kedalam mobil. Sung Eun keluar dari pintu pengemudi dan sejenak memberi salam ke Yoojin. Hyuk Jae berganti masuk ke mobil dan mulai mengemudikan mobil mneinggalkan cafe Rosemary.

“Haaahhhh….” Yoojin menghela nafas berat. Ia tatap lukisan yang masih terbungkus itu. Ia ingin segera pulang ke rumah dan melihat apa yang tergambar di lukisan Hyuk Jae. Yoojin pun mengambil ponselnya dan menghubungi Jo Woon untuk menjemputnya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Yoojin tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya, sebuah lukisan yang sangat indah, memantulkan bayangan dirinya 15 tahun yang lalu. Seorang gadis bernama Kim Yoojin.

“Kau sangat cantik saat berumur 15 tahun.”

“Benarkah?” tanya Yoojin. Tangan Jo Woon menggenggam erat tangganya.

“Kurasa laki-laki itu mencintai Kim Yoojin yang berumur 15 tahun, masa lalunya yang membuatnya tidak bisa melupakanmu, sosok gadis 15 tahun yang selalu ia cintai. Apakah kau mengerti mengapa dia memutuskan untuk melupakan semuanya?”

Yoojin tersenyum dan tertawa bersamaan.

“Bagaimana aku bisa sebodoh ini. Aku juga sepertinya hanya mencintai dan merindukan Lee Hyuk Jae yang berumur 15 tahun.”

Jo Woon mengusap kepala kekasihnya dengan lembut. Yoojin meletakkan kepalanya di bahu Jo Woon. “Apakah kau mau berjanji satu hal padaku Woonie?”

“Satu saja kurasa tidak cukup.”

“Berjanjilah untuk hidup bahagia bersamaku,” ujar Yoojin.

“Ya! Kim Yoojin! Kau sudah mencuri kata-kataku.”

“Hahahahaa… kau kalah cepat tuan muda.”

“Would you marry me?” kata Jo Woon.

Yoojin menegakkan kepalanya dan menatap kearah sepasanga mata milik Jo Woon. Laki-laki yang selama ini berjuang untuk mendekati dan mencuri hatinya. Yoojin merasa bahwa sudah saatnya ia bahagia, sepeti apa yang dikatakan Hyuk Jae.

“Would you marry me, Kim yoojin?”

“I do.”

=-=-=-=-=-=-=-FIN-=-=-=-=-=-=-=

NOTE:

gimana?

oh ya, ini mumpung author lagi liburan panjang…so, kalau mau ada yg request bisa langsung koment aja. Asalkan ngga minta certa ber-part panjang/oneshot aja ya… request castingnya sapa, genrenya mau apa…. dan kalau bisa cast dari member Suju/infinite/snsd ya…. hehee

6 thoughts on “Another Rainy Days [Oneshot]

  1. Aq nangis loh bacanyaaa… Story sbelumny lbh ke uee side, klu ini hyuk side… Cinta pertama yg berakhir dgn baik, walau diakhiri 15th kemudian… Ъќ>:/ tau lg ngoment apa… Ini OS yg kereeenn bgt!!
    Boleh request kah?? Aq pengen deh d bikinin OS yg castny Kim YoungWoon aka Kangin… Kykny ff ttg dia sgt2 langka… Cast cwekny, aq Ъќ>:/ bisa nentuin deh yg cocok ma dia. Maunya sih cwek baik2 gt kyk Dasom sistar… N pengennya cerita yg menguras emosi n air mata#plak… Klu boleh ya, klu Ъќ>:/ dbikinin jg gpp… Keepwriting ^^

  2. ya ini jarang terjadi, coba ada lanjutannya, aku bakalan jadi salah satu pengikut ff ini 😀 suka ama ff ini, penyelesaiannya keren bnget deh ah, hyuk jae dan yoojin kalian harus bahagia ya 😀

  3. KEREN BANGETTTT….
    aku setuju bahwa kita gak harus buat cerita dengan akhir seneng di setiap cerita kita.
    entah itu nyata atau fiksi, yang namanya sedih pasti ada.
    dan cerita ini ngena banget..
    authornim jjang!!!!

    thor only u..
    kapan lanjutannya???

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s