[FF Freelance] Blind in Love (Part 3)

blind in love

Title : Blind In Love (Chapter 3) || Author : Eugenia Kim || Tumblr : ksunmi1248 || Rate : PG-15 || Length : 5629 words || Genre : Romance || Cast’s : Kim Taeyeon [GG], Kim Jongwoon [SJ], Tiffany Hwang [GG], Cho Kyuhyun [SJ], Kim  Hyoyeon [GG], Lee Hyukjae [SJ] || Disclaimer : Terinspirasi dari berbagai lagu, novel, drama dan ff lain. Poster and Story originally made by me. Keep reading and commenting. ^^

Previous part: Part 1, Part 2

Mobil sedan hitam itu berhenti di depan gerbang Sekolah Dasar Taejo. Kim Jongwoon keluar dari pintu belakang mobil itu dan memasuki arena sekolah Taejo. Matanya terus mengitari halaman sekolah itu, namun dia tidak menemukan putra semata wayangnya itu.

‘Mungkin aku terlalu telat menjemputnya.’ Pikir pria itu. Setelah cukup lama memandangi halaman sekolah yang sepi, ia memutuskan untuk masuk kedalam gedung sekolah.

“Jogiyo. Bolehkah aku bertanya sesuatu.” Tanya Jongwoon ketika berpapasan dengan seorang guru di koridor.

Guru itu menatap Jongwoon tajam seolah-olah memikirkan sesuatu. “Anda dokter Kim Jongwoon kan? Anda ingin bertanya apa?”

Jongwoon mengernyitkan alisnya seolah-olah memikirkan sesuatu. Sedetik kemudian pikirannya langsung berkelana ke kejadian jus nanas itu. “Ah, anda Nyonya Song bukan? Basa-basinya dengan tersenyum kikuk. “Aku ingin menjemput anakku. Seharusnya ia sudah pulang daritadi. Hanya saja aku telat menjemputnya.” Jelasnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

‘Apa aku tak salah dengar? Pria ini sudah menikah bahkan sudah memiliki anak?’

“Ah ternyata anda masih mengingat saya rupanya.” Ujar Victoria tersenyum sumringah. “Kalau boleh tahu siapa nama anak anda, mungkin saja saya salah satu guru pengajarnya.”

“Kim Taewoon. Namanya Kim Taewoon.”

“Kim Taewoon? Murid baru itu ya? Sepertinya tadi saya sempat melihatnya di perpustakaan dengan salah seorang guru.”

“Ah iya, putraku memang murid baru disini. Jadi, dimana ruang perpustakaan?”

“Anda tinggal berjalan lurus, lalu di ujung sana anda belok ke kiri, lurus kembali sampai anda tiba di depan pintu dengan tulisan perpustakaan diatasnya.” Jelas Victoria sambil menunjukkan jalan yang Jongwoon harus lalui untuk mencapai perpustakaan. Sementara Jongwoon hanya menyimaknya sambil sesekali menganggukan kepalanya menunjukkan jika ia mengerti.

“Kamsahanida Nyonya Song. Aku akan mencari putraku dulu.” Pamit Jongwoon membungkukkan badannya sembilan puluh derajat sebelum akhirnya meninggalkan guru itu.

Jongwoon hanya berjalan melewati koridor yang sudah sangat sepi itu sesuai arahan Victoria. Hingga matanya menangkap suatu tulisan yang terletak di atas pintu. ‘Perpustakaan.’ Tanpa berpikir panjang ia langsung membuka pintu perpustakaan itu dengan perlahan dan kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari putranya itu. Ia melewati satu per satu rak-rak buku itu sampai pada rak kesekian matanya menangkap sosok bocah laki-laki kecil yang berdiri di sebelah tangga kayu yang sedang dinaiki oleh seorang wanita yang sepertinya baru saja meraih buku yang ia cari. Jongwoon memang tak terlalu jelas melihat wajah wanita itu, tapi satu  hal yang bisa ia simpulkan, wanita itu adalah guru yang dimaksud Guru Song.

Sebelum menuruni tangga, wanita itu nampak menghela nafas panjang, seolah-olah meredam rasa takutnya. Menurut pandangan Jongwoon, sepertinya tangga itu sudah tidak beres dan sepertinya gadis itu memang cemas karena harus menuruni tangga itu.

Satu langkah. Gadis itu kembali menghela nafas. Satu langkah lagi. Gadis itu kembali menghela nafas. Tepat pada langkah ketiga, anak tangga yang ditapak gadis itu patah dan membuat tangga serta gadis itu kehilangan keseimbangan. Tanpa berpikir panjang, Jongwoon langsung melesat dan tepat pada waktunya, tangannya berhasil mencengkram kedua lengan gadis itu dan dengan spontan membalikkan badannya agar mengurangi resiko tubuh gadis  itu  tertimpa tangga. Namun, Jongwoon yang awalnya berniat untuk berlari sambil menghindari gadis itu dari tangga, sepertinya sedang tertimpa kesialan. Tanpa sempat berlari untuk melarikan diri, tangga itu tepat jatuh menimpa punggung Jongwoon.

“Arrghh.”

“Daddy!!” Suara jeritan  Jongwoon yang keluar bersamaan dengan seruan Taewoon sukses membuat Taeyeon yang sedari tadi memejamkan matanya kini membelalakkan matanya.

“OMO!”

Perlahan dirasakannya cengkraman pria yang menolongnya mulai mengendur, dan saat tangan pria itu terlepas dari lengannya, dengan perlahan Taeyeon membalikkan badannya. Betapa kaget dirinya mendapati seorang pria yang jatuh terduduk dengan posisi berlutut sedang meringis sambil memegangi punggungnya.

“T-Tu-Tuan k-kau b-baik-baik saja?” Khawatir Taeyeon sambil ikut berlutut mendekati pria itu.

‘Suara itu… Sepertinya aku mengenal suara itu.’ Gumam Jongwoon dalam hati ditengah rasa sakit yang dideritanya.

“Perlahan Jongwoon mengangkat wajahnya, alangkah terkejutnya dirinya ketika wajahnya hanya terletak beberapa sentimenter dari wajah gadis yang menatapnya dengan perasaan khawatir.

“KAU!”

“KAU!”

*****

Taeyeon tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap pria itu. Di satu sisi ia merasa iba dan bersalah pada pria itu. Namun disisi lain, ia tak bisa memungkiri betapa sebal dan bencinya ia pada pria itu. Pada akhirnya, Taeyeon memilih memapah pria itu ke unit kesehatan sekolah dengan setengah hati, sementara Taewoon dipinta Jongwoon untuk memanggil Pak Jung yang menunggunya di mobil.

Dalam waktu singkat, ruang unit kesehatan diselimuti suasana dingin yang sebabkan oleh kedua orang itu. Baik Jongwoon yang duduk di pinggir tempat tidur pasien ataupun Taeyeon yang sedang mencari-cari sesuatu di lemari obat, tidak ada yang membuka suara.

“Pakai ini.” Ucap gadis itu dingin sambil menyodorkan salep memar dan sebuah koyo.

‘Dasar gadis bodoh, sudah jelas punggungku sakit begini, dengan tak berkeprimanusiaannya ia hanya menyodorkan salep dan koyo.’

“Obati aku!” Perintah Jongwoon pada Taeyeon.

“MWO?” Pekik Taeyeon.

“Kau tuli atau tidak memiliki telinga sih? Obati aku, Bodoh!”

Taeyeon mendengus kesal, pikiran-pikiran buruk mengenai pria itu kembali memenuhi otaknya. Tapi melihat pria itu terus meringis kesakitan sambil memegangi punggungnya, tetap saja ia tak bisa melawan hati nuraninya meskipun pada akhirnya ia tahu ia akan melakukannya dengan setengah hati.

“Aku sedang tak berniat untuk berdebat. Aku akan mengobatimu. Jadi jangan memancing emosiku lagi.” Sahutnya datar meskipun sebenarnya hatinya panas.

Ia pun duduk di di samping pria Jongwoon dan berhadapan dengan punggung pria itu. Tanpa Taeyeon sadari, pria itu sudah membuka kancing-kancing bajunya, dan bahkan kini pria itu membuka kemejanya menyisakan kaus dalam putih membungkus badannya. Taeyeon yang melihat  aksi Jongwoon itu hanya ternganga sambil membelalakan matanya.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kau tidak sedang berpikir untuk melakukan hal yang tidak-tidak padaku kan?” Pekik Taeyeon kesal sambil menutup matanya dengan sebelah tangannya.

“Ya! Wanita bodoh. Otakmu itu volumenya berapa sih? Buaya saja tau jika kura-kura sedang bersembunyi di cangkangnya, tentu ia tidak bisa memakannya. Sama saja dengan punggungku ini, jelas-jelas memarnya terletak di punggung, kau tak berpikir untuk mengoleskan salep itu di atas kemejaku kan?” Omel pria itu lagi. Bahkan kali ini, Jongwoon mulai melepas kaos dalamnya sehingga ia nampak topless di hadapan Taeyeon.

‘Dasar pria mesum dan tidak tahu malu.’

“Kalau kau tidak ingin berlama-lama melihatku seperti ini, lebih baik cepat kau obati. Jujur saja rasanya sangat sakit.” Tambah Jongwoon kali ini dengan nada dingin namun tetap meringis.

Pada akhirnya, dengan terpaksa Taeyeon mengolesi punggung pria itu dengan salep. Meskipun terkadang kedua matanya agak menyipit dan nyaris terpejam karena sangat malu harus melihat punggung pria itu dalam jarak yang begitu dekat. Tapi pada akhirnya ia berhasil mengobati pria itu dan menempelkan plester peredam pegal pada punggung Jongwoon.

Tepat setelah Taeyeon menyelesaikkan pekerjaannya, seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan itu sambil menggenggam tangan Taewoon.

“Aigoo, Tuan Muda. Apa yang terjadi pada anda. Apa anda baik-baik saja?”

Taeyeon yang sedang sibuk merapikan obat-obatan yang tadi dikeluarkannya melirik sekilas ke arah Jongwoon. Dilihatnya pria itu memberikan senyum iklasnya pada pria paruh baya itu. Jujur ini adalah kali pertamanya ia melihat senyuman tulus pria itu.

“Hanya kecelakaan kecil, aku baik-baik saja, Paman. Terlebih karena nona Kim sudah membantuku mengobati luka-lukaku.” Di akhir kalimatnya Jongwoon balik melirik Taeyeon. Sedangkan yang dibicarakan tetap cuek merapikan lemari obat.

“Nona Kim.” Panggil pria paruh baya itu. “Terimakasih, sudah mengobati luka Tuan Kim.” Ucapnya sambil membungkukan badannya ke hadapan Taeyeon.

Disamping Pak Jung, Taewoon pun ikut membungkukan badannya. “Terimakasih sudah mengobati daddy, Songsaenim.”

Taeyeon pun balas membungkukan badannya, lalu tersenyum tulus. “Tidak, Tidak apa-apa. Lagipula…. Dokter Kim sudah menyelamatkanku.”

******

 

“Apa harus aku? Tidak adakah dokter lain yang bisa menggantikanku?” Tanya Jongwoon yang sedang berbicara di telepon.

“Harus aku? Tapi mengapa?….. Arasso, 1 jam lagi aku akan kesana.” Dengan perasaan kesal Jongwoon memutuskan sambungan teleponnya.

“Taewoon-ah… Sepertinya daddy terpaksa harus mendapat giliran jaga malam untuk hari ini. Maafkan daddy, kita tidak jadi makan malam diluar.” Sesal Jongwoon pada putranya itu.

Bocah itu mengalihkan pandangannya dari bukunya ke wajah Jongwoon. “Tak apa, Tak masalah daddy.” Sahut bocah itu dengan wajah murungnya.

“Daddy akan minta Hyoyeon imo menemanimu.” Ucapnya Jongwoon lagi.

Sebenarnya ia merasa sangat kasihan pada putranya ini. Sejak kecil Taewoon tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, dan bahkan seringkali Jongwoon terpaksa harus menitipkan putranya pada tetangganya ketika ia masih tinggal di Amerika. Tapi beda ceritanya dengan kali ini. Tidak mungkin ia menitipkannya pada tetangganya sementara tak ada satupun tetangga yang ia kenal. Satu-satunya harapannya hanyalah Hyoyeon.

“Hyoyeon-ah.” Panggil Jongwoon ketika Hyoyeon telah menjawab panggilannya.

“Oppa? Ada apa?”

“Bisakah kau kemari menjaga Taewoon? Atau bisakah aku membawa Taewoon ke rumah ayah dan ibu? Aku mendadak diminta untuk menggantikan jam malam dokter seniorku.” Jelas pria itu dengan nada lesu.

Gadis itu terdiam untuk waktu yang cukup lama. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Hyoyeon-ah? Kau masih disana?”

“Oppa… Ayah dan ibu sedang berada di Singapura sedangkan aku, Hyuk Oppa dan Hyoeun… Hmm… Pergi menonton pertunjukkan musikal. Maafkan aku oppa, kali ini aku tidak bisa membantumu.”

Mendengar jawaban Hyoyeon, seketika Jongwoon menghela nafas panjang.

“Oppa.” Panggil adiknya itu lagi.

“Hm, wae?” Sahutnya dengan sangat tidak bersemangat.

“Kalau pengasuh kau mau? Aku bisa meminta bantuan temanku yang dulu sering mengisi waktu kosongnya dengan mengasuh balita.” Tawar Hyoyeon dengan bersemangat.

“Pengasuh? Apa ia terjamin?” Ragu Jongwoon.

“Tentu saja, jika kau mau, aku akan menelponkannya untukmu, dan aku yang akan membayarnya sebagai gantinya karena aku tak bisa membantumu menjaga Taewoon. Lagipula dia salah satu tenaga pengajar di Klub tariku oppa.” Cerita Hyoyeon panjang lebar, berusaha meyakinkan Jongwoon.

“Benarkah? Kalu begitu telponkan dia untukku, dan su-”

“Aku akan menelponkannya untukmu, tapi bagaimana jika kau mencarinya kerumahnya? Ia tinggal di apartmen kecil di belakang apartmenmu.” Sela Hyoyeon.

“Aku?” Sejenak Jongwoon merasa aneh jika ia harus menjemput teman Hyoyeon yang pengasuh itu. Tapi ia sadar ia tak memiliki pilihan lain. “Arasso. Beritahu aku detil tempat tinggalnya.”

 

Dengan punggung yang masih terasa agak pegal setelah empat hari yang lalu tertimpa tangga. Jongwoon tetap melangkahkan kakinya menuju tempat yang dimaksud Hyoyeon. Menurut keterangan Hyoyeon, pengasuh itu tinggal di apartmen sederhana di belakang gedung apartmen tempat Jongwoon tinggal. Dan benar saja, ketika sampai di tempat yang dimaksud Hyoyeon, matanya menatap heran gedung aprtmen itu. Gedung apartmen itu lebih cocok disebut kumpulan kamar sewaan, karena ia yakin satu  apartmen di bangunan itu,  luasnya tak lebih dari sebuah kamar single di hotel-hotel.

Karena menurut petunjuk Hyoyeon, kamar sang pengasuh berada di lantai 2, Jongwoon langsung menaiki tangga yang terletak tepat disampingnya ketika ia memasuki pintu utama apartmen itu.

‘Kamar nomor 9.’ Gumamnya sambil melihati nomor kamar satu persatu. Ketika kakinya tepat berhenti di kamar yang dimaksud. Dengan ragu Jongwoon pun menekan bel.

 

Taeyeon yang baru saja selesai mandi, langsung mengenakan baju mandinya dan membalut rambutnya yang basah dengan handuk. Baru saja ia akan mengenakan bajunya. Bel rumahnya berbunyi, menyebabkan ia mengurungkan niatnya untuk mengganti baju.

“Apa itu Hyoyeon Eonni?” Tanyanya pada diri sendiri. “Ah, pantas saja dia datang, ini sudah pukul enam.” Ujarnya lagi sambil melirik arloji yang ia letakkan di dekat wastafel.

Tak berselang lama, bel rumahnya kembali berbunyi.

‘Apa aku bukakan saja dulu pintu ya? Lagi pula Hyoyeon Eonni bisa membantuku memilih baju.‘ Pikirnya.

Tanpa mengganti bajunya, Taeyeon pun menuju pintu apartmennya dan membukakan pintu dengan perlahan. Ketika pintu terbuka secara perlahan, orang yang menekan bel rumah Taeyeon yang tak lain dan tak bukan adalah Jongwoon langsung mengamati pintu itu, bersiap untuk menyapa sang pemilik rumah.

Baru saja Jongwoon akan menyapa, tiba-tiba suara bisikan yang cukup keras membuat Jongwoon membatalkan panggilannya. “Ya! Masuklah. Aku malu jika harus beridiri di depan pintu dengan baju seperti ini.” Ujar suara bisikan itu dari dalam apartmen.

Jongwoon seklias menatap ragu pintu tersebut. ‘Astaga,tipikal orang aneh seperti apa lagi yang akan kutemui di Korea.’ Keluh pria itu dalam hati.

“Ya! Masuk cepat! Kau tidak tahu ya, betapa tidak nyaman berdiri dibelakang pintu.” Ujar bisikan itu lagi dengan nada memaksa. Dengan sejuta pikiran buruk yang berkelebat di otaknya, Jongwoon  menjajakan kakinya ke dalam apartmen itu. Dan ketika Jongwoon masuk ke dalam apartmen itu. Terdengar suara pintu yang tertutup.

“Onnie, YAAAAA!!!!!” Teriak Taeyeon  saat membalikkan badannya dan menyadari orang yang dipanggil Onnie olehnya bukanlah Hyoyeon. Jongwoon yang kaget dengan suara nyaring Taeyeon, refleks mendorong Taeyeon ke pintu dan membekap mulut gadis itu dengan tangannya.

Taeyeon berusaha berontak dan memaki-maki Jongwoon, tapi sepertinya usahanya mubazir karena mulutnya yang dibekap dan tubuhnya yang di tahan oleh Jongwoon.

“Arrghh.” Pekik Jongwoon ketika ia merasakan tangannya digigit oleh Taeyeon. Jongwoon langsung melepaskan bekapannya pada mulu Taeyeon dan mengingibaskan tangannya.

“Ya! Mwohaneungoya!” Pekik Jongwoon lagi.

“Kau ini stalker atau apa sih, sepertinya semenjak kejadian di rumah sakit itu kau terus menerus gentayangan di sekitarku. Dan lihat! Kali ini kau malah seenaknya masuk rumah orang. Dasar pria penguntit! Dasar pria mesum!” Omel gadis itu sambil memukul-mukul lengan Jongwoon.

Jongwoon yang di pukuli mencoba untuk menangkis pukulan yang diberikan Taeyeon. Tepat saat kedua tangan gadis itu berhasil ditahan dan dicengkeram oleh tangan Jongwoon. Jongwoon menatap gadis itu nanar.

“Kau mengataiku sebagai orang yang suka berpikir tidak-tidak dan suka sembarang menuduh. Tidakkah kau sadar jika kau tak jauh berbeda denganku. Bukankah tadi kau yang berbisik dari belakang pintu, menyuruhku masuk, dan sekarang lihatlah! Malah kau menuduhku yang tidak-tidak! Lagipula kau ini bodoh atau apa sih, tanpa melihat siapa yang datang kau malah membuka pintu dan menyuruhnya masuk, jika saja penjahat tadi yang datang, aku yakin kau sudah sekarat sekarang.” Bentak Jongwoon tepat di depan muka Taeyeon.

Taeyeon diam ternganga. ‘Astaga Kim Taeyeon, ini sudah kedua kalinya kebodohanmu membuatmu dipermalukan oleh pria ini.’

“Lagipula aku datang kesini bukan tanpa alasan. Adikku yang menyuruhku datang kesini. Ia bilang temannya bisa membantu menjadi pengasuh. Dan mana aku tahu jika kau adalah orang yang adikku maksud.” Jelas pria itu lagi masih dengan nada yang membentak.

“Tunggu, adik?” Tanya gadis itu dengan bingung.

“Ya, adikku, Kim Hyoyeon. Dia yang menyuruhku kemari karena katanya ia sudah meneleponmu untukku.” Jawab pria itu lagi, kali ini tidak membentak, namun terkesan dingin.

‘Adik? Aish bodohnya kau Kim Taeyeon! Hyoyeon adalah bibi Taewoon, dan Kim Jongwoon adalah ayah Taewoon. Seharusnya kau peka Kim Taeyeon kalau Kim jongwoon itu adalah kakak Kim Hyoyeon.’

“Maaf, aku sungguh tak peka akan hal itu.” Sesal Taeyeon sambil menundukkan kepalanya. Namun beberapa saat kemudian, gadis itu kembali mengangkat wajahnya. “Tunggu! Kau bilang Hyoyeon memintaku untuk menjadi pengasuh anakmu? Bagaimana bisa? Sementara ia sudah memiliki janji denganku.”

Jongwoon hanya mengerdikkan bahu tanda ia tak mengerti. “Tadi dia bilang akan meneleponmu, coba kau cek saja ponselmu.”

Atas saran Jongwoon, Taeyeon langsung mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas di samping tempat tidurnya. Dan benar saja, terdapat 10 missed call dan 1 pesan yang belum terbaca, yang sudah jelas pengirimnya Hyoyeon.

From : Hyoyeon Eonni

Taeyeon-ah, Mianhae!!!! Karena kau tak mengangkat teleponmu, aku mengirimu pesan. Aku tak jadi memintamu untuk menemaniku memnonton acara musikal, aku akan pergi bersama keluargaku. Oh iya, Oppa-ku memerlukan jasamu untuk menjaga Taewoon sementara ia bekerja, aku mohon kau bantu dia ya. ^^

Membaca pesan dari Hyoyeon, Taeyeon mendengus kesal. “Seenaknya mengingkari janji, seenaknya memberi tugas.” Omel gadis itu pada ponselnya.

“Ehem.” Suara dehaman itu membuat Taeyeon kembali menyadari keberadaan Jongwoon. “Aku tau ini rumahmu, Nona Kim Taeyeon. Tapi jujur aku tak nyaman bertamu ke rumah seseorang, terlebih wanita yang pakaiannya tidak membuatku nyaman.” Ucap pria itu sambil membuang muka, salah tingkah.

“Memang apa yang salah de-” Taeyeon yang menyadari dirinya masih menggunakan baju mandi dan handuk yang membalut rambutnya langsung menutup bagian atas dadanya dan menarik kedua ujung bajunya yang terletak diatas lutut tertarik hingga selutut.

“S-sebaiknya a-aku me-meng-ganti b-bajuku dulu.” Ucapnya terbata lalu berlari menuju kamar mandinya.

 

Sesuai tebakan Jongwoon, rumah pengasuh yang notabene adalah Taeyeon itu hanya sebuah ruangan dengan Tempat Tidur ukuran sedang yang berada di pojok kamar itu, sebuah nakas yang terletak disebelahnya, dan rak buku di pojok lain ruangan itu. Tempat tidur itu langsung berhadapan dengan mini kitchen set. Dan pada bagian tengah terdapat meja kecil berbentuk bundar dengan bantal kecil-kecil berbentuk persegi berjumlah 4 buah.  Jika kita duduk menghadap meja bundar itu sambil bersandar pada bagian samping kasur, kita akan langsung berhadapan dengan sebuah televisi kecil. Dan yang terakhir, sebuah lorong kecil yang terletak diantara tempat tidur dan kitchen set. Pada lorong itu terdapat 2 pintu yang saling berhadapan, yakni sebuah slide door yang kemungkinan adalah lemari pakaian dan sebuah pintu yang baru saja dimasuki oleh Taeyeon, pintu kamar mandi. Dan dirinya sendiri, sedang berdiri bersandar pada lorong kecil lainnya, lorong yang menghubungkan pintu masuk dengan ruangan utama apartmen itu. Ia agak sungkan jika harus masuk lebih jauh ke dalam apartmen itu, karena ia tak terbiasa masuk ke kamar wanita.

Beberapa saat berlalu, Taeyeon keluar dari pintu kamar mandi mengenakan training abu-abu, kaos yang senada dengan trainingnya dan Hoodie berwarna merah cerah.

“Cih, mengasuh anak saja pakaiannya seperti orang yang akan mengikuti lomba marathon.” Komentar Jongwoon sinis.

Gadis itu tak memperdulikan ucapan Jongwoon dan langsung mengenakan sandalnya dan membuka pintu apartmennya. Saat gadis itu sudah berada diluar, gadis itu menatap Jongwoon tajam. “Kau mau aku menjaga anakmu atau kau akan terus bersandar di sana sampai besok?”

Mendengar pertanyaan tajam Taeyeon, Jongwoon langsung beranjak keluar dari apartmen itu.

“Cih dasar wanita cerewet.”

 

Taeyeon memandang jarum jam yang terus berputar seiring dengan waktu yang terus berjalan. Ia merasa bosan. Ya sangat bosan. Saat ini ia tengah duduk di sofa ruang tamu apartmen Kim Jongwoon hanya dengan ditemani sebuah sorotan lampu. Seorang anak yang menjadi tanggung jawabnya, Kim Taewoon, sudah terlelap dengan nyenyaknya di kamar tidurnya. Dan tinggalah ia sendiri di ruangan itu.  Tak tahan terus berdiam diri, Taeyeon pun mulai mencari kegiatan.

Pertama-tama ia merapikan buku-buku Taewoon yang tadi Taewoon gunakan untuk belajar  namun masih  tertinggal di atas meja di ruang tamu. Kedua ia mulai mencuci piring-piring kotor baik itu piring yang tadi Taewoon gunakan untuk makan malam maupun piring kotor bekas Jongwoon makan sebelum ia berangkat bekerja. Dan terakhir ia memutuskan untuk berkeliling di apartmen itu. Apartmen itu memang tidak luas, tapi tentu saja masih jauh lebih luas jika dibandingkan dengan apartmen Taeyeon.

Ketika sedang mengitari ruang tamu, ia memutuskan untuk mengamati sesuatu yang cukup menarik untuknya, foto keluarga Kim Jongwoon. Di foto itu ia bisa melihat tuan dan nyonya Kim, Lee Hyukjae, Kim Hyoyeon serta Kim Jongwoon dan seorang wanita yang kemungkinan besar adalah istrinya dengan balutan pakaian pengantin.

“Aah, jadi ini istrinya. Tapi kenapa aku tidak oernah melihatnya ya?” Tanya Taeyeon pada dirinya sendiri.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Jongwoon tiba-tiba membuat Taeyeon terlonjak kaget lalu membalikkan badanya.

“Anda membuatku kaget.” Ujar Taeyeon sambil memegangi dadanya berdegup kencang. “Sejak kapan anda datang?”

“Baru saja aku sampai.” Jawab Jongwoon.  “Oh ya, Kau bisa pulang sekarang.”

“Tentu saja aku akan pulang, untuk apa aku berlama-lama disini.”sinis Taeyeon. Taeyeon pun membalikkan badannya dan mulai melangkah ke pintu apartmen.

“Kim Taeyeon-ssi.” Panggil Jongwoon, membuat Taeyeon menghentikan langkahnya dan menoleh.

“Wae?”

“Kamsahanida.” Ucap Jongwoon dengan senyuman tipis.

 

*****

 

“Jadi kemarin kau meminta Taeyeon untuk menjaga Taewoon selama Jongwoon hyung bekerja?” Seru Hyukjae saat mendengar cerita Hyoyeon.

“Ya! Kecilkan suaramu Oppa!” Seru Hyoyeon balik sambil meletakkan telunjuknya di bibir Hyukjae.

“Aku sudah memikirkan ini sejak jauh-jauh hari Oppa, hanya saja aku belum mempunyai kesempatan. Lagipula ini satu-satunya cara untuk melancarkan janjiku kepada Sooyoung.”

“Apa kau akan memberi tahu baik Taeyeon ataupun Jongwoon tentang masalah Sooyoung?” Tanya Hyukjae, kali ini dengan setengah berbisik.

“Tentu saja, aku akan memberi tahunya, tapi tidak sekarang.” Jawab Hyoyeon dengan wajah yang bingung.

“Hyoyeon Eonni.” Panggil seseorang dari luar ruangan Hyukjae sambil mengetuk pintu ruangan Hyukjae. “Aku sudah datang, ayo kita latihan.” Teriak orang itu.

“Ne Taeyeonie, kau duluan saja. Aku masih menjawab telepon.” Balas Hyoyeon sambil berteriak juga.

“Araso. Aku ke ruang latihan duluan. Jangan lama-lama Eonni!”

“Oppa, aku dan Taeyeon akan latihan. Tadi Jongwoon Oppa bilang dia akan kesini bersama Tiffany, jika ia mencari Taewoon bilang saja Taewoon sedang di ruang latihan.” Pesan Hyoyeon pada Hyukjae lalu mencium sekilas pipi suaminya  dan keluar dari ruangan itu.

 

*****

“Lee Hyukjae?” Panggil Jongwoon sambil mengetuk pintu ruangan Hyukjae.

“Masuk saja Hyung.” Jawab Hyukjae sambil tetap terfokus pada laptopnya.

Jongwoon memasuki ruangan Hyukjae dengan seorang gadis  yang asing menurut Hyukjae namun diyakininya sebagai teman Jongwoon, Tiffany. “Apa yang sedang kau lakukan Lee Hyukjae?” Tanya Jongwoon sambil mendekati Hyukjae, berusaha melihat apa yang sedang dikerjakan adik iparnya itu.

“Bukan apa-apa Hyung.” Jawabnya sambil segera menarik dan menutup layar laptopnya.

“Ckckck, Apa kau masih suka menyibukkan dirimu dengan gadis-gadis di video itu.” Tanya Jongwoon lagi sambil memposisikan dirinya duduk di hadapan Hyukjae. Tiffany yang sedari tadi mengekor dibelakang Jongwoon, ikut memposisikan dirinya dudik di hadapan Hyukjae, di sebelah Jongwoon.

“Itu kan wajar, untuk kesenangan pribadi Hyung.” Jawab Hyukjae dengan alasan yang menurut Jongwoon sangatlah bodoh.

“Jangan mengutarakan alasan bodoh seperti itu Lee Hyukjae! Respon Jongwoon menyindir.

“Oh ya, Kenalkan ini temanku, Dokter Tiffany Hwang. Tiffany, kenalkan ini adik iparku Lee Hyukjae, pemilik klub tari Yeonjae.” Jelas Jongwoon memperkenalkan kedua manusia itu.

“Tiffany Imnida.”

“Lee Hyukjae imnida.”

“Oh ya Hyung kau mencari Taewoon kan?” Ujar Hyukjae dengan segera, sebelum iparnya kembali membahas isi laptopnya di depan Tiffany.

“Hm.” Jawab Jongwoon dengan dehaman sembari memainkan miniatur penari balet yang terletak di atas meja Hyukjae. “Memangnya Taewoon dimana?”

“Kau bisa mencari Taewoon di ruang latihan Hyung. Ia dan Hyoeun sedang melihat Hyoyeon dan temannya yang berlatih.”

“Oh begitu. Steph, ayo kita mencari Taewoon.” Ajak Jongwoon pada Tiffany.

“Hyuk, aku pergi dulu, bye.” Pamit Jongwoon lalu meninggalkan ruangan Hyukjae.

“Huuffhh…. Hampir saja…” Lega Hyukjae.

 

Jongwoon dan Tiffany berjalan bersama menuju ruang latihan.  Beberapa meter dari ruang latihan itu, Jongwoon menangkap sosok yang cukup familiar untuknya. Orang itu datang dari arah yang berlawanan namun orang itu juga menyadari keberadaan Jongwoon, dan melemparkan tatapan tajam pada Jongwoon.

“Apa kabarmu Tuan Kim Jongwoon.” Sapa pria itu sinis ketika kedua pria itu saling bertatap muka di depan pintu ruang latihan.

“Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Bagaimana denganmu, Cho Kyuhyun?” Balas Jongwoon tak kalah sinis.

“Tentu aku baik-baik saja.” Jawab Kyuhyun. Kedua pria itu saling mengalirkan sengatan melalui pandangan mereka. Tak jarang Tiffany yang berada di sebelah Jongwoon menatap kedua pria itu bergantian dengan ekspresi bingung.

Tanpa mau memperpanjang situasi dingin yang terjadi, kedua pria itu plus Tiffany memilih untuk memasuki ruangan itu.  Ketika tiga orang itu memasuki ruang latihan, mereka langsung disuguhi pemandangan yang cukup menakjubkan. Bagaimana tidak? Taeyeon dan Hyoyeon sedang melakukan gerakan tarian yang sangat menakjubkan. Dengan diiringi musik klasik Perancis, Taeyeon dan Hyoyeon menampilkan kelenturan tubuh mereka. Gemulai kedua gadis  yang ketika itu berbalutkan legging dan tanktop  terlihat sangat indah dan anggun. Ditambah lagi dengan rambut kedua gadis itu yang terkadang melambai seirama dengan tariannya. Membuatnya nampak bagaikan bidadari. Pada akhir musik, Taeyeon dan Hyoyeon mengakhiri tarian mereka dengan melakukan split sambil memposisikan tangan mereka seperti menari ballet.

“Wooaaah, Daebak!!!” Seru dua bocah kecil yang sedari tadi menonton dua wanita itu menari. Sementara Hyoyeon dan Taeyeon berdiri dari posisi mereka dan berjalan ke sudut ruangan tempat Hyoeun dan Taewoon duduk.

“Taeyeonnie!” Panggil Kyuhyun yang sontak membuat Taeyeon menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kyuhyun. Entah bagaimana, saat Taeyeon menolehkan kepalanya, matanya justru bertemu dengan Jongwoon yang dari tadi berdiri di depan pintu diapit Kyuhyun dan Tiffany. “Ne Oppa?” Jawabnya girang sambil melambaikan tangannya pada Kyuhyun, mencoba tak memperdulikan Jongwoon.

“Ya, bagaimana kalian bisa sampai bersamaan?” Tanya Hyoyeon menghampiri ketiga manusia yang masih berdiri di depan pintu.

“Aku ingin menjemput Taewoon.” Ujar Jongwoon singkat.

“Aku hanya ingin mencari Taeyeon.” Timpal Kyuhyun.

“Karena kebetulan sedang ramai seperti ini, bagaimana jika kita minum kopi bersama?” Tawar Hyoyeon.

 

Hyukjae memasuki ruang latihan dengan membawa 2 kotak box  yang masing-masing berisi 4 gelas minuman. “Hey, pesanan sudah datang.” Serunya lalu ikut bergabung dalam lingkaran yang dibentuk oleh Hyoyeon, Taeyeon, Jongwoon, Tiffany, Kyuhyun dan tentunya 2 bocah, Hyoeun dan Taewoon. Hyukjae pun memilih duduk diantara Hyoyeon dan Jongwoon lalu membagikan masing-masing orang dengan minuman yang mereka pesan. Mereka mulai bercakap-cakap tentang banyak hal.

“Jadi dokter Kim Jongwoon, bisakah kau memberi sedikit komentarmu atas tarian tadi?” Pinta Hyoyeon lalu kembali menyeruput Ice Coffeenya.

“Kau nampak sangat mengangumkan, Kim Hyoyeon.” Komentar Jongwoon singkat.

“Lalu menurutmu, bagaimana penampilan Taeyeon? Tarian tadi akan ditarikan Taeyeon di audisinya mendatang.” Tanya Hyoyeon mengharapkan jawaban Jongwoon.

“Tarian Nona Taeyeon? Aku tidak terlalu memperhatikannya. Kalaupun aku memperhatikannya, sepertinya kau jauh lebih mengagumkan. Kenapa tidak kau saja yang audisi.” Jawab Jongwoon dingin.

“Kau akan takjub, jika nanti kau mendengar Taeyeon bernyanyi apalagi dipadukan dengan tariannya. Benarkan Taeyeon?” Sebal Hyoyeon. Sementara Taeyeon hanya membalasnya dengan senyum kecil yang dipaksakan.

“Ya Yeobo, salah jika kau membicarakan seni dengan ahli kandungan. Bukannya kritik atau saran yang kau dapatkan, tapi justru teori yang salah.” Timpal Hyukjae yang sontak membuat semuanya tertawa. Sementara Jongwoon memasang wajah Jengkel.

Cukup lama mereka mengobrol tiba-tiba obrolan mereka terputus oleh suara nyaring dari sebuah ponsel.

“Ponsel siapa itu?” Tanya Jongwoon dingin.

“Punyaku.” Jawab Taeyeon dan dengan segera beranjak mengangkat teleponnya.

“Yeobseyo.” Jawab Taeyeon sambil tersenyum, seolah-olah orang yang meneleponnya bisa melihat senyumannya.

“Aah, Changmin Oppa… Wae?… Bertemu?… Nanti malam?… Tentu saja aku bisa… Aku akan datang.. Di cafe biasa, pukul 7? Arasso.. Ne Nado Saranghae….” Taeyeon berbicang dengan penelepon dengan raut wajah yang sangat bahagia. Bahkan semua orang di ruangan itu bisa menebak kalau yang meneleponnya adalah kekasihnya.

“Hyung,” bisik Hyukjae di telinga Jongwoon.

“Wae?”

“Kenapa wanita begitu labil ya? Meskipun sudah berkali-kali di buat kecewa, tapi tetap saja semuanya akan kembali seperti semula ketika sang pria mngucapkan kata-kata yang menurut wanita sangat menyentuh.” Sekilas Jongwoon menautkan kedua alisnya seolah meminta penjelasan dari hal yang dibisikkannya, namun beberapa saat kemudia Jongwoon mengerti bahwa topik pembicaraannya itu mengarah ke Taeyeon.

“Ya, itu bukan urusanmu, urusi saja masalahmu Hyuk!” Nasihat Jongwoon.

“Meskipun itu bukan urusanku, aku berani jamin besok ia akan curhat habis-habisan dengan Hyoyeon karena dikecewakan lagi.” Tambah Hyukjae dengan wajah kesal.

‘Segitunya kah?’ Jongwoon sambil menatap Taeyeon sekilas. ‘Tapi gadis itu nampak bahagia dan baik-baik saja…’

 

*****

“Kenapa tidak ada yang bagus ya..” Keluh Taeyeon sambil mematut bayangannya di cermin. Ini sudah baju kelima yang ia coba, namun tetap saja baju ini tak berhasil membuat senyuman merekah di wajahnya. Hingga akhirnya ia memilih untuk mencari baju lain. Ia kembali mengoyak isi lemarinya sementara tempat tidurnya sudah seperti lautan baju. Tapi sepertinya Tuhan memang menyayaginya. Ditengah pencariannya, matanya menemukan sebuah mini dress berwarna putih yang cukup menarik perhatiannya.

‘Bukankah ini pemberian Hyoyeon eonni sebagai hadiah kelulusanku dari sekolah seni?’

Dress itu terbuat dari satin dengan lapisan brokat pada bagian dada. Sangat simple namun terkesan anggun dan sopan. Tanpa berpikir panjang, Taeyeon langsung menetapkan pilihannya pada dress itu. Dan sesuai harapannya, dress itu melekat dengan manisnya pada tubuh. Taeyeon.

“Tidak Buruk.” Komentar Taeyeon pada dirinya sendiri sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.

Setelah mengenakan gaun itu, Taeyeon hanya tinggal menambahkan polesan tipis bedak pada wajahnya dan lipgloss pada bibir mungilnya. Setengah dari rambut bagian atas  ia jepit dan dan sisanya ia biarkan tergerai. Tak lupa ia mengenakan sebuah gelang berpola rantai dengan bandul bulan dan bintang pada beberapa bagiannya. Dan sentuhan terakhir, heels berwarna silver yang nampak cantik di kakinya. Secara keseluruhan penampilannya cukup membuatnya puas. Ia menarik kedua sudut bibirnya hingga tercipta sebuah senyum tipis.

“Sempurna.”

Sebelum berangkat, Taeyeon melirik kalender meja yang terletak diatas nakasnya. Dipandanginya sebuah tanggal yang ia tandai dengan lambang hati berwarna merah. Tentu saja tanggal itu adalah hari ini.

“Aku tau kali ini kau tak melupakannya oppa.” Ucapnya sambil membayangkan hal-hal indah yang akan terjadi di kencannya hari ini.

******

“YA! Apa kau bilang? Menginap?” Pekik Jongwoon ditelepon yang membuat Hyoyeon yang sedang bertelepon dengannya menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Jongwoon Oppa! Bisa tidak kau tak berteriak di telepon. Telingaku panas mendengarnya.” Keluh Hyoyeon.

“Dan bisa tidak kau tidak seenaknya mengajak Taewoon melakukan hak-hal yang kau mau.” Omel Jongwoon lagi pada adiknya.

“Ini bukan kemauanku Dokter Kim Jongwoon! Kau tau kan, di awal rencana aku hanya berniat mengajak Taewoon menjemput ayah dan ibu di bandara. Tapi ayah dan ibu justru meminta Taewoon menginap. Jadi kenapa kau menyalahkanku, salahkan saja ayah dan ibu.” Pekik Hyoyeon balik kepada kakaknya.

“Setidaknya kau harus mengerti keadaanku Kim Hyoyeon-ssi! Aku hanya tinggal berdua di apartmen ini, dan sekarang kau membuatku sendiri. Apa kau ingin melihatku gila karena kesepian?”

“Siapa suruh tidak mencari wanita lagi.” Ceplos Hyoyeon yang langsung membuat Jongwoon makin mendidih.

“Apa kau bilang?” Tanya Jongwoon dengan nada dingin, meminta Hyoyeon mengulangi pernyataanya.

“Tidak, aku tidak bilang apa-apa.” Bantah Hyoyeon. “Apa perlu aku meneleponkan Taeyeon untuk mengasuhmu juga Jongwoonnie.” Goda Hyoyeon dengan nada sinis. Dan tentu saja emosi Jongwoon semakin tersulut.

“Lakukan saja sesukanmu!” Kesalnya lalu memutuskan sambungan dan melemparkan ponselnya ke sofa. Baru saja ia berniat untuk megistirahatkan otaknya yang panas akibat kata-kata pedas yang dilontarkan Hyoyeon, perutnya mengeluarkan suara yang terkesan menuntut minta diisi.

“Ah, aku lapar…” lirihnya sambil mengelus-elus perutnya dan beranjak menuju lemari pendingin yang terletak di dapurnya. “Mari kita lihat, apa yang kusimpan disini.” Ujarnya pada sendiri dan mulai mengamati isi kulkasnya. Cukup lama ia mengaduk-aduk isi kulkasnya, namun sepertinya perutnya memang tak bisa diajak kerja sama.

“Sepertinya bukanlah hal yang buruk jika aku menghabiskan malam akhir pekan dengan berjalan-jalan diluar.”

*****

Taeyeon melirik jam tangannya dengan gelisah. Sesekali ia memandangi layar ponselnya, dan menghela napas karena orang yang ditunggunya tidak kunjung datang. Wajar jika ia mulai merasa gusar. Sudah tiga jam ia menunggu di restoran ini, namun tak ada tanda-tanda pria yang ditunggunya akan datang, Gadis itu lalu menoleh ke kiri dan kanan. Melalui dinding kaca restoran itu, ia bisa melihat keadaan jalan yang masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, bukan pemandangan yang mengherankan, sebab ini adalah malam akhir pekan.

Ia kemudian meraih ponselnya lalu mulai menelepon seseorang. Sebenarnya ini sudah kali yang kesekian ia menghubungi nomor itu, namun tetap saja, orang yang diteleponnya tak mengangkatnya, sama seperti sebelumnya.

“Maaf Nona.” Ucap seorang pelayan menghentikkan aktifitas menelepon Taeyeon. “Sudah tiga jam anda disini, tapi hanya anda duduk dan memesan makanan, lagipula restoran ini akan bersiap untuk tutup, bisakah anda membayar minuman anda?” Pinta pelayan itu dengan halus.

“Arasso.” Jawab Taeyeon singkat lalu beranjak dari duduknya.

 

Taeyeon hanya berjalan dengan segala pikiran negatif yang berkelebat di otaknya. Bagaimana tidak? Sebelum pergi ke restoran ini, ia menggantungkan harapan yang sangat tinggi pada pria itu di hari peringatan hari jadi mereka yang ketiga. Namun nyatanya yang terjadi tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada tahun pertama pria itu beralasan lupa, dan pada tahun kedua pria itu hanya mengirimi pesan 5 menit sebelum hari jadi mereka akan kadaluwarsa, dan tahun ini, pria itu tak mengatakan apa-apa. Hanya sejuta harapan yang ia coba janjikan melalui kencan mereka, namun pada kenyataannya, harapan tetap saja harapan. Gadis itu masih berjalan dengan tatapan kosong. Ia mencoba untuk menahan butiran-butiran bening yang mencoba menembus kelopak matanya. Sungguh ia tak mengerti kemana arah hubungan mereka selanjutnya.

Tanpa Taeyeon sadari, sejak keluar dari restoran sepasang mata terus memandanginya. Mata milik Kim Jongwoon. Bahkan entah apa yang dipikirkan Jongwoon, kini kaki-kakinya malah mengikuti langkah kaki-kaki Taeyeon. Hingga matanya menyaksikan gadis itu tersandung dan terjatuh di trotoar. Pria itu bermaksud menolong gadis itu. Namun sepertinya masih ada rasa gengsi yang terselip di hatinya, hingga ia hanya memutuskan untuk melihat gadis itu dari jarak beberapa meter. Ia bisa melihat gadis itu meringis dan menatap heels sebelah kirinya patah. Sebuah senyuman miris tercipta di wajah Taeyeon. Entah mengapa ia merasa prihatin pada gadis itu.

Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini tanpa alas kaki yang melindungi telapak kaki gadis itu hingga gadis itu terpaksa harus berjalan dengan terseok-seok. Kedua heelsnya ia bawa dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jarinya, menunjukkan betapa tertekannya ia.

Suatu yang cukup ganjal kembali nampak pada gadis itu. Kini gadis itu nampak mendekati sebuah pohon yang berada di pinggiran jalan dan berdiri sambil berpegangan pada pohon itu. Wajah gadis itu nampak meringis lagi. Kali ini hati nurani Jongwoon mengalahkan rasa gengsinya. Segera ia berlari mendekati gadis itu.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Jongwoon khawatir  sambil memegang pundak Taeyeon lembut. Gadis itu mendongakkan kepalanya. Wajahnya nampak suram dan datar. Tanpa sengaja mata Jongwoon melihat telapak kaki Taeyeon yang tertusuk butiran-butiran pecahan kaca. Bahkan darah mulai mengucur dari beberapa titik pada telapak kaki gadis itu.

“Apa yang terjadi pada kakimu. Mengapa kau tidak mengenakan alas kaki? Lihat akibatnya kakimu jadi seperti ini.” Tanya Jongwoon bertubi-tubi tanpa mengurangi rasa khawatirnya. Bukannya menjawab gadis itu malah mulai terisak. Taeyeon sudah tidak dapat menahan air matanya dan langsung menangis sekencang-kencangnya di hadapan Jongwoon.

“Hei, mengapa kau menangis?” panik Jongwoon. Orang-orang yang berlalu lalang di trotoar itu memandang Jongwoon dengan tatapan mengintimidasi.

“Bukan aku. Sungguh. Bukan aku yang menyebabkannya menangis.” Ujar Jongwoon sambil berusaha menyakinkan orang-orang yang memandanginya. “Hei, berhenti menangis.” Pinta Jongwoon kepada Taeyeon. “Orang-orang mengira aku yang membuatmu menangis.”

Bukannya menghentikan tangisannya, justru tangisan taeyeon semakin menjadi-jadi. Jongwoon yang tidak tahu harus berbuat apa langsung menarik gadis itu ke dalam pelukan dan mengelus lembut punggung Taeyeon. Membiarkan gadis itu meluapkan isi hatinya dan membasahi pakaiannya dengan air mata gadis itu.

 

“Jadi? Bisakah aku pulang sekarang? Tanya pria jangkung bernama Shim Changmin pada sekretarisnya.

“Sepertinya sudah, lagipula setelah rapat tadi, anda tidak ada jadwal lagi.” Jawab sekretarisnya dengan sopan.

Dengan segera Changmin mengambil ponselnya yang sedari tadi ia taruh di sakunya dengan mode silent. Dan sesuai dugaannya, gadis itu sudah berusaha menghubunginya berkali-kali. 10 pesan dan 25 panggilan tak terjawab. Perasaan tak nyaman menyelimuti pria itu. Padahal dengan susah payah ia sudah mengatur kencan romantis untuknya dan sang kekasih . Tapi rapat dadakan mengenai penjualan saham malah mengacaukan jadwalnya.

Setelah sampai di basement parkir. Ia langsung mengenakan sabuk pengaman dan menginjak pedal gas hingga mobilnya bergabung dengan hiru pikuk mobil di jalan raya. Selama perjalanaan otaknya tak bisa berhenti memikirkan gadis itu, Kim Taeyeon. Hingga mobilnya berhenti di restoran yang seharusnya menjadi tempat pertemuannya dengan Taeyeon. Changmin berlari sekuat tenaganya memasuki restoran itu. Tapi seketika harapannya hancur saat melihat keadaan restoran yang sudah kosong dan hanya tersisa pelayan-pelayan yang bersiap menutup restoran.

“Taeyeon-ah.” Lirihnya.

Dengan perasaan bersalah dan putus asa Changmin mengemudikan mobilnya menuju rumahnya. Matanya sibuk berkonsentrasi dengan keadaan jalan. Namun tidak untuk otaknya. Otaknya terlalu kalut memikirkan  bagaimana perasaan gadis itu. Ia sadar betul betapa keterlaluannya ia pada Taeyeon.

Ketika hendak membelokkan mobilnya di perempatan jalan, matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal. Kim Taeyeon. Gadis itu sedang digendong oleh seorang  di punggungnya.  Meskipun tak bisa melihat wajah sang penggendong, Shim Changmin yakin kalau itu adalah seorang pria. Kali ini ia tak bisa mengalihkan matanya dari pemandangan itu.

“T-Tae-yeon-ah.” Guman Changmin terbata-bata.

 

TBC

–          Curhat Author –

Halo Readers!!!!

Thanks buat para reader yang udah baca ff ini. Meskipun author masih rada abal dan tulisannya masih kaku, mohon dimaklumi dan beri kritik dan saran yang membangun ^^. Oh iya .. Cuma mau minta permakluman aja, buat part 4 udah selesai sih 50 % tapi mungkin agak telat postnya soalnya author lagi sakit mata hehehe. Jadi reader yang udah baca apalagi comment harap bersabar yaaaa ^^. Mungkin kalo komen di part ini semakin berkembang dari yang sebelumnya author bakal ngusahain cepet selesai in part 4 dan part-part selanjutnya, hehe.

23 thoughts on “[FF Freelance] Blind in Love (Part 3)

  1. how poor taeng…:-( changmin oppa udh tau jarang ketemu pake telat. biarlah, kan ada kim jongwoon. pasti di part selanjutnya pada salah paham. hahaha. jongwoon oppa sm kyu oppa apa mereka musuhan ???

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s