[FF Freelance] That Ahjussi (Part 9)

that ahjussi poster

Judul: That Ahjussi… (Chapter 9)

Author: Yul

Length: Chaptered

Genre: Romance, Life, Drama, little bit Comedy

Main Cast: Park Bom (2NE1), Choi Seunghyun a.k.a TOP (Big Bang).

Support Cast: Shin Bongsun, Park Jiyeon (a.k.a Gummy), Yoon Doojoon (B2ST), Kwon Jiyong (Big Bang), Sandara Park (2NE1).

Disclaimer: WARNING >> Di part sebelumnya seinget author, author bilang part ini kemungkinan akan pendek durasinya (?) So, author minta maaf kalo part ini pendek ya~ ^^ FF ini murni hasil jerih payah author dan didedikasikan untuk pembaca FF terutama SpringTempo shipper. Plagiat not allowed, read & leave comment are very welcome. Happy reading ^^~

NB: Disini usia TOP lebih tua 2 tahun dari usia Bom, usia mereka juga dirubah demi kenyamanan (?)

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Part 8

Chapter IX

“Dara-ya…” ujar Seunghyun masih dengan senyumnya lalu memeluk Dara erat. Sesekali dielusnya pundak Dara. Dara ikut tersenyum sambil membalas pelukan Seunghyun.

Mata Bom terbelalak seketika. Lutut Bom melemas, kakinya bergetar. Bom merasa ada satu pukulan keras menghantam hatinya. Ia masih tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat. Bom memundurkan tubuhnya yang mulai tidak seimbang. Matanya merah, berkaca-kaca.

Bom memutar tubuhnya. Dengan cepat ia bergegas menjauhi ruangan tadi, mencari toilet terdekat. Ketemu! Bom langsung masuk terburu-buru bahkan tidak sempat meminta maaf pada seorang tamu lain yang tak sengaja ia tabrak ketika masuk ke dalam toilet.

Air mata sudah membasahi pipinya ketika Bom mengunci pintu toilet. Untuk sementara Bom memejamkan matanya, meredakan perasaan sesak di hatinya. Bom berusaha melupakan apa yang ia lihat tadi. Bom-ah, lupakan yang kau lihat tadi! Itu pasti bukan Seunghyun ataupun Dara! Semakin kuat Bom mengelak fakta yang terjadi, semakin sakit hatinya, semakin banyak air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.

Gemuruh tepuk tangan terdengar samar-samar dari luar dilanjutkan dengan alunan musik yang mengalun. Acara sudah di mulai. Cabang Tibbit’s Gallery untuk wilayah Gangnam dan Gangseo sudah resmi dibuka, sementara Bom masih mengurung diri di kamar mandi.

Setelah hampir setengah jam Bom mengurung diri di kamar mandi, ia mulai membersihkan wajahnya perlahan dengan air. Beruntung make up yang Bom gunakan waterproof. Bom  memandangi pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tetap sama, hanya matanya sedikit sembab. Bom mengeluarkan make up eye dari tas tangannya dan membetulkan riasan matanya. Ia harus segera keluar dari sini sebelum Seunghyun melihatnya.

Para tamu sedang menjamu makanan. Ada juga yang sedang membuat lingkaran kecil sambil membahas bisnis masing-masing. Bom melihat sekeliling, mencari sosok Seunghyun. Sejauh ini ia tidak menemukan sosok Seunghyun. Aman. Bom mulai menghampiri kerumunan orang-orang di tengah ruangan untuk mencari pinjaman ponsel. Ia harus secepatnya menghubungi Bongsun atau Jiyong untuk meminta tumpangan pulang.

“Minji-ah!” panggil  Bom ketika melihat Minji sedang berbincang dengan anggota wakil rapat tempo hari. Minji melambaikan tangannya sambil tersenyum. Ia mengisyaratkan agar Bom ikut berbaur. Bom menghampiri Minji.

“Minji-ah…” Bom mengatur napasnya. Matanya masih mengawasi sekitarnya. Ia tidak ingin bertemu Seunghyun saat ini. “Waeyo? Kau darimana saja eonni?” tanya Minji heran. Bom menggeleng pelan. “Ponselmu. Aku pinjam ponselmu,” ujar Bom terburu-buru.

Minji langsung memberikan ponselnya. “Waeyo eonni?” tanyanya lagi. “Ani. Apa kau punya nomor Jiyong? Kwon Jiyong?” tanya Bom. Ia tidak pernah menghapalkan nomor telepon orang lain selain dirinya. Minji mengerutkan keningnya. “Kwon Jiyong? Siapa Kwon Jiyong?” Bom menepuk dahinya. Baboya! Mana mungkin Minji kenal dengan Jiyong!

“Aaah… Apa kau punya nomor Bongsun eonni?” tanya Bom lagi. Minji mengangguk. Bom langsung mencari nomor Bongsun di kontak ponsel. “Kau tidak bersama Seunghyun oppa? Bukankah kalian datang bersama tadi?” Pertanyaan Minji barusan menghentikan gerakan tangan Bom. “Itu…” Bom berpikir sejenak.

Tiba-tiba seseorang melingkarkan tangannya di pinggang Bom. “Bommie-ah…” bisik Seunghyun halus. Deg! Hampir saja Bom menjatuhkan ponsel Minji karena kaget. Wajah Bom panik seketika. Minji yang melihat Bom dan Seunghyun sedang ‘bermesraan’ hanya tersenyum lalu membalikkan badannya untuk berbaur kembali dengan karyawan yang lain.

“Kau dari mana? Aku mencarimu dari tadi,” tanya Seunghyun.

“Ah, sejak tadi aku di sini. Mungkin kau tidak melihatku tadi,” jawab Bom sekenanya. Ia berusaha tersenyum untuk menyembunyikan paniknya. Seunghyun hanya mengangguk  paham.

“Permisi semuanya…” Sebuah suara dari speaker menghentikan aktifitas dari masing-masing orang yang ada di ruangan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Sandara Park yang akan memberi untaian kata di tengah-tengah acara? Semua mata tertuju pada Dara yang sudah berdiri di podium indah berhiaskan kayu kokoh dengan ukiran elegan dan beberapa permata yang tergantung di sana.

Wajah Dara terlihat bahagia. Bom bergantian menatap Dara dan Seunghyun, mencoba menangkap ‘sinyal rahasia’ dari keduanya. Sepertinya Dara akan menyampaikan kabar gembira dan Seunghyun sedang menunggu pengumuman itu dengan wajah berbinar. Jantung Bom kembali berdetak lebih cepat. Ia menoleh ke setiap sudut ruangan, mencari toilet.

“Ah, mungkin kalian sudah tahu kabar apa yang akan aku sampaikan. Aku tidak bisa menyembunyikan raut wajahku jika sedang bahagia.” Dara memulai percakapannya dengan senyum sumringah. Seluruh tamu memberikan tepuk tangan sambil ikut tersenyum. Oh tidak… Lutut Bom kembali melemas. Wajahnya pias.

“Kau kenapa?” tanya Seunghyun.

“A, ani. Kurasa aku harus ke toilet lagi,” ujar Bom sedikit gugup. Membayangkan Dara akan mengatakan hal yang sama seperti yang waktu itu Jiyong ceritakan sudah membuat Bom cukup terlihat ‘tidak sehat’.

“Toilet? Lagi?” Seunghyun menatap wajah Bom dengan kening berkerut. Bom hanya tersenyum kaku memamerkan deretan gigi putihnya.

“Tunggulah sebentar. Dara akan mengumumkan sesuatu yang baik sebentar lagi,” kata Seunghyun sambil menunjuk ke arah Dara.

Bom memejamkan matannya sambil menghela napas. Bom-ah, bagaimana ini? Bom menghela napas lagi. Ia harus melakukan sesuatu. Bom membuka matanya, menatap Seunghyun lekat-lekat.

“Ahjussi…” ujar Bom. Seunghyun balas menatap Bom.

“Baiklah, kabar bahagia yang akan kusampaikan kali ini adalah…” Dara menghentikan sejenak ucapannya untuk mengambil napas sambil menatap seluruh tamu yang tengah menunggu kelanjutan ucapannya. Seunghyun menolehkan kepalanya ke arah Dara yang masih berdiri di podium.

“Ahjussi…” ujar Bom lagi. Seunghyun kembali menolehkan wajahnya ke arah Bom.

“Ahjussi… Apa kau mencintaiku? Atau kau mencintai Dara?” tanya Bom langsung.

Seunghyun mengerutkan keningnya. Matanya menyiratkan tanda tanya besar atas pertanyaan Bom barusan.

“Apa maksudmu?” tanya Seunghyun benar-benar heran.

Sementara di podium Dara sudah membuka mulutnya untuk melanjutkan ucapannya yang sempat berhenti. “Hari ini…”

***

Bom menatap lantai yang ia pijaki lekat-lekat sambil meremas kedua tangannya. Ia yakin wajahnya terlihat sangat bodoh sekarang setelah mendengarkan penjelasan dari Seunghyun barusan. Sementara Seunghyun sedang berdiri di hadapannya sambil menatapnya lekat-lekat dirinya dengan tangan terlipat di depan dada.

“Jadi…” Seunghyun menghela napasnya.

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan sampai bertanya aku mencintaimu atau Dara?” sambungnya.

Bom memejamkan matanya. Bom-ah! Kau bodoh! Benar-benar bodoh! “Itu… Aku…”

-Flashback-

Beberapa saat sebelumnya…

“Seunghyunnie…” panggil Dara ketika melihat Seunghyun sedang berbincang dengan beberapa orang –tanpa Bom di sampingnya.

“Dara-ya,” sapa Seunghyun sambil melambaikan tangannya. Dara menghampiri Seunghyun.

“Di mana Bom?” tanya Dara begitu tiba di sebelah Seunghyun.

“Dia sedang ke toilet. Tidak biasanya kau menghampiriku saat acara seperti ini. Waeyo?”

“Kurasa ada hal yang harus kuberi tahu padamu sebelum aku mengumumkannya di podium.”

Seunghyun mengangguk paham lalu mengikuti langkah Dara setelah sebelumnya berpamitan pada karyawan Tibbit’s Gallery yang lain.

Di salah satu ruangan…

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Seunghyun setelah menutup pintu –yang tidak terlalu rapat.

“Oppa…” Dara memandangi Seunghyun cukup lama.

“Oppa… Aku menyukaimu,” ujar Dara sambil tersenyum –menahan tawa.

Seunghyun tersenyum menghampiri Dara lalu memeluknya. Sesekali diusapnya pundak Dara.

“Dara-ya… Jangan bercanda. Umurmu dan umurku sama. Kita ini sudah bersahabat hampir 10 tahun. Aku tahu pasti bagaimana dirimu. Kau memanggilku seperti itu jika sesuatu yang baik sedang di sekitarmu.” Seunghyun tertawa lalu melepaskan pelukannya. Dara ikut tertawa.

“Aish. Aku gagal lagi mengerjaimu,” gerutu Dara.

“Ah lupakan soal tadi. Kau tahu? Kau tidak akan percaya jika aku memberitahukan hal ini…”

Seunghyun menautkan kedua alisnya.

“Hari ini orang tuaku mengizinkanku untuk memimpin cabang perusahaan mereka di Amerika. Oh my God, Seunghyun! Amerika! Aku akan tinggal di Amerika!” Dara berteriak excited menekankan kata Amerika, negara yang ia elu-elukan sejak kecil. Mulut Seunghyun terbuka lebar untuk beberapa saat.

“Hey! Itu bagus! Aku tidak menyangka akhirnya mereka mengizinkanmu untuk tinggal di sana!” Seunghyun ikut excited. Seunghyun masih ingat bagaimana Dara selalu membicarakan tentang Amerika dari mereka pertama bertemu saat menginjak sekolah menengah. Dara selalu ingin pergi ke sana tetapi orang tuanya selalu melarangnya. Menurut mereka negara bebas tidak cocok untuk orang yang berkeinginan bebas seperti Dara.

“Akhirnya… Aku akan mengumumkan sesuatu yang paling membahagiakan dalam hidupku.” Dara memejamkan matanya, mendramatisir keadaan untuk meresapi kebahagian yang ia rasakan. Seunghyun tertawa melihat tingkah Dara lalu kembali memeluknya.

-End Flashback-

“Apa? Bisa kau ulangi lagi?” tanya Seunghyun ketika Bom menjawab alasan kenapa ia sempat berpikir kalau Seunghyun menaruh perasaan terhadap Dara. Ia sudah mendengar apa yang Bom katakan barusan, hanya berpura-pura tidak mendengar. Seunghyun cepat-cepat menghilangkan senyum di wajahnya, ia berusaha terlihat serius.

“Aku… Aku tidak tahu kalau Dara itu sahabatmu. Aku hanya tidak suka saat melihatmu bersamanya,” ulang Bom. Wajah merahnya semakin menunduk. Kedua tangannya terkepal di kedua sisi. Bom, kau konyol. Sungguh konyol.

Pertahanan Seunghyun untuk tidak tertawa runtuh. Tawa Seunghyun membahana seketika. Bom hanya bisa memejamkan mata dan diam tidak melakukan apa-apa. Ia tidak ingin melakukan apapun yang membuatnya terlihat konyol –setidaknya untuk saat ini.

Tiba-tiba Bom merasakan tubuhnya direngkuh seseorang. Mata Bom terbuka. Seunghyun. Bom bisa merasakan jantungnya bergemuruh. “Bommie-ah…” ujar Seunghyun setelah selesai tertawa.

“Tenang saja. Aku tidak akan mencintai wanita lain selain dirimu,” bisik Seunghyun. Blush. Wajah Bom benar-benar merah. Bagus! Ahjussi ini tahu bagaimana membuat wajahku selalu merah!

***

“MWO?! Kau dan Seunghyun berbohong sampai sejauh ini? Kau tidak memberitahuku? Bahkan kau berbohong juga pada Tuan dan Nyonya Choi?!” tanya Jiyeon setengah berteriak setelah mendengar hampir keseluruhan cerita tentang hubungan Bom dan Seunghyun dari Bom barusan. Jiyeon sedang berkunjung ke apartemen Bom pagi ini. Kebetulan hari ini Tibbit’s Gallery sedang libur dan Jiyeon sudah pulang dari bulan madunya di Milan.

“Bom-ah… Neo michyeosseo!” gumam Jiyeon –masih shock.

“Kenapa kau tidak menceritakan hal seperti ini padaku dari awal?” tanya Jiyeon, berusaha menenangkan dirinya.

“Kau dan Seungri sedang menyiapkan pernikahan kalian waktu itu. Aku tidak ingin mengganggu momen pentingmu dengan Seungri. Lagipula kukira masalahnya tidak akan seperti sekarang.” Bom memainkan guling lollipop-nya.

“Astaga, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Ini masalah serius dan kukira dari awal kalian memang benar-benar sepasang kekasih. Ternyata kalian…” Jiyeon memijat pelan pelipisnya. Ia terlihat frustasi.

“Tapi aku dan Seunghyun memang sepasang kekasih,” ujar Bom.

“Baru-baru ini, kurasa,” sambungnya lagi.

“Seharusnya aku lebih peduli padamu meski aku sibuk menyiapkan pernikahanku waktu itu. Oh tidak, ini salahku…” Jiyeon memejamkan matanya, berusaha merutuki dirinya karena tidak memedulikan sahabatnya di saat ia dibutuhkan.

“Jiyeon-ah, jangan seperti itu. Ini bukan salahmu.”

“Lupakan soal itu. Apa kau benar-benar akan menikahinya?” tanya Jiyeon antusias sambil memicingkan matanya. Bom membuka mulutnya untuk menjawab tapi tidak ada suara yang keluar. Keraguan mencuat di matanya.

Mwo? Kau masih ragu tapi sudah menyetujui untuk menerima pernikahan ini? Baboya…” Jiyeon kehabisan kata-kata. Apa yang dipikirkan gadis ini?

Ani, bukan seperti itu. Aku tidak ragu. Aku hanya…” Bom berpikir mencari kata yang tepat.

“Itu tandanya kau ragu, Park Bom!” Jiyeon mengerlingkan matanya, gemas.

“Aku hanya tidak tahu aku menyukainya sesaat, benar-benar menyukainya atau memang mencintainya.”

“Baiklah. Sekarang ceritakan padaku kenapa kau bisa meragukan seorang Seunghyun,” ujar Jiyeon melunak sambil membenarkan posisi duduknya menghadap Bom yang duduk di sebelahnya. Bom menatap curiga ke arah Jiyeon.

“Lihat! Bahkan kau sekarang meragukan sahabatmu sendiri!”

“Aku tidak ragu padamu. Tapi kau tidak seperti biasanya. Biasanya kau selalu menungguku untuk menceritakan sesuatu padamu. Kenapa sekarang kau menyuruhku menceritakan sesuatu?”

“Aaaawww!” Bom mengusap pundaknya. “Kenapa kau memukulku?”

“Ya! Aku bertanya karena aku peduli padamu. Kita sudah lama tidak bertemu, tentu saja aku harus bertanya padamu. Kau pikir aku bisa mengetahui apa yang kau alami tanpa bertanya padamu?”

“Tadi kau bilang kau ragu apa kau menyukai atau mencintai Seunghyun. Benar kan?” tanya Jiyeon. Bom mengangguk.

“Jika kau ternyata hanya sebatas menyukai Seunghyun, kau tidak akan menikahinya. Tapi jika kau mencintainya, maka kau akan menikahinya?” Kali ini Bom mengangguk lebih antusias.

“Baiklah, simpan ceritamu tentang keraguanmu terhadap Seunghyun. Aku bisa memperjelas apa yang kau rasakan dengan tiga pertanyaan. Tapi kau harus menjawab dengan jujur apa yang akan kutanyakan padamu.” Bom kembali mengangguk antusias.

“Pertama. Apa kau tertarik dengan Seunghyun ketika melihatnya pertama kali meskipun hanya sebentar?”

Bom diam, mengingat ulang pertemuannya dengan Seunghyun di trotoar.

“Aku tidak tertarik dengannya. Dia menabrakku, menyalahkanku dan menginjak sapu tangan kesayanganku saat itu.”

“Wah, kau cukup aneh. Wanita normal mungkin akan menganggap tabrakan Seunghyun saat itu adalah anugerah.”

“Maksudmu aku tidak normal?” Bom mendengus.

“Aku tidak mengatakan kau tidak normal. Baiklah dari pertanyaan pertama, kau tidak menyukai Seunghyun ataupun mencintainya. Sekarang pertanyaan kedua. Setelah kau kenal dan mulai berhubungan dengan Seunghyun, apa kau merasa tertarik padanya?”

Bom kembali diam mengingat-ingat sesuatu.

“Kurasa dia pria yang baik. Dia ingin membantuku menghadapi Doojoon saat itu meski aku tidak meminta. Dia bekerja dengan baik di perusahaan. Selalu menyapa karyawan jika bertemu. Dia juga suka berpartisipasi dalam menyumbangkan hartanya di beberapa panti asuhan dan rumah sakit. Kau tahu kan aku suka dengan pria yang seperti itu?”

Jiyeon menepuk tangannya. “Nah! Kau sudah mulai menyukai Seunghyun di tahap ini,” ujar Jiyeon semangat. Bom hanya mengangguk pelan.

“Pertanyaan terakhir. Apa kau pernah merasakan cemburu ketika Seunghyun sedang bersama wanita lain?”

Bom diam terpaku.

“Kau tidak tahu arti cemburu? Aigoo, yang benar saja. Baiklah, apa kau pernah merasa tidak suka atau perasaan semacamnya jika Seunghyun dekat dengan wanita lain?” Jiyeon menatap Bom ingin tahu.

Bom mengingat peristiwa semalam saat Seunghyun menjelaskan kalau ia dan Dara sudah bersahabat hampir 10 tahun setelah sebelumnya Bom menanyakan siapa yang Seunghyun cintai, dirinya atau Dara. Pertanyaan konyol. Pipi Bom sedikit merona.

“Kurasa aku cemburu. Sedikit,” jawab Bom sedikit menunduk. Sedikit? Yang benar saja! Kau menangis semalam dan kau bilang itu hanya sedikit? Babo.

“Got it!” teriak Jiyeon setelah bangkit dengan semangat dari duduknya.

“Bom-ah! Kau jelas-jelas mencintai Seunghyun! Astaga, aku heran kenapa kau butuh waktu lama untuk menyadari hal seperti ini.” Wajah Bom semakin merah.

“Kau tidak tertarik dengan Seunghyun karena fisiknya, tapi kau tertarik padanya karena sikap baiknya. Itu sudah jelas kau men-cin-ta-i-nya. Cinta tidak pernah memandang fisik.”

“Jadi, aku benar-benar mencintainya?” Bom bertanya pada dirinya sendiri, tak percaya. Tangannya memegang kedua pipinya.

“Tapi, apa Seunghyun benar-benar mencintaiku? Mungkin saja ia hanya tertarik padaku sesaat. Kau tahu kan, semacam crush?” Ada nada khawatir dalam nada bicaranya.

Jiyeon menepuk dahinya. “Astaga Bom. Semua orang sudah tahu kalau Seunghyun itu benar-benar mencintaimu. Tatapan matanya ketika sedang bersamamu menjelaskan itu semua. Berhentilah bersikap khawatir. Apa kau tidak pernah menatap mata Seunghyun?” Bom menggeleng. “Tatapan matanya terlalu tajam menurutku,” ujar Bom.

“Itu berarti kau akan menyusulku dengan Seunghyunmu kan?” tanya Jiyeon tersenyum sambil memamerkan cincin pernikahannya. Bom hanya tersenyum malu.

“Kau tak perlu takut untuk jatuh cinta lagi setelah dengan Doojoon. Aku yakin Seunghyun yang terbaik untukmu. Sa-ngat ba-ik.” Jiyeon memeluk Bom sambil sesekali menepuk pelan pundak Bom.

“Jiyeon-ah… Terima kasih untuk semuanya. Mungkin tanpa bantuanmu aku masih meragukan perasaanku terhadap Seunghyun,” bisik Bom. Ia merasa sangat lega sekarang.

“Ya, tidak perlu berterima kasih seperti itu. Itulah gunanya sahabat.”

***

Di waktu yang sama, Flannery La Pasticceria.

Pagi ini Seunghyun sengaja melangkahkan kakinya ke toko kue terdekat dari apartemennya sebelum pergi ke apartemen Bom. Ada hal yang harus Seunghyun sampaikan secara langsung. Semalam Nyonya Choi menghubungi Seunghyun begitu Seunghyun tiba di apartemennya.

“Selamat datang,” sapa Hanbyul –pemilik toko- tersenyum saat Seunghyun masuk.

“Tidak biasanya kau datang pagi-pagi,” ujar Hanbyul mengingat toko baru saja dibuka. Sejak pertama kali Seunghyun pindah ke Seoul, hampir setiap hari ia membeli kue di sini jika sempat.

“Ah, aku ingin pergi ke rumah seseorang. Kurasa menghadiahkan cake di pagi hari tidak buruk.” Seunghyun tertawa pelan. Tentu saja tidak buruk, gadis seperti dia tidak akan menolak jika dihadapkan dengan makanan.

“Wah, sepertinya seseorang yang spesial. Kau harus mengenalkannya padaku nanti. Baiklah, selamat memilih. Aku ke dalam sebentar,” Hanbyul menepuk pundak Seunghyun.

“Ne, noona.”

Seunghyun melipat tangannya di depan dada, diam terpaku menatap berbagai jenis cake di dalam etalase sambil sesekali mengusap dagunya. Biasanya ia akan langsung memilih Tiramisu atau Creamy Coffe Sweet Cake untuk dirinya sendiri. Tapi ia benar-benar tidak tahu apa yang menjadi favorit Bom –meskipun ia tahu Bom pasti memakan apapun yang ia berikan.

“Sweet Corn Cake,” ujar seseorang dari belakang. Seunghyun menoleh lalu mengerutkan keningnya ketika melihat seseorang . Doojoon?

“Bom suka dengan jagung. Dia itu corn freak. Kau bisa membelikannya Sweet Corn Cake untuknya,” ujar Doojoon tersenyum. Seunghyun mengangguk pelan.

“Apa kau punya waktu? Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu,” ujar Seunghyun. Doojoon hanya tersenyum lalu mengangguk.

***

“Jadi kau ingin tahu pembicaraan lengkap antara aku dan Bom di pernikahan Jiyeon dan Seungri waktu itu?” tanya Doojoon setelah menyeruput Cappuchino Lattenya. Seunghyun mengangguk. Mereka duduk di pojok ruangan, masih di Flannery La Pasticceria.

“Saat itu aku menceritakan penyebab kenapa aku meninggalkannya. Kau tahu kan ‘tradisi’ di perusahaan ketika sebuah perusahaan mengalami kebangkrutan? Nyaris bangkrut maksudku.”

Seunghyun mengangguk. “Yeah, ‘tradisi’ menggelikan. Menjodohkan anak dengan anak relasi agar perusahaan sendiri dapat bertahan.”

“Menggelikan memang. Tapi itu yang kualami. Saat itu hubunganku dengan Bom sudah menginjak dua tahun. Tentu saja tidak sedikit hal yang kualami bersama Bom waktu itu. Begitu juga rasa cintaku padanya…” Doojoon berhenti sejenak ketika mata tajam Seunghyun memerhatikannya. “Maksudku rasa cintaku padanya waktu itu.”

“Aku tidak pernah menolak apa yang orang tuaku tuntutkan padaku. Aku sangat menghormati dan menyayangi mereka. Jadi sebisa mungkin aku mengulur waktu untuk memberitahu Bom yang sebenarnya. Tapi itu tidak bertahan lama. Orang tuaku bersikeras agar aku menyudahi hubunganku dengan Bom. Dan tepat ketika kabar orang tua Bom meninggal, aku menyudahi hubunganku dengannya. Terdengar gila memang, tapi itu yang kulakukan.”

“Kurasa kau terlalu tidak gila. Kau menyudahi hubunganmu dengan Bom ketika Bom mengalami masa terberatnya karena kau tidak ingin Bom terus-terusan berlarut dalam kesedihan. Terkadang kebencian bisa menghilangkan kesedihan. Kau melakukan hal yang tepat menurutku,” timpal Seunghyun. Doojoon mengangguk setuju. Itu memang alasan kenapa Doojoon menyudahi hubungannya dengan Bom dengan cara menyakitkan. Karena kebencian bisa menghilangkan kesedihan.

“Tapi pada akhirnya aku tidak menjalani ‘tradisi’ itu. Aku mengacaukan pesta pertunanganku sendiri di Amerika. Aku tahu terlalu terlambat jika mengacaukan pesta pertunangannya. Untuk pertama kalinya aku menolak apa yang orang tuaku tuntutkan padaku. Dan Bom sudah pasti tidak akan kembali padaku karena ia sudah pasti membenciku. Tapi setidaknya aku tidak menikah dengan wanita yang tidak kucintai.”

“Aku tidak tahu kau punya cerita kehidupan seperti itu. Maaf tapi menurutku hidupmu sepertinya sangat menyedihkan. Untuk pertama kalinya kau menolak permintaan orang tuamu, kau berpisah dengan cara ‘menyedihkan’ dengan Bom, dan Bom mungkin saja membencimu. Tapi aku setuju pada akhirnya kau tidak menikahi wanita yang tidak kau cintai.” Seunghyun menyilangkan kakinya.

Doojoon terkekeh pelan. “Kurasa hidupku tidak terlalu menyedihkan.”

“Kembali ke topik pembicaraan, setelah menceritakan alasanku pada Bom, aku meminta maaf padanya lalu memintanya untuk tetap berteman denganku seperti sebelumnya,” lanjut Doojoon.

“Kulihat kau menangis waktu itu. Apa kau masih mencintai Bom waktu itu?” tanya Seunghyun sambil menyuap Tiramisunya.

Ani. Aku menangis bukan karena masih mencintainya. Aku menangis karena membayangkan aku berada di posisi Bom saat itu. Bagaimana ia ditinggalkan oleh orang yang sudah ia anggap sebagai pelindungnya, sebagai seorang ‘oppa’, sebagai seorang kekasih. Pasti sangat menyakitkan.”

“Tapi aku tidak menyangka ketika aku menghampiri Bom di Tibbit’s Gallery untuk pertama kalinya setelah aku pergi dari Amerika, ia tidak mengusirku atau menunjukkan ekspresi marahnya. Ia menangis. Itu yang membuatku semakin merasa bersalah. Seseorang tidak akan menangis untuk orang yang ia benci.”

“Wanita tidak sekuat pria untuk menaruh kebencian. Terlebih kau pernah bersama dengannya untuk waktu yang tidak singkat dulu,” kata Seunghyun.

“Tapi aku heran ketika kau memeluk Bom saat itu.” Kini Doojoon menatap tajam ke arah Seunghyun.

“Heran? Apa maksudmu? Aku hanya membantu menenangkannya. Matanya menyiratkan ia masih belum siap bertemu denganmu saat itu. Kukira kau cemburu.”

“Cemburu? Aku hanya heran saat itu kenapa Bom tidak menolak ketika dipeluk oleh pria bermuka ahjussi sepertimu. Kukira setelah denganku ia akan mencari pria yang lebih baik. Tak kusangka ternyata ia memilihmu dengan wajah ahjussimu.” Doojoon tertawa.

“Apa? Wajah ahjussi?” Seunghyun mengelus kedua pipinya. Pantas saja ia memanggilku dengan sebutan ahjussi.

***

Bom membalut kepalanya dengan handuk. Ia baru saja menyelesaikan mandi paginya setelah Jiyeon pamit pulang. Jam menunjukkan hampir pukul sebelas.

“Ting tong.”

Eoh? Siapa itu? Jiyeon? Apa barangnya tertinggal di sini? Bom mengecek setiap sudut sofa untuk mencari barang milik Jiyeon yang tertinggal. Ia tidak menemukan apapun. Bel kembali berbunyi, kali ini tanpa jeda. Dengan wajah sedikit kesal Bom menghampiri pintu.

“Ya!” ujar Bom kesal begitu membuka pintu.

Seunghyun yang sejak tadi berdiri di depan pintu apartemen Bom sedikit memundurkan posisi tubuhnya ketika Bom membuka pintu dengan teriakan khasnya. “Kau mengejutkanku, aku hanya bercanda memencet bel berulang kali. Kukira kau masih tidur,” ujar Seunghyun.

“Eoh? Kukira kau Jiyeon,” ujar Bom tak kalah kaget. “Masuklah.”

“Ada apa kau mengunjungiku pagi-pagi?” tanya Bom ketika mendaratkan tubuhnya di sofa.

Waeyo? Memangnya tidak boleh jika aku datang hanya untuk melihatmu?” ujar Seunghyun yang berjalan ke arah dapur.

“Kau sedang apa ahjussi?” tanya Bom sambil menolehkan kepala ke arah Seunghyun yang sibuk di dapur.

“Aku membawakan sweet corn cake kesukaanmu.”

Bom langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Seunghyun di dapur.

“Uwaaaah~” Bom menghirup aroma manis yang menggiurkan dari cake yang sudah tersaji di di hadapannya.

“Dari mana kau tahu aku suka memakan cake ini?” tanya Bom menyelidik.

“Aku bertemu Doojoon tadi. Kami sempat berbincang sebentar.” Seunghyun membawa piring dan garpu kecil ke ruang tengah sementara Bom membawa sebotol susu putih dari kulkas dan dua gelas mug.

“Apa Doojoon menceritakan sesuatu yang aneh tentangku?” tanya Bom lagi. Ia takut Doojoon menceritakan bagaimana manjanya ia pada Doojoon ketika mereka masih bersama. Mungkin tidak apa-apa jika orang lain tahu kalau dulu Bom pernah bersikap manja pada kekasihnya. Tapi tidak dengan Seunghyun. Ahjussi ini pasti akan menggodaku habis-habisan.

“Kurasa tidak. Hanya obrolan antar lelaki,” jawab Seunghyun tersenyum lalu menyodorkan piring berisi sweet corn cake pada Bom.

“Apa kau sibuk akhir minggu depan?” tanya Seunghyun setelah mendengar Bom mengucapkan ‘mantra’ pada suapan kuenya yang pertamanya.

“Hmmm… Kurasa tidak. Waeyo? Ah, apa kau ingin mengajakku ke Lotte World? Sudah lama aku tidak kesana.” Bom terlihat excited.

“Ne, aku akan mengajakmu pergi. Sayangnya bukan ke Lotte World.” Seunghyun tersenyum.

“Tapi ke rumahku, di Gwangju.”

Bom tersedak ketika mendengar kata ‘rumah’. “Rumahmu? Gwangju”? tanya Bom tak percaya.

-to be continued-

Gimana part 9-nya?? Jangan lupa komen yaaa. Oiya sekedar pemberitahuan, FF ini mungkin tamat beberapa part lagi. Dan author minta maaf kalo mungkin FF ini gak seru nantinya XD Semoga aja author dapet inspirasi lebih supaya bikin FF ini lebih seru, atau mungkin seenggaknya biar endingnya jelas (?) Kkkkkkkk~

49 thoughts on “[FF Freelance] That Ahjussi (Part 9)

  1. haii, aku kembali, baru buka RFF inget sama FF ini hihi, udh ampe part 13 ternyata, jauh bnget aku bacanya, langsung express baca nya hihi, part ini tetap bagus kya part2 sebelumnya hihi kerumah TOP? mauuuu hahah next part haha

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s