Unwanted Marriage [Part 3]

unwanted marriage

Unwanted Marriage

Author : erlyRine

Main Cast :

  • Hwang Chansung ‘2PM’
  • Choi Jinri / Sulli ‘f(x)’

Support Cast :

  • Son Naeun ‘A Pink’
  • Lee Taemin ‘SHINee’

Genre : Romance, life

Length : Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer :

Ide cerita milik saya sepenuhnya yang terinspirasi dari berbagai drama yang pernah saya lihat sebelumnya.

***

Musik terus mengalun di dalam kamar gadis itu, gadis itu tengah sibuk-sibuk membereskan kamarnya dan memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Sepertinya gadis itu hendak berpergian ke suatu tempat dalam waktu yang cukup lama.

Ia menghentikan aktivitasnya saat mendengar bunyi ponselnya dari atas meja riasnya. Ia langsung tersenyum bahagia saat mendengar bunyi ponselnya yang khusus ia berikan untuk sahabat terbaiknya –Jinri—

“Jinri!!,” serunya dengan bahagia

Ne, kapan kau akan pulang?” terdengar suara Jinri.

“Minggu depan,” jawab Naeun sambil meletakkan celana yang hendak ia masukkan ke dalam koper. Ia medongakkan kepalanya untuk menatap langit-langit kamarnya sebelum pada akhirnya ia mulai berbicara “Bagaimana dengan Chansung?”

“Dia? Dia bertambah tampan dan mapan. Berbeda dengan Chansung yang dulu kita kenal,”

“Benarkah?” tanya Naeun dengan antusias.

“Hmm, apa kau masih mencintainya?” tanya Jinri dengan rasa penasaran yang amat sangat besar.

Naeun hanya dapat menundukkan kepalanya, lalu menelan ludahnya dan kembali melanjutkan perkataannya “Kurasa seperti itu,”

Jinri tertawa mendengar jawaban dari temannya itu namun sejenak kemudian ia langsung berhenti dan melanjutkan percakapannya dengan Naeun “Baiklah, cepatlah kembali. Aku akan mempertemukanmu dengannya,”

Setelah percakapan di ponsel itu berakhir, Naeun tetap memegang ponselnya dan seulas senyum mulai mengembang di bibirnya. Akhirnya, aku akan bertemu dengan Chansung, batinnya.

***

Setelah mengakhiri percakapan di ponsel itu, Jinri mencampakkan ponselnya ke atas tempat tidurnya lalu merebahkan dirinya ke atas tempat tidur. Entah mengapa ia merasa bahagia hari ini, entah karena ia baru menelepon sahabat baik –Naeun— atau entah karena hal yang lainnya. Yang pasti ia sendiri juga tidak jelas mengapa ia bahagia.

Saat ia menolehkan kepalanya ke sebelah kiri, ia melihat paket yang tadi ia terima. Ia bangkit dari tidurnya dan meraih paket itu lalu membukanya dengan perlahan-lahan. Sebuah Boneka teddy bear berwarna kuning yang sangat ia sukai. Dia masih mengingat kesukaanku, batinnya sambil terus memeluk boneka itu dengan erat.

***

“Chansung!” teriak Sooyoung dan tatapan matanya kini berubah menjadi tatapan yang sangat serius dan menyorotkan kemarahan.

“Aku harap kau mengerti dengan pilihanku,” jawab Chansung sambil memainkan PSPnya dengan santai.

“Kau gila. Ingat kau baru saja memulai kariermu sekitar 8 bulan yang lalu dan apa kau tahu, hal yang akan kau lakukan ini aku merusak nama baikmu dan..” Sooyoung memberhentikan ucapannya lalu mengacak rambutnya dengan frustasi. “Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padamu selanjutnya,” lanjutnya.

“Aku siap menanggungnya, lagipula menjadi seorang Star atau tidak, aku masih dapat melangsungkan hidupku, aku bisa bekerja di perusahaan aboji dan Noona juga bisa kembali bekerja di perusahaan aboji,” jawab Chansung santai. Dari cara jawabnya, terlihat ia sudah memikirkan matang-matang akan hal ini.

“Kau Gila! Benar-benar gila,” jawab Sooyoung pasrah. Ia tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran Chansung yang sempit itu.

“Ku harap kau benar-benar mengerti akan sikapku Noona,” jawab Chansung sambil bangkit berdiri dari duduknya dan meletakkan PSPnya ke atas meja lalu berlalu meninggalkan Sooyoung yang terlihat mengacak rambutnya kesal.

Ingin rasanya Sooyoung melempar semua barang yang ada di tempat itu ke arah Chansung dan berharap dapat menghentikan dan menyadarkannya dari tindakan bodoh yang akan dilakukannya.

***

Chansung menekan layar ponselnya dan memasukkan beberapa nomor telepon lalu mencoba menghubungi nomor itu. Setelah telepon itu tersambung, ia langsung menyapa si penerima dengan hangat.

“Jinri, aku Chansung,”

Hmm, waeyo?” hanya terdengar kata-kata singkat yang diucapkan oleh Jinri.

“Aku ingin bertemu denganmu, aku akan mengirimkan alamatnya padamu. Kuharap kau akan datang,” balas Chansung dan setelah itu ia mengakhiri percakapan ponsel itu.

***

Setelah pamit pada kedua orang tuanya, Jinri berjalan keluar dari dalam tokonya. Apa yang akan dia katakan?, batinnya sambil terus melangkahkan kakinya menjauh dari rumahnya.

Setelah ia sampai di tempat yang dimaksud oleh Chansung, ia mendongakkan kepalanya untuk menatap papan nama cafe itu sebelum pada akhirnya ia menginjakkan kakinya masuk ke dalam cafe yang terkesan sunyi itu. Ia berjalan menelusuri kursi dan meja yang ada di cafe itu dan dengan mudahnya ia dapat menemukan Chansung karena kebetulan saat itu pengunjungnya hanya Chansung seorang.

“Chansung,” sapa Jinri sebelum ia duduk tepat di hadapan Chansung.

Chansung hanya membalasnya dengan senyuman. Ia meminta Jinri untuk duduk di depannya dengan mengulurkan tangan kanannya dan mempersilahkan Jinri untuk duduk di depannya.

Setelah membaguskan posisi duduknya, Jinri mengambil secangkir Bubble Tea yang sudah dipesankan untuknya dan menikmatinya. “Apa ada hal penting yang ingin kau biacarakan?” tanyanya.

Chansung menatap Jinri dengan serius sambil memberikannya sebuah map berwarna coklat padanya dan pandangan matanya memberi isyarat pada Jinri untuk segera membuka map itu.

Tanpa mendapat perintah dari Chansung, Jinri sudah terlebih dahulu mengambil map itu dan membukanya karena rasa penasarannya sangat besar. Ia tidak dapat mengerjapkan matanya saat membaca isi dari map itu, namun pada akhirnya ketika ia menutup map itu, ia tersenyum pada Chansung dan bangkit berdiri dari duduknya dan memeluk Chansung yang masih duduk di depannya. “Gumawo, kau teman terbaikku,” bisiknya di telinga Chansung.

Chansung tidak dapat mempercayai apa yang dilakukan oleh Jinri sekarang. Jinri memeluknya. Hal yang sangat dia inginkan. Diam-diam, ia terus tersenyum sendiri, namun ia tidak berani menampakkannya pada Jinri. Ia ingin bersikap sebiasa mungkin di hadapan yeoja itu karena statusnya yang sekarang bukan lagi orang biasa tetapi seorang Star.

Saat Jinri melepas pelukannya, ia menatap Chansung dengan saksama, ia meneliti setiap lekuk wajah namja di hadapannya ini dan mengamati ekspresinya.

Chansung merasa aneh bila ditatap seperti itu oleh Jinri. Ia memeriksa pakaiannya dan menyentuh wajahnya, mana tahu nanti ada sisa makanan yang menempel di wajahnya. Hasilnya nihil, ia tidak menemukan sesuatu yang aneh dari dirinya. “Mengapa kau mengamatiku seperti itu?” tanyanya.

Jinri mengusap dagunya sejenak dan memajukan wajahnya untuk menatap Chansung dari jarak dekat. “Aku begitu penasaran, mengapa kau melakukan ini semua?” selidiknya sampai memicingkan sebelah matanya.

Chansung terlihat rileks dan tidak terkejut. Memang ia telah mempersiapkan segala sesuatunya dari rumah. Ia bahkan sudah mempersiapkan jawaban yang bila ada kemungkinan pasti akan ditanya oleh Jinri seperti salah satu pertanyaan yang baru diajukan Jinri. “Itu karena kita teman, bukan?”

Jinri menganggukkan kepalanya dengan cepat untuk menyetujui perkataan Chansung,namun ia masih tidak menjauhkan wajahnya dari Chansung. Ia belum bisa sepenuhnya percaya akan jawaban Chansung. “Apa hanya itu?” tanyanya.

“Apa kau kira ada hal lain?” tanya Chansung kembali padanya yang langsung dijawab oleh Jinri dengan gelengan kepala.

“Baiklah, kau tahu kan kalau aku bukan orang jahat? Kau mengenalku kan?” tanya Chansung dengan hati-hati. Kali ini, ia seperti sedang menjalankan sebuah misi yang bila ia salah melangkah, maka ia akan gagal.

Jinri mulai menjauhkan wajahnya dari Chansung dan menyandarkan punggungnya pada kursi cafe itu. “Ne,” jawabnya sambil meminum buble teanya yang mulai mengeluarkan embun diluar gelasnya.

“Kau bisa menolongku untuk menandatangani map ini kan?” tanya Chansung sambil menunjuk map coklat yang dibaca oleh Jinri tadi.

Jinri mengangguk dengan cepat. Ia pasti harus menandatangani map itu karena di atas map itu tertulis bahwa dia sudah menyetujui bila dendanya di bayar oleh Chansung. Di sebelah tanda tangannya terdapat tanda tangan Chansung sebagai orang yang melunasi semua dendanya.

Chansung mengeluarkan sebuah bolpoin dari dalam saku celananya lalu memberikannya pada Jinri.

Dengan gerakan cepat dan tanpa berpikir, Jinri langsung menandatangani map itu sebanyak 2 kali karena ada 2 lembar yang harus ditandatanganinya. “Kau sangat baik padaku. Kalau aku punya uang aku pasti akan membayarmu,” tambahnya.

Sambil tersenyum, Chansung berkata “Tidak perlu membayarku kembali, aku hanya ingin kau melakukan 1 hal untukku,”

Jinri mendongakkan kepalanya untuk menatap Chansung. “Apa itu?”

Chansung menghela nafasnya. “Aku akan memberitahumu beberapa hari lagi. Apa kau setuju dengan hal ini?”

“Tentu saja, aku percaya padamu Chansung ah,” kata Jinri sambil tersenyum. Senyuman yang sangat disukai oleh Chansung dan membuat Chansung merasa bersalah. Namun apa dayanya, ia tidak bisa mundur lagi karena ia sudah memutuskannya dengan matang-matang.

Chansung hanya tersenyum kecut. Tapi sayangnya, aku tidak seperti yang kau bayangkan, batinnya.

***

“Apa kau sudah cukup puas dengan permainanmu?” tanya Sooyoung yang tiba-tiba sudah berada di dalam apartemen Chansung ketika dia memasuki apartemennya.

Chansung melepas sepatunya lalu berjalan menuju lemari pendingin dan membukanya. “Ini hanya langkah awal, belum sampai ke inti,” jawabnya sambil mengeluarkan sekaleng soda lalu meneguknya, membiarkan soda itu menelusuri kerongkongannya.

Sooyoung bangkit dari duduknya dan menghampiri Chansung. “Aku benar-benar tidak mengerti dengan cara pikirmu yang terlalu PEN-DEK,” sindirnya dengan penekanan di akhir katanya.

Chansung hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Ya, ia akui bahwa saat ini cara pikirnya memang terlalu pendek dan terlalu gila, namun itu semua karena rasa ketakutannya dulu kini berubah menjadi keberanian yang sangat besar.

Sooyoung menatap Chansung dengan heran. Ia yakin bahwa saat ini Chansung memang benar-benar gila. Ia mengambil tasnya yang terletak di atas kursi sofa Chansung dan berkata “Aku pulang dulu, sampai ketemu besok.”

Chansung hanya mengangguk dan setelah ia memastikan bahwa Sooyoung benar-benar telah keluar dari apartemennya, ia duduk di kursi sofanya sambil meremas kaleng soda itu dengan sekuat tenaga yang ia punya. Saat ini, ia bahkan benar-benar tidak tahu apa yang sedang ia lakukan.

***

Keesokan paginya, cuaca berubah menjadi tidak bersahabat. Hujan mengguyur kota Seoul pagi itu. Namun, cuaca seperti inilah yang sangat disukai oleh Jinri, dingin dan nyaman. Ia masih membiarkan dirinya untuk bergolek di atas tempat tidur menikmati cuaca yang seperti itu.  Keadaan seperti itu tidak dapat berlangsung lama karena eomma Jinri sudah memanggilnya untuk membantu eommanya membuat pesanan ayam goreng langganan mereka.

Dengan sedikit bersungut-sungut, Jinri keluar dari kamarnya dan menghampiri eommanya lalu mengerjakan apa yang ia bisa. Ia menguluti kulit ayam dan membersihkannya dari bulu-bulunya.

Setelah selesai membersihkan seluruh ayam-ayam itu, ia membersihkan tangannya lalu berjalan keluar dari dapur meninggalkan eommanya yang masih sibuk membumbui ayam-ayam itu. Ia membuka televisi dan mengonta-ganti channel karena tidak menemukan acara televisi yang menyenangkan.

Pada akhirnya, ia memberhentikan kegiatannya mengonta-ganti channel ketika ia meliat sosok seseorang yang ia kenal –Chansung— masuk ke dalam siaran acara televisi dan di hadapannya terdapat berpuluh-puluhan wartawan dan jurnalis. Apakah Chansung seorang star, batinnya.

Ia memperhatikan siaran itu dengan saksama. Ia juga mendengarkan setiap perkataan yang dilontarkan keluar dari mulut Chansung dengan hati-hati.

***

Chansung telah mempersiapkan dirinya dari jauh-jauh hari sebelumnya. Ia menatap puluhan wartawan dan jurnalis yang ada di hadapannya lalu menarik nafasnya dalam sebelum ia mulai berbicara. “Baiklah, karena kita semua sudah berkumpul di tempat ini, aku akan mulai berbicara,” katanya denagn tegas.

Suasana berubah menjadi riuh dan terdengar bisikan-bisikan orang tentang diri Chansung ketika dia mengatakan “Aku sudah menikah,”

“Apa itu benar?” tanya seluruh wartawan dan jurnalis dalam waktu yang bersamaan.

Chansung menatap ke arah Sooyoung yang duduk di belakang sudut. Sooyoung hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan frustasi, ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.

“Ya, itu benar,” jawab Chansung singkat.

***

“Dia sudah menikah? Apa itu benar?”, kata Jinri dengan pelan namun masih dapat didengar oleh eommanya yang berada di dalam dapur.

“Siapa yang sudah menikah Jinri ah?” seru eommanya dari dalam dapur.

Anni, hanya seorang star,” jawab Jinri cepat namun pandangan matanya masih belum bisa dialihkan ke tempat lain. Ia masih terlalu fokus pada perkataan Chansung selanjutnya, ia penasaran dengan siapa sebenarnya Chansung menikah.

***

“Apakah istrimu dari kalangan artis? Apa kalian sudah menikah dalam waktu yang cukup lama?” tanya para wartawan dan jurnalis itu tanpa henti.

Sepanjang acara konferensi, Chansung membiarkan dirinya untuk tetap tenang dan rileks sebisa mungkin. “Tidak dia dari kalangan biasa dan kami sudah menikah selama 3 bulan. Maafkan aku karena telah menyembunyikannya dari kita semua,” jawabnya sambil bangkit dari duduknya lalu membungkukkan badannya di hadapan orang banyak.

“Bukti apa yang kau punya yang bisa membuat kami mempercayai bahwa kau memang sudah menikah?” tanya salah seorang wartawan.

“Aku mempunyai map ini,” jawab Chansung sambil menunjukkan map berwarna coklat yang dipegangnya.

***

Jinri merasa tidak asing dengan map yang dipegang oleh Chansung. Ia seperti pernah melihat map itu entah di mana itu tempatnya. Ah, aku ingat, batinnya sambil memicingkan sebelah matanya. Map itu, map tempo hari yang diberikan Chansung untuk ditandatangani olehnya.

Apa mungkin….

***

Begitu map itu dibuka, terdapat dua tanda tangan yang menyetujui bahwa mereka kini sepasang suami istri yang sah. Map itu mengundang rasa penasaran dari seluruh wartawan dan jurnalis, semuanya berusaha untuk mengambil bukti dari jarak terdekat.

Chansung mempersatukan kedua jemarinya lalu menatap para wartawan dan jurnalis itu. “Seperti yang kalian lihat, Jinri adalah istriku..”kata Chansung terhenti. Ia bangkit berdiri dari duduknya dan kembali melanjutkan perkataannya “Kuharap kalian tidak akan mempersulitnya kelak.” Setelah selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya, ia membungkukkan badannya sebagai tanda hormat dan selesai itu ia langsung berjalan keluar dari ruangan tempat ia mengadakan konferensi itu diiringi oleh beberapa bodyguardnya.

***

Jinri mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Chansung dan bukti yang telah ditunjukkan olehnya. Ia tidak tahu persis bagaimana ia bisa menandatangani surat nikah itu, yang ia ingat hanya ia menandatangani surat persetujuan bahwa seluruh dendanya dibayar oleh Chansung. Atau jangan-jangan Chansung menjebaknya?

***

Sepanjang perjalanan, Chansung tersenyum puas karena ia berhasil melaksanakan konferensi dengan lancar. Kini ia telah berhasil meyakinkan publik bahwa ia sudah menikah.

“Apa kau puas?” tanya Sooyoung yang duduk di sebelahnya tanpa menatapnya.

Kini Sooyoung dihinggapi oleh depresi yang amat sangat berat. Apalagi sekarang, mereka sedang berangkat ke gedung JYP Entertainment. Park Jin Young –CEO JYP Entertainment— itu menelepon mereka dan meminta mereka untuk datang. Dari suaranya Sooyoung sudah dapat menebak bahwa kini CEO itu pasti sedang marah besar dan ia tidak berani menghadapinya.

Chansung menganggukkan kepalanya dan ini semakin membuat Sooyoung tidak tahan melihatnya. Ia tahu  bahwa Chansung tidak akan pernah mengerti ketakutannya karena pada saat nanti di hadapan Park Jin Young, orang yang sangat-sangat disalahkan atas masalah ini adalah dirinya.

***

Sooyoung memasuki kantor CEO JYP Entertainment dengan perasaan was-was. Ia sudah dapat membayangkan bagaimana ekspresi wajah Park Jinyoung dan nada suaranya nanti saat berbicara. Ia menatap Chansung yang berjalan di depannya kira-kira 1 meter. Chansung terlihat tenang seperti yang sedang mempunyai masalah saat ini adalah Sooyoung bukan dirinya.

Baru saja mereka melangkahkan kainya untuk masuk ke dalam ruangan, mereka sudah disambut oleh amarah dari Park Jinyoung “Apa kau tau apa yang sedang kau lakukan?”

Perasaan takut memang melanda Chansung. Ia tahu benar seperti apa Park Jinyoung itu. Namun, ia berusaha menyembunyikan rasa takutnya itu dengan mengepalkan kedua tangannya dan tersenyum sebisa mungkin. “Aku tau dan aku siap menerima semua akibatnya,” jawabnya yang langsung membuat Sooyoung menepuk jidatnya.

“Aku tidak mengerti kenapa kau harus melakukannya disaat kariermu sedang melambung,” perlahan nada suara Jinyoung tidak lagi setinggi pertama kali saat mereka masuk ke dalam. “Apa kau ingin menghancurkan usahamu selama ini begitu saja?” tanyanya lagi sambil menepuk pundak Chansung.

“Kau tidak akan mengerti apa yang kulakukan, namun kau perlu mengetahuinya, aku lebih mementingkan kehidupan biasa daripada kehidupan star yang harus selalu menjaga image dan mematuhi aturan-aturan,” jawab Chansung yang langsung membuat Jinyoung tersentak.

Jinyong mengerutkan keningnya, tampak bahwa saat ini ia sedang berfikir keras. Ia tidak mungkin memutuskan hubungan kontrak dengan Chansung sementara Chansung adalah seorang rookie star yang banyak memberi keuntungan pada perusahaannya. Ia mencubit pangkal hidungnya sambil memejamkan matanya. “Akibat apa yang siap kau terima?” tanyanya pada Chansung dengan nada suara yang merendah.

“Apapun,” jawab Chansung dengan mantap.

TBC>>

15 thoughts on “Unwanted Marriage [Part 3]

  1. Wah… Chansung nekad euy!!
    berani bgt melakukan hal yang satu itu…
    kasihan Sooyoung yg makan hati melihat kelakuannya..

    Gimana yahh nantinya ketika Jinri ketemu Chansung, bakalan disembur habis2an tuh…
    ditunggu next chapternya…

  2. Wogh Chansung Oppa dsni Gentle bnget.. Neomu Joahe.. °•ŵĸ\=D/ŵĸ•°=D°•ŵĸ=))ŵĸ•°.. Aigo sulli mrh nih.. Naeun jg skt ht.. Bgmn nih chingu.. Part 4 donk..

  3. ╔╦╦╦═╦╦╦╗╔╦╦╗
    ║║║║║║║║║║║║║
    ║║║║║║║║║╠╬╬╣
    ╚══╩═╩══╝╚╩╩╝
    gila chansung rela Ɓȃήƍeєë††† ngelakuin berbagai cara buat dapetin jinri

    jadi makin penasaran deh
    (∞¯⌣¯∞) ћö … ћö … ћö …

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s