[FF Freelance] Valentine’s Story (Oneshot)

valentines-story

Valentine’s Story by Summer

Cast:

EXO-K’s Kim Suho –  SNSD’s Hwang Tiffany

EXO-M’s Kris  – SNSD’s  Jessica

EXO-K’s Baekhyun –  SNSD’s Taeyeon

EXO-M’s Kim Jong Dae – SNSD’s Seo Jo hyun

Genre:

Romance & Life

Rating:

PG-13

Length:

4 in Oneshot

Disclaimer:

Inspired by movies, novel, and song

Poster by @erly_karln (https://erlykarina.wordpress.com/)

Warning Typo !

DON’T BE A PLAGIATOR !

DON’T BASHING PLEASE !

Suho-Tiffany

I don’t wanna see us apart
I just wanna say it straight from my heart
I miss you..

~Westlife~

            “Tiff, sepertinya aku tak bisa menepati janjiku minggu lalu.”

Tiffany menghela nafas pelan. Ia sudah bisa menebak, bahwa kekasihnya tak bisa pulang ke Korea hari ini. Ia menggigit bibir bawahnya berusaha untuk tak menangis. “Kenapa ?”

Mendadak Suho ingin membenturkan kepalanya ke dinding ketika mendengar nada suara Tiffany yang terdengar kecewa. “Masih ada pekerjaan yang harus ku urus disini”, ujarnya pelan.

Rasanya Tiffany ingin melemparkan iPhonenya sekeras yang ia bisa. Ia memandangi meja makan yang sudah ia atur serapi dan seindah mungkin dengan sedih. Selama seharian ia sudah bekerja keras untuk menyiapkan candle  light dinner untuknya dan Suho. Ia bahkan sudah ikut kursus memasak pasta, agar ia bisa membuatkan fetuccini favorit Suho. “ Kapan kau akan pulang ?”

“Minggu depan”, jawab Suho cepat. “Aku berjanji minggu depan aku pasti pulang.”

Tiffany tertawa hambar. “Jangan berjanji kalau kau tak bisa menepatinya”. Ada nada kecewa yang terselip disana.

Suho mendesah pelan. “Maaf”, ujarnya dengan nada menyesal. Keheningan menyelimuti hubungan telepon mereka berdua selama lima detik. Sampai akhirnya Suho lah yang membuka mulut. “Kau marah”, jelas itu bukan pertanyaan tapi pernyataan.

Tentu saja Tiffany marah. Tapi marah pun tak ada gunanya. Toh, kalau ia marah-marah, Suho juga tak akan pulang hari ini. Jadi ia memutuskan untuk tak menjawab dan berkata dengan diplomatis.  “Jaga kesehatanmu, dan jangan lupa untuk makan teratur.”

Suho menghembuskan nafas lega, setidaknya Tiffany bukanlah gadis labil yang akan berteriak kesal melalui telepon.  “Jangan khawatirkan aku.”

“Baiklah, kalau begitu, selamat malam”

Suho tersenyum. “Selamat malam, Fany-ah”

Tiffany menatap iPhone nya yang masih menyala. Fotonya bersama Suho saat mereka bermain ice skating satu tahun yang lalu, masih menjadi wallpapernya sampai sekarang ini. Ia merindukan saat-saat itu. Saat Suho masih tak sesibuk sekarang. Saat Suho masih ada untuknya.

TING TONG

Tiffany mendongakkan kepalanya saat mendengar bel rumahnya berbunyi. Siapa yang datang malam-malam begini ? Keningnya berkerut heran. Ia melangkahkan kakinya dan membuka engsel pintu yang sedikit berkarat. Tiffany menatap seorang pria bertopi yang sekarang berdiri di depannya. Wajahnya tak begitu terlihat, karena pria itu mengenakan topi hitam yang menutupi hingga separuh wajahnya. Tubuhnya pun tertutup jaket hitam yang besar.

“Selamat malam. Saya kesini mengantarkan sebuket bunga untuk Nona Hwang”, ujar pria itu pelan. Kepalanya masih tertunduk, seakan memandang Tiffany akan melukai matanya.

“Bunga ? Dari siapa ?”, tanya Tiffany curiga. Ia menatap pengantar bunga itu dengan pandangan menyelidik. Rasa-rasanya ia mengenal pria itu, tapi dimana ?

“Dari seorang pria yang yang sangat menyayangi gadisnya”, jawab pengantar  bunga misterius. “Setidaknya itulah yang tertulis di kertas ini”, tambahnya.

Alis Tiffany yang semula mulus, sekarang berlipat-lipat. “Apa maksudmu ? Aku tak mengenal orang yang kau maksud.” Ia terdiam sebentar, “Mungkin kau salah orang”. Kakinya melangkah mundur bersiap menutup kembali pintu rumahnya.

Tapi tangan pengantar bunga menahan pintu sedetik lebih cepat daripada Tiffany.  Ia melepas topi yang menutupi wajahnya dan mendongak.

“Oppa ?!”, pekik Tiffany dengan suara tercekat. Bola matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka.

Suho tersenyum miring melihat reaksi Tiffany. “Bagaimana ? Apa kau masih tak mengenalku ?”, ujarnya menggoda. Ia mendekat kearah Tiffany dan memberikan sebuket bunga mawar merah segar yang tadi dibawanya.

Jemarinya menerima bunga itu tanpa sadar ? Bukankah dia bilang akan pulang minggu depan ? Kenapa sekarang ia ada disini ? Belum sempat Tiffany menyakan apa maksud semua ini, bibir suho sudah mengecup bibirnya pelan. Suho terkekeh melihat ekspresi Tiffany yang tampak terkejut. Ia memeluk kekasihnya itu erat. “Happy valentine’s day, baby.”

*****************

Jessica-Kris

Well, every moment I spent with you , is a moment I treasure

~Aerosmith~

 

            Temukan aku di tempat yang paling tinggi~

Jessica menatap pesan ke empat belas itu dengan kening berkerut. Ditempat yang paling tinggi ? Ia tak tahu tempat mana yang dimaksud oleh suaminya itu. Otaknya berputar mencoba mengingat-ingat, apakah mereka pernah pergi ke tempat yang paling tinggi. Kedua matanya terpejam rapat. Di usianya yang sudah memasuki kepala empat, tak mudah untuk mengingat-ingat kembali kenangan lama. “Ditempat yang paling tinggi”, gumamnya pelan.

Jessica tersentak kaget. Seketika matanya terbuka lebar. Namsan Tower ! Dia ingat, dulu dia dan Kris pernah berkencan disana. Ia tak pernah merasa seyakin ini. Tak salah lagi, petunjuk ini pasti mengarah kesana. Secepat kilat, ia menghentikan taksi yang lewat dan meminta sopir untuk mengantarkannya ke Namsan Tower secepatnya !

Suara langkah kakinya yang berlari diatas salju terdengar samar-samar. Hanya suara nafasnya yang terengah-engah terdengar disana. Ia berusaha berlari secepat mungkin, tapi gundukan salju yang terhampar diatas tanah semakin menyulitkan ia melangkah.

Syalnya bergerak kebelakang terkena angin musim dingin. Asap putih keluar dari mulutnya bercampur dengan udara. Tampak namsan tower menjulang tinggi di depannya. Ia terdiam menunggu sesuatu. Tapi, tunggu ! Ada yang ganjil disini. Otaknya mengirimkan sinyal-sinyal kecemasan ke seluruh tubuhnya.  Ia memutar tubuhnya berusaha mencari sesuatu yang tampak aneh. Bola matanya bergerak-gerak panik. Kenapa suasananya sepi sekali ? Kenapa tak ada seorang pun disini ? serunya bingung. Bahkan kendaraan pun seperti dibekukan, sama sekali tak ada suara yang terdengar. Kepalanya mendongak keatas. Keningnya berkerut heran. Lampu menara juga tak menyala sama sekali. Padahal biasanya namsan tower selalu terlihat terang benderang dengan lampu-lampu besar berwarna merah.

Perasaannya berubah khawatir ? Dimana Kris ? Kenapa ia tak ada disini ? Apakah aku salah menebak ? Ia mencoba mengingat-ingat kembali. Kalau bukan disini, tempat mana yang dimaksud ? Otaknya benar-benar sudah buntu. Ia tak tahu lagi harus pergi kemana. Lebih tepatnya ia sudah lelah mengikuti permainan konyol suaminya itu. Ia sudah berlari kesana kemari, bersusah payah menuju tempat sesuai dengan petunjuk yang ada. Rasanya ia ingin sekali menangis. Ia sudah sekuat tenaga menahannya, tapi air matanya malah keluar semakin deras.

Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki meski hanya samar-samar. Mungkin itu suara penjaga. Punggung tangannya mengusap air mata yang mengalir di pipi. Bodoh, kau benar-benar bodoh Jessica !

Ia memutar tubuhnya bermaksud untuk pulang. Dan sekali lagi  ia kembali tersentak. Kedua bola matanya membulat sempurna. “Kris ?”, gumam Jessica tanpa sadar. Ia masih berdiri dan tak sedikitpun bergerak. Masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Kris ada disana berdiri di depannya dengan senyum menawan. Usianya mungkin sudah lebih dari empat puluh tahun, tapi tubuhnya masih gagah dibalut sweater putih dan mantel panjang berwarna coklat karamel. Ia masih tampan sama seperti dua puluh tahun yang lalu saat ia dan istrinya, Jessica datang kesini untuk pertama kalinya.

Kris berjalan mendekat. Ia bisa melihat wajah istrinya yang tampak ingin menangis. Ada bekas air mata di kedua pipinya. Tangannya yang dingin terulur untuk menghapus air mata itu. Ia tahu, hari ini ia telah membuat istrinya lelah mencari tempat ini. “Maafkan aku”, gumamnya dengan nada menyesal. Ia menarik istrinya mendekat, memeluknya memberi kehangatan.

Jessica masih terdiam saat Kris memeluk tubuhnya dengan erat. Ia bisa merasakan jemari Kris mengusap lembut rambutnya yang berwarna kecoklatan, berbeda sekali dengan Kris yang tampak mencolok dengan rambutnya yang pirang.  Melihat Kris berdiri disini, ia seperti melihat Kris saat masih muda. Tinggi, tampan, dan sedikit pendiam. Walau sifatnya itu malah semakin membuatnya terlihat misterius dan menawan. “Kenapa kau membawaku kesini”, bisiknya dengan suara serak.

Kris melepas pelukannya dan tersenyum saat mendengar pertanyaan wanita yang sudah resmi menjadi Nonya Wu selama dua puluh tahun itu.  “Bukankah ini adalah tempat yang istimewa ?”. Ia berjalan menuntun tangan Jessica menjauh dari tempat mereka semula. Seperti biasa, bila mereka berjalan berdampingan, tangan Jessica akan memeluk lengan Kris dengan erat. “Kau masih ingat saat kita berdansa waltz di pesta dulu ? Itu pertama kalinya aku menari”, ucap Kris sambil tersenyum menerawang.

Jessica menolehkan kepalanya. “Lalu ?”, ucapnya tak mengerti.

Kris menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Jessica. Punggung tangannya mengusap pipi istrinya dengan lembut. Kekasih hatinya ini yang selalu terlihat cantik dari dulu hingga sekarang. Ia menarik tangan kiri Jessica dan menautkan jemarinya. Lengannya terulur untuk memeluk pinggang istrinya yang kecil. Sekarang mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Kris tersenyum lembut. Kedua bola matanya memandang Jessica dengan teduh.  “Nyonya Wu, maukah kau berdansa denganku ?”

Jessica terpana. Ia sadar kenapa ia tak pernah bisa melepaskan pandangan dari suaminya. Ternyata setelah dua puluh tahun menikah, ia masih bisa merasakan jantungnya berdetak kencang sama seperti saat ia masih muda. Ia masih bisa merasakan tubunya bagai tersengat listrik saat Kris menyentuhnya. Tubuhnya masih tak bisa menolak pesona suaminya. Ia tahu, bahwa Kris adalah suami terbaik yang ia punya. Dan tak ada alasan untuk menolak. Bahkan meski ia dan Kris menari di bawah salju yang turun, meski udara dingin begitu menggigit, ia tak peduli. Asal bersama Kris, ia akan melakukan apapun tanpa mengeluh. Begitu ia menganggukkan kepala, seketika lampu di sekitar mereka menyala dengan sendirinya. Dan tak lama suara musik terdengar lirih dan mengalun lembut.  Ia memandang Kris dengan tatapan tak percaya. “Bagaimana kau bisa melakukan semua ini ?”, tanya nya dengan tatapan menyelidik.

Kris tertawa renyah. “Bukankah aku hebat ?”, ujarnya dengan nada bangga. Kakinya bergerak ke kiri dan ke kanan, menuntun Jessica berdansa waltz.

Jessica tersenyum tanpa sadar saat mendengar melodi my valentine yang mengiringi acara dansanya dengan Kris. “Ini lagu kesukaanku”, gumamnya sedikit menerawang. Ia mendongakkan kepalanya menatap Kris. “Kau masih mengingatnya ?”, tanya nya sedikit takjub.

Kris mengangkat bahu. “Ini sudah dua kali kau mengatakan itu dengan nada heran”,  sahutnya puas. Ia bisa mendengar istrinya mendengus pelan mendengar perkatannya.

Mereka berputar di tengah butiran salju yang turun. Jessica tertawa bahagia. Ia mengikuti gerakan suaminya. Kepala mereka semakin mendekat. “Kemampuan menarimu sepertinya bertambah baik. Apakah kau menghabiskan waktu selama  seminggu ini untuk belajar menari ?”, sahutnya geli.

Kris mengerucutkan bibirnya. Tapi tak urung ia tertawa juga. “Apa kau rela melihatku dipeluk wanita cantik meski ia berstatus pelatih dansa ?”, serunya dengan nada menggoda.

Jessica menatap suaminya dengan kesal. “Kalau kau benar-benar melakukan itu, kupastikan kau tak akan tidur di kamar malam ini”, gerutunya sambil membuang muka.

Pria berambut pirang itu terkekeh pelan. Jessica masih sama seperti dulu, kekanakan namun tetap lucu. Ia tak mengerti bagaiman bisa istrinya menganggap guarauannya itu dengan serius. Dia seharusnya tahu, bahwa Kris tak mungkin berpaling. Tiba-tiba ia menghentikan dansanya dan menatap istrinya dengan dalam. “Dua puluh tahun kita bersama melewati suka dan duka. Seperti yang kau tahu,  perasaanku padamu tak pernah berubah.” Ia menarik nafas. “Kau masih jadi Jessica-ku, istriku, dan . . .”, ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “valentine-ku.”

Dan sekali lagi air mata Jessica terjatuh karena terharu. Ia tak pernah merasa sebahagian ini. Dua puluh tahun mereka bersama, dan cinta mereka masih sama besarnya. Ketika Kris mencium kelopak matanya, mengecup ujung hidungnya dan berakhir di bibirnya, ia percaya, cinta yang mereka miliki akan tetap terjaga, bahkan meski maut memisahkan.

***************

Baekhyun-Taeyeon

Because a girl like you is impossible to find, You’re impossible to find

~Secondhand Serenade~

 

            “Eonni, aku belum mendapat coklat.”

“Noona, bolehkan aku mengambil dua ?”

“Noona, aku ingin yang bungkusnya berwarna biru.”

“Hu…hu eonni coklatku terjatuh di tanah.”

Tak seorang pun anak yang sabar menunggu giliran. Semua mengerumuni Taeyeon yang berdiri memegang kardus berisi puluhan batang coklat yang terbungkus rapi lengkap dengan pitanya.

Taeyeon menatap puluhan anak kecil di depannya itu sambil tersenyum. Dengan sabar, ia meladeni permintaan mereka semua. Tangannya sangat cekatan membagikan satu persatu coklat yang ia bawa.

“Ya, ya sabar ya. Dua ? Apakah yang satu untuk adikmu ? Nah, ini yang biru untukmu. Cup, cup, jangan menangis sayang, ini eonni tukar dengan yang baru.”

Di depan pintu, Baekhyun yang baru saja mengambil satu kardus lagi, tersenyum geli ketika melihat Taeyeon yang tampak kewalahan menghadapi banyaknya anak kecil yang mengelilinginya. Ia melangkahkan kaki mendekat dan ikut membantu Taeyeon membagikan semua batang coklat yang mereka bawa khusus untuk anak-anak panti.

Satu jam kemudian, Taeyeon dan Baekhyun baru bisa menghembuskan nafas lega. Coklat yang mereka bawa sudah habis dibagikan. Beruntung mereka membawa coklat cukup banyak, jadi tak ada yang menangis karena belum kebagian.

Baekhyun menatap Taeyeon yang berdiri sambil mengusap peluh di keningnya dengan punggung tangan. “Bagaimana perasaanmu ?”

Taeyeon menoleh. Ia menatap Baekhyun sambil tersenyum. “Aku tak pernah merasa sebahagia ini”, jawabnya dengan mata berbinar. Bola matanya menatap beberapa anak kecil yang masih ada di ruangan itu dengan gembira. Senyum polos anak-anak itu seperti malaikat surga. Tubuhnya membungkuk mengambil kardus. “Aku akan keluar untuk membuang ini.” Ia berjalan meninggalkan Baekhyun sambil mengangkat kardusnya yang sudah kosong.

Baekyun mengekorinya dari belakang dan ikut melakukan hal yang sama.  Ia melihat Taeyeon yang sekarang berdiri di depan pintu dengan mata terpejam. Kardus yang dibawanya sekarang ada di atas lantai.  Angin sedang berhembus pelan, dan ia bisa melihat Taeyeon menikmati hal itu.  “Kenapa kau melakukan ini ?”, tanya nya sembari ikut merasakan angin di sebelah Taeyeon.

Kelopak mata Taeyeon terbuka. “Maksudmu ?”, tanya nya tak mengerti.

“Membagikan coklat kepada mereka semua.” Ia memiringkan kepalanya sedikit. “Itu bukan hal yang lazim untuk dilakukan”, ujarnya sambil mengangkat bahu.

Taeyeon tersenyum lebar. “Hari ini hari valentine kan ? Jadi aku ingin membagi cinta dan kasih sayang kepada mereka semua.”

Baekhyun mendengus. “Alasan klasik !” Ia terdiam sejenak. “ Aku tahu kau mencari sesuatu. Jadi katakan saja, apa sebenarnya yang kau cari ?”

Bukannya marah, Taeyeon malah tertawa keras saat mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia memegangi perutnya yang terasa sakit karena ia terlalu keras tertawa. “Kau ingin tahu ?”, tanyanya geli.

Baekhyun mengangguk cepat. “Tentu, kalau kau tak keberatan.”

Taeyeon memalingkan wajahnya dari Baekhyun. Ia menatap Han Jo yang sedang bermain plastisin. “Han Jo-ya !”, teriak Taeyeon memanggil seorang anak laki-laki berumur enam tahun di pojok ruangan. Baekhyun mentatap Taeyeon dengan bingung. Bukankah tadi ia bilang akan mengatakan alasannya ? Kenapa sekarang ia malah memanggil Han Jo ? gumam Baekhyun dalam hati. Tapi yang ditatap hanya diam dan tersenyum meminta Baekhyun untuk tak bertanya dulu.

Han Jo yang mendengar namanya dipanggil, mendongakkan kepalanya yang mungil ke atas. Ia tersenyum dan berlari ketika yang memanggilnya adalah ‘Kakak Malaikat’. “Noona memanggilku ?”

Taeyeon mengangguk dan mengelus rambut Han Jo yang berwarna hitam legam. “Apakah coklatnya enak ?”, tanya nya dengan suara lembut.

Han Jo tersenyum menunjukkan giginya belum tumbuh dengan sempurna. “Itu adalah coklat paling enak yang pernah aku makan !”, pujinya sambil memeluk pinggang Taeyeon dengan kedua tangannya yang kecil.

“Jinja ?” Taeyeon bertanya dengan suara layaknya anak kecil. Sebenarnya ia merasa geli ketika mendengar suaranya sendiri. Han Jo hanya mengangguk sebagai jawabannya. Taeyeon tersenyum senang dengan reaksi Han Jo . “Kalau begitu, bisakah kau panggilkan Suster Maria ?”

Han Jo menatap Taeyeon seolah bertanya kenapa. “Noona dan Baekhyun oppa akan pulang”, jelasnya dengan sabar. Tatapan Han Jo berubah sedih. Ia masih belum melepaskan pelukannya. “Apakah noona akan kesini lagi ?”, tanya nya kecewa.

Taeyeon mensejajarkan tingginya dengan Han Jo dan menatapnya dengan sayang. “Noona tak akan pernah meninggalkan kalian semua”. Han Jo tersenyum sumringah. “Baiklah, noona !” Kakinya yang kecil berlari mencari Suster Maria sesuai permintaan Taeyeon.

“Jangan lupa untuk gosok gigi sebelum tidur !”, seru Taeyeon kepada Han Jo yang sudah berbelok ke ruangan sebelah.

Baekhyun menaikkan alisnya saat Han Jo sudah menghilang dari pandangan. “Jadi ?”, tanya nya menagih jawaban.

“Aku sudah menunjukkannya, kan ?”, sahut Taeyeon tak sabar. Ia bisa melihat Baekhyun masih tak mengerti dengan ucapan. “Apa kau melihat senyum Han Jo dan teman-temannya ?”

Baekhyun terdiam. Ia tak mengerti dengan arah pembicaraan Taeyeon, tapi ia mencoba untuk tak menyela pembicaraan meski lidahnya gatal sekali.

“Melihat mereka tersenyum dan tertawa setiap harinya, seperti energi untukku”, ujarnya dengan lirih.  “Bagi mereka, disayangi sesorang adalah hal yang teramat langka namun sangat mereka inginkan”. Taeyeon terdiam sejenak. “Dan hanya itu yang bisa kuberikan”.

Bakehyun menatap Taeyeon terkesima. Dulu ia selalu menganggap tak ada orang baik di dunia ini. Semuanya munafik dan penuh kepura-puraan. Banyak orang melakukan sesuatu hanya mengharap imbalan dan pujaaan. Tapi setelah mendengar jawaban Taeyeon, ia sadar bahwa ia salah menilai. Tak semua orang di dunia ini jahat. Masih ada orang-orang berhati tulus dan murni di dunia ini. Kini ia mengerti kenapa anak-anak panti selalu memanggil Taeyeon dengan sebutan ‘Kakak Malaikat.’ Karena mereka bisa merasakan kebaikan dan kasih sayang Taeyeon bagaikan seorang malaikat. Tiba-tiba ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya. “Menurutmu apa itu valentine ?”

Taeyeon berfikir sebentar. “Ehm, menurutku valentine adalah saat dimana orang diseluruh dunia menunjukkan cintanya kepada orang yang mereka kasihi”, jawabnya pelan. Ia menoleh dan bertanya, “Memangnya kenapa ?”

Baekhyun tersenyum. Dan ia berani bersumpah bahwa ia seperti melihat Taeyeon bercahaya saat mengatakan itu.  Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya dan memeberikannya kepada Taeyeon.

Taeyeon menyipitkan matanya. “Bukankah , itu coklat yang tadi kita bagi ?”

Bakehyun mengangguk membenarkan. “Kau memberikan coklat kepada mereka semua, sebagai tanda kalau kau juga menyangi mereka”. Ia mengambil nafas pelan. “Dan sekarang aku juga ingin melakukan hal yang sama.”

Ekspresi Taeyeon terlihat bingung. “Maksudmu ?”

Kali ini Baekhyun mencoba menatap Taeyeon dengan sesuatu yang disebut dengan ketulusan.  “Selamat hari valentine, Taeyeon~ah”. Ia menatap Taeyeon dengan kedua bola matanya yang berwarna coklat. “Dan aku menyayangimu sebagai perasaan sayang seorang laki-laki kepada gadisnya.”

****************************

Seohyun-Kim Jong Dae

You would still have my heart until the end of time

~ Martina McBride~

            Hujan salju masih turun meski sudah tak sederas tadi. Mereka benar-benar indah. Kepingan kepingan es yang terukir sempurna tanpa ada satupun yang serupa.  Seohyun masih disana, berjalan sendirian melewati sepanjang jalan yang dikelilingi dengan pohon-pohon maple berwarna putih. Tangannya yang kecil dan sekarang mulai berkeriput membenarkan topi rajutnya yang hampir jatuh terkena angin. Mantel putih yang ia kenakan saat ini sedikit basah terkena salju yang mencair.  Langkah kakinya setenang angsa di atas kolam. Hari ini ia hanya punya satu tujuan. Ia ingin menemui suaminya.

Maka ketika ia memasuki tempat yang paling sering ia kunjungi, senyumnya terkembang begitu lebar. Wajahnya mungkin sudah tak semuda dulu, tapi senyumnya masih sama.Masih sehangat mentari pagi.  Tak ada orang yang menyangkal itu.

Suasana tempat ini masih setenang biasanya. Tentu saja, tak ada orang yang mau datang kesini terlebih di tengah musim salju yang dingin. Biasanya bila di musim panas, kau bisa mendengar suara burung gereja yang bertengger diatas dahan pohon, berkicau dengan merdunya.

Ia tak perlu peta atau pemandu. Ia sudah hapal dengan tempat ini. Bahkan dengan mata tertutup pun ia pasti bisa menemukan tempat suaminya. Tubuhnya tahu kemana harus bergerak tanpa ia perintah. Dan ketika kakinya berhenti melangkah, ia tahu ia sudah sampai. Ia selalu percaya dengan keajaiban. Karena itu saat ia melihat rumput di sekitarnya masih tumbuh menghijau, ia tak merasa aneh. Keajaiban yang melakukannya.

Angin berhembus pelan. Kali ini bisa merasakan hawa dingin yang mengigit. Bulu tengkuknya memang sedikit meremang, tapi ia mengabaikannya. Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Kakinya berlutut memberi penghormatan. “Bagaimana kabarmu ?”, tanya Seohyun pelan. “Aku bisa menebak kau pasti baik-baik saja”, ujarnya sambil tersenyum.

“Kau pasti menanyakan kabarku ?” Seohyun berjalan mendekat. “Kabarku tak cukup baik. Tak pernah baik sebenarnya”. Suara desahan keluar dari bibirnya.  “Kemarin,  Jinri datang bersama Jinwoon. Mereka sudah menikah sekarang. Rasanya baru kemarin kita mendengar Jinri merengek ingin dibelikan boneka. Apakah kau merasa waktu berjalan sangat cepat ?” Seohyun menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Hari ini benar-benar dingin, bahkan permukaaan tanah pun bagaikan lantai es. “Beberapa hari ini aku merasa tubuhku semakin lemah. Apakah sebentar lagi saatnya ?” Ia menghembuskan nafas pelan. “Kau akan menjemputku kan ?”, ujarnya setengah berbisik.

Sunyi senyap. Bahkan angin pun berhenti berhembus. Tapi Seohyun masih disana. Masih ada yang ingin ia katakan. “Sama seperti janjiku, kau masih selalu jadi yang pertama disini”, ia berkata sambil menyentuh dadanya pelan. “Bahkan meski empat puluh tahun sudah berlalu, perasaan itu masih tetap sama”, bisiknya pelan.

Ada satu hal yang ia yakini. Keyakinan yang masih ia pegang teguh meski orang-orang tak pernah mengerti.  Jongdae masih menunggunya. Ia yakin Jongdae masih mencintainya. Bahkan meski mereka berada di dunia yang berbeda.

Seohyun menundukkan kepalanya. Bibirnya mendekat berusaha mencium batu nisan berbentuk salib di depannya.

“Selamat hari valentine, sayangku, kasihku, Kim Jongdae”.

*************************

Aloha everybody ! Hari ini Summer curi-curi waktu buat ngepost ff ini. Ini bukan berarti saya akan comeback. Saya masih belum bisa buat nulis ff chapter untuk beberapa bulan kedepan. Tapi karena saya kengen sama reader semua, jadi saya curi-curi waktu buat nulis ff gaje ini untuk merayakan hari valentine. Biasa, authornya jomblo sih. Hohoho. Ini pertama kalinya saya nulis ficlet (?) . Jadi mohon dimaklumi kalau gaje dan maksa banget. Kalau reader semua merasa sebel sama ff saya yang ancur, kalian boleh tendang saya kok. Tapi daripada nendang saya, lebih enak kalau reader ngasih komen berupa kritik dan saran buat saya. Gimana, oke kan ? Dan maaf kalau pairingnya aneh banget. Kebetulan waktu saya lagi liat header sebuah blog yang nampilin exoshidae, trus tau tau saya jadi tertarik sama pairing ini. Hehehe ^_^

Seperti biasa, kalau reader mau kenalan, kalian boleh follow twitter saya @kumalakartika atau add akun facebook saya (hiatus fb sebenarnya) = kumalahawani@yahoo.co.id

So, see you next time guys ! 😀

16 thoughts on “[FF Freelance] Valentine’s Story (Oneshot)

    • Makasih udah baca ff saya {}
      Cieee ff saya dibilang amazing, aduh bikin saya malu deh ƪ(Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴̴͡)‎​Ʃ

    • pertama sih niatnya mau dibikin happy ending, tapi kalau semua happy ending ga seru dong, jadinya saya ganti nyesek ending deh hehehehe ^ ^
      makasih ya udah mau baca ff saya 😀

  1. duhhh, suka deh sama keseluruhan critanya cuma knapa yg bagian chen koq sedih gitu ya? wlau tetep aja intinya cinta mreka itu msh tersimpan di hati..nice ^^

  2. thorrr aku sich suka SuFany……………
    tpi bikin KrisFany sam HunFany donk……^_^
    mna psternya lebih cocok KrisFany lagi
    jebal…………

  3. aahhh~~ eonnii daeebbaakkk!! ceritanya romantis bikin senyum-senyum sndiri, hahaha… terus pas bgt kapelnya SuFanny&ByunTaeng, kebetulan aku kapelan ma mereka di rp #gaadygnanya=,= hehehe…
    bkin-bkin lg yahh.. terus email aku kalo udh ada, heheehhe..^^

    • Makasih udah baca ff yg absurd ini \(´▽`)/
      Chingu adalah reader pertama yg suka kopel sufanny hehehe
      Kebetulan saya punya satu ff lagi (oneshoot) judulnya my valentine dan itu maincast nya sufanny juga
      Kalau yg byuntae, saya punya ff series judulnya my lovely noona
      Silahkan dibaca 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s