Impossible [Part 1]

impossible

Impossible

Main Cast :

  • Nichkhun Horvejkul ‘2PM’
  • Tiffany Hwang ‘SNSD’

Support Cast :

  • Lee Donghae ‘Super Junior’ as Tiffany’s Brother

Genre : Romance, Drama

Rating : PG-15

Length : twoshoot

Disclaimer : My Plot For Sure..

~

Gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke gerbang sekolahnya dengan pandangan yang menatap lurus ke depan dan bersikap acuh terhadap sekelilingnya. Setiap kali ia datang ke sekolah, maka ia harus mempersiapkan mental yang cukup kuat untuk menerima setiap sindiran dari teman-temannya.

Kini ia sudah sampai di depan kelasnya. Ia menarik nafasnya yang dalam lalu menghembuskannya dan mengeratkan pegangannya pada tas sandangnya. Setelah ia memantapkan dirinya, ia mencoba untuk memasuki kelasnya.

“Gadis malang itu akhirnya tiba,” ledek beberapa orang yeoja yang duduk di bagian paling depan.

Ia melirik sekilas ke arah mereka dan mencoba untuk tersenyum ramah menanggapi ledekan dari teman-teman sekelasnya itu. Ia berjalan ke arah tempat duduknya dan menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terletak di atas mejanya. Dengan hati-hati, ia melepaskan tas sandangnya dan meletakkannya di atas kursi lalu mengambil sebuah kotak kayu yang terletak di atas mejanya dan membukanya.

Aaaa,” teriaknya ketika seekor katak melompat keluar dari kotak itu dan dengan spontan ia langsung  menjatuhkan kotak itu ke bawah. Teman-teman sekelasnya yang melihat kejadian itu hanya bisa tertawa meledeknya.

Ia menatap ke sekeliling kelasnya dan mendapati teman-temannya yang masih tidak berhenti menertawakannya. Terkadang ia memang merasa kesal dan benci pada perlakuan teman sekelasnya padanya hanya karena ia seorang murid baru dan ia seorang anak yatim piatu.

~

Namja yang duduk di sudut kelas dengan kakinya yang terletak di atas mejapun ikut menertawakannya, bahkan suara tawanya-lah yang paling mendominasi diantara suara tawa lainnya.

Yeoja itu –Tiffany— mencoba untuk tetap sabar dengan perlakuan teman-temannya itu dan kembali  untuk duduk di atas kursinya dan mengeluarkan sebuah buku soal-soal dari dalam tasnya. Ia memilih untuk belajar daripada harus menanggapi setiap ledekan dari teman-temannya.

~

Bel tanda kelas dimulaipun berbunyi, seluruh siswa yang masih berada di luar kelas berbondong-bondong memasuki kelas mereka sebelum didahului oleh guru mereka. Jung sonsaengnim dengan tumpukan nilai hasil ujian yang ada di tangannya memasuki kelasnya.

Annyeonghaseyo yeoreobun,” sapanya dengan ramah pada seluruh anak muridnya.

Ia meletakkan hasil ujian itu ke atas mejanya dan berjalan ke depan kelas untuk menghadap seluruh anak muridnya dan spontan ia menjerit ketika melihat seekor katak yang sedang melompat melewatinya. “Aaaa!”

“Siapa yang membawa katak itu?” serunya.

Seluruh murid yang berada di dalam kelas itu sepakat untuk menolehkan kepala mereka ke arah Tiffany yang sedang asyik membahas soal-soal. Tiffany yang saat itu sedang menikmati soal yang ia bahas merasa mendapatkan tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya. Ia segera mendongakkan kepalanya dan memang benar, seluruh teman-teman sekelasnya menatap ke arahnya dan ia dapat melihat ekspresi Jung Sonsaengnim yang terlihat kurang bersahabat.

“Tiffany, apa yang sudah kau lakukan?” tanyanya dengan meninggikan nada suaranya. Suaranya kini tidak seramah saat ia menyapa anak muridnya tadi.

Tiffany mengangkat sebelah alisnya dan ia tidak mengerti maksud dari perkataan Jung Sonsaengnim. Ia melirik ke seluruh teman-teman sekelasnya dan sekali lagi ia mendapati namja yang duduk di sudut kelas –Nichkhun— tidak dapat berhenti menahan tawanya.

“Kenapa kau tidak menjawab?” tanya Jung Sonsaengnim dan kali ini kesabarannya sudah habis karena Tiffany tidak kunjung juga menjawab pertanyaannya. “Keluar dari kelas sekarang juga!” bentaknya pada Tiffany.

Tiffany bangkit dari duduknya masih dengan wajah bingungnya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat apa yang telah dilakukannya sehingga mampu memancing amarah dari Jung Sonsaengnim. Saat ia melangkahkan kakinya keluar dari kursinya, tidak sengaja ia menendang kotak kayu yang tadinya digunakan oleh teman-teman sekelasnya untuk mengerjainya. “Bukan aku yang melakukannya,” jawab Tiffany dengan jujur.

“Dia berbohong!” seru Nichkhun dari belakang yang langsung diikuti sorakan dari teman sekelasnya. “Lihat kotak yang ada di dekat mejanya,” tambah seorang namja yang duduk di sebelah Nichkhun.

Jung Sonsaengnim berjalan ke arah Tiffany dan memang benar ia menemukan sebuah kotak kayu di dekatnya. “Apa kau ingin berbohong?” tanyanya dengan sinis.

“Bukan aku pelakunya,” tambah Tiffany lagi yang masih bersikukuh dengan pendapatnya.

“Keluar dari jam pelajaranku sekarang juga!” seru Jung Sonsaengnim dengan menatap tajam ke arah Tiffany. “Aku benci kepada seorang pembohong,” tambah Jung Sonsaengnim.

“Tapi aku bukan seorang pembohong,” jawab Tiffany mantap dan balik menatap Jung Sonsaengnim dengan tatapan tidak bersalah. Ya, Tiffany memang terkesan yeoja yang cukup kuat, ia tidak akan membiarkan orang menindasnya kalau itu memang bukan  kesalahan yang ia perbuat.

“Lalu katakan padaku siapa pelakunya?” tanya Jung Sonsaengnim yang mulai kesal menanggapi sifat keras kepalanya Tiffany.

“Aku tidak tahu,” balas Tiffany singkat.

“Bukti ada padamu dan itu artinya kau pelakunya!” bentak Jung Sonsaengnim.

Tiffany memilih untuk mengacuhkan Jung Sonsaengnim dan kembali duduk dan membiarkan Jung Sonsaengnim yang masih berdiri di dekatnya menahan rasa kesalnya.

Karena tidak mampu untuk mengeluarkan Tiffany dari kelasnya dan hanya akan membuang energi dan kecantikannya, Jung Sonsaengnim memilih untuk menahan rasa kesalnya dan menghiraukan Tiffany. Ia beranjak menjauh dari Tiffany menuju ke depan kelas dan kembali untuk tersenyum ramah pada murid-muridnya. “Baiklah, saya akan membagikan hasil ujian kali ini,” katanya sambil mengambil tumpukan kertas yang diletakkannya di atas meja guru tadi dan membagikannya pada seluruh siswa yang ada di dalam kelas.

“Miyoung,” panggilnya sambil menyerah hasil ujian yeoja. “Pertahankan nilaimu,” tambahnya sambil tersenyum ramah yang diikuti anggukan kepala dari yeoja yang bernama Miyoung itu.

“Jaebum,” kali ini Jung Sonsaengnim menggelengkan kepalanya menatap hasil ujian tersebut. “Kau perlu belajar lebih giat lagi, berhentilah untuk bermain PSP-mu,” tambahnya. Jaebum hanya bisa menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum kikuk.

“Tiffany,” panggil Jung Sonsaengnim yang langsung membuat Tiffany beranjak dari duduknya dan berjalan ke arahnya untuk mengambil hasil ujiannya. “Kali ini kau kumaafkan berhubung karena nilai ujianmu cukup memuaskan,” katanya lagi sambil menyerah hasil ujian tersebut.

“Nichkhun,” panggilnya kembali dan kali ini ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan. “Kau selalu mendapat nilai merah, apa kau tidak bosan?” tambahnya sambil menatap tajam ke arah Nichkhun.

Sonsaengnim, aku terlalu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk belajar,” balas Nichkhun manja.

“Apa yang kau sibukkan? Apa kau sudah menikah?” balasnya sinis. “Karena nilaimu merah, kau harus masuk ke kelompok diskusi bersama Tiffany dimana Tiffany yang akan menjadi tutormu,” tambahnya.

Nichkhun membulatkan kedua bola matanya. Masuk ke kelompok diskusi bersama Tiffany hanya akan membunuhnya. Ia sangat benci pada yeoja itu. “Sonsaengnim, kumohon jangan pasangkan aku bersama Tiffany, kalau kau memasangkanku bersamanya itu hanya akan membuat nilaiku bertambah merah,” jawab Nichkhun dengan wajah memelas.

“Benarkah? Kalau begitu aku ingin melihatnya,” jawab Jung Sonsaengnim dengan senyumnya yang meremehkan. “Kalau sampai ujian ke depan kau mendapat nilai merah, aku akan mengeluarkanmu dari kelas,” tambahnya lagi dengan tegas.

Dengan pasrah, Nichkhun mengambil hasil ujiannya dan melirik sekilas ke arah Tiffany yang menatapnya dengan pandangan meremehkan. Sial, umpat Nichkhun dalam hati sambil meremas kertas hasil ujiannya.

~

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, berulang kali Nichkhun melirik ke arah Tiffany yang berjalan dengan santai di belakang. Nichkhun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Tiffany “Bisakah kau berhenti berjalan di belakangku?” kata Nichkhun dengan kesal.

Tiffany menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengikutimu, aku hanya berjalan untuk pulang ke rumah,” balas Tiffany dengan santai.

“Oh Tuhan, tidakkah kau sadar bahwa itu bukan rumahmu?,” balas Nichkhun yang setiap perkataan yang keluar dari mulutnya selalu menusuk Tiffany. Namun bagi Tiffany, kata-kata seperti itu sudah biasa baginya.

“Aku akan pindah dari rumah itu sesegera mungkin setelah aku menyelesaikan tugasku,” jawabnya dengan santai dan berjalan mendahului Nichkhun yang masih menatap kesal ke arahnya.

“Apa tugasmu? Aku akan membantumu agar kau segera enyah dari rumahku,” seru Nichkhun yang langsung membuat Tiffany menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahnya.

“Aku akan sangat berterima kasih kalau kau membantuku. Tugasku adalah membuatmu mendapat nilai yang bagus,” jawab Tiffany namun sedetik kemudian ia kembali melanjutkan perkataannya “namun aku rasa, hal itu tidak dapat berlangsung dengan cepat karena kau sendiri tidak memiliki niat belajar.”

“Aku pasti bisa!” jawab Nichkhun dengan tegas. “Asalkan kau benar-benar akan segera pergi,” tambah Nichkhun lagi.

Tiffany yang mendengar perkataan Nichkhun hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

~

Malam itu, tidak seperti biasanya setelah menghabiskan makan malamnya, Nichkhun memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya meninggalkan orang tuanya dan Tiffany yang masih menikmati makan malam itu dengan santai.

“Apa sesuatu telah terjadi padanya?” tanya Tuan Horvecjkul yang menatap aneh melihat sifat anaknya.

Tiffany hanya membalas pertanyaan Tuan Horvecjkul dengan senyuman tipis. Kuharap dia benar-benar berubah, batinnya dalam hati.

“Bagaimana harimu hari ini di sekolah, nak?” tanya Nyonya Horvecjkul yang beranjak untuk membersihkan meja makan dibantu oleh Tiffany.

“Baik,” jawab Tiffany yang dengan jelas-jelas ia sedang membohongi Nyonya Horvecjkul dan terlebih dirinya sendiri.

“Apa Nichkhun masih suka menganggumu?” tambah Nyonya Horvecjkul yang sepertinya kurang yakin dengan jawaban Tiffany.

Anni,” jawab Tiffany dengan menggelengkan kepalanya.

~

Nichkhun menghabiskan malamnya dengan tumpukan buku-buku di atas meja belajarnya. Hal yang sangat jarang terjadi. Berkali-kali Nichkhun hampir menyerah karena ia tidak tahu bagaimana menyelesaikan soal-soal yang walaupun berulang kali ia membolak-balikkan bukunya, ia tetap tidak menemukan solusinya.

Ia beranjak dari duduknya sambil meregangkan otot-otot punggungnya yang terasa kaku dan dengan membulatkan hatinya, ia mengambil soal-soal itu dan beranjak keluar dari kamarnya.

~

Oppa,” sahut Tiffany dengan bahagia ketika ia menjawab telepon dari oppa-nya.

“Apa kau baik-baik saja?”

Geureomnyeo, mereka sangat baik padaku disini,” jawab Tiffany dengan penuh semangat namun pada akhirnya nada suaranya melemah saat ia melanjutkan perkataannya “hanya saja ada yang kurang menyukai keberadaanku disini,”

“Benarkah? Apa yang tidak disukainya darimu? Kau cantik, baik, pintar..” kata Donghae terhenti saat Tiffany memotong pembicaraannya.

“Kau bisa saja oppa,” ledek Tiffany. “Kapan kau akan kembali?” lanjutnya.

“Seminggu kemudian oppa akan kembali dari Jepang dan menjemputmu,”

Tiffany membulatkan matanya. “1 minggu?” tanyanya tidak percaya.

Ne, dan oppa akan berbicara pada Tuan Horvecjkul bahwa oppa akan memindahkanmu ke Jepang untuk tinggal bersama oppa,”

“Baiklah,” jawab Tiffany dengan lemas.

“Apa kau tidak menyukainya?” tanya Donghae dengan hati-hati.

Tiffany menundukkan kepalanya sejenak dan kemudian ia mengangkat kepalanya sambil tersenyum “Tentu saja aku menyukainya, cepatlah pulang oppa.”

~

Nichkhun berdiri di depan pintu kamar Tiffany cukup lama, ia tidak memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kamar Tiffany. “Apa aku harus meminta tolong padanya?” bisik Nichkhun.

Nichkhun tersentak kaget saat tiba-tiba pintu kamar Tiffany terbuka dan Tiffany berdiri tepat di hadapannya. “Apa yang kau lakukan!” bentak Nichkhun yang kesal pada Tiffany karena dengan seenaknya saja ia membuka pint kamarnya dan mengagetkannya.

“Bukankah itu seharusnya pertanyaan yang kulontarkan?” tanya Tiffany balik sambil menutup pintu kamarnya dan beranjak pergi meninggalkan Nichkhun.

“Ajari aku!” seru Nichkhun sambil menatap Tiffany.

Tiffany memberhentikan langkahnya dan berbalik menatap Nichkhun. “Apa kau serius?”

Nichkhun menganggukkan kepalanya dengan mantap .

~

1 jam hampir berlalu, Tiffany masih sibuk mengajari Nichkhun yang tidak kunjung mengerti di dalam kamarnya. Berkali-kali Tiffany terlihat menjitak kepala Nichkhun karena kesal padanya.

“Bagaimana soal seperti ini pun kau tidak mengerti,” cibir Tiffany sambil mengerjakan soal tersebut dan memperlihatkannya pada Nichkhun.

“Itu karena aku tidak pernah belajar bukan karena aku bodoh,” balasnya pada Tiffany.

“Benarkah?” tanya Tiffany tidak percaya.

“Kau tidak percaya padaku?” tanya Nichkhun sambil mengangkat sebelah alisnya.

Tiffany hanya tersenyum mendengar perkataan Nichkhun. “2 hari kemudian, aku akan memberimu test, bila kau berhasil aku akan mentraktirmu minum soju, kau suka kan?” tanyanya berusaha membangkitkan niat belajar Nichkhun.

“Kau tidak boleh mengingkarinya,” jawab Nichkhun dengan mata berbinar-binar dan sejurus kemudian ia mengalihkan pandangannya pada soal-soal yang ada di hadapannya dan mengerjakannya dengan tekun.

~

Esok paginya, Tiffany pergi ke sekolahnya dengan berjalan kaki. Sebelum memasuki sekolahnya, ia selalu menarik nafasnya dan menghembuskannya untuk menenangkan hatinya agar mampu mengabaikan semua cibiran dari teman-teman sekelasnya.

Baru saja ia ingin memasuki sekolahnya, ia ditabrak oleh beberapa orang yeoja yang selalu merasa bahwa diri merekalah yang tercantik di sekolah mereka itu. “Ah, maaf,” kata salah seorang yeoja itu dengan pandangan menghina.

Tiffany memilih untuk tetap diam sambil merapikan seragam sekolahnya. Ia kembali berjalan dengan santai untuk memasuki kelasnya.

Di saat ia memasuki kelasnya, ia mulai mendapatkan cibiran dari teman-temannya. “Nichkhun, lihatlah pita yang dipakai oleh gadis itu terlihat kuno,” ejek Jaebum yang duduk di sebelah Nichkhun dan diiyakan oleh Nichkhun dengan sebuah anggukan kepala.

Tiffany melirik sekilas ke arah Nichkhun dengan raut wajah kecewa. Semalam ia masih mengira bahwa Nichkhun tidak sejahat apa yang ada dipikirannya namun kali ini ia harus menegaskan kembali bahwa Nichkhun memang seorang namja yang menyebalkan dan tidak akan pernah sama dan menjadi seperti apa yang diharapkannya.

Hal itu tidak akan pernah terjadi, batin Tiffany dalam hati sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis.

~

 Sepulang sekolah hari ini, baik Nichkhun maupun Tiffany berjalan di rute yang sama untuk sampai ke rumah mereka. Tidak ada perbincangan yang terjadi karena masing-masing terlarut dalam kesibukannya masing-masing di mana Nichkhun sibuk memainkan PSPnya dan Tiffany sibuk membaca sebuah novel.

Nichkhun melepaskan pandangannya dari PSPnya dan berbalik sejenak untuk menatap Tiffany. Sedangkan Tiffany terlihat sangat menikmati novel yang ia baca sampai-sampai ia menabrak dada bidang milik Nichkhun.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Nichkhun pada Tiffany sambil merebut novel yang ada di tangan Tiffany.

Tiffany menjauhkan dirinya dari Nichkhun dan merebut kembali novelnya yang kini ada bersama Nichkhun. “Bukan urusanmu,” jawab Tiffany dan beranjak pergi mendahului Nichkhun setelah ia berhasil merebut novelnya kembali.

“Aku benar-benar aneh melihat wanita sepertimu,” kata Nichkhun yang membuat Tiffany membalikkan badannya sekilas namun kemudian tetap memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan Nichkhun.

Tiffany sudah tahu persis apa yang akan dikatakan Nichkhun selanjutnya karena setiap pulang sekolah, Nichkhun pasti akan selalu mengatakan hal yang demikian. Memintanya untuk segera keluar dari rumahnya. “Aku akan segera pindah, jadi kau tenang saja,” seru Tiffany dari kejauhan sambil mengangkat tinggi tangan kanannya.

“Baiklah kalau kau tahu akan hal itu,” seru Nichkhun sambil tersenyum puas lalu berlari mendekati Tiffany dan berusaha menyeimbangkan langkah kakinya dengan Tiffany. “Tapi kau tidak boleh lupa untuk mentraktirku minum soju,” tambah Nichkhun yang hanya dibalas Tiffany oleh anggukan kepala.

~

Malam harinya, Nichkhun mulai membiasakan diri untuk duduk di meja belajar dengan tumpukan buku yang selalu menemani malamnya. Ia mulai belajar dengan giat dengan tujuan yang pasti harus ia capai yaitu menyingkirkan Tiffany.

“Nichkhun, kau di dalam?” terdengar suara Tiffany dari luar kamar Nichkhun.

“Ya,” jawab Nichkhun dan sedetik kemudian pintu kamar Nichkhun terbuka dan Tiffany masuk ke kamarnya membawa sebuah buku soal lalu memberikannya pada Nichkhun. “Kerjakan soal-soal yang kutandai, besok aku akan datang menagihnya padamu dan bila kau berhasil aku akan mentraktirmu minum soju,” kata Tiffany sambil beranjak pergi meninggalkan Nichkhun yang sibuk memandangi soal-soal yang ditugaskan kepadanya.

~

Keesokan harinya, Nichkhun sudah mempersiapkan dirinya dan tersenyum dengan cemerlang karena ia yakin bahwa ia telah menjawab soal yang diberikan oleh Tiffany dengan benar. Ia berdiri di depan pintu kamar Tiffany menunggu yeoja itu untuk segera keluar dari kamarnya.

Perlahan-lahan pintu kamar Tiffany mulai terbuka dan keluarlah sosok yang telah dinanti-nanti oleh Nichkhun. Dengan wajah mengantuknya dan rambutnya yang berantakan, ia keluar dari kamarnya menyambut Nichkhun. “Apa yang kau lakukan sepagi ini?” tanyanya malas.

“Tentu saja menyerahkan ini,” jawab Nichkhun sambil memberikan soal-soal yang diberikan oleh Tiffany padanya waktu itu. “Bagaimana seorang gadis menyambut seseorang dengan keadaan yang seperti ini?” bisiknya pelan namun masih dapat didengar oleh Tiffany.

Dengan gerakan cepat, Tiffany langsung masuk ke dalam kamarnya sambil merutuki dirinya yang begitu bodoh karena membuka pintu kamar dengan keadaan dirinya yang masih berantakan. “Bodoh!” rutuknya.

~

Nichkhun hanya mampu mengulum senyumnya saat melihat diri Tiffany yang masih berantakan tadi. Dia sangat lucu, gumam Nichkhun dalam hati sambil berjalan memasuki kamarnya.

~

Malam harinya, setelah pamit pada kedua orang tua Nichkhun, Tiffany dan Nichkhun keluar dari rumah mereka dengan menggunakan mantel yang tebal karena cuaca malam hari yang cukup menusuk tulang. Mereka berjalan dengan Nichkhun yang berada tepat di depan Tiffany.

“Aku ingin minum soju di sana,” kata Nichkhun pada Tiffany sambil menunjuk sebuah emperan warung yang berada di sebelah gedung tua itu.

“Apa kau yakin?” tanya Tiffany yang sepertinya tidak terlalu yakin dengan tempat yang dimaksud oleh Nichkhun.

Nichkhun hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menyebrangi jalan raya yang keetulan saat itu lampu pejalan kaki berwarna hijau. Di belakangnya, ia disusul oleh Tiffany.

Ahjumma, 2 botol soju dan 2 piring snack seperti biasanya,” pinta Nichkhun pada seorang ahjumma yang tengah sibuk melayani pelanggannya.

Ne,” terdengar sahutan dari ahjumma tersebut.

“Apa kau sering minum di sini?” tanya Tiffany sambil melepaskan mantelnya dan melipatnya dengan bagus lalu meletakkannya di pahanya.

2 botol soju dan 2 piring snack yang dipesan oleh Nichkhun, diantarkan tepat di hadapan mereka.

“Bagaimana kalau kita bertarung?” ajak Tiffany sambil tersenyum mantap.

“Kau yakin? Kau ingin bertarung denganku?” tanya Nichkhun yang kelihatannya memang sangat meremehkan Tiffany.

“Tentu saja, aku sanggup menghabiskan 10 botol soju tanpa mabuk,” jawab Tiffany mantap.

Waa, Daebak!” puji Nichkhun namun sedetik kemudian ia kembali meremehkan Tiffany. “Baiklah, 10 botol soju,” tambahnya.

~

8 botol soju telah mereka habiskan, Nichkhun mulai kehilangan kesadarannya, pipinya memerah dan ia mulai mengatakan hal-hal aneh pada Tiffany. Tiffany yang memang jago dalam meminum minuman berakohol, mencoba untuk menyadarkan Nichkhun.

“Nichkhun, sadarlah. Kita harus segera pulang,” ajak Tiffany sambil mencoba untuk menarik Nichkhun agar ia segera berdiri dan mereka dapat segera pulang ke rumah mereka karena sejujurnya Tiffany sangat lelah hari ini.

“Kau tahu, kau benar-benar merepotkan,” kata Nichkhun pada Tiffany yang langsung membuat Tiffany melepaskan genggaman tangannya pada Nichkhun dan kembali duduk di sebelah Nichkhun.

Kata-kata sewaktu kita mabuk adalah kata-kata paling jujur dan hal itu masih dipercayai oleh Tiffany. Itulah sebabnya mengapa ia memilih untuk kembali duduk karena ia menunggu kata-kata selanjutnya yang akan diucapkan oleh Nichkhun.

“Kau adalah orang yang sangat sulit untuk kusingkirkan,” tambah Nichkhun. “berkali-kali aku memintamu pergi namun kau tidak pergi juga. Kau tahu, aku membencimu, sangat membencimu,”

Mungkin mendengar kata “membencimu” yang hampir setiap kali keluar dari mulut Nichkhun terdengar biasa saja bagi Tiffany. Namun kali ini, bagaikan beribu-ribu jarum yang menusuk hatinya, ia mulai menyadari bahwa ternyata Nichkhun memang sangat membenci Tiffany dari lubuk hatinya yang paling dalam.

“Kenapa kau membenciku?” tanya Tiffany dengan hati-hati.

“Karena kau dengan seenaknya tinggal di rumahku dan karena kau juga…” kata Nichkhun terhenti dan kali ini dengan matanya yang berkunang-kunang dan pipinya yang merah seperti tomat, ia menatap Tiffany. “Selalu berada di dalam pikiranku,” tambahnya dan setelah itu ia kembali jatuh tertidur di atas meja.

“Apa aku sangat menganggumu?”tanya Tiffany yang pertanyaannya tidak mungkin dijawab oleh Nichkhun lagi karena Nichkhun sudah berada di dunia mimpinya. Perlahan, sebulir air mata mulai turun membasahi pipi Tiffany yang sudah mulai merasa lelah dengan semuanya.

TBC>>

31 thoughts on “Impossible [Part 1]

  1. ini udh ada lanjutannya, blom?
    aku new reader disini, ini ff udh dipost thn lalu kn? lanjutannya dmna thor? pls, bls ya thor 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s