[FF Freelance] Blind in Love (Part 4)

blind in love

Title : Blind In Love (Chapter 4) || Author : Eugenia Kim || Tumblr : ksunmi1248 || Rate : PG-15 || Length : 5537 words || Genre : Romance || Cast’s : Kim Taeyeon [GG], Kim Jongwoon [SJ], Tiffany Hwang [GG], Cho Kyuhyun [SJ], Kim  Hyoyeon [GG], Lee Hyukjae [SJ] || Disclaimer : Terinspirasi dari berbagai lagu, novel, drama dan ff lain. Poster and Story originally made by me. Keep reading and commenting. ^^

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3

I don’t understand why destiny allowed some people to meet, when there’s no way for them to be together

Jongwoon memperhalus gerak tangannya yang sedang membersihkan butiran-butiran kaca yang masih menempel di telapak kaki Taeyeon. Setelah dirasa bersih ia membersihkan kaki Taeyeon dengan handuk basah dan mengusap kaki -kaki kecil Taeyeon dengan kapas yang sudah basah oleh alkohol. Tak lupa ia mengoleskkan obat luka sebelum pada akhirnya ia membalut kaki taeyeon dengan perban. Namun alih-alih kesakitan, Taeyeon malah tak bergeming memperhatikan setiap detail bagaimana tangan Jongwoon dengan apik mengobati luka di kakinya. Pria itu melakukannya dengan konsentrasi penuh, dan ekstra hati-hati. Melihat wajah seriusnya, Taeyeon jadi membayangkan wajah pria itu ketika harus berhadapan dengan meja operasi.

Dengan telaten Jongwoon memberikan ‘sentuhan terakhir pada perban itu, menempelkan beberapa sobekan plester dan mengusap gulungan perban itu dengan hati-hati, memastikan tak ada satupun luka gores yang tidak tertutupi.

“Sudah selesai.” Ucap Jongwoon sambil mendongakkan kepalanya memandang wajah Taeyeon sekilas. Gadis itu nampak tak mengubris perkataan Jongwooon dan hanya memandang kosong ke arah depan.

Kruuuuuuk

Suara yang berasal dari perut Taeyeon berhasil membuat gadis itu mengalihkan pandangan kosongnya. Setidaknya sekarang gadis itu menundukkan kepalanya malu. Jongwoon yang memperhatikan gerak-gerik Taeyeon hanya bisa tersenyum geli.

 

Taeyeon memandang semangkok Ddukbogi yang diletakkan oleh Jongwoon dihadapannya. Tak lupa, Jongwoon juga meletakkan segelas teh hangat di samping mangkok itu. Cacing-cacing di perut Taeyeon sebenarnya sudah tidak bisa diajak berkompromi. Tapi apa daya, rasa sungkan lebih menyelimuti perasaannya.

Jongwoon yang duduk di seberang Taeyeon menatap gadis itu bingung. “Kau tidak suka Ddukbogi ya?”

Gadis itu mengangkat wajahnya menatap Jongwoon. “Kau tak perlu melakukan hal-hal seperti ini padaku. Bagiku, menggendongku sampai rumahmu dan membersihkan serta mengobati luka di kakiku ini sudah sangat lebih dari cukup.  Dan aku sangat berterima kasih.” Ucap gadis itu tulus.

Ini merupakan kali pertamanya Jongwoon merasakan sisi tulus dan lembut dari gadis itu. Rasanya sungguh berbeda melihat gadis ini berbicara seperti itu jika diingat sifat gadis itu yang cenderung menjadi temperamen di setiap pertemuannya dengan Jongwoon.

“Aku tahu, sejak awal pertemuan, tidak pernah ada yang berjalan baik diantara kita. Jika kau merasa tak nyaman menyantap ddukbogi itu karena mengingat berbagai permasalahan diantara kita. Lebih baik kau buang jauh-jauh perasaan itu dan setidaknya pikirkan kesehatanmu. Ah iya, sampai detik ini aku belum meminta maaf atas tuduhanku kepadamu Untuk itu aku minta maaf.” Jelas Jongwoon sambil tersenyum tipis. Senyuman tipis dengan ketulusan yang terselip didalamnya.

Dengan ragu Taeyeon mulai menyuapkan semangkok ddukbogi ke mulutnya. Sambil mengunyah makanannya Taeyeon nampak berpikir. Dan tepat sebelum ia menyendokkan lagi ddukbogi ke dalam mulutnya, ia kembali bersuara.

“Sehabis makan aku akan langsung pulang, aku tak mau menambah daftar masalahmu yang disebabkan olehku.”

Jongwoon yang mendengar pernyataan Taeyeon menatap gadis itu dengan bingung. “Masalah?”

“Ya, masalah.” Jawab gadis itu sambil menghela nafas panjang. “Aku tak mau tetanggamu beranggapan yang tidak-tidak padaku. Lagipula….” Ucapnya terputus.

“Lagipula apa?” Ulang Jongwoon seolah meminta penjelasan.

“Meskipun aku belum pernah bertemu istrimu, aku yakin istri mana yang akan senang melihat suaminya bersikap begitu baik pada wanita lain.” Jelas gadis itu dengan salah tingkah. Bahkan ddukbogi di hadapannya menjadi sasarannya untuk diaduk-aduk karena salah tingkahnya.

Jongwoon tak membalas pernyataan gadis di hadapannya.  Taeyeon yang menyadari pria itu tidak bergeming setelah mendengar pernyataannya, memberanikan diri mengangkat wajahnya lagi menatap Jongwoon. Pria itu nampak terdiam dengan sorot mata yang nanar.

“Ya, kau benar. Seharusnya aku sadar itu.” Jawab Jongwoon dingin.

 

*****

 

Pagi itu Jongwoon tidak menggunakan jasa Pak Jung untuk mengantar Taewoon ke sekolah ataupun mengantar dirinya ke rumah sakit. Sahabatnya Tiffany, dengan senang hati menawarkan jasanya untuk menjemput mereka dan berangkat bersama. Perlu diingat memang, Jongwoon memang tidak bisa mengemudikan mobil dalam tujuh tahun terakhir karena suatu hal. Oleh karena itu dia selalu bergantung pada Pak Jung ataupun kendaraan umum.

“Belajarlah dengan rajin, nanti siang Hyoyeon imo bilang dia akan mengajakmu dan Hyoeun untuk berjalan-jalan, jadi pulanglah dengannya.” Nasihat Jongwoon kepada Taewoon ketika mengantar Jongwoon ke pintu gerbang sekolah. Taewoon yang mendengar nasihat ayahnya hanya mengangguk.

“Kalau begitu aku masuk dulu Daddy, Tiffany Auntie.” Pamitnya kepada Jongwoon dan Tiffany sebelum akhirnya berjalan memasuki areal sekolah.

“Oppa.” Panggil Tiffany pada Jongwoon yang berada di sampingnya.

“Hm, wae?” Jawabnya tanpa menolehkan kepalanya.

“Bukankah itu salah satu guru di Klub Yeonjae? Kalau tidak salah dia teman Hyoyeon eonni, Nona Taeyeon.” Jelas Tiffany sambil mencoba memperjelas pandangannya pada seseorang yang datang dari arah yang berlawanan.

“Oh.” Respon Jongwoon singkat.

“Untuk apa dia kesini?” Tanya Tiffany lagi.

” Tak tau, tanyakan saja pada orangnya langsung.” Jawab Jongwoon dengan jutek.

Sementara itu, Taeyeon yang juga menyadari Jongwoon yang datang dari arah berlawanan bersama Tiffany  bermaksud untuk sekedar menyapanya dengan menyunggingkan senyuman. Tapi sepertinya usahanya tak dianggap. Bahkan pria itu lewat bersama tanpa memperdulikan senyuman yang diberikan Taeyeon. Hanya Tiffany yang membalas senyuman Taeyeon dengan sambil menganggukkan sedikit kepalanya.

‘Ada apa dengan pria itu?’ Pikir gadis itu.

Karena cukup penasaran, gadis itu membalikkan badannya untuk melihat kembali pria  yang baru saja mengacuhkannya. Dilihatnya Tiffany dan Jongwoon  masuk ke dalam mobil. Tiffany duduk di kursi pengemudi, dan Kim Jongwoon di kursi penumpang. Bersamaan dengan mobil mereka yang melaju secara perlahan, otak Taeyeon berusaha mengingat sesuatu.

‘Apa Dokter Hwang itu istrinya? Mengapa mereka selalu berdua. Tapi aku ingat betul wajah wanita di foto pernikahan Kim Jongwoon sangat berbeda dengan Dokter Hwang. Mengapa aku yang bingung sendiri?’ Rutuknya dalam hati.

“Aissh.. Jangan biarkan dirimu berpikir yang tidak-tidak lagi Kim Taeyeon.” Ujarnya memperingati dirinya sendiri.

 

Taeyeon yang tidak mendapat jadwal mengajar hari ini melaksanakan pekerjaannya yang lain, yaitu sebagai penjaga perpustakaan. Saat itu kondisi perpustakaan sangatlah sepi. Wajar, saat ini jam pelajaran masih berlangsung, jadi tidak ada murid yang berkeliaran. Usai mendata buku-buku yang telah dikembalikan murid-murid sebelum mereka masuk kelas, Taeyeon berkeliling perpustakaan itu untuk mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya. Hingga matanya memperhatikan buku terakhir yang tersisa di tangannya, buku yang sangat familiar untuknya. ‘Eksperimen untuk Pemula.’ Tanpa ia sadari sebuah senyuman geli terukir di bibirnya saat mengingat kejadian di perpustakaan beberapa waktu lalu.

Usai merapikan buku-buku itu. Ia kembali ke kubikelnya dan mendapati sebuah pesan masuk di ponselnya. Raut wajahnya nampak menjadi kaku setelah membaca pesan itu.

From : Changmin Oppa

Maaf untuk 2 hari yang lalu. Tapi bisakah kita bertemu sore ini? Kali ini aku tak akan mengingkarinya. Temui aku di Cafe biasa.

 

Entah mengapa ia merasa pesan yang dikirim Changmin terkesan dingin untuknya. Jika memang Changmin marah, seharusnya Changmin tak berhak marah padanya. Bagaimanapun juga ialah korban disini.

To : Changmin Oppa

Baiklah.

 

*****

 

Jongwoon keluar dari ruang ICU dengan wajah lelah dan kalut. Siang tadi ia baru saja melakukan operasi caesar pada seorang  ibu yang usia kehamilannya baru menginjak usia 8 bulan. Hal ini jelas membuat sang bayi lahir prematur dan harus mendapat perawatan ekstra di inkubator. Tapi yang menjadi masalah adalah beberapa jam setelah operasi selesai, ibu itu mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan ibu itu tak sadarkan diri. Hatinya serasa semakin hancur ketika mendapati keluarga ibu itu menangis melihat kondisi anggota keluarga mereka yang harus terbaring lemah di ICU.

“Sepertinya kau tidak sedang dalam keadaan yang baik, Oppa.” Tiffany menghampiri Jongwoon yang sedang bersandar pada pagar di taman atap rumah sakit. Kedua tangannya dilipat dan kepalanya tertunduk.

“Kau dokter anak yang menangani bayinya kan? Bagaimana keadaanya?” Jongwoon memandang Tiffany dengan lesu.

“Meskipun terlahir prematur, bayi itu sehat. Bahkanmenurutku bayi itu sangat cantik, aku yakin ketika beranjak dewasa ia akan menjadi Hallyu Star.” Tiffany menyodorkan sebuah gelas kopi kepada Jongwoon dan bersandar di samping pria itu.

Jongwoon tersenyum mendengar komentar Tiffany. “Sejak kapan kau bisa membedakan wajah bayi? Menurutku wajah bayi yang baru lahir nyaris sama.”

Tiffany menyesap Cappucinonya perlahan. “Itu artinya kau bodoh Dokter Kim. Bagaimana bisa orang bodoh sepertimu menjadi Dokter?”

“Hey! What Are You talking About Ms. Stephanie Hwang?” Canda pria itu sambil menyipitkan matanya hingga nampak seperti sebuah garis.

Gadis itu balas tertawa. “Hahaha, akhirnya kau tersenyum Oppa. Sudahlah, aku kesini hanya ingin memberi tahumu ibu itu sudah sadarkan diri, jadi jangan merasa tak enak hati lagi.”

“Benarkah?”

“Hm.. Bahkan dia sudah dipindahkan ke ruang inap.”

“Kalau begitu ayo kita mengunjunginya.” Jongwoon menarik tangan Tiffany dengan tiba-tiba.

“Ya, jangan menarikku tiba-tiba Kopiku bisa-bisa tumpah!”

 

“Awalnya kami mengira, hal-hal yang lebih buruk akan terjadi pada Eun Young, tapi ternyata Tuhan masih mendengar doa kami. Kami juga berterima kasih atas usaha para dokter untuk menyelamatkan Eun Young kami dan putrinya.” Seorang wanita yang kira-kira berumur 60 tahun membungkuk dengan hormat sambil mengucapkan rasa terima kasihnya. Bahkan putranya yang merupakan suami dari wanita bernama Eun Young itu tak bisa berkata apa-apa karena bahagia yang ia rasakan.

Jongwoon balas membungkukan badan. “Jangan seperti itu Nyonya So, itu semua sudah menjadi tugas kami. Justru kami yang harus berrterima kasih atas kepercayaan yang anda berikan kepada kami. Bukankah begitu Steph?” Tiffany yang berdiri di sebelah Jongwoon membalas pertanyaan Jongwoon dengan senyumannya.

Wanita tua itu tersenyum penuh arti kepada Jongwoon dan Tiffany. Matanya tersenyum nakal .”Aigoo, mengapa aku begitu bahagia melihat kalian berdua ya? Kalian nampak sangat serasi. Apakah kalian sepasang kekasih? Atau mungkin kalian sudah menikah?”

“Nde?” Seru Jongwoon dan Tiffany bersamaan.

“Aku bilang kalian sangatlah serasi.” Ucap wanita tua itu lagi. Kali ini tiffany mengalihkan wajahnya, menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. Sementara Jongwoon juga salah tingkah dan tak bisa berkomentar.

 

*****

Changmin bisa melihat sosok yang sedang ia tunggu-tunggu melalui dinding kaca cafe itu. Gadis itu menyeberangi jalan dan masuk ke dalam kafe yang sama dengan Changmin berada sekarang. Awalnya gadis itu nampak celingukan mencari Changmin, tapi semuanya berakhir ketika matanya menatap Changmin yang duduk di sudut ruangan cafe itu.

Gadis itu mencoba untuk tersenyum, meskipun senyumannya agak kaku.

“Sudah dari tadi?” Tanyanya ketika berdiri di hadapan Changmin.

“Taeyeon-ah… Duduklah dulu.” Pinta pria itu sambil tersenyum samar. “Aku sudah memesankan kau Red Velvet Latte, kau tak keberatan kan?”

Taeyeon menggelengkan kepalanya pelan sambil tetap menyunggingkan senyumannya. Entah kenapa, suasana dingin menyelimuti sepasang kekasih itu. Sebelumnya, mereka juga jarang bertemu, tapi mereka tetap bisa menciptakan suasana yang nyaman satu sama lain di kesempatan mereka bertemu. Tapi sepertinya tidak untuk pertemuan mereka kali ini.

“Kau baru pulang dari mengajar?” Tanya Changmin berusaha membuka pembicaraan.

“Ya. Tadi aku mengajar di Taejo. Tapi sepertinya setelah ini aku akan ke Yeonjae.” Jawab gadis itu dengan binar wajahnya. Binar wajah yang selalu disukai Changmin. Changmin hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum tipis.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Changmin lagi.

Sebelum Taeyeon sempat menjawab, seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka,  Red Velvet Latte untuk Taeyeon serta Hot Coffee untuk Changmin.

“Baik, cukup baik.” Jawab gadis itu sebelum akhirnya menyesap Red Velvet lattenya.

“Bahkan setelah acara perayaan hari jadi kita yang ketiga gagal?” Sinis pria itu.

Taeyeon menautkan kedua alisnya. “Kau marah, Oppa?”

“Tidak… Aku hanya kesal karena rencanaku gagal. Awalnya aku bermaksud untuk mencarimu ke apartmenmu, tapi sepertinya tak ada gunanya.” Changmin menjawabnya dengan lancar dan nada seperti orang yang dicampakkan.

“Apa kau menyalahkanku? Bahkan bukannya kau yang mengingkari janjimu. Kenapa nada bicaramu seperti itu?” Taeyeon mencoba meredam emosinya.

“Tentu aku menyalahkanmu, sejak jauh-jauh hari aku sudah merencanakannya. Tapi bukan berarti karena aku telat datang gara-gara rapat dadakan itu kau bisa seenaknya menumpahkan kekecewaanmu dengan menghabiskan malam dengan pria lain.” Changmin sudah tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Taeyeon yang mendengar pernyataan Changmin tertegun sekaligus bingung.

“Kau tahu Oppa? Seharusnya aku yang marah. Sejak dulu kau tidak pernah memperdulikan hubungan kita, kau tak pernah meletakkanku pada daftar prioritasmu. Dan bahkan kau sudah tiga kali mengecewakanku di hari jadi kita. Dan sekarang… Kau malah menuduhku berselingkuh dibelakangmu. Apa kau sengaja mengarang cerita seperti itu karena sudah muak denganku?” Nafas Taeyeon memburu. Matanya mulai basah karena air mata. Ia menggigit bibirnya, berusaha untuk menahan amarahnya yang selama ini terkubur dalam-dalam, tapi percuma saja.

“Kim Taeyeon! Aku jelas-jelas melihatmu sedang berada digendongan pria lain di hari jadi kita. Mungkin kau mengira aku tak akan datang dan akan tetap mengecewakanmu seperti perayaan yang sebelumnya, tapi aku datang ke restoran itu, meski aku hanya menemukan restoran yang kosong. Awalnya aku berniat menyusulmu ke rumah, tapi sepertinya kau lebih asyik bersama pria itu. Dan kuakui Kim Taeyeon, kali ini kau berhasil membalasku dan kehilangan rasa percayaku padamu. ” Emosi Changmin memuncak. Ia membentak gadis itu.

“Kau membentakku Oppa?” Lirih gadis itu sebelum akhirnya diam tak bergeming. Kali ini ia seperti pencuri yang sudah tertangkap basah. Rasanya percuma jika ia harus memberikan pembelaan jika kenyataannya takdir sudah berbicara lain.

“Jujur, hal ini membuatku sadar akan 2 hal Taeyeon-ah. Pertama, aku harus lebih bisa menghargai wanita. Membuat wanita itu selalu nyaman bersamaku. Kedua….. Sepertinya kita memang sudah tidak ditakdirkan satu sama lain. Aku rasa hubungan kita cukup sampai disini. Aku tak mau menyakitimu lebih dalam lagi Taeyeon-ah. Dan satu lagi…”

Pria itu memutus kalimatnya yang sedari tadi ia ucapkan dengan suara yang bergetar. Tangannya mengambil sesuatu dari saku bagian dalam jasnya dan meletakkannya di hadapan Taeyeon.

“Meskipun rencanaku untuk memberikannya padamu di hari jadi kita gagal. Setidaknya benda ini tetaplah milikmu. Awalnya memang hadiah ini memiliki arti khusus, tapi sepertinya artinya sudah berubah menjadi hadiah perpisahan.” Ucap pria itu lagi masih dengan suaranya yang bergetar.

Taeyeon menatap benda pemberian Changmin. Sebuah kotak. Ya sebuah kotak. Kotak dengan lapisan beludru merah pada bagian luar yang di dalamnya sudah dapat di tebak adalah benda yang paling di idamkan dan di harapkan sebagaian besar wanita dari pria spesialnya. Apalagi kalau bukan cincin.

“Sebaiknya aku pergi sekarang. Kemarin aku menerima tawaran Ayahku untuk mengurus perusahaan cabang di China. Dan besok pagi aku akan berangkat. Jaga dirimu baik-baik Taeyeon-ah…. Setidaknya aku bahagia kau pernah menerimaku menjadi orang yang spesial untukmu.”

Changmin beranjak dari duduknya. Namun sebelum ia melangkah ia kembali bersuara. “Tadi aku sudah langsung membayar minuman kita, anggap saja ini acara perpisahanku denganmu.”

Hingga akhirnya pria itu pergi dari cafe itu, Taeyeon masih mematung,matanya menatap kosong ke kotak beludru merah pemberian Changmin. Dengan tangan bergetar diraihnya kotak itu dan dibukanya secara perlahan. Sebuah cincin emas putih dengan berlian pada bagian tengah terletak manisnya di dalam kotak itu. Taeyeon sudah tak bisa menahannya lagi, ia pun meluapkan isi hatinya melalui air mata yang mengalir dari kelopak matanya. Ia membiarkan dirinya terisak dan mengacak-acakan rambutnya sendiri. Tak peduli tatapan orang-orang yang memandangnya aneh.

‘Kau hanya memberiku sedikit kesempatan untuk berbicara Oppa. Bahkan kau tak mengijinkaku untuk memintamu untuk tidak pergi.’

 

*****

 

From : Shim Changmin

Aku tahu betul kau adalah orang yang paling mengerti Taeyeon, Kyuhyun-ah. Aku minta maaf telah menghancurkan perasaan gadis itu. Tapi aku ingin meminta sesuatu padamu. Temui dia di cafe tempat langganan kami, karena aku yakin gadis itu masih terdiam disana.

 

Kyuhyun membaca pesan dari Changmin dengan bingung. Hanya satu hal yang dapat ia simpulkan, hubungan Taeyeon dengan Changmin sedang tidak dalam keadaan baik. Kyuhyun yang awalnya berniat mengunjungi Klub Yeonjae langsung memutar balik kemudi mobilnya ke cafe yang dimaksud Changmin. Sesampai di cafe itu, Kyuhyun terus mengedarkan pandangannya hingga matanya menemukan sosok yang ia cari sedang menenggelamkan kepalanya di atas kedua tangannya yang dilipat. Punggung gadis itu bergetar, dan Kyuhyun tahu gadis itu sedang terisak.

“Taeyeon-ah…” Kyuhyun menepuk bahu gadis itu dengan lembut dan duduk di kursi kosong yang terletak di sebelah Taeyeon. Melihat gadis itu menangis, hati Kyuhyun terasa hancur.

“Ssstt, jangan menangis lagi. Kau bisa menceritakan semuanya padaku.” Bisik Kyuhyun sambil menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

 

Setelah menceritakan semuanya kepada Kyuhyun, Taeyeon langsung diantar Kyuhyun ke Klub Yeonjae, karena menurut Taeyeon dirinya memiliki jadwal latihan bersama Hyoyeon. Sebenarnya Kyuhyun sudah meminta agar Taeyeon beristiraht saja di rumah. Bagaimanapun keadaannya sedang tidak baik saat ini.

Dengan mata yang masih sembab, Taeyeon memasuki ruang latihan.

“Ya!!!!” Baru saja Hyoyeon akkan mengeluarkan omelannya namun diurungkan begitu melihat keadaan Taeyeon yang sedang tepat untuk diomeli. “Apa yang terjadi padamu.” Tanya Hyoyeon setelah merubah nada bicaranya dari bringas menjadi lebih halus.

“Aku tidak apa-apa, Eonni. Lebih baik kita latihan sekarang.” Taeyeon berusaha membantah dugaan tidak enak Hyoyeon dengan halus. Tapi bagaimanapun juga Hyoyeon tetaplah Hyoyeon bagi Taeyeon. Orang yang tidak bisa ia bohongi apalagi ia bodohi.

“Aku tahu kau sedang tidak dalam keadaan baik Kim Taeyeon. Bagaimana kau bisa mengatakan dirimu dalam keadaan baik kalau kau sama sekali tidak berkonsentrasi menerima materi dan bahkan kakimu sedang cedera seperti itu.” Komentar Hyoyeon dengan omelan halus setelah melihat hasil latihan Taeyeon yang menurutnya jauh dari kata bagus jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

“Entahlah….” Jawab gadis itu dengan lesu.

“Ceritakan padaku! Apa yang terjadi pada hubunganmu dengan Changmin?” Hyoyeon menuntu penjelasan dari Taeyeon. Bahkan Hyoyeon meletakkan kedua tangannya di wajah Taeyeon.

“Semuanya sudah berakhir. Ia sudah meninggalkanku.” Gadis itu kembali terisak. Butiran-butiran bening itu kembali membasahi matanya hingga turun ke pipinya.

“Sudahlah, mungkin kalian memang tak berjodoh…” Ucap Hyoyeon berusaha menenangkan Taeyeon. “Lebih baik kau pulang sekarang. Istirahatkan pikiran serta hatimu terlebih dahulu. Setelah kau baikan, baru kita latihan lagi.”

“Ne Eonni, terimakasih…” Jawab Taeyeon pelan.

 

“Kau yakin kau baik-baik saja?” Kyuhyun menatap Taeyeon khawatir  sebelum akhhirnya gadis itu turun dari mobil meninggalkan Kyuhyun.

“Tentu… Aku hanya perlu menenangkan diriku. Terimakasih atas tumpanganmu Oppa. Hati-hati.” Taeyeon berusaha tersenyum di hadapan Kyuhyun meskipun pada akhirnya hanya senyuman masam yang ia berikan.

‘Coba saja dulu aku tak merelakanmu untuk Changmin, Taeyeon-ah.’

 

“Nona Taeyeon.” Panggil seorang wanita berusia 40an ketika Taeyeon akan menaiki tangga apartmen itu. Dia adalah nyonya song, pemilik gedung apartmen itu yang menempati apartmen  di lantai bawah di bagian pojok dan berukuran dua kali lebih besar dari penghuni apartmen lainnya.

“Ah, Nyonya Song. Ada apa? Bukannya aku sudah membayar tagihan untuk bulan ini? ”

“Tadi adik anda datang, tapi anda sedang tidak di rumah. Jadi ia menitipkan barang bawaannya di rumahku. Kalau kau mau, kau bisa mengambilnya sekarang.”

Mendengar pernyataan ibu pemilik apartmen, senyuman kecil mulai merekah di wajah sembab Taeyeon.  “Ah, benarkah?”

 

Taeyeon memasuki apartmennya dengan perlahan kemudian menutup pintu apartmennya dengan kaki kirinya. Kedua tangannya mengangkat sebuah box kardus berukuran sedang. Kiriman sang ibu dari kampung halaman, Busan. Ia yang sudah sangat penasaran dengan isi kardus itu langsung mengambil sebuah pisau dan menggorresnya tepat pada plester yang merekatkan kardus itu.

“Whoaaaa…” Takjubnya ketika melihat isi kardus itu. Kardus itu berisikan makanan-makanan buatan ibu Taeyeon seperti Kimchi, Kkakdugi, sayuran yang diasinkan,  bahkan bumbu-bumbu siap pakai seperti gochujang dan dwejang.

“Aku yakin bahan-bahan makanan ini bisa untuk persediaan makanan beberapa bulan kedepan.” Gumamnya pada diri sendiri ketika memasukkan makanan-makanan itu ke dalam kitchen set.

 

*****

 

Seperti biasa di kediaman orang tua Jongwoon, jika jam makan malam telah usai mereka akan langsung berpencar, asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Jongwoon, Hyukjae dan Tuan Kim memilih untuk mengobrol ddi ruang tamu, sementara Hyoyeon menidurkan Hyoeun di kamarnya. Tiffany yang malam itu makan malam bersama mereka, memilih untuk menggantikan Hyoyeon membersihkan dapur dan ruang makan bersama Ibu Jongwoon. Tiffany memang sudah akrab dengan keluarga Jongwoon karena sejak kecil dia memang sudah bersahabat dengan Jongwoon.

“Fany-ah.” Panggil Ibu Jongwoon. Tiffany yang bernama asli Stephanie Hwang atau Hwang Miyoung, nama koreanya, memang terkadang dipanggil oleh orang-orang dengan nama Fany. Hanya Jongwoon lah satu-satunya orang yang memanggilnya dengan nama Stephanie.

“Ne, Ahjumma?” Gadis itu menolehkan kepalanya sekilas, sementara tangannya masih sibuk mencuci piring-piring kotor.

“Bagaimana hubunganmu dengan Jongwoon?”

“Hubungan?” Tiffany mendadak salah tingkah. Ia memalingkan kemballi wajahnya menatap piring-piring yang ia cuci. “Persahabatan kami masih baik sampai sekarang.”

“Ahjumma tidak sebodoh itu Fany-ah. Apa kau kira Ahjumma tidak peka terhadap gerak-gerikmu selama ini?.” Wanita itu tersenyum hangat. “Ahjumma juga tau kau sudah menyukainya, bahkan sebelum Jongwoon menikah dengan Sooyoung.”

Gadis itu tidak bisa berkutik. Organ-organ di tubuhnya serasa berhenti bekerja. Yang dia bisa rasakkan saat ini hanyalah gugup dan takut.

“Kau tak usah takut, Fany-ah.” Ucap Ibu Jongwoon lembut. “Kalau kau memang mencintainya, Ahjumma tak akan melarangnya. Lagipula Ahjumma tahu betul kau sangat menyayangi Jongwoon dan Taewoon. Bahkan Ahjumma mendukungmu.” Ucapnya sambil mengelus rambut Tiffany.

 

*****

 

“Eomma!!!” Seru Taeyeon ketika orang yang di hubunginya mengangkat teleponnya.

“Taeyeonnie? Apa kabarmu nak, Eomma merindukanmu.” Jawab ibu Taeyeon dari seberang sana.

“Eomma, aku merindukanmu.” Sahut gadis itu manja.

“Ya… Kapan kau akan berhenti bersikap manja seperti itu.” Gurau Eomma Taeyeon.

“Aku akan selalu manja padamu eomma. Oh ya eomma terimakasih kirimannya, setidaknya aku bisa makan dengan enak untuk satu bulan ke depan.” Girang gadis itu.

“Hahaha, tentu saja Taeyeonnie, kau harus makan yang banyak, jaga kesehatanmu. Em.. Kau tidak pergi bekerja nak?”

“Tentu saja aku pergi bekerja, sekarang aku dalam perjalanan menuju sekolah. Oh ya, bagaimana kabar Tuan Yoo?”

“Itu.. ”

“Itu kenapa bu?”

“Ayah tirimu sedang dalam kondisi yang kurang baik. Dalam beberapa minggu ini Kibum harus selalu siap sedia mengantarkan ayah tirimu ke rumah sakit.” Jelas Ibu Taeyeon dengan suara yang agak sedih. “Lalu, apakah ayahmu dapat meneleponmu dari Jepang?” Timpal Ibunya mengalihkan pembicaraan.

“Ayah masih sering mengirimiku email dan uang bu, setidaknya ayah masih perhatian padaku di tengah kesibukannya.”

“Wah, bagus lah kalau begitu. Taeyeonnie ibu harus melanjutkan masakan ibu, ibu tutup teleponnya.” Ucap Ibu Taeyeon mengakhiri sambungannya dengan Taeyeon.

“Ne eomma, saranghae…”

Usai bertelepon dengan ibunya, entah mengapa Taeyeon jadi sangat merindukan keluarganya. Memang, sejak SMA, tepatnya setelah perceraian kedua orang tuanya, Taeyeon memutuskan untuk meninggalkan Busan dan memulai hidup baru di Seoul. Setelah bercerai, baik Ibu maupun Ayah Taeyeon tetap menjaga hubungan yang baik meskipun mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Ayah Taeyeon menikah lagi dengan salah seorang rekan bisnisnya yang merupakan blasteran Korea dengan Jepang dan memutuskan untuk tinggal di Jepang. Kakak Taeyeon, Kim Youngwoon, ikut pindah ke Jepang dan membantu Ayah Taeyeon dalam bisnisnya.

Sementara ibunya, masih menetap di Busan dan menikah dengan seorang guru Sekolah menengah yang biasa ia panggil tuan Yoo. Adik Taeyeon, Kim Kibum, tinggal bersama sang ibu dan Tuan Yoo. Baik keluarga baru ayahnya, maupun ibunya sangat menyayanginya. Dan Taeyeon sangat mensyukuri semua itu.

Setibanya di depan sekolah Taejo, Taeyeon di sambut oleh Hyoyeon yang rupanya sudah menunggu Taeyeon.

“Hyoyeon Eonni, untuk apa kau menungguku disini?”

“Ternyata kau cukup pintar untuk menebak alasan keberadaanku disini, Taeyeon-ah.” Jawab Hyoyeon dengan cengiran.

“Ayo, cepat katakan apa tujuanmu? 10 menit lagi jam pelajaran sudah dimulai, dan aku memiliki jadwal mengajar.”

“Ahh, aku hanya mau minta tolong, bisakah kau pulang bersama Taewoon hari ini? Sekalian kau jaga juga dia di rumahnya. Jongwoon Oppa masih harus menghadiri resepsi pernikahan putri pemilik rumah sakit, jadi ia akan pulang malam.

Taeyeon menaikkan sebelah alisnya.”Memangnya kau kenapa?”

“Ah itu… Aku harus mengunjungi keluarga Hyukjae Oppa yang baru datang dari Amerika.” Jawab Hyoyeon berusaha meyakinkan Taeyeon.

“Benarkah?”

“Ya, tentu saja.” Jawab Hyoyeon lagi dengan percaya diri.

“Baiklah kalau begitu.”

 

*****

 

Teeet… Teeeett

Suara alarm itu terdengar bersamaan dengan mobil yang sedang dikendarai Jongwoon menabrak pembatas jalan. Seketika Jongwoon yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, membenturkan kepalanya ke setir dengan ekspresi muram.

“Dengan demikian, anda dinyaatakan gagal Tuan Kim.” Ujar seorang instruktor mengemudi yang duduk di kursi penumpang. Sesuai dugaan Jongwoon, Instruktor itu akan menyatakan dirinya gagal. “Sekarang anda bisa turun dan keluar dari arena tes dengan mobil yang menjemput anda.” Tambah instruktor itu lagi.

“Apa tak bisa aku mencoba lagi?” Pintanya sambil menyatukan kedua tangannya.

“Maaf tuan, anda hanya bisa mencobanya sekali dalam sehari, mungkin anda bisa mencoba lagi besok.”

“Ayolah, aku mohon.”

“Sekali lagi saya katakan tidak Tuan Kim.” Tegas instruktor itu.

Dengan gusar Jongwoon pun pindah ke mobil yang akan mengantarkannya keluar dari arena tes mengemudi itu. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya, malu.

“Sudahlah oppa, kau masih bisa berlatih lagi.” Tiffany yang sedari tadi memonitori jalannya tes mengemudi Jongwoon hanya bisa menghiburnya ketika pria itu keluar dari arena tes mengemudi lalu menyodorkan pria itu sebotol air mineral dingin.

“Tapi aku hanya akan merepotimu dan pak Jung terus menerus.” Jongwoon menegak air itu, bahkan ia langsung menghabisi air di dalam botol itu.

“Sudahlah Oppa, kau tau sendiri tak mudah menghapuskan trauma. Lebih baik, sekarang kita bersiap-siap untuk ke acara pernikahan putri dokter Choi.”

“Yasudah, ayo.” Jongwoon hanya bisa menganggukan kepalanya.

 

 

*****

 

Taewoon berusaha meraih tombol-tombol password apartmennya. Bahkan ia sudah berdiri dengan posisi meninjit tapi tetap saja tangannya tidak bisa mencapai tombol-tombol itu.

“Songsaenim.” Panggil Taewoon kepada Taeyeon.

“Ne?”

“Bisakah Songsaenim menekannya untukku?” Pintanya sambil menunjuk tombol-tombol untuk membuka pintu apartmen itu?

“Kau meminta songsaenim? Apa tidak apa-apa?” Tanya Taeyeon.

“Mungkin.” Jawab anak itu polos. “Sini, berikan telinga anda padaku.” Taeyeon hanya menuruti permintaan Taewoon. Ia pun merendahkan sedikit badannya sehingga Taewoon bisa berbisik di telinga Taeyeon.

“840824.” Bisik Taewoon di telinga Taeyeon. Sesuai permintaan Taewoon, Taeyeon pun memasukkan angka-angka itu dan alhasil pintu pun berhasil terbuka.

“Aa, Kamsahanida Songsaenim, ayo kita masuk.” Riang Taewoon sambil menarik tangan Taeyeon untuk masuk ke dalam.

 

Hari semakin malam, sementara Taeyeon dan Taewoon masih asyik berkutat dengan buku-buku pelajaran Taewoon. Taeyeon membantu Taewoon dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya ataupun sekedar menjelaskan han-hal yang Taewoon tidak mengerti. Baik Taeyeon maupun Taewoon sangat menikmati kegiatan itu. Taeyeon sendiri sangat senang melihat muridnya begitu aktif bertanya dan langsung mengerti begitu dijelaskan oleh Taeyeon.

“Songsaenim..” Panggil Taewoon pada Taeyeon yang masih sibuk memeriksa pekerjaannya.

“Hm, wae Taewoon-ah?” Jawab Taeyeon tanpa menoleh.

“Aku lapar.” Jujur Taewoon sambil mengusap-usap perutnya.

Taeyeon melirik arlojinya. Pantas saja Taewoon merasa lapar, ini sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam.

“Ayo, Songsaenim temani kau makan.”

 

Taeyeon mengaduk-aduk isi kitchen set dan kulkas dapur itu. Nampaknya ia tak menemukan makanan yang siap disantap oleh Taewoon.

“Taewoonie..” Panggil Taeyeon.

Taewoon yang sedari tadi duduk bertopang dagu menghadap meja makan menoleh kepada Taeyeon.

“Ne Songsaenim?”

“Sepertinya daddymu tidak meninggalkan makanan yang siap kau santap untuk malam ini.” Jelas Taeyeon setelah benar-benar tidak mendapatkan makanan untuk Taewoon. Seketika bocah itu nampak murung.

“Taewoonie..” Panggil Taeyeon lagi. Dan kali ini bocah itu hanya menoleh tanpa menjawab.

“Apakah boleh songsaenim menggunakan dapur beserta persediaan makanan yang ada?”

 

“Terimakasih Steph, sampai jumpa besok di rumah sakit.” Pamit Jongwoon pada Tiffany ketika turun dari mobil gadis itu.

“Ne Oppa. Selamat Malam. Tidur yang nyenyak.” Tiffany memiringkan kepalanya dan melambaikan tangannya sebelum akhirnya mobil itu pergi dari hadapan Jongwoon.

Jongwoon memasuki gedung apartmen itu dengan berbagai macam pikiran yang berputar di otaknya. Seperti biasa perasaan tidak enak sekaligus bersalah bercampur di dalam otaknya jika ia harus meninggalkkan Taewoon sampai larut malam seperti ini. Tapi setidaknya ia senang hari ini Hyoyeon mengatakan ia akan menjaga Taewoon. Itu lebih melegakan menurutnya ketimbang harus menitipkan Taewoon pada tetangga ataupun harus memanggil pengasuh aneh yang tidak jelas tingkat keahliannya.

Jongwoon memasukkan beberapa digit angka yang merupakan password apartmentnya itu. Begitu pintu terbuka ia langsung masuk ke dalam. Begitu masuk ke dalam apartmentnya ia meletakkan sepatunya di rak sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Sesuatu menarik penglihatannya. Sebuah sepatu berwarna putih dengan tumit setinggi kira-kira 5 cm dan bergaya formal.

‘Sejak kapan Hyoyeon suka mengenakan sepatu seperti ini?’

“Taewoon-ah… Hyoyeon-ah..” Panggil Jongwwon setengah berteriak sambil menuju ruang tamu. Tapi ia hanya menemukan ruang tamu yang kosong dan buku-buku pelajaran Taewoon yang masih berserakan di atas meja.

‘Apa mereka berjalan-jalan? Atau mungkin sedang makan malam?’

Untuk membunuh rasa penasarannya, Jongwoon menjajakan kakinya ke arah dapur dan ruang makan. Baru selangkah kakinya masuk ke dalam ruang makan, matanya menangkap pemandangan yang entah bagaimana, berhasil membuat Jongwoon terdiam dan mematung.

‘Kim Taeyeon.’

Matanya bisa melihat dengan jelas, bagaimana Taeyeon duduk di seberang Taewoon mengerjakan sesuatu.  Taewoon yang sepertinya penasaran dengan kertas yang di bawa Taeyeon memajukan kepalanya untuk melihat isi kertas itu.

“Berapa jawabanku yang benar songsaenim?” Tanya Taewoon. Wajah bocah itu nampak berbinar sekaligus penasaran. Kemudian bocah itu kembali ke posisi duduknya dan kembali fokus pada makanannya.

“Hmm, kau menjawab dengan salah nomor 2 dan 4, jadi kau mendapat nilai 8.” Gadis itu nampak menuliskan sesuatu di kertas itu lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Taewoon yang sedang asyik menyantap makanannya. Senyuman yang membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa bergetar.

“Ah, D-dokter Kim.” Ucap Taeyeon ketika matanya tak sengaja melihat Jongwoon yang berdiri menatap mereka di samping pintu dapur. Taeyeon refleks berdiri dari duduknya dan membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.

Bukannya membalas Taeyeon, Jongwoon kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti dan berhenti di samping kursi Taewoon. Taeyeon yang sadar tidak mendapat jawaban hanya merutuki pria itu, sebal.

“Wah anak daddy sedang makan apa?” Basa basi Jongwoon sambil mengacak-acak rambut Taewoon dengan lembut.  Taeyeon yang mendengar perkataan Jongwoon menundukkan kepalanya sambil menirukan perkataan Jongwoon dengan gerakan bibir dan ekspresi sarkatis.

“Dwejang Jiggae. Buatan Taeyeon songsaenim. Daddy mau? Jika daddy mau, Taeyeon songsaenim sudah menyisihkan untuk daddy.” Jelas bocah itu  girang dengan sendok yang sedari tadi dijilatnya seperti lollipop.

Jongwoon beralih menatap Taeyeon. Taeyeon yang menyadari dirinya sedang ditatap mengangkat kepalanya menghadap Jongwoon. Dengan ragu ia mulai menjelaskan kepada Jongwoon.

“Maaf… Bukan maksud saya untuk menggunakan dapur anda dan menggunakan persediaan bahan makanan anda tanpa izin anda. Tapi tadi Taewoon merasa lapar dan anda tidak meninggalkan makanan untuk dimakan olehnya, jadi saya menggunakannya sedikit untuk memasak. Anda boleh lihat sendiri kok, bahan-bahan makanan anda tidak berkurang banyak. Sungguh, saya hanya menggunakannya sedikit.” Taeyeon menjelaskan dengan lancar meskipun nada ketakutan mengiringi setiap kata-katanya.

Jongwoon yang mendengar penjelasan Taeyeon hanya mengangguk-anggukan kepalanya singkat. Tetap dengan ekspresi datar yang menghiasi wajahnya.

“Taewoon-ah.” Panggil Jongwoon sambil mengalihkan pandangannya ke Taewoon.

“Karena sudah malam, lebih baik kau sekarang masuk ke kamar dan tidur. Kau tidak mau kesiangan kan besok?”

“Ne Daddy. Good Night.” Taewoon beranjak dari kursinya dan mengucapkan selamat malam kepada Jongwoon. Jongwoon pun membungkukkan sedikit badannya dan mencium kening putranya yang tertutup oleh poni.

“Ne, Good Night. Have a nice dream dear.”

Taeyeon mendengar kata demi kata yang meluncur dari mulut Jongwoon yang ditujukkan kepada Taewoon.

‘Sepertinya pria ini sangat tidak menyukaiku. Baru saja ia menatapku dengan ekspresi yang dingin, tapi sedetik kemudian wajahnya langsung berubah menjadi hangat ketika berbicara dengan putranya. Aku curiga wajah hangatnya hanyalah wujud pencitraan dirinya di depan putranya ini.’

Hingga Taewoon pergi meninggalkan ruang makan, yang tersisa di dalam ruangan itu hanya Jongwoon dan Taeyeon. Ekspresi pria itu kembali berubah menjadi sedingin salju begitu putranya keluar dari ruangan itu. Sangat berbeda dengan ekspresi yang ia tujukkan ketika mengobati kaki Taeyeon ataupun saat berhadapan dengan putranya.

“Sepertinya saya pulang dulu. Saya sudah mencuci peralatan yang saya gunakan dan membersihkan dapur. Jadi anda tak usah cemas.” Taeyeon berusaha agar tidak nampak ketakutan dan gugup. Ia memang berhasil mengucapkan kalimatnya dengan lancar, tapi tetap saja ia tak bisa menyembunyikan rasa takutnya.

Baru saja ia akan melangkahkan kakinya meninggalkan dapur, pergelanganya ditahan oleh sebuah tangan. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Jongwoon.

“Bisakah kita berbicara sebentar?”

 

Keheningan masih mendominasi. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Bahkan Jongwoon sebagai pihak yang mengajak bicara pun belum mengeluarkan kata-katanya. Taeyeon hanya bisa menundukkan kepalanya sambil sesekali melirik Jongwoon yang duduk di seberangnya. Kedua tangganya yang ia letakkan di pangkuannya tak bisa saling meremas satu sama lain.

“Untuk pernyataanmu yang waktu itu..” Jongwoon membuka pembicaraan dengan nada dingin yang masih melekat pada setiap katanya.

“Pernyataan?” Taeyeon menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Pernyataanmu tentang istriku akan marah jika aku bersikap baik pada wanita lain.”

“Ah pernyataanku yang waktu itu.” Taeyeon mulai mengerti arah pembicaraan Jongwoon. Entah mengapa ia merasa sepertinya ia salah berucap pada saat itu.

“Sepertinya kau marah padaku dan kembali mengecapku suka berpikir yang tidak-tidak dan tanpa al-”

“Bukan begitu.” Singkat Jongwoon menyela kalimat Taeyeon.

“Lalu?”

Pria itu menatap Taeyeon. Bahkan senyuman miris tercipta di wajahnya. Hal itu kontan membuat Taeyeon kembali merasa tak nyaman dan bersalah.

“Apa setelah tiga kali kau datang kesini, istriku pernah marah kepadamu?” Nada bicaranya mulai melunak. Namun tetap saja masih mencekam.

“T-tidak. Bahkan aku belum pernah bertemu dengan istri anda.” Jawab Taeyeon terbata.

“Jika memang istriku bisa disini menemani Taewoon, mengapa aku harus meminta tolong Hyoyeon hingga dirimu untuk menjaga Taewoon.”

Gadis itu kembali menatap Jongwoon bingung. Namun ia bisa merasakan kesedihan pada pria itu.

“Aku tidak keberatan jika kau bertanya atau pun mengatakan sesuatu mengenai istriku. Tapi mengingat di setiap pertemuan kita, kau adalah gadis ceroboh. Jadi aku hanya ingin mengingatkan, jangan pernah bertanya ataupun mengatakan sesuatu kepada Taewoon mengenai ibunya. Terlebih sepertinya kau belum menyadari keadaan yang sebenarnya.”

“M-maksud anda, i-ibu T-Taewoon…” Taeyeon mulai mengerti kalimat yang di lontarkan Jongwoon.

“Sepertinya kau sudah mengerti maksud pembicaraanku.” Ujar Jongwoon.

“Meninggalkan kalian?” Tanya Taeyeon lagi dengan nada bersalah.

“Ya.. Bahkan untuk selamanya….”

Perasaan bersalah mulai memenuhi hati dan pikiran gadis itu. Ia bahkan sudah terlanjur malu karena menganggap Jongwoon yang tidak-tidak.

“Maafkan aku. Sungguh aku tidak mengetahuinya.” Maaf Taeyeon dengan tulus. Ia bahkan menundukkan kepalanya malu.

“Tak apa… Lagipula keadaannya sudah begini sesuai jalannya.” Jongwoon tersenyum kecil meskipun masih terkesan datar. Tapi bukannya membuat Taeyeon merasa tenang, justru membuat Taeyeon semakin merasa bersalah.

“Tapi setidaknya aku ingin berterima kasih padamu Nona Kim.” Ucap Jongwoon lagi.

“Berterima kasih?”

“Ya, aku sangat berterima kasih padamu. Jujur, semenjak Taewoon bertemu dengamu, aku sering menemukan sisi lain Taewoon yang jarang bahkan tidak pernah kulihat sebelumnya.”

Kini pria itu mulai menunjukkan wajah hangatnya lagi. Bahkan sedikit demi sedikit senyuman tipis mulai merekah di wajahnya. Dan semua itu sukses membuat Taeyeon kembali bingung.

“Maksud anda dokter?”

“Semenjak pindah ke Seoul, tepatnya setelah bersekolah di Taejo, Taewoon menjadi pribadi yang ramah dan lebih banyak bicara. Tentu itu merupakan perubahan yang signifikan menurutku, mengingat ia adalah anak kecil yang dingin dan pendiam sebelumnya. Setiap ia bercerita, tak jarang ia akan menceritakan Kim Songsaenim, guru mata pelajaran seni yang juga merupakan penjaga perpustakaan sekolah Taejo. Awalnya ia sering  bercerita tentang Kim Songsaenim yang menyenangkan dan juga ramah. Setelah kejadian di perpustakaan itu, ia menceritakan kronologis kejadian itu padaku dan bagaimana enaknya kimbap yang kau berikan padanya hingga cerita-cerita lainnya. Dan tadi, aku cukup tercengang melihat binar wajah Taewoon saat menyantap masakanmu.”  Jelas Jongwoon panjang lebar yang sukses membuat Taeyeon memandangnya tak percaya.

“Sekali lagi aku ucapkan terimakasih padamu nona Kim.” Kali ini pria itu benar-benar tersenyum tulus. Senyuman yang memancarkan kehangatan dan berhasil membuat jantung Taeyeon berdetak dua kali lebih cepat. Mata Jongwoon yang biasanya menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin ataupun datar, kali ini membentuk kurva melengkung.

‘Astaga, jangan biarkan aku jatuh ke dalam senyumannya.’

TBC

– Curhat Author –

Halooo readers… kembali bersama author abal. Maaf banget buat part ini hancur berat. Ceritanya makin gak beres dan bahasanya seperti biasa masih kaku serta masih banyak typo. Tapi di part ini author pingin mulai kisah cinta jongwoon dan taeyeon. O ya untuk part 5, author belum ngetik sama sekali. Seminggu ini ulangan dan tugas menumpuk. Tapi mulai minggu depan author dapet banyak libur jadi bisa lanjutin cerita. Untuk part 5, author bakal usahain cepet publish jika target author yakni 20 komen atau lebih berhasil tak dapetin, hehehehe. O ya maaf terlalu banyak bacot intinya tetep komen ya, kalo ada yang mau kenalan ama author follow aja twitter : @anissahac. ^^

27 thoughts on “[FF Freelance] Blind in Love (Part 4)

  1. di sini jongwoon mulai terbuka sama taeyeon, dan mulai berubah ga dingin lagi 🙂
    good job author! ^^

  2. ternyata bener changmin taeng salah paham trus akhirnya putus, aku berharap taeng sm kyu oppa jd couple. apa kim jongwoon tau klo tiffany suka sm dia dr dulu ?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s