[FF Freelance] Blind in Love (Part 5)

blind in love

Title : Blind In Love (Chapter 5) || Author : Anissa A.C (sekarang pakai nama asli ^^)|| Rate : PG-15 || Length : 5946 words || Genre : Romance & Family || Cast’s : Kim Taeyeon [GG], Kim Jongwoon [SJ], Tiffany Hwang [GG], Cho Kyuhyun [SJ], Kim  Hyoyeon [GG], Lee Hyukjae [SJ] || Disclaimer : Terinspirasi dari berbagai lagu, novel, drama dan ff lain. Poster and Story originally made by me. Keep reading and commenting. ^^

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

We can’t resist the feeling that comes to us.  No matter how hard you try, it would still come even without us knowing.

Dengan mata yang masih setengah mengantuk, Jongwoon melangkahkan kakinya ke dapur. Ia mulai memeriksa satu demi satu lemari kitchen setnya, memastikan ada sesuatu yang bisa ia masak untuk sarapan pagi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memeriksa lemari pendinginnya. Baru pintu lemari pendingin itu ia buka, pada rak paling bawah yang terletak tepat diatas laci bagian bawah lemari pendingin itu, ia menemukan sebuah panci.

“Panci? Sepertinya beberapa hari terakhir aku tidak menggunakan panci.” Ucapnya dengan bingung. Tak mau penasaran terlalu lama, Jongwoon memutuskan untuk mengeluarkan panci itu dari lemari pendingin dan meletakkannya di atas meja makan.

“Dwejang jiggae?” Ucapnya ketika membuka pintu panci itu.

“Kapan aku membuat dwejang…. Ah iya aku lupa, kemarin nona Kim Taeyeon mengasuh Taewoon dan memasak untuknya.” Serunya ketika berhasil memecahkan kebingungannya. Seulas senyuman merekah di bibirnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memanaskan ddwejang jiggae itu dan memasak nasi untuk sarapan pagi.

 

“Bukankah ini Dwejang jiggae buatan songsaenim?” Tanya Taewoon begitu Jongwoon meletakkan panci dwejjang jiggae itu di atas meja makan.

“Ya, memang benar. Bukankah Kim Songsaenim bilang, ia sengaja memasak lebih.” Jawab Jongwoon sambil meletakkan 2 mangkuk berisi nasi dan dudukk di hadapan Taewoon.

“Daddy, You should taste this soup. It is the best dwejang jiggae I ever tasted. Even Grandma’s dwejang jiggae wasn’t as delicious as this dwejang jiggae.” Rekomendasi Taewoon panjang lebar sambil menyuapkan sendok demi sendok nasi dan sup ke dalam mulutnya.

“Really? Allright, I’ll taste it now.” Jongwoon menyendokkan sesuap dwejang jiggae lalu meniupnya perlahan sebelum menyuapkannya ke dalam mulut.

“How’s the soup, daddy?”

Seulas senyuman kembali merekah di bibir Jongwoon. Bahkan kini ia kembali menyuapkan sup itu ke dalam mulutnya.

“Yeah, You’re right Kim Taewoon.”

 

*****

 

Taeyeon menarik kedua tali sepatunya, melilitkannya dengan pola menyilang di betisnya,  lalu menyatukannya menjadi sebuah simpul yang sangat kuat.  Ia juga melakukan hal yang sama pada tali sepatu sebelah kakinya yang belum diikat. Setelah dirasa aman, ia meraih tas yang berada di sebelahnya dan mengambil sesuatu dari dalam tas itu. Sebuah cermin. Taeyeon memposisikan  cermin itu di depan wajahnya, memastikan penampilannya sudah cukup baik.

“Fighting!” Serunya setengah berbisik dengan kepalan tangan kanannya sambil tetap mematut bayangannya di cermin. Setelah puas mengecek penampilannya, Taeyeon merapikan segala perlengkapan yang sedari tadi ia keluarkan dari dalam tas lalu duduk terdiam sambil mulutnya takk henti-hentinya mengucapan doa untuk meredam detak jantungnya yang semakin keras berdetak karena gugup.

“Peserta dengan nomor urut 39, Kim Taeyeon.” Teriak seorang wanita yang berdiri di depan sebuah pintu tidak jauh dari tempat Taeyeon duduk.

“Ne, aku.” Jawab Taeyeon sambil mengacungkan tangan kanannya. Tanpa ingin membuat wanita itu menunggu, Taeyeon masuk ke dalam ruang audisi itu dengan teburu-buru.

‘Tuhan, berkati aku.’

“Jadi, kau mendaftarkan dirirmu untuk peran Odette?” Tanya salah seorang juri dengan tubuh gendut yang duduk di kursi juri sebelah kiri ketika Taeyeon memasuki ruang audisi itu.

“Ya.” Jawab Taeyeon berusaha meredam kegugupannya.

“Apa kau pernah memilikii pengalaman di dunia musikal? Tanya juri lain, kali ini seorang pria berpostur sedang dan kumis tipis di atas bibirnya yang duduk di sebelah kanan.

“Tidak… Aku hanya seorang guru honorer di sekolah dasar dan penjaga perpustakaan di sekolah itu. Aku mengajari pelajaran kesenian. Dan aku juga mengajar tari di Yeonjae Dance Club.”

“Aku tidak yakin hasilnya akan memuaskan.” Komentar sinis  seorang juri wanita dengan tubuh kurus, make up yang bisa dikatakan tebal dan kaca mata besar yang bertengger di hidung mancungnya.

“Lebih baik kau cepat tunjukkan penampilanmu.” Tambah juri wanita itu lagi sambil memperbaiki letak kacamatanya.

“N-ne.” Taeyeon yang sudah terlanjur dibuat berkecil hati hanya menjawab dengan gugup dan menyerahkan cd kepada seseorang yang duduk di belakang sound system.

Beberapa saat kemudian alunan musik klasik mengalun dengan indahnya. Tubuh Taeyeon pun bergerak dengan lemah gemulai seirama dengan musik yang mengalun. Ia menari seakan tubuhnya melayang oleh kaki-kaki lincahnya. Kedua tangan Taeyeon tak tinggal diam bergerak seperti halnya penari ballet professional. Beberapa menit berlalu, alunan musik klasik itu digantikan oleh musik yang lebih enerjik. Tidak seperti tarian sebelumnya, kali ini tariannya di dominasi oleh hiphop dan freestyle. Di akhir lagu ia menutup tariannya dengan split, sama seperti ketika berlatih dengan Hyoyeon. Bersamaan dengan lagu yang berhenti, suara tepukan tangan pun memenuhi ruang audisi itu. Tentu saja tepuk tangan itu berasal dari ketiga juri di hadapannya. Taeyeon lantas bangun dari posisinya, lalu memberi hormat kepada ketiga juri itu dengan membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.

“Harus aku akui tarianmu sangatlah hebat, dan suaramu juga sangat bagus.” Komentar juri wanita itu.

Taeyeon yang bingung dengan ucapan juri itu memasang ekspresi heran sekaligus bingung. “Suara? Bukankah tadi aku tidak menyanyi?”

“Tapi bukankah kau mengirimkan video menyanyimu dalam berkas pendaftaranmu. Lihat ini.” Jelas juri itu sambil mengangkat iPadnya dan menunjukkan bagian layarnya pada Taeyeon. Layar iPad itu sedang memutar sebuah video Taeyeon yang sedang menyanyi dengan wajah kusut dan kegalauan yang menyelimuti wajahnya. Tampangnya juga sangat berantakan saat itu.

‘Tunggu… Bukankah itu video saat…..’

Taeyeon mengamati video itu sejenak. Matanya langsung membulat dan mulutnya pun ternganga karena  shock yang menjalar ditubuhnya.

“Bahkan saat mabuk dan dalam keadaan patah hati pun kau bisa bernyanyi dengan sangat baik di ruang karaoke.” Juri wanita itu kembali menambahkan dengan  kesinisan yang tak lepas dari wajahnya. Mendengar kalimat yang dilontarkan juri wanita itu wajah taeyeon lantas bersemu merah dan kedua tangannya langsung menutupi wajahnya yang merah akibat malu yang ditanggungnya.

‘Astaga Kim Hyoyeon.. Begitu teganya kau merekamku yang saat itu dalam kondisi yang sangat memprihatinkan..’ Umpat Taeyeon dalam hati karena rasa malu yang tak bisa ia bendung lagi. Bagaimana tidak, ia sangat ingat dirinya dalam video itu sedang dalam keadaaan mabuk lantaran melampiaskan kesedihannya dengan meminum soju dan menyalurkan perasaanya dengan menyanyi di karaoke. Peristiwa itu terjadi beberapa hari setelah Changmin mengakhiri hubungan mereka. Dan dengan teganya Hyoyeon malah merekamnya dan menyertakan rekaman itu di berkas pendaftaran audisinya.

‘Kau tidak akan selamat Kim Hyoyeon-ssi.’

“Sekarang kau bisa keluar Kim Taeyeon-ssi, keputusan hasil audisinya akan kami kirimkan nanti.” Ucap juri yang berkumis dengan senyuman penuh arti yang tak lepas dari wajahnya.

“Ne, Kamsahanida..” Jawab Taeyeon dengan senyuman canggung di wajahnya lalu keluar dari ruangan itu.

Begitu keluar dari ruangan itu, Kyuhyun langsung menyambutnya.

“Bagaimana audisimu Nona Kim Taeyeon?” Tanya Kyuhyun mencoba menggodai Taeyeon. Tapi bukan jawaban yang Kyuhyun dapatkan. Justru wajah yang ditekuk, bibir yang mengerucut dan mata yang penuh dengan api kemarahan yang di terima Kyuhyun.

“Wae? Apa kau gagal audisi?” Tanya Kyuhyun lagi, kali ini dengan tampang bodoh dan penasarannya.

“Sial.” Hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu. Matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.

“Ya! Kau kenapa?”

Tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun, Taeyeon malah berjalan cepat  dengan kedua tangan yang mengepal kuat di samping pahanya. Bahkan ia nyaris tak menghiraukan keberadaan pria itu.

“Ya! Kim Taeyeon tunggu aku!”

 

“Hahaha, jadi karena itu kau menekuk wajahmu seperti nenek sihir yang siap mengutuk mangsanya?” Kyuhyun tak kuasa menahan tawanya ketika Taeyeon menceritakan musibah yang baru saja menimpanya.

“Ya! Tidak lucu Cho Kyuhyun. Apa perlu aku merekammu sedang mandi lalu ku publikasikan di internet agar kau merasakan malu yang kurasakan.” Pekik Taeyeon sambil mengaduk-aduk patbingsoonya dengan gaya bringas.

Alih-alih menghentikan kemarahan Taeyeon, pria itu malah memasang seringaian menggoda.

“Jika kau melakukan hal itu, aku yakin kau bukannya mempublikasikannya tapi justru malah menyimpannya untuk koleksi pribadimu, karena kau sudah terpesona terlebih dahulu dengan tubuhku.”

Mendengar godaan Kyuhyun, Taeyeon langsung memeletkan lidahnya memasang ekspresi jijik.

“Simpan saja tubuh indah dan sifat narsismu itu Cho Kyuhyun.” Balas gadis itu lalu melanjutkan aktifitas menikmati patbingsoonya.

“Oh ya Cho Kyuhyun, tak adakah kesibukan yang kau miliki hingga kau rela menemaniku audisi dan menggodaku dengan kenarsisanmu? Kau nampak seperti pengangguran yang menutupi keadaannya dengan pakaian bak eksekutif muda. Lagipula, aku tak mau dicap sebagai orang yang membuatmu melupakan kewajiban serta masa depanmu hanya karena menemani sahabatnya audisi dan makan patbingsoo.” Tutur Taeyeon menghentikan kegiatan makannya dan menatap Kyuhyun serius. Kali ini nada bicaranya sudah kembali melembut dan diselimuti kekhawatiran.

“Sudahlah, lagipula sudah ada sekretarisku. Yang terpenting, jika aku harus menemui clien ataupun mengikuti rapat, aku bisa melakukannya dengan baik.”

“Ah begitu….” Sejenak gadis itu terdiam. Tangannya sibuk mengaduk-aduk es yang mulai mencair, sementara matanya menatap kosong ke arah mangkok.

“Coba saja Changmin Oppa bisa sepertimu Oppa…” Lirih gadis itu.

“Sudahlah, mungkin kalian memang tidak berjodoh…” Seperti biasa Kyuhyun mencoba menenangkan Taeyeon dengan mengelus pundak gadis itu hangat.

‘Coba saja kau menyadari perasaanku sejak awal, Taeyeon-ah…..’

 

*****

Jongwoon masih berusaha mengatur nafasnya yang berlomba dengan detak jantungnya. Tangannya masih mencengkeram kemudi mobil dengan perasaan gugup dan takut.

“Jika anda belum siap, anda tidak harus memaksakan diri Tuan Jongwoon.” Ucap seorang pria paruh baya yang kini duduk di kursi kemudi di sebelah Jongwoon.

Jongwoon menarikk badannya hingga bersandar di kursi kemudi, matanya terpejam dan ia menghela nafas panjang. “Aku tidak bisa.”

“Sepertinya hal yang paling utama harus anda lakukan adalah menghilangkan trauma anda terlebbih dahulu tuan.” Nasihat Pak Jung.

“Tapi, bagaimana caranya? Semua bayangan kecelakaan itu beserta bayangan tentang Sooyoung terus berkelebat di pikiranku.”

“Mungkin anda harus menemukan alasannya.”

“Alasan?” Kali ini Jongwoon memebuka matanya dan menolehkan wajahnya ke Pak Jung dengan ekspresi penuh tanya.

“Ya, alasan. Satu-satunya cara menghilangkan trauma adalah alasan. Alasan mengapa bayangan-bayangan itu tidak boleh menguasai anda lagi, Tuan.” Jelas Pria paruh baya itu dengan bijaknya. Dan sifat bijak pria ini selalu berhasil membuat Jongwoon luluh dan menghormati pria itu.

“Saya yakin suatu saat nanti anda akan menemukan alasannya, percayalah.”

 

*****

“Aaarrgghhh….”

Taeyeon bergelayut di atas tempat tidurnya sambil mencengkeram perutnya kuat. Ia merasakan sakit yang teramat hebat pada perutnya.

“Aah, perutku…” Gadis itu masih meringis kesakitan. Bahkan airmata pun mulai membasahi matanya. Tubuhnya juga tak berhenti meliuk-liuk karena menahan rasa sakit.

‘Apa mungkin karena terlalu banyak memakan Patbingsoo?’

Ditengah melawan rasa sakit yang dirasakannya ia terus berpikir penyebab perutnya terasa sakit. Sambil tetap menahan rasa sakitnya ia beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya ke kitchen set. Ia lantas menuangkan air hangat ke dalam gelas dan mendudukkan dirinya di tempat tidur sambil menyiup air hangat itu sedikit demi sedikit. Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya ketika air hangat itu melewati tenggorokannya. Setidaknya ia berhasil meredam sedikit dari sakit perutnya.

“Tunggu dulu…” Tiba-tiba sesuatu melintas di pikirannya. Dengan segera ia meraih kalender yang terletak di atas nakas di samping tempat tidurnya dan mulai mengamati tanggal-tanggal yang ada di kalender itu.

“Ah pantas saja, sudah tiba rupanya.” Taeyeon akhirnya mengetahui penyebab sakit perut yang dideritanya begitu melihat tanggal-tanggal yang ia lingkari di kalender itu. Tanggal-tanggal itu merupakan periode bulanannya.

 

Taeyeon menelusuri rak-rak yang ada di minimarket tempatnya berada sekarang. Matanya tak berhenti mengamati satu demi satu benda yang terdapat di rak itu.

“Ah, ini dia.” Girangnya ketika ia menemukan rak yang ia cari. Rak itu berisi berbagai merk pembalut wanita. Sementara tangan kirinya masih sibuk mencengkeram perutnya yang masih terasa agak sakit, tangan kanannya mulai memilih-milih pembalut yang akan ia kenakan.

“Bisa aku minta obat peredam sakit?” Pinta Taeyeon kepada gadis penjaga kasir. Gadis itu langsung mengambil obat yang di pinta Taeyeon karena posisi rak obat itu yang berada di belakang kasir. Begitu gadis penjaga kasir itu meletakkan obat peredam sakit di hadapannya, Taeyeon langsung meletakkan barang belanjaanya di samping obat itu.

“Ada lagi nona?” Tanya gadis penjaga kasir itu sopan.

“Tidak.” Balas Taeyeon dengan sopan pula lalu membiarkan gadis itu memproses belanjaanya.

“Nona Taeyeon.” Panggil seorang pria dari balik punggungnya. Ia pun langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa pria yang menyapanya itu.

“Dokter Kim.” Kaget Taeyeon begitu melihat sosok Kim Jongwoon berada di belakangnya. “Apa yang sedang anda lakukan disini?” Basa basi Taeyeon.

“Menurutmu? Kau sendiri sedang apa?” Pria itu tersenyum sambil membalas pertanyaan Taeyeon.

“Tentu saja aku sedang berbelanja.”

“Aku juga sedang berbelanja.” Jawab Jongwoon sambil memposisikan dirinya mengantri di belakang Taeyeon. Senyum pria itu tak lepas dari wajahnya, sangat berbeda jika dibandingkan dengan insiden jus nanas itu ataupun insiden di perpustakaan Taejo.

“Kau sedang membeli apa?” Basa basi Jongwoon lagi.

“Aku sedang membeli… Err.. itu…” Melihat gelagat Taeyeon yang nampak seperti menyembunyikan sesuatu, Jongwoon dengan iseng melirikkan matanya ke kasir dan melihat petugas kasir yang sedang memasukkan barang-barang belanjaan Taeyeon ke dalam tas plastik.

“Ah, kau sedang membeli itu rupanya. Hahaha, bagaimana bisa aku menuduh gadis yang masih rutin kedatangan masa periodenya sebagai ibu hamil.” Ucap Jongwoon dengan nada usil yang sukses membuat Taeyeon kikuk.

“Nona, total barang belanjaan anda adalah 4000 won.” Ucap gadis penjaga kasir itu seakan menyelamatkan Taeyeon dari perasaan malunya. Mendengar ucapan penjaga kasir itu Taeyeon langsung merogoh saku celananya. Karena tidak menemukan apa yang ia cari. Kini ia merogoh saku mantelnya. Hasilnya tak berbeda, ia tak menemukan dompetnya.

‘Astaga, pasti aku lupa mengambil dompet.’

“Ah, maaf. Bisakah anda menyimpan belanjaanku terlebih dahulu. Sepertinya dompetku tertinggal. Aku akan mengambilnya sekarang. Rumahku tidak jauh kok dari sini.” Taeyeon berusaha meyakinkan penjaga kasir itu.

“Baiklah nona.” Jawab penjaga kasir itu dengan raut wajah yang tak yakin.

Baru Taeyeon akan berlari untuk mengambil dompetnya. Tangan Jongwoon menahan pergelangan tangan Taeyeon.

“Gabungkan saja dengan struk belanjaku. Pisahkan plastiknya ya.” Pinta Jongwoon kepada penjaga kasir itu.

Taeyeon yang menyadari ucapan pria itu langsung membalikkan wajahnya menatap pria itu. Jongwoon yang menyadari tatapan Taeyeon menolehkan kepalanya dan balas menatap Taeyeon.

“Anggap saja ini ucapan terimakasihku.” Pria itu tersenyum hangat.

“Bisa tolong kau lepaskan tanganku.” Taeyeon berkata sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa membiarkan pria itu melihat wajahnya bersemu merah karena malu. Dan bahkan kini gadis itu melupakan sakit perut yang sedari tadi menyiksanya.

“Ah, maaf.” Ucap pria itu lagi sambil melepas genggamannya pada pergelangan tangan Taeyeon.

Begitu membayar belanjaannya dan belanjaan Taeyeon. Jongwoon berjalan keluar dari mini market itu diikuti Taeyeon dibelakangnya.

“Ini belanjaanmu.” Jongwoon menyodorkan Taeyeon plastik yang berisi belanjaan gadis itu.

“Kamsahanida.” Gadis itu membungkukan badannya sembilan puluh derajat sambil tetap menundukkan kepalanya malu. “Aku akan mengganti uangmu.”

“Tidak usah. Aku kan sudah bilang anggap saja itu ucapan terimakasihku.”

“Aku tidak bisa seperti itu. Aku janji nanti aku akan mengembalikannya.” Gadis itu bersikeras meyakinkan Jongwoon.

“Baiklah, tapi aku tidak menuntutmu untuk sesegera mungkin menggantinya.” Ucap pria itu tersenyum ringan.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu Dokter Kim.” Pamit Taeyeon karena tidak ingin terlalu lama larut dalam senyuman pria itu. Baru beberapa langkah gadis itu berjalan tiba-tiba Jongwoon kembali menahan tangannya.

“Ada apa lagi?” Kali ini Taeyeon berusaha memasang ekspresi kesal tanpa sedikitpun menolehkan kepalanya meskipun sebenarnya jantungnya kembali berlomba.

Alih-alih menjawab pertanyaan Taeyeon, Jongwoon malah melepaskan Hoodie yang ia kenakan lalu melingkarkan tangannya di pinggang Taeyeon. Tepatnya, pria itu mengikatkan Hoodie itu di pinggang Taeyeon. Taeyeon yang mendapat perlakuan seperti itu terlonjak kaget dan mematung dalam posisi ternganga. Belum cukup sampai disitu, kini bibir pria itu berada tidak lebih dari 5 senti dari telinga gadis itu. Bahkan ia bisa merasakan deru nafas pria itu menerpa lehernya.

“Sepertinya kau harus cepat mengenakan barang belanjaanmu ini ketika kau sampai di rumah.” Bisik jongwoon ditelinga Taeyeon.

“Maksud anda?”

“Noda di celanamu, kau tahu kan…”

 

BRAAAK…

Taeyeon membanting pintu apartmennya dengan kasar lalu menyandarkan kepalanya di pintu itu. Nafasnya masih ngos-ngosan. Setelah Jongwoon membisikkan sesuatu yang berhasil membuat rasa malunya meningkat hingga puncaknya, ia langsung berlari meninggalkan pria itu.

“Pria itu… Pria itu selalu berhasil membuatku malu….” Kesalnya sambil berusaha mengatur nafasnya.

Kini ia sudah dalam posisi terduduk dengan kepala yang masih bersandar di pintu. Kakinya mulai menendang-nendang ke sembarang arah karena kesal yang ia rasakan. Tangannya juga memukul-mukul lantai apartmennya dan kali ini gadis itu benar-benar menangis.

“Sialaaaann!!!!”

 

*****

“Daddy nampak sangat senang hari ini.” Ujar Taewoon saat menyadari wajah sang ayah yang berseri-seri, bahkan tak jarang pria itu terkikik geli seperti menonton sesuatu yang lucu.

“Benarkah?”

“Ya, dari tadi daddy tertawa dan tersenyum tidak jelas.” Jujur bocah itu.

‘Kenapa di setiap pertemuanku dengan gadis itu, selalu berakhir dengan tingkah bodoh gadis itu? Tapi gadis itu cukup lucu.’ Pikir Jongwoon mengingat ekspresi malu pada wajah Taeyeon saat di minimarket.

“Daddy.” Panggil Taewoon lagi.

“Hm, Wae?”

“Tadi Hyoyeon Imo menelepon. Karena katanya daddy tak menjawab telponnya.”

“Menelpon? Apa ada pesan untuk daddy?”

“Katanya ingat besok.”

“Besok?” Jongwoon mengernyit tak mengerti.

“Ya, besok. Hyoyeon imo hanya bilang seperti itu.”

“Besok….. Ah iya daddy lupa, besok Hyukjae Samchon berulang tahun dan akan dirayakan.” Ujar Jongwoon sambil menganggukkan kepalanya paham.

“Jadi kita akan menghadiri pesta ulang tahun Hyukjae Samchon, daddy?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Daddy, Hyoyeon imo juga mengatakan, agar kita datang bersama Auntie Tiffany.”

 

“Ah, leganya…”

Taeyeon menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur setelah membersihkan tubuhnya dan tentunya meminum obat peredam sakit. Ia memejamkan matanya, berharap bisa segera mengarungi dunia mimpi. Tapi nyatanya, justru bayang-bayang kejadian yang ia alami tadi siang yang muncul saat ia memejamkan matanya.

“Pria itu pasti sudah mengecap aku wanita aneh dan bodoh.” Taeyeon mengacak-acakan rambutnya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Tiba-tiba ponselnya berdering, dengan segera ia meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.

“Yeobseyo.” Jawabnya masih dengan posisi tidur terlentang dan memejamkan matanya.

“Ya! Ini masih sore, apa kau berniat tidur seawal ini?” Omel sang penelepon, siapa lagi kalau bukan Hyoyeon.

Tanpa memperdulikan omelan Hyoyeon, Taeyeon malah memeluk bantal gulingnya. “Aku lelah, lagipula aku sedang kedatangan tamu bulananku. Untuk apa kau meneleponku? Tak puas kau sudah membuatku malu dan terkesan liar dan mengenaskan?” Cerca Taeyeon.

“Ya, aku melakukan semua itu demi kebaikan dan kesuksesanmu Kim Taeyeon. Yang jelas, jangan terlalu banyak menghabiskan waktumu di tempat tidur. Atau kau akan terbangun dengan leher yang berlapis-lapis. Bagaimanapun kau harus tetap menjaga tubuhmu karena kita belum mengetahui keputusan audisi.”

“Ya, aku tahu itu. Untuk apa kau menelepon?” Ucapnya dengan malas.

“Besok Hyukjae Oppa berulang tahun, besok juga perayaan 5 tahun berdirinya Yeonjae, jadi kami akan mengadakan pesta untuk merayakannya. Pastikan kau datang eo? Karena besok akan datang banyak teman-teman Hyukjae oppa yang sudah berpengalaman di dunia musikal.”

“Kenapa tidak kau saja yang mendekati ahli-ahli musikal itu? Aku tidak berminat.” Ujar Taeyeon tak tertarik.

“Ya! Aku pastikan kau tidak bisa kabur besok, arasso?”

Tanpa ingin memperpanjang perdebatannya dengan Taeyeon, Hyoyeon memutuskan sambungannya, dan tentu saja ini membuat Taeyeon geram.

“Dasar wanita tua, selalu bertingkah seenaknya.” Kesal Taeyeon sambil melempar ponselnya ke sisi tempat tidurnya yang kosong. Namun tiba-tiba sebuah benda yang berada tidak jauh dari tempat ponselnya terlempar menarik perhatiannya. Sebuah Hoodie berwarna abu-abu yang merupakan milik Jongwoon. Taeyeon langsung merubah posisi tidurnya menjadi terduduk lalu meraih hoodie itu.

“Bagaimana caranya aku mengembalikan ini? Aku sudah terlalu malu jika harus bertemu pria itu.” Keluh Taeyeon sambil mengingat kejadian-kejadian yang pernah terjadi diantara dirinya dan Kim Jongwoon sampai kejadian siang tadi.

“Aaaaa!!!!” Taeyeon berteriak malu hingga tanpa sadar ia menggunakan Hoodie itu untuk menutupi wajahnya.

“Tunggu, apa ini wangi parfumnya?” Tanya Taeyeon pada dirinya sendiri sambil menjauhkan hoodie itu dari wajahnya. Sedetik kemudian, ia kembali mendekatkan hoodie itu ke wajahnya dan menghirup nafas panjang, mencium wangi yang menempel pada hoodie itu.

“Seleranya cukup bagus.” Komentar Taeyeon. Namun beberapa saat kemudian ia menyadari tingkah bodohnya dan kembali menjauhkan Hoodie itu dari wajahnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan Kim Taeyeon?  Apa kau sudah gila?”  Pekiknya pada diri sendiri.

*****

Rupanya Taeyeon memang tidak boleh main-main dengan ucapan Hyoyeon. Benar saja, usai ia mengajar di Taejo, Kyuhyun sudah menjaganya di depan pintu gerbang sekolah itu. Memastikan gadis itu tidak kabur dan datang ke pesta yang diadakan Hyukjae. Dan saat ini, Taeyeon mendapati dirinya tengah duduk di dalam mobil bagaikan seorang sandra.

“Rupanya kau memang komplotan Kim Hyoyeon, Cho Kyuhyun-ssi.” Ucap Taeyeon dengan sarkatis.

“Apa kau merasa tak terima nona Kim? Atau merasa tidak punya kawan untuk melawan? Kau bisa bergabung bersama kami, dengan demikian kau akan aman dan tidak perlu cemas.” Jawab Kyuhyun sambil tetap berkonsentrasi pada kemudi mobilnya.

Taeyeon menggerak-gerakkan bibirnya mengikuti perkataan Kyuhyun dengan gaya meremehkan.

“Lebih baik kau duduk manis, tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu. Atau, justru kau yang ingin di apa-apakan?” Kali ini Kyuhyun melirik Taeyeon sekilas dengan nada menantang.

Gadis itu mendesis kesal. “Dasar pria berotak rusak.” Pekik Taeyeon sambil menjitak kepala Kyuhyun.

“Ya! Kau mau kita kecelakaan lalu mati disini?!” Kali ini Kyuhyun berteriak kesal sambil mengusap kepalanya yang dijitak Taeyeon.

“Sudah kubilang, lebih baik kau duduk manis dan ikuti saja kemana mobil ini membawamu. Jangan ganggu aku lagi!”

Melihat reaksi kesal Kyuhyun, Taeyeon memalingkan wajah dan memanyunkan bibirnya.

“Taeyeon-ah..” Panggil Kyuhyun setelah cukup lama mereka saling berdiam diri. Dan gadis itu tetap diam, tak memberi respon.

“Kalau kau lapar, aku sudah menyiapkan kau nasi dengan belut panggang kesukaanmu. Ambil saja di kursi belakang.” Tambah kyuhyun yang berhasil membuat gadis itu menoleh dengan ekspresi berbinar lalu meraih sebuah paper bag di kursi bagian belakang. Paperbag itu berisikan sebuah 2 buah kotak bekal, dimana kotak bekal yang memiliki ukuran lebih besar berisi nasi dan belut panggang, dan sebuah kotak yang sedikit lebih kecil, berisikan potongan buah-buahan. Tak lupa, di dalam paperbag itu juga terdapat peralatan makan dan sebuah botol air mineral.

“Wah, kau memang calon suami idaman, Kyuhyun-Oppa.” Puji Taeyeon lalu melahap isi kotak bekalnya tanpa bergeming sedikitpun.

Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mobil yang dikendarai Kyuhyun pun berhenti di depan sebuah butik. Butik itu memiliki dinding kaca dengan manekin-manekin yang terpajang indah menghadap dinding kaca itu. Pada bagian atas butik itu terpampang nama butik itu. Edna Boutique and Salon.

“Butik? Salon? Untuk apa kita kemari?” Bingung Taeyeon sambil melepas seatbeltnya. Kyuhyun tak menjawab pertanyaan gadis itu dan malah berlari keluar dari mobil lalu membukakan gadis itu pintu.

“Ya, kau belum menjawab pertanyaanku oppa.” Pekik gadis itu ketika mereka berjalan memasuki butik itu, tapi tetap saja tak mendapat jawaban dari Kyuhyun.

“Sudah jangan banyak bicara, suaramu itu bikin telingaku sakit.” Balas Kyuhyun yang sukses membuat gadis itu kembali memanyunkan bibirnya.

“Annyeong Haseyo Tuan Cho.” Begitu Taeyeon dan Kyuhyun memasuki butik itu, para pegawai butik itu langsung menyapa mereka dengan ramah dan penuh hormat. Bahkan para pegawai butik itu membungkukan badan mereka sembilan puluh derajat ketika Kyuhyun dan Taeyeon melewati mereka.

“Sepertinya mereka sangat menghormatimu Tuan Cho.” Bisik Taeyeon cukup keras sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan Kyuhyun.

“Ini butik langganan ibu dan Noonaku, aku juga sering kesini untuk sekedar mengantar mereka.” Singkat Kyuhyun.

“O, begitu rupanya.”

“Apa yang bisa saya bantu Tuan Cho?” Ujar salah seorang pegawai butik itu. Menurut Taeyeon, sepertinya pegawai itu adalah pegawai senior butik itu yang sudah biasa melayani ibu ataupun noona Kyuhyun.

“Bantu gadis jelek di sebelahku ini untuk memilih gaun pesta yang pantas untuknya, Nyonya Yoon.”

Mendengar permintaan Kyuhyun, Taeyeon hanya mengernyit kesal dan pegawai yang dipanggil Nyonya Yoon itu tersenyum melihat tingkah kedua insan itu.

“Ya, jaga mulutmu Cho Kyuhyun. Aku tidak perlu baju pesta darimu. Aku masih bisa menggunakan baju-baju yang punya.” Ucap Taeyeon tak terima dan bergegas meninggalkan butik itu. Namun baru beberapa langkah gadis itu berjalan, Kyuhyun sudah menarik gadis itu lalu mendorong punggung gadis itu memasuki fitting room.

“Kau kira aku akan membiarkanmu datang ke pesta itu dengan kemeja dan celana jeans? Atau mungkin kau akan menggunakan baju mengajarmu yang membuatmu nampak seperti ahjumma-ahjumma? Sudah aku bilang, jangan banyak bicara dan ikuti saja permainan ini. Nyonya Yoon, aku serahkan gadis ini kepadamu. Pastikan kau memilihkan baju yang pantas dan mendadaninya sampai cantik.”

‘Astaga Tuhaaan…’

Taeyeon yang sudah tak bisa melawan hanya pasrah akan hal yang akan terjadi padanya. Yang ia tau hanyalah wanita bermarga Song itu mendudukan dirinya di sebuah kursi yang menghadap cermin dan membiarkan anak buah wanita itu mempermak dirinya dari wajah, kuku dan rambut.

Sekitar satu jam berlalu, Kyuhyun kembali melangkahkan kakinya memasuki Butik dan salon itu. Pria itu baru saja datang dari rumah mode yang khusus mendesign baju-baju pria khususnya tuxedo dan kembali ke butik itu untuk menjemput Taeyeon. Kali ini pria itu mengenakan kemeja putih serta tuxedo dan dasi kupu-kupu berwarna hitam.

“Bagaimana Nyonya Yoon? Apakah sulit mengurus gadis bocah itu?” Tanya Kyuhyun pada Nyonya Yoon sambil memasang wajah jahil.

“Nona Taeyeon sempat menolak, tapi akhirnya kami berhasil merubahnya. Anda tunggu saja, kami sudah hampir selesai.”

“Baiklah aku akan menunggu disini.” Kyuhyun memutuskan untuk menunggu Taeyeon di sebuah sofa kulit berwarna hitam yang ada di ruang tunggu salon yang berada di lantai dua butik itu. Kyuhyun tak henti-hentinya mengetuk-ketukan jarinya di lengan sofa berusaha membayangkan bagaimana penampilan Taeyeon ketika gadis itu keluar dari sebuah pintu yang berhadapan dengan sofa yang didudukinya.

Cukup lama tenggelam dalam bayang-bayangnya, tiba-tiba pintu di hadapannya itu terbuka sedikit. Ia bisa melihat kaki gadis itu melangkah dengan ragu melalui celah pintu yang terbuka. Kaki putih gadis itu semakin sempurna dengan Heels berwarna silver yang dihias dengan kristal Swarovski. Hingga akhirnya gadis itu keluar sepenuhnya dari ruangan itu, menampakkan hasil yang sedari tadi berusaha dibayangkan Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam mematung dan menganga. Dalam sekejap pikirannya dipenuhi dengan wajah yang ada di hadapannya. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali bisa menguasai dirinya dan beranjak dari sofa itu.

“Come on, Mademoiselle.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Taeyeon.

*****

 

Jongwoon, Tiffany dan Taewoon turun dari mobil yang dikendarai Jung Ahjussi di depan lobi sebuah hotel bernama The Lexington Hotel. Hotel itu berdiri dengan megah di tengah kota Seoul dengan gaya bangunan klasik yang menjadi ciri khas hotel itu. Pada bagian depan hotel itu, terdapat pilar-pilar yang berdiri dengan kokoh, yang menambah kesan klasik pada hotel itu.

Sebelum memasuki lobi, Jongwoon menyodorkan lengannya kepada Tiffany dan membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya dengan bingung.

“Ayo kita berjalan bersama.” Ujar Jongwoon, kembali menyodorkan lengan kirinya.  Dengan ragu, Tiffany pun menautkan lengannya dengan lengan kiri Jongwoon sementara tangan  kanan Jongwoon menggenggam  tangan Taewoon.

Hari itu Jongwoon dan Taewoon nampak gagah dan berkharisma mengenakan kemeja putih dan tuxedo hitam. Hanya saja Jongwoon mengenakan dasi kupu-kupu hitam dan Taewoon mengenakan dasi kupu-kupu merah. Sementara Tiffany, mengenakan gaun merah dan tampak romantis, berteriak klasik dengan sentuhan modern. Ditambah dengan satu set perhiasan berlian yang menghiasi telinga dan pergelangan tangan kanannya, Tiffany nampak sempurna dan menawan. Sepanjang melewati lobby hotel itu, sebagian besar mata menatap mereka dengan tatapan kagum dan berbisik ‘sungguh keluarga dengan bibit unggul’ yang sukses membuat Tiffany tersipu malu.

Setibanya di ballroom hotel itu, Jongwoon langsung disambut dengan tatapan nakal Hyukjae dan Hyoyeon yang sedari tadi sibuk menyambut tamu-tamu yang datang. Tiffany yang menyadari hal itu langsung melepaskan tautan lengannya salah tingkah.

“Daddy, aku akan kesana bersama Hyoeun dan yang lainnya.” Ujar Taewoon pada Jongwoon sambil menunjuk meja yang berada di bagian depan yang sudah duduk Hyoeun dan anak-anak selevel Taewoon dan Hyoeun. Wajah anak itu nampak pucat dan kurang bersemangat seperti biasanya.

“Taewoon-ah, apa kau baik-baik saja?” Tanya Jongwoon melihat ada yang tak beres dengan Taewoon. Dan Taewoon hanya menggeleng pelan.

“Baiklah, kalu begitu, jika kau merasa tak enak badan, panggil daddy, arasso?”

“Ne daddy.”

 

“Kalian seperti keluarga harmonis saja.” Sindir Nyonya Kim dengan wajah jahil ketika Jongwoon dan Tiffany bergabung di meja yang di tempati Tuan dan Nyonya Kim.

“Ya biarlah, setidaknya aku tidak harus nampak seperti manusia tolol yang tidak laku yang terjebak dalam puluhan pasangan di ruangan ini.” Respon Jongwoon cuek.

“Kalau begitu, kenapa kalian tidak menjalin hubungan saja, agar kau tak terjebak seperti manusia tolol yang tidak laku dalam jutaan bahkan milyaran pasangan di dunia?” Ucap Nyonya Kim lagi sambil memberikan penekanan pada setiap katanya. Tiffany yang mendengarnya hanya tersenyum malu sekaligus geli.

“Sudahlah eomma, aku belum berpikir untuk mencari pengganti Sooyoung.” Jelas Jongwoon yang membuat Tiffany nampak kecewa. Nyonya Kim yang menyadari perubahan raut wajah gadis itu, memberikan senyuman hangatnya seolah-olah berkata ‘jangan menyerah.’

“Kau ingat kan nasihat eomma, Jongwoon-ah? Jangan sampai kisah masa lalumu dengan Sooyoung membutakan kehidupanmu hingga kau hanya terpaku pada Sooyung saja. Ingat masih ada Taewoon yang memerlukan seseorang yang dapat menggantikan Sooyoung.” Nasihat Ibu Jongwoon, kali ini ia menghilangkan nada menggodanya dan berbicara penuh keseriusan.

“AKan kupikirkan nanti.” Jawabnya sekenanya sambil mengalihkam pandangannya.

“Jongwoon-ah, bukankah itu sahabatmu dan Sooyoung ketika kuliah? Dan Sepertinya appa mengenal gadis yang bersamanya.” Ujar Tuan Kim sambil menatap pasangan yang baru saja memasuki ballroom. Jongwoon, Tiffany serta Nyonya Kim pun mengikuti arah pandang Tuan Kim.

“Ah, kalau tidak salah gadis itu adalah teman Hyoyeon Eonni yang mengajar di Yeonjae.” Timpal Tiffany.

‘Cho Kyuhyun. Kim Taeyeon.’ Batin Jongwoon tak percaya melihat pasangan itu.

Kyuhyun dan Taeyeon mulai menyapa tamu-tamu di ruangan itu. Tak jarang tamu-tamu di ruangan itu memuji Taeyeon dan Kyuhyun pasangan yang serasi karena mereka berdua tampak cantik dan tampan. Taeyeon mengenakan gaun berbentuk tube  berwarna putih dengan taburan payet di bagian dada. Bagian bawahnya tampak terbuat dari bahan tile yang bertumpuk bermodel ruffles semata kaki. Dilengkapi sebuah kalung keperakan dan rambut panjangnya ditata sederhana disampirkan ke sebelah kiri. Semua mata yang memandangnya akan berpikir ia adalah wujud nyata seorang malaikat, tak kecuali seorang Kim Jongwoon yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya dari Taeyeon.

Bahkan ketika matanya dan mata Taeyeon bertemu,  Jongwoon sama sekali tidak salah tingkah dan justru tetap menatap gadis itu dengan tatapan tajamnya.

“Kim Jongwoon.” Gumam gadis itu pelan ketika matanya bertemu dengan milik Jongwoon.

‘Lagi-lagi kebodohanmu Kim Taeyeon! Seharusnya kau sadar Kim Jongwoon akan datang ke acara iparnya. Bagaimana aku harus menghadapi pria itu, terlebih sejak kejadian di minimarket. Sekarang pria ini sudah mengecapmu wanita bodoh dan aneh Kim Taeyeon.’ Umpat Taeyeon dalam hati. Ia mendadak salah tingkah ketika menyadari mata elang Jongwoon yang tidak berhenti menatapnya.

“Kyuhyun Oppa, ayo kita mengambil minum.” Ajak Taeyeon kepada Kyuhyun. Tanpa menunggu persetujuan pria itu, Taeyeon mengeratkan tautan lengannya dengan Kyuhyun lalu menarik pria itu ke meja yang terdapat minuman dan berbagai canapé.

“Jongwoon Oppa, apa yang sedang kau lihat?” Panggil Tiffany yang berhasil mengalihkan pandangan Jongwoon dari Taeyeon yang menarik Kyuhyun.

“Tidak ada. Aku hanya merasa seperti mengenal orang yang baru memasuki ballroom ini.” Bantah Jongwoon.

“Ah, aku ingat, gadis itu Kim Taeyeon dan Pria itu Cho Kyuhyun.” Seru Nyonya Kim. “Apakah mereka memiliki hubungan khusus? Mereka nampak serasi.”

“Tanyakan saja pada mereka langsung.” Sahut Jongwoon jutek. Ia sendiri tak mengerti, mengapa ia menjadi kesal setelah melihat gadis itu bersama Kyuhyun. Apa karena rasa bencinya kepada Kyuhyun kembali muncul ke permukaan setelah bertahun-tahun, atau mungkin… Karena ia cemburu?

“Oppa, aku akan kesana sebentar, sepertinya ada temanku disana.” Ucap Tiffany lalu beranjak dari kursinya. Nyonya Kim yang melihat Tiffany meninggalkan kursinya segera memasang isyarat kepada Jongwoon untuk mengikuti Tiffany. Dan dengan malas, Jongwoon pun ikut beranjak dari kursinya dan mengikuti gadis itu.

“Jessica!” Seru Tiffany pada seorang gadis berambut panjang coklat gelap dan berponi yang nampak anggun dengan mini dress gold-nya. Gadis yang dipanggil Jessica itu sedang asyik mengobrol dengan para tamu dan langsung menoleh ketika mendengar namanya dipanggil.

“Fany? Tiffany?” Gadis itu takalah berseru lalu berpelukan dengan Tiffany.

“Bagaimana kabarmu Sica?”

“Aku baik-baik saja, tapi terkadang isi perutku membuatku gila karena rasa senang dan mual yang disebabkan olehnya.”

“Isi perut?” Tiffany menaikkan sebelah alisnya. “Jangan katakan kalau kau sedang….”

“Ya, kau tahu kan. Dan bukankah itu wajar untuk seorang wanita yang sudah menikah.” Gadis itu memamerkan senyuman manisnya.

“Jadi, siapa pria paling beruntung di dunia ini yang berhasil mendapatkanmu Jessica Jung.” Canda Tiffany sambil menyipitkan matanya.

“Lee Donghae. Pria itu juga yang menjadi alasanku berada disini. Suamiku bersahabat dengan Lee Hyukjae, orang yang berulang tahun hari ini. Kau sendiri, sejak kapan kau mengenal Lee Hyukjae?”

“Ah, aku tidak terlalu mengenalnya. Kebetulan aku berteman dengan kakak Iparnya. Jessica kenalkan ini temanku Dokter Kim Jongwoon. Oppa, kenalkan ini Jessica Jung, temanku selama di Amerika.” Ucap Tiffany mengenalkan kedua orang itu.

“Jessica Jung.”

“Kim Jongwoon.”

“Kau mungkin bisa mengunjungi Jongwoon Oppa jika ingin memeriksakan kandunganmu, ia adalah seorang dokter kandungan.” Jelas Tiffany yang dibalas anggukan paham oleh Jessica.

Pada akhirnya Tiffany tenggelam dalam obrolannya bersama Jessica. Jongwoon yang merasakan dirinya tak dihiraukan, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kedua wanita itu untuk mengambil minuman dan canapé. Ketika sedang asyik memilih canapé yang akan ia santap, matanya tak sengaja menangkap sosok yang sempat membuat matanya tak beralih dari sosok itu. Ia bisa melihat sosok itu berdiri di dekat meja kudapan tak jauh dari tempat Jongwoon berada. Sepertinya sosok itu bernasib sama dengan Jongwoon. Ditinggalkan pasangan mereka tenggelam dalam obrolan bersama kawan-kawannya. Karena tidak jauh dari sana, ia  melihat Cho Kyuhyun yang sedang berkumpul dan mengobrol bersama teman-temannya. Segera pikiran-pikiran iseng memenuhi otak pria itu.

“Tidakkah kita senasib, Nona Kim.” Sapa Jongwoon dengan tiba-tiba dari belakang punggung Taeyeon, yang sukses membuat gadis itu bergidik kaget.

“Astaga Dokter Kim, sepertinya anda suka sekali mengagetkanku.” Ujar Taeyeon ketika berbalik dan mendapati Jongwoon yang berdiri di belakangnya. Taeyeon mengelus-elus dadanya karena rasa kekagetan yang masih ia rasakan.

“Apakah kau kesepian? Aku bisa menemanimu disini.” Ujar Jongwoon dengan nada genit yang dibuat-buat. Taeyeon yang mendengarnya hanya memutar bola matanya risih.

“Ah, aku baru mengingat sesuatu. Bukankah waktu itu kakimu terluka? Apakah sekarang kakimu sudah sembuh?” Ungkap Jongwoon berbasa-basi.

“Jangankan sembuh. Bahkan kakiku ini sudah kugunakan untuk mengikuti audisi drama musikal , Dokter Kim.” Terang Taeyeon sembari berusaha tidak menatap Jongwoon ketika berbicara dengan pria itu.

“Ah, begitu. Baguslah. Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Apa masih hancur, sama seperti ketika aku menemukanmu di pinggir jalan?”

‘Geez… Kalau saja pria ini tahu dan sadar, Changmin Oppa telah salah paham padanya hingga hubungan kami harus berakhir.’ Batin Taeyeon kesal sambil memejamkan matanya sejenak.

“Tapi sepertinya kau nampak baik-baik saja sekarang, bahkan kau nampak sangat bahagia dan serasi ketika memasuki ballroom ini sambil menautkan lenganmu dengan pria tinggi itu.” Entah mengapa nada bicara pria itu berubah sinis dan terkesan menyindir. Seketika air muka Taeyeon berubah kesal.

“Bukan urusanmu Dokter. Urusi saja kekasihmu itu daripada mengurus masalah orang lain.” Balas Taeyeon tak kalah sinis.

“Selamat malam hadirin, pada hari ini tentu kita semua sedang bersuka cita merayakan ulang tahun teman kita, Lee Hyukjae. Jika dilihat dari tamu yang datang, sepertinya teman kita, Lee Hyukjae, benar-benar sosok yang bersahabat dan memiliki banyak teman. Lihat saja tamu yang datang.” Tutur sang mc panjang lebar yang sangat tidak menarik untuk disimak oleh Taeyeon maupun Jongwoon. Kedua manusia itu memilih untuk saling diam dan menikmati kudapan yang mereka bawa tanpa sedikitpun  berniat untuk membuka pembicaraan.

“Baiklah, untuk mengawali pesta malam ini, ayo kita buka pesta malam ini dengan dansa. Bagi setiap pasangan yang ada di ruangan ini, kami persilakan kepada kalian untuk turun ke lantai dansa bersama pasangan kalian. Dan untuk mengingat tradisi lama, di setiap pergantian musik anda sekalian wajib bertukar pasangan dengan pasangan terletak paling dekat dengan anda sekalian.”

Ocehan panjang lebar sang mc, ditutup dengan alunan waltz yang mulai mengalun di dalam ballroom itu. Beberapa pasangan menuju arena dansa dan mulai melangkahkan kaki mereka ke kanan, kiri, samping dan lain lain. Masih tetap dengan iringan musik waltz yang membuat Taeyeon memandang pasangan-pasangan itu dengan tatapan miris. Jongwoon yang berada disebelahnya bisa menangkap kemirisan yang terpancar dari gadis itu. Terselip keinginan untuk mengajak gadis itu turun ke lantai dansa. Tapi, bukankah tidak masuk akal jika tiba-tiba Jongwoon yang masih cukup asing untuk Taeyeon, mengajaknya berdansa? Terlebih, mereka baru saja saling bertukaran sindiran yang membuat Taeyeon risih untuk kembali berbicara dengan Jongwoon.

Oh Bagus. Sekarang Taeyeon  merasa makin miris dan mengantuk. Lagu ini… sangat familiar di telinganya. Yeah, Taeyeon yakin sekali.  Lagu ini adalah The Second Waltz karya Dmitri Shostakovich. Dulu ketika menghadiri pesta dansa relasi kerja Changmin, ia dan Changmin pernah berdansa dengan alunan lagu ini. Tentu saja itu jauh sebelum hubungannya dan Changmin merenggang. Kali ini Taeyeon menundukkan kepalanya, mengutuki dirinya sendiri dan berjanji akan meninggalkan ballroom itu sekarang juga.

Terdengar derap langkah yang mendekati Taeyeon. Seorang pria muncul di hadapannya. “May I have the honour to have a dance with you, Mademoiselle?” katanya. Suara berat dan lembut Kyuhyun berhasil menghentikan umpatan Taeyeon. Taeyeon mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang baru saja melontarkan kalimat manis tersebut. Senyumnya mengembang saat ia melihat siapa yang datang dan hendak mengajaknya berdansa.

“Kyuhyun Oppa.” Bingung harus mengatakan apa karena tiba-tiba jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Setidaknya ia menjadi lebih bersemangat dan tak merasa sendiri lagi.

Taeyeon tersenyum dan berucap ‘seadanya’. “With Pleasure…” jawabnya seraya berdiri dan berjalan ke tengah lantai dansa. Taeyeon meletakkan tangan kirinya ke pundak Kyuhyun dan menautkan jemari-jemarinya dengan jemari Kyuhyun sementara tangan kanan Kyuhyun terletak di pinggangnya.  Dan mulai melangkahkan kakinya ke kiri, kanan. Mereka bisa berdansa dengan cukup baik. Bagaimana tidak? Taeyeon adalah seorang penari dan Kyuhyun sendiri sering menjadi pasangannya ketika ia berlatih dansa baik Tango ataupun Waltz.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata tajam bak mata elang menatap mereka dengan tatapan geram.

TBC

–  Curhat Author –

Yaaaa!!!! Akhirnya part 5 selesai. Di tengah ulangan dan tugas, masih menyempatkan buat ngetik ff ini. Thanks buat reader yang selalu ingat buat baca apalagi ngomen. Di part ini sedikit demi sedikit pertanyaan reader di part-part sebelumnya udah kejawab kan. Keep reading and commenting, okay? Karena komen para reader sekalian motivasi sekaligus inspirasi buat aku lanjutin ff ini. Sekali lagi, Kamsahanida!!!!!!!!

25 thoughts on “[FF Freelance] Blind in Love (Part 5)

  1. hmmmm JongwoonTaeng, KyuTaeng, JongwoonFany. moment” couple itu jd buat aku bingung mana yg paling pas hahaha 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s