[FF Freelance] That Ahjussi (Part 10)

that ahjussi poster

Judul: That Ahjussi… (Chapter 10)

Author: Yul

Length: Chaptered

Genre: Romance, Life, Drama, little bit Comedy

Main Cast: Park Bom (2NE1), Choi Seunghyun a.k.a TOP (Big Bang).

Support Cast: Shin Bongsun, Park Jiyeon (a.k.a Gummy), Yoon Doojoon (B2ST), Kwon Jiyong (Big Bang), Sandara Park (2NE1).

Disclaimer: First, author minta maaf karena lama ngepost dan banyak adegan ngebosenin di sini ataupun kata-kata yang gak pas di telinga~ Kkkkk~ FF ini murni hasil jerih payah author dan didedikasikan untuk pembaca FF terutama SpringTempo shipper. Plagiat not allowed, read & leave comment are very welcome. Happy reading ^^~

NB: Disini usia TOP lebih tua 2 tahun dari usia Bom, usia mereka juga dirubah demi kenyamanan (?)

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Part 8 , Part 9

Chapter X

Malam semakin larut. Besok Bom akan berkunjung ke rumah Seunghyun di Gwangju selama dua hari satu malam di sana. Ia mencoba memejamkan matanya namun tak bisa. Ia memandangi koper berwarna peach-nya di sudut ruangan. Beberapa jam yang lalu Seunghyun datang untuk membantu mem-packing barang-barang yang harus dibawa. Karena sebelumnya Bom tidak pernah ke Gwangju, ia rasa tidak ada salahnya jika meminta bantuan Seunghyun mengenai perlengkapan yang akan dibawa.

Bom terus merubah posisi tidurnya namun matanya tetap tidak terpejam. Aigoo, bagaimana ini? Bom meraih ponselnya yang di letakkan di bawah bantal dan mulai memainkan beberapa game favoritnya sambil menunggu matanya mengantuk. Bom hampir menjatuhkan ponselnya ketika panggilan masuk mengagetkannya. ‘Seunghyun Choi calling’. Eoh? Untuk apa ahjussi ini meneleponku?

Yeoboseyo?”

“Sudah kuduga kau belum tidur. Kenapa kau belum tidur?” tanya Seunghyun dari seberang.

“Aku tidak bisa tidur. Mungkin karena besok kita akan pergi ke Gwangju kurasa.”

“Ah, apa ini pertama kalinya kau berkunjung ke rumah orang tua kekasihmu?”

Ani. Sebelumnya aku pernah ke rumah orang tua Doojoon tapi tidak seperti ini. Mungkin karena rumah orang tuamu jauh dan kita akan menginap di sana,” jawab Bom setelah cukup lama terdiam.

“Kau pernah bertemu dengan orang tua Doojoon?” tanya Seunghyun, hampir tak percaya.

“Tentu saja pernah.” Hening.

Waeyo? Kau cemburu?” tanya Bom sambil menahan tawanya agar tidak meledak. Aigoo, jadi seperti ini rasanya melihat orang yang cemburu. Pantas saja ahjussi ini tidak berhenti tertawa waktu itu.

“Ya, kau boleh menertawakanku. Tidak usah ditahan,” ujar Seunghyun sebal. Bom langsung melepas tawanya saat itu juga.

“Sampai kapan kau akan terus tertawa?” tanya Seunghyun karena Bom belum berhenti tertawa. Bom menyudahi tawanya.

“Aku sudah selesai tertawa. Aigoo, perutku sakit.”

“Baiklah, sebaiknya kau tidur. Ingat, besok pagi kujemput pukul sembilan.”

“Ahjussi…” panggil Bom.

“Hmmm?”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Bom.

“Hmmm?”

“Nama apa yang kau tulis di nomor kontakku?” Jantung Bom berdetak lebih kencang setelah selesai bertanya. Sudah cukup lama ia penasaran ingin menanyakan hal seperti ini.

“Ra-ha-si-a,” jawab Seunghyun. Sambungan terputus.

Bom membulatkan mulutnya tak percaya. “Cih, ahjussi ini. Ada apa dengannya? Ia tidak menjawab pertanyaanku dan langsung menutup teleponnya? Aish, jinjja!” Bom sibuk menggerutu. Dengan wajah kesal Bom mengganti nama kontak Seunghyun, geu ahjussi.

Aish, jinjja. Geu ahjussi…” rutuk Bom terakhir kalinya sebelum ia terlelap.

***

Pagi ini Bom bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi dan bersiap, ia menghubungi Bongsun, Jiyeon dan Jiyong untuk sekedar menyapa dan memberi kabar. Bom selesai memasak omelet-nya ketika bel apartemennya berbunyi. Dengan cepat Bom menghampiri pintu dan membukanya setelah mengintip siapa yang datang.

“Pagi,” sapa Seunghyun tersenyum. Bom balas tersenyum dan mempersilakan Seunghyun masuk.

“Bagaimana tidurmu?” tanya Seunghyun setelah membuka coat berwarna biru navy-nya dan meletakkannya di sofa.

“Cukup baik, kecuali ada seorang ahjussi yang membuatku kesal tadi malam karena tidak menjawab pertanyaanku dan langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja.” Bom memajukan bibirnya, cemberut.

“Ah, kau masih memikirkan yang semalam?” Seunghyun menghempaskan tubuhnya di sofa.

“Tentu saja! Ah, tidak tidak.” Bom berusaha tidak mengacuhkan pertanyaan Seunghyun dan melangkah ke dapur untuk menyiapkan omeletnya.

“Benarkah, kau tidak ingin tahu?” tanya Seunghyun dengan nada menggoda setelah Bom meletakkan kedua piring berisi omelet di meja ruang tengah.

Ani, aku tidak ingin tahu. Lagipula kau juga tidak tahu nama kontakmu yang kusimpan di ponselku,” ujar Bom berusaha membuat Seunghyun penasaran sambil menyuap omeletnya.

“Sayang sekali, tapi aku tidak ingin tahu dengan apa yang kau tulis di nomor kontakku.”

Bom memicingkan matanya sebal ke arah Seunghyun lalu menyalakan tv dihadapannya dan memperbesar volume suaranya sebelum kembali melanjutkan makannya dengan wajah cemberut.

***

“Kau sudah siap?” tanya Seunghyun.

“Ne!” jawab Bom excited sambil memasang seat belt-nya.

“Ah ya, berapa lama perjalanan dari Seoul ke Gwangju?” tanya Bom.

“Hmmm… Sekitar empat sampai lima jam. Kau tidak mabuk darat kan?”

Bom menggeleng masih dengan wajah excitednya.

“Baiklah, berangkat!” seru Seunghyun.

***

Perjalanan sudah ditempuh hampir setengahnya dan sejak tadi Bom sibuk mengamati pemandangan di luar jendela. Seunghyun sesekali tersenyum ketika melihat Bom mengeluarkan ekspresi wajah excitednya tiap melihat pemandangan yang menarik dan aneh –menurutnya. Bagaimana bisa wajahnya terlihat sangat bahagia ketika melihat badut berkostum jagung yang sedang dikelilingi anak-anak ketika mereka melewati sebuah toko makanan khusus jagung yang baru buka? Ah, aku lupa. Gadis ini sangat mencintai jagung. Seunghyun terkekeh pelan.

“Apa kau lapar? Kita bisa berhenti di tempat peristirahatan tak jauh dari sini,” tawar Seunghyun. Bom berpikir sejenak.

Mwo? Seorang Park Bom membutuhkan waktu untuk berpikir ketika di hadapkan dengan makanan? Bukankah kau tidak pernah menolak jika di hadapkan dengan makanan? Daebak!” Seunghyun tergelak. Bom mendelikkan matanya.

“Bagaimana kalau drive thru saja? Kita bisa makan di mobil. Jiyeon bilang pemandangan di Gwangju sangat indah. Aku tidak sabar ingin segera sampai di sana.”

“Baiklah.”

***

“Aaaaaa…” ujar Seunghyun sambil membuka mulutnya –untuk kesekian kalinya. Bom kembali menyodorkan beberapa french fries ke mulut Seunghyun. “Aaaah, jinjja mashitta,” ujar Seunghyun. Ia kembali membuka mulutnya, meminta Bom menyuapinya. Dengan wajah sedikit kesal Bom kembali menyuapi beberapa french fries.

“Ya ahjussi, kenapa kau tidak menyuapi makananmu sendiri? Aish, kau mengganggu waktu makanku,” gerutu Bom.

“Kau lihat, aku sedang mengemudikan mobil. Kau tidak tahu peraturan lalu lintas yang baru? Pengemudi dilarang menggunakan tangannya untuk makan atau minum selama mengendarai kendaraan untuk mencegah terjadinya kecelakaan akibat tidak fokusnya konsentrasi dalam mengemudi. Kau tahu kan banyak kecelakaan lalu lintas yang terjadi belakangan ini?” ujar Seunghyun serius.

Bom diam sejenak. “Benarkah?” gumamnya. Bom mengangguk perlahan setelah memikirkan beberapa kemungkinan kecelakaan yang terjadi jika tidak konsentrasi dalam mengemudi.

“Nah, sekarang aku ingin hamburger.” Seunghyun tersenyum memamerkan gigi putihnya pada Bom. Dengan cepat Bom membuka kertas pembungkus hamburger dan menyodorkan isinya pada Seunghyun. Seunghyun tersenyum menahan tawa ketika mengunyah makanannya. Aigoo gadis ini…

“Ahjussi, apa ada hal yang harus kulakukan dan tidak boleh kulakukan selama di sana?” tanya Bom setelah membantu mengelap bibir Seunghyun dengan tissue setelah ia selesai menghabiskan hamburgernya. Seunghyun berpikir sejenak.

“Kurasa kau harus selalu tersenyum di sana. Penduduk Gwangju selalu murah senyum.” Bom menganggukkan kepalanya, paham. “Ah, pantas saja kau selalu tersenyum,” gumam Bom.

“Ah, tapi aku tersenyum padamu bukan karena aku berasal dari Gwangju. Itu karena aku mencintaimu.” Seunghyun melirik ke arah Bom lalu tersenyum ketika mendapati pipi Bom merona. “Ahjussi…” Bom hanya bisa meninju pelan pundak Seunghyun lalu menatap keluar jendela.

“Lalu apa yang harus kulakukan jika menemui halmeoni?” tanya Bom kemudian.

“Ah, halmeoni sangat sensitif terhadap orang baru di sekitarnya. Ketika pertama kali bertemu dengannya kau harus tersenyum lebih cerah seperti biasanya. Kau tahu kan senyum cerah seperti di CF?” Bom mengangguk cepat, wajahnya terlihat serius menanggapi apa yang Seunghyun katakan. Sementara Seunghyun tersenyum menahan tawa. Halmeoni, maafkan aku karena menggunakanmu untuk membohongi gadis ini.

“Setelah itu kau harus memeluk halmeoni cukup erat sebelum mengenalkan dirimu. Kau tahu, halmeoni akan sangat senang jika diperlakukan seperti itu,” sambung Seunghyun antusias. Bom mengangguk lagi.

“Kurasa hanya itu yang harus kau lakukan selama di sana,” ujar Seunghyun mengakhiri saran hasil pemikirannya sendiri. Bom mengangguk paham. Baiklah, Bom-ah. Kau bisa melakukan itu semua! Perlahan kelopak mata Bom mulai terasa berat. Bom mencari posisi nyaman sebelum memutuskan untuk tidur.

***

“Bommie-ah…” Seunghyun menepuk pelan pundak Bom, mencoba membangunkannya. Mobil Seunghyun sudah rapi terparkir di halaman rumah megah kediaman keluarga Choi. Bom menggeliat sebentar lalu kembali tidur. Seunghyun tersenyum memandangi wajah tidur Bom. Gadis ini, bahkan saat ia tidur kadar manisnya bertambah berkali lipat.

“Bommie-ah…” panggil Seunghyun lagi. Kali ini tangan Seunghyun mengelus pelan pipi Bom. Dengan serta merta mata Bom terbuka lebar. “Ya!” ujar Bom sambil menggenggam tangan Seunghyun, menjauhkannya dari wajahnya. “Waeyo?” tanya Seunghyun kaget.

Omo, kukira kau penjahat,” gumam Bom.

Mwo? Penjahat?” Kali ini Seunghyun menaikkan sebelah alisnya.

“Aku bermimpi sekelompok penjahat mengejarku karena aku menolak memberikan seluruh jagung yang kupunya,” jawab Bom sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Seunghyun tertawa mendengar jawaban Bom.

“Aku tidak tahu kenapa saat kau tidur dan bangun dari tidurmu kau terlihat berkali-kali lipat lebih manis,” ujar Seunghyun sambil menatap Bom. Blush.

Kaja, kita sudah sampai.” Seunghyun kembali mengusap pipi Bom yang merona. Keduanya bersiap turun dari mobil.

Mata dan mulut Bom terbuka lebar saat melihat rumah megah berdiri kokoh di hadapannya lengkap dengan arsitektur indah yang diatur sedemikian rupa. Kesan berkelas sangat terlihat dari interior rumah yang menghadap ke gunung Mudeung  ini, satu-satunya gunung yang dibanggakan Gwangju karena keindahan dan kelestariannya.  “DaebakJinjja daebak…” gumam Bom.

“Ahjussi! Kau harus menceritakan tentang Gwangju padaku!” teriak Bom yang masih excited menghamparkan pandangannya.

Seunghyun yang sibuk berurusan dengan barang-barang bawaan di bagasi mobil lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat Bom yang benar-benar sedang hanyut dalam keindahan kota Gwangju.

“Park Bom. Sampai kapan kau akan memandangi gunung itu?” tanya Seunghyun yang sudah selesai menurunkan koper-koper milik mereka dari bagasi. “Ah, iya!” Bom menjentikkan jarinya, mengambil ponselnya dan langsung memotret pemandangan paling indah yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Sesekali ia melakukan self-camera berlatar belakang gunung Mudeung. Seunghyun tertawa melihat Bom berpose cukup aneh di depan kamera.

“Ya ahjussi! Apa yang kau lakukan? Kemarilah!” Bom dengan semangat melambaikan tangannya. Seunghyun menghampiri Bom dan ikut mengambil beberapa gambar bersama. “Aigoo, neomu gwiyeobda!” seru Bom ketika melihat hasil gambar dirinya bersama Seunghyun dengan pose yang sama, melakukan pose bbuingbbuing.

“Aigoo! Uri sweety Bommie!” sebuah suara yang cukup keras mengagetkan kegiatan Bom dan Seunghyun. Keduanya menoleh ke arah sumber suara, dari pintu masuk. Nyonya Choi berjalan terburu menghampiri Seunghyun dan Bom dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.

“Uri sweety Bommie, akhirnya kau datang juga…” Nyonya Choi langsung memeluk Bom hangat.

“Uri sweety Bommie?” tanya Bom ketika melepaskan pelukan dari Nyonya Choi.

“Apa Seunghyun tidak memberitahumu?” Nyonya Choi balik bertanya sementara Seunghyun memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang terlihat seperti pencuri tertangkap tangan. Bom menggeleng dengan wajah heran.

“Ah, kau tidak tahu kalau Seunghyun menuliskan nama tadi pada nomor kontakmu di ponselnya? Setiap menelponku dan bercerita tentangmu ia selalu menyebutmu uri sweety Bommie. Aigoo, Seunghyunnie, bagaimana kau bisa tidak memberitahu kekasihmu tentang hal ini.” Nyonya Choi menepuk gemas pundak Seunghyun. Mulut Bom sedikit terbuka setelah mendengar jawaban Nyonya Choi.

Bom kemudian tersenyum –menahan tawa. Aigoo, ahjussi ini. Jadi ia menamai kontakku dengan ‘uri sweety Bommie’? Manis sekali. “Aigoo, kau manis sekali,” ujar Bom sambil melingkarkan tangannya pada lengan Seunghyun. “Eomma, kenapa eomma mengatakan hal ini padanya?” Seunghyun hanya bisa menggerutu. Nyonya Choi dan Bom hanya tertawa.

***

Bom sibuk mengamati berbagai macam foto yang dipajang di ruang tengah. Mulai dari foto pernikahan Tuan dan Nyonya Choi sampai beranjak dewasanya kedua anak mereka terjajar rapi di atas rak khusus dari kayu mahoni yang dijadikan tempat meletakkan puluhan frame foto. Bom tergelak ketika melihat foto masa kecil Seunghyun yang gemuk.

Waeyo?” tanya Seunghyun ketika melihat Bom menertawai dirinya.

“Apa ini benar-benar kau? Aigoo, lucu sekali.” Bom tertawa gemas sambil menunjuk salah satu foto ketika Seunghyun merayakan ulang tahunnya yang ke 14.

Mwo? Lucu? Kau orang pertama yang mengatakan aku lucu difoto ini.” Seunghyun menghampiri Bom untuk melihat kembali foto masa kanak-kanaknya.

“Benarkah? Tapi kau memang lucu. Sayang sekali aku tidak bisa mencubit pipi bulatmu saat itu,” ujar Bom lalu mencubit pelan pipi Seunghyun sebelum beranjak melihat foto-foto yang lain. Seunghyun hanya terdiam sambil memegang pipinya yang mulai bersemu. Ia tersenyum.

“Seunghyunnie, tolong antarkan Bom ke kamarnya. Berisitirahatlah sebelum makan malam nanti. Eomma ingin mengabarkan abeoji-mu dulu tentang kedatangan kalian berdua juga menjemput halmoeni dari rumah sakit,” ujar Nyanya Choi dari arah dapur. “Ne eomma!” sahut Seunghyun.

“Oiya, di mana Minhyun?” tanya Bom.

“Ia sibuk dengan klub teater di kampusnya. Bulan depan akan diadakan festival kesenian Gwangju yang diselenggarakan tiap 2 tahun sekali. Kurasa ia akan datang dengan abeoji menjelang makan malam nanti,” ujar Seunghyun lalu mengajak Bom ke kamarnya di lantai dua.

***

Setelah mandi dan selesai membereskan barang bawaannya, Bom mulai mengguling-gulingkan tubuhnya di kasur ukuran king size yang diletakkan di tengah kamar. Bom menghirupi wangi kasur yang ia tiduri lalu tersenyum. Hmmm, wangi. Salah satu kebiasaan –aneh- Bom yang lain, menciumi kasur sebelum ia tidur. Bom terbiasa tidur dikasur yang wangi. “Ah!” Bom teringat sesuatu dan beranjak dari kasurnya. Ia menutup pintu kamarnya dan melangkah perlahan ke kamar Seunghyun yang tak jauh dari kamarnya.

“Tok tok tok.”

Tidak ada jawaban. Bom memutar kenop pintu perlahan. Terbuka. Eoh, tidak ada orang? Bom masuk dan menutup pintu kamar perlahan. Ia mengedarkan pandangan ke tiap penjuru kamar. Kamar Seunghyun sangat rapi. Mungkin karena jarang di tempati. Bom menghampiri meja belajar yang dipenuhi beberapa frame foto.

“Ah, kau di sini?” Suara Seunghyun mengagetkan Bom

Bom mencari sumber suara. “OMO!” Ia terperanjat ketika mendapati Seunghyun berdiri di depan pintu kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian pusar sampai lututnya. Rambut Seunghyun yang setengah basah terlihat sedikit berantakan. Astaga Bom-ah! Kenapa ahjussi itu sangat seksi? Bom merutuki dirinya karena berpikiran macam-macam tentang Seunghyun. Ia langsung melempar pandangannya ke arah lain.

“Sejak kapan kau di sini?” tanya Seunghyun tersenyum.

“Ahjussi, cepat pakai pakaianmu! Kenapa kau bisa santai seperti ini ketika seorang wanita masuk ke kamarmu?” Bom masih memandang ke arah lain.

Waeyo? Kau tidak terbiasa melihatku seperti ini? Bommie-ah, kau harus membiasakan diri melihatku seperti ini. Jika kita menikah nanti kau akan melihat yang lebih dari ini,” goda Seunghyun.

“Ya! Neo michyeosseo!” Bom melempar Seunghyun dengan bantal berbentuk kepiting yang tergeletak di sudut ranjang.

“Aaaah, arasseo arasseo. Aku hanya bercanda.” Seunghyun tertawa lalu mengambil pakaian yang sudah ia siapkan di atas kasurnya. Ia kembali masuk ke kamar mandi sementara Bom mengibaskan kedua tangannya di depan wajah karena merasa panas tiba-tiba. Aigoo, geu ahjussi…

Bom kembali memerhatikan beberapa frame foto yang terjajar di atas meja belajar. Hampir di semua foto yang terpajang memperlihatkan kedekatan Seunghyun dengan teman-temannya. Dan sudah pasti wajah Dara menghiasi hampir di seluruh foto yang ada. Mulai dari Seunghyun dan Dara masih mengenakan seragam sekolah sampai di acara peresmian perusahaan –atau apalah namanya. Ah, ternyata mereka benar-benar bersahabat sejak dulu. Bom menganggukkan kepalanya pelan.

Waeyo?” tanya Seunghyun setelah keluar dari kamar mandi.

“Mereka ini siapa?” Bom balik bertanya sambil menunjuk ke salah satu foto dimana Seunghyun dan Dara serta ketiga teman yang lainnya sedang merayakan hari kelulusan di sekolah menengah. Seunghyun menghampiri Bom dan mengambil frame foto yang dimaksud.

“Kami berlima bersahabat sejak sekolah menengah. Yang tersenyum sangat manis ini Kang Daesung, mungkin kau pernah melihatnya. Ia hadir di pernikahan Jiyeon dan Seungri waktu itu.” Bom mengangguk saat mengingat ia pernah melihat Daesung sebelumnya di pesta pernikahan Jiyeon dan Seungri.

“Lalu yang berambut mohawk ini Dong Youngbae. Ia lebih sering disapa Taeyang. Saat ini ia melanjutkan karirnya sebagai pendiri sekolah dance di Kanada,” ujar Seunghyun sambil menunjuk pada foto pria yang berpose cool dengan rambut mohawknya. Bom mengangguk tersenyum. Aigoo, pria ini lucu.

“Lalu yang terakhir, Yoo In Na. Ia sudah menikah setahun yang lalu dan menetap di Itali dengan suaminya. Terakhir kudengar ia mulai merintis sekolah desain di sana. Ia berjanji akan berkunjung ke Korea setidaknya setahun sekali.” Seunghyun menunjuk wanita yang merangkul Dara dan Seunghyun.

“Setahun sekali? Omo, lama sekali. Apa ia akan datang di pernikahan kita nanti?” tanya Bom. Seunghyun menaikkan sebelah alisnya.

“Pernikahan kita?” Seunghyun balik bertanya dengan senyum menggoda.

“Tentu saja pernikahan kita. Memangnya kau pikir aku akan menikah dengan siapa?” ujar Bom sedikit ketus, menyembunyikan semburat merah dipipinya yang chubby. Seunghyun suka melihat Bom dengan wajah ketus yang membuat pipi Bom terlihat semakin bulat. Ia hanya bisa menepuk pelan pipi Bom sambil tersenyum. Aigoo, gadis ini. Bagaimana aku tidak semakin mencintainya?

“Tentu saja semua sahabatku akan datang di pernikahan kita nanti.”

Bom kembali menganggukkan kepalanya sementara Seunghyun meletakkan frame foto tadi di tempatnya sambil sesekali memandangi beberapa frame yang lain.

“Uwaaaah!” teriak Bom excited saat melangkah ke balkon kamar Seunghyun. Pemandangan dari atas tak kalah indah. Dari sini Bom bisa melihat dengan jelas gunung Mudeung bahkan rumah-rumah penduduk yang lain. Angin sore yang segar berhembus lumayan kencang, membuat anak rambut Bom menari-nari.

“Kemarilah, duduk di sini.” Seunghyun yang lebih dulu sudah mendaratkan tubuhnya dikursi santai yang berada di balkon menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Bom menghampiri Seunghyun lalu duduk sambil meluruskan kakinya, menyejajarkannya dengan kaki Seunghyun.

“Uwah ahjussi. Ternyata kakimu panjang juga,” gumam Bom. Seunghyun terkekeh mendengar pernyataan Bom.

“Tentu saja. Bukankah sudah kukatakan aku ini pria yang nyaris sempurna?” ujar Seunghyun bangga.

Aigoo, lagi-lagi pria yang nyaris sempurna.”

Wae? Memang kenyataannya aku nyaris sempurnya.”

Bom menggumam tak jelas –sedikit mencibir- lalu menengadahkan kepalanya menghadap langit senja. Bias orange matahari tampak begitu memukau. Untuk pertama kalinya Bom memandangi langit senja dengan perasaan tenang. Sudah sangat lama ia tidak menikmati pemandangan seperti ini. Waktunya selalu tersita dengan pekerjaan.

Aigoo, sangat menenangkan. Aku harus berterima kasih pada ahjussi ini karena sudah mengajakku ke sini. Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini. Perlahan Bom menutup matanya, menikmati sentuhan angin sore yang menerpa lembut wajahnya. Sementara di sebelahnya, Seunghyun tak berkedip memandangi Bom. Mengagumi lebih tepatnya. Dadanya berdesir.

Perlahan Seunghyun mencondongkan wajahnya ke arah Bom. Bom masih memejamkan matanya menikmati hembusan angin sambil sesekali menghirup udara segar disekitarnya. Wajah Seunghyun semakin dekat dengan wajah Bom. Bom membuka matanya.

“Ahjussi…” ucapan Bom terhenti ketika ia menolehkan kepalanya ke arah Seunghyun dan mendapati wajah Seunghyun berada tepat di hadapannya. Tubuh Bom kaku seketika. Ia hanya bisa memandangi Seunghyun yang semakin mendekatkan wajahnya. Untuk pertama kalinya Bom menatap Seunghyun tepat di matanya. Bom melihat kelembutan dan kesungguhan di balik tatapan mata Seunghyun yang tajam. Perlahan Bom memejamkan matanya. Wajah Seunghyun semakin dekat. Bom bisa merasakan hembusan napas Seunghyun menerpa wajahnya. Degup jantung Bom melonjak. Dan untuk sesaat kemudian, bibir Seunghyun mendarat dipipi Bom yang merona.

Tiba-tiba ponsel Seunghyun berbunyi, menandakan pesan masuk. Dengan cepat Seunghyun melepaskan bibirnya dari pipi Bom. Seunghyun membuang pandangan ke arah lain, menyembunyikan wajah merahnya. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ehem!” Seunghyun berusaha menghilangkan perasaan nervous yang menghinggapi dirinya. Dengan terburu ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membuka pesan yang cukup ‘mengganggu’nya tadi.

From: Eomma

Aigoo, tadi eomma hampir saja merusak suasana romantis kalian. Lain kali kunci pintu kamarmu! Cepat turun, halmeoni sudah datang!

Seunghyun mendesah pelan. Eomma, kau tetap merusaknya dengan mengirim pesan ini. Seunghyun menoleh ke arah Bom untuk mengajaknya turun. Bom masih diam sambil memegang pipinya –tepat di mana Seunghyun menciumnya- lalu tangannya beralih memegang bibirnya.

“Ahjussi… Kukira kau akan…” Bom masih diam memegang bibirnya.

Mwo? Kau berharap aku menciummu tepat di sini?” tanya Seungyun sambil menunjuk bibirnya.

Ani… Hanya saja…” Bom menundukkan kepalanya.

Seunghyun tersenyum. Bommie-ah, aku memang berniat melakukannya. Hanya saja…

“Baiklah, ayo turun. Halmeoni sudah datang. Kau ingat kan bagaimana harus menyapa halmeoni?” Seunghyun mengusap pelan kepala Bom.

***

Seunghyun merangkul Bom ketika melangkah masuk ke kamar utama di lantai bawah, kamar di mana halmeoni berada. Sesekali Seunghyun mengelus pundak Bom, menenangkan Bom.

Eommoni, Seunghyun dan Bommie sudah datang,” ujar Nyonya Choi ketika melihat Seunghyun dan Bom masuk. Halmeoni tersenyum sumringah ketika melihat cucu kesayangannya menghampirinya bersama kekasihnya. Nenek Seunghyun adalah orang pertama yang sangat gembira ketika mendengar Seunghyun memiliki seorang kekasih. Seunghyun memeluk halmeoni erat cukup lama. Bom bisa melihat mata Seunghyun berkaca-kaca ketika halmeoni mengucapkan beberapa kata mengharukan. Bom langsung menyeka air mata yang hampir turun dari pelupuk matanya.

Seunghyun mengusap matanya yang mulai berair ketika melepaskan pelukannya. “Halmeoni, kudengar kau tidak sabar bertemu dengan Bommie. Bommie-ah, kemarilah. Kenalkan dirimu pada halmeoni.” Seunghyun melambaikan tangannya pada Bom agar mendekat ke arah ranjang, tempat di mana halmeoni istirahat. Bom mengangguk tersenyum. Bom-ah, kau bisa melakukannya!

“Halmeoniiiii!” panggil Bom bersemangat sambil tersenyum berbinar –sangat berbinar-, persis seperti apa yang Seunghyun sarankan. Seunghyun agak terkejut melihat reaksi Bom. Sementara Nyonya Choi tersenyum gemas melihat tingkah Bom. Bom serta-merta datang menghampiri halmeoni dan memeluknya erat-erat. Halmeoni balas memeluk erat. “Aigoo-ya, uri Bommie. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu!” Respon halmeoni sama hebohnya dengan Bom.

Halmeoni, bagaimana kabarmu?” tanya Bom setelah melepaskan pelukannya sambil menggenggam erat kedua tangan halmeoni. Senyum bahagia menghiasi wajah halmeoni. “Aigoo-ya, uri Bommie sangat cantik! Aku merasa sangat sehat sekarang ketika melihatmu! Seunghyun-ah, beruntung sekali kau mempunyai kekasih seperti Bommie!” Seunghyun hanya tersenyum bangga sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian Bom, halmeoni dan Nyonya Choi hanyut dalam pembicaraan khas perempuan.

“Wah, semuanya sudah berkumpul?” sebuah suara penuh wibawa terdengar dari pintu kamar. Tuan Choi melongok sambil tersenyum. “Uwaaaah! Halmeoni! Oppa! Bommie eonni!” Kali ini suara riang terdengar milik Minhyun terdengar. Minhyun berdiri di sebelah ayahnya.

Yeobbo, kau sudah datang?” Nyonya Choi menghampiri suaminya lalu mencium tangan suaminya. Sementara Minhyun mencium tangan Nyonya Choi lalu berlari menghampiri halmeoni dan memeluknya setelah menyapa Bom dan Seunghyun.

“Baiklah, halmeoni akan istirahat. Ayo semuanya berkumpul di ruang makan. Makan malam sudah siap,” ujar Nyonya Choi.

***

“Bagaimana perjalanan kalian tadi?” tanya Tuan Choi sambil beragantian menatap Seunghyun dan Bom yang duduk bersebelahan di hadapannya setelah memimpin doa sebelum makan.

“Perjalanannya menarik. Aku banyak melihat pemandangan yang sebelumnya tidak pernah kulihat selama di Seoul,” jawab Bom excited sambil mengingat apa saja yang ia lihat tadi selama di perjalanan.

“Ah, benarkah? Apa Seunghyun menyetir terlalu cepat?” tanya Tuan Choi lagi.

Ani, ia tidak menyetir terlalu cepat. Ia sangat berhati-hati. Bahkan mengingatkanku pada aturan lalu lintas yang baru.”

“Aturan lalu lintas yang baru? Seingatku tidak ada aturan lalu lintas yang diperbaharui,” ujar Tuan Choi sambil mengingat. Seunghyun hampir tersedak saat menyuap samgyeopsal-nya. Dengan cepat ia meminum air di hadapannya.

“Tidak ada aturan lalu lintas yang baru? Tapi Seunghyun bilang setiap pengemudi dilarang makan selama mengendarai. Jika menggunakan tangan untuk memegang makanan bisa mempengaruhi fokus dalam mengemudi dan menyebabkan kecelakaan.”

“Eonni, kau ditipu olehnya,” ujar Minhyun. Bom mengerutkan keningnya.

“Ia membuat aturan seperti itu agar kau menyuapinya makan. Benar kan, oppa?” tanya Minhyun sambil terkekeh. Seunghyun hanya bisa memandang ke arah lain ketika Bom melemparkan tatapan tajamnya. Tuan & Nyonya Choi serta Minhyun yang duduk di hadapan Seunghyun dan Bom tertawa ketika melihat Bom mencubit lengan Seunghyun dengan gemas.

“Ah, iya. Apa kalian berdua berhasil tadi?” tanya Minhyun ingin tahu. Seunghyun dan Bom menatap heran pada Minhyun.

“Aigoo, jangan pura-pura tidak tahu. Tadi eomma menghubungiku. Katanya ia hampir saja menghancurkan momen romantis kalian. Kalian sedang seperti ini kan?” Minhyun menempelkan salah satu telapak tangannya pada bibirnya yang sengaja ia majukan. Nyonya Choi menyikut lengan anak gadisnya dengan tatapan kenapa-kau-mengatakan-hal-ini tapi Minhyun tak menggubrisnya. “Eoh, eottae?” tanyanya lagi. Wajah Seunghyun dan Bom memerah.

“Ya Choi Minhyun, diamlah!” ujar Seunghyun memperingatkan sambil memicingkan matanya.

“Hey sudah, sudah. Seunghyun, adikmu hanya bertanya. Kau hanya perlu menjawab.” Tuan Choi melerai dan sepertinya –memang- memihak pada Minhyun. Minhyun menjulurkan lidahnya ke arah Seunghyun.

“Kami tidak melakukan apa-apa,” ujar Seunghyun.

Jeongmal? Geotjimal…” Minhyun tak percaya.

“Aku hanya mencium pipinya…” ujar Seunghyun pelan.

Mwo?!” Nyonya Choi hampir saja berteriak.

“Kau hanya mencium pipinya? Aigoo, kukira kau benar-benar menciumnya. Eomma berbaik hati tidak mengganggu suasana romantis kalian tapi kenapa kau hanya mencium pipinya?” Nyonya Choi terlihat kesal dan gemas. Seunghyun hanya menghela napas pasrah.

“Ah, itu. Kurasa tidak penting membicarakan hal ini pada kalian. Benar kan?” Kali ini Bom angkat suara. Ia menggamit lengan Seunghyun sambil tersenyum. Seunghyun mengangguk cepat. “Benar. Ini privasi kami.”

“Baiklah, lanjutkan makannya,” ujar Tuan Choi menyudahi ‘cekcok’ mulut yang sempat terjadi.

***

“Tok, tok, tok.” Pintu kamar Seunghyun diketuk.

“Ahjussi…” panggil Bom dari luar. Bom menunggu Seunghyun membukakan pintu, ia tidak ingin kejadian seperti tadi sore terulang di mana Bom untuk pertama kalinya melihat Seunghyun keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya.

Seunghyun yang sedang menimang sesuatu di tangannya agak terkejut ketika mendengar suara Bom. Dengan cepat Seunghyun memasukkan benda yang sejak tadi ia pegang ke saku celananya. Seunghyun berjalan menuju pintu kamarnya.

Waeyo? Ini sudah hampir tengah malam. Kau tidak bisa tidur?” tanya Seunghyun sambil mempersilakan Bom masuk. Bom mengangguk pelan.

“Aku sudah mencoba memejamkan mataku sejak tadi tapi tetap tidak bisa tidur. Kau sendiri kenapa belum tidur, ahjussi?” Bom merebahkan tubuhnya di kasur Seunghyun sambil menatap langit-langit kamar.

“Ah, aku sedang memikirkan sesuatu.” Seunghyun duduk di tepi ranjang.

“Kau ingin tidur di sini? Denganku?” tanya Seunghyun ketika melihat Bom merasa nyaman berada di atas kasurnya.

“Ahjussi, jangan memulai… Aigoo, kasur ini empuk sekali…” ujar Bom sambil memejamkan matanya.

“Ahjussi, apa kau pernah merasa kesepian jika tidur seorang diri?” tanya Bom kemudian, masih dengan mata tertutup. Seunghyun membenarkan poni Bom yang tidak teratur.

“Apa kau mau menemaniku tidur jika aku kesepian?” Kali ini bantal berbentuk kepiting mengenai wajah Seunghyun. Seunghyun tertawa.

“Ahjussi, aku serius. Entah kenapa aku merasa kesepian jika tidur seorang diri di tempat asing seperti ini.” Bom membuka matanya.

“Kau hanya perlu membiasakan diri. Terkadang suasana berbeda mengharuskan kita untuk beradaptasi. Kau akan akrab dengan rumah ini nantinya,” ujar Seunghyun tersenyum, tangannya beralih mengusap pipi chubby Bom. Entah kenapa Seunghyun sangat suka mengusap pipi Bom belakangan ini.

“Benarkah?” gumam Bom.

“Tentu saja. Aku juga tidak bisa tidur hampir dua minggu ketika pertama kali pindah ke Seoul.” Seunghyun mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menekan tombol off dan beranjak untuk meletakkannya di atas meja belajar. Seunghyun ingin mengunci pintu kamarnya tapi ia urungkan niatnya.

“Ahjussi, apa yang akan kita lakukan besok pagi? Apa kau akan mengajakku ke Deogyusan Park? Atau ke Dolsan Park? Kudengar kedua taman itu sangat terkenal di Gwangju.” Kali ini Bom mengganti posisi tidurnya menjadi duduk saat Seunghyun kembali duduk di tepi ranjang.

“Besok? Menurutmu?” Seunghyun balik bertanya sambil tersenyum penuh arti. Perlahan Seunghyun mencondongkan tubuhnya ke arah Bom. Baru saja Bom membuka mulutnya untuk menjawab, Seunghyun menempelkan bibirnya pada bibir Bom. Mata Bom membulat seketika. Tubuhnya kaku ketika merasakan bibir Seunghyun menempel di bibirnya. Jantungnya bergemuruh. Perlahan Bom memejamkan matanya, menikmati sensasi hangat dan lembut yang ia rasakan dari bibir Seunghyun.

-to be continued-

Gimana part 10-nya? Kyaaaa >__< *authornya kenapa teriak-teriak sendiri?* Hhe, jangan lupa tinggalin komentarnya ya. Yang baru ngasih komentar hanya di beberapa part aja, ayo jangan males (?) isi komen dari awal karena part terakhir nanti akan author protect. Password hanya akan author kasih ke readers yang ngasih komentar dari awal part J Ini untuk menghindari silent readers ya. Sebenernya author belum tau part terakhirnya part berapa karena FF ini masih belum selesai author buat. Tapi untuk jaga-jaga, yang mau minta password di part terakhir nanti bisa hubungi author di kiyanafs@gmail.com dengan subject That Ahjussi Password ya ^^

86 thoughts on “[FF Freelance] That Ahjussi (Part 10)

  1. so sweet,.
    aturan lalu lintas barunya itu aneh banget, bom nya polos banget gak tau kalau ditipu seunghyun

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s