Serial Murder Case [File 3]

Serial Murder Case

Title : Serial Murder Case | Author : RettaVIP | Art : Artfactory ‘s almahonggi99 | Rating : Teen | Genre : Action, Mystery, Thriller, Romance | Length : Chapters | Main Cast : Taecyeon (2PM), Suzy (Miss A), T.O.P (Bigbang) | Supporting Cast : Other Kpop Idols | Disclaimer : Inspired from Detective Conan

“Tenang saja. Ada aku di sini, aku tidak akan membiarkannya membunuhmu.”

“Berlarilah. Jika aku menangkapmu, aku akan membunuhmu.”

Previous File : Teaser | File 1 | File 2 |

2013

06.00 PM

Kim Minjun’s Restaurant, Hongdae, Seoul.

Junho menghentikan cerita Suzy, sepertinya ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas di benaknya. “Noona, bisakah Noona menceritakan apa yang terjadi setelah wine itu terhidang di atas meja lima tahun lalu?” Matanya menatap Suzy dengan tajam, menanti jawaban dengan penasaran. Perasaannya tidak enak, entah apa itu yang mengganggu pikirannya. Ia tak mengerti.

Taecyeon memperhatikan perubahan raut wajah Junho, dan berusaha untuk membaca pikirannya. Kemudian ia memandang Suzy, “Suzy-ssi, maaf merepotkanmu, tapi tolong ceritakan lebih detail lagi.”

Suzy mengangguk bingung, entah mengapa dua orang ini antusias sekali mengenai wine itu. Tapi, dia tidak memikirkannya lagi dan melanjutkan ceritanya.

2008

Rose Cruise

“Asyik, wine-nya sudah sudah datang. Ayo kita minum bersama,” seru Seungri bersemangat sambil membuka tutup wine yang baru saja datang dan menuangkannya ke gelas miliknya.

Daesung mendadak menjitak kepala Seungri hingga membuatnya mengaduh kesakitan. Wooyoung dan Minzy tertawa terbahak-bahak, sedangkan Nichkhun dan TOP hanya menunjukkan ketidaktertarikan mereka, juga Suzy dalam kebingungannya.

“Kau tidak sopan sekali, kalau mau minum, biarkan yang ulang tahun minum dulu. Di mana sopan santunmu?” omel Daesung.

Seungri hanya mengelus-elus kepalanya yang sakit dan mengangguk dengan wajah cemberut. Ia menuangkan wine ke dalam gelas Suzy, lalu memandang Suzy dengan wajah memelas.

Suzy terkikik pelan, “Iya, Seungri, minumlah. Aku akan meminumnya sekarang.” Ia mengangkat gelasnya dan mengajak Seungri bersama yang lainnya untuk bersulang.

Ketika semuanya sudah mengangkat gelas mereka, Wooyoung masih belum menyentuh gelasnya. Mereka memandang Wooyoung dengan pandangan bingung dan bertanya-tanya.

Wooyoung melambaikan tangannya sambil terkekeh, “Sudah, minum saja. Aku tidak suka wine.”

“Apa? Wine begini enak kau tidak suka? Bodoh sekali kau,” ejek Seungri, “Baiklah, kita tidak usah memikirkan Wooyoung, ayo kita minum. Bersulang!”

“Bersulang!”

2013

06.00 PM

Kim Minjun’s Restaurant, Hongdae, Seoul.

“Sepertinya, hanya itu saja tentang wine. Ada apa?” tanya Suzy setelah menyelesaikan ceritanya.

Taecyeon memandang gelas-gelas wine yang berjejer di atas meja bundar itu. Satu persatu ia perhatikan. Mencari apakah ada sesuatu yang aneh, sesuai dengan yang dirasakan oleh Junho. Tapi mencari sampai kapanpun ia tidak akan menemukannya. Begitu juga Junho. Perasaan aneh ini tidak bisa dihilangkan.

“Iya, si Wooyoung memang benar-benar bodoh, lihatlah, sampai sekarang dia masih tidak bisa minum wine,” ejek Seungri lagi. Pada saat itu, pelayan membawakan pudding dan menghidangkannya di meja mereka. “Eh, ada pudding, ayo kita makan.” Seperti biasanya, Seungri dengan antusias memakan pudding itu.

“Seungri-ya, kau juga masih sama saja. Tidak ada sopan santun,” omel Daesung. “Semuanya sama persis dengan lima tahun lalu, hanya saja…” Daesung menatap kursi kosong di sebelah Wooyoung dengan sedih.

“Minzy-ya, aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu,” kata Wooyoung sambil memakan puddingnya. Tak terasa air matanya mulai bercucuran. “Aku ingin bertemu denganmu lagi.”

Daesung menepuk-nepuk bahu Wooyoung, ikut merasa sedih. Seungri juga meletakkan garpunya, mendadak tidak nafsu makan. Suzy menundukkan kepalanya dengan sedih, susah payah menahan air matanya. TOP kemudian memeluknya, yang kemudian membuat tangisannya pecah.

Taecyeon memandang TOP dan Suzy dengan pandangan kosong, perasaannya menjadi aneh melihat mereka berdua saling berpelukan. Tapi, kemudian ia memalingkan wajahnya dan memukul-mukul kepalanya. Apa yang kaupikirkan? Mereka adalah sepasang kekasih, tidak ada salahnya bagi mereka untuk berpelukan, bukan? pikirnya.

Ia kemudian memikirkan lagi teka-teki dibuat oleh pembunuh itu.

Darah adalah sesuatu yang kaubutuhkan, tapi terkadang bisa membahayakanmu.

Apa maksudnya? Aku masih tidak mengerti. pikir Taecyeon bingung. Ia memandang Junho di sebelahnya. Junho sedang mencoret-coret sesuatu pada buku catatannya. Sesaat kemudian ia memegang kepalanya. Taecyeon menghembuskan nafas. Melihatnya, Taecyeon tahu Junho juga tidak menemukan jawabannya.

Kemudian, matanya mengarah ke Suzy. Ia sedang berdoa. Setelah berdoa, ia membuat tanda salib dengan menyentuh dahinya, dadanya, pundak kiri, lalu pundak kanannya.

“Suzy-ssi, kau beragama Katholik?” tanya Taecyeon.

“Iya, mengapa?” tanya Suzy kembali.

Tiba-tiba sesuatu terngiang di benaknya, bagaikan petir yang melintas di atas kepalanya, Taecyeon membelalakkan mata. Tangannya menggapai gelas wine dan piring pudding itu. “Wooyoung-ssi!” teriak Taecyeon histeris.

Semuanya sudah terlambat. Wooyoung terbatuk dengan keras. Kedua tangannya mencekik lehernya sendiri, seakan-akan ingin memuntahkan semua isi perutnya. Matanya melotot dan merah karena pembuluh darah yang sudah pecah. Ia memuntahkan cairan merah yang sangat banyak, kemudian kepalanya terkulai di atas meja. Matanya terbuka, dan kesadarannya pun menghilang, melayang bersama nyawanya.

Suzy berteriak seperti orang kesetanan, bersamaan dengan semua orang di restoran itu. Dengan sigap Chansung, Minjun, Taecyeon, dan Junho menghampiri tubuh Wooyoung, dan memastikannya sekali lagi. Mereka mengenakan sarung tangan putih yang biasa mereka pakai saat bekerja. Tangan mereka mulai meraba-raba leher, pergelangan tangan, dan dadanya, mencari denyut nadi yang tidak pernah muncul lagi. Akhirnya mereka menggeleng-gelengkan kepala.

“Wooyoung-ssi… sudah tidak ada,” kata Junho sambil menunduk.

Suzy menangis dengan heboh dalam pelukan TOP, sedangkan Seungri dan Daesung saling memeluk satu sama lain. Nichkhun…tidak ada perubahan pada wajahnya, dia hanya menaikkan alisnya sedikit, sedikit terkejut akan berita ini.

Setelah mendengar bahwa salah satu pengunjung di restoran ini meninggal, para pengunjung lainnya berhamburan panik ingin secepatnya keluar dari restoran. Beberapa berteriak histeris, beberapa saling mendorong.

“Kepala Detektif Hwang, cepat cegah orang-orang keluar dari sini! Kita tidak boleh membiarkan mereka pergi sebelum kita melakukan pemeriksaan. Detektif Lee, pergi bantu Kepala Detektif Hwang!” seru Minjun tegas, kemudian dia menoleh ke arah Taecyeon. “Sedangkan kau, Detektif Ok, periksalah tubuh korban sementara aku memanggil tim kepolisian dan tim forensik ke sini.” Minjun kemudian berlari keluar dari restoran untuk menelepon.

Taecyeon dengan segera mengamankan gelas wine dan piring pudding yang ia pegang tadi. Ia mengumpat sendiri dalam hati berulang kali. Sial, aku terlambat.

Taecyeon memeriksa keadaan korban lebih dalam, ia mencium aroma di sekitar mulut Wooyoung, dan tercium olehnya bau almond. Taecyeon mengepalkan tangannya dengan emosi.

Almond, aroma yang dihasilkan oleh kalium sianida. Seperti dugaanku, dia diracuni. Siapa yang berani-berani meracuninya di depan mataku? Aku tidak akan memaafkannya. pikir Taecyeon geram.

Taecyeon terus menelusuri tubuh korban tersebut. Ia tidak menemukan apa yang diinginkannya—surat dan mawar.

Apa-apaan pembunuh ini? Tidak meninggalkan petunjuk untuk pembunuhan selanjutnya? Lalu bagaimana aku bisa mencegah kelanjutan dari pembunuhan berseri ini? pikir Taecyeon depresi. Sudahlah, kalau pembunuhan ini sesuai dengan dugaanku, sebaiknya aku mencari pelakunya sekarang.

Taecyeon beranjak pergi dan berjalan masuk ke dalam dapur restoran itu. Setelah menunjukkan lencananya, ia diperbolehkan masuk. Matanya memeriksa seluruh bagian dari dapur itu dan menginterogasi semua orang di dalamnya. Tapi tidak ada seorang pun yang mencurigakan. Semuanya memiliki alibi sempurna karena selama mereka berada di situ tadi, tidak ada seorang pun yang keluar masuk dapur.

Kemudian Taecyeon kembali ke meja makan tempat tubuh Wooyoung berada. Semua tersangka berada di situ, duduk dengan wajah gelap dan suram. Tanpa sadar Taecyeon menggebrak meja dengan jengkel. Semua orang di meja ini pun memiliki alibi sempurna. Lalu siapa yang harus dicurigai? Siapakah pelakunya?

Beast. Kau benar-benar hebat. Tapi jangan bersantai dahulu. Aku tidak akan kalah denganmu, pikir Taecyeon marah.

“Bagaimana ini? Si Beast bertindak semakin cepat. Kita akan semakin cepat mati. Bagaimana?” tanya Seungri panik.

Daesung menjitak kepala Seungri lagi. “Kau ini, bukannya membantu tapi semakin memperparah keadaan. Lihatlah betapa tertekannya Detektif Ok. Kau malah membuatnya semakin depresi saja.”

“Sudahlah jangan ribut. Biarkan Detektif Ok berpikir.” Nichkhun yang sedari tadi diam, tiba-tiba berbicara.

“Tidak apa, Nichkhun-ssi. Kalian lanjutkan saja. Konsentrasiku masih baik,” kata Taecyeon gugup, kaget ketika melihat Nichkhun menegur temannya sendiri. Ia menjadi sungkan.

“Bagaimana, Detektif Ok? Kau menemukan sesuatu?” tanya Suzy sambil menatap mata Taecyeon.

Taecyeon yang salah tingkah karena dipandangi oleh Suzy, cepat-cepat membuang muka dan berdeham. “Belum. Sama sekali tidak ada petunjuk,” jawabnya singkat.

Untung saja saat itu Junho sudah kembali, sehingga Taecyeon bisa menghindari tatapan mata Suzy yang membuatnya salah tingkah itu.

“Tidak ada seorang pun yang mencurigakan di antara pengunjung-pengunjung restoran. Bagaimana denganmu?” tanya Junho.

Taecyeon menggeleng pelan. “Tapi mungkin, aku tahu bagaimana pembunuhan itu dilakukan. Hanya saja aku harus memastikan beberapa hal. Apakah tim forensik sudah sampai? Aku membutuhkan mereka.”

“Tim forensik sudah di sini,” kata Minjun sambil terengah-engah. Kelihatannya dia sangat sibuk kesana kemari daritadi. Minjun menepuk punggung Taecyeon, dan berjalan melalui mereka, menuju Chansung untuk mendiskusikan masalah ini.

“Kebetulan sekali kalian sudah sampai. Tolong periksa gelas dan piring pudding ini secepatnya. Seharusnya benda-benda kimia itu masih tertinggal,” kata Taecyeon tegas, kedua tangannya mengulurkan piring dan gelas yang ia pegang tadi.

“Baik, Detektif Ok,” kata seorang tim forensik yang kemudian mengambil gelas dan piring itu untuk memeriksanya dengan peralatan yang mereka bawa.

“Taecyeon-ah, untuk apa memeriksa gelas dan piring itu? Bukankah itu piring dan gelasmu sendiri? Bukannya lebih baik memeriksa gelas dan piring milik korban?” tanya Junho kebingungan.

Taecyeon memegang pundak Junho. “Berharaplah deduksiku benar.”

2013

08.00 PM

Kim Minjun’s Restaurant, Hongdae, Seoul.

“Detektif Ok, sampai kapan kita harus menunggu di sini? Aku ingin pulang,” rengek Seungri.

“Benar, Detektif Ok. Sampai kapan kau akan menahan kita di sini? Sudah dua jam berlalu. Kami juga butuh istirahat,” protes Daesung.

Mereka yang sedari tadi hanya duduk diam di depan meja bundar, sekarang mulai mengeluarkan suara. Setelah tubuh Wooyoung disingkirkan, mereka harus duduk di situ terus untuk menunggu hasil otopsi dan hasil pemeriksaan yang diminta oleh Taecyeon.

Nichkhun tertidur dengan kepala terkulai di atas meja, sedangkan Suzy bersandar pada bahu TOP yang terus memeluknya. Seungri dan Daesung hanya berdiam diri selama dua jam penuh. Kelihatannya, mereka semua sangat bosan.

“Sabarlah sebentar lagi. Tim forensik sedang mempercepat pekerjaannya.” Taecyeon berusaha menenangkan mereka, tapi ia sendiri tidak tahu dapat menahan mereka sampai berapa lama.

“Detektif Ok, seperti dugaanmu. Memang terdeteksi suatu bahan kimia,” seru seorang dari tim forensik kepada Taecyeon.

Secepat kilat Taecyeon menghampirinya, dan melihat hasil pemeriksaan itu. Senyum penuh arti tersungging di wajahnya. “Sesuai dugaanku.”

###

“Detektif Ok, untuk apa kau mengumpulkan kami semua di sini?” tanya Chansung sedikit malas. Ia harus buru-buru kembali dari kantor polisi Mapo ke restoran ini karena Taecyeon memanggilnya, sedangkan pekerjaannya masih belum selesai. Hari ini ia sudah meninggalkan pekerjaannya karena harus mengawasi kasus pembunuhan berseri yang sedang dihadapi oleh detektif amatiran—menurutnya.

“Kali ini, aku akan menyampaikan deduksiku mengenai pembunuhan Wooyoung-ssi,” jawab Taecyeon tegas. Raut wajahnya berubah serius. Ia memulai deduksinya.

“Pembunuhan ini sebenarnya mudah saja melakukannya, apalagi bila sudah mengetahui kebiasaan korban. Hanya saja, kali ini aku kalah cepat dengan Beast, aku tidak cukup cepat untuk mencegah kematian Wooyoung-ssi. Seperti yang sudah kalian ketahui, Beast memberi teka-teki sebelum ia melakukan pembunuhannya. Aku terus menerus memikirkan teka-teki itu, hingga akhirnya aku memecahkannya, tetapi sayangnya sudah terlambat.

“Teka-teki yang berbunyi ‘Darah adalah sesuatu yang kaubutuhkan, tapi terkadang bisa membahayakanmu.’ terus terngiang di benakku. Dan aku menemukannya ketika aku melihat Suzy membuat tanda salib setelah ia berdoa. Segera setelah itu aku teringat dengan rutinitas gereja—pastor meminum wine dan memakan roti—dan pada saat meminum wine, ia akan mengatakan ‘Darah Kristus’. Inilah yang membuatku mendadak mengerti maksud Beast.

“Dia ingin mengatakan pada kita bahwa kita membutuhkan wine, dan bila kita tidak meminumnya, maka bahaya akan menimpa kita.”

“Jadi maksudmu?” potong Suzy dengan mata membelalak dan kedua tangan menutup mulutnya, pertanda ia sudah mengerti.

“Benar, Suzy-ssi. Satu-satunya yang tidak minum wine adalah Wooyoung-ssi, sehingga dia satu-satunya orang yang terperangkap oleh Beast. Aku sudah melihat hasil pemeriksaan gelas wine dan piring pudding yang kita makan tadi.

“Di dalam pudding itu terdapat kalium sianida—racun yang sangat mematikan—sedangkan di dalam wine itu terdapat amil nitrat—penawar racun kalium sianida. Maka dari itu, kita yang sudah meminum wine dapat menangkal racun yang terdapat dalam pudding. Tetapi Wooyoung-ssi, yang tidak meminum wine, menerima racun mematikan yang langsung menjalar dan menyerang seluruh tubuhnya.

“Yang tadi kumaksud dengan kalah cepat dari Beast adalah, aku sudah mengetahui rencananya dan siapa yang akan ia bunuh, tepat ketika Wooyoung-ssi memakan sesuap pudding. Semuanya sudah terlambat.” Taecyeon menundukkan kepalanya, mengakhiri deduksinya yang sangat memukau.

Mulut Seungri menganga dengan lebar, tak percaya melihat orang sehebat Taecyeon di hadapannya. Ia bertepuk tangan dengan bangga. “Wah, Detektif Ok. Kau hebat sekali. Empat jempol untukmu.”

Daesung dan Nichkhun hanya berpandang-pandangan dengan raut wajah yang dipenuhi tanda tanya. Sedangkan TOP dan Suzy yang sudah pernah mendengar deduksi Taecyeon, tidak menunjukkan reaksi berlebihan seperti yang lainnya.

“Tunggu dulu, Taecyeon-ah. Kalau kau mengatakan bahwa yang dapat melakukannya hanya orang yang mengetahui kebiasaan korban, bukankah itu berarti pelakunya di antara mereka berempat ini?” tanya Junho heboh.

Taecyeon menatap mereka berempat dengan tajam, kemudian terakhir menatap Suzy dengan pandangan penuh belas kasihan.

“Kemungkinan besar, iya.”

2013

10.00 PM

Suzy’s Mansion, Hongdae, Seoul.

“Beruntung sekali aku, dijaga oleh kalian berdua, detektif yang paling kupercaya.” Suzy tersenyum ceria saat membukakan pintu untuk Taecyeon dan Junho.

Rumah Suzy termasuk sangat besar, mengingat dia adalah seorang anak orang kaya, yang   menerima kapal pesiar sebagai hadiah ulang tahunnya. Rumah ini mungkin terlalu besar untuk mereka yang sekarang hanya tinggal bertiga, Suzy, Junho, dan ibu mereka. Namun, kehangatan keluarga ini masih terasa.

“Terimakasih sudah mempercayai kami,” sahut Taecyeon pelan.

Noona, aku naik dulu untuk ganti baju, kalian berbincang-bincanglah saja. Nanti aku yang bilang pada Eomma kalau kau sudah pulang,” kata Junho seraya melesat ke lantai atas rumahnya, meninggalkan Taecyeon dan Suzy yang berdiam kaku.

“Detektif Ok, kau mau minum apa?” tanya Suzy canggung setelah lama hening.

“Ah, terserah saja. Terimakasih,” jawab Taecyeon tidak kalah canggung.

Tidak lama kemudian, mereka kembali berdiam diri.

“Bagaimana awal mula cerita Junho sebelum dia masuk di keluarga ini?” tanya Taecyeon akhirnya untuk mencairkan suasana. “Maaf, mendadak aku penasaran. Junho tidak pernah menceritakan tentang dirinya.”

“Tidak apa-apa. Lagipula dia adalah rekan kerjamu, sudah seharusnya kau mengetahui latar belakangnya.” Suzy berhenti sebentar untuk berdeham. Ia mendongak menatap langit-langit rumahnya yang mewah. “Lima tahun lalu, ayahku dibunuh secara misterius sewaktu kami berada di Rose Cruise. Setelah itu, ibuku menjadi sedih karena sangat kehilangan ayahku.

“Setiap hari kami menyumbangkan sebagian uang kami untuk orang-orang yang membutuhkan. Ketika kami mengunjungi panti asuhan untuk beramal, kami bertemu dengan Junho di sana. Kepribadiannya yang sangat mirip dengan ayahku, membuat ibuku tertarik untuk mengadopsinya. Setelah Junho mendengar tentang ayahku, dia langsung bertekad untuk menjadi detektif dan menemukan pembunuh ayahku.”

Suzy meneguk teh hangatnya setelah menyelesaikan ceritanya. “Lalu, bagaimana denganmu, Detektif Ok? Mengapa kau ingin menjadi detektif?”

Taecyeon meletakkan gelas teh hangatnya yang sudah kosong di meja makan. “Hampir sama dengan alasan Junho. Aku ingin mencari pembunuh kedua orang tuaku. Lima tahun lalu, kedua orang tuaku dibunuh secara misterius.”

“Apa? Lima tahun lalu juga? Mengapa semua masalah ini berhubungan dengan kasus lima tahun lalu? Mulai dari pembunuhan berseri itu, pembunuhan orang tuamu, dan juga pembunuhan ayahku.”

“Entahlah. Aku mempunyai firasat buruk. Kurasa, semuanya pembunuhan ini saling berhubungan. Dan yang lebih kutakutkan lagi, Beast sama sekali bukan lawan yang mudah. Sehari dia sudah membunuh dua orang, aku tidak tahu apa yang akan ia perbuat besok.”

“Detektif Ok,” panggil Suzy pelan. Wajahnya berubah, menunjukkan ketakutan yang amat sangat.

Taecyeon menoleh ke arahnya. “Hmm?”

“Tolong, aku tidak ingin mati. Tolong, lindungi aku. Jangan biarkan dia membunuhku,” tangisan Suzy mulai pecah. Sekujur tubuhnya bergetar. Ia meringkuk dan memeluk tubuh mungilnya dengan kedua lengan.

Taecyeon menghampirinya dan menghapus air mata Suzy dengan tissue. Tanpa diduga, Suzy melingkarkan kedua lengannya di pinggang Taecyeon. Taecyeon tersentak kaget akibat pelukan mendadak dari Suzy. Tetapi ia mengurungkan niatnya untuk melepas pelukan itu. Di dalam lubuk hatinya, tersimpan perasaan ingin melindunginya, dan tidak akan membiarkannya terluka.

Taecyeon balas memeluk Suzy. “Tenang saja, aku tidak akan membiarkan pembunuh itu menyentuhmu, barang sehelai rambut pun.”

Suzy mengangguk di tengah tangisannya. Ia menyandarkan kepalanya pada dada Taecyeon. Taecyeon memberi kehangatan padanya. Hingga akhirnya dia kembali tersenyum. Entah perasaan apa yang Taecyeon berikan padanya. Yang pasti, sangat nyaman.

“Detektif Ok, aku akan melanjutkan cerita lima tahun lalu untukmu, agar kau dapat lebih cepat menemukan pembunuhnya,” kata Suzy ketika tangisannya sudah reda.

“Tunggu aku, Noona. Aku juga ingin dengar,” seru Junho sambil berlari-lari turun dari lantai atas. Dengan segera ia mengambil tempat duduk di sebelah kakaknya itu dan memasang telinga.

2008

Rose Cruise

“Ada apa ini? Mengapa mati lampu?” tanya Suzy bingung. Tangannya masih menggenggam erat tangan Nichkhun, tidak ingin melepasnya.

“Tenang, Suzy. Pasti ada yang tidak beres,” kata Nichkhun berusaha menenangkan. “Teman-teman, kalian berada di mana?”

“Kami di sini,” seru Seungri yang langsung menggenggam tangan Nichkhun yang lainnya.

“Jangan berpisah, jangan lepaskan genggaman tangan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.”

“Suzy bersamamu? TOP di mana?” tanya Daesung.

“Suzy di sini, tapi TOP tidak ada.”

Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Teriakan ketakutan menggema menyusul suara tembakan pistol tersebut. Beberapa dari mereka kalang kabut berlari-lari ke sana ke mari.

“Diam! Kalau tidak ingin ada nyawa yang melayang di antara kalian!” seru salah satu orang yang memegang pistol tersebut.

Tak lama kemudian, lampu ballroom kembali menyala. Di atas panggung telah berdiri sekumpulan orang mengenakan pakaian serba hitam dan dilengkapi dengan pistol. Mereka semua memakai topeng.

“Dengar! Kapal ini sudah kami bajak! Serahkan harta kalian, atau nyawa kalian yang akan kami ambil!” seru salah satu pembajak tersebut sambil menembakkan pistolnya sekali lagi ke atas.

Kali ini, para penumpang hanya membisu dan mengangkat kedua tangan ke atas. Dengan sigap, kelompok pembajak itu berpencar ke seluruh ballroom dan melucuti uang serta perhiasan mereka, kemudian mengikat tangan mereka dengan satu sama lain.

“Kami berenam harus selalu bersama!” seru Nichkhun ketika mereka melepas genggaman tangannya dengan Suzy.

“Baiklah terserah kalian,” kata pembajak itu lalu mengikat mereka berenam bersama.

Setelah semua penumpang di ballroom telah dilucuti sampai bersih, mereka beranjak keluar dari ballroom untuk melucuti harta penumpang di ruang-ruang lainnya.

“Kalian jangan berani-berani keluar dari ruangan ini. Beberapa dari kami akan menjaga pintu ballroom. Bila kalian berani keluar…” Pembajak itu menembakkan pistolnya lagi. “Aku akan menembak kalian tanpa pikir-pikir lagi.”

“Maafkan aku, teman-teman. Karena aku kalian mengalami hal mengerikan ini,” kata Suzy di tengah-tengah isakan tangisnya.

“Tidak apa-apa, Suzy. Kau sendiri juga tidak tahu kalau kapal ini akan dibajak,” kata Daesung menenangkan.

Tiba-tiba ada seorang pria datang menghampiri mereka. “Sst.. Kalian akan kubebaskan. Nanti ikuti aku keluar dari ruangan ini.”

“Terima kasih, terima kasih, Ahjussi,” kata Suzy sambil menundukkan kepalanya berulang kali.

“Namaku Ok Daehwan. Kalian bisa memanggilku, Ok Ahjussi,” sahut pria itu sambil tersenyum.

2013

11.00 PM

Suzy’s Mansion, Hongdae, Seoul.

“Tunggu dulu, kau bilang, Ok Daehwan?” tanya Taecyeon dengan mata yang membelalak.

“Iya, dia yang menyelamatkan kami. Mengapa?” tanya Suzy bingung melihat reaksi Taecyeon.

Taecyeon mencengkeram bahu Junho dengan erat. Sekujur tubuhnya bergetar. Junho menatapnya dengan pandangan bingung. Sampai akhirnya Taecyeon membuka mulutnya.

“Appa…”

###

Maaf ya readers, keluarnya lama banget x_x lagi sibuk nyiapin ujian nasional nih, jadi g sempet buat. hehe. Ini udah diusahain buat, untung sempet hehe. Makasih buat yang udah setia nunggu, sekali lagi maaf >.< Jangan lupa commentnya ya 😀

33 thoughts on “Serial Murder Case [File 3]

  1. Min FF love you lanjutin dong, sama yg carrier angel loven love life like a flower juga. Jangan dibiarin gitu aja ceritanya.

  2. siapa yg dapat menyangka, semuanya tersangkut paut, antara kasus suzy, kematian ayahnya suzy dan kematian ayahnya detektif ok! daebak! paling suka sama penuturan kasus kematian wooyoung nih thor! kereeeeennnnn 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s