[FF Freelance] Blind in Love (Part 7)

blind in love

Title : Blind In Love (Chapter 7) || Author : Anissa A.C (@anissahac) || Rate : PG-15 || Length : 6157 words || Genre : Romance & Family || Cast’s : Kim Taeyeon [GG], Kim Jongwoon [SJ], Tiffany Hwang [GG], Cho Kyuhyun [SJ], Kim  Hyoyeon [GG], Lee Hyukjae [SJ] || Disclaimer : Terinspirasi dari berbagai lagu, novel, drama dan ff lain. Poster and Story originally made by me. Keep reading and commenting. ^^

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6

I’m trying to avoid you but it seems like our fate want us to meet

Menarik.

Ya setidaknya Kim Taeyeon berhasil merubah pandangan Kim Jongwoon terhadapnya. Awalnya Jongwoon mengira gadis itu hanya gadis ceroboh dan temperamen. Namun sedikit demi sedikit sepertinya pandangan itu sudah berubah. Sejak Taewoon dekat dengan sonsaengnimnya itu,  Jongwoon mulai berpikir jika Taeyeon adalah pribadi yang menyenangkan. Hingga beberapa menit yang lalu, gadis itu benar-benar nampak menarik di mata Jongwoon. Pandangan gadis itu tentang takdir telah membuat seorang Kim Jongwoon yang cenderung idealis dan keras kepala tidak bisa menghapuskan satu katapun yang telah keluar dari bibir gadis itu.

Apakah dia mulai menyimpan rasa pada gadis itu? Entahlah. Bagaimanapun juga tidak mudah menghapuskan teori-teori yang selama ini ia pegang dengan pendirian teguh. ‘Ia hanya mencintai satu wanita di hidupnya, yaitu takdirnya, Choi Sooyoung.’ Dan hanya dalam beberapa menit, Kim Taeyeon berhasil menggoyahkan pendiriannya dan entah darimana dorongan-dorongan untuk meleburkan teori ‘kaku’ di hidupnya itu mulai datang.

“Tuan.” Panggil seseorang memecahkan lamunan Jongwoon.

“Ini barang yang anda beli, sudah saya bungkus.” Lanjut seorang pegawai toko baju itu dengan sopan sambil menyodorkan pria itu sebuah tas plastik.

“Ah.. Itu.. Terimakasih.”

Sebagian nyawa Jongwoon bagaikan menguap entah kemana. Hanya untuk menjawab pernyataan seorang pegawai toko, Jongwoon harus berpikir keras dan mengumpulkan kesadarannya hingga akhirnya ia menerima sebuah tas plastik yang disodorkan pegawai toko itu.

‘Ada apa dengan diriku?’

Kali ini pertanyaan itu yang terus Jongwoon utarakan dalam hatinya. Sepanjang melewati jalanan pasar malam yang tergolong semarak ini, Jongwoon nampak sama sekali tidak tertarik. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya. Bahkan mungkin ia tak ingat jika tangannya tengah memegang beberapa tas plastik yang berisi barang-barang belanjaannya.

*****

Kyuhyun nampak tidak tenang. Sudah berjam-jam ia berbaring di tempat tidurnya, namun ia hanya merubah posisi tidurnya. Menghadap ke kanan, lalu menghadap ke kiri, lalu mengulangnya lagi hingga berkali-kali.  Sungguh hanya itu yang ia lakukan. Ucapan singkat Tiffany mengenai Taeyeon tadi, berhasil membuatnya gusar setengah mati. Bagaimana tidak? Ia sudah tak mau berurusan dengan Kim Jongwoon setelah bertahun-tahun ia berusaha menenangkan pikirannya dan merelakan gadis yang amat dicintainya untuk pria itu. Tapi, haruskah kejadian itu terulang kembali?

Dalam sekejap jejak-jejak kenangan antara dirinya dan wanita yang dulu dicintainya, Choi Sooyoung kembali berputar di otaknya. Tidak hanya itu, bahkan otaknya juga membayangkan seorang Kim Taeyeon yang berada di posisi Sooyoung. Seorang wanita yang amat sangat dicintainya namun begitu saja jatuh ke tangan Kim Jongwoon.

Kali ini ia nampak seperti seorang pria yang menyalahkan takdir sepenuhnya. Menyalahkan mengapa ia harus kembali berhadapan dengan Kim Jongwoon untuk masalah yang sama. Memang, Kim Jongwoon belum memiliki hubungan apapun dengan Kim Taeyeon dan belum tentu baik Kim Jongwoon maupun Kim Taeyeon memiliki perasaan khusus satu sama lain. Tapi, jika diperhatikan dari cerita Tiffany, bukanlah hal yang tak mungkin jika ketakutannya itu akan menjadi kenyataan.

Tidak mau tenggelam dalam ekspetasinya yang masih dalam kategori ‘khayalan’, Kyuhyun meraih ponselnya yang ia letakkan di nakas di samping tempat tidurnya lalu menghubungi nomor telepon yang ia harap akan memberikannya suatu kejelasan.

Cukup lama ia menunggu teleponnya diangkat, hingga sebuah suara merdu yang sangat familiar untuk Kyuhyun menyapanya.

“Kyuhyun Oppa?” Suara gadis itu terdengar agak takut dan gugup ketika mengangkat telepon dari Kyuhyun. “Mengapa kau menelepon selarut ini?”

“Setidaknya kau belum tidur kan?” Jika Taeyeon terdengar agak gugup dan takut bak menyembunyikan sesuatu dari Kyuhyun. Kyuhyun justru nampak tenang meskipun sebenarnya ia sangat gusar.

“Ah itu… Aku baru saja selesai mencuci muka dan gosok gigi. Jadi, aku akan tidur sekarang.”

Kyuhyun bisa menangkap kebohongan pada setiap kata yang meluncur dari mulut gadis itu. Ia tahu betul Taeyeon membohonginya agar ia tak cemas. Tapi entah mengapa justru kebohongan gadis itu tak berhasil menenangkannya, justru terdengar begitu mencurigakan dan semakin membuatnya gusar.

“Begitukah? Jadi, apa alasanmu hingga pergi begitu saja meninggalkanku tadi?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Kyuhyun. Pertanyaan yang mengusik hati dan pikirannya sejak tadi. Pertanyaan yang keluar begitu saja dengan nada mengintimidasi.

“Itu…..”

Jongwoon berjalan menelusuri koridor rumah sakit itu sambil matanya sibuk mengamati nomor-nomor kamar yang ia lewati. Menurut keterangan Taeyeon, putranya sudah selesai menjalani operasi dan telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Begitu ia menemukan kamar yang dikatakan Taeyeon, Jongwoon memegang gagang pintu itu lalu membuka pintu itu secara perlahan.

“Ah itu… Aku baru saja selesai mencuci muka dan gosok gigi. Jadi, aku akan tidur sekarang.” Suara Taeyeon terdengar dengan jelas meskipun gadis itu berusaha mengecilkan volume suaranya. Jongwoon bisa menebak, kalau gadis itu sedang bertelepon dengan seseorang, oleh karena itu, ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu itu lebih lebar dan terdiam dalam posisi seperti itu.

“Aku…. Aku ada sedikit masalah Kyuhyun Oppa, jadi aku harus pulang cepat. Maaf tak memberitahumu terlebih dahulu.”

‘Kyuhyun? Cho Kyuhyun?’

“Iya aku janji tak akan mengulangnya lagi. Kau jangan marah lagi ya Oppa…. Jaljayo” Begitu Taeyeon mengakhiri sambungan teleponnya dengan Kyuhyun, Jongwoon langsung membuka pintu kamar itu.

“Dokter Kim! Sejak kapan anda disana?” Kaget Taeyeon.

“Sebenarnya sudah daritadi, tapi aku tak enak masuk begitu saja terlebih kau sedang bertelepon.” Jongwoon hanya menjawab pertanyaan Taeyeon seadanya. Sama sekali tidak terbesit di pikirannya untuk membuat alasan lain.

“Ah, sejak kapan anda harus merasa tak enak padaku. Ini kan kamar putra anda.” Ujar Taeyeon menanggapi alasan Jongwoon.

“Sudahlah..” Ucap Jongwoon sambil meletakkan barang-barang belanjaannya di atas meja yang tak jauh dari sofa yang diduduki Taeyeon. “Oh ya, ini untukmu.” Ucapnya sambil menyodorkan sebuah tas plastik pada Taeyeon.

“Untukku?” Gadis itu nampak bingung sambil menunjuk dirinya. Pada akhirnya ia  menerima plastik itu dan langsung melihat apa isi dari tas plastik itu.

“Baju?”

“Ya baju. Aku memintamu untuk menemaniku menjaga Taewoon. Tak mungkin kan aku membiarkanmu memakai gaunmu itu semalaman. Terlebih… Gaunmu agak terbuka meskipun kau sudah mengenakan tuxedoku.”

Penjelasan Jongwoon berhasil membuat gadis itu tercengang. Ia tak menyangka pria itu masih sempat memikirkannya meskipun ia masih harus memikirkan kondisi putranya yang terbaring lemas di rumah sakit.

“Itu.. Anda tak harus repot-repot membelikan baju untukku.” Ucapnya sambil menundukkan kepala, malu.

“Sudahlah. Justru jika kau tak memakainya kau hanya menyia-nyiakan niat baik dan tenagaku.” Jongwoon kembali menyodorkan tas plastik dan tersenyum melihat gadis itu tertunduk malu.

*****

“Harus aku akui seleranya cukup bagus.” Komentar Taeyeon sembari mematut bayangannya di cermin. Sesekali ia akan memutar tubuhnya untuk melihat penampilannya secara keseluruhan. Kim Jongwoon, pria itu membelikannya  kaos putih polos celana abu dan hoodie  pink tua yang nampak serasi ia kenakan.

Begitu selesai dengan urusannya di kamar mandi, ia pun keluar dan mendapati Jongwoon tengah sibuk menyiapkan makanan di atas meja yang berhadapan dengan sofa.

“Wah, aku tidak tahu ternyata anda suka sekali makan.” Ucap Taeyeon sekedar berbasa-basi.

“Makan? Tentu saja, stress membuatku lapar.” Balas Jongwoon jujur. “Kau juga kan?”

“Aku?” Seru Taeyeon sambil menunjuk dirinya lagi dengan wajah bingung.

“Aku tahu usai berdansa tadi kau langsung ke toilet kan? Lalu bertemu Taewoon hingga berakhir disini.”

Kembali pria itu mengucapkan hal yang sangat tepat. ‘Apa dia begitu memperhatikanku? Ah tidak, jangan berpikir yang tidak-tidak Taeyeon.’

“Ah anda tak usah serepot itu. Lagipula aku baik-baik saja, bukankah aku sudah minum kopi? Dan itu sudah cukup.”

“Sejak kapan kopi dapat disebut makanan? Jangan banyak protes! Lebih baik kau makan saja. Aku tak mau setelah membantuku menjaga Taewoon, justru kau yang sakit.”

‘Astaga pria ini sudah terlalu membuatku menyalah artikan perhatiannya….’

“Baiklah.” Tak mau berdebat lebih panjang dengan Jongwoon, Taeyeon pun memilih untuk menurut dan duduk di sebelah pria itu. Meskipun dalam satu sofa, ia tak lupa untuk memberikan jarak antara dirinya dan pria itu. “Selamat makan.” Ucapnya.

Suasana dingin tanpa ada suara yang saling bersahutan kembali dialami oleh kedua manusia itu. Mereka kembali terdiam dan sibuk dengan makanan serta pikiran masing-masing. Hingga mereka usai makan, entah mengapa tak ada yang kembali membuka topik.

“Biarkan saja biar aku yang rapikan.” Ucap Jongwoon ketika Taeyeon hendak merapikan bungkus-bungkus makanan itu. Dengan segera Jongwoon mengambil bungkus-bungkus makanan itu dari tangan taeyeon dan membuangnya. Ia juga membersihkan peralatan makan yang tadi mereka gunakan. Pria itu nampak sengaja menyibukkan diri, seperti menghindari sesuatu mungkin.

Hingga ia selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, ia mendapati gadis itu sudah tertidur dengan posisi kepala yang miring ke kiri. Dan entah mendapat dorongan dari mana, ia duduk di samping Taeyeon dan memandangi wanita itu.

‘Mukanya nampak begitu polos.’

“Kau tahu, besok lehermu akan sakit jika semalaman tidur dengan posisi seperti itu.” Bisik Jongwoon pada Taeyeon, meskipun ia tahu gadis itu tak akan mendengarnya.

“Kau tahu, bagiku sekarang kau adalah wanita yang mengagumkan dan menarik.” Bisik Jongwoon lagi.

Ia lalu memposisikan kepala gadis itu bersandar di atas bahunya, memastikan dirinya telah mengurangi resiko sakit leher yang mungkin akan diderita wanita itu.

“Selamat malam. Terimakasih untuk hari ini.”

*****

Seorang bocah yang semalaman tidur lelap dalam pengaruh obat bius terbangun tatkala sinar matahari yang menembus ventilasi menggelitik wajahnya. Perlahan mata sipitnya terbuka dan ia harus mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha beradaptasi dengan cahaya yang melintas di matanya. Ia juga meregangkan otot-ototnya yang masih terasa kaku dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

“Dimana aku?” Bingungnya sambil kembali mengedarkan pandangannya berusaha mengingat dimana dirinya saat ini. Seperti mendapat kejutan di pagi hari, ia tertegun ketika matanya menangkap dua insan yang tertidur dengan posisi bersandar di sofa. Sang ayah, Kim Jongwoon tertidur dengan melipat tangannya di depan dada. Dan sonsaengnim kesayangannya, Kim Taeyeon tertidur di pundak sang ayah. Seulas senyuman penuh arti terukir di bibir bocah itu. Bahkan mungkin sakit akibat operasi yang dijalaninya tadi malam tak terasa sama sekali.

“Daddy…..”

*****

“Ayo buka lagi mulutmu Taewoonie…” Taeyeon meminta bocah itu membuka mulutnya lalu menyuapinya dengan sesendok bubur. Taeyeon memang diminta Jongwoon untuk menjaga Taewoon. Taeyeon sendiri bingung ketika ia membuka matanya, pria itu sudah selesai mandi dan mengatakan akan pulang untuk berganti baju karena hari itu ia dipanggil oleh kepala bagian kandungan. Ia juga mengatakan Taeyeon cukup menjaganya sampai Hyoyeon datang, karena setelah itu Hyoyeon yang akan menjaganya.

Cklek

Pintu kamar Taewooon berbunyi bersamaan dengan seseorang yang memasuki ruangan itu.

“Good Morning my Taewoonie.” Sapa Hyoyeon dengan binar di wajahnya. “Ah Taeyeonie, kau masih disini?”

“Good Morning Imo.” Balas Taewoon tak kalah berbinar.

“Ya aku memang masih disini, tapi berhubung kau sudah datang aku akan pulang sekarang.” Ucapnya sambil tetap menyuapi Taewoon.

“Ah iya Taeyeonnie, untung kita bertemu disini. Aku ingin memberikan sesuatu padamu.”

“Sesuatu?”

“Ya. Tunggu sebentar.” Hyoyeon langsung merogoh tasnya berusaha mencari sesuatu yang ia maksud. Begitu mendapatkan yang ia cari, ia langsung mengeluarkannya dan menyodorkan pada Taeyeon.

“Amplop?”

“Ya ini amplop, kemarin ada seseorang yang datang ke Yeonjae menitipkan ini untukmu.”

Tanpa berpikir lebih panjang, Taeyeon langsung mengambil amplop itu dan membukanya. Begitu ia membaca isi surat itu, ia langsung mematung shock.

“Surat apa itu Taeyeoon-ah?” Tanya Hyoyeon penasaran tapi tidak mendapat jawaban dari Taeyeon yang masih mematung shock.

“Hey!” Tak kalah penasaran, Hyoyeon merebut kertas itu dari tangan Taeyeon lalu ikut membacanya. Berbeda dengan Taeyeon yang shock, Hyoyeon justu menatap Taeyeon tak percaya.

“Kyaaaa!!! Kau lulus audisi!!!!” Hyoyeon langsung memeluk Taeyeon dan menepuk-nepuk punggung gadis itu. Ia berteriak histeris seolah dirinyalah yang lulus audisi. Tapi lain halnya dengan Taeyeon, ia justru masih mematung tak percaya.

“Ya!!! Mengapa kau diam saja? Chukae Kim Taeyeon!” Kali ini Hyoyeon berkata dengan nada yang lebih lembut dan memeluk Taeyeon dengan erat sementara Taeyeon  mulai tersenyum.

*****

Sepanjang melewati koridor rumah sakit itu hingga menunggu lift, Taeyeon tak bisa menghapus senyuman dari wajahnya. Harus ia akui, video mabuknya di karaoke itu juga sangat berperan dalam keberhasilannya dalam audisi kali ini. Dan hal itu selalu membuatnya terkekeh geli jika mengingatnya. Cukup lama ia menunggu, akhirnya pintu lift itu terbuka. Entah apa yang ia pikirkan wajahnya langsung berubah kaku begitu melihat sosok yang berdiri dengan angggunnya di dalam lift. Tiffany Hwang.

“Nona Kim. Ayo masuk.” Ucap Tiffany sambil tersenyum. Ucapan wanita anggun itu berhasil menyadarkan Taeyeon dari lamunannya dan masuk ke dalam lift itu. “Kau mau ke lantai berapa?”

“Lobby.”

“Ah tujuan kita sama rupanya.”

Lift itu terus bergerak turun, tapi kedua manusia di dalam lift itu hanya saling berdiam diri. Hingga akhirnya lift itu berhenti dan terbuka, belum sempat Taeyeon berkata untuk sekedar pamit, Tiffany sudah duluan mengeluarkan kalimatnya.

“Nona Kim, apakah anda sibuk?”

Taeyeon mengernyit tak mengerti, pasalnya sejak kapan wanita yang tidak ia kenal ini ingin tahu urusannya?

“T-tidak. Apakah anda ada keperluan denganku?”

“Bisakah kita berbicara?”

‘Jangan katakan kalau dia salah paham padaku.’

Taeyeon meremas kedua tangannya  satu sama lain di bawah meja.  Perasaan gugup sekaligus takut perlahan mulai menjalar di pikirannya. Bukankah aneh jika ia yang selama ini tidak pernah berurusan dengan Tiffany Hwang tiba-tiba diajak berbicara empat mata seperti ini? Dan sebagai orang yang tidak dapat dikategorikan bodoh, Taeyeon tahu betul apa yang akan dibicarakan wanita itu dari sorot matanya. Apa lagi kalau bukan Kim Jongwoon. Bahkan wanita itu rela mengajaknya ke sebuah kafe yang cukup jauh dari rumah sakit, tentu saja Taeyeon menyadari Tiffany tak ingin Jongwoon memergokinya sedang berbicara dengan Taeyeon.

“Maaf aku membiarkanmu menunggu lama, antriannya cukup panjang.” Gadis bermata indah itu duduk dihadapan Taeyeon sambil meletakkan nampan berisi 2 gelas Ice Coffee dan beberapa jenis kue seperti danish, donat dan tiramisu.

“Justru aku yang minta maaf, kau jadi repot-repot seperti ini.” Taeyeon mengangkat kepalanya sedikit ia benar-benar tak kuasa jika matanya harus bertemu dengan mata wanita itu.

“Sudahlah, lebih baik kau minum dulu. Oh ya kue di kafe ini enak-enak lho, kau harus mencobanya.” Masih dengan senyuman yang entah artinya apa, wanita itu mempersilahkan Taeyeon untuk menikmati kue-kue dan ice coffee yang ia bawa. Dengan ragu, taeyeon mengambil salah satu gelas ice coffee itu dan menyeruputnya.

“Bisa kita memulai pembicaraan kita sekarang?” Raut wajah Tiffany berubah serius.

“T-tentu.” Menyadari perubahan raut wajah Tiffany, Taeyeon bertambah kikuk dan tidak enak hati pada Tiffany.

“Boleh aku tahu kau ada hubungan apa dengan Jongwoon Oppa?”

Dindong. Tepat sasaran. Sesuai dugaan Taeyeon, wanita itu sepertinya menyimpan kecurigaan pada dirinya.

“Jongwoon Oppa, Eh bukan maksudku Dokter Kim, bukankah anda sendiri tahu kalau kami itu tetangga dan aku guru Taewoon di sekolah?”

“Kau yakin hanya sebatas itu? Kau tak memiliki perasaan khusus kan padanya?”

Meskipun ini kali pertama Taeyeon berbicara dengannya, Taeyeon sangat menyadari jika wanita anggun di hadapannya ini punya mulut bak mata panah yang siap menancap tepat sasaran. Ia sangat yakin jika hubungannya dengan Jongwoon hanya sebatas itu, tapi bagaimana dengan perasaan? Entahlah akhir-akhir ini perilaku pria itu terhadapnya sering membuat jantungnya berdetak tak karuan.

“Ya, hubungan kami hanya sebatas itu. Aku juga tak memiliki perasan khusus padanya.”

Pada akhirnya Taeyeon memilih untuk menegaskan pada wanita dihadapannya jika ia tak memiliki perasaan khusus pada pria itu. Lagipula, ia tahu jawaban itulah yang diharapkan Tiffany keluar dari mulutnya.

“Maukah kau berjanji satu hal padaku nona Kim?”

Raut serius wajah Tiffany perlahan melunak tergantikan dengan wajah memohon. Perlahan tangan mulus gadis itu menyentuh tangan Taeyeon dan menggenggamnya.

“Aku mohon padamu, berjanjilah agar tidak memiliki perasan pada Jongwoon Oppa. Jangan biarkan juga pria itu memiliki perasaan padamu.”

“…..”

“Mengapa kau hanya diam? Bukankah kau bilang kau tak memiliki perasaan apapun pada Jongwoon Oppa? Dengan begitu tidak sulit kan?” Suara Tiffany terdengar menuntut.

“Apakah anda mencintainya, Dokter Hwang?” Tanya Taeyeon pelan.

Tiffany cukup tertegun mendengar pertanyaan yang justru keluar dari mulut wanita di hadapannya. Tapi ia sadar, ia harus jujur jika ia ingin mempertahankan apa yang ia inginkan.

“Ya aku mencintainya…. Bahkan sejak 10 tahun yang lalu.” Ucapnya lirih.

Taeyeon menghela nafas panjang. Ia benar-benar seperti telur diujung tanduk. Meskipun belum bisa memastikan perasannya kepada pria itu, bukan tak mungkin jika suatu hari nanti ia akan jatuh pada pria itu. Tapi disisi lain ia bisa merasakan bagaimana Tiffany begitu mencintai pria itu. Ia tak bisa begitu saja mementingkan egonya dan membiarkan orang lain terluka kan?

“Nona Taeyeon…” Lirih Tiffany lagi.

“Baiklah.” Akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Taeyeon. Meskipun ia masih merasa ragu akan keputusannya, ia yakin dirinya hanya perlu belajar mengendalikan diri dan mulai menghindari pria itu, sehingga perasaannya pada pria itu tak akan berkembang menjadi sebuah perasaan yang lebih khusus.

*****

“Kim Taewoon.”

Hyoyeon berbisik pada Taewoon yang sedang berbaring di kasurnya.

“Ne imo?” Ucap Bocah itu sambil menolehkan kepalanya lemah.

“Bagaimana Daddymu?”

“Daddy? Daddy baik-baik saja. Mengapa imo menanyakan daddy? Seharusnya imo menanyakan keadaanku.” Bocah itu memasang ekspresi sebal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aisssh, bocah ini. Maksud Imo, daddymu dan… Ya kau tahu kan sonsaengnimmu…”

Dalam sekejap mata bocah itu memancarkan sebuah sinar. Senyuman  penuh arti juga tersungging di bibirnya.

“Imo, ini adalah rahasia?” Ucapnya sambil meletakkan kelingkingnya di depan wajah Hyoyeon. Senyuman berbinar itu belum lepas dari wajahnya.

“Rahasia?” Hyoyeon hanya mengernyit tak mengerti. Namun melihat senyuman nakal keponakannya itu, ia tahu ada sesuatu yang ia lewatkan.

“Pinky Promise dulu Imo.”

Menyadari keinginan keponakannya itu, Hyoyeon menyodorkan kelingkingnya dan menautkannya dengan milik Taewoon.

“Sini kemarikan telinga Imo padaku.”

Perlahan Hyoyeon memposisikan telinganya sejajar dengan bibir bocah itu dan membiarkan bocah itu membisikkan hal-hal yang sekiranya dapat membunuh rasa penasarannya.

“…….”

“Benarkah?” Hyoyeon memasang wajah kaget. Dan bocah itu menganggukkan kepalanya dengan yakin.

Cklek

Suara dari pintu kamar itu membuat Hyoyeon spontan menegakkan badannya dan berhadapan dengan sang pembuka pintu.

“Hyoyeon?” Ucap sang pembuka itu, Kim Jongwoon.

“Hai Oppa. Bagaimana pertemuanmu dengan kepala bagian kandungan?” Hyoyeon seperti maling tertangkap basah. Pertanyaan basa-basi itu spontan keluar dari mulutnya untuk menutupi kekagetannya.

“Tumben sekali kau menanyakan hal seperti itu. Pertemuannya baik-baik saja. Jadi bagaimana kabar anakku ini, apa sudah baikan?” Jongwoon menjawab pertanyaan Hyoyeon dengan tatapan heran namun segera mengalihkannya pada putranya itu. Tidak seperti sang bibi yang nampak seperti perampok yang tertangkap basah, Taewoon justru nampak tersenyum geli.

“Tentu saja aku sudah sehat. Tapi daddy, perutku ini masih sakit.” Ujar Taewoon sambil menunjuk perut sebelah kanannya.

“Tentu saja itu artinya kau belum sehat. Dan wajar saja rasanya sakit, kau kan baru saja menjalani operasi.” Jongwoon tersenyum gemas pada putranya itu lalu mengacak rambut Taewoon dengan lembut. “Sekarang kau beristirahat dulu, arasso?”

“Ne.”

Jongwoon membenahi posisi tidur Taewoon juga selimut yang dikenakan putranya itu. Tak lupa ia mencium kening putranya sekilas lalu duduk di samping Hyoyeon di sofa yang menjadi tempatnya menghabiskan malam di rumah sakit itu.

“Jadi..” Ujar Hyoyeon mencoba menarik perhatian Jongwoon.

“Jadi?” Ulang Jongwoon dengan bingung.

“Jadi bagaimana rasanya menghabiskan malam menjaga bocah sakit dengan seorang wanita?”

“Wanita? Ah maksudmu Taeyeon-ssi? Sama saja. Lagipula dia hanya menemaniku.” Jawab Jongwoon dengan tenang dan dingin. Seperti ciri khasnya.

“Kau yakin? Hey kau menghabiskan malam berdua dengan seorang wanita. Tak mungkin tak terjadi ‘sesuatu’ kan?” Kali ini Hyoyeon bertanya dengan nada dan tatapan curiga.

“Ya! Apa kau sedang berpikir ‘sesuatu’ itu dengan konotasi yang negatif? Kau sendiri tahu kan kami di rumah sakit. Hal-hal seperti apa yang kau harapkan terjadi?” Jongwoon berusaha menjawab dengan nada cueknya, meskipun ia nyaris salah tingkah di hadapan adik angkatnya itu. “Lagipula, kami tak memiliki hubungan khusus. Jadi jangan mengharapkan hal yang tidak-tidak.” Tambahnya sambil mengalihkan muka.

“Tapi kan kalian berdansa sebelumnya, siapa tahu…” Ucapan Hyoyeon terhenti ketika Jongwoon kembali menolehkan kepalanya dengan pandangan tajam seolah berkata ‘tutup mulutmu atau kau akan tahu akibatnya’. Melihat reaksi yang diberikan sang kakak, Hyoyeon memasang wajah sebal dan mengerucutkan bibirnya.

“Huh, aku curiga Oppaku ini jangan-jangan sudah terkena kelainan setelah sekian lama menduda. Bagaimana bisa ia tak merasakan apa-apa setelah menghabiskan malam dengan seorang wanita.” Tanpa memperdulikan tatapan membunuh Jongwoon, Hyoyeon kembali menyerangnya dengan cibiran  sarkatisnya.

“YA! KIM HYOYEON-SSI!” Jongwoon sudah tak bisa menahan emosi terhadap adiknya itu akhirnya meledak dan membentak Hyoyeon.

“Ya! Kim Jonwgoon-ssi, seharusnya sebagai dokter kau tahu ini adalah rumah sakit. Kau tak boleh berteriak seperti itu!” Wanita itu tak jera meskipun Jongwoon telah membentaknya. Ia malah balik menyeramahi kakaknya itu dengan wajah tak kalah emosi.

“Geez, wanita ini.” Hanya umpatan itu yang keluar dari mulut Jongwoon. Sementara Hyoyeon hanya mencibir kesal.

“Aku akui dia wanita yang cukup menarik. Jangan mengharapkan jawaban lebih dariku, Kim Hyoyeon-ssi.” Setelah pertengkaran kecil yang terjadi akibat hal sepele itu, Jongwoon memilih mengalah. Ia memilih untuk berkata jujur, meskipun ia tak yakin  perkataannya itu apakah sudah sepenuhnya jujur. Ia membuang muka tak mau menghadap Hyoyeon karena ia yakin adiknya itu akan mengharapkan jawaban lebih.

‘Kena kau Kim Jongwoon.’ Gumam Hyoyeon sambil tersenyum dalam hati.

*****

Sudah seminggu sejak hari itu. Taeyeon kini disibukkan dengan padatnya jadwal latihan di Sunghwa Musical Company. Usai pulang mengajar di Taejo, ia akan langsung menuju gedung Sunghwa untuk latihan. Jika hari sabtu dan minggu, ia akan menghabiskan waktunya di ruang latihan sejak matahari terbit hingga kembali lagi ke peraduan. Memang rasa lelah dan bosan selalu menghampiri wanita itu, tapi bukankah ini merupakan salah satu cara terbaik? Tentu saja cara ini sangat efektif untuk dirinya menepati janjinya dengan Tiffany. Dengan kesibukannya sekarang, ia jarang bertemu bocah laki-laki bernama Kim Taewoon jika ia tak memiliki jadwal mengajar di kelas itu. Tidak hanya itu, ia juga tidak pernah bertemu dengan dokter Kim Jongwoon lagi. Bukankah ini yang ia harapkan? Tidak berurusan dengan Kim Jongwoon lagi.

BRAAK

Taeyeon menghempaskan tubuhnya di kursi miliknya di ruang guru Taejo lalu menenggelamkan kepalanya diatas kedua tangannya yang ia lipat di atas meja. Victoria yang posisi mejanya berada di sebelah Taeyeon menolehkan kepalanya lalu menggelengkannya heran.

“Sampai jam berapa kau latihan kemarin?”

“Sembilan.” Jawabnya tanpa mengangkat kepala.

“Apa kau lapar? Kalau kau lapar aku akan mengambilkan jatah makan siangmu di depan.” Dengan penuh rasa iba, wanita yang tengah hamil itu menawari Taeyeon jasanya.

“Tentu saja, dengan senang hati.” Jawabnya tanpa merubah posisi duduknya.

Selang beberapa menit, Victoria kembali dengan dua nampan di tangannya lalu meletakkan salah satunya di atas meja Taeyeon.

“Karena Shin sonsaengnim tidak masuk, jadi tentu saja ada jatah susu lebih. Oleh karena itu, aku ambilkan untukmu dua kotak, agar kau lebih bertenaga.”

Mendengar ucapan Victoria, Taeyeon mengangkat kepalanya dan tersenyum.

“Gomawo.”

“Cheonma. O ya kapan musikalmu itu akan mulai dipentaskan?”. Kini Victoria mencoba mengajak Taeyeon berbicara sambil mulai menyantap makanannya.

“2 bulan lagi kalau tidak salah. Ngomong-mgonong usia kandunganmu sudah menginjak bulan keberapa?” Jawabnya sambil menyantap makan siangnya dengan tidak bersemangat.

“Usia kandunganku sudah menginjak bulan ke empat. Ah Taeyeon-ssi, apa kau ingat dokter tampan di rumah sakit itu? Dokter Kim Jongwoon?”

‘Bagaimana bisa aku tidak mengingatnya.’

“Hm, sepertinya aku mengingatnya samar-samar. Memangnya ada apa sampai kau begitu antusias menyebut namanya?”

“Sejak kau mengantarku saat itu, setiap aku memeriksakan kandunganku ke rumah sakit, aku akan memilih dokter itu. Ah dokter itu sangat tampan.” Ujarnya sambil menghayal.

Taeyeon menyendokkan sesuap nasi dengan ukuran yang cukup besar lalu menyuapkan ke dalam mulutnya. “Hei,  mau kau apakan suamimu?” Ucapnya dengan mulut yang penuh berisi makanan.

“Anggap saja aku sedang fangirling.” Tukas Victoria sambil mengangkat bahunya.

“Kau harus ingat usia.” Ujar Taeyeon berlaga seperti menasihati Victoria.

“Diluar sana banyak ahjuma dan ahjussi yang menjadi seorang fans. Jadi bukankah itu wajar.” Jawab Victoria tak mau kalah.

“Huh, yasudahlah, terserahmu.” Sungut Taeyeon kesal.

“Yeobseyo kyuhyun Oppa…… Ya aku sedang menuju lobby sekarang… Hujan?.. Ah tidak perlu, aku bisa keluar tanpa payung…. Iya sungguh…. Baiklah anyeong.” Sepanjang melewati koridor sekolah itu, Taeyeon menjawab telepon sambil menjepit ponselnya diantara bahu dan telinganya. Kedua tangannya sibuk memegang paperbag yang berisi perlengkapannya untuk latihan sore itu. Hingga ia tiba di pintu utama gedung sekolah itu, ia cukup tercengang melihat begitu banyak murid yang masih tertahan karena derasnya hujan.

“Ternyata dia benar, hujannya cukup deras.” Ujarnya begitu melihat keadaan diluar sekolah itu yang diguyur hujan yang cukup deras. Taeyeon menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya lalu kembali menatap air hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda.

“Tidak ada waktu lagi. Tidak ada pilihan lain.”

Taeyeon berlari menuju pintu gerbang sekolah dengan kedua paperbagnya ia gunakan untuk melindungi kepalanya. Namun ketika ia menyadari sosok yang datang dari arah berlawanan, spontan ia sedikit memiringkan kedua paperbagnya untuk menutupi sedikit wajahnya dari sosok itu. Kim Jongwoon, pria itu berjalan dengan sebuah payung ditangannya, dan Taeyeon tahu betul pria itu datang untuk menjemput sang putra.

Tepat ketika mereka berpapasan, Taeyeon tidak mengubrisnya. Jongwoon yang awalnya berniat menyapa namun menyadari dirinya tak digubris, memutar badannya sedikit dan menatap punggung gadis itu yang sudah semakin jauh.

‘Apa dia tak melihatku?’

Jongwoon terus memperhatikan gadis itu hingga ia masuk ke dalam sebuah mobil. Meskipun hari itu hujan turun cukup deras, ia bisa melihat dari kejauhan pria yang ada di belakang kemudi itu adalah Cho Kyuhyun.

‘Ck Cho Kyuhyun.’ Ucapnya sambil mendecakkan lidahnya.

“Woaaa Daddy, hujannya cukup deras dan sangat dingin.” Seru Taewoon ketika ia masuk ke dalam mobil bersama sang ayah.

“Pak Jung bisa aku minta sweater Taewoon yang tadi aku minta?” Pinta Jongwoon sopan pada pria paruh  baya yang ia panggil Pak Jung. Pria itu lantas mengambilkan sebuah paperbag yang ia letakkan di kursi sebelahnya lalu memberikannya pada Jongwoon.

“Ini Tuan Kim.”

Jongwoon menerima paperbag itu dan tersenyum. “Terimakasih Pak Jung.” Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah sweater merah dari paperbag itu dan menyodorkannya pada Taewoon.

“Ne, sama-sama Tuan Kim.”

“Oh ya Taewoonie, tadi daddy bertemu dengan Kim sonsaengnim ketika daddy menjemputmu.”

“Jeongmal?” Seru bocah itu sambil mengenakan sweaternya. Begitu sweaternya terpasang sempurna di tubuhnya ia kembali melanjutkan kalimatnya. “Wah daddy tahu tidak, sekarang aku sangaaaaaat jarang bertemu dengan Taeyeon sonsaengnim. Kalaupun bertemu hanya sebatas saat jam pelajarannya di kelasku. Jadi sekarang aku malas pergi ke perpustakaan.” Cerita bocah itu antusias.

“Jarang? Bagaimana bisa? Seharusnya kau masih sering bertemu di luar kelas kan?”

“Sekarang Taeyeon sonsaengnim jarang menghabiskan waktu di sekolah dan sangat sering mengambil cuti. Setiap aku ke Yeonjae aku juga tidak pernah bertemu dengan Taeyeon sonsaengnim.”

“Cuti?” Heran Jongwoon sambil mengerutkan dahinya.

“Sonsaengnim kan lulus audisi musikal, jadi ia harus rutin latihan.”

“Oh begitu.”

*****

Tiffany memasuki rumahnya dengan kondisi badan cukup lelah. Sedari tadi, matanya seperti menuntutnya untuk segera berbaring dan mengistirahatkannya. Hari ini ia menerima pasien yang lebih banyak dari biasanya, tentu saja salah satu faktor penyebabnya adalah hujan deras yang akhir-akhir ini mengguyur Seoul.

“Nona Hwang.” Panggil salah seorang pelayan paruh baya, pelayan itu mendekati Tiffany yang baru melangkahkan satu kakinya di tangga.

“Baek Ahjumma. Waeyo?”

“Tuan dan Nyonya menunggu anda di ruangan Tuan Hwang. Saya diminta untuk mengatakannya pada anda ketika anda sampai.”

‘Astaga tak bisakah aku beristirahat.’

“Baiklah aku akan kesana sekarang.” Jawab Tiffany sambil berusaha tersenyum.

Dengan berat hati, Tiffany melangkahkan kakinya menuju ruang yang dimaksud Baek Ahjumma. Sebelum ia memasuki ruangan itu, ia mengetuk pintu lalu membukanya secara perlahan.

“Ada apa Appa dan Eomma memanggilku?” Tanyanya datar ketika memasuki ruangan kerja ayahnya itu.

“Duduklah dulu.” Ucap sang ibu lembut sembari tersenyum. Seperti mendapat sinyal, insting gadis itu mengatakan sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi. Dengan malas Tiffany duduk di sebuah sofa yang berhadapan langsung dengan sofa yang di duduki kedua orang tuanya.

“Bagaimana pekerjaanmu di rumah sakit?” Tanya sang ayah dengan suara beratnya. Dan Tiffany selalu menyukai suara berat namun terkesan bijak itu.

Ia tersenyum sejenak. “Tentu saja pekerjaanku baik-baik saja. Hari ini jumlah anak-anak yang datang bersama orang tuanya bertambah dari biasanya. Wajar saja cuacanya sedang tidak bersahabat. Ayah sendiri, bagaimana pekerjaan ayah?” Kali ini ia sudah lebih bisa membuka diri untuk mengobrol dengan kedua orang tuanya dan mencoba melupakan rasa lelahnya.

“Tentu saja baik. Tapi, apakah kau sangat sibuk? Hingga ayah tak pernah melihatmu pergi berkencan atau sekedar bertemu seorang pria.” Ujar sang ayah dengan tatapan menggoda. Sementara  Nyonya Hwang yang duduk di sebelahnya tersenyum geli.

“Tentu saja aku pernah. Aku sering bertemu dengan Jongwoon Oppa.” Jawab Tiffany singkat.

“Tapi Kim Jongwoon bukan kekasihmu kan?” Kali ini sang ibu ikut menimpali.

“Itu…” Gadis itu nampak bingung dan tak tau harus mengatakan apa.

“Eomma tau kau sangat menyukai Jongwoon sudah sejak lama, tapi Eomma sarankan jangan berpikir untuk mendekatinya lebih jauh.” Ucap nyonya Hwang serius.

Perkataan sang ibu berhasil membuat Tiffany tercengang sekaligus tak mengerti. Ia menatap sang ibu dengan tatapan tak percaya sekaligus meminta penjelasan.

“Apa yang sebenarnya Appa dan Eomma ingin bicarakan?” Tiffany yang mulai menyadari arah pembicaraan orang tuanya mulai menahan dirinya agar tetap bersikap sopan di hadapan kedua orang tuanya itu.

“Eomma tak ingin kau mengejar-ngejar duda itu.” Tegas Eomma Tiffany.

“A-apa m-maksud Eomma?”

“Kau tidak berpikir untuk menyerahkan hidupmu pada seorang duda kan?” Kali ini ibunya berbicara dengan nada skeptis.

“Eomma!” Pekiknya sambil berusaha menahan emosi.

“Kim Jongwoon itu adalah seorang duda, terlebih dia sudah memiliki seorang anak. Bagaimana bisa Appa dan Eomma membiarkanmu menikah dengan pria seperti itu. Dan bagaimana kau bisa menikmati kehidupan pernikahanmu jika dari awal saja kau sudah menanggung beban yang cukup besar, yaitu seorang putra berumur tujuh tahun yang jelas-jelas bukan tanggung jawabmu.”

“Eomma, aku mencintai Jongwoon Oppa. Aku juga sangat menyayangi Taewoon. Dan perlu Eomma ingat, Taewoon bukanlah beban untukku. Lagipula sejak kapan Eomma membeda-bedakan orang berdasarkan statusnya seperti ini?.” Kembali Tiffany memekik kesal.

“Eomma akui, terlepas dari statusnya serta putranya, ia merupakan seorang pria yang baik. Tapi tak pernahkah kau memikirkan masalah yang kedua orang tuamu ini hadapi?” Nyonya Hwang menatap dalam-dalam mata Tiffany, mencoba meminta putri semata wayangnya ini untuk mengerti perasaannya saat ini.

“Masalah?” Ulangnya tak mengerti.

“Stephanie, kau adalah seorang putri dari salah satu keluarga konglomerat Korea Selatan. Sudah cukup ayah dan ibu mengalah padamu. Membiarkanmu melepaskan kewajibanmu sebagai seorang business woman yang harusnya membawa nama baik Youngsan Group dan menjadi seorang dokter. Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana kalutnya perasaan kami memikirkan penerus kami di masa depan?.”

Penjelasan sang ibu berhasil membuat Tiffany mematung serta menatap kosong ke depan. Penjelasan ibunya ini berhasil menyadarkan dirinya akan keegoisan yang telah ia perbuat. Benar kata sang eomma, seharusnya ia meneruskan bisnis kedua orang tuanya, bukannya mengikuti ego serta perasaanya menjadi seorang dokter seperti saat ini. Tapi bukankah penyesalan itu tak ada gunanya jika kita baru menyadarinya di akhir?

“Benar kata eommamu Fany-ah.” Singkat Tuan Hwang membenarkan.

“Jadi, apa hubungannya Jongwoon Oppa dengan masalah ayah dan ibu saat ini?” Kini Tiffany hanya bisa bertanya dengan lirih.

Tuan Hwang menghela nafas panjang. “Seperti kata Eommamu, Jongwoon memiliki kehidupan yang akan berdampak cukup keras bagimu jika kau bersamanya. Ia juga sudah memliki pekerjaan sebagai seorang dokter, sehingga ia tak mungkin meneruskan bisnis kami. Jadi mengingat kau juga belum memiliki pasangan, kami akan…”

“Akan?”

“Appa ingin menjodohkanmu dengan putra kolega bisnis appa. Perusahaan kita sudah menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Jadi jika kau menikah dengannya, ayah bisa membiarkannya meneruskan perusahaan kita di samping ia juga penerus perusahaannya.”

“Apakah aku harus menerima perjodohan ini?” Tiffany menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak tahu apakah ia harus menerima atau menolaknya.

“Appa dan Eomma ingin kau menikah dengannya karena kami tahu ia adalah anak yang baik dan dapat dipercaya. Percayalah, tidak buruk mengikuti keinginan orang tuamu fany-ah. Kalian bisa berkenalan dulu, tapi jika di akhir kalian tidak menemukan kecocokan, kami tak bisa memaksa.” Kali ini sang eomma kembali angkat bicara, namun tidak skeptis seperti halnya tadi.

“Kau tak harus langsung menikah, kalian bisa kencan buta dulu, lalu menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih sebelum akhirnya melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.” Sang ayah menasihati dengan gaya bicaranya yang penuh kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang selalu disukai Tiffany dan kebijaksanaan yang menjadi kelemahannya.

“B-baiklah.” Kata itu begitu saja keluar dari bibirnya. Mungkin ia terlalu dihantui perasaan bersalahnya setelah kedua orangtuanya mengungkit kesalahan yang pernah ia perbuat karena keegoisannya. Dan meskipun berat, Tiffany tahu ini merupakan satu-satunya cara untuk membayar kesalahannya.

“Kalau kau sudah setuju, besok kalian bisa bertemu. Nanti Appa akan memberi tahumu kemana kau harus bertemu dengannya.”

“Arata.” Jawabnya tak bersemangat.  “Appa, Eomma, aku lelah, aku akan tidur sekarang. Good Night.” Dengan lesu Tiffany keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju kamarnya.

Tidak memaksa? Yang benar saja, aku yakin sekali pada akhirnya aku akan diberikan sejuta permohonan untuk menikahi orang itu.’

“Arrgh.”

Ditengah pikiran yang berkecamuk di otaknya, tiba-tiba Tiffany merasakan sakit pada punggungnya. Ia memegangi punggungnya dan membaringkan dirinya di tempat tidur.

“Mengapa punggungku tiba-tiba sakit?”

*****

Sesuai keinginan orang tuanya, keesokan harinya Tiffany bergegas untuk menemui teman kencan butanya. Dengan langkah terburu-buru, Tiffany menuruni tangga rumahnya dan keluar menuju garasi. Setelah duduk di belakang kemudi mobilnya, ia menatap refleksi dirinya di spion dan merapikan make up dan rambutnya. Setelah merapikan rambutnya yang agak sedikit kusut gara-gara terlalu terburu-buru, ia tersenyum manis kemudian mengemudikan mobilnya menuju tempat yang ia tuju.

Setibanya di sebuah restoran jepang yang menjadi tempat kencan butanya, Tiffany langsung memasuki restoran itu dan menghela nafas panjang untuk menenangkan hati serta pikirannya.

“Jogiyo, bisa tolong beritahu saya meja atau mungkin ruangan yang di pesan atas nama Hwang Youngmin?” Tiffany bertanya dengan sopan pada seorang wanita yang berdiri di belakang kubikel resepsionis.

“Tuan Hwang Youngmin, memesan private room, mari saya antar nona.” Resepsionis itu mengantar Tiffany menuju ke sebuah ke sebuah lorong dengan slide door bergaya jepang di sebelah kanan dan kirinya. Tepat di depan salah satu pintu itu, resepsionis itu berhenti dan mempersilahkan Tiffany untuk masuk.

“Kamsahanida.” Ucapnya sambil membungkukkan badannya. Seperginya resepsionis itu, Tiffany kembali mengatur nafasnya sambil memegang tepi pintu yang ditujukan oleh resepsionis tadi. Dengan perlahan Tiffany menggeser pintu itu dan tanpa melihat sosok di depannya ia membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.

“Annyeong Haseyo, maaf membuat anda menunggu lama.” Cukup lama Tiffany membungkukkan badannya, dengan perlahan ia mengembalikan posisi badannya dan…

“Kita bertemu lagi nona Hwang.”

“T-tuan C-Cho!”

*****

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Suasana ruang latihan itu nampak tidak terlalu ramai karena para anggota musikal sedang diberikan jam istirahat.  Taeyeon meminum air mineralnya dalam sekali tegak. Meskipun begitu, ia yakin, sebotol air mineral ini belum cukup untuk mengganti tenaganya yang telah ia gunakan untuk latihan. Tak hanya itu, hari itu ia merasa tidak enak badan dan tidak bertenaga. Oleh karena itu, setelah meminum airnya, ia menyandarkan kepalanya di dinding ruang latihan itu dan memejamkan matanya sejenak.

“Apa kau sakit Odette?” Seorang gadis dengan perawakan tinggi dan langsing serta wajah yang cantik mendekati Taeyeon dan duduk di sampingnya.

“Sakit? Sepertinya tidak. Aku rasa aku hanya sedikit kelelahan.” Taeyeon menjawab dengan suara yang terdengar parau dan mata yang sedikit terbuka.

“Wajahmu tak bisa berbohong. Aku yakin kelelahanmu ini bukan kelelahan biasa, tapi sudah mencapai taraf sakit.”Ujar Yoona dengan gaya sok tahunya sementara Taeyeon hanya terdiam.

“Nyonya Oh bilang, eonni anggota musikal yang paling rajin. Dan materi musikalmu sudah jauh dari yang lain, lantas mengapa eonni tidak meminta waktu istirahat saja?”

“Aku ini masih gadungan, bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang jika penampilanku belum bisa maksimal?”

Mendengar jawaban Taeyeon, Yoona menolehkan kepalanya dan memandangi wanita itu.

“Eonni, awalnya aku mellihatmu sekilas dan mengira kau hanya kelelahan, tapi ternyata aku salah. Wajahmu sangat pucat, apa kau yakin tak ingin minta izin untuk beristirahat?”

“Sudahlah Yoong…”

Pada akhirnya Yoona tidak bisa melawan sifat keras kepala Taeyeon. Gadis itu bersikeras mengikuti latihan meskipun kali ini hasil latihannya nampak tidak maksimal.

“Nona Kim Taeyeon!”. Panggil seorang pelatih bernama yang biasa dipanggil Nyonya Oh. Menyadari namanya dipanggil oleh pelatih berkepribadian tegas itu, Taeyeon hanya bisa menjawab dengan terbata.

“Ne?”

“Kau tak berkonsentrasi mengikuti latihan hari ini, wajahmu juga pucat, mengapa kau memaksakan diri seperti ini?”

Taeyeon terdiam.

“Aku tidak suka dengan orang yang memaksakan diri namun hasilnya justru tak maksimal. Lebih baik kau pulang dan beristirahat. Kalau perlu kau ku beri libur dua hari, anggap saja ini mengganti waktu istirahatmu yang kau gunakan untuk latihan hari-hari sebelumnya.” Nyonya Oh menasihati Taeyeon panjang lebar tanpa menghilangkan ketegasannya. Taeyeon yang mendengarkannya hanya bisa menurut pasrah.

*****

“Taewoonie!” Teriak Jongwoon dari dalam kamarnya.

“Ne Daddy?” Taewoon yang sedang duduk menonton TV di ruang tengah hanya balas berteriak?

Jongwoon keluar dari kamar dan menghampiri putranya itu. “Apa kau melihat hoodie kesayangan ayah?”

“Hoodie? Hoodie yang mana?”

“Hoodie abu-abu.”

“Bukankah sehari sebelum ulang tahun Hyukjae samchon daddy memakainya untuk pergi membeli susu dan biskuit?”

“Susu dan biskuit?” Jongwoon mencoba menenerawang kembali ke hari itu dan beberapa detik kemudian ia memukul keningnya. “Ah ya, Daddy baru ingat.”

‘Bukankah aku meminjamkannya pada Kim Taeyeon.’

“Lalu sekarang kau mau kemana?” Jongwoon yang sudah mengingat perihal jaketnya mengganti topik pembicaraan melihat putranya sudah berpakaian rapi.

“Hyoyeon Imo akan mengajakku menonton. Ada film baru di bioskop daddy, dan Hyoeun memintaku ikut. Lagipula hari ini sabtu kan, seperti biasa daddy.” Bocah itu menjelaskan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya merayu.

“Kau menginap lagi hari ini?”

“Yap! Tepat sekali, aku akan menginap di rumah nenek.”

Mendengar jawaban Taewoon, Jongwoon hanya menghela nafas pasrah.

*****

Begitu turun dari bis, Taeyeon mengeratkan cardigan yang ia kenakan. Jika tadi di ruang latihan ia hanya merasa lelah dan tak bertenaga, kali ini sepertinya sakitnya sudah menjadi-jadi. Wajahnya nampak pucat dan kepalanya terasa berat. Sepanjang perjalanan menuju apartmentnya ia hanya bisa berharap agar bisa segera beristirahat dan membungkus dirinya dengan selimut.

“Nona Kim, wajah anda pucat sekali.” Seru ibu pemilik gedung begitu melihat Taeyeon yang membuka pagar dan memasuki pekarangan apartment itu.

“Saya merasa tidak enak badan Nyonya Song.” Taeyeon hanya dapat menjawab sekedarnya.

“Kalau begitu anda harus beristirahat segera.” Saran Nyonya Song dengan wajah khawatir.

“Ne.”

Dengan terpaksa, Taeyeon harus menaiki tangga-tangga yang cukup banyak mengingat apartmentnya terletak di lantai 2. Ia sampai di lantai 2 dengan napas terengah. Tanpa mau menunda-nunda lagi, ia memasukkan kunci lalu memutar kenop pintu itu  dan masuk ke dalam apartmentnya.

Sebelum ia memutuskan untuk beristirahat, dengan jiwa kedisiplinan yang masih melekat pada dirinya, ia mengganti pakaiannya dengan piyama dan mencuci mukanya. Usai mencuci mukanya, Taeyeon bisa melihat wajahnya yang pucat.

“Ini pasti gara-gara aku kehujanan kemarin.” Gumamnya dengan suara yang parau.

Ting tong

‘Siapa yang datang?’

Suara nyaring bel rumahnya mengurungkan niat Taeyeon untuk beristirahat. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya dan pandangan mata yang nyaris kabur, ia berjalan menuju pintu apartmentnya. Dengan perlahan ia membuka pintu apartmentnya dan tanpa sempat melihat wajah tamu yang datang….

BRAK

“Taeyeon-ssi!”

TBC

– Reader-nim!!!! –

Haiii reader kece, thanks buat komen di part sebelumnya. Aku minta maaf ya di part ini belum bisa ngasi banyak skinship ataupun tanda-tanda mengenai hubungan Sooyoung dengan Taeyeon karena part ini udah jadi pas part 6 di post.  Tapi part selanjutnya akan diusahakan deh sedikit demi sedikit. Oh ya sekian cuap-cuapnya dan inget komen. ^^

24 thoughts on “[FF Freelance] Blind in Love (Part 7)

  1. kim jongwoon kau sangat perhatian pada kim taeyeon! 🙂
    adegan di kamar rawat taewoon so sweeeettt pas mereka tidur! ^^
    omo taeyeon pingsan di hadapan jongwoon?!
    ggod job author fighting! ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s