[FF Freelance] I’m Not Fake Anymore (Vignette)

im not fake anymore

Title : I’m Not Fake Anymore

Author : Rut Lyvia (@lyviamidul)

Main Cast :

  • SNSD’s Tiffany
  • EXO’s Chanyeol
  • Aleyna Yilmaz

Support Cast :

  • Jenny Yalmiz
  • 15&’s Park Jimin
  • Xi Luhan
  • Im Yoona

Length : Vignette

Genre :

  • Romance
  • Family

Author’s Note :

Haloooo!! Lagi-lagi balik sebagai author freelance. Fanfiction ini terinspirasi dari apa juga ga tau. Mungkin gara-gara lagi liat baby ullzang di tumblr jadi kepikiran buat FF ini ya. FF ini murni jalan pikiran loh, buatnya tengah malem lagi -_- Tadinya main cast-nya itu pengen-nya KrisSica. Karena lagi pengen buat FF Tiffany jadinya YeolFany deh! Sebenarnya tampang Channie itu ga cocok banget buat FF ini ya. Tapi kalo kita ga ada feel sama cast nya hasil FF juga feel nya kurang. Maaf ya kalau typo. Semoga pada suka ya! Happy reading!!

Rut’s project©

            Pintu altar terbuka, masuklah seorang wanita cantik yang wajahnya western. Sedangkan di depan altar sudah ada seorang pria yang wajahnya asian. Sang wanita berdarah Amerika, sedangkan sang pria berdarah korea. Wanita itu mengembangkan senyumnya ketika menghentakkan kakinya di altar yang mewah itu. Sang pria juga tidak mau kalah, pria itu juga mengembangkan senyum yang terindah selama ini. Sang wanitapun telah sampai ke depan altar, puluhan pasang mata menatap kea rah mereka.

“Saya, Park Chanyeol, membawa Anda, Jenny Yilmaz, menjadi istri saya. Saya berjanji untuk jujur ​​pada anda di masa baik dan buruk, dalam sakit dan sehat. Aku akan mencintai anda dan menghormati anda semua hari-hari hidup saya.” Sumpah pernikahan yang dilontarkan dari mulut sang pria yang bernama Chanyeol itu.

“Saya, Jenny Yilmaz, membawa Anda, Park Chanyeol, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk jujur ​​pada anda di masa baik dan buruk, dalam sakit dan sehat. Aku akan mencintai anda dan menghormati anda semua hari-hari hidup saya.” Sumpah pernikahan yang dilontarkan dari mulut sang wanita yang bernama Jenny Yilmaz itu.

“Anda telah menyatakan persetujuan . Semoga Tuhan dalam kebaikan-Nya memperkuat persetujuan anda dan mengisi anda berdua dengan berkat-Nya. Amin.” Kata-kata sang Pendeta sebagai sumpah mereka yang sudah sah di dalam Gereja. Mereka memasangkan cincin-nya, sayangnya cincin Chanyeol terlepas dari genggaman Jenny. Chanyeol yang melihat itu hanya menelan ludahnya dengan paksa. Tuhan, semoga ini bukanlah pertanda buruk, batin Chanyeol. Dengan sigap adik Chanyeol, Park Jimin meraih cincin itu dan memberikannya ke Jenny.

“Hati-hati, unnie.” Ucap Jimin yang hanya dibalas oleh Jenny dengan senyuman yang sangat kaku. Cincin yang dimasukkan ke sela jari Chanyeol itu sangat susah, mungkin terlalu kecil?

“Paksa saja.” Bisik Chanyeol, lagi-lagi pikiran negative meracuni pikirannya. Menuruti perintah Chanyeol, Jenny memasukkan-nya dengan paksa. Chanyeol hanya menahan rasa sakitnya itu. Sedangkan Jimin yang duduk di salah satu bangku disana hanya melihatnya dengan melas. Sekarang waktunya Chanyeol memasukkan-nya ke sela jari Jenny. Mulus dan lancar, tanpa gangguan untuk memasukkan cincin itu.

“Kalian boleh berciuman.” Ucap sang Pendeta dan disambut oleh para tamu dengan tepuk tangan. Wajah Jenny langsung bersemu merah, begitu juga Chanyeol. Chanyeol memegang kedua bahu Jenny lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jenny, dekat, semakin dekat, hingga sisa 1 cm lagi tapi Jenny menghindar, terjadilah Cheek Kiss. Para tamu terkejut apa yang dilakukan oleh Jenny, Chanyeol pun begitu. Lalu mereka berpelukan.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun sudah terlewatkan sampai Jenny dan Chanyeol dikaruniakan oleh seorang anak, Aleyna Yilmaz. Anak tersebut mahir bahasa korea dan inggris. Anak tersebut baru menginjak umur 2 tahun. Sekarang Chanyeol sudah berumur 23 tahun, sedangkan Jenny 21 tahun.

“Aleyna, come to papa. Papa miss you.” Ucap Chanyeol sambil menggendong Aleyna.

“Bahasa inggris-mu benar-benar tidak berubah semenjak kita menikah, chagi-ya.” Ejek Jenny yang tengah membersihkan cucian piringnya. Chanyeol yang mendengar itu langsung menurunkan Aleyna lalu menghampiri Jenny. Jenny yang melihat kedatangan Chanyeol lagsung berlari sambil membawa sebuah piring ditangannya. Karena dia baru selesai cuci piring, lantainya sedikit basah dan Jenny langsung terjatuh. Piring yang ia pegang pecah lalu masuk ke nadi-nya. Perih, sakit, dan tak terbayangkan rasa itu. Dengan cepat Chanyeol berlari kea rah Jenny.

“Jenny-ah!  Aku harus membawamu ke rumah sakit.” Ucap Chanyeol sedangkan Jenny mengangguk pasrah. Chanyeol menggendong Jenny keluar rumah, Aleyna mengikuti mereka dari belakang. Ketika dia memasukkan Jenny ke dalam mobil, Jimin datang.

Wae, oppa?!” Tanya Jimin panic.

“Jaga Aleyna sebentar.” Chanyeol langsung mengambil posisi kemudi lalu mengendarai mobil tersebut ke rumah sakit terdekat.

Berjam-jam Chanyeol menunggu di depan ruang gawat darurat. Ia hampir saja menjatuhkan air matanya di hadapan orang tua Chanyeol, ya, Jenny seorang yatim piatu. Tiba-tiba pintu pun terbuka. Keluarlah seorang dokter dengan raut wajah yang kecewa dan merasa bersalah. Dengan sigap Chanyeol berdiri dan menghampiri dokter tersebut.

“Bagaimana keadaan istriku, eisa?”  Tanya Chanyeol. Sang dokter menelan ludahnya, keringat bercucuran di dahinya.

Mianhae, kami sudah bekerja sekeras mungkin. Luka tersebut terlalu dalam, darah yang keluar terlalu banyak.” Jawab sang dokter lalu pergi meninggalkan Chanyeol dan keluarganya.

“Ba..bagaimana bisa?! Jenny-ah!” Suara berat khas Chanyeol itu terdengar lemah lalu disusul dengan isakan tangis.

“Jenny-ah, mianhae. Ini salahku, mianhae!”

Rut’s project©

            Helaan nafas sudah terdengar belasan kali hari ini, Tiffany harus mengurus project dari sahabat-nya, Luhan. Kalau dia bukan namjachinu-nya Yoona pasti dia sudah resign dari kantor itu. Jarum jam tangan Tiffany sudah berarah pada pukul 08.00 KST. Kali ini dia sedang perjalanan pulang, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang bisa di bilang cepat. Tapi kecepatan itu terhenti ketika dia melihat seorang namja berlari ke depan mobilnya. Untung saja reflex Tiffany sangat bagus, jadi dia tidak menabrak namja itu. Tiffany beranjak keluar dari mobilnya, menghampiri namja itu.

Agasshi, gwaencahayo?” Tanya Tiffany. Namja tersebut menoleh.

“Ya! Kenapa kau berhenti, huh?” Tanya namja itu balik. Tiffany hanya mengerutkan alisnya sebagai tanda tidak mengerti.

Agasshi, sebaiknya kau masuk ke mobilku.” Ajak Tiffany lalu membantunya berdiri dan masuk ke mobilnya. Tiffany menyetir lagi lalu berhenti di sebuah café langganannya. Tiffany membuka pintu lalu keluar, ia merasa ada yang ganjal, namja itu tak kunjung keluar dari mobilnya. Tiffany kembali lagi lalu membukakan pintunya ke namja tersebut.

“Ayo keluar.” Ajak Tiffany lalu masuk ke dalam café.

Tiffany duduk berhadapan dengan namja itu. Tiffany memperhatikan-nya dalam. Kantung matanya tebal, ekspresinya datar, rambutnya sedikit berantakan. Keheningan menghampiri mereka sampai Tiffany membuka mulut.

“Tiffany imnida. Kau bisa memanggilku Fany atau Miyoung.” Ucap Tiffany. Namja itu menoleh.

“Miyoung?” Tanya namja tersebut.

“Nama korea-ku Hwang Miyoung, aku campuran Amerika-Korea.” Jawab Tiffany.

“A..Amerika-Korea? Kau campuran?” Tanya namja itu.

“Yap.”

Joneun Chanyeol imnida.” Kata namja yang bernama Chanyeol itu.

“Jadi, apa masalahmu?” Tanya Tiffany.

“Ma..masalahku?” Tanya Chanyeol balik. “Ba..bagaimana bisa kau menanyakan masalah kepada orang yang baru kau kenal, huh?” Oceh Chanyeol.

Mianhae, aku tidak bermaksud untuk lancang.” Jawab Tiffany. Chanyeol memerhatikannya. Jenny?, pikir Chanyeol.

“Kau..kau hampir menabrakku. Kau harus bertanggung jawab.” Tuntu Chanyeol.

“Oh, baiklah.” Tiffany merogoh tas-nya lalu meraih dompetnya, dengan cepat Chanyeol menggeleng.

Ani, bukan itu maksudku.” Ucap Chanyeol.

“Jadi?”

“Kau harus menjadi umma dari anakku.”

Neo micheosseo!” Bentak Tiffany.

“Mau ku laporkan pada polisi?” Tanya Chanyeol. Tiffany berfikir sejenak. Sebagian besar ini kesalahannya karena mengendarai mobil diatas kecepatan rata-rata. Mau tidak mau Tiffany mengangguk pelan.

“Baiklah, besok weekend beri tahu alamatmu. Besok aku akan menjemputmu untuk datang ke rumahku, arraseo?” Perintah Chanyeol.

Ne.” Jawab Tiffany pelan lalu mengeluarkan kartu namanya.

“Aku akan pulang sendiri. Aku yang akan membayar tagihan di café ini, annyeong.” Chanyeol membungkukkan badannya sedikit lalu meninggalkan Tiffany. Tiffany hanya bisa mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Bagaima aku bisa bertemu namja freak seperti dia, eoh?” ocehnya. Chanyeol pun tertawa karena sedang memerhatikannya dari luar.

Rut’s project©

            Bell apartemen Tiffany berbunyi. Gagang pintu pun bergerak lalu muncullah sosok yeoja yang amat cantik, Tiffany. Tiffany menatap Chanyeol yang sekarang sudah berbeda dari kemarin. Chayeol tampak lebih rapid an tampan mungkin? Tiba-tiba jantung Tiffany berdebar lebih cepat. Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya.

“Sudah siap?” Tanya Chanyeol dengan senyumnya yang lebar.

Ne. aku ambil tas-ku dulu.” Chanyeol hanya mengangguk. Tiffany pun keluar lalu disusul oleh Chanyeol dibelakangnya. Apakah dia benar-benar Jenny?, batin Chanyeol.

Sampailah mereka di basement lalu Chanyeol berjalan ke arah mobil mewahnya, membukakan Tiffany pintu untuk masuk lalu berjalan ke tempat kemudi. Apa kemarin aku salah orang? Dia benar-benar berbeda, pikir Tiffany.

Ketika Chanyeol menyetir, Tiffany mengeluarkan cermin-nya lalu menata rambutnya rapi. Chanyeol yang melihatnya hanya tersenyum.

“Kau, apakah sudah mempunya namjachingu?” Tanya Chanyeol.

“Belum.”

“Berapa umurmu?”

“26 tahun.”

“Ah, kau noona-ku.”

“Kau berapa tahun?”

“Aku? 25 tahun.”

Tidak butuh waktu lama. Mereka sampai di kediaman Chanyeol. Chanyeol membukakan Tiffany pintu lalu mengajaknya masuk ke rumah. Park Jimin dan Aleyna sudah menunggu kedatangan mereka. Ya, Chanyeol sempat mengatakan kalau dia akan membawa umma Aleyna kembali.

“Jenny umma?” Panggil Aleyna, matany melebar. Dia benar-benar tidak percaya bahwa umma-nya yang tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya tiba-tiba muncul begitu saja. Aleyna berlarilalu memeluk Tiffany. Tiffany yang kaget hanya menatap Chanyeol dengan bingung.

“Kau harus memakluminya jika ia memanggilmu Jenny.” Bisik Chanyeol. “Ingat perjanjian kita.” Lanjutnya. Tiffany hanya memutarkan bola matanya. Tiba-tiba dia menangkap sebuah bingkai foto pernikahan. Sekarang Tiffany benar-benar terkejut. Foto itu terpampang jelas wajah Chanyeol dan….Tiffany? dia menatap Chanyeol lagi.

“Akan kujelaskan nanti.” Bisik Chanyeol lagi.

Umma kau kemana saja? Kau tahu? Aku merindukanmu. Jangan tinggalkan aku lagi, umma.” Kata Aleyna ditemani suara isakan tangis. Tiffany yang melihatnya langsung merasa iba. Dia menyamakan tingginya dengan Aleyna dengan cara berjongkok agar sejajar.

Ne. umma tidak akan meninggalkanmu lagi.” Ucap Tiffany yang berhasil membuat lengkungan indah di wajah Aleyna.

Gomawoyo umma.” Aleyna memeluk Tiffany lagi.

Park Jimin hanya bingung, dia mendekati oppa-nya itu.

“Aku butuh penjelasan.” Jimin menarik Chanyeol ke taman belakang. Dia menengok kanan-kiri, memastikan hanya mereka disana.

“Dia siapa?” Tanya Jimin heran.

“Tiffany. Kau harus berkenalan dengannya.”

“Dia bukan reinkarnasi dari Jenny unnie kan?”

“Bukanlah, babo! Bahkan dia lebih tua 3 tahun.”

“Bagaimana bisa ada orang semirip itu?”

Molla.” Chanyeol kembali ke ruang tengah untuk melihat anaknya dan Tiffany.

Kyeopta!!” Gumam Tiffany ketika membaringkan Aleyna di sofa. Tiffany yang sadar akan keharian Chanyeol langsung menghilangkan senyumannya yang indah itu. Chanyeol menghampiri mereka.

“Aleyna tidur?” Tanya Chanyeol. Tiffany hanya mengangguk.

“Kau tunggu disini. Aku akan memindahkannya.” Chanyeol menggendong Aleyna dan membaringkannya ke kamarnya. Tidak butuh waktu lama Chanyeol sudah kembali dan duduk di hadapan Tiffany. Jimin pun sudah pamit karena ada tugas kelompok dengan teman-temannya.

“Fany-ssi, maaf merepotkanmu.” Ucap Chanyeol. Baru saja Tiffany membuka mulutnya.

“Jadi, aku menikah kurang lebih 5 tahun yang lalu. Aku menikah muda karena aku yakin dia jodohku. Namun Tuhan mengatakan lain. Dia pergi ketika Aleyna berumur 2 tahun. Nyawanya pergi karena kejadian konyol.” Jelas Chanyeol, bahunya sedikit bergetar.

“Kau bisa lihat bukan? Wajahnya persis dengamu. Walaupun kau terlihat lebih..cantik?” pengakuan Chanyeol tersebut berhasil membuat pipi Tiffany bersemu merah.

“Kau bisa melihatkan? Betapa kerinduan Aleyna kepada dia. Ah ya, namanya Jenny Yalmiz.” Kini air mata Chanyeol benar-benar jatuh setelah menyebut nama itu. Kerongkongannya terasa sangat kering sekarang. Chanyeol memegang lehernya, Tiffany yang mengerti langsung beranjak ke dapur lalu mengambil segelas air.

“Minumlah.” Suruh Tiffany.

“Aku mengerti keadaanmu. Aku bisa menemani Aleyna untuk sementara sampai dia tahu kebenarannya.” Lanjut Tiffany.

Gomawoyo.” Jawab Chanyeol.

“Fany-ah, bolehkah aku memelukmu?” Tanya Chanyeol tiba-tiba. Tiffany hanya mengangguk. Dengan cepat Chanyeol memeluk yeoja yang dihadapannya itu. Tiffany pun membalas pelukkannya. Jujur, sampai sekarang Tiffany tidak pernah mempunyai kekasih atau semacamnya. Teman terdekatnya hanya Yoona, Luhan, dan berkas-berkas yang berserakkan di kantor.

Rut’s project©

            “Mwoya?! Aku rasa namja itu sinting. Kenapa kamu mau menjadi umma pura-pura?” Pendapat Yoona yang sedang menikmati teh madu hangatnya itu.

“Iya, namja itu sinting karena sudah memlihmu sebagai pengganti umma untuk anaknya.” Pendapat Luhan yang hanya ditanggapi oleh Tiffany dengan tatapan sinis, Yoona langsung menyikut lengan Luhan.

“Miyoung-ah, apakah aku boleh bertemu dengan anaknya?” Tanya Yoona.

“Nanti akan ku tanyakan ke Chanyeol.” Jawab Tiffany. Tiffany melihat ke jam tangannya. Pukul 06.00 KST.

“Ah, sudah malam. Aku harus pulang. Aku duluan, ne?” Ucap Tiffany dan tanpa persetujuan mereka, Tiffany sudah beranjak pergi dari café itu. Tiffany masuk ke dalam mobilnya lalu menyetirnya ke rumah Chanyeol.

“Aleyna, umma kangen sama kamu.” Gumam Tiffany sambil tersenyum lebar. Cukup lama perjalan dari café ke rumah Chanyeol. Tiffany pun sampai dan turun dari mobilnya. Tiffany masuk ke dalam rumah itu tanpa seijin Chanyeol, Tiffany sudah menganggap itu rumah sendiri. Tiffany berjalan menelusuri ruang demi ruang di rumah yang bisa dikatakan cukup mewah, tibalah Tiffany di ruang makan. Ia melihat Aleyna yang sedang duduk manis dan memerhatikan Chanyeol yang terngah masak. Tiffany meletakkan tas-nya ke lantai lalu mencium kening Aleyna dan menghampiri Chanyeol yang sedang memasak.

“Perlu bantuan?” Tanya Tiffany.

“Oh, ne. Bantu aku untuk menyiapkan piring di meja makan. Tolong ya.” Jawab Chanyeol. Ya, mereka semakin dekat. Ketika malam hari Tiffany menghabiskan waktunya di apartemen sedangkan pagi, siang, sore, sampai menjelang malam hari Tiffany berada di rumah Chanyeol. Hal itu membuat Chanyeol dan Tiffany semakin dekat. Walaupun mereka sudah bertemu seharian penuh, Tiffany dan Chanyeol tetap bertelepon di malam hari. Pernah 3-5 kali Tiffany menginap di rumah Chanyeol. Aleyna sudah Tiffany anggap sebagai anaknya sendiri.

“Piring siap, channie. Makanannya? Aku sudah lapar.” Kata Tiffany.

Umma, sabar sebentar. Duduk yang manis seperti aku.” Perintah Aleyna.

Ne, arrasseo.” Jawab Tiffany lembut.

“Makanan siap!” Chanyeol datang dengan 2 piring penuh dengan makanan. Di tangan kanan-nya ada Yangnyeom Tongdak dan di tangan kiri-nya ada Japchae.

“Uwahhh! Bahkan aku belum pernah membuat makanan se-indah ini.” Kata Tiffany terkagum-kagum.

Umma harus belajar banyak dengan appa.” Komentar Aleyna.

Arrasseo. Sekarang kita makan, ne?” Ajak Tiffany karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Mereka menyantap makan malamnya dengan mantap. Tak lama kemudian Aleyna tertidur dan Chanyeol mengantar Tiffany ke depan rumah.

“Channie, bolehkah aku mengajak temanku ke sini?” Tanya Tiffany.

“Tentu saja boleh.” Jawab Chanyeol antusias.

“Baiklah, aku pulang dulu, Annyeong.” Tiffany membalikkan badannya dan berjalan ke mobilnya. Chanyeol memegang pergelangan tangan Tiffany, menariknya hingga Tiffany jatuh di dekapannya. Chanyeol mengecup puncak kepala Tiffany.

Gomawo Fany-ah.” Kata Chanyeol.

N-Ne.” Tiffany mengangguk kecil karena gugup.

Rut’s project©

            “Aaaaa! Kyeopta!” teriak Yoona ketika melihat Aleyna yang tengah bermain dengan bonekanya.

Ahjumma siapa?” Tanya Aleyna polos lalu menengok ke namja diesebelah Yoona, Luhan.

“Kalau ahjussi itu siapa?” Tanya Aleyna lagi.

“Itu teman umma. Yang yeoja itu bernama Yoona. Sedangkan yang namja bernama Luhan. Mereka baik, ayo berkenalan!” ajak Tiffany.

Annyeong Haseo, joneun Aleyna Yimaz imnida. Kalian tidak usah heran dengan namaku, aku ini berdarah campuran seperti umma.” Kata Aleyna.

Chagi-ya, kapan kita punya aegi seperti dia?” Tanya Yoona kepada Luhan.

“Kau mau? Yuk kita menikah!” Ajak Luhan yang hanya membuat Tiffany tersenyum. Luhan, Yoona, dan Aleyna bermain bersama di taman belakang sampai sore hari. Tiffany duduk di sofa sambil menunggu mereka. Ah, yang ditunggu bukan hanya mereka. Melainkan Chanyeol yang akan pulang kerja. Entah sejak kapan Tiffany jadi mencintai namja tersebut.

Pintu pun terbuka, dengan cepat Tiffany menghampiri Chanyeol yang sudah di depan pintu. Tiffany melepaskan dasi Chanyeol, mengambil tas kerjanya lalu meletakkannya di sofa.

“Kau kenapa Fany?” Tanya Chanyeol.

Gwaenchanayo.” Jawab Tiffany. Tiffany langsung duduk di sofa dan Chanyeol duduk di sebelahnya. Tiffany masih memerhatikan mereka yang tengah bermain.

“Channie, aku rasa aku tidak bisa menjadi umma-nya Aleyna lagi.” Kata Tiffany.

“Maksudmu?” Tanya Chanyeol berusaha tenang.

“A..aku mau….”

“Kalau begitu jadi anae-ku saja.” Kata Chanyeol memotong perkataan Tiffany. Tiffany langsung menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.

“Aku mencintaimu, kaupun begitu kan?” Tanya Chanyeol memastikan. Tiffany hanya mengangguk pelan. Tiba-tiba tangan Chanyeol yang gagah itu sudah melingkarkannya ke pinggang Tiffany.

“Kalau aku bersamamu aku tidak usah menikah lagi kan?” Canda Chanyeol.

“Maksudmu?” Tanya balik Tiffany dengan sinis. Tiffany mengerti maksud Chanyeol karena wajah Tiffany dan Jenny yang mirip.

“Aku becanda. Aku akan menikahimu secepatnya. Ah ya, aku mencintaimu sebagai Tiffany Hwang, bukan Jenny Yalmiz.” Kata Chanyeol, Tiffany membalas pelukkan Chanyeol itu. Sedangkan Yoona, Luhan, dan Aleyna duduk di sofa sebrang Tiffany dan Chanyeol. Memerhatikna mereka.

“Akhirnya umma tinggal disini!” Teriak Aleyna semangat. Chanyeol dan Tiffany melonggarkan pelukannya. Tiffany tersenyum.

“Channie-ah, I’m not fake anymore.

The End

8 thoughts on “[FF Freelance] I’m Not Fake Anymore (Vignette)

  1. Woaaaaa Daebak!!!ヽ(^。^)ノ sumpah kerennnn bget ff nya.. pairing favoritku yeolfany ≧﹏≦♥ susah bget cri ff mereka ehhhhh akhirnya ketemu disini ^^ mau lagi dong yg pairingnya yeolfany thor └(^o^)┘

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s