Macchiato

macchiato

Macchiato by junghaha

Cast: Infinite’s L & Apink’s Naeun

Genre: Romance & Life

Rating: PG-13

Length: Vignette

Disclaimer: Kemungkinan terinspirasi dari cerita pendek “Frapuccino” dan film pendek yang saya tonton.

***

Seorang pria semampai dengan ear plugs yang tertanam di kedua telinganya, Myungsoo, melangkah masuk ke sebuah café. Lagi lagi seperti minggu sebelumnya, ia duduk di bangku nomer tujuh, kemudian menopang dagunya dengan kedua tangan, menunggu sesuatu. Berlin Café yang kini menjadi rutinitas selasa sorenya untuk dikunjungi itu selalu mengalami perubahan setiap kali Myungsoo menebar pandang. Entah hanya firasatnya, atau barangkali memang benar. Baik letak pot bunga, figura usang yang menopang foto-foto kembangnya café ini sejak tahun 1981, dan letak kursi yang ditata rapi didalam café, baginya, selalu tampak bergeser atau berubah posisinya setiap minggu.

“Selamat sore,” sebuah suara waitress memaksa Myungsoo kembali disadarkan pada realita. Yang ditunggunya telah tiba. Sehelai kertas yang seharusnya diisi dengan daftar pesanan itu kemudian mendarat di meja nya.

Macchiato lagi, tuan Kim?

Sesuatu digelindingkan perempuan itu. Sebuah pena.

Bagaimana jika Macchiato ditambah waktumu untuk menemaniku sebentar, nona Son?

Kening perempuan dengan marga Son itu berkerut. Ia mengambil pena yang digelindingkan Myungsoo lalu mulai menorehkan beberapa kata.

Maaf. Aku harus ke rumah sakit sehingga harus pulang lebih awal hari ini.

“Naeun! Ada telpon untukmu!” seorang gadis semampai dengan rambut cokelat dikucir dua menyebut nama gadis yang masih betah bertengger di meja Myungsoo itu dengan ekspresi tidak dapat ditebak. Naeun mengangguk sekilas lalu menuliskan sesuatu pada kertas yang sedari tadi dijadikannya komunikasi dengan Myungsoo, kemudian membiarkannya tergeletak begitu saja sementara pemiliknya melenggang pergi ke ruang staff. Myungsoo tidak merespon banyak, ia hanya membaca kertas tersebut lalu perlahan bibirnya mulai terangkat ke belakang.

Tapi tidak menghambat jika kamu benar butuh, aku ada di halte sepulang nanti.

***

Semua berawal dari selasa sore musim dingin. Myungsoo mulai tak tahan dengan dinginnya suhu udara Seoul kala itu. Ia tak bisa henti menggosok kedua tangannya, bahkan hidungnya sudah mulai memerah dan giginya bergemertak. Lalu keputusannya menepi ke sebuah kafe klasik dengan bunyi bel bergemircing ketika ia membuka pintu masuk. Gegas Myungsoo duduk di kursi nomer tujuh–satu satunya yang kosong tidak di tempati.

“Selamat sore, pesanan anda?”

Myungsoo menengadah. Matanya terpaku beberapa saat pada wajah gadis dengan rambut kepang dan sebuah topi merah bertulis Berlin Café yang bertengger diatas kepalanya. Gadis itu punya senyum yang membuat burung mungkin akan bersedia pensiun terbang demi melihatnya. Tunggu, apa yang Myungsoo fikirkan?

“Barangkali.. butuh rekomendasi?” waitress itu membuyarkan lamunan Myungsoo yang kini mengangguk.

“Menu favorite pelanggan kami sejauh ini Macchiato. Anda bisa memilih antara Caramel Macchiato atau Hazelnut Macchiato.”

Myungsoo mencontreng kotak disamping kotak tulisan “Caramel Macchiato” dan menulis angka 1 disana.

“Hanya itu?”

Lalu ia menorehkan sebuah kalimat dibagian foot lembar daftar pesanan. Lembar itu dikembalikan pada empunya yang kini serius membaca apa yang barusan dituliskannya. Ia memandang Myungsoo sekilas, sebelum akhirnya tersenyum dan melengos pergi ke dapur.

“Satu Caramel Macchiato!” teriaknya. “Untuk tuan kim.” Pelannya disusuli kekehan.

Son Naeun, nama yang bagus. Apa Kim Myungsoo juga nama yang bagus?

 ***

 Myungsoo duduk di bangku yang disediakan halte, kemudian kembali menunggu hal yang sama saat ia berada di café, seperti hari sebelumnya. Mayoritas orang kemungkinan menganggap menunggu bahkan lebih melelahkan dibanding menaiki 100 anak tangga. Tetapi pendapat itu tidak di terima kaum seperti Myungsoo. Seperti menunggu hadiah jackpot sebuah mobil jaguar dikirim ke rumah, meski berbulan bulan lamanya, selalu tetap di tunggu tunggu kehadirannya, bukan? Menunggu untuk sesuatu yang tergolong hal penting di dunia ini, akan membuat menunggu terlihat lebih baik karena hasilnya pun akan terasa jauh lebih baik.

“Apa kau sudah menunggu lama?” seorang perempuan dengan jaket besar yang hampir menutupi seluruh tubuhnya termasuk jeans cokelat yang dikenakannya itu tergopoh gopoh berlari ke arah Myungsoo kemudian duduk di sampingnya. Myungsoo menggeleng dengan senyum yang kemudian membuat Naeun menyusul tersenyum.

Lalu hening. Mungkin memang sunyi yang lebih bisa menerjemahkan ketika kata sudah kehilangan kemampuannya. Naeun memperhatikan Myungsoo tertunduk dengan ear plugs yang masih saja tertanam di kedua telinganya.

“Walau terjadi perang dunia ketiga pun sepertinya kau masih akan mendengar musik, ya?”

Myungsoo tidak berkutik. Mendapat respon yang tidak di harapkan, Naeun mendegus kesal. Ia mengambil salah satu ear plugs Myungsoo tanpa izin, kemudian menanamkannya ke telinga kanannya. Myungsoo tidak berkomentar apa apa selain menoleh kaget.

“Kenapa tidak ada suara apa apa?” ujar Naeun, menoleh pada Myungsoo yang membiarkan hening berperan sejenak, sebelum ia membalas ucapannya tersebut. Naeun tidak bergerak, entah apa yang membuat dadanya terasa sesak.

Myungsoo tersenyum ketika usai menunjukan bahasanya pada Naeun.

Bahasa satu satunya yang bisa dikuasainya diantara beribu bahasa di dunia.

Bahasa isyarat.

Terlahir di dunia dengan sesuatu yang salah pada katanya yang tak akan pernah sampai, Kim Myungsoo.

***

Myungsoo kembali datang ke Berlin Café di sela kesibukan selasa sorenya. Ia kembali duduk di bangku nomer tujuh, cukup lama sebelum akhirnya seorang waitress datang menghampiri bangkunya dan memberikan menu serta lembar daftar pesanan. Waitress kali ini bukan orang yang diharapkannya—Naeun, seperti selasa sebelumnya. Myungsoo tahu ini akan susah untuk menanyakan keberadaan Naeun dengan kondisinya saat ini, sehingga ia memutuskan untuk membiarkan segelas Macchiato mampir di mejanya tanpa keberadaan Naeun kali itu.

Langit sudah mulai gelap dan lampu diluar Café pun sudah mulai dinyalakan satu persatu, tetapi Myungsoo masih tidak berniat meninggalkan café. Apa yang menyebabkan Naeun tidak kunjung menunjukan batang hidungnya hari ini? Apa ia membolos bekerja, mengambil cuti, atau barangkali, keluar kerja? Keluar kerja karena takut menemui Myungsoo dengan kenyataan kalau ia bisu?

Myungsoo menutup muka dengan kedua tangannya frustasi. Kepalanya dipenuhi beribu pertanyaan yang takkan mampu ada yang menjawab. Café sudah mau tutup dan Myungsoo belum kunjung menemui Naeun. Beberapa langkah ketika ia menjauh, lampu café tersebut dipadamkan satu persatu. Kini semua gelap. Tetapi hati Myungsoo bahkan lebih gelap.

***

Myungsoo tidak bisa menduga hal ini juga terjadi pada selasa sore berikut-berikutnya. Perempuan dengan senyum terindah itu kini terlihat hanya seperti sebuah klise. Myungsoo bahkan tidak mengetahui alamat rumahnya, warna kesukaanya, ataupun cerita masa kanak kanaknya yang pastinya akan terdengar sangat menarik. Myungsoo tetap berkunjung ke Berlin Café di setiap selasa sore, tetapi kini menunggu terasa lebih menyesakkan.

Apa efek dari melelahkannya menunggu mulai terasa pada tubuh Myungsoo sekarang? Karena nyatanya kini menunggu milik Myungsoo tak kunjung memberikan hasil. Hanya sebuah helaan nafas dan air wajah muram ketika ia melangkah keluar café yang ia dapatkan sekarang. Apa sebaiknya kini ia mundur, kembali pada kenyataan, dan berhenti berharap pada gadis waitress itu? Mungkin Naeun telah berhasil membuatnya terbang tinggi ke langit, kemudian bertemu matahari, dan membuatnya hangus karena terlalu banyak berharap.

Entah ini perjuangan yang baik atau tidak, tetapi Myungsoo lebih memilih untuk kembali datang pada selasa sore selanjutnya. Ia memanggil selasa sore kali ini sebagai yang terakhir. Jika sampai malam nanti Myungsoo tidak kunjung menemui Naeun, maka, ia akan membuang jauh jauh rutinitas selasa sorenya pada café ini, melupakan segala galanya, lalu semua akan berjalan seperti biasa. Tetapi pertanyaanya kini; mampukah ia melakukannya nanti?

18.00

Ini sudah lebih 1 jam dari waktu yang biasanya diberikan bagi Myungsoo dan Naeun untuk bertemu. Myungsoo merasakan firasat yang tidak baik memompa darahnya. Ini yang terakhir. Ini yang terakhir. Apa akan berakhir dengan bahagia, atau bahkan sebaliknya?

Lalu seorang waitress yang tidak cukup asing di bola mata Myungsoo mendekat. Gadis berkucir dua yang sewaktu itu memanggil Naeun, rupanya. Ia memberikan sebuah kertas putih terlipat dua yang sedari tadi di sembunyikan dibalik punggungnya.

“Seseorang menitipkan ini,”

Myungsoo mengangguk, menerima kertas tersebut lalu membuka lipatannya. Waitress tersebut melenggang pergi, membiarkan Myungsoo menikmati sendiri lautan kata yang tersirat dalam kertas tersebut.

Untuk kamu,

Laki laki yang selalu menanamkan ear plugs di telinganya.

 

Kamu memberiku banyak kejutan. Terimakasih untuk selalu membuatku ingat kalau dunia ini terlalu egois jika kamu berfikir kamu yang paling malang. Maaf membuatmu selalu menunggu, banyak yang bilang kamu selalu lakukan itu setiap kali berkunjung ke café. Kamu tahu? Aku punya alasan di balik itu.

Aku lebih baik tidak membiarkamu melihat keadaanku yang sekarang. Kemoterapi menyita waktuku dan sama sekali tidak membiarkan aku pergi ke café. Berminggu minggu memakan makanan rumah sakit benar benar tidak enak. Jangan sampai kamu masuk ke dunia seperti itu. Disana tidak ada Macchiato.

Aku berharap bisa mengenalmu lebih dalam, tuan Kim.

 

p.s: arah jam enam.

Myungsoo dapat merasakan sebuah sentakan di jantungnya yang kini memacu lebih cepat. Ia menoleh ke belakang, tepat di bangku nomer delapan, ada seorang wanita dengan topi merah yang menutupi kepala tanpa rambut miliknya.

Naeun.

Sedang menyeruput Macchiato, lalu tersenyum ke arahnya.

***

16 thoughts on “Macchiato

  1. Waahh keren kerenn…
    Awal.a aq gak mudeng tpi pas dbca smpe abies…alhamdulillah gak mudeng juga..hahaha
    “bcanda deh..” -,-v b-,-d

    bgus koq crita.a,,bnyak mkna tersirat di ff ini *cieehh..

  2. what a great fanfiction!
    ini ceritanya bener-bener luar biasa. idenya langka. susah ketebak. aku gak nyangka kalau ternyata myungsoo bisu. gak nyangka kalau naeun sakit (baru nyadar kalau di awal naeun bilang dia mau ke rumah sakit). awalnya ngira kalau ini tipe cerita laki-laki kaya suka sama seorang pelayan kafe dan cerita klise lainnya. ternyata salah besar.
    karakter myungsoo yang kamu bangun bener-bener tipikal laki-laki sempurna (minus dia bisu). yah kembali pada dasarnya bahwa tidak ada manusia yang sempurna. dan karena kehadiran myungsoo akhirnya naeun nyadar bahwa bukan dia saja yang hidup malang hmm?
    nyaris gak ada cacat ff ini haha. aku suka semuanya, mulai dari alur sampai endingnya. feel-nya bener-bener dapet walaupun aku gak terlalu mengenal naeun. hanya saja cast-nya errr jujur awalnya gak suka pair ini, tapi karena ff ini aku jadi mulai goyah /plak/
    satu lagi, di awal naeun sama myungsoo emang komunikasi pake kertas, nah ini yang aku bingung. kenapa naeun gak ngajak ngomong myungsoo? gak terlalu penting juga karena ini hanya one-shot jadi gak mendetail….
    overall, keren! aku baca ini sampai nyesek dan nangis (-_-) yang jelas aku bakal menanti ff kamu yang lain. fighting!!!!!~

  3. Keren thor ! Baru pertama nih baca ff yang mendalam maknanya kayak gini?
    Jadi ceritanya myungsoo bisu dan naeun punya penyakit semacam leukimia gitu ya thor ? *sok tau
    Ini masih bersambung thor ? Lanjut thor kalo iya !
    FIGHTING !!

  4. kerennnn banget. aduh, myungsoo-naeun lagi. pertama kali aku pikir justru naeun yang bisu, ternyata malah myungsoo. hue. pengen nangis baca ini! bikin ff myungsoo-naeun lagi dong! kk. semangat!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s