[FF Freelance] Between 2 Choices (Part 1)

between 2 choices

Annyeong readers! Selamat datang di wahana author yang selanjutnya ini. Karena author masih tergolong baru, jadi sekali lagi author ucapin salam kenal aja deh. Semoga amal ibadah kita diterima di sisi-Nya. Amin.. O.o

Hmm.. Sepertinya kali ini kita masih bersama tokoh sebelumnya. Ya mau bagaimana lagi? Mereka memang bias author, jadi ya mau gak mau dan harus mau, merekalah yang jadi pemeran dalam ff yang author bikin :p

Ya udah, kita langsung saja ya readers! Happy reading 🙂

 

Title   : BETWEEN TWO CHOICES PART 1

Writer          : Endor Yochi

Main Cast    :

– Park Jiyeon (T-ara)

– Yoo Seungho (Actor)

– Yang Yoseob (B2ST)

– Yoon Dujun (B2ST)

– Lee Gikwang (B2ST)

– Yong Junhyung (B2ST)

– Im Yoona (SNSD)

– Kwon Yuri (SNSD)

– Bae Suzy (Miss A)

Other Casts :

– Go Ahsung (Actress)

– Choi Minho (SHINee)

– Son Dongwoon (B2ST)

– Jang Hyunseung (B2ST)

Genre : Romance, Comedy ( a little bit ), aneh, gaje, dsb

Length : Chaptered

Rating         : 15 tahun ke atas 😀

PART 1

_Author POV_

 

“Mwo? Ke luar kota? Sebulan? Besok?”

Jiyeon yang semula asyik mengunyah tempe goreng itu langsung tersedak saat mendengar ucapan Dujun bahwa Kyuhyun Appa merencanakan akan pergi ke Busan selama sebulan.

“Ne.. Kau tanya saja sendiri kalau tidak percaya.” Sahut Dujun sambil menggenjreng gitarnya.

“Anii.. Tidak mungkin! Kenapa mendadak sekali?”

“Alaahh sudahlah.. Toh kita sendiri juga libur semester selama sebulan. Kenapa kau pusing begitu?”

Jiyeon tak menjawab. Bagaimana tidak pusing? Lalu bagaimana dengan Seungho oppa? Dia pasti tidak setuju kalo aku pergi selama itu, pikirnya. Seungho adalah namjachingunya yang sangat ia cintai. Ia tahu kalau namjanya itu tidak suka melihatnya bepergian tanpa dirinya. Seungho namja yang pencemburu. Makanya Jiyeon jadi bingung karenanya. Karena itu tanpa menunggu apa-apa lagi, ia pun melemparkan tempe gorengnya ke atas piring kembali, dan langsung menghadap Appanya di ruang kerja.

“Ne.. Appa sedang ada bisnis di sana bersama paman Donghae. Dan kita akan tinggal di rumah Paman Donghae selama sebulan.” Kata Appa sambil menumpuk berkas-berkas kerjanya.

“Tapi..”

“Kau bisa berteman dengan kedua sepupumu di sana, Junhyung dan Yoona. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Appa yakin mereka anak-anak yang baik. Jadi jangan takut kau akan merasa kesepian di sana.”

“Bukan masalah itu, Appa..”

“Lalu kenapa?”

Kyuhyun Appa menatap Jiyeon dengan heran. Kalau sudah ditatap seperti itu Jiyeon jadi tak berkutik. Ia paling segan melihat tatapan mata Kyuhyun Appa.

“Anii.. Arasseo..” kata Jiyeon kemudian.

Setelah itu ia pun keluar dari ruang kerja Appanya.

“Eottokhe? Aku harus bilang apa pada Seungho Oppa?” gumam Jiyeon seorang diri kebingungan.

“Yaa! Kenapa wajahmu bingung seperti itu? Mwoya?” tegur Dujun tiba-tiba.

“Aku harus pergi.” Kata Jiyeon sambil berlari ke kamarnya untuk mengambil tempe gorengnya yang tadi, setelah itu berlari keluar rumah.

“Yaa! Eodiga?”

___

 

Seungho merapatkan jaketnya ketika sampai di taman. Ia tersenyum saat melihat Jiyeon sudah duduk di kursi taman menanti kedatangannya. Entah kenapa hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali bertemu dengan yeojachingunya itu, sampai kakinya tersandung pohon kaktus pun tak dirasakan olehnya.

“Sudah lama? Mian, tadi aku harus mengantar Umma ke dokter dulu untuk periksa kandungannya.” Katanya sambil duduk di sebelah Jiyeon.

“Gwaenchanha. Bagaimana keadaan Taeyeon ahjumma? Baik-baik saja?”

“Ne.. Kata dokter sejauh ini kandungannya sehat-sehat saja.”

“Syukurlah..”

“Waeyo? Kenapa kau meminta kita bertemu?”

Jiyeon tak segera menjawab. Ia bingung harus memulai dari mana.

“Jiyeon-ah, gwaenchanha?” tanya Seungho sekali lagi. Ia heran melihat sikap Jiyeon yang tidak seperti biasanya itu.

“Aku.. Aku hanya mau bilang kalau besok aku akan berangkat ke Busan.. selama sebulan..”

“Ne?” Seungho terkejut mendengarnya.

“Mianhae, ini memang sangat mendadak, dan aku sendiri juga terkejut. Tapi Appa bilang ada bisnis di sana dan kita akan tinggal di sana selama sebulan.”

Seungho diam saja. Untuk namja pencemburu sepertinya sudah bisa ditebak kalau hatinya saat itu sudah sangat-sangat shock mendengar penuturan Jiyeon barusan. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, tapi ia sama sekali tidak menyukai berita yang baru saja didengarnya itu.

“Oppa.. Mianhae..” ucap Jiyeon.

Seungho menarik napas dalam-dalam.

“Ne.. Gwaenchanha..” katanya dengan setengah hati.

“Oppa marah padaku?”

“Anii.. Untuk apa aku marah? Itu sudah menjadi keputusan Appamu. Aku tidak mungkin melarang.”

“Tapi aku tahu Oppa pasti sedih..”

“Tentu saja. Tapi sudahlah, tidak apa-apa. Arasseo..”

“Mianhae, Oppa..”

Seungho mengelus rambut Jiyeon pelan.

“Gwaenchanha. Lagipula kan hanya sebulan. Setelah itu kita bisa bertemu lagi seperti biasa. Kita juga masih bisa berkomunikasi lewat hp, kan?”

Jiyeon hanya mengangguk.

“Aku akan merindukan Oppa..”

“Nado..”

Keduanya pun terdiam dalam keheningan. Tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun, membuat Jiyeon jadi enggan menghabiskan tempe goreng yang masih berada di dalam genggamannya itu.

___

 

Seungho masuk kamar dengan perasaan berkecamuk. Penampilannya kusut. Berkali-kali ia mengacak-acak rambutnya sendiri sambil sesekali mengumpat tak jelas. Ia sedih memikirkan ucapan Jiyeon barusan tadi. Ke Busan? Sebulan? Isshh! Apa dia mau menyiksaku? Kenapa semua mendadak sekali? Apa yang harus kulakukan sekarang? Karena ia terus-terusan tak enak hati, akhirnya ia memutuskan untuk keluar rumah. Setelah diambil sepedanya, ia pun meluncur pergi menuju sebuah counter yang memiliki fasilitas game PSP. Ia menuju ke tempat yang agak sepi dan memulai aktifitasnya.

“Yaa, Seungho-ah! Tumben datang kemari? Pasti sedang galau.” tegur Seorang namja bermata bulat yang ternyata pemilik tempat tersebut.

“Nde..” Ucap Seungho singkat.

“Hahaha waeyo? Putus dengan Jiyeon?”

“Yaa! Minho-ah‼! Lebih baik kau diam saja daripada kubakar countermu!”

“Ohmo! Kau galak sekali. Mian.. Bukannya begitu, aku kan hanya ingin tau saja kenapa kau bisa galau seperti ini.”

“Gwaenchanha. Sudahlah, jangan ganggu aku.”

“Ne.. Ne.. Tapi kalau kau butuh nasehat, datang saja padaku. Dokter cinta siap membantumu kapan saja.”

Seungho diam saja. Namja itu tampak memusatkan perhatiannya pada game di depannya. Namun ia tak dapat mengingkari bahwa sebenarnya pikirannya masih tetap tertuju pada Jiyeon. Karena merasa tak dihiraukan, Minho pun beranjak meninggalkan Seungho menuju tempatnya sendiri.

___

 

Busan, pukul 17.10

Mobil keluarga Jiyeon berhenti tepat di depan sebuah rumah yang bisa dibilang cukup mewah. Mobil tersebut mendarat mulus dan berhenti tepat di halaman rumah tersebut. Kyuhyun Appa turun dari mobil duluan sebelum kemudian disusul oleh Yoojin Umma, Jiyeon dan juga Dujun. Ternyata mereka sudah disambut oleh keluarga Paman Donghae. Di depan rumah mewah itu sudah berdiri Paman Donghae, Bibi Hyorin, dan seorang yeoja. Jiyeon dan Dujun tahu itu pasti Yoona. Mereka memang belum pernah bertemu dengan sepupu mereka ini, karena itu keadaannya masih terlihat agak canggung. Setelah menata barang-barang mereka di kamar masing-masing, ketiga anak itu berkumpul di teras depan rumah.

“Kriiing…kriiing..”

Suara bel sepeda itu membuat Jiyeon, Dujun, dan Yoona yang sedang asyik mengobrol ria itu menoleh.

“Eh, itu Junhyung Oppa.” Kata Yoona.

Seorang namja sebaya Dujun tengah berjalan menghampiri ketiga anak manusia itu sambil tersenyum.

“Yaa, kenapa lama sekali? Bukankah sudah kubilang kalau sepupu kita akan datang?” kata Yoona.

“Mianhae.. Tadi selesai mengajar les langsung mampir ke rumah Yoseob sebentar.”

“Oh.. Arasseo. Oppa, ini sepupu-sepupu kita. Ini Dujun oppa, dan ini Jiyeon.”

Ketiganya pun bersalaman.

“Kapan kalian sampai?” tanya Junhyung pula.

“Sekitar jam lima tadi.” Dujun yang menjawab.

“Oh.. Paman dan Bibi mana?”

“Ada di dalam.” Sahut Yoona.

“Aku masuk dulu ya? Nanti kesini lagi.”

“Ne..” Kata Dujun.

Junhyung pun langsung masuk ke dalam.

“Memangnya Junhyung oppa mengajar les apa, Eon?” tanya Jiyeon penasaran.

“Les piano. Anak dari dosen kami sangat menyukai permainan pianonya, jadi dia diminta untuk mengajarinya.” Sahut Yoona.

“Oh.. arasseo..” Jiyeon manggut-manggut.

“Dia semester berapa sekarang?” sekarang giliran Dujun yang bertanya.

“Semester enam. Oppa sendiri semester berapa?”

“Sama aku juga sudah semester enam.”

“Lalu Eonni sudah semester berapa?” tanya Jiyeon.

“Aku semester empat. Kau sendiri?”

“Baru semester dua, hehe.”

“Paling bontot ya?”

“Bontot-bontot begini tapi dia sudah punya namjachingu.” Sela Dujun.

“Jinjjayo? Wah.. Padahal aku saja belum punya!”

“Jeongmal?”

“Ne, Oppa.. Masih dalam tahap pencarian.”

Di saat Dujun dan Yoona yang asyik mengobrol soal namjachingu, Jiyeon jadi kembali sedih karena teringat dengan Seungho yang sampai saat itu masih belum menghubunginya.

“Oppa.. Oppa di mana?” batinnya sedih.

___

 

Di saat yang bersamaan, Seungho sedang bergulat dengan laptopnya di rumah. Pikirannya masih kacau. Ia mencoba mengalihkan pikirannya itu pada apa yang di depannya sekarang. Menggambar. Itulah misinya saat ini. Setiap ia merasa suntuk atau malas, ia selalu melampiaskannya dengan menggambar. Tapi ternyata pikirannya masih belum bisa tenang. Sesekali kedua matanya melirik ke arah hape yang tergeletak di atas kasur yang sejak tadi pagi tak disentuhnya. Ia sengaja mematikan handphonenya itu agar pikirannya tak terganggu terus oleh bayangan tentang Jiyeon. Akan tetapi apapun usaha yang dilakukannya, ia tetap tak bisa melepas pikirannya dari sosok yeoja yang kini tengah berada jauh darinya itu.

“Jiyeon-ah.. Aku belum bisa tenang memikirkanmu..” gumamnya lirih. Kepalanya terasa pusing.

”Oppa..” tegur Seorang yeoja tiba-tiba yang muncul dari arah pintu kamar Seungho.

Seungho menoleh terkejut.

“Ahsung-ah? Sedang apa kau di sini malam-malam begini?” tanyanya heran.

“Mian, Oppa. Tadi aku baru saja mengantarkan kue dari Umma. Dan tanpa sengaja aku melihat pintu kamar Oppa terbuka. Jadi aku masuk. Oppa tidak marah kan?”

“Oh.. Ne, arasseo.  Ya sudah, lebih baik kau pulang sekarang. Tidak enak dilihat tetangga seorang yeoja datang ke tempat namja malam-malam.”

“Ne, Oppa.. Annyeong..”

“Ne..”

Ahsung tersenyum, lalu beranjak dari pintu kamar Seungho. Seungho pun bangkit dan segera menutup pintu kamarnya itu, kemudian membantingkan tubuhnya ke kursi. Namun tiba-tiba terdengar suara berdecit. Secepat kilat Seungho berdiri. Ternyata ia menindih mainan bebek yang biasa menemaninya di kamar mandi. Ia pun kembali membanting tubuhnya dan melempar mainan ducky nya ke atas kasur sambil menarik napas dalam-dalam.

___

 

Pukul 22.30

Jiyeon masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Ia benar-benar cemas memikirkan Seungho yang masih bungkam. Ia khawatir namja itu akan berbuat yang tidak-tidak.

 “Anii, aku tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak. Dia pasti baik-baik saja. Hanya saja mungkin pikirannya yang masih kacau sekarang. Ommona eottokhe? Oppa.. Eodiseo?” keluh Jiyeon Seorang diri.

Karena tak bisa tidur, ia pun langsung memasang earphone di telinganya dan mulai memutar lagu favoritnya. Ah, tapi bagaimanapun Jiyeon berusaha mengalihkan pikirannya, namun tetap saja ia teringat Seungho kembali. Ia mendesah kesal. Bukannya tenang, tapi malah jadi semakin kacau. Disambarnya kembali benda kotak kecil yang tergeletak di sampingnya itu lalu mulai menekan keypad.

To : ♥Lope♥

“Oppa.. Kau masih marah padaku ya? Jebal, jangan marah lagi.. Bukankah Oppa bilang padaku kalau Oppa tidak marah? Kenapa sekarang Oppa malah mematikan hp? Oppa.. Jebal, jangan seperti ini..”

Sending message. Message sent.

“Aishh.. Ternyata masih belum aktif juga nomornya. Ommo.. Eottokhe??” desis Jiyeon terus menerus.

Di saat ia yang sedang kebingungan, tiba-tiba ia merasa haus. Maka dengan langkah agak malas dia pun keluar kamar. Kemudian berjalan menuju ke dapur. Sebenarnya dia agak takut berjalan Seorang diri, apalagi ini bukan di rumahnya sendiri. Ia masih merasa asing. Namun tenggorokannya sama sekali tidak bisa diajak sekongkol. Lalu walaupun dengan langkah bimbang, Jiyeon tetap menuju dapur. Untung dia masih ingat letak dapurnya. Tadi Yoona sempat mengajaknya masuk dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan biru melintas di depannya. Jiyeon terkejut setengah mati dibuatnya. Namun beberapa saat kemudian ia merasa lega karena ternyata itu hanyalah gorden pintu yang menuju arah dapur. Sesampainya di dapur, Jiyeon pun membuka kulkas dan mengambil air minum di sana lalu segera meneguk air tersebut hingga hampir setengah botol.

“Woah.. Kau kehausan ya?”

GLEK‼

“Uhuk.. Uhuk..” Jiyeon tersedak karena kaget setengah mati mendengar teguran barusan. Ia pun menoleh.

“Ommona, mianhae aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Gwaenchanha?”

Aish, Junhyung oppa. Membuat orang jantungan saja! Gerutu Jiyeon dalam hati.

“Ne, Oppa. Gwaenchanha.” sahut Jiyeon pula mencoba tersenyum.

“Kenapa belum tidur?”

“Hehe belum bisa tidur.”

Junhyung giliran mengambil air minum dan meneguknya pula.

“Wae? Ada masalah?” tanya Junhyung kemudian.

“Aahh.. Anii.. Mungkin belum terbiasa saja tidur di rumah orang lain.”

“Yaa! Ini kan rumah pamanmu sendiri. Bukan orang lain.”

“Oh.. anii, maksudku bukan begitu..”

Junhyung tersenyum kecil.

“Nde, arasseo. Ya sudah, ayo kita masuk ke kamar! Sudah malam. Oh iya, besok teman-temanku akan datang, kau bisa berkenalan dengan mereka. Tenang saja, mereka semua baik-baik. Siapa tahu ada salah seorang dari mereka yang bisa membuatmu tertarik.”

“Mwo?”

Junhyung tertawa kecil melihat ekspresi Jiyeon yang kebingungan itu.

“Kajja! Kita masuk kamar.” Katanya sambil mengusap rambut Jiyeon pelan, lalu beranjak meninggalkannya.

Jiyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Setelah itu ia mengikuti Junhyung, tepat di belakangnya. Begitu Junhyung hendak membuka pintu kamar, ia berhenti sejenak. Ia heran melihat Jiyeon yang masih mengikutinya.

“Yaa, Jiyeon-ah, kamarmu di sebelah sana.” Katanya kemudian sambil menunjuk ke arah kamar tak jauh dari kamarnya.

“Ah, mianhae, aku lupa.” Kata Jiyeon sambil buru-buru masuk ke kamarnya sendiri. Junhyung hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan tawa geli.

___

 

Keesokan harinya, pukul 6.30

“Dujun-ah, kau mau mandi?” tegur Junhyung ketika dilihatnya Dujun hendak ke kamar mandi.

“Ne, waeyo? Kau mau mandi juga?” Dujun balik tanya.

“Aniyo.. Aku hanya mau memberitahu kalau airnya macet. Tapi kau bisa mandi di kamar mandi dekat kebun belakang sana. Ayo kuantar.”

Dujun mengikuti Junhyung berjalan menuju kebun samping rumah.

“Paman punya kebun juga rupanya. Siapa yang mengurusnya? Aku tidak melihat ada tukang kebun di sini.” tanya Dujun begitu sampai di kebun.

“Ada. Pak Shindong yang merawatnya. Biasanya jam segini dia sudah datang.”

“Ah, ne, mungkin masih belum bangun.”

Junhyung hanya tersenyum kecil.

“Itu kamar mandinya. Kau berani masuk sendiri kan?”

“Yaa.. Memangnya aku ini anak kecil yang ke kamar mandi saja masih minta ditemani?”

“Hahaha ne, ne, arasseo. Ya sudah aku tinggal kalau begitu.”

“Gomawo.”

Junhyung mengangguk, lalu beranjak meninggalkan Dujun. Dujun pun hendak masuk ke kamar mandi, tapi tiba-tiba kedua matanya melihat Seorang yeoja berada tak jauh darinya. Namun karena tubuhnya yang agak tertutupi oleh tanaman di kebun itu, Dujun jadi tidak begitu jelas melihatnya.

“Apa itu tukang kebun yang dimaksud Junhyung tadi ya? Tapi bukankah itu seorang yeoja. Apa mungkin Pak shindong berubah jadi yeoja?” pikir Dujun penasaran. Baru saja ia hendak menghampiri tempat orang tersebut, tiba-tiba kakinya terperosok ke dalam lumpur basah.

“Aisshh!! Jinjja..!” gerutunya, lalu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.

___

 

“Eonni.. Pagi ini mau masak apa?” tegur Jiyeon yang baru selesai ganti pakaian.

“Aku sih maunya masak semur jengkol, tapi Junhyung oppa minta dimasakin sayur asem. Ya sudah, jadinya ya sekarang mau masak opor ayam saja.”

“Ne, arasseo.. Aku akan membantu eonni.”

“Tapi sayang sekali bahan-bahannya harus beli di supermarket dulu. Kau mau menemaniku, Jiyeon-ah?”

“Geurae. Kajja!”

Kedua yeoja itu pun bersama-sama pergi ke supermarket. Keluarga Yoona memang tidak memiliki pembantu rumah tangga, karena Bibi Hyorin bilang supaya Yoona dan Junhyung bisa belajar hidup mandiri mengurusi semua pekerjaan sehari-hari mereka tanpa menggantungkan diri pada orang lain. Lima belas menit kemudian, kedua yeoja itu sudah sampai di supermarket.

“Jiyeon-ah, kita bagi tugas ya? Kau cari bahan-bahan ini di sebelah sana. Sudah kucatat semua di sini. Aku akan mencari yang lain di sebelah sana.” Kata Yoona sambil menyerahkan secarik kertas pada Jiyeon. Jiyeon hanya mengangguk, lalu mulai berburu bahan-bahan yang sudah tercantum di kertas yang dipegangnya.

“Kecap botol, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, tahu merah, tahu putih, merica merah, merica putih.. Mwo? Apa-apan ini? Kunyit, selederi, terasi, eh terasi.. terasi.. terasi..” Jiyeon mendadak latah saat membaca karena tanpa sengaja seseorang menabraknya hingga kertasnya terjatuh.

“Ahh, mianhae. Aku tidak melihatmu.” Ucap seorang namja yang menabrak Jiyeon itu.

Jiyeon tak segera menjawab, melainkan spontan merunduk-runduk mencari catatan ‘keramat’nya yang terjatuh tadi.

“Ommo, di mana kertasku tadi?” katanya mulai panik. Bisa-bisa nanti aku disemprot sama Yoona eonni kalau catatan itu sampai hilang, pikirnya.

Namja yang menabraknya itu sedikit keheranan saat melihat yeoja di depannya itu merunduk-runduk mencari sesuatu.

“Gwaenchanha?” tanyanya.

“Tentu saja tidak. Aku kehilangan catatan pentingku.” Sahut Jiyeon.

Namja itu mengerutkan keningnya. Namun beberapa saat kemudian ia melihat secarik kertas tergeletak tak jauh dari kakinya.

“Ini yang kau cari?” katanya sambil menyodorkan kertas tersebut pada Jiyeon. Jiyeon menoleh sejenak. Begitu melihat kertas yang dipegang namja itu, ia bergegas berdiri.

“Ne, ini kertas yang kucari. Gomawoyo.” Katanya dengan perasaan lega.

“Mianhae, tadi aku tidak sengaja menabrakmu.”

“Ah, ne.. Gwaenchanha. Aku juga tidak hati-hati tadi.” Sahut Jiyeon.

Namja itu tersenyum. Aigoo, namja ini.. Neomu kyeopta! Senyumnya benar-benar membuatku serasa dikelilingi anak-anak kecil di taman bermain (?). Ommo! O.o pikir Jiyeon terpaku.

“Yaa! Jiyeon-ah! Sudah kau dapatkan bahan-bahannya?” terdengar suara Yoona dari arah sebelah. Jiyeon pun tersadar dari lamunannya.

“Ah, ne.. Sebentar lagi! Eh, mianhae, aku harus pergi.” Jiyeon membungkuk sedikit lalu segera beranjak dari hadapan namja tersebut.

“Yaa! Jamkkanman! Kau meninggalkan dompetmu!”seru namja itu tiba-tiba.

Jiyeon berbalik sebentar, lalu mengambil dompet dari tangan namja itu.

“Gomawo.” Katanya sambil membungkuk, lalu bergegas pergi. Namun baru beberapa detik kemudian tiba-tiba ia kembali lagi.

“Mianhae, ini bukan dompetku.” Katanya sambil menyerahkan kembali dompet tersebut pada namja tadi. Setelah membungkuk untuk yang ke sekian kalinya, Jiyeon pun menghilang kembali. Sementara namja itu terheran-heran sambil menatap dompet di tangannya.

“Ah, ne. Ini kan dompetku yang baru beli kemarin malam. Isshh! Paboya!” gumamnya kemudian. #jiahahaha

___

 

“Kreeett…”

Pintu kamar mandi terbuka. Dujun tampak keluar, namun ia terkejut karena hampir bertabrakan dengan seorang yeoja.

“Kyaaa! Maliing!!” teriak yeoja tersebut dengan tiba-tiba.

“Yaa! Yaa! Aku bukan maling!” Bentak Dujun.

“Bohong! Mana ada maling yang mau mengaku. Maliing! Toloong!!”

Karena yeoja itu terus berteriak, Dujun pun terpaksa membungkam mulut yeoja itu dengan tangan kanannya. Yeoja itu tampak meronta-ronta mencoba melepaskan diri.

“Yaa! Tenanglah, aku bukan maling! Aku ini sepupunya Junhyung.”

Mula-mula yeoja itu tak percaya, tapi lama-lama ia mulai berhenti meronta karena pipinya terasa agak nyeri dibungkam seperti itu. Dujun pun melepaskan bungkamannya perlahan-lahan.

“Awas jangan teriak lagi!” katanya galak.

Yeoja itu memegangi pipinya yang terasa nyeri. Tampaknya Dujun terlalu keras membungkamnya.

“Apa benar kau ini sepupunya Junhyung oppa?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanya sendiri padanya sekarang juga.”

Yeoja itu tak segera menjawab. Ia tampak sedang meneliti penampilan Dujun dari atas sampai bawah.

“Yaa! Kau masih belum percaya? Geurae, akan kupanggil Junhyung sekarang juga.”

“Jamkkanman! Ne, aku percaya. Aku hanya terkejut saja melihat ada orang asing berada di sini.” Kata yeoja itu.

“Lalu kau sendiri siapa? Jangan-jangan kau maling yang sebenarnya. Maling teriak maling.”

“Yaa! Enak saja. Aku anak tukang kebun di sini. Kebetulan aku yang menggantikan Appaku hari ini.”

“Pak Shindong?”

“Ne, darimana kau tahu?”

“Tentu saja. Aku kan bukan maling.”

Yeoja itu jadi merasa tak enak hati.

“Mianhae, tadi aku sudah mengira kau sebagai maling.” Katanya.

“Ne, aku juga minta maaf tadi sudah membungkammu dengan keras. Gwaenchanha?”

“Ne, gwaenchanha.”

Dujun menatap yeoja itu dengan seksama. Cantik juga yeoja ini. Penampilannya sederhana tapi cantik, pikirnya.

“Mwoya?” tegur yeoja itu tiba-tiba.

“Dujun imnida. Kau?” tanya Dujun kemudian sambil mengulurkan tangannya.

“Ah.. Yuri imnida..” sambut yeoja itu ragu-ragu.

“Tenang saja, aku tidak akan membungkammu lagi, asal kau tidak teriak-teriak lagi seperti tadi.”

Mau tak mau yeoja bernama Yuri itu tertawa juga. Ia merasa malu karena sudah mengira Dujun sebagai maling.

“Mianhae..” katanya.

“Ne.. Gwaenchanha.” Kata Dujun, “Jadi kau yang tadi berdiri di sana?”

“Ahh, ne.. Wae?”

“Anii.. Kukira Pak Shindong yang berubah jadi seorang yeoja.”

“Mwo?”

Dujun tertawa ketika melihat wajah yeoja yang menunjukkan rasa tersinggung atas ucapannya itu.

“Anii.. Aku hanya bercanda,” katanya.

Sebentar kemudian mereka berdua pun sudah terlihat akrab. Bahkan keduanya sempat bermain gobak sodor di kebun. #kekekeke

___

 

Pukul 9.15

“Oppaaa….‼‼”

Seungho yang tengah bersepeda santai itu menoleh sejenak.

“Aiiissshhh!‼ Yeoja ini..” gerutunya kesal.

Dari ujung jalan tampak seorang yeoja manis sedang bersepeda pula menuju kearahnya. Ia menggenjot sepeda agak kencang karena ingin cepat sampai ke tempat Seungho.

“Hosh.. Hossh.. Hosshh.. Oppa mau kemana?” tanya yeoja yang tak lain adalah Ahsung itu dengan napas agak tersengal. Yeoja itu memang selalu saja mencoba mendekati Seungho. Namun sebaliknya, Seungho sama sekali tidak suka didekati olehnya. Entah apa sebabnya.

“Jalan-jalan saja. Wae?”

“Ahsung boleh ikut kan?? Oh iya nomor Oppa kenapa tidak bisa dihubungi?”

“Oh, ne.. Hpku sedang rusak.”

Seungho memang belum mengaktifkan ponselnya kembali sejak kemarin. Entah kenapa ia jadi malas menyentuh ponselnya sejak kejadian kemarin itu.

“Arasseo.. Aah, kebetulan aku punya dua ponsel yang tidak terpakai di rumah. Masih baru semua. Oppa mau?” tanya Ahsung.

“Ahh anii.. Tidak usah, Ahsung-ah.”

“Kalau begitu apa aku boleh ikut Oppa jalan-jalan?”

Seungho tak segera menjawab.

“Oppa..” panggil Ahsung lagi.

“Ck.. Ne, ne..”

Ahsung terlonjak senang mendengar sahutan dari Seungho itu. Keduanya pun bersepeda kembali.

Hmmh gwaenchanha, Seungho-ah.. Lumayan buat refreshing biar pikiran tidak suntuk terus. Tapi bukannya aku malah akan semakin tambah kacau kalau bersama yeoja ini? Aisshh!

___

 

Pukul 10.00

“Jiyeon-ah!” seru Yoona tiba-tiba. Jiyeon yang semula sedang asyik makan tempe goreng di dapur itu spontan tersedak. Tadinya ia sedang stress memikirkan Seungho yang sampai sekarang masih juga belum menghubunginya, makanya ia memutuskan untuk menyelinap ke dapur dan mengambil tempe goreng kesukaannya itu. Namun karena Yoona datang, buru-buru diambilnya minuman dari dalam kulkas.

“Yaa! Jiyeon-ah, sedang apa kau?” tanya Yoona heran ketika melihat Jiyeon berada di dapur. Padahal masakan sudah matang sejak tadi. Dan waktu makan siang juga belum tiba.

“Aah, mian Eonni. Aku sedang mengambil minuman. Tadi kepanasan, hehe.” Sahut Jiyeon sambil mengelap mulutnya yang berminyak agar tidak ketahuan habis mencuri tempe goreng.

“Jinjja? Aahh.. geurae. Kajja, Junhyung oppa menyuruhku memanggilmu.”

“Mwo? Untuk apa?”

“Sudahlah, nanti kau juga tahu sendiri. Kajja!”

Yoona menarik tangan Jiyeon dan mengajaknya menuju teras depan rumah.

Jiyeon terkejut karena melihat di depan sudah ada lima orang namja berkumpul di sana, termasuk Dujun.

“Eonni. Mau apa Eonni membawaku kemari?” bisik Jiyeon pada Yoona.

Yoona tak menjawab, melainkan hanya tersenyum saja.

“Nah.. Itu dia sepupuku yang satu lagi. Jiyeon-ah, yeogi!” seru Junhyung sambil melambai ke arah Jiyeon dan Yoona.

Jiyeon terpaksa ikut mendekat bersama Yoona.

“Chingudeul, ini Jiyeon, sepupuku yang satu lagi.” Kata Junhyung.

Jiyeon hanya membungkuk sedikit.

“Annyeonghaseyo. Naneun Park Jiyeon imnida.” Katanya.

“Kau..?” kata salah seorang namja dari mereka tampak terkejut ketika melihat Jiyeon.

Jiyeon melihat kearahnya, dan ia pun sama terkejutnya pula dengan namja itu.

“Kau.. Bukankah kau yang tadi di supermarket?” tanyanya kemudian.

“Ne.. Jadi kau ini sepupunya Junhyung?”

“Nde..”

“Aahh rupanya kalian sudah berkenalan sebelumnya.” Potong Junhyung.

“Anii. Kami hanya bertemu saja tadi, belum sempat berkenalan. Yoseob imnida.” Kata namja itu sambil membungkuk sedikit. Jiyeon membalasnya.

“Annyeong, Dongwoon imnida..” kata seorang namja lain yang bertubuh paling tinggi di antara mereka.

“Hyunseung imnida.” Sambung namja lainnya.

“Annyeonghaseyo.. Bangapseumnida.” Balas Jiyeon pula.

“Jiyeon-ah, duduklah dulu bersama kami. Masih ada satu lagi temanku yang belum bertemu denganmu. Dia masih ada di belakang.” Kata Junhyung.

“Mwo? Duduk bersama kalian?”

“Wae? Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu?” kata Dujun curiga.

Wajah Jiyeon berubah memucat. Bukan apa-apa, ia hanya tidak mengerti bagaimana mungkin Dujun bisa tahu kalau dia sedang menyembunyikan sisa tempe goreng yang dicurinya tadi? Ommo, eottokhe? Pikir Jiyeon cemas. Namun belum sempat ia menjawab, dari arah kebun milik Junhyung sudah muncul seorang namja lainnya.

“Yaa! Darimana saja kau? Kau sudah membiarkan Jiyeon lama menunggu.” Kata Junhyung.

Namja yang baru datang itu melihat ke arah Jiyeon. Ia tersenyum.

“Mianhae. Gikwang imnida.” Katanya kemudian.

“Jiyeon imnida..” balas Jiyeon.

Namja bernama Gikwang itu tersenyum sekali lagi, lalu duduk di sebelah Dujun.

“Aah, aku masuk dulu. Tugasku mengantarkan Jiyeon sudah selesai.” Kata Yoona tiba-tiba sambil berbalik hendak beranjak.

“Yoona-ah, kenapa tidak di sini saja? Kau tidak merindukanku?” kata Gikwang tiba-tiba.

Yoona tampak sedikit tersipu mendengarnya.

“Aniyo.. Sama sekali tidak..” katanya. Lalu ia pun bergegas masuk ke dalam.

“Yaa! Yoona-ah!”

Jiyeon yang merasa asing karena ditinggalkan Yoona jadi super salah tingkah dibuatnya. Lalu dengan gugup ia berkata.

“Aku.. Masuk juga, hehe annyeong!” katanya dan langsung dengan setengah berlari menyusul Yoona hingga hampir saja terjatuh gara-gara tersandung kura-kura peliharaan Junhyung yang sedang asyik latihan catwalk di depan.

Keenam namja yang ditinggalkannya itu saling berpandangan.

“Ada apa dengan yeoja-yeoja itu?” tanya Dongwoon merasa heran.

“Jiyeon memang seperti itu. Dia tidak bisa langsung bergaul dengan namja yang baru dikenalnya.” Kata Dujun menjelaskan.

“Tapi denganku dia langsung akrab.” Kata Junhyung.

“Mungkin karena kalian tinggal satu atap.” Hyunseung yang menjawab.

“Yoona juga tadi kelihatannya sedikit aneh. Dia tampak gugup.” Kata Dongwoon lagi.

“Aahh mungkin karena masakannya di dapur gosong.” Sahut Yoseob asal bicara. Yang lain tertawa mendengarnya. Tiba-tiba Yoseob teringat tingkah Jiyeon tadi. Ia jadi tersenyum sendiri dibuatnya.

“Yaa! Yoseob-ah, kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu?” tegur Gikwang heran.

“Ah, anii..” elaknya sambil meraih gitar milik Junhyung dan mulai memetik pisang goreng yang tersaji di depannya. 😀

___

 

Pukul 20.00

Saat makan malam bersama di ruang makan.

“Sebelum kita makan, Donghae Appa ingin memberitahu sesuatu pada kalian.” Kata Bibi Hyorin, membuat keempat anak #tunjuktunjukDujun,Junhyung,Jiyeon,Yoona itu urung mengambil nasi.

“Mworago?” tanya Junhyung dan Yoona bersamaan.

“Besok pagi Appa dan Paman Kyuhyun mendapat undangan dari perusahaan tempe terbesar di kota ini. Dan mereka mengundang kami untuk ikut merayakan kesuksesan perusahaan mereka dengan bermalam di hotel cabang perusahaan mereka juga selama seminggu. #gaknyambung 😀 maka dari itu Appa ingin bertanya, apa kalian tidak apa-apa kami tinggal di rumah?”

“Mwo? Berarti Hyorin Umma juga ikut?” tanya Yoona.

“Ne, Bibi Yoojin pun juga ikut.”

“Aiya.. Apa kita tidak boleh ikut sekalian, Appa? Kita kan..”

“Yaa! Yaa! Sudahlah, tidak apa-apa kita ditinggal di rumah. Lagipula kan ada Dujun dan Jiyeon. Jadi kita tidak akan kesepian. Dan ditambah lagi teman-temanku juga setiap hari ke sini.” Junhyung memotong ucapan Yoona.

Yoona mengangguk setuju.

“Ne, arasseo..” katanya.

“Baiklah kalau kalian setuju.” Ucap Paman Donghae.

“Ya sudah, Dujun-ah, Jiyeon-ah. Makan yang banyak, tidak usah sungkan-sungkan.” Kata Bibi Hyorin.

“Ne, jangan khawatir, Bi. Pasti semuanya nanti tinggal piring sama sendok saja.” Sahut Dujun berkelakar.

“Yaa! Selain bawel, ternyata kau ini rakus juga.” Komentar Junhyung yang disambut tawa yang lainnya.

Di tengah-tengah ketertawaan (?) mereka, tiba-tiba hp milik Jiyeon bergetar.

“Drrt.. Drrt.. Drrt..”

Jiyeon langsung mengambil benda kotak itu dan melihat layar hpnya. Seketika wajahnya berubah. Di layar hp tertulis : Delivered to ♥Lope♥. Dan itu berulang beberapa kali. Jiyeon senang sekali melihatnya. Karena itu artinya nomor hp Seungho sudah aktif kembali. Namun ia masih tetap was-was menunggu balasan dari namjachingu yang sangat dicintainya yang kini berada jauh darinya itu.

“Jiyeon-ah.. Smsannya nanti saja. Makan dulu.” Tegur Yoojin Umma ketika melihat anaknya itu malah asyik serius dengan hpnya.

“Ah, ne Umma..”

Jiyeon pun terpaksa mengantongi kembali hpnya, lalu mulai makan dengan agak tergesa.

___

 

“Drrt.. Drrt.. Drrt..”

Handphone milik Seungho yang baru saja diaktifkannya kembali itu bergetar terus menerus, menandakan banyak pesan yang baru masuk.

Pesan pertama,

From : ♥Lope♥

“Oppa.. Aku berangkat dulu. Jangan sedih ya.. Doakan selamat sampai tujuan. Saranghae..”

Pesan kedua,

From : ♥Lope♥

( empty )

Pesan ketiga,

From : ♥Lope♥

“Hpnya dimatikan ya Oppa? Kenapa tidak aktif?”

Pesan keempat :

From : ♥Lope♥

😦

Pesan kelima,

From : Ahsung

“Oppa.. Sedang sibuk tidak? Ayo kita jalan-jalan 🙂

Pesan keenam :

From : Yesung Hyung

“Seungho-ah, tadi Ummamu pesan martabak di tempatku. Tapi martabaknya tertukar milik orang lain. Dan sayangnya milik orang itu isinya sepasang sandal yang baru dibelinya di toko sendal. Apa Ummamu memakannya juga?”

Seungho jadi teringat tadi malam sewaktu Ummanya baru pulang dan ketika bermaksud memakan martabak yang dibelinya, ternyata sepasang sandal jepit yang ditemukan. Tapi Umma bilang tidak masalah, karena kebetulan sandal milik Umma sudah rusak.

Pesan ke tujuh :

From : Minho

“Yaa! Kemarilah besok. Kemarin kau belum membayar hutangmu yang lalu. Awas sampai kau tidak kesini. Kubakar celana dalammu!”

Ommo! Seungho agak ngeri juga saat membacanya.

Pesan ke delapan :

From : ♥Lope♥

“Oppa.. Kau masih marah padaku ya? Jebal, jangan marah lagi.. Bukankah Oppa bilang padaku kalau Oppa tidak marah? Kenapa sekarang Oppa malah mematikan hp? Oppa.. Jebal, jangan seperti ini..”

Seungho menarik napas dalam-dalam ketika membaca pesan itu. Baru saja ia hendak membalas pesan Jiyeon, tiba-tiba ada pesan masuk lagi.

From : Ahsung

“Oppa.. Kenapa tidak membalas pesanku?”

Aissh! Gerutu Seungho sedikit kesal. Tanpa menghiraukan pesan dari Ahsung, ia kembali memusatkan pikiran pada Jiyeon, kemudian mulai mengetik pesan.

To : ♥Lope♥

“Jujur sebenarnya aku masih sedih sekali. Aku tidak tahu harus bagaimana. Apapun usaha kulakukan untuk tidak memikirkanmu, tapi semuanya sia-sia. Pikiranku tidak bisa tenang memikirkanmu yang berada jauh di sana. Bayangan-bayangan negatif selalu datang menghampiriku. Aku bingung..”

Dua menit kemudian,

From : ♥Lope♥

“Ne, arasseo.. Tapi Oppa juga harus tahu kalo di sini aku juga tidak bisa tenang karena terus memikirkan Oppa. Aku takut Oppa kenapa-napa. Aku takut Oppa bunuh diri gara-gara stress memikirkanku. Aku minta jangan pernah matiin hp lagi ya Oppa? Jebal.. Aku khawatir sekali soalnya. Semalaman aku tidak bisa tidur gara-gara kepikiran Oppa terus..”

Mau tak mau Seungho tersenyum juga membaca pesan itu. Ia mulai sedikit agak tenang dibanding sebelumnya.

To : ♥Lope♥

“Tenang saja aku masih waras, Jagiya. Tapi mau tidak mau aku juga tetap cemas memikirkanmu.  Pasti di sana sudah bertemu dengan namja lain ya?”

___

 

Jiyeon kelabakan ketika membaca pesan terakhir dari Seungho itu. Ommo! Eottokhe? Aku harus jawab apa? Apa iya aku bilang kalo tadi baru berkenalan dengan empat orang namja? Issh! Bisa-bisa nanti Seungho Oppa marah lagi. Anii.. Anii.. Aku tidak boleh bilang, pikirnya kebingungan. Lalu dengan terpaksa ia pun membalas,

To : ♥Lope♥

“Anii. Aku hanya berkenalan dengan kedua sepupuku saja. Oppa tenang saja..”

Hmm… Mianhae, Oppa.. Aku tidak bermaksud tidak jujur. Tapi aku takut kalo jujur nanti malah menambah masalah lagi. Aku tidak ingin kita bertengkar lagi.. Lagipula kan aku juga masih setia.. batin Jiyeon.

Tiga menit kemudian,

From : ♥Lope♥

“Jinjja? Awas kalo bohong.”

Jiyeon makin stress dibuatnya.

To : ♥Lope♥

“Ne,, Oppa sudah tidak marah lagi kan padaku?”

Semenit kemudian,

From : ♥Lope♥

“Aku tidak pernah marah padamu, aku hanya sedih saja. Tapi sekarang sudah lebih baik. Jiyeon-ah, aku merindukanmu..”

Jiyeon terenyuh ketika membacanya.

To : ♥Lope♥

“Nado, Oppa.. Tapi mau bagaimana lagi..”

Dua menit kemudian,

From : ♥Lope♥

“Ne, arasseo.. Tapi ingat, jangan macam-macam dengan namja lain..”

Jiyeon merengut ketika membacanya. Rupanya Seungho masih ragu padanya.

To : ♥Lope♥

“Kenapa Oppa selalu begitu? Oppa tidak percaya padaku? Oppa sendiri juga jangan dekat-dekat dengan Ahsung yeoja SMA itu. Awas saja kalo sampai berani macam-macam!”

___

 

EHEK!

Seungho yang tengah makan durian itu tersedak ketika membaca balasan dari Jiyeon barusan.

Aku sih memang tidak dekat-dekat, tapi Ahsung saja yang tidak pernah berhenti mendekatiku. Lha kalo sudah seperti itu aku bisa apa? Masa iya aku harus mengabaikannya begitu saja dan bilang supaya jangan mendekatiku lagi? Tidak enak juga kali sama orangtuanya. Mana mereka sudah baik sekali pada keluargaku. Bahkan durian yang sedang kumakan sekarang saja pemberian dari Orangtuanya. Ommo.. Parah! Perang batin Seungho pun dimulai.

To : ♥Lope♥

“Hehe aniyo, kau jangan khawatir soal itu.. :)”

Beberapa saat kemudian,

From : ♥Lope♥

“Lagipula aku heran dengan yeoja satu itu. kenapa sih dia selalu saja mengejar-ngejar Oppa? Aku jadi ingin menjitaknya saja kalau bertemu nanti!”

To : ♥Lope♥

“Yaa, andwae,, begitu-begitu juga anak manusia. Tidak baik jitak anak orang.”

From : ♥Lope♥

“Geurae, jadi Oppa sudah mulai membelanya sekarang??”

To : ♥Lope♥

“Anii.. Aku hanya berbicara sebagai manusia yang berperasaan saja. Tidak ada maksud apa-apa 😀 ”

Selanjutnya smsan pun terus berlanjut sambil sesekali Seungho tersenyum geli menanggapi pesan dari lopenya itu.

___

 

Selasa, pukul 8.30, sejam setelah Kyuhyun Appa, Yoojin Umma, Paman Donghae, dan Bibi Hyorin berangkat memenuhi undangan dari perusahaan tempe.

Jiyeon yang masih sibuk di dalam kamarnya terlihat uring-uringan karena sejak tadi subuh hpnya error. Kalau sudah begini biasanya cuma Dujun yang bisa memperbaiki. Tapi namja itu ternyata malah menghilang sejak tadi.

“Issh! Kemana namja bengal itu? Susah sekali dicarinya.” gerutu Jiyeon yang baru saja keluar dari kamar Dujun.

“Jiyeon-ah, waeyo?”tanya Junhyung yang tiba-tiba muncul.

“Ah, Oppa tahu tidak Dujun oppa di mana sekarang?”

“Molla. Di kamarnya tidak ada?”

“Tidak ada. Di dapur juga tidak ada. Di kamar mandi juga tidak ada.”

Junhyung tak segera menjawab. Ia tampak berpikir.

“Aah, aku tahu. Mungkin dia sedang ada di kebun belakang. Akhir-akhir ini aku sering melihatnya keluar masuk kebun. Mungkin dia tertarik jadi tukang kebun.” Katanya bercanda.

Jiyeon tertawa dibuatnya.

“Ne, aku akan kesana. Gomawo, Oppa.”

“Ne..”

Jiyeon pun turun ke bawah dan hendak menuju kebun belakang. Namun belum sempat ia kesana, ia melihat seorang namja tengah duduk sendirian di teras depan rumah.

“Nugu? Sepertinya bukan Dujun oppa. Jamkanman! Yaa! Bukankah itu.. Yoseob-ssi? Sedang apa dia di sini? Ommo, aku tidak boleh terlihat olehnya.” Gumam Jiyeon. Lalu dengan kaki berjinjit layaknya seekor, eh seorang maling, ia melangkah super duper hati-hati.

“Jiyeon-ah, mau kemana?”

DEG!!

Jiyeon tertegun saat mendengar Yoseob memanggilnya seperti itu. Ia pun terpaksa mempause gerakannya sejenak. Ia belum segera menjawab teguran itu. Issh! Benar-benar tidak berbakat jadi maling, pikirnya kesal.

“Yaa! Kenapa kau berjingkat-jingkat seperti itu?”

Jiyeon bukannya menjawab, tapi malah terkekeh saja.

“Anii.. Aku sedang berolahraga..” katanya kemudian sambil pura-pura menggerak-gerakkan badannya. Tiba-tiba Yoseob mencabut rumput liar yang tumbuh di sekitar kakinya, lalu berjalan perlahan menghampiri Jiyeon. Jiyeon langsung gugup seketika. Ommo, mau apa namja itu kemari? Kenapa dia membawa rumput segala? Pikirnya gelisah. Yoseob pun semakin mendekatinya, lebih dekat, lebih dekat, dan.. tanpa disangka-sangka, tiba-tiba namja itu berjongkok di hadapannya!

___

 

_Author POV end_

 

To be continued..

 

Fiuhh.. Sampai di sini dulu deh cerita gajenya. Ngomong-ngomong, sudah muncul kan gajenya? Ehehek author gaje, ff pun gaje, jadi jangan heran 😀

Konfliknya belum ada di part ini, jadi sabar dulu 😀 #sokpinterluthor!

Well, sok atuh komentarnya readers di bawah dan mian kalo ada banyak typo di sini 🙂

Kamsahamnida dan sampai jumpa di part berikutnya. :bow: Annyeong! :wave:

15 thoughts on “[FF Freelance] Between 2 Choices (Part 1)

  1. whahahhahahahha…
    Dompet dompet sumpah bagian dompet ngakak!!
    Seru lucu2 lagi semuanya hahah..
    Kocaaak…!
    Kalau ak bahas 1 1 panjang nih komentarnya nanti..
    Hahahah yoseob mau ngelakuin apa? Hahah gg kebayang tt jangan2 buat ngakak lagi hahah…
    Lanjutannya ditunggu

    • Hehehe author sendiri aja juga ngakak pas bikinnya 😀
      Ahahah yah pokoknya ditunggu aja deh 🙂
      Gomawo yah ^^

  2. Wuahahaa,
    jiyeon doyan tempe goreng ya? Jengkol ama sayur asem emang ada d.korea? Sedikit pendapat ya thor, kalau bsa makanannya pake yg ad d.korea aja biar kesan koreanya dapet kan aneh tuh ngebayangi mereka d.korea makan tempe, jengkol & sayur asem. Sangat indonesia bnget
    mian ini hanya sedikit pendapat loh#bow

    • Hahah.. author emang sengaja bikinnya kayak gitu kok chingu, soalnya dari awal udah direncanain mau bikin ff gaje 😀
      Tapi makasih banyak buat sarannya, ntar lain kali author coba bikin yang ‘agak’ gak gaje lagi deh, eheh 🙂

  3. Wkwkwk oh emji, ini ff sukses buatku ngakak. Kocak banget thoorr! 😀
    Buruan dunk lanjutannya ditunggu, penasaran nih mau ngapain tuh si ucup 😀

  4. Hahaha ampe ketawa q bacanya,makanan ina mendunia oi,hehe tp q lbh senang minho deh jd namjachingunya jiyeon dr pd seungho.V Next !!

  5. Aigoooo kocak bgt thorrr… Pas jiyi ketemu yosoeb trus yoseob blg dompet nya ketuker… Aigooooo ngakak abis thorr…

    Itu yoseob ngapain bawa rumput trus jongkok di hadapan jiyi???

  6. Annyeonghaseyo .
    Baru nemu ini ff .
    Salam kenal thor . Hehehe ^^
    Aku waktu baca castnya aja langsung jingkrak-jingkrak gaje karena Jiyeon di pasangkan sama Seung Ho .
    Author kocak ya , slama baca part 1 , udah gak kehitung berapa kali aku bilang omigod (oh my god maksudnya) kekeke-
    Pokoknya semua lucu . Tapi jangan sampe Jiyeon di ambil Yoseop ya , gak relaaaaaa -,-
    Sekian dulu cincongnya di part satu , ketemu lagi di part duanyaaaaaaaaa .
    Gak sabar pengen tahu kelucuan apa lagi yang dibikin author segokil kamu .
    😀

  7. gila ini ngakak banget ceritanya xD wkwkwk
    anyway, itu yoseob motivasinya apa coba nyabut rumput liar terus dia deketin jiyeon dan jongkok dihadapan jiyeon?._. aneh-aneh aja nih -_- wkwkwk

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s