[FF Freelance] Blind in Love (Part 8)

blind in love

Title : Blind In Love (Chapter 8) || Author : Anissa A.C (@anissahac) || Rate : PG-16 || Length : Chapter || Genre : Romance & Family || Cast’s : Kim Taeyeon [GG], Kim Jongwoon [SJ], Tiffany Hwang [GG], Cho Kyuhyun [SJ], Kim  Hyoyeon [GG], Lee Hyukjae [SJ] || Disclaimer : Terinspirasi dari berbagai lagu, novel, drama dan ff lain. Poster and Story originally made by me. Keep reading and commenting. ^^

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7

 

Fate controls who walks into your life,

but you decide who you let walk out, who you let stay,

and

who you refuse to let go

 

 

Hening. Itulah yang saat ini sedang terjadi di ruangan itu. Tiffany sedari tadi hanya menundukkan kepalanya sambil sesekali melirik pria dengan senyuman angkuh di hadapannya, Cho Kyuhyun. Pria itu dengan tenangnya duduk di hadapan Tiffany sambil menatap Tiffany tajam. Beberapa saat kemudian, seorang waitress dengan yukatanya membuka pintu ruangan itu membawakan dua buah gelas teh hijau sebelum akhirnya meninggalkan kedua sosok itu kembali larut dalam keheningan.

“Minumlah. Aku dengar teh hijau bagus untuk menenangkan hati dan pikiran.” Ucap Kyuhyun lalu menegak teh hijaunya dengan perlahan.

“N-ne.” Jawab Tiffany terbata-bata lalu ikut meminum tehnya.

“Kau tahu kan alasan mengapa kita disini?” Tanya Kyuhyun datar.

“Ya. Tentu aku tahu.”

“Apa kau sudah tahu sebelumnya jika aku adalah orang yang akan kau temui?”

“Tidak. Sama sekali tidak terpikirkan olehku kalau kau adalah orang yang dimaksud kedua orang tuaku.”

“Kalau kau menerima permintaan orang tuamu untuk datang kesini, lalu bagaimana hubunganmu dengan Kim Jongwoon? Kau sudah menyerah pada pria itu?” Tanya Kyuhyun skeptis.

“Maksudmu?” Seru gadis itu dengan kening yang berkerut.

“Sudahlah, aku bukan manusia bodoh yang tidak bisa menebak sesuatu dari gelagatnya. Aku yakin kau pasti memiliki perasaan pada pria itu, meskipun kau belum memberiku jawaban.”

“Kau sendiri, bagaimana dengan Kim Taeyeon? Apa kau juga menyerah?” Alih-alih menjawab,  kali ini Tiffany balas bertanya tak kalah skeptis.

Kyuhyun melepaskan seringaiannya. “Kau tidak sedang berpikir aku benar-benar menerima perjodohan bodoh ini kan?”

“Maksudmu?” Tanya Tiffany tak mengerti.

“Tidak ada alasan untukku menyerah.  Aku hanya tak mau menjadi anak durhaka, jadi aku mengikuti permintaan orang tuaku untuk mengikuti kencan buta ini. Tapi bukankah kita diberi hak untuk menolak jika pada akhirnya kita tidak menemukan kecocokan? Tapi pada akhirnya cukup aku mengatakan aku tak bisa melanjutkannya dan membawa orang yang kucintai pada mereka. Dengan begitu kita cukup melakukannya untuk sementara dan kau juga bisa bersama pria bernama Kim Jongwoon itu.”

‘Sempit sekali pola berpikir pria sombong di hadapanku ini. Apa ia begitu yakin Taeyeon juga menyukainya. Ck, menyerah? Bahkan belum berjuang saja sudah di tolak mentah-mentah oleh orang tuaku.’ Batin Tiffany sambil tersenyum sinis.

“Terserah padamu saja, pada intinya aku sama sepertimu, mematuhi permintaan orang tua dan tidak ingin menjadi anak durhaka. Tapi aku tidak mau membual mengenai hal yang akan terjadi nanti seperti halnya dirimu. Cukup aku jalani sekarang dan serahkan kepada Tuhan.”

Pada akhirnya seorang waitress datang menghentikan perdebatan mereka. Waitress itu meletakkan berbagai makanan seperti sashimi dan berbagai jenis sushi.

“Selamat menikmati.” Ucap waitress itu sopan lalu keluar dari ruangan itu.

“Makanlah, jika kau tak suka, kau bisa pesan sesuatu yang kau suka. Yang jelas, aku tak mau membiarkanmu pulang dari sini dalam keadaan lapar dan mendapat citra yang buruk di mata kedua orang tuamu.” Kyuhyun berucap dengan dingin dan sinisnya. Sementara Tiffany hanya bisa menahan kekesalannya dengan menggigit bibirnya.

*****

Taeyeon membuka matanya dan mendapati dirinya tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Sambil berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya yang menyisip melalui ventilasi kamarnya, ia meregangkan badannya yang terasa kaku. Ia  berusaha bangun dan  mendudukkan badannya. Belum sepenuhnya posisinya duduk, sesuatu jatuh dari dahinya ke atas pahanya.

“Handuk kompres?” Ia menatap handuk di genggamannya sambil menyenderkan kepalanya di sandaran tempat tidur. Otaknya berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi hingga ia terbaring dengan menggunakan handuk kompres di dahinya. Dan saat ia menolehkan kepalanya ke nakas disamping tempat tidurnya, ia mendapati sebuah kertas yang terlipat rapi dengan sebuah kantung kertas diatasnya. Penasaran dengan kertas itu, ia lantas meraihnya dan membuka lipatan kertas itu dan tertegun mendapati tulisan diatas kertas itu.

Taeyeon-ssi,

Karena aku pikir kau akan membaca surat ini dipagi hari, aku akan berbicara seolah kejadian yang kau alami tadi adalah kejadian kemarin. Kemarin aku bermaksud datang ke rumahmu untuk meminta hoodieku yang waktu itu aku pinjamkan padamu karena insidenmu itu. Namun ketika kau membukakan pintu untukku, kau malah terjatuh pingsan dengan kondisi tubuh yang lemah. Jadi aku membaringkanmu di atas tempat tidur dan mengompresmu sampai keadaanmu lumayan membaik. Oh ya aku tidak mau dianggap sebagai seseorang yang tak bertanggung jawab, terlebih statusku adalah dokter. Jadi, aku meletakkan kantung kertas berisi obat-obatan diatas surat ini. Kantung itu berisi obat demam, antibiotik serta vitamin. Pastikan kau mengomsumsinya agar keadaanmu membaik. Maaf aku meninggalkanmu begitu saja. Tapi, aku meminjam kunci duplikat apartmentmu pada nyonya pemilik gedung sehingga aku bisa meninggalkan apartmenmu dalam keadaan aman. Kunci apartmentmu yang asli aku letakkan bersama obat dan surat ini. Itu saja yang ingin kusampaikan. Cepat sembuh. ^^

Kim Jongwoon

Sepucuk surat singkat tapi entah mengapa begitu berarti untuk Taeyeon. Seulas senyuman tersungging di bibirnya membaca setiap kata yang tertuang di atas kertas itu.

“Pria ini…” Ucapnya menggantung lalu meraih kantung obat yang terletak di atas nakas. Seperti yang dikatakan dalam surat itu, Taeyeon menemukan obat demam, antibiotik dan vitamin di dalam kantung kertas itu.

“Kenapa pria itu terlalu baik. Terlalu baik hingga membuatku takut.” Gumamnya sambil memandang obat-obat itu.

‘Takut? Ya aku takut. Aku takut aku akan mengharapkan hal yang lebih darimu Kim Jongwoon-ssi….’

*****

Taeyeon menatap paperbag yang ia letakkan di atas mejanya. Paperbag itu berisikan hoodie milik Jongwoon yang belum sempat ia kembalikan. Dan rencananya, ia akan mengembalikan hoodie itu hari ini. Namun otaknya masih bingung perihal bagaimana ia harus mengembalikannya.

“Kau ada latihan hari ini?” Sapa Victoria yang baru saja datang dari mengajar. Taeyeon yang menyadari sapaan Victoria mengalihkan pandangannya ke arah Victoria.

“Tidak. Pelatihku memintaku untuk istirahat hari ini. Ia juga memberikanku libur di setiap hari minggu mulai sekarang, kecuali seminggu sebelum pementasan.”

“Kau harus menerimanya Taeyeon-ah, atau kau akan menyesal.” Tukas Victoria.

“Ya aku memang harus menerimanya karena pelatihku adalah tipikal orang yang tidak suka keputusannya dibelokkan.” Ujar Taeyeon sambil merapikan paperbag itu dan meletakkannya di atas tumpukan buku di atas mejanya.

“Kau akan pulang sekarang? Kita bisa pulang bersama.” Tawar Victoria sambil bergegas pulang.

“Hey, semenjak hamil sifat menyebalkanmu itu benar-benar sudah berkurang dan aku mensyukurinya.” Komentar Taeyeon dengan nada jahil.

“Taeyeon-ah, aku serius.”

“Hahaha aku hanya bercanda. Pulanglah. Aku akan ke perpustakaan dulu.” Ucap Taeyeon sambil terkekeh melihat ekspresi kesal Victoria.

“Baiklah, aku pulang dulu. Bye.” Wanita berperawakan tinggi itu pun melambaikan tangannya pada Taeyeon dan keluar dari ruang guru. Sementara Taeyeon hanya balas melambaikan tangan sambil menatap sosok itu semakin menjauh.

 

“Taeyeon-ah!” Seru salah seorang penjaga perpustakaan begitu melihat Taeyeon memasuki ruangan perpustakaan itu. “Rasanya sudah lama sekali tidak melihatmu ke perpustakaan.” Ujar penjaga perpustakaan itu sambil tersenyum.

“Iya, aku disibukkan dengan jadwal latihanku, Nyonya Kang.” Jawabnya sambil mendekat pada meja wanita yang di panggil Nyonya Kang itu.

“Oh ya aku juga mendengar katanya kau lulus audisi musikal ya?” Tanya Nyonya Kang antusias.

Taeyeon tersenyum malu. “Begitulah Nyonya Kang.”

“Kau harus menjaga kesehatanmu, ne? Agar kau tak sakit di tengah jadwal latihanmu yang sangat padat.” Nasihat nyonya Kang sambil tersenyum.

“Ne, tentu saja.” Jawab Taeyeon sambil mengangguk dan tersenyum.

“Oh ya Taeyeonie, itu fansmu sepertinya sedang kesepian duduk di pojok sana. Dan sepertinya, ia belum di jemput.”

“Fans?” Bingung Taeyeon.

“Murid baru itu, yang dulu suka menempelimu setiap di perpustakaan.”

“Kim Taewoon?” Tebaknya.

“Aku tak tahu namanya, kau kesana saja.” Ucap Nyonya Kang sambil menaikkan dagunya menunjuk pojok perpustakaan.

Sesuai perkataan Nyonya Kang, Taeyeon berjalan ke pojok perpustakaan itu dan mendapati Taewoon duduk sambil berkonsentrasi dengan bukunya.

“Tidak pulang Taewoonie?” Sapanya sambil mendekati bocah itu dan duduk di kursi kosong di sebelahnya.

“Sonsaengnim!” Serunya melihat sonsaengnimnya itu. “Hyoeun tidak sekolah hari ini karena sakit, jadi aku tidak bisa pulang bersamanya. Jadi aku harus menunggu daddy.”

Taeyeon nampak berpikir lalu kemudian ia menatap bocah dihadapannya ini.

“Mau pulang bersama sonsaengnim?”

*****

From : Kim Taeyeon

Maaf mengganggumu dokter kim. Aku hanya ingin mengabari,  Taewoon pulang bersamaku. Jadi, anda tak perlu menjemputnya kesekolah. Sekali lagi maaf mengganggu.

“Pulang?” Ujar Jongwoon sambil mengernyit heran. “Apa Hyoyeon tak mengajak Taewoon pulang bersama? Tapi mengapa ia tak mengabariku? Tapi…” Dalam sekejap kebingungannya berubah menjadi seulas senyuman. Dan entah mengapa ia jadi ingin segera pulang.

“Dokter Kim.” Panggil seseorang memecahkan lamunan Jongwoon.

“Eh, n-ne Suster Lee?” Respon Jongwoon gagap.

“Anda tidak mendengar saya sejak tadi? Saya sudah tiga kali mengatakan, apa saya bisa memanggil pasien selanjutnya sekarang?” Jelas suster itu dengan nada yang agak kesal.

“Oh, mianhae, kau bisa panggil sekarang.” Jawab Jongwoon dengan wajah malu.

*****

Cklek

Bunyi pintu itu membuat Taeyeon yang sedari tadi sibuk dengan peralatan dapur menghentikan kegiatannya sejenak. Ia pun berinisiatif untuk mengecek pintu apartment, setidaknya untuk mengurangi kemungkinan dirinya berpikir yang tidak-tidak dan memastikan apakah ada orang yang masuk ke dalam apartment itu. Dan benar saja, ketika Taeyeon keluar dari dapur dan melihat ke arah pintu, ia mendapati sang pemilik apartment baru saja masuk dan sedang melepas sepatunya dengan wajah yang nampak kelelahan dan kemeja yang kusut.

“Taeyeoon-ssi!” Sapa Jongwoon ketika matanya menangkap sosok Taeyeon yang berdiri di dekat dapur.

“Ah, Dokter Kim, selamat malam.” Sapa Taeyeon balik sambil membungkukkan badannya sekilas.

“Tak usah seformal itu denganku.” Respon Jongwoon berusaha menciptakan suasana yang tidak canggung.

“Ah, dokter Kim, aku sudah membawa hoodie anda dan tadi Taewoon sudah meletakkannya di kamar anda. Terimakasih untuk pinjaman hoodienya serta obat-obat yang kau berikan beberapa hari yang lalu.”

“Ah, itu. Aku menolongmu karena naluriku sebagai dokter memintaku melakukannya kala itu. Tapi sekarang kau sudah sehat kan?”

“Tentu saja.” Taeyeon tersenyum memamerkan deretan gigignya serta pipinya yang chubby.

“Oh ya, Taewoon dimana?”

“Dia sedang mandi.

“Oh begitu. Kalau begitu, karena aku sudah pulang, kau bisa pulang sekarang. Maaf aku sudah terlalu merepotkanmu.” Kali ini Jongwoon berkata sambil memberikan sebuah senyuman ringan yang berhasil membuat matanya nampak seperti sebuah garis.

“T-tapi, itu…” Taeyeon berusaha menjelaskan sesuatu sambil menunjuk ke arah dapur. Tapi ia tak bisa melanjutkan kalimatnya.

“Tapi?” Tanya Jongwoon sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Aku minta maaf, telah menggunakan dapurmu lagi tanpa seijinmu. Tadi Taewoon bilang ia sudah lapar, jadi aku bermaksud membuatkannya makan malam.” Taeyeon menjelaskan dengan kepala yang tertunduk. Ia sungguh takut jika Jongwoon akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya atau mungkin memarahinya.

Diluar dugaan Taeyeon, pria itu justru tersenyum geli melihat ketakutannya. “Hey, apa kau kira aku akan memakanmu hanya karena kau menggunakan dapur? Kau kan memasak untuk Taewoon, jadi mengapa kau harus merasa bersalah?”

“Benar anda tidak marah?” Kali ini Taeyeon bertanya pelan sambil memberanikan diri melirik pria di hadapannya ini.

“Kau benar-benar merasa bersalah ya karena menggunakan dapur?” Ujar Jongwoon balas bertanya dan dibalas anggukan pelan oleh wanita di hadapannya itu.

Sebuah senyuman penuh arti terukir di bibir Jongwoon. “Kalau begitu, bagaimana jika kau memasak juga untukku?”

 

“Kau memasak apa?”  Jongwoon menghampiri Taeyeon yang sedang memotong bahan masakan di dapur. Kali ini wajahnya nampak lebih segar dan bajunya sudah diganti dengan kaos v-neck putih dan celana hitam selutut.

“Bibimbap? Apa kau menyukainya?” Jawab Taeyeon sambil menolehkan kepalanya sekilas.

“Bibimbap?” Ulang Jongwoon sambil kembali menaikkan sebelah alisnya dan menyandarkan kepalanya di pintu kitchen set.

“Kenapa? Kau tak suka?” Kali ini Taeyeon menghentikan kegiatannya sejenak lalu kembali memandang Jongwoon yang berdiri di sampingnya.

“Tentu saja aku suka. Tapi biasanya aku hanya menyukai bibimbap buatan ibuku.” Terang Jongwoon jujur.

“Baiklah itu terserahmu.” Ucapnya lalu kembali berkonsentrasi dengan bahan-bahan makanannya.

Hanya sampai disitu pembicaraan mereka. Taeyeon kembali sibuk dengan masakannya dan Jongwoon hanya diam mematung memandangi Taeyeon yang tengah sibuk. Pria itu benar-benar memperhatikan Taeyeon. Setiap gerak-gerik wanita itu, tak ada satupun yang terlewatkan olehnya.

Taeyeon tahu betul jika Kim Jongwoon tengah memandanginya. Tapi ia memilih untuk tetap berkonsentrasi dengan masakannya dan berusaha untuk tidak menggubris kedua mata Jongwoon yang tak lepas memandangnya. Cukup lama Taeyeon harus bertahan dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba pria itu keluar dari dapur meninggalkannya. Taeyeon sempat bernapas lega, namun itu tidak lama sampai pria itu kembali masuk ke dapur dengan sebuah apron ditangannya. Taeyeon masih berusaha tak menanggapi kehadiran pria itu namun sepertinya Kim Jongwoon benar-benar handal mengalihkan perhatian wanita itu. Pria itu berdiri di belakang Taeyeon dan menggantungkan apron di leher wanita itu. Tak sampai disitu, ia juga mengikatkan kedua tali apron di punggung Taeyeon dan sukses membuat jantung Taeyeon kembali berdetak lebih cepat.

‘Pria ini, sebenarnya apa maunya….’

“Apa kau tidak sadar kalau memasak tanpa apron itu sangat beresiko membuat baju kotor?” Ujar Jongwoon sambil mengangkat rambut Taeyeon yang dihimpit oleh tali leher apron itu lalu menyampirkannya ke sebelah kanan. Bahkan Taeyeon bisa merasakan hembusan napas Jongwoon di lehernya ketika rambutnya tidak lagi menutupi lehernya.

Taeyeon terdiam. Otaknya terlalu sibuk mencerna apa saja yang baru saja terjadi. Merasakan deru napas pria itu di lehernya, membuat wajah Taeyeon bersemu merah dan lupa akan kegiatan yang tengah ia lakukan.

“Argh.”

Taeyeon mengerang sakit ketika tangannya yang seharusnya mengiris daging hilang kendali dan tanpa sengaja menggores jari telunjuknya.

“Taeyeon-ssi! Ada apa?” Dengan khawatir Jongwoon semakin mendekatkan posisinya dengan wanita itu. Begitu melihat tangan taeyeon yang mengeluarkan darah, tanpa berpikir panjang pria itu mengarahkan jari Taeyeon ke bibirnya dan mengisap darah yang keluar.

“Apakah sakit?” Kembali Jongwoon bertanya tapi wanita di hadapannya hanya terdiam memandangi Jongwoon yang masih mengisap darah yang menetes dari jarinya.

‘Mengapa dengan seiring berjalannya waktu, pria ini justru membuat jantungku hampir berhenti berdetak. Tidakkah ia sadar kebaikannya ini sangat berdampak buruk bagiku? Bagaimana jika Dokter Hwang akan semakin berpikir yang tidak-tidak mengenaiku?’

“Jongwoon-ssi, sudahlah aku tidak apa-apa.” Untuk pertama kalinya, Taeyeon memanggil pria itu dengan namanya, bukan dengan ‘Dokter Kim’. “Masakanku sudah hampir selesai, bagaimana jika kau temani saja Taewoon dulu? Aku akan memanggilmu jika Bibimbapnya sudah matang.” Taeyeon berbicara dengan suara yang sangat kecil, tapi untung Jongwoon masih bisa mendengarnya.

“Apa benar tidak apa-apa? Apa perlu aku bantu?” Pria itu nampak benar-benar khawatir. Bahkan ia menawarkan bantuan kepada Taeyeon. Tapi Taeyeon hanya menggelengkan kepalanya. Menurutnya bantuan pria itu tidak ia butuhkan saat ini karena justru akan semakin membuatnya tak karuan.

“Baiklah aku keluar. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu. Ne?” Ucap Jongwoon dan dibalas anggukan kecil dari Taeyeon. Begitu pria itu pergi, Taeyeon menunduk dan meletakkan kedua tangannya di tepi kitchen set untuk menumpu badannya. Ia memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafas panjang.

‘Ada apa dengan diriku?’

 

“Whoaaa Taeyeon sonsaeng, bibimbap buatan sonsaeng tidak kalah enak dengan buatan halmoni.” Seru Taewoon dengan mulut yang dipenuhi dengan makanan.

“Taewoon-ah, habiskan dulu makanan dimulutmu.” Nasihat Jongwoon yang duduk di seberangnya. Taeyeon yang duduk di sebelah Taewoon hanya tersenyum geli memperhatikan tingkah ayah dan anak itu.

“Tapi perkataanku benar kan daddy, bibimbap buatan sonsaeng tak kalah enak dengan buatan halmoni.” Ujar bocah itu lagi. Mendengar ucapan Taewoon, Taeyeon melirik Jongwoon sekilas lalu menatap makanannya, menanti respon pria itu.

“Ya begitulah.” Jawab Jongwoon singkat.

‘Hanya itu responnya? Astaga pria ini benar-benar.’ Batin Taeyeon dalam hati.

“Daddy!” Seru bocah itu lagi.

“Wae?”

“Bagaimana kelas mengemudi daddy hari ini? Apakah daddy sudah bisa menyetir sekarang? Kapan kita akan ke taman hiburan?” Bocah itu bertanya dengan mata penuh harap, dan itu tentu membuat Jongwoon bingung harus menjawab apa.

“Akan daddy usahakan untuk segera bisa mengemudi, ne?” Kembali pria itu melontarkan jawaban gantung. Mendengar jawaban ayahnya, Taewoon hanya mengerucutkan bibirnya tak puas.

“Huh, Daddy payah.” Gerutu bocah itu sebal. “Aku sudah kenyang, aku akan ke kamar sekarang.” Ucapnya lalu berlalu meninggalkan ruang makan.

“Err, aku yakin itu bukan kali pertama kau menjawab seperti itu.” Tebak Taeyeon sambil melirik Jongwoon yang nampak kecewa.

“Ya, mungkin ini sudah ke seratus kali aku menjawab akan mengusahakannya.” Terang Jongwoon sambil meletakkan sendoknya.

“Waktu itu aku mendengar Hyoyeon mengatakan trauma, kau terkena trauma pada mobil begitu?” Kali ini Taeyeon benar-benar nampak ingin tahu.

“Tepatnya aku trauma mengemudikan mobil lagi.” Jawab Jongwoon tak bersemangat.

“Tapi kalaupun kau tak bisa mengemudi, kau kan masih bisa pergi menggunakan jasa supir anda itu.” Berbeda dengan Jongwoon yang sudah menyelesaikan kegiatan makannya, Taeyeon nampak masih sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Dia bilang tidak menyenangkan jika pergi ke taman hiburan dengan supir. Menurutnya serasa pergi dengan taksi. Tidakkah jawabannya itu aneh?” Ucap Jongwoon lalu menaikkan alisnya seolah meminta pembenaran dari Taeyeon.

“Lalu dokter Hwang?” Bukannya memberikan pembenaran sesuai yang diharapkan Jongwoon, Taeyeon justru kembali bertanya.

“Dia tidak memberikan alasan dan hanya berkata tidak.”

“Mungkin dia ingin waktu berdua denganmu. Ya kau tahu kan, hidup dengan single parent itu tak sama dengan hidup bersama ayah dan ibu. Terlebih kau sibuk sekali dengan pekerjaanmu itu. Jadi ada kalanya dia ingin memiliki ayahnya seutuhnya.”

“Ya, kau benar.” Pria itu terdiam dan memejamkan matanya sambil bersandar di kursinya. Beberapa detik kemudian, pria itu membuka matanya dan menatap Taeyeon. “Kau ada cara?”

“Tentu saja kau harus berlatih.” Jawab Taeyeon seadanya lalu menyuapkan suapan terakhirnya ke dalam mulut. Mendengar jawaban Taeyeon, Jongwoon berpindah ke kursi di sebelahnya, sehingga kali ini ia benar-benar berhadapan dengan Taeyeon.

“Kau tahu, aku selalu mendapat nilai sempurna di ujian teori mengemudi. Namun ketika harus berhadapan langsung dengan kemudi aku selalu dihantui dengan bayang-bayang yang membuatku trauma.”. Ujarnya sambil melipat tangannya di atas meja lalu mencondongkan badannya ke depan.

Gadis itu meraih gelas yang berada di sampingnya lalu menegak air dari dalam gelas itu. “Tapi tentu saja ada alasan mengapa trauma itu tak boleh membayangimu terus kan?”

“Jawabanmu sama dengan ucapan Pak Jung.”

“Jadi apa kau sudah menemukan alasannya?” Sekarang Taeyeon nampak semakin tertarik. Ia mengikuti Jongwoon melipat tangan di atas meja lalu mencondongkan badannya ke depan. Dan sekarang, jarak kedua manusia itu cukup dekat.

“Kau percaya alasan itu bisa berguna?” Pria itu bertanya dengan raut muka tak yakin.

“Setidaknya cukup berperan untuk mendukungmu.” Jawab Taeyeon sambil menganggukkan kepalanya berusaha meyakinkan.

“Oh begitu.” Jongwoon hanya menjawab singkat. Beberapa detik kemudian ia kembali menatap Taeyeon.

“Mau menemani aku ujian mengemudi akhir pekan nanti?”

*****

Taeyeon yang seharusnya konsentrasi pada kemudinya sedari tadi terus melirikkan maatanya ke sosok yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Kim Jongwoon tengah duduk sambil sibuk membaca kertas-kertas yang entah apa isinya. Dan tentu saja itu mengundang rasa penasaran Taeyeon.

“Apa yang sedang kau baca?” Kali ini Taeyeon tidak mau berbasa-basi. Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan ia mengajukan pertanyaan pada pria itu.

“Ini soal-soal ketika aku ujian teori mengemudi. Bukankah praktik juga memerlukan teori?” Jawab pria itu tanpa menoleh. Sementara Taeyeon hanya membulatkan bibirnya paham.

“Seberapa besar kesiapanmu untuk mengikutin ujian mengemudi lagi?” Tanya Taeyeon kembali.

“Entahlah.” Jawab pria itu datar.

“Entah? Sepertinya kau tak yakin.”

“Selama beberapa hari ini aku terus membaca teori-teori ini.  Aku juga sering menghayal berhadapan dengan kemudi ketika aku sedang tidak ada kegiatan. Tak hanya itu, sepertinya aku kurang tidur karena beberapa malam ini aku sibuk memikirkan alasan yang harus kugunakan untuk menghilangkan traumaku.

‘Aku yakin trauma yang ia alami benar-benar berat.’

“Jadi, apa alasanmu itu?” Kembali dengan rasa penasarannya, ia bertanya lagi pada Jongwoon.

“Aku akan mengatakannya jika aku berhasil melewati ujian hari ini.” Jawab Jongwoon percaya diri.

Mendengar jawaban pria itu, Taeyeon nampak kecewa karena harus meredam rasa penasarannya. Tapi ia memutuskan untuk pura-pura tidak peduli.

“Oh baiklah.” Jawab Taeyeon datar.

“Mau bertaruh denganku?” Masih tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu, kali ini Kim Jongwoon kembali menarik perhatian wanita di sebelahnya ini.

“Bertaruh?” Taeyeon menolehkan kepalanya menatap pria di sebelahnya ini sejenak sebelum akhirnya kembali menatap jalanan di depannya.

“Ya bertaruh.”

“Mengapa harus bertaruh? Dan mengapa kau mengajakku untuk bertaruh?”

“Kau tak mau dirugikan kan sudah menemaniku ujian hari ini?”

“Memangnya kau ingin bertaruh apa?”

“Jika aku tidak berhasil menjalani ujian hari ini aku akan mengabulkan satu permintaanmu. Jika yang terjadi sebaliknya, ya kau tahu jawabannya.”

Ucapan Jongwoon terdengar cukup menarik di telinga Taeyeon. Namun tentu saja ia tak bisa mengharapkan pria itu tidak lulus ujian kan?

“Dilihat dari caramu berbicara, sepertinya kau yakin jika kau tak akan lulus. Tapi bukannya jika kau lulus aku harus memenuhi keinginanmu? Jadin  dimana titik untungnya untukku?”

“Ya pokoknya seperti itu.” Jawab pria itu menggantung lalu memasang seringaian di wajahnya.

 

“Tuan Kim Jongwoon.” Panggil salah seorang instruktor mengemudi. Jongwoon yang sedari tadi serius membaca kertas-kertas teorinya sembari menunggu gilirannya di ruang tunggu langsung menoleh dan berdiri. “Anda bisa melaksanakan ujian sekarang.”

Jongwoon menatap wanita yang duduk di sebelahnya. Taeyeon yang menyadari tatapan mata pria itu balas menatap dan menganggukkan kepalanya seolah berkata ‘kau bisa’. Menyadari hal itu Jongwoon menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

“Tunggu aku disini, ne?” Ucap Jongwoon singkat. Dan Taeyeon balas tersenyum. Tak lupa sebelum pria itu berlalu, Taeyeon mengepalkan tangannya lalu berbisik pada Jongwoon. “Fighting.”

“Anda belum menyerah rupanya Tuan Kim.” Sindir instruktor mengemudi itu ketika mereka sudah duduk di dalam mobil. Jongwoon tidak mengubris ucapan instruktor itu dan memilih mengenakan sabuk pengamannya.

“Baik, sekarang biarkan saya melihat seberapa besar kemajuan yang akan anda tunjukkan hari ini.” Masih dengan skeptis, instruktor itu mempersilahkan Jongwoon untuk mulai mengemudi.

Dengan ragu, Jongwoon menghidupkan mesin mobilnya.

‘Berkati aku….’ Gumamnya dengan menghela nafas sebelum memulai ujian hari itu.

*****

Ini sudah kali kesekian Tiffany menelepon Jongwoon, tapi pria itu tak kunjung mengangkat teleponnya. Tak hanya menelepon ke ponselnya, Tiffany bahkan sudah menelepon ke apartmennnya, tapi tetap saja hasilnya nihil. Belum menyerah, Tiffany pun memutuskan untuk menghubungi kediaman orang tua Jongwoon.

“Yeobseyo.” Jawab seseorang dari kediaman orang tua Jongwoon. Tiffany yang sangat familiar dengan suara itu langsung mengelus dada lega.

“Taewoonie? Ini Tiffany Auntie.”

Mendengar nama sang penelepon, Taewoon sontak berseru dengan girangnya. “Auntie?! Aaa, auntie, aku sangat merindukan autie. Mengapa autie tidak pernah berkunjung lagi ke rumah?”

Mendengar respon bocah itu Tiffany hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Sebenarnya auntie ingin berkunjung ke apartment kalian, tapi sepertinya kalian tidak di rumah. Apa kalian berdua di rumah keluarga Kim?”

“Iya aku sedang bermain dengan Hyoeun disini, tapi daddy tidak disini.”

“Tidak disana? Kemana daddymu?”

“Ujian mengemudi.”

‘Tumben sekali ia tak mengatakan padaku jika ia akan mengikuti ujian mengemudi.’

Dengan diliputi rasa penasaran sekaligus curiga Tiffany bertanya. “Apakah Daddymu diantar Pak Jung?”

“Tidak. Daddy bersama Taeyeon sonsaengnim”

Mendengar jawaban bocah itu, hati Tiffany bagaikan di sambar petir. Ia merasa dikhianati oleh Taeyeon yang jelas-jelas sudah berjanji padanya untuk menjauhi Jongwoon.

“Auntie! Apakah masih disana.” Suara Taewoon memecahkan lamunan Tiffany.

“Ah ne, Taewoonie. Taewoonie, auntie tutup dulu ne? Annyeong.” Tanpa mendengar persetujuan dari Taewoon, wanita itu menutup telepon secara sepihak. Mendadak otaknya dipenuhi dengan bayangan-bayangan terburuk yang mungkin akan terjadi diantara kedua manusia itu. Tak hanya itu, tangan Tiffany yang sedari tadi memegang ponsel nampak bergetar dan tanpa ia sadari ia membiarkan ponselnya terjatuh dari tangannya.

“Eottokhae?”

Di tengah keadaan otaknya yang serabutan, tiba-tiba gadis itu kembali menerima sebuah serangan. Ia kembali merasa sakit pada punggungnya dan wajahnya langsung berubah pucat.

“Mengapa sakit lagi.” Erang Tiffany sambil mencengkram punggungnya menahan sakit.

*****

Suara langkah kaki yang entah bagaimana  sangat familiar untuk Taeyeon membuatnya mengalihkan pandangannya dari majalah yang sedari tadi ia baca pada sosok yang berjalan ke arahnya. Sosok itu berjalan dengan wajah datar yang menjadi ciri khasnya. Taeyeon coba menerka-nerka arti wajah datar itu, tapi sayang ia tak berhasil.

“Maaf membuatmu menunggu lama disini Taeyeon-ssi.” Dalam sekejap, wajah datar itu terhiasi sebuah lengkungan yang terbentuk di bibir pria itu. Harus ia akui, senyuman itu senyuman terindah yang pernah ia lihat. Bahkan mengalahkan senyuman artis kesukaannya.

“Bagaimana ujiannya? Apakah berhasil?” Bukannya merespon penyesalan pria itu, Taeyeon justru langsung menanyakan hal yang sedari tadi mengusik pikirannya.

Kim Jongwoon terdiam. Wajah pria itu kembali nampak datar. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu. Hanya tatapan tajam yang ia berikan pada seorang wanita berperawakan pendek di hadapannya ini.

‘Apakah aku salah berbicara?’

“Baiklah aku tak akan bertanya lagi, ayo kita pulang.” Belum sempat Taeyeon melangkahkan kakinya, Jongwoon menahan pergelangan tangannya hingga akhirnya wanita itu menoleh dan memasang ekspresi ‘ Ada apa?’.

Perlahan wajah datarnya berubah menjadi beberapa kali lebih berbinar. Sebelah tangannya yang sedang menganggur menyusup ke kantong kemejanya mengambil sesuatu. Sesuatu yang berhasil membuat Kim Taeyeon terbelalak ketika mendapati benda itu telah di hadapannya. Taeyeon tahu jika benda itu adalah kartu ujian mengemudi Jongwoon. Tapi yang membuat gadis itu terkejut adalah karena kini kartu itu sudah dihiasi dengan cap ‘lulus’.

“Hey, tutup mulutmu jika kau tak ingin lalat masuk ke dalam mulutmu.” Bisik Jongwoon tepat di telinga Taeyeon.

“Kau lulus?” Kali ini Taeyeon berteriak di depan wajah Jongwoon hingga pria itu menarik sedikit kepalanya. Setidaknya mengurangi resiko pecahnya gendang telinga.

“Kau takut harus mengabulkan permintaanku ya?” Bukannya menjawab pertanyaan Taeyeon pria itu justru balik bertanya. “Tenang saja aku tak akan meminta yang–”

Ucapan Jongwoon terputus ketika wanita itu tiba-tiba memeluknya sambil lompat-lompat kegirangan.

“Kyaaa! Dokter Kim, kau lulus!” Kim Taeyeon bersorak kegirangan sambil memeluk pria itu. Sementara Jongwoon yang sempat mematung karena mendapat pelukan tiba-tiba dari Taeyeon perlahan menyunggingkan senyumannya sambil menikmati pelukan hangat wanita itu.

Namun belum cukup Jongwoon menikmati pelukan itu, tiba-tiba Taeyeon melepaskan pelukannya dan membuang muka.

“M-maaf aku terlalu terbawa suasana.” Ujar Taeyeon salah tingkah.

“Tapi aku cukup enak untuk dipeluk kan?” Melihat Taeyeon yang salah tingkah, Jongwoon seperti mendapat dorongan untuk menggodai wanita itu.

“Sudah ku bilang aku hanya terbawa suasana. Sudah ayo pulang!” Dengan wajah yang malu bercampur kesal, Taeyeon membantah pernyataan Jongwoon lalu berniat melangkahkan kakinya. Namun seperti halnya tadi, belum sempat Taeyeon melangkah, tangan kekar Jongwoon kembali menahannya.

“Apa lagi?” Kali ini Taeyeon menjawab tanpa menoleh. Ia tak sanggup harus menunjukkan wajahnya yang sudah merah seperti udang rebus.

“Kau harus membayar taruhan kita.”

*****

“Kau yakin ingin ke pantai itu? Lihatlah matahari sudah terbenam, jika kita tetap ke sana, kita akan sampai ketika langit sudah gelap.” Ini sudah kesekian kali Taeyeon mengomen berusaha meyakinkan Jongwoon.

“Ini sudah lima kali kau bertanya hal yang sama, bukankah kau tahu sendiri jawabanku akan tetap sama?” Kim Jongwoon tetap kekeuh pada keinginannya. Bahkan harus Taeyeon akui, manusia di sebelahnya ini adalah manusia yang paling kaku dan keras kepala.

“Tapi aku belum menyetujui taruhan bodohmu itu Dokter Kim, jadi tentu saja aku boleh menolaknya.” Kali ini Taeyeon mengeluarkan alibi kesekiannya, meskipun ia tahu sangat kecil kemungkinan mengubah keputusan pria itu.

“Konsentrasi pada kemudimu bodoh! Kalau kau memang keberatan, kau turun saja, aku bisa melanjutkan perjalanannya.”  Jongwoon merespon ucapan Taeyeon dengan dingin dan dengan tatapan tajamnya. Hal ini sontak membuat Taeyeon mengurungkan niatnya untuk menolak dan fokus pada jalanan,

Sesuai perkataan Taeyeon, mereka tiba di Pantai yang dimaksud Jongwoon ketika langit sudah gelap. Meskipun hari sudah gelap, Jongwoon tetap turun dari mobil dan melangkahkan kakinya ke hamparan pasir.  Menyadari hanya dirinya seorang yang berjalan menuju pantai, Kim Jongwoon membalikkan badannya dan mendapati Taeyeon yang bergeming di dalam mobil sambil bertopang dagu pada setir mobil. Melihat wanita itu menekuk wajahnya sebal, Jongwoon melangkah kembali menuju mobilnya lalu membuka pintu yang berada di sebelah Taeyeon.

“Kita pulang sekarang?” Tanya Taeyeon sambil memasang senyuman kaku yang dibuat-buat. Jongwoon yang melihat tingkah Taeyeon memilih untuk tidak menggubrisnya dan malah menyabut kunci mobil yang masih menancap di lubang kunci lalu menarik tangan Taeyeon untuk keluar dari mobil.

“YA! Kau ini apa-apaan sih?!” Bentak Taeyeon pada pria itu.

“Siapa bilang kita pulang sekarang? Bahkan kita belum menikmati pemandanangan pantai.” Kembali Jongwoon tak menggubris setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu. Ia malah menutup pintu mobil lalu berjalan mendahului Taeyeon.

‘Pria ini, benar-benar! Sifatnya cepat sekali berubah-ubah.’

Taeyeon yang merasa kesal dengan kelakuan Jongwoon hanya mengikuti pria itu dari belakang sambil mencibir kesal. Setelah beberapa langkah berjalan, Taeyeon berhenti tepat di samping Jongwoon yang sedang berdiri menatap laut yang berwarna hitam akibat pantulan warna langit yang gelap.

“Mengapa kau memintaku turun? Bukannya kau bilang permintaanmu adalah pergi ke pantai? Bukannya aku sudah mengabulkannya? Lalu, mengapa kau mengajukan permintaan lagi?” Taeyeon menyerang Jongwoon dengan pertanyaan bertubi-tubi. Bahkan antara pertanyaan yang satu dengan yang lain tidak terdapat jeda untuk Jongwoon menjawab pertanyaan itu.

Alih-alih menjawab pertanyaan Taeyeon, Jongwoon malah mendudukkan dirinya di atas pasir yang dingin akibat udara malam hari. Pria itu masih menatap kosong ke gulungan ombak di hadapannya.

“Setidaknya, bukankah cukup menyenangkan menikmati keindahan pantai untuk sekedar mencuci mata dan menyegarkan pikiran. Lagipula kau tak dirugikan kan?” Jawab pria itu tanpa menoleh.

“Ck!” Taeyeon berdecak kesal lalu ikut duduk di samping Jongwoon. “Bahkan aku tak menemukan pemandangan indah yang bisa mencuci mata ataupun menyegarkan pikiranku. Sayang sekali, seharusnya kau datang ketika langit cerah, jadi kau bisa menikmati pemandangan itu dengan sempurna.” Ujar Taeyeon sarkatis.

“Kau salah. Meskipun aku tidak bisa menikmati pemandangan pantai ini seutuhnya, setidaknya aku masih bisa menikmati jejak-jejak kenangan bersama istriku di setiap butir pasir di pantai ini.”

“Kenangan?” Kini Taeyeon menoleh dan menatap pria yang juga menoleh padanya.

“Ya.”

“Jika mengingat obrolan kita di rumah sakit dan melihat caramu mengumpulkan jejak-jejak kenanganmu dengan istrimu, sepertinya kau sangat mencintainya.”

“Tentu saja, kau tahu itu.” Ujar Jongwoon membenarkan sambil tersenyum hambar.

“Apakah aku boleh bertanya?”

“Silahkan.”

“Bukannya aku ingin mencampuri masalah kalian. Hanya saja, aku ingin tahu, mengapa istrimu meninggal?”

Pertanyaan Taeyeon membuat pria itu terdiam dan kembali menatap kosong ke depan dengan tatapan sayu.

“Kalau kau tak ingin membahasnya, tidak apa. Maafkan aku karena sedikit lancang.” Taeyeon meralat ucapannya melihat perubahan wajah Jongwoon. Perasaan bersalah pun kembali mendera Taeyeon.

“Kecelakaan.” Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Kim Jongwoon kembali bersuara meskipun hanya satu kata singkat itu yang keluar dari mulutnya.

Mendengar jawaban singkat Jongwoon, Taeyeon sontak menoleh dan menatap pria itu. “Kecelakaan? Jangan bilang traumamu itu—”

“Ya, aku mengalami trauma karena kecelakaanku bersama dengan istriku.” Ucap Jongwoon membenarkan namun matanya masih menatap kosong ke ombak yang meggulung hingga ke bibir pantai.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud.” Kini Taeyeon nampak menyesal dan menundukkan kepalanya menatap butiran-butiran pasir. Ia sempat merutuki kebodohannya namun apa daya, ia sudah terlanjur bertindak bodoh sebelum berpikir.

“Tak apa, lagipula itu sudah sangat lama. Lagipula orang-orang di sekitarku selalu mengatakan padaku aku tidak boleh terus larut dalam kesedihan atau pun traumaku akibat kejadian tujuh tahun yang lalu.”

“Tujuh tahun?” Taeyeon kembali menatap pria di sebelahnya. Ia bisa melihat guratan-guratan kesedihan di wajahg pria itu. “Berarti Taewoon…”

“Ya, Taewoon memang sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang ibunya secara langsung. Ketika kecelakaan itu terjadi, usia kandungan istriku baru berumur delapan bulan. Dan karena kecelakaan itu, Taewoon harus lahir dengan prematur.” Jelas Jongwoon.

“Lalu bagaimana denganmu?” Meskipun Taeyeon merasa iba dengan cerita yang dilontarkan pria itu. Entah mengapa rasa ingin tahunya itu mengalahkan segalanya. Sehingga tanpa ragu ia kembali bertanya pada pria itu.

“Aku? Aku mengalami koma selama satu bulan. Banyak yang mengira aku sudah meninggal. Tapi siapa sangka, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup? Awalnya aku memang sempat terpuruk, tapi orang-orang di sekitarku selalu berusaha meyakinkanku kalau aku tak boleh terpuruk dan mengingat Taewoon yang membutuhkanku. Sehingga, seminggu kemudian, aku dan Taewoon diboyong keluargaku untuk pindah ke New York. Sampai usia Taewoon menginjak tiga  tahun , keluargaku tinggal bersamaku di New York dan membantuku membesarkan Taewoon. Sementara aku,  masih harus rutin menjalani terapi dan menjalani penyesuaian antara kedokteran di Korea dan Amerika serta kembali mendalami spesialis kandungan.”

“Kau pasti begitu terpuruk saat itu.” Komentar Taeyeon lirih.

“Tapi aku bersyukur orang-orang terdekatku sangat memperdulikanku kala itu.”

“Aku juga pernah merasa begitu terpuruk. Tapi, aku bersyukur ada seseorang yang selalu berada di sampingku, memberikanku keyakinan untuk selalu bersemangat menghadapi kehidupan.” Rasa kesal wanita itu kini tergantikan dengan rasa simpati. Ia pun merasa seperti mendapat dorongan untuk menujukkan rasa simpatinya pada Jongwoon. Meskipun ia yakin rasa terpuruk yang ia alami mungkin tak setragis Jongwoon.

“Kau bisa membagi ceritamu padaku, bukankah tadi aku sudah menceritakan kisahku padamu?” Pria itu kembali menatap Taeyeon dengan mata sayunya seolah berkata ‘Aku akan mendengarkan ceritamu’. Pandangan itu seolah-olah menyalurkan kehangatan pada Taeyeon serta menyalurkan sebuah kepercayaan yang wanita itu bisa pegang.

“Aku pernah mengalami kebutaan tujuh tahun yang lalu karena sebuah insiden. Meskipun aku hanya mengalami kebutaan selama empat bulan, tapi aku sempat merasa sangat terpuruk. Tapi ada seorang dokter yang sangat menyayangiku, bahkan ia berjanji akan menemukan donor mata untukku. Tapi sayang, ketika aku sudah berhasil mendapatkan donor mata, ia harus pergi karena penyakit kanker rahim yang dideritanya. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terimakasihku padanya.” Taeyeon menceritakan kisah pilunya bersamaan dengan air mata yang mengalir dari kelopak matanya. Baginya membuka kenangan lama yang begitu pilu sangatlah menyayat hati. Tapi ia sendiri tak tahu mengapa ia menceritakan kisahnya pada pria di sampingnya ini.

“Setidaknya, kita sama-sama kehilangan orang yang kita sayangi.” Ujar Jongwoon sambil tersenyum kecut setelah Taeyeon bercerita panjang lebar.

“Ne, dan kehadiran sesaat mereka memiliki andil yang cukup besar di hidup kita.” Taeyeon membenarkan perkataan pria itu sambil mengusap butiran air mata yang masih mengalir dari kelopak matanya dengan punggung tangannya.

“Sudahlah jangan menangis lagi.” Pria itu meraih muka Taeyeon lalu meletakkan kedua tangannya di pipi wanita itu. Perlahan ibu jarinya bergerak menghapuskan sisa-sisa air mata di wajah wanita itu.

‘Apa tangannya memang sehangat ini?’ Batin Taeyeon.

Beberapa saat kemudian pria itu menatap Taeyeon sambil tersenyum. Mencoba menenangkan wanita di sebelahnya ini.

“Beritahu aku alasannya sekarang.” Masih dengan suara yang setengah parau, kini Taeyeon menuntut jawaban dari pertanyaan yang sedari tadi berkeliaran di otaknya.

“Alasan?” Tanya Jongwoon dengan kening yang berkerut.

“Janjimu. Bukankah kau berjanji akan memberitahukannya padaku jika kau lulus ujian mengemudi?”

“Oh alasan itu.” Jawab Jongwoon sambil membulatkan mulutnya paham.

“Jadi apa alasanmu?”

“Alasanku tentu saja Taewoon, meskipun ada alasan lain yang menyertainya dan berperan cukup besar.”

‘Kenapa akhir-akhir ini bicaranya suka sekali menggantung?’

“Lalu, apa alasan itu?”

Begitu Taeyeon melontarkan pertanyaan itu, Jongwoon terdiam sejenak. Matanya sibuk memandangi langit berbintang malam itu.

“Apa alasanmu mendiang istrimu?” Taeyeon kembali bertanya sambil ikut menatap langit. Ia berusaha menerka-nerka jawaban yang akan pria itu lontarkan setelah menatap langit berbintang malam itu.

Waktu berlalu dengan suara ombak yang hembusan lembut angin pantai. Kerlip bintang yang menghiasi langit seolah menambah nilai tambah pada suasanan malam itu. Jongwoon yang sedari tadi belum menjawab pertanyaan Taeyeon hanya diam tanpa memikirkan apa pun sambil menikmati angin yang menggelitik kulitnya. Namun sebuah seruan dari Taeyeon membuat Jongwoon untuk kesekian kalinya menoleh, menatap Taeyeon. Berbeda dengan seruan yang tadi ia berikan, kini gadis itu tengah memejamkan matanya sambil mencakupkan kedua tangannya seolah berdoa dengan sangat khusyuk. Cukup lama wanita itu sibuk dengan doanya, kini wanita itu telah membuka matanya dan mendapati mata Jongwoon kembali menatapnya.

“Tadi ada bintang jatuh, apa kau tak membuat permohonan?”

“Bintang jatuh? Memangnya ada teori ilmiah yang mengatakan bintang jatuh dapat mengabulkan permohonan?”

“Kau ini tidak asyik sekali. Itu memang hanya mitos, tapi tidak ada salahnya kan? Toh tidak ada ruginya untukmu.” Taeyeon bergumam pelan menjawab pertanyaan Jongwoon meskipun ia tahu, ucapannya akan mubazir.

“Kau tak kecewa jika keinginanmu tidak terwujud?”

“Selama kau tak menggantungkan harapanmu terlalu tinggi pada bintang itu, kau takkan kecewa. Lagipula anggap saja ini untuk kesenangan. Memangnya kau memiliki permohonan yang kau takuti takkan terkabul?”

“Tadinya tidak, namun sepertinya sekarang ada.”

“Apa permohonanmu itu?” Taeyeon kembali menunjukkan rasa ingin tahunya. Ia sendiri bingung sejak kapan dirinya mudah tertarik pada sesuatu dan selalu ingin tahu urusan orang.

“Bukankah ada mitos yang mengatakan jika permohonanmu itu kau umbar, permohonanmu takkan terwujud?”

“Iya sih, tapi,” Ucapan Taeyeon sempat terputus ketika dirinya mencoba memikirkan cara yang dapat memenuhi rasa ingin tahunya. “Bagaimana jika aku memberikan kau penawaran?”

“Penawaran?”

“Kau boleh memintaku untuk berdoa agar keinginanmu terkabul. Anggap saja ini bonus karena kau sudah lulus ujian mengemudi dan menang taruhan denganku.”

“Sungguh?” Mendengar Jongwoon yang ingin memastikan penawarannya, Taeyeon menganggukkan kepalanya mantap.

“Mengapa tidak kau saja yang mengabulkan permintaanku?” Kini Kim Jongwoon kembali membuat Taeyeon memutar otak.

“Maksudmu?”

Melihat raut bingung wajah Taeyeon, Jongwoon mendekatinya. Seketika itu juga, ia menempelkan bibirnya pada bibir Taeyeon. Ia memegang wajah Taeyeon lembut sambil membuka bibirnya dan mencium wanita itu dalam-dalam. Sementara Taeyeon hanya mengerjapkan matanya berkali-kali berusaha mencerna hal yang terjadi begitu cepat. Jantungnya mendadak berlomba dengan aliran darah di tubuhnya. Ketika ia hampir kesulitan bernapas, Jongwoon melepaskan ciumannya namun tidak menambah jarak diantara mereka. Ia tidak melepaskan wajah Taeyeon dan tetap memegangnya erat-erat sementara Taeyeon melepaskan nafasnya yang tertahan.

*****

Sejak kejadian tadi, Taeyeon tidak membuka suara sama sekali. Ia hanya membuang muka menatap jalanan di sampingnya. Jongwoon memang meminta Taeyeon agar mengijinkannya mengemudi. Menurutnya, ia ingin membiasakan dirinya dengan kemudi mobil, sebelum kembali beraktifitas dengan benda beroda empat itu. Taeyeon yang enggan berbicara dengan pria itu, hanya memberikan kunci lalu duduk manis di kursi penumpang. Sempat terfikir untuk tidur agar tidak terlibat perbincangan dengan pria itu. Namun sepertinya jutaan pikiran yang berkelebat di otak Taeyeon tak mengijinkan dirinya untuk tidur.

“Kita sudah sampai.” Ucapan Jongwoon memecahkan lamunan Taeyeon. Begitu menyadari mobil itu sudah terparkir manis di depan apartmentnya, Taeyeon segera turun dari mobil itu.

“Kamsahanida. Selamat Malam.” Melihat Taeyeon berpamitan dengan tergesa-gesa dan kepala yang menunduk , Jongwoon ikut turun dari dalam mobil lalu menahan Taeyeon  sebelum wanita itu sempat memasuki pekarangan apartment sederhananya.

“Maafkan aku, kau pasti marah karena perlakuanku tadi.” Jongwoon meminta maaf pada Taeyeon yang masih membuang mukanya.

“Apa menurutmu sangatlah mudah mempermainkan perasaan seseorang? Apa menurutmu begitu menyenangkan mempermainkan perasaan seseorang?” Taeyeon mengerutkan dahinya dan berteriak pada Jongwoon.

“Mempermainkan? Apa maksudmu?” Kini pria itu balik bertanya menanggapi anggapan wanita itu terhadapnya.

“Apa kau tidak sadar Kim Jongwoon-ssi?” Taeyeon menatap Jongwoon nanar meskipun suaranya terdengar lirih. “Kau selalu bersikap baik kepadaku. Hari demi  hari kau semakin membuatku menyalahkan arti kebaikanmu dan membuat diriku mengharapkan hal yang lebih darimu. Dan ciumanmu tadi? Tidakkah kau sadar betapa dirimu telah membuatku benar-benar merasa bersalah dan dipermainkan?”

Taeyeon terus berteriak di hadapan Jongwoon dengan suaranya yang parau. Ingin rasanya air mata mengalir dari kelopak matanya, tapi ia tak bisa membiarkan dirinya menangis di hadapan pria itu.

“Bersalah? Dipermainkan? Apa yang membuatmu berpikir seperti itu Taeyeon-ssi?!”

Jongwoon benar-benar tak mengerti dengan ucapan wanita di hadapannya ini. Sama sekali tidak terbesit di otaknya niat untuk mepermainkan seorang Kim Taeyeon.

“Bukankah kau pernah mengatakan kalau kau tidak akan pernah membuka hatimu untuk wanita lain selain mendiang istrimu? Tapi perilakumu tadi benar-benar membuatku menggantungkan harapanku padamu Kim Jongwoon-ssi. Dan tidakkah kau sadar jika aku akan dianggap sebagai orang yang merebutmu jika kau terus bersikap seperti ini?”

“Merebutku? Siapa yang akan menganggapmu sebagai orang yang merebutku?”

Jongwoon menatapnya meminta penjelasan. Dan satuh hal yang Taeyeon sadari, ia hampir saja membuat babak baru masalah diantara dirinya dengan Kim Jongwoon dan Tiffany Hwang.

“Lupakan saja.” Taeyeon mencoba melepaskan tangan Jongwoon dari pergelangan tangannya, namun bukannya terlepas, Kim Jongwoon malah menarik Taeyeon ke dalam pelukannya.

“Bukankah kau bilang cinta muncul karena terbiasa? Bukankah kau bilang tak ada salahnya jika aku membuka hatiku untuk wanita-wanita yang datang ke dalam kehidupanku? Bukankah aku juga mengatakan, tak menutup kemungkinan jika wanita itu adalah kau? Meskipun aku belum bisa memastikan perasaanku, percayalah, sama sekali tidak terbesit di otakku untuk mempermainkanmu , dan percayalah, semua yang kulakukan padamu aku lakukan dengan tulus. Aku sadar, meskipun aku belum bisa memastikan perasaanku padamu, aku yakin, kau adalah wanita yang berhasil mengambil hatiku ini Taeyeon-ah.”

Mendengar semua perkataan Jongwoon beserta cara pria itu memanggilnya, kini Taeyeon tak bisa menahan dirinya lagi dan membiarkan dirinya menumpahkan air matanya di pundak pria itu.

‘Tuhan, haruskah aku egois?’

Jongwoon masih membiarkan dirinya mendekap  Taeyeon  dan membiarkan wanita itu meluapkan emosinya melalui setiap butir air mata yang mengalir dari matanya. Ia tak memperdulikan pandangan orang-orang yang lewat.  Bahkan ia juga tak menyadari sepasang mata dengan api kebencian menatapnya garang dari kejauhan.

*****

“Jadi, seperti itukah sahabat masa kini? Tak berbagi cerita namun membuat semua orang penasaran dengan senyuman penuh artinya?” Wanita bermata indah itu menghampiri Jongwoon yang tengah duduk di temani secangkir cappucino hangat di sudut kafetaria rumah sakit. Tiffany bisa melihat kepulan asap dari cangkir itu tapi sepertinya sang empunya terlalu asyik bergelut dengan pikirannya.

“Steph!” Jongwoon meninggalkan dunia lamunannya dan mengalihkan pandangan pada sahabatnya yang kini duduk di hadapannya. “Mau pesan sesuatu?”

Tiffany menolak tawaran Jongwoon dengan halus. “Tidak, terimakasih. Akhir-akhir ini nafsu makanku sungguh menurun Oppa.”

“Benarkah? Pantas saja kau nampak lebih kurus. Tadi aku sempat mengira kau kelelahan karena wajahmu juga nampak kurang segar.” Kim Jongwoon berkata bukan tanpa alasan, ia bisa melihat perubahan yang cukup signifikan pada sahabatnya ini. Contoh nyata saja, sahabatnya yang selalu nampak segar dan berbinar itu kini nampak lebih lunglai dan sepertinya kehilangan binar itu.

“Sudahlah. Wajar saja aku kelelahan. Oppa sendiri  tahu kan akhir-akhir ini cuaca sangatlah tidak bersahabat. Jadi, selain terkena dampak cuaca itu secara langsung, aku juga terkena dampak kelelahan mengurusi anak-anak yang jumlahnya dua bahkan tiga kali lipat dari biasanya.”

“Kalau begitu, kau harus jaga kondisimu, arasso?”

“Ara, Oppa.” Tiffany mengiyakan nasihat sahabatnya itu sembari tersenyum nakal meskipun terpaksa.

“Jadi, kau tak ingin bercerita faktor penyebab senyumanmu itu?” Tiffany kembali membuka pembicaraan dengan topik awal yang sempat teralihkan. Mendengar pertanyaan Tiffany, raut wajah Jongwoon mendadak berubah malu. Ia pun mencondongkan badannya ke depan, sehingga memeperkecil jarak antara dirinya dengan Tiffany.

“Apa menurutmu wajar jika ahjussi seperti aku ini jatuh cinta lagi?” Pertanyaan itu tanpa basa-basi meluncur dari mulut Kim Jongwoon. Tiffany yang awalnya gemas melihat senyuman pria itu, kini mendadak nampak khawatir?

“J-jatuh c-cinta?” Meskipun takut untuk mengulang kata itu, dengan terbata Tiffany memastikan kembali ucapan Jongwoon.

“Hm.” Jawab pria itu dengan dehaman lalu menyiup cappucinonya.

“Tentu saja itu wajar.” Meskipun Tiffany mengatakannya dengan penuh keraguan dan ketakutan, sepertinya hal itu tidak berlaku pada Jongwoon. Malah mata pria itu nampak semakin berbinar.

“Jadi, siapa wanita beruntung yang berhasil mencairkan hati Kim Jongwoon yang bagaikan es abadi?” Tiffany mencoba menambahkan gurauan di kalimatnya, tapi sayang, caranya menyampaikan justru membuat gurauan itu terasa hambar dan kaku.

“Seorang wanita yang entah sejak kapan nampak begitu istimewa di mataku. Dia mungkin wanita yang nampak biasa-biasa saja, tapi aku bisa menangkap sesuatu yang luar biasa dari caranya berbicara atau pun menatap sesuatu. Dan semua itu terjadi begitu saja tanpa alasan yang jelas.” Kata demi kata yang meluncur dari mulut pria itu satu demi satu menusuk hati Tiffany. Bagian terdalam hatinya mengatakan nama orang yang dimaksud Jongwoon. Bahkan otaknya seperti berteriak mengatakan bahwa sebentar lagi hatinya akan hancur.

“K-kau mencintainya?” Dengan ragu Tiffany bertanya lalu menatap sepasang mata sipit milik Kim Jongwoon. Mencoba mencari sebuah gurauan. Namun sayang ia tahu jika binar mata itu tidak bersandiwara.

“Aku menyukainya. Aku tertarik padanya. Hatiku selalu berdebar ketika mataku bertemu dengan matanya. Dan jika kau mengatakan masih wajar untukku jatuh cinta, aku akui, sepertinya aku jatuh cinta padanya.”

Tiffany masih menatap Jongwoon. Ia sadar, sepertinya takdir memang memutuskan dirinya hanya bisa memiliki Jongwoon sebagai sahabat ataupun seseorang yang sudah dianggap adik. Bukan seorang wanita yang mampu mengisi hatinya atau pun menjadi pendampingnya. Apakah ia berhak untuk marah? Tidak ada yang melarangnya untuk marah. Tapi siapa yang akan ia marahi? Takdir? Apakah takdir akan berubah begitu saja jika ia marah padanya. Dan ia tahu, tentu saja jawabannya tidak.

‘Kau tak bisa memaksakan perasaanmu pada orang lain ataupun memaksa seseorang untuk merasakan hal yang sama seperti halnya perasaanmu pada dirinya. Dan satu hal, seberapa pun besar egois yang kau tuangkan untuk merebut sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu, suatu saat semua itu akan sia-sia.’

*****

Tiffany memandang wajahnya di cermin toilet. Wajahnya masih nampak sembab meskipun ia sudah memoles wajahnya itu dengan make-up. Satu hal yang ia baru sadari, benar kata Jongwoon, wajahnya nampak lebih kurus dan lunglai.

“Apa ini ada hubungannya dengan sakit pinggangku?” Tiffany bergumam sambil memegang bagian punggungnya yang akhir-akhir ini sering terkena serangan mendadak.

“Ginjal.” Tiffany baru menyadari sesuatu, bagian ia merasakan serangan itu adalah tempat organ penting itu.

“Sepertinya aku harus memeriksakannya.”

 

Tiffany duduk di kursi yang tersedia di koridor rumah sakit itu. Hari ini ia memutuskan untuk memeriksakan keadaanya ke poliklinik rumah sakit yang berada cukup jauh dari rumah sakit Seoul. Tentu saja bukan tanpa alasan ia memilih rumah sakit lain. Ia hanya takut jika ia terkena suatu penyakit, kondisinya akan diketahui oleh orang-orang rumah sakit khususnya Kim Jongwoon.

Kedua tangannya masih sibuk saling meremas satu sama lain meskipun sudah basah oleh keringat. Beberapa jam yang lalu, ia baru saja menjalani tes lab seperti yang dianjurkan dokter internist (baca : Spesialis penyakit dalam) rumah sakit itu.

“Nona Hwang.” Suster itu kembali memanggil Tiffany dan mempersilahkan dirinya untuk memasuki ruang praktik dokter internist itu. Dengan penuh kecemasan, ia duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter itu dan menyiapkan dirinya untuk mendengar analisa dokter itu.

“Nona Hwang, sejak kapan anda merasakan sakit pada punggung anda?” Dokter itu memulai proses analisanya dengan mengajukan pertanyaan pada Tiffany.

“Kalau tidak salah dua minggu terakhir aku sering mendapat serangan pada punggungku, tepatnya pinggul bagian belakang. Sebelumnya memang sering terasa tak nyaman, tapi rasa sakitnya baru muncul dua minggu belakangan.”

“Nona Hwang.” Dokter itu memanggil Tiffany dengan suara yang berubah serius. Tentu saja hal ini membuat jantung Tiffany berlomba karena cemas.

“Sebagai dokter saya harus menyampaikannya pada anda. Anda mengidap penyakit gagal ginjal kronis tingkat awal.”

Setelah beberapa hari terakhir Tiffany sering mendapat serangan berupa keterkejutan pada dirinya. Sepertinya hari ini adalah puncak rasa terkejutnya itu.

“G-gagal ginjal?” Dengan raut wajah yang tidak percaya ia mengulang kata-kata dokter itu.

“Ya. Memang belum padah tahapan yang sangat parah. Tapi bukan tak mungkin jika suatu saat nanti kondisi anda akan semakin memburuk. Ada baiknya jika anda rajin menjalani hemodialisa (baca : cuci darah). Tapi jika kondisi anda suatu hari semakin parah, satu-satunya cara hanyalah dengan pencangkokkan  ginjal.”

 

Kertas putih berisikan rekaman tes laboraturium dirinya masih ia pandang dengan tatapan nanar. Di taman itu, ia bersikukuh tak ingin mempercayainya. Tapi, apakah hanya dengan tidak mempercayainya penyakitnya lantas sembuh?

“Gagal ginjal.”

Kata itu kembali ia ucapkan. Berkali-kali ia mencoba mencerna dan mempercayainya. Tapi entah mengapa rasanya begitu sulit.

Sampai suara nyaring dari ponselnya memanggil dirinya. Ia menghela nafas panjang, setidaknya berusaha meredam suaranya yang mungkin akan terdengar parau lalu menggeser slide ponselnya.

“Yeobseyo.”

“Temui aku di Heavenly Coffee setengah jam lagi.” Suara yang lebih terdengar seperti perintah itu begitu saja menerjangnya. Tentu saja ia mengetahui pemilik suara itu. Cho Kyuhyun.

“Arata.”

*****

“Apa kau akan membiarkan Kim Jongwoon mendekati Kim Taeyeon?!” Belum satu menit Tiffany mendudukkan bokongnya di bantalan kursi di kafe itu, Cho Kyuhyun sudah menghujaninya dengan pertanyaan yang lebih terdengar seperti bentakan.

“Apa begitu cara orangtuamu mengajari anaknya bagaimana sopan santu mengadakan pertemuan dengan seseorang?” Tiffany balas membentak pria itu. Sebenarnya sangat tidak suka berdebat dan lebih suka membicarakan suaru masalah dengan kepala dingin. Tapi apa boleh buat, pria di hadapannya ini sepertinya memang minta diladeni.

“Apa kau tahu, pria keparat bernama Kim Jongwoon itu sudah berani mendekati Taeyeon dan mengajak wanita itu pergi bersamanya.” Kyuhyun tetap berteriak pada Tiffany. Ia tak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatap mereka heran. Bahkan ia tak peduli jika mungkin orang-orang itu akan menganggap mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar hebat.

“Tentu saja aku tahu. Bahkan aku tahu mereka menghabiskan akhir pekan mereka bersama.” Tiffany berucap dengan dingin dan datar. Sungguh berbanding tiga ratus enam puluh derajat dengan pria di hadapannya yang berbicara dengan menggebu-gebu.

“Akhir pekan? Berdua? Dan kau hanya diam saja?” Cho Kyuhyun sama sekali tidak menurunkan intensitas teriakannya pada Tiffany. Bahkan sepertinya intensitasnya semakin meningkat bersamaan dengan keheranannya pada wanita itu.

“Memangnya kau siapanya Taeyeon sih hingga harus marah seperti itu? Dia belum menjadi kekasihmu kan? Bukankah itu artinya ia bebas memilih pria untuknya. Sama halnya dengan Jongwoon Oppa. Dia kan hanya sahabatku. Aku tak berhak mengaturnya dan memaksakan perasaanya semauku!” Tiffany hilang kesabaran, ia balas berteriak pada Kyuhyun. Kyuhyun cukup tercengang dan bingung melihat reaksi wanita di hadapannya ini. Sungguh reaksi yang jauh dari prediksinya.

Ucapan Tiffany berhasil membuat Kyuhyun bungkam. Setidaknya pengunjung kafe itu tak lagi menatap mereka dengan tatapan heran. Ditengah kebungkamannya, mata Kyuhyun  menangkap ponsel Tiffany yang terletak di atas meja. Tanpa berpikir panjang ia langsung mengambil ponsel itu sebelum Tiffany sempat menghalangi pria itu.

“YAK! Apa yang kau lakukan?” Tiffany kembali memekik kesal melihat ponselnya sudah berada di tangan Kyuhyun.

“Bukan urusanmu.” Jawab Kyuhyun sambil sibuk mengutak-atik ponsel Tiffany. Tiffany berusaha merebut ponselnya dari tangan Kyuhyun, tapi ia sadar tak mudah menghadapi pria bernama Cho Kyuhyun.

“Tentu saja itu urusanku. Itu adalah ponselku!”

Tanpa memperdulikan pekikan Tiffany, Kyuhyun tetap sibuk dengan ponsel milik wanita itu, lalu sibuk menyalin sesuatu dari ponsel Tiffany ke ponselnya.

“Jangan katakan kalau kau–”

“Ya, aku hanya meminta nomor pangeranmu itu.” Jawab Kyuhyun dengan gaya bicaranya yang dingin serta tampang arogan yang sangat tidak disukai Tiffany.

“Apa yang akan kau lakukan Cho Kyuhyun!” Kini Tiffany tak peduli siapa pria di hadapannya itu. Dengan kekesalan yang memuncak ia membentak pria itu.

“Sudah aku katakan, bukan urusanmu Nona Hwang!”

*****

Usai membasuh wajah dan menyikat giginya, Taeyeon mematut bayangannya di cermin yang terletak di atas wastafel. Perlahan jarinya menyentuh bibirnya yang sepekan lalu mendapat sebuah ciuman hangat dari Kim Jongwoon. Sampai detik ini ia tidak tahu. Apakah ia harus senang, atau meungkin sebaliknya, ia harus menyesal?

Perlahan ingatan mengenai peristiwa di pantai itu kembali berputar di otaknya. Ia masih ingat, bagaimana bibir lembut pria itu menyentuh bibirnya dan memberikan sebuah sensasi yang asing namun menyenangkan untuknya. Ia juga ingat betul, bagaimana pria itu memeluknya, memberikan kehangatan yang terasa berbeda.

“Apakah aku jatuh cinta pada pria itu?” Taeyeon bergumam pelan. “Tapi bagaimana dengan Dokter Hwang?”

Selalu seperti itu. Ketika dirinya mencoba meyakini dirinya akan perasaanya terhadap pria itu, bayangan-bayangan akan janjinya dengan Tiffany seketika muncul ke permukaan, mengusik keyakinan yang sedari tadi ia coba tata dengan rapi.

Taeyeon menghempaskan badannya di atas ranjang. Namun belum sempat ia menarik selimutnya untuk mengarungi dunia mimpi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia pun membaca nama penelepon yang tertera di layar sebelum menggeser slide ponselnya.

‘Rumah Kim Jongwoon?’

“Yeobseyo.”

“Sonsaengnim.” Suara bocah yang sangat familiar untuknya langsung meluncur begitu ia menempelkan ponselnya di teliinganya.

“Taewoonie, waeyo?”

“Bisakah sonsaengnim kesini? Temani aku. Aku mohon.”

“Kau sendiri di rumah? Bukankah Hyoyeon Imo mengatakan kau kembali menggunakan pengasuh lamamu?”

“Jung ahjumma mendadak harus pulang. Katanya anaknya dilarikan ke rumah sakit. Jadi apakah Taeyeon sonsaengnim bisa menemaniku sampai daddy pulang?”

‘Tuhan, aku belum siap bertemu dengan pria itu. Tapi, apa aku tega membiarkan bocah itu sendiri di rumah?’

“Arata. Lima menit lagi sonsaengnim tiba.”

*****

From : 010-xxx-xxx-xxx

Temui aku di taman kota di dekat apartmentmu. Cho Kyuhyun

Jongwoon tersenyum sinis membaca pesan dari Kyuhyun. Tentu saja ia tahu apa yang membuat pria itu ingin berbicara empat mata dengan dirinya. Apa lagi kalau bukan Kim Taeyeon. Sesuai isi pesan Kyuhyun, Jongwoon memutuskan untuk memutar balik mobilnya menuju taman kota yang dimaksud Kyuhyun.

Hujan mengguyur malam hari kota Seoul tepat ketika Jongwoon tiba di taman yang dimaksud Kyuhyun. Tanpa rasa takut, Jongwoon berjalan ke dalam taman itu dengan sebuah payung di tangannya. Matanya bisa menangkap sosok Kyuhyun tengah berdiri menunggunya di bawah gazebo di tengah taman kota ini. Belum sempat Jongwoon melangkahkan kakinya ke dalam gazebo itu, Kyuhyun sudah lebih dulu berjalan mendekatinya. Membiarkan tetesan air hujan membasahi seluruh tubuhnya.

Tatapan mata Kyuhyun tak lepas dari Jongwoon. Meskipun Jongwoon hanya diam bergeming, segala ingatannya mengenai Kim Jongwoon tentu saja menyulutkan api amarah dan emosi tersendiri bagi Kyuhyun. Selama bertahun-tahun amarahnya ia simpan rapat-rapat. Tapi menurutnya, kali ini Kim Jongwoon memang memerlukan pelajaran agar tidak seenaknya mengambil semua yang menjadi haknya. Tanpa sempat membiarkan Jongwoon menyapanya, Kyuhyun melayangkan kepalan tangannya ke wajah Jongwoon. Mendapat serangan mendadak seperti itu, seketika itu juga Jongwoon jatuh terhuyung dan membiarkan payungnya terlepas dari genggamannya. Merasa belum puas, Kyuhyun menghampiri Jongwoon yang berusaha berdiri dengan terhuyung-huyung.

“Berhentilah merebut wanita yang kucintai Kim Jongwoon-ssi!” Kyuhyun menarik kerah kemeja Jongwoon lalu  berteriak tepat di wajah pria itu. Meskipun hujan cukup deras, Jongwoon masih bisa mendengar suara pria berperawakan jangkung itu dengan sangat jelas.

Bukannya merespon bentakan Kyuhyun, Jongwoon hanya tersenyum sinis. Tentu saja senyuman itu kembali mengundang amarah Kyuhyun dan menyebabkan pria itu menghujani Jongwoon dengan kepalan tangannya.  Kyuhyun tak memberikan jeda pada setiap pukulannya. Ia benar-benar sudah dikuasai amarah dan menghajar Jongwoon tanpa ampun.

Setelah cukup lama dan cukup puas Kyuhyun memberikan pelajaran pada Jongwoon, ia pun menghentikan aksinya dan melepaskan pegangannya pada kerah kemeja Jongwoon, sehingga pria itu kembali terhuyung dan jatuh tersungkur.

“Aku tak segan-segan akan melakukan yang lebih dari ini Kim Jongwoon-ssi, jika kau tak berhenti mendekati wanita yang kucintai.” Kyuhyun berteriak memperingati Jongwoon. Kemudian ia menendang kaki Jongwoon dengan cukup keras sebelum akhirnya ia meninggalkan pria itu sendiri dalam keadaan lemas di tengah derasnya hujan.

*****

Jarum jam yang menempel di dinding itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Taeyeon yang sedari tadi menemani Taewoon tidur di kamarnya, kini duduk di ruang tamu apartment itu sambil menahan kantuk yang perlahan menderanya.

BRAAK!

Suara bantingan pintu itu menyadarkan Taeyeon yang tadinya sudah memejamkan matanya dan nyaris mengarungi dunia mimpi. Dengan perasaan takut, ia berjalan menuju pintu utama apartment itu. Alangkah terkejutnya Taeyeon ketika dirinya mendapati seorang Kim Jongwoon yang selalu ia lihat berpenampilan rapi dan sempurna, kini basah kuyup dan wajahnya di penuhi lebam akibat pukulan. Pakaian yang pria itu kenakan sudah semrawutan dan pria itu nampak berjalan dengan terhuyung-huyung. Melihat keadaan Jongwoon yang memprihatinkan, Taeyeon berinisiatif mendekati Jongwoon lalu meletakkan lengannya di pundak pria itu, berusaha memapahnya. Taeyeon cukup shock, ketika dirinya akan memapah Jongwoon dan merasakan aroma alkohol menyeruak dari mulut pria itu. Tentu saja hal ini membuat Taeyeon menyimpulkan pria di hadapannya ini tengah mabuk.

Belum sempat kaki Taeyeon melangkah memapah Jongwoon, tiba-tiba pria itu mendorong Taeyeon ke tembok yang berada di samping  wanita itu. Jongwoon menahan tubuh Taeyeon dengan tangan kanannya yang memegang pundak wanita itu dan tangan kirinya yang bertumpu pada tembok. Ia menatap Taeyeon nanar.

Taeyeon memandang mata di hadapannya ini dengan perasaan takut,  meskipun ada rasa cemas di setiap ketakutannya. Perlahan tangan kiri Jongwoon terangkat berusahan meraih wajah Taeyeon.

“Taeyeon-ah…..” Belum sempat tangan Jongwoon menyentuh wajah Taeyeon, tiba-tiba tubuh pria itu terhuyung ke depan.

“Kim Jongwoon-ssi!!!!”

 

TBC

 

– Reader-nim –

Hai readers, bagaimana part ini? Kepanjangan? Membosankan? Semakin berlebihan? Semakin seperti sinetron? Maaf jika part ini sangat mengecewakan karena ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk mempercepat konflik dan memperjelas hubungan masalah antara tokoh yang satu dengan yang lain. Maaf juga jika semakin haru bahasanya semakin gajelas, banyak typo dan tidak enak di baca. *bow*bow*bow*. Aku harap kalian masih mau baca ff ini dan masih bersedia meninggalkan komen. Aku juga harap kalian ngasi masukan, dan ngasi pendapat apakah kalian keberatan jika part selanjutnya sepanjang ini. O ya mengenai part 7, aku udah baca kok semua komen kalian baik yang sebelum terhapus ataupun yang re-post. Terimakasih atas komennya terutama yang mau ngomen 2 kali. *bow lagi*. Sekian, sekali lagi terimakasih.

41 thoughts on “[FF Freelance] Blind in Love (Part 8)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s