The Street Confusion

THE STREET CONFUSION by BELLA JUNG

Genre : AU, Life , Piskologis & family || Rate : General || Length : Onehoot

Main Cast : 15& Yerin , MissA’s Suzy , Infinite’s Myungsoo

Disclaimer : Inspired by MV of IU – The Story I Didn’t Know

 Credit poster : erlyRine

+

Tentang sebuah jalan pilihan yang ada disebuah kubangan sempit mematikan

+

Angin musim semi menerpa wajah gadis itu lembut . Rambut rambut kecil yang tidak ikut terikat itu berterbangan menutupi wajah merona milik Yerin . Gadis itu hanya diam diatas pangkuan ayunan taman . Kakinya sekali kali mendorong tanah yang di pijaknya untuk membuat tubuhnya terayun .

“Iya , tidak , iya , tidak.“ Gumaman itu tidak hentinya berkumur dari mulutnya . Gadis itu menanggahkan kepalanya , menatap langit sore yang mulai menggelap . Sudah hampir 2 jam gadis itu berdiam diri sejak sepulang sekolah , tetapi tidak ada satu orang pun yang menunggunya bahkan menyuruhnya pulang .

“Sudah waktunya.“ Gadis itu berdiri , mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman dan berjalan meninggalkan taman sunyi itu .

Sakunya bergetar , Yerin merogoh sakunya dan mendapati ponsel-nya bergetar . Gadis itu mempercepat langkahnya sebelum akhirnya mengangkat panggilan telpon tersebut . “ nde?—baiklah bu , aku sedang dalam perjalanan pulang—“ .

Yerin melangkahkan kakinya mendekati sebuah rumah berpagar putih yang berada di persimpangan jalan . Rumah bernomor 132 itu adalah rumahnya , tidak , lebih tepatnya rumah kedua orang tuanya . Tidak terlalu kecil ataupun tidak terlalu besar . Rumah itu cukup untuk menampung keluarga kecil yang dia miliki setidaknya .

Yerin mengetuk pagar itu sekali sebelum akhirnya masuk . Halaman rumahnya yang penuh dengan bunga bunga koleksi dari sang ibu seakan menyambutnya hangat . refleksi cahaya matahari senja lewat kaca kaca kamar Yerin yang kebetulan berada di paling depan rumah seakan membuat kerinduan tersendiri .

Yerin melepaskan sepatunya dan memutar kenop pintu rumah yang berada di samping sebuah pot bunga sepatu di tengah halaman . “Aku pulang—“ , katanya .

Dari balik pintu , seorang wanita paruh baya terlihat duduk di atas sofa yang menghadap ke sebuah televisi yang deru suaranya masih bisa terdengar . Yerin menatap ibunya yang terlihat tidak begitu antusias ketika kata ‘aku pulang’ dia ucapkan . Matanya , mata ibunya seakan membuat sebuah tatapan ketidak percayaan yang tertuju kepada sebuah benda yang ada di meja ruang tamu , menutupi layar televisi yang masih menyala .

“Ibu—“ Lirihnya .

Yerin memalingkan pandangannya kearah fokus yang diciptakan ibunya . Sebuah kardus besar ber-stiker Air Conditioner terpampang jelas di permukaannya . Yerin mendekati sang ibu dan duduk di sampingnya .

“Ibu, kau membeli AC lagi?“ Pertanyaan Yerin membuat Nyonya Baek membenarkan posisi duduknya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya kearah Yerin yang kini menatap lekuk wajahnya .

Nyonya Baek menggeleng dan hanya bisa terdiam . “Lalu , apa kita menang undian lagi?“ Yerin kembali bertanya sembari memalingkan pandangannya , menatap kardus yang ada di hadapannya dengan tatapan heran .

“ Suzy—dia yang membelinya.” Jawabnya lirih .

Yerin terbelalak , dan kembali menatap ibunya heran “E-eonnie? “ .

Nyonya Baek memalingkan pandangannya , menatap Yerin dengan tatapan cemas . “ Yerin-ah , dia mengambil semua tabunganku untuk membeli ini.“ Tangan Nyonya Baek mengerat di bahu Yerin lalu menggoyangkan tubuh putrinya itu . Berharap Yerin mengatakan sesuatu yang dapat membuat lebih tenang .

BRAK

Suara bising itu membuat kedua tubuh mereka melonjak kaget dan tidak lama , pintu rumah itu terbuka lagi . Menampilkan sesosok Pria berkaca mata dengan satu tangan yang menyeret lengan seorang gadis berparas cantik yang terlihat terisak . Nyonya Baek kembali terlonjak kaget , mendekati gadis itu dan memandangnya penuh kemarahan .

“Yak! Baek Suzy , apa aku membesarkanmu hanya untuk mencuri tabunganku? Apa kau kira aku kepanasan sehingga kau membelikan-ku AC ? “ Cacian itu keluar dari mulut Nyonya Baek yang mulai kehabisan kesabaran .

Di sisi lain Yerin hanya bisa tertunduk , melihat sang kakak yang kini hanya bisa terisak dengan rambut berantakan , itu cukup untuk membuat Yerin merasa sedih .

“A-a-aku—“ , suara serak dan bergetar keluar dari mulut Suzy tetapi justru membuat emosi Tuan Baek naik level , dan menghempaskan putrinya ke lantai rumah . Membuat sebuah suara yang cukup keras karna hentakan tubuh Suzy yang menghantam lantai rumah .

“AC , Televisi , tokedo , gaun pengantin. Kau kira kau akan menikah?“ . Gertakan itu membuat Suzy semakin terisak . Yerin tidak tahan , gadis itu berlutut di hadapan Suzy dan memeluk kakaknya itu erat .

“ jangan lakukan ayah—“ Suara Yerin terdengar sedikit bergetar .

“K-kau—Yerin-ah , apa yang kau lakukan?“ Suara Tuan Baek terdengar lebih nyaring , terbelalak , yah pria itu terbelalak ketika melihat apa yang dilakukan Yerin terhadap kakaknya . “Lepaskan—“ , Tuan Baek melepas paksa pelukan yang Yerin berikan , membuat gadis itu tersungkur tepat di sebelah Suzy .

“Suamiku—“ .

Tuan Baek memukul putri pertamanya itu beberapa kali hingga dia menjerit kesakitan , “Kau pikir kami mencari uang untuk kau hambur hamburkan , sadarlah hei Baek Suzy ! umurmu masih 17 tahun!“ Katanya tanpa sedikitpun beralih .

Nyonya Baek mendekati putrinya itu , mengurungnya dalam sebuah pelukan hingga Tuan Baek tidak lagi berani untuk memukulnya,“Hentikan suamiku , kau tidak boleh melakukan itu!“ Ucapnya lirih .

+

11 bulan setelahnya , kami baru menyadari kalau Suzy teryata menderita sebuah penyakit aneh, bagi gadis seusianya . Frototemporal dementia . Aneh memang, penyakit tentang ingatan yang lebih ganas dari alzeimer itu seharusnya menimpa orang berusia 60 tahun keatas, bukan seorang gadis berusia 18 tahun sepertinya .

Menurut professor Hong, Gejalanya akan sedikit mengerikan . Dimulai dengan ingatan yang mulai memudar layaknya penderita Alzeimer . Sikapnya yang akan telihat sangat pemarah dan membeli beberapa hal yang bahkan tidak perlu untuk dibeli , Suzy belum memasuki tahap separah penderita yang telah berada di posisi puncak .

Pada awalnya Suzy tidak pernah menyadari penyakitnya, begitupun dengan aku , ayah dan ibu . Setiap hari bahkan kami saling beradu mulut, mencaci Suzy dengan cacian yang sangat menyakitkan . Tentang kakak-ku yang menggunakan cicilan pertama kuliahnya untuk membeli sebuah skuter matix atau memecahkan isi celengan ayamku untuk membeli sebuah tempat tidur bayi .

Kami memang selalu memakinya, terutama aku. kami mulai didera rasa khawatir mendalam yang bercampur dengan perasaan geram karna ulahnya. Bahkan Myungsoo sahabat kami, dia menyadari hal yang bahkan kami tutup tutupi .

“Ada apa dengan rumahmu?” Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan sebuah gelengan kepala. Pria bemarga Kim itu memang terlampau jenius untuk sekedar dibohongi, Usianya yang jauh diatas kami, membuat dia sangat memperhatikan kami—terutama sejak Suzy sering memberontak dengan cacian yang kami berikan . Suzy, gadis itu bahkan membuat kepala-ku bocor 3 bulan sebelum vonis mengerikan itu datang dari mulut seorang professor terkenal di sebuah rumah sakit yang juga terkenal di Kota Seoul .

“Ada apa denganmu?” Nada suaranya terasa sangat berat, tangan pria itu merangkul punggungku yang terjatuh diatas rerumputan taman tempat kita bermain sejak usia balita . Suzy yang masih menggenggam sebuah batu hanya bisa menggelengkan kepala dengan mata yang memerah, jelas dia takut .

2 jam setelahnya, aku tiba tiba telah terbangun disebuah ranjang berseprai hijau pucat. Aku mengedarkan pandangan kearah beberapa orang yang berdiri di sebelahku . Myungsoo, Ibu, beberapa saat kemudian sosok Ayahku juga telah berdiri di sisi ranjangku .

“Dimana kakak-ku?” Aku duduk di atas ranjang itu dan mendapati Suzy sedang meringkuk disebuah sofa berwarna kelabu di pojok ruangan . Menggigit kuku jemarinya, dan aku bisa mendengar isakannya dari sini. Dia menyesal!

 

 

+

Awal Musim Semi 2012

Kedua bersaudara itu berjalan di trotoar daerah ramai bernama Insandong . Salah satu dari mereka bernama Yerin menenteng sebuah box bertuliskan Bong Cake di tangan kanannya . Dan Suzy, kakaknya hanya menatap jalanan ramai itu dengan tatapan kosong .

“Itu dia,” Yerin menunjuk kearah sebuah plang cafe dengan lampu lampu kerlap kerlip yang menghiasi sudut papannya. Yerin meraih lengan sang kakak kemudian mempercepat langkahnya mendekati bagunan bernuansahkan bunga bunga cantik itu .

“ Saengil Chukka Hamnida , Saengil Chukka Hamnida . Saengil Chukka Kim Myungsoo , Saengil Chukka Hamnida—“

Myungsoo meniup lilin merah berbentuk angka 20 di atas sebuah kue tart yang di belikan Yerin dan Suzy sebagai pelengkap perayaan ulang tahunnya . Sementara kedua bersaudara itu hanya tersenyum senyum sembari menepuk nepukkan kedua telapak mereka setelah Myungsoo memejamkan mata untuk melakukan makewish kemudian meniup api yang menyala di atas lilin kue tartnya .

“Selamat Ulang tahun oppa,” Ucap Yerin sembari menyenggol lengan Suzy yang tergeletak di sebelah lengannya .

Suzy mengerjap lalu tersenyum “Ada apa?” Tanyanya .

Yerin membulatkan matanya sembari menoleh “ucapkan Selamat Ulang tahun untuknya—“ .

Suzy mengangguk paham “Selamat Ulang Tahun Kim Myungsoo,” Katanya dengan senyuman semringah .

Pria yang sedari tadi terpaku itu tersenyum dengan pipi yang memerah “Terimakasih Baek Brother—“ Katanya malu malu .

Yerin menjawab senyuman Myungsoo, kemudian meraih sebuh pisau yang berada di sisi kue tart milik Myungsoo . Menyodorkan benda tajam itu kembali dengan senyuman “Kau harus memotong kuenya dan memberikannya kesalah satu diantara kami berdua” Ucap Yerin .

Myungsoo mengambil pisau itu dan menggoreskannya ke atas kue tart berhias permen warna warni itu . “Ini untuk—“ Myungsoo menatap sepotong kue tart dengan cerry yang tinggal separu lalu berpaling kearah Yerin dan Suzy yang terlihat penasaran. “Baek Yerin, ini untukmu,” Myungsoo menyodorkan kue itu untuk Yerin yang seketika menampilkan pipi meronanya .

“Terimakasih oppa,” Ucap Yerin malu malu diikuti jawaban hangat dari Myungsoo.

Untuk sesaat suasana diantara mereka bertiga semakin akrab, terutama ketika Yerin melontarkan beberapa lelucon atau menyanjung sahabat karib-nya itu dengan kata kata manis . “Kau menyukainya bukan?” Pertanyaan spontan yang dibuat Suzy membuat suasana akrab berubah bisu .

Yerin dan Myungsoo terlonjak kearah Suzy dengan mata membulat .”A-apa maksudmu?” Suzy mendengus sembari meremas sebuah pisau yang ada di meja makannya hingga darah merah miliknya bercecer .

“Eonnie! Tanganmu!” Yerin mendelik dan tangannya hendak mengambil pisau yang berada di genggaman Suzy namun ketika hendak mengambilnya Suzy malah mengacungkan pisau yang berlumuran darah itu kearahnya .

“Kau menyukainya gadis kecil!”

+

 

Sejak saat itu kami membenahi beberapa barang tajam yang ada di dapur, mengamankannya untuk melindungi Suzy dari hal hal buruk . Menurut professor Hong, Keadaan kakak-ku sudah memasuki tahap awal keparahan . Dia akan banyak kehilangan ingatan dan tingkahnya akan terasa sedikit kasar, untuk itu dengan sarannya kami mengelompokkan barang barang tajam seperti pisau atau yang lainnya ketempat yang tidak dapat di jangkau oleh Suzy .

“Ibu—“ Lirihku saat melihat ibuku menangis di atas kasur Suzy sambil berlutut . Jelas sekali kalau beberapa bulan terakhir aku sering melihatnya melakukan itu tetapi apa boleh buat? Aku tidak dapat melihatnya, dan lebih memilih menghindar . Ini memang sangat sulit bagi kami, meski Suzy kelihatan sehat sehat saja tetapi siapa yang tahu? Isi kepalanya sedang mengalami penyusutan .

“Siapa kau?” kata kata itu sering dia katakaa kepada siapapun selain kami dan Myungsoo setelah 9 bulan berlalu setelah vonis itu berkumandang . Profesor Hong tidak dapat melakukan pencegahan apapun kecuali memberikan beberapa pil yang fingsinya tidak begitu membantu . “Memperlambat penyusutan otaknya.” Siapa yang peduli dengah hal yang tidak pasti seperti apa yang dia ucapkan? Kami bahkan telah frustasi mendengar vonis yang sama dari beberapa dokter kenalan professor Hong yang hasilnya  sama sekali tidak berbeda .

Mulai saat itu, aku dan ibuku lebih memilih untuk tidur bersama dengan Suzy agar dia bisa dipantau secara intensif . Dan soal Myungsoo, bahkan dia mengambil cuti kuliahnya hanya untuk membantu aku mengurus Suzy . Walau tuan Kim ayahnya tidak menyetujui keputusan Myungsoo namun akhirnya dia mengerti juga kalau Myungsoo mungkin ingin menggunakan waktu yang kian hari kian menyempit ini untuk membuat sebuah kenangan indah bersama sahabat karibnya .

Sembari menunggu ayah dan ibu pulang dari pekerjaan tambahan yang mereka ambil . Aku melihat Myungsoo membacakan sebuah buku berjudul Alice and Wonderland untuk Suzy membuat aku tidak mampu menahan tangisanku . Pria itu bahkan menyuapi kakak-ku , hal yang menurutnya konyol saat gadis itu duduk di bangku SMA, dia menertawaiku yang harus makan dengan disuapi karna tanganku cedera akibat pertandingan baseball di sekolah dasar. Tetapi lihatlah, bahkan dia sudah memakai pempers untuk buang air .

Dan disuatu malam diakhir bulan desember aku melihatnya mencopot satu persatu hiasan pohon natal dan dibuangnya ketempat sampah dengan beberapa lirihan seperti “Aku tidak menyukai warnanya,” “aku tidak menyukai kau,” “Aku tidak menyukai semuanya” Aku berlari dan mendekapnya dengan isakan .

 

+

 

Musim dingin terasa sangat indah jika dilalui dengan berbagai doa . Sehari setelah malam tahun baru keluarga Baek dan Kim Myungsoo memanjatkan doa di salah satu gereja di lingkungan perumahan tempat tinggal mereka . Memanjatkan doa untuk kelangsungan hidup mereka dan utamanya kesehatan Suzy . Gadis berambut diikat dengan sebuah dress bewarna biru toska yang duduk dengan tatapan kosong .

Tuhan selamatkan kakak-ku , angkatlah penyakitnya tuhan . Aku tidak sanggup melihatnya seperti orang bodoh . Selamatkan dia tuhan! Jika perlu kau bisa menukarkan nyawaku jika itu benar benar bisa kau lakukan untuk membuatnya menjadi sebagai gadis normal!

Gadis itu membanjiri pipinya dengan tangisan dan terlonjak ketika sebuah teriakan menekan terdengar nyaring keseluruh penjuru gereja “Dimana kau tuhan? Mengapa kau tidak mengambil nyawaku saja?” Suzy berteriak sambil menutup kedua telinganya .

Kedua lengannya di tahan oleh Myungsoo dan ayahnya sementara ibu dan adiknya hanya bisa menangis melihat rintihan gadis itu yang seakan naik kepermukaan . “Ambil nyawaku tuhan!”

1 bulan berlalu dan gadis itu kini terbaring koma , berjibaku dengan dunia mimpinya. Menurut professor Hong , Suzy telah melalui masa dimana kesadaran otaknnya semakin rendah . Bahkan pria tua berkaca mata itu sudah mempresdiksi kalau Suzy hanya mampu melewati hidupnya 3 jam dimulai dari sekarang .

Pilihan yang dialami Suzy memanglah sangat berat untuk dijalani . Terutama soal dirinya yang harus melawan penyakitnya atau menyerah? Soal pilihan Suzy berada di antaranya , terkadang berontak dan terkadang menyerah . Siapa tahu? Dia bahkan tidak separah pasien lain yang membunuh keponakannya sendiri menurut professor Hong .

“Kalian harus merelakannya.” Semburat kekecewaan dibalik kaca mata bulan sabit itu seakan membuat guncangan maha dahsyat bagi keluarga Baek dan Kim Myungsoo , melihat takdir yang berakhir tragis milik Suzy harus segera dia hadapi . Tidak satupun diantara mereka dapat menyangkal takdir milik si gadis cantik itu tidak satupun bahkan hingga kata kata kematian benar benar terjadi .

+

Aku menatap foto kakak-ku yang terpajang di altar gereja lalu beralih pada sosok myungsoo yang sedang terisak di sampingku . Dia , pria yang sudah kukenal sejak kecil . Aku baru pertama kalinya melihatnya menangis , tangannya tidak henti-nya membuat tinjuan ke bangku panjang milik gereja . Tidak sedetikpun menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya , hanya menangis dan tertatih diatas kesedihan yang semakin menjadi jadi , diakhir kelam ini .

Aku melirik kearah tas selempang yang kubawa dari rumah . Itu milik Suzy dan didalamnya ada sebuah buku harian yang isinya membuatku sangat terpukul . Jawaban atas tingkahnya saat perayaan ulang tahun Myungsoo sekitar setahun yang lalu .

Aku meraih buku itu dan kuberikan ke Myungsoo yang masih saja terisak “Kau harus membacanya,”

Myungsoo untuk pertama kalinya merespon , duduk diatas bangku kusam milik gereja dan mulai membaca . 1 Jam , sekitar satu jam untuk dirinya bisa memahami apa alasan dibalik suruhanku .

Satu kata yang tersirat di dalam buku harian Suzy membuatnya semakin terisak , jauh lebih terisak . Mengetahui kalau kakak-ku mengalah tidak mengungkapkan perasaan yang disebut cinta untuk Myungsoo dan itu karna aku? Dia mengira aku menyukai Myungsoo? Aku tidak dapat berkata kata , semuanya se akan menjerumuskanku menjadi seorang yang sangat sangatlah jahat .

Dan pilihan , kakak-ku . Aku tidak begitu yakin dia mencintaiku atau tidak sebelum peristiwa ini terjadi tetapi satu kata yang ada di buku hariannya menunjukan kalau dia bukan main dalam hal menyayangiku bahkan di rela membunuh perasaannya sendiri hanya untuk adik tidak berguna seperti diriku .

 

Know what should I choose , wealth or love?-Baek Suzy

 

THE END

Note : Anyeong 🙂 haha akhirnya bisa ngepost nih FF juga , udah membusuk di PC . terinspirasi sama aktingnya park boyoung di the story i didn’t knownya IU(harus nonton!) dan selesai waktu baca sebuah novel yang menurut aku cukup menarik . semoga feelnya dapet ya soalnya aku nulisnya dengan perasaan yang sedikit sulit untuk diungkapkan , mau nangis tapi ada yang nahan hehe . oke kalian kalo bisa sampe nangis bacanya *loh haha . jangan lupa berikan RCLmu 🙂 se you next time with sweet home part 2 . hehe

25 thoughts on “The Street Confusion

  1. Authooor, ngena bgt thor….
    sediiihx dapet… penyakitx serem amat…

    bikin myungzy lge ya thor… gomawo… ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s