Cliché

ka

Cliché by junghaha

Cast: 2PM’s Nichkhun & SNSD’s Tiffany

Genre: Romance & Life

Rating: PG-13

Length: Vignette

Disclaimer: Terinspirasi dari cerita pendek “November Rain” Pseudonymous’ “Goodbye To Romance” dan FanFiction yang saya baca.

&

Sepasang mata itu kembali bertemu. Tiffany kembali diingatkan beberapa memori masa lalunya ketika mata itu menatapnya—lembut, tapi dingin dan terkadang menusuk. Mungkin tanpa pria yang berada di hadapannya kini Tiffany tidak akan bisa melangsungkan 24 jam miliknya. Dulu.

“Sudah lama tidak bertemu, ya.” Nichkhun memecah keheningan yang sejak tadi dibiarkan mengambil alih sejenak. Tiffany mengangguk, menyeruput Hazelnut Macchiato-nya, kemudian kembali menatap sepasang bola mata cokelat milik Nichkhun.

“Kau merindukanku, kan?”

“Cih.” Nichkhun membuang muka ke arah pengunjung lain yang kebetulan ada di café yang sama dengannya malam itu. Tiffany mengerucutkan bibirnya. “Kau tetap sama menyebalkannya dengan Nichkhun yang dulu.”

Yang disebut namanya hanya terkekeh. “Bagaimana dengan French?”

“Aku tidak punya banyak waktu untuk keluar apartemen,” Tiffany menyesap Macchiato-nya lagi kemudian menaruhnya kembali pada tataknya. “French benar benar gila, man! Kepalaku sudah mulai rontok karena terlalu banyak skripsi dan tugas yang diberikan dosen disana.”

“Kau berbicara terlalu bersemangat.” komentar Nichkhun, Tiffany terkikik.

“Bagaimana dengan kuliahmu? Kau mengambil jurusan apa?”

“Hukum.”

“Wow!” Tiffany bertepuk tangan dengan meriah. “Sebuah keputusan yang ekstrem, tuan Horvejkul.”

“Kemana saja kau ini sebenarnya? Ayah menyuruhku untuk masuk jurusan itu.”

“Sepertinya aku meninggalkan banyak berita sejak pergi ke French,” ujar Tiffany, mengusap dagunya. Nichkhun melempar salah satu keripik nachos ke wajah Tiffany yang kemudian terlonjak dari duduknya.

“Hey!”

Nichkhun tersenyum jail. “Oya, apa kau menemukan seseorang—yang baru disana?”

&

Musim gugur, 1998.

Tiffany sengaja menjelajahi taman kota sendirian tanpa sepengetahuan ayah nya. Dia sembunyi di balik pohon mangga—terkikik geli ketika melihat sang ayah masih tertidur dengan pulas, tanpa menyadari kalau putri tunggalnya telah melenggang pergi entah kemana. Anak perempuan itu bersenandung ceria sambil terkadang menjinjit jinjit diatas rerumputan taman kota yang masih basah akibat hujan tadi malam. Kemudian secara tiba tiba pupil matanya membulat. Dia melihat sebuah layangan biru polos berkibar kibar tertiup angin pagi yang bahkan membuat anak perempuan itu mengetatkan jaket merah muda yang dikenakannya—sangat menarik. Tiffany menginginkannya. Dia melangkah mendekati kerumunan anak-anak lain yang sedang sibuk memilih mana layangan yang akan dibelinya.

“Adik kecil, mau beli yang mana?” Ahjussi penjual layangan itu membungkuk sedikit sambil melempar senyum ke arah Tiffany. Anak perempuan itu gelagapan, lalu menunjuk layangan biru polos yang berada diantara layangan lainnya. Ahjussi tersebut hendak mengambil layangan yang barusan ditunjuk sebelum Tiffany akhirnya menghentikan perbuatannya.

“T-tapi, a-aku tidak p-punya uang,”

Dahi Ahjussi tersebut berkerut samar. Tiffany menunduk ketakutan sambil meremas kedua tangannya.

“Aku mau yang itu,” seorang anak laki laki datang menghampiri dan menunjuk layangan biru yang dimaksud Tiffany. Ahjussi tersebut gegas memberikan apa yang diinginkan anak laki laki dengan baju tsubasa yang kemudian memberikan sejumlah uang—membayarnya.

“Tapi itu milikku!” pekik Tiffany. Ia menutup kedua mukanya, mulai menangis. “Aku yang lebih dulu melihatnya.” Isaknya.

Anak laki laki berambut cokelat kemerahan itu merasa sedikit risih. Dia benci untuk melihat perempuan menangis karenanya, terlebih seorang perempuan asing. Tiffany tidak kunjung meredamkan tangisnya. Hidungnya memerah, tangan kecilnya menyusut ingus dan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.

“Baiklah!” geram anak laki laki itu. Tiffany mendongkak dengan penuh harapan.

“Kau mau memberikan layangan itu untukku?”

“T-tidak juga,” kali ini Tiffany kembali menunduk lemas. “Tapi kita bisa memainkannya berdua.”

“Jinjjayo?”

“Lagipula aku membutuhkan orang untuk mengangkat layanganku tinggi tinggi. Supaya bisa terbang tinggi—ke angkasa.”

Anak laki laki itu menunjuk langit dengan angan angan di benaknya. Tiffany mendongkak, memandang langit yang bertumpukan awan, menutup dahi dengan tangan kirinya dan memperhatikan bagaimana anak laki laki itu tersenyum geli—membayangkan sesuatu yang tidak ia mengerti.

“Cepatlah! Aku ingin memainkan layangan itu!” rupanya teriakan Tiffany tadi berhasil membuat anak laki laki itu mendengus kesal.

“Tidak sabaran sekali, sih!”

Tiffany terkekeh. Matanya yang masih sembap membentuk sebuah lengkungan bulan sabit. “Oya, namamu siapa?”

“Nichkhun.” Balasnya, cuek. Dia memberikan kepala layangan biru itu ke tangan Tiffany.

“Namaku Tiff—“

“—Kau jalan ke sana!” Nichkhun menunjuk arah sebaliknya. “Lalu berhenti ketika aku katakan stop.”

Air wajah Tiffany seketika berubah suram. Ia mendecak kesal, tapi tidak berkomentar. Hanya berjalan mundur beberapa langkah, menunggu sampai Nickhun mengintrukisnya untuk berhenti.

“Tidak bisa lebih tinggi lagi?” teriak Nichkhun.

“Tidak!”

“Dasar pendek!”

“Apa kau bilang?” Tiffany berubah marah.

“Loncatlah, pendek loncat!”

“Aku tidak ingin bermain denganmu lagi!”

Tiffany membanting kepala layangan itu ke tanah. Nichkhun menepuk jidatnya, mendesis cukup keras.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak ingin bermain denganmu lagi!” ketus Tiffany seraya menyilangkan kedua lengannya di atas dada. “Aku pergi.”

“Memangnya aku membutuhkanmu?” Nichkhun menjulurkan lidahnya pada punggung Tiffany yang kian menjauh. Lalu bola matanya menangkap seorang ahjussi berhambur memeluk dan mengusap usap rambut Tiffany dengan khawatir.

“Oh demi Tuhan Tiffany!” suaranya bergetar, seperti sedang menahan tangis. “Ayah mencarimu kemana mana, kau tahu?”

“Khun,” seorang wanita dengan sweater putih kebesaran memegang bahu Nichkhun kemudian berlutut—menyejajari tingginya dengan putra tunggalnya itu. “Apa yang kau lakukan pada anak perempuan itu, hah?”

“A-aku tidak melakukan apa apa, bu!”

Y-yenchit?” yang di panggil namanya menoleh. Keduanya sama sama terkejut. “K-kau?”

Nichkhun dan Tiffany saling bertukar pandang aneh beberapa saat, sebelum akhirnya Tiffany memutuskan untuk membuang muka dan Nichkhun turut melakukan hal yang sama.

“Itu anakmu? A-aku minta maaf atas Nichkhun,” ibu Nichkhun menoleh pada anaknya sesaat, kemudian menggaruk dengkulnya yang tidak gatal dan kembali fokus pada manik mata ayah Tiffany yang kini tersenyum lembut.

“Tidak apa.”

“Ayah,” Tiffany menarik narik lengan kaos abu adidas yang dikenakan ayahnya. “Apa kau mengenalnya?”

“Ibu Nichkhun?” ujar tuan Hwang yang dibalas dengan anggukan Tiffany dan Nichkhun. “Tentu, dia teman ayah sewaktu SMU dulu.”

Nyonya Horvejkul dan Tuan Hwang saling melempar senyum, kemudian tiba-tiba menunduk canggung dan berdeham pelan. Baik Tiffany maupun Nickhun, keduanya sama sama menelan ludah.

 

&

 

“Aku bertemu dengan Siwon, anak fakultas Performing Arts yang kebetulan gedungnya disebelah gedung fakultas Sastra,” Tiffany memangku dagu. “Dia tampan.”

“Tentunya tidak lebih tampan dari aku, bukan?”

Tiffany tidak tertarik untuk membalas, hanya mendelikkan mata yang disusul kekehan Nichkhun. “Dia memintaku untuk menjadi pacarnya, 6 bulan yang lalu.”

“Wow,” Nichkhun mengangguk samar. “Cukup lama, ya.”

“Begitulah. Dia orang yang tidak suka main-main.”

Nichkhun menyeruput Frapuccino de crème yang sudah mulai dingin miliknya. “Bagaimana denganmu? Sudah menemukan pasangan? Atau sudah terfikir untuk married?”

Nichkhun tersedak dan terbatuk secara tiba tiba. Tiffany menaikan sebelah alisnya sementara Nichkhun sibuk menepuk nepuk dadanya. “Kenapa?”

“T-tidak.” sangkal Nichkhun. “Sudah dapatkan surat dariku?”

“Surat ap—oh! Aku belum sempat membacanya,” Tiffany merogoh rogoh tas merah pekat yang diselendangkan secara kontras dengan baju berwarna hijaunya. “Baru kuterima pagi ini.”

Tiffany membuka amplop putih polos yang membungkus sebuah kertas dengan warna senada di dalamnya. Ia membuka lipatan kertas tersebut, lalu dengan sebuah senyuman memulai membaca surat itu. Namun, tak lama kemudian, air wajahnya berubah memucat. Ia menoleh Nichkhun sesaat, tapi yang dipandangnya tidak berkomentar sama sekali.

“Khun,”

&

Atap kediaman Hwang, 2011.

“Wow,” mata Nichkhun mengerjap ngerjap karena terpesona dengan pemandangan yang bola matanya tangkap. “Aku baru tahu langit Seoul indah juga jika dipandang saat malam hari.”

“Khun, lihat!” Tiffany menujuk langit dengan kagum. “Langit penuh dengan bintang sehingga mereka tampak desak desakan,”

“Dasar sinting! Mana mungkin bintang desak desakan? Mereka punya tempat sendiri untuk menunjukan sinarnya, bodoh.”

Tiffany menoleh Nichkhun sesaat. “Begitupula kita. Aku tidak tahu pada akhirnya harus pergi ke French dan meninggalkan kalian semua.”

Sorot mata dingin Nichkhun seketika melunak. Mereka duduk tersila di atas loteng kediaman ayah Tiffany yang juga jadi kediaman Ibu Nichkhun saat ini. Tuan Hwang dan Nyonya Horvejkul yang sudah lama hidup menyandang julukan single parent semenjak ditinggalkan pasangan hidupnya masing masing itu akhirnya memutuskan untuk menikah 3 tahun yang lalu. Pada awalnya hidup menjadi seorang kakak-beradik bagi Tiffany dan Nichkhun adalah hal yang paling susah di dunia. Mereka tersering kali bertengkar oleh sikap cerewet milik Tiffany yang kontras dengan sikap cuek milik Nichkhun. Tapi kebiasaan mereka akan tidur bersama, membagi makanan berdua, saling mengobati dan memenuhi celah diri masing masing membuat rasa ‘sayang’ itu kemudian muncul secara perlahan lahan.

“Khun, lihat! Ada bintang jatuh!” Tiffany menunjuk sebuah prajurit langit yang berwarna putih bercahaya sedang meluncur jatuh secara horizontal di tempatnya. “Buatlah permintaan!”

Mereka sama sama memejamkan mata, mengepalkan tangan di depan dada dan menyebutkan permintaan masing masing di dalam hati. Tiffany yang lebih dulu membuka mata, lalu dengan bersemangat bertanya, “Apa permintaanmu, Khun?”

Nichkhun mendelik ke arahnya. “Kau dulu,”

“Kau, Khun.”

“Kau!”

“Ka—”

“—Kau!”

“Tsk. Baiklah,” Tiffany mendecak. “Permintaanku, semoga kalian semua baik baik saja selama aku tidak ada.”

“Tentu saja kami akan baik baik saja, bahkan terlampau baik baik saja kalau kau tidak ada.”

Tiffany memukul lengan Nichkhun berulang kali. “Ya! Aku hanya bercanda, hentikan!”

“Giliran kau, Khun.”

“Permintaanku?” Tiffany mengangguk penuh antusias sementara Nichkhun melanjutkan kalimatnya, “Aku berharap, kita dapat terlahir kembali, bukan sebagai sepasang kakak-beradik, tapi sebagai individu yang berbeda.”

 

&

 

Ketika seharusnya surat ini tidak sampai di tangan kamu, dan kembali berada di lokerku.

Ketika seharusnya perasaan ini tidak di sampaikan,

Tapi memang tampaknya semua telah berubah.

Karena ini terasa berbeda ketika kini sepasang mata jenaka itu berubah menjadi sepasang mata yang anggun.

Karena ini terasa berbeda ketika  kini rambut ikal itu berubah menjadi rambut bergelombang yang panjang.

Karena ini terasa berbeda ketika kini si jelek pendek itu telah berubah, tidak sama dengan orang yang ku pandang terakhir kali 3 tahun lalu.

Aku menyayangimu.

Bukan dalam arti ‘sayang’ yang seharusnya antara adik dan kakak,

Tapi sebagai ‘sayang’ antara seorang pria pada seorang wanita.

 

Tiffany kembali membaca isi surat itu, dan menggeser letak duduknya dengan gusar. Nichkhun hanya menunduk, ia tahu ini sebuah pemberontakan. Seharusnya ia tidak melakukan hal ekstrem seperti ini yang mungkin akan merusak hubungan baik mereka sebagai adik dan kakak nantinya. Tetapi nyatanya, egonya selalu dapat mendahului dirinya ketika teringat kembali pada Tiffany, cinta pertamanya yang notabene adalah adiknya sendiri.

“Khun,” Tiffany tidak lagi menyeruput Macchiato-nya yang masih bersisa banyak. Selera makannya seketika hilang menguap seiring emosinya melonjak. “A-aku—”

Hening.

“—Juga menyayangimu,”

Nichkhun merasakan sebuah hantaman besar menyontakkan jantungnya. Kalau dia tidak cukup kuat, mungkin saat ini rohnya sudah melayang pergi kembali pada sang pemilik diatas meninggalkan tubuhnya. Dia mendongkak, menatap manik Tiffany dalam-dalam, meyakinkan kalau ia sedang tidak berbohong. Lalu seketika Nichkhun tertawa hambar, sedangkan Tiffany menatapnya takut.

As your brother, right?”

“No, Khun,” Tiffany menggeleng. “I love you as you, as Nichkhun.”

Nichkhun mengusap usap dagunya yang sudah mulai ditumbuhi rambut rambut halus yang juga tumbuh di sekitar pipinya. Dia menggeleng-geleng. “Ini sinting.”

“Aku tahu,”

Tiffany tertawa tanpa alasan yang jelas. Nichkhun dapat merasakan sebuah sayap mungkin tumbuh di sekitar punggungnya, lalu membawanya terbang tinggi ke angkasa hanya karena beberapa kalimat yang diluncurkan Tiffany tadi.

“Kau sedang tidak mabuk, kan?”

Tiffany mengerlingkan matanya. “Tentu tidak, bodoh.”

“Lalu bagaimana dengan Siwon?”

“Sebentar lagi dia bukan pacarku,” Tiffany tersenyum tanpa Nichkhun ketahui maksudnya. Lalu tiba-tiba dia berdiri, tampak terburu-buru. “Sampai bertemu tiga hari lagi, Khun.”

Nichkhun tidak menahan Tiffany pergi, tidak pula menanyakan maksud dari kalimat terakhir yang diluncurkannya tadi. Dia terlampau bahagia untuk kenyataan yang dihadapinya sekarang. Ini hanya tampak seperti sebuah daydream tidak nyata yang biasa dilakukannya ketika malam hari, tetapi ketika ia sadar, yang dihadapinya kini adalah sebuah realita. Senyumnya tak kunjung surut, mengingat sebuah balasan sederhana tapi berarti banyak bagi penantiannya selama ini. Lalu, secara tiba-tiba pupil mata Nichkhun membesar ketika melihat sebuah persegi panjang berwarna salem tergeletak disamping surat putih miliknya. Jakun miliknya naik turun, pelupuk matanya yang sedang menahan butiran-butiran kristal transparan itu terasa berat. Ada Tiffany sedang tersenyum disana, tapi ia tidak sendiri.

 

Engagement party

 

Tiffany & Siwon

 

24 December 2013

Gangnam street number 10

 

&

30 thoughts on “Cliché

  1. Endingnya ga nyangka! kasihan khun 😦
    dikira tiff bakal ninggalin siwon tapi ternyata….
    daebak daebak! ditunggu ff selanjutnya thor 😀

  2. Bukan,bukan…. Bukan pcarnya lagi tapi suaminya gitu? Asssshhhh….

    Sakit be’ud

    haduh kalo bikin sequel gimana thor?setuju gak?

    Pasti nyesek,ya tuhan…..

    😥 Good Job Thor hiks… Keep Write

  3. please yaaa.. ini kok akhirnya gantung banget T^T
    jadi tiffany 3 hari lagi mau nikah sama siwon?
    tp knpa ungkapin perasaannya juga ke khun? -__-

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s