I’m Promise

I'm Promiseedit

Author : dikdotspace | Main Cast : ‘Beast’ Yang Yo-Seob as Yoseob, Im Han-Rin as Hanrin (OC) | Other Cast : ‘Infinite’ Kim Myung-Soo as Myungsoo, Beast Members, Heong Seung-Seong as Seung Seong (Direktur Cube Ent.) | Genre : Drama, Romance | Length : Oneshoot (2892 words)

I’m Promise

Oppa, kau mau membawaku ke mana?”tanya Hanrin karena sedari tadi matanya tertutup kain.

“Tunggu sebentar lagi sampai”jawab Myungsoo tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya yang hanya samar-samar diterangi lampu pinggir jalan yang seadanya.

Hanrin memainkan tangannya. Ia sungguh penasaran ke mana Myungsoo membawanya pergi. Myungsoo menepikan mobilnya. Ia berlari menuju pintu Hanrin. Hanrin berdiri dan melangkah di tuntun oleh Myungsoo. Myungsoo berhenti ketika sampai di tempat yang dituju. Ia melepaskan penutup mata Hanrin. Sebagai gantinya ia menggunakan tangannya.

Hana, dul, set. Buka matamu”perintah Myungsoo.

Perlahan Hanrin membuka matanya. Betapa terpananya ia ketika melihat sebuah danau yang tenang dengan diterangi oleh lampu di sekitar tempatnya berdiri. Hanrin membalikkan badannya. Ia terkejut ketika melihat Myungsoo yang berdiri dengan gagahnya sambil membawa sebuket bunga dan dibelakangnya sudah tertata rapi sebuah meja makan dilengkapi lilin-lilin kecil.

Myungsoo berjalan menuju Hanrin. Tapi 3 langkah sebelum sampai di mana Hanrin berdiri, Myungsoo berhenti dan berjongkok. Dengan perlahan ia mengeluarkan sebuah kotak.

Would you marry me, Im Hanrin?”

Hanrin menutup mulutnya dengan tangan kanan. Dia terlalu speechless dengan kejadian ini. Myungsoo yang telah menjadi namjachingunya selama 2 tahun terakhir, melamarnya. Hanrin hanya sanggup menganggukkan kepalanya. Myungsoo berdiri lalu memasang cincin di jari manis Hanrin. Myungsoo pun menarik Hanrin ke dalam pelukkannya. Dalam pelukkan Myungsoo, Hanrin menangis. Ia menangis bahagia.

I’m Promise

Oppa, awas”teriakan Hanrin memecah konsentrasi Myungsoo.

Dari arah berlawanan, ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Myungsoo membanting setirnya ke kanan. Mobil yang ditumpangi Myungsoo dan Hanrin menabrak sebatang pohon besar. Keduanya terluka. Bahkan Hanrin sampai tak sadarkan diri. Myungsoo menggoncangkan tubuh calon istrinya perlahan.

Tak lama kemudian, beberapa orang berdatangan. Mereka mencoba menyelamatkan Hanrin dan Myungsoo.

“Tidak .. Selamatkan .. dia dulu”pinta Myungsoo terbata.

Mereka pun mencoba mengeluarkan Hanrin terlebih dahulu. Dua buah mobil ambulance juga telah sampai. Setelah Hanrin bisa dikeluarkan, ia dimasukkan ke dalam salah satu mobil ambulance itu. Mobil ambulance itu melaju memecah jalan kota Seoul yang sepi.

Myungsoo yang melihat itu tersenyum. Ia tidak bisa keluar karena kakinya terjepit. Tapi setidaknya, ia melihat Hanrin berhasil diselamatkan. Mereka yang tadi menyelamatkan Hanrin, sekarang membantu Myungsoo keluar. Beberapa menit kemudian, Myungsoo sudah berhasil dimasukkan ke dalam mobil ambulance.

I’m Promise

“Pianis handal Im Hanrin mengalami kecelakaan. Kecelakaan terjadi kemarin malam sekitar pukul 9 KST. Mobil yang ditumpangi Hanrin dengan calon suaminya, Kim Myungsoo, menabrak sebatang pohon setelah menghindari sebuah mobil yang melaju kencang dari arah berlawanan. Hingga saat berita ini disiarkan, belum diketahui kondisi Hanrin dan Myungsoo …”

Yoseob yang sedang makan di ruang makan, menyemburkan makanannya lalu berlari menuju ruang tengah. Yoseob mengambil remot dari tangan Dujun dan membesarkan volume TV. Dujun menatap heran deongsaengnya. Tidak biasanya Yoseob tertarik menonton TV terutama acara berita.

Yoseob menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia berulang kali menggelengkan kepalanya. Ia berusaha menyangkal semua pemberitaan itu. Dujun merangkul pundak Yoseob. Ia memang tidak tahu ada hubungan apa antara Yoseob dengan Hanrin, tetapi ia tidak tega melihat deongsaengnya seperti itu.

I’m Promise

“Maafkan saya, tapi saudara Myungsoo sudah tidak tertolong lagi”ucap dokter lirih.

Tangis keluarga Myungsoo dan Hanrin pecah. Omonim Myungsoo sampai tak sadarkan diri. Tuan Kim –abeoji Myungsoo– jatuh terduduk begitu mengetahui kenyataan bahwa ia kehilangan putra semata wayangnya. Sekarang mereka berharap Hanrin akan baik-baik saja. Tidak menyusul Myungsoo ke atas sana.

Tuan Im –abeoji Hanrin– memeluk Tuan Kim. Mereka berdua sangat kehilangan Myungsoo. Terlebih seminggu dari sekarang, seharusnya mereka sudah menjadi sebuah keluarga. Tetapi takdir berkata lain. Myungsoo harus dipanggil ke sisi-Nya. Nyonya Im, sedang menunggu Nyonya Kim sadar di salah satu tempat tidur yang kosong. Air mata Nyonya Im pun masih terus berjatuhan. Ia terus-menerus berdoa agar putri tunggalnya selamat.

I’m Promise

Yoseob masih berusaha menelepon Tuan Im. Akhirnya usaha Yoseob membuahkan hasil. Tuan Im mengangkat telepon Yoseob, setelah menyadari bahwa ada 56 missed call nomor tak dikenal di telepon genggamnya.

Yoboseo?”Tuan Im menjawab dengan suara serak.

Ahjussi, na Yoseob. Bagaimana kondisi Hanrin?”tanya Yoseob pelan.

“Ah Yoseob, ke mana saja kau? Kenapa kau tak pernah menghubungi kami?”

“Maafkan saya ahjussi, saya terlalu sibuk. Bagaimana Hanrin?”

“Iya aku tahu kau sibuk. Aku sering menontonmu di TV. Hanrin .. ia masih tak sadarkan diri”

Yoseob berusaha menenangkan dirinya mengetahui kondisi terbaru Hanrin. Ia tidak pernah menyangka hal buruk akan menimpa yeoja manis yang hingga saat ini masih mengisi hatinya.

“Kalau Myungsoo, bagaimana dengannya?”

“Ia sudah tak tertolong lagi”jawab Tuan Im setelah menghela nafas panjang.

Yoseob refleks menutup mulutnya yang hampir berteriak. Air matanya berjatuhan, ketika mendengar nasib calon suami Hanrin. Ia bisa membayangkan betapa terluka dan tersiksanya Hanrin, hidup tanpa namja yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Mungkin Myungsoo adalah nafas, dan tempat berpegang Hanrin. Jika Myungsoo tidak ada, bagaimana Hanrin bisa bernafas atau berpegang? Hanrin adalah seorang yeoja yang sangat rapuh. Siapa yang akan menggantikan Myungsoo di kehidupan yeoja malang itu?

“Yoseob? Kau masih di sana?”suara lembut Tuan Im membuat Yoseob tersadar bahwa ia masih tersambung dengan beliau.

“Ah ye. Hanrin dirawat di mana ahjussi?”

Entah mengapa, ia ingin segera menjenguk Hanrin. Memberi semangat atau melihat kondisinya mungkin.

“Di Samsung Medical Center, kamar 571. Ke sinilah jika kau tak sibuk. Aku yakin, Hanrin akan segera sadar begitu menyadari kau ada di sini”

“Akan aku usahakan”tentu aku usahakan. Aku harus menjenguknya ahjussi, tambah Yoseob dalam hati.

I’m Promise

Dengan ragu, Yoseob keluar mobil. Dujun dan Junhyung yang mengantar pun keluar dan merangkul Yoseob. Hingga saat ini, Dujun dan Junhyung tidak tahu hubungan antar teman satu grupnya dengan pianis handal tersebut. Tetapi mereka tetap diam, melihat keadaan Yoseob yang kacau itu.

“Mereka personil Beast kan?”ucap seorang wartawan begitu melihat Yoseob, Dujun dan Junhyung berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.

Wartawan dan kameramen yang lain membenarkan ucapan wartawan tadi. Mereka pun bergegas menuju tiga personil Beast. Junhyung yang mendengar teriakan para wartawan langsung berlari sambil menarik Yoseob. Dujun yang melihat Junhyung berlari ikut berlari.

Setelah mereka masuk ke dalam rumah sakit, mereka bergegas menuju lift. Lift pun berhenti di lantai 5, lantai di mana Hanrin dirawat. Di depan kamar Hanrin, Yoseob terbeku. Melalui kaca kecil yang dipasang di pintu, ia melihat Hanrin terbaring lemah. Tanpa senyum, yang dulu sering Hanrin tunjukkan kepada Yoseob.

Dengan memberanikan diri, Yoseob mengetuk pintu. Nyonya Im yang sedang menunggu putrinya beranjak dan membuka pintu. Begitu melihat Yoseob di depan pintu, Nyonya Im memeluk Yoseob. Ia sangat merindukan Yoseob yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri itu.

Yoseob, Dujun dan Junhyung dipersilahkan masuk. Yoseob menatap nanar Hanrin. Ia begitu sedih melihat kondisi Hanrin saat ini. Yoseob mendekati Hanrin dengan sangat perlahan. Yoseob pun duduk di kursi yang terletak di sebelah ranjang rawat Hanrin. Ia menggenggam tangan yeoja itu.

Dalam genggaman Yoseob, jari Hanrin bergerak. Yoseob yang merasakan itu langsung menoleh ke belakang.

Hyung, panggil dokter. Hanrin bergerak”teriak Yoseob yang mengenjutkan ketiga orang dibelakangnya –Nyonya Im, Dujun dan Junhyung.

Refleks Dujun berdiri dan berlari keluar. Nyonya Im mendekati putrinya. Ia mengelus rambut Hanrin. Air matanya kembali berjatuhan. Ia senang Hanrin sudah mulai sadar.

Dokter yang ditemani 3 perawat pun masuk dan memeriksa Hanrin. Terpaksa Nyonya Im dan Yoseob mundur, bergabung dengan Junhyung dan Dujun. Hanrin membuka matanya perlahan. Tetapi ia tidak bisa melihat sedikitpun. Tidak ada cahaya yang menembus retinanya.

Omma, kenapa gelap? Omma mematikan lampunya ya? Omma”teriak Hanrin histeris yang membuat orang yang berada di dalam ruangan terkejut.

Nyonya Im menangis sejadi-jadinya. Yoseob shok bukan main dibuatnya. Ia berulang kali menggelengkan kepalanya. Setelah diberikan obat penenang oleh perawat, Hanrin kembali tenang. Dokter berjalan mendekati Nyonya Im.

“Bisa kita bicara di luar?”tanya dokter.

Nyonya Im mengangguk. Ia penasaran dengan kondisi putrinya. Ia tidak ingin putrinya mengalami kebutaan seperti yang sekarang ia khawatirkan. Yoseob menahan langkah Nyonya Im.

Ahjumma, boleh saya ikut?”tanya Yoseob lirih.

Nyonya Im mengangguk lagi. Dengan dipapah Yoseob, Nyonya menyusul dokter yang sudah di luar. Di luar ruang rawat Hanrin, dokter menjelaskan kondisi Hanrin. Ternyata yang dikhawatirkan Nyonya Im terjadi. Hanrin mengalami kebutaan permanen. Nyonya Im jatuh terduduk. Tanda sadar, air mata juga membasahi pipi Yoseob. Yoseob memeluk omonim Hanrin, yang sudah ia anggap sebagai omonimnya sendiri.

I’m Promise

Omonim Hanrin berjalan perlahan mendekati Hanrin. Ia harus dibantu Yoseob untuk bisa sampai dan duduk di sebelah Hanrin. Nyonya Im menggenggam tangan Hanrin. Air mata Nyonya Im menetes, membasahi tangan Hanrin.

Omma, wae? Kenapa semua gelap?”

Sebenarnya Hanrin sudah bisa menebak jika ia buta, tapi ia ingin memastikan saja. Ia sudah berusaha agar ia berlapang dada.

“Kau buta, sayang”jawab omma lirih.

Hanrin menarik nafas panjang. Ia pasrah dengan kondisi dirinya saat ini.

“Kalau oppa?”Hanrin teringat akan calon suaminya itu.

“Dia ..”Nyonya Im tidak mampu melanjutkan ucapannya.

Wae?”desak Hanrin penasaran.

“Dia ke Amerika untuk pengobatan”Yoseob bersuara, walaupun ia berbohong.

Hanrin tersentak mendengar suara tadi. Suara yang ketika bernyanyi terkadang cempreng atau berat tetapi jika sampai pada nada tinggi, suaranya terdengar lebih indah. Suara itu hanya dimiliki satu orang. Yang Yoseob.

“Kau?”desis Hanrin tajam.

Ye, Hanrin. Naneun Yoseob. Kau masih ingat aku kan?”Yoseob berusaha senormal mungkin. Walaupun pada kenyataannya, ia sangat iba melihat yeoja bermarga Im itu.

“PERGI. AKU TIDAK INGIN KAU DI SINI. KAA”bentak Hanrin.

Nyonya Im, Yoseob, Dujun dan Junhyung tersentak mendengar bentakan Hanrin. Yoseob tersenyum miris, mendapat sambutan yang kurang mengenakan dari Hanrin. Dujun dan Junhyung menahan Yoseob yang hendak melangkah mendekati Hanrin. Yoseob menatap kedua hyungnya. Dengan kompak, kedua hyungnya menggelengkan kepala. Yoseob menghembuskan nafas berat. Ia terpaksa mengalah kali ini.

“Baik Rin-ya, aku pergi. Permisi ahjumma

I’m Promise

Yoseob menatap langit-langit kamarnya tanpa fokus di sana. Pikirannya melayang entah ke mana. Ia seperti ‘menghilang’ dari tubuhnya. Yoseob berada di ranjangnya, tetapi ‘Yoseob’ tidak berada di situ.

“Seobbie”panggil Gikwang.

Yoseob tak mengindahkan panggilan Gikwang, mungkin Yoseob tidak mendengarnya. Ia masih terlalu fokus dengan pikirannya.

“Seobbie”ulang Gikwang, kali ini sambil menggoncangkan tubuh Yoseob pelan.

Goncangan pelan itu mengembalikan ‘Yoseob’ pada tubuhnya. Ia menatap Gikwang dengan tatapan yang tidak jelas. Orang yang ditatap merasa aneh. Tidak biasanya Yoseob memandangnya seperti itu, tatapan yang tidak bisa diartikan.

Tiba-tiba Yoseob bangkit dari tempat tidurnya. Mengejutkan Gikwang yang duduk di depannya. Yoseob berlari, keluar dari kamar meninggalkan Gikwang yang bingung dibuatnya.

I’m Promise

Abeoji, izinkan aku. Aku mohon”pinta Yoseob tulus.

Yang dipanggil abeoji, memutar kursinya agar bisa menatap Yoseob. Ia merasakan permintaan yang tulus dari Yoseob.

“Tapi sampai kapan?”tanya Hong Seung Seong, direktur Cube Entertainment, agensi yang menaungi Beast.

Yoseob menunduk. Ia pun tak tahu sampai kapan, tetapi itu tak menghentikan niat Yoseob untuk menjaga dan merawat Hanrin. Yeoja pertama dan mungkin terakhir yang bisa merebut hati Yoseob. Yoseob ingin menjadi pelindung bagi yeoja itu. Suatu keinginan yang tidak mudah.

“Setidaknya izinkan aku bersamanya selama 3 bulan”Yoseob memohon.

“Tiga bulan?”pikir Seung Seong.

Seung Seong memikirkan berbagai hal. Mulai dari Beast yang akan beraktivitas tanpa personil lengkap hingga apa yang harus dijawab ketika ada yang bertanya ke mana perginya main vocal Beast tersebut. Jujur, ia sangat ingin meloloskan permintaan Yoseob. Tetapi ia harus berpikir matang-matang untuk menjawab itu.

Yoseob memainkan jarinya. Ia ragu apa Seung Seong akan mengabulkan permintaannya atau tidak. Tapi keinginannya bisa membuat Hanrin tersenyum seperti yang dulu ia sering lakukan, membuatnya optimis akan mendengar jawaban ‘ya’ dari mulut direkturnya.

Seung Seong berdeham kuat-kuat, membuat Yoseob mengangkat kepalanya dan menatap direkturnya.

“Baik. Hanya 3 bulan”

I’m Promise

“Kau mau ke mana?”tanya Hyunseung ketika melihat Yoseob memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.

“Aku akan pergi beberapa saat”Yoseob menjawab masih dengan kesibukkannya memasukkan baju.

“Ke mana? Berapa lama?”

Yoseob menutup kopernya. Ia beranjak mengambil tas gendongnya dan menurunkan kopernya dari atas ranjangnya.

“Hmm.. Ke mana ya? Hyung kepo deh”cibir Yoseob.

Hyunseung memukul kepala Yoseob. Membuat Yoseob meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.

“Haha, peace hyung. Yang pasti aku akan pergi selama 3 bulan”

I’m Promise

Yoseob memasuki rumah keluarga Im. Ia sangat merindukan rumah ini. Sudah lama sekali, semenjak ia terakhir kali menginjakan kakinya di sini. Tuan Im merangkul Yoseob. Ia merindukan ‘putra’nya.

Sebelum sampai di ruang keluarga, ia mendengar suara piano yang tutsnya ditekan sembarangan. Dentingan piano itu sanggup menghentikan langkah. Abeoji Hanrin menepuk pundak Yoseob lalu berbalik arah. Sebenarnya orang tua Hanrin mau pergi tapi Yoseob sampai sesaat sebelum mereka pergi. Yoseob meletakkan tas gendongnya di atas meja, sehingga menimbulkan suara.

Nuguya?”Hanrin berbalik.

“Yang Yoseob imnida”jawab Yoseob.

“Kau? Kenapa kau di sini?”desis Hanrin tajam.

Yoseob tersenyum mendapatkan sambutan dari Hanrin. Hanrin menekan tombol di tongkatnya. Dengan bantuan tongkat itu, Hanrin berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Yoseob menahan langkah Hanrin.

“Apa kau tidak merindukanku? Kenapa kau mau meninggalkanku?”tanya Yoseob pura-pura sedih.

“Cih. Merindukanmu? Kurang kerjaan sekali”jawab Hanrin sambil berusaha melepaskan tangan kirinya yang dipegang Yoseob.

Yoseob menghembuskan nafas berat. Ia menggenggam kembali dan mulai mengampit lengan kiri Hanrin.

“Ayo aku antar”usul Yoseob tulus.

“Aku bisa sendiri. Lepaskan”Hanrin menghentak tangannya.

I’m Promise

2 Bulan kemudian …

Hey girl (Hai gadis)

I can’t live without you (Aku tidak bisa hidup tanpamu)

I can’t forget you (Aku tidak bisa melupakanmu)

Gimme the light (Berikan aku cahaya)

Nyanyian dan dentingan piano yang dimainkan Yoseob terdengar hingga ke kamar Hanrin. Suara yang dulu sangat ia rindukan, kini kembali ia dengar. Lagu itu adalah lagu yang dipopulerkan oleh 2PM yang menjadi salah satu lagu kesukaan Hanrin. Hanrin mencoba mencuri dengar nyanyian Yoseob. Lagu yang berjudul Gimme the Light itu sering Yoseob nyanyikan dan Hanrin sering mengiringinya.

Gimme the light (Berikan aku cahaya)

Geunyeoleul naege dollyeojwo (Kembalikan dia padaku)

Yoseob bernyanyi sambil tersenyum. Lagu ini terasa sangat spesial baginya karena di lagu ini pertama kalinya Hanrin mengiringinya. Ya setelah membujuk berkali-kali. Hanrin yang mengiringi Yoseob, juga tersenyum. Suara Yoseob sangat pas di lagu ini. Terlebih ia merasa lagu ini dinyanyikan untuknya. Tapi tunggu, geunyeoleul naege dollyeojwo? Aku tidak pernah perginya darinya. Lagu ini untuk siapa?, pikir Hanrin.

Hanrin berhenti menekan tuts-tuts piano membuat Yoseob menatapnya heran.

Wae?”tuntut Yoseob.

“Lagu itu buat siapa?”selidik Hanrin.

“Buatmu”jawab Yoseob santai.

“Tapi aku kan tidak pernah meninggalkanmu. ‘Kembalikan dia padaku’?”Hanrin memalingkan mukanya.

Yoseob berjalan menuju depan Hanrin. Ia berjongkok di depannya.

“Kau yakin? Kau tidak pernah meninggalkanku?”tanya Yoseob serius.

Hanrin mengangguk mantap. Yoseob tersenyum jahil.

“Oke. Apa kau lupa pernah meninggalkanku ke Tokyo, Paris, London?”Yoseob berucap seraya berpikir, mengingat-ingat.

Hanrin merengut. Ia baru ingat, jika ia meninggalkan Yoseob setiap liburan sekolah setidaknya seminggu.

“Aish. Baiklah, kau menang”Hanrin menekuk tangannya di depan dadanya.

Gimme the light (Berikan aku cahaya)

Siganeul dwedollyeojwo (Kembali ke waktu itu)

Neo ddeonago huhwehago isseo (Setelah meninggalkanmu, aku menyesal)

Cham babo gatji nan (Aku benar-benar bodoh)

Wae ijeseoya? (Mengapa baru sekarang?)

“Kenapa kau menyanyikan lagu itu?”tanya Hanrin dingin.

Yoseob berbalik, lalu tersenyum mendapati Hanrin berdiri tak jauh di depan kamarnya.

Wae? Memangnya aku tidak boleh menyanyikan lagu itu?”

“Kau itu, kalau ditanya jawab. Jangan malah balik bertanya”dengus Hanrin kesal.

Hanrin membalikkan badannya. Ia baru saja melangkah, ketika Yoseob memegang tangannya. Hanrin berusaha melepaskan tangannya. Yoseob malah memegang tangan Hanrin lainnya. Ia lalu mendekap Hanrin. Dalam dekapan Yoseob, Hanrin memberontak.

Mianhae. Maafkan aku Hanrin. Dulu aku tak bermaksud meninggalkanmu. Kau tahu, aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi eomma, appaku ingin aku jadi penyanyi. Aku tidak bisa menolak itu Rin-ya”Yoseob akhirnya bisa meminta maaf kepada Hanrin setelah selama tinggal di rumah Hanrin ia tidak bisa melakukannya.

Hanrin berhenti memberontak. Ia juga merasa bersalah atas sikapnya selama ini kepada Yoseob –mendiamkannya, mencuekkannya, marah-marah tidak jelas kepadanya. Yoseob mencium puncak kepala Hanrin.

Saranghae”bisik Yoseob lirih.

Hati Yoseob bergejolak hebat. Akhirnya setelah menunggu selama 4 tahun, ia bisa mengungkapkannya kepada yeoja yang berada dalam dekapannya. Hati yeoja bermarga Im pun demikian. Ia akhirnya merasa jika perasaannya –yang kembali hadir, semenjak Yoseob kembali ke kehidupannya– tidak bertepuk sebelah tangan. Hanrin melepas dekapan Yoseob perlahan.

Mianhae. Seharusnya selama kau di sini, aku tidak melakukanmu seperti itu”Hanrin akhirnya bersuara.

“Jadi, kau memaafkanku?”tanya Yoseob senang.

“Tidak semudah itu”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Aku akan memaafkanmu, jika kau menempati janjimu yang dulu”tantang Hanrin.

“Janji?”gumam Yoseob.

I’m Promise

“Seobbie”rengek Hanrin.

Yoseob yang mendengar rengekkan Hanrin berlari mendekatinya.

Wae?”tanya Yoseob penasaran.

Hanrin menekuk mulutnya ke bawah. Yoseob terus mendesak Hanrin agar menjelaskan.

“Aku ingin seperti Rian”jawab Hanrin akhirnya yang membuat Yoseob tambah penasaran.

“Rian? Kenapa dengannya?”

Namjachingunya menyanyikan sebuah lagu untuknya. Dan yang lebih istimewa lagi, lagu yang dinyanyikan adalah lagu ciptaan namja itu”

Yoseob menangkap maksud Hanrin. Ia tersenyum jahil kepada Hanrin.

“Jadi kau ingin itu?”

Hanrin menggangguk pasti. Senyum terpampang jelas di wajah cantiknya.

“Baik. Tapi, aku kan sahabatmu. Bukan namjachingumu”

Ucapan Yoseob membuat Hanrin mendengus kesal. Ia memalingkan muka dari Yoseob. Mulut Hanrin mendumal tak jelas. Yoseob tertawa tanpa suara melihat tingkah Hanrin. Ia berhasil membuat Hanrin kesal. Setelah tawanya reda, Yoseob memegang wajah Hanrin dan membawanya kembali (?) agar bisa menghadapnya.

Arraseo. Aku akan membuatkannya untukmu. Dan yang pasti lebih istimewa dari namja itu. Tunggu saja. I’m promise”

I’m Promise

Abeoji”teriak Yoseob ketika melihat Hong Seung Seong berjalan menuju ruangannya.

Seung Seong berbalik dan mendapati Yoseob sedang berlari ke arahnya. Ia tersenyum, karena Yoseob menempati janjinya. Akan kembali setelah 3 bulan ‘menghilang’. Seung Seong memeluk Yoseob saat namja bermarga Yang itu sampai di depannya.

Abeoji, bolehkah aku meminta bantuanmu lagi?”tanya Yoseob setelah pelukkan itu terlepas.

I’m Promise

“Wah, akhirnya kau terlihat lagi Yoseob-ssi”sapa IU, sang MC, ketika Beast mengisi sebuah acara musik.

Yoseob hanya tertawa. Ia pun mulai berbasa-basi, menjawab satu per satu pertanyaan yang diberikan IU. Ya walaupun ia menjawabnya dengan sebuah kebohongan. Yoseob tidak mungkin memberitahukan sebenarnya kepada semuanya.

“Aku dengar kau akan menyanyikan sebuah lagu spesial. Kalau boleh tahu, buat siapa lagu spesial itu?”tanya Ji Eun penasaran, nama asli IU.

“Buat seorang yeoja”jawab Yoseob misterius.

Yeoja? Nugu? Dia yeojachingumu?”Ji Eun dibuat penasaran oleh jawaban Yoseob.

Yoseob tersenyum penuh misterius. Semua penonton tak terkecuali B2UTY penasaran dibuatnya.

I’m Promise

Yoseob selesai menekan not terakhir lagu yang ia buat. Di hadapan penonton, Yoseob berdiri dengan tenang.

“Lagu tadi, hanya akan aku nyanyikan sekali di hadapan publik. Karena lagu tadi hanya untuk seorang yeoja. Aku menyanyikan lagu tadi untuk menempati janjiku kepadanya. Dan yeoja itu Im Hanrin”

–fin

Gimana FF perkenalan author? Kurang apa? Kritik yang positif ya biar bisa membangun lagi. Tunggu ya FF selanjutnya dari author dikdotspace ^.^ Annyeong *bow

3 thoughts on “I’m Promise

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s