Evening Sun (3rd Chapter)

eveningsky1

Evening Sun

Presented by Quiterie (this is my new pen name)

 3rd Chapter

Main Cast : SNSD’s Tiffany & 2PM’s Nichkhun || Genre : Drama, Life, OOC || Length : Chapter || Rating : PG-15 || Disclaimer : Inspired by Prisca Primasari’s “Chokoreto” & “Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa”, Ilana Tan’s “Four Season” tetralogy and Pseudonymous’ “Threesome”

Credit Poster : Art Factory

Previous Chapter :

Teaser || 1st || 2nd

Note : Perhatikan penanda waktu di setiap awal babak

***

Jessica menatap Tiffany dan Nichkhun yang duduk bersisian dihadapannya dengan mata berkilat.

Keduanya tampak tidak menyadari tatapan Jessica. Sementara Tiffany mengoleskan selai nanas untuk rotinya sambil bersenandung kecil, Nichkhun hanya diam saja sambil mengaduk-aduk tehnya.

Pagi ini, Jessica dibuat benar-benar terkejut oleh sahabatnya itu.

Sekitar lima belas menit yang lalu, terdengar suara bel dari pintu depan. Jessica pikir ada tamu yang berkunjung atau mungkin tukang pos yang sering mengantarkan majalah fashion langganan Tiffany, tapi yang ia dapati di depan pintunya adalah Tiffany dan Nichkhun. Keduanya masih memasang tampang mengantuk, seperti baru saja bangun tidur.

Dan menurut hipotesis Jessica, semalam Tiffany pasti tidak pulang ke apartemen mereka, mungkin menginap di apartemen Nichkhun. Apakah Jessica salah jika sampai berpikiran aneh-aneh?

Nichkhun terbatuk, laki-laki itu mengecek jam tangannya lalu menoleh ke Tiffany. “Sepertinya aku harus segera pamit. Aku ada janji dengan seseorang pagi ini.”

“Begitu? Bahkan kau baru minum teh. Sempatkanlah makan dulu, atau kau mau aku mengemasnya ke kotak bekal? Kau bisa memakannya di perjalanan,” tawar Tiffany.

Nichkhun menggeleng. “Tidak perlu. Aku memang tidak biasa banyak makan saat sarapan. Terimakasih telah mengundangku sarapan bersama,” kemudian Nichkhun menoleh ke Jessica. “Aku pamit dulu.”

Jessica hanya mengangguk.

“Hati-hati, Khunnie,” Tiffany melambai singkat kearah Nichkhun yang sudah berjalan menuju pintu.

“Khunnie?” Jessica mengerutkan kening, meminta penjelasan kepada Tiffany dengan tatapan heran.

“Ada masalah?” Tiffany balas bertanya, meraih mangkuk salad dan mulai menyuapkannya ke mulutnya.

“Terakhir kau bercerita tentangnya, hubungan kalian sama sekali tidak baik. Dan hari ini kau malah memanggilnya dengan panggilan akrab seperti itu. Sepertinya aku melewatkan sesuatu. Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian? Apa semalam kau tidak pulang dan menginap di apartemen Nichkhun?” cecar Jessica dengan banyak pertanyaan.

Tiffany tertawa, “Ya Tuhan, kau berlebihan sekali.”

Jessica mendengus, ia kesal dengan Tiffany yang memang selalu terkesan santai menghadapi masalah. “Berlebihan? Fany, coba gunakan akal sehatmu, apa yang akan tetangga katakan ketika di pagi hari melihat seorang pria dan wanita, yang bukan suami istri ataupun memiliki hubungan biologis, keluar bersama dari apartemen si pria?”

“Kami tidak bertemu siapa-siapa tadi,” kilah Tiffany. “Begini, semalam aku datang ke apartemen Nichkhun, kemarin adalah hari ulang tahunnya. Aku datang, mengucapkan selamat sekaligus meminta maaf soal masalah seminggu yang lalu. Ketika Nichkhun pergi ke dapur untuk mencuci piring, aku ketiduran di sofa ruang tengahnya. Saat itu sudah sangat larut, Nichkhun merasa tak enak jika harus membangunkanku, akhirnya dia membiarkanku tidur disofanya. Memang alasannya terdengar klise tapi begitulah kenyataannya, dan kami tidak melakukan hal yang macam-macam, oke?”

Jessica memicingkan matanya, ia masih belum puas dengan jawaban Tiffany. “Jadi, kue tart yang kemarin untuk Nichkhun? Kenapa kau tak mengatakan padaku sejak awal?”

Tiffany menghela nafas kemudian mulai menceritakan semuanya dari awal. Jessica mendengarkan cerita Tiffany dengan seksama.

“Aku tahu kau adalah gadis baik hati yang gemar menyenangkan hati orang lain, tapi menurutku, apa yang kau lakukan pada Nichkhun terasa berlebihan,” kata Jessica dengan nada lelah setelah Tiffany selesai bercerita “Kalian baru bertemu dua kali, meninggalkan kesan kurang baik untuk satu sama lain, dan kau rela bersusah payah membuatkan kue tart untuk ulang tahunnya? Jangan bilang jika kau jatuh cinta padanya, Fany.”

Tiffany kembali tertawa, lebih keras dari tawa sebelumnya, seakan-akan Jessica baru saja memberitahunya lelucon yang sangat lucu, “Astaga, maksudmu aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama? Aku tak pernah percaya hal seperti itu, dan aku tak mungkin mengalaminya.”

“Lalu kau mau memberi istilah apa untuk kegilaanmu ini?”

Tiffany menelengkan kepalanya dengan wajah merenung. “Entahlah. Yang pasti aku hanya datang dan membawakan kue tart sebagai tanda permintaan maaf. Aku selalu benci jika masih memiliki semacam ‘tanggungan’ dengan orang lain. Saat itu empatiku cukup tergugah ketika dia mengatakan bahwa sejak ia pindah ke Korea akulah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Dia tidak punya teman, Jessie. Dia pasti kesepian. Apa aku salah jika menawarkan diri untuk menjadi temannya?”

Jessica tak menjawab, gadis itu meneguk ocha nya, diam-diam memandang Tiffany dengan ekor matanya.

Tiffany membuatkan kue tart untuk Nichkhun, menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada laki-laki itu dalam kurun waktu tiga tahun.

Nichkhun menceritakan sedikit fakta hidupnya, membuka sedikit hatinya untuk menerima ajakan berteman Tiffany, padahal selama ini laki-laki itu berusaha menutup diri dari semua orang yang berusaha mendekatinya.

Teman?

Jessica merasa benar-benar terusik.

***

Few days later

Tiffany benar-benar tidak bisa menahan keinginannya untuk tersenyum tanpa henti sepanjang perjalanan dari kantor menuju apartemennya.

Bahkan temperatur kota Seoul di puncak musim panas yang sering ia keluhkan, sama sekali tak terasa mengganggu hari ini.

Ia sudah akan masuk ke apartemennya ketika matanya menangkap sosok Nichkhun yang berdiri di puncak tangga lantai dua. Senyumnya melebar dan gadis itu langsung berlari kecil menghampiri Nichkhun lalu melompat memeluk laki-laki itu.

“Hei . . Fany . . apa yang kau lakukan?” Nichkhun tergagap, buru-buru melepaskan diri.

Tiffany mendongak dengan mata berbinar-binar. “Mulai besok aku sudah resmi menjadi wartawan tetap untuk Frau. Itu semua salah satunya berkatmu.”

“Selamat,” kata Nichkhun, berusaha membuat nada bicaranya terdengar antusias.

“Bagaimana jika kita merayakannya bersama? Aku yang akan mentraktir.”

“Lebih baik kau merayakannya bersama Jessica atau teman-temanmu yang lain,” Nichkhun menolak secara halus.

Bibir Tiffany mengerucut, ia selalu benci ditolak. “Jessie sedang berlibur ke rumah bibinya di Daegu. Pokoknya aku ingin merayakannya bersamamu, kau kan juga temanku. Kita sudah sepakat untuk berteman kan?”

Nichkhun menghela nafas, menyerah, “Baiklah, kau mau makan dimana?”

Setengah jam kemudian mereka sudah duduk di salah satu warung tenda pinggir jalan dekat apartemen mereka, memesan deokbokki, jajangmyeon, dan beberapa makanan yang lain.

“Cepat dimakan. Rasanya tak enak jika sudah dingin,” kata Tiffany tidak jelas dengan mulut penuh makanan.

Nichkhun yang sibuk mengutak-atik ponselnya hanya mengangguk, tidak terlalu menghiraukan apa yang barusan Tiffany katakan.

“Hei,” seru Nichkhun ketika Tiffany tiba-tiba merebut ponselnya.

“Makan,” sahut Tiffany pendek, memasukan ponsel Nichkhun ke saku bajunya.

“Aku kan sudah bilang kau harus merubah banyak kebiasaanmu,” lanjut Tiffany, masih sambil mengunyah makanannya, “Jika ada yang mengajakmu bicara perhatikan mereka sebagai bentuk menghargai, menggunakan ponsel saat sedang makan malam dan mengacuhkan temanmu itu tidak sopan. Pokoknya selama kita berteman aku akan mengajarimu cara bergaul yang baik dan benar. Oh ya, satu lagi, berusahalah terlihat ramah. Jangan memasang tampang datar dan dingin terus-terusan.”

“Wajahku memang begini,” protes Nichkhun tidak terima.

“Aku yakin kau masih bisa terlihat lebih ramah,” tukas Tiffany tak mau kalah “Hanya melihatmu berkeliaran kesana-kemari sendirian saja sudah membuatku cukup prihatin. Aku tak bisa membayangkan jika aku jadi dirimu.”

“Aku baik-baik saja dengan hidupku sekarang,”

“Tidak ada orang yang ‘baik-baik’ saja dengan tampang seperti mayat hidup sepertimu, Khunnie,” canda Tiffany sambil memasang tampang pura-pura kesal yang terlihat jenaka.

Nichkhun tertegun, apa yang diucapkan Tiffany menohok perasaannya.

“Apa aku perlu menyuapimu? Dari tadi makananmu hampir tidak tersentuh,” Tiffany memandang piring dihadapan Nichkhun.

Nichkhun menarik nafas kemudian mulai menyuapkan makanannya kedalam mulut. Tiffany merogoh saku bajunya, mengeluarkan ponsel Nichkhun dan mulai mengutak-atiknya.

“Apa yang mau kau lakukan dengan ponselku?”

“Ternyata semua agendamu hanya berkisar menulis naskah drama untuk pementasan mendatang, datang ke gedung pertunjukkan untuk menghadiri latihan teater beberapa kelompok seni, atau mengirim artikel ke majalah literatur, hampir semua bisa dikerjakan dirumah, pantas kau jarang keluar,” gumam Tiffany sambil mengangguk-angguk, gadis itu mengecek agenda Nichkhun yang ditulis di ponsel. “Astaga, daftar kontakmu ternyata lebih mengerikan, hanya ada beberapa kontak saja? Bahkan, kotak masuk pesanmu hanya berisi sedikit sekali pesan.”

“Jangan mengusik privasi orang, Tiffany,” kata Nichkhun kesal, berusaha meraih ponselnya dari Tiffany tapi gadis itu menghindar dengan cepat.

“Aku akan menyimpan nomorku di ponselmu. Karena kita berteman kita harus punya nomor ponsel satu sama lain kan? Kau bisa menghubungiku kalau sedang bosan atau kau bisa menunjukkan namaku ke wanita-wanita yang mengejarmu jika mereka menanyakan apa kau sudah punya pacar atau belum. Tidak menutup kemungkinan kan kalau selama ini mereka mengira kau gay? Sepertinya kau tak terlalu suka makhluk berjenis kelamin perempuan,” goda Tiffany sambil menyeringai, ponsel gadis itu bordering dan gadis itu mengabaikannya, sepertinya Tiffany menghubungi nomornya sendiri dengan ponsel Nichkhun untuk menyimpan nomor Nichkhun.

Nichkhun menatap Tiffany yang masih berkutat dengan ponsel miliknya.

Sepertinya kau tak terlalu suka makhluk berjenis kelamin perempuan.

Nichkhun tersenyum kecut. Perempuan baik, mungkin ia bisa memasukan Tiffany sebagai salah satunya, selalu membuatnya teringat masa lalu yang berusaha ia hapus. Tidak ada orang yang menyukai hal yang bisa membangkitkan mimpi-mimpi terburuknya kan?

***

a week later

“Akhir-akhir ini kau terlihat lebih ceria dari biasanya.”

Tiffany yang sedang menyesap kopi di meja kerjanya sambil memandang siluet langit sore dari jendela kantor menoleh kearah Taecyeon, “Oh ya? Apa selama ini aku kurang ceria?”

“Aku kan bilang lebih,” Taecyeon memberi penekanan pada kata ‘lebih’, “Tapi aku tidak heran sih, biasanya orang yang sedang kasmaran memang seperti itu.”

Tiffany mengangkat alis dengan dahi berkerut. “Kasmaran?”

Taecyeon menutup laptop dihadapannya. “Apa kau tak tahu bahwa gosip tentangmu dan laki-laki yang seminggu ini mengantar jemputmu setiap hari sudah beredar luas? Kau mematahkan hati banyak laki-laki di kantor kita, Fany.”

“Dia hanya tetanggaku,” Tiffany memutar bola matanya dengan kesal.  “Mobilku masuk bengkel, makanya aku memintanya- sebenarnya lebih ke memaksa -untuk mengantar jemputku.”

“Wah tetangga yang baik sekali,” Taecyeon berkata dengan nada sinis. “Yuri, si kordinator layout, bilang tetanggamu tampan sekali seperti model Calvin Klein. Beritahu aku, apa dia lebih tampan dariku?”

Tiffany menelengkan kepalanya. “Entahlah. Aku selalu lebih menyukai pria dengan wajah innocent. Dia memilikinya.”

“Jadi kau benar-benar menyukainya?”

Sebelum Tiffany sempat menjawab pertanyaan Taecyeon, ponsel Tiffany berdering.

“Hai, Khunnie, kau sudah di parkiran? Oke, aku akan segera turun,” Tiffany menutup flip ponselnya dengan riang kemudian sibuk memasukan barang-barangnya ke dalam tas tangannya.

“Ah, Fany, jika kau selalu tersenyum padaku dengan senyum yang sama saat kau mengangkat telepon dari si model Calvin Klein-mu itu aku pasti sudah lama mengajakmu berkencan,” Taecyeon menatap Tiffany dengan wajah terkesima.

“Wah, sayang sekali, kau terlambat tuan Ok,” Tiffany mengulum senyum kemudian meninju bahu Taecyeon pelan. “Aku pulang dulu. Model Calvin Klein-ku tidak suka menunggu lama.”

Taecyeon mengernyit tanpa melepaskan pandangannya ke Tiffany yang berjalan menuju pintu. “Dia bilang apa tadi? Aku sudah terlambat? Model Calvin Klein-ku? Hei, Tiffany Hwang! Apa kau benar-benar menyukainya?!”

***

“Sudah lama?”

Tiffany mengulas senyum di bibirnya ketika membuka pintu pengemudi dan menundukkan kepalanya menatap Nichkhun.

“Tidak juga,” jawab Nichkhun sambil memalingkan wajah, “Cepat masuk. Kita harus segera pulang.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya, “Aku mau mengemudi. Dan, aku tak mau pulang sekarang. Aku sedang bosan sekali. Kau mau kan menemaniku ke suatu tempat dulu?”

Nichkhun mengangkat wajah, menatap Tiffany dengan tatapan enggan. “Sepertinya semua keinginanmu memang tidak bisa ditolak kan, Nona Keras Kepala?”

Tiffany menarik tangan Nichkhun hingga laki-laki itu keluar dari mobil lalu duduk didepan setir dan menatap Nichkhun dengan seringai menggemaskan  “Aku senang kau memahamiku dengan sangat baik.”

***

Semakin lama mengenal Tiffany, Nichkhun akhirnya menyadari bahwa selain terlalu riang dan tidak tahu malu, teman barunya ini juga sangat ajaib.

Ketika orang lain berusaha membunuh kebosanan dan menenangkan diri dengan pergi ke tepi sungai, ke taman kota, atau ke tempat-tempat lain yang cukup lazim, Tiffany memilih jembatan penyeberangan pejalan kaki.

Nichkhun sudah berdiri disamping Tiffany selama setengah jam, dan ia sendiri merasa bukannya merasa ‘tenang’ seperti yang dikatakan Tiffany, ia malah merasa bosan. Lebih bosan daripada sebelum mereka datang kesini.

Sekarang mereka berdiri di salah satu jembatan penyebrangan di Nowon. Jembatan ini tidak terlalu sering digunakan oleh para penyebrang jalan, kebanyakan penyeberang jalan lebih suka menggunakan underpass saat ini.

Nichkhun menoleh kearah Tiffany, gadis itu menatap kendaraan yang berlalu lalang di bawah dengan tatapan tertarik seakan-akan deretan kendaraan di jalan raya adalah deretan cat kuku Chanel yang selalu menjadi favoritnya.

“Disini menyenangkan kan?” tanya Tiffany dengan mata yang masih tertuju ke keramaian dibawah.

 “Buatku tidak.”

Tiffany mengerling ke Nichkhun, “Sepertinya tidak ada hal di dunia ini yang bisa membuatmu senang kan? Bahkan kau tak pernah tertawa.”

“Memangnya aku harus menertawakan apa?”

“Sesuatu yang lucu mungkin?”

“Bagiku tidak ada yang lucu selama hidupku.”

Tiffany menghela nafas dengan raut lelah, “Intuisiku bilang, ada sesuatu yang salah denganmu selama ini. Mau berbagi cerita? ”

Nichkhun diam saja, memfokuskan tatapannya ke traffic light dibawahnya, berusaha melarikan diri dari wajah Tiffany yang menatapnya lekat.

“Meski rasa ingin tahu yang besar adalah naluri mendasar tiap wartawan, aku tak akan memaksamu bercerita jika kau memang tidak ingin. Tapi kapanpun kau membutuhkan, telingaku selalu siap untukmu.”

Nichkhun menoleh dan memaksakan senyuman tipis selama sedetik. “Terimakasih.”

Tiffany berpaling menatap langit, malam sudah merangkak, lampu-lampu dari bangunan, kendaraan dan tepi jalan mulai menyala. “Aku sedang merindukan ibuku. Dulu ketika aku masih kecil, kami masih tinggal di California, ibu selalu mengajakku pergi ke jembatan penyeberangan dekat flat tempat kami tinggal. Kami hanya berdiri disana berjam-jam sambil mengamati lalu lalang kendaraan dan tiap kembali ke flat, mood ibu selalu jauh lebih baik. Dulu kami tidak punya banyak uang untuk mendapatkan hiburan, ibuku adalah single parent dan ibu selalu mengajarkan padaku untuk bahagia dari hal-hal sederhana disekitar kami. Salah satunya merenung di jembatan penyeberangan jalan. Mungkin terkesan konyol, tapi setelah ibu meninggal dan aku kembali ke Korea aku selalu merasa lebih baik jika merenung disini, sama seperti yang ibuku rasakan dulu.”

“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Tiffany “Apa kau sering pulang ke Thailand untuk menemui mereka?”

Nichkhun terdiam sesaat kemudian tersenyum sedih. “Mereka sudah meninggal.”

Tiffany menumpukan telapak tangannya ke punggung tangan Nichkhun yang mencengkeram pagar pembatas. “Maafkan aku.”

Nichkhun menegakkan tubuh kemudian mengamit tangan Tiffany, membuat gadis itu terkesiap. “Sudahlah lupakan saja. Sekarang giliran aku yang bosan dan butuh menyegarkan otak. Mau menemaniku mencoba restoran Jepang dekat balai kota?”

***

3 days later

“Aku ingin meminta pendapatmu.”

Jessica yang sedang sibuk menggonta-ganti channel televisi dengan remote di tangannya menoleh. “Apa?”

Tiffany mengerutkan dahi, tampak menimbang-nimbang. “Apakah kau merasa ada sesuatu yang aneh dengan Nichkhun? Seperti ada yang salah dengannya. Seperti . . . seseorang yang menyembunyikan sesuatu. Apa kau merasa begitu?”

“Aku tidak tahu. Lagipula kau bukan siapa-siapanya Nichkhun,” tandas Jessica dengan ketus. “Kurasa kau tidak perlu mencampuri kehidupan pribadinya, Fany.”

“Aku temannya,” kilah Tiffany.

Jessica menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. Menatap Tiffany tajam. “Bahkan sebagai seorang teman kau harus tetap menghargai privasinya.”

“Aku hanya penasaran dan ingin melihat sosok Nichkhun dari sudut pandangmu sebagai orang yang lebih lama mengenal Nichkhun daripada aku,” tandas Tiffany. “Lagipula aku tidak pernah memaksanya untuk bercerita tentang hal-hal pribadinya.”

Jessica terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Meskipun dia pemuda yang pendiam dia selalu professional dalam bekerja. Kehidupan sosialnya buruk karena dia enggan bergaul dengan orang lain. Makanya aku cukup kaget ketika kau bisa membuatnya berubah meskipun sedikit. Dia tak pernah terlihat dekat dengan seseorang, apalagi dengan seorang perempuan. Aku tak tahu banyak tentangnya, tapi yang pasti . . . tolong jangan menyukainya, Fany.”

Tiffany menoleh, menatap Jessica dengan tatapan bertanya. “Apakah kau menyukainya?”

Mata Jessica membulat ketika mendengar pertanyaan Tiffany. “Yang benar saja. Tentu saja tidak.”

“Lalu kenapa kau melarangku untuk menyukainya?”

Jessica menelan ludah. “Pokoknya jangan pernah menyukainya. Dia bukan pemuda yang tepat untukmu.”

Tiffany tertawa. “Berhentilah berprasangka buruk padanya. Nichkhun adalah pemuda yang baik meskipun sulit didekati. Bagiku dia hanyalah seorang teman yang selalu membuatku penasaran. Kau tahu kan, wartawan selalu tertarik pada hal-hal yang menggelitik rasa ingin tahu mereka,” Tiffany bangkit berdiri dari sofa kemudian mengacak-acak rambut Jessica. “Aku mau tidur dulu. Selamat malam.”

***

2 weeks later

“Paspor?”

“Sudah.”

“Topi, kacamata hitam, dan sunblock?”

“Sudah.”

“Permen karet? Permen karet bisa mengatasi telinga yang sakit ketika pesawat akan lepas landas atau mendarat.”

Tiffany mendengus dengan wajah cemberut. “Aku selalu kesal ketika kau mulai bertingkah dua kali lipat lebih bawel dari ibuku. Ya, aku sudah membawanya. Lagipula ini bukan kali pertama aku melakukan perjalanan dengan pesawat.”

Jessica hanya meringis. “Aku hanya khawatir ada barang yang tertinggal.”

Tepat setelah Jessica menyelesaikan ucapannya, terdengar suara bel dari pintu depan.

“Biar aku yang membukakan pintu,” Tiffany berlari kecil kearah pintu, meninggalkan Jessica yang sibuk menata koper Tiffany.

Tiffany dan rekan-rekannya akan melakukan liputan tentang festival kebudayaan skala internasional dimana Mesir menjadi tuan rumahnya sekaligus mendampingi pemotretan seorang aktor yang sedang naik daun yang juga akan mengambil lokasi pemotretan di negara itu.

“Nichkhun akan ikut mengantarkanku ke bandara,” seru Tiffany. Jessica mendongak dan mendapati Tiffany berjalan memasuki ruang tengah sambil menggandeng tangan- sekaligus setengah menyeret –Nichkhun.

“Aku datang kemari karena diminta Nyonya Ahn untuk mengantarkan kue kering buatannya,” gerutu Nichkhun sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Tiffany. “Bukankah sudah ada Jessica yang mengantarkanmu?”

“Akan lebih menyenangkan jika diantarkan dua orang pastinya,” jawab Tiffany kalem.

Tiffany dan Nichkhun terus berdebat tanpa menyadari ada Jessica juga di ruangan itu. Juga tanpa menyadari bahwa Jessica terus mengawasi mereka dengan tatapan tidak suka.

***

“Jaga rumah dengan baik. Pastikan kau membuat makanan yang enak di hari kepulanganku minggu depan. Mengerti?” Tiffany melepaskan pelukannya kepada Jessica kemudian berbalik kearah Nichkhun yang berdiri dengan cangung di tengah lalu-lalang pengguna bandara.

“Kuharap kau tidak akan merasa kehilangan selama aku pergi,” goda Tiffany dengan senyum cerah di wajahnya.

Nichkhun menyeringai sambil menepuk bahu Tiffany pelan. “Aku akan memastikan keinginanmu terkabul.”

Tiffany tertawa kecil lalu menggapai pegangan kopernya. “Kru yang lain sudah menungguku di terminal keberangkatan. Aku pergi dulu.”

Jessica melambaikan tangan. “Hati-hati selama disana.”

Tiffany membalas lambaian Jessica kemudian berjalan cepat sambil menarik kopernya menuju pintu terminal keberangkatan.

 “Kurasa kita harus segera pulang,” Nichkhun memecah keheningan diantara dirnya dan Jessica semenjak kepergian Tiffany.

“Khun,”

Nichkhun yang memutuskan berjalan terlebih dulu menuju pelataran parkir menoleh karena panggilan Jessica.

“Ya?”

Jessica menatapnya dengan tajam. “Apakah kau menyukai Tiffany?”

tbc

a/n :

Halo!

Saya mau cuap-cuap agak banyak nih.

Saya bener-bener minta maaf untuk keterlambatan super akut buat 3rd chapter ini. Hampir dua bulan pending ya? Maaf banget. Saya kena writer’s block dan sempat berniat untuk ngga meneruskan cerita ini lagi. Tetapi, saya jadi agak ‘tergerak’ ketika sampai sekarang masih ada yang nanyain chapter selanjutnya. So, here it is. Saya pribadi ngerasa ini ancur banget dan dibawah ekspetasi para pembaca. Efek terbengkalai selama berbulan-bulan mungkin jadi faktor utama.

Well, semoga masih ada yang mau menyempatkan baca. Udah bisa nebak ga nih ceritanya bakal gimana? Atau ada yang mau ngasih saran/request chapter selanjutnya harus gimana? Silahkan isi kolom komentar dibawah. Komentar kalian berpengaruh besar banget.

Dan yang terakhir. Terimakasih sudah mengikuti sampai chapter ini, menunggu begitu lama, dan menyempatkan membaca di waktu sibuk kalian. Semoga ‘Evening Sun’ masih bisa kalian nikmati! Ppyong!

35 thoughts on “Evening Sun (3rd Chapter)

  1. Wohooo mulai kerasa konfliknya. Khun mulai berubah karena fany dan fany masih aja begitu begitu ( ?) wkakakaka apa jessica suka Khun? Apa Taec suka Fany? Okeee aku bakal buka chap 4!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s