1st | Immortal Louje

immortal-louje-ff

IMMORTAL LOUJE

By MELSLM

Main Cast(s): Kwon Yuri, Kim Jaejoong || Genre: Life-Romance, Sad || Sub Cast: Kwon Jiyong, Im Nana || Length: Chapter || Rated: G || Disclaimer: semuanya membahas tentang permasalahan rumah tangga antara Yuri-Jaejoong.

***

“..when love started..”

***

1st Immortal Louje

Awan cerah menghilang perlahan. Berganti menjadi awan kelam berwarna orange. Sore telah menyambut.

“Aku sudah memasak sup wortel untukmu. Sejak pagi tadi, kau kan belum makan. Dan sekarang sudah hampir malam.” Yuri meletakkan semangkuk sup wortel di meja kerta Jaejoong. Jaejoong tak berkutik sedikitpun. Matanya masih di fokuskan untuk layar komputer.

“Aku tidak lapar.” Jawab Jaejoong dingin.

“Terserah kau. Kau boleh memakan itu kapanpun kau mau.” Kata Yuri, berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Jaejoong.

Yuri sudah hampir terbiasa dengan sikap Jaejoong, pria yang baru saja menikahinya tiga hari lalu. Ia juga tak tau, mengapa sikap pria yang bisa di katakan sebagai suami nya itu bersikap seperti itu. Mungkin karena perjodohan dan pernikahan ini adalah alasannya. Tapi, Yuri juga tidak tau alasan yang sebenarnya.

Matahari telah menutup secara keseluruhan, berganti dengan cahaya bulan di malam hari.

Yuri hanya menekan – nekan tombol remote, mencari – cari siaran yang menurutnya asik untuk di tonton.

Pandangannya teralihkan saat Jaejoong keluar dari ruang kerjanya dengan pakaian yang lengkap dan rapi.

“Kau mau kemana?” Tanya Yuri, meletakkan remote nya dan bangkit dari posisinya.

“Aku mau keluar sebentar.” Jawab Jaejoong. Namun, Yuri tau dengan jelas mau kemana Jaejoong pergi.

“Dengan siapa? Nana?” Bingo! Pertanyaan itulah yang keluar dari mulut Yuri. Tanpa menjawab pertanyaan dari Yuri, Jaejoong langsung keluar dari rumah.

Diam – diam, Yuri mengikutinya dari belakang. Ia melihat Jaejoong yang sedang tersenyum di garasi, dengan ponsel yang berada di telinganya. Sungguh, Yuri bahkan belum pernah melihat Jaejoong tersenyum sedikitpun kepadanya semenjak pernikahan mereka terlaksana.

Tak terasa, air mata Yuri benar – benar menetes ketika Jaejoong menyetir mobil keluar menjauhi rumah ‘mereka’.

Yuri menyeka air matanya dan menutup pintu garasi. Ia kembali berjalan menuju ruang tamu dan langsung melempar bokong nya ke sofa. Ia mengambil toples yang berisikan permen kacang dan memakannya sambil menonton televisi, seolah tak terjadi apa – apa sebelumnya.

Ting nong..

Baru dua menit Yuri menikmati permen kacangnya, bel rumahnya berbunyi. Yuri meletakkan toplesnya dan berjalan menuju pintu masuk.

‘Cklek’

Yuri membuka kenop pintu, dan mendapati Jiyong di depan pintu.

“Eh? Ada apa, oppa? Ohya, silahkan masuk.” Kata Yuri tersenyum dan mempersilahkan Jiyong untuk masuk. Jiyong tersenyum.

Yuri menutup pintu setelah Jiyong berjalan menuju ruang tamu.

“Dimana Jaejoong?” Tanya Jiyong, duduk di sofa putih nan empuk yang berada di ruang tamu.

“Dia sedang pergi,” jawab Yuri. “Maaf, rumahnya agak berantakkan.”

“Tidak masalah. Kemana ia pergi?”

Yuri menggeleng. “Memangnya ada apa?”

“Ah, aku ingin mengambil berkas – berkas untuk meeting besok.” Jawab Jiyong.

“Ia pergi bersama Nana. Mungkin sepulang nanti, ia akan memberikan berkas – berkas itu.” Kata Yuri.

Jiyong terbelalak. “Apa? Nana?” Ulang Jiyong. Alisnya terpaut jadi satu. Yuri hanya mengangguk dan tersenyum. “Kenapa kau tidak melarangnya?”

Yuri mengangkat kedua bahunya. “Untuk apa aku melarangnya? Itu kan hak nya.” Yuri tersenyum. Namun, Jiyong tau kalau sebenarnya hati Yuri sangatlah sakit.

“Kau ini bagaimana? Kau kan istrinya.”

Yuri tertawa pahit. “Kau mau minum apa? Kopi?” Tawar Yuri.

Jiyong bangkit dari posisinya. “Ah, tidak perlu repot – repot, aku pulang saja.”

“Tidak merepotkan kok. Serius kau tidak mau minum dulu?” Ulang Yuri.

Jiyong mengangguk. “Iya. Jangan lupa katakan pada Jaejoong mengenai berkas nya ya.” Kata Jiyong.

“Okay,”

Sudah pukul sebelas malam. Namun, tidak ada tanda – tanda kalau Jaejoong akan segera pulang. Mata Yuri sudah benar – benar mengantuk. Tanpa sadar, mata Yuri pun terpejam.

Hampir dua jam Yuri tertidur di sofa yang berada di ruang tamu. Yuri terbangun ketika mendengar suara pintu yang di buka. Jaejoong sudah pulang.

Jaejoong berjalan ke arah Yuri dengan langkah menyilang.

“Dari mana saja kau?” Tanya Yuri. Bukannya menjawab pertanyaan Yuri, Jaejoong malah tertawa dengab matanya yang terpejam. “Kau mabuk lagi.”

Jaejoong memeluk tubuh mungil Yuri saat Yuri hendak berjalan ke arah kamar. “Ck,” Yuri berdecak dengan wajah muramnya.

Yuri hendak melepaskan pelukkan Jaejoong. Namun, tenaga nya tak lebih kuat dari Jaejoong.

“Bagaaimana kau bisa pulang dengan keadaan seperti ini..” Yuri masih berusaha melepaskan pelukkan Jaejoong.

“Maaf, aku mengganggu. Aku hanya ingin mengembalikan kunci ini.” Suara Nana terdengar dari balik pintu.

Yuri menoleh ke arah Nana yang sedang memasang wajah unmood-nya. Namun, Yuri berusaha tersenyum ke arah Nana.

“Kau bisa letakkan kunci itu di meja,” kata Yuri. Ia masih memberikan senyumnya ke arah Nana, sedangkan kepala Jaejoong kini meringkup di balik leher Yuri.

Nana sama sekali tidak membalas senyuman dari Yuri. Ia melempar kunci mobil Jaejoong ke arah meja yang tadi di katakan Yuri, namun meleset dan kunci itupun terjatuh ke bawah.

Tanpa aba – aba, Nana langsung pergi dan membanting pintu.

‘Brak!’

Yuri hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit.

Jaejoong mengedipkan matanya beberapa kali. Badannya terasa sakit sekali. Pahanya terasa seperti di timpa puluhan kilo gram gandum. Mata Jaejoong terbelalak saat mendapati Yuri yang sedang melamun di atas pangkuannya. Ia mengangkat tangannya yang tadinya memeluk pinggang Yuri dengan erat. Sangat erat. Yuri yang menyadari pelukan dari Jaejoong mulai mengendur atau bahkan tidak dirasakannya lagi, menoleh ke arah Jaejoong.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jaejoong, dengan alis yang terpaut menjadi satu. Yuri langsung bangkit dari posisinya dan membenarkan baju tidurnya yang berantakkan.

“Ah, akhirnya kau bangun,” kata Yuri, melihat ke arah Jaejoong yang sedang menatapnya di sofa sana.

“Semalam kau mabuk berat.” kata Yuri. Ia berjalan ke arah kamar mandi. Baru empat langkah Yuri melangkah, ia menghentikan langkahnya.

Yuri menoleh ke arah Jaejoong yang masih berada di posisinya.

“Oh ya, semalam Jiyong oppa datang kesini, dan ia meminta berkas untuk meeting.” kata Yuri, kemudian melanjutkan langkahnya.

“ck,” Jaejoong berdecakd dan langsung berjalan ke arah ruang kerjanya.

Yuri sedang menyiapkan sarapan untuk nya dan Jaejoong.

“Pakaianmu sudah ku siapkan di atas ranjang.” kata Yuri ketika Jaejoong keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk di pinggang nya.

Jaejoong berjalan ke arah kamar tanpa menjawab sepatah kata pun perkataan Yuri.

Sepuluh menit berlalu, Jaejoong keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang lengkap dan rapi. Jaejoong berjalan ke arah lemari es dan membukanya.

“Jangan meminum minuman yang dingin pagi – pagi begini. Tidak baik untuk perutmu, apalagi kau belum sarapan.” kata Yuri. Jaejoong menghentikan aktifitasnya. “Aku sudah membuatkanmu teh hangat.” lanjut Yuri.

Jaejoong menutup pintu lemari es dan berjalan ke arah meja makan. Jaejoong meraih cangkir berisikan teh hangat yang di buat oleh Yuri dan meneguknya.

“Tadi malam, Nana kesini. Dan memberikan kunci mobilmu. Ada di meja depan,” kata Yuri.

Tanpa mengatakan apa – apa, Jaejoong langsung berjalan.

“Kau tak mau sarapan terlebih dahulu?” tanya Yuri, namun Jaejoong tetap melanjutkan langkahnya tanpa menjawab ataupun menoleh sedikitpun ke arah Yuri. Seolah – olah ia tak mendengar perkataan Yuri yang padahal sudah jelas – jelas ia mendengarnya.

Yuri hanya tersenyum pahit dan melanjutkan sarapannya. Sesudah ia selesai sarapan, Yuri langsung mencuci peralatan makan nya.

Di tengah – tengah aktifitasnya, Yuri berfikir.

“Oh, Tuhan.. Salah apa diriku ini..”

Sepuluh menit berlalu, Yuri pun telah selesai mencuci peralatan makannya. Ia berjalan ke kamar, dan ketika di dalam kamar, Yuri menemukan ponsel Jaejoong yang tergeletak di atas ranjang.

“Teledor sekali dia,” Yuri meraih ponsel Jaejoong dan melihat ada empat panggilan yang tak terjawab. Dan ternyata itu adalah Jiyong.

Ketika Yuri baru hendak menelpon Jiyong, Jiyong sudah menelpon terlebih dahulu. Tanpa menunggu lagi, Yuri langsung menekan tombol hijau pada layar ponsel Jaejoong.

“Hallo, Jaejoong! Dimana kau!? Hah!? Kau tau kan, kalau satu jam lagi klien kita dari Australia akan datang!?” Jiyong langsung mengeluarkan kata – kata dengan penekanan di setiap perkataannya. Yuri sampai harus menjauhkan ponselnya ketika Jiyong berbicara.

“Oppa, ini aku,” Kata Yuri dengan suara khas nya.

“Oh, kau Yul. Dimana Jaejoong?” Tanya Jiyong, kini suara nya berubah.

“Dia sudah berangkat, Oppa,” jawab Yuri.

“Ohh, bagaimana ponsel nya bisa berada padamu?”

“Ponselnya tertinggal.”

“Ohh, kalau begitu sudah dulu ya,” kata Jiyong. “Biar ku tunggu saja.” Lanjutnya.

Sambungan telepon pun terputus.

Yuri meraih tasnya yang berada di meja dan mengambil kunci mobilnya. Tak lupa ia membawa ponsel milik Jaejoong.

Yuri langsung berjalan ke bagasi dan menyetir mobil nya. Baru dua menit–kurang lebih– Yuri menyetir, ponsel Jaejoong berdering.

Yuri meraih ponsel Jaejoong dan melihat nama ‘Barbie’ tertera di layarnya. Yuri pun menekan tombol hijau yang tertera di layar.

“Oppa! Kau dimana? Katanya kau mau menjemputku? Meeting akan segera dimulai!” terdengar suara Nana di seberang sana.

Baru Yuri ingin menjawab perkataan Nana, tapi ponsel Jaejoong sudah mati. Ternyata ponsel Jaejoong lowbat.

Yuri melanjutkan menyetir mobilnya, dan memutar saluran radio. Terputar lagu ‘Who You Are’, dilanjutkan dengan ‘Nobody’s Perfect’ dan ‘Heart Attack’. tak sesekali Yuri berdendang di tengah – tengah lagu dan mengikuti irama lagu itu.

Yuri memarkirkan mobilnya di parkiran yang berada di depan kantor Jaejoong. Yuri keluar dari mobil dengan tas pink di gendongannya.

Di depan pintu masuk, Yuri melihat Jiyong yang sedang terlihat gelisah sambil sesekali melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya.

“Oppa!” Yuri melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah Jiyong. Jiyong balas tersenyum.

Yuri menghampiri Jiyong, masih dengan senyumnya. “Oppa, apakah kau melihat Jaejoong?” tanya Yuri, Jiyong menggeleng.

“Tadi sehabis memberikan berkas – berkas kepadaku, ia langsung pergi lagi. Aku juga sedang menunggu nya karena setengah jam lagi klien kami yang dari Australia akan segera datang.” kata Jiyong. “Memangnya kenapa?”

“Ini, ponselnya.” kata Yuri, memperlihatkan ponsel Jaejoong yang mati.

“Oh, kau tunggu di ruangannya saja.” tawar Jiyong.

Yuri mengangguk. “Okay,”

“Nanti, kalau dia sudah sampai. Biar ku katakan padanya kalau kau datang dan menunggunya.” kata Jiyong.

Yuri menggeleng cepat. “Tidak usah, Oppa! Tidak perlu!”

“Memangnya kenapa?” tanya Jiyong, bingung.

“Ehm..” Yuri terlihat sedang memikir – mikirkan suatu kata, apa yang harus ia katakan.  “Aku ingin memberikannya kejutan.” jawab Yuri asal. Menampilkan semyum lebarnya.

“Oh, begitu. Yasudah.”

Yuri berjalan masuk ke gedung kantor, menjauhi Jiyong. Yuri masuk kedalam lift yang kebetulan terbuka dan menekan angka 3.

‘ting..’

lift berbunyi dan berhenti di lantai dua. Ada beberapa orang yang keluar dan ada yang masuk. Lift tertutup dan berjalan lagi.

‘ting..’

lift berhenti di lantai tiga. Yuri keluar dari lift dan bergegas berjalan ke ruangan Jaejoong.

Mata Yuri terbelalak ketika membuka pintu ruangan kerja Jaejoong. Ruangan ini rapih sekali, berbeda dengan ruangan kerja Jaejoong di rumah yang selalu berantakkan. Padahal, setiap hari Yuri selalu merapihkannya.

Yuri masuk ke ruang kerja Jaejoong dan menutup pintu. Entah apa yang membuat Yuri tertarik untuk melihat – lihat seisi ruangan ini.

Yuri berjalan ke arah lukisan antik di balik rak buku. Yuri harus sampai berjinjit untuk dapat melihat lukisan yang letaknya cukup tinggi itu dengan jelas.

‘Klek’

Suara kenop pintu ruangan Jaejoong yang di buka. Baru Yuri ingin keluar dari balik rak buku, tapi Yuri membatalkan niatnya. Karena, Yuri mendengar Jaejoong sedang berbicara.

“Berapa menit lagi meeting akan di mulai?” Suara Jaejoong memekik di telingan Yuri. Yuri mendempetkan tubuhnya di balik rak. Kuping nya di pasang baik – baik.

“Dua puluh menit lagi. Klien dari Australia juga sebentar lagi akan datang.” Suara Nana menjawab pertanyaan Jaejoong.

Yuri mengerutkan alis nya. Mengapa ada Nana di sini?

“Oppa, kenapa tadi kau matikan ponselmu saat aku menelpon?” Tanya Nana kepada Jaejoong.

“Ponsel?” Jaejoong meraba – raba kantung celana nya. Tapi, nihil. Ia tak mendapat kan ponsel nya. “Ponsel ku tertinggal.”

“Lalu, tadi siapa yang mengangkat teleponku?” Tanya Nana, bingung.

“Aku..” Yuri keluar dari balik rak buku dengan mata yang berkaca – kaca. Tapi, ia masih memaksakan senyum nya.

“Yu-yuri?” Jaejoong terlihat gugup saat melihat Yuri yang muncul dari balik rak.

“Ini, ponsel mu tertinggal.” Kata Yuri, memberikan ponsel Jaejoong kepada Jaejoong.

Jaejoong meraih ponselnya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku hanya mau mengantar kan ini,” kata Yuri, menyeka air mata nya yang hampir mengalir. “Maaf kalau aku mengganggu.” Yuri tersenyum dan berjalan keluar dari ruangan Jaejoong.

Yuri menutup pintu dengan sangat pelan, seolah takut pintu itu akan runtuh.

Yuri menyeka lagi air mata nya yang sudah benar – benar jatuh.

Dari kejauhan, Jiyong melihat Yuri yang sedang berjalan dengan langkah cepat dan menyeka air matanya.

To Be Continued..

25 thoughts on “1st | Immortal Louje

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s