Evening Sun (4th Chapter)

eveningsky1

Evening Sun

by

Quiterie

4th Chapter

Main Cast : SNSD’s Tiffany & 2PM’s Nichkhun || Genre : Drama, Life, Angst || Length : Chapter || Rating : PG-15 || Disclaimer : Inspired by Prisca Primasari’s “Chokoreto” & “Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa”, Ilana Tan’s “Four Season” tetralogy and Pseudonymous’ “Threesome”

Credit Poster : Art Factory

Previous Chapter :

Teaser || 1st || 2nd || 3rd

***

“Baiklah. Sesi pemotretan untuk hari ini sudah selesai,” Taecyeon mengumumkan menggunakan megaphone sehingga seluruh kru dan staff yang terpencar-pencar di sekitar tepian sungai Nil dapat mendengar dengan jelas. Helaan nafas lega langsung terdengar di berbagai penjuru. Sekarang pukul empat sore dan matahari Mesir masih benar-benar menyengat. Melakukan pemotretan dalam suhu dan kondisi seperti ini tentu saja bukanlah hal yang mudah. “Silahkan kemasi seluruh barang-barang dan perlengkapan. Jangan sampai ada yang tertinggal.”

Taecyeon meletakkan megaphone diatas meja lipat disampingnya kemudian mengelap wajahnya yang bersimbah keringat dengan handuk kecil yang terkalung di lehernya. Kepalanya agak pusing karena sedari tadi ia mondar-mandir kesana kemari untuk memastikan pemotretan berjalan lancar dengan posisi matahari yang berada tepat diatas ubun-ubunnya. Ia adalah kepala koordinator sesi pemotretan kali ini.

“Hei, apa yang kau lakukan?” alis Taecyeon terangkat melihat Tiffany bolak-balik dari mobil ke spot pemotretan, ikut mengemasi peralatan-peralatan yang terbilang berat bersama kru yang hampir semuanya berjenis kelamin laki-laki.

Tiffany tersenyum kecil. “Hanya membantu agar pekerjaan kita segera selesai dan semua bisa beristirahat lebih cepat.”

“Ini berat tahu,” Taecyeon meraih sebagian barang-barang dari pelukan Tiffany kemudian ikut berjalan bersisian dengan gadis itu ke mobil. “Seharusnya kau berkumpul saja bersama para penata rias yang mendinginkan tubuh di mobil. Perempuan tidak usah ikut campur dengan pekerjaan laki-laki. Bagaimana jika kau tak sengaja menjatuhkan salah satu perlengkapan kemudian rusak?”

Taecyeon mengaduh ketika Tiffany menendang tulang keringnya dengan combat boots yang di kenakan gadis itu. “Aku tidak sepayah itu.”

“Iya, iya. Aku tahu kau tipe gadis macam wonder girl,” kata Taecyeon ketika mereka mulai memasukkan peralatan-peralatan yang mereka bawa ke dalam bagasi mobil.

wonder girl? Tidak buruk sih. Tapi aku lebih suka jadi Lara Croft,” ujar Tiffany sembari menutup pintu bagasi mobil kemudian berpose ala tokoh seri games Tomb Raider tersebut, membuat Taecyeon terbahak-bahak. “Aku harus kembali ke mobil para gadis dulu,” Tiffany mengedik kearah van bewarna merah yang dikhususkan untuk para make up artist, hair stylist, dan dia sebagai satu-satunya wartawan perempuan dalam rombongan mereka. “Bye!”

Taecyeon melambaikan tangan ketika Tiffany berlari-lari kecil kearah van yang terparkir tujuh meter dari tempatnya dengan langkah riang.

“Apakah dia pacarmu?”

Taecyeon menoleh. Choi Siwon, aktor yang menjadi model utama pemotretan, berdiri dengan tangan terlipat disampingnya. Pemuda itu diapit oleh dua manajernya yang masing-masing membawakan tas jinjingnya dan memayungi Siwon sambil mengipasinya.

Taecyeon menggeleng, sudah tidak terkejut dengan peranggai Siwon yang seperti tuan muda keluarga kaya raya, berbanding terbalik dengan imej gentleman dan tenggang rasa yang ditampilkannya pada masyarakat. “Kami hanya berteman dekat.”

“Dia cantik sekali,” puji Siwon tanpa melepaskan pandangan dari van yang baru saja dimasuki Tiffany. “Siapa namanya?”

“Tiffany Hwang.”

Siwon mengangkat sebelah alisnya kemudian menarik sudut mulutnya hingga membentuk senyum separo. Sepertinya seru sekali jika bisa menaklukan gadis itu.

***

Nichkhun menutup layar laptopnya dengan kesal karena idenya untuk naskah yang sedang ia garap berujung buntu sebelum memutar kursi kerjanya kearah jendela kemudian mengacak-acak rambutnya frustasi.

Pemuda itu mengawasi kemacetan di jalanan depan apartemennya melalui kaca jendela ruang kerjanya. Sekarang pukul tujuh malam, jam dimana para pegawai kantor atau perusahaan masih memenuhi jalan-jalan utama Seoul bersama kendaraan mereka untuk pulang kerumah masing-masing.

Beberapa minggu yang lalu, ketika mobil Tiffany masuk bengkel, ia dengan terpaksa dan hati kesal harus bergabung dengan kerumunan kendaraan di jalanan itu bersama Tiffany yang sepanjang waktu terus saja mengoceh panjang lebar tanpa mempedulikan fakta Nichkhun tidak terlalu menghiraukannya. Ia benar-benar bersyukur hingga saat ini sistem pendengarannya tidak mengalami disfungsi karena gadis itu.

Mengingat Tiffany membuat Nichkhun teringat dengan kejadian tiga hari yang lalu di bandara. Kejadian ketika Jessica menanyakan apakah ia menyukai sahabatnya atau tidak.

Tentu saja ia menjawab tidak dengan mantap. Hubungannya dengan Tiffany hanya sebatas pertemanan pada umumnya, bahkan ia sendiri merasa ia berperan pasif dalam pertemanan mereka. Selama ini, Tiffany lah yang selalu mengusahakan segalanya. Memaksanya menjemput atau menemaninya ke suatu tempat jika Jessica berhalangan atau berusaha memaksanya banyak bicara dengan menceritakan banyak hal- yang sebenarnya menarik –meskipun ia dengan kentara menunjukan wajah kurang antusias. Tampaknya gadis itu cukup keras kepala dan benar-benar serius dengan tekadnya membantu Nichkhun bersosialisasi.

Nichkhun tersenyum kecut. Apakah dia tampak semengenaskan itu hingga seseorang jatuh iba dan berusaha membantunya bahkan hanya untuk sekedar bergaul dengan normal?

Dulu ia pernah memiliki banyak teman. Dulu ia pernah memiliki kehidupan yang normal. Dulu Sekali. Sebelum hidupnya dijungkir balikkan tanpa ampun.

Pemuda itu menolehkan kepalanya kearah tempat pensil di atas meja kerjanya. Memfokuskan matanya ke salah satu alat tulis yang mencuat diantara yang lain.

Haruskah ia melakukannya? Sudah beberapa minggu terakhir ini ia hampir melupakan rutinitasnya.

Ia belum sempat memutuskan ketika ponsel disaku kemejanya bergetar. Matanya membelalak ketika membaca nama yang berkedip-kedip di layar ponselnya.

***

Tiffany mengernyitkan dahi ketika mengawasi teman-temannya yang kebanyakan laki-laki berdecak kagum sambil mencurahkan fokus mereka kearah panggung dimana beberapa wanita dengan pakaian minim menampilkan belly dance yang merupakan hiburan yang hampir selalu ada di setiap restoran terapung di kawasan Sungai Nil.

“Mau mencoba?” Kerut di dahi Tiffany makin dalam ketika gadis itu menoleh dan mendapati Taecyeon menyodorkan sebuah pipa yang berujung dari sebuah bong setinggi tujuh puluh sentimeter.

Dengan kesal Tiffany mencubit kuat-kuat lengan Taecyeon. “Sejak kapan kau merokok begini? Tanpa aku harus memberitahu harusnya kau sudah sadar merokok tidak baik untuk kesehatan.”

“Itu bukan rokok. Itu adalah Shisha.”

Mata Tiffany langsung memicing ketika mendengar jawaban Choi Siwon yang duduk di sisi kanan Taecyeon. Pemuda itu menghisap Shisha yang serupa dengan yang dihisap Taecyeon sambil bersandar santai di kursinya.

“Kau dengar kan yang dikatakan Siwon?” desis Taecyeon sambil mengusap-usap lengannya yang dipastikan lebam karena cubitan Tiffany.

“Sama saja,” sanggah Tiffany, menatap Taecyeon dan Siwon bergantian dengan raut kesal. “Bahkan, kadar karbon monoksida Shisha empat sampai lima kali lipat lebih banyak daripada rokok.”

“Ternyata kau tahu banyak ya,” puji Siwon sambil menyunggingkan senyum, senyum yang sebenarnya harus diakui Tiffany menawan jika saja ekspresi pemuda itu tidak tampak congkak. “Kau juga suka menghisap Shisha? Apa rasa favoritmu? Coklat? Jeruk? Peppermint?”

Tiffany menggertakan giginya, sekuat tenaga menahan perasaan marahnya agar tidak meluap. Ia sudah bertemu banyak selebriti atau orang penting dengan berbagai peranggai tapi aktor arogan inilah yang benar-benar bisa memicu emosinya. Bahkan Nichkhun, yang pernah menduduki peringkat satu narasumber terangkuh yang pernah ia wawancarai, tidak sampai menyindirnya dan membuatnya tersinggung seperti ini.

Sementara Taecyeon dan Siwon kembali sibuk mengobrol dan mengomentari para penari belly dance yang mereka saksikan, Tiffany memutuskan untuk mengacuhkan keduanya dan mengambil ponselnya yang ia simpan di tas tangan. Mungkin menghubungi salah satu temannya di Korea bisa meredakan perasaan kesalnya.

Tiffany menekan beberapa tombol kemudian mendekatkan ponselnya kearah telinga, menunggu panggilannya tersambung.

“Halo . . .”

BRUK!

Tiffany terpekik kaget hingga ponselnya terbanting ke lantai ketika Taecyeon yang mendadak tidak sadarkan diri jatuh tepat di pangkuannya. Menyebabkan seisi restoran menoleh kearahnya dengan tatapan ingin tahu.

Siwon melongokkan tubuhnya kearah Tiffany, mengamati Taecyeon sekilas, kemudian memasang tampang polos sambil mengangkat bahu tanpa dosa. “Sepertinya dia terlalu banyak menghisap Shisha.”

Wajah Tiffany memerah karena malu sekaligus marah. Ia benar-benar ingin menambah satu lagi korban tidak sadarkan diri di restoran ini dengan tinjunya. Siapa lagi kalau bukan Choi Siwon?

***

“Halo? Fany?”

Jessica menatap layar ponselnya yang menunjukkan panggilan mereka terputus. Mungkin, karena ini panggilan internasional sambungannya tidak stabil, pikir Jessica.

Jessica mengerucutkan bibir sambil menumpangkan dagunya ke lipatan tangannya diatas meja makan. Tiffany baru meninggalkan Korea empat hari dan dia sudah benar-benar merindukan sahabatnya itu. Suasana apartemen mereka menjadi sepi dan terasa benar-benar kosong. Lebih-lebih hingga akhir pekan ini ia hampir tidak memiliki jadwal kuliah. Apa yang harus ia lakukan jika begini?

Jessica melirik kearah potongan artikel yang terselip dibawah setoples kacang di meja makan. Tangannya menarik potongan artikel itu dan perasaannya langsung terasa makin buruk ketika menyadari siapa yang diberitakan di artikel itu.

Ia teringat seminggu sebelum keberangkatannya ke Mesir Tiffany pulang dari kantor dengan ceria sambil membawa potongan halaman majalah Frau yang akan diterbitkan awal bulan agustus yang ia ambil dari ruang percetakan karena merupakan hasil gagal cetak.

Potret Nichkhun yang sedang berdiri mengawasi beberapa aktor dan aktris musikal berlatih memenuhi separo halaman. Ia bisa paham antusiasme Tiffany karena artikel yang ditulis gadis itu untuk pertama kalinya menjadi tajuk utama sehingga dia sampai membawa pulang potongan halaman itu untuk dipamerkan kepada Jessica. Hanya saja . . . Jessica benar-benar enggan melihat, mendengar atau mendapat kabar apapun tentang Nichkhun. Pemuda itu adalah perusak mood­ nomor satu baginya.

Dengan kesal Jessica meremas-remas halaman tadi kemudian melemparkannya tepat sasaran ke dalam tong sampah didekat pintu kamar mandi. Harusnya tidak masalah jika ia membuangnya, toh sekarang sudah akhir bulan Juli, edisi Frau terbaru akan terbit sebentar lagi.

Ponsel Jessica kembali berdering. Gadis itu buru-buru meraih ponselnya dan senyum cerah langsung terbit di wajahnya.

“Oh, hai Fany, ngomong-ngomong kenapa panggilannya tadi terputus?”

***

“Aku akan menghubungimu lagi besok. Oke, selamat malam,” Tiffany menutup flip ponselnya kemudian memasukannya ke saku celana Bermuda yang ia kenakan.

“Kau seharusnya sudah berada dikamar sekarang,” sebuah suara mengejutkan Tiffany hingga gadis itu hampir terlonjak. “Tidak baik malam-malam begini gadis muda masih berkeliaran  diluar.”

Tiffany mendengus kesal ketika Siwon mulai berjalan menyusuri jalan setapak taman belakang hotel untuk menghampirinya. Demi Tuhan, pemuda ini adalah orang terakhir yang ingin ia temui saat ini. Ia belum bisa memaafkannya setelah membuatnya tersinggung dan mempermalukannya secara tidak langsung di restoran terapung tadi.

“Terimakasih telah mengkhawatirkanku,” Tiffany sama sekali tidak mau bersusah payah untuk melunakkan suaranya. “Tetapi sepertinya security disini cukup profesional untuk menjaga keselamatan tiap tamunya. Lebih baik kau segera pergi karena jujur saja aku kurang nyaman dengan keberadaanmu disini.”

Siwon mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi setengah terkejut setengah terkesima. “Apakah kau pernah membaca interview ku dengan InStyle bulan lalu? Aku mengatakan pada mereka aku menyukai gadis-gadis yang vokal terhadap pendapat mereka. Wow, sepertinya kau telah mempraktikannya dengan sangat baik. Aku sungguh terkesan.”

Mulut Tiffany langsung jatuh ternganga. Apa Siwon baru saja mengira kalau Tiffany sedang berusaha menarik perhatiannya? Tiffany lebih memilih terjun dari papan loncat setinggi sepuluh meter ke kolam renang yang sudah dikeringkan hingga gegar otak daripada mengerahkan usaha untuk merayu pemuda arogan itu.

“Sepertinya aku memang harus menuruti nasihatmu untuk segera kembali ke kamarku,” Tiffany berkata dengan nada dingin. “Berkeliaran diluar malah membuatku bertemu dengan pemuda manja yang tinggi hati dan memuakkan. Permisi.”

Tiffany berjalan melewati Siwon tanpa berniat menoleh lagi. Ia benar-benar butuh tidur untuk mendinginkan otaknya.

***

“Kurasa aku tidak bisa pulang ke Thailand. Aku sedang memiliki banyak proyek disini,” suara Nichkhun agak tercekat. Lidahnya mendadak begitu kelu dan terasa kesusahan untuk melafalkan bahasa ibunya sendiri. Berkali-kali pemuda itu menelan ludahnya untuk meredakan ketakutan yang mendadak menjalari sekujur tubuhnya. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya.

“Kau sudah tidak menghadiri acara ini selama tiga tahun berturut-turut,” Sua, sepupunya, menyela tidak sabar. “Meskipun mereka sudah lama meninggal, kau harus tetap menunjukkan baktimu sebagai anak, Khun.”

“Setelah apa yang terjadi dengan hidupku kau masih bisa berkata seperti itu?”

“Khun! Dengarkan aku, begini . . .”

Tanpa memutuskan panggilan Sua, Nichkhun melemparkan ponselnya kearah meja kerjanya sekuat yang ia bisa, menyebabkan tempat pensil dan setengah lusin tumpukan buku jatuh berserakan di lantai. Ponselnya tercerai berai di bawah kursi kerjanya dalam keadaan menyedihkan.

Tubuhnya merosot hingga terduduk tanpa daya. Airmatanya jatuh. Satu demi satu melewati rahangnya kemudian makin banyak. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan guncangan bahunya dan meredakan isakannya yang makin lama makin keras. Di kondisi seperti ini ia sama sekali tak ada bedanya dengan anak kecil yang menangis setelah terjatuh dan lututnya tergores.

Luka lamanya, masa lalunya, dan seluruh perasaan sakit hatinya membuat jantungnya terus berdetak dengan menyakitkan. Butuh seberapa keras dan seberapa banyak mencoba untuk membuatnya berhenti terus-terusan merasa sakit setiap mengingat kedua orang tuanya?

Mata Nichkhun yang terpejam perlahan membuka. Pandangannya kabur karena air mata yang memenuhi matanya. Pemuda itu perlahan-lahan merangkak menuju barang-barangnya yang tadi berjatuhan dan kini terserak di lantai. Setelah meraba-raba beberapa saat ia berhasil meraih benda yang ia cari-cari. Merasakan permukaannya yang dingin dan tajam di bawah kulit telapak tangannya.

Ya Tuhan, sampai kapan ia harus berdosa atas dirinya sendiri?

***

Tiffany sibuk membidik objek-objek menarik di tengah keramaian di sekitarnya. Gentong-gentong kuningan berisi buah kurma, perhiasan-perhiasan yang dibuat dari berbagai bahan dari manik-manik sampai tulang unta yang digantung menjuntai didepan sebuah kios, juga sekelompok wanita ber-abaya yang berjalan cepat melintasi lorong sempit yang membelah pasar.

Sudut mulutnya tertarik ketika mengecek hasil bidikannya lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia dan rekan-rekannya sedang berada di pasar Khan El-khalili yang merupakan pusat oleh-oleh dan souvenir untuk turis yang terbesar di Kairo, ibukota Mesir.

“Kau tidak mau beli oleh-oleh?” tanya Taecyeon dan tanpa menunggu jawaban menarik tangan Tiffany ke salah satu toko terdekat. Di belakang mereka Siwon, yang kini selalu mengikuti Tiffany kemana-mana, dan Amos, kolumnis freelance Frau yang ikut serta dalam perjalanan ke Mesir karena pria paruh baya itu mahir berbahasa arab, mengikuti mereka memasuki sebuah toko.

Tiffany mengamati perhiasan dan aksesoris yang dipajang di toko itu sementara Taecyeon dan Siwon sibuk memilah-milah kaos bersablon objek wisata Mesir serta Amos bercengkerama dengan sang pemilik toko.

Tangan Tiffany meraih salah satu bandul yang mencuat diantara kalung-kalung yang saling terbelit. Bentuknya seperti salib dengan puncaknya yang berbentuk bulat.

“Kau ingin membeli itu?”

Tiffany menoleh. Amos kini berdiri disampingnya. Ikut mengamati bandul yang sedang ia pegang.

“Entahlah. Aku hanya iseng melihatnya. Memangnya kenapa?”

Amos berdeham kemudian berkata. “Bandul yang sedang kau pegang adalah Ankh. Artinya dalam bahasa mesir kuno adalah Makna Kehidupan. Ankh melambangkan keseimbangan. Bisa juga mewakili semangat, sukacita kehidupan, dan energi. Tetapi ada juga sumber yang mengatakan Ankh merupakan salah satu simbol kekuatan terdahsyat dari dunia mistik hitam yang digunakan dalam upacara pemujaan Ra, dewa Matahari mesir kuno yang dipercaya merupakan perwujudan setan,” telunjuk Amos menunjuk bulatan yang berada dipuncak Ankh. “Ini merupakan perwujudan dari matahari. Simbol Ra.”

Tiffany mengerutkan dahi mendengarkan penjelasan panjang lebar Amos. Dulu ia pernah mempelajari sejarah mesir kuno di sekolah menengah atas tapi karena kemampuan menghafalnya yang sangat parah yang masih ia ingat sampai sekarang hanyalah tentang Piramida Giza dan Anubis.

“Apakah oke jika aku membelinya untuk oleh-oleh?” Tiffany meminta pendapat Amos. “Yah, aku hanya merasa sungkan jika sampai memicu kesalahpahaman.”

Alis tebal Amos terangkat. “Kau ingin membelikannya untuk siapa? Kurasa tidak masalah asal kau menjelaskan arti dari Ankh ini. Di rumah aku bahkan memiliki kaos bersablon Ankh oleh-oleh dari temanku.”

Tiffany tampak berpikir sebentar kemudian menunduk, berbisik ke tepat ke telinga Amos yang hanya setinggi bahunya. “Kalau begitu aku ingin membeli ini. Kau bisa membantu menawar harganya ke pemilik toko kan?”

***

Two days later

Apa kau mau langsung pulang?” Taecyeon bertanya pada Tiffany sambil mendorong troli mereka berdua menyusuri bandara yang lenggang.

Tiffany mengangkat bahu. Mereka baru saja tiba di Incheon Airport dan keadaan diluar sudah gelap. Tiffany kurang tahu sekarang pukul berapa karena ia masih mengeset penunjuk waktu di ponsel dan arlojinya sesuai dengan zona waktu Mesir. “Mungkin aku akan pulang sendiri dengan taksi. Meskipun sepertinya aku tidak mengalami jetlag kurasa aku ingin segera sampai rumah.”

“Bagaimana jika kita minum-minum?” Siwon tiba-tiba sudah menyelip diantara mereka kemudian merangkul bahu Tiffany dan Taecyeon. Troli barang Siwon didorong oleh manajernya yang berada dua meter dibelakang mereka. “Aku yang traktir.”

Tiffany buru-buru mencekal rangkulan Siwon dan menjaga jarak. Bisa menjadi skandal jika ada fans Siwon yang berada di bandara kemudian melihat aktor pujaannya merangkul seorang gadis.

“Aku setuju,” Taecyeon menjawab cepat kemudian langsung ber-high five dengan Siwon. “Kau harus ikut, Fany.”

Tiffany menatap Taecyeon dengan tatapan tajam. Ia sudah bercerita pada temannya itu tentang Siwon menunjukkan gelagat kurang menyenangkan sejak perjalanan mereka di Mesir. Mengikuti Tiffany kemana-mana, bersikap sok manis tapi mengesalkan, dan bahkan merangkul seperti yang terjadi baru saja.

Taecyeon menjulurkan tubuhnya kearah Tiffany, berbisik dan memastikan hanya Tiffany yang mendengarnya. “Tenang saja, ada aku. Lagipula kita sudah lama sekali tidak minum-minum bersama kan?”

***

Tiffany cukup terkejut ketika mereka sampai ke tempat tujuan Siwon. Ia sempat berpikir Siwon akan mengajak mereka ke pub atau klub malam yang mewah dan eksklusif di kawasan Gangnam seperti yang sering dikunjungi oleh orang-orang kaya di drama televisi.

“Maafkan aku jika hanya bisa mengajak kalian ke tempat seperti ini,” kata Siwon sambil duduk disalah satu kursi warung tenda sederhana yang mereka datangi. Meskipun letaknya di kawasan  padat penduduk, pengunjungnya tidak terlalu banyak. “Aku harus menghindari tempat-tempat ramai. Sangat beresiko jika ada yang menangkap basah seorang bintang besar sepertiku sedang mabuk-mabukan, terlebih ada seorang gadis cantik yang bergabung.” Siwon mengerling kearah Tiffany dengan gaya yang memuakkan.

Sekuat tenaga Tiffany menahan keinginannya untuk muntah atau menjulurkan lidah meskipun ia sama sekali tidak bisa mengontrol ekspresi sarkastis di wajahnya.

Beberapa menit kemudian seorang pelayan datang sambil membawakan beberapa botol bewarna hijau ke meja mereka.

“Bagaimana jika kita mencoba minum dengan mangkok dan sekali teguk?” tawar Taecyeon bersemangat. “Tiffany sangat mahir minum. Dia kuat minum beberapa gel . . . Aw!” Taecyeon mengaduh keras ketika Tiffany menginjak kakinya dengan hak stiletto yang ia kenakan.

“Itu bukanlah kelebihan yang patut dipamerkan kepada orang lain,” desis Tiffany sambil cemberut.

Siwon menelengkan kepalanya, menatap Tiffany dengan senyum sok. “Kau benar-benar gadis yang menarik. Kita berdua harus sering minum-minum bersama.”

“Sangat beresiko jika ada yang menangkap basah seorang bintang besar sepertimu sedang mabuk-mabukan, terlebih bersama seorang gadis,” Tiffany membalikan ucapan Siwon beberapa waktu lalu dengan nada kalem dan senyum yang kentara dibuat-buat. Sengaja memberi penekanan pada kata ‘bintang besar’ untuk menyindir Siwon.

Tampaknya Siwon tidak terlalu menghiraukan sindiran Tiffany dan mulai menuangkan soju ke mangkok kuningan didepan Tiffany dan Taecyeon.

“Mari bersulang,” Siwon mengangkat mangkoknya, Tiffany dan Taecyeon mengikuti. Ketiganya mendekatkan mangkok masing-masing hingga terdengar suara denting.

Kepala Tiffany terasa seperti dihantam batu ketika meletakkan mangkoknya yang sudah kosong diatas meja. Tidak biasanya ia langsung teler dan merasa pusing hanya dengan semangkok soju. Seharusnya ia tidak langsung minum-minum seusai perjalanan jauh seperti sekarang. Kini kepalanya terasa berputar-putar, bahkan tanpa sadar ia mengangguk ketika Siwon menawarkan untuk mengisi kembali mangkoknya.

***

Nichkhun berjalan keluar dari supermarket sambil menenteng seplastik besar belanjaan dengan tangan kiri sementara tangan kanannya yang di perban karena terluka ia masukkan ke balik saku mantelnya. Ia baru saja membeli beberapa makanan instan karena untuk sementara waktu selama tangannya masih sakit ia tidak bisa memasak makanan dengan proses masak yang rumit.

Nichkhun berjalan berhati-hati melewati beberapa mobil yang memenuhi parkiran supermarket. Saking penuhnya parkiran, ia sampai memarkir mobilnya di depan sebuah toko barang antik yang letaknya agak jauh dari supermarket.

Sambil merapatkan mantelnya Nichkhun terus berjalan hingga langkahnya melambat ketika melewati sebuah warung pinggir jalan disamping toko barang antik tempat ia memarkir mobil. Dari dindingnya yang transparan ia bisa melihat para pengunjung yang berada didalamnya. Dan diantara para pengunjung itu ada Tiffany.

Ia mendadak teringat hari ini memang hari kepulangan Tiffany. Gadis itu bersama dua orang laki-laki. Seorang laki-laki yang wajahnya tidak terlalu terlihat karena mengenakan hoodie dan seorang laki-laki yang pernah Nichkhun lihat di parkiran kantor Tiffany dulu sekali. Mereka bertiga tampaknya mabuk karena teman sekantor Tiffany menelungkup diatas meja dengan mata terpejam sementara kepala Tiffany yang bertopang diatas tangannya berkali-kali terangguk-angguk, seolah-olah bisa membentur meja kapan saja.

Nichkhun baru saja akan meneruskan berjalan ke mobilnya yang tinggal berjarak dua meter ketika matanya menangkap basah si laki-laki ber-hoodie meraih tengkuk Tiffany lalu perlahan-lahan mencondongkan wajahnya kearah Tiffany yang sudah mulai kehilangan kesadarannya. Hoodie laki-laki itu tak sengaja melorot dan mata Nichkhun langsung membulat ketika menyadari siapa laki-laki itu.

Choi Siwon?

tbc

a/n :

Halo. Sebelumnya terimakasih untuk respon positif di chapter sebelumnya. Ternyata masih ada yang menantikan kelanjutan ‘Evening Sun’. Saya dapat banyak kritik dan saran untuk chapter sebelumnya. Saya benar-benar berterimakasih. Semoga chapter ini sudah lebih baik.

Well, saya kurang tahu ‘Evening Sun’ akan berakhir di chapter berapa. Perkiraan saya antara 8-10. Saya sedang mempertimbangkan untuk memproteksi satu atau dua part terakhir. Tetapi, mungkin saya akan mengubah pikiran jika melihat respon kalian yang lebih aktif.

So, do leave comment for my improvement.

Thanks for reading! See you on next chapter!

34 thoughts on “Evening Sun (4th Chapter)

  1. YA AMPUUN ITU SIAPA AMOS? LATAR NYA MESIR? PER Ankh ?? THORRR YAAMPUUNN SUKA BACA KANE CHRONICLES? ADUH GASANTE GASANTE. AMOS ITU KAN OMNYA SADIE SAMA CARTER :”””””)

    Maaf salah fokus :””) Aku penasaraaan jugaaaaa lanjutannyaaaa gimanaaaaaa. Prediksiku yg ngira Taec suka Fany rada melenceng u.u kayanya siwon yaa

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s