[FF Freelance] Blind in Love (Part 9)

blind in love

Title : Blind In Love (Chapter 9) || Author : Anissa A.C  || Rate : PG-16 || Length : Chapter || Genre : Romance, Family and Friendship || Cast’s : Kim Taeyeon [GG], Kim Jongwoon [SJ], Tiffany Hwang [GG], Cho Kyuhyun [SJ], Kim  Hyoyeon [GG], Lee Hyukjae [SJ] || Disclaimer : Terinspirasi dari berbagai lagu, novel, drama dan ff lain.

 Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Part 8

—     I don’t want anyone else to have your heart, kiss your lips, be on your arms, be the one you love. I don’t want anyone to take my place. —

 

Dengan susah payah akhirnya Taeyeon berhasil memapah tubuh Jongwoon dan membaringkan pria itu di atas ranjang yang terdapat di kamarnya.   Wajahnya nampak pucat dan terdapat cukup banyak memar.

‘Mengapa bajunya basah sekali? Bukannya di pulang dengan mobil? Dan bukannya parkir mobil itu di basement? Tak mungkin kan ia kehujanan?’ Taeyeon menatap heran pada tubuh Jongwoon yang basah kuyup dan kotor  dengan sejuta pertanyaan yang memancing rasa ingin tahunya. Tak hanya itu, Taeyeon juga bisa melihat wajah pria banyak terdapat memar-memar bekas pukulan.

‘Apa aku harus mengganti bajunya? Ah tidak! Jangan gila kau Taeyeon! Mungkin kau biasa menggantikan baju Youngwoon Oppa atau Kibum yang sedang sakit. Tapi, Kim Jongwoon? Astaga dia itu bukan siapa-siapamu.’

Masih dengan perdebatan di otaknya ia tetap memandang pria yang tengah terbaring lemas itu. Di satu sisi ia merasa iba membiarkan pria itu sakit karena bajunya yang basah kuyup. Tapi disisi lain, kewarasannya sebagai seorang wanita terlebih statusnya yang bukan siapa-siapa pria itu berteriak meminta kesadarannya. Tentu tidak mudah bagi Taeyeon membiarkan dirinya terjebak  di tengah tebing curam dengan dua jurang yang akan ia pilih menjadi tempatnya jatuh. Ia harus memutuskan untuk jatuh sebagai wanita yang dianggap tak memiliki sikap perikemanusiaan atau wanita mesum. Mungkin?

‘Sepertinya lebih baik aku dianggap wanita mesum daripada wanita yang tak memiliki sikap berkeprimanusiaan. Lagipula aku hanya perlu melepas kemeja dan celananya saja kan? Tak perlu lebih dalam….’

Dengan berusaha meredam ketakutannya dan menarik seluruh keberaniannya ke permukaan, ia berjalan menuju lemari pakaian yang terdapat di kamar Jongwoon dan memutuskan untuk mengganti baju pria itu. Dari sekian baju yang ada di lemari itu, Taeyeon menjatuhkan pilihannya pada satu stel piyama kotak-kotak berwarna biru tua.

‘Aku benar-benar nampak seperti wanita mesum sekarang.’ Taeyeon kembali membatin di dalam hatinya sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang pria itu. Dengan ragu tangan Taeyeon meraih kancing kemeja Jongwoon.

‘Oh Tuhan, jangan biarkan otakku berpikir yang tidak-tidak!’

 

Tangan Taeyeon mencelupkan sebuah handuk kecil ke dalam baskom berisi air dingin lalu memerasnya. Dengan telaten ia mengusapkan handuk itu pada memar-memar di wajah Jongwoon.

“Aku tak tahu orang yang nampak begitu berwibawa sepertimu ini bisa terlibat perkelahian.” Taeyeon berucap dengan pelan sambil tangannya tetap sibuk mengusap wajah pria itu.   Tangan Taeyeon sempat terhenti ketika tangannya hendak membersihkan sudut bibir Jongwoon yang masih terdapat bekas darah.

‘Bibir itu… Bibir pertama yang menyentuh bibirku…’

Taeyeon menghela napas panjang. Kemudian dengan ragu tangannya mendekat pada bibir Jongwoon lalu mengusapnya lembut. Membersihkan sisa darah yang masih menempel di bibir itu.

Usai membersihkan dan mengompres memar di wajah Jongwoon, Taeyeon berdiri dari duduknya dan membenahi selimut pria itu.

“Aku akan menjagamu di luar. Selamat tidur.” Taeyeon berucap pelan pada pria itu meskipun ia tahu pria itu tidak akan membalas ucapan selamat tidurnya. Baru satu langkah kaki Taeyeon beranjak, satu dari sepasang tangan kekar yang tidak asing untuk Taeyeon menahan pergelangan tangannya.

‘Jangan katakan….’

“Jangan tinggalkan aku disini, Kim Taeyeon.” Suara serak dan berat itu membuat Taeyeon menolehkan kepalanya dengan takut. Ia menatap pria yang tengah memegang tangannya dengan mata yang masih tertutup.

“Apa kau mengigau?”

“Apa aku nampak seperti orang yang mengigau?” Pria itu menjawab sambil membuka kedua mata sipitnya dan sukses membuat Taeyeon terkejut bagai melihat hantu. Tak hanya membuat taeyeon terkejut, tapi gadis itu juga merasa ketakutan dengan sorot dingin yang terpancar dari mata hitam dan tajam milik Kim Jongwoon.

“Kau sudah sadar?”

Pria itu terdiam.

“Aku akan menjagamu dari luar. Beristirahatlah.” Dengan dipenuhi rasa takut, Taeyeon mengalihkan pandangannya sambil berusaha melepaskan pegangan pria itu di tangannya. Taeyeon sempat mengira tak akan sulit melepas pegangan pria itu mengingat ia sedang lemas dan mungkin masih dalam keadaan setengah mabuk. Namun itu semua di luar dugaan Kim Taeyeon. Pria itu justru semakin mengeratkan pegangannya pada Taeyeon dan berhasil membuat gadis itu meringis diantara kesakitan dan ketakutan. Tak hanya itu, Kim Jongwoon malah menarik tangan Taeyeon hingga gadis itu jatuh di atas tubuh Jongwoon.

“Lepaskan aku!” Gadis itu berusaha berontak. Tapi sepertinya usahanya semakin mubazir karena sekarang kedua tangannya di cengkram oleh kedua tangan milik Jongwoon.

“Biarkan aku berbicara dulu denganmu. Aku harus memperjelas semuanya Taeyeon-ah.” Kata demi kata yang diucapkan pria itu awalnya terkesan dingin dan datar, dan itu adalah hal yang biasa untuk Taeyeon. Namun yang membuatnya terasa berbeda dan berhasil membuat Taeyeon harus memutar otak untuk memastikan telinganya tak rusak adalah ketika pria itu menyebut namanya. Taeyeon-ah. Entah mengapa ketika pria itu yang mengatakan, kata itu terdengar sangat indah di telinga Taeyeon.

“Apa kau mabuk? Ah, aku yakin ini efek dari alkohol yang kau konsumsi. Lebih baik sekarang kau beristirahat saja. Kita bisa berbicara besok.” Masih menghindari kontak mata dengan pria itu, Taeyeon mencoba menutupi kegugupannya melalui ucapannya yang terdengar dingin.

“Kita harus berbicara sekarang Kim Taeyeon. Aku harus memperjelas semuanya sebelum kau terlepas dariku dan justru membuatku kehilanganmu.”

“Terlepas?” Taeyeon dengan ketus mengulang satu kata Jongwoon dengan menaikkan sebelah alisnya. “Apa kau merasa sudah memiliku sehingga kau menggunakan kata terlepas sebagai alasan?”

“Aku tahu kau memang bukan milikku?”

“Lalu?”

“Tentu saja, aku tidak akan melepasmu dan membuatmu menjadi milikku.”

‘Tuhan itu bukan jawaban yang aku harapkan keluar dari mulut pria itu.’

“Jangan memutuskan suatu hal dengan sepihak Kim Jongwoon-ssi. Lagipula sejak hari itu, aku sudah tak mau lagi mengingat atau pun membahasnya.” Kembali Taeyeon mencoba bangun dari posisinya namun tak jauh berbeda dengan sebelumnya, pria itu kembali menahannya.

“Kau mungkin tidak ingin mengingatnya. Tapi tidak untukku. Aku terus memikirkan bagaimana perasaanku padamu. Hingga akhirrnya aku tahu jawabannya.”

Taeyeon mencoba tersenyum meremehkan meskipun sebenarnya ia takut Kim Jongwoon bisa mendengar jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. “Kalau kau bilang kau menyukaiku karena hatimu merasa iba padaku, lebih baik kau simpan saja Kim Jongwoon-ssi. Bukankah a–hmp”

Belum selesai Taeyeon berbicara, Jongwoon sudah menarik kepala gadis itu lalu membungkam bibir gadis itu dengan miliknya. Taeyeon berusaha memberontak sambil memukul-mukul dada pria itu, tapi sepertinya usahanya tak berhasil. Cukup lama Jongwoon menciumnya hingga tenaga Taeyeon  menguap begitu saja. Taeyeon hanya bisa pasrah saat Jongwoon menciumnya , bahkan sampai ia kembali melepaskannya dan menatap tajam tepat pada mata Taeyeon.

“Taeyeon-ah,”

“Hentikan!”

“Tapi-”

“Bukankah aku sudah mengatakan padamu, perbuatan baikmu selama ini justru membuatku tersiksa? Kau membuatku menggantungkan harapanku padamu setinggi langit tapi aku sadar pada akhirnya aku akan jatuh dari harapanku ke tempat yang paling dasar. Dan ciumanmu itu. Tak bisakah kau berhenti menciumku. Sudah cukup kau mengambil ciuman pertamaku dan dengan tanpa perasaan kau mengambil ciuman keduaku. Dasar pria brengsek!” Taeyeon tak dapat lagi membendung air matanya yang sedari tadi sudah mengantri di kelopak matanya. Tangannya kembali memukul dada bidang pria itu.  Semua isi hatinya pada pria itu tertuang melalui setiap butir air mata yang mengalir, termasuk perasaan yang mengusiknya. Perasaan bersalahnya karena janjinya dengan Tiffany.

“Uljima.” Tangan Jongwoon yang sedari tadi ia gunakan untuk menahan tubuh Taeyeon kini meraih pipi gadis itu dan mengusap butiran-butiran air mata yang turun membasahi pipinya.

“Jika kau berpikir akan jatuh dari harapanmu, kau salah. Aku akan tetap mempertahankanmu di tempat kau menggantungkan harapanmu. Karena disitu, aku juga akan menggantungkan harapanku padamu.”

“M-maksudmu?”

“Aku menyukaimu. Anii, mungkin lebih tepat, aku jatuh cinta padamu Kim Taeyeon. Dan jangan pernah kau berpikir perasaanku ini semata-mata karena aku merasa iba padamu. Aku benar-benar tulus mencintaimu karena kau yang membuatku begitu.”

“T-tapi.”

“Sst.” Jongwoon meletakkan telunjuknya di bibir Taeyeon. “Jika kau mengatakan aku membuatmu merasa telah merebutku. Kau salah. Kau sama sekali tidak merebutku, bahkan dari istriku sekalipun. Bukankah kau sendiri yang mengatakan tak menutup kemungkinan bagi duda sepertiku untuk jatuh cinta lagi?”

Kini Taeyeon tak berkutik. Ia hanya menatap Jongwoon, mencoba mencari kebohongan pada setiap kata yang diucapkannya melalui sorot tajam dan gelap mata pria itu. Namun ia sadar ucapan pria itu benar-benar tulus. Dan ketulusan pria itu memaksanya untuk bertingkah egois. Ucapan pria itu membuatnya tak bisa membohongi perasaannya lagi dan memaksanya untuk mengingkari janjinya.

“Aku juga menyukaimu Jongwoon-ssi.”

Perlahan sebuah senyuman lega terukir di bibir Jongwoon. Kedua lengannya kini memeluk tubuh gadis itu erat. Membiarkan Taeyeon merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat karena kehadiran gadis itu. Begitu juga Taeyeon, ia membiarkan dirinya terhanyut dalam kehangatan pelukan Kim Jongwoon.

‘Mianhae Tiffany-ssi.’

“Jongwoon-ssi, bukankah itu artinya pembicaraan kita sudah selesai sampai disini? Sekarang biarkan aku pulang dan beristirahat. Bukankah kau juga harus beristirahat?”

Bukannya menjawab pertanyaan Taeyeon dan melepaskan pelukannya pada gadis itu. Jongwoon justru memasang senyum licik lalu  memutar tubuhnya sembilan puluh derajat sehingga tubuh Taeyeon ikut berputar dan kini berbaring di samping Jongwoon.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Kembali Taeyeon berusaha melepaskan diri dari Jongwoon tapi Jongwoon justru mendekap Taeyeon ke dada bidangnya dan mempererat pelukannya pada Taeyeon.

“Bukannya sudah kubilang, temani aku.”

“T-tapi,”

“Tenang saja, aku janji aku tak akan melakukan apapun padamu. Cukup biarkan aku memelukmu seperti ini sampai pagi. Lagipula, bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu pada wanita yang bahkan belum berpengalaman dalam berciuman?” Jongwoon mengeluarkan kata demi kata itu dengan mata terutup dan nada  tenang yang sukses membuat wajah Taeyeon bersemu merah karena malu.

“Yakk— “

“Sudahlah, istirahat sekarang.” Jongwoon semakin mengeratkan pelukannya membuat mulut Taeyeon yang tadinya bersiap akan mengomel malah bungkam karena bersentuhan dengan dada bidang pria itu.

“Apa ucapanmu bisa kupegang?”

“Tentu saja.”

Setelah mendapat kepastian dari ucapan pria itu, kini Taeyeon mencoba  tersenyum lega dan memejamkan matanya sambil sesekali menghirup aroma parfum yang masih melekat pada tubuh pria itu lalu bersiap mengarungi dunia mimpi.

“Selamat malam.”

*****

Satu bulan berlalu sejak kejadian malam itu. Mungkin untuk pasangan pada umumnya, mereka akan saling menggumbar kemesraan setelah mereka saling melakukan pernyataan cinta. Tapi tidak untuk Taeyeon dan Jongwoon. Sehari setelah kejadian malam itu, Taeyeon kembali disibukkan dengan kegiatan latihannya sementara Jongwoon semakin sibuk dengan jadwal praktiknya di rumah sakit. Tentu saja intensitas pertemuan mereka dapat di kategorikan minim. Dan tentu saja itu membuat hubungan mereka terkesan… Gantung?

Setelah melakukan kegiatan latihan untuk waktu yang cukup lama, hari itu menjadi puncak dari segala usaha Taeyeon. Hari itu ia resmi debut sebagai artis musikal di pementasan perdaana Swan Lake oleh Sunghwa Musical. Pujian demi pujian mengalir begitu saja padanya meskipun ia adalah orang baru di dunia itu. Ada yang mengatakan aktingnya sangat bagus, ada yang mengatakan suaranya sangat indah, dan tentu saja ada yang mengatakan tariannya begitu mengagumkan. Cukup mengejutkan memang untuk Taeyeon yang notabene belum berpengalaman di bidang ini. Tapi setidaknya ia merasa puas akan hasil yang dicapainya.

“Chukae Kim Taeyeon-ssi, kau benar-benar mengagumkan.” Nyonya Oh, salah seorang pelatih yang sejak awal audisi terkenal sebagai pelatih yang dingin dan tidak bisa di lawan ini langsung menyelamati Taeyeon dan memeluk gadis itu begitu Taeyeon serta pemain musikal lainnya mengakhiri pementasan musikal malam itu dan memasuki bagiaan belakang panggung.

“Nyonya Oh, terimakasih atas bimbingan anda selama ini. Tanpa anda saya pun tak akan bisa melakukannya.” Taeyeon balas memeluk dan berterima kasih pada wanita berusia akhir empat puluhan yang selalu tampil sempurna dengan dandanannya itu.

“Taeyeon-ah.” Suara panggilan itu, membuat Taeyeon melepaskan pelukannya dan menoleh ke sumber suara. Ia bisa melihat Yoona berjalan ke arahnya sambil ibu jarinya menunjuk ke ruang ganti para pemain. “Teman-temanmu menunggumu di ruang ganti.”

“Ruang ganti?” Taeyeon mengulang perkataan gadis itu dengan memberikan sebuah tekanan pada setiap katanya.

“Tenang saja ruang ganti telah di rapikan oleh para crew jadi kau bisa mengobrol dengan nyaman bersama mereka.” Yoona menjelaskan seolah ia mengerti apa yang dimaksud dengan penekanan di setiap kata yang keluar dari mulut Taeyeon.

“Baiklah.” Meskipun Taeyeon masih nampak ragu dengan perkataan Yoona, ia tetap melangkahkan kakinya menuju ruang ganti yang dimaksud Yoona.

 

“Ya, dan inilah artis musikal kita yang malam ini tampil sangat memukau, Kim Taeyeon!” Sebuah seruan dari Lee Hyukjae langsung menyambut Taeyeon, ketika dirinya membuka pintu ruang ganti itu.Tak hanya itu, belum sempat ia mencerna sambutan yang diberikan Hyukjae, Hyoyeon tiba-tiba memeluk Taeyeon erat.

“Chukae Taeyeon-ah! Kau sangat hebat.”

“Eonni… Bisa kau renggangkan sedikit pelukanmu. Aku tak bisa bernafas.” Dengan terengah-engah Taeyeon meminta wanita itu melepas pelukannya sehingga dengan terpaksa Hyoyeon pun melepaskan pelukannya.

“Aaaa, aku sangat menyayangimu Taeyeonie.” Belum ada sedetik Hyoyeon melepas pelukannya, kini wanita itu malah mencubiti pipi Taeyeon dengan gemas sementara Taeyeon hanya bisa pasrah.

 

“Bagaimana rasanya bermain dalam drama musikal?” Hyukjae membuka pembicaraaan ketika dirinya, Taeyeon, Hyoyeon plus dua bocah bernama Lee Hyoeun dan Kim Taewoon tengah  duduk berhadapan di sofa yang terdapat di ruang ganti itu.

“Awalnya sangat melelahkan, tapi kurasa setelah itu semua terasa biasa saja.” Taeyeon menjawab pertanyaan Hyukjae sambil  tangan kanannya tengah berusaha membuka tutup botol air mineral yang dipegangnya. Setelah berhasil membuka tutup botol itu, Taeyeon langsung menegak air dari dalam botol itu.

“Bagaimana kedua orang tuamu? Mereka tahu kau pentas musikal hari ini?” Kali ini Hyoyeon ikut menimpali pembicaraan Hyukjae dan Taeyeon.

“Aah leganya.” Ucapnya ketika air di dalam botol itu habis tak tersisa. “Tentu saja mereka tahu. Aku sudah mengirimkan email pada ayah dan Youngwoon Oppa yang ada di Jepang. Aku juga sudah mengirimi Ibu, Tuan Yoo serta Kibum undangan, tapi tadi Kibum mengirimiku pesan, katanya mereka harus menghadiri upacara peragian anggur beras yang diadakan kerabat Tuan Yoo.”

“Sayang mereka tak bisa menontonmu Taeyeon-ah, padahal kau kan sangat menakjubkan.” Mendengar penjelasaan Taeyeon yang diiringi dengan raut wajah kecewa tentu membuat Hyoyeon ikut merasakan kecewa dan mengelus punggung Taeyeon dengan lembut.

“Iya Taeyeon sonsaengnim sangat hebat.”

“Betul sekali. Dan sangaaat cantik.” Kedua bocah yang sedari tidak bersuara, Lee Hyoeun dan Kim Taewoon kini menyuarakan pendapat mereka pada sonsaengnimnya ini. Sementara ketiga orang dewasa yang melihat tingkah laku mereka hanya bisa tertawa geli.

“Gomawo Taewoon-ah, Hyoeun-ah.” Taeyeon hanya bisa tersenyum lalu membiarkan kedua muridnya itu menghambur ke dalam pelukannya. Sementara tubuhnya tengah asyik menikmati pelukan kedua bocah itu, matanya sibuk menyapu isi ruangan itu.

‘Hyukjae Oppa, Hyoyeon Eonni, Hyoeun, Taewoon, dan… Dimana Kim Jongwoon?’ Satu hal yang baru Taeyeon sadari, satu dari tamu spesial yang sangat diharapkannya untuk datang tidak menampakkan batang hidungnya. Tentu saja Kim Jongwoon.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa matamu nampak seperti sedang mencari sesuatu?” Hyoyeon yang penasaran dengan gelagat Taeyeon langsung bertanya to the point.

“Em, kalian hanya datang berempat?” Begitu kedua bocah itu melepaskan pelukannya pada Taeyeon, kini gadis itu mencoba bertanya dengan ragu.

“Tentu saja, kau bisa menghitungnya.” Jawab Hyoyeon menanggapi pertanyaan Taeyeon.

“Bukankah aku memberikan 6 tiket padamu Eonni?”

“Ya, tentu saja tiket itu untuk kami berempat dan Kyuhyun. Tapi Kyuhyun bilang ia pergi ke toilet dan akan langsung pulang karena urusan mendadak..”

“Lalu kemana tiket yang satunya?”

“Tentu saja untuk Daddy,  sonsaengnim. Tapi daddy bilang ada urusan jadi harus pergi.” Seolah mengerti dengan maksud Taeyeon, Taewoon itu ikut menimpali dan menjelaskan kepada Taeyeon.

“Oh begitu.” Ucapnya berusaha untuk menyembunyikan perasaan kecewanya.

****

Usai mengganti pakaian, menghapus makeup dan merapikan barang bawaannya, Taeyeon memutuskan untuk keluar dari ruang ganti dan berpamitan dengan para crew musikal.

“Kau tak mau ikut bersama kami? Kami akan pergi ke karaoke dan mengadakan perayaan kecil-kecilan.” Gadis imut bernama Sunkyu yang merupakan salah satu anggota musikal sunghwa menampakkan raut wajah kecewanya begitu Taeyeon mengatakan ia akan pulang.

“Benar Taeyeon-ssi, kau kan pemeran utamanya, apa kau tak mau merayakan kesuksesanmu kali ini?” Pria yang wajahnya tak kalah imut dari Sunkyu itu menimpali pembicaraan kedua gadis itu. Lee Sungmin, nama panggilannya, ikut menampakan raut kecewanya sama halnya dengan Sunkyu.

“Hei, aku tahu kalian itu adalah sepasang kekasih, tapi bukan berarti kan kalian harus kompakan memasang raut wajaah seperti itu?” Taeyeon hanya mengomentari sejoli itu sambil terkekeh geli. “Meskipun hari ini aku tidak bisa ikut, tapi bukankah setelah pementasan musikal ini berakhir, akan diadakan pesta syukuran dan perpisahan yang sifatnya lebih resmi. Aku janji akan datang di pesta itu, tapi untuk perayaan kali ini, mian, aku sangat lelah.”

“Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan, ne?” Sunkyu memeluk Taeyeon sekilas lalu memamerkan senyumannya yang mampu membuat siapa saja yang melihatnya gemas. “Jangan sampai ceritamu tentang dirimu yang terjatuh pingsan ketika membuka pintu itu terulang lagi.”

Mendengar gurauan Sunkyu, Taeyeon langsung tertawa geli. Sungguh kejadian itu merupakan satu dari kejadian memalukan yang ia alami akibat sikapnya yang keras kepala. “Tentu saja, aku masih sehat sekarang. Kalau begitu aku pulang sekarang ya, bye.”

Tak mau terjebak di obrolan yang lebih panjang yang berpotensi membuatnya ketinggalan bis terakhir malam itu, Taeyeon langsung menutup obrolan itu dan meninggalkan sejoli itu, lalu berpamitan pada anggota musikal lainnya beserta crew pementasan malam itu.

*****

Taeyeon melangkahkan kaki-kakinya dengan mantap melewati lorong gelap yang menjadi akses antara backstage panggung dengan pintu bagian belakang gedung pementasan itu. Lorong itu terkesan remang-remang dan dingin, tentu saja hal itu memaksa Taeyeon untuk mengusir pikiran-pikiran buruknya dan memantapkan langkah kakinya untuk segera keluar dari lorong itu.

Tinggal beberapa langkah lagi sebelum mencapai pintu yang menjadi tujuannya sejak awal, suara nyaring yang sangat khas mengalun dari ponselnya. Dengan segera ia merogoh saku celana panjang jeansnya dan matanya langsung nampak berbinar ketika membaca nama sang penelepon di layar ponselnya itu.

“Youngwoon Oppa!” Seru Taeyeon kepada sang penelepon sambil melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

“Taeng? Ini kau?” Suara sang penelepon yang ia panggil Youngwoon Oppa itu terdengar ragu, bahkan Taeyeon bisa menebak Oppanya itu sedang mengerutkan keningnya sekarang.

“Ya! Jarang-jarang kau meneleponku, dan sekarang kau tak mengingat suaraku?” Taeyeon menurunkan nada bicaranya dan mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan sang kakak.

“Ehm, bukan begitu, hanya saja tadi ketika kau berseru, suaramu jadi berbeda. Tapi sekarang suaramu sudah terdengar normal. Bagaimana pementasanmu hari ini?”

“Tentu saja berjalan dengan lancar. Sayang, tak ada satupun dari kalian yang menonton.”

“Ibu, Kibum, Yoo Appa?”

“Mereka harus menghadiri acara peragian anggur beras di kilang anggur milik kerabat Tuan Yoo.” Taeyeon menjawab dengan nada yang terdengar kecewa. Ya, dia memang sangat kecewa kala itu.

“Tapi kau tahu sendiri kan, Aku, Appa dan Kang Eomma, tidak berada di Korea, jadi tentu saja kami tak bisa menontonmu.” Youngwoon mencoba meminta permakluman sang adik mendengar ucapan Taeyeon yang terkesan kecewa.

“Hm, tentu saja aku tahu. Dan aku sangat memakluminya.”

“Tapi apakah kau sudah melihat karangan bunga yang aku kirim atas nama Appa dan Aku?”

“Karangan bunga? Ah, bahkan terlalu banyak karangan bunga yang ada. Jadi aku tak bisa memeriksa semuanya satu per satu. Sudahlah, dari suaramu aku yakin kau sedang merasa bersalah. Tak ada yang harus disalahkan kok.” Taeyeon mencoba meyakinkan Youngwoon dan merubah nada bicaranya menjadi lebih bersemangat. “Oh ya bagaimana kabar Appa dan Nyonya Kang?” Tanya Taeyeon mengalihkan topik pembicaraan.

“Nyonya Kang baik-baik saja, dan Appa.. ”

“Ada apa dengan Appa?” Mendengar suara Youngwoon yang terkesan ragu, Taeyeon mencium sesuatu yang tak beres dengan Appanya dan sukses membuat hatinya khawatir.

“Penyakit jantung Appa sering kumat akhir-akhir ini. Jadi ia tak boleh terlalu lelah dan harus cukup beristirahat.”

“Oppa yakin hanya itu?”

“Tentu saja. Oh ya Taeyeon-ah, kalau kau sudah tidak sibuk, datanglah ke Jepang. Appa sangat merindukanmu. Setidaknya kehadiranmu dapat membuat Appa semakin bersemangat. Kau cukup mengabariku dan aku akan memesankan tiket untukmu.”

Mendengar penjelasan sang kakak Taeyeon mencoba tersenyum. “Baiklah, aku akan mengabari Oppa nanti. Kalau begitu aku tutup telepon ya. Saranghae Oppa. Annyeong….”

Taeyeon menjauhkan ponselnya dari telinga dan menyadari bahwa kakinya sudah melangkah keluar dari lorong itu. Ia menatap ponselnya sekilas sambil menyandarkan punggungya di pintu yang baru saja mengeluarkannya dari lorong yang suram dan dingin itu.

“Melakukan begitu banyak skinship di panggung, melakukan adegan ciuman, bertelepon dengan mesranya dengan pria lain. Ck.” Suara baritone yang sangat melekat di benak Taeyeon sukses membuatnya mengalihkan pandangannya ke asal suara itu dan mendapati Kim Jongwoon tengah berdiri beberapa meter darinya dengan kedua tangannya yang dilipat kebelakang. Kali ini pria itu benar-benar nampak seperti guru di bagian kesiswaan yang sedang mengumpulkan kesalahan muridnya yang nakal.

“Kau? Kau tidak mendatangiku di belakang panggung dan datang kesini hanya untuk mengomentari hal sepele seperti itu?” Taeyeon balik bertanya dengan sinis meskipun sebenarnya jantungnya serasa ingin meledak melihat kehadiran pria itu.

“Aku tak memintamu bertanya, cukup jelaskan hal-hal yang baru saja terjadi.”

Taeyeon berjalan mendekati Jongwoon itu lalu membalas tatapan tajam yang diberikan pria itu. “Kalau itu maumu, aku akan menjawabnya.” Jawab Taeyeon dan dibalas dengan seringaian sinis di wajah Jongwoon.

“Pertama, skinship di atas panggung tadi itu adalah wujud dari profesionalismeku dalam bekerja. Kau tentu tahu, seni peran adalah pekerjaan yang sangat membutuhkan profesionalitas.”

Mendengar jawaban Taeyeon, Jongwoon menaikkan sebelah alisnya. “Hanya itu?”

“Kalau kau mau, aku bisa menuntutmu balik soal profesionalitas. Aku yakin, bertahun-tahun bekerja sebagai dokter kandungan, tidak sedikit kan wanita yang kau sentuh bahkan liat ‘itu’nya.” Kini Taeyeon melipat tangan di depan dada dan menatap Jongwoon dengan tatapan menantang.

“Ck,” Jongwoon mendecakkan lidahnya kesal menanggapi Taeyeon yang begitu mudahnya menyudutkan dirinya. “Lalu, apa penjelasanmu tentang adegan ciumanmu tadi?”

Taeyeon menyeringai sekilas. “Tentu saja partnerku tadi lebih handal berciuman dibandingkan dirimu.”

“Yak!”

“Aku serius!”

“Tutup mulutmu.” Sergah Jongwoon dan tentu saja sukses membuat Taeyeon melepas tawanya yang sedari tadi ia tahan.

“Hahaha, liat wajahmu yang mendadak merah itu Kim Jongwoon-ssi.”

“Aissh, aku tak butuh candaanmu, jelaskan sekarang!”

Dengan susah payah, akhirnya Taeyeon berhasil meredakan tawanya.  “Tentu saja adegan ciuman tadi hanya akting.” Jelas Taeyeon enteng.

“Tapi tetap saja saja kan kalian—”

“Ssst..” Taeyeon meletakkan telunjuknya dibibir Jongwoon dan berhasil membuat pria itu bungkam. “Semua itu hanya teknik, kami hanya memutar kepala sehingga nampak seperti berciuman. Jadi, berhentilah berceramah seperti guru yang menyidak muridnya.”

“Lalu.. Siapa yang kau telepon tadi? Sementara sebulan ini kau tak pernah meneleponku yang notabene kekasihmu?” Jongwoon memicingkan matanya, kembali meminta penjelasan pada Taeyeon yang masih menempelkan telunjukknya di bibir Taeyeon. Berbeda dengan tadi, kali ini benar-benar nampak seperti pria pencemburu.

Taeyeon ikut memicingkan matanya lalu menyisipkan rambutnya ke balik telinga. “Bahkan aku mengatakan ‘saranghae’ pada Oppa kandungku saja kau cemburu. Lagipula, siapa bilang kau adalah kekasihku.” Kesal gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya.

“Hey, aku kan sudah menyatakan cintaku padamu.”

“Tapi waktu itu kau hanya memintaku untuk menemanimu tidur. Kau tak memintaku untuk menjadi kekasihmu.”

Melihat gadis itu merajuk kesal, Jongwoon mengeluarkan seringaian liciknya sambil menarik tangan kanannya yang sedari tadi ia lipat ke belakang lalu menyodorkan sebuket bunga mawar putih yang sukses membuat Taeyeon ternganga.

“K-kau..”

“Bagiku semenjak hari itu, kau adalah kekasihku. Dan hari ini kekasihku tampil begitu menakjubkan, chukae..” Jongwoon berucap dengan lembut sangat berbeda dengan sebelumnya,  sementara Taeyeon belum bisa mencerna hal yang baru saja terjadi dan menggarukkan tengkuknya yang tidak gatal.

“J-jadi kau t-tidak p-pulang? K-kau…”

“Siapa bilang aku pulang, aku hanya mengambil pesanan buket bunga di toko kenalanku.” Pria itu menjelaskan tanpa melepaskan senyumannya barang sedetik. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Taeyeon tetap tak berkutik, berusaha menahan jantungnya agar tak meledak kala itu juga.  “Jadi…” Jongwoon tak melanjutkan ucapannya dan menggunakan bola matanya untuk menunjuk buket yang ia pegang seolah berkata, ‘terimalah’.

Dengan ragu kedua tangan Taeyeon meraih buket bunga itu lalu membalas senyuman pria itu. “Gomawo, Jongwoon-ssi.”

*****

Beberapa saat berlalu, kini mobil yang dikendarai Jongwoon telah menepi di depan sebuah apartment sederhana tempat Taeyeon tinggal. Setelah mematikan mesin mobilnya, Jongwoon mengalihkan pandangannya pada gadis yang duduk di sebelahnya dan mendapati gadis itu tengah tertidur. Jika boleh ia jujur, ada perasaan senang yang membuncah di dadanya melihat gadis itu terlelap. Ia bisa dengan leluasa menatap gadis itu dengan jarak yang begitu dekat. Garis wajahnya, kelopak matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan ia bisa melihat guratan kelelahan yang terlukis di wajah gadis itu. Dan semua itu terlalu sayang jika dilewatkan.

Cukup lama Jongwoon memandangi wajah Taeyeon, pada akhirnya ia memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan menuju pintu yang terletak di samping Taeyeon lantas membukanya.

“Tuan putri bangunlah, kita sudah sampai.” Jongwooon berbisik tepat di telinga Taeyeon dan sukses membuat gadis itu mengerang dan membuka matanya perlahan.

“Sepertinya aku tertidur.” Ucap gadis itu sambil berusaha meregangkan otot-ototnya dan mengumpulkan kesadarannya.

“Dan kau sangat manis ketika tertidur seperti itu.” Balas Jongwoon sambil mencondongkan badannya melepas seatbelt yang masih terpasang di tubuh Taeyeon. Dengan jarak yang begitu dekat seperti saat ini, Taeyeon seketika kembali mendapat kesadarannya dan menahan napasnya gugup. Tak sampai di situ, bahkan pria itu belum memberikan jarak diantara mereka setelah berhasil melepaskan seatbelt yang menahan tubuh Taeyeon  dan malah menatap gadis itu dengan jarak yang begitu dekat.

“Besok pagi, aku akan menjemput Taewoon ke rumah orang tuaku lalu menepati janjiku padanya untuk pergi ke taman bermain. Kau mau ikut?”

‘Haruskah dia berbicara dengan jarak yang sedekat ini jika hanya ingin menanyakan hal sepele seperti itu?’

“Itu acara kalian berdua, biarkan Taewoon menikmati harinya berdua bersamamu.”

Mendengar jawaban gadis itu, Jongwoon menggelengkan kepalanya tak setuju. “Tidak, justru Taewoon ingin kau ikut bersama kami.”

“T-tapi a-”

“Sst” Kini Jongwoon melakukan hal yang sama dengan yang Taeyeon lakukan tadi. Meletakkan jari telunjuknya di bibir Taeyeon, mencegah agar gadis itu tidak berkomentar macam-macam. “Aku akan menjemputmu besok pagi, jadi bersiaplah.”

“Ah, n-ne.” Ucapnya sambil menganggukan kepalanya. “Jadi,  sekarang bisakah kau menjauh? Bagaimana bisa aku turun jika posisi kita seperti ini?”

“Aku akan membiarkanmu turun, tapi jika kau..” Tanpa melanjutkan ucapannya, Jongwoon menunjuk pipinya.

“T-tapi—”

“Atau aku yang akan mencium bibirmu sekarang juga.”

“Andwae!”

“Kalu begitu, kau harus mencium pipiku.”

“Arasso. Tapi, awas saja jika kau melonjak dan meminta yang macam-macam.” Gadis itu berusaha membalas ancaman Jongwoon, sementara pria itu hanya menganggukan kepalanya, memasang mimik muka yang tak meyakinkan.

Dengan ragu Taeyeon mendekatkan bibirnya ke pipi Jongwoon, dan belum sempat bibirnya menempel di pipi pria itu, ia merasakan sesuatu yang bergerak begitu cepat. Bahkan terlalu cepat hingga ia tak sempat menyadari kini matanya telah terpejam dan merasakan sesuatu yang dingin menyentuh bibirnya. Cukup gila memang, di saat tubuhnya merasa kelelahan dan membutuhkan istirahat, kesadarannya justru menurun dan malah memberikan reaksi terhadap kontak fisik yang diberikan pria itu di bibirnya. Dan masih di bawah kesadarannya, kini Taeyeon mengalungkan kedua tangannya di leher Jongwoon dan membiarkan dirinya terhanyut dalam perpagutan yang intens, lambat namun semakin liar.

Cukup lama mereka berciuman, hingga akhirnya Taeyeon yang telah berhasil mendapatkan kembali  kesadarannya  menginterupsi ciuman mereka dan mendorong tubuh Jongwoon pelan. Ia menundukkan kepalanya, terlalu malu untuknya mengingat apa yang baru saja terjadi.

Melihat Taeyeon yang tertunduk malu, Jongwoon tersenyum sekilas lalu meraih wajah Taeyeon dan membuat gadis itu mendongak menatap dirinya.

“Itu hukuman untuk gadis nakal yang mengataiku tak pandai berciuman.”

*****

Jongwoon menarik tangan Taeyeon memasuki pekarangan rumah orang tuanya. Sempat beberapa kali Taeyeon menahan tangan Jongwoon dan meminta kepastian dari pria itu. Namun jawaban yang ia dapat selalu sama, ‘Ayah dan Ibuku tidak akan memakanmu, tenang saja’.

Hingga kini mereka telah berdiri tepat di depan pintu utama rumah itu. Jongwoon menekan tombol interkom dan menutupi kamera yang ada pada alat itu dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih sibuk menggenggam tangan Taeyeon, memastikan gadis itu tak kabur dan tentu saja memberi ketenangan pada gadis itu.

“Nuguseyo?” Suara wanita paruh baya terdengar beberapa saat setelah Jongwoon menekan tombol interkom itu.

“Eomma, ini aku.”

“Jongwoonie? Ah tunggu sebentar, ibu akan membuka pintu sekarang.” Mendengar jawaban dari ibu Jongwoon, kini jantung Taeyeon kembali berpacu semakin kencang. Ini memang bukan kali pertamanya ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Kim. Tapi tentu saja ini kali pertamanya ia datang bersama Kim Jongwoon, terlebih statusnya kini, kekasih Kim Jongwoon.

Pintu kayu itu terbuka, bersamaan dengan itu seorang wanita paruh baya dengan wajah cantik dan memiliki senyuman yang anggun muncul dari balik pintu itu.

“Jongwoonie.” Wanita paruh baya itu langsung memeluk putranya dan mencium pipi kanan dan kiri putranya itu. “Akhir-akhir ini kau jarang berkunjung lagi, apakah kau begitu sibuk?”

“Ne, pekerjaanku di rumah sakit tak bisa ditoleransi, eomma.”

“Oh ya, Taewoon bilang kalian akan pergi ke taman hiburan ya? Kalau begitu lebih baik kau masuk dulu, kebetulan kami sedang sarapan. Dan… Tunggu, bukankah anda Nona Kim Taeyeon?” Kini mata wanita itu tak lagi terfokus pada putranya, melainkan pada gadis yang sedari tadi mengekor di balik punggung Jongwoon.

“Ah, annyeong haseyo Nyonya Kim.” Ucap Taeyeon sopan sambil  membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.

“Kalian datang bersama?” Tanya Eomma Jongwoon sambil menatap Taeyeon.

“Ah itu..”

“Tentu saja.” Jawab Jongwoon dengan penuh percaya diri. Sungguh sangat kontras dengan Taeyeon yang nampak begitu gugup.

Mata wanita paruh baya itu kini teralih  pada tangan kanan Jongwoon yang menggenggam tangan Taeyeon. Taeyeon yang menyadari arah pandang Eomma Jongwoon langsung melepaskan tangan Jongwoon. Namun tidak untuk Jongwoon, pria itu justru meraih tangan Taeyeon dan kembali mengenggamnnya, bahkan ia menggenggamnya lebih erat.

“Apa kalian—”

“Tentu saja. Dia kekasihku.” Tanpa membiarkan sang ibu untuk menyelesaikan pertanyaannya, Jongwoon langsung menjawabnya mantap.  Mendengar jawaban sang putra, sebuah senyuman terukir di bibir wanita paruh baya itu.

“Ayo, kita mengobrol di dalam sambil sarapan.” Ujar Eomma Jongwoon sambil mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.

 

“Selamat pagi semua.”.

Ucapan salam yang dilontarkan Jongwoon sontak membuat orang-orang di dalam ruang makan itu mengalihkan pandangannya kepadanya.

“Jongwoon Samchon!”

“Jongwoon Hyung!”

“Taeyeon Sonsaengnim!”

Ketika hampir semua orang di ruang makan itu terfokus pada kedatangan Jongwoon, Taewoon justru lebih memerhatikan sonsaengnimnya yang sedari tadi mengekor dibelakang sang ayah. Dan tentu saja, dalam sekejap seruan Taewoon itu membuat orang-orang di ruang makan itu mengalihkan perhatiannya pada Taeyeon.

Hyoyeon yang menyadari kedatangan Taeyeon bersama sang Oppa memasang raut wajah bingung sambil sesekali menatap Taeyeon dan Jongwoon bergantian. “Tunggu, apakah kalian–”

“Hyoyeonie, bahkan mereka baru datang. Biarkan mereka duduk dulu.” Sanggah  Nyonya Kim.

Begitu Taeyeon dan Jongwoon duduk di kursi kosong yang tersisa, Eomma Jongwoon langsung menyodorkan kedua orang itu piring kosong dan mempersilahkan keduanya untuk makan. Sementara Hyoyeon yang kebetulan duduk berhadapan dengan Taeyeon, masih menatap kedua manusia itu dengan penuh tanya.

“Kalian berpacaran?” Tanya Hyoyeon to the point.

“Yeobo, bahkan dari cara Jongwoon Hyung menggenggam tangan Taeyeon saja sudah sangat jelas kalau mereka itu berpacaran.” Komentar Hyukjae dengan wajah jahilnya.

“Benar kata nampyeonmu Hyoyeon-ah, sangat jelas.” Ujar Tuan Kim ikut menimpali.

“Wooa, daebak!!” Dengan mimik wajah penuh rasa kagum dan tak percaya, Hyoyeon berseru sambil menepuk kedua tangannya. “Aku tak menyangka es balok berjalan ini bisa meleleh juga karenamu Taeyeon-ah.”

“Sudahlah Hyoyeonie, hal seperti itu tak harus dibesar-besarkan seperti itu.” Komentar Jongwoon dengan wajah datarnya. Taeyeon yang duduk di sebelah Jongwoon hanya tersenyum kikuk.

“Bagaimana aku tidak heboh, aku selalu berpikir Oppaku ini akan menghabisi sisa hidupnya menjadi duda lapuk karena hatinya yang bagaikan es ini nyaris tak terlelehkan. Bahkan aku sempat mengira mungkin suatu hari nanti sahabatnya yang akan melelehkan hatinya, tapi siapa sangka justru sahabatku yang berhasil melakukannya.” Hyoyeon terus berceloteh panjang lebar sementara kedua orang yang menjadi topik utama hanya menikmati makanan sambil menundukkan kepalanya.

“Appa dengar, kau akan mengajak Taewoonie ke Taman Hiburan ya?” Tanya Tuan Kim mengganti topik pembicaraan.

“Hm, begitulah. Aku sudah lama berhutang janji padanya dan tentu saja aku harus merealisasikannya. Dan setelah begitu lama akhirnya aku bisa mengajaknya menghabiskan waktu untuk berekreasi antara ayah dan anak.”

“Perlu diralat, bukan rekreasi ayah dan anak, melainkan rekreasi keluarga karena ada Taeyeon yang pergi bersama mereka.” Sanggah Hyukjae.

“Jadi kapan kalian akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi? Sepertinya Appa dan Eomma kekurangan cucu.”

“Uhuk.. Uhuk..”

Pertanyaan yang terlontar dengan tenang dan tanpa hambatan dari mulut Tuan Kim sukses membuat Taeyeon yang tengah mengunyah makanannya tersedak. Jongwoon yang duduk di sebelahnya langsung bereaksi menuangkan air ke dalam gelas lalu menyodorkannya pada Taeyeon. Tak lupa, ia juga menepuk-nepuk punggung gadis itu lembut.

“Appa, bahkan kami belum lama berhubungan. Bagaimana bisa appa bertanya seperti itu?” Dengan wajah yang bersemu merah Jongwoon mengajukan protesnya kepada sang Appa.

“Benar kata Appa, sepertinya aku juga kekurangan keponakan.” Sambil tersenyum geli, Hyoyeon menyetujui pertanyaan sang Appa dan membuat orang-orang di meja itu terkikik geli kecuali, kedua bocah yang tak mengerti pembicaraan dan kedua manusia yang menjadi pembicaraan.

“Kau buat saja dengan nampyeonmu!” Sungut Jongwoon kesal.

*****

Hari itu, taman bermain yang menjadi tujuan rekreasi Jongwoon, Taeyeon dan Taewoon terbilang sangat ramai mengingat hari itu adalah hari minggu. Taewoon yang sudah sejak lama menantikan saat-saat itu tentu saja tak mau melewatkan barang satu pun wahana di taman bermain itu. Jongwoon dan Taeyeon hanya dapat menurut pasrah ketika tangan mungil bocah itu menarik keduanya kesana dan kemari untuk menaiki berbagai wahana. Tak jarang Taeyeon akan tercengang dan membelalakkan matanya lebar-lebar ketika Taewoon menariknya untuk menaiki wahana yang menurutnya terlalu memacu adrenalin. Sebut saja roller coaster, ketika bocah itu mengajak Jongwoon dan Taeyeon untuk menaiki wahana itu, seketika ia mematung dan merasakan tangannya yang menjadi sedingin es. Baginya wahana itu hanya sebuah kereta yang berputar-putar di lintasan berbentuk fusili yang sangat mengerikan.

“Kau tidak apa?” Jongwoon memandang Taeyeon dengan penuh kekhawatiran sambil membukakan sebotol air mineral untuk gadis itu. Saat ini ketiga orang itu tengah duduk di salah satu bangku kayu yang terdapat di taman bermain itu. Jongwoon membiarkan Taeyeon memejamkan matanya sebentar dan menegak airnya.  Sejak turun dari wahana itu, wajah Taeyeon berubah pucat dan jalannya pun terhuyung-huyung.

“Gwencanha. Aku hanya perlu duduk sebentar dan melepaskan diriku dari euphoria yang disebabkan oleh kereta mengerikan yang berputar diatas fusili.”

“Mianhae sonsaengnim…” Dengan penuh penyesalan bocah itu meminta maaf dan Taeyeon hanya mencoba tersenyum sambil jarinya memberikan isyarat ‘It’s Ok’.

Cukup lama mereka menghabiskan waktu di taman bermain, kini ketiganya memutuskan untuk beristirahat di sebuah cafe ice cream yang juga terdapat di dalam arena taman bermain itu. Wajah ketiga manusia itu berubah antusias begitu seorang waitress datang dan meletakkan pesanan mereka. Banana split untuk Taewoon, Hazelnut Ice Cream untuk Taeyeon dan Green Tea Ice Cream untuk Jongwoon.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka bertiga langsung menyambar Ice Cream di hadapan mereka. Membiarkan suapan demi suapan ice cream lewat di kerongkongan mereka,  memberi sensasi dingin yang mereka butuhkan setelah berjam-jam menghabiskan hari dengan berpanas-panas di taman bermain. Tak hanya itu, sesekali mereka akan saling mencicipi ice cream milik masing-masing mengingat pesanan mereka bertiga berbeda.

“Daddy, aku ingin ke toilet sebentar.” Ucap Taewoon sambil menghentikkan sejenak kegiatan makannya.

“Apa kau ingin di temani?”

“Tidak, aku bisa sendiri, daddy.” Ucap Taewoon lagi lalu beranjak meninggalkan kursinya menuju toilet.

Mata Jongwoon terus menatapi punggung putranya yang semakin menjauh hingga punggung itu hilang dibalik pintu toilet. Setelah memastikan sang putra masuk ke toilet dengan aman, kini matanya beralih menatap gadis yang duduk di hadapannya. Seulas senyuman terukir di bibir Jongwoon ketika matanya memperhatikan Taeyeon yang begitu asyik memakan ice creamnya.

Taeyeon menghentikan aktifitas makannya lalu memandang Jongwoon dengan tatapan aneh. “Wae?” Tanya gadis itu sedikit bingung. Jongwoon melihat ada sedikit ice cream yang hinggap di dekat bibir gadis itu, dan itu membuatnya nampak konyol.

Jongwoon terkikik pelan lalu menghapus ice cream yang berada di dekat bibir Taeyeon dengan ibu jarinya. “Cara makanmu yang lebih buruk daripada anak sekolah dasar itu benar-benar membuatku ingin menciummu.”

Awalnya gadis itu sempat tersipu mendapat perlakuan seperti itu, tapi seketika ia menyipitkan matanya dan memasang wajah galaknya begitu Jongwoon mengeluarkan kata-katanya. “Jika kau berani menciumku disini, aku pastikan tanganku akan mendarat di pipimu dengan mulus. Tak hanya itu, aku pastikan tanganku juga akan meninggalkan bekas hingga kau sadar dan berpikir dua kali sebelum melakukan hal-hal mesum seperti itu.

Ucapan Taeyeon sama sekali tidak membuat Jongwoon takut, justru pria itu malah terkekeh geli dan mencubit kedua pipi chubby Taeyeon dengan gemas. “Aigoo, wanita ini lucu sekali.”

“Yak hentikan! Kau pikir pipiku ini plastisin.”

“Anggap saja seperti itu.” Jawab pria itu enteng lalu berhenti mencubiti pipi Taeyeon.

Gadis itu kembali sibuk dengan ice creamnya sementar Jongwoon sibuk menatapnya.

“Taeyeon-ah.”

Glek. Panggilan itu lagi. Panggilan yang selalu sukses membuat jantung Taeyeon berdetak lebih cepat. “Hm, wae?” Jawabnya sambil berusaha menutupi perasannya.

Jongwoon meraih sebelah tangan Taeyeon yang  menganggur di atas meja lalu menariknya dan memperhatikannya.

“Jari-jari tanganmu pendek dan kecil kecil.” Ucap Jongwoon sambil tetap memandangi jari-jari Taeyeon.

Taeyeon menaikkan sebelah alisnya. “Jika jari-jariku pendek dan kecil-kecil, jari-jarimu apa? Bahkan kau nyaris tak berkuku. Dan bentuk jari-jarimu itu tak enak dipandang.” Ujar Taeyeon sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

“Jari-jarimu akan lebih cantik jika ada sesuatu yang menghiasi Taeyeon-ah.” Komentar pria itu lagi tanpa memperdulikan omelan gadis itu beberapa detik yang lalu.

“Maaf, tapi aku tidak bisa mengikuti saranmu itu. Aku tidak terlalu suka mengenakan perhiasan ditangan, karena itu membuatku harus ekstra berhati-hati dan—”

Belum selesai Taeyeon berbicara Jongwoon sudah mengambil sesuatu di saku celananya lalu memasangkannya di jari manis Taeyeeon. Dan Taeyeon hanya bisa ternganga memandangi Jongwoon yang memasangkan sesuatu di jari manisnya. Apalagi kalau bukan cincin.

‘Tidak bisakah pria itu berhenti membuat jantungku nyaris meledak?’

“Tapi mulai sekarang kau harus terbiasa dengan cincin ini di jarimu Taeyeon-ah.”

Ucapan pria itu membuat Taeyeon tak berkutik dan hanya memandangi jari manisnya yang kini terhiasi cincin pemberian Jongwoon. Cincin itu terdiri atas dua buah cincin perak yang dikaitkan dengan sebuah cincin emas, sehingga ketika mengenakannya ia nampak seperti menggunakan tiga buah cincin. Ketiga cincin itu memang hanya tiga buah cincin yang sederhana tapi cincin itu dalam sekejap merubah jari-jari mungilnya nampak menawan.

“Tapi kita..”

“Tenang saja, itu bukan cincin lamaran. Itu cincin peninggalan nenekku. Kalaupun suatu hari nanti aku melamarmu, aku akan memberimu cincin yang lain.”

“Tapi bagiku ini terlalu berlebihan.”

“Responmu itu sama seperti mendiang istriku. Waktu aku memberikan padanya ia juga bilang terlalu berlebihan.”

“Tapi-”

“Sst. Aku tidak mau dengar omelan lagi. Yang terpenting kau harus menjaganya, arasso?”

*****

Dengan kecepatan maksimalnya, Taeyeon berlari keluar dari gedung sekolah dasar itu dengan menjinjing beberapa tas di tangannya. Sesekali ia akan mengangkat lengannya dan memastikan letak jarum jam saat itu. Sesampainya di gerbang Sekolah Taejo, Taeyeon langsung mengedarkan pandangannya dan menemukan sesuatu yang menjadi tujuannya, sebuah mobil hitam yang sangat familir untuknya. Tanpa berniat mengulur waktu lebih lama lagi, ia langsung menghampiri mobil itu dan membuka pintu yang terletak di kursi penumpang bagian depan.

“Sudah menunggu lama Oppa?” Sapa gadis itu dengan nafas yang masih terengah-engah.

“Tidak, belum sampai lima menit bahkan.” Ucap pria yang duduk di belakang kemudi, Cho Kyuhyun.

“Apa benar aku tak merepotkanmu?” Tanya Taeyeon kembali dengan mimik wajah ragu.

“Tentu saja tidak, aku kebetulan akan pergi ke perusahaan yang tidak jauh dari gedung pementasan itu.” Pria itu berucap dengan santainya sambil menstarter mobilnya. Tak lupa ia menyunggingkan sebuah senyuman yang menurutnya mampu melelehkan hati wanita meskipun, ia masih ragu apakah ciuman itu akan berdampak pada Kim Taeyeon.

Beberapa saat berlalu, sementara Kyuhyun terfokus pada kemudinya, Taeyeon hanya mengibas-ngibaskan tangannya diudara, berusaha memberikan sedikit kesejukan pada tubuhnya yang bercucuran keringat usai berlari.

“Apa ac-nya kurang dingin? Kau nampak begitu kepanasan.” Tanya Kyuhyun sambil menoleh sekilas pada Taeyeon.

“Sepertinya begitu. Apa kau keberatan jika aku menaikkan volumenya?”

“Silahkan. Aku sama sekali tidak keberatan.

Mendapat persetujuan dari Kyuhyun, tangan kanan Taeyeon langsung terulur menyentuh tombol ac mobil itu. Kyuhyun melirik sekilas pada tangan Taeyeon yang sedang sibuk mengutak-atik tombol-tombol itu dan mendapati sesuatu yang nampak berbeda pada tangan Taeyeon khususnya jari manis gadis itu.

“Aku tak tahu kau suka mengenakan cincin sekarang?” Komentar Kyuhyun datar tanpa menoleh pada Taeyeon.

“Cincin?” Tanya gadis itu bingung. Namun ketika matanya melirik ke jari manisnya, ia sadar akan cincin yang dimaksud Kyuhyun. “Oh ini, aku bahkan tak ingat kalau aku sedang mengenakan cincin ini. Bagaimana menurutmu?” Tanya gadis itu meminta pendapat Kyuhyun sambil mengangkat tangannya di udara. Berusaha memperlihatkan cincin itu pada Kyuhyun.

Tepat ketika mobil itu berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, Kyuhyun menolehkan kepalanya untuk melihat tangan Taeyeon. Kening pria itu berkerut serta matanya menyipit ketika memperhatikan cincin itu dengan seksama. Cincin itu tidak asing untuknya. Bahkan ia yakin dirinya sama sekali tidak lupa dengan cincin itu.

‘Cincin itu…’

“Dimana kau membeli cincin itu?” Tanya Kyuhyun dingin.

“Itu.. Seseorang memeberikannya untukku.”

“Seorang pria?”

“I-iya.”

“Kekasihmu?” Pertanyaan terakhir Kyuhyun membuat gadis itu bungkam dan terlihat kikuk. Tentu saja ini bukan pertanda baik untuk Kyuhyun. Dari gelagat gadis itu ia dapat memprakirakan  gadis itu hanya malu untuk mengakuinya. Dan tentu saja gelagat gadis itu membuat hatinya memohon-mohon agar prakiraannya itu salah.

“Iya, ini dari kekasihku.” Jawab gadis itu malu-malu. Jawaban itu memang mengagetkan untuk Kyuhyun, tapi kini sebuah perasaan lain lebih mendominasi darpada sekedar kekagetan, yaitu perasaan takut. Dan untuk menutupi perasaaannya itu, ia memilih untuk kembali berkonsentrasi pada kemudinya begitu lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau.

“Kau tak cerita-cerita padaku kau dekat dengan seorang pria bahkan kini sudah menjadi sepasang kekasih. Siapa pria beruntung itu?” Ia berusaha memasang wajah datar dan biasa saja meskipun sesungguhnya ia diliputi ketakutan. Seketika hati Kyuhyun meralat  permohonannya . Dan sekarang hatinya memohon, semoga gadis itu tak akan menyebutkan nama yang tidak diharapkannya.

“Sepertinya kau tak mengenalnya, emm, namanya…. Kim Jongwoon.”

Seketika, saat itu juga Kyuhyun berharap ada sesuatu yang mengganggu indra pendengarannya sehingga apa yang baru saja ia dengar tidak benar. Tapi pada kenyataannya, telinganya baikk-baik saja dan ia bisa mendengar dengan jelas gadis itu mengatakan Kim Jongwoon.

“Oppa!! Hentikan mobilnya!” Panggilan Taeyeon yang lebih mirip teriakan itu langsung menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya dan mengerem mobilnya secara mendadak.

“Kau kenapa Oppa? Apa kau melamun?” Gadis itu bertanya dengan mimik muka khawatir dan Kyuhyun hanya membalasnya dengan gelengan pelan. “Aku turun disini ya, aku akan berjalan saja sedikit ke gedung theater itu.” Ucap gadis itu sambil tangannya menunjuk ke belakang, tepatnya ke gedung theater yang baru saja terlewatkan oleh Kyuhyun.

“Maaf membuatmu harus berjalan Taeyeon-ah.” Dengan wajah penuh penyesalan Kyuhyun meminta maaf pada Taeyeon membalasnya dengan senyuman.

“Hanya jalan segini tidak ada apa-apanya, terimakasih sudah mengantarku Oppa. Bye.” Pamit gadis itu sambil membuka pintu mobil lalu turun dan menutupnya kembali. Mata Kyuhyun terus memperhatikan sosok itu hingga sosok itu berjalan menjauh ke arah yang berlawanan.

‘Choi Sooyoung dan sekarang Kim Taeyeon. Apa sebenarnya mau pria itu.‘ Kyuhyun menghela nafas kesal lalu melampiaskan kekesalannya dengan memukul kemudi di hadapannya. Cukup lama ia hanya diam tanpa kembali melanjutkan kegiatan mengemudinya, teleponnya tiba-tiba berdering.

“Yeobseyo.” Ucapnya dengan sisa-sisa kekesalan yang menyertai ucapannya itu.

“Kyu-ah? Kau dimana?”

“Eomma. Aku di jalan. Ada apa eomma menelepon?”

“Hari ini Appa dan Eomma mengundang Tiffany untuk makan malam bersama kita. Bisakah kau menjemputnya dan langsung datang bersamanya ke Empire Hotel?”

Jawaban sang Eomma berhasil membuat pria itu mengerutkan alisnya. “Makan malam? Tiffany?” Kyuhyun mengulang kedua kata itu dengan sedikit penekanan.

“Kau kan sudah mengenal kedua orang tua Tiffany karena penandatangan kontrak beberapa waktu silam. Kami juga ingin mengenal Tiffany. Tadi kami sudah menelepon orang tua Tiffany dan mereka mengizinkan.”

“Tapi Eomma—,”

“Eomma tak akan melarangmu untuk mengomel tapi tidak untuk saat ini. Yang terpenting sekarang kau jemput gadis itu lalu ajak dia bertemu kami. Ibu tutup telepon. Annyeong.” Tanpa membiarkan putranya itu untuk berkomentar lebih lanjut, Nyonya Cho langsung mengakhiri sambungan telepon. Kembali Kyuhyun menghela nafas kesal lalu menstarter mobilnya dan pergi ke tempat yang di perintahkan sang eomma.

*****

Sudah sekitar lima belas menit berlalu sejak Kyuhyun memakirkan mobilnya di depan kediaman keluarga Hwang dan memutuskan untuk menunggu di dalam  mobilnya. Dan sudah sekitar lima menit berlalu sejak Kyuhyun tak henti-hentinya mengumpat kesal dan menghujani Tiffany dengan missed call ataupun pesan yang memintanya untuk segera turun. Kali ini kesabarannya sudah habis. Ia pun memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan menuju pintu gerbang rumah yang terbilang megah itu. Namun belum sempat tangannya menyentuh tombol bel, pintu gerbang itu sudah terbuka dan menampakkan sosok wanita yang nampak anggun dengan mini gown berwarna granite pink  selututnya.

“Maaf membuatmu menunggu terlalu lama, ada sedikit masalah.” Gadis itu hanya menyunggingkan sedikit senyuman canggung lalu berjalan mendahului Kyuhyun.

 

“Kau sudah tahu tentang mereka?” Setelah menempuh perjalanan sekitar lima menit, Kyuhyun memutuskan untuk mengakhiri keheningan yang menyelimuti mobilnya kala itu dan mengajak gadis itu berbicara.

“Mereka?”

“Kim Taeyeon dan Kim Jongwoon.”

“Ada apa dengan mereka?” Tiffany nampak bingung.

“Mereka sudah resmi berpacaran.”

Mendengar jawaban Kyuhyun yang meluncur dengan nada yang datar itu sontak raut wajah Tiffany berubah kaget. Kyuhyun dapat menangkap kekecewaan yang terselip pada kekagetan di wajah Tiffany. Dan Kyuhyun tahu kini  gadis itu berusaha mati-matian untuk menutupinya dengan ekspresi datar.

“Kau tidak tahu?”

“Tidak. Baru setelah kau bilang tadi  aku tahu.”

“Dan kau, tidak marah?”

Gadis itu menarik nafas dalam-dalam dan membuang wajahnya menatap kosong pada kaca mobil di sebelahnya. “Apa jika aku marah, hubungan mereka akan berakhir begitu saja? Ck, sudahlah.”

*****

Tak jauh berbeda dengan kencan buta pertamanya dengan Kyuhyun, kini keluarga Cho juga mengajaknya makan malam di sebuah ruangan VIP di restoran yang terdapat di Empire hotel. Hal ini dimaksudkan agar mereka lebih leluasa mengobrol tanpa gangguan suara-suara dari pengunjung lainnya. Namun, sepertinya hal itu justru semakin membuat suasana menjadi canggung.  Sejak Kyuhyun dan Tiffany tiba, Tiffany hanya membuka mulutnya ketika memperkenalkan dirinya ataupun menjawab pertanyaan dari Tuan dan Nyonya Cho seperlunya. Kali ini yang terdengar di ruangan itu hanya suara dentingan dari sendok, garpu dan pisau makan yang beradu dengan piring keramik. Dan Tiffany hanya dapat berharap agar waktu dapat berjalan lebih cepat setidaknya agar ia bisa terlepas dari saat-saat itu.

“Ehem.. Tiffany-ssi, bagaimana menurutmu makan malam hari ini?” Tanya Tuan Kim memecahkan keheningan yang sedari tadi serasa begitu mencekam untuk Tiffany.

“Tentu saja sebagai salah satu penikmat masakan Eropa, Foie Gras ini sangatlah nikmat.” Ujar gadis itu sambil mengangkat serbetnya lalu mengusap bibirnya pelan.

Mendengar jawaban Tiffany, Nyonya Cho sontak melebarkan matanya sambil tersenyum. “Rupanya kau penikmat masakan Eropa. Lalu, apa saja makanan kesukaanmu? Mungkin saja lain kali kita bisa makan malam bersama lagi, tentunya dengan menu favoritmu.”

“Untuk masakan Perancis, Escargot menjadi menu favoritku. Jika kalian menyukai masakan Perancis khususnya Escargot, aku memiliki teman seorang warga Perancis yang memiliki restoran di daerah Apgujeong. Menurutku, masakan Perancisnya adalah masakan Perancis yang paling enak di Korea.”

“Lalu bagaimana dengan makanan selain masakan Perancis?” Tanya Nyonya Cho lagi tanpa menghapus ekspresis berbinar di wajahnya.

“Aku juga sangat menyukai masakan Italia. Pasta, khususnya Tortellini dan Canellini.”

Kyuhyun yang sedari tadi duduk di samping gadis itu memang tidak terang-terangan menatap gadis itu. Hanya saja matanya terlalu gatal untuk sesekali melirik gadis itu ketika kedua orang tuanya melontarkan pertanyaan dan memperhatikan bagaimana gadis itu berusaha nampak tenang namun sarat akan percaya diri ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

“Kalau begitu lain kali kau harus makan malam di rumah kami. Istriku sangat pintar membuat Tortellini dengan krim dan jamur.” Timpal Tuan Cho sambil menatap Nyonya Cho dan Tiffany bergantian. “Benarkan Kyu-ah?” Dan kini mata pria paruh baya itu beralih pada Kyuhyun, menuntut pria itu untuk segera menyetujui usulnya.

“N-ne. Tentu saja.” Jawab Kyuhyun kikuk.

“Baiklah Tuan Cho.” Jawab Tiffany menyetujui sambil tersenyum dengan mata indahnya.

 

Sudah sekitar setengah jam berlalu sejak Tiffany meninggalkan meja itu dan memutuskan untuk pergi ke toilet. Kini di meja itu, tepatnya di ruangan itu hanya ada Kyuhyun seorang. Tuan dan Nyonya Cho sudah pergi lima belas menit yang lalu dan meninggalkan Kyuhyun yang kini nampak gusar. Bagaimana ia tak gusar? Sudah setengah jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda gadis itu akan kembali. Apa ia menunggu gadis itu? Tentu saja ia menunggu, namun jangan berpikir ia menunggu gadis itu karena hatinya sudah melunak. Ia menunggu gadis itu karena ia takut terjadi sesuatu pada gadis itu sehingga berpotensi merusak pandangan orang-orang terhadap dirinya khususnya, orang tua Tiffany selaku rekan bisnis perusahaan keluarganya.

Kemana gadis itu?

Tangan kanan Kyuhyun menekan nomor ponsel Tiffany lalu menempelkannya di telinga. Ia dapat mendengar nada sambung monoton di teleponnya, tak lebih dari itu. Pada akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk melangkahkan kakinya keluar dari ruangan VIP itu. Sambil terus berusaha menelepon gadis itu berkali-kali, Kyuhyun melangkahkan kakinya hingga kini ia mendapati dirinya berdiri di depan pintu toilet wanita.

Merasa tak mendapat harapan dari ponselnya, kini Kyuhyun menatap lekat-lekat pintu di hadapannya. ‘Apa gadis itu masih di dalam? Apa yang ia lakukan selama itu?’

Lama ia mematung di depan pintu itu tiba-tiba ia dikagetkan oleh seorang wanita yang keluar dari pintu toilet itu. Tak jauh berbeda dengan Kyuhyun, gadis itu juga nampak kaget. Tak hanya kaget, bahkan gadis itu memandang aneh pada Kyuhyun dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan bahwa gadis itu sedang berpikir yang tidak-tidak tentang Kyuhyun.

“Apa yang anda lakukan disini?”

“Apa aku boleh bertanya?”

“Bertanya?” Ulang gadis itu dengan wajah curiga.

“Ya, bertanya. Apakah di dalam ada seorang gadis dengan mini gown berwarna pink? Rambutnya panjang dan disemir kecoklatan. Apa kau melihatnya.”

“Gadis? Bahkan aku tak menemukan siapapun di toilet itu kecuali satu kubikel yang sudah sejak tadi tertutup. Entah apa yang dilakukan oleh orang itu di dalam. Mungkin saja gadis itu di dalam kubikel itu.” Jelas gadis asing itu sambil tetap menatap Kyuhyun dengan penuh kecurigaan. “Sudah, aku terburu-buru. Aku pergi dulu.”

Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Kyuhyun dengan sejuta pertanyaan di pikirannya. Kembali ia menatap pintu di hadapannya itu. ‘Bukankah tadi ia bilang tak ada siapapun di dalam toilet itu?’

Dengan mempertaruhkan urat malunya, Kyuhyun membuka pintu toilet itu dan melangkah masuk dengan ragu. Kyuhyun  berbelok di sudut toilet itu bermaksud untuk menelusuri lebih dalam ruangan yang baru pertama kali dijajakinya itu. Namun baru selangkah ia membelokkan kakinya, ia dapat mendengar suara pintu terbuka. Sempat muncul rasa gugup dan takut di benak Kyuhyun, namun rasa gugup itu seketika kandas  bersamaan dengan kakinya yang berhenti melangkah dan matanya yang melebar kaget melihat apa yang di depan matanya.

*****

Cukup lama berdiam diri di dalam kubikel toilet karena serangan di punggungnya, akhirnya Tiffany memutuskan untuk keluar dari kubikel itu setelah merasa lebih baik. Dengan langkah yang masih gontai, Tiffany membuka pintu kubikel itu dan melangkah keluar. Belum jauh ia melangkah, tiba-tiba ia mendapat serangan itu lagi. Rasa sakit yang begitu mendadak kembali menderanya sampai ia harus berhenti melangkah dan menggapai dinding terdekat untuk menahan tubuhnya.

Belum hilang wajah pucat yang diakibatkan oleh serangan pertama di malam itu, kini wajah gadis itu nampak semakin pucat bersamaan dengan datangnya serangan kedua. Tanpa menyadari sepasang mata kini tengah menatapnya tajam, Tiffany hanya mengerang tertahan dan memejamkan mata erat-erat. Ia berusaha mengatur napas selagi jatuh terduduk di lantai toilet dan membiarkan tangannya melepas kendali pada tas yang ada di genggamannya, membiarkan tas itu jatuh begitu saja dan menumpahkan isinya.

Sebutir air mata jatuh bergulir di pipinya sementara ia merintih menahan sakit. Ia mencengkeram kuat-kuat punggungnya, berharap rasa sakit itu bisa cepat hilang.

Tepat saat itu, suara bass yang cukup familiar menerobos kabut rasa sakit yang menyelubungi otaknya. Lalu Tiffany merasa seseorang menahan tubuhnya. Ia membuka mata dan melihat wajah Cho Kyuhyun yang menatapnya dengan mata terbelalak cemas.

“Tiffany-ssi, Gwenchana?” Tanyanya. Tiffany bisa menangkap nada cemas pada suara Kyuhyun. “Ada apa?”

“Kau sakit?” Tanya Kyuhyun lagi. “Kita harus ke rumah sakit.” Mendengar ucapan pria itu, Tiffany segera mencengkeram lengan Kyuhyun dan menggeleng dengan tenaga yang tersisa.

“Tidak,” katanya dengan susah payah. Suaranya terdengar seperti bisikan serak. “Aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?” Tanya Kyuhyun lagi. Wajah pria itu nampak semakin gusar.

Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. “Biarkan aku seperti ini untuk sesaat saja lalu setelah itu  antarkan saja aku pulang.”

Mendengar jawaban Tiffany, Kyuhyun pun berinisiatif untuk mengumpulkan barang-barang dari tas Tiffany yang berceceran di lantai toilet. Ia mengambil barang itu satu persatu dan memasukkannya ke dalam tas Tiffany, tak terkecuali, sebuah tabung plastik bening berisi pil-pil yang membuat pria itu mengerutkan kening dengan sejuta pertanyaan berkelebat di otaknya.

*****

Mata Kyuhyun sesekali melirik gadis yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Gadis itu memejamkan matanya meskipun Kyuhyun yakin gadis itu tidak benar-benar tertidur melainkan, menghindari pertanyaan yang mungkin akan dihujani oleh Kyuhyun padanya.

“Apa kau yakin sudah merasa lebih baik?” Pria itu mencoba bersikap datar dan mencoba berbasa-basi tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari jalanan di depannya.

“Jika kau merasa cemas karena takut mendapat cap yang buruk dari keluargaku, aku dapat menjamin padamu aku benar-benar dalam keadaan baik dan kau bisa percaya itu.”

“Tapi aku benar-benar mencemaskan keadaanmu, Tiffany-ssi!” Balas pria itu agak membentak.

“Berhentilah bersikap munafik Kyuhyun-ssi. Aku lebih suka sikapmu yang terang-terangan dan terkesan tak berperasaan seperti sikapmu yang sebelum-sebelumnya daripada kau harus berlaga peduli padaku hanya untuk melindungi nama baikmu itu.” Tanpa membuka matanya gadis itu berkata dengan sinis dan membiarkan Cho Kyuhyun terdiam menatapnya heran.

“Oh ya satu lagi,” Gadis itu kembali berbicara. Kali ini ia membuka matanya dan menoleh pada Kyuhyun yang berada di sebelahnya. “Aku mohon padamu, jangan ceritakan kejadian tadi pada siapapun.” Nada sinis dari mulut Tiffany berubah begitu saja menjadi lemah lembut. Dan Kyuhyun tau, gadis itu meminta dengan sepenuh hati.

“Baiklah.”

*****

“Kau benar-benar nampak seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya Kyu-ah.” Kyuhyun tersadar dari lamunannya lalu mendongak mendapati Hyoyeon yang baru saja memasuki ruangan pribadinya di Yeonjae. “Sudah daritadi?”

Kyuhyun mengangkat bahunya sekilas sambil tersenyum masam. “Begitulah. Dimana Hyukjae Hyung?”

Tanpa terlalu memperdulikan keberadaan Kyuhyun, Hyoyeon langsung duduk di kursi kerjanya dan memeriksa tumpukan kertas-kertas di atas meja itu. “Sejak pagi dia sudah pergi mengantar Hyoeun ke sekolah. Katanya sih ingin langsung pergi fitness. Lalu, kau sendiri? Apa yang membuatmu sudah duduk di ruangan orang dengan wajah masammu itu?”

“Aku hanya sedang dalam mood yang tidak bagus. Setidaknya lebih baik duduk melamun  disini daripada harus duduk melamun di kantor dan menjadi bahan pembicaraan pegawaiku.”

“Baiklah, itu urusanmu. Aku sedang banyak pekerjaan karena sebentar lagi murid-murid klub tari ini akan ujian kenaikan tingkat. Aku sarankan kau tak mengangguku, arasso?”

“Hm, baiklah aku tak akan menganggumu. Tapi bukan berarti aku tak boleh membantumu kan Nuna?” Dengan wajah genit yang dibuat-buat Kyuhyun beranjak dari sofa itu lalu mendekati Hyoyeon yang sedang sibuk di meja kerjanya.

“Aissh, sudah berapa kali kubilang, kita sebaya. Untuk apa kau memanggilku Nuna? Lagipula nada bicaramu itu, sungguh menjijikkan!”

“Karena kau istri Hyukjae Hyung, berarti kau nunaku sejak menikah dengan manusia berotak mesum itu. Jadi apa yang bisa kubantu, nuna?”

“Kau benar-benar berniat membantuku?” Tanya Hyoyeon sambil mendongak dan memicingkan matanya.

“Tentu saja.” Jawab pria itu percaya diri sambil memasang gesture membanggakan dirinya.

Mendengar jawaban Kyuhyun, Hyoyeon tersenyum licik. “Kalau begitu…”

*****

Sesuai perintah Hyoyeon, Kyuhyun melangkahkan kakinya ke lantai teratas gedung club menari itu. Kini ia hanya memasang wajah tertegun begitu ia membuka pintu dihadapannya. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan berbagai properti menari dan lemari-lemari yang entah isinya apa  di dalamnya.

Menurut petunjuk Hyoyeon, berkas yang harus ia ambil terdapat di lemari yang terletak di pojok ruangan itu. Sambil tetap memperhatikan sekitarnya, Kyuhyun berjalan mendekati lemari itu lalu membukanya. Lemari itu berisi tumpukan kertas-kertas yang sama sekali tidak ingin Kyuhyun ketahui.

“Rak nomor tiga dari atas di sebelah kanan.” Kyuhyun bergumam kecil sambil memperhatikan rak-rak di lemari itu hingga matanya berhenti di rak yang menjadi tujuannya. Rak itu terletak cukup tinggi dan Kyuhyun yakin dirinya memerlukan sesuatu untuk mempermudah dirinya meraih rak itu. Tak menemukan sesuatu yang dapat membantunya, kyuhyun memutuskan untuk berusaha meraih kertas-kertas itu dengan jari-jarinya sambil berusaha meninjit.

BRAAK

Berkas-berkas yang berusaha di raih oleh Kyuhyun tertarik dan jatuh bertebaran di lantai. Kyuhyun berjongkok lalu berusaha merapikan lembar demi lembar kertas itu. Namun, di tengah kesibukannya mengumpulkan kertas-kertas itu, matanya menangkap sebuah kotak kayu tipis yang sudah dalam keadaan terbuka dan menyebabkan isinya jatuh bertebaran di sekitar kotak itu. Kyuhyun yang awalnya berniat mengembalikan isi kotak itu tiba-tiba membelalakkan matanya kaget ketika menemukan sebuah foto yang cukup aneh untuknya.

“T-Taeyeon… S-Soo—“

Ya foto itu adalah sebuah foto dimana terdapat dua wanita yang amat dikenal dan dicintainya, Kim Taeyeon dan Choi Sooyoung. Kyuhyun terus menatap foto itu dengan tatapan penuh Tanya sekaligus nanar. Merasa memerukan petunjuk atas apa yang di  temukannya, Kyuhyun memeriksa kertas-kertas yang ia yakini adalah isi dari kotak itu.

“S-Sooyoung….” Ucapan Kyuhyun terhenti begitu saja bersamaan dengan dirinya yang mendadak mematung setelah membaca salah satu kertas itu. Tanpa ia sadari tubuhnya yang tengah berjongkok kehilangan keseimbangan hingga menyebabkan dirinya jatuh terduduk di lantai. Tangannya mencengkeram kertas itu kuat-kuat bersamaan dengan ledakan yang ia rasakan di dadanya.

“Ini tidak mungkin….. ini tidak mungkin!”

*****

Taeyeon yang baru saja tiba di areal rumah sakit itu, langsung meraih ponselnya dan  menekan beberapa kombinasi nomor sebelum akhirnya menempelkan ponsel itu di telinga kanannya. Tanpa menghentikan langkahnya, ia mendengar nada sambung monoton untuk beberapa detik hingga akhirnya seseorang yang dihubunginya mengangkat teleponnya.

“Kibum-ah, Eodiga?”

“Jangan mentang-mentang aku adikmu, kau bisa seenaknya melupakan sopan santunmu dalam bertelepon, Nuna.” Laki-laki yang dipanggil Kibum oleh Taeyeon itu langsung menyemprot nunanya dengan omelan begitu mendengar pertanyaan kakaknya yang meluncur begitu saja.

“Ya! Kapan sifat cerewetmu itu akan hilang? Sudahlah, dimana kau sekarang?” Tanya Taeyeon lagi dengan nada tidak sabar.

“Di ruang tunggu Poliklinik, di lantai 2.”

“Oh, arata. Aku ke sana sekarang.”

 

Setelah mendapat petunjuk dari sang adik, Taeyeon langsung melangkahkan kakinya dengan cekatan hingga dirinya telah sampai di tempat yang ditujunya. Ia mengedarkan pandangannya, memperhatikan satu demi satu orang di ruang tunggu itu. Cukup lama ia celingukan, akhirnya matanya menangkap seseorang yang tengah melambai-lambaikan tangan kepadanya. Orang itu adalah Kim Kibum, adiknya. Kini adiknya itu dengah duduk di salah satu kursi di ruangan itu dengan seorang wanita berwajah lembut berusia lima puluhan di sampingnya. Tanpa mau bertele-tele lagi, Taeyeon segera melangkahkan kakinya kepada dua orang itu.

“Eomma! Jeongmal bogosipeo.” Taeyeon langsung memeluk wanita yang notabene adalah ibunya itu begitu kakinya telah berhenti di hadapan Eommanya dan adiknya. Ia memeluk wanita itu dengan sangat erat, berusaha melampiaskan kerinduan yang telah dipendamnya untuk waktu yang cukup lama.

“Eomma juga merindukanmu, Taeyeonie.” Wanita itu balas memeluk Taeyeon sambil sebelah tangannya mengelus lembut rambut sang putri. Cukup lama mereka berpelukan, hingga Taeyeon melepas pelukannya lalu duduk di kursi kosong di samping Eommanya.

“Terakhir kali aku kemari, aku hanya bertemu dengan seorang ibu pemilik gedung. Dan sekarang, keberadaanku tidak di perdulikan.” Sungut Kibum kesal melihat Nuna dan Eommanya melepas rindu seoalah tak memperdulikan kehadirannya.

“Hey! Jangan memasang wajah seperti itu. Kau tahu, setiap kau memasang wajah seperti itu aku ingin sekali melayangkan jitakan di kepalamu.” Taeyeon membalas perlakuan adiknya itu dengan wajah galaknya hingga membuat laki-laki itu mengerucutkan bibirnya kesal.

“Sudahlah. Kalian bukan anak kecil lagi.” Nyonya Kim yang duduk diantara mereka hanya menggelengkan kepalanya heran sambil mengelus pundak kuedua anaknya itu.

“Oh, ya Eomma, Kibum bilang, eomma datang kesini untuk cek kesehatan. Apa Eomma sedang sakit?” Dengan wajah dan nada cemas, Taeyeon bertanya pada eommanya.

Nyonya Kim tersenyum lalu menggelengkan kepalanya lembut. “Tidak, eomma benar-benar hanya check up saja. Bagaimanapun eomma sudah tua, ada beberapa hal yang harus diantisipasi kan?”

“Eomma yakin hanya itu?” masih dengan wajah cemas gadis itu kembali bertanya.

“Kau ini berharap eomma sakit ya?” Canda Nyonya Kim.

Mendengar candaan Nyonya Kim, Taeyeon kembali memeluk sang Eomma. “Tentu saja tidak, Eomma.”

*****

Taeyeon, Kibum dan Nyonya Kim keluar dari ruang praktik dokter itu setelah mendengar hasil tes yang dibacakan dokter beberapa saat yang lalu. Nyonya Kim berjalan di tengah dengan kedua lengannya mengait dengan lengan Taeyeon dan Kibum.

“Eomma dan Kibum akan langsung balik ke Busan sekarang? Tak ingin minum kopi dulu denganku?” Taeyeon menatap Eommanya dengan wajah penuh harapan. Tentu saja setelah sekian lama ia tak bertemu eommanya, ia ingin berlama-lama dengan eommanya itu.

“Mian Taeyeonnie…” Dengan wajah menyesal, Nyonya Kim menggelengkan kepalanya. “Eomma ada banyak urusan di Busan, mungkin lain kali.”

Taeyeon mengerucutkan bibirnya kesal. “Ayolah eomma, sebentar saja yaaa…” Gadis itu mencangkupkan kedua tangannya dan memasang puppy eyesnya.

“Sekali lagi, eomma minta maaf Taeyeonnie. Lain kali pasti Eomma mau tapi tidak untuk hari ini. Lagipula, kau sudah lama sekali tidak mengunjungi Busan, Eomma janji akan pergi bersamamu jika kau mengunjungi Busan nanti. Bagaimana?”

“Baiklah kalau begitu.” Meskipun kecewa, Taeyeon hanya menghela nafas panjang dan tersenyum masam.

Ketiga orang itu terus berjalan bersama hingga akhirnya terpisah di ujung koridor. Nyonya Kim dan Kibum menuju basement, Taeyeon menuju pintu utama rumah sakit. Setelah ia tak bejalan bersama dongsaeng dan eommanya lagi, Taeyeon tak henti-hentinya memasang wajah kecewa sekaligus kesal. Namun kekesalan serta kekecewaannya itu mendadak lenyap ketika ia melihat gadis yang berada beberapa meter darinya. Gadis itu berjalan sambil berpegangan pada dinding di sebelahnya. Merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu, Taeyeon memutuskan untuk mendekatinya lalu menyentuh pundak gadis itu lembut.

“Apa anda baik-baik saja?”

Dengan perlahan gadis itu menolehkan wajahnya dan sukses membuat Taeyeon membelalakkan matanya tak percaya.

“Tiffany-ssi?!”

TBC

Hai reader, mian banget baru bisa post soalnya dua minggu kemarin author disibukkan sama kesibukan hari raya galungan dan kuningan. Bagaimana part ini? Alur kecepatan dan typo bertebaran? Ya seperti biasa kedua masalah itu sangat melekat pada tulisan saya. Oh ya untuk konflik, setelah sekian lama saya cuma kasi kisi kisi masalah, di part ini saya udah mulai lo konfliknya, sadar gak? ^^ oh ya kalau ceritanya makin gaje, makin garing, makin mengecewakan, maaf banget ya. Untuk part selanjutnya di tunggu aja ya, inget comment ya meskipun mengecewakan banget part ini J  *bow*

36 thoughts on “[FF Freelance] Blind in Love (Part 9)

  1. Author-nim!!!!!! Sudah lamaaaaaaaaaa banget nunggu chapter 9 ini >,<
    ini ff yang paling aku tunggu tunggu di blog ini. Dan setelah tahu chap ini udah update, betapa senangnya aku #lebay
    finally, TaeSung is together ❤
    suka banget sama sifat jongwoon disini, romantis enggak, kasar enggak tapi udah cukup buat aku terpana(?) melihat perlakuannya kpd taeyeonie ,< kyu juga..ha
    stay strong aja ya buat fany sama kyu.. Btw, taeng ketemu sama fany, bkalan gimana ya? Penasaran buat next nya.. Update ASAP ya authornim… Saranghae(?)..kk

  2. Aakkhirnya dipost jga nunggu ff ini ampe lumutan kekekeke tapi puas bgt bca part ini keren jong woon oppa bener2 susah ditebak kerenn Rahasia soo ama taeng apa sihh penasarraann??

  3. Min keren ceritanyaa.lanjutin terus yaa min, aku jadi suka banget sama couple kim jongwoon-kim taeyeon. Bikin fanfiction tntang mereka lagi dong min=) sebelumnya terimakasih min ceritanya keren aku juga nyadar mulai ada konfliknya kok min hehe’3′)

  4. Thor, ffnya dibukuin aja! 😀
    Entar gua pasti beli thor xD
    Lanjut part berikutnyaaaa! Ciumannya dihot-in lagi xD *otakyadong*

  5. hi thoorr!!! aku reader baru loh disini!!!
    mian di ff yang blind in love aku gak coment gara2 ku baca di hp…

  6. akhirnyaaaaa mereka jadian juga! 🙂
    pernyataan cinta yang simple tapi berkesan! 🙂
    uh jongwoon romantis bangeeeetttttt >< iri deh sama taeyeon 😀
    mulai kebongkar nih hubungan taeyeon sama sooyoung
    good job author fighting! ^^

Leave a Reply to azcool Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s