[FF Freelance] That Ahjussi (Part 11)

that ahjussi poster

 

Judul: That Ahjussi… (Chapter 11)

Author: Yul

Length: Chaptered

Genre: Romance, Life, Drama, little bit Comedy

Main Cast: Park Bom (2NE1), Choi Seunghyun a.k.a TOP (Big Bang).

Support Cast: Shin Bongsun, Park Jiyeon (a.k.a Gummy), Yoon Doojoon (B2ST), Kwon Jiyong (Big Bang), Sandara Park (2NE1).

Disclaimer: WARNING: Tolong baca note author di bawah ya~! First, author minta maaf banget banget bangeeeeet karena lama ngepost >___< FF ini murni hasil jerih payah author dan didedikasikan untuk pembaca FF terutama SpringTempo shipper. Plagiat not allowed, read & leave comment are very welcome. Happy reading ^^~

NB: Disini usia TOP lebih tua 2 tahun dari usia Bom, usia mereka juga dirubah demi kenyamanan (?)

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Part 8 , Part 9, Part 10

Part XI

Bom mengusap matanya ketika sinar matahari pagi menyeruak dari celah gorden kamar. Mata Bom terbuka lebar ketika mendapati dirinya tidak berada di kamar apartemennya. Tak lama kemudian ia menepuk dahinya pelan. Tentu saja kau tidak di kamarmu! Kau sedang di rumah ‘si ahjussi nyaris sempurna’.

Masih dalam posisi tidurnya, Bom menggeliat. Ia merasakan tubuhnya sulit bergerak. Bom menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika melihat sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Tangan Seunghyun. Omo! Bom baru saja ingin memindahkan tangan Seunghyun yang masih melingkar di pinggangnya tapi ia urungkan ketika melihat wajah tenang Seunghyun dengan mata terpejam dan rambut berantakan. Bom kembali mengingat apa yang terjadi semalam lalu tersenyum. Mereka hanya berciuman dan sebatas tidur bersebelahan, tidak lebih. Tapi itu berhasil membuat pipi Bom merah.

“Hmmm…” Seunghyun menggumam pelan. Bom cepat-cepat menghilangkan senyum di wajahnya.

“Ya, ireona…” ujar Bom sambil menepuk pelan pipi Seunghyun. Seunghyun hanya bergerak sedikit.

“Ya, ahjussi nyaris sempurna. Ireonaaa…” Kali ini Bom mengusap pipi Seunghyun. Seunghyun tersenyum masih dengan mata terpejam.

“Ahjussi! Singkirkan tanganmu!” ujar Bom sambil menepuk pelan tangan Seunghyun.

“Aku menjagamu agar tidak jatuh dari ranjang. Aku tak menyangka kau akan sangat ekstrim saat tidur,” ujar Seunghyun pelan. Bom menggerutu.

“Cepatlah bangun…”

Popo…” ujar Seunghyun setengah berbisik sambil mengerjapkan matanya dan memajukan bibirnya.

“Ah, appo!” ringis Seunghyun ketika Bom mencubit pipinya.

Ppalli ireona!” Bom menggoyangkan tubuh Seunghyun. Seunghyun kembali memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Bom. Bom tidak bisa bergerak.

“Aku tidak akan bangun kalau kau tidak memberiku morning kiss,” ujar Seunghyun kemudian.

Bom membuka mulutnya –bersiap untuk memarahi Seunghyun- tapi ia urungkan. Lalu dengan cepat ia mencium kilat bibir Seunghyun. Seunghyun tersenyum senang –masih dengan mata terpejam. “Aigoo, lihatlah. Aku berharap ciuman pertama kita saat kita sedang berada di altar. Ternyata kau mencurinya tadi malam dan bahkan sekarang kau meminta morning kiss dariku,” gumam Bom.

“Tenang saja, aku akan menciummu di altar lebih dari yang tadi malam,” balas Seunghyun sambil terkekeh.

“Sekarang bangun dan lepaskan tanganmu. Ppalli,” ujar Bom sambil menepuk tangan Seunghyun yang masih melingkar di pinggangnya. Seunghyun melepaskan tangannya lalu duduk sambil mengerjapkan mata. “Aigoo, pagi yang indah…” gumam Seunghyun tersenyum sementara Bom turun dari kasur. Ia menyibak gorden kamar, membiarkan sinar matahari masuk lalu berjalan ke arah balkon.

“Ahjussi, kemarilah,” panggil Bom yang sedang menikmati udara pagi Gwangju beserta keindahan alamnya. Seunghyun bangkit dari kasur lalu menghampiri Bom.

Eottae? Indah kan?” tanya Seunghyun sambil memeluk Bom dari belakang. Bom mengangguk excited. Seunghyun menempelkan dagunya pada pundak Bom. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu di saku celananya.

“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Bersiaplah,” bisik Seunghyun. Bom bergidik geli saat deru napas Seunghyun menyapu telinganya.

“Tidak usah berbisik seperti itu, kau membuat telingaku geli.” Bom mengusap telinganya. Seunghyun tersenyum sambil mengusap kepala Bom lalu menuntunnya keluar kamar.

Sementara di luar kamar Seunghyun, beberapa saat sebelumnya…

Nyonya Choi melipat tangannya di dada lalu berjalan bolak-balik di depan kamar –di mana seharusnya Bom berada. Wajahnya terlihat panik.

“Eomma, waeyo?” tanya Minhyun ketika melihat ibunya tidak tenang.

“Apa kau melihat Bom? Eomma sudah memeriksa kamarnya tapi ia tidak ada di sana.”

Jeongmal? Mungkin ia sedang mandi?” Minhyun membuka pintu kamar Bom dan tidak menemukan Bom di tiap sudut kamarnya.

“Mungkin ia sedang melihat-lihat kebun bunga milik eomma di bawah? Ia suka dengan hal seperti itu kan?” ujar Minhyun. Nyonya Choi menggeleng.

“Eomma sudah memeriksa di bawah dan menanyai semua house keeper tapi mereka tidak melihat Bom di mana-mana. Apa mungkin Bom pergi tadi malam karena kita membahas tentang Seunghyun yang mencium pipinya? Ya! Bukankah eomma sudah bilang untuk tidak mengatakan hal itu di depan mereka!” Nyonya Choi menyalahkan Minhyun sambil mendelikkan matanya. Minhyun membuka mulutnya tak percaya.

“Itu salah eomma. Kenapa eomma menceritakan hal itu padaku?” Minhyun tak mau kalah.

“Aish, lain kali eomma tidak akan menceritakan apapun padamu.”

“Tapi eomma, apa eomma sudah bertanya pada Seunghyun oppa?” tanya Minhyun.

“Apa kau lupa? Kakakmu itu tidak pernah bisa bangun pagi jika tidur di rumah ini.”

“Ah, iya aku lupa. Geundae eomma, kita harus membangunkannya. Mungkin saja oppa tahu ke mana Bommie eonni pergi,” ujar Minhyun sambil menarik tangan Nyonya Choi menghampiri pintu kamar Seunghyun. Belum sempat Nyonya Choi mengetuk pintu, pintu kamar Seunghyun terbuka.

“Eomma, seharusnya eomma tidak perlu mengkhawatirkan Bommie eonni,” ujar Minhyun ketika melihat Seunghyun dan Bom berdiri di depan pintu kamar dengan tangan Seunghyun tersampir di pinggang Bom.

“Ah, kau benar Minhyun-ah. Seharusnya eomma sudah tahu kalau mereka pasti bersama tadi malam,” kata Nyonya Choi sambil memerhatikan rambut Seunghyun dan Bom yang berantakan.

Seunghyun dan Bom mengerutkan keningnya. “Annyeonghaseyo eommoni, Minhyun-ah…” sapa Bom kemudian. Nyonya Choi dan Minhyun tersenyum.

“Bom-ah, cepatlah bersihkan dirimu,” ujar Seunghyun. Bom mengangguk lalu pamit pada Nyonya Choi dan Minhyun sebelum melangkah ke kamarnya.

Omo! Kurasa aku akan cepat mempunyai cucu.”

“Bommie-ah, kau harus membersihkan tubuhmu sebersih-bersihnya!” teriak Nyonya Choi saat Bom menutup pintu kamarnya. “Kau juga, bersihkan tubuhmu! Aigoo!” ujar Nyonya Choi sambil tersenyum penuh arti pada Seunghyun lalu berlalu. Seunghyun hanya bisa mengerutkan keningnya tak mengerti.

***

“Ah, bagaimana tidurmu tadi malam? Apa kau bisa tidur dengan nyenyak?” tanya Tuan Choi pada Bom sebelum menyuap bulgogi sandwich-nya.

“Ah, ne abeoji. Tidurku nyenyak tadi malam,” jawab Bom tersenyum.

“ Kau Seunghyun? Apa kau tidur nyenyak tadi malam? Eomma mengatakan kau bangun pagi hari ini. Selama ini ayah jarang melihatmu bangun pagi jika kau tidur di rumah ini. Wae geurae?”

“Ah, itu…” Seunghyun tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya karena mengingat morning kiss dari Bom pagi ini sementara Nyonya Choi menendang pelang kaki Minhyun, memberitahu anak gadisnya agar tidak mengatakan sesuatu karena mulut Minhyun sudah terbuka.

“Aku ingin mengajak Bom ke suatu tempat jadi kurasa aku tidak boleh membuatnya menunggu.” Tangan Seunghyun memeriksa saku celananya, memastikan benda yang sejak tadi malam ia pegang tak lupa ia bawa bersamanya.

“Kau ingin pergi ke mana? Apa yang akan kau lakukan dengan Bommie eonni?” tanya Minhyun antusias.

“Minhyun-ah, berhentilah bersikap selalu ingin tahu tentang apa yang akan aku lakukan atau apa yang telah aku lakukan dengan Bom. Aigoo gadis ini. Sepertinya aku harus segera mengenalkanmu pada salah satu temanku agar kau berhenti menanyai tentang kehidupanku dan Bom,” ujar Seunghyun dengan nada dibuat sebijaksana mungkin lalu menyuap makanannya. Minhyun mendelikkan matanya.

“Minhyun-ah, apa yang kakakmu katakan ada benarnya. Mereka juga punya privasi,” imbuh Tuan Choi. Seunghyun tersenyum menang lalu menjulurkan lidahnya pada Minhyun. Minhyun membulatkan matanya sementara Bom tertawa melihat tingkah adik-kakak di hadapannya.

***

Seunghyun mengetukkan jarinya pada kaca mobil, menunggu Bom yang sedang bertemu halmeoni sebelum mereka pergi ke suatu tempat. Sudah hampir sepuluh menit Seunghyun menunggu di mobil yang sudah terparkir di depan gerbang. Ponsel Seunghyun berbunyi. Satu pesan diterima.

From: Eomma

Hari ini? Apa kau yakin? Benar-benar yakin?

Seunghyun tersenyum membaca pesan singkat dari Nyonya Choi yang terlihat sangat khawatir. Dengan cepat Seunghyun mengetik balasan.

To: Eomma

Eomma, tidak usah khawatir. Aku sangat yakin hari ini hari yang tepat. :]

Seunghyun memasukkan ponselnya ke saku celananya ketika melihat Bom melangkah keluar dari pintu rumah. Dengan cepat ia turun dari mobil lalu beralih ke sisi mobil sebelah kanan, membukakan pintu mobil untuk Bom.

Julbal!” seru Bom senang ketika Seunghyun menjalankan mobilnya.

***

Seunghyun memarkirkan mobilnya di pelataran parkir yang cukup sepi. Dolsan Park di pagi hari tidak seramai saat sore hari. Setiap sore hari terutama di akhir pekan, Dolsan Park selalu di penuhi pengunjung. Entah itu masyarakat sekitar, para pengunjung dari luar kota atau bahkan pengunjung dari luar negeri. Dolsan Park memang tempat favorit untuk menikmati pemandangan indah Gwangju, piknik bersama keluarga, teman atau kekasih ataupun untuk sekedar berhenti untuk menyicipi jajanan khas Gwangju. Dari Dolsan Park kita bisa melihat pemandangan modern kota dan gunung Mudeung dengan jelas.

“Ahjussi, di mana kita?” tanya Bom sambil mengayunkan tangan kirinya yang digenggam oleh Seunghyun ketika keluar dari pelataran parkir.

Seunghyun tersenyum sambil menunjuk ke arah patung pohon Mapel dengan papan berukir ‘Dolsan Park’ di atasnya. Ya, Dolsan Park terkenal karena keindahan pohon Mapelnya. Mata Bom langsung berbinar ketika melihat tulisan ‘Dolsan Park’ tak jauh di depannya.

“Uwaaaah! Dolsan Park!” seru Bom semangat lalu berlari meninggalkan Seunghyun di belakang.

***

Seunghyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku coat yang ia kenakan sementara Bom menggamitkan tangannya pada lengan Seunghyun. Angin pagi menerpa wajah keduanya. Mereka berdua menyusuri jalanan Dolsan Park yang di tumbuhi dengan pohon Mapel di setiap sisinya, meninggalkan stan es krim yang sempat mereka hampiri.

Bom menunjuk ke arah danau Dolsan, mengajak Seunghyun untuk melihat pemandangan di sana. Dengan sedikit berlari Bom menarik tangan Seunghyun untuk menghampiri sisi danau.

Aigoo, sangat indah!” Bom merentangkan kedua tangannya, menikmati semilir angin pagi.

“Tapi kau lebih indah menurutku,” ujar Seunghyun yang langsung mendapat picingan mata dari Bom. Seunghyun hanya tertawa. Tak lama kemudian Bom mengeluarkan ponselnya, memotret pemandangan indah di sekitarnya sambil sesekali melakukan self-camera.

“Ayo, duduk di sana.” Seunghyun menunjuk bangku taman di bawah pohon Mapel yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Bom kembali menggamitkan tangannya di lengan Seunghyun.

“Bagaimana hari ini? Apa kau senang?” tanya Seunghyun ketika keduanya menghempaskan tubuh di bangku taman.

“Ne! Aku sangat senang hari ini! Kurasa ini untuk pertama kalinya aku berkunjung ke tempat seperti ini! Melihat modern-nya kota Gwangju sekaligus keindahan alamnya terutama Danau Dolsan dan Gunung Mudeung! Aigoo, sangat indah!” jawab Bom excited.

“Oh ya ahjussi, apa kau tahu tempat menarik lainnya di Gwangju? Kudengar Gwangju punya banyak tempat menarik lainnya.”

“Tentu saja. Saat kita berkunjung kembali nanti, aku akan mengajakmu ke tempat menarik lainnya di Gwangju. Kau pasti akan lebih mencintai Gwangju.” Bom menepuk tangannya riang. Menikmati keindahan alam merupakan hobi favoritnya. Setelah shopping tentunya. Kalian tahu kan rata-rata perempuan suka shopping?

“Bom-ah…” panggil Seunghyun setelah beberapa saat keheningan tercipta di antara mereka.

“Hmmm?” Bom menatap Seunghyun sambil merapatkan kancing coat-nya.

“Bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Seunghyun. Matanya menatap hamparan danau Dolsan yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.

Aigoo, ada apa denganmu ahjussi. Kau bersikap agak aneh. Tentu saja kau boleh bertanya semaumu.” Bom ikut menjelajahi pemandangan danau Dolsan di hadapannya.

Hening.

“Apa kau mencintaiku? Maksudku, apa kau benar-benar mencintaiku?” tanya Seunghyun kemudian. Kali ini ia menatap Bom sambil tersenyum lembut.

“Aigoo, geu ahjussi… Tentu saja aku mencintaimu,” jawab Bom pelan.

“Benarkah?” tanya Seunghyun lagi, antusias. Bom mengangguk.

“Sudah kuduga kau pasti mencintaiku,” ujar Seunghyun kemudian. Bom memandang Seunghyun dengan tatapan astaga-aku-tak-menyangka-ahjussi-ini-akan-mengatakan-hal-seperti-tadi.

Hening.

“Lalu, apa kau mencintaiku?” Kali ini Bom yang bertanya sambil menatap Seunghyun.

“Aku?” tanya Seunghyun sambil menunjuk dirinya sendiri lalu tertawa.

“Apalagi yang harus kulakukan untuk membuktikan kalau aku sangat mencintaimu?” tanya Seunghyun dengan suara sedikit berbisik, berusaha terdengar seseksi mungkin. Seunghyun perlahan mencondongkan wajahnya pada wajah Bom sementara Bom mendekapkan kedua tangannya pada wajah Seunghyun.

Aigoo, pemandangannya sangat indah. Sayang jika dilewatkan…” Bom menolehkan wajah Seunghyun agar menghadap danau Dolsan lalu melepaskan tangannya dari wajah Seunghyun sambil tersenyum.

“Ahjussi, jangan mencuri ciumanku lagi sebelum kita berada di altar. Terutama jika kita sedang berada di luar ruangan,” ujar Bom lalu melipat tangannya di depan dada.

Waeyo? Bukankah kau mencintaiku dan aku mencintaimu?” tanya Seunghyun. Bom menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya ingin ciuman kita terasa benar-benar berarti ketika kita berada di altar.”

Seunghyun memajukan bibirnya, menunjukkan ekspresi tidak suka. “Baiklah kalau itu maumu. Tapi kurasa sebentar lagi kau akan menciumku.”

Bom terkekeh. “Ahjussi, sudah kukatakan aku tidak akan menciummu sampai kita berada di altar nanti.”

“Baiklah, kita lihat saja nanti.” Seunghyun melipat tangannya di depan dada lalu menikmati pemandangan di sekitarnya sementara Bom menyandarkan tubuhnya pada kursi taman sambil menengadahkan kepalanya, memandangi pohon mapel yang berdiri tegak di belakang kursi taman yang sedang mereka duduki.

Aigoo, leherku…” gumam Bom lalu memijat lehernya yang terasa pegal karena terlalu lama memandangi pohon mapel. Seunghyun menepuk pundak kirinya, mengisyaratkan agar Bom menyandarkan kepalanya dipundaknya. Bom menurut.

“Bagaimana, apa kau suka dengan rumahku?” tanya Seunghyun lalu menggenggam tangan kanan Bom dengan tangan kirinya. Bom menegakkan kepalanya.

Ne! Neomu joha!” jawab Bom excited. Seunghyun tersenyum.

“Bagaimana dengan eomma, appa, halmeoni dan Minhyun? Apa kau menyukai mereka?”

Bom mengangguk. “Tentu saja aku menyukai mereka. Kau tahu kan bagaimana perasaan jika berada di antara orang-orang yang menyayangi kita? Terasa sangat nyaman. Aku iri padamu karena mempunyai banyak orang yang menyayangimu.” Bom meninju pelan lengan Seunghyun. Ia mengingat untuk pertama kalinya Nyonya Choi memeluknya ketika pertama kali mereka bertemu di apartemen Seunghyun. Ia juga masih mengingat jelas bagaimana bahagianya wajah Nyonya Choi ketika mengetahui kalau mereka akan segera menikah saat itu.

“Eeeey, kau tidak boleh iri padaku. Kau tahu? Setiap aku berbicara dengan eomma ditelepon, halmeoni, Minhyun bahkan abeoji selalu menanyakan dan membicarakanmu. Mereka sepertinya lebih menyayangimu daripada aku.” Seunghyun mengeratkan genggaman tangannya.

“Benarkah?” tanya Bom senang. Seunghyun mengangguk. Bom tertawa kecil.

“Jadi, kau sudah merasa nyaman dengan keluargaku?” tanya Seunghyun lagi.

“Tentu saja.” Bom mengangguk lalu tersenyum. Keduanya kembali memandangi pemandangan danau Dolsan. Matahari semakin meninggi tapi udara di Gwangju tetap sejuk seperti biasa.

Hening.

“Ah, tali sepatuku lepas.” Seunghyun melepaskan genggaman tangannya pada tangan Bom lalu berlutut untuk membetulkan tali sepatunya.

“Ahjussi…” panggil Bom.

“Hmm?”

“Apa kau pernah membawa orang lain ke tempat ini?”

“Tentu saja pernah. Eomma, appa, halmeoni, Minhyun, Youngbae, Daesung…”

Ani, bukan mereka maksudku. Seseorang yang spesial bagimu,” potong Bom.

“Seseorang yang spesial? Tentu saja pernah,” ujar Seunghyun masih dengan posisi berlutut.

Bom mengangguk pelan lalu mengedarkan pandangannya. Ahjussi ini pernah membawa seseorang yang spesial ke tempat ini? Itu berarti aku bukan yang pertama baginya? Bom menghela napas. Tentu saja kau bukan yang pertama baginya, Park Bom. Ahjussi nyaris sempurna seperti dia sudah pasti pernah memiliki seseorang yang spesial sebelumnya. Tidak hanya satu, bahkan banyak. Bom mendesah lagi.

Waeyo?” tanya Seunghyun yang melihat perubahan raut wajah Bom. Bom hanya diam.

“Kau tahu? Aku sangat senang ketika membawanya ke sini untuk pertama kalinya. Kami berjalan bergandengan tangan, menyicipi es krim rasa favoritnya, bahkan membicarakan hal-hal yang mengesankan di sini, tepat di kursi ini,” ujar Seunghyun kemudian. Bom hanya mengangguk pelan lalu memandangi danau.

Ahjussi sialan! Kenapa ia menceritakan hal seperti itu padaku? Bom mendelikkan matanya sebal. Banyak pikiran berkecamuk di kepalanya saat ini. Bom-ah, tidak usah memikirkan apa yang ahjussi itu katakan tadi. Ia hanya menceritakan masa lalunya. Anggap saja kau tidak mendengarnya. Ambil napas, tahan, hembuskan…

Hening. Bom memainkan kakinya lalu teringat sesuatu.

“Ahjussi, apa yang kau lakukan? Bukankah hari ini kau memakai sepatu tak bertali?” tanya Bom ketika menyadari Seunghyun masih berlutut sejak tadi. Bom masih ingat tadi pagi ia menyiapkan sepatu tak bertali untuk Seunghyun. Seunghyun masih diam di posisi berlututnya yang menghadap ke arah Bom. Perlahan ia mengangkat kepalanya, menatap Bom lalu tersenyum.

“Ah, kau menyadarinya ya kalau aku tidak memakai sepatu bertali?” ujar Seunghyun masih tersenyum. Bom mengerutkan keningnya dengan tatapan tentu saja aku ingat.

“Aku tidak tahu harus memulai dari mana…” gumam Seunghyun.

“Bom-ah…” ujar Seunghyun kemudian. Bom diam masih dengan kening berkerut, menanti apa yang akan Seunghyun ucapkan selanjutnya.

“Kau masih ingat saat pertama kali kita bertemu di trotoar? Sejak saat itu, ketika kau mendorongku hingga jatuh, aku tidak bisa berhenti tersenyum mengingat bagaimana lucunya ekspresi wajahmu ketika marah. Bahkan saat aku pindah ke Tibbit’s Gallery hari itu, aku sangat senang saat mengetahui ternyata aku bekerja satu kantor denganmu, bahkan berada di satu ruangan denganmu.” Seunghyun menghela napas, memberi jeda.

  “Kukira saat itu aku hanya menyukaimu sebatas suka, karena aku belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Tapi ketika setiap malam aku tidak bisa tidur jika tidak mendengar suaramu, aku merasa cemas ketika tidak bisa melihatmu beberapa hari karena ditugaskan di luar kantor, aku merasakan sesuatu yang janggal. Hingga pada akhirnya eomma mengatakan padaku kalau aku jatuh cinta padamu. Aku tidak pernah merasakan perasaan bahagia seperti itu sebelumnya.” Seunghyun kembali mengambil napas, masih menatap Bom dengan tatapan lembutnya.

“Kau tahu, aku tidak tahu ini terlalu cepat atau tidak. Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengatakan sesuatu…”

Will you marry me?” ujar Seunghyun tersenyum kemudian lalu mengeluarkan kotak perhiasan kecil dengan cincin emas putih berhiaskan permata hijau di atasnya.

Bom sontak berdiri lalu menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Matanya membesar. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya sekarang. Sementara Seunghyun masih tersenyum, bahkan memberikan senyum termanis yang pernah Bom lihat. Mata Bom yang membesar mulai berkaca-kaca. Ia merasakan hatinya sedang bergemuruh sekarang, diterpa kebahagiaan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

“A… Ahjussi…” ujar Bom pelan, hampir terdengar seperti bisikan. Seunghyun berdiri perlahan, masih dengan kotak cincin di tangannya.

Eottae?” tanya Seunghyun, masih tersenyum. Dengan cepat Bom menghambur ke pelukan Seunghyun, memeluknya erat. Sangat erat. Air mata Bom mulai mengalir. Bom tersenyum bahagia dalam tangisnya.

Waeyo? Kenapa kau menangis?” tanya Seunghyun sedikit panik ketika mendengar isak tangis Bom. Perlahan Seunghyun mengusap pundak Bom, berusaha menenangkannya.

Pabo…” gumam Bom. Seunghyun mengerutkan keningnya.

Pabo? Apa maksudmu?” tanya Seunghyun heran.

“Ahjussi, kau benar-benar bodoh. Kenapa kau mengatakan itu semua? Kau membuatku menangis seperti ini.”

“Kenapa? Aku hanya mengatakan apa yang ingin kukatakan sejak dulu. Apa itu salah?”

Bom memukul pelan dada Seunghyun ketika mendengar jawabannya.

Waeyo? Kenapa kau memukulku? Apa kau menolakku? Apa kau tidak ingin menikah denganku?” tanya Seunghyun . Bom kembali memukul dada Seunghyun, kali ini lebih keras.

“Bodoh, tentu saja aku ingin menikah denganmu!” ujar Bom sedikit bergumam. Seunghyun diam, mulutnya tersenyum bahagia saat mendengar jawaban Bom.

Mwo? Aku tidak bisa mendengar apa yang kau katakan barusan. Bisa kau ulangi lagi?” ujar Seunghyun.

“Tentu saja aku ingin menikah denganmu!” ujar Bom sedikit berteriak lalu melepaskan pelukannya. Dengan cepat Bom memandang ke arah lain, menyembunyikan wajahnya dari Seunghyun. Ia yakin wajahnya sangat merah sekarang.

Aigoo…” Seunghyun mengusap pelan kepala Bom lalu menolehkan wajah Bom agar wajah mereka saling bersitatap.

“Jadi kau bersedia untuk menemaniku setiap saat? Membiarkanku mendengarkan suaramu setiap malam? Membiarkanku mengusap pipi chubby-mu? Memberikanku morning kiss setiap pagi?” tanya Seunghyun sambil menghapus bekas air mata yang terlihat jelas di pipi Bom. Ia mencondongkan kepalanya, menyejajarkan dengan kepala Bom. Bom mengangguk sambil tersenyum lalu menarik-narik pelan ujung coat Seunghyun.

“Benarkah? Bisakah kau membuktikannya?” tanya Seunghyun lagi, masih tersenyum.

Dengan cepat Bom menangkupkan kedua tangannya pada wajah Seunghyun. Perlahan Bom mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Seunghyun sampai akhirnya bibir mereka bertemu, menyatu. Mata Bom terpejam. Hembusan angin yang menerbangkan guguran daun Mapel membuat Bom merapatkan tubuhnya pada tubuh Seunghyun. Perlahan tangan Seunghyun merengkuh tubuh Bom.

Seunghyun memejamkan matanya, menikmati rasa manis dari bibir Bom. Kenapa bibirnya terasa sangat manis? Apa karena es krim jagung favoritnya yang ia makan tadi? Seunghyun tak ambil pusing lalu kembali menikmati momen berharga baginya.

Tak lama kemudian Bom melepaskan ciumannya. Pipinya terlihat merona sementara Seunghyun masih memeluk Bom lalu mencium puncak kepala Bom. Tangan Bom melingkar di pinggang Seunghyun.

“Ahjussi…”

“Hmm?”

“Kau bilang kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Lalu siapa orang spesial yang kau maksud?”

Seunghyun tertawa. “Tentu saja kau orangnya.”

Bom tersenyum senang mendengar jawaban Seunghyun.

“Bom-ah…” panggil Seunghyun.

“Hmm?”

“Bukankah tadi kau bilang kau tidak akan menciumku sampai kita berada di altar?”

Hening.

“Bom-ah…”

“Ahjussi… Itu pengecualian,” ujar Bom lalu mengeratkan pelukannya.

***

Bom menggenggam erat tangan Seunghyun ketika keduanya turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam rumah. Nyonya Choi dan Minhyun yang sedang duduk di beranda sambil tertawa langsung melambaikan tangannya begitu melihat Seunghyun dan Bom. Seunghyun dan Bom ikut melambaikan tangannya.

Aigoo eomma! Kau lihat cincin di tangan Bommie eonni? Sepertinya rencana oppa berhasil!” bisik Minhyun sambil menyikut pelan lengan ibunya. Senyum di wajah Nyonya Choi semakin terlihat jelas.

Aigoo, tentu saja kakak tertampanmu berhasil!” ujar Nyonya Choi berbisik juga. Seunghyun dan Bom semakin dekat.

“Aigoo, Bom-ah…” Nyonya Choi menghambur ke arah Bom lalu memeluknya erat. Sementara Minhyun memberikan kedua ibu jarinya pada Seunghyun sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Oppa, chukkae!” ujar Minhyun. Seunghyun memeluk adik satu-satunya lalu membisikkan kata terima kasih.

“Aigoo Bommie-ah, eomma sangat bahagia mendengar kabar ini dari Seunghyun!” Nyonya Choi mengusap kedua pipi Bom, matanya terharu. Bom hanya tersenyum.

“Baiklah, ayo ke dalam. Bom dan aku harus bersiap-siap untuk kembali ke Seoul,” ujar Seunghyun.

***

Nyonya Choi melambaikan tangannya bersemangat ketika mobil yang membawa Seunghyun dan Bom mulai bergerak perlahan. Minhyun ikut melambaikan tangannya. Sementara di mobil, Bom membuka kaca jendela dan melongokkan kepalanya.

“Eomma, Minhyun-ah, sampai jumpa lagi!” teriak Bom riang sambil melambaikan tangannya.

Mata Nyonya Choi mulai berkaca-kaca. “Bommie-ah, jangan lupa menghubungi eomma!”

Bom mengangguk manis sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. Keduanya kembali saling melambaikan tangan. Seunghyun yang sejak tadi fokus mengendarai mobil hanya tersenyum memerhatikan tingkah laku ibu dan kekasihnya. Tidak, bukan kekasihnya. Tetapi wanita yang akan mendampingi hidupnya, segera.

Aigoo…” Nyonya Choi mendesah saat mobil yang membawa Seunghyun dan Bom kembali ke Seoul sudah menghilang dari pengelihatannya.

“Aku sudah merindukan Bom lagi saat ini. Bagaimana ini?” gumam Nyonya Choi.

“Eomma, mereka belum sampai lima menit meninggalkan kita dan eomma bilang sudah merindukan Bommie eonni? Aigoo eomma. Mereka hanya kembali ke Seoul, bukan pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama. Eomma bisa mengunjungi mereka kapan saja,” ujar Minhyun sedikit kesal karena sikap ibunya yang menurutnya berlebihan. Ayolah, Seoul dan Gwangju kan dekat?

Nyonya Choi tidak mengindahkan perkataan anak gadisnya. Ia meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di meja beranda lalu mengirim sebuah pesan.

To: Seunghyunnie

Seunghyunnie, bagaimana perjalanannya? Apakah Bom baik-baik saja?

Tak lama kemudian ponselnya berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk.

From: Seunghyunnie

Eomma, ada apa denganmu? Kami bahkan belum sepuluh menit meninggalkan rumah. Tentu saja Bom baik-baik saja jika berada di dekatku.

Nyonya Choi tersenyum lega setelah membaca balasan pesan dari Seunghyun.

“Ah, Minhyun-ah. Menurutmu oppa-mu dan Bom akan memiliki berapa anak?” tanya Nyonya Choi tiba-tiba.

“Hmmm, mungkin empat?”

“Empat? Eeeeiy, bukankah itu terlalu sedikit? Mungkin sepuluh?” Nyonya Choi berpikir sejenak.

Aigoo eomma. Mereka belum menikah dan eomma sudah memikirkan hal seperti ini?” Minhyun menggelengkan kepalanya melihat Nyonya Choi yang sibuk merencanakan sesuatu.

***

Jam menunjukkan hampir tengah malam. Bom merapikan tempat tidurnya. Kebiasaan aneh Bom lainnya, ia selalu merapikan tempat tidurnya sebelum tidur. SEBELUM TIDUR, bukan setelah bangun tidur. Baginya, tidur harus ditemani dengan suasana senyaman mungkin. Meskipun ia tahu posisinya saat tidur akan menghancurkan semua kenyamanan yang ia ‘ciptakan’ sebelum tidur.

Baru saja Bom memposisikan tubuhnya dikasur, ponselnya berdering. ‘Geu Ahjussi’ calling.

Yeoboseyo?” ujar Bom.

“Ne. Kau sedang apa?” tanya Seunghyun dari seberang.

“Bersiap untuk tidur? Kau, ahjussi?”

“Aku? Aku masih merevisi desain dari kantor cabang kita di Gangseo. Mungkin sebentar lagi selesai.”

Mwo? Ya, tidurlah. Kau sudah mengendarai mobil hampir lima jam tadi dan sekarang kau masih bekerja? Kau butuh istirahat.” Bom bangun dari posisi tidurnya. Ada nada khawatir dari nada suaranya.

Ne, aku akan tidur setelah semuanya selesai.”

Ani, kau harus tidur sekarang. Aku tidak ingin kau terlihat mengerikan saat kerja besok, ahjussi.”

“Sebenarnya besok aku tidak akan masuk kerja. Aku harus mengantar desain yang sudah kurevisi ke kantor cabang di Gangseo,” ujar Seunghyun sambil memainkan mouse komputer dihadapannya.

“Kenapa kau harus mengantarnya ke sana? Bukankah bisa dikirim melalui email?”

“Itu karena aku diberi tanggung jawab penuh untuk menangani kantor cabang di Gangseo selama dua bulan ke depan.”

Mwo? Dua bulan? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?” Kali ini Bom benar-benar khawatir. Mungkin dirinya belum siap untuk tidak bertemu dengan Seunghyun selama dua bulan ke depan.

Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kita? Kita bahkan belum membicarakan hal itu sama sekali. Wajah Bom terlihat sangat khawatir saat ini.

“Manajer baru memberitahuku tadi siang. Sebagai pegawai yang baik aku tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah meminta bantuanku. Bukankah kau juga pernah mengatakan seperti itu? Sebisa mungkin kau tidak ingin mengecewakan seseorang jika ia membutuhkan bantuanmu?”

Bom terdiam. Benar juga apa yang ahjussi itu katakan. Tapi bagaimana dengan rencana pernikahannya?Apa ia lupa? Bom kembali tidak tenang saat memikirkan rencana pernikahan mereka.

Waeyo? Kenapa kau diam saja? Apa kau memikirkan rencana pernikahan kita?” tebak Seunghyun.

“Ne…” jawab Bom pelan.

Aigoo Park Bom, kau ini bukan anak kecil lagi. Apakah kau sangat mengkhawatirkan tentang rencana pernikahan kita? Aku hanya ditugaskan untuk mengontrol kantor cabang di Gangseo, bukan menetap di sana. Gangseo dan Seoul tidak jauh. Lagipula aku masih bisa mendatangi apartemenmu setiap hari setelah selesai jam kerja. Itupun kalau kau mau. Kita juga masih bisa menghabiskan akhir pekan bersama,” ujar Seunghyun lalu terkekeh pelan, membayangkan bagaimana wajah Bom ketika sedang khawatir.

Hening.

Bom menggembungkan pipinya dengan mata memicing, pertanda ia sedang kesal. Kenapa ahjussi ini baru mengatakan kalau ia hanya mengontrol kantor cabang di Gangseo? Kukira ia akan menetap di sana selama dua bulan penuh. Cih, tahu seperti ini aku tidak akan mengkhawatirkannya. Bom mendengus pelan. Lagipula, apa ahjussi ini tidak bisa bersikap sedikit lebih peduli atau romantis?

“Baiklah terserah padamu. Kau ingin berada di Gangseo selama satu tahun pun aku tidak akan peduli!” ujar Bom kesal. Sambungan telepon diputus. Bom mematikan ponselnya lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan bed cover. Ia menggerutu sambil memandangi cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya sebelum benar-benar terlelap.

-to be continued-

 

AUTHOR’s NOTE:

Ø  Pertama, author minta maaf banget karena part ini lama banget dipublish. Tadinya author berencana akan mempublish part 11 ini sebagai part ending, tapi karena author cukup sibuk dan belum sempat menamatkan FF ini, author berubah pikiran untuk memperpanjang FF ini.

Ø  Author belum tahu pasti kapan FF ini selesai / tamat. Tapi part terakhir akan author proteksi, jadi diharapkan bagi yang ingin terus membaca FF ini, usahakanlah untuk mengisi komentar disetiap part.

Ø  Jika ingin bertanya / menyampaikan sesuatu pada author, silakan sampaikan melalui komentar karena author akan terus mengupdate  siapa saja yang sudah memberi komentar disetiap partnya.

Ø  Bagi yang sudah mengirim email untuk menanyakan password part terakhir ke email author di kiyanafs@gmail.com, untuk sementara tidak akan author balas karena part terakhir FF ini saja belum selesai.

Ø  Jika part terakhir sudah dipost, author akan langsung membalas email kalian yang berisi password untuk mengakses part terakhir.

Kayaknya cukup sekian note-nya yaa… Kalo ada tambahan lagi nanti akan author kabari lewat kolom komentar. Buat yang ingin bertanya / tidak terlalu paham dengan note author silakan sampaikan di kolom komentar yaa. Salam TopBom~! ^^

64 thoughts on “[FF Freelance] That Ahjussi (Part 11)

  1. astaga alien couple sweet bangett..
    AAAAAAAA mau di lamar juga sama Seunghyun kayak gitu, mereka lucu banget sih apalagi Bomnyaaa aihhh

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s