Love Plane (Side Story of Sticky Note)

loveplane

Love Plane

(The Side Story of Sticky Note)

by

Quiterie

Main Cast : 2PM’s Nichkhun & KARA’s Jiyoung|| Sub Cast : SNSD’s Tiffany & 2AM’s Lim Seulong ||  Genre : Drama & Life || Length : Oneshot || Rating : Teen || Disclaimer : Inspired by ‘Flower Boy Next Door’

credit poster : cipzcagraph

P.S.

read  Sticky Note first before you read this story

Ϩ

Jiyoung menghentikan kesibukannya berkutat dengan tabletnya kemudian menoleh kearah Nichkhun yang sudah jatuh terlelap diatas kertas-kertas tugasnya.

Sudut-sudut bibirnya tertarik ketika menatap ekspresi pulas sahabatnya. Dengan hati-hati, gadis itu menarik kertas-kertas tugas yang digunakan Nichkhun sebagai alas tidur lalu meletakannya diatas tumpukan buku milik pemuda itu.

“akan gawat jika sampai kusut apalagi jika air liurmu menetes,” bisik Jiyoung geli. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah jendela dan mendadak teringat percakapannya dengan Nichkhun beberapa jam yang lalu.

“Jadi . . . sejak kapan kau menyukainya?”

“Sekitar tiga tahun yang lalu.”

“Itu kurun waktu yang sangat lama, Khun. Dan bahkan kau tidak pernah tahu siapa namanya?”

“Aku tak pernah mengenalnya secara personal. Aku hanya selalu mengamatinya setiap hari.”

“Apa kau tidak ingin mencoba untuk mengajaknya berkenalan? Cintamu tak akan pernah berhasil jika kau hanya diam saja begini. Kita tidak sedang hidup di negeri dongeng dimana banyak keajaiban bisa terjadi kapan saja. Kau harus bertindak. Bagaimana jika ada orang baru yang datang ke kehidupannya dan gadis itu mulai membuka hati untuknya? Sangat menyesakkan sekali bukan ketika cintamu bahkan gagal sebelum kau meninggalkan garis start?”

Jiyoung mendesah sedih, tangannya meraih gelas kopi dihadapannya kemudian meneguknya hingga tandas. Ia merasa begitu bodoh ketika mengingat-ingat nasihatnya untuk Nichkhun. Konyol sekali bukan ketika ia menasehati seseorang untuk melakukan ini dan itu sementara ia tidak dapat menerapkannya pada masalahnya sendiri, padahal Jiyoung dan Nichkhun memiliki masalah serupa.

Jiyoung menyukai seseorang selama bertahun-tahun, berkali-kali lipat lebih lama dari waktu yang dihabiskan Nichkhun, tak henti-hentinya berharap bahwa perasaannya akan berbalas dan malam ini Jiyoung mendengar sendiri dari mulut pemuda yang telah ia sukai sejak usia remaja bahwa bukan Jiyoung-lah orang yang membuatnya merasa seperti orang gila hanya karena rindu.

Selama ini Jiyoung merasa tidak akan ada gadis yang bisa mengalahkannya. Nichkhun yang pendiam tidak memiliki banyak teman dan dia adalah satu dari sedikit teman yang Nichkhun miliki sejak pemuda itu masih belia. Dia perempuan yang paling dekat dengan Nichkhun setelah ibu dan saudara perempuannya. Dia selalu menjadi tujuan pertama Nichkhun ketika sedang kesusahan dan membutuhkan bantuan. Dan mereka telah berbagi hampir semua yang mereka miliki lebih dari separo usia mereka.

Tapi nyatanya dia kalah. Kalah dari gadis yang baru dikenal sahabatnya beberapa waktu lalu. Kalah dari gadis yang tidak pernah diketahui sahabatnya secara personal. Kalah dari gadis yang ia yakin tidak akan pernah bisa membayar dengan apapun segala kenangan dan rahasia-rahasia mereka selama bertahun-tahun.

Ia harusnya tidak perlu khawatir jika ia tidak benar-benar mengenal peranggai Nichkhun. Sahabatnya adalah orang yang akan sulit kembali berdiri ketika telah ‘jatuh’ terhadap sesuatu, sekeras apapun orang lain berusaha mengulurkan tangan.

Lalu ia harus bagaimana jika begini? Apa ada yang masih bisa ia lakukan ketika cintanya bahkan sudah gagal sebelum meninggalkan garis start?

Ϩ

“Jika kau tak segera memakan sushi­-mu aku pastikan makanan ini akan berpindah ke perutku.”

Jiyoung langsung menarik piring sushi­-nya mendekat kearahnya setelah mendengar ancaman Nichkhun dengan ekspresi cemberut.

“Apa kau sedang ada masalah?”

Jiyoung menggeleng pelan.

“Kau yakin?”

Setelah melihat anggukan Jiyoung, Nichkhun tampak memutuskan memang sahabatnya sedang tidak dalam masalah dan kembali meneruskan menyantap ramen-nya.

Jiyoung harusnya tidak heran jika Nichkhun tidak pernah menyadari perasaannya, bahkan pemuda itu tidak cukup perhatian untuk memaksanya membeberkan masalahnya ketika perubahan sikapnya benar-benar kentara seperti saat ini.

“Oh ya, ada pesan dari  temanku,” Nichkhun mengangkat kepala dari mangkok ramen-nya. “Dia menyukaimu dan ingin meminta nomor ponselmu padaku. Tapi tentu saja aku tidak memberikannya sebelum kau mengijinkan.”

Air muka Jiyoung semakin keruh. Sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama Nichkhun selalu menjadi ‘kurir’ bagi puluhan laki-laki yang ingin meminta nomor ponsel, mengajak bertemu, atau sekedar menyampaikan perasaan suka pada Jiyoung. Awalnya Jiyoung sama sekali tak mempermasalahkannya dan telah berkali-kali mencoba berkencan dengan laki-laki yang berbeda, dan ia kini telah mencapai titik puncak perasaan muak. Ia tidak pernah menginginkan satu pun laki-laki yang menyampaikan pesan-pesannya melalui Nichkhun, karena yang ia inginkan adalah si penyampai pesan itu sendiri.

“Kau kan tahu aku sudah memutuskan tidak mau berhubungan dengan laki-laki manapun saat ini.”

“Kau yakin?” Nichkhun mengangkat alis. “Orang yang kumaksud adalah Lim Seulong. Lim Seulong yang jadi idola banyak mahasiswi di universitas kita.”

“Lalu? Aku sama sekali tidak berniat merubah keputusanku.”

Nichkhun menyeruput kuah ramen di mangkoknya dan baru akan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu ketika ponselnya berdering.

“Tunggu sebentar.”

Nichkhun meraih ponselnya yang tergeletak disamping wadah merica. Kerutan di kening Nichkhun makin dalam seiring makin lama berlangsungnya panggilan antara dia dan si penelepon.

“Apa yang terjadi?” Jiyoung bertanya dengan nada khawatir, melupakan aksi memasang-wajah-kesal-seharian yang sudah ia rencanakan, ketika melihat ekspresi Nichkhun yang seperti orang linglung setelah panggilan berakhir.

“Kurasa aku harus pergi duluan.”

Jiyoung mencondongkan tubuhnya kearah Nichkhun. “Kau bilang apa? Aku tidak dengar.”

Nichkhun berdiri dari kursinya kemudian segera mengemasi barang-barangnya. “Ada urusan mendadak. Aku harus pergi duluan. Aku yang akan membayar tagihannya di kasir.”

Nichkhun setengah berlari ketika meninggalkan Jiyoung yang masih terpaku di mejanya dengan ekspresi bingung. Setelah setengah-diabaikan kini ia ditinggal sendirian. Dia merasa benar-benar menjadi gadis yang malang saat ini.

Ϩ

Jiyoung menekan-nekan bel apartemen Nichkhun dengan keras. Ia yakin pemuda itu ada didalam dan dia tidak akan berhenti menekan bel sampai Nichkhun mau membukakan pintu untuknya.

Tepat seperti dugaannya, tak lama kemudian terdengar derit pintu dan Nichkhun berdiri disisi daun pintu dengan rambut acak-acakan dan wajah kuyu. “Apa kau tidak pernah tahu tata krama ketika menekan bel saat bertamu ke rumah seseorang?”

“Apa yang terjadi denganmu?” Jiyoung sama sekali tidak menggubris omelan Nichkhun. “Mengapa kau tidak berangkat kuliah? Mengapa kau tidak mengangkat teleponku? Apa kau sakit?”

Nichkhun menghela nafas lelah kemudian berbalik dan berjalan masuk, Jiyoung mengikuti di belakang.

Tepat ketika mereka sampai di ruang tengah, Jiyoung melempar tas tangannya ke sofa kemudian duduk dengan tangan terlipat. “Aku tidak akan pulang sebelum kau menceritakan padaku apa yang terjadi. Kau benar-benar tampak mengenaskan, tahu.”

“Dia pergi,” suara Nichkhun terdengar seperti bisikan dan Jiyoung harus mencondongkan telinganya meskipun mereka duduk bersisian.

“Dia siapa?”

“Kau masih ingat apa yang kuceritakan di kantor ayahmu kan?”

Jiyoung membutuhkan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya untuk memahami apa maksud Nichkhun.

“Apa . . . yang kau maksud . . . gadis yang kau sukai itu?” Jiyoung berkata lambat-lambat. sebisa mungkin berusaha melunakkan suaranya yang terdengar gusar. Apa yang dilakukan gadis sialan itu hingga membuat sahabatnya menyerupai mayat hidup seperti saat ini?

Nichkhun mengangguk sedih dan menceritakan semuanya setelah Jiyoung medesaknya. Jiyoung benar-benar ingin membentak Nichkhun dengan kata-kata seperti “Oh Ayolah. Kau bahkan tidak pernah mengenalnya. Apa tidak terlalu berlebihan jika kau sampai jatuh frustasi seperti ini? Aku benar-benar tidak paham jalan pikirmu. Kau bukan tokoh serial drama atau novel roman picisan yang menggelikan itu kan? Kau ini laki-laki atau bukan sih?” tetapi mengingat kondisi Nichkhun yang terlihat benar-benar hancur Jiyoung memutuskan meraih tangan pemuda itu kemudian menggenggamnya erat-erat.

“Aku harusnya bertindak lebih cepat,” Nichkhun memecah keheningan yang menggelayut diantara mereka selama bermenit-menit. “Aku harusnya tidak diam saja menunggu keberuntungan seperti yang kau katakan padaku.”

“Menyesal dan berandai-andai bukan solusi terbaik, percayalah padaku,” Jiyoung merangkul bahu Nichkhun. “Sudah saatnya . . . kau menaruh hati pada gadis nyata dan mencurahkan perasaanmu dengan . . . cara yang benar dan lazim.”

Jiyoung menelan ludah dengan susah payah ketika menyelesaikan kata-katanya. Entah mengapa, dia membenci kenyataan bahwa kata-katanya terdengar seperti meminta Nichkhun melupakan gadis itu dan segera beralih ke gadis lain, sebagian besar dirinya mengajukan diri sendiri. Benar-benar menyedihkan.

Nichkhun menoleh, akhirnya memutuskan untuk menatap Jiyoung dan berhenti bertingkah seolah-olah ia adalah pemuda yang mengalami distorsi dan bicara pada dirinya sendiri seperti yang sejak tadi ia lakukan. “Sepertinya . . . kau benar.”

“Tentu saja,” Jiyoung menepuk bahu Nichkhun pelan. “Kau harus berjanji padaku untuk kembali normal dan berangkat kuliah mulai besok. Mengerti?”

Nichkhun terdiam sesaat sebelum mengangguk-angguk.

“Aku akan mencoba memasak sesuatu untukmu. Kau pasti belum makan sejak kemarin kan?” Jiyoung bangkit berdiri kemudian berjalan kearah dapur.

“Terimakasih,” Nichkhun berseru dengan suara serak ketika Jiyoung sedang mengeluarkan beberapa peralatan masak. “Untuk semuanya. Aku benar-benar menyayangimu, kau tahu. Aku banyak berhutang budi padamu.”

Gerakan tangan Jiyoung yang sedang meraih botol minyak goreng dari lemari penyimpanan terhenti. Nichkhun selalu jujur tentang perasaannya pada Jiyoung. Di satu sisi, faktor itulah yang membuat hubungan mereka selalu dekat hingga sekarang. Tetapi disisi yang lain, faktor itulah yang mengikat Jiyoung pada fakta bahwa setelah tahun-tahun persahabatan mereka berlalu hanya perasaannya sajalah yang berubah, tidak dengan Nichkhun.

Ϩ

 

“Bibi Kang benar-benar baik. Dia bahkan terkadang lebih perhatian dari ibuku sendiri.”

Jiyoung merubah posisi dari berbaring ke menumpukan dagunya di tangan sementara matanya mengikuti gerakan Tiffany yang terus melahap kue yang Jiyoung bawa dari rumah.

“Kemarin eomma bertemu dengan ibumu di salon,” ujar Jiyoung, sebelah tangannya mencomot kue dihadapannya. “Dari ibumu dia tahu kau sudah pindah ke apartemen baru yang cukup dekat dengan rumah kami dan langsung membuatkan kue-kue ini untukmu lalu menyuruhku datang berkunjung. Memangnya sudah berapa lama kau pindah kemari?”

Tiffany mengerutkan kening, tampak mengingat-ingat. “Sudah lama rasanya. Ini bulan keenam. Aku pindah kemari karena lebih dekat dengan rumah sakit tempat aku bekerja. Lagipula, kantor Siwon hanya beberapa blok dari sini.”

Jiyoung mengangguk-angguk. Tiffany adalah putri dari sahabat ibunya. Ia mengenal gadis itu sejak sekolah menengah atas di reuni universitas ibu mereka dan cukup akrab meskipun jarang bertemu. Mereka sebaya, tetapi karena Tiffany mengambil program akselerasi sejak sekolah menengah ia lulus lebih dulu dan sudah bekerja sebagai dokter. Bukankah Tiffany benar-benar sempurna? Cantik, pintar, berasal dari keluarga berada, memiliki sikap yang menyenangkan, dan memiliki pacar yang benar-benar mencintainya.

“Menyenangkan sekali punya pacar yang selalu dekat.”

“Memangnya kau tidak punya?” Tiffany tampak kaget. “Ibumu pernah bercerita bahwa sejak dulu kau selalu dikejar banyak laki-laki.”

“Aku juga menerima tawaran kencan dari beberapa diantaranya.”

Kerutan di kening Tiffany makin dalam. “Lalu?”

“Sayangnya, laki-laki yang benar-benar kusukai tidak ikut mengejarku.”

“Mungkin itu karma karena kau mempermainkan hati beberapa laki-laki,” canda Tiffany sambil terkikik geli. “Kau kan sebenarnya tahu pasti bahwa kau tidak menyukai mereka.”

Jiyoung mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merasa seperti baru saja di tampar dengan sangat keras.

“Oh, ayolah, aku hanya bercanda. Jangan terlalu diambil hati,” Tiffany bangkit berdiri kemudian sedikit meregangkan tubuhnya. “Aku mau ke kamar mandi dulu,” Tiffany menunjuk keluar kamar. “Kutinggal sebentar ya.”

Jiyoung masih terdiam ketika Tiffany sudah keluar dan menutup pintu kamarnya. Entah mengapa pikiran tentang karma membuatnya sedikit takut. Dengan gusar Jiyoung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras untuk mengembalikan akal sehatnya. Tentu saja bukan karma, ia hanya menerima tawaran kencan orang lain karena ingin memberi kesempatan, ia tak pernah bermaksud menyakiti atau mempermainkan mereka.

Jiyoung mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Tiffany. Mencari-cari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya dari urusan karma yang cukup menganggunya. Matanya menangkap kotak sepatu Dolce & Gabbana di kolong tempat tidur. Jiyoung meraih kotak sepatu tersebut dan memutuskan menganalisa selera Tiffany dalam memilih sepatu bisa cukup menarik perhatiannya sementara menunggu temannya itu kembali.

Mata Jiyoung membulat dan gadis itu langsung mendesah kecewa ketika mendapati ratusan lembar kertas-kertas bewarna kuning di dalam kotak itu alih-alih high heels koleksi terbaru Dolce & Gabbana seperti dalam bayangannya.

Dengan refleks, Jiyoung meraih salah satu kertas dan mulai membacanya. Tanpa sadar, tangannya keluar masuk kotak dan membaca belasan atau mungkin puluhan kertas yang ternyata merupakan sekumpulan sticky note.

Ada sesuatu yang terasa familiar. Jiyoung sampai membaca lebih banyak dan lebih banyak lagi untuk memastikan. Perasaannya makin menguat tetapi ia sama sekali tidak tahu faktor apa yang membuat sticky note tadi menggelitik rasa ingin tahunya.

Jiyoung mendongak ketika terdengar suara derit pintu dan Tiffany berjalan memasuki kamarnya.

“Oh, kau sedang membaca sticky note itu,” Tiffany menghenyakkan diri disamping Tiffany kemudian menata kembali sticky note yang terserak di karpet kamarnya.

“Siapa yang menulis ini?” Jiyoung memberanikan diri bertanya. “Siwon?”

Tiffany tertawa geli. “Tentu saja bukan. Dia tidak pernah punya banyak waktu untuk membuat hal-hal kecil seperti ini.”

“Lalu?”

“Dulu, ketika aku masih tinggal di apartemen lamaku, aku berlangganan susu sapi yang diantarkan setiap pagi,” Tiffany mulai menjelaskan. “Hampir setiap hari selalu ada sticky note semacam ini yang ditempelkan di botol susuku. Aku tidak tahu siapa, sepertinya petugas pengantarnya, yang pasti sticky note ini sangat berarti bagiku. Makanya aku selalu menyimpannya. Sayang sekali, sejak aku pindah tidak ada lagi sticky note yang menempel di botol susuku.”

Jiyoung tercenung sesaat, seakan-akan ada gong yang dipukul di dalam otaknya, menyadarkannya pada sesuatu. “Apartemen lamamu berada di wilayah mana?”

“Didekat Dosan Park.”

Mulut Jiyoung jatuh menganga. “Dosan Park?”

“Ya,” Tiffany mengangguk, tampak keheranan dengan ekspresi Jiyoung. “Ada masalah?”

“Ah, tidak,” Jiyoung menggeleng cepat, berharap tingkahnya tidak terlalu mencurigakan.

Tiffany menelengkan kepala, masih menatap Jiyoung dengan heran. “Oh ya, aku punya katalog Chanel terbaru. Kau mau lihat?”

Jiyoung yang sudah menguasai dirinya mengangguk. “Tentu saja.”

Sementara Tiffany merangkak ke meja riasnya untuk mengambil katalog yang dimaksudnya, Jiyoung diam-diam mengambil beberapa sticky note dan menyimpannya di kantong celana jeans-nya.

 

Ϩ

“Kenapa sih kau selalu terlambat setiap kita memiliki janji di pagi hari?” Jiyoung berkacak pinggang dengan kesal. “Menyebalkan sekali.”

Nichkhun yang baru saja tiba di kedai dakjuk tempat mereka memiliki janji untuk sarapan bersama menjawab dengan terengah-engah. “aku bekerja part-time tiap pagi.”

part time?”

“Aku menjadi pengantar susu tiap pagi.”

Alis Jiyoung terangkat. Nichkhun berasal dari keluarga cukup berada. Bahkan orangtuanya memberinya fasilitas mobil. Untuk apa Nichkhun mencari uang tambahan melalui part time?

“bekerja part time melatih kemandirian,” Nichkhun menjelaskan seakan-akan membaca pertanyaan yang terpeta diwajah Jiyoung. “Ahjumma!” pemuda itu memanggil seorang pelayan sambil melambai-lambaikan tangan. “Aku ingin memesan dakjuk dan segelas teh hijau.”

Pengantar susu, sticky note, dan apartemen di kawasan Dosan Park.

Nichkhun dan Tiffany.

Apakah ada sebuah kebetulan yang terasa lebih menyakitkan dari yang ia alami?

Jiyoung menegakkan tubuh kemudian turun dari tempat tidurnya. Ia harus memastikan. Masih ada kemungkinan bahwa ada pengantar susu lain selain Nichkhun yang mengantarkan susu atau tinggal di sekitar Dosan Park.

Dengan jantung yang berdebar-debar, Jiyoung mencari-cari buku catatan kuliah Nichkhun yang tertinggal kali terakhir pemuda itu berkunjung ke rumahnya diantara buku-bukunya sendiri diatas meja belajar. Ia menemukannya tak lama kemudian, sebuah buku tulis bersampul hijau tua.

Jiyoung menarik nafas dalam-dalam ketika membuka halaman pertama.

Identik.

Bahkan gaya khas Nichkhun dalam menulis dengan huruf yang agak miring dengan pena yang menekan kuat kertas hingga benar-benar membekas sama persis.

Nichkhun . . . Tiffany . . . Nichkhun . . . Tiffany . . .

Jiyoung mengulang dua nama itu berkali-kali dalam hati. Merasa semakin sakit ketika semakin banyak ia mengulang.

Dirinya sendiri, sahabatnya sejak kecil, dan putri teman ibunya.

Siapa yang pernah menyangka mereka bertiga dihubungkan oleh garis nasib seperti ini? Dengan Jiyoung sebagai yang paling mengetahui semuanya sekaligus yang paling merasa sakit.

Ϩ

“Oke, sampai jumpa besok,” Jiyoung tersenyum tipis dan melambaikan tangan kearah teman-temannya sementara mereka berpisah jalan. Jiyoung menuju pelataran parkir sementara teman-temannya pergi ke kafetaria kampus.

“Kang Jiyoung!”

Langkah Jiyoung terhenti seketika saat mendengar seseorang memanggil namanya. Tanpa menoleh pun dia sudah tahu siapa orang yang baru saja memanggilnya dan suara langkahnya terdengar mendekat.

“Hai, bagaimana kuliahmu?” Nichkhun merangkul leher Jiyoung kemudian setengah menarik gadis itu untuk berjalan. Sudah lebih dari setengah tahun berlalu sejak gadis yang disukai Nichkhun pergi dan pemuda itu sudah kembali senormal biasanya.

“Sama seperti biasa.”

Nichkhun mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyoung. “Wajahmu pucat sekali. Kantong matamu juga menghitam.”

Jiyoung mendorong wajah Nichkhun dengan telapak tangannya. “Banyak tugas.”

Tentu saja Jiyoung berbohong. Ia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hubungan antara dirinya, Tiffany, dan Nichkhun.

Berbagai pertanyaan terus bermunculan di otaknya dan makin banyak bermunculan ketika kini Nichkhun ada didekatnya.

Haruskah ia memberitahu Nichkhun bahwa ia mengenal Tiffany- gadis yang disukai Nichkhun selama ini? Haruskah ia memberitahu Nichkhun bahwa dia juga tahu tentang semua sticky note yang selalu ditempel pemuda itu di botol-botol susu milik Tiffany? Sebagian dari dirinya bersikeras untuk menyimpan itu sendiri, lagipula Tiffany sudah memiliki pacar, memberitahu Nichkhun hanya membuat pemuda itu makin sakit hati. Disisi lain ia ingin Nichkhun tahu yang sebenarnya karena Nichkhun adalah sahabatnya dan rasanya jahat sekali menyembunyikan fakta sebesar ini darinya. Tetapi, bukankah memberitahu Nichkhun sama dengan memberi akses langsung untuk pemuda itu untuk mengenal Tiffany darinya? Bagaimana jika suatu saat Tiffany putus, kemudian Nichkhun yang mengetahuinya mulai ‘bertindak’ dan . . . mereka bersama? Membayangkannya saja sudah membuat Jiyoung mual.

“Kau kenapa sih?” Nichkhun menatap Jiyoung dengan kesal, mereka sudah berdiri di depan mobil Jiyoung. “Tidak biasanya kau sediam ini.”

Jiyoung mengangkat wajahnya, menatap Nichkhun dengan mata berkaca-kaca dan kemudian tetes demi tetes airmatanya mulai jatuh hingga ia terisak-isak.

“Hei, Hei, apa yang terjadi?” Nichkhun tampak terkejut kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Jiyoung, sementara gadis itu menangis hingga tubuhnya gemetaran. Nichkhun menoleh ke sekeliling kemudian dengan sedikit ragu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

“Apa kau sakit?”

Jiyoung mengangguk-angguk.

“Oke. Kita harus ke dokter segera. Lebih baik kau menelepon salah satu sopir ayahmu untuk mengambil mobilmu karena sepertinya kau tidak dalam kondisi memungkinkan untuk menyetir.”

Jiyoung makin terisak. Yang ia butuhkan bukan dokter karena yang sakit adalah hatinya. Ia hanya butuh seseorang yang bisa memberitahunya apa yang harus ia lakukan dalam kebingungannya akan perasaannya sendiri.

Ϩ

3 years later

Jiyoung menatap punggung Nichkhun yang terus menjauh karena pemuda itu terus berlari sementara ia hanya berjalan pelan. Mengikutinya dari belakang.

Apakah yang ia lakukan baru saja sangatlah jahat?

Ia dan Nichkhun menjalani tahun-tahun mereka dalam kondisi yang normal dan sebaik yang bisa diharapkan setiap orang tentang gambaran kehidupan yang damai. Nichkhun tampaknya sudah melupakan Tiffany karena pemuda itu sibuk dengan pekerjaannya sebagai arsitek dan Jiyoung sendiri memutuskan menyimpan fakta tentang Tiffany bagi dirinya sendiri. Paling tidak sampai hari ini.

Tiffany akan menikah dua bulan lagi dan karena gadis itu memintanya secara khusus untuk menjadi wedding organizer­, Jiyoung memutuskan mempertemukan Tiffany dengan Nichkhun yang selama ini berperan aktif membantu usaha ­event planner miliknya. Biasanya dalam masalah dekorasi dan tata ruang.

Sebenarnya ia juga memiliki alasan lain. Ia ingin memberitahu Nichkhun secara tidak langsung bahwa ia harus benar-benar melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Tiffany lagi karena gadis itu sudah memiliki jalan hidupnya sendiri. Tanpa Nichkhun didalamnya. Selalu ada kemungkinan bahwa sebenarnya Nichkhun masih menyimpan harapan kecil terhadap Tiffany kan?

Dan prediksi Jiyoung tepat. Ia bisa membaca dengan jelas ekspresi Nichkhun saat bertatapan dengan Tiffany, gelagat Nichkhun yang pura-pura ke toilet, dan Nichkhun yang bertindak seperti anak kecil dengan berlari-lari di sepanjang halaman gereja karena ingin menghindari cecaran pertanyaannya.

Jiyoung sudah sampai di depan mobil Nichkhun. Pemuda itu menyandarkan punggungnya di tubuh mobil dengan tangan terselip disaku dan tatapan menerawang.

“Lihat, apa yang terjadi denganmu,” Jiyoung terkekeh geli sambil membersihkan daun-daun rontok yang menempel di rambut dan setelan Nichkhun.

Tangan Jiyoung naik ke bahu Nichkhun kemudian menepuknya ringan. Ia menelengkan kepalanya kemudian menatap Nichkhun tepat di manik matanya. “Proses pendewasaan diri memang terkadang terasa menyakitkan, bukan?”

Nichkhun mengerutkan kening seakan-akan berusaha memahami apa yang dikatakan Jiyoung barusan.

“Itu untuk kita berdua,” Jiyoung menambahkan dengan senyuman cerah.

Nichkhun membalas senyum Jiyoung. “Oke. Bagaimana jika kita segera masuk ke mobil dan berangkat? Aku benar-benar tidak nyaman dengan tatapan pelataran-gereja-bukanlah-tempat-yang-pantas-untuk-berpacaran yang ditunjukkan semua orang yang melihat kita.”

Ϩ

“Ada yang ingin kuberitahukan.”

Gerakan Jiyoung yang sedang menyuapkan kue ke mulutnya terhenti. “Apa?”

“Kau masih ingat tawaran beasiswa penuh S2 di Jerman yang ditawarkan padaku beberapa bulan lalu kan?” Nichkhun melipat tangannya diatas meja dengan ekspresi tenang yang entah mengapa membuat Jiyoung sedikit ketakutan. “Aku mencoba mengikuti seleksinya tanpa memberitahumu. Aku hanya coba-coba dan tidak terlalu berharap lolos karena saingannya begitu banyak. Tapi, dua minggu lalu aku mendapat surat yang menyatakan aku lolos. Aku baru bisa memberitahu sekarang karena kita sama-sama sibuk. Bagaimana menurutmu?”

Jiyoung mengerjap-ngerjapkan matanya seakan-akan ia baru saja membentur sesuatu dengan begitu keras hingga kepalanya terasa begitu pening. “Kau . . . Jerman . . . kapan?”

Nichkhun mengangkat alis. “Keberangkatanku? Aku berangkat minggu depan. Semua sudah diurus.”

Jiyoung memijit-mijit kepalanya dengan sebelah tangan. Nichkhun akan berangkat ke Jerman? Mereka akan berpisah berapa lama? Setahun? Dua tahun? Tiga tahun?

“Hei. Kau takut merindukanku ya?” canda Nichkhun sambil terkekeh geli. “Sekarang teknologi sudah maju. Kita bisa melakukan video chat atau bertukar e-mail. Sesering yang kita mau. Aku juga pasti akan merindukanmu.”

Jiyoung memaksakan tersenyum sementara matanya memanas. “tentu saja.”

Ϩ

a week later

“Jaga diri baik-baik dan berusahalah mengurangi kebiasaan manja dan merajukmu. Laki-laki tidak suka gadis yang suka merajuk juga manja.”

Jiyoung mendengus kesal. “Kau baru saja mengalami amnesia ya? Tampaknya kau lupa kau sudah menjadi kurir untuk banyak laki-laki lebih dari separo usia kita.”

“Aku ingat sih,” Nichkhun mengangkat bahu. “Sebagian besar dari mereka kan hanya menyukaimu karena kau cantik. Mereka tidak seperti aku yang sudah mengenalmu sejak kita kecil.”

Jiyoung mencelos. “Jadi . . . jika aku tidak begini . . . kau punya kemungkinan besar untuk menyukaiku?”

Nichkhun tertawa terbahak kemudian mengacak-acak rambut Jiyoung. “Aku selalu menyukaimu bagaimanapun sikapmu. Apa fakta bahwa aku sudah bertahan hidup bersamamu selama bertahun-tahun tidak cukup?

Bukan menyukai yang seperti ‘itu’.

“Terimakasih sudah menyempatkan datang,” Nichkhun merangkul Seulong, temannya sejak kuliah yang kini juga bekerja sebagai arsitek di perusahaan yang sama dengan Nichkhun. “Bisakah kau menjaga Jiyoung untukku?”

Jiyoung menatap Nichkhun dengan tajam. Dia kan sudah menolak berkali-kali setiap Nichkhun menyodor-nyodorkan Seulong untuknya.

Seulong tampak salah tingkah sebelum mengangguk. “Dia pasti akan baik-baik saja.”

“Aku masuk dulu,” Nichkhun mengedik ke pintu terminal keberangkatan. “Aku akan menghubungimu,” Nichkhun menatap Jiyoung. “begitu sampai disana.”

Jiyoung melambai-lambaikan tangan hingga Nichkhun menghilang dibalik pintu. Dan lagi-lagi matanya terasa memanas. Dia benar-benar benci setiap terpaksa buang-buang air mata demi pemuda menyebalkan itu.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

Jiyoung menoleh, menatap Seulong dengan raut kebingungan. “Bilang apa?”

“Kalau kau menyukainya.”

Mulut Jiyoung jatuh menganga. Bagaimana Seulong bisa tahu?

“Aku sudah melihat cara kalian berinteraksi sejak kita masih kuliah, Nichkhun pasti sudah memberitahumu kalau aku menyukaimu sejak lama kan, ” jelas Seulong, wajahnya merona merah. “Bahkan aku sebagai orang yang sama sekali tidak terlibat dalam hubungan kalian bisa tahu kau menyukainya hanya dari melihat sepintas. Pasti sudah lama sekali ya?”

“Sejak sekolah menengah.”

Seulong mengangkat alis. “Kenapa tidak pernah bilang?”

Jiyoung rasanya lebih memilih ditabrak seseorang dengan troli pengangkut koper sampai pingsan daripada menjawab pertanyaan Seulong yang sebenarnya sangat sederhana. Kini bahkan wajahnya dua kali lipat lebih merona daripada wajah Seulong.

“Perempuan . . .” Jiyoung kebingungan memilih kata-kata. “Rasanya . . . tidak etis ketika perempuan . . . menyatakan perasaan duluan.”

Seulong berdecak kesal. “Apa sih guna kaum feminis memperjuangkan kesetaraan gender ketika untuk urusan perasaan saja kalian merendahkan diri sendiri dan terus-terusan berdalih bahwa laki-laki lah yang harus melakukannya duluan. Sangat tidak setara bukan?”

Sekali lagi Jiyoung melongo. Mungkin jika kaum feminis yang dimaksud pemuda itu mendengar apa yang baru saja dikatakannya, wajah mereka pasti sudah serupa orang yang baru saja menelan makanan basi.

“Lagipula, kau sendiri yang membuat keadaan tidak adil untukmu,” Seulong meneruskan. “Coba jika kau mengakui perasaanmu dari dulu. Dari sejak sahabatmu itu belum punya obsesi aneh dengan gadis seberang apartemennya,” Seulong tersenyum tipis seakan-akan menikmati perubahan ekspresi Jiyoung. “Kau mungkin bisa membalikkan keadaan.”

Jiyoung tertawa sedih sambil menatap papan penunjuk jadwal keberangkatan. Pesawat Nichkhun sebentar lagi akan lepas landas. “Tidak akan ada keadaan yang berbalik. Aku bukan penumpang pesawat cinta.  Hanya karena aku yang lebih dulu memiliki tiket, Bukan berarti aku berhak meng-klaim kalau itu adalah kursiku. Hanya karena aku mengenalnya lebih dulu bukan berarti aku-lah yang seharusnya dia sukai. Mau tidak mau aku harus menerima bahwa kami punya jalan masing-masing. Tanpa satu sama lain ada didalamnya.”

“Aku mau pulang,” Jiyoung memecah keheningan diantara dirinya dan Seulong lalu memutuskan berjalan duluan. Ia masih memiliki janji dengan Tiffany untuk membahas tema pernikahannya setengah jam lagi.

“Mungkin akulah yang ada harusnya ada dijalanmu,” teriak Seulong sambil berjalan cepat untuk mengejar Jiyoung. membuat seluruh orang-orang di bandara menoleh dengan tatapan heran.

“Aku tidak pernah mempermasalahkan gadis yang suka manja dan merajuk seperti Nichkhun!”

Jiyoung mau tak mau tertawa terbahak-bahak tanpa menghentikan langkahnya.

Kepergian Nichkhun ke Jerman mungkin cara Tuhan mengatakan ini saatnya berbelok ke jalan lain setelah terus-terusan berputar dengan Nichkhun sebagai porosnya.

Hei, atau mungkin ia harus mempertimbangkan Seulong?

end

26 thoughts on “Love Plane (Side Story of Sticky Note)

  1. Hm, jadi ceritanya Seulong suka Jiyoung, Jiyoung suka Nichkhun, Nichkhun suka Tiffany, dan Tiffany suka Siwon? Muter-muter ya XD
    Ini open ending buat Jiyoung sama Seulong kan?
    Duh, berharap ada ‘side story’ side story-nya sticky note deh, Tiffany sama Khun bersatu gitu /maksa/ Oh tapi ngga apa-apa juga sih, karena memang di kenyataan ngga semuanya bisa berjalan sesuai dengan harapan .___.
    Keep writing ya! Ditunggu next FF 😀

    • Hoho. Sebenernya ini mau aku bikin two-shoots dengan tagline ‘unrequited’. Dua orang sahabat yang sama-sama mengalami cinta tak berbalas. Tapi, ternyata yah ujung-ujungnya aku bikin side story aja.
      Well, makasih udah baca. Aku seneng lho tiap baca nama kamu di notifikasi 🙂

  2. bagus thorrrr,,,,,, prok prok prok
    aku suka cara dan tata bahasa karyamu ini thor,
    mudah di cerna dan well done pokoknya,, 🙂
    hiks hiks memang menyedihkan seperti jiyoung ataupun nichkhun,,,
    pas ending pas dengerin Hoot-nya snsd,, pas juga thor buat backsong-y hehehe 🙂

  3. Awalnya agak kurang nangkep maksud dari judulnya (apalagi setelah baca previous story yang sama sekali ga berbau pesawat) dan, oh ternyata.

    Endingnya gak happy, tapi gak sad juga. Semacam disini jiyoung membawa pembaca untuk rela melepaskan cinta yang udah lama dipendam dan akhirnya gak kesampean. Dari pada kelamaan sakit karena mendam perasaan, melepaskan walaupun berat di awal adalah keputusan terbaik. Jadi ingat lagu Raisa “apalah arti menunggu” kkk.

    FF ini harus dibaca oleh orang-orang di luar sana yang masih belum bisa move on, keep writing;)

  4. hei ching ini bagus banget tapi sayang ceritanya gantung (lagi) berharap ada yg jadi sama nikunnya
    di tunggu karya selanjutnya ya 🙂

    • sori sebelumnya. dua cerita yang aku bikin (Sticky Note dan Love Plane) memang sengaja ga ber-ending bagus karena tagline-nya ‘unrequited’. well makasih udah nyempetin baca.

    • ini oneshot dan cuma side-story aja. kalo yang maksud kamu ceritanya Jiyoung – Seulong, aku ada rencana buat FF soal mereka. tapi ga ada kaitannya sama Love Plane.

    • sayangnya ga ada. karena ini sbenernya two-shoots (yang karena alasan tertentu aku bikin side story) 🙂
      kalo berkenan sih baca aja FF lain yang juga ku post disini 🙂

  5. rumit juga ya si Jiyoung nya.
    Ini gak ada lanjutan nya thor?padahal masih penasaran sama Jiyoung n Seulong =(

    Yaudah deh,ditunggu ff nya yang lain,Hwaiting!

  6. aigoo~~ kenapa FF author berhasil menjebakku >< ga pernah baca FF yang bisa bikin salah tebak kayak gini
    waktu baca sticky note aku kira bakal happy end dgn Khunfany didalamnya, eh ternyata ega T^T terus berusah menelusur lagi lewat love plane, akhirnya tahu kalo jiyong juga suka sama Nickhun dan uda yakin banget kalo Jiyong dan Nickhun bakal bersatu, ee ternyata salah lagi T^T /frustasi berat/.. meski akhirnya terasa gantung dgn Khun yang ga jadi sama siapa2 tp keren gila thor ceritanya 😀

  7. Author-nim, saya SUKA PAKE BANGET FF buatan author, pertama ga niat baca sebenarnya krn ngerasa pairing khun-jiyoung itu ga cocok abisnya dari dulu saya ngeshipnya KhunFany ._.v Ini gegara ada hubungannya sama sticky note juga sii jadinya pengen baca. kkk. DAN Ternyata setelah dibaca… wahhhh, KEREN!!!
    Tapi kesian juga si jiyoung T_T

    KEEP WRITING !!!

  8. Waaaa daebak chingu!!!
    Jiyoung sama seulong aja deh ._.
    Yg nickhun lanjut ceritanya pleaseeeeeew ^^

  9. Kenyataan emang pahit banget, ini beneran lebih masuk akal dari pada maksain main castnya nyatu padahal gak ada keinginan utk bersatu.
    Ff ini bikin inget masa lalu deh, *curcol

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s