Because It’s You (Saranghae) (Part 1)

ul-300x192

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 1

Author: Keyindra_94

Cast: Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior,

Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment.

Dont copy paste them without my permission.

So please don’t be a silent readers.

 

@*@*@*@*@*

Cinta itu adalah pilihan. Ketika cinta memilih, tak seorang pun dapat meolak ataupun mengmungkirinya.

Cinta berarti  berarti memilih setengah peran lanjutan dalam hidupmu. Ketika cinta yang telah dipilih memainkan perannya, maka kau hanya perlu mendalami dan memutuskan jika cinta itu kini berlabuh pada hidupmu.

*****

 

Jingga mewarnai langit sore, matahari telah berufuk dari arah timur menuju arah barat kembali pada peraduannya. Keadaan rumah berukuran kecil dan sederhana itu sepi, hanya dua kamar utama pintunya sudah tertutup sejak pagi. Sesosok wanita berumur 20 puluh tahun itu tengah asyik dengan dengan beberapa pakaian dan melipatnya untuk dimasukkan kedalam travel bag berukuran sedang.

Wanita itu, Kwon Yuri sesekali menyaksikan acara televisi yang ditayangkan dengan tangan yang sudah terbiasa untuk melipat pakaian. Tak akan ada waktu jika esok ia mengerjakan urusan packing, karena jadwal penerbangan pesawatnya pukul 8 tepat. Sebeanarnya terlalu berat saat ia harus meninggalkan seseorang dirumah kecil itu sendirian. Tapi apa mau dikata, sudah menjadi konsekuensi yang harus ia lakukan.

Kreeekk…terdengar pintu yang tepat berada disampingnya terbuka. Seorang yeoja kecil berjalan dengan langkah kaki kecilnya masuk dengan mata yang masih setengah terpejam.

“umma.” sebuah panggilan kecil seketika itu memecah konsentrasi Yuri dari kegiatan yang dilakukannya. Yuri menyapa yeoja kecil itu dengan seulas senyum tulus.

“hey, sayang. Sudah bangun chagi?.” Tanya Yuri seraya memeluk yeoja kecil itu lalu menciuminya gemas.

“aku lapar umma!.” gadis kecil itu tersenyum lucu terduduk dipangkuan Yuri dengan mulut kecilnya sesekali menguap, menandakan jika ia masih mengantuk.

“kajja. Kita makan ne?.” Seru Yuri yang langsung mengangkat yeoja kecilnya yang hampir berusia 5 tahun itu dan membawanya ke ruang makan.

“umma.” panggilnya sekali lagi. Gadis kecil bernama Kwon Hana itu memandang sang ibu, berusaha mengingat-ingat sesuatu.

“ne.”

“aah!. Bukankah besok umma pergi ke Jeju untuk pergi, ne?.” Celoteh gadis kecil itu sambil menyuapkan makanannya, mencoba mengingat kegiatan sang ibu.

“begitulah. Umma harus segera menyelesaikan pekerjaan sekaligus sekolah umma agar umma segera bekerja.” jelas Yuri tersenyum sambil mengacak pelan rambut putri kecilnya itu.

“hmm.. begitu umma. Apa umma tidak lelah?. Setiap hari umma pergi ke kampus untuk kuliah lalu setelah itu bekerja?. Bukankah besok pagi masih ada jeda sebelum umma berangkat?.” Rentetan pertanyaan keluar dari mulut kecil Hana yang hanya bisa membuat Yuri menghela napas panjang lalu kembali tersenyum menatap putri kecilnya itu. Tak seperti anak yang sama seperti usianya, Hana terlalu kritis untuk menanggapi sesuatu sehingga untuk menjawabnya pun butuh penjelasan sedetail mungkin.

Lagi-lagi Yuri tersenyum. Ia merasa jika badannya pun lelah. Tapi sekali lagi, ia harus konsekuen terhadap pekerjaan yang telah diambilnya. Suatu kesempatan besa jika ia bisa mengambil dan meng-handle pekerjaan ini. selain berpengaruh terhadap indeks prestasinya juga berpengaruh terhadap pekerjaan yang akan ia dapat setelah lulus nanti.

“jika Hana bilang umma lelah. Pasti umma sangat lelah. Tapi ini semua demi Hana. Bukankah Hana ingin sekolah yang tinggi dan meraih cita-ita Hana?. Untuk itu umma harus membiayai Hana untuk sekolah. Umma hanya minta Hana berdoa agar umma cepat lulus dari kuliah umma dan segera menjadi arsitek.” Tutur Yuri panjang lebar berusaha menjelaskan semuanya.

Tiba-tiba saja Hana mengingat sesuatu. Kini ia mengerti jika sang umma tidak hanya berusaha menjadi seorang yang total dengan apa yang ia kerjakan dan lakukan, namun ia juga selalu melandasi apa yang ia kerjakan dengan hati yang tulus. Yuri tidak peduli dengan pekerjaan yang melelahkan dan menuntut. Karena pada dasarnya ia hanya ingin membahagiakan putri kecilnya yang merupakan amanat yang telah ia terima dari seseorang yang berarti dalam hidupnya.

*****

—Incheon International Airport, Incheon. South Korea—

Bruk!.

Suara dentuman kecil seakan beradu akibat dua orang manusia tengah bertabrakan cukup kencang. Yeoja itu terjatuh dengan posisi terduduk, kaki yang menjadi tumpuannya pun kini berdenyut pelan merasakan sesuatu yang aneh pada sepatu yang ia kenakan. Diliriknya sebentar ternyata terpampang jelas jika high heels yang ia kenakan terlihat patah walaupun tak patah semua tapi ini cukup membuatnya seperti merasakan kakinya tampak patah. Sungguh ini bukan acara untuk menyambut seseorang yang akan tiba di Seoul dengan keadaan seperti ini.

“auuhh..” erangnya pelan sembari mencoba berdiri namun cukup sulit untuk melakukannya.

“Are You okay miss?. I’m so sorry.” Sesosok pria dengan pakaian mantel hitam dengan tas yang senada pula dengan warnanya bergelantung di bahu kirinya mencoba menawarkan tangannya untuk membantu yang dengan kesal yeoja itu menerimanya. Tangan kekar itu begitu kokoh ketika mengulur membantu untuk berdiri.

oh~ It’s Okay. No problem. Thank you Sir.” Ucapnya sedikit kesal karena akibat kejadian ini, mungkin saja seseorang yang menunggunya akan sedikit kecewa. Ia membungkukkan badan tanda meminta maaf atas kejadian yang tak disengaja tersebut.

Pria itu kemudian berjalan pelan menjauhinya lalu tak jauh dari hadapannya beberapa orang telah menanti kedatangannya. Pria itu kemudian kembali menoleh kearahnya sembari tersenyum manis, hingga membuat gadis itu mau tak mau membalas senyum pria itu, meski masih ada sedikit ketidakrelaan akibat sepatu mahal yang ia pakai patah akibat bertabrakan dengannya.

 

Sementara Itu…..

Seoul. Kota tempat berpijaknya kini. Sesosok namja keluar dari bandara dengan tas hitam bergelantung dibahu kanan-nya sambil mendorong sebuah rolling yang berisi tas – tas berat. Baru satu jam yang lalu ia tiba ditanah kelahirannya setelah hampir 8 tahun meninggalkan semua yang ada di Korea.

Namja itu terduduk di kursi ruang tunggu sambil sesekali melirik arloji yang melingkar ditangan kirinya dan dan tak lupa tangannya yang lain sedari tadi masih saja berkutat mengutak-atik I-Phone berwarna hitam miliknya.

“oppa!. Jongwoon oppa!.” Namja itu menoleh ketika mendengar namanya disebut seseorang cukup kencang. Cukup terdengar ditengah keriuhan bandara di sore hari.

Jongwoon membalikkan badannya dan melihat seorang wanita yang ia kenal melambaikan tangan kearahnya. Wanita itu pun tersenyum dan mencoba menghampiri pria tersebut serta ingin sejenak memeluknya dengan erat.

“Yoong-ah!.” ucapnya terharu.

“Ya!. Kim Jongwoon!. Kenapa masih terdiam disana?!.” Gadis bernama Im Yoona itu menggerutu kesal akibat seseorang yang ia panggil tak kunjung berjalan mendekatinya. Sementara ia masih sedikit kesusahan akibat high heels yang ia kenakan patah beberapa menit yang lalu.

“Bogoshipeo. Im Yoona.” Ujar lelaki itu didepannya seraya tersenyum lebar dan tak lama kemudian kembali memeluk Yoona begitu erat.

“akhirnya kau menyadari kehadiranku.” Keluhnya sembari menarik napas panjang lalu tertawa. “nado oppa. aku juga merindukanmu.” Balasnya.

Jongwoon lalu menarik koper yang ia bawa, hingga sebuah tangan melingkar dilengannya dan bersama-sama berjalan menuju parkir. Jongwoon tak henti-hentinya tertawa geli akibat melihat Yoona yang berjalan sedikit lucu.

Cukup lama mereka tak bertemu akibat Yoona yang sudah terlebih dahulu kembali ke Korea dari Amerika 2 tahun yang lalu akibat mengurus cabang perusahaan yang telah didirikan turun temurun yang didirikan oleh sang kakaek. Sementara Jongwoon melanjutkan study Magister-nya sebagai dokter spesialis bedah di Amerika.

Yoona tersenyum sendiri melihat sesosok pria yang selalu berada didekatnya. Berada didekatnya bukan berarti terdefinisi memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman, namun dalam artian mereka berdua telah saling mengenal dan dekat layaknya kekasih. tapi pada kenyataannya lelaki itu hanya menganggap Yoona tak lebih dari seorang sahabat atau layaknya adik kandungnya sendiri. Meskipun wanita itu menaruh hati pada sosok seorang Kim Jongwoon yang dikenalnya lebih dari 7 tahun itu.

Tanpa ia sadari jika kini dirinya terlampau jauh tertinggal oleh Jongwoon untuk keluar Airport . Bahkan kini ia melihat Jongwoon tengah memasukkan barangnya dibagasi mobil serta menaruh koper-koper disana. Tunggu dulu, sejak kapan ia memberikan kunci mobilnya pada Jongwoon hingga ia tak sadar jika Jongwoon kini tengah memasuki mobil tersebut.

“hati-hati. Jangan terlalu banyak berpikir ketika berjalan.” Suara itu kembali mengagetkan Yoona dari lamunannya. Pria itu. Sosok pria yang baru saja membuat sepatu kesayangannya patah kembali menegurnya. Bahkan kali ini pria itu tak menggunakan aksen english-nya. Yoona menoleh dan mendapati pria itu tersenyum manis berjalan kearahnya. Baru ia sadari jika pria itu sungguh sangat tampan dengan potongan rambut hitamnya yang terlihat sangat cocok dengannya.

“jeongsohamnida atas kejadian tadi. Aku duluan. Semoga di lain kesempatan kita dapat berjumpa lagi.” ujarnya menjauhi Yoona menuju sebuah black Audy dan masuk ke dalamnya.

“hei nona!. Apa kau mau kutinggalkan disini dan kuambil mobilmu ini?.” suara berat milik Jongwoon itu mau tak mau menyadarkan Yoona untuk segera berhenti menatap pria itu yang hilang seiring dengan menjauhnya mobil yang ia tumpangi itu, lalu mendekati Jongwoon dengan dengusan kesal.

*****

Yuri mendesah pelan menghembuskan napas panjang setelah sejak 15 menit yang lalu yang ia lakukan hanya melihat album foto anggota keluarganya. Membiarkan ibu jarinya bergerak memegang satu persatu orang yang tergambar dari dalam foto tersebut.

“oppa..waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa Hana sekarang sudah besar. Maafkan aku, jika belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Hana menggantikan sosok ibu kandungnya.” Lirihnya bergumam.

Ia merenungkan sesuatu, masa lalu yang membuatnya kembali menghela napas panjang. Tiba-tiba tubuhnya terlonjak kaget dalam duduknya. Ia merasakan sepasang tangan kecil memeluknya erat dari belakang. Ia merasakan jika tangan kecil itu memeluk lehernya hangat.

“Hana..” panggil Yuri dengan suara lirih namun bergetar.

“kenapa belum tidur Chagi?. Ini sudah malam. Bukankah besok Hana harus pergi sekolah?.” Yuri menarik Hana untuk duduk di pangkuannya, kedua tangan hangatnya memeluk gadis itu lalu menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri secara perlahan.

“seperti yang umma lihat. Malam ini Hana ingin tidur dengan umma. besok umma akan pergi ke Jeju meninggalkan Hana bersama Minho ahjussi dan Kristal ahjumma. Jebal..”

Hana memajukan bibirnya membentuk pout, “Aaah~! Umma, please?!. Malam ini saja. aku ingin melihat foto appa dan umma. Hana merindukan mereka berdua.”

Yuri idak akan bisa menolak jika putri kecilnya sudah memohon seperti itu, jadi gadis itu akhirnya hanya mampu mengiyakan saja. Keduanya beranjak dari ruangan tempat Yuri menatap foto besar keluarganya. Hana membuka pintu kamar sang ibu dengan wajah exited. Ia penasaran sekali, mungkin dalam kamar itu ia bisa menemukan foto ibunya, sosok yang sama sekali tidak diketahuinya sama sekali.

Ekspresi excited itu berubah datar ketika tidak ditemukannya satupun apa yang ia cari, tidak ada foto apapun di sana kecuali foto dirinya sewaktu bayi yang sedang dalam gendongan sang ayah dan bersama dengan Yuri.

“Hana-ya. Wae?.” Yuri tersadar seketika melihat perubahan air muka waja Hana. Matanya menilik segala sudut ruang mencoba menemukan apa yang membuat anaknya terlihat murung. “eodi umma?.”

Yuri mendadak menautkan alisnya, tak mengerti dengan pertanyaan sang putri. “mworago?.”

“umma..apakah umma menyimpan foto umma bersama appa saat aku masih kecil.” Lirih gadis kecil itu. Tiba-tiba saja gadis kecil itu memandang kosong semua yang ada didepan matanya. Sedetik kemudian tetesan air mata Hana tiba-tiba mengalir deras, ada kilatan kemarahan ketika matanya menatap sang ibu.

“kau sedang mencari apa chagi?.” Tanya Yuri.

“apa semuanya sudah tak ada lagi Yuri umma?.” Hana menatap Yuri dengan lirih.

“mworago Hana?. Umma tak mengerti apa yang Hana cari?.” Tanya Yuri sekali lagi.

“apa aku salah jika berharap hadiah ulang tahunku yang keenam nanti, aku ingin melihat foto umma Hana saja. tak perlu bertemu dengannya, Hana hanya ingin melihatnya serta melihat betapa cantiknya umma Hana. Dan apakah wajah Hana memang mirip dengan umma Hana Yuri umma?.”

Bagai dihantam batu besar pertanyaan itu tiba-tiba muncul dihadapan Yuri, Ia yakin jika suatu saat Hana pasti akan menanyakan semua ini terutama keberadaan sang ibu kandung.

Itu benar,Hana juga berhak tahu tentang ibunya namun selama ini, kenyataan itu selalu Yuri dan ayah Hana sendiri tutupi dari kenyataan. Semua ini juga demi kebaikan Hana, bila dia tahu ibunya pergi meninggalkan dirinya sewaktu kecil apakah anak itu masih sudi memanggil dia sebagai ‘eomma’?.

Tertegun Yuri atas pertanyaan dari putrinya itu. Ia lekas mendudukkan hana kembali dalam pangkuannya, lekas mengecup lembut puncak kepala Hana. “Nanti kalau Hana sudah dewasa Hana pasti mengerti. Hana akan tahu semuanya, namun bukan saat ini. Yakinlah jika Hana pasti akan bertemu dengan umma Hana.”

“benarkah Yuri umma?.”

“ne. Sekarang lebih baik Hana tidur. Umma harus bangun pagi sekali agar tidak telat untuk berangkat besok pagi.”

Kali ini Hana mengangguk. “Semoga dalam mimpi aku bertemu eomma dan bisa melihat betapa cantiknya umma Hana.” Harapnya.

Yuri mengangguk. Ia lekas mendekap erat dan hangat putrinya itu. Satu-satunya harta berharga yang ia miliki saat ini.

Malam ini, Yuri menangis. Rasa bersalahnya pada Hana dan frustasinya ia menyembunyikan semua tentang ibu dari gadis itu  semakin menjadi, kalau boleh ia meminta satu hal ia berharap ini hanya mimpi buruk dan saat ia bangun Donghae ada di sampingnya selaku ayah kandung Hana, tersenyum menenangkan seperti biasa. Tapi sekarang keadaannya berbeda, takdir berkata lain jika kini Donghae telah pegi meninggalkan putri kecilnya untuk selamanya.

Selang beberapa saat, Yuri mengeluarkan sesuatu dari laci meja nakasnya, sebuah foto berbingkai. Menampilkan sepasang pengantin, “haruskah kukatakan semua padanya Donghae oppa?. “ lirihnya. Mengatakan jika dia pergi hanya karena tak mau masa mudanya hancur akibat menikah dengan Donghae. Keegoisannya yang terlampau tinggi membuat ia benar-benar pergi meninggalkan Donghae dan juga bayinya.

“Donghae oppa. Kuatkan aku untuk membesarkan putrimu.” Lirihnya.

*****

Pagi menyapa memberi semangat untuk mengawali sebuah aktivitas apapun untuk setiap insan yang baru saja terbangun dari tidurnya. Suasana pagi hari membuka lembaran kisah dan cerita serta menggugah insan manusia menatap hari yang cerah untuk melakukan aktivitas bermanfaat. Energi pagi membangun opini untuk selalu mengawali sesuatu yang baik.

“pagi..” suara lembut dan merdu menapa Jongwoon yang baru saja membuka setengah dari matanya yang terpejam. Senyumnya pelan-peln  muncul ketika pandangannya bertemu dengan sosok sang ibu yang cantik sedang menyibak tirai jendela kamarnya.

“eomma..” panggilnya. Namja itu kemudian kembali menarik bed cover yang menutupi tubuhnya.

“hey. Kim Jongwoon. Cepat bangun!. Dan lekaslah pergi kerumah sakit untuk wawancara kerja. Appa menunggumu disana.”

Jongwoon mendengus kesal menenggelamkan wajahnya pada bantal kembali tanpa mempedulikan sang eomma. “aku saja belum 24 jam berada di Korea. Dan eomma sudah menyuruhku untuk pergi. Aigo~.”

“sudahlah. Cepat bangun!.   Pergi bekerjalah dan cari istri yang cantik sebagai menantu eomma!.” Yeoja paruh baya itu segera memukul kepala Jongwoon dengan bantal yang menganggur dan seketika itu sukses membuat Jongwoon tersadar sepenuhnya dari alam mimpinya.

Wanita paruh baya itu kembali mendengus kesal melihat putra sulungnya kembali pada kelakuan asalnya. Yeoja itu menyeriangai kecil menampakkan sebuah ide brilliant yang pasti akan sukses untuk membuat Jongwoon keluar dari tidurnya. “kau cepat bangun atau kau dikeluarkan dari penenerimaan warisan keluarga?!.” Ancamnya.

“what?!. It’s not fair for me!.” Ujarnya tak terima.

“30 menit tak keluar dari kamar warisan akan hangus saat ini juga!.”

“mworago?!.”

30 menit kemudian…

 

Dentingan sendok dan garpu beradu disebuah ruang makan bernuansa classic-modern, canda dan tawa mengiringi kebahagiaan sebuah keluarga. Jongwoon berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapi akhirnya dengan kesal duduk disamping sang dongsaeng yang notabene adalah dua orang calon eksekutif muda itu pewaris Kim Company tersebut.

“pagi Hyung. Bagaimana tidurmu nyenyak-kah?.” Tanya sang dongsaeng sambil menguyah roti isinya.

“kau pikirlah sendiri!. Apakah ada orang yang baru saja pulang dari perjalanan jauh belum genap 24 jam sudah disuruh untuk bekerja?.ckk..bahkan ibuku sendiri mengancamku.” decaknya kesal sambil memincingkan mata pada sang ibu.

“warisan hangus saat ini juga!.” Seloroh sang adik yang tak lain adalah Kim Ryewook itu. Sukses membuatnya tertawa keras. Tak kalah dengan sang yeodongsaeng yang tak kuat menahan tawa akibat lelucon itu.

“itu tak lucu!. Dan kalian berhenti mentertawaiku!. Kim Ryewook!. Kim Taeyeon!.” Sungut Jongwoon kesal.

“Hyung!. satu alasan yang mendasari eomma mengatakan itu padamu. Itu karena kau…”

“Aigoo~oppa. ternyata dokter bedah lulusan Standford University dengan predikat cumlaude tak sadar apa yang diinginkan eomma?.” Kali ini sang yeodongsaeng justru yang menggoda Jongwoon menyanggah ucapan adik lelaki Jongwoon tersebut.

“karena apa?.” Tantang Jongwoon.

“carilah istri Kim Jongwoon!.” Ujar sebuah suara tegas dari belakang.

*****

Jongwoon menyetir dengan perasaan kesal. Seharusnya ini merupakan salah satu hari bahagianya setelah selama 8 tahun jarang pulang ke Seoul. Terkadang Jongwoon hanya kembali ke Seoul saat libur panjang natal, itu pun atas paksaan sang yeodongsaeng, Kim Taeyeon yang sangat merindukannya. Tapi sekarang keadaannya berbeda. Bahkan sang eomma selalu memaksanya untuk segera mencari istri.

‘Kenapa hidupku selalu diatur dan penuh peraturan?.’

Pikiran Jongwoon melanglang buana melayang tak tentu arah. Diusianya yang menginjak 24 tahun itu pendidikan tinggi telah didapatnya namun hingga saat ini sosok seorang yeojachingu belum ia dapatkan.

‘Yeojachingu…istri..’

Huh… Jongwoon menghela napas pendeknya.

Pikirannya masih terpatri pada kejadian 10 tahun lalu, sesosok gadis kecil yang ia pernah temui waktu itu. Sosok yang membuatnya tak bisa melupakan wajah kecil nan cantik itu, meski waktu 10 tahun telah berlalu. Dan tanpa sengaja Jongwoon pun tersenyum  sendiri mengingat sosok gadis kecil itu, yang ia lupa akan namanya sendiri.

Bbbrrrrrraaaaaaakkkkkkk..

Ciiitt…

Reflek Jongwoon menginjak rem mobilnya dan terhenti seketika dari aktivitas melamunnya. Kenapa bisa terjadi seperti ini?. Jongwoon keluar dari mobil dan melihat kedepan bumper mobilnya. Terlihat sesosok gadis yang sudah tak sadarkan diri terkulai didepan mobil Jongwoon.

Ya Tuhan..sebenarnya apa yang telah dilakukan Jongwoon.

Dengan cepat dan raut muka panik segera Jongwoon membalikkan gadis yang sudah tak sadarkan diri itu. Dari dahinya tercucur darah yang cukup banyak. Mungkin akibat bersentuhan dengan aspal.

“nona..bangunlah!..bangunlah nona!.. apakah kau bisa mendengarkanku. Bangunlah.” Ucapnya  sambil menyentuh pipi gadis tersebut berharap dia akan sadar. Tapi naas dia tidak sadarkan diri juga.

Spontanitas tangan Jongwoon dengan cekatan memeriksa denyut nadi yang ada dileher gadis tersebut. Sedikit lega memang saat Jongwoon mengetahui gadis tersebut masih bernapas. Ia pun segera menggendong gadis tersebut masuk kedalam mobil serta dengan cepat ia melajukan mobilnya.

‘semoga Tuhan melindungimu nona dan maafkan atas kecerobohanku hingga membuat orang terluka seperti ini.’

“bertahanlah nona.”

@Hospital..

 

Perasaan kalut kini terus menghampiri Jongwoon, pikirannya harap-harap cemas menunggu berit mengenai keadaan gadis tersebut. Feeling Jongwoon yang seorang dokter mengatakan jika gadis itu hanya terkena luka kepala ringan, namun bukan berarti ia lekas tak bertanggung jawab atas perbutan yang mencelakai gadis tersebut. Baru kali ini ia menabrak seseorang. Ia sangat menyesali perbuatannya karena ia cenderung berkonsentrasi pada lamunannya.

“Jongwoon-ah..” panggil sebuah suara.

“bagaimana keadaanya abeojie?.” Tanya Jongwoon dengan raut muka cemas. Lelaki yang diketahui sebagai ayah Jongwoon tersebut menundukkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya kuat dan kembali menatap putra sulungnya tersebut. Ia benar-benar tegang sekarang.

“keadaanya tidak apa-apa. Dia hanya sedikit shock dan didahinya terdapat luka yang cukup parah. Tetapi sekarang dia sudah tertangani dan akan dibawa menuju rawat inap. Kita hanya tinggal menunggu sampai dia sadarkan diri.”

Tepat. Keadaan gadis itu memang baik-baik saja. Perasaan lega menghinggapi Jongwoon kembali mendengar jika gadis itu baik-baik saja. Ini ia ketahui saat gadis itu masih bernapas, meski keadaan gadis itu melemah akibat darah yang mengalir dari kepalanya.

“jelaskan sebenaranya apa yang terjadi sesungguhnya!.” Kilatan mata tajam kini seakan meng-interogasi Jongwoon dari sang ayah seolah meminta penjelasan bagaimana peristiwa itu terjadi.

*****

Yoona sedang berkonsentrasi dengan beberapa file ditangan dengan mata yang masih seksama untuk membaca, abersama seorang coordinator money of company. Ia menatap layar ponselnya. Dari sang kakek?. Yoona keluar dari ruangan tersebut untuk menerima telepon. “yeoboseo harabojie.” Sapanya ramah.

“oh. Ne Yoong. Harabojie ingin berbicara sebentar. Apa harabojie mengganggumu?.”

“aniyo. Aku baru saja selesai berdiskusi dengan Tuan Yoo. Katakanlah Harabojie!.”

“bisakah malam ini kau meluangkan waktumu sejenak untuk menghadiri makan malam bersama dengan keluarga Choi?.” Pinta sang kakek.

Keluarga Choi?. Selama ini bahkan Yoona tak mengetahui siapa keluarga yang merupakan relasi bisnis sang kakek. Entahlah.

“kau bisa berkenalan dan bertemu dengan putra mereka. tidak ada salahnya bukan kalian bisa saling bertukar pikiran tentang dunia bisnis dan arsitektur?.”

Yoona memutar bola matanya sejenak. Apakah ini salah satu trick acara perjodohan seperti itu?. Yoona mendengus pelan, sebegitu parahkah dirinya hingga harus dijodohkan?.

Harus ia akui memang. Hingga saat ini ia belum memiliki namjachingu, Bukan apa-apa, mungkin karena Yoona sudah menanamkan hatinya pada sosok yang ia kenal 5 tahun yang lalu. Sosok yang membuatnya jatuh cinta hingga saat ini. Kim Jongwoon, nama lelaki itu. Meski ia tahu jika perasaan namja itu tak lebih dari sebatas teman atau adiknya sendiri.

‘Berpikirah positif ImYoona. tak ada salahnya bukan.’

“tapi harbojie..”

“sudahlah Yoong. Anggap saja ini adalah acara makan malam biasa. Sama seperti makan malam bersama relasi bisnis keluarga kita.”

“ne..arraseo.” kali Yoona tak dapat membantah lagi ucapan sang kakek. Ia menghela napas panjang lalu membuangnya. Haruskah seperti ini?.

Kruuuukkkkk !!!.

Yoona merasakan sesuatu didalam perutnya. Sepertinya sudah tiba waktunya untuk mengisi asupan energi. Ah, ia lapar. Akhirnya sejanak Yoona memutuskan untuk pergi keluar meninggalkan kantor untuk sekedar ber-refreshing menghilangkan penat. Serta tak lupa, setidaknya ia bisa sedikit menghilangkan pikiran tentang perjodohan yang akan direncanakan oleh sang kakek.

@restaurant..

 

Suasana restaurant pada jam makan siang sudah berlalu sejak satu jam yang lalu, namun entah mengapa suasananya masih tampak terlihat ramai. Piring dan gelas mereka sudah kosong tapi mereka masih saja tetap bersendau gurau pasca mengisi energi mereka kembali.

Yoona menghembuskan napas panjang disaat perutnya sudah meraung-raung untuk diisi, ternyata kenyataannya justru ia harus mendengus kesal karena tempat duduk yang tersedia habis sudah.

“Maaf. Apa tidak ada meja lain?” tanyanya pada pelayan yang lewat.

“Maaf,nona. Tidak ada,”ujarnya.

Kembali mata Yoona memfokuskan pada beberapa kursi kosong yang mungkin saja dapat ditempati. Sungguh ia malas untuk mencari tempat makan lain. Dengan sedikit menurunka harga diri dan reputasinya sebagai CEO diperusahaan Yoona memberanikan diri untuk mendekati sosok namja tersebut. Haruskah ia duduk satu meja dengan orang asing tersebut?.

Tuhan semoga dia manusia baik hati !!! batinnya.

“Mianhae..,” Yoona berucap pelan seraya tersenyum. Sesaat kemusian namja itu menoleh, ia tengah ayik membaca daftar menu yang tertera dalam buku menu tersebut.

“ne..”

“bolehkah aku duduk disini?. Kebetulan meja yang lain sudah penuh.” Yoona tersenyum kecil dan kikuk memandang namja tersebut.

Namja itu terdiam sejenak lalu mengangguk. Senyumnya semakin lebar saat namja tersebut memperbolehkannya duduk dihadapannya. Rasanya memang aneh makan dengan orang asing begini tapi masa bodohlah !!!. Bahkan Yoona rela menurunkan derajatnya jika mengenai hal tentang makanan.

“Apa sudah siap untuk memesan? tanya waitress.”

“aku pesan Risotto Cheese dan ice vanilla late.”

“hmm..aku pesan spagetti ukuran large, Lemon Tea Ice dan Banana split.” Entah salah atau bukan, namja asing dihadapan Yoona terbengong seketika mendengar pesanan Yoona. Mungkin ia berpikir jika dia yeoja dengan porsi makan jumbo.

“Aku tidak menyangka dengan tubuh mungilmu itu nafsu makanmu begitu banyak,”ujarnya membuka pembicaraan mencoba mencairkan suasana.

ah, Naneun Im Yoona Imnida,” Yoona mengulurkan tangannya.

Choi Siwon Imnida,” namja itu membalas uluran tangannya.

Tak sampai sepuluh menit pesanan datang. mereka saling berkonsentrasi dengan makanan mereka masing-masing. Keheningan tercipta antara mereka berdua, yang ada hanya dentingan suara sendok dan garpu beradu dengan piring mereka masing-masing.

“sepertinya anda seorang eksekutif muda Im Yoona-sshi?.”

“seperti yang anda lihat. Aku masih belajar. Tentu anda belum pantas memanggil saya dengan sebutan eksekutif muda.”

Tiba-tiba ponsel milik Siwon berdering yang harus menyudahi acara pertemuannya dengan yeoja yang bernama Im Yoona tersebut, yang baru beberapa puluh menit lalu .

“Oh. Ada panggilan dari kantor. Aku pergi dahulu. Annyeong.” Siwon bangkit dari kursi lalu menghabiskan Vanilla Late-nya .

“Aku duluan Im Yoona-sshi. semuanya sudah kubayar. Dan salam kenal juga. Semoga lain kali kita bertemu kembali.” Ujarnya berpamitan.

“ne. Jeongmal Kamshamida.” Balas Yoona berterima kasih. Yah, walaupun dompetnya lebih dari cukup untuk membayar makanannya sendiri, tapi siapa sangka ia mendapatkan makan siangnya secara gratis. Diluar dugaan.

“chakkaman!.” Henti Yoona sesaat dengan ragu. “apa kita pernah bertemu sebelumnya tuan?.” Ujar Yoona ragu, pria itu tertawa pelan.

“menurut anda?.”

Siwon melambai dan tersenyum kearah Yoona. Sepertinya ada yang aneh saat ia bertemu dengan Siwon. Ia merasa jika tak asing dengan lelaki tersebut. Tapi dimanakah ia bertemu?.

*****

Next day….

 

Krieet…

Dengan perlahan Jongwoon membuka pintu ruangan sebuah ruangan VVIP rumah sakit tempat bekerjanya sekarang. Matanya menelingsik sesosok gadis yang masih terlelap diranjangnya.

Langkah pelan kakinya berjalan mendekati sosok gadis tersebut dan terduduk dikursi sebelah ranjangnya. Dengan seksama mata Jongwoon melihat dan memandangi sosok gadis tersebut. Kalau diperhatikan ternyata gadis tersebut terlihat cantik, ketika tidurpun dia sangat cantik, apalagi bila dia sudah bangun. Hanya saja yang sangat disayangkan luka di dahinya menghalangi keutuhan cantiknya. Luka didahinya itu seakan menjadi penghalang kecantikan yang terpancar dari paras cantiknya, terlebih lagi ia terluka karenanya.

“eeeuungghh..” sebuah suara kecil berhasil membuyarkan Jongwoon yang kini tengah menatap jendela besar didalam ruangan rumah sakit hanya untuk sekedar menikmati pemndangan kota Seoul yang sudah la ia tinggalkan.

“no..na?.”

Yeoja itu berusaha untuk membangunkan dirinya untuk duduk dan tersenyum menatap Jongwoon

“gwenchana?. Chankamman. Sebentar aku periksa dahulu.” Ujar lelaki itu.

Gadis itu memandang pria berjas putih yang kini memeriksanya. Ia tak kenal siapa pria tersebut. Namun pikirannya kembali mengingat kejadian kemarin saat ia baru saja akan pergi menuju Jeju. Ia sangat tergesa-gesa karena tak mau tertinggal oleh pesawat. Pada saat itu ia tak memperhatikan situasi dan kondisi disekitarnya dan beberapa hal yang mengusik pikirannya.

“kau tak apa-apa. Apa kepalamu masih sakit?.” Tanya Jongwoon bertubi-tubi.

“aniyo.” Jawab yeoja tersebut melihat seksama wajah Jongwoon. Terlihat sangat dimatanya jika Jongwoon adalah sosok seorang lelaki tampan dan berkharisma, lebih tepatnya gentleman.

“kau sudah boleh pulang besok jika keadaanmu sudah stabil. Dan nona jangan terlalu banyak pikiran karena itu akan membuat kesehatanmu terganggu.”

Bingo…

Jawaban Jongwoon spontan membuat Yuri menciutkan pemikirannya jika kini ia tengah ketahuan terlalu banyak pikiran yang harus ia pikirkan.

“kamshahamnida dokter.” Ucap yeoja itu. Sesaat kemudian Jongwoon menatapnya dengan penuh penyesalan. Ia tahu arti tatapan itu.

“Jeongsohamnida atas semuanya, ini semua karena ke…”

“Aniyo, Gwenchana aku tidak apa-apa.” Potongnya cepat. Sungguh ia tidak kuat melihat tatapan mata Jongwoon ditambah dengan wajahnya yang sangat tampan membuatnya menjadi kikuk dengan sendirinya.

“Jinjjayo? tapi aku sudah menabrakmu kemarin?.”

“Gwenchana, sudahlah lupakan kejadian kemarin. aku juga meminta maaf padamu karena aku tidak hati-hati ketika menyebrang.”

“euhmm..Naneun Kim Jongwoon imnida.” Ucapnya sambil mengarahkan tangan padanya, dia menyambut jabatan tangan Jongwoon dengan senyumannya yang sangat manis.

“ahhh..ne. aku lupa mengenalkan namaku. Joneun Kwon Yuri Imnida.” Balas Yuri tulus.

*****

Entahlah siapa sangka sepanjang jalan melewati koridor rumah sakit Jongwoon tersenyum sendiri mengingat perkenalannya dengan yeoja bernama Kwon Yuri itu. Dia cantik, Jongwoon mengakui itu. Lucu memang, selama ini yang ia ketahui jika hanya ada 2 orang yeoja yang dekat dengannya. Kim Taeyeon selaku dongsaengnya serta Im Yoona yang merupakan sahabatnya. Namun kali ini berbeda, ia bertemu dengan sesosok gadis cantik lain. Kwon Yuri.

Sejenak Jongwoon bersandar pada kursi kerjanya sambil melepas rasa lelah yang mendera. Meski ia tak henti-hentinya tersenyum akibat pertemuannya dengan Yuri.

Tok~Tok~Tok~

“masuklah.” Ucapnya tersadar dari lamunannya. Ia kembali berucap pelan namun tegas.

“Annyeong haseyo Jongwoon oppa.” Sesosok yeoja tinggi masuk kedalam ruangan Jongwoon dan menutup pintunya kembali.

“Yoong. Ada apa kau kemari?.” tanya Jongwoon.

“Aku hanya ingin mengantarkan makan siang untukmu. Kau pasti belum makan bukan?.” tanya Yoona.

“Eotteokhae arayo. Aku sangat lapar.”

“sepertinya kau sangat senang hari ini oppa?.” tanya Yoona yang melihat raut muka Jongwoon berseri.

“waeyo?. Ada yang salah denganku?.”

“ku dengar dari Ryewook oppa. Nyonya Kim sedang mencari sosok seorang menantu?.” Goda Yoona tersenyum jahil, meski ia berharap sangat akan sosok yang akan dicari oleh Jongwoon.

“bahkan eomma mengancamku untuk tak memberikanku jatah warisannya.” Raut wajah Jongwoon mendadak berubah menjad kesal saat ia mengingat perkataan sang eomma.

“jadi..bolehkah aku melamar untuk menjadi salah satu diantaranya.” Masih dengan jahil Yoona menggoda Jongwoon.

“ya!. Im Yoona-sshi kau jangan memperkeruh suasana saja. Jika kau berani bersekutu dengan eomma-ku. Awas saja kau!..” Ancam Jongwoon yang mau tak mau membuat Yoona tertawa meledak.

“Itu tak mungkin Yoong, karena kau adalah sahabatku aku tak mungkin mencintaimu.” Lanjutnya sekali lagi, yang mungkin membuat Yoona sedikit tertohok hatinya mendengar ucapan tersebut.

..Harabojie calling..

Ponsel tersebut sukses membuat pembicaraan antara mereka berdua. Yoona melirik ponselnya sebentar lantas menerima panggilan tersebut.

“ne. Harabojie..”

“…..”

“arraseo. Akan aku usahakan.” Yoona mendengus pelan mendengarkan ceramah sang kakek.

Klik.. sambungan telepon terputus.

“waeyo?.”

“sepertinya kita senasib oppa. Harabojie memintaku untuk bertemu dengan relasi bisnisnya. Dan sepertinya ini cara harabojie untuk menjodohkanku dengan seseorang.”

“ternyata  bukan hanya aku saja yang menderita.” Seringai Jongwoon jahil, mendesah pelan.

*****

Yuri melangkah pelan sedikit tergesa menuju sebuah ruangan, ia harap ia bisa pulang sore ini juga. Beberapa menit yang lalu Jung Kristal memberi tahu jika putri kecilnya Hana, tengah sakit. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, sementara acaranya untuk pergi ke Jeju untuk suatu program kerja gagal total hanya musibah kecelakaan yang menimpanya. Terlebih lagi kini ia menjadi lebih khawatir saat Hana sakit.

Tok..tok..tokk..

“masuklah!.” Perintah suara bass dari dalam.

“ne. Annyeong Kim Jongwoon uisa-nim. Mianhae mengganggu. Bisakah saya berbicara sebentar pada anda?.” Lontaran perkataan yang terkesan bertubi-tubi dan tergesa tersebut membuat Jongwoon mengkerutkan keningnya.

“dudukalah sebentar nona Kwon!.” Perintah Jongwoon.

“bolehkah saya mengajukan permintaan pada anda?!.” Pinta Yuri.

“permintaan?.”

“bukankah anda mengatakan jika kondisi saya sudah membaik. Apa saya boleh pulang sekarang juga?!.” Pinta Yuri terkesan mendadak. Terpampang jelas raut wajahnya yang terlihat panik karena sesuatu.

“maksudmu?. Kenapa mendadak sekali?.” Tanya Jongwoon tak mengerti.

“mianhae..jeongmal mianhae. Uisa-nim. Aku harus pulang secepatnya karena seseorang sedang menungguku. Ini darurat sekali.” Pintanya sekali lagi.

Dalam hati Yuri merasakan kecemasan dan rasa panik yang begitu besar terhadap keadaan Hana kini.

Jongwoon memandang yeoja didepannya itu terlihat bingung. Belum sempat ia membuka suara Yuri sudah kembali memotongnya. Ujarnya lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.

“tunggu dulu nona Kwon!.” Tangan Jongwoon terulur menggapai tangan Yuri, mencoba menahan wanita itu agar tidak tergesa dalam bertindak.

“aku harus bertanggung jawab atas dirimu. Jadi jika kau memaksakan diri untuk pulang?!. Aku mengizinkanmu. Namun ada satu syarat. Aku yang akan mengantarmu pulang sebagai permohonan maafku.”

“ah. ne. Anda tidak usah merepotkan diri anda untuk sekedar mengantarkan saya.” Tolak Yuri halus, meski terkesan canggung diantara mereka berdua.

“gwenchanayo.”

*****

sepertinya ada yang tertinggal

Yoona bergumam pelan seraya satu tangan yang lain mengaduk- aduk isi tas yang dipegangnya. Ia rasa sepertinya ponsel yang biasa ia pakai tertinggal disuatu tempat.

Yeah. Ponsel tersebut kemungkinan tertinggal diruangan Jongwoon saat mereka berdua sedang makan siang bersama.

Dengan gerak cepat sambil sesekali melirik arloji yang kini melingkar ditanggannya. Yoona berjalan kembali menuju ruangan Jongwoon.

Shitt…brukk..

Ia merasakan jika kini tengah menabrak sesuatu hingga ia bisa merasakan seseorang yang ia tabrak seketika itu jatuh kearah depan dan terjembab dengan siku yang menumpu tubuhnya.

“Akkh..” rintih seorang yeoja  yang ia tabrak,  baru saja keluar dari ruangan dokter Kim Jongwoon. Yoona  segera membantu Yeoja itu untuk berdiri. Tanpa sadar ia  menerima uluran tangan Yoona tersebut dan mencoba mendongakkan kepalanya.

Beberapa detik pandangan mata yeoja tersebut tak berlih pandang menatap raut wajah Yoona yang tak asing baginya hingga saat ini. yeoja itu diam terpaku melihat sosok seorang Yoona didepan matanya tersebut.

“Kwon Yuri-sshi. gwenchanayo?.” Ujar seseorang dari belakang yang melihat Yuri kini tengah mencoba untuk berdiri dari jatuhnya.

Degup jantung Yuri tiba-tiba berdetak kencang saat melihat yeoja yang sedang menolongnya. Shock. Satu kata itu yang tergambar saat Yoona memandang seksama Yuri begitu juga kini Yuri yang saling memandang.

“oppa. Jongwoon oppa.” Yoona melihat jika kini Jongwoon berada didepannya.

Mendadak tangan Yuri bergetar hebat, wajahnya pias diselingi keringat dingin yang mengaliri pelipisnya menatap tak percaya pada apa yang ada di depannya saat ini. Yeoja itu. Yeoja itu, ia tak akan pernah melupakan yeoja itu.

Sesaat kemudian Yuri terdiam ketika Yoona menoleh padanya dan menatap kearahnya.

Tidak mungkin.

Sosok Yoona masih melihat kearah Yuri dengan raut wajah bingung.

“Yoona-sshi Itu tak mungkin dirimu.

“tidak mungkin.”

*****

—TBC—

Hola..hola.. I’ll back dengan cerita baru. Gaje ya?….#readers: emang. Maaf banget kemaren sempet hiatus sekitar 3 minggu karena statusku sebagai mahasiswa yang dituntut kewajibanya untuk melaksanankan UTS.

Jeomal mianhae baru sempat update ff ancur bin absurd sepeti ini. oke deh untuk kali ini aku ga tahu gimana reaksi readers tentang jalan ceritanya. Entah sesuai keinginan readers atau nggak. Untuk kali aku mencoba nge-mix 2 couple dalam cinta segi 4. Entahlah akhirnya jadi apa aku sendiri gak tahu. Jadi author mohon jangan ada comment yang cenderung meminta 1 couple untuk dilebihkan scene-nya.

Terima kasih untuk ketersediannya membaca dan menghargai karya kami.

 

Gamshamida.

Advertisements

119 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) (Part 1)

  1. Hana itu anak tirinya Yuri ? terus siapa ibunya ? Woow Dokter Kim Jongwoon mulai Terpesona sama Yuri Eomma :d

  2. Kyaa keren ffnya eonn^^
    Kyknya disini yoong eonnie rada jahat ya.. Kalo menurut tekatekiku, hana ank yoong eonni._. Tapi entahlah, ditunggu lohh kelanjutannya eonn.. Fighting^^

  3. Annyeong aku reader baru 😀
    Lgi nyari ff cast.a Yesung-Yuri.. eehh nyasar kesini ^^
    DAEBAKK… FF-nya. Kaya.a bkln jdi cinta segi empat yg rumit #sotoy 😛

  4. wah ff yulsung lg, suka dgn pairing ini, stlh bc stay with one love tentang keluarga kecil, lucu & bahagia mereka, eh ad lg pairingnya, suka banget, pasti seru ceritanya, hehehehe

  5. Haiiii… Aq Lia… Readers aru d blog ini…
    Ini kyaknya ud lama bget ya ff nya…
    Kira2 author nya masi ad gag ya…
    Dri yg aq liat ffnya masi byak yg belom ending…
    Semoga d selesai kan semua yah ff nya…
    Bias soshi ku yoonyul bias suju ku kyuhaewon…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s