[FF Freelance] Forever Wishes (Part 2)

forever-whises

 

Judul : Forever Wishes (2nd step)

Author : Yufikee

Casts : Kim Taeyeon (GG), Kris Wu (EXO-M), Byun Baekhyun (EXO-K)

Support : Tiffany Hwang (GG) , Xiumin Kim (EXO-M), Tao Huang (EXO-M)

Genre : Romance, Hurt, comedy

Rating : PG 15

Lenght : Series

Poster : Koala Art ^^

Disclaimer : ini ff terinpirasi dari berbagai bidang dan sampai sekarang saya bingung nentuin main cast namjanya siapa

Previous part: Part 1

===

Author’s POV

:: Bobs Hotel Beijing @ 12 PM ::

Keluarga Wu telah menjadi perbincangan hangat untuk para tamu yang di undang. Bisikan-bisikan mengejek dan rasa iba pun hadir dan masuk ketelinga keluarga Wu. Kakek yang sedari tadi mencoba mengendalikan kondisinya kini tampak tak bisa lagi. wajahnya sudah memerah menahan malu dan juga marah besar kepada cucunya yang melarikan diri, Kris Wu.

Berbeda dengan Tiffany yang sudah berlari memasuki ruangannya berganti pakaian. Gadis itu menangis dan berlari memasuki ruangan tersebut. Bermacam sumpah serapah telah diucapkannya untuk pria sialan yang sudah membuatnya malu tak berdaya. Maskaranya mulai luntur akibat tangisnya sendiri.

“Sialan kau Kris, aku benar-benar membencimu” kalimat itu sudah ratusan kali keluar dari mulut manisnya.

Segera di lapnya air matanya. Tiffany nampak sangat berang. Dengan kasar ia melepaskan gaun pernikahannya dan menggantinya dengan gaun casual miliknya sebelumnya. Ia tak sanggup lagi untuk berhadapan dengan tamu undangan yang telah menggunjingnyadan juga mengasihaninya. Tiffany benar-benar malu.

Di ruangan berbeda, tampak Xiumin yang sedari tadi tak lupa dengan senyumannya. Matanya yang sipit semakin tak terlihat akibat senyuman yang tak lepas dari wajahnya. Idenya yang membuat semua kekacauan ini. Tapi ia juga membanggakan idenya tersebut.

“Dia ke Seoul?”

Sayup-sayup Xiumin mendengar sebuah suara yang tengah berbisik. Dengan hati-hati ia mencoba menguping pembicaraan tersebut. Xiumin kenal betul dengan pemilik suara ini. Kakek Wu

“cari kesemua hotel dan motel yang ada di Seoul, aku ingin memberi pelajaran untuk si bangsat itu” suara marah tertahan itu terdengar mengerikan di telinga Xiumin. Pria ini sampai menelan ludahnya perlahan. Perasaan khawatir dan takut mulai menghampirinya. Ia sudah tahu pasti Kakek Wu mempunyai pasukan yang sangat sigap dan entah kenapa Xiumin melupakan itu semua.

Segera namja itu mengeluarkan iPhonenya dan mengirim email untuk seseorang yang dalam bahaya tersebut.Kris Wu

‘Jangan menginap di Hotel atau sejenisnya, Kakekmu itu sudah memblokir seluruh penginapan yang ada disana. Cari tempat lain dan aman!’

===

Taeyeon’s POV

:: Incheon Airport @ 12.30 PM ::

Suasana tegang dan takut mulai mengelilingiku saat ini. Jantung dan aliran darahku pun saling berpacu. Berhadapan dengan pimpinan dalam sebuah kasus memang begitu mengerikan, apalagi mengingat statusku sebagai pegawai ganti yang baru saja bekerja selama dua hari kurang. Keringat dingin mengalir begitu saja di dahiku.

“Kenapa kau begitu emosi? Apa sebelum kau masuk kesini belum membaca dan mendapatkan suruhan untuk ramah dan sopan kepada semua orang di bandara, hah?” kalimat ketus dan tajam itu menghantam telinga Taeyeon. ini adalah kali ketiga pimpinan Jang mengatakan kalimat yang sama. Andai saja pimpinan Jang melihat situasi saat itu mungkin ia tak akan seterpuruk ini.

Aku mencoba menjawab dengan jantung yang masih berdebar kencang karena ketakutan. Dengan mengumpulkan seluruh tenaga yang kupunya, aku menatap pimpinan Jang dengan hati-hati.

“Aku benar-benar menyesal, aku tak bermaksud menyiramnya itu semua tindakan refleks”

Aku memaki driku sendiri di dalam hati ‘Alasan konyol apa itu?’

Seringaian pimpinan Jang keluar “Refleks? Kau ini aneh sekali, Taeyeon-ssi”

“Tuan itu bermaksud melakukan sesuatu yang akan merugikanku, sehingga aku harus melakukan tindakan tersebut. Aku sudah meminta maaf padanya berkali-kali tapi tuan itu tak mau menerimanya dan akhirnya aku berkelahi dengannya, pimpinan Jang” aku berusaha mengeluarkan kata-kata yang ada di kepalaku saat ini juga. Aku tak mau kehilangan pekerjaanku begitu saja hanya karena pria gila itu. Tidak akan.

“Apa maksudmu, Taeyeon-ssi? Kau kira aku akan melakukan apa padamu,hah?”

Sebuah suara yang saat ini masuk ketelingaku benar-benar membuatku muak. Jika saja tak ada pimpinan Jang saat ini, aku akan melakukan hal yang lebih daripada menyiramnya. Dapat kulihat pria itu berjalan mendekati meja tempatku dan juga pimpinan Jang. Ia telah berganti pakaian dengan t-shirt bewarna coklat gelap dan celana jeans selutut. Kulihat ia juga mengambil posisi dengan duduk di samping kursiku.

“Sebelumnya aku minta maaf karena telah menyebabkan kekacauan di bandara ini. Tapi ini semua kau lakukan untuk memperbaiki dan membuang orang-orang yang tak berguna di bandara ini”

Aku tercengang mendengar kalimatnya yang panjang tersebut. Jadi, dia berpikir aku ini harus di buang dari bandara?. Sialan.

“Tuan, aku sungguh minta maaf padamu. Taeyeon-ssi pegawai baru disini, jadi ia masih tak paham dengan aturan di sini”

Pimpinan Jang bangkit dari duduknya dan membungkuk dalam kepada pria jangkung ini. Melihat hal itu aku semakin merasa bersalah kepada pimpinan Jang.

“Aku akan memaafkan semua ini jika–.” Perkataan pria itu terputus, saat sesuuatu yang berada dalam genggamannya berbunyi. Ponselnya baru saja berbunyi dan dengan segera ia keluar dari ruangan tersebut. Sepertinya itu panggilan penting

Pimpinan Jang telah duduk kembali ke kursi jabatannya. “Taeyeon-ssi dengan terpaksa, sepertinya kau harus memecatmu saat ini juga. Kau bisa meminta gajimu kepada Kwon ahjussi. Dan silahkan keluar”

Perkataan dengan nada ringan dan rendah itu lebih mengerikan daripada saat pimpinan Jang menghardikku tadi.  Mataku membulat. ‘apa aku di pecat?’

Aku tak boleh menyerah, aku tak bisa melepaskan pekerjaan yang benar-benar aku butuhkan. Aku rela jika kaki harus diatas dan kepala harus di bawah aku siap agar aku tak kehilangan pekerjaanku.

“Pimpinan Jang, kumohon jangan seperti itu. Aku akan meminta maaf ribuan kali kepada tuan tadi, aku bahkan rela membersihkan seluruh sudut bandara ini sendirian tanpa harus di gaji, aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini, pimpina”

Tanpa sadar air mataku telah membendung. Sekuat tenaga aku tahan agar air mata ini tak jatuh. Aku tak boleh cengeng.

“Aku tak bisa, Taeyeon-ssi. Itu putusan terakhir dariku” seketika itu juga tulangku serasa melunak dan tak bertenaga. Bagaimana ini?

 

Kris’s POV

Berkali-kali aku membaca email yang baru saja aku terima dari Xiumin Hyung. Pesan itu benar-benat membuatku gelisah. Betapa bodohnya kau melupakan kecerdikan kakek yang memang di atas rata-rata.

Aku memijat keningku dengan pelan. Aku tak bisa menginap di hotel ataupun penginapan lainnya. Jika aku harus menginap di salah satu rekan kerjaku, aku pasti akan mudah sekali tertangkap.

“Arggghhh.. sial, kenapa jadi kacau seperti ini?” teriakku tak karuan. Kulihat orang-orang menatapku aneh. Aku tak mempedulikan hal itu. Aku  benar-benar harus berpikir keras agar tak ditemukan oleh kakek. Aku harus bisa.

Aku yang tengah berpikir keras. Tiba-tiba aku menjadi bingung saat mendengar suara tangis yang begitu mengerikan. ‘Hei, ini masih siang, tak mungkin hantu-hantu sudah berkeliaran’

Dengan rasa penasaran dan takut aku menoleh hendak mencari asal suara tangisan itu. Aku terkejut saat mengetahui gadis kebersihan itu tengah berjalan ke arahku dengan tangisan yang tak di hentikannya. Orang-orang yang lewat pun menatapnya dengan tatapan iba dan mengejek.

“Tuan, kenapa anda begitu jahat padaku? Bukankah aku sudah minta maaf, tapi anda sendiri yang hendak melawanku. Dan akibatnya aku harus kehilangan pekerjaanku yang baru berjalan selama dua hari. Kau tahu aku sangat membutuhkan pekerjaan dan dengan mudahnya kau menghancurkan semuanya”

Gadis itu berucap sambil tersedu akibat tangisannya. Aku dapat menyimpulkan gadis ini baru saja di pecat. Pihak bandara memang mengambil keputusan yang tepat. Yaitu dengan memecat gadis ceroboh dan arogan ini.

“Sudah seharusnya seperti itu, nona” aku yang tak peduli hanya menjawab apa adanya.

Matanya memerah dan semakin memerah saat ku ucapkan kalimat tadi. Tatapannya begitu tajam. Dan aku akui ia memiliki mata yang bagus.

“YA! Kau orang terkejam yang pernah aku temui! Aku bersumpah tak akan mau mempunyai suami sepertimu!”

Aku menaikkan sebelah alisku. Sumpah aneh apa itu?. Aku yang tampan ini mana mungkin mau dengan seorang gadis kebersihan dan juga pendek sepertinya. Walaupun ia cukup manis. Tapi mengingat sifatnya yang arogan aku yakin tak ada yang mau dengannya.

“Apa maksudmu mengatakan seperti itu?”

Dengan sigap ia menghapus air matanya dan langsung menatapku tajam. Aku pun membalas dengan berani tanpa takut sedikitpun. Dia kira dia siapa? Dia hanya gadis pendek yang ceroboh.

“Aku dipecat dan itu semua karena anda Tuan” hardiknya keras. Bahkan mata orang yang lewat memandang ke arah kami yang menjadi pusat perhatian.

Aku terkekeh kecil mendengar ucapannya. Aku tak lupa menyunggingkan sebuah senyuman sinis untuk gadis ini.

“Bukankah aku sudah mengatakannya tadi bahwa kau pantas menerimanya, nona”

Kulihat raut kesalnya semakin meningkat. Aku semakin senang melihat wajahnya yang merah padam karena menahan marah. Tapi detik kemudian aku terheran dengan pertanyaan konyol darinya. Aku benar-benar bingung dengan jalan pikiran gadis ini.

“Jangan bilang bahwa kau jatuh hati padaku pada pandangan pertama, tuan” ucapnya dengan penuh percaya sabil menatapku remeh

Aku hanya membalasnya dengan terkekeh sinis. Pikiran itu benar-benar konyol dan terdengar sangat aneh dan juga asing.

“Gadis sakit jiwa apa kau itu mempunyai tingkat narsis diatas rata-rata manusia, huh? Jatuh hati padamu saat pandanga pertama? Hei, buang jauh- jauh pikiran anehmu itu”

 

Author’s POV

Kedua manusia yang saling beradu mulut itu saling melemparkan pandangan marah dan kesal. Di keduanya tak ada yang mengalah. Mungkin mereka berdua saat ini saling memberi api kebencian di sekitar mereka.

“Kau Pria sakit jiwa! Yang berpenampilan aneh dan sengaja mengajakku bertarung, aku benar-benar membencimu”

Taeyeon tak dapat lagi menahan rasa marah dan kesalnya untuk pria yang saat ini berada dihadapannya, Kris. dari sudut matanya mengalir cairan bening yang tiba-tiba saja muncul dari sudut matanya. Tangisnya yang tadi sudah berhenti kembali terdengar lagi. namun kali ini tangisan itu terdengar sangat pilu. Hidung Taeyeon juga memerah. Tangisnya tak bersuara tapi begitu pilu.

Kris yang dalang semua dari permasalahan ini tercengang begitu saja. Ini pengalaman pertamanya mengahadapi wanita mengangis yang amat menyedihkan. Meskipun banyak juga klien ataupun rival kliennya yang juga menangis dissat persidangan dan kalah tapi tangisan gadis di hadapannya ini terdengar begitu sakit. Entahlah, mungkin pria ini sadar bahwa ia dalang dari semua ini.

“Aku tahu aku ini hanya seorang petugas kebersihan yang hanya sempat bekerja selama 2 hari kurang dan harus menanggung beban hidupku bersama adik perempuanku yang masih berkuliah dan hanya dengan waktu kurang dari satu jam kau berhasil menghilangkan mata pencaharianku satu-satunya ini, tuan” Taeyeon berkata dengan suara yang masih parau. Gadis itu mengatakan ini semua dengan maksud pria yang ada di hadapannya tak bisa merendahkannya lagi, karena ia memang rendah.

Kris terdiam. Rasa bersalah mulai menghantuinya. Ia berpikir gadis ini memang menanggung beban yang berat. Jika dilihat dari penampilannya, bisa dipastikan gadis ini seusia Tiffany tapi tentu saja dengan nasib yang jauh berbeda.

Dengan ragu-ragu ia pun memberanikan diri untuk meminta maaf pada Taeyeon “Mianhamnida”

Taeyeon yang sudah tak peduli ingin meninggalkan pria itu sendir dan tak menghiraukan permohonan maaf pria itu. Tapi baru beberapa langkah ia brejalan, Kris memanggilnya sehingga ia menoleh kembali kebelakang.

“Aku akan menawarkan sebuah penawaran yang akan saling menguntungkan untuk kita berdua” sahut pria itu berusaha tersenyum

Tapi Taeyeon malah memanlingkan wajahnya menghindari senyuman Kris “Apa itu?”

 

:: Swiss @ 9 am ::

Author’s POV

Baekhyun lagi-lagi memberikan surat permohonan percepatan masa kerjanya selama di Swiss. Ini adalah untuk yang kelima kalinya ia mnegjukan surat permohonan ini. Walaupun ia sudah akan bisa pulang ke Seoul beberapa hari lagi, tapi entah kenapa ia ingin mempercepat kepulangannya dengan berangkat lusanya.

Belum lama berjalan sebuah suara gadis yang terdengar asing membuat langkahnya terhenti. Baekhyun menghentikan langkahnya dan memeandangg ke asal suara tersebut. Dapat di tangkapnya sebuah senyuman manis dari sang pemilik senyuman. Baekhyun dengan senang hati juga membalas senyuman dari gadis asing tapi ia mengenalnya.

“Baekhyun-ssi, ada perihal apa anda kesini” sekedar basa-basi yang sengaja dibuat oelh gadis ini sebagai pembukaan sebuah pembicaraan yang entah akan di ladeni Baekhyun atau tidak nantinya.

“Oh, Hyoyeon-ssi, aku hanya sedang mengurus percepatan masa kerjaku dan saat ini aku sedang memohon ke kedutaan agar bisa memperlancar semuanya”

Hyoyeon mengangguk mengerti. Tapi ada perasaan kecewa di dalam hatinya mendengar pernyataan dari Baekhyun tadi. Ia kira ia akan bisa memperdekatkan dirinya pada Baekhyun tapi nyatanya pria ini justru akan pergi sebelum ia sempat bergerak.

“oh jadi begitu. Sayang sekali, padahal aku baru saja akanmengajukanmu untuk menjadikanmu guru pianoku, Baekhyun-ssi” dengan irama suara yang terdengar biasa di telinga Baekhyun itu membuatnya tersenyum sekilas.

“Aku benar-benar tak bisa, Hyoyeon-ssi. Aku minta maaf, tapi kau bisa  mencari guru yang lain bukan?”

“Ah, iya kau benar. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu apa yang meembuatmu sangat ingin segera kebali ke Seoul?” Hyoyeon bertanya dengan hati-hati

“Seorang gadisku” jawabnya mantap tanpa memperdulikaan hati Hyoyeon yang telah remuk hanya dengan ucapan singkatnya itu.

 

:: Beijing @ 7 pm ::

“kau harus pergi menyusul dan mencari pria brengsek itu ke Seoul. Kakek tak mau tahu lagi, keluarga kita sudah sangat menanggung malu dengan sikapnya yang dengan beraninya melarikan diri di acara pernikahannya denganmu” suara berang itu terus saja terdengar di rumah nan mewah itu. Suasana tegang juga masih menyelimuti sekelilingnya. Bahkan saat ini jika ingin mengeluarkan sepatah atau dua patah kata akan berpikir ratusan kali untuk mengucapkannya.

Sang cucu yang masih menangis dengan sebuah tissue di tangannya menjawab sambil terisak-isak. Ia benar-benra terlihat seperti gadis kecil yang kehilangan ibunya.

“Aku benra-benra malu, kek. Bahkan saat ini aku tak berani lagi menampakan wajahku ini kedepan umum. Jika kau melakukannya maka akan aku pastikan aku akan mendapatkan olokan yang berakibat fatal untukku nantinya”

Kakek Wu mengambil nafas sebentar “Oleh karena kau harsu membalaskan dendammu padanya dengan cara pergi ke Seoul, sekaligus kau menenangkan diri disana. Kakek yakin disana kau tak akan kesulitan, karena ayahmu adalah asli orang Korea”

Tiffany kembali berpikir menimang ide dari sang kakek. Ia menatap ibunya dan dibalas dengan anggukan mantap dari sang ibu. Ia kembali menuntun hatinya untuk pilihan ini. Pikirannya sebenarnya bukan untuk mencari Kris melainkan lebih condong untuk berlibur ke pulau Jeju.

“baiklah aku siap untuk memenuhi permintaanmu, kek” ucapnya dan menghilangkan rasa berdukanya dengan memberikan sebuah senyuman yang dikenal dengan eye smile.

Kakek Wu tersenyum sekaligus menggantungkan hrapan yang besar agar cucnya ini akan berhasil menemukan Kris, cucu yang paling di bencinya saat ini.

“Kau mengambil keputusan yang tepat. Besok kau akan berangkat ke Soeul setelah sampai disana carilah pria brengsek itu dan permalukan ia semalu-malunya. Pegang janji kakek, Tiffany”

Tiffany sedikit bergedik ngeri dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Kakeknya itu. Ucapan itu begitu tajam dan juga kejam. Begitulah menurutnya.

 

::Seongnam, Seoul @ 2 pm::

 

“ternyata rumahmu tak terlalu jauh dari bandara Incheon” sahut Kris tiba-tiba

Taeyeon yang berjalan di depannya tak memperdulikan pria itu yang terus mengoceh tak jelas. Selama Kris berbicara Taeyeon sama sekali belum mengetahui nama Pria asing yang menurutnya menyebalkan itu. Bahkan dengan beraninya gadis itu menyetujui penawaran pria itu padanya. Yaitu, membolehkan pria itu menyewa salah satu kamarnya. Gila.

Langkah Kris berhenti tepat saat langkah gadis yang di depannya juga ikut berhenti. Ia memandang rumah Taeyeon yang membuatnya membulatkan matanya. Taeyeon tampak sibuk dengan mengambil kunci rumahnya dan serius membuka pintunya.

“Rumahmu masih menggunakan kunci seperti itu?” tanya tak percaya

“Memangnya kenapa? Ada yang aneh?” tanya Taeyeon berbalik menatap tajam dan dingin Kris

“Hei, sekarang setiap rumah yang aku lihat di Seoul sudah menggunakan password. Tapi rumahmu yangg sangat kuno” lagi-lagi kalimat menghina keluar dari mulutnya. Sedngkan Taeyeon langsung memandang jengkel tapi Kris tak menghiraukannya sama sekali.

“Kau ini, apa di mulutmu  itu hanya bisa keluar kata-kata hinaan? Aku tak memiliki cukup uang dan itulah alasannya. Sekarang kau diam saja jangan menghina rumahku lagi aku tak akan segan membatalkan penawaranmu itu.” Ancamnya

“Dan kau tak bisa memilki uang, Nona” ancam Kris balik

Taeyeon mengurut dahinya pelan. Ia berusaha mengalah. Tapi kali ini ia lah bertanya kepada Kris.

“Aku tak tahu namamu, beritahu aku namamu” kalimat itu lebih terdengar seperti paksaan dari pada pertanyaan.

“Apa kau selalu seperti itu kau jika menanyai nama orang asing, hah?”

“Sudah jawab saja”

“Namaku Kris nona Kim Taeyeon” jawab Kris sambil mengedipkan sebelah matanya pada Taeyeon yang langsung membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.

Mereka berjalan memasuki rumah sederhana milik keluarga Kim. Rumah inilah satu-satunya aset keluarga Taeyeon. jadi walau mereka tak punya uang mereka tak pusing mencari uang sewaan rumah.

Kris menatap sekeliling rumah kecil ini. Kosong dan lapang. Disana hanya terbentang sebuah meja makan kecil dan sebuah radio tua di sudut kanannya. Perabot rumah bisa di bilang langka disini. Kris sempat berpikir bahwa ini hanya sebuah ruangan kosong dari pada rumah.

“Ini kamarmu” tunjuk Taeyeon

Kris masuk kekamar yang akan di tempatinya selama ia berada di Seoul. Ia suka dengan kamar ini hanya sebatas kasur dan sebuah meja kecil itu saja sudah cukup baginya. Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah gaun yang tergantung di dinding kamar.

“Gaunmu kenapa masih ada disini?” tanyanya heran

Taeyeon tersentak detik berikutnya “Astaga, aku lupa memindahkannya” ia pun segera berlari dan mengambil gaun itu dengan cepat.

“Sebelumnya ini kamar siapa?” tanya Kris lagi

“Ini kamar adikku”

Kris membulatkan mulutnya. Ia pun segera masuk dan mengunci pintu kamar tersebut. Taeyeon yang berada tepat di depan pintu tersebut pun terkejut. Ia menghela nafas panjang ‘aku harus banyak bersabar menghadapinya’

===

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 7 malam dan itu artinya sebentar lagi Hayeon akan pulang. Taeyeon merasakan sedikit kekhawatiran dengan kehadiran Haeyeon nantinya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana menghadapi kemarahan Hayeon jika ia mengetahui jika kamarnya aku sewakan padanya. Tapi perasaan itu juga di tepis dengan bisikan yang mengatakan bahwa ini juga salah Hayeon sehingga ia kehabisan uang dan harus rela membiarkan pria bernama Kris dengan watak menyebalkan itu tinggal di rumahnya.

“Eonni, aku pulang”

Semakin berdetak kencanglah jantung Taeyeon mendengar suara Hayeon tersebut. Dengan langkah sedikit gemetar ia memberanikan diri untuk mendatangi Hayeon.

“Hayeon-a, mulai saat ini kita tidur bersama?” ucapnya hati-hati

Tampak raut wajah Hayeon berubah. “Maksud Eonni?”

 

:: Swiss @10 pm ::

“apakah putri Dubes itu menemuimu?” Tanya Tao setelah mereka terdiam dalam waktu yang cukup lama.

“Siapa? Kim Hyoyeon?” tanya Baekhyun balik

“Menurutmu siapa lagi” sahut Tao tak peduli

“Kami hanya kebetulan bertemu tidak lebih dari itu”

Tao menatap teman se apartmennya ini dengan heran. “Kenapa kau bersikeras untuk pulang Lusa? Bukankah jadwalmu sudah di percepat juga sebelumnya?”

Baekhyun menghela nafas sebentar dan menatap Tao dengan senyuman khasnya “Entahlah aku juga tidak tahu, aku hanya mengikuti perintah hatiku yang mengatakan aku harsu cepat pulang sebelum sesuatu yang buruk terjadi kepadaku”

Tao tersenyum meremehkan “Saat ini kau harusnya menggunakan otakmu, bukan hatimu, Byun”

“Tao kau memegang prinsip yang salah”

“Terserah padamu” Tao menyerah dan memutuskan berbaring di ranjangnya. Sementara Baekhyun semakin membulatkan tekadnya untuk kembali ke Seoul lusa ia tak mau lagi menunda kepulangannya ke Seoul.

“Apapun yang terjadi aku harus kembali ke Seoul lusa”

 

TBC

Annyeongggg,,, lama tak jumpa chingu adakah yang merindukan saya??? Kalo ada angkat biasnya ya ahahhaha #plak

Bagaimana kelanjutannya? Lama, jelek dan hancur serta kesalahan dimana??? Oohh itu semua aku sudah tahu chingu. Nah dengan begitu komen ya chingu agar ff ini jauuuhh lebih bagus lagi. oh ya satu lagi part 3 mungkin semua cast sudah datang ke Seoul..tapi itu masih kemungkinan loo.. karena aku dapat jatah libur UN sma maka aku mungkin akan mempercepat part selanjutnya asalkan komennya sesuai dengan harapanku #amin.. segitu dulu ya chingideul~~ saranghae~~

13 thoughts on “[FF Freelance] Forever Wishes (Part 2)

  1. thor kemana ajah, di tunggu-tunggu baru nongol sekarang jadi lupa cerita part 1-nya ni jadi harus baca ulang. thor cast namjanya di sembunyiin ajah dulu ya biar tambah penasaran ^_^. oh ya ff sasaeng fans bakal lanjut ga ne???

    • kemana aja? aku ke hongkong sama kris chingu #plak
      ya baca aja lagi chingu 🙂

      sasaeng fans lanjt kok 🙂
      gomawo udah komen 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s