Serial Murder Case [File 5]

Serial Murder Case

Title : Serial Murder Case | Author : RettaVIP | Art : Artfactory ‘s almahonggi99 | Rating : Teen | Genre : Action, Mystery, Thriller, Romance | Length : Chapters | Main Cast : Taecyeon (2PM), Suzy (Miss A), T.O.P (Bigbang) | Supporting Cast : Other Kpop Idols | Disclaimer : Inspired from Detective Conan

“Tenang saja. Ada aku di sini, aku tidak akan membiarkannya membunuhmu.”

“Berlarilah. Jika aku menangkapmu, aku akan membunuhmu.”

Previous File : Teaser | File 1 | File 2 | File 3 | File 4 |

###

2013

11.00 AM

Mapo Police Station, Hongdae, Seoul.

Sedikit demi sedikit berjatuhan, sepertinya kau akan kalah.

P.S: Tak berbau, tak berjejak. Hanya mencabut nyawa.

Beast

Taecyeon menggebrak meja ruang meeting dengan keras, hingga menyebabkan beberapa orang di sekitarnya terlompat kaget. Kertas surat dari Beast yang baru saja ia baca, berakhir tersobek-sobek dengan brutal.

Junho membesarkan matanya. Pandangannya terarah pada sobekan kertas itu, lalu menoleh menatap wajah Taecyeon yang berapi-api. “Taecyeon-ah, apa isi surat itu?”

Masih dalam keheningan, Taecyeon mencatatkan sesuatu di atas buku catatan kesayangannya itu. Tanpa mengatakan apa-apa, Taecyeon menunjukkan buku itu kepada Junho.

Wajah Junho mendadak memerah karena emosi. Ia menggeram marah. “Kurang ajar si Beast itu, lihat saja nanti. Ia pasti akan duduk dengan manis di belakang jeruji besi selamanya.”

Suzy dan kawan-kawan hanya menatap mereka dengan perasaan campur aduk. Mereka sendiri tak mengerti apakah mereka harus takut dan diam berlindung di belakang mereka, atau memilih berani dan membantu mereka memecahkan masalah ini. Tapi, tak ada satu pun dari mereka yang dapat menguatkan hati untuk memilih dari salah satu pilihan itu.

“Junho-ya,” kata Taecyeon, dalam dan berat.

Junho menoleh ke arahnya. “Hmm?”

“Kita tidak boleh kalah dengan Beast. Percaya padaku, kita tidak akan kalah,” geram Taecyeon sambil mengepalkan tangannya.

Junho mengangguk sekali dengan mantap. “Tentu saja, aku tidak akan membiarkan bajingan yang menyusahkan Noona-ku hidup dengan tenang.”

Suzy yang duduk di sebelah Taecyeon menggenggam tangannya, berharap bahwa dia dapat memberi Taecyeon sebagian dari kekuatannya. Tubuh Taecyeon sedikit tersentak karena sentuhan itu, namun ia dapat merasakan kehangatan Suzy. Ia menoleh ke arah Suzy dan tersenyum untuk berterimakasih.

TOP yang duduk di sebelah Suzy, menatap mereka berdua dengan pandangan yang tidak dapat dideskripsikan lagi. Kepalan tangannya di bawah meja bergetar hebat. Tetapi ia memaksa diri untuk menahannya di dalam hati. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mempermasalahkan hal ini, pikirnya.

Suasana mendadak sunyi untuk beberapa saat. Mereka bergumul dengan pikiran mereka masing-masing, berpikir bagaimana mereka akan mengambil langkah selanjutnya, apa yang harus mereka lakukan agar tidak ada yang terbunuh lagi. Sayang sekali, jawaban itu belum mereka temukan.

Suara Taecyeon yang berat memecah keheningan di ruangan itu. “Kalian tunggu di sini. Ada hal yang harus kulakukan.”

Taecyeon bangkit berdiri dari kursinya dan beranjak meninggalkan ruangan, mengabaikan Junho yang memanggilnya berulang kali. Perasaan Taecyeon terlalu kacau sekarang. Di saat ia mulai menemukan sedikit petunjuk tentang ayah ibunya, Beast malah muncul dan menghancurkan segalanya, membuatnya kembali pada kenyataan bahwa masalah Suzy adalah kasus prioritasnya, sehingga ia harus menelantarkan kasus ayah ibunya yang mengalami perkembangan.

Tanpa ia sadari, ia berjalan kembali ke arah meja kerjanya. Tempat itu masih saja menjadi tempat kesukaannya, di mana ia bisa berpikir dengan tenang tanpa ada yang mengganggu. Setelah duduk di atas kursi yang sangat akrab dengannya, Taecyeon akhirnya dapat menghembuskan nafas lega dan memejamkan matanya dengan tenang. Seulas senyum merekah pada bibirnya. Suasana ini benar-benar membuatnya tentram, jauh dari masalah. Setidaknya ia dapat melupakannya untuk sebentar saja.

Matanya mengarah ke sekeliling ruang kerjanya bersama Junho. Mereka berdua diberi satu ruangan yang agak besar agar mereka dapat bekerja dengan nyaman di dalam, mengingat mereka adalah detektif bagian pembunuhan, bagian yang paling berat daripada bagian-bagian detektif lainnya. Di mana detektif lain hanya perlu mencari tahu penyebab hilangnya seekor anjing dari sebuah apartemen, detektif bagian pembunuhan harus memutar otak untuk mencari tahu seluk beluk kasus pembunuhan dan motif, cara pembunuhan dilakukan, serta menyelidiki setiap tersangka, tanpa tampak mencurigakan dan ketakutan, sekaligus melindungi target pembunuhan. Dengan perbandingan seperti ini, semua orang dapat mengatakan bahwa bekerja sebagai detektif di bagian pembunuhan sangatlah terlampau berat.

Ruangan itu bersih dan rapi, karena Junho dan Taecyeon tergolong pria yang suka kebersihan. Rak buku mereka tertata dengan baik sesuai urut abjad, entah siapa yang menata itu, pastilah rajin sekali. Dua meja besar dengan perlengkapan lengkap di atasnya untuk Junho dan Taecyeon bekerja, dua buah sofa dan meja kecil untuk melakukan interogasi maupun konsultasi, sebuah televisi dan sebuah radio untuk mengikuti perkembangan berita tentang kasus-kasus pembunuhan.

Dengan malas Taecyeon mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas meja. Tanpa sengaja, kaki Taecyeon menyenggol setumpukan berkas-berkas kertas yang otomatis berhamburan ke lantai. Taecyeon mengumpat dengan keras lalu terpaksa membungkuk dan merapikan kertas itu satu persatu.

Saat itulah Taecyeon menyadari, yang dipegangnya adalah berkas-berkas kertas dari insiden pembajakan Rose Cruise lima tahun lalu. Tangannya mencengkeram kertas-kertas itu dengan erat, hingga membuat ujungnya kusut. Meski hatinya menolak untuk membaca berkas-berkas itu sekarang, matanya tidak dapat mengelak lagi dari keingintahuannya yang besar.

Lee Sunwoong beserta anak buahnya ditangkap dengan tuduhan pembajakan dalam sebuah kapal pesiar besar “Rose Cruise”

Yang pertama ia baca adalah judul halaman depan koran yang terpampang begitu saja, meminta untuk dibaca. Taecyeon mulai tertarik untuk membacanya, mengingat ia sama sekali tidak tahu tentang kasus pembajakan itu.

Kasus pembajakan di kapal pesiar besar “Rose Cruise” akhirnya telah ditutup dengan dibekuknya Lee Sunwoong—kepala pembajak—beserta empat anak buahnya. Kejadian berakhir tragis dengan karamnya kapal pesiar “Rose Cruise” akibat menabrak karang tajam di tengah samudra. Untung saja, tim kepolisian berhasil menyelamatkan mereka semua, dan tidak ada korban jiwa. Namun, sangat disayangkan dengan hilangnya beberapa penumpang berikut ini,

-TOP (17)

-Ok Daehwan (42)

-Bae Junyong (40)

Bagi yang menemukan mereka, mohon laporkan kepada kepolisian setempat agar segera disampaikan kepada keluarga yang bersangkutan.

Mata Taecyeon melotot ketika membaca koran itu. Alangkah kagetnya ia ketika membaca nama-nama penumpang yang hilang dalam kapal lima tahun lalu. Dengan segera ia menyambar koran itu dan berlari ke ruang meeting, tempat yang lainnya menunggu dirinya.

Taecyeon membuka pintu dengan sedikit kasar dan nafasnya terengah-engah. Mereka memandang Taecyeon dengan bingung. Mata mereka terarah pada koran yang dipegang oleh Taecyeon.

Junho bangkit berdiri dari tempat duduknya, sedikit memiringkan kepalanya. “Taecyeon-ah, ada apa?”

“Bae Junyong,” kata Taecyeon singkat di tengah-tengah nafasnya yang tersendat-sendat.

Tubuh Junho membeku. Mendadak bulu kuduknya berdiri semua. Matanya menatap lurus ke arah mata Taecyeon.

Suzy juga berdiri menyusul Junho. Tubuhnya bergetar. TOP ikut berdiri untuk menahan tubuh Suzy agar ia tidak terjatuh.

“Bae Junyong,” ulang Taecyeon, “bukankah dia adalah ayahmu, Junho-ya?” Taecyeon mengangkat koran itu tinggi-tinggi untuk menunjukkan foto Bae Junyong yang terpampang di halaman depan koran itu, beserta foto Ok Daehwan dan TOP.

Taecyeon menatap ke arah TOP tanpa ekspresi. “TOP-ssi, bisakah kau menjelaskan semuanya kepada kami?”

2008

Rose Cruise

“Aku adalah teman ayah Suzy, Bae Junyong. Dia memintaku untuk pergi menolong kalian,” kata Daehwan sambil tersenyum.

Nichkhun menaikkan sebelah alisnya, kemudian mengangguk dua kali, pertanda mengerti. TOP hanya menunjukkan wajah polosnya yang seperti tidak tahu apa-apa.

“Ayo, kita cari yang lainnya. Mari kita mencoba mencari mulai dari dek kapal,” kata Daehwan lalu melesat mendahului Nichkhun dan TOP untuk memimpin jalan.

Seluruh kapal hening, tidak terdengar suara apapun. Tetapi hal ini justru membuat bulu kuduk mereka semua berdiri, merinding karena keadaan sunyi yang menyeramkan ini. Sebelum mereka membuka pintu yang menuju ke dek kapal, Daehwan menyuruh mereka bersembunyi dahulu dan menunggunya di dalam.

“Bagaimana denganmu, Ok Ahjussi?” tanya Nichkhun khawatir.

“Tenang saja, tidak akan ada apa-apa. Aku akan keluar untuk melihat keadaan dulu, kalian tunggu saja di sini sampai aku kembali.” Daehwan tersenyum ke arah mereka dan hilang dari pandangan mereka dalam sekejap.

Karena tidak tahan dengan rasa penasarannya, Nichkhun membuka pintu dan mengintip dari celah kecil itu. Ia dapat melihat tiga pembajak yang bersenjata sedang menodong teman-teman mereka.

“Oh tidak, mereka semua menjadi sandera,” seru Nichkhun tertahan. TOP yang berada di sebelahnya ikut merasa panik. Ia merapat pada tubuh Nichkhun, badannya gemetar.

“Nichkhun-ah, apalagi yang kau lihat?” tanya TOP lirih.

“Ok Ahjussi sedang berbicara dengan para pembajak, sepertinya ia membujuk mereka untuk membebaskan Suzy dan kawan-kawan,” kata Nichkhun yang masih melongokkan kepalanya keluar dari pintu.

“Tidak ada siapa-siapa lagi di sana? Hanya mereka saja?”

“Sepertinya begitu, tidak ada tanda-tanda penumpang lainnya.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa diam saja.”

Nichkhun menutup pintu dan menatap TOP lekat-lekat. “Kita harus menuruti apa kata Ok Ahjussi. Dia menyuruh kita untuk menunggu di sini, maka kita harus menunggu di sini.”

“Tapi kita tidak bisa membiarkan Ok Ahjussi kesulitan. Sekarang dia pasti diancam dengan menggunakan Suzy dan yang lainnya sebagai sandera.”

Nichkhun menekan pelipisnya untuk berpikir, ia memejamkan matanya. “TOP-ah, kau bisa bela diri?”

“Aku belajar karate saat kecil, memangnya kenapa?” TOP mengerutkan dahinya.

“Kau karate dan aku taekwondo. Mau melakukan hal gila?” tanya Nichkhun. Ia menyengir lebar. “Aku tidak bisa menjamin keselamatan kita, tapi mungkin kita bisa mencoba.”

“Kita coba saja, tidak ada gunanya juga kita hanya berdiam diri di sini. Apa yang harus kulakukan?”

“Ada dua pembajak menjaga Suzy dan kawan-kawan, dan satu pembajak menodong Ok Ahjussi. Kita menyerang pembajak yang menjaga teman-teman kita, sekaligus untuk mengalihkan perhatian pembajak yang menodong Ok Ahjussi sehingga beliau bisa melawannya dan menjatuhkannya. Bagaimana?” tanya Nichkhun setelah menjelaskan rencana mereka.

TOP menganggukkan kepalanya. “Aku setuju. Kau benar-benar pintar Nichkhun-ah.”

Tanpa diduga, Nichkhun memeluk tubuh TOP, membuat TOP mendelik karena terkejut. “Aku tidak tahu apakah kita berdua dapat selamat atau tidak, tapi ketahuilah TOP, bahwa aku senang memiliki teman sepertimu. Mari kita berjuang bersama.”

“Aku juga bangga memiliki teman sepertimu. Apapun yang terjadi, aku akan membuat kita berdua selamat.”

Setelah menenangkan diri untuk beberapa saat, mereka memutuskan untuk menerjang keluar dan menyerbu pembajak-pembajak itu. Nichkhun dan TOP melesat secepat kilat, mata mereka hanya menuju ke target mereka. Segera begitu sampai di depan pembajak-pembajak itu, mereka melucuti senjata mereka dengan menendangnya keras-keras hingga pistol mereka terlempar keluar dari kapal dan terjun bebas ke laut. Segera setelah mereka tak bersenjata, Nichkhun dan TOP dapat menghajar mereka dan melumpuhkan mereka.

Distraksi yang diciptakan oleh Nichkhun dan TOP memberikan waktu yang cukup bagi Daehwan untuk menyingkirkan pistol dari tangan pembajak itu. Ia berkali-kali memukul penjahat itu sampai ia terjengkang ke lantai dek kapal. Kemudian ia berbalik badan dan mendapati Nichkhun dan TOP berhasil menumbangkan kedua pembajak dan membuka ikatan Suzy dan yang lainnya.

“Kalian semua tidak apa-apa?” tanya Daehwan sedikit berteriak kepada mereka.

Mereka semua bersorak gembira melihat mereka berhasil mengalahkan pembajak-pembajak itu. Namun mereka mendadak mengubah air muka mereka menjadi tegang ketika menyadari pembajak yang terkapar di sebelah Daehwan masih memiliki pistol lainnya di dalam jasnya. Pembajak itu mendadak melingkarkan sebelah tangannya ke leher Daehwan dan mengarahkan pistol ke kepala Daehwan.

“Berlututlah dan angkat tangan kalian ke atas, bila kalian tidak ingin orang ini mati,” kata pembajak itu dengan sinis sambil menempelkan pistol itu ke kepala Daehwan yang hanya pasrah dengan nasibnya.

###

2013

12.00 PM

Mapo Police Station, Hongdae, Seoul.

“Tunggu dulu, teman-teman. Apa kalian tidak ada yang merasa lapar?” tanya Seungri dengan wajah merasa bersalah.

TOP menghentikan ceritanya dan memandang Taecyeon dengan bingung. Taecyeon menyoroti Seungri dengan pandangan membunuh sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas panjang.

“Baiklah, kita pergi makan dulu. Nanti saja baru lanjutkan ceritanya, TOP-ssi.” Taecyeon berjalan keluar dari ruang meeting dengan pasrah, diikuti oleh Junho. Ternyata Minjun dan Chansung sudah menunggu mereka di luar ruangan.

“Detektif Ok, bagaimana kalau mereka kita bawa ke restoran yang baru buka di seberang? Kudengar ada fasilitas karaoke juga,” kata Minjun.

“Terserah saja. Yang penting makan,” kata Taecyeon cuek. Ia masih penasaran dengan kejadian lima tahun lalu. Dan ketika ia hendak membongkarnya, selalu ada saja penghalangnya.

###

2013

01.00 PM

Prince Edward KTV, Hongdae, Seoul.

“Wah, ada karaoke-nya! Asyik!” seru Seungri gembira begitu memasuki ruangan VIP yang telah dipesan oleh Minjun.

“Tidak terasa, lama sekali terakhir aku karaoke,” kata TOP mengagumi peralatan karaoke yang sudah disediakan.

“Iya, aku khusus memesankan ruang karaoke, agar kalian bisa bersantai sedikit. Tegang terus tidak baik,” kata Minjun sambil tertawa.

“Benarkah? Ayo kita bernyanyi Seungri-ah,” ajak TOP sambil menyerahkan satu mikrofon kepada Seungri dan memegang mikrofon lainnya. Seungri pun mulai memilih-milih lagu. Mereka bernyanyi dengan semangat, seperti sekarang ini adalah hari terakhir mereka bernyanyi. Akhirnya, yang menggunakan fasilitas karaoke hanya TOP dan Seungri, sedangkan yang lainnya hanya menikmati hidangan sambil tertawa melihat tingkah mereka yang konyol.

Setelah satu jam penuh menyanyi, TOP akhirnya menghentikan mereka berdua karena merasa lapar. Ternyata, mereka semua yang berada di meja makan sudah menikmati hidangan sampai tahap penutup.

“Hei, di mana bagianku?” protes Seungri jengkel ketika melihat mereka sedang makan buah sebagai penutup.

“Kau sih, daritadi asyik bernyanyi terus. Kita sampai sudah selesai makan. Itu bagianmu dan TOP kami letakkan di pojok sana. Ambil sendiri,” kata Suzy sambil tertawa lalu menganggukkan kepala ke meja makan yang berada di pojok ruangan.

Seungri memanyunkan bibirnya, sedikit merasa tersingkirkan. Baru saja ia hendak melangkah ke mejanya di pojok, matanya menangkap buah-buahan segar yang terletak di atas meja. Mendadak ia merasa perutnya berbunyi karena lapar. Dengan sigap ia mengambil buah apel yang sudah dipotong dari atas piring dan langsung melahapnya sampai habis.

“Seungri-ah, kau aneh sekali. Tidak ada orang makan makanan penutup sebelum makan makanan utama,” kata Daesung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dasar si rakus,” kata Suzy geli sambil tertawa.

“Sudah ayo kita makan saja, Seungri-ah,” kata TOP pasrah sambil melangkah ke tempat duduknya di pojok.

Seungri menjulurkan lidahnya pada Suzy dan Daesung, lalu melangkah mengikuti TOP. Sementara yang lainnya tertawa-tawa gembira, Taecyeon dan Junho memasang tampang serius. Mereka merasa ada sesuatu yang aneh, ada sesuatu yang terjadi yang tidak mereka ketahui. Mereka berulang kali memeriksa buku catatan mereka, berulang kali mencoba menerka teka-teki Beast yang terakhir. Tapi tetap saja, hasilnya nihil. Teka-teki ini terlalu sulit untuk dipecahkan.

Namun, tepat sebelum Seungri mencapai tempat duduknya, ia menghentikan langkahnya. Matanya melotot dan tangannya mencengkeram kerah bajunya. Kakinya melemas dan ia terjatuh ke bawah. Nafasnya terputus-putus, tangannya menggapai-gapai ke udara. Tak lama kemudian tangannya melemah, nafasnya terhenti. Seungri…tak bernafas lagi untuk selamanya. Matanya terbuka, kali ini tak berkedip lagi.

“Seungri! Tidak!” teriak Suzy histeris. Baru saja ia hendak melangkah untuk mendekati tubuh Seungri ketika Taecyeon menahannya.

“Suzy-ssi, tolong tenanglah, tubuh korban tidak boleh disentuh terlebih dahulu sebelum pengecekan,” kata Taecyeon tegas, kemudian ia menoleh ke arah TOP, “Bisakah aku minta tolong kepadamu, TOP-ssi? Tolong jagakan Suzy-ssi untukku.”

Tanpa menjawab, TOP langsung menghampiri kekasihnya yang sedang menangis heboh dan menariknya ke dalam pelukannya, matanya menyorot tajam ke arah Taecyeon seperti menyatakan bahwa gadis itu miliknya, namun Taecyeon tidak menghiraukannya.

Taecyeon dan Junho dengan sigap langsung menghampiri tubuh Seungri, mengeluarkan sarung tangan mereka dan memakainya dengan secepat kilat. Minjun dan Chansung bergegas keluar dari ruangan dan menelepon polisi beserta ambulans.

“Taecyeon-ah, apa yang menyebabkannya meninggal?” tanya Junho dengan wajah serius.

Taecyeon tidak menjawab, ia terus menyusuri tubuh Seungri, mencari segala petunjuk yang memberitahu penyebab kematiannya. Sayang sekali, tidak ada sedikit pun jejak yang tertinggal.

“Sialan, orang gila ini semakin hebat saja. Sama sekali tidak ada tanda-tanda pada tubuh Seungri,” geram Taecyeon emosi sambil mengepalkan tinjunya sambil menyandarkan diri pada tembok dan memejamkan matanya.

“Sebenarnya tidak ada kejahatan yang sempurna, dia pasti melakukan kesalahan. Hanya saja tidak terlihat oleh kita. Jangan menyerah dulu, Taecyeon-ah.” Junho berusaha membangkitkan semangat Taecyeon. Ia menepuk pundak Taecyeon sekali, untuk menguatkannya.

Taecyeon mengangguk lemah. Ia mengeluarkan buku catatan kecilnya, membaca kembali semua petunjuk yang sudah ia kumpulkan, kemudian matanya terarah pada teka-teki Beast yang terakhir.

P.S: Tak berbau, tak berjejak. Hanya mencabut nyawa.

Tiba-tiba Taecyeon berteriak, menyebabkan Junho yang berdiri di sebelahnya tersentak, kaget bukan main.

“Ada apa?” tanya Junho bingung.

Arsenatus!” seru Taecyeon. Taecyeon lalu bergegas menuju tubuh Seungri yang tergeletak dan mencari dengan seksama sampai ia menemukan serbuk-serbuk putih pada tangan kanan Seungri. Ia langsung memasukkan serbuk-serbuk putih itu ke dalam plastik dan menyegelnya sebagai barang bukti.

“Apa itu?” Junho menaikkan alisnya.

“Racun terbaru dari India. Pantas saja kita tidak menemukan apa-apa. Racun itu memang dibuat untuk tidak meninggalkan jejak. Sifat dari racun itu tidak berbau dan tidak berwarna, biasanya berbentuk bubuk, dan tentu saja, gejalanya hanya seperti orang sesak nafas, sehingga kita yang tidak tahu-menahu tentang racun ini pasti tidak akan bisa menebaknya. Lagipula, sifat racun ini cocok sekali dengan perkataan Beast. Tak berbau, tak berjejak. Hanya mencabut nyawa. Racun ini tak berbau dan berjejak, tahu-tahu membuat pengonsumsinya meninggal. Ini lihatlah serbuk putih yang ada di tangan Seungri.” Taecyeon mengangkat kembali barang bukti tersebut.

“Wah, kau tahu dari mana? Hebat sekali.” Junho berdecak kagum.

“Internet. Tidak sengaja melihatnya,” jawab Taecyeon santai. “Sekarang kita lebih baik membawa mereka kembali ke kantor polisi dulu. Aku sudah tahu pelakunya. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana ia melakukannya—kapan ia meletakkannya di tangan Seungri. Aku akan menyelidiki tubuhnya lebih lanjut.”

“Oh iya? Hebat sekali kau. Baiklah aku akan membawa mereka kembali ke kantor.” Junho berjalan ke arah meja makan di mana Suzy, TOP, Nichkhun, dan Daesung menunggu dengan wajah kalut. Junho berusaha meyakinkan mereka untuk tenang dan kembali ke kantor polisi.

Suzy mendadak melepaskan diri dari dekapan TOP dan berdiri dari kursinya. “Bagaimana dengan Detektif Ok? Aku akan menemaninya di sini. Kalian kembalilah dulu bersama dengan Junho.”

Dengan wajah garang, TOP berjalan dengan emosi keluar dari ruang karaoke, sedikit membanting pintu. Junho hanya memandangnya dengan bingung, kemudian ia menoleh ke arah Daesung, yang hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu.

“Tidak usah, Suzy-ssi. Kembalilah saja bersama yang lain. TOP-ssi sepertinya tidak menyukai idemu ini.” Taecyeon menjawab dengan sedikit salah tingkah. Ia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

“Bukan seperti itu, Detektif Ok. Aku ingin membicarakan sesuatu hal padamu.” Suzy kemudian menoleh menatap Daesung, Nichkhun, dan Junho yang masih memperhatikan tingkah lakunya dalam-dalam.

Nichkhun mengangkat tangannya. “Baiklah, baiklah. Kami pergi dari sini.” Ia lalu berjalan dengan santai keluar dari ruangan diikuti oleh Junho dan Daesung.

“Sebenarnya ada apa, Suzy-ssi?” tanya Taecyeon dengan wajah penasaran.

“Aku mencurigai TOP,” kata Suzy sedikit takut-takut.

“Mengapa?” tanya Taecyeon sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Tingkahnya mencurigakan. Aku sering melihatnya menelpon seseorang secara diam-diam. Aku takut.” Tubuh Suzy gemetar. Ia menarik ujung baju Taecyeon.

Taecyeon memeluk Suzy dalam dekapannya. “Tidak usah takut, Suzy-ssi. Ada aku di sini. Aku sudah bilang kan? Aku tidak akan membiarkannya membunuhmu. Apapun yang terjadi.”

“Taecyeon-ah, berhentilah memanggilku dengan panggilan sopan. Sangat tidak nyaman,” kata Suzy sambil tersenyum.

“Baiklah, Suzy Noona.” Taecyeon menjawab dengan malu-malu, disusul dengan kikik tawa Suzy.

“Mungkin aku akan memutuskan hubunganku dengan TOP, aku tidak bisa menjadi kekasihnya lagi bila hatiku sudah diisi oleh orang lain.” Suzy tersenyum lalu berjinjit di sebelah Taecyeon dan mencium pipinya dengan lembut. Kemudian ia berlari-lari kecil keluar dari ruangan.

Apa maksudnya? pikir Taecyeon dalam hati dengan wajah memerah. Taecyeon lalu menggeleng keras. “Jangan terlalu banyak berkhayal, Taecyeon. Kau masih memiliki banyak pekerjaan yang belum selesai.”

Taecyeon memulai pemeriksaannya ke sekeliling ruangan, untuk mencari tahu kapan si pembunuh meletakkan racun itu di tangan Seungri. Karena tidak menemukan apa-apa, ia mengulang kembali kejadian tadi di ruangan ini di dalam benaknya. Ketika ia sudah hampir menyerah, mendadak pandangannya terarah pada dua mikrofon yang tergeletak di meja makan.

Pasti karena ini. Sekarang aku yakin pelakunya siapa, saatnya mengungkap kebenaran, pikir Taecyeon dalam hati dengan senang.

Baru saja ia akan keluar dari ruangan, Junho mendadak memasuki ruang itu dengan nafas terengah-engah. Wajahnya terlihat sangat panik.

“Taecyeon-ah, Daesung, Nichkhun, Suzy, dan TOP tidak dapat ditemukan di mana-mana. Dan dua surat ini datang sebagai gantinya.”

To be continued…

###

Akhirnya setelah selesai unas, author comeback dengan Serial Murder Case dalam filenya yang kelima *hore. Terimakasih banyak buat readers yang udah kasih semangat, doa, dan juga yang udah setia menunggu 😀 Mulai sekarang, author bisa aktif lagi ngerjain ff *horelagi

Kayaknya, bentar lagi ceritanya masuk ke bagian seru-serunya nih, udah abis semua orangnya :p dan Taecyeon udah nemuin loh siapa pembunuhnya :p *asyik. Tapi sedihnya, sebentar lagi cerita ini tamat *tidakkk.

Jangan lupa kasih comment ya 😀 comment kalian bisa memberi semangat author buat ngelanjutin ff lohhh :p Sekali lagi terimakasihh *bow

34 thoughts on “Serial Murder Case [File 5]

  1. aha bener kan, kayaknya emang top nih dibalik semua ini. top ngelakuin kesalahan pas di karaoke huahaha semoga cepet keungkap deh~ yeaaaah TaecZy! akhirnya xD ditunggu lanjutan nya thor~

  2. TOP kan pembunuhnya thor? iya pasti deh, sih suzy pasti suka sama detektif ok haha, kok kyanya taecyeon sama junsu satu rekan kerja tapi yang paling tau ttg racun dll taecyeon ya wkwk, author itu yang racun india beneran ada ya? keren deh ah bisa aja tau yg bgthan author haha 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s