[FF Freelance] When I Was Your Man (Oneshot)

when i was your man

When I Was Your Man

 

author              : Jedar_Jedur aka Little Agassi

lenght              : One Shoot

Main Cast        : Park Jiyeon , Yoo Seung Ho

Support Cast   : Minho Shinee, Taemin Shinee , Lee Hyun Woo

Genre              : Romance / Fluff / Song Fic

Rating             : PG 15

Disclaimer       : Semua tokoh yang ada di dalam fan fiction ini murni punya Tuhan, orang tua ,       

agensi mereka, teman mereka , dan fans mereka. Author Cuma pinjem nama dan wajah mereka yang mengispirasi cerita ini . Isi cerita murni dari author. Ide datang pas lagi asyik ngegalau dengerin lagunya Bruno Mars (When I was your man). Ditambah lagi dapet inspirasi dari drama-drama atau komik-komik yang pernah author baca atau author tonton. Maaf kalau typo bertebaran dan ceritanya kurang ngena . Harap maklum karena author masih pemula dan nggak sehandal author lain dalam merangkai cerita. Selamat Membaca 😀

 

 

***

Seungho POV

Same bed but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio but it don’t sound the same

Aku membuka mataku perlahan. Kepalaku masih terasa sakit. Aku menghela nafas panjang lalu kemudian bangkit dan berdiri menuju ke kamar mandi. Membuka lemari obat di atas wastafel untuk mencari aspirin yang sekiranya dapat meredakan rasa sakit di kepalaku. Ku telan dua pil aspirin sekaligus, berharap agar rasa sakit ini segera hilang. Sayup-sayup terdengar suara alunan lagu dari radio di sudut kamar. Tubuhku menegang. Aku mengepalkan tangan ,mencoba menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerap semua oksigen yang kuhirup. Lagu itu , lagu yang sama, lagu yang tidak akan pernah terdengar sama lagi setidaknya ditelingaku. Masih terbayang di pikiranku raut wajah Jiyeon yang ceria atau  mood nya yang tiba-tiba membaik saat mendengar lagu ini. Aku ingat saat aku tertawa mengejek saat melihat betapa antusiasnya Jiyeon saat mendengar lagu ini, atau saat aku mengagumi suaranya yang lembut saat menyenandungkan irama. Aku tersenyum sendiri. Rasanya baru kemarin aku dan Jiyeon duduk di bangku taman dengan earphone yang menempel di telinga kami. Dimana alunan lagu yang sama mengalun lembut.  Tiba-tiba semua hilang dari pikiranku . Semua gelap . Kenangan indah itu memudar . Aku segera keluar dari kamar mandi dan mematikan radio . Bulir bening memenuhi mataku. Semua memang tidak akan sama lagi. Semuanya !  Termasuk apa yang pernah aku miliki bersama Jiyeon.

When our friends talk about you, all it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
          

Suara peluit pelatih basket tim sekolahku berbunyi. Aku segera berlari ke sudut lapangan. Duduk beristirahat sembari melemaskan kedua kakiku. Kulihat Minho dan Taemin –kedua sahabatku- berjalan beriringan sambil bercanda menuju ke arahku.

“Seungho !” sapa Taemin sambil melambaikan tangannya. Aku mengangguk kecil.

“Apa ada masalah ? Permainanmu tampak kacau tadi ? “ tanya Minho setelah ia duduk di sampingku.

Aku menggeleng , “Semuanya baik-baik saja. Aku hanya terlalu lelah.”

Minho mengangguk paham. Aku dan Minho kemudian terlibat obrolan menarik mengenai pertandingan Basket bulan depan melawan sekolah lain.

“Bukankah itu Jiyeon ?” ucap Taemin tiba-tiba menunjuk ke tepi lapangan. Spontan , aku segera berpaling ke arah yang ditunjuk Taemin. Raut wajahku berubah. Itu memang Jiyeon .

“Terlihat cantik seperti biasanya…” ceplos Taemin. Aku menatap Taemin tajam. Minho menyenggol bahu Taemin, membuatnya diam. Taemin menyadari kesalahannya dan menatapku dengan pandangan memohon maaf. Aku melengos pelan . Ku alihkan pandanganku ke teman-teman setim basketku yang lain – Jonghyun dan Onew-. Mereka berdua sedang tersenyum sambil berbisik menatap ke arah Jiyeon. Mereka berdua terlihat seperti orang bodoh. Sayup-sayup terdengar obrolan mereka yang isinya memuji kecantikan Jiyeon dan hal-hal lainnya.

Aneh , entah mengapa seakan ada ribuan batu bara yang terbakar sedang memenuhi rongga dadaku. Aku mengepalkan tanganku. Amarahku seakan sudah naik ke ubun-ubun kepalaku. Ku tatap lagi Jiyeon yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya. Angin musim gugur berhembus memainkan anak rambut Jiyeon. Suara tawanya  terdengar bagai musik di telingaku. Sial ! Bagaimana bisa ia membuatku kembali menatapnya. Tidak tahukah dia kalau hal yang paling aku inginkan adalah melupakannya. Aku memaki diriku sendiri. Mengapa aku marah ? Bukankah Jiyeon bukan milikku lagi. Kisah kami sudah usai saat musim panas lalu.

“Kau kenapa ?” tanya Minho pelan. Aku hanya tersenyum masam. Minho menghela nafas .

 “Bukankah kau bilang ingin melupakan Jiyeon ? Saat kau bersamanya kau selalu mengeluh padaku tentang ketidakcocokan kalian . Lalu mengapa kau bersikap seperti ini ?”

Aku tetap membisu dan tidak menjawab pertanyaannya. Lidahku terasa kelu.

Minho menepuk pelan bahuku , “ Akui saja , kau masih menyukainya kan ?”

My pride, my ego, my needs, and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life

Hembusan semilir angin meniup dedaunan. Hamparan keemasan dedaunan yang berguguran mempercantik keindahan tempat ini. Taman ini merupakan tempat favorit Jiyeon. Di taman ini untuk pertama kalinya aku menyatakan perasaanku. Saat itu kami masih kelas dua SMP. Aku masih ingat tangis bahagia Jiyeon saat aku memintanya menjadi kekasihku, atau rona merah jambu yang menghiasi pipinya saat  pertama kali aku mencium bibir mungilnya itu. Aku rindu saat-saat dimana  Jiyeon bersandar manja di dadaku sambil mengagumi keindahan taman ini.Tempat ini memang penuh kenangan manis kami berdua. Ironisnya, di tempat ini juga aku menyakiti perasaannya. Meneriakkan kata-kata perpisahan dan tidak menggubris isak tangis yang keluar dari mulut Jiyeon.

Aku menghela nafas panjang . Mengingat kembali betapa bodohnya diriku. Karena sifat egois dan tamak dalam diriku, aku melewatkan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Gadis baik yang penuh pengertian seperti Park Ji Yeon.

Ini semua salahku .Selama kami pacaran ,aku selalu  melupakan dan mengenyampingkan Jiyeon. Aku  menomorduakan Jiyeon untuk segalanya. Tetapi Jiyeon tidak pernah meninggalkanku. Dia tidak pernah beranjak dari tempatnya dan tetap saja menungguku. Bersabar dan berharap agar aku bisa berubah. Bahkan aku masih ingat saat Jiyeon tersenyum sambil menahan tangisnya saat aku melupakan hari ulang tahunnya karena aku terlalu bersemangat pergi ke klub bersama teman-temanku yang lain.

Entah setan apa yang merasuki pikiranku malam itu hingga membuatku tega memutuskannya. Rasa jenuh atas hubungan kami yang telah berjalan selama empat tahun atau  sifat kekanak-kanakan ku yang merasa terkekang atas segala bentuk perhatian dari Jiyeon. Aku pernah mencoba mengganti posisi Jiyeon  dengan gadis lain. Namun hal itu tidak bertahan lama. Setelah dua-tiga kali aku dan gadis itu pergi bersama, aku menyadari bahwa Jiyeon tidak akan pernah  digantikan oleh siapapun.

Now I never, never get to clean up the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes

“Maaf Seung Ho, Jiyeon belum pulang ke rumah. Dia pergi keluar tadi. Apa kau ingin meninggalkan pesan ?” ucap Nyonya Park sambil tersenyum. Kulirik kamar Jiyeon yang terletak di lantai dua rumahnya. Lampu kamarnya tampak gelap. Aku menggeleng pelan.

“Lain kali saja aku kesini lagi , Bi .” ucapku sopan.

Aku meninggalkan rumah Jiyeon dengan perasaan hampa. Aku merenung . Bertanya pada diriku sendiri apakah yang kulakukan ini benar. Seharusnya aku  menghindarinya. Memberinya jarak agar ia bisa melupakan kesedihannya atas perbuatanku. Namun aku tidak bisa. Aku ingin minta maaf kepadanya. Aku bahkan rela berlutut di hadapannya agar Jiyeon memaafkanku dan jika bisa aku ingin dia  kembali kepadaku. Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi. Aku ingin menjadi lelaki yang lebih baik bagi Jiyeon. Aku ingin kesempatan kedua.

Badanku menggigil. Udara malam ini terasa sangat menusuk. Aku mempercepat langkahku . Tiba-tiba sebuah mobil SUV melintas pelan di hadapanku. Aku terdiam. Walau lampu mobil itu padam, aku tahu benar dari pancaran lampu jalan yang terpantul di kaca mobil itu kalau Jiyeon ada didalam mobil itu. Bersama siapakah dia ? Setahuku tidak ada teman-temannya yang memiliki mobil seperti itu.

Didorong rasa penasaran , aku kembali berjalan ke rumah Jiyeon. Langkahku terhenti saat melihat Jiyeon keluar dari mobil itu sambil tersenyum cerah. Kuperhatikan orang yang mengantar Jiyeon turun dari mobilnya. Tanganku mengepal saat melihat siapa orang itu.

Lee Hyun Woo. Dia teman Jiyeon di klub Melukis. Aku memang tidak pernah mengenalnya dekat karena memang Jiyeon tidak pernah menceritakan dirinya. Tetapi aku tahu kalau dia pernah mengharumkan nama sekolah karena memenangkan lomba lukis yang diikutinya.

Dadaku terasa sesak saat melihat Hyun Woo tersenyum pada Jiyeon dan mengusap kepalanya. Jiyeon terlihat bahagia bersama Hyun Woo. Apakah dia sebahagia itu saat dia bersamaku ? Saat itulah aku tahu kalau aku tidak akan pernah mendapat kesempatan kedua. Aku tidak akan bisa menebus kesalahanku pada Jiyeon.Aku tidak bisa memperbaiki semuanya. Seharusnya aku sadar hal itu. Kenapa aku baru menyadari arti penting Jiyeon saat aku tidak bersamanya lagi ? Asaku hilang. Mataku semakin berkabut.  Aku melangkah mundur. Tidak mampu melihat kebersamaan mereka berdua lebih lama lagi.

Too young, too dumb, to realize
That I should have bought you flowers
And held your hand

Aku hancur sekarang. Dari Minho dan Taemin baru ku ketahui kalau Jiyeon dan Hyun Woo sudah menjalin hubungan. Kadang sepulang sekolah , kulihat mereka berdua berjalan beriringan sambil  bergandengan tangan. Mereka berdua terlihat bahagia.

“Kau tidak apa-apa ?” tanya Minho untuk kesekian kalinya saat ia memergokiku sedang mencuri pandang ke arah Jiyeon.

Aku mengangguk dan tersenyum kecil , “Aku baik-baik saja. Dia bahagia sekarang , itu sudah cukup.”

Minho menepuk bahuku. Mencoba memberikan dukungannya. Dia memang sahabat yang baik.

Aku melirik Jiyeon sekali lagi. Dia sedang  memegang setangkai bunga tulip kuning . Aku melihat ekspresi senangnya saat mendapat bunga dari Hyun Woo. Saat kami pacaran dulu , aku jarang memberikan bunga untuknya. Bagiku memberikan bunga itu merupakan hal-hal kacangan yang memalukan. Aku ingat kalau Jiyeon pernah berkata kalau ia menyukai tulip kuning. Saat aku bertanya alasannya , Jiyeon hanya tersenyum penuh arti.

Hyun Woo dan Jiyeon berjalan melewati aku dan Minho. Aku memperlambat langkahku , berharap Jiyeon melihatku dan tersenyum padaku. Tapi itu tidak terjadi. Jiyeon sepertinya tidak melihatku. Kami berdua seperti orang asing yang tidak pernah saling kenal. Aku menghentikan langkahku , menatap punggung Jiyeon yang semakin menjauh. Kulihat Hyun Woo merangkul bahu Jiyeon. Aku tidak pernah berbuat seperti itu. Aku selalu meninggalkan Jiyeon berjalan sendirian di belakangku. Aku tidak mau repot-repot menunggunya. Apakah aku pernah bersikap segentle Hyun Woo saat bersama Jiyeon ? Aku rasa tidak.

“Seungho ayo cepat ! Kita sudah terlambat untuk pelajaran berikutnya !”

Teriakan Minho membuyarkan lamunanku. Ia tampak tidak sabar dan sudah jauh berjalan di depanku . Aku mengangguk dan segera berlari ke arahnya. Sekilas aku melihat ke arah belakang lagi. Tapi Jiyeon dan Hyun Woo sudah tidak terlihat lagi. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Should have gave you all my hours
When I had the chance

Siang itu kulihat Hyun Woo berjalan sendirian menuju ke ruang OSIS. Aku mengikutinya dari belakang dan menyapanya. Hyun Woo terlihat sedikit terkejut melihatku , namun ia segera tersenyum ramah.

“Ada apa ?” tanya Hyun Woo.

“Apa kau mau ke ruang OSIS juga ?”

Hyun Woo mengangguk , “ Aku mau memberikan proposal untuk malam amal sekolah . Kau sendiri mengapa datang kemari?”

Aku menunjukkan lembaran map yang kubawa.

“Pertandingan Basket.” ucapku singkat.

Hyun Woo mengangguk paham. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terbesit di benakku.

“Hyun Woo , bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Hyun Woo melihatku heran . Tetapi kemudian ia mengangguk.

“ Kau punya pacar kan ? Memangnya kau masih sempat mengurusi hal-hal seperti ini? Apalagi yang aku tahu kau selalu aktif dalam kegiatan amal sekolah. Apa pacarmu tidak pernah merasa tersisih? ”

Hyun Woo tersenyum kecil saat mendengar perkataanku.

“Itu mudah saja . Aku selalu jujur pada pacarku. Dia pacar yang pengertian dan tidak pernah menuntut. Sehingga kadang aku sendiri marah pada diriku karena tidak sempat memperhatikannya. Lalu aku selalu berusaha untuk menemuinya saat aku memiliki waktu. Memberikan apa yang ia inginkan untuk menebus kesibukanku. Selalu bersikap terbuka dan saling percaya bahkan mengajak ia untuk terlibat dengan hal-hal positif yang aku kerjakan.” jelas Hyun Woo panjang lebar.

Aku terperangah mendengar ucapannya. Apakah dia ini malaikat ? Bagaimana bisa ada orang sebaik dia. Bahkan saat aku bersama Jiyeon , hal yang pertama kulakukan adalah mendorongnya jauh-jauh dari kegiatanku. Aku tidak ingin Jiyeon terlibat dalam semua urusanku karena aku takut dia akan merepotkan.

“Kau tidak apa-apa ?” tanya Hyun Woo.

Suaraku tercekat di tenggorokan , lidahku kelu. Aku mengerti kalau aku tidak akan bisa mengalahkan pria baik ini. Aku dan Hyun Woo benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat. Bagai langit dan bumi , bagai air dan api. Hyun Woo punya sesuatu yang tidak aku miliki dan hal itu yang membuat Jiyeon nyaman bersamanya. Ia memilih menghabiskan waktunya bersama Jiyeon karena ia menganggap itu kebutuhan. Aku memilih menghindar dari Jiyeon karena bagiku waktu bersama Jiyeon adalah kewajiban. Seharusnya aku menghargai setiap detik dan menit yang kulewati bersama Jiyeon.

Aku tersenyum pada Hyun Woo .

“Sekarang aku mengerti…” ucapku pelan.

Take you to every party
Cause all you wanted to do was dance

 Pesta prom sekolah akan berlangsung beberapa minggu lagi. Semua anak di kelasku , terutama anak-anak perempuan sibuk membicarakan hal ini. Aku dan Minho tertawa mendengar cerita Taemin saat ia merasa tersiksa saat menemani kekasihnya Sulli pergi berbelanja untuk keperluan prom.

“Kau mau pergi dengan siapa ?” tanya Minho tiba-tiba.

Aku berfikir sejenak ,lalu menggeleng , “ Tidak tahu.”

Pesta prom kali ini sepertinya akan diselenggarakan dengan cukup meriah. Aku tersenyum saat mengingat betapa dulu Jiyeon berkhayal betapa sempurnanya malam prom. Aku yang saat itu duduk di kelas satu SMA hanya tersenyum dingin dan tidak peduli. Ironis , karena sekarang akulah yang berkhayal untuk pergi ke pesta prom bersamanya.

Aku memaki diriku sendiri. Berulang kali aku berusaha menyadarkan diriku sendiri , kalau Jiyeon bukan milikku lagi. Dia sudah menjadi milik orang lain.

Ku alihkan pandanganku ke luar jendela . Tampak anak-anak kelas lain sedang berolahraga. Mataku terpaku pada sosok yang sudah ku kenal. Jiyeon. Anehnya dia terlihat kesakitan. Seperti kesetanan , aku langsung berlari keluar kelas. Tidak kupedulikan teriakan Minho dan Taemin yang memanggil-manggil namaku. Di pikiranku hanyalah memastikan Jiyeon baik-baik saja.

Aku berlari menuruni tangga dan segera menuju lapangan. Kulihat Jiyeon masih duduk di tanah sambil memegangi kakinya. Teman-teman perempuannya berdiri mengelilinginya.

“Apa yang terjadi ?” tanyaku panik. Jiyeon mengangkat wajahnya. Ia terlihat kaget melihat kedatanganku.

“Kakinya terkilir , tadi saat lari estafet Jiyeon terjatuh .” ucap seorang anak.

Aku menghela nafas panjang , kemudian mengulurkan tanganku. Jiyeon menatapku bingung.

“Apa kau bisa bangun sendiri ?” tanyaku khawatir. Jiyeon mengangguk.

“Kau tidak perlu khawatir .” ucap Jiyeon pelan.

Hatiku terasa perih saat Jiyeon menolak uluran tanganku dan mencoba untuk bangun sendiri. Namun, ia terjatuh. Untunglah refleks ku lebih cepat sehingga berhasil menahan tubuhnya.

“Apa kau bodoh ?” ucapku kesal. Jiyeon hanya mendelik sebal dan tidak berkata apa-apa.

Aku memaksanya untuk naik ke punggungku. kemudian aku berjalan menuju ke ruang kesehatan.

“Kau tidak perlu melakukan ini.” ucap Jiyeon.

“Apa maksudmu ? Kakimu terluka !” omelku.

“Itu bukan urusanmu lagi.” ucapnya telak.

Aku menguatkan hatiku. Sudah sewajarnya ia mengatakan hal itu. Aku memang bukan siapa-siapanya lagi. Kami berdua sampai di ruang kesehatan sekolah . Dibantu petugas kesehatan , aku menurunkan Jiyeon di atas tempat tidur.

“Dia tidak apa-apa hanya sedikit terkilir.” jelas petugas kesehatan.

Aku mengangguk mengerti . Jiyeon terlihat sedikit khawatir.

“Apakah aku bisa pergi ke pesta prom ?” tanya Jiyeon.

Aku tertawa dalam hati. Gadis ini benar-benar sudah terkontaminasi dengan dongeng – dongeng Disney terutama Cinderella. Petugas Kesehatan meyakinkan Jiyeon kalau kakinya akan sembuh dua sampai tiga hari lagi. Jiyeon terlihat lega.

“Kalau begitu aku pergi dulu.” ucapku dan bermaksud keluar dari ruang kesehatan. Setidaknya aku sudah tahu kalau Jiyeon akan baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup.

“Seungho !” panggil Jiyeon pelan. Aku berbalik dan melihat mata indah itu sedang menatapku.

“Terima kasih …” ucapnya sambil tersenyum tulus.

Senyuman Jiyeon menambah warna hatiku , aku mengangguk sambil tersenyum kecil.

Tiba-tiba pintu ruang kesehatan terbuka. Hyun Woo tampak tergesa-gesa masuk. Di matanya terlihat kecemasan yang sangat dalam.

“Hyun Woo-ya… “ ucap Jiyeon kaget. Hyun Woo langsung menarik Jiyeon ke dalam pelukannya.

“Kau tidak apa-apa ?” tanya Hyun Woo khawatir. Jiyeon menggangguk pelan. Namun mata Jiyeon masih tertuju padaku , ia terlihat tidak nyaman. Aku mengerti , kehadiranku disini menganggu privasi mereka. Lagipula aku tahu kalau aku tidak akan mampu melihat kebersamaan mereka berdua. Dalam diam , aku perlahan melangkahkan kakiku ke luar dari ruang kesehatan.

Now my baby’s dancing
But she’s dancing with another man

 Suara alunan musik jazz memenuhi aula sekolah , menggantikan dentuman music rock dan r n b yang berbunyi sesaat lalu. Beberapa temanku sudah berdiri di lantai dansa sambil berdansa dengan pasangannya masing-masing. Kulihat Taemin dan Sulli sedang asyik berdansa sambil menikmati alunan lagu. Aku tersenyum saat Minho sedang mencoba mengajak salah satu adik kelasku Suzy untuk turun ke lantai dansa. Aku meneguk minumanku. Pesta perpisahan. Mulai dari malam ini , kami akan terjun ke dunia luar menjalani mimpi kami masing-masing. Beberapa anak yang kukenal seperti Onew dan Jonghyun akan menjalankan wajib militer mereka. Taemin dan Minho akan masuk Universitas S . Mereka berhasil meraih beasiswa basket sehingga mereka akan kuliah disana. Sebenarnya aku juga mendapatkan beasiswa itu. Tetapi ayahku ingin aku meneruskan perusahaannya dan memutuskan agar aku melanjutkan kuliah di Jepang . Mengambil jurusan Bisnis. Walaupun aku tidak setuju dengan pilihan ayahku, namun , aku merasa pergi Jepang adalah pilihan yang tepat untuk saat ini. Kuharap dengan pergi ke Jepang , aku bisa berharap sedikit-demi sedikit bisa melepaskan dan merelakan Jiyeon.

Aku menghela nafas panjang . Aku akan berangkat ke Jepang besok pagi-pagi sekali menggunakan penerbangan pertama , jam 8 pagi. Aku sudah memberitahukan perihal kepergianku dengan Minho dan Taemin. Awalnya mereka berdua sempat marah dan kesal atas kepergianku yang terlalu mendadak.Namun mereka berdua bisa menerima. Aku juga meminta mereka untuk tidak memberitahukan kepergianku kepada siapapun di sekolah, termasuk Jiyeon.

Aku kembali melayangkan pandanganku ke arah lantai dansa .Kulihat Jiyeon dan Hyun Woo sedang berdansa. Jiyeon terlihat sangat cantik malam ini. Bulir bening memenuhi mataku. Ini malam terakhirku melihatnya. Mulai malam ini aku tidak akan bisa melihat sosoknya lagi. Tidak bisa melihat senyum indahnya , tidak bisa mendengar gelak tawanya , dan tidak bisa merasakan pesona indahnya. Jiyeon adalah cinta pertamaku dan karena kebodohanku , aku tidak bisa menjadikannya cinta terakhirku.

Aku memutuskan turun ke lantai dansa . Mendekati pasangan itu. Jiyeon terlihat kaget melihatku ada di belakang mereka , sementara Hyun Woo tersenyum datar.

“Dansa terakhir ?” pintaku sambil mengulurkan tangan. Jiyeon melotot terkejut. Hyun Woo menatapku sebal . Namun aku tidak peduli. Untuk terakhir kalinya. Aku menekankan kata-kata itu dalam hati.

Hyun Woo akhirnya mengalah , ia tersenyum pada Jiyeon . membisikkan sesuatu padanya yang membuat rona merah jambu terlukis di wajah mungilnya. Aku berdecak kesal. Hyun Woo tertawa kecil dan kemudian meninggalkan kami berdua.

“Itu tadi apa ?” tanyaku setelah meraih tangannya dan kami berdua mulai larut dalam music.

Jiyeon menggeleng , “Bukan urusanmu…”

Aku mengerang pelan . Baiklah , Jiyeon benar, hal itu memang bukan urusanku. Ini sudah lebih dari cukup. Tiba-tiba terdengar lagu yang sangat familiar dari arah sound system. Aku dan Jiyeon sama-sama terkejut. Ini lagu kami berdua. Lagu kenangan kami , Lagu yang kami dengarkan hanya berdua di taman. Aku mengeratkan pelukanku di tubuh Jiyeon. Seakan merasakan hal yang sama , Jiyeon menyenderkan kepalanya di dadaku. Kami berdua larut dalam alunan lagu ini. Di benakku tergambar jelas semuanya. Bagaimana kami berdua saling jatuh cinta , bertengkar , berbaikan kembali , bertengkar lagi , hingga akhirnya aku meninggalkannya untuk selama-lamanya dan kemudian dia menghapus diriku dari hatinya.

Kurasakan dadaku sedikit basah. Aku tertegun . Apakah Jiyeon menangis ? Aku meletakkan daguku di atas kepalanya. Kami berdua diam . Aku tidak berani mengeluarkan sepatah katapun . Tidak berani berspekulasi macam-macam . Tidak berani berharap lebih. Karenaaku tahu apa yang kuinginkan adalah hal yang sangat mustahil.

Kulihat Hyun Woo di sudut aula sedang menatap kami berdua dengan aneh . Sadar aku melihatinya. Hyun Woo segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Aku menunduk . Tercium aroma Jiyeon yang selalu membuat jantungku berdebar lebih cepat.

“Jiyeon-a…” panggilku pelan.

Jiyeon mengangkat wajahnya. Menatapku yang terdiam   , “Wae?”

Aku mengecup keningnya pelan , “Maaf…”

Although it hurts
I’ll be the first to say that I was wrong
Oh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know

Jiyeon mengerjapkan matanya , ia tampak terkejut. Aku sendiri juga terkejut dengan apa yang barusan aku lakukan. Itu semua diluar kendaliku. Jiyeon berdeham , ia melepaskan diri dari pelukanku. Kami berdua tampak canggung satu sama lain. Kulirik sudut aula , syukurlah Hyun Woo tidak ada di tempatnya tadi . Bagaimanapun , aku tidak ingin merusak hubungan Hyun Woo dan Jiyeon. Hyun Woo adalah sosok yang pantas untuk membahagiakan Jiyeon. Ia lebih baik dariku.

“Kita harus bicara , Jiyeon .” ucapku sambil menarik tangannya keluar dari aula. Kami berdua pergi ke taman sekolah yang dihiasi lampu hias sehingga terlihat lebih indah dari biasanya.

“Apa yang mau kau katakan ?” tanya Jiyeon sambil melipat kedua tangannya.

Aku menghela nafas. Aku harus mengatakannya. Ini malam terakhirku.

“Maaf , atas segalanya…” ucapku pelan.

Jiyeon melihatku tidak percaya , bulir bening memenuhi mata indahnya. Nafasku terasa sesak saat melihat bulir itu jatuh di kedua pipinya.

“Mengapa baru sekarang ?” tanya Jiyeon dingin sambil mengusap air matanya.

“Karena kau benar , aku ini memang pengecut.” jawabku sambil tersenyum pahit. Ingatanku melayang saat malam kami berdua putus. Saat itu Jiyeon mengatakan aku pengecut.

“Jangan lupa kalau kau juga egois .” jawab Jiyeon.

Aku terkekeh , lalu mengangguk , “Semua yang kau katakan tentang diriku benar adanya.”

Jiyeon menunduk , “Kita tidak akan bisa kembali lagi ,kau tahu itukan…” suaranya sedikit bergetar.

Aku memegang bahunya, “ Aku tahu , Aku tahu kita tidak akan bisa lagi kembali. Namun aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu. “

Jiyeon mengangkat wajahnya , ia tampak tidak percaya atas pengakuanku.

Aku meraihnya ke dalam pelukanku. Jiyeon tidak melawan.

“Selamat karena kau sudah menemukan orang yang tepat,” bisikku pelan.

Jiyeon mengangguk , “Terima kasih.”

“Aku serius , Hyun Woo benar-benar orang baik , dia jauh lebih baik dariku,” ucapku .

Dadaku makin terasa sesak. Aku bimbang . Apakah aku harus memberitahu Jiyeon atas kepergianku ke Jepang , atau tidak. Jiyeon membenamkan wajahnya di dadaku. Aku tahu ia menangis dan tidak ingin aku melihatnya. Bagaimanapun ini adalah pesta perpisahan sekolah sekaligus pesta perpisahan yang sebenarnya diantara kami. Jiyeon tampaknya sadar bahwa setelah ini kami mungkin tidak akan bertemu lagi.

Kulihat Hyun Woo sedang berjalan ke arah kami. Raut wajahnya tampak tenang. Aku mengusap kepala Jiyeon dan tersenyum pada Hyun Woo.

“Pangeranmu sudah datang ,” bisikku pada Jiyeon. Jiyeon melepaskan dirinya dan menghapus air matanya.

“Sebentar lagi pengumuman Queen dan King Prom , aku rasa kalian harus bergegas masuk.” ucap Hyun Woo pelan.

Jiyeon tersenyum dan berjalan ke arah Hyun Woo. Hyun Woo merangkulkan tangannya ke bahu Jiyeon.

“Kau tidak ikut ?” tanya Hyun Woo padaku. Aku menggeleng.

“Kalian duluan saja…” ucapku .

Aku mengikuti mereka berdua dari belakang. Mereka tampak serasi. Hyun Woo menggenggam tangan Jiyeon. Aku menghela nafas panjang. Semoga apa yang aku lakukan ini tepat.Aku memutuskan untuk tidak memberitahunya mengenai kepergianku. Diam-diam aku sudah menyiapkan kado kecil untuknya. Aku meminta Minho untuk memberikannya kepada Jiyeon setelah aku berangkat. Aku tidak bermaksud mengikatnya. Kalung itu hanyalah kenang-kenangan yang terakhir kali dariku.

Seorang anak anggota OSIS mengumumkan Queen dan King Prom tahun ini. Aku hampir meloncat senang saat dia mengumumkan Jiyeon terpilih menjadi Queen Prom sekolahku. Aku tidak terkejut saat Hyun Woo juga diumumkan sebagai King. Dia pantas mendapatkannya.

“Kau hebat.” bisik Minho dan Taemin yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingku. Aku hanya tersenyum.

“Itu sebenarnya illegal tahu !” omel Taemin pelan. Aku dan Minho hanya terkekeh geli. Aku menatap Jiyeon yang sedang mengenakan tiaranya. Dia bahagia. itu cukup. Cukup aku, Minho dan Taemin yang tahu kalau sebenarnya aku sudah menghabiskan hampir sebagian besar tabunganku untuk diam-diam mengkampanyekan Jiyeon sebagai Queen Prom.

“Mau minum-minum sebentar untuk merayakan patah hatimu ? “ ajak Minho.

“Yya !” omelku meninju bahu Minho. Anak itu hanya meringis.

Taemin , Minho dan aku kemudian berjalan keluar. Kulihat lagi Jiyeon yang sedang berdansa dengan Hyun Woo. Ia memeluk Hyun Woo dengan erat.

Aku memaksakan senyumku . Kemudian bergegas menyusul Minho dan Taemin.

I hope he buys you flowers
I hope he holds your hand
Give you all his hours
When he has the chance
Take you to every party
Cause I remember how much you loved to dance
Do all the things I should have done
When I was your man

Erangan Minho terdengar keras saat Taemin tidak sengaja meneteskan air liur ke bajunya. Aku tergelak , kulihat jam di tanganku. Masih pukul delapan pagi. Saat ini aku sedang berada di bandara. Kugenggam dengan erat paspor dan tiket pesawat dengan tujuan Tokyo di tanganku.

Suara pengumuman dari pengeras suara mengumumkan kalau pesawatku akan lepas landas.

Minho membangunkan Taemin dari tidurnya. Aku berdiri dan menenteng tas koperku.

Kuberikan pelukan hangat pada Minho dan Taemin. Kedua sahabatku, orang yang selalu ada disampingku disaat suka dan duka. Orang-orang yang tidak pernah meninggalkanku sendirian

Mata Taemin tampak berkaca-kaca. Aku terkekeh geli dan menepuk bahunya. Minho tampak tenang dan tersenyum mengerti.

“Berjanjilah akan meneleponku segera begitu tiba disana.” ucap Minho.

Aku mengangguk , “Selamat tinggal .”

Aku menyeret tas koperku dan berjalan menuju ke arah pintu keberangkatan. Langkah kakiku terasa berat. Seberat saat aku harus melepaskan Jiyeon. Aku menguatkan hatiku. Ini yang terbaik. Beberapa penumpang lain tampak antri. Petugas mulai memeriksa paspor mereka. Aku bediri di belakang mereka.

“Jepang ?” tanya petugas itu saat memeriksa pasporku. Aku mengangguk , “Kuliah.” jawabku pelan. Petugas itu mengangguk. “ Semoga berhasil !” Aku membungkukkan kepalaku , “Terima kasih ,” jawabku singkat.

“Seungho !” tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang gadis. Aku menoleh dan melotot tidak percaya. Jiyeon sedang berlari ke arahku. Rambutnya terlihat berantakan. Nafasnya menderu dengan cepat. Ia tersengal-sengal Aku segera berbalik dan berlari ke arahnya. Jiyeon menubrukku dan segera memelukku erat-erat. Aku membalas pelukannya. Mengusap rambutnya. Aku heran dan lega saat melihat Jiyeon . Mengapa ia bisa ada disini ? Apa yang terjadi ? Sejenak, sebuah asa melintas di kepalaku. Harapan kecil . Tetapi aku segera menepis pikiran itu .

“Apa yang kau lakukan disini ?”

Jiyeon mengangkat kepalanya. Bulir bening memenuhi matanya.

“Kenapa tidak bilang mau pergi ?”

Aku menelan ludah , tidak tahu harus menjawab apa.

Jiyeon menatapku tajam. Menunggu jawabanku. Akhirnya aku memberanikan diri membuka suara.

“Appa  memintaku melanjutkan kuliah di Jepang.” jawabku singkat.

Jiyeon melepaskan pelukannya. “Benarkah ?”

Aku mengangguk. “Kenapa kau ada disini ?” tanyaku.

Jiyeon menunduk , ia tampak salah tingkah saat mendengar pertanyaanku.

“Wae ?”

Aku mengenggam tangan Jiyeon. Berharap menemukan jawabannya. Saat ini yang kuperlukan adalah sebuah kepastian.

“Karena…” Jiyeon menghentikan ucapannya. Ia tampak ragu. Aku mengangkat wajahnya dan menatap langsung manik matanya.

“Karena apa ?”

“Karena aku masih mencintaimu …”

Aku melangkah mundur mendengar ucapan Jiyeon.  Ia tampak kecewa melihat sikapku.

“Apa katamu tadi? “ tanyaku kembali Sambil berusaha mencerna pernyataan Jiyeon barusan.

Jiyeon hanya diam . Kemudian ia memegang wajahku dengan kedua tangannya.

“Aku masih mencintaimu.” ucapnya pelan.

Aku tersenyum. Semua beban berat yang menimpaku hilang sudah. Tuhan mendengar doaku.

Aku masih diberi kesempatan kedua. Kesempatan yang tidak akan aku sia-siakan Aku tidak mau kehilangan gadis ini lagi. Jiyeon adalah segalanya bagiku.

“Aku juga.” ucapku sambil membelai lembut rambut Jiyeon. Kemudian aku mengecup pelan bibir mungilnya itu. Melampiaskan semua perasaan rinduku atas dirinya. Kudengar ejekan Minho dan siulan Taemin yang menggoda kami berdua. Namun aku tidak peduli.

Kuhentikan ciumanku. Aku tersenyum melihat wajah Jiyeon yang memerah. Segera kurengkuh dia kembali dalam pelukanku.Senyum lebar terlukis di wajahku.

“Dasar bodoh , sekarang kita dilihat oleh banyak orang !” omel Jiyeon sambil menyembunyikan wajahnya di dadaku. Aku memeluknya lebih erat. “Aku mencintaimu…” bisikku pelan.

***

5 Tahun kemudian

Jiyeon POV

Aku melirik jam tanganku. Semestinya dia sudah tiba. Aku melihat ke arah terminal kedatangan. namun tanda-tanda keberadaan orang itu tidak terlihat. Aku melirik surat kabar yang tengah dibaca oleh orang disampingku. Aku tersenyum melihat foto Hyun Woo tampak tercetak lebar di halaman utama. Ku baca judul berita itu sekilas. ‘Lee Hyun Woo , Jaksa masa depan’

Aku  bangga padanya. Pemuda itu tidak pernah mengecewakanku. Sampai sekarang , ia tetap menjadi sahabat terbaikku. Ingatanku kembali terbayang saat malam prom sekolah. Malam saat aku dan Hyun Woo memutuskan untuk berpisah secara baik-baik. Malam itu Hyun Woo menyadarkanku kalau kami berdua tidak ditakdirkan untuk bersama. Ia menyadarkanku kalau aku masih mencintai pria menyebalkan  yang sudah mencuri hatiku. Aku sadar Hyun Woo benar , aku tidak bisa melepaskan orang itu.

Aku medesah kesal. Aku sudah menunggu selama dua jam di  sini. Tetapi belum terlihat tanda-tanda keberadaan orang itu. Apa dia tidak kembali kesini ? Apa dia lebih betah di Jepang ? Aku segera menyingkirkan pikiran negatifku.

Sudah 5 tahun aku menunggunya. Dia pergi ke Jepang untuk melanjutkan kuliah bisnis. Aku mengerti sebenarnya dia tidak ingin pergi. Tetapi itu permintaan ayahnya agar ia bisa meneruskan usaha ayahnya dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Aku tersenyum saat teringat hari disaat kami kembali bersama.

Tiba-tiba sebuah tangan besar menutupi mataku. Senyum lebar tersungging di wajahku. Namun , aku segera menyembunyikannya. Aku ingin memberikan sedikit pelajaran pada pria jahat ini.

“Yya ! Kau terlambat !” omelku.

“Mian, pesawatnya tadi sempat tertunda keberangkatannya karena cuaca buruk.” bujuknya lembut.

Sial , ia kembali mengeluarkan senjatanya. Bagaimana bisa aku selalu jatuh pada senyumnya yang menawan itu.

Seungho hanya terkekeh saat akhirnya aku memeluknya erat.

“Aku tidak akan pergi lagi.” ucapnya pelan. Aku mengangguk. Seungho melepaskan pelukanku.

“Ayo… Ayahku sudah menunggu kita di rumah.” ajaknya. Seungho menggenggam erat tanganku. Aku menyukainya. Tangannya selalu terasa hangat. Kuharap ia akan selalu menuntunku seperti ini. Kuharap ia tidak pernah melepaskan tangannya. Kuharap ia adalah jawaban dari semua doaku kepada Tuhan. Seungho tersenyum saat mengetahui aku sedang menatap dirinya. Dan saat aku melihat senyumnya. detik itu juga aku yakin kalau semua harapanku itu nyata. Tuhan sudah mengabulkan semuanya.

“Jiyeon, aku mencintaimu…”

FIN

 Selesai… tamat… the end…. , awalnya mau dibikin sad ending sesuai lagu ,  tapi author nggak tega sama Seung Ho , ya udah endingnya jadi gini. sedikit maksa dan sedikit gaje. Author mohon maaf buat yang suka Hyun Woo .  Nggak maksud  ngecewain. Jangan lupa comment ya… 😀

28 thoughts on “[FF Freelance] When I Was Your Man (Oneshot)

  1. Huh.. #lega untung gak sad ending..
    Daebak..
    Feel nya dapat.. (Y)
    Banyak’in buat ff seungji nya lagi ya thor.. Fighting..
    Seungji jjang, author jjang..

  2. Bener2 DAEBAK!!! Pokonya 🙂 aku kira mau sad ending tapi alamdulillah engga hhe, klo bisa mah bikin lagi tpi couplenya ~seungji~

  3. aaaa ini keren banget ceritanya :’) dikirain bakalan sad end eh taunya engga 😀 haha bagus bagus biar ga nangis nih 😀 kekeke
    tapi tadi diawal sempet ngerasa nyesek juga gegara seungho 😀 haha
    hyunwoo gila dia itu keren banget! baik banget! sukaaaa 😀 :*
    aaahh pokoknya keren bangetlah ff ini suka banget 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s