[FF Freelance] Am I Really Found You? (Oneshot)

Am I Really Found You

Title : Am I Really Found You? (Sequel of Find Me)

Author : Rut Lyvia (@lyviamidul)

Genre : Romance, Family, Friendship

Rating : PG+13

Main Cast :

·         Im Yoona

·         Xi Luhan

Support Cast :

·         Oh Sehun

·         Seo Joo Hyun

·         Baek Yerin

Author’s Note :

Hallo semuanya. Saya kembali dengan sequel dari Find Me. Udah pad abaca belum? Kalau belum, cari aja di wordpress sini yah. Terus sequel dari I Got A Girl, Yeppeo milik saya yang ber-cast Krissica itu kemungkinan besar gak ada sequel, kenapa? Pertama, malas. Kedua, sedikit idenya. Ketiga, berusaha membuat ff lain. Kelima, karena ff sica diperjarang disini, saya takut kalau ff nya makin lama di post. Nimati saja yah FF ini hehehee happy reading!

***

            Ketukan pintu itu terdengar hingga ke pendengaran yeoja itu, Im Yoona. Dia menoleh ke jam dinding yang terletak di ruang tamu rumahnya, jarum jam menunjukkan pukul 5 sore. Senyuman pun muncul di wajah cantik seorang Im Yoona itu.

            “Akhirnya..” Yoona bangkiit dari duduknya sehingga semakin jelas busana yang ia kenakan. Yoona tampak rapid an menawan. Dia pasti sudah siap untuk pergi ke suatu tempat. Dia meraih handbag yang terletak disebelahnya tadi lalu berjalan ke pintu keluar. Suara heels dan lantai menjadi perpaduan yang menimbulkan suara di ruangan itu.

            Yoona membuka pintu rumahnya dan muncullah sosok yang dia tunggu sedari tadi, kekasihnya, Xi Luhan. Luhan langsung tersenyum lebar untuk menyambut kekasihnya itu.

            “Lama sekali, aku sudah menunggumu sedari tadi.” Kata Yoona. Luhan tidak langsung menjawab, Luhan menggenggam tangan Yoona dan menarik Yoona dengan lembut ke mobil yang dia kendarai ke rumah Yoona.

            Luhan membuka pintu untuk Yoona lalu Luhan masuk ke posisi kemudi di mobil itu.

            “Maaf, tadi aku menjemput sepupuku di Busan. Dia dating dari Jepang dan aku tidak mengerti bagaimana bisa dia nyasar ke Busan, padahal tujuannya Seoul, apartementku.” Jelas Luhan sambil memundurkan mobilnya dan membawa mobil itu pergi ke tempat tujuan mereka.

            “Sepupumu? Siapa? Yeoja?” Tanya Yoona tanpa henti. Luhan terkekeh pelan karena pertanyaan Yoona yang terdengar cemburu bagi Luhan.

            “Iya, sepupuku. Seo Joo Hyun akrab dipanggil Seohyun. Yeoja.” Jawab Luhan, dia tidak mau mengoceh lebih banyak karena dia berusaha focus pada jalannya sekarang.

            “Yeoja? Dia tinggal dimana?” Tanya Yoona lagi.

            “Rumah tetapnya di Jepang, dia akan menginap di apartementku kira-kira 1 minggu. Sifat dia sangat selektif, jadi dia mau menyewa apartement dengan fasilitas terbaik, pelayanan yang tidak mengecewakan, dan begitulah.” Jawab Luhan lagi. Yoona terdiam, sepertinya Luhan benar-benar tidak bisa diganggu saat ini, dia benar-benar focus ke acara menyetirnya itu.

***

            Yoona mengeratkan blazer yang dia kenakan di tengah bioskop 4D yang dingin ini. Tak lama kemudian muncullah sosok Luhan sambil membawa 1 kotak penuh popcorn dan 2 gelas coklat panas. Luhan duduk di sebelah Yoona dan memberikan salah satu gelas coklat panas itu.

            “Popcorn kali ini hanya 1 kotak?” Tanya Yoona sambil menerima gelas coklat panas itu.

            “Aku harus menghemat. Mulai sekarang penghuni apartementku bertambah satu.” Jelas Luhan, Yoona menghela nafasnya kali ini.

            “Aku bercanda Yoong. Aku hanya ingin kita lebih romantis.” Kata Luhan sambil memberikan 1 kotyak popcorn itu ke Yoona. Yoona mengambil salah satu popcorn itu dari ratusan popcorn lalu mengunyahnya.

            “Kita simpan untuk di dalam nanti.” Saran Yoona. Yoona menghela nafas lagi sambil memeluk lengannya erat. Luhan yang sadar bahwa Yoona kedinginan langsung merangkul Yoona dengan lengan kirinya.

            “Lebih hangat bukan?” Tanya Luhan. Yoona mengangguk pelan.

            “Lu, lebih baik Seohyun tidur di rumahku saja.” Kata Yoona.

            “Aigoo, jangan cemburu seperti itu chagiya. Kami sedarah, tenang saja, kami tidak akan melakukan apa-apa.”

            “Tidak. Biarkan dia menginap di rumahku. Satu malam saja juga boleh. Lagi pula appa dan umma sedang berbulan madu untuk ke-5 kalinya dan aku sendirian.” Oceh Yoona. Luhan berfikir sejenak.

            “Akan aku bicarakan dengannya.” Kata Luhan.

***

            “Annyeong haseo, joneun Im Yoona imnida. Aku kekasihnya Luhan.” Kata Yoona sambil memperkenalkan diri dan membungkukkan badannya kepada yeoja yang berada di hadapannya sekarang, di ruang tamu rumahnya.

            “Annyeong haseo. Kau sudah mengenalku dari Luhan oppa bukan?” Tanya yeoja itu dengan senyum yang terkesan tidak menyenangkan.

            “Ne, aku sudah tahu.” Berbeda dengan Yoona, dia berusaha bertingkah baik di hadapan salah satu anggota keluarga Luhan yang satu ini.

            Seohyun, nama yeoja itu, yeoja yang bersikap kurang baik pada Yoona tadi. Dia celingak-celinguk memerhatikan setiap sudut rumah ini dan matanya menatap Yoona sekali lagi.

            “Kamarku, dimana?” Tanya Seohyun dengan nada yang datar.

            “Mari kuantar.” Ajak Yoona, Yoona berniat mengambil tas yang agak besar disebelah Seohyun yang ia yakini itu berisi keperluan Seohyun selama di rumah Yoona untuk 3 hari ke depan. Tangan Yoona tiba-tiba ditahan oleh Luhan yang berada di belakang Seohyun sedari tadi.

            “Biar aku saja.” Kata Luhan lalu mengambil tas Seohyun itu. Seohyun menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.

            “Dimana Im Yoona? Aku mau beristirahat.” Kata Seohyun. Yoona hanya mengangguk dan berjalan ke lantai 2 rumahnya. Membuka salah satu pintu yang berwarna coklat itu dan muncullah kamar yang terkesan sederhana, nyaman, dan penuh kehangatan dalamnya.

            “Aku tidur disini?” Tanya Seohyun. Yoona mengangkat kedua alisnya seakan-akan mengatakan ‘kenapa?’.

            “Apa kamar ini kurang bagus? Aku rasa kamar ini lebih bagus disbanding kamarku di apartement.” Ucap Luhan yang menurutnya ini memang sebuah kenyataan. Kamar ini jauh lebih terlihat rapi disbanding apartementnya yang berantakan itu.

            “Kamarku? Bagaimana?” Yoona langsung membuka suara dan berjalan keluar dan menghampiri kamarnya, Yoona membuka kamarnya dan memang terlihat lebih bagus dan lebih lebar. Seohyun berjalan dan duduk tepat diatas kasur Yoona.

            “Disini jauh lebih nyaman. Aku mau disini.” Kata Seohyun sambil membuka heels dari kaki dia tersebut.

            “Seo, tapi ini..”

            “Sudahlah Luhan. Aku bisa tidur di kamar tadi.” Kata Yoona lalu tersenyum, tersenyum seperti biasanya.

            “Yoong, kamu tunggu diluar..eh..dibawah maksudku.” Kata Luhan, Luhan berusaha menyuruh Yoona menunggu Luhan dibawah.

            “Baiklah. Aku tunggu.” Ucap Yoona sambil menepuk pundak kanan Luhan dan menuruti kemauannya, menunggunya dibawah. Tak lama kemudian Luhan membuka pintu kamar tersebut untuk memastikan Yoona benar-benar menunggu dibawab. Yoona gadis yang baik, jadi Yoona benar-benar menunggu dibawah.

            “Seo, seharusnya kamu tidak boleh bersikap seperti itu.” Nasihat Luhan. Seohyun bangkit dari duduknya lalu menghampiri Luhan.

            “Kenapa? Karena dia kekasihmu kah oppa?”

            “Bukan, tapi kelakuanmu benar-benar tidak sopan tadi. Kamu tidak lihat dia bersikap baik padamu?” Seohyun memutar bola matanya setelah mendengar perkataan Luhan tersebut.

            “Jadi apa? Aku harus bersikap baik pada kekasihmu huh? Bukankah kau tahu bahwa aku menyukaimu dari dulu, oppa?!” Teriak Seohyun. Luhan langsung mendekap mulut Seohyun.

            “Aku tahu. Tapi..”

            “Tidak ada tapi-tapian. Aku membencinya.” Kata Seohyun setelah dia berhasil melepas dekapan tangan Luhan pada mulutnya.

***

            “Yoong, tolong ya.” Kata Luhan. Kini mereka sudah berada di depan mobil Luhan. Yoona mengantar Luhan ke mobilnya

            “Ya, aku akan berusaha mendekatkan diriku kepada calon saudaraku nanti.” Yoona terkekeh pelan. Luhan mengelus puncak kepala Yoona.

            “Aku menyayangimu, sangat menyayangimu.”

            “Aku juga, Lu.”

            “Kalau waktu itu kita tidak diajak secara paksa oleh MC pasangan yang serasi dan berkulit eksotis itu pasti kita tidak akan seperti sekarang.”

            “Kau benar, hehe.” Luhan langsung menarik Yoona ke dekapannya.

            “Tolong Yoong, jangan memaksa Seohyun untuk melakukan ini-itu. Jangan menasihatinya. Jaga jarak sedikit dengannya. Kumohon.” Kata Luhan.

            “Kenapa?” Tanya Yoona yang masih berada di dekapan Luhan.

            “Akan kujelaskan, nanti.” Mereka masih berpelukan, menghangatkan diri mereka satu sama lain. Sedangkan Seohyun, dia tengah menatap sepasang kekasih itu dengan tatapn bencinya itu.

            “Aku akan menggangti posisimu itu, Im Yoona.”

***

            Sekarang Luhan sudah berada di apartementnya. Dia menatap setiap inchi ruangan tersebut. Lebih baik dia merasakan ketidaknyamanan dengan beradanya Seohyun disini dibanding Seohyun bersikap kasar pada Yoona. Sebenarnya Luhan sudah mengetahui jika Seohyun menyukai Luhan sedari dulu. Seharusmya itu dilarang, mereka sedarah. Luhan sangat menyayangi Seohyun sebagai adiknya, berbeda dengan Yoona, Luhan menyayanginya sebagai seorang wanita di matanya.

            Luhan berjalan ke dapur, mengambil gelas bening dan tertera nama Yoona disana. Gelas sepasang kekasih yang dia dapati ketika hari perayaan berlangsungnya hubungan mereka selama 6 bulan pada 3 minggu yang lalu. Umur hubungan mereka memang masih seumur jagung, tapi besar cinta yang mereka miliki itu melebihi dari kebun jagung yang ada di muka bumi ini.

            Luhan mengisi gelas itu dengan air dingin yang ia dapati di dispenser itu. Luhan kembali berfikir untuk kedepannya. Bagaimana jika Seohyun dan Yoona bertengkar suatu hari? Dia harus membela siapa? Seohyun atau Yoona? Jika dia membela Seohyun, hubungan dia dan Yoona pasti sudah pasti berada di ujung tanduk. Jika dia memblas Yoona, pasti Seohyun akan menjelk-jelekkan Yoona ke orang tua Luhan yang berada di China dan Seohyun memiliki penyakit asma yang parah. Sepertinya Luhan harus mati suri untuk masalah kali ini.

***

            Spaghetti masakan Yoona sudah menghiasi meja makan di dapur rumahnya itu. Yoona melepas celemek yang dia pakai tadi dan beranjak ke kamarnya yang sekarang sedang digunakan oleh Seohyun. Yoona menelan ludahnya sebelum dia mengetuk daun pintu itu.

            “Masuklah, aku tahu kau diluar Yoona.” Teriak Seohyun dari dalam. Yoona bergidik ngeri, bagaimana bisa dia tahu kalau Yoona berada di depan kamarnya sekarang. Yoona membuka pintu itu perlahan dan sudah mendapati Seohyun yang sedang asik dengan iPadnya.

            “Bagaimana kamu tahu jika aku sedang berada diluar?” Tanya Yoona dengan hati-hati.

            “Bayanganmu terlihat dibawah sela pintu itu.”

            “Oh. Aku sudah membuat makanan malam untuk kita nanti. Aku tunggu dibawah yah.”

            “Iya.” Hanya satu kata yang keluar dari mulut Seohyun. Yoona yang merasa sudah tidak ada keperluan lagi dengan Seohyun langsung keluar dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

***

            Handuk yang Yoona pegang itu dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Setelah menurutnya rambut itu kering, Yoona mengeringkannya dan menyisirnya hingga rapi. Setelah itu dia turun untuk ke ruang makan. Dia memasuki dapur dan kosong. Tidak ada Seohyun disana. Yoona menarik salah satu bangku dan duduk diatasnya.

            “Haruskah aku memanggilnya lagi?” Tanya Yoona pada dirinya sendiri. Tiba-tiba dia mengingat perkataan Luhan, yaitu berjaga jarak dengan Seohyun. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya.

            “Tidak, aku harus mendengar apa kata kekasihku.” Yoona duduk sambil menahan dagunya dengan tangan kanannya. Dia mengamati spaghetti yang berada tepat di depan matanya. Rasanya mau sekali dia menyantap spaghetti itu. Tapi dia teringat dengan Seohyun, dia harus menunggu Seohyun, makan bersamanya agar mendapatkan nilai plus di mata Seohyun.

            Sayangnya acara menunggu Yoona yang tadi dia berfikir akan berhasil malah tidak membuahkan hasil. Sudah pukul jam sepuluh malan dan Seohyun tidak kunjung turun. Yoona yang merasa makanannya itu sudah dingin dan pasti tidak akan enak untuk dimakan dengan keadaan dingin ataupun dihangati dengan mesin penghangat tetap saja sudah tidak segar langsung membungkus dan membuangnya ke tempat sampah.

            “Baiklah, aku kehilangan berat badanku,” Yoona berjalan ke kamarnya sambil memerika ponselnya. Dia membaca pesan dari Luhan yang menurutnya bisa menghiburnya, Yoona tertawa kecil karena hal itu lalu segera tidur.

***

            Yoona sudah tampil rapi dengan pakaian kerjanya itu. Sekarang dia kerja sebagai manager di sebuah hotel. Luhan juga bekerja, ah tidak, lebih tepatnya dia mengelola sebuah café yang dia buat dengan tabungannya sendiri. Yoona bangkit berdiri ketika melihat Seohyun yang turun dari lantai 2.

            “Seoyhun-ssi, aku berangkat kerja dulu ya, annyeong.” Pamit Yoona sambil membungkukkan badannya. Seohyun diam tidak menjawab lalu menatap punggung Yoona yang sudah berjalan keluar dari rumah.

            “Maksudnya dia menyuruhku menginap disini untuk mejaga rumahnya selagi dia bekerja?” Oceh Seohyun.

***

            “Yoona-ah, makan siang dimana hari ini?” Tanya Sehun, anak kuliahan yang magang di hotel ini. Magang? Sebenarnya juga tidak bisa disebut seperti itu, appa Sehun adalah pemilik hotel ini. Mungkin lebih tepat dia dilatih untuk mengurus tempat ini nantinya.

            “Aku merindukan Luhan.” Hanya satu kalimay itu yang keluar dari mulut Yoona. Yoona, Luhan, dan Sehun memang sangat dekat. Mereka sudah seperti keluarga jika pergi berjalan bersama. Luhan dan Sehun juga sangat dekat.

            “Kalau begitu kita makan siang di cafenya, bagaimana?” Tawar Sehun yang berhasil membuat senyuman mengembag di wajah Yoona.

            “Baiklah, aku mau.”

***

            “Hyung!!” Teriak Sehun ketika mendapati Luhan yang sedang duduk sendiri sambil menatapi laptopnya itu.

            “Uh, Sehun! Kau mengagetkanku.” Protes Luhan. Sehun duduk di hadapan Luhan lalu Yoona duduk di sebelah Luhan.

            “Annyeong.” Sapa Yoona. Luhan tersenyum dan mengacak rambut Yoona yang menurut Yoona itu berupa sapaan untuknya.

            “Bagaimana kabarnya? Tidak ada masalah kan?” Tanya Luhan.

            “Tidak. Semua baik-baik saja.” Jawab Yoona.

            “Siapa yang kalian maksud?” Tanya Sehun penasaran.

            “Sepupuku.” Jawab Luhan. Tiba-tiba ponsel Luhan bordering tanda panggilan masuk. Luhan menghela nafas ketika melihat nama Seohyun disana. Luhan mengangkat telepon tersebut.

            “Yeobosseyo?”

            “Oppa! Aku tidak tahan tinggal disini!!”

            “Jangan berteriak, Seo. Ada apa?”

            “Aku ini bukan orang bodoh! Aku tahu kekasihmu, Im Yoona itu sengaja menyuruhku menginap di rumahnya untuk menjaga rumahnya ketika dia bekerja!”

            “Tidak, kamu salah paham, Seo.”

            “Bayangkan saja! Seorang pembantu saja dibayar untuk menjaga majikannya pulang! Sedangkan aku?! Disiapkan makan malam saja tidak!” Luhan kaget, darahnya serasa berhenti mengalir saat itu juga, Luhan merasakan kupingnya memanas. Luhan langsung menutup sambungan tersebut.

            “Yoong, kamu tidak menyiapkan makan malam kemarin?” Tanya Luhan.

            “Aku menyiapkannya.”

            “Seohyun bilang tadi kau tidak menyiapkannya.” Mata Yoona melebar ketika mendengar kata-kata Luhan tadi. Jelas-jelas Yoona menawarkannya makan malam, bahkan Yoona menunggu nyari 3 jam!

            “Aku membuatkannya bahkan aku mengajaknya makan bersama.” Kata Yoona yang berusaha menjelaskan dan bangkit berdiri dengan niat meninggalkan café itu. Sehun yang tidak mengerti tidak harus berbuat apa.

            “Annyeong.” Kata Yoona langsung menyambar handbagnya dan pergi keluar dari café milik Luhan itu.

            “Hyung, tidak mungkin seorang Im Yoona melakukan hal sejahat itu. Apa tadi? Tidak menyiapkan makan malam?” Tanya Sehun.

            “Iya Sehun.”

            “Jelas-jelas tadi dia mengoceh sewaktu perjalanan kesini. Dia mengoceh kalau dia belum makan dari semalam karena spaghetti yang dia buat sudah dingin karena orang yang ditunggu tidak kian dating. Aku pikir orang itu kamu, hyung. Ternyata sepupumu.”

            “Jinjjayo?”

            “Dan siapa tadi namanya? Seohyun?” Luhan mengangguk.

            “Dari namanya saja sudah jelas, dia gadis yang manja.” Kata Sehun terang-terangan. Luhan tidak bisa menjawab, pernyataan Sehun tadi memang benar. Seohyun anak yang manja.

***

            “Aku yakin beribu persen pasti oppa marah dengan wanita keji itu!” Kata Seohyun yang berada di ruang dapur rumah Yoona itu sambil membuat ramen.

            “Untung saja aku ketiduran semalam. Pasti dia menungguku hingga membuang semua spaghetti utuh itu.” Lanjutnya ketika melihat satu kantong penuh dengan spaghetti.

            “Selamat makan!” Ucap Seohyun sambil menuang ramen pada mangkok yang sudah dia sediakan.

***

            Yoona berjalan di trotoar sambil memegang perutnya yang sudah berbunyi dari tadi. Dia berjalan dengan niat kebali ke hotel karena jaraknya cukup dekat. Langkahnya berhenti di depan kedai, kedai bubble tea yang sering dia kunjungi dengan Luhan dan Sehun. Dia masuk ke dalam. Lebih baik mengganjal dengan bubble tea daripada kosong.

            “Chocolate bubble tea satu. Toppingnya coffe jelly dan bubble nya ya.” Pesan Yoona pada salah satu pelayan disana. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Yoona mengeluarkannya dan membaca pesan yang dia tebak dari Luhan, dan benar, dari Luhan.

            From : Mydeer Luhan

            Mianhaeyo Yoong, benar kata Sehun, aku salah paham.

            Yoona menghela nafas. Kata sehun, pikir Yoona.

            “Dia menyadarinya dari perkataan Sehun.” Gumam Yoona.

***

            Yoona baru sampai di rumahnya stelah pulang kerja barusan. Dia menatap sebuah baskom besar di sebelah kamar mandi yang penuh dengan cucian yang harus dicuci.

            “Malas sekali rasanya untuk menyalakan mesin.” Gumam Yoona. Yoona mandi dan membereskan cucian-cucian tersebut dengan niat meng-laundry cucian itu. Untung saja toko laundry hanya berbeda 3 rumah dari rumah Yoona.

            Yoona keluar bersama 2 kantung besar yang berisi cucian itu dan ke toko Laundry itu. Yoona membuka pintu toko itu dan terdengar suara lonceng khas pelanggan masuk.

            “Sore, bisa kami bantu?” Tanya seorang yeoja yang Yoona tebak adalah anak dari pemilik dari toko laundry ini.

            “Ne, aku mau mencuci pakaian ini semua.” Kata Yoona sambil mengangkat 2 kantung besar itu ke atas meja. Yeoja itu menimbang cucian yang akan dicuci nantinya.

            “Total 6 kilo. Berarti 25000 won.” Kata Yeoja itu. Yoona merogoh kantung celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.

            “Nah, tolong cuci hingga bersih ya. Gamshahamnida.” Kata Yoona.

            “Chonmaneyo. Kamu bisa mengambil cucian ini besok sore.”

***

            “Jangan marah denganku lagi, ne?” Rayu Luhan yang kini berada di depan pintu rumah Yoona sambil melakukan aegyonya itu. Yoona langsung tersenyum dan mengangguk dengan cepat.

            “Aku sayang sekali denganmu.” Luhan langsung memeluk Yoona dengan manja. Yoona hanya menunduk wajahnya dengan malu.

            “Aku menyesalinya Yoong.” Lanjut Luhan sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Yoona.

            “Ya! Aku sesak!” Protes Yoona. Tiba-tiba Seohyun berada di depan mereka. Menjauhkan tangan Luhan yang ada di tubuh Yoona.

            “Dengar tidak oppa?! Dia sesak! Dia tidak suka dipeluk olehmu!” Teriak Seohyun. Yoona hanya menatapnya sendur, Yoona benar-benar tidak berkata seperti itu.

            “Seo..” Panggil Luhan.

            “Kalau kau tidak mau dipeluk olehnya biar aku saja!” Seohyun langsung menghampiri Luhan dan memeluknya. Yoona yang melihat itu langsung menjatuhkan air matanya, dia berlari secepat mungkin dengan pakaian kerjanya itu. Dia berlari dan bersembunyi di toko laundry kemarin sebelum Seohyun melepaskan pelukannya kepada Luhan.

            “Seo, aku mohon lepaskan aku.” Seohyun menurut dan melepaskan Luhan. Luhan berbalik badan dan menengok kanan-kiri untuk mencari Yoona.

            “Aku sudah tahu bahwa kau akan mencarinya.” Oceh Seohyun yang tidak ditanggapi Luhan. Luhan malah berlari mencari Yoona dan melewatkan toko laundry itu, tempat yang seharusnya Yoona berada.

***

            “Biar kutebak unnie, pasti itu orang yang mengejarmu. Apa dia orang jahat?” Tanya yeoja yang kemarin itu ketika melihat Luhan yang sedang berlari sambil celingak-celinguk sana-sini untuk mencari yeojanya.

            “Tidak, dia namja yang baik. Hanya saja sekarang dia sedang tidak baik.” Yeoja itu mengerutkan alisnya karena bingung.

            “Ah ya, namamu siapa?” Tanya Yoona.

            “Yerin, Baek Yerin.”

            “Nama yang indah. Aku Yoona, Im Yoona.”

***

            “Yoona menghilang.” Kata Luhan kepada Sehun yang sekarang berada di hadapannya, mereka sekarang sedang berada di kedai bubble tea langganan mereka.

            “Jinjjayo? Tadi dia ijin ke kantor.” Balas Sehun, keheningan pun menghampiri mereka.

            “Hyung, kalian bertengkar lagi?” Tanya Sehun.

            “Ya, karena sepupuku lagi.”

            “Kenapa karena dia lagi?”

            “Dia memelukku di depan Yoona. Kalau dia bukan sepupuku sudah ku dorong dia ke tanah.”

            “Kejam sekali. Kenapa tidak kau dorong?”

            “Kan sudah ku bilang tadi. ‘kalau dia bukan sepupuku’ sayangnya dia sepupuku, cih.”

            “Aku yakin itu bukan alasanmu, hyung. Tidak masuk akal, bahkan aku akan mendorong noona atau yeodonsaengku sendiri jika dia melakukan itu padaku.”

            “Sejak kapan kau pintar begini, huh?”

            “Jawab saja.”

            “Tsk! Iya-iya! Dia punya penyakit asma yang sangat-sangat parah. Aku tidak berani membentaknya, aku takut dia kenapa-napa.”

            “Aku bisa kejang-kejang jika jadi dirimu, hyung!” Canda Sehun yang berhasil membuat ledakkan tawa Luhan.

***

            “Gomawo Yerin-ah, tumpanganmu sampai sore ini benar-benar membantu.” Kata Yoona sambil memegang cuciannya yang sudah bersih.

            “Gwaenchana, sering-sering saja seperti ini.”

            “Ne, annyeong.” Pamit Yoona lalu kembali ke rumahnya. Yoona masuk ke ruang tamu dan melihat Seohyun disana.

            “Sudah selesai acara ngambekmu, huh?” Tanya Seohyun. Yoona bersih keras mengacuhkan Seohyun. Yoona memberikan Seohyun pakaian yang sudah dicuci.

            “Ini pakaianmu kan? Sudah bersih.” Kata Yoona. Seohyun mengambil salah satunya dan bingo! Seohyun punya alasan dan mendapatkan ide untuk membuat Yoona bertengkar dengan Luhan.

            “Im Yoona! Lihat! Bajuku luntur!” Protes Seohyun. Yoona bingung melihat Seohyun dan baju yang ia pegang sekarang. Bukankah itu model ombre? Perpaduan warna dua atau lebih menjadi satu.

            “Maaf, bukankah itu modelnya?” Tanya Yoona hati-hati.

            “Bukan! Ini luntur!” Seohyun melempar pakaiannya itu lalu menatap Yoona tajam.

            “Ini salahmu! Lihat! Luntur! Lagi pula siapa yang menyuruhmu mencuci, eoh?! Kau yang ikut campur urusan pribadi orang!” Yoona memeras blazer yang dia kenakan kuat-kuat, selama ini dia benar-benar berusaha sabar, untuk kali ini tidak.

            “Seo Joo Hyun, aku bukan orang bodoh, aku mengerti fashion. Pakaian itu bermodel ombre.” Jelas Yoona sambil menahan amarahnya.

            “Tidak! Kau sok tahu!!” Teriakan Seohyun semakin mengencang.

            “Aigoo, aku sudah tidak tahan! Keluar kau!! KELUAR!!!” Bentak Yoona dan BRAK! Pintu rumah Yoona terbuka, muncullah Luhan dan Sehun, tadinya mereka berdua diluar berjalan bersama untuk mengunjungi Yoona. Tapi ketika mendengar teriak-teriakkan dari dalam mereka langsung berlari dan membuka pintu secara paksa.

            Seohyun yang shock karena bentakkan Yoona dan suara tabrakan pintu dengan tembok tadi membuat asma Seohyun kambuh.

            “Hhhh, hhhh, hhh…” Nafas Seohyun tidak beraturan, hanya terdengar suara itu yang keluar dari mulut Seohyun. Yoona panik, dia menghampiri Seohyun.

            “Seo…” panggil Yoona. Luhan langsung berlari ke Seohyun dan sedikit mendorong Yoona hingga jatuh ke lantai lalu menggendong Seohyun ke mobil lalu segera di bawa ke Rumah sakit. Sehun yang melihat kejadian itu benar-benar tidak menyangka bahwa seorang Luhan bisa melakukan hal itu.

            Sehun menghampiri Yoona, membantu Yoona berdiri sedangkan Luhan membawa Seohyun ke rumah sakit terdekat.

            “Yoona, gwaenchanayo?” Tanya Sehun, Yoona hanya mengangguk.

***

            “Yoona! Sudah kuperingatkan bukan waktu itu?!” Tanya Luhan dengan nada yang meninggi sambil mengacak rambutnya frustasi. Yoona hanya terduduk di ruang tamu rumahnya sambil mengunci mulutnya rapat-rapat.

            “Lihat! Asma Seohyun kambuh karena kau membentaknya, sekarang dia kritis dan itu semua karena ulahmu!” Lanjut Luhan. Kini Yoona berdiri, dia menatap Luhan dengan mata yang memerah.

            “Kau tega-teganya…” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Yoona dengan nada yang bergetar.

            “Kau yang memaksaku untuk menyuruhnya menginap disini! Semua salah siapa, HAH?!”

            “Kau bukan Luhan. Kamu bukan Luhan yang aku temukan dulu. Kamu bukan Luhan yang berada di Jeju waktu itu. Kau bukan….” Kali ini Yoona menagis. Luhan menggigit bibir bawahnya.

            “Kau yang membuatku seperti ini!”

            “Itu salahmu! Mengapa kau tidak bilang kalau Seohyun punya penyakit asma dan men..mencintaimu?” Luhan terpaku setelah mendengar perkataan Yoona tadi.

            “Padahal kesempatanmu untuk mengatakan hal itu padaku itu ada 2 hari sebelum hari ini.” Hati Luhan terasa diiris dengan silet. Benar kata Yoona, jika dilihat dari awal memang salah Luhan.

***

            “Jadi ini yang namanya Seohyun itu?” Tanya Sehun ketika melihat sosok Seohyun berbaring di rumah sakit. Sehun diperintahkan oleh Luhan untuk membantunya dengan cara menjaga Seohyun di rumah sakit.

            “Cantik juga.” Gumam Sehun lalu mendekatkan kepalanya ke kepala Seohyun yang masih terttutup masker ala rumah sakit itu.

            “Bagaimana jika aku mengubahmu menjadi nona baik, bagaimana nona?” Tawar Sehun. Sepertinya Sehun sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Seohyun.

***

            Sekarang Luhan berada di gereja yang tak jauh dari rumah Yoona. Dia menyesali perbuatannya kepada yang diatas. Luhan menangis, menjatuhkan air matanya tanpa menyekanya dengan jari Luhan itu.

            “Maafkan aku.”

            “Tuhan, mengapa kau membuat dunia dengan tidak adil?”

            “Maafkan aku, aku tahu kau memperlakukan semua orang adil. Tapi Tuhan, ujian ini terlalu berat untukku. Aku butuh Kau untuk menyelesaikan ini semua. Bantu aku…”

***

            Yoona masih terisak dippojokkan sana. Menangisi semua hal-hal yang terjadi belakangan ini. Menangisi Luhan yang sudah berbeda dari dulu, menangisi Seohyun yang selalu bertingkah jahat padanya, menangisi Sehun yang sekarang tidak ada untuknya, dan menangisi dirinya sendiri. Tiba-tiba tangisannya terhenti ketika dia sadar sudah ada orang lain disebelahnya, kekasihnya, Luhan.

            “Yoong, mianhae. Mungkin kau sudah bosan mendengar kata itu dari mulutku. Mianhae.” Yoona menengok ke Luhan dan memeluknya dengan erat.

            “Aku menyayangi Luhan yang sekarang. Luhan yang mengkhawatirkanku, peduli akan aku, selelu membagi kehangatannya padaku. Aku tidak suka Luhan yang selalu menyalahkan aku.” Kata Yoona, dia berani untuk mendongakkan kepalanya dan menatap Luhan.

            “Jangan seperti itu lagi. Aku tidak bisa menemukan sosok Luhan yang berhati hangat itu.” Lanjut Yoona. Luhan hanya tersenyum lalu merogoh tas ransel yang di pikul sedari tadi dan merogoh ta situ.

            “Yoong, aku punya kejutan!” Ucap Luhan dengan excited.

            “Apa itu?” Tanya Yoona sambil menyeka air matanya.

            “Tada!! Ini tiket pesawat yang sudah aku siapkan 3 hari yang lalu. Aku hamper saja lupa jika aku sudah membeli ini.” Luhan mengeluarkan 2 lebar tiket pesawat.

            “Tiket? Kemana?” Tanya Yoona.

            “China, aku ingin memperkenalkan menantunya ke orang tuaku. Bagaimana?”

            “Kamu..kamu benar-benar Luhan!”

THE END

5 thoughts on “[FF Freelance] Am I Really Found You? (Oneshot)

  1. Nyesek bacanya, seohyun manja parah banget 😐
    Next thor. Buat epep main castnya Yoona lagi :* ❤

    Let's Share Happy Virus of Yoona! ❤

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s