“Trust Me, Mrs.Lee” – Part 5

Trust Me, Mrs Lee

Tittle :  “Trust Me, Mrs Lee” –  (Part 5)

Author :  elfishyga

Cast :

Kim Hyura (OC)

Lee Donghae (Super Junior)

Im Jessica (OC)

Kim Rey Joon (OC)

Genre :  Marriage Life and Romance

Length : Series

Previous : (Part 1) (Part 2) (Part 3) (Part 4a) (Part 4b) (Part 4c)

Author

Keadaan Hyura terus membaik, hal tersebut sudah dinyatakan oleh dokter yang memeriksa Hyura. Lagipula, Hyura juga sudah diizinkan oleh sang dokter untuk kembali ke Seoul.

Semuanya terasa berjalan dengan cepat. Tapi, ada kala dimana kita ingin menghentikan waktu untuk sesaat. Membiarkan beberapa moment indah yang kita rasakan  berjalan dengan lambat. Seperti malam ini dan malam-malam lainnya yang selalu disukai Donghae maupun Hyura.

Keadaan kamar kelas VIP yang disewa Donghae, hanya memancarkan sinar yang bersumber dari lampu tidur yang masing-masing berada disebelah ranjang berukuran king-size. Tangan sebelah kiri Donghae yang selalu menjadi tumpuan badannya sendiri dan tangan sebelah kanannya terus bermain disekitar rambut Hyura.

Tak jarang  ia menggulung rambut Hyura dengan jari telunjuknya, kadang ia memijat lembut puncak kepala Hyura dan membelai rambut Hyura dengan kasih sayang. Sementara Hyura, ia selalu manja dengan menenggelamkan wajahnya disekitar dada Donghae. Mengingat sekarang Hyura yang sedang mengandung, ia makin sering menunjukkan aksi manjanya. Saat Donghae bergerak akan mematikan lampu tidur mereka maka Hyura akan menggerutu tidak jelas dengan menyuruh Donghae untuk tetap diam, agar ia tidak menunggu beberapa saat untuk menenggelamkan kepalanya kembali didada Donghae. Seperti malam-malam sebelumnya, aksi protes yang sering membuat Donghae merasa gemas kembali terulang lagi.

“Oppa. Jangan bergerak. Tetap seperti ini.” Hyura yang merasa  adanya pergerakan dari badan Donghae, dengan spontannya  menyuruh Donghae kembali ke keadaan semula.

“Aigoo , chagi-aa. Aku hanya akan mematikan lampu sebentar. Kau cukup memberikan aku sedikit ruang. Bahkan aku tidak perlu bangkit dari ranjang ini untuk mematikan lampunya.” Dan selalu kata-kata panjang ini yang terucap, Donghae sudah berulang kali mengatakan ini.

“Sudahlah oppa, tidak usah dimatikan saja. Aku sudah nyaman seperti ini.” Dan berulang kali juga Donghae selalu mendapatkan penolakan pasti dari Hyura.

“Tapi, chagi-aa…..”

“Aku suka saat memeluk oppa seperti ini. Jangan bergerak lagi eoo ?” Dan lagi, kata-kata ini yang selalu membuat Donghae mengukir senyuman manis diwajahnya. Bagaimana tidak ? Hyura tidak ingin merubah posisinya sedikitpun karena secara tidak langsung ia sudah mengatakan ‘dadamu adalah tempat yang ternyaman’. Bukankah begitu ?

“Arra. Kau sudah mengantuk ?”

“Em. Apa oppa belum mengantuk ?”

“Aku akan menunggumu sampai tertidur. Jaljayo”

CUP !

Saat sebelum mereka tidur selalu berujung manis seperti ini, Donghae akan memberikan kecupan selamat tidurnya dikening Hyura dan membiarkan kesadaran Hyura berpindah kedalam alam bawah sadarnya. Dan untuk beberapa saat Donghae akan terus membelai rambut Hyura, memandang istri tercintanya yang tertidur dan lambat laun ia akan tertidur juga. Ah ! Dan juga Donghae selalu membiarkan kamar mereka yang diterangi lampu tidur tanpa berusaha sedikitpun untuk mematikan lampu tidurnya. Membiarkan lampu tidurnya menyala sampai esok hari.

Lee Hyura

Sepertinya sekarang aku lebih sering bangun lebih pagi dari biasanya. Aku tidak tau apa penyebabnya, hanya saja, akhir-akhir ini hal seperti ini memang sering terjadi padaku. Lihat saja seperti sekarang ini. Bahkan aku terbangun jam 4.30 pagi. Biasanya aku akan terbangun jam 5.30 pagi. Hanya berbeda 1 jam saja sih, tapi bagiku tetap saja sedikit aneh. Apakah kehamilanku ini bisa berpengaruh sampai sejauh ini ?

Apa aku akan terus berbaring seperti ini ? Menunggu sampai Donghae oppa terbangun dari mimpinya ? Aku rasa itu terlalu lama. Sedangkan siang ini kami berencana untuk kembali ke Seoul. Lebih parahnya lagi, kami sama sekali belum membereskan barang-barang kami. Mungkin aku harus mencoba melepaskan dekapan Dongahe oppa yang erat ini dan membereskan barang-barang kami. Kedengarannya tidak buruk juga.

Saat aku mencoba untuk melepaskan tangan sebelah kiri Donghae oppa dari pinggangku, aku merasa Donghae oppa sedikit menggeliat dan kembali diam. Sepertinya Donghae oppa benar-benar lelah ya ? Selama aku di rumah sakit ia terus menjagaku dan lagi ia juga sibuk mengerjakan beberapa dokumen penting melalui emailnya. Ia benar-benar bekerja keras. Harusnya kan berada disini ia senang-senang bukannya bertambah lelah seperti ini.

***

 

 

Lee Hyura

Udara pagi hari di Jeju Island sepertinya tidak buruk juga. Sekarang aku sedang berdiri dibalkon kamar hotel dan menghirup udara segar yang berhembus tenang. Donghae oppa, ia masih terjaga dalam tidurnya. Kelihatannya ia benar-benar lelah. Kalau seperti ini, aku benar-benar merasa bersalah. Waktu istirahatnya malah terkuras habis hanya untuk menjagaku. Rasanya kata terbuang lebih cocok dibandingkan dengan terkuras. Donghae oppa. Jeongmal mianhe.

Ahhh, tangan hangat ini mendekap perutku dengan nyaman. Aku tau pasti siapa pemilik kedua tangan ini. Dan dengan manjanya ia menyandarkan kepalanya dibahuku.

“Chagi-aa, kau tidak merasa dingin ? Ini tidak baik untuk kesahatanmu dan anak kita.” Aku senang saat ia terus mengucapkan kata itu ‘anak kita’. Apalagi suara serak milik Donghae oppa yang baru saja bangun tidur. Aku menyukainya.

“Tidak, aku suka udara pagi disini oppa.”

“Tapi ini tetap saja tidak bagus untuk kesehatan kalian.” Kalian ? Sepertinya aku mengerti. Coba kupastikan sekali lagi.

“Kalian ? Maksud oppa, aku dan Lee junior ?”

“Ya, tentu saja kalian.” Dugaanku benar. Benar-benar hal yang menyenangkan saat ia mengatakan seperti itu.

Tangan Donghae oppa, semakin mengeratkan pelukannya disekitar perutku. Sedangkan kepalanya semakin ia tenggelamkan dibahuku. Aku benar-benar suka saat-saat seperti ini. Saat-saat dimana kami diam dan merasakan kehadiran pasangan kami masing-masing.

“Chagi-aa.”

“Hmm ? Waeyo oppa ?”

“Kau bangun jam berapa ?” Hm ? Kenapa Donghae oppa tiba-tiba menanyakan aku bangun jam berapa ?

“Memangnya kenapa oppa ?”

“Ahni. Hanya saja, semua barang-barang kita sudah rapi. Dan kau juga tidak menungguku sampai bangun.”

“Tadi aku bangun jam 04.30 oppa. Akhir-akhir ini aku sering bangun lebih pagi dari biasanya.”

“Mwo ? 04.30 ? Pagi sekali ? Kenapa tidak membangunkanku ?” Sepertinya Donghae oppa sedikit terkejut. Aku merasakannya karena pelukannya yang tadinya sangat erat sedikit lebih longgar.

“Ne, aku juga tidak tau kenapa oppa. Hanya saja, akhir-akhir ini aku memang sering terbangun lebih pagi.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku yang satunya. Kenapa tidak membangunkanku ?”

“Aku merasa oppa sudah terlalu lelah, menjagaku seharian dirumah sakit dan mengerjakan pekerjaan kantor melalui email. Jadi aku sedikit berbaik hati untuk membiarkan oppa tetap tidur.”

“Hahahaha. Arra arra. Gomawo, istriku sedang berbaik hati hari ini.” Pertama, suara tawanya yang renyah yang terdengar kemudian rasa terimakasih dan terakhir ia mengeluarkan kata yang memperjelas rona merah dipipiku.

“Jangan tertawa.”

“Haha..  Ne.” Meskipun Donghae oppa mengiyakan tetap saja ia tertawa, aku merasakan kepalanya yang masih berada diatas daguku mendapati kepalanya yang bergerak tidak normal. Tapi tidak sampai hitungan detik, aku merasakan bibirnya yang menempel dipipiku.

‘CUP’ Kecupan manis ia berikan dipipiku. Rasanya menyenangkan.

“ Sekarang kau tidurlah sebentar. Kajja.” Aku belum menjawab apapun. Mau atau tidak untuk kembali ke alam mimpiku. Tapi , tangan hangat milik Donghae oppa sudah menggenggam tanganku erat dan menuntun ku untuk kembali ke ranjang dhotel ini. Tangannya menggenggam tanganku erat ? Tandanya ia tidak menerima penolakan.

 

Lee Donghae

Kami kembali berada disini, ranjang king-size yang menjadi tempat tidurku dan Hyura selama berada di Jeju island. Dan lagi, ini posisi yang paling nyaman jika kami sudah seperti ini. Tangan sebelah kananku menjadi bantal untuk kepala Hyura dan tangan kiriku memeluk pinggangnya posesif.

Hyura, posisi wajahnya kurasa benar-benar berpas-pasan dengan leherku. Hembusan nafasnya bisa aku rasakan begitu saja. Ah, kebiasaan barunya yang sering kali membuat pikiranku tidak berjalan dengan baik. Tangannya ia gunakan untuk bermain-main dibagian wajahku dan turun ke dadaku. Apa ia sedang menggoda imanku ditengah-tengah kehamilannya ini ? Tolong Tuhan, kuatkan aku.

“Chagi-aa”. Aku sedang berusaha mengalihkan pikiran buruk dari kepalaku.

“Hm ?”

“Kau tidurlah lagi, sayang. Hari ini kau bangun sangat pagi dan membereskan barang-barang kita.”

“Aku tidak mengantuk, oppa.” Sifat keras kepalanya ini sering membuatku merasa gemas sekaligus cemas sendiri.

“Tapi chagi-aa, kau membutuhkan istirahat yang lebih untuk tubuhmu. Aku tidak ingin sampai kau sakit dan apapun itu.”

“Aku tidak mengantuk, oppa.” Ia kembali mengulangi jawaban seperti beberapa menit lalu yang ia lontarkan.

“Aish, jinja. Ya sudah, kalau gitu kau berbaring saja dan tidur dipesawat. Arra ?”

“Ne”.

***

 

Author

“Kau sudah tau ?” Tanya seorang yeoja cantik yang memilih kaos oblong putih tipis sebagai pakaiannya hari ini dan juga ia mengenakan celana pendek berwarna hitam sebagai paduan baju putihnya. Jangan melihat dari kebiasaan pakaian-pakaian tersebut. Terkadang apa yang kita pikirkan tidak seperti kenyataan yang ada. Dan pada kenyataannya pakaian yang dipakai yeoja itu adalah branded terkenal yang bahkan seorang manager akan berpikir 2 kali untuk mengeluarkan uangnya hanya untuk membeli setelan baju biasa itu.

“Sudah tau tentang apa Jess ?” Namja ini terlihat tampan, meskipun begitu ia tidak pernah terikat diantara sebuah hubungan yang semestinya sudah terjadi diusianya. Bahkan teman-temannya pun sudah banyak yang terikat diantara hubungan yang serius.

“Ck. Berarti kau tidak tau. Kim Hyura dan Lee Dongahe akan kembali ke Seoul siang ini.”

“Benarkah ? Lalu apa yang harus kita lakukan ?” Bisakah ini dikatakan pertanyaan bodoh ? Seorang penjahat yang menanyakan apa yang harus ia lakukan ketika targetnya akan pergi jauh. Bodoh memang.

“Bisakah kau gunakan sedikit kepintaranmu Joon ? Meskipun aku tau, sebenarnya kepintaranmu tidak diragukan banyak orang.”

“Hahahaha. Terimakasih sudah memujiku.” Namja itu, hanya menunjukkan tawanya yang benar-benar manis dan seperti anak kecil yang diberi hadiah untuk mengucapkan terimakasih.

“Ck.” Sepertinya yeoja cantik dihadapan namja tampan itu sedikit lelah untuk menghadapi kelakuan kekanakan namja yang ada dihadapannya sekarang. Rasanya ia ingin menyiram susu yang belum ia minum sampai setengah kepada namja tersebut.

“Bagaimana kalau kita membiarkan mereka bebas sebentar dan kita mengatur pertemuan tidak disengaja yang bisa membuat api berkorbar ? Tidakkah itu menyenangkan ?”

Hening. Belum ada jawaban yang pasti dari yeoja dihadapan namja ini. Hanya terdengar gesekan pisau dan garpu yang memotong roti bakar berselei coklat. Hm. Aromanya benar-benar nikmat dipagi hari.

“Aku tau kau memuji ide cemerlangku Jess dan cukup katakan ya. Mudah kan ?” Dengan santainya namja itu melahap roti bakarnya. Membiarkan beberapa yeoja genit yang melirik ke arah mereka. Sepertinya pasangan sahabat ini sering dilirik sebagai pasangan kekasih atau bahkan pasangan suami istri. Mereka hanyalah orang-orang yang tidak tau tentang apapun.

“Hm. Bisa dikatakan idemu memang hasil pemikiran IQ yang diatas rata-rata. Tapi kau juga tidak bisa menghilangkan kebodohanmu. Aku rasa Donghae sudah membenciku, aku sudah menciumnya 2 kali dengan sengaja dan membuat sekretarisnya menangis. Kau sudah tau pasti, aku membuat perangkap yang membuatku sendiri jatuh ke dalamnya.”

“Lalu apa salahnya untuk bercoba berteman tanpa menggebu-gebukan perasaanmu ?” Singkat tapi jika diperhatikan tutur katanya, terdengar sangat menyakitkan hati.

“Ah ! Kau benar-benar pintar ! Berteman ! Aku bisa memulainya dengan berteman !” Segala penjuruh arah memerhatikan teriakan yeoja ini. Tidak bisakah ia melihat tempat dimana ia berada sebelum berteriak seperti itu ?

“Berhenti berteriak Jess, jangan membuatku malu.”

***

 

Author

Semuanya memang berjalan dengan sangat cepat. Bukankah begitu ? Baru saja pasangan muda Lee menyatakan akan pergi Honeymoon ke Jeju Island, mereka mendapatkan kabar yang menggembirakan baik untuk keluarga besar Kim dan keluarga besa Lee. Dan sekarang, dipagi-pagi buta seperti ini. Hyura, istri dari Lee Donghae sudah membuka matanya dan membolak balikkan badannya dengan tidak jelas. Ia tau betul sekarang jam 3 pagi, itu terlihat jelas dari jam dinding kamarnya.

Seharusnya Hyura merasa lelah sekarang, bukannya merasa lapar. Ia ingat betul, eomma Donghae yang memasakkan berbagai macam makanan yang sangat enak dan ia hampir menghabiskannya semua. Ntah ia merasa lapar atau karena ia berada didalam masa-masa kehamilan. Yang pasti, ia sudah mengisi penuh perutnya dengan macam-macam makanan tersebut. Ah ! Hyura juga menghabiskan 2 macam dessert, 1 buah apel dan 1 buah pear, ditambah lagi dengan 4scoop es cream rasa coklat kesukaannya sebelum ia dan Donghae kembali ke rumah mereka sendiri.

Pergerakan badan Hyura sepertinya mengganggu tidur Donghae. Jelas saja lelaki itu bisa merasakannya. Tangan kanan yang biasa digunakan Hyura sebagai bantal empuknya terganggu dengan pergerakan kepala Hyura yang tak jarang.

“Chagi-aa. Waeyo ?”

“Aniya. Oppa tidur lah lagi.” Tatapan mata Hyura sepenuhnya ia curahkan pada wajah lelah Donghae. Lelaki itu terlihat jelas sangat lelah bagi Hyura. Perjalanan kembali ke Seoul Donghae tertidur di pesawat, saat Shin ajusshi mengantar mereka ke rumah eomma Donghae, Donghae tertidur lagi. Benar-benar lelah kan ?

“Ahni. Aku tau kau tidak bisa tidur. Kau tidurlah dulu, setelah itu aku akan tidur lagi.”

“Aniya. Oppa tidur dulu, baru aku akan tidur lagi.” Lihatlah, pasangan seperti apa sebenarnya mereka ? Untuk tidur saja mereka saling menunggu. Sepertinya ini sedikit kelewatan.

“Aniya. Kau dulu baru aku.”

“Ck, sekali ini saja. Oppa tidur dulu baru aku. Atau aku akan marah ?”

“Arra arra. Aku tidur, setelah ini kau tidur.” Donghae sepertinya mengalah pada Hyura kali ini. Biasanya dia akan menolak dan tetap menunggu Hyura sampa tertidur.

“Chamkan oppa.” Donghae yang baru saja akan menutup matanya, kini kembali membuka matanya.

“Waeyo ? “

“Bisakah kau angkat dulu tangan kananmu ?” Meskipun mengantuk dan bingung, Donghae tetap melakukannya.

Donghae memerhatikan pergerakan Hyura. Istrinya itu menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang mereka dan memindahkan bantal miliknya keatas pahanya.

“Cha. Tidurlah oppa.” Sepertinya hari ini Hyura memberikan tempat tidur special untuk Donghae. Ia menyuruh Donghae tidur diatas pahanya dengan beralas bantal.

“Aku tidak mau menggunakan ini. Begini lebih nyaman.” Dengan cepat Donghae membuang bantal yang sudah Hyura letakkan diatas pahanya. Ia merasa lebih nyaman tidur beralas paha istrinya dibandingkan dengan bantal empuk itu.

Tidak butuh waktu sampai hitungan menit. Donghae sudah kembali tidur. Ia benar-benar tertidur pulas dengan cepat. Melihat itu Hyura hanya tersenyum dan membelai rambut Donghae dengan penuh kasih sayang.

***

 

 

Author

Terhitung sudah 3 jam lamanya, Donghae dan Hyura yang tidur dengan posisi yang menyenangkan seperti ini. Sampai akhirnya Hyura yang selalu sadar terlebih dahulu dari tidurnya. Ia berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan disekitarnya. Sampai ia sadar dengan kejadian romatis yang baru saja terjadi dipagi buta tadi. Sekarang ia menggerakkan tangannya untuk membelai rambut Donghae. Rambut Donghae memang tidak sehalus rambutnya, tapi tetap saja Hyura menyukai saat dimana ia membelai rambut Donghae.

“Eng…” Sedikit erangan kecil yang keluar dari mulut Donghae. Erangan abstrak sebenarnya. Melihat Donghae yang mengeluarkan erangannya Hyura hanya tersenyum. Dalam hatinya ia hanya perlu menghitung mundur yang dimulai dari angka 3. Biasanya belum selesai hitungannya, maka mata Donghae akan terbuka dam bibirnya memancarkan senyuman yang mematikan.

“Pagi.” Suara serak basah milik Donghae akibat dari tidurnya baru saja terdengar. Ia memancarkan senyumannya kepada wanita terpenting didalam hidupnya.

“Pagi. Kau terlihat lebih sehat oppa.” Hyura yang sebelumnya khawatir dengan Donghae kini sudah bisa bernafas lega melihat keadaan Donghae yang sebenarnya fine saja. Donghae hanya memerlukan tidur. Dan hari ini ia sudah memenuhinya.

“Dari kemarin aku juga tidak apa-apa.” Terdengar nada yang sedikit memberontak dari Donghae. Seolah apa yang dikatakan Hyura adalah hal yang salah.

“Tapi oppa tidak terlihat seperti itu kemarin.”

“Arra, arra. Yang penting hari ini sudah tidakkan ?” Donghae yang tidak mau memperpanjang masalah hanya mengiyakan. Dalam hatinya ia cukup senang, Hyura mengkhawatirkannya seperti itu merupakan kekuatan yang takkan tergantikan.

“Oppa, ayo siap-siap. Hari ini kita sudah mulai ke kantor lagi kan ?” Mata Donghae membulat dengan pertanyaan yang dilontarkan Hyura. Sepertinya ia lupa memberitaukan suatu hal pada Hyura.

“Ehem.. Chagi-aa, aku lupa memberitaukanmu sesuatu.”

“Ne ? Tentang apa oppa ?” Mata Hyura tak kalah bulatnya seperti mata Donghae barusan. Ia begitu penasaran dengan apa yang akan dikatakan Donghae.

“Beberapa hari yang lalu, aku menyuruh manager kantor untuk mencari sekretaris baru.”

“Ne ? Itu artinya aku tidak ikut ke kantor hari ini ?” Antara sadar atau tidak, Hyura sedikit memahami akan keadaannya. Donghae secara tidak langsung memecat Hyura. Memecat ? Tentu saja Donghae berhak. Jangan lupa, ia adalah pemilik perusahaannya.

“Em. Kau tidak marah kan ?” Donghae sepertinya sedikit mengkhawatirkan apa Hyura akan marah padanya ?

“Ani, hanya saja. Boleh aku tau kenapa oppa ? Apa ini karena kehamilanku ?” Kini sebuah senyuman manis terukir dari wajah Donghae sementara Hyura, ia masih menunggu jawaban pasti dari Donghae.

“Ya. Aku tidak ingin kau merasa kelelahan atau apapun itu. Kau tau sendiri kan, akhir-akhir ini perusahaan kita banyak proyek besar ? Kalaupun aku kelelahan itu tidak apa, dibandingkan kau yang kelelahan. Arra ?” Terdengar sangat berlebihan. Tapi beginilah Donghae mengungkapkan perasaannya.

“Arra. Tapi kalau kau sampai sakit jangan harap aku akan berdiam dirumah. Dan aku juga tidak mau suamiku bekerja sampai lembur. Apapun alasannya aku tidak terima itu. Jam 7 oppa sudah harus ada dirumah. Otte ?” Satu lagi yang berlebihan. Apakah pasangan ini tidak bisa menjaga dirinya sendiri ? Ck, benar-benar.

“Call. Chagi-aa, hari ini kau ikut ke kantor ya ?” Beginilah jadinya, akhirnya sebuah perjanjian yang tidak jelas yang berisi persetujuan kembali bekerja dan jam pulang kantor akhirnya disepakati. Dan dengan manjanya, Donghae meminta Hyura untuk ikut bersamanya ke kantor.

“Ani, aku dirumah saja. Aku mau menikmati hari pertamaku sebagai istri dari Lee Donghae.”

“Ck, memangnya selama ini kau istri siapa ?”

“Istrimu juga. Hanya saja hari ini berbeda. Aku sebagai ibu rumah tangga. Tidakkah itu terdengar menyenangkan ?”

“Aisssh. Ya ya, pasti menyenangkan. Bagaimana kalau aku membolos ke kantor hari ini ? Kita berjalan-jalan hari ini.” Aksi tawar menawar kembali terjadi.

“Aniya. Oppa harus tetap bekerja hari ini, aku tidak mau oppa yang mendapat laporan mendadak lalu tidur sampai larut malam untuk menyelesaikannya. Aku tidak menyukai wajah oppa yang kurang istirahat itu.” Ish ! Pasangan yang menyebalkan, tidak bisakah kalian memikirkan keadaan kalian sendiri ? Kenapa harus saling mengkhawatirkan satu sama lain ? Tapi, itulah gunanya pasangan hidup. Ya kan ?

“Arra arra. Apa kehamilan berpengaruh pada kepribadianmu ?”  Pertanyaan yang tidak wajar keluar begitu saja dari mulut seorang Lee Donghae.

“Aku tidak merasa seperti itu, hanya saja aku merasa porsi makanku saja yang bertambah.” Dengan polosnya Hyura menjelaskan apa yang ia rasakan pada Donghae.

“Em. Tapi aku merasa kau sekarang lebih cerewet dibanding pemalu dan aku menyukai itu. Kalau porsi makanmu bertambah ya wajar saja chagi-aa, karena kau juga memberikan asupan makan pada baby kita.”

“Ah, oppa ! Sekarang kau cepat mandi. Lihat sekarang sudah jam 6 lewat. Kau bisa terlambat.”  Sebenarnya tidak ada maksud sedikitpun dari lubuk hati Hyura untuk mengalihkan pembicaraan, hanya saja matanya tidak sengaja melihat ke arah jam. Dan jam itu sendiri cukup membuat Hyura merasakan panic yang kelewatan.

“Kau mau memandikanku Mrs.Lee ?”

“Ya !! LEE DONGHAE !!”

***

Author

Kring..Kring..

Deringan ponsel terdengar disebuah ruang tidur dengan berbagai macam dokumen yang acak-acakan. Ia baru saja mempelajari berbagai macam hal tentang perusahaan appanya. Mungkin itulah penyebab kamarnya berantakan.

Kring..Kring..

“Aisssh !” Namja tersebut berusaha mengapai handphonenya yang bersumber dari sebelah nakas kirinya.

Kring..Kring..

Belum ia menggapai handphonenya, nada dering yang menandakan ada panggilan masuk terus mengganggunya.

“Siapa !” Suara Joon yang serak karena baru bangun tidur langsung menyapa seseorang dibalik telfon tersebut. Ia tidak sempat atau lebih tepatnya malas untuk melihat siapa yang menelfonnya.

“Ya ! Joon ! Beruntung yang menelfon aku, bukan appamu.” Suara diseberang telfon sana terdengar halus dan ia juga tak kalah galaknya dari Kim Rey Joon.

“Berisik  kau Jess! Ada apa ? Katakan sekarang atau aku tutup !”

“Ish ! Kapan kau akan mengatur pertemuan tidak disengaja itu ?”  Nada diseberang sana sedikit melunak, sepertinya ia sadar. Ia membutuhkan Joon dan Joon akan sepuluh kali lebih galak darinya jika ia ingin mencobanya.

“Kau bodoh ya ? Kau saja belum berteman dengan Donghae. Bagaimana mungkin aku bisa mengaturnya.”

PIP

Joon mematikan sambungan telfonnya dan dengan asal ia melemparkan handphonenya ke sembarang arah. Beruntung ranjang tidurnya berukuran king-size jadi handphonenya tidak akan rusak.

Baru saja Joon akan kembali tidur. Tiba-tiba bunyi pintu kamarnya yang dibuka. Ia tau betul siapa yang membukanya, pasti appa-nya dan appa-nya akan memarahinya habis-habisan karena belum turun untuk makan juga.

“Ya !! Joon-aa !” Suara tegas ini reflek membuat Joon langsung terduduk diranjang tidurnya.

“Iya iya, aku bangun appa.” Joon lebih memilih terbangun lebih dulu sebelum appa-nya sendiri yang turun tangan untuk membangunkannya. Itu akan sangat mengerikan.

“Minggu depan kau ikut appa dan eomma ke acara keluarga Kim, sepupu jauhmu sedang mengandung.” Perkataan appa Joon lebih cocok dengan kalimat perintah dibandingkan dengan kalimat ajakan.

“Appa, bukankah aku sudah pernah bilang. Aku malas ikut acara keluarga seperti itu. Bahkan aku lebih baik mempelajari tentang perusahaan dibandingkan duduk diam disana diantara ajushi dan ajuhma tua.” Joon memang tidak pernah mau dan tidak pernah menghadiri acara keluarga baik acara keluarga Kim maupun acara keluarga Jung. Kim dari pihak appa’nya dan Jung dari eomm’nya.

“Untuk kali ini aku tidak menerima penolakan. Kau sudah terlalu lama untuk tidak mengikuti acara keluarga, setidaknya kau harus tau mana pamanmu, mana bibimu dan mana sepupu-sepupumu. Apapun alasanmu. Kau tinggal memilih nasib mobil barumu atau ikut pergi. Lagipula disana kau akan bertemu dengan sepupu-sepupumu. Ah, dan menantu Kim Joong So aku lupa siapa namanya, mungkin dia hanya 1 tahun atau 2 tahun diatasmu. Dia pengusaha muda. Aku rasa kau bisa bertanya-tanya padanya untuk pengetahuanmu sendiri. Arra ?”

“Appa. Lalu untuk apa aku jauh-jauh ke Australia untuk mengambil jurusan Bisnis ?” Joon memang tidak pernah mau kalah jika berdebat dengan appanya, seperti sekarang.

“Ya, aku jauh-jauh menyolahkanmu kesana kau belum tentu mendapatkan pengalaman yang sama seperti yang ada di Korea. Ingatlah dengan mobi barumu.” Mobil baru ? Jaminan untuk Joon. Ia tinggal memilih, hadir atau tidak.

“Aissh appa ! Arra ! Minggu depan aku akan ikut. Senang ?”

“Tentu saja. Kau ! Cepatlah mandi.” Merasa puas, Mr.Kim berjalan keluar dari kamar Joon.

“Aish ! Jinja !!” Dengan sedikit kesal Joon berjalan ke arah kamar mandi dan mengacak rambutnya asal. Ia sedikit kesal sebenarnya tapi ya sudahlah, demi mobil barunya, Ferarri F12 Berlinetta.

***

Lee Hyura

Ternyata dirumah sendirian membosankan juga. Daritadi aku hanya berbaring tidak jelas, membaca buku, menonton tv dan membrowsing intener. Tapi, dari semua itu benar-benar tidak ada yang menarik. Tidak ada yang menyenangkan. Rasanya bekerja dikantor lebih nyaman dibandingkan tidak melakukan apa-apa seperti ini. Tapi, Donghae oppa sendiri yang melarangku untuk melakukan ini dan itu. Aish, apa ini karena aku mengandung anak pertama ? Setidaknya aku merasa senang juga, Donghae oppa memberikanku perhatian yang lebih.

Hem, aku rasa aku tau apa yang harus aku lakukan. Aku akan ke supermarket belanja berbagai macam persediaan makanan. Kalau memang aku tidak ada kerjaan untuk seterusnya aku bisa membuat sarapan dipagi hari untuk Donghae oppa, kemudian aku membereskan apartement ini, setelah itu membuat makan siang dan membawanya ke kantor, setelah itu bisa saja aku pulang sekedar untuk istirahat ataupun tetap dikantor menemani Donghae oppa. Ya, kedengarannya tidak buruk juga. Benar kan ?

Untuk hari ini aku rasa aku akan sedikit bersenang-senang. Bagaimana kalau aku ke café langganan dekat kantor untuk membeli beberapa macam jenis cake kemudian aku mengantarnya ke kantor Donghae oppa dan aku menunggunya sampai selesai bekerja dan setelah itu kita pulang bersama ? Ah ! Joahe, joahe, joahe pasti akan menyenangkan.

***

Lee Hyura in a Café (5.45PM)

Aku benar-benar ingin membeli semua cake yang ada di etalase café ini. Ada tiramisu, chocolate cake, strawberry cake, cheese cake, cup cake dan masih banyak lagi. Aish jinja. Ya sudah, aku beli sesuai keinginanku saja. Ah, tapi aku ragu. Bagaimana kalau aku tidak bisa menghabiskannya ?  Biarkan saja lah, kan aku masih bisa menyimpannya dikulkas dan memakannya besok lagi.

    Kring..Kring..

Suara handphoneku berbunyi. Ck, benar-benar menggangu padahal aku baru ingin memesan cake-cake itu.

Kring..Kring..

            Sebelum mengangkat telfon. Biasanya aku melihat dulu siapa yang menelfonku.

“Hae-Oppa Calling”

 

Yang menelfon Donghae oppa. Aku pikir siapa.

“Yeob…..”

“Hyura-aa, kau dimana ?” Aku bahkan belum menyapa Donghae oppa terlebih dahulu.

“Aku ada di café oppa. Sebentar lagi aku akan ke kantor. Waeyo ?”

“Café mana ? Dekat kantor ?”

 

“Em, kau tunggu sebentar lagi oppa. Setelah dari sini aku akan ke kantor. Arra ?”

            “Kau tunggu disana saja chagi-aa. Hari ini aku pulang lebih awal, aku pikir tidak ingin membuatmu bosan. Aku akan menjemputmu di café. Kau jangan kemana-mana. Tunggu aku, 20 menit.”

 

“Jinja ? Mianhe op…”

“Kau tunggu aku ya.”

 

“Ne. Hati-hati oppa.”

“Eng.”

 

PIP

Sambungan telfon sudah terputus. Aish, aku benar-benar merasa bersalah. Bayangkan saja, Donghae oppa bahkan baru sampai dirumah dan akan menjemputku lagi kesini. Aish, jinja. Mianhe oppa, jeongmal mianhe.

Aku rasa aku terlalu lama berada di supermarket tadi, aku membeli banyak bahan makanan yang aku rasa cukup untuk 2 minggu kedepan. Bukannya aku tidak mau membeli kebutuhan rumah sampai sebulan kedepan, hanya saja aku sempat bingung bagaimana aku membawa pulang semuanya. Tapi ya sudahlah, sekarang aku akan memesan cake yang aku inginkan. Dan aku juga akan membelikan coffe kesukaan Donghae oppa dengan less sugar pastinya.

“Selamat sore agasshi. Ada yang bisa saya bantu ?”

“Em, aku ingin cheese cake 1, tiramisu 1, chocolate cake 1, blueberry cake 1 dan vanilla latte less sugar 2.”

“Ne. Nona akan makan disini atau dibungkus ?”

“Ah, dibungkus saja semuanya. Berapa ?”

“ Semuanya 19.000 won nona.” ( 19000 won = Rp 163.767.-)

“Ini.”

“Kembaliannya nona…”

“Untukmu saja, aku tunggu pesananku dimeja sana ya.”

“Ah. Ne, gamshamnida nona.”

“Ne.”

 

Aku memilih duduk dipojok sini. Tempat duduk favoritku dan Donghae oppa. Sekarang aku sedang menunggu Donghae oppa dan juga menunggu pesananku. Aku hanya melihat keluar jendela, melihat bagaimana suasananya sore menjelang malam yang sebentar lagi akan berganti. Aku tidak menemukan sesuatu yang menarik dan menyenangkan.

Sekarang aku hanya terus berpikir. Mungkin lebih cocok dikatakan membayangkan bagaimana nantinya jika aku dan Donghae oppa sudah tua. Bagaimanakah keadaan anak-anak kami ? Apa yang ak pikirkan terlalu jauh ? Aku hanya penasarannya dengan masa depan yang akan terjadi.

Hmm. Dan aku sering kali berpikir yang tidak-tidak disaat renggang seperti sekarang ini. Bagaimana bisa aku terlahir di dunia ini ? Diberi nama Kim Hyura, menikah dengan lelaki seperti Lee Donghae. Semua terasa begitu cepat dan sekarang aku sedang mengandung. Tidakkah semua itu berjalan dengan sangat cepat ?

“Kim Hyura.”

Ada yang memanggilku. Siapa itu ? Itu bukan suara Donghae oppa. Aku melihat ke sekelilingku, berusaha mencari sumber suara ini.

“Anyeonghaseo.” Seorang namja membungkuk ke arahku dan menyapaku, aku seperti pernah melihatnya. Kapan dan dimana aku lupa. Ah, mungkin juga aku salah liat. Terkadang manusia memang terlahir berbeda-beda. Tapi tidak menutup kemungkinan mereka tetap terlihat mirip kan ?

“Anyeonghaseo” Dengan reflek saat dia menyapaku, aku juga menyapanya dan membungkuk hormat padanya. Aku tidak tau siapa dia. Yang jelas, aku hanya merasa aku harus tetap sopan kapan dan dimanapun aku akan berada.

“Kau, Kim Hyura kan ?” Ia menanyakan namaku. Kenapa ia bisa tau namaku ?

“I..Iya.. “ Aku sedikit gugup untuk menjawabnya, aku tidak tau siapa dia. Kenapa ia bisa tau namaku ? Ini sedikit aneh dan menakutkan.

“Aku Kim Rey Joon, biasanya orang-orang memanggilku Joon.” Ia sedikit mengarahkan senyumannya padaku. Sebetulnya aku tidak terlalu peduli dengan namanya. Yang aku pikirkan hanya lah kenapa ia bisa tau namaku.

“Em.. Kau tau darimana namaku Hyura ?”

“Kau tidak mengenali wajahku sama sekali ? Dulu aku adalah seniormu di senior high school. Meskipun aku sekolah disana hanya 3 bulan semester pertama. Tapi, apa kau benar-benar tidak tau sedikitpun tentangku ? Aku rasa aku cukup terkenal saat itu.” Wajahnya, aku tidak bisa mengekspresikan bagaimana raut wajahnya saat ia bertanya apakah aku benar-benar tidak mengenalinya. Ekspresinya terlihat lucu dan menggelikan disaat yang bersamaan, kalau saja Donghae oppa melakukan ini. Aku pastikan aku akan melempari wajahnya dengan bantal.

“Maaf, sepertinya aku benar-benar tidak mengenalimu.”

“Aish. Ya sudah lah tidak apa jika kau tidak mengenaliku. Bagaimana kalau kita berkenalan sekarang ?” Apa yang baru saja namja ini lakukan ? Mendesah dengan tidak suka didepan orang lain, ia tidak terlalu sopan sepertinya.

“Kita sudah memperkenalkan diri tadi.”

“Nona, ini pesanan anda.” Pelayan cantik itu baru saja mengantarkan pesananku, kue-kue kesukaanku dan Dongahe oppa. Vanilla latte pesananku juga ada didalamnya, sudah dikemas rapi. Itulah alasan mengapa aku dan Donghae oppa benar-benar menyukai tempat ini.

“Wah, kau suka cake ya ?” Sebenarnya aku kurang suka dengan namja ini. Ia kelihatan sangat senang mengetahui urusan orang lain. Aku kurang menyukai’nya.

“Chagi-aa. Kau sudah menunggu lama ? Ini… siapa ?” Ya, bagus sekali. Ditengah-tengah keadaan seperti ini Donghae oppa muncul sambil sengaja memeluk pinggangku dengan posesif. Tapi, ada apa dengan dia sekarang ? Suara Donghae oppa terdengar goyah saat menanyakan siapa yang ada dihadapanku ini.

Lee Donghae
            Namja ini, bukankah aku pernah melihatnya ? Kalau tidak salah aku pernah melihatnya disebuah foto. Ah ! Ya, sebuah foto. Foto liburan Jessica dengan dia. Ya ! Ya ! Itu benar, namja ini namanya Joon . Joon apa ak lupa. Jessica pernah member tauku, tapi sungguh itu sudah sangat lama dan aku lupa.

“Anyeonghaseo.” Dengan sopannya namja ini membungkukkan badannya untuk menyapaku. Wah, benar-benar terpuji.

“Ah ye, anyeonghaseo.” Dan dengan bodoh dan canggungnya aku juga membungkukkan badanku. Bisa kupastikan, Hyura akan tertawa geli dengan sikapku ini

“Aku Kim Rey Joon, dulu aku senior Hyura. Tapi, ia tidak mengingat sama sekali tentangku, sedikit menyedihkan. Hahaha.” Ah ! Benar, namanya Kim Rey Joon, berarti ingatanku tidak salah, dia memang temannya Jessica. Apa waktu Hyura masih bersekolah ia tidak tertarik dengan lawan jenis ? Namja ini tidak jelek juga, tapi bisakah aku mengatakan kalau aku lebih tampan darinya ? Sungguh, aku bukan memuji diriku sendiri. Tapi, wajahku sekali. Ah, 2 kali lebih tampan darinya.

“Benarkah ? Hahaha. Hyuraku memang jarang memperhatikan sekelilingnya. Oh ya, aku Donghae, Lee Donghae. Suami Hyura.”

“Kau suami Hyura ? Jinjayo ? Wah, ternyata kau sudah menikah.” Namja ini, sebenarnya manusia yang berwatak bagaimana ? Apakah ia mudah akrab dengan orang lain ? Aku baru berkenalan dengannya beberapa menit yang lalu. Tapi.. Ash, aku tidak tau. Tangan Hyura perlahan menarik ujung kemeja yang aku pakai. Aku mengerti akan tanda ini.

“Ah ne. Maaf, sepertinya kami harus pergi terlebih dahulu.” Ucapku dengan singkat dan jelas.

“Ya, baiklah. Senang bisa bertemu denganmu lagi Hyura-aa dan Donghae-ssi. Hati-hati dijalan.” Baru saja aku berpikir dia adalah seseorang yang menyenangkan. Aku mencabut kembali pikiranku. Aku rasa aku harus waspada dengannya, takut jika ia akan menggoda Hyuraku. Bagaimana bisa ia mengatakan senang bertemu dengan Hyura.

Hyura sudah mulai bangkit dari sofa empuk café ini, dari matanya aku tau betul ia tidak menyukai keadaan seperti tadi dan dengan wajahnya yang ditekuk ia mengambil semua belanjaannya. Reflek, aku membantu membawa semua barang belanjaannya ini. Aku rasa ia benar-benar menikmati hari pertamanya sebagai ibu rumah tangga. Ia membeli banyak sayuran dan buah-buahan. Aku bisa melihatnya dari celah kantong belanjaannya ini.

Saat berada didepan mobilku, aku menyuruh Hyura untuk naik terlebih dahulu. Sementara aku, menaruh berbagai kantong belajaan ditempat duduk belakang mobilku. Bagaimana bisa, Hyura menenteng semua belanjaan ini. Masalahnya semuanya berat. Yeoja ini benar-benar.

“Sepertinya aku akan membelikanmu sebuah mobil Hyura-aa” Ucapku membuka pembicaraan.

“Shireo. Aku tidak mau. Kenapa ? Kau sudah malas menjemputku seperti ini ? Aku bisa pulang dengan naik bus ataupun taksi.” Ck, yeoja ini kenapa menjadi sensitive begini sih.

“Aniya bukan seperti itu chagi-aa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa kau menenteng semua belanjaan itu. Masalahnya semua belanjaan barusan sangat berat, bagaimana bisa kau menenteng semuanya ?”

“Shireo shireo. Aku tidak ingin kau mengeluarkan uang hanya untuk hal-hal yang tidak penting seperti itu.” Wanita yang kucintai ini benar-benar.

“Arra. Kalau begitu kau tidak boleh pergi ke supermarket jika tidak bersama denganku. Aku tidak ingin kau menenteng semua belanjaan berat itu. Lagipula kenapa kau tidak menungguku ? Bukankah biasanya kita akan pergi ke supermarket tiap akhir bulan ?”

“Iya, hanya saja aku berpikir untuk memasakkan oppa makanan setiap pagi, siang dan malam. Jadi aku membutuhkan bahan makanan yang lebih.” Ah, itu alasan kenapa aku benar-benar mencintaimu. Lihat ! Bagaimana bisa kau berpikir membuatkanku makanan tanpa memikirkan bagaimana konsekuensi untuk badanmu sendiri untu membawa belanjaan berat seperti tadi.

“Harusnya kau mengatakannya padaku, bahkan aku sengaja pulang lebih awal dan berpikir untuk cepat bertemu denganmu.”

“Mianhe oppa, aku tidak tau kau akan pulang lebih awal, makanya aku ke café itu dulu. Awalnya aku ingin membelikan cake kesukaanmu dan mengantarnya ke kantor. Setelah itu kita pulang bersama, kedengarannya tidak buruk kan ?”

“Ya, jauh dari kata buruk malah. Berjanji lah padaku, kita saling menghubungi satu sama lain. Mulai besok sesibuk apapun aku dan semalas apapun kau, kita harus saling memberitau satu sama lain. Terserah kau melalui sms, chatting ataupun mau menelfonku langsung. Otte ?”

“Call !”

“Em.” Aku hanya mengiyakan singkat. Sebelah tanganku yang bebas dari kemudi, aku gunakan untuk mengacak rambut Hyura. Aku menyayangimu Hyura-aa, lebih dari apapun.

“Oppa. Aku tidak suka dengan namja tadi.”

“Benarkah ? Kenapa ?” Dalam hatiku, akau amat senang. Lebih baik ia berkata tidak daripada berkata iya. Itu bisa membuatku untuk mengawasinya secara ketat.

“Dia terlalu…. Ng, aku tidak tau, hanya saja ia seperti mencoba mendekati orang disekelilingnya dengan kelakuannya yang… Ck, aku tidak tau, aku tidak bisa mengungkapkannya.

“Kau tau ? Sebenarnya dia teman Jessica. Kau jangan salah paham dulu, awalnya aku hanya mengenalinya lewat foto saja tapi setelah ia mengenalkan namanya, aku baru sepenuhnya sadar ia memang benar teman lama’nya Jessica. Dan aku senang saat kau baru saja mengatakan kau tidak menyukainya.”

“Aku sadar, beberapa bulan lalu sifatku itu kelewatan kekanakan hanya karena melihat kau dan Jessica….”

“Itu wajar. Kau melihat kami berciuman meskipun itu sebenarnya bukan kehendakku. Bisakah kita tidak membahas ini, aku kurang menyukai topic ini.” Belum selesai Hyura berbicara aku sudah memotong dan mengalihkan ucapannya. Aku benar-benar tidak suka mengingatnya, aku tau, meski Hyura selalu mencoba untuk menahan cemburu saat semua wanita lain memujaku. Tapi, untuk waktu itu, aku sadar betul. Ia juga mempunyai batas kesabarannya.

***

“Ada apa ? Cepat katakan ! Aku sedang maskeran.”

 

            “Aish ! Aku bersumpah, kau akan keliahatan 2x lebih tua dari usiamu jika kau meneriakiku seperti itu.”

Lalu apa bedanya dengan yang kau lakukan tadi pagi ?”

 

            “Ck. Ingat baik-baik ya, kalau perlu kau bisa mencatatnya. Lelaki keren yang sekarang menelfon denganmu baru saja berkenalan dengan keluarga bahagia Lee.”

“Bagaimana mungkin ?!!”

 

“Hahahaha. Semuanya mungkin saja Jess.”

“Tapi, kenapa bisa secepat itu ?”

 

“Tentu saja, apa gunanya mulut cerewetku jika aku tidak bisa memanfaatkannya dengan baik ? Sudah ya, kau lanjutkan saja acara penambahan keriputmu.”

 

“Ya !!”

 

“Oh ya ! Cepatlah menjadi teman Lee Donghae. Aku menunggu kabar baikmu. Bye”

TBC

 

Kecewa. Bolehkah aku mengatakannya ? Aku selalu memikirkan bagaimana perasaan kalian menunggu kelanjutan cerita ini tanpa adanya kepastian dan akhirnya aku juga mendapatkan balasannya. Apa begitu menyenangkannya menjadi silent reader ? Apapun itu. Terimakasih untuk kesediannya tetap membaca cerita ini.

 

TYPO ?

Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan & ketidaksempurnaan.

 

 

See You Soon at Next Part

Love,

elfishyga

13 thoughts on ““Trust Me, Mrs.Lee” – Part 5

  1. Thor, ini pertm kl aku bc nh ff
    aku pun blm bc part2 sblmny.
    Mnrtku ckp mnrk ffny
    So sweet marriage life ny
    jujur aj, aku bc ini cm krn iseng2 sh
    haha
    but, menrk thor crtny
    thx n Gbu

    • iya ? waaah. padahal waktu buatnya aku udah penuh dengan rasa romantis huahahaha.
      sip deh, moga part selanjutnya lebih ngena dihati ya hihii ;’p

  2. Thor, ditunggu dong part selanjutnya, buruan ya, ceritanya seru so sweet lagi. Ditunggu ya jangan lama. Gomawo

  3. Part selanjutnya blm ada ya?
    Oh ya ak gk bermaksud utk jdi sider tpi ada 2 part yang ak gk comment krna error mian thor

  4. Thor, mian baru comment di part ini, baru baca soalnya hehe. Thor, di MOHON DENGAN SANGAT, tolong lanjutin yaa, seru banget soalnya, sayang banget klo ceritanya ngegantung, ya thor tolong dilanjut. Gomawo

  5. Thor, mian aku cerewer soalnya koment trus, soalnya aku pengen banget ffnya dilanjutin. Aku JANJI deh sehabis baca ff berikutnya bakaln koment. Ditunggu ya thor jeball jangan lama. Klo bisa ada nc nya ya *plak digebuk kyuh. HWAITING THOR(-.-)9

  6. Thor, Donghae dan Hyura always Romantic
    Bikin cemburu nih,pengen jadi Hyura deh :” #ngarep
    Ffnya di lanjutin yah ^^
    Gomawoyo.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s