[FF Freelance] Last Kiss For Suzy (Part 1)

Last Kiss For Suzy Photo

 

Last Kiss for Suzy

I wanna dead…  Suzy

I love you forever,  Taecyeon

And, I missing you… always. Soohyun.

Last Kiss For Suzy by LovFeA23

 

Rating            : PG-15

Length            : Two Shot

Genre             : Romance and Sad

Facebook        : anggybieberfiever@yahoo.co.id / widiyanisa@gmail.com

Email              : feaanggi@gmail.com

Main cast’s     :

Bae Su Zy(MissA)

Ok Taecyeon(2PM)

Kim Soo Hyun(Soloist)

Kwon Yuri(Girl’s Generation)

Park Shin Hye(Soloist)

Previous part: Part 1

Disclaimer      : sebelumnya miananta jika FF ini lama dikirimnya, ini karena modem saya yang kunjung tak diisikan. Tetapi semoga para readers yang sudah menunggu Part 1 ini tidak kecewa dengan hasilnya, amin. FF ini telah mendapat ©Copyright dari saya karena FF ini hasil handmade saya dan bukan Plagiat. Untuk Part-1 ini semoga readers suka yaa. Gomapta.

Sebelum para readers langsung membaca FF ini, FF ini benar-benar saya buat ketika hati saya bersedih karena orang-orang disekitar saya telah kembali pada Sang Pencipta. Dengan penuh kesedihan dan harapan, saya menuangkan dalam sebuah FF. dan saya mohon do’a para readers semoga kakek, Bibi dan paman saya dilancarkan dalam jalannya ke surga, amin.

Rekomendasi lagu : JYJ in heaven, BIG BANG haru-haru, dan BEAST fiction.

 

Last Kiss For Suzy by LovFeA23

 

Pernahkan diantara kalian membayangkan bagaimana kelak kau kembali kepada Tuhan? Kematian bukanlah hal yang tabuh namun sesuatu yang fakta, yang akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Seakan kematian selalu menunggu pada ujung jalan takdir kita, dengan tangannya yang lembut atau kasar ia mengulurkan tangannya secara perlahan pada kita. Kurasakan waktu kematianku hampir tiba. Sebagai seorang gadis yang menderita kanker hati stadium akhir dan untuk gadis yang selalu memikirkan kematian dirasa ini tidak berlebihan malah ini kuanggap ‘wajar’. Sejujurnya aku sangat takut bilamana harus meninggalkan semuanya terutama untuk hidupku, Eonni, dan tentu saja Taecyeon. Namun Tuhan telah menentukan semuannya semenjak aku diciptakan dan mungkin kini adalah sisa-sisa hembusan napasku sebagai gadis biasa yang bermain akan sebuah cinta. Sebuah cinta.

Angin dingin meniup sepoi-sepoi sepanjang perjalananku menuju taman yang terletak di samping rumah sakit yang sudah kutinggali hampir tiga minggu. Dengan baju milik rumah sakit tanpa beralaskan sandal atau apapun, Soohyun mendorong kursi rodaku dengan santai. Menikmati udara pagi memang sangat mengasyikan, memberikan udara-udara bersih dan frash untuk tubuhku yang rapuh.

Hampir setiap pagi Soohyun mengajakku berkeliling rumah sakit apa bila pagi atau sore hari telah tiba, mungkin agar aku tidak bosan berada dirumah sakit ini atau ini bantuannya untuk menyukseskan rencana sepihakku. Entahlah, yang penting ini sangat membantuku untuk lebih semangat.

“Dokter dengan pasiennya setiap pagi jalan-jalan bersama, apakah ini pelayanan khusus untuk orang sekarat sepertiku atau ini termasuk bantuanmu?” tanyaku untuk mengajanya mengobrol karena hampir sedari tadi Soohyun tak kunjung menggerakkan bibirnya untuk berbicara. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata jika ini adalah pelayanan khusus untukku. Kemudian ia menghentikan mendorong kursi rodaku dan beranjak dari tempat berdirinya menuju kursi panjang di sampingku, ia lalu mendaratkan pantatnya disana. Sedetik ia menghela napas dan memandangku dalam.

We?” protesku pada pandangan Soohyun yang begitu dalam.

Seketika ia bangun dari pandangannya yang kupastikan itu adalah lamunan “Ah, ani.”

“Kau menyesal melakukan ini?”

Soohyun tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya bermain dengan jari-jari tangannya.

Uisanim Kim Soo Hyun?” kataku dengan penuh penekanan.

“Aku khawatir dengan keadaanmu saja.” Jawabnya dusta yang dapat kulihat jelas.-

Kuraih tangannya yang putih namun belum seputih milikku dengan lengannya yang berbalut jas putih layaknya seorang dokter. Kugenggam erat telapak tangannya dan tanpa sadar membentuk pola-pola tidak jelas disana sembari memandang Soohyun lebih dalam juga “Hanya ini yang kuminta sebelum aku pergi. Aku mohon kau dapat mempertahankan ini, Taecyeon sudah memiliki gadis lain yang kupikir kelak akan menemaninya. Tugasku tinggal menyatukan mereka, walau sepertinya butuh tenaga super full” paparku diakhiri senyuman manis nan tipis.

Ia mengacak-ngacak rambutku asal “Kalau bukan kau, aku tidak akan mengikuti permainan konyol ini”

Kusringaikan tawaku bersamaan dengan tawanya yang sangat lepas namun dengan volume normal sehingga tidak mengganggu orang-orang disekitar kami.

Sungguh aku juga tidak ingin melibatkan Soohyun dalam tali kehidupanku yang rumit ini, namun ialah satu-satunya orang yang dapat membantuku saat ini untuk melepaskan perasaan cintaku pada Taecyeon. Mungkin kalian anggap aku ini gadis egois yang hanya memikirkan diriku sendiri namun kupikir itulah yang terbaik tinimbang harus lebih menyakiti orang-orang yang kucintai. Sebuah penghindaran yang kulakukan ini semoga akan berbuah manis saat diakhir kehidupanku.

Berbaring diranjang rumah sakit tidak senyaman dirumah sendiri. Bau-bau obat yang menyengat, bau-bau kesakitan, kepanikan, kesedihan, dan kematian. Semua tercampur dalam atmosfir di rumah sakit ini. Bila dihitung-hitung mungkin ini sudah kesekian kalinya aku mengeluh dalam hati namun dari sekian banyaknya keluhanku tak ada satupun yang kulontarkan secara lisan kepada Eonni ataupun Soohyun.

“Dasar pemalas, seharian ini kau hanya tiduran saja, ha?“

“Kenapa bubur gingsengnya tidak kau makan?” lanjut Eonni.

Aku yang sudah mengarah padanya dengan manis hanya berdecak melihat Eonni-ku yang muring-muring mengenai jatah makan siangku yang tak kumakan. Kubenarkan dudukku dengan menyandarkan pungggung pada bantal putih yang kujadikan penopang kepalaku saat tidur.

Matsopso, Eonni pikir aku tidak merasa bosan setiap hari harus makan bubur, bahkan perutku yang membuncit ini hampir tak dapat menerimanya lagi”

Ia menggletakan kantong plastic yang dibawanya dengan kasar pada meja bundar di ujung sana lalu bergegas menghampirikuku. Sesampainya didekatku Eonni memasang wajahnya yang marah kemudian berubah menjadi wajah memelas yang sangat kubenci.

“Kau harus makan”

Ani

“Yakkk… Bae Suzy-ya!!!”

Selesai ia berteriak dengan nada tinggi Eonni berhampur keluar ruangan, mungkin ia kesal dengan sikapku yang selalu mengeluh bubur buatan rumah sakit yang sungguh-sungguh tak enak dilidahku. Serasa hambar dan pahit jika aku memakan sesuatu yang dibuat oleh pihak rumah sakit, jika begini aku jadi rindu masakan Omma yang lezat walau hanya kerang dan kacang polong.

Selang beberapa waktu Eonni kembali tanpa menunjukan kejadian yang barusan, ia seperti baru tiba kemari. Ia tersenyum padaku dan mencari kesibukan dengan mengeluarkan barang-barang blanjaannya yang terdapat didalam kantong plastic yang ia bawa.

Mianhae Eonni, saranghaeyo” cletukku.

Ia beralih memandangku dengan mata yang berkaca-kaca dan berhambur memelukku. Pelukan Eonni yang hangat dan erat mampu berirama dengan pecahnya tangisan antara aku dan Eonni. Ia membelai rambutku yang kusut dan lebih mempererat pelukan menjadi lebih dalam.

Saranghaeyo, Suzy-ya.”

Kematianmu semakin dekat, kematianmu tinggal beberapa langkah lagi, kembalilah! Kembalilah! Suzy, kembalilah!

Suara-suara misterius dalam bunga tidurku ini muncul lagi, sekarang terasa lebih jelas dan lebih nyata. Bahkan aku merasa tercekik jika mendapatkan mimpi-mimpi itu, sudah tiga hari terakhir suara dalam mimpiku ini muncul ditengah kelelapan mataku bahkan tak jarang aku harus merasa seperti orang kesurupan jika mendapati mimpi-mimpi semacam ini.

Aku bertanya-tanya dalam hatiku, apakah ini adalah tanda bahwa hidupku tak berlangsung lama? Walau aku tahu jika itu sudah fonisan konkrit namun acapkali aku tak mempercayainya.

Mata yang membelalak, napas yang tersengal-sengal ditambah piluh yang mengucur deras dari pori-pori kulitku. Kucoba menenangkan diri dengan mengatur pernapasan lebih dominan. Saat menoleh ke sofa coklat marun, kudapati Eonni yang belum tidur karena masih sibuk dengan labtop-nya. Aku yang melihat pemandangan ini menjadi teringat masa-masa Omma baru menjadi single parent tanpa seorang pendamping karena telah ditinggal oleh Appa yang lebih dahulu menghadap Sang Ilahi.

“Ini bukan waktunya bekerja”

Ia sekilas menoleh padaku dan kembali lagi pada layar labtopnya “Tidurlah! Ini hampir selesai”

Percuma saja jika aku menyuruhnya untuk berhenti sekarang juga paling ia hanya akan berhenti untuk mengambil napas lalu masuk lagi dalam kesibukannya. Sifat yang sudah permanen tidak dapat diubah oleh siapapun.

“Cekkk… terserah kau saja.” Lalu menutup mataku untuk tertidur lagi.

Kelopak mataku terbuka perlahan setelah aku merasa tidak nyaman dengan posisi berbaringku yang lebih menyerupai patung batu koral yang dipasang disudut-sudut ruang pameran. Tulang pinggang dan bahuku terasa nyeri dan pegal-pegal ini mungkin akibat dari badanku yang hanya berbaring seharian dan tak melakukan aktivitas normal seperti tiga minggu yang lalu. Hah, tulang-tulang pinggangku serasa kaku dank eras bahkan panas.

“Suzy, kau sudah bangun?” suara itu tiba-tiba menggema dari balik kursi tunggu yang ada disamping kananku. Kucoba lebih membuka lenar kelopak mataku agar cahaya dapat menjelaskan siapa sosok yang berada disampingku ini. Pandanganku pertama kali menagkap sebuah cahaya putih terang dan hitam pekat pada ujung kepalanya.

“Soohyun” lanturku masih lemah.

“Kau tidur lama sekali”

Mendengar Soohyun berkata seperti itu, aku segera menengok jendela kaca yang terpasang pada ujung ruangan. Terlihat jelas jika cahaya terang itu membiaskan dan memantulkan kesegala arah. Kupikir ini sore hari, terakhir aku berbincang dengan Eonni pada waktu siang.

Kulontarkan tebakanku yang kuyakini adalah jawaban benar “Ini sore?”

Ani, ini sudah setengah siang lagi”

Saraf dalam tubuhku tiba-tiba berkejang seakan memberikan reaksi terkejut pada ucapan Soohyun. Apa maksud dari ‘setengah siang lagi’ itu, hah otakku benar-benar bodoh kali ini tidak dapat menagkap kalimat sesederhana itu, namun sungguh saja aku memang benar-benar tak mengerti dengan maksud kalimat Soohyun.

“Apa maksudmu? Apa aku tertidur lama?” tanyaku dengan memutar-mutar memoriku yang terakhir.

Soohyun menyilangkan tangan didepan dada dan sekarang ia menampilkan guratan lekukan pada atas alisnya yang aneh “Kau tertidur dari kemarin siang dan sekarang kau baru bangun. Ini menjelang siang”

Apa? Jadi ia berkata jika aku tertidur hampir dua hari, padahal aku merasa jika tidurku baru hitungan menit namun keburu terganggung dengan rasa nyeri yang sangat dominan pada seluruh tubuhku.

Tanganku yang berkringat kutepuk-tepukkan pada slimut coklat yang kukenakan dan beralih dari posisi semula untuk lebih jelas berbicara dengan Soohyun. Kini aku dapat lebih jelas sosok namja tampan yang duduk didepanku, ia tersenyum dengan lembut sembari menyipitkan mata kirinya.

“Apa aku terlihat tampan?”

Tawaku memudar “Tentu saja kau tampan, namjachingu-ku memang sangat tampan”

Hukk. Hukkk. Hukkk. Tenggorokanku merasa ada sesuatu cairan yang mengganjal pada diding mulut, rasanya batir dan relung bawah dadaku terasa sakit dan nyeri. Kutahan dengan tanganku.

“Kau baik-baik saja? Apa hatimu merasa sakit lagi?” tanya Soohyun sigap.

Ne, sesak sekali dalam sini” tuturku disela-sela dahak yang sangat mirip dengan orang lanjut usia. Hukk. Hukkk. Hukkk.

Tarikan dahak dan jalur darahpun seakan terkait satu sama lain hingga membuat otakku ikut-ikutan nyeri dan puyeng. Seglintir napas panjangpun terasa sangat sulit untuk kulakukan. Sakit ini semakin menjadi-jadi saja, sesuatu yang tertahan pada tenggorokan melewati dengan perih melilit dan pecah pada rongga telak yang kering. Kurasa mulutku berlumuran cairan merah segar dan terasa hambar. Hukk. Hukk. Hukkk.

“Suzy” Soohyun mengulurkan tangan pada bibirku dan tangan yang satunya menopang leherku. Ia sudah terbiasa melihat peristiwa seperti ini buktinya ia tidak canggung ataupun gemetar saat menanganiku.

“Ghwenchana, ini hanya darah” timbalku meyakinkan keadaanku yang baik-baik saja.

Jari-jari Soohyun yang panjang menyapu dari ujung bibir hingga ujung bibir bagian sebarang. Perlahan-lahan ia mengusap bibirku yang berlumuran darah, terkadang bibirku tak dapat terdiam hingga terpasrah mengikuti arah jarinya. Ia membersihkan dengan hangat dan lembut serta sorotan matanya begitu aneh saat kubalas pandang matanya. Matanya tertuju pada bibirku yang kini mirip berlipstik merah merona.

Kupegang tangan Soohyun yang berusaha lebih membersihkan bibirku “Hentikan! Nanti tanganmu kotor”

Sepertinya ia tak menghiraukan kalimatku barusan, ia tak menjawab atau melakukan perintahku. Jarinya yang ikut berwarna merahpun tak ia hiraukan, hampir mirip dengan Taecyeon. Si keras kepala. Aku kembali mengulang perintahku untuknya agar menghentikan kegaitan membersihkan bibirku yang kupikir sudah sangat bersih. Kemudian ia menarik tangannya menjauhi wajahku beserta jemarinya yang kotor akan darah. Tangan satunya yang besih karena tak menyentuh bibirku guna menopang leherku ia gunakan untuk mengambil tissue pada kotak tissue yang terletak diatas meja sudut. Ia mejumput beberapa tissue lalu ia gunakan untuk membersihkan tangannya yang kotor. Warna merah segar sangat terlihat jelas pada tilas tangannya, perasaanku jadi semakin takut jika melihat darahku mengotori tubuh orang lain. Pikiranku tiba-tiba beralih pada sosok Taecyeon yang hampir tiga minggu ini tak kutemui, entah sudah berapa pesan singkat, telephone, atau miscall yang ia gunakan untuk mengetahui keadaanku. bahkan saat ia ingin bertemu denganku dengan keras aku menolaknya hingga membuat ia menunggu diluar berhari-hari.

Yonja bodoh dan lemah sepertiku tak sanggup lagi melihat sahabat karibku yang menjelma menjadi namja yang kucintai. Terlalu rumit dan menyedihkan jika melihat ia berkaca-kaca menahan tangis dihadapanku, seperti ketika ia mengetahui jika aku tak ingin bertemu dengannya lagi. Sebuah cambukan kasar dan mantab terlihat sekali pada mimic wajahnya tak kupungkiri jika akupun merasakan hal yang sama. setiap hari tersenyum seperti Suzy yang dahulu namun sebenarnya Suzy yang sekarang amat sangat menyedihkan dan mengerikan. Benar-benar pembohong besar kali ini aku melakukan hal yang akhirnya akan menyakiti dua orang yang tak bersalah.

“Mungkin kau akan lebih sering batuk berdarah yang hebat dan kesulitan untuk bernapas. Kau siap?”

Kuanggukan kepala menyiapkan diri dengan segala kemungkinan yang dibuat oleh penyakitku sendiri yang sudah menemaniku sejak umur lima tahun ini. Sebuah anugrah aku tak pernah mengeluh dengan peyakit ganasku yang mematikan. Malah yang lebih sering mengeluh adalah Eonni dan Omma.

“Istirahatlah! Aku akan mengunjungimu setelah jam makan siang. Oh, jangan terlalu banyak makan coklat”

“Coklat?” ulangku keheranan.

Ne, dimeja depan aku melihat bukusan coklat. Baik-baiklah, tomannayo” pamit Soohyun dengan membetulkan slimutku yang tak karuhan.

Kutarik sudut-sudut bibirku membentuk senyuman manis untuk mengantarkan ia kembali bekerja sebagai seorang dokter spesialis kanker hati dan rongga dalam. Ia berjalan keluar menuju pintu dengan menyimpan kedua tangannya didalam saku celana panjangnya yang berwarna hitam dan berangsur-angsur lenyap dari pandanganku.

Seketika aku berulang pikir mengenai coklat yang dikatakan Soohyun. Karena penasaran aku bangkit dari tidurku dan beranjak pergi menuju meja yang ia maksudkan. Sekilas aku tak melihat bingkisan kotak coklat namun semakin mendekati meja kaca bening itu terdapat bingkisan coklat yang terletak dibalik fas bunga. Dilihat dari kardus luarnya sebuah merek yang tak asing untukku, itu adalah coklat langgananku dan juga Taecyeon. LovCo. Sel-sel otakku memilah-milah siapa yang memberikan coklat ini? Jika Soohyun itu tidak mungkin, buktinya ia malah melarangku memakan coklat. Tinggal Eonni dan Taecyeon tetapi kemungkinan besar menurut feelingku adalah Taecyeon. Dan alasanku sangat jelas untuk menghujatnya mengenai hal ini, mungkin ia ingin menghargai permintaanku. Permintaan yang sebenar-benarnya juga tak kuinginkan. Namun lagi-lagi karena factor keadaaan.

Sebuah hal yang rumat akan menjadi lebih rumit bagiku dan juga Taecyeon bahkan bisa juga Soohyun ikut terseret dalam keegoisanku ini. Hanya tak ingin melukai namja yang kucintai aku rela melukai orang lain dan juga hatiku sendiri, sungguh betapa keras kepalanya aku ini. Memang dari awal aku telah menyadari hal itu.

Kubuka kardus coklat tersebut dan mengambil bagian pertama. Bermacam-macam bentuk dan rasa yang kusukai, aroma coklat yang menggiurkan memang telah merelung pada saraf-saraf hidungku. Selangkah membuka plastic yang menyelimuti tubuh bulatan coklat ini mungkin aku taka akan menahannya lagi. Saat kuambil satu bulatan coklat untuk bernafsu ingin menguyahnya tiba-tiba pintu ruang kamarku terbuka diikuti deruan Omma.

“Suzy-ya!!!”

Sembari berjalan “Apa yang kau lakukan?”

Tanganku segera mengembalikan bulatan coklat yang belum sempat kubuka kulit plastiknya ke kardus “Aku hanya ingin makan coklat, Omma” jawabku jujur.

Beliau merampas kardus coklat dan melempar kasar kearah meja bening disampingku, dengan wajahnya yang berkerut seraya meraih tanganku yang berekorkan selang infus “Untuk apa makan coklat, makanlah sesuatu yang bergizi. Pikirkanlah kesehatanmu, lihatlah! Wajahmu tampak pucat dan tak terawat. Apa gara-gara cemoterapi yang kau jalanai?”

Omma, aku baik-baik saja. Aku kan putrimu yang paling kuat” clotehku dengan penuh semangat diakhiri kepalan tangan yang kuangkat setara dengan wajah.

Beliau mngerutkan dahi sembari berdecak kemudian merayuku dalam pelukannya yang hangat. Aku rindu sekali akan bau khas parfum Omma, wangi yang lembut. Setelah kami puas saling berpelukan Beliau membimbingku kembali keranjang putih yang berdominasi putih dan berslimut coklat. Beliau kembali menatihku untuk berbaring, tangannya sangat hati-hati menopang tubuhku seakan sedang bersentuhan dengan sorang agi.

“Apa itu?” tanyaku ketika melihat barang bawaan Omma yang masih tercantel pada tangannya.

Seketika Omma meletakkan barang bawaanya ke meja sudut dan mengeluarkan isinya yang berupa makanan, kata Beliau itu adalah makanan kesukaanku yang dibuatnya sendiri. Beliau paham jika aku tidak berselera makan menu rumah sakit lagi.

Omo, berikan padaku! Aku ingin segera memakannya”

“Makanlah putri kecilku” tukas Omma.

Sebuah menu kimbab dan nasi beserta lauk pauknya kutelah sesendok demi sesendok. Rasanya begitu lezat dan damai, berbeda sekali dengan menu rumah sakit yang kumakan setiap hari. Jarang-jarang Omma memasak untukku mengingat pekerjaannya yang sangat padat, sebagi single parent kurasa Beliau sudah sangat hebat.

Gomapta.”

Omma tersenyum dan mengecup dahiku beberapa detik. Sungguh tegar Omma-ku ini, Beliau tidak ingin terlihat sedih didepan putrinya yang sekarat tetapiku tahu jika hatinya sangat hancur melihat putrinya yang manja harus mengalami penderitaan ini bertahun-tahun. Pernah Eonni berkata padaku, jika nyawapun dapat diberikan pasti Omma sudah memberikannya padaku. Mendengar itu aku tertangis terseduh-seduh, cukup bagiku melihat Omma bahagia sebelum akau mati adalah kado terindah yang diberikan Tuhan untukku.

 

Hari ini aku ingin menjalani cemoterapi yang ke-29 tepatnya ketika pukul satu siang, setelah Soohyun kemari. Aku sudah tidak takut harus menahan sakit dan perihnya cemoterapi, obat-obat kimia yang tak kukenali jenisnya namun berbau menyengat itu mulai akrab dengan tubuhku. Seperti sepasang sendok dan garpu jika tidak terjadi penolakan pada darahku. Pernah sebelumnya tubuhku tak menerima kehadiran obat-obat ini hingga membuatku seperti orang keracunan bahkan sampai muntah darah bercampur obat-obat. Sungguh pahit memang jika badanku tidak menerima cemoterapi, seperti tumbuhan yang tak pernah disiram. Hidupkupun demikian.

Beberapa dokter yang ahli mulai berkumpul satu-persatu di kamar istirahatku dengan beberapa suster, salah satu dokter diantara mereka terdapat Soohyun yang juga terlibat dalam proses cemoterapiku yang hampir mendekati angka 30 ini. Semua berusaha menyiapkan segalanya dengan baik dan sempurna, aku yang merasa kelinci para dokter dan suster ini hanya dapat berdiam dan diam. Aku lelah bila harus mengeluarkan suara-suara yang tidak penting dan mereka sudah cukup paham mengenai hal itu.

Mulailah pakaianku diganti dengan pakaian yang berbahan seperti plastic, kepalaku dibungkus dengan penutup kepala yang transparan, dan hidungku mulai dimasuki selang yang terasa samapai hampir blok paru-paru. Salah satu dokter yang bertubuh jangkung mengeluarkan sunter dan sebuah botol kecil yang kudengar bahwa itua dalah obat bius, sebelum jarum suntik itu tertancap pada kulitku. Kulihat Omma dan Eonni saling berpegangan satu dengan yang lain, mereka menontonku dengan setengah hati, aku dapat menangkap bahwa mereka ingin menangis melihatku. Sekarang Omma sudah meneteskan air matanya. Ingin kuhampiri Beliau dan mengusap air matanya dan berkata ‘jangan menangis, aku kana baik-baik saja’ tetapi lagi-lagi aku tak mampu melakukannya.

“Kita mulai” salah satu dokter memberikan aba-aba, tiba-tiba sebuah gigitan semut terasa pada lenganku. Sebuah cairan yang lain merelung pada darahku, seperti alama bawahku terjatuh lebih dalam dan indah. Kurasakan kaki, tubuh, tangan, dan kepalaku semakin ringan dan ringan sekali tak ada beban. Semua terasa indah jika aku terlelap sekarang juga, penglihatankupun mulai buram. Lampu yang terpasang diatasku terlihat suram dengan cahaya putih tidak seterang sebelumnya. Dan gelap.

Sakit yang membingungkan. Aku tidak bisa mengerti dan mencerna apa yang sedang terjadi pada tubuhku. Tubuhku berusaha menolak rasa sakit itu, dan aku tersedot lagi dan lagi kedalam rasa yang aneh namun membingungkan. Kegelapan ini memotong detik-detik atau bahkan mungkin menit-menit penuh kesakitan, membuatku semakin mersa sulit.

Aku berusaha memisahkannya namun lagi-lagi tertarik pada kesakitan itu, seluruh darahku seperti tercampur dengan cairan yang terasa lebih dingin tinimbang suhu darah normalaku. Lambat laun kesakitan yang kurasakan semakin menghilang dan menghilang dengan sendirinya. Hingga benar-benar hilang namun masih meninggalkan rasa sakit pada seluruh tubuhku.

Didalam tubuhku sesuatu merenggut ke arah lawannya. Terkoyok. Sakitnya luar biasa. Kegelapan itu mengambil alih, kemudian berubah menjadi gelombang keringanan. Kerongkonaganku terasa panas sekali.

Betapa waktu telah lama berlalu? Detik atau menit? Rasa sakit itu kian pudar dan hilang dengan sendirinya. Otomatis kelopak mataku kedua-duannya membuka dengan pelan-pelan, sangat rumit ketika mencoba membuka mata, seperti ada cahaya yang menyilaukan mata hingga membuat mataku kembali terpejam.

“Dia sudah sadar” kudengar suara berat baru saja terlontar.

“Oh~malangnya putriku.” Sebuah suara paruh baya sekitar umur 40-an bertimpal.

Pikiranku masih cukup cerdas untuk mengetahui siapa saja orang-orang yang berada dalam satu ruangan denganku. Auraku mengatakan ada tiga orang tetapi tunggu dari jarak yang minimal aku merasa ada dua orang lagi. Dalam satu karakter orang tersebut beraura sama denganku.

Mataku masih menutup aku masih lemas untuk melihat dunia. Sekonyong-konyong langkahan kaki yang tak berirama memasuki ruangan salah satunya sepatu berhak tinggi. Sontak tiga orang yang ada diruangan ini tertuju kepada kehadiran dua orang ini.

Annyonghaseo, Ajumma, Eonni.” Sapa suara parau seoarang namja.

“Annyong, Taecyeon-ssi” balas Eonni.

Seketika aku membuka mata lebar-lebar ketika mendengar kata ‘Taecyeon’. Kutolehkan pandangan kearah mereka, benar. Memang benar, itu Taecyeon dan Yuri. Benakku bertanya-tanya sekaligus gugup, untuk apa mereka kemari? Rasa rinduku yang menderu-deru pada Taecyeon kini kusimpan dahulu, aku tak ingin melihat sesuatu yang ganjil terjadi pada malam ini.

Annyonghaseo, Kwon Yuri-imnida

“Oh~jadi ini yang bernama Yuri? Kau terlihat yeppo, seperti yang dikatakan Suzy.”

Ne, gomapta Eonni.” Balas Yuri dengan ramah.

“Dia baru saja menjalani cemoterapi” beber Omma pada Taecyeon.

Congmal. Lalu bagaimana keadaanya akhir-akhir ini?”

“Suzy gadis yang kuat dan tegar. ia juga tidak pernah absen dengan senyumnya. Keadaanya baik-baik saja, kau tenang saja.” Bergegas Soohyun menjawabnya.

Sorotan mata mereka berdua memang sudah terlihat tak sedap mata sejak pertama kali aku memperkenalkan mereka berdua lima tahun yang lalu. Seperti ada sesuatu ketidaksukaan diantara mereka berdua. Dengan cepat aku menyela pandangan mereka dengan suaraku yang parau dan lemah. “Kalian”

Mereka berlima beralih memandangku dari tempatnya masing-masing.

“Untuk apa kalian kemari?” tanyaku sinis.

“Soohyun, Omma, Eonni. Apa kalian bisa meninggalkan kami sebentar?”

“Tapi?” protes Soohyun.

Jinjja, Ghwenchana.” Kata berusaha meyakinkan. Akhirnya mereka menuruti apa mauku, segera mereka meninggalkanku bersama Taecyeon dan Yuri.

Perlahan-lahan Taecyeon dan disampingnya Yuri mendekati ranjangku. Sorotan mata Taecyeon terlihat berbinar-binar ketika melihat keadaanku yang menyedihkan tak rupa sebuah manusia pada normalnya. Beracak-acak, tak menata diri, pucat, dan semakin kurus membuat tulang-tulangku agak berkakacap pada permukaan kulit.

“Untuk apa kemari?” tanyaku to the point.

“Dimana janjimu?” pekik Taecyeon yang membuat bulu kudukku merinding.

“Untuk apa kemari?”

“Bukankah kau pernah berjanji jika bersama namja itu aku akan lebih baik? Namun apa kenyataanya? Apa ini yang dinamakan lebih baik?”

“Aku tanya untuk apa kalian kemari?” ulangku dengan penuh penekanan yang berlinang air mata.

“Apa yang terjadi padamu? ada apa denganmu?” triak Taecyeon tak sabar.

“Hentikan Oppa, apa kau tidak kasihan dengan Suzy-ya?

“Yuri-ya bisakah kau keluar sebentar?” kataku dengan nada meminta.

Tiba-tiba Taecyeon menggenggam tangan Yuri mencoba menahannya agar tetap disini “Tetaplah disini.” Perintahnya yang masih tak berpaling memandangku.

Kubuang muka karena tidak mengerti apa mau Taecyeon. Benarkah ia iangin menyakiti Yuri secara terang-terangan. Bukankah Yuri masih terlalu polos untuk terlalu ditinggalkan luka pada hatinya, aku berharap ia ingin keluar namun itu tinggal angan-angan saja, tangannya masih terantai dengan tangan Taecyeon.

“Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan untuk berkencan dengan Yuri dan aku juga menjauhimu. Aku sudah merelakan kau berdampingan dengan namja lain. Lalu janji yang kau janjikan padaku mana? Kau tidak menepatinya.” Hujat Taecyeon dengan tajam.

“Jika akar masalah kedatanganmu kemari hanya untuk menagih janjiku. Miananta, aku tidak menepatinya. Aku sudah berusaha”

Kojitma, kau ingin baik-baik diatas semuanya?” ucap Taecyeon dengan nada tinggi.

“Lalu apa yang kau inginkan dariku? Dari gadis sekarat sepertiku dan dari mantan sahabatmu yang kejam ini? Apa kau ingin aku mati saat ini juga?” triakku tak mau kalah kali ini air mataku tak mampu kubendung. Dengan derasnya semua terjatuh begitu ringannya. Baru kali ini melihat Taecyeon sekasar itu apadaku dan ini benar-benar membautku terkejut dan bersedih.

Saranganta

kata itu tiba-tiba keluar dari mulut Taecyeon yang berhasil membuatku terkejut disampingnya, Yuri pun tak kalah terkejutnya. Kutahu jelas bagaiaman persaan Yuri saat ini bahkan matanya yang indahpun berkaca-kaca mendengar kata Taecyeon barusan.

“Aku ingin pulang!” cletuk Yuri yang akhirnya tak tahan lagi. Tetapi lagi-lagi Taecyeon menahannya dan sekarang lebih erat.

“Aku belum selesai bicara”

Ia menautkan alisnya dan mengautkan bibirnya untuk berkata-kata sedangkan aku dan Yuri terdiam menanti perkataan yang ingin dilanjutkan Taecyeon. Semua suasana terasa hambar dan sunyi, hanya detak jantung dan dentingan jam yang mampu kudengar. Aku tak berani menoleh kemana-mana, aku masih setia berhadapan dengan Taecyeon. Yang mulai sumbang.

“Aku akan menikah dengan………. Kau Yuri-ya.”

Sontak dihadapanku Taecyeon mencium bibir Yuri. Mereka berciuman didepanku. Saat ini rangah dan seluruh tubuhku kaku tak bergerak. Semua terasa tak ada nyawanya. Aku tenganga melihat itu, kejadian yang tak pernah aku ingin melihatnya. Rasanya begitu sakit, terlebih hatiku yang tersayat-sayat. Air mataku tak berhenti-hentinya meleleh hingga pipiku penuh dibasahi air mata. Tak rela jika Taecyeon melakukan ini padaku. Sungguh sakit dan dsakit sekali. Kenapa ia begitu teganya melakukan ini dihadapanku?

“Taecyeon…”

 

 

 

 

Last Kiss For Suzy by LovFeA23

 

To be countinue… more Part 2 (End)

20 thoughts on “[FF Freelance] Last Kiss For Suzy (Part 1)

    • haha, ini baru rasa pahitnya. part selanjutnya akan manis kok 🙂
      siapppp anisa, gomapta udah membaca FF ini 🙂

    • aduhhh jangan nyesek terlalu lama nanti kamu gak bisa napas, hee 🙂
      taec haya kesal dan melampiaskan pada yuri. part 2-nya gak akan sesadis ini, oke
      gomapta siska 🙂

  1. bner2, taecyon jahat bgt.
    Yh thor, sedih baca suzy kaya gtu,kesel bgt baca taec kya gtu* rasa’a taec pgen qu tendang aja.. Dan gk rela langsung tbc, lanjut thor. Bagus bgt nie

    • 😦 taec-nya jangan ditendang, dia bias saya… heee 🙂
      oke oke, tunggu part 2-nya. aku akan buat lebih manis lagi.. gomapta fitria 🙂

    • hihi sejujurnya aku juga galau, nii FF mau SadEnding apa HappyEnding.. yahh ikut alurnya aja. hehe, nanti aku renungin lagi, harapan kamu Helvia, thanks 🙂

  2. Ceritanya sedih, emosional, dan bikin nyesek
    Suzy kayaknya pasrah banget sama kondisinya 😦 ga tega ngliat dia kayak gitu
    Taecyeon juga tega bgt, tp kayaknya dia ga beneran nglukain suzy
    omona~~ ;O
    lanjut ke part 2 >< please don't take suzy go away … T^T

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s