[Prologue] Behind The Scene

behind the scene

Behind The Scene by bluemallows

Main Cast: 2PM’s Nichkhun Horvejkul & Girls’ Generation’s Tiffany Hwang || Genre: Romance, Life, Music || Length: Chaptered || Rating: PG-13 || Disclaimer: Inspired by Ilana Tan’s Sunshine Becomes You, “First Kiss” (2012), and my own experience. || Credit Poster: almahonggi99

*

Ia menyapu pandangan pada ruangan itu. Menatap balik setiap orang yang melihat dirinya dengan tatapan ekspresif melalui bola mata cokelatnya yang menawan. Matanya dinaungi sepasang alis yang sewarna dengan rambutnya—cokelat kehitaman. Kelopak matanya menjadi lebar dengan bantuan make up dengan bulu mata yang halus dan melengkung sempurna tanpa harus diberi maskara, memberi kesan teduh pada tatapannya. Akan ada sepasang lesung pipit jika ia tersenyum lebar, seperti saat ini.

Tangannya meraih mikrofon dan mengetuk-ngetuk kepala mikrofon untuk memastikan bahwa alat pengeras suara itu dapat berfungsi dengan baik. Perlahan ia menundukkan kepala dan punggungnya hingga nyaris membentuk sudut sembilan puluh derajat selama beberapa saat, kemudian menaikkan badannya lagi dengan tegap. Ia mengalihkan pandangan ke arah cahaya kuning yang menyorotinya terus selama satu jam terakhir. Sesekali, itu menyilaukan sehingga ia harus menyipitkan mata.

Bola matanya kembali pada barisan penonton yang duduk berjajar dengan rapi di atas kursi merah yang empuk. Ratusan pasang mata memusatkan perhatian pada dirinya Dirinya berdahem sejenak dan melebarkan senyumnya. “Saya ingin berterima kasih untuk orangtua saya. Tanpa kalian, saya tidak mungkin ada berada di atas sini,” Ia melirik ke arah sepasang suami istri yang bertepuk tangan untuk dirinya. Disusul dengan penonton lainnya yang ikut memberikan tepukan tangan.

“Kemudian, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih pada setiap hadirin yang bersedia duduk di sini untuk menyaksikan saya. Terima kasih banyak.” Ia membungkukkan badannya sekali lagi beberapa kali pada arah yang berbeda-beda.

Ia kembali menyunggingkan senyum ketika penonton bertepuk tangan untuknya. “Terlalu banyak ucapan ‘terima kasih’ untuk guru, rekan-rekan, dan teman yang sudah membantu hingga akhirnya saya berada di tempat ini,” Matanya sengaja beralih lagi pada lampu sorot. Meski ia tahu matanya menjadi perih. “Terlalu banyak orang yang ada berada di belakang panggung untuk semua ini. Dan terima kasih, terima kasih banyak untuk semuanya.”

Ditariknya nafas panjang, lalu menghembuskannya. Terlalu keras hingga suara itu masuk ke dalam pengeras suara. “Aku jadi teringat tentang seorang teman yang sebenarnya ingin sekali datang ke sini,” Matanya menerawang. Tidak jelas kemana arahnya. “Dulu dia pernah bertanya padaku ‘Kita tidak mungkin membahagiakan semua orang, tapi kita bisa membahagiakan satu orang. Kau ingin membahagiakan siapa?’ Aku tidak tahu jawabannya saat itu.”

Lidahnya kelu sejenak ketika menceritakan hal itu.

“Tapi sekarang aku sudah tahu jawabannya,” Dirinya tersenyum kecut. Senyum yang tidak cocok pada wajahnya. “Aku ingin membahagiakannya, seorang yang sudah berperan penting di balikku selama ini.”[]

64 thoughts on “[Prologue] Behind The Scene

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s