[SERIES] Fallin’ Love in Seoul: Hongdae Street

6-Hongdae Street

[SERIES] Fallin’ Love in Seoul: Hongdae Street

Author: Hyunnie2311 // Main Cast: CN Blue Lee Jonghyun // Genre: Romance // Rating: T // Length: Oneshot/Series // Disclaimer: This is my own storyline. Please respect and don’t be a plagiator. // Personal Blog: misstalking.wordpress.com // Author’s note: I use K.Will – Love blossom as my backsong. Sorry for -another-absurd-story -__-

Previous:

Coffee Shop (2PM Wooyoung) // Namsan Park (Super Junior Donghae) // Hangang River (MBLAQ Seungho) // Seoul Subway Line 6 (INFINITE Woohyun) // Ramyeon Shop (A Pink Naeun)

*

Spring comes, into this street,
Spring comes, into my heart,
Don’t know why I am so excited,

(K.Will – Love Blossom)

*

16.00 KST

Alergi serbuk bunga yang kuderita kembali muncul. Jika musim semi datang maka saat itu pula alergi bodohku ini juga datang, dan aku akan menghabiskan waktuku berbulan-bulan hingga musim semi berganti dengan menahan rasa gatal di hidungku ketika serbuk bunga mulai masuk. Lihatlah, hidungku sudah memerah dan hanya dalam hitungan detik aku akan kembali bersin untuk yang kesekian kalinya.

Oh, astaga. Bisa-bisanya aku mengalami alergi seperti ini. Bahkan aku sampai ditertawai oleh teman kursus musikku ketika melihatku tak berhenti bersin hingga membuat permainan biolaku terganggu. Harusnya aku bisa melewati musim semi setiap tahun dengan perasaan menyenangkan bukan tersiksa seperti ini.

Langkahku seketika terhenti ketika melihat puluhan orang mengerubungi sesuatu dipinggir jalan Hongdae ini. Entahlah apa yang mereka perhatian, tapi samar-samar aku mendengar petikkan gitar dan suara nyanyian seorang pria. Suara yang lembut dan berhasil membuatku penasaran. Bagaimana jika kulihat sebentar? Daripada aku mati penasaran.

Aku berhasil menyusup masuk kedalam kerumunan para pejalan kaki Hongdae. Kini aku tepat berada di barisan paling depan dan sedetik kemudian aku langsung terhanyut dengan permainan gitar yang pria itu mainkan. Hatiku berdesir dan pikiranku terbius. Seakan aku tak ingin beranjak pergi dari tempatku berdiri. Rasanya aku ingin mendengar nyanyiannya terus dan terus tanpa henti. Kumohon jangan berhenti…teruslah bernyanyi.

“Agasshi? Agasshi?”

Aku terkejut ketika pikiranku membuyar dan mataku menangkap sosok pria itu tepat di depan mataku. Aku sampai melompat kebelakang dengan jantung yang berdebar-debar. Astaga! Sejak kapan pria itu berhenti bernyanyi dan berdiri di depanku? Dan kemana semua orang? Wajahku sontak memerah. Bingo! Aku mempermalukan diriku sendiri di depan pria penyanyi yang tidak kuketahui namanya ini.

“A-Jwesonghamnida!” Akupun segera membungkukkan badan sopan.

“Ahaha, kenapa kau minta maaf? Tidak ada yang salah dengan dirimu.”

“Aish…ne…Ah, ngomong-ngomong suara dan permainan gitarmu bagus sekali. Aku sangat menyukainya.” Ucapku langsung agar tidak membuat suasana aneh diantara kami berdua.

“Eo? Benarkah? Wah, terima kasih banyak!” Jantungku kembali berdebar ketika melihatnya tersenyum. Jika dilihat dari dekat, pria ini sungguh tampat. Berpostur tubuh tinggi, berkulit putih, memiliki bulu mata yang panjang, hidung mancung juga senyum yang manis. Aku yakin tak ada satupun wanita yang tak meleleh jika melihatnya, termasuk aku.

“Apakah kau pemain biola?” tanyanya ketika melihat kotak biola yang kupegang. “Ah, iya. Aku kursus musik di seberang jalan sana.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau sewaktu-waktu kita bermain musik bersama di sini?” Mataku membulat ketika ia mengajakku bermain musik bersama.

“Benarkah? Tidak apa-apa?”

“Tentu saja. Oh, maaf aku harus pergi sekarang.” Pria itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sekilas hatiku sedikit kecewa karena perbincangan kami harus terhenti sampai di sini.

“Lee Jonghyun!! Ppaliwa!!” aku melihat seorang pria yang tak kalah tampan darinya memanggil dengan suara nyaring.

“Ne!! Sampai ketemu lain waktu!” Pria itu kembali tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku pun turut tersenyum.

Jadi nama pria itu Lee Jonghyun? Dan pada saat itu juga aku baru sadar jika aku melupakan alergi serbuk bungaku.

*

Mataku tak bisa lepas dari pergerakan jarum pendek dan panjang milik jam dinding bermodel klasik yang terpasang di depan kelas musikku. Tanganku mengepal dan kakiku terus menghentak kecil, tak sabaran untuk angkat kaki dari kelas ini dan melepas pergi ke tempat yang menjadi tujuanku sekarang. Ayolah, kenapa jarung panjangnya terasa lama sekali bergerak untuk mencapai angka dua belas? Perlukah aku mengambilnya dan memutar jarumnya menuju tepat angka dua belas? Oh, astaga! Aku tak sabaran!

Aku telah mempunyai rencana hari ini. Bermain musik bersama dengan pria bernama Lee Jonghyun itu.

Kemarin aku menemuinya lagi yang sedang bermain musik di depan para pejalan kaki Hongdae. Kami mengobrol sebentar, memberitahu nama kami masing-masing dan saling bertukar nomor ponsel. Dan malam sebelum tidur, aku mendapat pesan singkat darinya. Ia mengajakku untuk bermain musik bersama hari ini, menghibur semua orang yang melewati tempat kami bermusik.

“Kita cukupkan sampai di sini, sampai bertemu minggu depan!” Pengajar biolaku telah meninggalkan kelas tepat pukul setengah empat, setengah jam lebih lambat dari biasanya. Ini saatnya aku bersiap-siap pergi untuk menemui Jonghyun.

Saking semangatnya, bahkan aku sampai tak menggubris ajakan berbelanja teman satu kelas musikku. Maafkan aku, Kawan! Aku mempunyai acara yang lebih bagus daripada berbelanja!

Kakiku semakin memacu kecepatan berlari agar segera sampai, alih-alih takut Jonghyun akan marah karena aku melebihi batas waktu yang kami janjikan. Kalau dia marah, jangan salahkan aku. Salahkan saja guruku yang berbicara tanpa jeda.

Aku melihatnya telah mulai bermain gitar sendiri dan tidak menungguku datang. Mungkinkah dia marah? Entahlah. Aku harus minta maaf padanya.

Aku menunggu di barisan penonton yang ada di sampingnya hingga Jonghyun berhenti bermain. Tidak sopan jika aku mendesak masuk kedalam kerumunan penonton lalu menganggu Jonghyun yang sedang bermain. Ketika permainannya selesai, aku segera memanggilnya dan menghampirinya di tengah-tengah penonton.

“Jonghyun-ah! Mianhae, aku telat!” Seruku dengan menyesal. Tidak sesuai dugaan, bukannya marah justru ia hanya tersenyum dan menepuk-nepuk kepalaku. Senyumannya itu…ya Tuhan. Rasanya aku ingin meleleh, atau mungkin kabur untuk menyembunyikan wajah maluku.

“Tidak apa-apa!” Jonghyun tiba-tiba berdiri dan memegang lenganku.

“Semuanya! Hari ini saya mengajak temanku untuk bermain musik bersama di sini untuk menghibur kalian semuanya! Dia adalah pemain biola yang hebat! Kalian pasti menyukainya!”

“Mworago? Aku tidak sehebat yang kau pikirkan!”

“Anio. Aku tahu kau hebat. Ayo kita mulai main bersama!”

Aku mengangguk malu, kemudian kuambil biolaku dan bersiap-siap untuk bermain bersama Jonghyun. Jonghyun memberikan aba-aba mulainya permainan kami dengan petikkan gitarnya. Love Blossom. Lagu milik K. Will yang menjadi lagu favoritku saat ini. Lagu yang menurutku sungguh identik dengan musim semi, juga identik dengan perasaanku saat ini untuk pria yang tengah bernyanyi merdu di sampingku. Lee Jonghyun.

*

“Terima kasih atas permainanmu untuk hari ini! Kau benar-benar keren!” Lagi-lagi aku tersipu malu ketika ia memujiku dengan semangat hingga mengacungkan kedua ibu jarinya padaku.

“Kau juga hebat, Jonghyun-ah! Aku sangat senang bisa bermain denganmu dan menghibur semua orang. Aku tak menyangka semua orang akan menyukai penampilan kita berdua.”

“Ini semua berkat kau. Orang-orang semakin banyak yang datang dan penasaran melihat kita berdua tampil bersama. Berani taruhan, jika besok aku tidak mengajakmu lagi, orang-orang akan kecewa!”

“Kurasa ucapanmu seperti kode untuk mengajakku tampil bersama lagi.” Jonghyun terkekeh.

“Kalau kau mau.” Jawabnya kikuk.

“Tentu saja aku mau!” seruku semangat. Kurasa bermain biola bersamanya di jalan Hongdae bukanlah ide yang buruk. Justru menarik dan menjadi tantangan tersendiri bagiku sebelum aku bisa berdiri bersama pemain musik profesional lain dalam satu panggung untuk sebuah pagelaran musik besar. Anggap saja latihan untuk menguatkan mental.

“Ah, benarkah? Aku benar-benar tersentuh.” Jonghyun tersenyum dengan wajah berseri-seri.

Aku baru sadar langit mulai gelap, sama sekali tidak terasa jika aku dan Jonghyun telah menghabiskan waktu bermain musik selama berjam-jam. Bahkan aku sama sekali tidak sadar jika Eomma dan Appa meneleponku berkali-kali sejak satu jam yang lalu. Eomma dan Appa pasti akan mencemasku. Yah, statusku sebagai anak tunggal membuatku merasa tidak bebas karena pengawasan ketat dari Eomma dan Appa. Sedikit saja terlambat, mereka akan meneleponku tanpa henti. Apabila mereka tahu tentang kegiatanku ini, berani taruhan mereka akan melarangku untuk tampil bersama musisi jalanan asing yang baru kukenal itu.

“Jonghyun-ah, aku harus pulang. Eomma dan Appa mencariku! Annyeong!” Setelah memasukkan kembali biolaku kedalam tas dan bersiap beranjak pergi, Jonghyun mengcengkram tanganku dan menahanku sebentar agar tidak pergi dahulu.

“Tunggu sebentar!”

 “Ke-kenapa?” Jujur, aku sedikit gugup. Entahlah. Mungkin karena sikap Jonghyun yang mulai aneh. Menggaruk kepala, menggigit bibir bawah, dan menghentak-hentakkan kaki tak sabaran. Seperti ada yang ingin ia bicarakan tapi tak tahu apa yang harus dikeluarkan lewat mulutnya. Dan melihatnya yang terus-terusan seperti itu hingga beberapa menit kemudian membuatku semakin gugup juga berdebar-debar.

Jika seperti ini, aku pasti mulai berfantasi ria. Menebak dan membayangkan apa yang akan Jonghyun katakan nantinya dan apa yang akan terjadi selanjutnya hingga membuatku memiliki harapan lebih darinya.

“Sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu. Hanya saja aku bingung bagaimana cara menyampaikannya…” gumamnya. Jonghyun terlihat kebingungan sendiri. Bahkan akupun jadi merasa frustasi karena Jonghyun terus menahanku di sini dan belum mengatakan apapun padaku. Ayolah, jangan membuatku semakin menunggu dan berharap kalau kau akan berkata ‘aku menyukaimu’. Oh, tentu saja tidak. Kau sungguh berlebihan, batinku sendiri.

“Jonghyun-ah…Eomma dan Appa akan mencariku nanti…cepatlah katakan…” Aku mengeluh tak sabaran. Jonghyun pun mengiyakan ucapanku dan segera mengambil napas sedalam mungkin untuk menenangkan hatinya.

 “Aku…aku…” Begitu satu kata terucap dari bibirnya, saat itulah aku mulai penasaran dan ingin Jonghyun segera menyelesaikan ucapannya. Ayolah, cepat…

“Jonghyun Oppa!!” Kami –aku dan Jonghyun –sama-sama terkejut ketika suara nyaring itu memecah momen –yang menurutku –romantis kami. Pastinya aku merasa kesal karena pemilik suara itu mengganggu kami berdua. Dan kalian tahu? Gadis pemilik suara nyaring itu tiba-tiba melepas cengkraman Jonghyun dari pergelangan tanganku dan mulai bergelayut manja memamerkan aegyo-nya. Aku benci aegyo. Menurutku menjijikan.

“Song Ju-ya! Sedang apa kau di sini? Kenapa tidak langsung pulang kerumah dan kesini?” Gadis berseragam yang kini bergelayut manja pada Jonghyun itu bernama Song Ju. Cantik sih, tapi…aku tidak suka gayanya yang terlalu dibuat-buat. Apalagi aegyo. Kupikir aku juga mengalami alergi pada aegyo yang akan membuatku kesal sendiri .

“Aku ingin bertemu Oppa. Aku merindukan Oppa~ ayo pulang bersama~” Aku menatap sinis gadis centil yang makin mengeratkan pelukkannya pada lengan kekar Jonghyun. Bahkan ia sampai menyenderkan kepalanya di bahu Jonghyun. Ya Tuhan, menyebalkan sekali!

Tunggu. Kenapa aku jadi marah-marah seperti ini. Oh, tidak kupikir aku cemburu.

“Song Ju-ya. Lepaskan tanganku, aku akan mengantarkannya pulang. Kau bisa pulang sendiri.” Ia mau mengantarku? Tiba-tiba saja menunduk dan tersenyum simpul. Aku merasa menang dan melangkah lebih jauh dari gadis itu. Kami memang baru mengenal tapi Jonghyun lebih memilihku daripada dia.

“Tidak boleh! Oppa harus mengantarku pulang! Kau tahu sendiri jika penculikkan anak SMA sekarang sedang marak. Bagaimana kalau aku menjadi salah satu dari korban penculikkan itu?”

Kemudian gadis itu kembali melanjutkan kata-katanya dengan melempar tatapan sinis padaku. “Lagipula kenapa Oppa harus mengantar gadis itu? Dia hanya gadis asing yang baru kau kenal! Jadi kenapa kau harus mengantarnya? Buang-buang waktu saja. Lebih baik mengantarku! Ya? Ya?”

Buang-buang waktu? Jadi aku hanya membuang waktu Jonghyun? Aku menghela napas pelan. Yah, aku memang hanya gadis asing yang baru ia kenal dan tak seharusnya ia lebih memilih mengantarku yang masih orang asing daripada gadis bernama Song Ju yang sudah sangat ia kenal itu. Kehadiranku memang membuang waktu Jonghyun.

“Song Ju-ya! Jaga bicaramu!”

“Memang benar! Ah, lagipula aku ingat kau! Aku sempat berpapasan denganmu dan teman-temanmu, dan aku masih ingat pada saat itu teman-temanmu merendahkan kami yang golongan bawah dan kau juga mengiyakan perkataan mereka! Benar bukan? Astaga, Oppa! Sudah kubilang kau jangan bergaul dengan kalangan atas seperti nona besar ini! Kau akan menyakiti dirimu sendiri!”

Aku terkejut hebat. Aku ingat hari itu ketika aku dan teman-temanku sedang berjalan-jalan di kawasan Hongdae ini untuk mencuci mata. Teman-temanku yang memang hobi melihat setiap orang berdasarkan harta sedang berbicara bersama mengenai orang-orang yang…tidak seberuntung kami. Dan mereka merendahkan orang-orang tersebut ditengah ramainya kawasan Hongdae hingga membuatku malu karena memiliki teman-teman pemilih seperti mereka.

Aku ingin mengelak pernyataan Song Ju jika aku turut mengiyakan perkataan teman-temanku. Sungguh, aku bukanlah tipe orang yang sama seperti teman-temanku. Aku tak melihat orang-orang berdasarkan harta yang mereka punya, dan Eomma Appaku tak pernah mengajari menjadi orang seperti itu. Aku tak mengiyakan, aku hanya menanggapinya dengan ikut tertawa. Dan tawaku yang keluar saat itu bukan berarti aku menyetujui ucapan mereka yang kelewat batas. Song Ju salah tentangku.

Sungguh aku ingin membantah, tapi begitu melihat Jonghyun melayangkan tatapan sinis padaku, akupun menjadi takut. Tatapannya tak seteduh sebelumnya. Matanya memancarkan kilatan marah.

“Song Ju-ya…kau salah…aku…”

“Oppa! Ayo kita pergi!” Tanpa mengatakan satu katapun, Jonghyun membalikkan badannya dan berjalan bersama Song Ju meninggalkanku sendiri. Air mataku mulai menetes tanpa henti melihat kepergian Jonghyun yang sama sekali tak berpaling dariku.

“Jonghyun-ah…” aku memanggil namanya dalam keadaan sesenggukkan. Untuk pertama kalinya aku menangis hanya karena seorang pria yang baru kukenal. Apakah pertemuan singkat kami harus berakhir dengan perpisahan yang juga begitu singkat seperti ini?

Jonghyun-ah…kau salah tentangku…

*

Sudah seminggu aku memilih untuk tidak pergi ke tempat kursusku. Aku tidak ingin menginjakkan kakiku di Hongdae. Aku tidak bisa menjamin jika aku akan tetap berjalan lurus kearah tempat kursusku, tanpa mampir ketempat dimana aku mendengarkan suara petikkan gitar Jonghyun atau bermain musik bersamanya. Jika awalnya berkata tidak, belum tentu pada akhirnya kau masih tetap berkata sama, karena hati manusia bisa berubah. Termasuk aku.

Karena hati bisa berubah, itulah sebabnya aku tidak mengerti sama sekali isi hatiku sendiri. Apakah wajar jika setiap malam aku menangisi seorang pria yang baru kukenal? Untuk orang realistis sepertiku, kurasa itu bukanlah hal wajar. Kecuali jika itu adalah…cinta. Cinta tidak bisa dirasakan secara realistis, karena dalam hal cinta apapun yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.

Cinta muncul dalam waktu singkat pun akan menjadi mungkin jika kau yakin kalau kau yang rasakan itu adalah cinta sebenarnya.

Ya, aku jatuh cinta pada Jonghyun. Dan ketika Jonghyun bersikap dingin padaku, aku merasa diriku terhempas. Dadaku sesak begitu hebat. Ternyata seperti rasanya sakit hati dan aku tidak pernah berpikir jika rasanya sesakit ini.

Aku…tidak berharap jika perasaanku akan berbalas, hanya saja…aku ingin hubunganku dengan Jonghyun kembali baik. Aku tidak menginginkan lebih. Aku hanya ingin kami kembali seperti semula.

Itu saja. Sudah cukup.

*

Setelah hatiku mulai mantap dan telah melupakan semua yang terjadi, aku kembali datang ke kawasan Hongdae. Tentu saja untuk pergi kursus yang sempat kutinggalkan selama satu minggu. Agar aku tak kembali mengingat kejadian itu, aku memilih untuk memutar jalan menuju tempat kursusku walaupun jarak lebih jauh dari jalan yang biasanya kulewati. Aku memang ingin memperbaiki hubunganku dengan Jonghyun, tapi tidak sekarang. Aku belum siap untuk memperlihatkan wajah ke hadapan Jonghyun. Nanti saja kalau hatiku sudah mulai menguat.

Aku sedang menunggu bus datang di halte sambil mengetik pesan singkat untuk Eomma-ku, namun jariku tiba-tiba berhenti bergerak ketika seorang wanita paruh baya menarik perhatianku. Wanita yang kuduga berumur 40-an itu sedang mengalami kesulitan karena barang bawaannya yang banyak, ditambah lagi dengan tangannya –yang kupikir –sedang terluka.

Aku tergugah untuk membantu wanita tersebut. Kudekati dia pelan-pelan dan bertanya padanya. “Ahjumma, perlu kubantu?”

“Ah, ti-tidak usah, aku tidak ingin merepotkanmu…” Wanita itu menolak, tapi aku hanya tersenyum. Aku tahu dia kesusahan dan ia butuh seseorang untuk membantunya.

“Tidak apa-apa. Aku tahu jika tangan Ahjumma sedang sakit, jadi biarkan aku membantu Ahjumma.”

Kejutan untukku, rumah Lee Ahjumma –begitu aku memanggilnya –berbeda arah dengan rumahku dan jaraknya yang cukup jauh membuatku agak tercengang. Sampai saat ini aku masih berpikir bagaimana caranya aku pulang sendiri pada malam ini. Jujur, aku adalah orang yang penakut jika harus pulang sendiri pada malam hari.

“Sebenarnya kau tidak perlu mengantarku sampai rumah…”

Aku kembali tersenyum ketika Lee Ahjumma berbicara padaku, “Tidak apa-apa, Ahjumma…”

“Nanti biar kusuruh anak laki-lakiku untuk mengantarmu sampai rumah. Tenang saja, dia adalah anak yang baik. Dia tak akan mengganggumu. Jika mengganggumu kau tinggal menghubungiku dan Ahjumma akan memukulinya dengan sapu!”

“Ahahaha, ghamsahamnida Ahjumma!”

Aku dan Lee Ahjumma sampai di depan rumahnya. Rumah Lee Ahjumma tidak besar, hanya rumah sederhana yang sudah mulai kusam dan tua. Pagarnya mulai berkarat dan cat dindingnya mengelupas. Walaupun terlihat sedikit memprihatinkan karena tak ada renovasi, suasana dalam rumah Lee Ahjumma sungguh nyaman. Baru pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini tapi aku sudah merasa nyaman.

“Duduklah sebentar. Rumah Ahjumma memang jelek tapi anggap saja sebagai rumah sendiri. Akan kupanggil anakku dan kubuatkan teh hangat untukmu, tunggulah sebentar.” Aku tersenyum.

Aku melihat kesekeliling ruangan. Tiba-tiba saja aku mulai tertarik dengan kumpulan frame foto yang tergantung di sisi kanan tempatku duduk. Aku mulai beranjak bangkit dari dudukku dan mendekati sisi kanan ruangan tersebut. Lee Ahjumma memajang beberapa foto keluarganya. Dan ada salah satu foto yang paling menarik perhatianku. Foto seorang anak laki-laki berumur sekita tujuh tahun. Wajah anak laki-laki ini…seperti familiar di otakku. Aku yakin ini pertama kalinya aku bertemu Lee Ahjumma dan aku sama sekali tidak pernah melihat secara langsung anak dari Lee Ahjumma. Tapi kenapa rasanya aku tidak asing dengan bentuk wajah ini…

“Kau…”

Aku menoleh ketika ada suara yang memecah perhatianku pada foto anak laki-laki tersebut. Mataku membulat ketika melihat sosoknya berada dalam satu ruangan bersamaku. Aku tahu kenapa aku merasa familiar dengan anak laki-laki dalam foto ini. Dia adalah Lee Jonghyun. Lee Jonghyun adalah anak Lee Ahjumma.

Sial.

*

Jonghyun berjalan tepat di depanku. Tubuhnya yang kekar sama sekali tak ada niat untuk berbalik badan padaku. Ia tetap bersikeras jalan lurus kedepan tanpa memperdulikanku yang berjalan pelan dibelakangnya dengan wajah tertunduk. Seharusnya aku menolak perkataan Lee Ahjumma yang menyuruhku untuk pulang diantar Jonghyun kalau pada akhirnya malah tak dipedulikan seperti ini. Lebih baik aku pulang sendiri. Karena aku paling tidak tahan jika kehadiranku sama sekali tak dianggap oleh seseorang, apalagi jika Jonghyun yang melakukan. Ia sama sekali tak tahu dan tak mengerti apa yang kurasakan sekarang. Aku sudah tidak tahan dengan kondisi seperti ini.

 “Jonghyun-ah…” aku memberanikan diri untuk memanggilnya. Namun tak ada tanggapan sama sekali dari Jonghyun.

“Jonghyun-ah…” aku kembali memanggil namanya dan lagi-lagi tak ditanggapi. Aku tak sabaran, aku tak mau begini terus. Aku ingin Jonghyun yang kukenal. Bukan yang seperti ini.

“Lee Jonghyun!! Saranghae!!” Tanpa pikir panjang, aku berteriak. Tepat, Jonghyun berhenti berjalan dan berbalik badan menatapku tak percaya. Oke, tak hanya Jonghyun tapi orang-orang yang berjalan disekitar kamipun turut memandangku dengan tatapan aneh.

“Kau…bercanda…”

“Aku tak pernah bercanda untuk urusan cinta. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta, dan aku tak tahu harus bagaimana…”

Aku tiba-tiba terisak. Menangis di depannya. “Kumohon jangan percaya kata-kata gadis itu. Aku bukan seperti yang kau pikir setelah mendengar apa yang Song Ju katakan padamu. Aku bukan orang rendahan seperti itu…”

Tak tahu sudah berapa lama tangisanku tak berhenti. Yang bisa kulakukan untuk saat ini hanyalah menangis untuk meluapkan segala rasa yang terpendam dalam hatiku sejak seminggu lalu hingga sekarang. Perasaanku yang campur aduk tak bisa lagi kutahan dan akhirnya aku benar-benar meledak saat berada persis dihadapannya. Persetan dengan semua orang yang memperhatikanku juga Jonghyun yang kini berada di tengah keramaian kawasan Hongdae walaupun malam semakin melarut.

“Kau tak perlu membalas perasaanku, aku hanya ingin kau tidak mempercayai apa yang dikatakan Song Ju padamu…” Dibalik tangisanku yang tak kunjung mereda, kuangkat kepalaku dan memaksakan diri untuk mengulum senyum pada Jonghyun. Oh, bukankah aku terlihat sungguh menyedihkan?

Aku meremas tali tas selempangku kuat-kuat seraya menguatkan diriku untuk beranjak pergi dari hadapan Jonghyun. Langkah kakiku semakin cepat dan seakin jauh pula jarakku terpaut dengan Jonghyun yang masih tak bergerak di tempat. Jangan berpaling. Jangan berpaling. Kau kuat, jangan menunjukkan sisi lemahmu. Kau bisa melupakannya.

Napasku tercekat ketika sepasang tangan kekar melingkari perutku dan menarikku agar semakin menempel pada badannya. Tangan ini, aku tahu milik siapa. Tangan kekar yang hangat ini hanya milik Jonghyun. Lee Jonghyun memelukku dari belakang dan menahanku agar tak kembali berjalan menjauh darinya.

“Maafkan aku…”

Aku tak bergerak dan tak menanggapi ucapan maaf yang terlontar dari Jonghyun. Semakin lama Jonghyun semakin mengeratkan pelukannya padaku hingga punggungnya benar-benar menempel dan dapat merasakan detak jantungnya yang tak karuan sama sepertiku.

“Maaf aku tak bermaksud menyakitimu seperti itu…aku…aku…” Jonghyun terbata-bata saat mengucapkan kalimatnya.

Dan sedetik kemudian ia melanjutkannya dengan mantap hingga membuat sekujur tubuhku melemas. “Aku mencintaimu…”

Jonghyun memiliki perasaan yang sama denganku dan itu membuatku tak percaya. Kuangkat salah satu tanganku dan kututup mulutku hingga selanjutnya aku kembali menangis sesenggukkan.

“Jangan harap aku tak akan membalas perasaanmu. Maaf karena saat itu aku lebih percaya pada Song Ju daripada kau…maaf aku menyakitimu…”

Aku merenggangkan tangannya yang masih melingkar diperutku. Segera saja kubalikkan tubuhku menghadap padanya lalu melingkarkan lenganku pada bahunya. Aku memeluknya erat dan kembali menangis. Kali ini bukan tangisan patah hati, melainkan tangisan bahagia. Aku bahagia karena Jonghyun juga memiliki perasaan yang sama denganku.

“Jonghyun-ah…saranghae…” Jonghyun tersenyum ketika aku kembali merapal kata cinta di telinganya.

Dan kami berciuman di bawah langit malam pada musim semi tahun ini.

*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s