[1] Behind The Scene

behind the scene

Behind The Scene by bluemallows

Main Cast: 2PM’s Nichkhun Horvejkul & Girls’ Generation’s Tiffany Hwang || Genre: Romance, Life, Music || Rating: PG-13 || Length: Chaptered || Disclaimer: Inspired by Ilana Tan’s Sunshine Becomes You, “First Kiss” (2012), and my own experience || Credit Poster: almahonggi99

0,5

Capo

beginning

*

part 1-1

Jemarinya menelusuri permukaan piano upright berwarna hitam pekat yang mengkilap dengan pantulan lampu ruangan yang lebar dan luas dengan kaca besar pada kedua sisi panjangnya. Piano itu masih mulus dan belum tergores-gores oleh tangan yang lancang. Kedua sudut bibirnya terangkat seiring tangannya ikut mengangkat penutup piano itu.

Tangannya meletakkan tas ransel berwarna merah berisi partitur-partitur lagu yang membebani pundaknya dan mengambil map warna abu-abu berisi kertas-kertas yang sudah memiliki cetakan dari lagu-lagu kesukaannya. Ia membuka lebar-lebar map yang ada di atas note stand disusul dengan jari-jari tangannya yang mendarat di atas tuts hitam-putih itu.

Matanya yang dinaungi sepasang alis tebal sesekali mengangkat ketika ia memainkan tiap not-not yang ada pada kertas yang sudah mulai kusam warnannya lewat kacamata ber-frame besar tanpa ada kaca di dalamnya. Movement pertama dari Jupiter Symphony karya Mozart mengalun dari dalam ruang latihan tari yang kedap suara itu. Sesekali permainan pianonya berhenti ketika tangannya harus membalik partitur lagu itu. Tapi, hanya seorang di dalam ruangan itulah yang dapat mendengar permainan pianonya, dan menikmatinya.

Dirinya sering kali membayangkan jika ia bermain piano dengan lagu ini, dan ada orkestra dengan musik string mengiringinya di belakang. Bukankah potongan-potongan suara dari masing-masing alat musik akan membentuk suatu harmoni yang indah jika disatukan? Seperti yang pernah disaksikannya di konser-konser pianis atau orkestra terkenal sejak usianya masih dapat dihitung menggunakan jari. Perlahan matanya menutup, dan ia terus memainkan melodi itu seperti air sungai yang mengalir.

Seorang mungkin telah membuka pintu dan menutupnya kembali dengan kasar dan membuat suara yang membisingkan telinga. Sehingga membuat permainan piano pemuda itu berhenti seketika. Respon spontan, ia segera menoleh ke arah pintu. Seorang gadis, ternyata. Tangan kanannya menyelipkan ponsel pada sela-sela rambutnya, dan tangan kirinya mengunci ruang latihan itu.

“Baiklah, kalau itu maumu!” Serunya dengan seorang di telepon. “Kita, putus!” Ia memberikan tekanan yang berlebih ketika mengatakan kata terakhir sebelum akhirnya ia menurunkan telepon dari telinganya. Entah dia atau orang diseberang yang memutus panggilan itu. Cepat-cepat tangannya mengambil botol kecil dan mengambil sesuatu yang asing berwarna putih di dalamnya dan menelannya.

Pemuda itu terus menatap gadis itu dengan heran tanpa sanggup berkata-kata. Speechless. Dan akhirnya gadis itu—mungkin tidak sengaja—menatap ke arahnya yang sedang duduk di atas kursi piano. Rambutnya panjang sepunggung, alis matanya tipis, dahinya lancip. Dan, pandangan mereka bertemu. Pemuda dengan mata yang berbinar, dan gadis dengan mata yang berkaca-kaca.

Tanpa mempedulikan pemuda itu, gadis itu melempar tasnya ke sembarang tempat dan berlari ke pojok ruangan. Memeluk kakinya dan menangis di sana. Laki-laki itu duduk dan menatap gadis itu dengan canggung. Jakunnya naik turun beberapa kali sebelum ia menutup mapnya dan bersiap untuk meniggalkan gadis itu sendirian.

“Mainkan saja pianonya,” Suara itu parau dan terdengar lirih. Ia menghentikan suaranya dan menangis sesenggukan. “Tidak apa-apa.”

Kaki laki-laki yang sudah terlanjur berdiri akhirnya perlahan duduk, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apa-apa. Ia mengambil lagi map dari tas merahnya dan mencari-cari lagu yang.. pas untuk gadis yang sedang menangis itu? Akhirnya ia berhenti ketika mendapat judul Moonlight Sonata karya Beethoven.

Jari tangannya yang besar dan maskulin menekan-nekan tuts piano untuk memainkan movement pertama dari lagu yang mencapai durasi puluhan menit itu. Matanya sesekali beralih dari partitur di hadapannya dan melirik ke arah gadis yang menangis itu, untuk memastikan ia tidak menangis lebih kencang.

Ya! Jangan memainkan lagu-lagu sedih seperti itu!” Serunya sambil mendangakkan kepalanya. Hidungnya memerah, dan sekitar matanya berwarna serupa. Laki-laki itu tersentak  mendengar gadis itu berseru. “Coba mainkan seperti Minute Waltz opus 64 atau 63—aku lupa.”

Ia meringis. Dia mengerti musik klasik, batinnya. “Opus 64, mungkin itu maksudmu.” Dirinya membenarkan perkataan gadis itu. “Tapi aku tidak membawa partitur lagu itu. Boleh kumainkan yang lain?”

Hanya terdengar isakan tangis samar dari gadis itu. Karena tidak ada jawaban, jadi apakah laki-laki itu salah jika ia mengganti lagu yang di-request oleh perempuan asing itu? Laki-laki itu tidak merasa bersalah. Telunjuk dan ibu jarinya membolak-balik kertas-kertas yang dibungkus dengan plastik transparan itu hingga menemukan lagu kesukaannya, sejak masih balita.

Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya sebelum memulai lagu yang sudah membekas di telinga setiap anak, Twinkle, Twinkle Little Star dengan 12 variasi yang berbeda. Sesekali matanya terpejam dengan sendirinya. Ia terlalu menikmati permainannya sendiri. Tidak heran, sesekali pemuda itu ingin berpacaran dengan dirinya sendiri. Baiklah, yang terakhir itu gila.

“Bagus.”

Kesepuluh jari dan pergelangan tangannya berhenti bergerak pada variasi keempat. Matanya kembali terbuka dan mengatarkannya pada realita yang sesungguhnya. Seorang gadis dengan mata sembab mengambil kursi lipat dan duduk di samping piano itu. Hanya ada segaris tipis bibir yang membentuk lengkung ke atas—dengan sedikit terpaksa. Make-up tipis yang memoles wajahnya terlihat sedikit luntur dan mulai pudar. Kedua matanya membentuk garis bulan sabit yang menawan. Kulitnya terang, dan rambutnya yang kecokelatan jatuh hingga menutupi bahunya.

Pemuda itu membalas senyum dan membungkukkan kepalanya pelan. “Te—terima kasih,” Tangannya menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, sebenarnya.

Perempuan itu mengulurkan tangannya dan pemuda itu menjabatnya. “Tiffany Hwang, pengajar balet di sini.” Ia mulai menunjukkan gigi-gigi putihnya yang tersembunyi di balik bibirnya.

“Nichkhun Horvejkul, baru mulai akan mengajar piano klasik.” Sahut pemuda itu melepaskan jabatan tangannya.

Kedua alis gadis yang terlahir dengan pemberian nama Tiffany itu terangkat sekaligus. “Nichkhun-ssi? Lulusan Juilliard itu?” Ia mencondongkan wajahnya sedikit ke arah pemuda itu. “Semua orang di sini sudah membicarakanmu, dan tidak sabar menunggumu ke sini.”

Nichkhun tertawa singkat. “Mereka salah mengerti, aku bukan lulusan Juilliard, tapi hanya jebolan dari Juilliard,” Matanya melirik ke arah piano yang masih terbuka. “Kurasa mereka berekspektasi terlalu tinggi tentang aku.”

Kedua alis Tiffany menurun dan mengarah pada dahinya. “Jebolan Juilliard? Kau bukan lulusan Juilliard?”

Kepala Nichkhun menggeleng sambil tersenyum masam. “Iya. Ceritanya panjang,” Pemuda itu memilih cara yang halus untuk menolak menceritakan tentang dirinya pada gadis asing di hadapannya.

Gadis itu hanya mengangguk sekilas sebelum mendengar dering ponselnya berbunyi. Ia segera berlari menuju tas yang tadi dilemparkannya dan meraih ponsel miliknya. “Apa lagi?!” Nada suaranya berbeda jauh ketika berbicara dengan Nichkhun.

“…”

“Sudah kubilang, jangan pernah hubungi aku lagi!”

“…”

“Apa? Kau mau minta barang yang sudah kuterima darimu?”

“…”

“Akan kukirimkan ke apartemenmu besok! Aku juga tidak akan sudi melihat barang-barangmu di apartemenku!”

Nichkhun hanya sesekali menahan nafas ketika melihat gadis itu berteriak-teriak di telepon. Untung saja ruang latihan ini kedap suara, jika tidak.. mungkin orang-orang sudah mengira Nichkhun melakukan hal yang tidak-tidak pada Tiffany.

Tiffany menurunkan ponselnya dari telinga dan meletakkannya di dekat  map abu-abu milik Nichkhun yang disandarkan di atas note stand, dan duduk kembali pada kursi warna hijau muda yang diletakkan di samping piano. Sikunya bersandar pada piano upright itu sambil menahan beban kepalanya. Ia menatap cahaya matahari musim semi yang menerobos masuk jendela yang tertutup gorden minimalis berwarna putih. “Patah hati itu menyakitkan,”

Pemuda yang masih menghadap piano di depannya mengangguk mengiyakan. “Kau baru putus dari pacarmu?” Tiffany balas meliriknya dengan alis yang menurun, sedih. Kemudian ia mengangguk lemah.

“Dia berselingkuh di belakangku,” Ia mengangkat sikunya yang menempel pada piano dan menghapus air mata yang sudah terlanjur meluncur dari matanya. “Tadi Taeyeon menunjukkan foto pesta ulang tahun selingkuhannya semalam, dan mereka berciuman di foto itu.” Butiran air mata gadis itu semakin deras turun dari kelopak matanya. Dibenamkannya wajahnya di atas kedua telapak tangannya.

Garis mata Nichkhun juga ikut menurun. Ia menundukkan kepalanya hingga kacamatanya hampir melorot dan menengok ke atas wajah gadis yang ditutupi dengan kedua tangannya sendiri. “Ti—Tiffany-ssi?” Tampaknya Nichkhun benar-benar berhati-hati ketika memanggil nama itu. “Anda tidak apa-apa?”

Tiffany menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Mengisyaratkan bahwa ia berbohong sudah menyatakan bahwa ia baik-baik saja. Pada saat ia menangis sekalipun.

“Jangan menangis, Tiffany-ssi.” Bisik Nichkhun sambil berusaha mengintip pada celah yang ditimbulkan oleh tangan gadis itu. Masih jelas, tidak ada tanda-tanda butiran air mata itu akan segera berhenti.

Terdengar suara ketukan pintu  dari luar. Dan seorang gadis kecil mengintip pada kaca kecil yang sengaja dibuat. “Tiffany-eonnie!”  Gadis itu mengetuk pintu sambil memanggil-manggil nama Tiffany. Ia berusaha untuk menurunkan handel pintu dan mendorong pintu berwarna putih bersih itu tapi sia-sia. Tiffany sudah menguncinya dari dalam.

“Tiffany-ssi, kurasa ada muridmu yang menunggu.”

Belum ada sahutan. Tapi gadis itu nampak berusaha untuk menghentikan tangisnya. Tanpa ada yang merencanakan, ponsel milik Nichkhun berdering. Pemilik ponsel itu melirik ke arah nama penelepon, Ibu. “Aku boleh bukakan anak kecil itu, kan?”

Tiffany mengiyakan sambil menghapus sisa-sisa air matanya. Dan satu orang lain yang ada di ruangan yang sama segera mengangkat telepon dari ibunya dan menjepit ponselnya pada telinga dan bahunya, lalu seera menutup mapnya dan langsung memasukkan ke dalam tas ransel merahnya.

“Halo? Ibu?”

Tangan kirinya memutar ke kiri sebanyak dua kali induk kunci yang diberi gantungan kunci miniatur Namsan tower.  Gadis kecil yang sejak tadi menunggu di luar  itu tersenyum lebar dengan beberapa giginya yang hilang, dan ada tanda-tanda pertumbuhan gigi permanen di sana. Ia berhenti di ambang pintu dan mendangak untuk menyaksikan wajah pemuda di depannya. “Changmin-Oppa? Kau pacar Tiffany-eonnie, kan?”

Nichkhun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya, Bu. Aku langsung diterima di sini.” Kepalanya melirik ke arah jam dinding—jam tiga sore.

Seseorang menarik-narik ujung baju Nichkhun sehingga ia menaruhkan perhatian pada seorang itu. “Tiffany-eonnie sering membicarakan tentangmu! Katanya kau sangat tampan!”  Gadis mungil dengan rambut yang digelung di belakang itu tersenyum dan menampakan wajah tanpa dosa. “Setiap kali Oppa membelikan gelang atau kalung untuk Tiffany-eonnie, dia akan memamerkannya padaku! Ya ampun, dia sungguh beruntung!” Gadis kecil itu terus berbicara tentang Tiffany dan mantan pacarnya, dan mengira pemuda di hadapannya adalah pacar Tiffany.

Ponsel yang ada pada genggaman tangan kanan Nichkhun dijauhkan dari telinganya untuk sesaat. “Gadis kecil, aku bukan pacar Tiffany-ssi.”

“Hwayoung-ah!” Pekik Tiffany dari dalam ruangan. “Dia bukan Changmin!”

Anak perempuan yang dipanggil Hwayoung itu melambaikan tangan pada Nichkhun dan masuk ke dalam ruang latihan tari itu sambil berlari-lari. “Changmin-Oppa ternyata tampan sekali!” Tiffany mendelik menatap mata murid baletnya. “Dia bukan Changmin!”

Nichkhun mendengarkan percakapan Tiffany dengan muridnya itu sambil menutup pintu latihan tari itu perlahan.

“Khun!” Panggil ibunya dalam panggilan internasional.

“Oh, ya Bu?”

“Bagaimana saat kau diwawancarai minggu lalu?”

Nichkhun mengambil gelas plastik dan mengambil air dingin dari dispenser yang sudah disediakan di studio musik tersebut. “Yah, saat aku menyerahkan fotokopi penerimaanku di Juilliard, mereka langsung menerimaku!”

“Lalu, tidak ada orang yang tahu kalau kau hanya ‘jebolan’ dari Juilliard?”

“Oh, ada. Tapi hanya satu orang. Dia guru balet, namanya Tiffany.”

“Ya Tuhan, Khun! Ibu sudah berpesan padamu, kan?”

Kakinya melangkah melewati ruang-ruang latihan musik di sepanjang koridor dengan santai. Menikmati suara samar yang begitu hebat bisa menembus ruangan kedap suara. Dia selalu menyukai ini. “Aku tidak menceritakan alasannya, Bu. Tenang saja.” Sepasang kakinya itu membawanya melintasi meja resepsionis dengan Minyoung yang berjaga. Tangannya melambai, dan Minyoung membalas lambaian tangannya.

“Jangan mudah mempercayai seseorang, Khun. Termasuk perempuan.

Nichkhun menuruni tangga menuju parkiran basement dan mengangguk—meskipun ibunya tidak dapat melihat putranya itu mengganguk. “Aku tahu, Ibu. Lagi pula anakmu ini sudah terdidik oleh orangtua yang selektif saat bergaul, khususnya dengan lawan jenis.”  Tawanya pecah, hanya sebentar namun siapapun yang mendengarnya akan ikut tersenyum.

“Ibu mempercayaimu, Nak. Pastikan untuk menceritakannya pada seorang yang benar-benar kau percayai.”

“Ibu harus tahu kalau Nichkhun Buck Horvejkul dapat diandalkan, okay?”

Suara tawa ibunya dapat terdengar jelas meskipun melewati jarak berkilometer, lautan, samudera, dan negara. “Ya, ya, Ibu tahu. Besok Ibu akan telepon lagi. Hati-hati di sana, Sayang.”

*

part 1-2

Di dalam apartemen nomor 734, Nichkhun memeluk tas warna merahnya dan mengeluarkan isinya satu per satu di atas meja yang berisi tumpukan buku-buku yang sudah lama tidak disentuhnya lagi. Pemandangan buku-buku yang ditumpuk-tumpuk dan tidak berbentuk itu membuat matanya perih, maka ia mengalihkan pemandangan ke arah jendela lebar apartemennya. Cahaya dengan bebas masuk ke dalam studio mini miliknya yang diisi dengan piano, gitar akustik, dan stereo untuk sekedar menemaninya meminum kopi atau teh hangat setiap sore sambil menyaksikan matahari menggantung rendah, dan akhirnya hilang.

Hidungnya menghirup udara sehingga dadanya mengembang, dan mengeluarkannya lagi. Ditatanya sedikit buku-buku bacaan yang berat baginya. Ia meletakkan satu per satu buku tebal itu menjadi tumpukan yang paling tidak lebih rapi daripada sebelumnya. Tangannya meraih pinggangnya dan merasa cukup puas dengan kerja ekspresnya.

Kakinya berjalan menghampiri rak yang berisi koleksi album musik klasik yang menempel pada tembok. Tangannya memilah-milah plastik kaku tempat album itu dan mengambil satu album favoritnya.  Potongan-potongan lagu dari murid Juilliard saat konser tahunan yang diadakan tahun lalu. Sepasang stereo berwarna hitam yang dipasang di pojok ruangan mulai mengalunkan musik, dan Nichkhun meraih teh manis yang dibuatnya tadi.

Direbahkan tubuhnya di atas sofa empuk berwarna merah—warna favoritnya—sambil terus menyeduh teh dan memejamkan matanya. Beberapa track memutar lagu yang dimainkan oleh orkestra, dan sesekali tangan kanan Nichkhun bergerak-gerak seolah menjadi dirijen.

Dirinya tidak pernah menyesali kenapa tidak ada penampilannya yang masuk ke dalam tracklist lagu-lagu di dalam album itu. Yah, dia itu kadang terlalu percaya diri, tapi dia masih juga punya yang namanya rasa tahu diri. Bagaimana pun, paling tidak ia sudah merasakan bagaimana rasanya mendapat surat penerimaan universitas kondang bagi musisi-musisi, dan mengecap pendidikan di Juilliard—meski hanya satu semester.

Setelah track demi track mengalir dan memenuhi ruangan yang didesain dengan minimalis itu dengan lancar seperti angin bertiup. Sebelum  akhirnya suara lagu pop mengusir kenikmatan lagu-lagu klasik dan beberapa jazz yang mengalun. Kedua mata Nichkhun terpaksa terbuka karena suara-suara itu. Ditengoknya ponsel miliknya. Alarm mati, dan tidak ada panggilan dari siapa pun. “Suara dari mana?”

Akhirnya ia bangkit berdiri dari sofa kesayangannya. Ia mencondongkan telinga ke segala arah untuk mencari sumber suara itu, hingga sepasang kaki membawanya menuju tas punggung warna merah miliknya.  Siapa yang menyangka, ponsel yang asing baginya berada di dalam tasnya.

Dahinya mengerenyit dan menatap ponsel itu sungguh-sungguh dengan panggilan telepon masuk tanpa nama. Ditekannya tombol berwarna hijau pada bagian kanan dan meletakkan ponsel itu di telinga. “Halo?”

“Halo? Maaf, sepertinya handphoneku ada padamu, bisa kita bertemu untuk aku mengambilnya? Maaf mengganggu.”

“Dengan siapa saya bicara?” Nichkhun menatap piano miliknya yang masih tertutup.

“Saya Tiffany Hwang. Pemilik ponsel yang anda bawa.Bisa kita atur jadwal untuk saya bisa mengambil ponsel milikku?”

Alis yang menurun di atas mata pemuda itu akhirnya kembali naik. “Oh! Tiffany-ssi!” Lagi-lagi ia meraih tengkuknya dan menggaruknya canggung. Ia berbalik dan menatap rak berisi album-album miliknya. “Maaf, tapi sebelumnya aku tidak tahu kalau ponselmu terbawa olehku.” Nichkhun membungkukkan badannya seolah lawan bicaranya ada di hadapannya sekarang.

“Ini.. Nichkhun-ssi, yang tadi?”

Nichkhun tersenyum tipis. “Ya, itu aku. Kapan kau akan mengambil ponselmu?”

“Bagaimana kalau besok pagi di ruang latihan yang tadi? Kau tidak keberatan, kan?”

Nichkhun setuju dan mengiyakan. “Baiklah. Kutunggu besok pagi di sana.”

Sambungan telepon itu dimatikan oleh Tiffany. Pemuda itu menurunkan telepon genggam itu dari telinganya dan melihat apa yang terjadi pada ponsel gadis itu.

6 New Messages. 2 Missed Call. Semuanya dari orang yang sama, dengan nama kontak Shim Changmin. Mungkin itu nama mantan kekasih Tiffany yang disebut-sebut oleh gadis kecil tadi. Tangannya yang usil membuka-buka isi pesan singkat itu dan membacanya sekilas. Dan yang ada hanya umpatan-umpatan kasar dari pemuda bernama Changmin itu.

Kepalanya menggeleng-geleng. Bisa-bisanya ada laki-laki yang tega mengumpat seorang wanita. Kemudian ia segera memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas merahnya dan menengok keluar jendela. Langit  jingga sudah berubah menjadi nila. Ia meraih ujung tirai dan menutup jendela studio mini miliknya.

*

Tangannya membuka penutup piano warna hitam itu dan menempatkan pantatnya pada kursi piano yang sewarna dengan pianonya. Ditekan-tekannya tuts hitam-putih itu secara acak dan ringan sebelum ia memainkan melodi yang dikarangnya semalam.

“Nichkhun-ssi?”

Ia menghentikan permainan singkat dari setengah lagu yang sama sekali belum jadi dan belum ditumpahkan di atas kertas. Gadis itu muncul lagi di hadapannya. Matanya masih terlihat bengkak meski sudah dipoles dengan make up. “Ini, ponselmu. Maaf aku tidak sengaja membawanya.”  Ia mengulurkan ponsel yang dilapisi garskin warna baby pink kepada pemiliknya.

Nichkhun memelototi kedua mata Tiffany tanpa ada rasa bersalah. Mengamati bengkak yang ada pada sekeliling indera pengelihatan gadis jelita itu.

“Jangan melihatku seperti itu,” Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Aku terlalu banyak menangis semalam.”

Terbentuk seulas senyum tipis dari bibir pemuda itu yang seolah-olah membuat segalanya lebih baik. “Butuh sesuatu untuk menghiburmu?”

Alis gadis itu terangkat sekilas. “Apa?”

Diangkatnya tubuhnya dari kursi piano dan mengintip di balik tirai minimalis berwarna putih tulang yang menutupi jendela ruang latihan itu. Tubuhnya berbalik dan menyeringai ke arah Tiffany. Diraihnya ransel miliknya dan bersiap melangkah. “Temui aku besok, di depan studio ini, okay?

 

Capo—end.[]

82 thoughts on “[1] Behind The Scene

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s