[FF Freelance] Blind (Part 2)

blindcover

Title : Blind (Chapter 2)

Author : @diani3007

Main Cast :

~ [A-Pink] Jung Eunji

~ [Infinite] Lee Howon

~ [BTOB] Lee Minhyuk

~ [Girl’s Day] Lee Hyeri

Genre : Romance, Life, Angst

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Previous part: Part 1

Disclaimer : ff ini terinspirasi dari sebuah drama Korea & sebuah film layar lebar Indonesia. Semoga ada yang mau baca, Happy Reading…

 

 

“Neo gwenchana?!” Tanya Howon panik sambil memegang kedua bahu yeoja itu dari samping.

     Eunji mendongak, mencoba menerka letak wajah Howon. Eunji menengok ke sebelah kiri, tepat di mana Howon berada. Andai dia tahu, jaraknya dengan Howon sangat dekat saat itu. Jantung Eunji berdetak cepat. Dia memang tidak tahu siapa yang sedang memeganginya, tapi dia merasa gugup. Namun rasa gugup itu tak berlangsung lama, karena Eunji sudah hilang kesadaran, dia pingsan.

***

     Tuan dan Nyonya Jung terlihat sedang berlari – lari panik menuju sebuah ruang UGD, tempat anak semata wayangnya berada. Sesampainya di dalam, Eunji sudah sadar dan terdapat Howon yang duduk canggung di samping ranjang Eunji.

     Tuan Jung sempat bingung kenapa Howon bisa ada di sana. Begitu menyadari kedatangan orang tua Eunji, Howon bangkit lalu memberi salam.

“Annyeonghaseyo,” ucapnya sambil membungkuk hormat.

“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya,” ucap Tuan Jung.

“Nde?” Tanya Howon tidak mengerti.

“Neo nuguya?” Tanya Tuan Jung lagi.

“Jeon–“

“Ah, kau pasti yang membawanya ke sini kan? Jeongmal gomawoyo,” sela Nyonya Jung.

“Eh, gwenchana.”

     Tuan dan Nyonya Jung menghampiri Eunji mengelus – elus puncak kepalanya.

“Eunji-ya, apa yang terjadi denganmu?” Tanya eommanya. Namun Eunji diam saja.

     Lagi – lagi, air mata Nyonya Jung tidak dapat ditahan, dia menangis lagi. Howon menatap keluarga itu dalam diam, hingga tiba – tiba dia merasa mual, sangat mual. Dia lalu berlari menuju toilet.

***

     Howon mendobrak keras pintu toilet yang untung sedang kosong saat itu.  Dia segera muntah sebanyak – banyaknya. Selain muntah, dia juga merasakan sakit di kepalanya. Howon mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia belum pernah muntah sebanyak itu sebelumnya. Wajahnya pun terlihat agak pucat.

“Muntah? Sejak kapan aku suka mual dan muntah – muntah? Terakhir kali aku muntah saat kelas 4 SD, itupun karena sedang sakit. Dan kenapa kepalaku sakit sekali? Apa sekarang aku juga sedang sakit?”

***

     Minhyuk turun dari mobil hitamnya. Dia sedang tidak ada jadwal kulaih hari itu. Kini dia berdiri tepat di depan sekolah Eunji. Minhyuk bingung bagaimana caranya dia tahu dimana Eunji berada. Akhirnya, dia memutuskan untuk bertanya pada dua orang yeoja yang sedang mengobrol, mereka Bomi dan Naeun.

“Silyehamnida, apa kalian kenal yeoja yang bernama Jung Eunji?”

     Bukannya menawab pertanyaan Minhyuk, mereka justru bengong dan bahkan berhenti berkedip. Beberapa yeoja lain yang melintas banyak yang membicarakan MInhyuk.

“Tampan yah?”

“Siapa dia?”

“Gagah sekali!”

“Dia cute!”

“Sekolah di mana yah dia? Atau sudah kuliah?”

     Minhyuk mengabaikan pembicaraan – pembicaraan para yeoja yang tidak penting itu. Dia hanya menoleh cuek lalu kembali kepada Bomi dan Naeun yang masih belum memberinya jawaban.

“Apa kalian berdua tidak kenal dengan yang namanya Eunji? Baiklah, aku tanya yang lain saja.”

     Menyadari Minhyuk segera berjalan, Naeun reflek menahan lengan Minhyuk.

“Kau mau kemana?” tanyanya.

“Mencari Eunji.”

“Dia tidak akan ada, walaupun kau mencarinya ke setiap sudut sekolah.”

“Memangnya dia kemana?”

“Kami tidak tahu, dia pergi begitu saja. Atau mungkin, di rumah sakit?” Tanya Bomi.

“Ehm, keunde, kalau boleh kami tahu, kau itu siapa?” Tanya Naeun.

“Aku Lee Minhyuk. Orang tuaku berteman baik dengan orang tua Eunji. Sebenarnya kami mau dijodohkan.”

“APA?!” bentak Bomi dan Naeun bersamaan.

“Kenapa kalian kaget seperti itu? Ah iya, aku mau Tanya, kenapa Eunji bisa masuk rumah sakit? Dia sakit apa?”

“Kau tidak tahu? Eunji kan sekarang buta!” Naeun terlihat begitu puas menekankan kata ‘buta’.

     Minhyuk terdiam. Buta? Bagaimana mungkin dia tidak tahu? Minhyuk bahkan masih belum mengenal dua yeoja di hadapannya ini, namun entah mengapa Minhyuk percaya dengan omongan Naeun dan Bomi.

***

     Eunji mengubah posisinya yang tadinya tidur menjadi duduk. Lagi – lagi dia harus terbangun dengan mata yang tidak bisa melihat apa – apa, selain warna hitam. Dia mnggeser duduknya ke pinggir ranjang. Eunji memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Apa tidak ada orang? Kenapa begitu hening? Pikirnya. Eunji mendengar suara pintu terbuka, dia mendongak.

“Eunji-ya, kau bangun?” Tanya eommanya.

“Eomma?”

“Nde, ini eomma,” ucap Nyonya Jung seraya menghampiri Eunji yang sedang duduk. Dia lalu memegang pundak Eunji.

“Kata dokter, hari ini kau sudah bisa pulang. Eomma akan membantumu berkemas.”

BRAAKK

     Tiba – tiba pintu kamar Eunji terbuka lebar. Nyonya Jung menoleh kaget.

“Eunji-ssi!” ucap Minhyuk seraya menghampiri Eunji. Eunji hanya diam, merasa asing dengan suara Minhyuk.

“Neo gwenchana?”

“Neo, nuguya?”

“Minhyuk-ssi? Bagaimana bisa kau ada di sini?” Tanya Nyonya Jung kebingungan.

“Sieomeoni, beri tahu aku, apa yang sebenarnya terjadi?”

     Nyonya Jung menatap Eunji iba sekilas lalu kembali menatap Minhyuk.

“Seperti yang kau lihat,” Nyonya Jung menghela nafas berat, “Dia buta sekarang.”

“Mwo? Jadi… benar? Eunji sekarang buta?”

     Nyonya Jung menangis tanpa menanggapi ucapan Minhyuk. Minhyuk mendekati Eunji lalu mengelus puncak kepala Eunji.

“Kau tidak ingat aku? Eunji-ssi?”

“Nugu?”

“Lee Minhyuk, kau ingat?”

     Eunji hanya diam, dia memalingkan muka. Minhyuk terlihat heran namun masih dalam perasaan khawatir.

“Waeyo?”

“Pergilah.”

“Wae?”

“Kau tidak perlu mengunjungiku lagi, aku akan menolak perjodohannya.”

“Keunde, wae? Apa yang membuatmu ingin membatalkannya?”

“Neo michoseo? Apa kau mau menjalin hubungan dengan orang buta sepertiku? Kau tidak malu?”

     Minhyuk mendesah. Dia berlutut, meraih tangan Eunji lalu menggenggamnya.

“Aku tidak peduli. Sejak pertama melihatmu, aku sudah menyukaimu.”

     Eunji diam saja, dia lalu menunduk. Tess. Air matanya jatuh tepat di tangan Minhyuk. Minhyuk menatap tangannya yang basah oleh air mata Eunji, namun tentu saja Eunji tidak tahu.

“Sudahlah, jangan membuatku tersentuh.”

“Aku bersungguh – sungguh, Eunji-ya.”

     Eunji tidak merespon. Sementara Nyonya Jung terus menangis tanpa mengubris percakapan Eunji dan Minhyuk. Eunji bangkit, dia berjalan pelan meninggalkan Minhyuk.

“Kau mau kemana?” Tanya Nyonya Jung sambil menahan lengan Eunji.

“Aku tidak ingin dibodohi seperti ini.”

      Eunji lalu berjalan lagi sambil meraba – raba dinding. Minhyuk yang mendengar ucapan Eunji tidak tinggal diam. Dia lalu mengejar Eunji yang sudah berada di luar kamar lalu memeluknya erat. Di saat yang sama, Howon yang berniat kembali ke kamar Eunji tanpa sengaja melihat Minhyuk yang sedang memeluk Eunji.

     Howon menghentikan langkahnya, menatap Eunji dan Minhyuk dalam diam. Entah mengapa ada sedikit perasaan tidak rela dalam hatinya. Howon pun lebih memilih berbalik, tidak ingin mengganggu. Huh! Sudahlah, hari ini aku benar-benar kacau!

***

     Lee Hyeri, kini dia sedang berdiri di depan pintu keluar rumah sakit. Dia sudah tidak mengenakan seregam pasien lagi, dia sudah boleh pulang. Beberapa detik kemudian, seorang namja memegang pundaknya lembut.

“Sudah siap? Kajja, kita pulang!”

     Howon pun merangkul yeodongsaengnya itu sambil berjalan menuruni tangga.

“Aku senang bisa pulang, oppa. Berlama – lama di rumah sakit aku bisa bosan!” keluh Hyeri.

“Nde, aku juga senang.”

“Keunde, oppa, kalau boleh aku tahu, apa pekerjaan oppa sekarang?”

“Ee..aku…ee…aku…sekarang…aku seorang supir taksi.”

“Mwo? Supir taksi?”

“Nde, pekerjaan itu cukup membantuku untuk membayar biaya rumah sakitmu, Hyeri-ya. aku harap kau bisa menghargainya. Kalau hanya bekerja sebagai kurir, itu tidak cukup.”

“Tentu saja aku menghargainya, mana mungkin tidak, oppa?”

     Howon mengacak pelan rambut Hyeri dengan penuh kasih sayang.

“Lalu, apa oppa akan menjadi supir taksi tetap?”

“Sepertinya iya. Penghasilannya lebih baik dibanding menjadi kurir. Tidak apa-apa kan?”

“Tentu, apapun pekerjaan oppa, aku akan selalu menghargainya.”

     Howon tersenyum menatap yeodongsaengnya. Tiba – tiba, kepala Howon terasa sakit. Benar-benar sakit. Dia memegangi kepalanya, bahkan sampai meremas rambutnya tanpa sadar. Hyeri panik, dia lalu ikut memegangi tangan Howon yang sedang memegangi kepalanya yang sakit.

“Oppa! Gwenchana?! Wae irae?!”

     Howon tidak menjawab, Hyeri semakin panik. Howon jatuh terduduk dengan tangan yang masih memegangi kepalanya. Seorang suster yang kebetulan keluar dari rumah sakit memergoki Howon dan Hyerin.

“Ada apa ini? Apa namja ini sakit? Dia kenapa?” Tanya suster itu

“Namja ini adalah oppaku, aku tidak tahu kenapa dia bisa seperti ini!”

“Baiklah, kalau begitu kita bawa saja ke dalam yah, biar diperiksa, kasihan dia.”

***

     Eunji dan Nyonya pulang dari rumah sakit dengan mobil yang dikendarai Minhyuk. Eunji menghadapkan pandangannya ke jendela, merasakan hangatnya sinar matahari, walaupun tidak dapat melihat yang disinarinya. Sesekali Minhyuk mencuri pandang dengan memperhatikan Eunji melalui kaca spion. Diam – diam Minhyuk tersenyum melihat wajah cantik Eunji. Walaupun tidak tersenyum, dia tetap terlihat cantik, pikirnya. Dia terus memperhatikan Eunji hingga Eunji menutup matanya, tidur.

“Minhyuk-ah,” panggil Nyonya Jung yang duduk di sebelah Eunji.

“Nde, sieommeoni.”

“Apa kau sungguh tidak akan membatalkan perjodohannya?”

“Nde, sieomeoni, aku bersungguh-sungguh. Aku menyukai Eunji, tidak masalah walaupun dia buta.”

“Aku sungguh menghormati keputusanmu, Minhyuk-ah. Aku sudah mengenal eommamu sejak lama. Keunde, untuk saat ini, biarkan Eunji tenang dulu. Kau boleh mendekatinya, tapi jangan bicarakan soal perjodohan, pernikahan, dan sebagainya. Aku harap kau mengerti Minhyuk-ah.”

“Aku tentu bisa mengerti, sieomeoni.”

     Nyonya Jung menghela nafas lalu menoleh ke arah putri semata wayangnya yang sedang tertidur. Begitu cantik, terlalu cantik untuk disakiti.

***

     Hyeri berjalan mondar – mandir di ruang tunggu. Dia begitu khawatir dengan keadaan oppanya. Sementara di dalam, Howon sedang duduk berhadapan dengan namja tampan berjas putih yang tidak lain adalah sahabatnya, Nam Woohyun.

“Woohyun-ah, bagaimana keadaanku? Apa yang terjadi dengan saya sebenarnya?”

“Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi, Howon-ah.”

“Memangnya ada apa?”

“Kau… ani, apa kau pernah sakit kepala disertai muntah sebelumnya?”

     Howon terdiam. Ya, dia pernah. Tapi apa yang terjadi?

“Pernah, memangnya kenapa?”

“Hmm, kau ini, mengalami kanker otak stadium awal.”

     Howon tercengang. Kanker otak? Itu penyakit berbahaya.

“Woohyun-ah, kau tidak sedang main-main kan? Itu kan penyakit berbahaya.”

“Memang berbahaya, maka dari itu aku memberitahumu dari sekarang.”

     Mendadak tubuh Howon lemas. Dia masih tidak menyangka penyakit separ itu bisa menimpa dirinya. Dia bahkan masih harus bekerja menafkahi yeodongsaengnya, Hyeri.

“Karena ini masih stadium awal, aku sarankan–“

“Aniyo! Nam Woohyun, aku tidak ingin Hyeri tahu soal ini. Jebal, biar penyakit ini kutanggung sendiri. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.”

“Ini bisa kurahasiakan, tenang saja.”

“Keunde, Woohyun-ah, apa kanker otak stadium awal bisa diobati?”

“Tentu saja bisa, ada beberapa obat yang berbentuk kapsul. Kau harus meminum antara tiga sampai empat botol dalam satu bulan.”

     Howon tertawa getir.

“Pasti obatnya mahal kan?”

     Woohyun menatap sahabatnya itu iba. Dia tidak tega.

“Tenang saja, semua akan kuurus.”

“Aniyo! Kau sudah banyak membantuku, aku tidak ingin merepotkan sahabatku sendiri. Aku akan berkerja untuk kesembuhanku.”

***

     Howon kini sedang dalam perjalanan pulang bersama Hyeri. Mereka pulang dengan taksi yang dibawa Howon. Hyeri sesekali menatap oppanya curiga. Dia masih belum percaya dengan perkataan oppanya, aku baik-baik saja, hanya sakit kepala biasa. Aku hanya kelelahan. Benarkah seperti itu?

“Oppa, apa kau benar tidak apa-apa?”

“Nde, tenang saja, aku baik.”

     Hyeri menunduk, dia memperhatikan obat – obatan yang di beli Howon. Sebanyak itu?

***

     Eunji menarik selimutnya lalu segera berbaring. Dia meraba-raba meja disampingnya untuk menyalakan lampu tidur. Baru saja dia mau memejamkan mata, pintu kamarnya diketuk.

“Eunji-ya, kau suah tidur?”

     Itu suara eommanya.

“Belum.”

CKLEK

     Nyonya Jung membuka pintu kamar Eunji lalu masuk ke dalamnya. Eunji bangun lalu duduk bersandar di kasurnya. Sementara eommanya duduk di sampingnya.

“Eomma sudah mendaftarkanmu ke SLB yang bagus.”

“Mwo? SLB? Sekolah khusus anak – anak tidak normal itu, eomma?”

“Nde, Jung Eunji. Ini semua demi kebaikanmu. Kau sendiri kan yang bilang, kalau teman – teman di sekolahmu itu tidak ada yang mau menerimamu, kau bahkan sampai tidak mau sekolah. Eomma hanya tidak ingin gara-gara kau buta, kau jadi menghapus keinginan untuk tetap melaksanakan tugas sebagai seorang pelajar.”

“Keunde, apa harus di SLB? Tidak ada tempat lain?”

“Setidaknya, di sana kau bisa belajar membaca dan menulis sebagai orang buta. Di sana banyak yang sama sepertimu.”

     Orang buta. Dua kata yang dapat mendeskripsikan dirinya saat ini. Begitu miris memang. Yeoja yang tadinya cantik dipuja-puja, kini jadi yeoja yang kehilangan tujuan hidup dan dicemooh teman – temannya.

“Akan kupikirkan eomma.”

“Baiklah. Ah, nde, ada satu lagi. Karena sekolah barumu itu agak jauh, jadi kau membutuhkan sopir pribadi. Ottae?”

“Terserah eomma,” ucap Eunji sambil kembali berbaring dan menarik selimutnya, diapun memejamkan matanya. Nyonya Jung mengelus puncak kepala Eunji.

“Selamat tidur, Jung Eunji.”

***

     Eunji duduk diam di ruang makan, mengenakan seragam sekolah barunya. Dia tidak menyentuh makanannya. Cairan bening nampak berkumpul di matanya. Dan tak lama kemudian, setetes cairan bening itu jatuh. Tuan Jung yang sedang makan bersama Eunji saat itu melihat Eunji yang lagi – lagi menangis.

“Apa yang kau tangisi?”

     Eunji diam saja, bahunya kini justru ikut bergetar mengiringi tangisannya.

“Ya, Jung Eunji.”

“Appa…hiks…mianhe, aku menyesal tidak menuruti ucapan appa waktu itu. Seandainya saja aku menurut, pasti aku tidak akan…hiks…” Eunji tidak melanjutkan ucapannya. Tangisanya semakin menjadi.

“Sudahlah Eunji-ya, biarlah semuanya berlalu. Anggap saja ini cobaan dari Tuhan untukmu. Kau harus sabar,” ucap Tuan Jung sambil menatap Eunji penuh kasih sayang.

TING TONG

     Bel rumah Eunji berbunyi. Nyonya Jung segera membukakan pintu. Sempat ada perasaan heran karena yang datang adalah Lee Howon.

“Bagaimana kau bisa ada di sini?” Tanya Nyonya Jung.

“Annyeonghaseyo. Jeosonghamnida, saya tidak bermaksud mengganggu waktu Nyonya. Saya ke sini karena membaca brosur yang disebar di jalan.”

“Ah, brosur itu? Baiklah,silakan masuk.”

     Howon pun masuk lalu duduk berhadapan dengan Nyonya Jung.

“Apa kau benar mau menjadi supir pribadi anakku?”

“Nde, Nyonya.”

“Apa yang membuatmu ingin?”

“Saat ini, saya membutuhkan uang. Dan saya juga sudah pernah melihat anak Nyonya, saya measa iba dengannya. Oleh karena itu, saya ingin melindunginya,” ucap Howon sungguh-sungguh.

     Nyonya Jung diam sejenak. Dia mmeperhatikan penampilan Howon dari ujung kepala sampai ujung kaki. Otomatis, Howon pun ikut memperhatikan dirinya. Penampilannya sangat biasa, sepertinya dia memang kurang mampu, pikir Nyonya Jung.

“Baiklah, sepertinya kau bersungguh-sungguh. Akan kuterima. Kau bisa mulai bekerja hari ini, mengantar anakku ke sekolah. Arrasseo?”

“Hari ini? Jeongmal? Ah, gamsahamnida, jeongmal gamsahamnida.”

“Nde, sudahlah. Kalau bagitu, bersiap-siaplah,” ucap Nyonya Jung sambil bangkit dari duduknya setelah menyerahkan kunci mobil.

     Howon tersenyum senang. Dia akhirnya bisa mendapat pekerjaan yang layak. Selain itu, dia juga bisa berinteraksi secara resmi dengan yeoja yang diam-diam dia sukai, Jung Eunji. Dia ingin berguna bagi Eunji.

*TBC*

Wakakaakk, segini dulu aja yah…

Ayo komennya!!!^^

9 thoughts on “[FF Freelance] Blind (Part 2)

  1. First?
    Woh kok jadi sedih begini? Semuanya sakit
    Kok seketika punya feeling bakal sad ending ya? Bikin happy ending ya thor
    Next part soon

  2. Hobaby oppa sakit????
    Andwee oppa harus kuattttt
    trllu bnyak yg prlu ia tanggung…

    tunggu berasa mirip nice guy bda na posisi eunji atau chae won eonni mah hlng ingtn ga buta 😀

    tp aq ttp sk kokkk sk bgt ma ff na
    ska bgttttttt Busan Couple 🙂
    dtunggu next chap

  3. ahh , hoya sakit?? kassian banget .
    adiknya hoya sakit apa?? koq masuk rumahsakit??
    eunji kassian nih , tambah kasian di part ini ..
    lanjut ya .. ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s