Because It’s You (Saranghae) Part 2

ul-300x192Title: Because It’s You (Saranghae) Part 2

Author: Keyindra_94

Cast: Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior,

Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment.

Dont copy paste them without my permission.

So please don’t be a silent readers.

 

@*@*@*@*@*

Cinta itu adalah sebuah obyek seperti obsesi; setiap orang menginginkannya, setiap orang mencarinya, tapi sedikit orang yang mendapatkannya;

Orang yang pernah melakukannya akan selalu menghargai cinta, tersesat di dalamnya; dan tidak akan melupakannya

Cinta tidak memiliki apapun yang ingin kau dapatkan, tapi cinta memiliki semua yang ingin kau berikan

*****

Langkah pelan sesosok gadis cantik terhenti seketika saat melihat pemandangan didepan matanya. Sesosok yeoja yang tak asing setiap hari ia lihat. Bola mata gadis itu tertuju pada sosok yang kini tengah berjalan mendekatinya. Perlahan langkah yeoja kecil itu mempercepat langkahnya dan berjalan tergesa-gesa menuju yeoja dewasa yang ia lihat tengah berdiri didepan gerbang sekolah sambil tersenyum manis memandang tingkah lucu yeoja kecil itu.

“eomma..” seru sang yeoja kecil berlari cepat menghampiri sang ibu yang kini merentangkan tangannya, mencoba memberinya sebuah pelukan hangat.

Gadis kecil itu terhenti langkahnya sejenak, berdiri mematung melihat sang ibu. Mata hazzel kecoklatan miliknya mengamati sang eomma. Sedetik kemudian ia berlari menuju dekapan sang eomma.

“bogoshipeo Chagiya. Maafkan eomma ne. Empat hari meninggalkanmu bersama dengan Soojung Ahjumma.” Sesalnya.

“telat 20 menit.” Protes gadis kecil itu tersenyum mengerucutkan bibirnya lucu setelah melepas pelukan sang eomma.

“aigoo~putri eomma yang cantik. Mianhae, eomma terlambat menjemputmu.” Sesal yeoja dewasa itu mensejajarkan dirinya menghadap tepat sang putri lalu mengacak poni rambutnya pelan.

“kalau begitu eomma harus dihukum!.” Perintah gadis kecil itu menyilangkan tangan pada sang eomma.

“apa?!.” Tantang sang eomma.

“aku ingin bertemu appa!. Jebal-yo eomma.” Rajuknya manja. Sebuah wajah kesal kesukaan sang eomma. Wajah putri kecilnya yang  menampakkan aegyo cute miliknya itu.

“ayolah eomma. Hana ingin bertemu appa, ne.”

Yeoja  kecil bernama Kwon Hana sedari tadi merengek menampilkan wajah lucunya merajuk ingin menemui sang appa, menatap sang eomma untuk berharap. “eeuuhmmm..” pikir Yeoja itu seolah ingin menggoda sang putri yang kini kesal menatapnya.

“eomma!!.” Serunya sekali lagi yang membuat yeoja itu terkekeh geli melihat reaksi sang putri.

“ne..ne..arraseo. Tapi sebelum itu kajja kita beli kesukaan appa dan kita bawa untuk mengunjunginya.” Ujar gadis itu sekali lagi mengusap kepala Hana pelan.

Gadis bermarga Kwon itu tersenyum tulus  lalu satu tangannya meraih pergelangan tangan kecil milik putrinya. Kaki mereka berdua melangkah pelan keluar dari gedung sekolah tersebut menuju sebuah tempat yang bagi mereka sering mereka kunjungi setiap bulan.

*****

Dengan langkah yang beriringan sepasang kaki dari dua insan yang sedang berjalan itu menapaki sebuah perukitan yang cukup curam menuju sebuah area pemakaman. Yuri sudah mengenali bahkan hafal betul jalan yang ia tempuh untuk mengunjungi sang ayah dari gadis kecil bernama Hana itu.

Sesekali gadis kecil itu bernyanyi dengan riangnya yang ditanggapi oleh senyuman manis dari sang ibu, karena sebentar lagi mereka berdua akan sampai pada tempt tujuan mereka berdua.

“Kita sudah sampai.” Tegur Yuri yang membuat gadis kecil itu melangkah lebih cepat mendekati nisan mendiang sang ayah.

“appa. Hana datang kembali. awal musim semi yang indah. Hana membawa kue beras dan bunga mawar dan lily putih untuk appa.” Ujar gadis itu dengan senang. Tangan kecil gadis itu secara spontanitas membersihkan pusara milik Donghae tersebut, selaku ayah kandungnya.

Yuri mengajak Hana untuk berdiri sejenak memberi hormat layaknya tradisi warga Korea menghormat orang meninggal dengan membungkukkan badan 90 derajat.

“apa kabar oppa. semoga oppa tenang dialam sana. Ini sudah 5 tahun berlalu sejak kepergianmu. Sesuai janjiku aku akan membesarkan Hana untukmu.” Do’a Yuri. Ia menatap sendu pusara milik Donghae tersebut. Tanpa terasa air mata itu menetes keluar begitu saja.

“eomma. Uljimayo. Jangan menangis lagi. Eomma sudah membesarkan Hana. Hana sangat menyayangi eomma.” Hana menyeka air mata Yuri yang sudah turun dipipinya dengan jari kecil miliknya.

“appa. Satu harapan Hana. Semoga Tuhan mengabulkannya. Hana ingin berteu dengan eomma, Appa.”

DEGH..

Mendadak hati Yuri mencelos seketika. Ia tak dapat menghindari kenyataan lain dari sosok yang Hana cari selama ini. Ibu Kandungnya. Sosok yang bebeapa hari lalu ia temui, namun hanya dianggap angin lalu bagi yeoja itu. Tanpa mengenalnya sedikitpun.

‘Jika kau mengetahui sikap ibumu yang sebenarnya. Dan alasan mengapa ia pergi meninggalkanmu. Masihkah hatimu dapat memaafkan keegoisan ibu kandungmu sendiri?.’

“eomma. Kajja kita pulang. Hari sudah sore dan aku pun sudah lapar.” Lapor Hana pada Yuri yang seketika itu menghentikan perkecamukan hatinya tentang keberadaan ibu kandung Hana.

“ne. Kajja, kita pulang.”

*****

“hey Yoong. Apa yang membuat wajahmu tampak tak bersemangat hari ini?.” Lelaki yang berstatus sahabat Yoona tersebut, bertanya diiringi sikapnya yang menggoda gadis itu agar mimik muka gadis tersebut tersenyum kembali.

“ini semua karena Harabeoji!!. Bahkan nanti malam aku harus bertemu dengan sosok yang akan dijodohkan padaku tanpa mengenalnya sedikitpun!!. Bukankah itu membuka masalah baru tentang dan membuat perasaanku menjadi semakin rumit dalam menemukan cinta?.”

‘CINTA???….’

Jongwoon tertawa seketika. Pria itu tertawa geli akibat sahabat yang ia kenal 6 tahun lalu itu berbicara akan cinta. Terlintas dipikirannya, jika selama ini Yoona tak pernah mempunyai lelaki yang notabene merupakan kekasihnya. Jangankan kekasih, mengenal namja pun hanya beberapa orang yang tergolong dekat dengan yeoja itu.

“cinta?. Ku pikir kau tak tahu akan cinta Yoong?.” Goda Jongwoon kembali mengacak rambut Yoona yang sudah tertata rapi.

“aisshh..oppa. kau pikir aku bukan yeoja normal yang tak mengharap cinta. Aku juga ingin mencintai dan dicintai. Lalu kau sendiri?. Bagaimana perjalanan cintamu Kim Jongwoon-sshi?.”

Jongwoon mengulum senyuman lucu menatap Yoona. Kembali menatap yeoja itu. Tatapan mata yang diartikan Yoona sebagai salah satu tatapan yang membuat hatinya tentram yang tak lain adalah sorot mata Kim Jongwoon.

“Yoong. Cobalah untuk membuka hatimu pada sosok seorang laki-laki. Aku pikir jika keinginan harabojie-mu tidak terlalu buruk.”

Yoona menghela napas panjang, pandangan matanya beralih ke sudut lain. Senyumnya mulai sedikit memudar, ia terdiam sejenak.

“entahlah oppa. aku rasa hingga saat ini aku belum bisa menemukan sosok yang tepat Jongwoon oppa.”

Sebisa mungkin Yoona harus bisa mengalihkan topik pembicaraan perasaan  mengenai cinta yang dibahas sekarang oleh mereka berdua. Ia sadar jika ia tak bisa menggapai hati lelaki itu. Jangankan menggapai, menyentuh hatinya saja bahkan Yoona tak mampu. Cukup dengan melihat sosok lelaki itu hari Yoona menjadi lebih berarti.

Klakk..

Jongwoon menyentikkan jarinya tepat didepan wajah Yoona  yang membuat yeoja itu tersadar sesaat dari lamunannya akibat menatap wajah Jongwoon.

“sudahlah jangan terlalu terpukau dengan wajah tampanku ini. aku terlalu tampan bukan untukmu?.” ujar Jongwoon percaya diri. Pria itu tertawa pelan seraya mengacak kecil rambut Yoona.

“jangan mengacak rambutku oppa!. kau tahu bahkan aki selalu menyisir rambutku agar rapi dan cantik. Dan kau dalam sekejap merusaknya?!. Nappeun.”

“YAK!. Kim Jongwoon!. Jangan mengalihkan topik pembicaraan!.”

“hahaha.jadi kau masih ingin mengetahui bagaimana perjalanan cintaku?. Kurasa kau sudah mengetahuinya nona Im.”

Kim Jongwoon.

Namja berusia 24 tahun. Bekerja sebagai dokter ahli bedah selama 1 tahun di New York Cornell University Weill Cornell Medical College. Sebelum akhirnya ia kembali ke negara asalnya dan memulai karirnya kembali disana. Pria yang menjadi idaman semua  hampir semua mahasiswa dikampusnya termasuk dirinya yang mengharap akan menjadi sosok yang mengisi hati Jongwoon. Sosok pria yang mempunyai sikap sulit ditebak, membuat para wanita begitu penasaran untuk mendekatinya. Seumur hidupnya, Jongwoon hanya beberapa terhitung memiliki kekasih. Sebuah rekor yang patutkah untuk diapresiasi?. Mengingat pria itu mempunyai segalanya yang dapat menarik perhatian semua wanita.

“Park Jiyeon dan Jung….” Jawab Yoona lirih.

“Nicole sudah memilih jalannya sendiri…”

“Park Jiyeon?..”

“3 tahun berlalu Yoong. Seperti apakah dia sekarang?.” Lirih Jongwoon. Ia menyesap kembali Cappuchino lalu kemudian melanjutkannya kembali.

“kau masih mencintainya oppa?.”

Jongwoon terkekeh kecil menanggapi ucapan Yoona. Mana ada yang seperti itu?. “kami memtuskan untuk mengakhiri hubungan kami secara baik-baik, karena kami memulainya secara baik-baik. Lagipula Jiyeon sekarang sudah bahagia. Mungkin kami tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Tuhan mungkin akan memberiku sosok gadis yang jauh lebih sempurna sebagai pendamping hidupku.”

Yoona tertegun seketika atas kalimat pernyataan Jongwoon yang ia dengar. Ia tersenyum pahit ketika disaat yang bersamaan Jongwoon kembali mengingat kisah cintanya yang gagal kembali.

Seandainya ia bisa mengisi hati Jongwoon dengan sosok dirinya. Apakah leleaki itu mau menerima sosok dirinya. Tentu perasaan itu  masih tersimpan rapat. Perasaan mencintai pada seorang Kim Jongwoon yang akan terus ia simpan rapat hingga lelaki itu akan menyadarinya. Entahlah sampai kapan waktu itu akan tiba.

“tapi kau tak usah khawatir dengan masalah percintaanku. Sepertinya aku sudah menemukan sosok gadis yang tak bisa membuatku tidur belakangan ini.”

“nugu?.”

“gadis cantik itu. Gadis yang kutemui beberapa hari lalu, sepertinya membuatku tak bisa tidur membayangkan wajahnya.”

‘Mungkinkah…..’

*****

Malam yang indah diakhir pekan layaknya musim semi seperti tahun-tahun sebelumnya. Gadis kecil itu berjalan dengan riang menatap jalanan basah yang merefleksikan pendar lampu kendaraan dan gedung-gedung tinggi disekulilingnya. Sesekali langkah kecil itu sorot pandangannya beralih pada langit gelap yang terbentang diatas sana dengan sedikit taburan bintang sebagai penghias malam.

Gadis dengan rambut sebahu yang dihias dengan bando putih kecil itu bibirnya mengerucut lucu samabil salah satu tangannya memegang boneka white teddy bear. Menandakan jika kini dirinya tengah kesal dengan sang ibu hingga berujung ia meninggalkan sang ibu sendiri yang kini tengah berbincang serius dengan seseorang, entahlah mungkin tentang pekerjaan.

“Yuri umma. awas saja, Hana akan menghukum Yuri umma karena hari ini telat memasak untuk makan malam!.” Hana menggerutu kesal sembari berjalan pelan dengan wajah anak-anak yang lucu. Ia berjalan dengan tenang, karena ia sudah tahu arah jalan pulang meski ia kini berada didalam kerumunan padat orang yang berlalu lalang untuk menghabiskan waktu akhir pekan atau sekedar untuk ber-refreshing.

Brukk…

Hana terjatuh seketika, tubuhnya terdorong kebelakang. Tanpa sengaja ditengah keramaian beberapa orang tak sengaja berlalu lalang dihadapannya.

“aww..” Ia terduduk diatas trotoar jalan dan memegangi lutunya yang terasa sakit, dan tanpa sengaja mengeluarkan darah.

1 menit…

3 menit..

5 menit..

10 menit..

Gadis kecil itu masih terduduk ditempat itu. Perlahan bibirnya bergetar dan matanya mulai sedikit mengeluakan tetesan air mata. Hana menahan perih dikakinya.

Hikss..hikss..

Hana terisak pelan menahan sakit dan perih yang bersamaan di salah satu lututnya. Ia menyesal mengapa ia telah meninggalakan sang ibu untuk pulang terlebuh dahulu.

Tanpa sengaja sepasang mata melihat sosok gadis kecil itu dari kejauhan. Sosok seorang laki-laki yang tengah berjalan dengan sekantong besar barang yang ia bawa. Lelaki itu berjalan mendekati seraya memperhatikan sosok Hana dari kejauhan, yang terlehat seperti sedang kesakitan.

“hai, anak manis. Kau kenapa terduduk disini.” Lelaki itu mendekati hana sembari menundukkan dirinya menatap sosok kecil Hana yang kini menangis kesakitan.

Astaga!.

“hikss..hikss..” isaknya pelan.

“kau kenapa?. Astaga! Lututmu!.” Pekiknya terkaget

Hana hanya terdiam dengan sesekali isakan kecil keluar dari bibir kecilnya. ia bahkan tak mempedulikan lelaki yang kini sudah membawanya ke sebuah bangku taman didekat mobilnya yang terparkir.

“sssttt…hey gadis cantik. Jika kau menangis lagi maka lukamu tidak akan sembuh dan  justru wajah cantikmu akan hilang. Jadi tunggulah sebentar ahjussi akan mengobati lukamu.”

Lelaki itu tak tega melihat Hana yang terlihat keakitan sendirian ditengah jalan. Dengan cekatan ia mengambil beberapa kotak P3K dan beberapa tissue basah untuk membersihkan luka di lutut Hana.

Dengan perlahan pria itu mengelap luka lecet dikaki Hana dengan menggunakan tissue basah lalu setelah itu diusapnya kembali luka Hana dengan alkohol berkadar rendah secara perlahan dengan menggunakan kapas bersih untuk membantunya. Kemudian dengan perlahan ditutupnya luka lutut itu dengan kapas dan perban serta tak lupa meneteskan obat merah sebagai antiseptiknya. Dan setelah itu direkatkan plester untuk menutupi luka tersebut.

“nah..selesai. sekarang kakimu sudah tak sakit lagi. Bagaimana?. Jika kau tak menangis kakimu tak sakit bukan.”

Hana mengannguk kecil sambil menundukkan kepalanya, lantas menatap pria itu dengan wajah polos khas anak kecil yang ia miliki.

“ahjusssi bukan orang jahat bukan?.” Tanya Hana dengan polosnya hingga membuat laki-laki itu tertawa pelan.

“jika aku orang jahat. Aku tak mungkin menolongmu.” Pria itu terkekeh kembali menatap wajah polos nan lucu milik Hana.

“ahjussi. Gomawo..” ujar Hana. Gadis kecil itu melihat senyum lelaki yang menolongnya. Ia tahu jika sosok yang menolongnya adalah sosok laki-laki baik hati.

“ne. Cheonma. Boleh ahjussi tahu namamu cantik?.”

“Hana. Kwon Hana.”

“panggil aku Kim Jongwoon atau Jongwoon ahjussi.”

****

Langkah kaki Jongwoon terhenti sejenak tepat didepan sebuah rumah kecil nan sederhana milik gadis kecil yang ia tolong, yang tak lain adalah Hana. Hana terhenti sejenak melepas genggaman tangan Jongwoon yang menggandengnya lalu berjalan memasuki halaman rumahnya.

“Jongwoon ahjussi. Ayo kita masuk. Aku ingin berterima kasih pada ahjussi karena sudah menolongku. Ayo!. Kuperkenalkan pada ibuku.” Ajak Hana spontanitas Hana menarik tangan Jongwoon untuk memasuki rumahnya.

Namun tanpa diduga terlihat sesosok gadis berusia dua puluhan tahun keluar begitu saja dari dalam rumah tersebut. Dengan perasaan panik dan takut gadis itu sedang mengkhawatirkan sesuatu. Gadis itu tengah bertelepon dengan seseorang diseberang sana dengan wajah tampak cemas. “benarkah Sojungie?. Lalu dimana dia saat ini?.”

“umma..” panggil sebuah suara tepat didepan Yuri. seketika itu kontan Yuri memandang sosok gadis kecil yang kini berada didepannya.

“astaga Soojung…”

“Hana!.” Pekiknya terkaget.

Gadis yang tak lain adalah Yuri menatap tak percaya Hana yang kini tengah didepannya. Kekhawatirannya lenyap seketika saat gadis kecil itu tersenyum manis lalu berlari kearah Yuri dan memeluknya.

“umma maafkan Hana. Pasti Hana membuat khawatir umma?!.” Yuri melepas pelukannya sejenak lalu kembali menatap gadis kecil itu. Matanya syarat akan sebuah penyesalan kesalahan.

“maafkan umma juga. Umma salah karena mengabaikanmu.” Sesal Yuri menatap sendu sang putri. Lalu tanpa sengaja matanya menatap sesuatu yang kini terpusat pada lutut Hana.

“omona?!. Apa yang terjadi dengan lututmu chagi?.”

“mianhae eomma. Hana ceroboh. Nan gwenchana eomma. Karena ahjussi baik hati itu menolong Hana.”

“ahjussi?. Nuguya?.” Tanya Yuri penasaran.

Hana menoleh tepat dibelakangnya ia masih bisa melihat sosok Kim Jongwoon yang berdiri dengan memakai kacamata serta satu tangan yang lainnya ia masukkan kedalam saku celananya.

“Jongwoon ahjussi. Kajja. Kenalkan ini eommaku.” Perintah Hana yang menarik pergelangan tangan Jongwoon.

Jongwoon!. Sepertinya nama itu tak asing terdengar ditelinga Yuri. Tapi entahlah didunia ini mungkin banyak nama orang yang begitu sama. Toh, didunia ini nama Jongwoon bukan hanya orang itu saja.’

Sekilas Yuri menengadahkan kepala beserta pandangannya. Ia memandang sosok seorang lelaki yang kini tepat berada didepan matanya. Lelaki itu tersenyum manis menatap wajah Yuri. Sosok lelaki yang beberapa hari ia temui karena sebuah insiden kecelakaan. Lelaki yang untuk pertama kalinya membuat hatinya tak kuat menatap wajah tampan sekaligus senyuman yang membuat semua orang akan jatuh hati padanya. Senyuman dan wajah dari seorang Kim Jongwoon

“dokter Kim!..” ujarya terkaget. Yuri tak menyangka jika lelaki ini yang Hana bawa kerumah. Entahlah apa yang terjadi hingga membuat Hana membawa pria itu menenmuinya.

“annyeong. Kwon Yuri-sshi. kit bertemu lagi.” Jongwoon menyapa sosok Yuri yang ia temui beberapa hari yang lalu. ia juga heran dan tak menyangka bisa bertemu kembali dengan gadis itu kembali.

“Jongwoon ahjussi. Kau mengenal eomma-ku?. Ini eomma-ku yang kuceritakan tadi.” Tangan kecil Hana menarik pergelangan tangan Jongwoon untuk mendekat kearahnya.

“eomma. Perkenalkan dia orang baik yang menolong Hana.” Tangan Hana beraktivitas kembali. kali ini ia menarik tangan Yuri lalu menyodorkannya pada Jongwoon untuk saling berkenalan. Untuk beberapa detik Yuri terdiam seketika menatap Jongwoon, tanpa bisa berkata-kata. Pikirannya kaku saat memandang namja tampan itu. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Yang ada dipikirannya kini adalah bagaimana ia menghindari tatapan mata dari seorang Kim Jongwoon. Sungguh ia tak kuat jika harus bertemu pandang dengan namja itu.

“eomma. Kenapa eomma melamun?.” Tanya Hana dengan polosnya saat melihat sang ibu terdiam seketika menatap Jongwoon.

“heh?. Anii..anii..gwenchana.” jawab Yuri tergagap, yang membuat Jongwoon tertawa pelan melihat sikap Yuri. spontanitas Yuri pun menjadi salah tingkah akibat sikapnya tadi hingga membuat ia tersenyum kikik menyambut Jongwoon.

“Jongwoon ahjussi. Kajja, masuklah. Hana ingin berterima kasih pada Jongwoon ahjussi dengan mengundang ahjussi untuk makan malam. Bolehkah eomma?.” Gadis kecil itu meminta dengan wajah polosnya. Berharap sang ibu mengizinkannya. Sementara Yuri hanya bisa mengangguk pasrah menuruti keinginan Hana.

“bolehkah Kwon Yuri-sshi?.

“tentu jika anda tidak keberatan dokter Kim. Dan terima kasih banyak karena sudah menolong putriku.”

*****

Waktu berdetak meninggalkan kejadian sebelumnya dan melanjutkan kembali perjalanan untuk menuju sebuah masa ke arah depan. sore hari saatnya para orang bekerja sudah habis jam kerjanya. Tapi tidak untuk lelaki ini, lelaki ini masih duduk terdiam didepan meja kerjanya lebih tepatnya didepan laptop kerjanya.

Lelaki itu berjalan pelan menatap pemandangan kota Seoul disore hari yang tersaji dari jendela besar ruang kerjanya.

Drrrttt..ddrrt…

Sesuatu bergetar dari dalam saku celananya. Sebuah ponsel yang memndakan jika kini tengah ada pesan pendek yang masuk. Pria itu membaca singkat pesan pendek tersebut dan menarik napasnya.

Lusa. Aku dan Miyoung akan menikah. Mohon do’akan kami. Dan kau adalah sosok penting yang kami harapkan kedatangannya,

Lelaki bernama Choi Siwon itu kembali menarik napas panjangnya dan menatap pesan pendek itu.

“aku tahu jika semua ini pasti akan terjadi. Semoga kau bahagia. Stephanie Hwang Miyoung.” lirih lelaki itu.

Siwon memang memutuskan untuk kembali ke Seoul setelah hampir 10 tahun menetap di Las Vegas, USA. Ia sadar jika tempat itu bukan tempat dmana seharusya ia berada. Ia memutuskan untuk tidak menghadiri pesta pernikahan Hwang Miyoung. Ia hanya meninggalkan sebuket bunga mawar putih – bunga kesukaan Miyoung – didepan apartement miliknya, di Las Vegas. Karena ia tahu jika melepas Hwang Miyoung berarti melepas semua cintanya pergi.

‘terima kasih kau sudah hadir dalam hidupku. Walau hanya sekejap. Tapi aku bisa merasakan bagaimana mencintai seseorang’.

Siwon menghela napasnya lega. Setidaknya ia bisa merasakan bahagia meski hatinya harus tersakiti. Stephanie Hwang telah memilih seorang laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.

selamat berbahagia. Aku turut berbahagia atas pernikahan kalian.

Siwon mematikan teleponnya. Kali ini ia harus bisa melepas sosok seorang Stephanie Hwang. Lelaki itu tersenyum pada sebuah pigura photo gadis cantik yang ia abadika sebelum kepulangannya ke Korea. “berbahagialah Steph.”

eomma calling…

Ponsel Siwon kembali begetar menandakan jika ada sebuah panggilan masuk. Dengan malas akhirnya Siwon pun memberanikan diri mengankat telepon dari ibunya tersebut.

“kau dimana Choi Siwon?. cepat pulang!. Kau tahu jika hari ini kau harus bertemu dengan rekan bisnis abeojie!.” Suara melengking memekik begitu saja ditelinga Siwon. Siwon tahu jika ia akan berakhir seperti ini.

“mianhae eomma. Client-ku hari ini mendadak mengajak untuk meeting. Jeongmal mianhae eomma. Meeting hari ini tak dapat ditunda. Ini menyangkut tender perdana yang besar akan kulakukan.”

Sebisa mungkin Siwon mengelak dari ajakan sang eomma yang membuatnya bisa menjadi gila dengan ide perjodohan dengan rekan kerja sang ayah.

“eomma..bisakah ka mengatur dihari lain atau weekend yang lain?.”

“ah, baiklah. Semoga sukses dengan meeting-mu Siwon-ah.”

“gomawo eomma.”

Klik..sambungan telepon pun terputus begitu saja.

Akhirnya rencana mengelak pun sukses juga. Siwon mendesah pelan lalu merapikan beberapa file-file pekerjaan dan segera bergegas untuk keluar dari kantor. Sepertinya menonton film di bioskop tidaklah buruk. Ia bisa melepas penat dari pekerjaan kantor yang membuatnya hampir gila karena terkena stress.

*****

1 Jam Kemudian….

Seperti biasa waktu weekend adalah waktu bagi setiap insan yang berpasangan terlebih lagi sepasang kekasih untuk salaing melepas rasa rindu setelah hampir seminggu bergulat dengan aktivitas.

Siwon berjalan pelan dengan memasuki studio disalah satu bioskop sambil membawa pop corn dan soft drink. Sebuah film bergenre Science fiction siap menghiburnya. Ia tak tahu mengapa ia ingin sekali menonton film ber-genre ini. pria itu terduduk disebuah bangku penonton bagian tengah, menatap layar besar dihadapannya yang masih menayangkan trailer film yang akan datang.

“tuan kita bertemu lagi.” Sebuah suara mendadak memanggil Siwon. spontan lelaki itu memandang seseorang yang kini memanggilnya.

Siwon menoleh, siluet cahaya layar besar menerpa wajah yeoja tersebut. “ah..ne. Nona Im Yoona-sshi.” siwon tersenyum lebar saat tak sengaja kembali dipertemukan dengan sosok gadis yang baru saja dikenalnya.

“kau sendirian?.” Tanya Siwon saat melihat Yoona terduduk seketika disampingya. Ia melirik skilas kertas kecil yang berisikan nomor kursi penonton yang akan ia duduki, ternyata tepat berada disebelahnya.

“seperti yang kau lihat. Apakah aku membawa sosok seorang teman?.” Siwon kembali tersenyum yang akhirnya senyum tersebut dibalas oleh Yoona. Ia merasa tidak rugi melewatkan acara makan malam yang membosankan itu, kini ia berada dibioskop bersama dengan Yoona.

“aku tak menyangka jika anda menyukai Sci-Fic.” Komentarnya.

“aku bukanlah yeoja yang suka sekali dengan filem ber-genre romance seperti para yeoja kebanyakan. Menurutku setiap genre film itu terlihat seru jika alurnya sangat menarik.” Yoona tertawa kecil lalu kembali meminum juice yang ia genggam dan melanjutkan acara menontonnya.

*****

Seperti acara penyambutan pada umumnya dengan menghidangkan beberapa makanan yang tersaji. Yuri masih berkutat dengan makanan yang akan disajikan untuk tamu yang diundang Hana. Entahlah mengapa tiba-tiba Yuri merasakan perasaannya berkecamuk menjadi tak menentu. Ia rasa ada yang aneh saat ia melihat namja itu kembali.

Sementara itu pandangan mata Jongwoon sesekali mengamati keseluruhan ruangan didalam rumah itu. Pandangan matanya terpusat pada sebuah drafting mechine yang sering digunakan oleh arsitektur beserta laptop dan scanner yang tertata rapi disudut ruangan. Meskipun rumah tersebut terbilang sederhana. Tapi sungguh tertata dengan baik dan rapi layaknya flat apartement berkelas atas.

Jongwoon menebak jika seorang Kwon Yuri tersebut adalah seorang arsitek.

“Hana. Apa ahjussi boleh bertanya padamu?.” Jongwoon berucap pelan pada Hana yang disetujui anggukan oleh yeoja kecil itu.

“apa ibumu seorang arsitek?.”

“ne. Tentu saja ahjussi. Selain eomma bersekolah dikampus eomma juga merangkap sebagai arsitek design untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang arsitek yang handal.”

Jongwoon tersenyum seraya mengacak pelan rambut Hana. Ia tak menyangka jika sosok yang diceritakan Hana sedari tadi saat ia berjalan menuju rumah Yuri adalah sosok seorang yeoja pekerja keras dan ulet. Ia yakin jika pasti sangatlah sulit bagi seorang yeoja menghidupi seorang putri yang menjadi tanggungannya.

“aku bangga pada Yuri eomma. Meskipun Hana tak mempunyai siapa-siapa lagi didunia ini. tapi Yuri eomma selalu ada untuk Hana. Yuri eomma adalah ibu sekaligus ayah bagi Hana.”

Terenyuh. Satu kata yang tergambar dari dalam hati Jongwoon. Ia tak menyangka jika kehidupan gadis kecil ini sangatlah jauh dari kasih sayang layaknya gadis kecil seusianya. Gadis kecil itu menceritakan kehidupannya bersama dengan sang ibu. Mereka memang tak kekurangan materi sedikitpun. Bahkan bisa dikategorikan jika keluarga ini mampu layaknya golongan keluarga menengah keatas. Ia memandang sosok Yuri yang masih berhadapan dengan makanan yang akan disajikannya.

Perlahan gadis itu melangkah dengan anggunnya menuju meja makan serta meletakkan semua makanan yang sudah siap untuk disajikan.

“gomawo Yuri-ssshi.” Yuri tersenyum kikuk kembali saat namja itu kmbali mentapnya. Yeoja itu menyodorkan piring kosong dan mempersilahkannya untuk memulai acara makannya.

Mereka bertiga makan dalam diam hanya ada sedikit gurauan antara Jongwoon dengan Hana yang membuat suasana layaknya sebuah keluarga, layaknya adegan ayah yang berinteraksi dengan sang putri.

Drrrttt…drrrttt..

Getaran sekaligus derng suatu ponsel berbunyi menandakan jika kini ada panggilan masuk. Dengan cepat Yuri segera mengankat panggilan tersebut dan mulai berbicara.

“yeoboseo. Sojungie..ne..Hana sudah ditemukan. Kau jangan terlalu khawatir…gwenchana..Hana sekarang bahkan sudah berada tepat didepanku sedang memakan makannannya..ah, ne Gomawo..kau sudah mengkhawatirkan setan kecil itu.” Yuri terkekeh pelan seraya mematikan ponselnya. Ia rasa ini cukup untuk menggoda Hana.

“apa Soojung ahjumma menanyakanku eomma?.”

“ah, ne. Soojung ahjumma dan Minho ahjussi mengkhawatirkanmu karena kau tiba-tiba saja menghilang. Mereka takut jika setan kecil sepertimu akan menghilang dan tak akan kembali. nanti tak ada lagi penjaga Yoogeun saat ia menangis.” Kali ini Yuri bergurau dengan Hana dengan mimik wajah lucu yang disambut dengan bibir Hana yang mengerucut lucu.

“isshh..eomma. walaupun eomma memanggilku setan kecil. Tapi aku adalah setan kecil yang cantik dan lucu tak ada setan kecil yang begitu cantik sepertiku ini.” seloroh Hana begitu saja dengan percaya diri.

“ahjussi. Bukankah aku memang yeoja kecil yang cantik?.” Hana kembali melontarkan pembicaraan. Kali ini bukan pada sang ibu yang dituju melainkan pada sosok Kim Jongwoon.

“hmm tentu saja.” Hana tersenyum manis penuh kemenangan saat ia kini bisa mencari perhatian.

“eomma.” Panggil Hana kembali.

“ada apa lagi Hana?.”

“kapan eomma memberikanku seorang appa?. Hana ingin punya appa. Yuri eomma!.” Gadis itu kembali merengek pada sang ibu. Spontanitas Yuri yang mendengar sang putri berbicara seperti itu langsung saja tersedak dari makanannya.

“uhuk..”

Pertanyaan tanpa diduga Yuri begitu saja keluar dari mulut kecil Hana. Dengan wajah polos yang ditampakkannya, Hana sukses membuat Yuri menghentikan acara makannya yang kini tengah mengunyah. Jongwoon yang terduduk disamping Yuri langsung saja memberikan segelas air yang berada tepat didepannya lalu menyodorkannya pada Yuri. serta tak lupa lelaki itu menepuk pelan punggung Yuri agar yeoja itu bisa melancarkan makanannya kembali.

“yak. Kwon Hana!.”kesal Yuri dengan wajah yang tiba-tiba saja bersemu merah. Lebih tepatnya malu dihadapan lelaki itu. Bisa-bisanya Hana melontarkan kata-kata seperti itu.

“hehehe..kalau begitu Hana pergi dulu eomma. Hana ingin mengganti pakaian Hana.”

“mwo?.”

Tanpa ba-bi-bu lagi Hana langsung saja turun dari kursi meja makan yang ia duduku, lekas berjalan meninggalkan sang ibu dengan Jongwoon yang masih berkutat dengan makannnya.

“euuhhmm..Dokter Kim. Maafkan perkataan putriku tadi. Tolong jangan diambil hati.” Ujar Yuri meminta maaf. Ia yakin jika kini pasti wajahnya terlihat merona merah dihadapan Kim Jongwoon.

“ah. ne. Gwenchana. Aku sangat menyukai anak kecil yang suka bergurau dan bercanda seperti Hana.” Jawab Jongwoon ringan masih dengan kekehan kecil yang tergambar jelas.

“eee..Kwon Yuri-sshi. mianhae..”

Tiba-tiba saja tangan Jongwoon menyeka sebuah noda yang ada disudut bibir Yuri. Yuri yang tak menyangka hal itu akan terjadi mendadak mematung diam dengan perlakuan Jongwoon. Mendadak jantungnya berpacu cepat dengan irama yang ada.

‘Astaga. Apa sebenarnya yang kurasakan. Kenapa semua mendadak seperti ini.’                     

Pikiran Yuri berkecamuk kacau. Entahlah, rasanya sulit untuk menafsirkannya.

“maaf. Jika aku terlalu lancang. Tapi sungguh aku…”

“ne gwenchana. Aku tak apa-apa.”

Tinngg…

Sebuah benda alumunium berlapis perak pun terjatuh begitu saja. Yuri yang tersadar seketika langsung saja mengambil benda yang berbentuk sendok itu. Namun lagi-lagi sebuah tangan tak sengaja secara bersamaan mengambil benda tersebut hingga akhirnya kedua tangan milik dua orang tersebut secara tak sengaja berpegangan.

Tanpa diduga sepasang mata tengah mengamati adegan mereka berdua. Yeoja kecil itu terkekeh kecil sambil tersenyum lucu menatap kejadian yang terjadi didepan matanya.

“hihihi..eomma..Yuri eomma.”

*****

Citt…

Sebuah mobil berwarna black-Silver itu tepat berhenti didepan sebuah rumah berkategori besar itu. Yoona teramat malu didepan Siwon saat mengetahui jika mobil yang ia kendarai ternyata lupa jika tanggalnya sudah tiba untuk diservice. Benar-benar sangat merepotkan.

“sekali lagi jeongmal mianhae. Merepotkanmu.”

“ne. Gwenchana. Lain kali jangan lupa men-service  mobil jika sudah tiba tanggalnya!.” Ujar pria itu mengingatkan Yoona.

“ah..ne jeongmal gamshamida atas tumpangannya.” Ujar Yoona berterima kasih.

Baru beberapa detik Yoona membuka pintu mobilnya. Sebuah panggilan dari lelaki itu membuat Yoona membalikkan badannya kembali.

“nona Im. Terima kasih juga atas ketersediaan waktumu untuk menemani waktu malam minggu seperti ini.”

“sama-sama Siwon-sshi. tak ada salahnya bukan jika kita berteman.”

“tentu. Jika kau mau menjadi temanku. Eeeuuhhmm..bolehkah aku meminta nomor ponsel anda.”

“tentu dengan senang hati.”

Yoona menatap mobil yang berjalan menjauh dari kawasan elite tempat tinggalnya pergi menjauh meninggalkannya. Lalu tersenyum seketika tika sebelum langkah kakinya menuju kedalam rumah.

Cklekk….

Perlahan tangan Yoona memutar knop pintu kamarnya. Ia rasa hari ini cukup melelahkan. Lelah hati dan pikiran sungguh menguras tenaganya. Dibalik lelah pikiran akibat pekerjaannya yang menumpuk. Ia juga lelah dengan perasaannya.

Ya. Lelah hati yang ia rasa jauh membuat pikirannya tambah kacau. Yoona merebahkan dirinya lalu memjamkan matanya sejenak. Terlintas dipikirannya bayang-bayang wajah Jongwoon yang tersenyum tulus didepannya. Ia rasa pikirannya masih saja dipenuhi oleh lelaki itu.

‘Kim Jongwoon. Seandainya kau tahu perasaanku sebenarnya. Apakah aku bisa menggantikan sosok seorang Park Jiyeon, mantan kekasihmu dahulu. Tapi itu apakah terjadi?. Tapi aku cukup bahagia jika berada disampingmu. Aku hanya ingin memiliki hatimu meski itu tak sebesar cinta yang pernah kau berikan pada Park Jiyeon.’

Krekk..

Sebuah pintu terbuka yang kontan membuat Yoona membuka matanya kembali dari perkecamukan hati dan pikirannya. Dilihatnya sekilas sosok sang ibu yang kini tengah berjalan mendekati tempat tidurnya.

“siapa yang mengantarmu tadi?.” Suara yang tak asing bagi Yoona itu menegurnya dengan rasa tidak suka.

“maksud eomma?.”

“kau tak usah berpura-pura. Membatalkan acara pertemuan dengan keluarga Choi dan pergi entah kemana. Lalu pulang bersama dengan laki-laki lain.”

“laki-laki lain?. Nugu?.”

“tak usah berkilah. Siapa laki-laki itu?.”

Huh..Yoona menghela napas panjang lalu pikirannya coba menebak siapa yang dimaksud oleh sang ibu. “dia temanku eomma. Dia bukan laki-laki lain. Lagipula kenapa eomma dan harabojie memaksakan kehendak untuk bertemu dengan keluarga itu?. Aku punya kehidupan sendiri eomma, aku tak mau jika hidupku terus-terusan diatur oleh Harabojie. Aku punya hak untuk mencintai seseorang. Aku tak bisa memaksakan hatiku untuk mencintai seseorang jika hatiku sudah berpusat pada…” ucapan Yoona terhenti seketika saat sang ibu memotong perkataan sang putri.

“Kim Jongwoon!. Kenapa kau masih saja tak bisa melupakan hatimu untuk namja itu dan hingga sekarang kau masih saja mencintainya. Apa kau tak pernah sadar jika namja itu tak pernah mencintaimu, bahkan kau hanya dianggap layaknya adiknya sendiri. Kau harus sadar akan hal itu Im Yoona. Jangan terobsesi mencintai seorang namja, jika tak ada harapan lagi untukmu. Eomma tak mau kejadian 7 tahun lalu terulang kembali.”

“maksud eomma. 7 tahun lalu?. ada apa dengan kejadian 7 tahun yang lalu?. Dan apa yang terjadi padaku?.”

“sudahlah lupakan perkataan eomma. Eomma tak menerima penolakan jika selanjutnya harabojie mengajakmu untuk bertemu dengan keluarga itu.” Yeoja setengah baya itu berjalan menjauhi kamar. Ia sadar jika tanpa sengaja mengatakan kejadian suram 7 tahun lalu yang terjadi ada putrinya karena obsesi cinta yang sama pula. Lebih baik ia menyimpannya rapat dan menutup kisah masa lalu putrinya agar hal itu tak terjadi kembali.

“eomma..” panggil Yoona kembali tapi tak mendapat respon dari sang ibu.

‘kejadian 7 tahun lalu?. apa yang sebenarnya terjadi?.’

Lebih baik ia mencari ketenangan, setidaknya mandi akan membuat pikiran jauh lebih tenang.

Setelah mandi Yoona kembali merebahkan dirinya. Sesekali tangannya menugtak-atik ponselnya. Ia tak menyangka jika sebuah pesan dari lelaki yang baru saja dikenalnya masuk begitu saja.

From: Siwon Choi.

Annyeong nona Im Yoona-sshi. Maaf jika mengganggu malam anda. Aku minta maaf karena membawamu hingga pulang malam seperti ini. Bisakah dalam minggu ini jika jika kau mempunyai waktu luang kita makan bersama?. Aku ingin menebus kesalahanku karena sudah menumpahkan jus di pakaian kerjamu.

To: Siwon Choi.

Ne. Tentu saja. sudah cukup sampai disini Tuan Choi Siwon. aku sudah menerima permintaan maafmu. Selamat malam selmat beristirahat.

From Siwon Choi.

Ah. ne selamat beristirahat. Jaljayo.

 

*****

Jongwoon merebahkan dirinya diatas ranjang king size miliknya itu. Seperti biasanya lelaki itu tak pernah absen untuk mengutak-atik gadget miliknya itu. Mulai dari ­I-Phone, ponsel hingga PSP yang kini sudah tersaji diatas ranjangnya. Rasanya malam ini ia tak bisa tertidur dengan nyenyak. Sedari tadi jatungnya berdetak tak menentu sejak kepulangannya bebrapa jam lalu dari rumah seorang yeoja bernama Kwon Yuri itu. Pikirannya melanglang buana membayangkan gadis itu tersenyum dengan sangat manis dan cantik. Gadis sederhana seperti Kwon Yuri, sepertinya akan mengganggu malamnya hari ini.

“Hyung..”

Pandangan mata Jongwoon mendadak beralih pada seorang namja yang begitu saja memasuki kamarnya. “ne. Waeyo Wookie-ah.” jawab Jongwoon sekenanya.

“aku memasak Jajangmyeon dan bulgogi kesukaanmu. Kau mau makan bersamaku?.” Tawar sang dongsaeng.

“aniyo. Aku sudah kenyang. Bahkan aku tadi memakan kedua masakan itu lebih enak daripada masakanmu.”

“kau kenapa hyung?. Kau gila hyung?. Sedari tadi kuperhatikan kau tersenyum sendiri sejak kepulanganmu ke rumah?.”

“ya!. Aku masih waras Kim Ryewook!. Jika aku gila maka kupastikan kau orang pertama yang ku ajak menuju rumah sakit jiwa!.”

“mwo?!. Aisshh..lebih baik aku pergi daripada melihat hyung-ku tak waras seperti ini!.”

“YA!.” Kesal Jongwoon yang langsung saja melempar bantal tepat kearah Ryewook.

Drtt..drrt..kembali ponsel tersebut bergetar dan berbunyi. Dilihatnya sebentar ponsel tersebut terpampang sebuah nama yang menut Jongwoon asing baginya.

“yeoboseo.”

“nona Kwon Yuri. bisakah saya mengambil design taman yang anda rancang lusa?.”

“mwo?. Nona Kwon Yuri?. maaf nyonya sepertinya anda salah menyebut nama seseorang. Saya bukan Kwon Yuri. dan mungkin saja anda salah menelpon seseorang?.”

“anii..bukankah ini benar nomor ponsel nona Kwon Yuri. saya tidak salah menghubungi anda.”

“mwo?.” Jongwoon kontan menjauhkan ponsel dari telinganya dan langsung saja mematikan ponsel tersebut.

‘Kwon Yuri. sepertinya ada yang tidak beres?’

Jongwoon kembali mengutak-atik kembali ponsel hitam  yang sedang ia pegang. Mengejutkan saat ia tak menyangka jika ponsel yang ia pegang adalah milik dari yeoja itu. Tampak jelas jika wallpaper yang tampak adalah foto dari seorang Kwon Yuri yang sedang tersenyum bersama dengan Hana, putrinya.

“astaga. Paboya namja. Kenapa ponsel yang ku pegang bisa tertukar seperti ini?.” runtuknya. Jongwoon meruntuki kebodohannya karena secara ta sengaja ponsel mereka berdua mempunyai bentuk dan jenis yang sama. Kenapa ponselnya bisa tertukar dengan ponsel milik Kwon Yuri?.

Mata Jongwoon kembali manatap sekilas photo yang terpampang jelas didepan matanya. Cantik. Satu kata yang bisa ia ungkapkan saat melihat gambar yeoja itu.

‘mungkinkah?’

Sepertinya malam ini Kim Jongwoon akan terkena syndrome Insomnia tak bisa tidur karena memikirkan yeoja itu.

*****

—TBC—

 

Jeng..jeng…balik lagi degan cerita amburadul seperti ini.

Gaje?. Amatiran?. Absurd?. Ancur?…#tentunya…

Jeongmal mianhae jika baru bisa update cerita absurd ini. mianhae jika kalian tak suka jalan ceritanya. Ideku mampet cukup sampe disini.

Makasih bwt kedua kakak-ku @Uchie90 and @Ekha LeeSunhi yang uda mau bagi ide lewat comment2 yang diberikan. Sekali lagi jeongmal gomawoyo..

Disini aku ingin menenkankan kembali. jangan ada cenderung meminta satu couple untuk dilebihkan scene-nya. dan satu lagi aku ga mau ditag di twitter yang cenderung bahasanya menagih dan berlebay ria. Tenang saja tanpa ditagih pun ceritanya pasti akan aku lanjutin. ……maaf jika kalimat itu membuat salah satu readers tersinggung. Cukup dengan mengkode saja. author pasti akan bales tweet kalian. G usah disebutkan secara jelas dan gambalng.

Untuk because baby Kim-nya. uda jadi separo, tp aku kemungkinan akan aku protect karena aku udah jenuh dengan beberapa tagihan.

Jika para reader ingin  meng-tag author di twitter, cukup dengan mengkode saja. tanpa embel2 ‘FF’ bisa dengan kata cerita. Ex: ceritanya hancur banget kak.

Terima kasih untuk ketersediannya membaca dan menghargai karya kami.

 

Gamshamida.

 

102 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 2

  1. Jongwon sama yuri makin deket aja begitu juga yoonwon… Kenapa yoona gk inget kejadian 7 tahun lalu apakah dia hilang ingatan ??

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s