[FF Freelance] A Person Like Me (Part 1)

a person like me

A Person Like Me by Whitney

Aku hanya gadis biasa saja.

 Just ordinary one.

Oleh karena itu, aku tak mengharapkan apa-apa darimu.

Karena aku tahu, aku yang biasa ini bagaimana mungkin menarik perhatian darimu.

 

Cast                       : Kim Myung Soo a.k.a L & Yeon Seul Mi

Genre                     : Romance & Little Angst

Rating                    : PG 15+

Length                   : 2shot

Disclaimer             : Ini sebenarnya FF lama yang aku buat tapi baru bisa di kirim. Juga FF ini sudah pernah di publish di Blog pribadi (Beautifullrainysnow.wordpress.com) dan original pemikiranku. Hope u enjoy this story, n if u interesting w/ ma FF… leave a comment or hit Like. Thank u^^

——————————————————————————

 

Part 1 < Opening >

Lelaki itu terkenal dengan julukannya. Player atau mungkin lebih dikenal dengan kata Playboy. Walau begitu, tetap saja banyak gadis yang mengantri di belakangnya. Semua berlomba-lomba, berharap bahwa mereka bisa merubah lelaki itu untuk lebih baik lagi. Dan sebaliknya yang terjadi…

Setiap 3 bulan, lelaki itu selalu membawa gandengan yang baru. Typenya pun tak jauh berbeda, selalu ramping, putih pucat, rambut bergelombang (walau aku sangsi itu hanya hasil jamahan salon), dan juga berwajah briliant. Sudah seharusnya begitu gadis-gadis yang bersanding dengan lelaki itu. Wajah tampan dengan sorot mata yang tajam, menusuk hingga hati terpukau. Membuat gadis manapun, wanita manapun, jatuh hati. Memang, hampir tidak semua. Namun sebagian besar dari mereka, jatuh hati.

Aku? Aku tidak… Awalnya tidak. Lelaki berwajah tampan bisa saja menarik perhatian banyak orang. Begitu juga denganku. Tapi itu hanya sebatas kagum saja. Mengagumi makhluk ciptaan yang indah. Setelah itu, pergi menghilang entah kemana. Hanya saja… Kali ini… Tidak.

Aku tertarik dan aku takut jika rasa ketertarikan itu berubah lebih jauh lagi. Kenapa? Karena aku tahu diri. Aku tidak semenarik perempuan lain untuk membuat seorang Kim Myung Soo berpaling.

***

Aku bukan siapa-siapa. Bukan kenalan, bukan teman, sahabat, apalagi hubungan keluarga. Dia tidak mengenalku. Namun aku mengenalnya. Itulah yang terjadi. Setidaknya, tidak sampai sekarang.

Lelaki itu mengenalku.

“Yeon Seul Mi?”

Aku menengadah. Terlihat lelaki itu tengah berdiri di samping meja, tempat aku duduk sekarang. Mulutku terbuka hendak mengatakan sesuatu, namun aku tercekat. Ini pertama kalinya aku dan dia saling bertatapan. Mata bertemu mata. Dan… Ya Tuhan, apa dia benar-benar se… tak ada kata yang dapat mewakili seberapa … astaga, aku bahkan tidak tahu harus memakai perumpamaan apa.

“Yeon Seul Mi, kan?” tanyanya sekali lagi dengan wajah yang terlihat ramah walau tak ada senyum di bibirnya.

“E-eo… Na-ya…” jawabku dengan bibir yang terasa keluh. Mataku seperti tak berkedip untuk waktu yang lama. Seakan sekali saja berkedip membuatku menyesal seumur hidup karena menyia-nyiakan kesempatan ini. Oh… Aku terlalu melebih-lebihkan.

Kukedip sekali mataku untuk beberapa detik dan kembali membukanya. Mencoba menetralkan otakku. Aku harus sadar. Kita jauh berbeda.

“Kau pindahan dari Jepang, kan?” Tanyanya untuk memastikan. Aku mengangguk sebagai jawaban. Bukan karena saking terpesonanya lelaki itu, oke, salah satu alasannya. Tapi aku menyangkalinya. Jadi abaikan saja itu. Aku menjawab seadanya karena…

“Igeo…” Lelaki itu menyerahkan sehelai kertas yang dipermukaannya sudah terkontaminasi oleh tulisan-tulisan hangul yang sebagiannya tidak dapat kuartikan. Ya… “Mulai hari ini, aku yang akan menjadi mentormu.”

Aku belum terlalu fasih dalam bahasa korea. Dan sekarang, lelaki itu yang akan mengajariku.

***

Setahun bersamanya membuat suatu perubahan yang amat berdampak bagi diriku. Tentu saja. Setahun cukup membuatku fasih dalam berbahasa. Setahun juga cukup membuatku mengenal seorang Kim Myung Soo. Lelaki dengan pribadi yang cukup unik. Mungkin kebanyakan orang akan beranggapan bahwa lelaki itu memiliki dua kepribadian. Namun bagiku tidak. Kepribadian yang ada di dalam diri Myungsoo membuatku semakin penasaran dan jatuh lebih dalam lagi kepadanya. Ya… Aku jatuh cinta.

Tapi aku masih tetap dengan pendirianku untuk menahan apa yang selama ini tertanam dalam diriku. Aku berpaling lagi. Berusaha untuk tetap berpaling sekuat mungkin, walau jarak yang tercipta antara kami berdua tidak memungkinkan untuk berpaling.

Setahun… Ya… Setahun cukup membuat Myungsoo menyandangku sebagai ‘yojachingu’-nya. Yoja untuk perempuan, dan Chingu untuk teman. Teman perempuan. Ah! Seharusnya aku memberi space antara kedua kata itu. Jadi sebenarnya adalah Yoja-Chingu.

Dan sejak saat itu, namaku mulai dikenal banyak orang sebagai sahabat seorang Kim Myung Soo.

***

“Siapa?” Aku mengulang kembali pertanyaanku untuk kesekian kalinya sejak Myungsoo menceritakan kisah barunya dengan seorang gadis. Memang tidak ada yang berubah dari pribadi Myungsoo sejak mengenalku. Ya… Untuk apa aku mengharapkan agar lelaki itu berhenti jadi Playboy. Tidak. Aku tidak akan mengharapkan apa-apa.

Myungsoo kembali tersenyum walau ini sudah berulang aku bertanya. “Sieren. Namanya unik, kan?”

“Sieren?” Kali ini aku berhasil menyebut nama itu dengan benar. Aku manggut-manggut. “Unik.”

Sebelum lelaki itu semakin jauh menceritakan semua lebih lanjut, “Bagaimana dengan yang kemarin bersamamu?”

Kali ini lelaki itu terdiam sejenak dan tersenyum merasa bersalah. Tanpa ditanya pun aku sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi dalam hubungan mereka. Putus. Ini sudah 3 bulan, dan berakhir begitu saja.

“Yaa… Kali ini apa alasanmu?”

Myungsoo mendelik bahunya dan bersandar ke kursi dengan tangan yang terjulur ke depan, mengetuk-ngetuk meja belajar berbentuk bulat kecil itu dengan pensil mekanik yang ada di tangannya.

Tak ingin memaksa dan memang tak ingin tahu lagi, aku pun mendelikan bahu tak mau tahu dan kembali menulis tulisan-tulisan hangul di sebuah kertas yang dikhususkan untuk test ini.

“Ada gadis lain… Itu alasannya,” jawabnya dengan pelan.

Aku menengadah dan melihat Myungsoo yang tengah menatapku dengan tatapan lurus yang dalam. Jika saja tatapan itu dia berikan padaku waktu kami masih pertama kenalan, mungkin wajahku akan memerah seperti tomat. Tapi karena sekarang aku sudah lebih berhasil menutupi ekspresiku yang sebenarnya, aku hanya menatapnya datar dan tanpa ekspresi.

“Bagus. Apa yang kau dapat?” tanyaku sambil kembali menulis huruf-huruf yang sudah kuhafal mati. Hanya huruf-hurufnya saja, letak dan penggunaan yang tepatnya masih meleset. Dan sekarang Myungsoo tengah memberiku sebuah test kecil.

Dia mencondongkan badannya dan menatapku lekat. Seperti itu yang aku rasakan, karena lampu ruangan yang tepat menempel manis di dinding atap sedang memperlihatkan seberapa dekat jarak kami sekarang. Bayangan kepalanya terlihat di buku tulisku dan itu tak sampai beberapa centi dari bayangan kepalaku.

“Apa kau baru menanyakannya sekarang?”

Aku tertawa kecil dan melepas pensil itu diatas meja kemudian mengambil jarak dengannya. Aku menarik diri dan bersandar di kursi, berusaha menjauh dari lelaki itu. Memang hubungan kami sudah dekat, sebatas teman, namun bukan berarti skinship berlaku bagi kami. Bahkan untuk berjalan berdampingan pun kami menjaga jarak kami agar tidak terlalu dekat.

Sengaja aku menjaga jarak dalam hal ini-skinship-karena aku tak ingin orang beranggapan yang aneh-aneh tentang kami. Memang bagi Myungsoo itu hanya biasa, dia terbiasa memperlakukan seorang wanita. Jika hanya sekedar gandeng tangan, bersentuhan tangan, bahu, atau mengusap kepala gadis adalah hal biasa baginya. Namun itu tidak berlaku bagiku. Aku tidak terbiasa. Seumur hidup, aku baru pertama kali berteman hingga sampai berduaan saja dengan seorang lelaki. Dan itu sungguh membuatku canggung.

“Siapa tahu kali ini berbeda.”

Myungsoo mendecis walau sebelah bibirnya terangkat seperti menahan senyum, “Mereka? Semuanya sama saja.”

Dan untuk pertama kalinya, aku tertegun melihat reaksi itu.

Satu pertanyaan yang terlintas di pikiranku. “Apa aku sama seperti mereka juga?”

Hanya saja aku tak berani menanyakannya.

Aku tak ingin berharap lebih. Dan tak ingin merasa sakit yang lebih dalam.

***

Myungsoo menghela nafas berat. Dia terus-terus saja duduk bersandar di kursi kayu beratapkan pohon, kepalanya menengadah, menghadap langit sambil terus menghembuskan nafas dari mulutnya. Aku pun duduk tenang disampingnya sambil memperhatikan sekeliling dengan penuh minat. Memang situasi di Korea dan Jepang tak jauh berbeda, tapi kultur dan adatnya berbeda sehingga aku merasa ada sesuatu yang special dengan keadaan taman itu.

Banyak orang yang berlalu lalang, ada yang tengah mengajak peliharaan mereka jalan-jalan mengelilingi taman, ada juga anak-anak kecil yang bermain, dan juga sepasang kakek-nenek yang duduk sambil menikmati cuaca hari yang bersahabat.

Tapi sepertinya cuaca sekarang sama sekali tidak berlaku bagi Myungsoo.

“Kau tak ingin bertanya kenapa?” tanya Myungsoo yang terlihat tak senang karena aku sama sekali tak bertanya apa pun padahal tingkah laku dan ekspresinya jelas-jelas menunjukkan ekspresi frustasi.

“Aku hanya menunggumu untuk bercerita,” Jawabku sambil memperhatikan sepasang insan itu.

Kembali ia menghela nafas.

“Kim Myung Soo, berhenti mendesah. Cerita saja, aku pasti akan mendengarkannya.” Aku pun menatapnya sekejab untuk memberitahu bahwa aku menanggapinya.

Dan Myungsoo pun mulai bercerita. Selama itu pun aku tetap fokus pada indra pendengarku walau indra penglihatku terus menatap kedua insan yang sudah memiliki rambut putih seutuhnya, saling bergenggaman dan menikmati alam sekitar. Angin berhembus dengan lembut, menggugurkan beberapa daun sehingga pemandangan di depanku ini semakin membuatku terpukau.

“Seulmi, kau mendengarku?” Suara Myungsoo terdengar tak senang ketika melihat aku hanya fokus pada satu pandang.

Aku pun memandangnya untuk memberikan perhatian, “Aku dengar, mantanmu ingin balik denganmu. Lalu?”

Myungsoo mendesah lagi, kemudian melanjutkan ceritanya sementara aku kembali fokus akan dua perihal. Mendengarkan Myungsoo bercerita sambil fokus memandang kedua insan itu. Kadang aku tersenyum kecil melihat pasangan itu. Mereka pasti telah melewati masa yang indah.

“Apa sih yang kau lihat!?” sahut Myungsoo dengan nada kesal sambil mengikuti arah pandangku. Namun seperti tak mengerti apa yang tengah kupandangi, dia kembali menatapku dengan kening berkerut kesal.

Kali ini aku yang mendesah, “Aku mendengarkanmu, Kim Myung Soo. Mereka berkelahi di tepat umum dan membuatmu malu. Oke. Kejadian yang cukup menyenangkan, bukan? Setidaknya itu pelajaran untukmu. Karma karena telah mempermainkan begitu banyak wanita.”

Aku pun menunjuk sepasang insan itu dengan jariku untuk beberap saat, “Lihat mereka.”

Myungsoo mengikuti arah jariku menunjuk dan dia menatapku dengan kening berkerut.

“Kenapa tidak coba untuk mencari satu pasangan saja? Mencoba setia? Mencari soulmate? Kan yang bahagia juga kamu. Daripada kau harus mencari karma baru dan menyakiti hati pada gadis yang berharap tinggi padamu,” lanjutku menasehatinya.

“Kau menasehatiku lagi,” gerutuhnya sambil kembali menatap kedua insan itu. Matanya menerawang untuk sejenak kemudian menjadi penuh emosi di detik selanjutnya.

“Sudahlah… Aku akan memutuskan gadis itu. Imagenya terlanjur rusak dimataku. Mengerikan,” ujarnya sambil mengidikkan badannya.

Mau tak mau aku tertawa. “Imagemu juga terlanjut rusak, Kim Myung Soo. Apa kau tak merasa mantan-mantanmu sekarang membencimu?”

Dia tersenyum setengah, hendak mencibir padaku. “Jangan meremehkan pesona seorang Kim Myung Soo, Yeon-sshi. Mereka hanya menyesal kenapa harus berpisah dariku.” Akunya dan kemudian menekan pipi kananku dengan jari telunjuknya.

Saat itu, waktu seakan berhenti bergerak dan jantungku berhenti berdetak. Suasana sekeliling terasa berhenti begitu saja dan tatapanku terkunci begitu saja pada matanya. Dan untuk pertama kalinya, dia menyentuhku. Tak hitung detik, setelah semua kembali berjalan normal. Aku baru sadar, wajahku memerah dan panas, sedangkan jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Myungsoo yang seperti tersadar akan sentuhan itu kembali menariknya. Wajahnya terlihat salah tingkah waktu melihat wajahku memerah. Ya… Kami bertatapan untuk beberapa detik kemudian membuang muka.

Hari itu… Aku tak berani menatap wajahnya sama sekali.

***

Akan salah jadinya jika aku terus-menerus bertingkah aneh. Dia pasti akan menyadari perasaanku. Demi menutupinya, aku bersedia menatap matanya lurus-lurus dan berlaku seperti biasa. Tak etis jika ia mengetahui perasaanku. Rasanya aku akan menjadi salah satu dari korbannya jika ia mengetahuinya. Dan aku tak ingin. Lebih baik sebatas sekarang saja. Teman.

“Kau pikir pertemanan antara lelaki dan perempuan bisa terjalin?”

Aku menatap keasal suara. Sieren. Memang tak sesering yang kulihat, tapi gadis itu tampat berbeda sekarang. Dengan beberapa bekas tercakar di pipi dan tangannya, juga rambut yang sudah tak terbentuk bagus seperti dulu. Aku yakin, itu adalah hasil dari pertengkaran yang Myungsoo ceritakan kemarin.

“Sieren, ada apa?” tanyaku mencoba untuk berbicara baik-baik dengannya. Dilihat dari aura dan ekspresi wajahnya, aku yakin dia datang bukan dengan maksud damai. Tapi perang.

“Jangan pura-pura!! Perempuan lain itu maksudnya kamu, kan?!!” serunya dengan teriakan yang membahana. Bahkan aku yakin anak suaranya berkontraksi secara kuat untuk mengeluarkan suara itu.

Otomatis suasana kelasku menjadi sunyi dan semua tatapan mata tertuju pada kami berdua. Dan aku benci ini. Aku tak suka menjadi objek perhatian orang. Namun itu tak berlaku ketika aku berada di dekat Myungsoo, walau semua mata tertuju pada kami. Aku tidak peduli, serasa ada pertahanan yang kudapat dengan sendirinya jika berada di dekat lelaki itu. Berbeda dengan sekarang. Sejak pagi aku tak melihat lelaki itu. Jadi aku tak punya tameng.

Aku mencoba untuk tetap tenang dan menunduk minta maaf. Kemudian kembali focus pada gadis yang kacau ini. Sesungguhnya posisiku sekarang sangat tidak memungkinkan, “Sieren-ah, ayo kita bicara diluar saja.”

Sieren mendecis dan mulai bermain kasar padaku. Ia mendorong bahuku dan memandangku dengan tantang. “Yaa, nona manis. Kau benar-benar licik, huh! Pura-pura berteman padahal sudah mengincar. Neo jongmal chi sa hada!”

Tanpa sempat mengelak, gadis itu sekarang menjambak rambutku. Mulai beradu fisik denganku. Situasi yang tentu saja tidak bersahabat lagi untuk bicara baik-baik. Mau tak mau, aku pun hendak melindungi diri. Namun serangan gadis itu benar-benar menggila. Dia bahkan mulai mencakarku dengan kukunya yang entah sudah dicatkan berbahan apa hingga begitu kuat menyakar kulitku. Dengan kuat aku mencoba untuk berlindung dan tak melakukan perlawanan. Jika itu terjadi, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada gadis malang dihadapanku.

“BERHENTI!!!”

Gerakan Sieren terhenti sejenak dan suasana menjadi sunyi senyap. Dan disela-sela kesunyian itu, terdengar langkah kaki yang berderap begitu cepat dan seketika itu juga, Myungsoo mendorong Sieren tanpa berbelas kasih lagi dan menarikku, menjauhi gadis itu. Sekilat dia menatap Sieren geram dan beralih padaku.

Terlihat jelas ia marah.

Membuatku lupa bahwa baru saja ia menggenggam pergelangan tanganku dan menyentuh pipiku yang berwarna merah tergores. Bahkan ia memperbaiki rambutku yang awut-awutan karena hasil karya Sieren.

“Kau…” Myungsoo menatap tajam pada Sieren. Terdengar suaranya tertahan dan menggeram saking marahnya. “Perempuan jalang…”

Aku tercengang mendengar Myungsoo, untuk pertama kalinya, menyebut kata itu pada seorang gadis. Gadis yang baru saja putus dengannya. Tidak… Ini pertama kalinya Myungsoo mengatai seorang gadis.

“Kau pikir dengan begini kau bisa menarik perhatianku lagi, huh? Menjijikan. Prilakumu itu sama sekali tak pantas dengan wajahmu. Dasar busuk. Seharusnya kau yang tahu diri, mengatai orang munafik kau sendiri munafik. Berpura-pura manis didepanku padahal prilakumu itu sama seperti perempuan jalang.” Kepalan ditangan Myungsoo semakin mengerat, seperti menahan diri agar tidak melayangkannya pada gadis itu.

Aku menyentuh lengan Myungsoo dan hendak menghentikan ucapan-ucapan yang tentu saja tak enak untuk didengar. “Myungsoo-ya, keumanhae…”

Mata Sieren terlihat berkaca-kaca dan wajahnya merah padam. Menahan sakit dan malu bersamaan. Siapa yang tidak malu dikatai seperti itu oleh seorang lelaki setelah berkelahi dengan seorang gadis yang bahkan mungkin tak bersalah apa-apa. Jika Myungsoo memperlakukan aku seperti itu, maka aku berharap saat itu juga aku tidak terlahir di dunia. Dari pada menanggung malu yang amat sangat.

“Memangnya siapa yang kau sebut Jalang?! Perempuan itu yang jalang!!” Timpal Sieren tak terima. Teriakannya kembali membahana dan tangannya terangkat menunjukku yang berada di samping Myungsoo.

Myungsoo hendak bergerak maju namun aku menahannya terlebih dahulu. Sieren pun terlihat takut setelah melihat Myungsoo hendak mendekatinya, ucapannya pun terhenti begitu saja setelah melihat reaksi laki-laki itu. Dan kemungkinan yang terjadi berikutnya adalah lelaki itu melayangkan tangannya pada gadis itu.

“Kau jahat!! Kau pikir hanya karena wajahmu itu kau bisa berbangga diri, huh?! Dasar tak berperasaan!! Seharusnya aku percaya kalau orang bilang kau brengsek!!” Setelah berkata demikian, Sieren pun segera berlalu dan meninggalkan suasana yang tak sedap di dalam ruangan.

Walau gadis itu telah pergi, Myungsoo terlihat masih tak bisa menahan emosinya. Rahangnya terlihat mengeras dan kaku, menahan amarah yang amat sangat. Tangannya pun masih terkepal erat hingga menimbulkan efek gemetar. Aku dapat merasakannya lewat sentuhan di lengannya.

“Kau ikut denganku. Sekarang.”

Dalam hitungan detik, belum sempat aku membereskan barangku dengan benar. Lelaki itu sudah merampas semua barang yang tertinggal dan menarikku keluar ruangan. Meninggalkan rasa penasaran yang mencekam oleh banyak orang di dalam ruangan. Namun satu hal yang kuyakini.

Gossip adalah berita yang paling cepat menyebar. Apalagi jika itu bertemakan… Kim Myung Soo. Dan tak usah diragukan lagi, benar atau salah berita yang mereka sebarkan dan dengar, mereka pasti percaya dan penasaran ingin mencari berita lainnya. Seperti wartawan gila berita.

***

Kami tiba di ruang kesehatan setelah lelaki itu memaksaku pergi. Orang-orang yang tak tahu-menahu tentang kejadian di ruangan itu hanya menatap kami dengan pandangan heran, yang biasanya iri. Aku tahu. Bekas cakar di pipiku ini tidak dapat disembunyikan dengan mudah, dan bisa jadi akan berbekas ketika sembuh nanti. Bukan hanya di pipiku saja, tapi ditanganku juga. Mengerikan. Bekas cakarnya bahkan terlihat seperti bekas percobaan bunuh diri di pergelangan tanganku.

“Maaf.”

Untuk pertama kalinya, setelah kejadian itu, Myungsoo kembali angkat bicara. Walau wajahnya belum menampakkan bahwa amarahnya sudah padam. Bahkan ia terlihat lebih kesal lagi ketika mengobati bekas lukaku. Wajahnya terlihat menahan emosi yang amat sangat. Begitu dia selesai, barulah ia angkat bicara.

“Untuk apa kau minta maaf? Ini bukan salahmu.” Aku menarik tanganku dari genggamannya karena merasa tak enak. Aku baru sadar, sepanjang hari ini… kami bersentuhan. Bahkan tadi aku membiarkannya mengobati luka di pipiku.

Dia mengatupkan kedua mulutnya lagi, namun lebih tepatnya ia mengertakkan giginya. Dia terlihat marah.

“Kim Myung Soo. Kau tak usah marah lagi pada gadis itu. Dia hanya salah paham. Lagipula…” Aku menggantung ucapanku. Membiarkan Myungsoo menatapku dengan kekesalan yang mendalam di mimic wajahnya.

Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, Myungsoo kembali menimpal. “Aku bukan marah pada perempuan jalang itu. Bisakah kita tidak membicarakan perempuan itu? Aku muak!”

“Kalau begitu berhentilah memasang wajah mengerikan itu. Kau terlihat menakutkan,” Timpalku balik. Aku mencoba meredam suasana yang tak mengenakkan itu. Dia bisa saja marah-marah tak jelas sepanjang hari kalau aku tak segera mengendalikan suasana.

Namun sepertinya lelaki itu tidak berniat untuk mengakhirinya. Dia masih menatapku tajam dan kesal.

“Apa aku berbuat salah? Kenapa kau menatapku seperti itu?” ujarku kembali berusaha untuk menetralkan.

“Aku tak mengerti,” sahutnya setelah berlama-lama berdiam diri. Dialihkan pandangannya keluar jendela dan bangkit dari hadapanku. Ia meletakkan kotak P3K yang dipakainya tadi ke tempatnya semula dan duduk di meja, yang berada cukup jauh dariku.

Aku menatapnya yang sekarang tengah menatapku dengan tajam. Menunggu lanjutan perkataannya.

“Apa yang kulakukan tadi?” tanyanya yang lebih terdengar seperti refleksi untuk diri sendiri. Karena ia bergumam dan tak menatapku ketika mengatakannya.

Suasana pun kembali senyap. Lelaki itu sibuk dengan dunianya sendiri dan membiarkanku dilandah rasa penasaran. Memangnya apa yang dia lakukan tadi? Dia menolongku, kan? Atau?

Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Menolongku? Benarkah? Tanpa pikir panjang dia langsung menghampiriku dan membentak Sieren. Benar… Dia menolongku. Tapi… Kenapa ia terlihat… menyesal? Bahkan menggumamkan hal seperti itu.

Rasanya hatiku menjadi sakit begitu saja setelah menyadarinya. Segera kupalingkan pandanganku dan menahan air mata yang entah kenapa mulai menggenangi mataku begitu saja. Apa pengaruh lelaki itu begitu berdampak besar padaku? Hanya karena itu?

Adalah waktu yang menyadarkanku dari keterpakuan. Mataku menatap jam yang bersandar manis di dinding dan menunjukkan bahwa sudah waktunya untuk pelajaran berikutnya. Dengan segera, aku membereskan barang-barang yang belum sempat kubereskan tadi dan melangkah keluar.

“Aku ada jam sehabis ini,” sahutku menjawab pertanyaan yang dilontarkan Myungsoo secara lisan dari ekspresi wajahnya. “Terima kasih… Sudah mengobatiku.”

Sengaja aku tidak berkata menolongku. Aku rasa… Tidak ingin mengingatnya saja.

***

Seperti yang diperkirakan… Gosip itu gampang menyebar dan menghipnotis siapa pun yang mendengarnya. Tak peduli salah atau benar, mereka men-judge yang menjadi tersangkah. Dan itu berdampak besar bagiku. Tuduhan yang Sieren berikan padaku lebih mereka utamakan. Ya… Orang-orang mulai menatapku dengan tatapan sinis dan juga jijik. Ada yang terang-terangan menyindirku. Haah~ Seharusnya memang aku tahu diri. Tahu diri karena aku sama sekali tidak pantas untuk lelaki itu.

Bahkan untuk hari kedepannya, aku harus menjaga jarakku dengan Myungsoo untuk meredupkan gossip itu. Percaya atau tidak. Myungsoo pun menjauhiku. Dia memberikan ruang bagiku. Aku mengatakannya dengan jelas bahwa aku menginginkan jarak karena merasa tak enak. Apalagi lelaki itu sekarang berstatus Single. Oke… Ingat itu. Single.

Dia lowong sekarang. Dan para gadis-gadis yang selalu mengekor dibelakangnya kini semakin beringas. Mencari kesempatan dalam kesempatan. Mengambil keuntungan dari keuntungan. Double paket. Tentu saja. Selain karena Myungsoo tak perlu dekat lagi denganku, mereka bisa mendapatkan lelaki itu. Setelah beberapa hari lewat, kembali lelaki itu menggandeng seorang perempuan yang masih dengan tipikal gadis bonekanya.

Kali ini seorang model.

Satu Jurusan denganku hanya berbeda angkatan. Seorang sunbae 3 tahun diatasku. Jadi… Untuk pertama kalinya aku melihat jelas kemesraan Myungsoo pada gadis-gadis yang menjadi korbannya. Biasa aku hanya mendengar cerita atau kadang hanya melihat sepintas mereka berjalan bersama. Namun apa yang kulihat sekarang benar-benar nyata dan menyakitkan. Begitu menusuk.

Aku tak tahu… Sejak kapan aku menjadi begitu cemburu. Dan semakin terpuruk akan kenyataan. Aku sama sekali tidak pantas untuknya. Kebetulan saja… aku bisa dekat dengannya.

***

“Lama tak jumpa, Yeon-sshi. Senang menghindariku?”

Sapa pertama yang dikeluarkan oleh mulut lelaki itu selalu saja sinis. Aku hanya meringis dan tersenyum kaku padanya. Dia berjalan menuju tempatku duduk, duduk didepanku seperti biasa ketika ia hendak mengajariku sesuatu dan meletakkan beberapa buku yang tebal ke atas meja.

“Senang bertemu denganmu lagi, Kim Myung Soo. Senang menyindirku?” Balasku tak mau kalah.

Setelah beberapa minggu terlewatkan, gossip itu menghilang bagai ditelan bumi semenjak hubungan Myungsoo dengan model itu menyebar. Ada yang berbeda dari cara Myungsoo berkencan kali ini. Entah apa, tapi aku merasa ada yang berbeda. Lelaki itu terlihat begitu berbeda sekarang.

“Ya. Sangat. Akhirnya gossip itu menghilang, huh? Apa masih berniat menjaga jarak denganku?”

Aku terdiam sejenak. Berdeham sejenak dan mengambil beberapa buku yang Myungsoo letakkan tadi. Aku sedikit merasa tidak enak dengan nada lelaki itu bicara. “Sepertinya. Aku tak ingin dijadikan bahan gossip lagi. Bisa-bisa aku mendapat bekas luka baru,” Ujarku sambil menunjuk luka di pergelangan tanganku yang berbekas.

Dia menengadah dari buku-buku tebal itu dan melihat bekas luka itu. “Di pipimu?” tanyanya sambil menunjuk pipinya sendiri.

“Selamat berkat krim wajah yang kupakai. Tidak berbekas,” jawabku sambil menunjuk pipiku yang kembali mulus.

Setelah percakapan pendek itu, Myungsoo tak berlama-lama lagi dan masuk pada pembahasan baru. Memang aku sudah bisa berbahasa korea dengan lancar, hanya saja kadang penyebutan dan penggunaan kataku sedikit salah hingga kadang harus diperbaiki. Bukan hanya itu saja, kadang aku salah menuliskan aksara korea karena penyebutan bahasa mereka yang lumayan sulit.

Pembelajaran kami berhenti ditengah-tengah karena handphone Myungsoo berbunyi. Dia meminta waktu sebentar untuk mengangkat telepon itu. Sepertinya itu dari pacarnya. Terlihat jelas dari caranya mengangkat telepon dan bersuara. Begitu selesai, dia menyimpan kembali handphonenya dan focus pada pengajaran.

Hanya saja, aku tidak lagi bisa konsen. Percakapannya tadi benar-benar mengusik pikiranku. Mereka seperti sepasang suami-istri yang tak ingin terpisahkan. Apa memang begitu caranya berhubungan dengan semua gadis selama ini? Dia hanya bercerita apa yang ia alami namun tak pernah menceritakannya secara spesifik, bagaimana ia memperlakukan mereka. Apa ia pernah memeluk mereka, atau apa mereka sering berciuman. Dan… Melakukan hal lainnya.

“Kelihatannya kalian sangat mesra,” sahutku membuat Myungsoo terdiam sejenak. Ia pun terlihat berhenti bergerak untuk beberapa saat kemudian menatapku dengan tatapan yang sulit untuk diungkapkan. Ia terlihat seperti… takjub.

“Benarkah?” tanyanya dengan nada yang kali ini terdengar sangat senang.

Sekarang aku yang terdiam sejenak. Benarkah? Haruskah kau menanyakan hal itu dengan ekspresi yang begitu membahagiakan. Tidakkah kau sadar aku tersakiti karena itu?

Kubuang jauh-jauh pikiranku dan perasaanku yang tiba-tiba menyusup, membuatku begitu menyedihkan. Aku sudah berjanji padaku untuk tidak mengharapkan apa-apa dari hubungan ini. Hanya sebatas teman dan tidak special.

Aku menganggukkan kepalaku dan berusaha mengganti topic sebelum lelaki itu hendak menceritakan kisah cintanya itu padaku. Namun sepertinya aku tidak berhasil, sekarang kegiatan belajar kami berganti menjadi kegiatan curhat dari Myungsoo. Aku pun mendengarnya dengan setia walau memang sedikit mustahil untuk tetap focus pada ceritanya, karena aku berusaha keras untuk tidak menunjukkan perasaanku. Dan itu sangat sulit.

“Dia berbeda.”

Myungsoo mengakhiri ceritanya dengan penutupan yang sangat bagus. “Dia berbeda?” Tanpa sadar aku mengulang apa yang ia katakan.

“Ya… Sepertinya aku memang harus mendengar nasehatmu kali ini. Mencari Soulmate.” Dia tertawa kecil, “Aku akan mencoba setia.”

Kau tahu… Ucapan itu terasa seperti… Matahari yang tiba-tiba menghilang dari muka bumi ini ketika waktu sudah menunjukkan hari sudah petang. Apa kau bisa membayangkan bumi tanpa matahari? Mungkin ini terlalu melebih-lebihkan, tapi… Itu yang kurasakan sekarang.

Aku mencoba untuk mengukir senyum mengejek, “Selamat, sunbae itu berhasil mengubah serigala menjadi anjing manis. Chukkahae.”

Kim Myung Soo mendelik padaku, “Yaa! Kau pikir aku ini binatang, huh?!” Timpalnya dengan kesal dan ditanggapi olehku dengan tawa palsu yang berlapiskan air mata. Tawa yang dibuat-buat.

“Aigo~~ Lucu sekali, aku sampai mengeluarkan air mata. Hahaha!!”

“Tidak ada yang lucu, Yeon-sshi.”

Ya… Tidak ada yang lucu, Kim Myung Soo. Hanya saja aku harus menutupi rasa sakit ini. Kenyataan bahwa lelaki itu rela berubah demi gadis itu. Haah… apa yang kuharapkan? Aku hanya temannya.

***

Aku disini untuk apa?

Itu pertanyaan yang sedang berkecambung diotakku sekarang.

“Ya, Myungsoo-sshi, bukan begitu caranya.”

Suara halus dan jernih itu terdengar kesal dibuatnya. Disusul dengan suara tawa dari lelaki itu, seperti sengaja membuat gadis itu kesal dan ingin menggodanya lebih lanjut lagi. Keduanya sibuk dalam dunia mereka tanpa memperdulikan sekeliling. Begitu juga denganku.

Aku mencoba untuk tidak memperdulikan mereka dan memandangi sepasang insan yang dulu pernah kulihat. Mereka duduk disana, bergandengan tangan, dan menikmati hari yang begitu indah untuk mereka. Namun kali ini mereka ditemani oleh cucu mereka. Yang satu perempuan dan yang satu laki-laki.

Kedua anak kecil itu tengah bermain kejar-kejaran dengan anak-anak yang lain dan tertawa riang, memandang hidup itu dengan mata mereka yang polos. Tanpa sadar, aku kembali rindu dengan masa itu. Mengharapkan agar aku tetap menjadi anak kecil dan memandang dunia yang luas ini dengan begitu naïf. Ya… Tidak perlu merasa sakit yang tengah kurasakan sekarang.

“Seulmi-sshi,” Suara itu kembali menyapa indra pendengaranku. Mengelitik hatiku untuk menghadap.

“Ya?” sahutku menatap mata gadis itu langsung.

Gadis itu menyerahkan sebuah kotak makan yang berisikan beberapa potong makanan korea. Aku tak tahu jelas tentang wisata kuliner korea, dan aku tidak peduli. Karena aku sama sekali tidak tahu memasak.

“Ini Kimchi dan ini Kimbap,” jelas Hyera sambil menunjuknya satu per satu menggunakan sumpit.

“Cobalah. Hyera yang membuatnya,” Sahut Myungsoo tiba-tiba menimpal.

Mataku membesar dan menatap Hyera tak percaya. “Kau? Memasaknya?” ujarku tanpa malu-malu mengungkapnya. Bukan merendahkan, tapi aku tak pernah membayangkan seorang model… Memasak. Mau tak mau, wajahku menjadi merah padam karena merasa malu dengan diriku sendiri.

“Ah… Nee,” jawabnya dengan wajah yang malu-malu. Cepat-cepat ia mengambil sebuah sumpit yang masih berlapiskan plastic dan menyerahkannya padaku. Aku mengambilnya dengan ragu-ragu dan membukanya.

Tanpa percakapan lagi, aku mengambil kimchi dan kimbap kemudian menarunya di papercup yang sudah disediakan oleh Hyera juga. Aku jadi sedikit mengerti, kenapa kali ini Myungsoo mengatakan gadis ini berbeda.

“Bagaimana?” tanyanya dengan was-was, begitu aku memasukkan kimchi yang berlapiskan daun selada itu ke dalam mulutku. Rasa asam, asin dan pedas menguasai mulutku dengan beragam. Sebelumnya aku tak pernah merasakan makanan ini. Dan aku juga sedikit ragu untuk merasakannya karena warnanya yang merah menyala. Kupikir rasanya akan sangat pedas dan aku tak terbiasa memakan yang pedas-pedas.

“Enak?” tanyanya sekali lagi.

Aku tak tahu rasa aslinya yang bagaimana, tapi sejauh ini. Makanan ini cocok dengan lidahku. “Enak. Aku belum pernah merasakan Kimchi sebelumnya, tapi ini enak. Apa ini semacam asinan?” Aku menanggapi pertanyaannya.

Dan aku pun larut dalam percakapan tentang kuliner wisata korea. Myungsoo pun ikut menimpal dan antusias. Walau kadang dia mengejekku karena tak pernah merasakan makanan korea setelah satu tahun berada di negeri gingseng ini. Hingga tanpa sadar lelaki itu berhasil menguasai pembicaraan.

Waktu pun berlalu dengan cepat, membuat Hyera harus pergi. Karena ada jadwal sehabis ini. Myungsoo mengantarnya dan meninggalkanku sendiri di sini. Sebelumnya ia berjanji akan kembali kesini dan mengantarku pulang. Karena ia yang mengajakku ikut, maka ia pun yang akan bertanggung jawab mengantarku pulang. Lelaki itu selalu seperti itu. Tak heran banyak gadis yang jatuh hati padanya. Begitu juga denganku.

Aku memandang kedua sosok itu dengan mata menerawang. Mereka terlihat sangat serasi berjalan berdampingan seperti itu. Rangkulan Hyera di lengan Myungsoo pun menambah rasa iri yang luar biasa bagi siapa pun yang melihatnya. Sepertiku sekarang. Aku dan Myungsoo bahkan tak pernah bergandengan sebelumnya.

Ah… Aku mengharapkannya lagi. Sadarlah, Yeon Seul Mi. Yang menjaga jarak itu adalah kau sendiri. Kenapa kau mengharapkan lebih?

***

Tanpa terasa, aku telah menunggu hingga matahari setengah terbenam dan membuat langit berubah warna menjadi jingga. Sebagian besar orang sudah mulai meninggalkan taman, begitu juga dengan kedua insan itu. Mereka memanggil kedua cucunya dan membereskan peralatan yang mereka bawa. Tepat saat itu, Myungsoo muncul dari belakang dan mengagetkanku.

“Yaa!!” Protesku setelah ia berhasil membuat jantungku berdetak tak normal.

Mengabaikan teriakanku, ia tertawa kemudian duduk di sebelahku dan menatap kejauhan. Mengamati kedua insan itu juga.

“Sepertinya kau sangat menyukai pasangan itu,” sahutnya setelah kedua insan itu, dengan masing-masing menggandeng cucu mereka, berjalan meninggalkan taman yang sekarang sudah kosong. Tertinggal kami saja yang ada.

“Ya…” jawabku seadanya.

Kembali terdiam.

Udara segar kembali berhembus, menerbangkan dedaunan yang ada dan menyebarkan bau harum dari beberapa jenis bunga yang ditanam. Terdengar juga desiran daun yang saling menyahut satu sama lain. Mataku menatap sekitar untuk mengusir rasa canggungku.

“Kalian sangat serasi,” sahutku mengusir dunia sunyi yang tercipta antara kami berdua.

Myungsoo menatapku dan memandang ke tempat lain detik berikutnya. “Thanks,” jawabnya. Ekspresi yang ditunjukkan begitu tak terbaca.

“Kau benar. Dia berbeda dari gadis selama ini kau kencani. Tak heran kau berniat untuk setia,” Aku tersenyum penuh maksud padanya, berniat untuk menyindirnya. Myungsoo pun hanya menanggapinya dengan senyum setengah andalannya. “Dia juga pintar memasak.”

“Tentu saja. Seorang gadis apa pun pekerjaannya harus pintar memasak,”

Aku terdiam, merasa tersindir. “Aku tidak tahu memasak.”

Myungsoo kembali menatapku kemudian tertawa mengejek, “Memangnya apa yang kau tahu, huh?”

Mau tak mau, hatiku sakit juga mendengarnya. Tanpa sadar, sisi sensitifku sudah tersentuh. “… Benar… Aku memang tak tahu apa-apa.” Dan tidak memiliki apa-apa untuk membandingkan diriku dengan Hyera.

Seperti tahu ucapannya telah menyindirku, Myungsoo berhenti tertawa dan menatapku lagi. “Yaa, aku hanya bercanda. Tak usah ditanggapi seserius itu.”

Aku menundukkan kepala, menyembunyikan emosiku.

“Yaa, Yeon Seul Mi.”

Tanpa menanggapinya lagi aku bangkit berdiri dan berjalan. Berjalan cepat menghindari lelaki itu. Tangisku bisa saja meledak begitu saja didepannya. Menangisi kebodohanku sendiri. Berduaan dengan lelaki itu semakin membuatku takut. Takut akan perasaanku yang semakin menggila.

Tak hitung detik, lelaki itu menghentikan langkahku. Dia menggenggam pergelangan tanganku dan bersuara dengan khawatir, “Maaf. Aku tidak bermaksud.”

Aku terdiam untuk waktu yang lama dan tetap menunduk. Seketika tubuhku gemetar hebat, membuat pundakku ikut berguncang pelan.

“Seulmi? Aku minta maaf. Aku-”

Seperti sihir, ya, seperti sihir. Aku mengangkat kepalaku, menatapnya jahil dan tersenyum mengejek, “Kena kau!” Tawaku meledak begitu saja dan melepas genggamannya. “Astaga~ Ada apa dengan wajahmu itu, Kim Myung Soo? Haha! Aku berhasil! Kau terkecoh!”

Sudah cukup, aku ingin berhenti.

“Yaa!! Neo! Neo jinjja!! Jangan tertawa! Kau pikir ini lucu, huh?!”

Hatiku sudah sampai pada titik dimana keterpurukanku ini tak dapat kutanggung lagi. Dadaku sesak menahan air mata yang tak bisa kukeluarkan begitu saja. Menahan sakit yang tak kunjung berhenti.

“Sangat. Astaga, seharusnya aku memotret ekspresimu. Hyera pasti akan tertawa melihatnya.”

“Yeon Seul Mi!!”

Selamat tinggal. Cinta tak tersampaikan.

1/2 Ended

10 thoughts on “[FF Freelance] A Person Like Me (Part 1)

  1. Annyeong aku reader baru , salam kenal ^^
    baca ff ini bikin terharu sama nyesek ..
    kassian banget nih sama si seulmi ..
    lanjut ya ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s