When A Love Kills (Part 3)

Image

Title : When A Love Kills

Author : Hyorenji

Casts : Hwang Chansung of 2PM, Ahn Hyora (OC)

Support Casts : Jung Jinyoung of B1A4,  Lauren Hanna Lunde as Choi Hanna, Park Jinyoung (JYP) as… (?)

Length : Series

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : I do not own the casts, and the plot is pure from my imagination. This Fic hasn’t been posted anywhere. The poster was made by me.

Prolog Part1 Part2

“Maafkan aku, Oppa. Ini salahku. Kalau saja aku tidak…”

“..Bukan, ini bukan salahmu.”

“Ini salahku, oppa.”

“Bukan.”

“Ini salahku.”

“Hh..” Chansung mendesah kesal sambil menatap tajam Hyora yang sejak tadi sibuk mengatakan terjebaknya mereka berdua di depan supermarket tutup di tengah hujan adalah salahnya. “Baik, baik. Ini salahmu.” Tak mau berdebat lagi akhirnya Chansung memilih untuk menyetujui argumen Hyora.

“Iya.. tapi..” Hyora balas menatap Chansung sambil merapatkan kakinya demi mengusir hawa dingin yang sejak tadi mengusik. “..dipikir-pikir ini tidak sepenuhnya salahku. Salahku adalah mengikutimu ke supermarket. Tapi kalau kau tadi tidak meninggalkanku pasti kita sudah pulang ke aparte sebelum hujan turun. Dan salahmu lagi kenapa kau tidak mengisi bensin? Ah, ada lagi! Bagaimana bisa kau menghabiskan baterai ponselmu sampai-sampai kita tak bisa menghubungi Mirae halmeoni? Jadi dipikir-pikir salahku hanya satu, sementara salahmu ada tiga. Jadi kau yang lebih pantas disebut bersalah daripada aku.”

Chansung mencoba mengacuhkan gadis yang mengoceh panjang disampingnya itu. Ia tak peduli apapun yang dikatakan gadis itu, karena terjebak berdua dengan gadis—yang ternyata cerewet ini—selama lima belas menit sudah cukup menyiksa kuping dan otaknya. Ia berharap hujan segera berhenti dan ia bisa segera pergi ke pom bensin terdekat.

Chansung mau saja menerobos hujan—ia memikirkan ide itu dua belas menit yang lalu—tapi gadis di sampingnya ini menolak untuk ditinggal sendirian dan jika dia ikut berhujan-hujan ria dengan Chansung yang harus mendorong sepeda motor sportnya, Chansung yakin itu akan sangat berbahaya.

“Geundae, oppa.. Bajumu basah. Apa kau tidak kedinginan?” Hyora melontarkan pertanyaan yang sangat bodoh.

“Menurutmu?” Chansung menjawab dengan sebuah balasan pertanyaan yang langsung membuat Hyora bungkam.

Hyora kemudian merogoh-rogoh plastik belanjaannya dan kemudian menghela nafas lega ketika menemukan sebuah baju handuk berwarna pink yang baru saja tadi dibelinya. Ia menyerahkan itu pada Chansung dengan takut-takut, dan tepat seperti dugaannya Chansung langsung melayangkan tatapan tajam ke arahnya.

“Hmm.. Baju handuk ini lumayan tebal, dan.. kau bisa memakainya sementara kita menunggu bajumu kering. Daripada kau terus-terusan memakai baju basahmu itu, kau bisa..sakit. Iya, kan?”

Chansung mengalihkan pandangannya dari Hyora. Makin lama gadis disampingnya ini makin terlihat gila. Namun ia tahu seberapapun kuat dan hebatnya ia, rasa dingin yang makin lama makin menusuk mulai mengganggu dirinya. Bukan sekali dua kali ia bersin.

Hyora kemudian mengutak-atik kembali plastik belanjaannya dan menemukan sebuah kotak berukuran sedang. Chansung bertanya-tanya dalam hati barang aneh apa lagi yang akan dikeluarkan gadis ini.

“Jjaaan! Kipas angin praktis!” Hyora memamerkan isi kotak itu yang ternyata kipas angin kecil berbentuk doraemon dengan berlagak bangga seperti karakter itu saat menunjukkan barang dari masa depan. “Hanya dinyalakan seperti ini.. Nah, menyala kan? Katanya kipas angin ini bisa tahan selama tiga jam!”

“Lalu?” Chansung bertanya dengan alis tertaut. Apa maksud gadis ini memamerkan kipas angin itu?

“Kau ini bodoh atau apa?” Hyora mendekati Chansung lalu menyodorkan kipas anginnya kearah kemeja Chansung. “Lihat, aku bisa mengeringkan kemejamu dengan ini!”

Chansung ingin menangis karena kasihan pada gadis ini, darimana ia mendapat ide gila dan konyol seperti itu?

“Dengar. Aku… HUATCHIIIM!!”

“Pfft.. Pffftttt..”

Chansung melirik kesal pada Hyora yang sejak tadi menahan tawanya. Ia menghela nafas sambil menatap dirinya sendiri. Ia agak menyesal kenapa tadi ia mau mengikuti ide konyol Hyora. Jadinya sekarang ia memakai baju handuk pink—yang ternyata memiliki gambar babi-babi kecil di bagian bahunya—itu sementara Hyora mengeringkan bajunya dengan kipas elektrik kecil yang tampaknya akan mati kehabisan energi beberapa menit lagi.

“Ber.hen.ti..ter.ta.wa.” Perintah Chansung sambil menekankan setiap suku katanya, menunjukkan bahwa ia benar-benar bermaksud untuk menyuruh Hyora diam.

“Aku..pfft..tidak..pfftt..tidak terta…Puhahahahahahahahahaha!” akhirnya Hyora tak mampu lagi menahan tawanya. Ia tidak menyangka Chansung benar-benar terlihat lucu dan bodoh dalam balutan baju handuk bermotif babi itu. Ia sudah menyangka Chansung akan terlihat lucu, tapi tidak selucu itu!

Chansung ingin saja melepas baju handuk itu saat itu juga tapi ia tahu Hyora takkan mengembalikan kemejanya padanya sebelum kemeja itu kering. Dan tidak memakai baju di suasana sedingin itu adalah ide yang benar-benar non sense.

Mencoba menahan kesabaran, Chansung menarik nafas berulang kali. Ia mencoba menghiraukan suara tawa Hyora yang meledak-ledak sebisa mungkin. Walaupun rasanya mustahil untuk tak mendengar suara sebesar tawa anak itu. Ia mencoba mensugesti dirinya sendiri sambil menutup mata.

“Sabar, Hwang Chansung. Paling tidak tak ada orang yang melihatmu seperti ini. Paling tidak..”

“..Oppa! Ada mobil mendekat!” tiba-tiba Hyora berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah sebuah mobil putih yang tampak memasuki daerah supermarket.

“Tunggu..Mobil itu tampak.. famili..ar?”

Chansung kemudian tercekat setelah ia ingat dimana ia pernah melihat mobil itu dan siapa pemiliknya. Di tempat parkir aparte, dan pemiliknya..

“Hyora-sshi!” pemilik mobil itu membuka kaca mobilnya dan berteriak sambil terus mendekat. “Hyora-sshi! Ternyata kau disini. Dan..”

Chansung mencoba menutup wajahnya dan memalingkan muka. Tak ada waktu untuk kabur. Tak ada.

“Chansung..hyung?….CHANSUNG HYUNG!?!?!!”

Chansung membanting pintu apartenya keras sambil mencoba menghiraukan suara tawa Hyora dan Jinyoung diluar apartenya. Siapa yang menyangka Jinyoung sok perhatian dengan  mencarinya dan Hyora yang tak pulang sejak siang? Dan bagaimana bisa semua terjadi begitu kebetulan? Di saat dia memakai baju handuk memalukan itu?

“Aish!” Chansung segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia tak henti-henti berteriak kesal untuk meluapkan amarahnya pada Hyora. Gadis itu baru dikenalnya beberapa jam tapi dia sudah memberikan Chansung pengalaman paling memalukan dalam hidupnya semenjak 11 Februari 1990 dimana ia pertama kali dilahirkan.

“Ahn Hyora. Awas saja. Kau akan mendapat balasannya!”

“Hahahaha.. Dia sepertinya benar-benar marah! Hahahaha..” Hyora memegangi perutnya yang mulai terasa sakit akibat terlalu banyak tertawa setelah melihat Chansung menutup pintunya dengan kasar.

“Benar. Hahahaha.. ya mau bagaimana lagi? Dia memang terlihat lucu!” Jinyoung tertawa tak kalah kerasnya.

“Aigoo..” Hyora menghapus air mata yang muncul di sudut matanya. Dia tertawa hingga menangis! Ia kemudian membuka pintu apartenya. “Haha..Jinyoung-sshi aku masuk dulu. Ah, omong-omong aku belum mengucapkan terima kasih padamu. Kalau kau tidak datang, aku tidak tahu sampai kapan aku dan Chansung oppa akan bertahan di depan supermarket itu. Gomawo, Jinyoung-sshi..”

“Sama-sama.. Ah, tapi kenapa kau memanggilku dengan panggilan –sshi? Sementara kau memanggil Chansung hyung yang hanya setahun lebih tua dariku dengan panggilan oppa.”

Hyora membelalak kaget. “Chansung oppa.. hanya berbeda setahun darimu?! Kau lahir tahun berapa, Jinyoung-sshi?”

“Sembilan satu,” jawab Jinyoung.

“Astaga! Kupikir kau seumuran denganku. Maafkan aku, mulai sekarang aku juga akan memanggilmu dengan panggilan oppa. Jwesonghamnida, Jinyoung oppa.” Kata Hyora dengan nada menyesal.

“Tidak apa-apa.” Jinyoung menjawab dengan senyum. “Aku senang kau menganggapku muda. Hahaha..”

Hyora tersenyum dan mengangguk malu. Kemudian ia teringat akan sesuatu.

“Oppa, sebenarnya apa pekerjaan Chansung oppa?”

“Hmm..” Jinyoung tampak mengingat-ingat sejenak. “Seingatku.. halmeoni bilang dia adalah instruktur taekwondo di Seoul daehakkyo di beberapa hari tertentu. Entahlah, tapi uang Chansung hyung sangat banyak! Dan dari rumor yang kudengar, untuk menambah penghasilannya kadang dia sering ikut balapan liar. Juga katanya ia kadang jadi stuntman.”

Hyora mengangguk-angguk mengerti. Ia tak menyangka Chansung adalah instruktur di universitas yang akan dimasukinya bulan depan. Tapi rumor tentang stuntman dan balapan liar tampaknya tak begitu mengejutkan Hyora, malah ia menganggap itu adalah jawaban atas pertanyaannya tadi : kenapa di punggung Chansung ada banyak luka?

Chansung mengeringkan badannya sambil menghadap cermin kamarnya. Ia berbalik sedikit dan menatap luka di punggungnya lewat cermin. Ia berharap Hyora tak melihat punggungnya tadi saat ia membuka kemejanya. Karena ia tak ingin si cerewet Hyora bertanya ini itu karena melihatnya. Banyak terdapat luka disitu—setiap luka memiliki ceritanya masing-masing, begitu menurut Chansung. Termasuk sebuah luka yang mengingatkannya pada kejadian tujuh tahun lalu. Saat ia pertama kali bertemu dengan ‘bos’.

Flashback, 2006

“Brengs*k! Sudah kubilang kan hari ini batas terakhir pembayaran hutang orangtuamu?!”

Chansung hanya bisa terdiam saat sekelompok penagih hutang itu mendatangi rumahnya lagi. Sejak kepergian kedua orangtuanya untuk selama-lamanya dua minggu lalu, satu persatu masalah mulai mendatangi Chansung. Ia harus menanggung kenyataan bahwa orangtuanya berhutang sangat banyak pada rentenir untuk membiayai Chansung dan hyungnya selama ini. Apalagi sejak hyungnya divonis mengidap kanker  dan harus dirawat di rumah sakit dengan biaya yang sangat besar.

Sekelompok orang-orang itu mengobrak-abrik seisi rumah Chansung. Chansung hanya terdiam, tak mampu melakukan apapun apalagi melawan. Namun saat salah seorang dari mereka menghancurkan pigura berisi foto-foto Chansung dengan orangtua dan hyungnya, Chansung tak dapat memikirkan apapun selain menghajar orang itu. Ia memukul orang itu tanpa kemampuan apapun, dan karenanya orang itu melawan dengan menumbuk wajah Chansung kuat hingga ia tersungkur.

“Sialan! Beraninya kau, anak bodoh!”

Chansung kemudian menerima perlakukan keras dari orang-orang itu. Ia menerima pukulan, tendangan, dan apapun yang bisa dilakukan terhadapnya tanpa bisa berkutik. Ia merasa ia akan mati saat itu, saat ia dihajar habis-habisan. Namun tiba-tiba mereka berhenti saat mendengar suara seorang pria.

“Aku akan melunasi hutang ayah anak ini. Lepaskan dia.”

Sekelompok debt collector itu kemudian pergi setelah menerima sebuah koper berisi uang dari pria asing itu.

Pria itu berjalan mendekati Chansung yang hanya bisa tertelungkup lemah dengan semua luka yang ada di tubuhnya itu.

“Kasihan, kasihan..” pria itu mengelus rambut Chansung.

“Kau…sia..pa?”

“Aku teman dekat ayahmu saat SMP hingga sekarang. Namaku Park Jinyoung.” Pria itu tersenyum sambil mengelus lagi rambut Chansung. “Aku tahu sekarang hidupmu sangat berat. Tapi aku akan membantumu. Asalkan..kau juga mau membantuku.”

Flashback ends

Pagi Chansung terusik dengan dentingan bel yang memaksanya untuk bangun dari tidurnya. Sudah jam enam memang, tapi bukan berarti ia harus bangun sementara ia memiliki banyak waktu kosong untuk tidur sepuasnya.

“Gut moning, oppa!”

Chansung hanya bisa mendesah pasrah saat tahu siapa yang mengganggunya sepagi itu. Yah, siapa lagi?

“Mau apa?” tanya Chansung malas.

Hyora yang berpakaian cukup rapi itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyerahkannya pada Chansung. Secarik kertas berisi nama daerah.. sepertinya sebuah alamat.

“Oppa kau tahu daerah kompleks ini?”

Mata Chansung kemudian membelalak setelah ia melihat nama kompleks yang ada di daerah Jamsil itu. Kompleks Luxury Hills, yang menjadi tempat tinggal tetap bosnya alias Park Jinyoung.

“Kau mau ke tempat ini? Untuk apa?”

Chansung sempat menduga Hyora mengetahui tentang urusan pekerjaannya dengan Park Jinyoung atau semacamnya. Tapi dugaannya kemudian tidak terbukti.

“Aku mencari pekerjaan di internet untuk mengisi waktu luangku selama menunggu kuliah. Jadi ada pekerjaan yang menggiurkan, dengan bayaran yang cukup mahal. Dan aku harus pergi ke kompleks ini untuk mendapat pekerjaan itu.”

Chansung kemudian menghela nafas lega. Ternyata hanya untuk itu. Chansung ingin menanyakan pekerjaan apa yang bisa dilakukan gadis ini namun ia mengurungkan niatnya.

“Kau naik subway saja tujuan Jamsil, lalu kau cari taksi saja. Atau kalau kau mau hemat, kau bisa naik bus berwarna kuning, kemudian turun di halte di depan kompleks ini. Tapi..ini kompleks yang besar, jadi kau tidak akan capek jika kau naik taksi.”

“Whoa, oppa!”

Pekikan kagum dari Hyora kemudian membuat Chansung khawatir. Apa dia mengatakan alamat itu dengan terlalu jelas? Ia mencoba menyiapkan alasan kenapa ia bisa tahu cara kesana dengan sangat detail jika Hyora menanyakan itu padanya.

“Aku tidak menyangka..” Hyora perlahan tersenyum-senyum sendiri. “..ternyata..KAU SANGAT PERHATIAN PADAKUUU! KAU BAHKAN KHAWATIR AKU AKAN CAPEK! GOMAWO, OPPA!!!”

Satu jam semenjak Hyora mengganggunya berlalu, dan tiba-tiba bel aparte Chansung berdenting lagi. Chansung sempat bersyukur dalam hati karena ia menyangka itu bukanlah Hyora. Pekerjaan apa yang dapat selesai secepat itu?

“Annyeong haseyo, joneun Choi Hanna imnida!”

Chansung hanya bisa terpaku saat ia melihat seorang anak kecil berambut panjang berdiri di hadapannya sekarang. Siapa lagi ini? Seingatnya ia tak pernah berbuat aneh-aneh dengan siapapun dan itu berarti tak mungkin anak ini datang kemari dan mengakui bahwa Chansung adalah ayah biologisnya atau semacamnya.

“Jjaaan! Oppa, anak ini imut sekali bukan?” Dan..yah. Hyora ada di balik semua ini.

“Seingatku.. kau bilang akan bekerja? Dan kenapa kau malah membawa anak kecil ini?” Chansung memijit-mijit pelipisnya sendiri, berharap sakit di kepalanya akan hilang.

“Ya ini pekerjaanku!” Hyora menggendong anak kecil cantik itu sambil mengelus-elus kepalanya. “Aku akan jadi pengasuh anak ini mulai jam setengah sembilan pagi sampai jam sembilan malam. Dan aku bisa membawanya pulang ke aparte atau kemanapun. Menyenangkan sekali, kan? Hahaha..” Hyora tertawa senang, sementara Hanna memandanginya bingung dan malah ikut tertawa.

Chansung menutup pintunya dan menyandarkan punggungnya di pintu itu. Ia menjambak-jambak rambutnya sendiri dan berteriak kesal. Sepertinya hidupnya akan semakin rumit dengan keberadaan Hyora ditambah anak itu.

Tbc

10 thoughts on “When A Love Kills (Part 3)

  1. waaahh,bener2 cepet nih part 3 nyaa
    kayaknya chansung bener2 frustasi
    good thor!! Ditunggu next part yaa xD

  2. Kayanya hidup chansung jadi ribet sejak ketemu hyora haha
    Chansung makin ngegemesin
    Ceritanya bagus, lanjutin ya thor:D cepet juga part 3 nya

  3. tingkah hyora disini lucu banget thor terus sifat chansung juga ngegemesin wkwk. ditunggu next partnya thor 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s