[FF Freelance] A Person Like Me (Part 2 – END)

a person like me

A Person Like Me by Whitney

Biarlah aku menanggung kebodohanku ini.

Ya… memang sudah seharusnya.

Aku yang bodoh ini.

 

Cast                       : Kim Myung Soo & Yeon Seul Mi

Genre                     : Romance & Little Angst

Rating                    : PG 15+

Length                   : 2shot

Disclaimer             : Ini sebenarnya FF lama yang aku buat tapi baru bisa di kirim. Juga FF ini sudah pernah di publish di Blog pribadi (Beautifullrainysnow.wordpress.com) dan original pemikiranku. Hope u enjoy this story, n if u interesting w/ ma FF… leave a comment or hit Like. Thank u^^

Previous part: Part 1

——————————————————————————

 

Part 2 < Closing >

 

“Apa?”

Myungsoo menatap formulir didepannya dengan tidak percaya. Bahkan ia merasa pendengarannya pun sudah tidak benar. Ketua organisasi mereka menatapnya dengan jengkel karena sudah menanyakan hal itu berulang kali.

“Seulmi tidak lagi ikut. Dia keluar. Kau mentornya, masa kau tidak tahu sama sekali?”

Ketua organisasinya pun berlalu begitu saja sebelum Myungsoo kembali menanyakan berbagai macam hal padanya. Tertinggallah ia sendiri, mematung sambil menatap formulir untuk keluar dari organisasi. Nama gadis itu terpampang disana, dan entah kenapa ia merasa ada yang aneh.

***

“Aku sudah bisa berbahasa dengan lancar, jadi kupikir sudah tak ada gunanya lagi.”

Itulah jawaban yang kuberikan pada Myungsoo ketika ia meminta pernyataan atas formulir yang ia bawa itu. Terlihat ia kesal dan marah padaku. Tentu saja.

“Lalu? Kenapa kau tak mengatakannya padaku terlebih dahulu?” Tuntutnya masih tak puas dengan jawaban yang kuberikan.

“Entahlah… Aku merasa lebih baik membiarkanmu tahu sendiri. Oh ya, mana Hyera?”

Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar suasana canggung itu teralih. Namun sepertinya Myungsoo tetap dengan pendiriannya. Menanyakan alasanku kenapa keluar, kenapa tidak memberitahunya, kenapa mesti tiba-tiba seperti itu. Dan kenapa aku tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.

“Apa aku terlihat menutupi sesuatu?” tanyaku sambil menatap matanya lekat-lekat. Berusaha menunjukkan bahwa aku sama sekali tak menutupi apa pun padanya.

“Ya.”

“Hahaha~ Karena?”

“Kau menatapku langsung dimata, Seulmi. Aku tahu. Kau selalu mencoba meyakinkanku dengan menatap mataku atau melakukan semua hal yang bisa membuatku yakin. Kau selalu begitu. Berusaha menutupinya dengan baik hingga aku terkecoh begitu saja. Mempercayaimu begitu saja.”

Oke… Sepertinya kali ini Myungsoo serius. Dia marah besar.

“Selama ini kau memang berhasil mengelabuiku. Tapi kali ini tidak. Kenapa?”

“Kau bicara apa sih? Aku mengatakan yang sebenarnya, Kim Myung Soo.” Elakku kemudian mengalihkan pandangan.

Dia mendesah frustasi. Menghentakkan tubuhnya ke kursi kayu yang ada dan menatap sekitar. Aku tetap diam dan membiarkan diri kami diselimuti oleh kesunyian. Ini jalan satu-satunya agar lelaki itu tenang dan bercerita. Bukan balik menyudutkanku.

“Aku tak mengerti. Hampir dua tahun tapi aku sama sekali tak bisa mengerti dirimu. Aku juga baru sadar selama ini hanya aku yang sering bercerita tapi kau sama sekali tak pernah menceritakan tentang dirimu? Kau menutup diri. Berusaha untuk tetap pada duniamu. Kenapa kau sama sekali tak mau berbagi?”

Aku menggeleng, “Aku tidak tahu harus berbagi apa. Kau aneh. Untuk apa aku mengatakan sesuatu yang tidak tahu harus kukatakan. Berbohong pun aku tak tahu harus berkata apa.”

“Tidak! Kau mengelak!” Myungsoo menaikkan intonasi nada bicaranya.

“Myungsoo, kau tak percaya padaku? Bagaimana kau bisa tahu aku berbicara jujur kalau kau meragukanku? Kita teman, bukan?”

Dia terdiam setelah aku berkata demikian. Ini cara terakhirku. Jika ia masih tidak berhenti menanyaiku tentang semua hal itu. Aku akan pergi sekarang.

Tapi sepertinya lelaki itu akhirnya mengerti. Syukurlah ia mengerti. Dengan kasar ia merobek kertas formulit itu, meremasnya menjadi gumpalan kertas tak berguna dan membuangnya ke tempat sampah. Aku tak berkomentar apa pun. Kertas formulir itu bisa kuisi lagi jika aku mau. Dan aku tak peduli kalau lelaki itu kembali merobeknya.

Lagi. Kami duduk diam di tepat yang sama. Menatap pemandangan yang sama, dan memikirkan sesuatu hal. Taman ini sering sekali menjadi saksi perdebatan kami dan dunia sunyi kami. Entah sudah keberapa kalinya kami datang ke taman ini dan berduaan saja.

“Anak muda, apa kami boleh ikut bergabung?”

Tiba-tiba suara yang begitu lirih dan lembut menyapa kami sehingga menyadarkan kami dari keterpakuan. Aku dan Myungsoo otomatis menatap ke asal suara. Sepasang insan yang sering kami pandangi.

“Tempat biasa kami duduk sudah diambil orang lebih dulu.” Kali ini sang kakek ikut menimpal sambil memberikan senyum yang lembut.

Aku memandang sepasang tangan yang keriput itu masih memakai cincin berwarna emas sambil membawa keranjang yang pasti berisikan kue-kue untuk menghabiskan waktu. Kami saling pandang dan bergerak secara bersamaan, memberikan mereka tempat duduk.

“Tentu, silakan.”

Dengan aura yang begitu lembut, mereka tersenyum berterima kasih dan ikut duduk.

“Kami sering melihat kalian duduk berdua dari sana.” Sang kakek menunjuk tempat biasa mereka duduk, “Kalian mengingatkan pada kami sewaktu muda. Hahaha…”

“Apa kalian sepasang kekasih?” tanya nenek itu begitu saja.

Aku dan Myungsoo saling memandang sejenak kemudian menggeleng.

“Tidak. Kami hanya teman biasa, halmonim.” Aku menjawabnya setenang mungkin. Agar tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.

“Iya…” Lanjut Myungsoo walau kembali ia menunjukkan ekspresi yang misterius.

“Oh… Manis sekali. Kalau begitu gadis yang datang bersama kalian itu kekasihmu?” tanya nenek itu lagi. Sepertinya mereka memang memperhatikan kami. Tidak kusangkah. Ternyata kami saling memperhatikan satu sama lain.

“Ah, nee, Halmonim.”

“Aigo~~ Kalian benar-benar mengingatkan masa muda kami.”

Dan kami pun larut dalam cerita sepasang insan itu. Menceritakan bagaimana kisah hidup mereka hingga sampai sekarang. Aku dan Myungsoo mendengarnya dengan saksama sambil terkadang ikut terbawa emosi. Kedua pasangan itu benar-benar melewati banyak rintangan untuk mencapai kebahagiaan yang mereka miliki sekarang. Dan hal yang paling tidak kusangkah adalah… Mereka dulu seorang teman masa kecil yang begitu akrab. Hanya saja… Sulit kupercaya, keadannya begitu sama persis dengan kami. Bedanya, kami baru saja berteman selama setahun.

“Hanya saja waktu itu, aku yang harus menahan diri,” sahut sang kakek yang membuat sang nenek tertawa dan tersipu malu. “Dia sibuk dengan pacarnya tapi tak ingin lepas dariku.”

“Sampai aku pergi karena tak tahan dengan sikapnya yang seperti anak kecil. Akhirnya dia sendiri yang datang padaku. Hahaha~ Aku tak akan melupakan bagaimana ia menunjukkan cintanya padaku.”

Nenek itu terlihat tak melarang kakek tersebut untuk menceritakannya walau wajahnya menunjukkan ekspresi malu-malu.

“Apa yang nenek katakan?” tanya Myungsoo penasaran.

“Oh, jangan terlalu naïf, anak muda. Cinta itu tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata jika kalian mengerti.”

***

Adalah cucu-cucu mereka yang memisahkan kami dari kedua insan itu. Tanpa sadar, kami telah menghabiskan waktu begitu lama dengan pasangan itu. Bahkan mereka membagi kue yang ada dan membuat kami merasa seperti keluarga sendiri.

“… Aku tak pernah melihatmu dekat dengan lelaki lain,” sahut Myungsoo membuka pembicaraan setelah kedua pasangan itu pergi. Aku sama sekali tak berani menatap Myungsoo karena kisah itu benar-benar menusukku hingga relung hati. Aku tak tahu bagaimana dengannya, tapi keadaan sekarang sangat tidak memungkinkan.

“Be-benarkah?”

Myungsoo terdiam sejenak dan menatapku, “Ya. Apa… Apa kau tidak sedang menyukai seseorang?”

Jantungku langsung menghantam tulang rusukku dengan begitu kuat. Merasakan debaran yang sangat tidak mengenakkan. Tanpa sadar aku gemetar menyadari aku ketakutan sekarang. Apa yang harus kujawab?

“A-aku hanya menunggu yang tepat,” jawabku mengutip ucapan kakek itu begitu saja. Aku tak terpikirkan lain.

“Seulmi… Bagaimana kalau…” Myungsoo menggantung ucapannya.

Aku menunggu dengan sabar walau sebenarnya aku benar-benar ingin pergi sekarang. Pergi sejauh mungkin. Saking takutnya. Bagaimana kalau dia sadar?

Namun suara ponsel Myungsoo mengalihkan suasana canggung itu. Membuatku akhirnya bisa bernafas lega. “Apa itu Hyera?” tanyaku mencoba mencairkan suasana.

Myungsoo membenarkan ucapanku, “Ya… Aku harus pergi sekarang. Tidak apa-apa kau pulang sendiri?”

“Tentu. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Pergilah,” ujarku sambil tersenyum kecil. Myungsoo pun mengangguk dan berjalan pergi. Aku menatap punggung itu hingga bayangan itu menghilang dipersimpangan jalan.

Seiring bayanganannya yang menghilang, senyumku meredup setelah ia pergi.

Kisah cintai itu mungkin bisa terjadi pada kedua insan itu, tapi tidak dengan kami berdua. Aku sadar diri. Hanya perempuan yang tak punya harga diri ingin merampas kebahagian orang lain.

Aku menyandarkan kepalaku dan menengadah ke langit yang sudah berwarna jingga. Itu berarti taman itu telah sepi dan tertinggal aku sendiri. Kuangkat tanganku hendak meraih langit yang tentu saja tak mungkin bisa kudapatkan. Seperti Myungsoo.

Aku bisa saja mengagumi cerita cinta pasangan itu, tapi aku tak bisa membayangkannya terjadi padaku. Karena aku sadar diri.

“Maaf… Maaf membuatmu harus kesakitan lagi ya…” gumamku seraya menyentuh dadaku, seakan dengan begitu aku bisa menenangkan perih yang tengah meraja lelang di dalamnya. “Kita hanya belum menumukan orang yang tepat.”

***

Beberapa hari kemudian,

Selesai mengepak barang-barang yang ada, aku segera membersihkan tubuh dan menelepon taksi begitu selesai. Sambil memakan sarapanku, aku menunggu taksiku untuk datang. Karena lokasi asrama universitas tak terlalu jauh dari keramaian kota, jadi mudah saja taksi itu datang. Tak lama kemudian, suara ibu asrama terdengar di intercom kamarku.

Aku membawa barang-barang yang ada, masuk ke dalam taksi. Sengaja aku tak membawanya turun karena takut itu menarik perhatian. Kuliahku memang belum selesai, tapi aku sudah mengurusnya dengan pihak universitas agar nantinya aku bisa melanjutkan kuliahku di universitas jepang. Ya… Aku akan pulang. Sejak memutuskan untuk berhenti berharap pada lelaki itu, aku segera mengatur keberangkatanku untuk pulang.

Sengaja juga aku tak mengatakannya pada Myungsoo karena aku yakin, lelaki itu pasti akan marah besar padaku dan menuntut alasan. Sebenarnya aku jadi pusing dibuatnya kalau ia sudah marah. Tapi syukurlah aku bisa pergi dengan tenang tanpa ketahuan. Begitu disana pun aku tak berniat untuk mengabarinya. Aku hanya ingin ia marah besar dan membenciku. Cukup.

Begitu semua barang dinaikkan ke dalam taksi, aku berpamitan pada ibu asrama dan menyerahkan kunci kamarku, kemudian pergi. Bertolak ke bandara Incheon.

***

“Dia tidak masuk?”

“Iya, sebenarnya sudah sejak dua hari yang lalu ia tidak masuk. Sepertinya ia sibuk mengurus sesuatu,” Jelas Hyera sambil menyeruput jus jeruknya.

Myungsoo mengerutkan kening. Dua hari yang lalu? Hari terakhir ia bertemu dengan Seulmi. Ia tidak mengatar Seulmi pulang waktu itu karena Hyera meneleponnya. Pantas saja waktu itu Myungsoo mendapati gadis itu di taman, bukan di universitas. Ternyata gadis itu membolos.

“Kenapa? Kau khawatir?” tanya Hyera dengan tatapan menggoda.

Lelaki itu tidak menanggapi ucapan gadis itu dan tersenyum datar, mencoba menutupi ekspresinya yang sebenarnya. Diminum teh yang biasa ia pesan dan kembali mencomot kimbap yang dibawa Hyera. Gadis itu benar-benar hobi membuat kimbap.

“Myungsoo-ya, apa kau tak salah?” Hyera menarik tangan lelaki itu dan menggenggamnya, “Kau tak bisa menutupinya dengan baik, kau tahu. Seulmi bisa saja tertipu dengan aktingmu. Kau tak bisa membohongi perasaanmu sendiri selamanya. Kau tak bisa menghianati cinta.”

Tanpa menjawab, ia menarik pelan tangannya dan mengalihkan perhatian. “Aku tak ingin melanjutkan hubungan ini lagi,” sahut Hyera yang membuat Myungsoo melotot padanya. Kejut.

“Cukup sandiwara kita. Aku tidak akan menolongmu lagi. Kau harus memperjuangkan sendiri perasaanmu.”

“Noona!”

Hyera tersenyum mengejek, “kau memanggilku apa tadi? Noona?”

“A-ani… Hyera,” sahut Myungsoo menjadi salting. Dengan frustasi ia mengacak rambutnya dan mendesah keras.

Myungsoo menekuk wajahnya cemberut. Ini keterlaluan. Jika orang lain sampai tahu ia harus meminta tolong pada Noona(bukan dalam arti yang sesungguhnya) untuk membuat seseorang cemburu, maka hancur sudah imagenya. Dia sudah lelah. Bergonta-ganti pacar hanya untuk membuat seseorang cemburu tapi hasilnya malah sama saja. Gadis yang ingin dibuatnya cemburu sama sekali tidak bereaksi apa-apa, malah dia yang mendapat nasehat dari gadis itu.

Ya… Seulmi.

Dia sudah lama menyimpan perasaan pada gadis itu. Tapi emosi yang ditunjukkan Seulmi tak dapat ia baca sama sekali. Apakah gadis itu menyukainya juga atau hanya sekedar teman biasa. Dia tak berani menanyakan langsung perasaan gadis itu, karena selama setahun lebih menjadi teman Seulmi, membuat nyalinya semakin menciut untuk menyatakan yang sebenarnya. Pengecut? Mungkin.

Ia hanya tak ingin merusak hubungan yang telah ia bangun setelah bersusah payah. Memaksa ketua organisasi untuk menjadikan dirinya sebagai mentor gadis itu. Mendekatinya. Bercerita sesuka hatinya. Dan yang ia dapat hanya nasehat. Bukan perasaan tapi nasehat. Sudah cukup membuat Myungsoo senang dengan kemajuan yang ada.

Lagipula selama ini juga gadis itu terlihat anti social. Myungsoo pun dapat leluasa masuk dalam kehidupannya. Karena selama itu, gadis itu sendiri dan tidak ada lelaki yang mengusiknya. Dengan dorongan yang ia dapat sendiri, akhirnya ia berani mengajak gadis itu masuk kehidupannya.

“Noona, bagaimana kalau ia menolakku? Ia tidak menyukaiku? Bagaimana kalau imageku terlanjur rusak didepannya?”

Hyera tertawa menyindir, “Lihat. Siapa yang menjadi pengecut sekarang? Kim Myung Soo? Takut ditolak?”

Myungsoo mendelik, namun akhirnya membenarkan juga ucapan Hyera. Dia mendesah. “Ini diluar perkiraanku.”

***

Tempat yang penuh kenangan dan tempat terakhir aku membuang kenangan itu.

Aku berhenti sejenak di taman itu. Menatap sekitar dengan perasaan yang merindu sekaligus pedih. Tak ingin berlama-lama, aku melangkah masuk dan mendapati tempat yang biasa kamu duduk telah ditempati oleh sepasang insan itu. Kuhampiri sepasang insan itu dan membungkuk, memberi salam.

“Eo! Anak muda. Ayo, duduk di sini.” Sang nenek mengundangku duduk disebelahnya. “Kemana temanmu?” tanyanya sembari menyerahkanku sepotong kue beras.

“A-aku datang kemari sendiri,” Jawabku apa adanya.

“Oh… Kalian sedang berkelahi?”

Aku menggeleng. “Ani… Hanya saja… Aku…” Tanpa sadar, air mataku pun jatuh membasahi pipiku. Dengan cepat aku menghapusnya namun air mata itu tetap keluar. Membuatku terpaksa terus menangis. Mengeluarkan semua yang selama ini tertahan.

Terlihat sang kakek tak tahan melihat aku menangis dan ia pun pergi. Membiarkan waktu untuk para wanita berbagi cerita. Mungkin sesama wanita bisa lebih saling mengerti.

“Ssttthh… Anak muda… Kau pasti memiliki perasaan padanya.”

Dalam tangannya yang sudah keriput itu, nenek itu memberikanku kehangatan yang selama ini tidak pernah kurasakan. Dia memelukku dan mengusap punggungku dengan penuh kasih. Membuatku merindu.

Tak butuh berjam-jam dia menenangkanku, hanya beberapa menit dan kemudian aku berhenti menangis. Sekejap tapi aku merasa sedikit lega. “Halmonim… Aku harus bagaimana?”

“Kau tak perlu bersedih, sayang. Jika kalian memang berjodoh, maka ia akan datang padamu. Jika bukan, akan datang seseorang yang dapat menyembuhkanmu dan mencintaimu setulus hati.”

Aku menggeleng, “Aku… aku begitu mencintainya, Halmonim. Aku tak terpikir… tak terpikir bagaimana akhirnya kalau aku tak bisa…”

“Sssttth… Sekarang kalian memang masih dalam tahap mencari. Hidup kalian masih panjang. Jangan berpaku pada satu kejadian saja sampai membuatmu terpuruk. Tapi… Aku bisa menceritakan satu hal yang tidak kuceritakan padamu kemarin dulu.”

Aku menatap nenek itu. “Apa itu?” tanyaku akhirnya karena nenek itu tak kunjung bercerita.

“Sewaktu umurku seperti kalian, kau tahu bukan aku mendapat julukan apa. Aku sengaja melakukannya, bergonta-ganti pacar hanya untuk menarik perhatian lelaki itu.”

Aku melongoh, tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.

“Jika lelaki itu memiliki perasaan sama padaku, maka ia akan cemburu. Tapi aku tak melihat tanda-tanda ia cemburu. Malahan ia memarahiku, membentakku, dan cara yang paling halus adalah menasehatiku. Karena aku wanita, maka aku tak boleh sembarangan bergaul. Begitu seterus-terusnya hingga lelaki itu pergi.”

Aku terdiam.

“Kau tahu, seseorang takkan pernah menyadari rasa cintanya sampai tiba saat mereka berpisah. Sepeninggalan lelaki itu, aku tidak berdiam diri. Aku menyusulnya, ketempat ia pergi. Dan menunjukkan rasa cintaku padanya. Lelaki itu pun tidak menutupi apa pun, ia membukakan hatinya untukku.”

***

Aku memikirkan ucapan nenek itu sepanjang jalan menuju Incheon. Tidak mungkin lelaki itu melakukan hal seperti itu untuk menarik perhatianku. Tak mungkin ia bergonta-ganti pacar untuk membuatku cemburu. Sejak awal bertemu pun ia memang sudah seperti itu. Pasti.

Adalah handphoneku yang bergetar dengan malas dari dalam tasku dan menderingkan nada panggil telepon. Segera aku membuka tasku, membongkar isinya untuk mengambil benda kecil itu. Begitu aku mendapatkannya, aku melihat layar yang menunjukkan sebuah nomor. Nomor yang sangat kuhafal.

Kim Myung Soo.

***

“Yoboseyo?”

Kuputuskan untuk mengangkat telepon itu.

Terdengar suara lirih dari lelaki itu disana. Sepertinya ia belum tahu kalau aku akan pulang ke Jepang hari ini. Kalau ia, pasti ia sudah meneriakiku sekarang.

Kata Hyera, kau tidak masuk selama dua hari. Apa kau sakit?

“Ani… Nan gwaenchanha…”

Gurae?? Dahaengida… Neo jigeum oddieya?

Aku menelan ludah dengan susah payah, “A-aku sedang perjalanan pulang…”

Eo… Kalau begitu aku akan menjemputmu disana. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.

“Katakan saja sekarang. Aku sibuk,” sergahku cepat.

Terdengar bunyi klakson dari sana. Sepertinya lelaki itu sedang dalam perjalanan. “Aku ingin mengatakannya langsung padamu. Bisa, kan? Sebentar saja.

“A-aku tidak bisa… Aku sangat sibuk…”

Tak ada balasan dari sana, lelaki itu terdiam untuk beberapa saat. “Sejak kapan kau menjadi sangat sibuk, Yeon-sshi? Apa kau sedang menghindariku sekarang?

Tersimpan emosi didalam nada lelaki itu bicara.

“A-ani… Hanya saja aku benar-benar sibuk…”

Bukan karena kau menghindariku, kan, Yeon-sshi?

Sejenak aku ragu. Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya padanya sekarang? Lewat telepon?

“Myungsoo-ya, kau meragukanku lagi.”

Justru kau yang meragukanku. Sudahlah, pada akhirnya aku yang kalah berdebat denganmu. Aku tak ingin bertengkar denganmu sekarang.

Aku tertawa kecil, “Bukannya kau yang mulai duluan.”

Berhentilah tertawa.

Sekejap aku terdiam. Apa yang salah? “Kau ingin aku menangis kalau begitu?”

Aish… Jangan memancing perdebatan lagi, Yeon-sshi. Aku ingin serius sekarang.” Ujarnya dengan nada kesal dari sana.

Aku pun mengiyakan permintannya. Aku tidak tertawa lagi dan menanggapinya dengan serius. Kali ini saja… Aku ingin menyimpan kenangan ini saja, kenangan yang manis. “Baiklah, jadi… Apa yang ingin kau katakan Myungsoo.”

Apa kita bisa berteman selamanya?

Aku tidak menjawab. Itu pertanyaan yang menyakitkan. Benar, kan. Ia tidak memiliki perasaan apa pun padaku. Ia hanya menginginiku sebagai teman. Tidak lebih. Baru saja aku ingin menyimpan kenangan ini, aku sudah tersakiti lagi.

Menurutmu bisa?

“… kupikir bisa.”

Terdengar lelaki itu mendesah disana. “Seulmi… Kau ingin pasangan yang kau kagumi itu? Kau ingat saat mereka menceritakan kisah hidup mereka, kan? Kuharap kau tak melupakannya.

“Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Myungsoo.” Desakku setengah memaksa.

Baiklah… Aku berpikir… Berpikir tentang kita. Sebenarnya aku terus memikirkannya, apa pertemanan antara lelaki dan perempuan itu benar-benar ada?

Aku segera menimpal, “Lalu kita apa?”

Dengarkan aku. Aku hanya berpikir. Bagaimana kalau kau pergi dariku? Seperti yang diceritakan pasangan itu. Kau tahu… Mendengar mereka bercerita, ada harapan… Setidaknya, aku berharap kalau itu benar-benar terjadi. Tapi… Bagaimana kalau kau benar-benar pergi dariku? Bagaimana kalau aku tak bisa mengejarmu? Bagaimana kalau kita tak pernah bertemu lagi? Aku tak dapat membayangkannya, Seulmi.

Myungsoo terus bercerita selama yang ia mampu, “Aku… Sejauh ini, aku selalu bersamamu dan tak pernah berpikir untuk berpisah. Tapi begitu aku mendengar cerita itu, terpikirkan olehku  jika suatu saat kau akan pergi. Apalagi mengingat kau hanya sebentar disini.

Tak ingin mendengar lebih lanjut, aku mematikan handphoneku. Aku tak ingin mendengar lebih lanjut. Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan hal itu sekarang? Dikondisi seperti ini? Setelah aku memutuskan untuk kembali ke Jepang?

Astaga… Apa yang kuperbuat? Kenapa aku begitu bodoh?

***

Myungsoo mengerutkan kening heran, ditatap handphonenya yang masih menyala. Apa gadis itu memutuskan telepon? Perasaannya menjadi tidak enak. Dengan cepat, ia memacu mobilnya lebih cepat, menuju asrama untuk para mahasiswa yang berkuliah di universitas mereka.

Sesampainya ia disana, ia segera memasuki gedung asrama dan menghampiri ibu asrama yang ada. Terlihat ibu asrama itu tidak senang melihat tamu lelaki datang ke asrama para putri.

“Cari siapa?” tanyanya ketus.

“Yeon Seul Mi, adjumma. Bisa tolong panggilkan? Aku ada urusan penting dengannya, sekarang.” Myungsoo tak peduli lagi jika permintaannya ini lebih terdengar sebagai sebuah desakkan. Ia ingin memastikan perasaan tak enaknya ini tidak beralasan.

“Yeon Seul Mi? Yang dari Jepang itu? Dia baru saja keluar dari asrama,” jawab ibu itu masih dengan intonasi ketus yang sama.

“Keluar? Keluar kemana?”

“Katanya ia akan kembali ke Jepang.”

Ia terperanjat.

***

Incheon Internasional Air Port.

Pertama kali aku datang kemari, aku seperti anak kecil yang baru melihat dunia luar. Sungguh. Pemandangan yang disuguhkan ini benar-benar luar biasa. Aku terus mengagumi interior yang dimiliki oleh bangunan ini. Bukan cuma interiornya saja, kenyamanan dan keamanan yang mereka punya sangat membanggakan. Tapi sekarang, aku bahkan tak berminat untuk memandanginya. Hatiku kacau sejak Myungsoo meneleponku selama perjalanan kemari.

“Ambil saja kembaliannya, pak.” Aku melangkah masuk sambil mendorong troli barang yang tersedia.

Setelah melakukan check-in, aku bermaksud untuk menunggu di boarding room saja. Tapi entah kenapa, aku lebih memilih untuk tetap tinggal diluar. Menunggu hingga pengumuman untuk rute pesawatku datang. Tanpa sadar, aku kembali terbawa ke dalam bayangan Myungsoo. Lelaki itu membuatku kembali mengenang percakapan tadi.

Haruskah aku senang? Haruskah aku bahagia?

Tapi kenapa harus sekarang?

Aku tak mungkin membatalkan penerbangannya sekarang. Itu terlalu beresiko. Apalagi Aku sudah menyondorkan surat pengunduran diri ke universitas. Sudah tidak mungkin aku akan diterima kembali. Beasiswanya sudah dicabut. Tak ada alasan lagi Aku bisa tinggal disini. Kecuali aku membuang akal sehatku untuk cinta.

Cinta…

Aku menghela nafas panjang.

Kenapa semua masalah yang berurusan dengan cinta selalu rumit? Kenapa membutuhkan energy yang besar untuk menghadapinya? Bahkan harus tersakiti seperti ini?

Tanpa sadar, aku kembali menangisi cinta. Menangisi kebodohanku akan cinta.

***

Rute pesawatku telah dibacakan. Sudah waktunya aku kembali. Sambil melangkah, aku sesekali berbalik, menatap kebelakang. Berharap akan hal yang tak mungkin. Mungkin… Aku menundukkan kepala dan kembali melangkah dengan terseok-seok. Seperti orang yang tak memiliki semangat hidup.

Kembali rute pesawatku dibacakan. Langkahku semakin memelan. Hingga aku tak sanggup lagi melangkah.

Hatiku masih tak bisa meninggalkan semua ini. Aku masih ingin berada disini lebih lama. Aku masih ingin tetap bersama lelaki itu. Aku tak mungkin meninggalkan cinta yang telah kuperjuangkan selama ini. Apalagi menyadari bahwa lelaki itu juga memiliki perasaan yang sama. Aku tidak mau!

Segera aku mencari ponselku di saku-saku baju. Aku mencari benda itu seperti orang kesurupan. Menangisinya bahkan karena tak kunjung ketemu. Begitu teringat aku langsung melemparnya ke lantai mobil begitu saja setelah menutup telepon itu. Astaga…

Aku berjongkok, menangisi kebodohanku lagi. Menangisi hal yang benar-benar tak lazim untuk kutangisi. Kenapa aku harus menangisi sesuatu hal karena kebodohanku sendiri? Apa karena aku bodoh?

Kini aku tak tahu lagi harus bagaimana. Diperhadapkan dengan kenyataan seperti ini sungguh-sungguh membuatku tak mampu lagi bertahan. Aku menangis sejadi-jadinya di tengah-tengah jalan, mengacuhkan orang-orang yang menatapku dengan iba. Tak peduli seberapa banyak orang yang menatapku. Yang ingin kulakukan sekarang menangis. Menangisi kebodohanku sendiri.

***

Cinta itu tidak selamanya tidak memiliki.

Jika kita memperjuangkannya.

Cinta itu tidak selamanya cemburu.

Jika kita saling mempercayainya.

Cinta itu tidak selamanya buta.

Jika kita melihatnya dengan hati.

Cinta… tidak sama dengan status teman, sahabat, atau pacar.

Status pacar belum tentu membuktikan kita mencintainya.

Cinta… berbicara tentang hati.

Hati antara kedua orang yang ingin saling mengenal dan menerima satu sama lain dengan berkomitmen pada suatu hal. (Anonymous)

***

Beberapa tahun kemudian…

Aku berhasil menyelesaikan kuliahku di Tokyo Universitas. Hebat waktu itu aku kembali dan dapat melanjutkan kuliahku tanpa hambatan sama sekali. Bersyukur pada otakku yang cerdas, aku mendapat beasiswa dan diterima setelah melakukan beberapa test. Aku juga bersyukur pada seseorang yang sudah berhasil menenangkanku hingga berhasil seperti sekarang.

Seseorang yang mau mempercayaiku. Seseorang yang mampu menjaga hatiku. Seseorang yang mampu mempertahankanku. Dia adalah orang yang kucintai.

Dan disini, aku menunggu. Menunggu kedatangannya dengan pasti. Berharap ia tidak banyak berubah dan aku tidak membuatnya kecewa. Aku berusaha mempersiapkan penampilan yang terbaik untuk menemuinya. Berdandan natural dan mengurai rambutku yang panjang nan bergelombang.

Pikiranku melayang pada beberapa tahun yang lalu, mengenang kenangan yang ada. Membiarkanku pergi walau mengikatku dalam perjanjian, dan mempercayakanku untuk menjaga hatinya dari jauh. Selama ini, kami sering berkomunikasi lewat social network yang ada dan berbagi cerita. Aku ingat saat kami bertengkar kecil soal kesibukannya. Saat itu aku begitu emosi karena ia sama sekali tak membalas emailku, menerima permintaan videochat, dan berbagai macam alternative yang tersedia. Sungguh mengesalkan hingga aku berpikir pendek untuk segera mencurigainya.

Tapi itu hanya masa lalu. Setiap hubungan pasti akan ada warna-warni tersendiri. Dan itu salah satu cara agar kita saling mengenal satu sama lain. Sekaligus menerima.

Rute pesawat yang dinaiki lelaki itu kini terdengar lewat pengeras suara. Aku bangkit berdiri dan berlari kecil menuju tempat penjemputan. Kurapikan penampilanku sebaik mungkin dan melihat kaca lagi. Memastikan aku terlihat cantik dan pantas untuk bersanding disebelahnya.

Sekarang aku bisa yakin. Banyak mata yang tertuju padaku sekedar untuk mengagumi, memuji, dan bahkan beberapa diantara iri atas hasil kerja kerasku selama ini merawat diri. Dan hasilnya tidak diragukan. Untuk apa mereka memandangku seperti itu jika aku sama sekali tidak berhasil? Aku berjanji pada diriku untuk memberikan yang terbaik pada lelaki itu.

Setelah beberapa menit lewat, satu per satu orang-orang mulai berjalan keluar dari dalam sambil membawa barang mereka masing-masing. Hatiku berdebar tak karuan saking tak sabarnya ingin bertemu. Cinta kami terjalin dengan begitu jauh, saling menyapa lewat dunia maya itu adalah kencan kami. Mendengar suaranya sudah lebih dari cukup. Dan sekarang kami akan bertemu. Bukankah itu sebuah anugerah terindah? Diberi kesempatan untuk bertemu setelah sekian lama terpisah jauh. Antara jarak dan waktu.

Yang semulanya orang-orang banyak berkumpul, sekarang tertinggal beberapa yang sibuk dengan jemputan mereka yang belum datang. Ya… Tinggal aku satu-satunya orang yang menunggu kedatangan seseorang. Dalam hati aku sudah gelisah, kenapa lelaki itu tak kunjung terlihat juga.

Karena lelah berdiri, aku duduk di kursi panjang yang tersedia dan menatap penuh harap ke tempat penjemputan. Sampai tertinggal seseorang keluar dari sana. Dia berjalan dengan penuh gaya sambil menarik travel bagnya yang terlihat penuh. Hanya saja, jika orang itu tidak menggunakan pakaian yang serba hitam itu, mungkin akan sangat cocok dengan gayanya berjalan itu.

Aku mengernyit. Rasanya aku pernah melihat gaya orang itu berjalan, tapi aku kurang yakin. Dari atas sampai bawah, lelaki itu menggunakan pakaian yang serba hitam. Topi hitam, kacamata berframe hitam, kaos dan celana hitam, bahkan sepatunya ikut hitam.

Lelaki itu menengadah dari handphone yang baru saja ia aktifkan. Tatapannya tertuju padaku. Sepertinya. Aku terdiam saja dan menatap orang itu balik. Matanya tertutup dengan lensa hitam itu, tapi kepalanya jelas-jelas terarah padaku. Hingga suara nada dering handphoneku berbunyi, menandakan ada telepon masuk.

Sebelum sempat aku mengangkat telepon tersebut, nomor tak dikenal itu langsung mengakhiri teleponnya. Aku kembali mengernyit. Telepon iseng. Tak jarang terjadi di sini. Kalau di korea, mungkin aku bisa membuat si penelepon iseng ini masuk penjara untuk beberapa jam karena mengganggu ketenangan masyarakat.

Karena orang yang kutunggu tak kunjung juga datang. Aku pun bangkit berdiri dan berniat untuk pulang saja. Siapa tahu lelaki itu sudah pulang duluan. Kalau nanti aku bertemu dengannya di dunia maya, akan kudamprat habis-habis orang itu!

Dengan kesal aku berjalan menuju tempat parkir yang ada. Tanpa memperhatikan bahwa lelaki yang berpakaian hitam itu mengikutiku. Aku baru sadar saat jarak diantara kami semakin dekat. Seketika kau langsung membalikkan badanku dan berhadapan langsung dengan orang itu.

Untuk beberapa detik yang berganti menit, kami saling memandangi satu sama lain. Sampai orang itu tertawa kecil dan mengalihkan pandangannya. Dia menutup mulutnya dengan tangannya dan tertawa dalam diam. Aku mengerutkan kening. Apa orang ini gila?

“Yaa… Kau tak mengenalku?”

Orang itu melepas kacamatanya dan juga topinya. Memperlihatkan wajahnya yang asli dan sukses membuatku ternganga.

Kembali ia tertawa, menyadarkanku dari keterpakuan.

“Yaa! Apa ada yang lucu, huh?! Dasar kau menyebalkan!! Kenapa kau mengikutiku seperti stalker tadi?! Kau membuatku takut, tahu! Kupikir kau orang gila dari mana!” Kupukul lengannya dengan tas genggamku.

“Maaf-maaf. Kupikir aku salah mengenal orang.” Dia berhenti tertawa dan memandangiku, “Kau terlihat… berbeda, Yeon-sshi.”

Aku menatapnya kesal. Menuntutnya untuk berkata lain. “Hanya berbeda?”

Seperti mengerti apa yang kumaksud, ia tersenyum dan menangkup kedua wajahku. “Kau cantik, Yeon-sshi. Selalu cantik dimataku. Hanya saja baru sekarang kesampaian,” ujarnya yang sukses membuatku tersipu malu.

Untuk menutupi rasa malu, aku merapatkan diri padanya, menyembunyikan wajahku yang sudah memanas di balik dadanya dan memeluknya. Dia pun membalas pelukanku dan tertawa.

“Aku pulang, Yeon-sshi.” Gumamnya lembut dan mengecup puncak kepalaku.

“Selamat datang, Kim Myung Soo.” Jawabku dengan penuh kerinduan.

Long distance itu selamanya tidak buruk. Selama kita saling menjaga hati, mempercayainya, dan memperjuangkannya. Karena cinta itu tidak selamanya berjalan mulus, penuh rintangan untuk mendapatkan cinta sejati yang sesungguhnya.

∞ F I N ∞

8 thoughts on “[FF Freelance] A Person Like Me (Part 2 – END)

  1. kyaaaaa! daebak! >..<
    myungsoo's black fashion stylenya….kebayang gantengnya seperti apa xD

    daebak thor! ditunggu ff selanjutnyaaa ya xD

  2. wah… keren.
    tp thor, ehem ‘batukdulu* kyk ny butuh sequel. soalnya kan blum ada adgn romantis myung soo sm seulmi ny.
    sequel iah thor??? *kedipkedipmata
    d tunggu karya berikutnya dan sequel ny.
    author “maksabanget nih readers”

  3. Mian, br coment d.part in… Wahhh crt.a seru bgt,,, feel.a bnr2 dapat… Walau sad tp menyentuh bgt gt, bkn readers jg ikut ngerasaain perasaan cinta seulmi…. Ternyata myung sengaja kyk gt buat narik perhatian seulmi….akhir yg baik,,, awal.a ak kira bkl’an sad ending. Ahh satu lagu romance.a myung sm seulmi dapat bgt pas yg d.bandara, hmm so sweet. Good luck thor.:)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s