[FF Freelance] Autumn To Remember (Part 1)

autumn to remember

§  Title: Autumn To Remember ( Chapter 1 )

§  Author: Finessa (Park Chae-Young)

§  Rating FF: PG-13

§  Length: sequel, two shoot.

§  Genre: drama, sad romance.

§  Main Cast: Sungmin, Hyorin, Hyoyeon.

§  Support Cast: Young-Ri (OC)

§  Disclaimer: pernah di publish di fanfictionschools^^ My first sequel series. Butuh banget komen kalian~ yang negatif, yang positif, semuanya author terima^^ DON’T COPY PASTE my story^^ thankyou so much~ happy reading 🙂

 

Gemuruh standing applause yang diberikan penonton memenuhi seluruh ruangan. Hyorin membungkukan badannya perlahan dan senyumnya merekah. Ia berjalan meninggalkan panggung dan kembali ke back stage. “Hyorin-ah! Penampilanmu keren sekali! Ah, andai saja aku punya suara sebagus kau, pasti aku menjadi wanita berbahagia di seluruh muka bumi!” Sesosok gadis manis dalam balutan peach sackdress menghampiri Hyorin yang tengah melepaskan sepatu high-heelsnya.

“Kau selalu saja berlebihan, Yeon-ah,” Hyorin menegakkan mukanya sesaat dan menatap Hyoyeon.

“Hey, hey, jangan berikan aku tatapan mautmu itu!” Hyoyeon berpura-pura menutupi mukanya dengan tangan, dan mengintip dari sela-sela jarinya. Lalu mereka berdua tertawa tergelak.

“Siapa suruh kau berlebihan seperti itu? Ditambah lagi tingkah konyolmu itu!” Hyorin beranjak dari tempat duduknya dan merangkul serta menjitak pelan kepala sahabatnya itu.

“Hey, hey, apa-apaan ini?” Hyoyeon mengusap usap kepala mereka berdua kembali tertawa-tawa gembira. Setelah membereskan barang-barangnya, Mereka berdua bergegas pergi dari sana. Udara musim gugur yang dingin langsung menyambut mereka, Hyoyeon merapatkan mantel merah jambunya dan Hyorin membetulkan letak syal ungunya. Asap-asap halus keluar dari mulut mereka efek dari dinginnya udara.

“Ah, sial sekali! Aku lupa ini hari pertama musim gugur, dan karena itu aku lupa membawa sarung tangan!” Hyoyeon mengeluh kesal dan menjejalkan tangannya ke dalam saku mantelnya. “Jangan memberengut sepeti itu Yeon-ah. Mukamu terlihat buruk sekali, kau tahu? Coba kulihat apa aku masih punya sarung tangan!” Hyorin mengobrak abrik isi tasnya dan tak menemukan satupun sarung tangan. “Oh, menyedihkan. Aku tak menemukan satu sarung tangan pun! Bagaimana kalau kita beli saja?” Hyorin bertanya sembari merapikan isi tasnya.

“Ah, tidak usah, aku sudah punya terlalu banyak sarung tangan di rumah. Ayo kita ngobrol di cafe untuk sekadar menghangatkan tubuh!” Hyoyeon menggosok-gosokkan tangannya lalu kembali memasukkannya ke dalam saku mantelnya.

“Sebentar!! Apa itu?” Hyorin menahan tangan sahabatnya dan berjongkok dekat tumpukan daun mapleyang berserakan.

“Ada apa?” Hyoyeon ikut berjongkok dan mengaduk-aduk daun daun yang berguguran itu. “Apa sih yang kau cari?”

“Nah! Ini dia!” Hyorin mengangkat sepasang sapu tangan abu abu yang sudah usang dan mengacung-acungkannya di depan muka Hyoyeon. “Ini sarung tangan, Yeon!! Pakailah! Tadi aku melihat warna abu-abu yang aneh di tengah tumpukan daun, dan ternyata ini, SARUNG TANGAN!” Hyoyeon masih belum bisa merespon kelakuan sahabatnya. Mulutnya membentuk O besar dan alisnya naik sebelah.

“Hei, hei, mengapa mukamu begitu aneh?” Hyorin mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka sahabatnya.

Aniyo, hanya saja kebetulan yang sangat aneh! Sini biar kupakai, pasti benda usang ini sudah tidak ada yang ingin pakai, jadi dibuang!” Hyoyeon merampas sarung tangan di tangan Hyorin dan segera memakainya.

Hyorin hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan sahabatnya. Mereka berdua akhirnya memilih untuk memasuki cafe bergaya classic di dekat situ.

***

Lee Sungmin bergegas-gegas keluar dari studio pemotretannya hari ini, manajernya, Choi Young-Ri ditinggalkannya di dalam studio karena masih mengurus perjanjian jadwal pemotretan selanjutnya. Ia tidak menggubris dering ponselnya yang terus berbunyi. “Sial, ke mana sih sarung tangan itu?!” Ia berlari sepanjang jalan yang ia lewati beberapa daun musim gugur jatuh di atas rambut cokelatnya, tapi ia tetap tidak peduli.

“Ahh! Pastilah sudah ada yang mengambil sarung tangan itu!” Sungmin berhenti berlari dan mendesah keras setengah capek dan kecewa. Lalu ia mengacak-acak rambutnya sendiri dan menghembuskan napas kesal. Ia tidak sadar sudah banyak orang di sekelilingnya menjerit-jerit bahagia melihat muka imutnya ketika rambutnya menjadi sedikit berantakan.

Lalu, seseorang menepuk bahunya keras dari belakang. Sungmin terlonjak kaget dan langsung menengok, “Sungmin-ah! Jangan kabur seperti tadi lagi! Atau lain kali kujewer telingamu!”

“Hey! Bisakah kau menepuk lebih pelan?! Kau selalu membuat jantungku hampir copot Young-Ri!! Kalau kau jewer telingaku, akan kupecat kau!” Sungmin mengikuti Young-Ri menjauh dari kerumunan.

Well, memecatku terserah saja. Pada akhirnya kaulah yang akhirnya memanggilku lagi! Benar, kan?” Young-Ri tetap berjalan lurus ke depan sambil mengedikkan bahunya.

Sungmin memasang posisi siap menerkam dari belakang, sayangnya Young-Ri keburu menengok ke belakang. “Hei, jangan bersikap begitu di belakang managermu ini, Sungmin-ah!” ujar Young-Ri sambil mengacungkan jari telunjuknya ke depan.

MWOYA?!” Sungmin berteriak kesal dan berjalan mendahului manajer sekaligus sahabatnya itu. Ia langsung masuk ke mobil dan menyilangkan kedua tangannya kesal. Pipinya digembungkan, dan memerah seperti tomat.

Young-Ri mengetuk pelan kaca mobil bagian belakang. “Hei, Sungmin-ah!” Sungmin tidak menggubris Young-Ri yang mengetuk-ngetuk kaca mobil. Tapi, karena Young-Ri tampak tidak putus asa mengetuk, akhirnya Sungmin membukakan kaca untuknya, “Wae?”

Ani, Sungmin-ah ayo kita minum mocca-latte dulu, jangan ngambek seperti itu atau para gadis akan mengejar-ngejarmu sampai ke langit ketujuh!”

Sungmin menghembuskan napasnya, pipinya ia kempiskan dan membuka pintu mobil. Segera ia bergegas menuju cafe terdekat bersama Young-Ri.

“Omong-omong, tadi mengapa kau meninggalkanku dengan terburu-buru?” Young-Ri bertanya sembari berjalan di samping Sungmin.

“Kau ingat sarung tangan hadiah ulang tahun dari ayahku saat berumur 16 tahun? Itu yang kucari-cari. Aku rasa sarung tangan itu terjatuh dari tasku. Tapi setelah kucari, aku tidak dapat menemukannya. Padahal itu hadiah ulang tahun terakhir sebelum ayah pergi…” Sungmin menghembuskan napas pasnjang, tampak sekepul asap keluar dari mulutnya.

Mereka memasuki cafe langganan mereka, cafe bergaya klasik yang mempunyai rasa kopi yang sangat enak. Mereka masuk dengan santainya dan berpas-pasan dengan dua gadis yang tengah cekikikan dan seketika gadis yang berambut cokelat menyengol Sungmin dengan tidak sengaja.

Yaa! Jalan hati-hati, ne!” Sungmin dengan spontan berbicara begitu saja, sampai-sampai Young-Ri menyikutnya. “Jweisonghamnida!” sang gadis menunduk sopan lalu bertanya, “Kau baik-baik saja?” sambil menyentuh lengan Sungmin perlahan.

Gwaenchana! Jangan berbuat seperti itu lagi. Tidak baik bicara sambil tertawa-tawa seperti itu.”

Sang gadis melepaskan pegangan tangannya pada lengan Sungmin dan mengangguk lagi, “Ne,jweisonghamnida.” Ia tersenyum manis dan mengangguk sekali lagi.

Lalu kedua gadis itu berlalu, dan Sungmin terpaku sejenak.

“Hey, ayo! Kenapa kau diam saja sih?” Young-Ri menarik tangan Sungmin yang tengah terpaku di depan pintu cafe.

Young-Ri menarikkan tempat duduk untuk Sungmin, lalu Sungmin duduk dengan tatapan muka berpikir.

“Hey, hey! Ada apa kau ini?” Young-Ri mulai bingung dan mengibaskan tangan di depan muka Sungmin.

YAAA!!!!” Sungmin tiba-tiba berdiri dan lari keluar kafe. Young-Ri terkejut dan hanya bisa menganga lebar. “Apakah gadis-gadis tadi mengguna-gunai Sungmin untuk mencintai mereka?” Young-Ri menggaruk-garuk kepalanya heran. “Aneh sekali.”

Young-Ri segera lari keluar menyusul Sungmin, dan mendapati dirinya bingung ke mana Sungmin pergi sebab batang hidungnya sudah tidak kelihatan di mana-mana. Akhirnya Young-Ri memutuskan untuk kembali ke mobilnya dan mencari Sungmin sepanjang jalan tadi.

***

“Yeon-ah! Betapa beruntungnya kau! Tahukah kau siapa yang kau senggol tadi? LEE SUNGMIN! Anggota Super Junior! Kau tahu?” Hyorin mengguncang-guncangkan lengan sahabatnya dan Hyoyeon hanya menatapnya bingung, “Siapa itu? Apa itu Super Junior?”

Aish, payah sekali kau ini. Sekali-sekali kau harus melepaskan kesibukanmu dari menulis buku, Yeon-ah.”

“Jadi, rupanya dia artis terkenal? Kenapa sikapnya seperti itu?” Hyoyeon bertanya polos.

Mwo? Seperti itu bagaimana? Kau kan menyenggolnya.”

“Ya, tapi sikapnya berlebihan. Dia bahkan berteriak di dekat telingaku!”

“Yeon-ah, dia sebenarnya baik. Akan kutunjukan biografinya, cover-cover majalah, dan juga drama-drama yang pernah dimainkannya. Kau tahu, aku pernah bernyanyi untuk Soundtrack drama yang dimainkannya. Ah, aku senang sekali!!!” Hyorin tersenyum-senyum sendiri dan tampak bahagia. Sedangkan Hyoyeon hanya mengernyitkan dahi dan menatapnya heran.

***

YAAA! Ke mana dua gadis itu??!” Sungmin memegang lututnya lelah setelah berlari-lari sepanjang jalan raya. Napas dari mulut dan hidungnya tambah mengepul-ngepul. Sejak berlari dia memakai tudung mantelnya sehingga orang-orang tidak menyadari seorang Lee Sungmin sedang berlari tanpa arah mencari dua gadis yang menyenggolnya.

“Aku sangat yakin, itu sarung tangan punyaku yang dipakai gadis berambut cokelat itu. Aku harus menemukannya!” Sungmin bertekad dalam hatinya. Lalu ia menghentakkan kakinya dan berjalan kembali ke arah kafe. “Aku harus mencarinya besok. Sarung tangan itu adalah hadiah terakhir dari ayahku.” Sungmin bergumam sendiri dalam hatinya. “Hari ini sungguh aneh. Aku harap besok tidak se-aneh hari ini.”

Tetapi dugaan Sungmin salah, ketika hari itu dimulai, semuanya telah berubah.

***

To be continued…

7 thoughts on “[FF Freelance] Autumn To Remember (Part 1)

  1. wow~~ ini pertama kalinya baca ff Ming Hyorin. Dulu aku pernah ngayal tentang beberapa unpredictable couple, salah satunya ya Ming Hyorin ini 😀 ga nyangka mereka bener2 bisa ketemu dalam satu cerita.. ini yang ngebuat aku tertarik sama ff author.. 😀
    cerita author, menurutku menarik dan bikin penasaran. Aku juga suka autumn. Nunggu bgt momen2 autumn disini. Saran saja, tadi pas baca saya sedikit bingung sama kalimat yang harusnya titik tapi belum titik. Contohnya, -> Hey, hey, apa-apaan ini?” Hyoyeon mengusap usap kepala mereka berdua kembali tertawa-tawa gembira. :/ typo ada, tapi ga mengganggu pemahaman.
    itulah komen singkat saya, at last semoga part berikutnya segera rilis 😀 fighting ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s