[FF Freelance] Autumn To Remember (Part 2 – END)

autumn to remember

§  Title: Autumn To Remember ( Chapter 2 )

§  Author: Finessa (Park Chae-Young)

§  Rating FF: PG-13

§  Length: sequel, two shoot.

§  Genre: drama, sad romance.

§  Main Cast: Sungmin, Hyorin, Hyoyeon.

§  Support Cast: Young-Ri (OC)

§  Disclaimer: pernah di publish di fanfictionschools^^ My first sequel series. Butuh banget komen kalian~ yang negatif, yang positif, semuanya author terima^^ DON’T COPY PASTE my story^^ thankyou so much~ happy reading 🙂 sequel ini aku buat lebih panjang dari seri sebelomnya hehehe^^

Previous part: Part 1

 ***

Pagi itu Lee Sungmin sarapan dengan terburu buru dan melakukan segalanya serba terburu-buru.

“Min-ah, makan pelan-pelan!” Young-Ri memperingatkan Sungmin saat ia tersedak dan terbatuk-batuk.

“Aku banyak urusan, Young-Ri.”

“Aku kan sudah mengatur jadwalmu. Jadi tenanglah.” Young Ri berusaha menenangkan Sungmin.

“Batalkan semua jadwalku sampai pukul 12 siang!” Sungmin berkata disela sela makannya.

MWO?! KAU GILA?!!” Young-Ri membulatkan matanya dan melotot kepadanya.

“Aku mau mencari gadis kemarin.”

“Untuk apa? Kau kena guna-guna? Kau menyukai mereka?” Young-Ri mulai melupakan sarapan paginya.

“Duh, kau ini! Masa aku kena guna-guna? Aku yakin perempuan yang menyenggolku memiliki sarung tangan kesayanganku.”

Huh! Ya sudah, kalau itu maumu. Tetapi besok kau harus kerja super keras! Arraseo?”

Sungmin memutar bola matanya. “Ne.. ne, arraseo!”

***

“Yeon-ah! Buruan kita akan terlambat!” Hyorin melipat tangannya di atas dada sambil mengamati temannya mengobrak-abrik lemari bajunya. “Apa sih yang kau cari itu?”

“SARUNG TANGAN, Hyo!” Hyoyeon menyahuti sahabatnya sambil tetap sibuk dengan lemari pakaian.

“Sudahlah, kemana sarung tangan jelek kemarin?”

“Di dalam tas.”

“Nah, pakailah itu. Kita tidak punya lagi untuk mencari sarung tangan, Yeon-ah. Dosen sudah akan mulai mengajar 15 menit lagi!!”

Aigo. Cerewet sekali sih kau!” Hyoyeon akhirnya beranjak dan menyerah pada Hyorin.

Mereka pun langsung berlari lari kecil menuju kampus mereka.

***

Sungmin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju jalan-jalan yang ia lalui kemarin. Ketika akhirnya ia melihat kedua gadis yang sedang berlari-lari kecil, ia menangkap sarung tangan abu-abu yang dipakai oleh salah satu dari mereka. Sungmin pun nekat menghentikan mobil di ddepan mereka secara tiba-tiba.

Dan, ya! Hasilnya kedua gadis itu kaget dan berhenti berlari. Sungmin segera keluar dari mobil dan menghampiri mereka. “Hei! Bisakah kalian kembalikan sarung tangan abu-abu itu? Itu milikku.” Sungmin berbicara to the point tanpa menyapa mereka.

Tanpa disangka reaksi sang cewek peminjam sarung tangan sangat mengejutkan.

***

Mwo? Siapa kau? Aku menemukan sarung tangan ini. Jadi aku yang berhak atas sarung tangan ini.” Hyoyeon menatap mata Sungmin yang teduh. Tatapan lembut yang tegas.

Sungmin terlihat kaget dengan reaksi Hyoyeon.

“Yeon-ah, kau berikan sajalah. Nanti kau pakai sarung tanganku saja. Biar aku kedinginan. Demi Lee Sungmin!!” Hyorin berbisik kepada Hyoyeon.

Hyoyeon mengabaikan bisikan Hyorin yang sukses membuat Hyorin cemberut. Ia masih menatap Sungmin. Tajam dan alam.

“Ya, kau memang menemukan sarung tangan itu. Tetapi itu sarung tanganku yang tidak sengaja jatuh dari tasku. Jadi, bisakah kau kembalikan sekarang?” Sungmin melipat tangannya di atas dada.

“Kau dapat membuktikannya?” Hyoyeon masih belum menyerah.

Sungmin terdiam. Ia berusaha mengingat ingat, apa yang membuktikan sarung tangan itu miliknya. Nama? Tidak ada? Inisial? Tidak ada. Lalu apa?

“Tidak ada bukti khusus tetapi itu milikku. Itu sarung tangan peninggalan ayahku. Makanya sudah usang tapi walaupun usang, aku tetap memakainya. Sudah cukup main-mainnya!! TOLONG KEMBALIKAN!” Sungmin mulai menarik napas panjang. Asap dingin mengepul dari mulutnya.

Well…” Hyoyeon melepaskan sarung tangan itu dan memberikannya pada Sungmin. “Dengan syarat? Setuju?” Hyoyeon tersenyum penuh arti.

“Apa syaratnya?”

“Kencani temanku ini satu hari penuh!”

MWO?!” Sungmin dan Hyorin berseru bersamaan.

Micheosseo (Kau sudah gila)?!” Hyorin berteriak nyaring.

Sungmin dan Hyorin bertatapan canggung.

“Hyo, kenapa? Bukankah kau sangat menggemarinya?” Hyoyeon menatap Hyorin dengan tatapan penuh arti.

“Ti,.. Ti,.. dak sampai begitu, kan Yeon?” Hyorin tergagap menatap Hyoyeon.

“Kau … fansku?” Sungmin menatap Hyorin sambil tersenyum.

Ah, ne...” Hyorin menduduk dan terus mengutuk Hyoyeon dalam hati

“Oke, aku akan kencan dengan … maaf siapa namamu?”

“Hyorin.”

“Ya, ya, dengan Hyorin. Dan namamu siapa?” Sungmin berkata dengan nada sedikit tegas.

“Hyoyeon.”

“Baiklah Hyorin-ah, temui aku di cafe tempat kemarin kita bertemu malam ini pukul 6.”

MWO?! Temui? Kau harus menjemputnya!” Hyoyeon memprotes cepat.

“Menjemput?! Kau pikir aku mau kena skandal??” Sungmin tak mau kalah.

“Kalau begitu kem…”

“Sudahlah, Yeon.  Sungmin-ssi mau makan malam bersamaku, sudah cukup membuatku senang kok.” Hyorin masih tetap menunduk

“Nah, lihat. Rupanya sahabatmu lebih bijaksana dari padamu, Hyoyeon-ah.” Sungmin berkata kesal. “Baiklah. Sampai bertemu nanti, Hyorin-ah. Dan, panggil aku oppa saja, arraseo?”

Ne. Gomawo, Oppa.

***

“INI GILA!!! Aku bahkan menerima tawaran gadis itu! Bagaimana kalau aku terlibat skandal? Tidak. Ini Tidak bisa begini.” Sungmin mengacak rambutnya kesal. “Gadis itu. Hyorin, terlalu membuatku terpesona. Rambutnya yang menjuntai indah. Bola matanya yang mempesona, lentikan bulu matanya. Semudah itu kah jatuh cinta?”

Sungmin bergegas menarik iPhone-nya dari saku celana. Setelah menekan beberapa nomor, ia meletakkannya di telinga kirinya. “Young-Ri? Tolong majukan semua jadwalku. Aku ingin semuanya selesai sebelum pukul 6.”

Terdengar teriakan protes dari ujung telepon, tapi Sungmin tidak peduli. “Aku tidak mengerti bagaimana kau akan menata ulang semuanya. Tapi, Young-Ri kumohon. Aku tutup dulu telefonnya.” Tanpa basa basi Sungmin langsung menutup telefon dan masuk ke dalam mobilnya.

***

Sungmin berjalan lunglai ke arah cafe. Daun daun musim gugur jatuh di atas kepalanya saat Sungmin memasukan tangannya ke dalam mantel itu. Ia berhenti sesaat, menengadahkan kepalanya ke atas. Langit abu abu tampak jelas di matanya. Daun daun dalam sekejap jatuh melayang layang ke atas wajahnya. Sungmin merasakan hembusan angin menerpa kepalanya.

Sejenak kepenatan di kepalanya hilang. Memajukan jadwal ternyata sangat melelahkan belum lagi terkena makian Young-Ri. Sungmin melanjutkan jalannya.

Sesampai di depan café, ia melihat Hyorin tengah duduk di salah satu meja di sana. Wajahnya tampak gelisah.  Ia menangkap satu pemandangan lain. Hyoyeon duduk di meja pada sudut lain, mengaduk-aduk latte-nya sambil menatap kosong ke depan. ‘Aneh,’ pikir Sungmin. Sungmin segera memasuki cafe dan langsung duduk di depan Hyorin. “Sudah lama menunggu?” Sungmin tersenyum lelah.

Ani. Aku juga baru datang.” Hyorin ikut tersenyum.

“Kau ingin minum apa? Coklat hangat atau coffee latte?” Sungmin mulai membuka buku menu di depannya.

“Terserah Oppa saja.”

“Kalau begitu coffee latte saja. Kau ingin pake krim atau tidak?”

“Tidak usah.”

“Kau ingin kue jahe juga?”

“Boleh. Terserah Oppa saja.”

“Kau kenapa??” Sungmin memiringkan sebelah kepalanya dan menatap Hyorin bingung. Waktu pertama kali bertemu Hyorin sangat bawel, bahkan sumringah saat bertemu dengannya. Kini ekspresi wajahnya berubah gugup tidak karuan.

“Tidak apa apa, hanya sedikit gugup. Hahaha.” Hyorin tertawa formal dan tersenyum tipis.

Setelah memesan makanan dan minuman kepada pelayan, Sungmin mulai mengobrol pada Hyorin. Bukan hanya Hyorin, akhirnya Sungmin juga gugup memandang bola mata coklat yang indah itu. “Oh ya, bagaimana bisa Hyoyeon menemukan sarung tanganku?”

“Sebenarnya aku tidak sengaja menemukanya. Tapi karena kebetulan Hyoyeon tidak membawa sarung tangan, jadi aku menyuruhnya memakai itu.”

“Oh, begitu. Jadi kaulah yang menemukan? Terima kasih Hyorin, ini sarung tangan kesayangan ku.”

“Bukan hal besar…” Hyorin tersenyum tulus kepada Sungmin.

***

Hyorin tidak tenang menikmati kencannya bersama Sungmin. Hyorin terus memandang sahabatnya yang duduk di sudut ruangan. Sejak tadi, ia hanya mengaduk-aduk latte-nya dan menatap kosong ke arah meja. Yang membuat ia terkejut adalah, ketika sebutir air bening samar-samar ia lihat keluar dari matanya. Hyoyeon membiarkan air itu mengalir melewati pipinya, seakan akan ia tidak menyadari.

Tiba-tiba Hyoyeon menoleh ke arah Hyorin. Mata mereka berdua bertemu. Hyorin tidak mengerti maksud tatapan itu. Sejak tadi pagi, Hyoyeon tidak banyak bicara. Hyoyeon tersenyum samar sambil menghapus air matanya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan kafe.

Sontak Hyorin ikut berdiri.

Gwaenchanayo?” Sungmin ikut berdiri dan mengikuti arah tatapan Hyorin.

“Hyoyeon…”

“Ada apa dengannya?”

“Sejak tadi pagi, ia tidak banyak bicara. Kurasa ada sesuatu yang salah dengannya. Oppa, maaf.  Sebaiknya kita akhiri acara hari ini. Mianhae…” Hyorin segera keluar kafe dan melihat Hyoyeon berdiri di depan etalase sebuah toko.

“Yeon-ah, gwaenchanayo? Ada yang salah?”

“Tidak. Semuanya benar. Kau, Hyorin sahabatku yang paling sempurna. Bertalenta. “

“Yeon-ah, aku tidak mengerti.”

“SUNGMIN-AH MENYUKAI MU. KAU TAHU? Tatapan, tawa, perhatian. Itu yang dia tunjukan padamu tadi.”

“Kau ini kenapa? Kau menyukai Sungmin Oppa?”

“Aku… aku tak tahu.”

“Jika kau menyukainya, ambillah.”

“Aku membencinya. Sikap keartisannya dan senyum palsunya. Tapi di sisi lain, aku bahagia bertemu dengannya. Aku tidak tahu, apa yang membuat ku tertarik seperti magnet kepadanya.” Hyoyeon mulai mengeluarkan butiran air lagi dari matanya.

“Kau menyukainya, Yeon-ah.”

“Aku tidak!”

“Kau menyukainya bahkan mencintainya!”

“Cinta? Cinta butuh waktu!”

“Kau tidak.”

“Aku tidak mencintainya.”

“Aku dapat membaca perasaanmu. Jangan bohongi perasaanmu.”

“Aku tidak mungkin menyukai seseorang dalam waktu beberapa hari!”

“Cinta tidak butuh waktu. You just need your feels. Maka kau akan menikmati cinta.”

“Kau salah, semuanya butuh waktu.”

“HENTIKAN!”

***

Sungmin memandang kedua sahabat itu dari tempatnya berdiri. Ia dapat dengan jelas mendengar apa yang mereka perdebatkan. Melihat kesungguhan di mata Hyoyeon, ia menyadari bahwa gadis itu memiliki perasaan kuat.

Sungmin menghampiri mereka.

“HENTIKAN!”

Mereka berdua menatap Sungmin kaget.

“Kenapa kalian mempersalahkan cinta?”

Sungmin pun tidak yakin apa yang dikatakannya benar atau tidak. Karena ia menyukai Hyorin, tapi di sisi lain, ada wanita lain yang mencintai dia. Sungmin tidak ingin menyakiti wanita manapun.

Semuanya hening mentap Sungmin.

“Tidak ada yang dapat dipersalahkan memang. Aku tidak dapat mencerna cinta. Ini sulit. Biarkan ini berjalan. Tidak ada yang perlu difikirkan. Kita bersahabat. Tidak ada penolakan.” Sungmin memutuskan sesuatu yang tiba tiba muncul di otaknya

“Ya, tentu saja.” Hyorin tersenyum menatap Sungmin dan menatap Hyoyeon dengan senyum juga.

“Baiklah, sahabat.” Hyoyeon akhirnya menyanggupi janji yang dibuat Sungmin.

Sungmin sendiri tidak yakin, apakah dengan menjadi sahabat perasaaannya pada Hyorin akan mati atau justru berbuah.

***

-3 tahun kemudian-

Chagi-ya…” Sungmin merengkuh pinggang gadis di depannya.

“Sungmin-ah, hentikan!”

“Hey! Sudah kubilang, panggil aku oppa! Jangan Sungmin-ah. Kau kan kekasihku, bagaimana sih?” Sungmin memprotes penuh canda kepada gadis di depannya.

“Baiklah, Sungmin Oppa yang bawel!” Gadis itu mencium pipi Sungmin dan tertawa sendiri.

Yakk! Kalian berdua ini! Ini backstage bukan taman romantis!” Young-Ri menggeleng gelengkan kepalanya.

Sungmin dan gadis itu hanya tertawa tawa ringan dan melanjutkan obrolan mereka.

Oppa, aku merindukan Hyorin.”

Ne, Oppa juga. Maklum, dia sedang dalam masa jayanya. World Tour pasti membuatnya lelah.”

“Aku merindukan candaan dan kebawelannya.”

Oppa juga, Yeon…”

“Apa Oppa masih menyimpan perasaan pada Hyorin?”

Ne, sebagai sahabat.”

Gomawo, Oppa.

“Untuk?”

“Segalanya.”

Sungmin tersenyum dan mengecup bibir Hyoyeon perlahan dan menikmatinya.

***

Hyorin menyerahkan kopernya kepada managernya. “Bawakan ke apartemenku. Aku ingin menikmati musim gugur di Korea sebelum besok berangkat lagi ke Guangzhou.” Hyorin memakaikan syal tebal ke lehernya, merapatkan mantelnya, dan mulai masuk ke dalam mobil yang telah dipersiapkan untuknya. Dalam perjalanan dari bandara ke kota, ia terus memandangi langit abu-abu keputihan yang menjadi khas musim gugur. Ini sudah memasuki tahap tahap akhir musim gugur. Ia berharap salju turun sesegera mungkin.

Sesampai ia di Taman Kota, yang seperti biasanya, ramai dengan penduduk kota Seoul, Ia berjalan jalan dengan santai mengikuti jalan setapak di taman itu. Daun-daun berguguran memenuhi seluruh taman. Rumput semuanya tertutupi oleh daun daun coklat kekuningan, sedangkan pohon semuanya hanya meninggalkan ranting.

Tiba-tiba semua orang berseru dan menengadah ke atas. Hyorin ikut menengadah dan mendapati sebongkah salju jatuh di atas wajahnya. “Salju pertama!!!” Hyorin berucap bahagia.

Sambil terus berjalan, ia teteap menengadahkan kepalanya ke atas, menikmati peristiwa salju yang turun dari langit. Salju pertama yang selalu indah. Hyorin duduk di salah satu bangku di sudut taman. Ia memandangi salju mulati jatuh di atas daun-daun oranye kecoklatan itu. Indah dan begitu menyentuh perasaannya.

“Musim gugur tiga tahun lalu.” Hyorin tersenyum. “Sudah saatnya melupakan apa yang harus dilupakan. Tiga tahun sudah berlalu.” Setetes air mata mengalir di pipinya, cepat-cepat ia usap kembali.

Musim gugur telah berakhir. Semua kenangan musim gugur akan ia kubur dalam dalam. Musim gugur, musim penuh kenangan dan kisah. Kisah yang sempat mengisi hati Hyorin selama 3 tahun.

Musim gugur….

Sesuatu yang kini hanya patut untuk dikenang, bukan ditinggalkan.

~end~

9 thoughts on “[FF Freelance] Autumn To Remember (Part 2 – END)

  1. aaaaarrrrrrggggghhhh kenapa endingnya gak sama Hyorin thor 😥
    Hyoyeon itu munafik bgt,
    Yang duluan suka kan Hyorin, bukan Hyeyeon, masa dia ngerebut gebetan sahabatnya,
    awalny bilang gak suka tp tiba2 bilang cinta,
    kasihan tw Hyorin,

    dan umin oppa gak konsisten bgt sih,
    seharusnya dia bisa mempertahankan yeoja yg ia cintai,
    bukan plin-plan seperti itu,

    Hyeyeon sahabat macam apa itu ?
    Naudzubilah Minjalik aku puny sahabat munafik kyk gitu,
    tp sayangny aku pernah ngerasain thor 😥
    rasany sakit bgt dikhianatin sama sahabat sendiri 😦

    #jd curcol
    hahahahaha

    intiny aku kurang suka sama endingnya thor,
    qlo sama Hyerin pasti keren thor (y)

  2. so sweet tapi akhirnya rada nyesek
    hyorin juga suka sama sungmin oppa kan??
    over all it’s jjang!! keep writing !!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s