Killing The Claustrophobia – Part 1

re-ktc-helmyshin1

Killing The Claustrophobia – Part 1

An End Is How It’s Begin

A Story Written By helmyshin1

Main Cast: Key SHINee, Jessica Jung SNSD, Choi Minho SHINee, Kim Jonghyun SHINee || Support Cast: Lee Taemin SHINee, Cho Kyuhyun Super Junior, No Minwoo Boyfriend, others || Genre: Angst, Gore, Psychology || Rating: PG 17 || Lenght: Sekuel || Special Thanks To: Nadya Mayrosa and Teh Vania for cover

P.S: Tetap perhatikan ‘waktu’ di setiap sceneTypo is an art.

PROLOGUE | . . .

WARNING!

Mild language, bloody, AU, characters death

Bagi reader yang umurnya belum mencapai rating atau tidak terbiasa membaca genre Gore, sangat disarankan untuk tidak scroll ke bawah!

.

“Semua yang merendahkan kami, semua yang tak berguna lagi, harus mati.”

 

Killing The Claustrophobia © 2013 Psycho Addict, helmyshin1

Udara berembus cukup kencang pada malam terakhir tahun ini. Setengah jam lagi waktu akan memasuki tahun yang baru. Membuka lembaran baru. Kim Kibum membanting benda tajam itu ke ujung ruangan, menimbulkan bunyi nyaring ketika mata pisau berlumuran darah tersebut beradu kekuatan dengan lantai. Key menempelkan punggungnya ke dinding, dengan napas menderu dan peluh yang terlebih dahulu membasuh, diputarlah shower. Perlahan namun pasti, rasa dingin mulai merambat melalui pembuluhnya.

Lelaki itu menjatuhkan diri, berselonjor, dan diputar kepalanya ke arah pisau yang tadinya ia lempar. Diamati logam mengkilat itu sementara darah yang menempel di kulitnya mulai ditarik oleh air. Tak lama, warna cairan di sekitar Key memerah. Dan dia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di sana. Di merah yang penuh amarah.

Key memandang kedua telapak tangannya yang menengadah. Yang terbahak melihat air mukanya yang terlewat patut ditertawakan.

“Aku.. Aku telah membunuh Lee Jinki bukan? Apa yang sebenarnya kau lakukan, Key?! ARGH!”

Napas lelaki bermata kucing itu bergemuruh, logikanya entah terdampar di mana. Key memejamkan kedua matanya. Lama. Air dari shower seakan mengalir lebih deras. Cairan pekat yang semula memeluk kulit tubuh Key kini sirna nyaris tak berbekas. Namun kenyataan meninggalkan tanda yang tak sementara. Kenyataan bahwasanya dia telah membunuh seorang Lee Jinki. Teman, saudara. Dia telah membunuh Lee Jinki. Benar. Dia telah membunuh Lee Jinki.

Bunuh. Bunuh. Bunuh.

Angan darah kembali melekatkan diri di benak Key, muncul dengan teramat jelas, membayang di setiap hela napas, menghantu di batin yang tak pernah puas. Merah segar, pekat, juga anyir yang menusuk. Menohok indra penciuman pun menuding tolol pikiran. Key ingat betul. Tak bisa terhapus atau bahkan dilupakan. Semua itu masih ada. Semua itu nyata. Membisu. Lidah Key kelu. Pupil membesar, pandang tak tentu. Dia kalut. Key kalut.

Sejurus kemudian Key mendapati diri mengobrak-abrik kamarnya sendiri, dia mencari benda itu, dia butuh benda itu. Bukan esok, tapi sekarang. Bukan nanti, tapi detik ini. Sisa air berceceran meski shower telah dimatikan. Persetan. Laci demi laci isinya telah ia buang, kantung demi kantung telah ia rogoh dalam. Ia tak kunjung menemukan. “Di mana? Di mana? Di mana?” Dengan langkah tak karuan, Key memeriksa kembali laci, tas, pakain, juga lemari.

“DI MANA?!” Key menggusur seluruh barang yang sebelumnya tertata rapi di atas meja. Suara kaca pecah juga hiasan kayu yang beradu dengan ubin mewah tak ia hiraukan. Dijambak rambutnya sendiri, dipejamkan mata dalam-dalam. Key diam beberapa saat, memaksa otak untuk memutar ingat. Keadaan ruang yang ia tempati kini terlewat berantakan. Kertas bertebaran, semua sungguh tidak pada tempatnya.

“Hahahaha!” Suara Key menggema, dia menemukannya!

Jemari Key dengan lentik mengambil sebuah suntik yang telah berisi dari dalam lemari, sisa kemarin. Wajahnya tak beralih dari pucat, senyum dan tawa justru membuat keadaannya tak lebih dari orang gila. Sempoyang, Key memojokkan diri di ujung ruangan, menyuntikkan cairan itu ke pembuluhnya. Zat dalam cairan itu bereaksi dengan badannya, bersarang di setiap hemoglobin, menjalar melalui sel-sel tubuh, melumpuhkan logika.

Dipandangnya langit gelap dari balik jendela. Langit gelap yang hampa. Kedua lututnya lemas, penat menopang tubuh itu. Dia pun jatuh terduduk, namun egonya belum puas. “Aku telah melenyapkan Lee Jinki! Aku telah membunuhnya! Hahaha..”

“Aku telah membunuh Lee Jinki! Aku telah.. aku telah menghabisi orang yang menganggapku saudaranya sendiri! Hahaha..” Suara Key amat serak nan parau, bahkan tawanya pun putus-putus. Lelaki itu melempar suntik tadi entah ke mana.

Berdiri dengan tumpuan tangan di tempat tidur, dia mencoba berjalan. Perlahan, mata dan hidungnya mulai berair. Key bersikukuh mencapai lemari yang berjarak tujuh langkah dari tempatnya berpijak. Akhirnya dia dapat meraih satu suntik yang berisikan cairan yang sama, kali ini malah berisi penuh. Tanpa memainkan logika –tentu karena logikanya saat ini tak berfungsi- segera ia tancapkan saja jarum itu ke uratnya, dan malam ini, cairan terlarang itu menguasai.

“Hahaha.. Hahaha.. Haha..”

“Hhh.. hh.. hhh..”

“HAHAHA!”

Penglihatan Key berangsur buram, segala hal di depan mata tak bisa dilihat dengan jernih. Key memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan, pening itu terlewat menyiksa.

“Lee Jinki. Darah. Mati.”

Lambungnya berkontraksi, segala yang masuk hari ini seperti terdorong ke atas, ingin mencuat saja dari mulut Key. Untungnya kali ini lelaki itu bisa menahan dampak yang satu ini.

Tapi mata dan hidungnya terus berair. Kepala seperti dihujam oleh satu juta paku. Sakit. Sakit sekali. Key menyudutkan diri lagi, menarik rambutnya sendiri untuk melampiaskan rasa sakit itu. Key berantakan di sudut ruangan.

Masih dengan pandangan remang, ia dapat melihat langit malam yang semula gelap mulai dipenuhi cahaya berbagai warna. Samar-samar, riuh teriakan, terompet, dan tepuk tangan membuat telinganya berdengung.

Chasing The Dragon.

“HAHAHAHA.”

***

January 1st 20xx (New Year)

01.35 AM – Jung Residential

Lee Joon memutar kenop pintu perlahan, masuk ke dalam sebuah ruangan besar dengan dinding berwarna biru menyala. Bukan biru seperti halnya langit atau laut, namun biru yang laksana api membara.

“Jessica-ssi, tamu kita sudah datang,” ucapnya hati-hati, seolah setiap frasa yang terlontar dari mulut sungguh menentukan nyawanya.

Perempuan yang berdiri dengan jarak lima meter dari Joon memutar badan, nyaris terlihat seperti seorang penari yang membalikkan tubuh dengan anggun. Rambut panjangnya yang ikal sedikit berkibar. Jessica mengepulkan asap dari mulut, menggesek permukaan asbak dengan ujung rokoknya yang masih menyala. Lantas, dikancingkan jas merahnya dengan jari-jarinya yang sungguh lentik, “Suruh dia masuk,” katanya datar, “Dan siapkan pistol baruku.”

“Baik, nona.” Lee Joon menutup pintu.

Si jas merah menyibakkan jendela, sedikit mengintip ke bawah di mana ia dapati sebuah mobil hitam terparkir di halaman rumahnya, di bawah lampu-lampu yang terang adanya. Seorang lelaki yang mengenakan jas hitam rapi keluar dari sana, diikuti  dua orang lelaki bertubuh besar. Mereka berdua –lelaki bertubuh besar- tak turut masuk ke rumah. Hanya menunggu tuannya di depan mobil.

Jessica menyeringai.

***

January 1st 20xx

Seoul, 01.41 AM

“Untuk apa kau bertamu ke rumahku sepagi ini, Minho-ya?” tanyaku beberapa saat setelah membuka pintu. Di luar sungguh masih gelap, hanya ada beberapa lampu jalan dan lampu halaman rumah yang berpendar. Seperti biasa, lelaki jangkung itu hanya menatapku datar, air mukanya tak menyiratkan apa-apa. “2 menit. Cepat ganti bajumu, tak ada waktu lagi, Key,” jawabnya dan berbalik menuju mobilnya tanpa menunggu responku terlebih dahulu. Aku mengangkat bahu, lagipula tak ada salahnya menuruti perintah bocah itu.

Kurang dari dua menit kemudian, aku telah duduk di dalam mobilnya, memasang sabuk pengaman sementara Minho mulai mengemudi, menyalip beberapa kendaraan di jalan.

Aku menghela napas, memiringkan kepala, “Okay, then, beritahu aku ada apa,”

Lelaki itu melirik spion mobil sesaat, lantas memfokuskan matanya ke jalan, “Onew hyung ditemukan mati di kamarnya.” Aku membulatkan mata, setengah memekik, “Mwoya?!” Minho melanjutkan, “Setengah jam yang lalu Taemin menghubungiku. Dia panik, orang tuanya tengah mengurus bisnis di Jepang, Taemin seorang diri di rumah. Aku menyuruhnya untuk tak melakukan apapun sebelum kita datang,” jelasnya.

“Apa kau yakin bahwa Onew hyung benar-benar dibunuh?” Minho melirik ke arahku sejenak, “Maksudmu dia sengaja bunuh diri?” mata belonya mendelik.

Who know,” balasku mengendikkan bahu.

Minho menancap gas, membuat laju mobil semakin kencang, “Sangat yakin. Seberat apapun masalahnya, aku percaya bahwa Onew hyung tak akan mengalah kepada keadaan. Jalan bunuh diri tak akan ditempuhnya.”

Ah, sudahlah. Aku malas berdebat dengan bocah ini. Lantas, pikiranku teringat sesuatu. “Bagaimana dengan Jonghyun hyung?”

“Dia sudah kuberitahu.”

Aku menyandarkan punggung. Kupalingkan wajah dari Minho, menerawang dan nyaris berbisik, “Kasus ini harus segera selesai.”

Namun ternyata seorang Choi Minho bisa mendengar lirih suaraku, “Dan pembunuh itu..” aku menoleh lagi kepadanya, kedua tangan si mata belo itu meremas kemudi, “..harus kita lenyapkan.”

Sisa perjalanan kami tempuh dalam diam.

***

Seoul, 01.35 AM

Jung Residential

Aku menyesap teh kental yang tersaji di dalam cangkir keramik ini, merasakan hangat yang mulai menjalar menelusuri kerongkongan. Kuletakkan cangkir itu kembali. Ada sesuatu yang masih terasa di lidahku. Kudongakkan kepala, menatap perempuan berhidung mancung yang memindahkan pion caturnya. Aku pun berkata, “Teh milik keluarga Jung selalu istimewa. Kental dan menanggalkan adiksi di lidah.”

Kutatap lagi perempuan berjas merah marun itu. Melanjutkan penjelajahan mata ke ruangan besar dengan perabot mewah. Perempuan itu menatapku tanpa ekspresi, “Katakan tujuanmu kemari. Aku tak suka bertele-tele,” ujarnya dengan nada datar, seolah bocah itu memang tak pernah tahu bagaimana cara berucap dengan nada tinggi atau sekedar berbisik.

Terus memaksa diri untuk beramah-tamah, aku menjawab, “Kau tentunya sadar bahwa Jung Company, perusahaan yang saat ini kau pimpin merupakan pemasok barang terbesar di pasar gelap. Sedangkan aku adalah orang yang dapat memasarkan barang bahkan sampai sudut-sudut bumi. Bila kita bekerjasama,”

“Aku tak menyetujui ada kata ‘kita’ antara kau dan aku.”

“Pikirkan saja keuntungan yang dapat kita sedot, Nona Jessica. It will be great!”

”Giliranmu,” balasnya singkat. Seperti tak peduli atas apa yang kukatakan.

Berusaha keras memelihara jam pasir kesabaran, kutatap pion-pionku, memikirkan langkah selanjutnya walau sebenarnya aku tak terlalu mengindahkan permainan kami. Jessica kembali berbicara, tepat kala kugerakkan kudaku, menerkam prajuritnya. Di benakkku sudah tergambar sketsa di mana perusahaanku akan tumbuh pesat, sementar dia-lah yang mati-matian bekerja. Hahaha!

“Bisnismu itu busuk, Cho Kyuhyun,” mataku mendelik, “Begitu juga denganmu.”

Jessica meluruskan pandangannya ke mataku. Detik berikutnya, baru kusadari bahwa mulutku telah mengucap sesuatu yang salah. Sial. Aku mengangkat kepala lagi, dan bernapas lega ketika mendapati air muka bocah tengik itu yang masih sama. Datar. Seperti tak ada perasaan. Kusimpulkan bahwa kalimatku tadi tak berpengaruh apa-apa. Namun tetap kucari ulasan untuk menarik kemauannya bekerja sama.

“Semua orang patut mengakui kejeniusanmu, Nona Jessica. Kau adalah pemimpin Jung Company. Memasok ribuan senjata ke seluruh dunia. Meracik zat adiktif sendiri. Bahkan aku belum bisa melakukan hal itu ketika seusiamu. Bukankah hal itu patut dibanggakan? Maka dari itu..”

Belum rampung aku berujar, namun Jessica terlebih dulu memindahkan salah satu pionnya, “Skak mat.”

Kusadari pupilku membulat. Hei, sejak kapan ia memikirkan ini, bukankah sedari tadi ia menatapku bicara?

Si jas merah itu bangkit, mengulurkan tangan kanannya padaku. “Baiklah, aku setuju bila kita bekerjasama. Rasanya tak sulit membuat satu orang saja bahagia untuk sesaat..”

Aku terbahak di dalam hati, tetapi air muka telah kuatur untuk menyajikan senyum sederhana. Kujabat tangan putih porselen itu, “Ne, suatu kehormatan dapat bekerja dengan Jung Company. Semua detail rencana akan kukirim secepatnya.” Aku membenarkan kerah jas, “Permisi.”

Dan baru saja kutempuh beberapa langkah, aku harus membalikkan tubuh ketika mendengar suara Jessica menyebut namaku. “Tuan Cho.” Namun betapa terkejutnya aku kala mendapati bahwa perempuan itu berdiri dengan sebuah revolver besar di tangannya. Lebih cepat dari waktu yang kubutuhkan untuk menerjap mata, sebuah peluru terlebih dahulu menggores bahuku. Mengenai pintu.

“Apa yang kau lakukan?!” pekikku. Perempuan itu tak beranjak, justru memuntahkan peluru lagi dari mulut pistolnya. DOR. Kali ini menembus paha kananku. Aku mengerang kesakitan.

“Semua yang merendahkan kami, semua yang tak berguna lagi, harus mati.”

Kedua bola mataku hampir meloncat keluar. Lamat-lamat kusadari sesuatu yang mulai menjalar di dalam pembuluhku, seiring dengan nyeri dari paha yang begitu menyiksa. Jantungku berpacu. Segalanya terasa berputar terlalu cepat. Walau ragu, kudongakkan kepala. Sama. Dia masih menatap dengan ekor mata dinginnya. Namun tiba-tiba ada sebah ketakutan yang menekan, rasa takut yang menguar, entah darimana berasal. Logika hanya menghasilkan satu kata. Lari. Lari. Lari.

Kuputar kenop pintu. Keluar, dan di kanan maupun kiriku hanyalah lorong besar dengan cahaya berpendar. Ah, ini bukan pintu masuk tadi!

Tak ada waktu, aku berlari ke arah kanan sementara darah tak berhenti mengucur. Kucoba menutup bagian yang mengeluarkan darah itu dengan tangan kananku, mencegah supaya tak semakin banyak saja cairan pekat itu keluar, walau hal itu nampak tak berguna. Waktu terus bergulir, namun lorong besar ini seolah tak berujung.

Di sisi lain, ada rasa penasaran kiranya apa yang ada di belakang. Apa Jessica mengejarku? Apa bajingan tengik itu membiarkanku pergi? Kuteguk ludahku berkali-kali, memberanikan diri menengok. Dan sungguh menyesali apa yang telah kulakukan, karena berapa kali pun aku menoleh, di balik punggungku selalu hal yang sama: Jessica dengan revolver di tangannya.

“Tolong.. Tolong!” Aku berteriak sendiri dengan suara serak. Keringat dingin keluar dari setiap pori-pori kulit.

Argh, eottokheyo?

Jebal.. jangan bunuh aku. Hh.. aku mohon.. hh..” mungkin suaraku sungguh terdengar jauh, aku bahkan tak yakin perempuan itu mampu mendengarnyaDarah tak berhenti mengalir, seakan tengah berlomba untuk meninggalkan tubuhku. Menyeruakkan bau anyir yang menusuk bahkan untukku sendiri.

“Semua yang mempermainkan kami, semua yang tak berguna lagi, harus mati.”

Langkahku mulai terseok, entah apa yang ada di dalam peluru tadi. Namun jantungku berdetak terlampau kencang, seolah hendak meledak. Tak peduli betapa derasnya peluh yang membasahi tubuh. Aku hanya ingin keluar.

“Hh.. hh.. h..” napasku memburu. Kutelan ludah bulat-bulat entah untuk yang keberapa kali, kuputar kepala ke belakang, Jessica siap menembakkan pelurunya kapan saja.

“Mian.. Jeongmal mianhae. Aku tak mau mati.. aku tak ingin mati di usiaku yang masih muda! Jebal!” bahkan suaraku terlampau parau untuk sekedar berteriak.

“Apa yang telah kau ucapkan tak bisa kau tarik kembali, Cho Kyuhyun.”

Normal POV

“Apa yang telah kau ucapkan tak bisa kau tarik kembali, Cho Kyuhyun.”

BRAK!

Tubuh besar itu jatuh ke lantai, kakinya benar-benar tak bisa digerakkan lagi kali ini. Terpaksa berpindah tempat dengan mengesot, namun rasa-rasanya pintu keluar dari rumah ini tak ia temukan juga.

DOR!

Menyeringai ketika peluru peraknya mengenai lengan kiri Kyuhyun.

Rupanya, Jessica menyudutkan lelaki itu ke ujung lorong dengan berbagai barang antik ala Jepang yang menempel di dindingnya. Kyuhyun sama sekali tak menyadari hal itu, mengingat dirinya sendiri yang tengah dikuasai ketakutan yang luar biasa. Takut untuk mati di usianya yang masih muda.

Aniyo, aku mohon jangan bunuh aku. Ampuni aku, Jessica-ssi. Ampun!” Yang dimintai ampun menatap lelaki itu nanar, seolah tengah menatap sesuatu yang paling menjijikkan di dunia ini. Jessica membuang revolvernya.

“Aku sudah bilang kan, Cho. Aku tak suka bertele-tele.”

Kurang dari sekedipan mata, Jessica menarik sebuah samurai yang dipajang di dinding. Segera saja perempuan itu melompat ke atas perut Kyuhyun yang tak berdaya, mengarahkan ujung samurai yang mengkilap ke jantungnya. Tetapi Kyuhyun tak kalah cekatan pula, keberuntungan tengah berpihak ketika ia dapat menahan senjata itu. Kedua telapak tangan Kyuhyun mulai berdarah karena menggenggam sisi samurai yang tajam, sementara Jessica terus menekan dengan memegang ganggangnya.

“Cho Kyuhyun, melawan kematian itu tak baik.”

Secepat kilat, Jessica menggerakkan samurai menggores pergelangan kiri Kyuhyun, hingga darah mengalir deras dari sana. Dan saat itu pula perempuan itu membiarkan ‘mangsanya’ mengambil sempitnya celah untuk berlari –berjalan terseok- walau cairan merah pekat selalu mengiringi langkah.

Ketika berjarak sekitar dua meter, Jessica memungut revolvernya, mengarahkan mulut pistol ke tujuannya dan.. DOR! Kyuhyun mulai kehilangan keseimbangan, namun sebelum ia ambruk, Jessica telah berpindah tempat ke hadapannya. Hanya dengan satu ayunan samurai, menebas leher lelaki itu hingga memisahkan tubuh dan kepala.

Ambruk. Darah mulai menggenang dari sana. Menyeruakkan aroma anyir yang tak ada duanya.

“Hahahaha!”

Jessica berdiri, mengangkat kepala Kyuhyun hingga mata lelaki yang membelalak itu sejajar dengan ia, “Seharusnya aku membunuhmu sejak dulu, bukan?” lantas membuangnya sembarang, membiarkan bagian tubuh berlumur darah itu menggelinding seperti bola.

Dengan tangan penuh cairan merah pekat, perempuan itu merogoh saku jas merah marunnya, mengambil handphone dan nampak tak sedikit pun peduli bila benda elektronik itu kotor. Klik.

“Bersihkan. Semuanya,” lalu menutup sambungan telefon tanpa sudi menunggu respon dari orang yang dihubunginya.

Jessica tertawa kegirangan lagi, melompat laksana anak kecil yang mendapat mainan. Dia berjalan –nyaris menari- meninggalkan mayat Kyuhyun. “Hahaha..”

***

Aku tidak memutuskan untuk membenci rumah Jonghyun walau aku kurang setuju dengan hijau cat temboknya. Warna yang seharusnya tak dipilih Jonghyun karena bertolak belakang dengan siapa dia. Bangunan yang jauh lebih megah dari rumahku ini lebih sering kusebut ‘penjara’ di mana hampir setiap sudutnya diberi penjaga.

“Ck, lama sekali,” gerutu Minho setelah berulang kali memencet bel rumah. Kemudian seorang pelayan perempuan membuka pintu, menyumbulkan wajahnya yang lusuh menahan kantuk. Air mukanya terlihat tak asing lagi melihat wajah kami.

“Mana Jonghyun hyung?” tanyaku tak sabar. “Tuan Jonghyun ada di kamarnya, tuan,” perempuan itu membuka pintu lebar-lebar, mempersilahkan kami –aku dan Minho- masuk. Aku membiarkan Minho berjalan terlebih dahulu menaiki tangga. Langkahnya jelas tergesa. Rumah ini begitu sepi. Ya. Sepi. Sepi dalam laksana dan sepi dalam arti sesungguhnya.

Minho memutar kenop pintu kamar Jonghyun, membanting pintu keras-keras.

Hyung?” aku menaikkan alis, berjalan ke arahnya. Lelaki yang masih memandang luar dari kaca jendelanya itu berbalik, aku dapat melihat matanya yang berkaca, juga ekspresi duka.

“Manipulasi. Kita harus memanipulasi semua ini!” serunya. Dapat kulihat pandangan dan wajahnya yang kalut. Berantakan.

Aku duduk di atas ranjangnya. Minho mendekat, “Sebaiknya kita panggil polisi, hyung. Mereka pasti bisa meringkus pembunuh itu dengan cepat.”

Aku menatap Minho tajam, “Kau gila, Minho!”

“Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang? Kau tak ingat Taemin seorang diri bersama mayat hyung-nya, hah?!” Minho membentak.

Jonghyun bangkit, mulai berjalan mondar-mandir mengelilingi kamarnya sendiri, “Let me think. Let me think.” Beberapa saat kemudian, ia kembali duduk di atas kursi yang menghadap jendela. Tubuhnya membelakangiku, namun aku tahu bahwa ia tengah menerawang ke awan yang gelap di antara gorden putihnya yang berkibar, “Kita tak bisa melapor kepada pihak manapun.”

Hening sesaat.

“Ya. Kita bisa. Kita harus!” Minho menyahut penuh nafsu. Aku bangkit, suhu tubuhku meninggi, “Andwae! Pikirkan Minho, apa yang akan terjadi jika kita melibatkan polisi. Nama baik kita semua akan tercemar!” teriakku.

“Di saat seperti ini kau masih memikirkan nama baik, Key? Hyung kita telah mati dibunuh. Mati, Key! Mati!” Jonghyun menghentikan ocehan Minho, lelaki itu meremas kerah si jangkung, menatapnya dengan bengis.

“Ini bukan hanya tentang nama baik, Minho. Kau kira aku tak sedih, hah?! Jika kita lapor kepada polisi semuanya hanya akan bertambah rumit. Mereka akan mengintoregasi kita dan..” Jonghyun memejamkan matanya selama beberapa detik, “..dan sadarlah sudah berapa banyak tindakan kriminal yang telah kita lakukan! Use your logic, Minho-ya!”

BAM.

Jonghyun nampak mengatur napas setelah membanting tubuh Minho hingga menghantam lantai. Sedang si jangkung tadi hanya mendengus.

“Diam kalian berdua. Berhenti bertingkah seperti anak kecil!” aku mencoba menengahi. Jonghyun memincingkan ekor matanya ke arahku, sementara Minho hanya menatapku tak suka. Persetan.

“Jonghyun hyung benar. Jika ‘tindakan’ yang selama ini kita lakukan terbongkar, itu hanya akan memperburuk keadaan. Appa Jonghyun hyung, sekolah, orang tua Jinki, bahkan bisnis keluargamu juga, Minho. Semuanya,” kataku.

Aku mengembuskan napas, memberi kesan bahwa pikiranku pun sedang runyam, “Masalah siapa yang membunuh Onew hyung kita urus nanti. Sekarang, kita harus menemui Taemin, meyakinkan dia untuk tak memberitahu siapapun, bahkan orang tuanya tentang hal ini. Dan yang lebih penting..”

Minho dan Jonghyun menatapku penasaran, rupanya mereka benar-benar mendengarkan, “..memanipulasi bahwa Onew hyung bunuh diri.”

Mwo?” si jangkung membulatkan matanya. “Orang-orang tak akan percaya bahwa seorang Lee Jinki bunuh diri, hyung. Buat saja dia seolah kecelakaan,”

“Baiklah, aku setuju,” sahut Jonghyun dengan tiba-tiba, lalu mengalihkan pandangan ke arahku, “Kau lupa betapa sayangnya eomma Onew hyung terhadap anak-anaknya, hah? Dia tentu tak akan tinggal diam jika tahu anaknya dibunuh. Namun jika yang dia tahu Onew hyung kecelakaan.. semoga ia menerima semuanya.”

Ah, kasih sayang, ya.

Aku mendengus.

***

2 Days Ago

Seoul, South Korea

Seluruh komponen di tempat luas itu seolah bahu membahu, saling melengkapi untuk menciptakan suasana yang memabukkan. Dentum musik beat DJ-lah yang mengendalikan, hiruk pikuk pinggul saling bergesek, menari bermandikan gemerlap cahaya penuh warna. Seolah tak kenal kata bernama lelah, seluruh manusia di ruang itu larut dalam kesenangannya.

“Kau mabuk lagi, hah?” hardik Minho. Sedang yang diajak bicara tak menjawab sepatah kata pun, masih asyik dengan beberapa botol hijau yang tersedia di depannya.

“Haha.. Biarkan saja, Minho. Jonghyun hyung memang paling kuat minum!” sahut Key yang menyumbulkan kepalanya dari samping tubuh Jonghyun. Dia turut meneguk tequilla entah untuk yang keberapa kali. Namun pastinya jauh lebih sedikit dari jumlah gelas yang telah Jonghyun habiskan.

Tiba-tiba Onew membanting tubuh di antara Jonghyun dan Key setelah bercumbu dengan gadis yang bahkan tak ia ketahui siapa. Onew menghela napas berat. Yang lain hanya meliriknya sesaat, kemudian melanjutkan apa yang tengah dikerjakannya.

Suasana masih sama seperti saat mereka pertama kali terjerumus ke dalam sini. Musik beat menyatu dengan detakan jantung, cahaya seolah kian bertambah terang bersama aroma alkohol yang menguar. Membuat setiap orang yang ingin keluar harus berpikir dua kali, mengurungkan diri.

“Sekali-kali cobalah sepertiku! Hahaha..” Jonghyun menyenggol bahu Minho dengan botol di tangannya, berniat menawari lelaki itu dengan apa yang ia sebut kenikmatan. Minho menarik sebatang rokok, membanting bungkusnya ke atas meja. Dia menjepit pangkal rokok itu dengan dua bibir menawannya, lantas membakar ujung rokoknya.

“Terimakasih atas tawaranmu, hyung. Tapi dengan segala hormat aku beritahukan bahwa aku tak sedikit pun tertarik membiarkan logika-ku dikuasai cairan itu,” ucap Minho kemudian mengepulkan asap rokoknya.

“Ah, sudahlah, aku tak peduli!” Jonghyun berdiri, merentangkan kedua tangannya dengan bir di genggaman kanan, “Aku hanya mau bersenang-senang.. Hahaha!” pekik Jonghyung walau musik menelan keras suara. Lelaki itu meneguk cairan tadi dengan cepat, lantas berhambur ke tengah lautan manusia yang tengah berdansa. Hingga tak terjangkau lagi dari pandang teman-temannya. Minho memalingkan wajah, kelewat bosan untuk menghadapi hyung-nya yang satu ini, sedang Key dan Onew tak menunjukkan raut wajah yang berbeda. Sudah terbiasa.

***

Lee Family’s House

Seoul, 02.58 AM

Lee Taemin berhambur keluar bahkan sebelum mesin mobil Minho berhenti berderu. Nampaknya namja itu kelewat tak sabar menunggu kedatangan Key, Jonghyun, dan Minho. Ketiga lelaki itu setengah berlari menghampiri Taemin.

“Onew.. Onew hyung.. dia..” suara yang keluar dari mulut Taemin sungguh parau, juga seakan namja itu tak bisa berbicara dengan lancar apa adanya. Jonghyun mengembuskan napas berat, tanpa sepatah kata pun, ia melangkah cepat ke kamar Onew diikuti Minho, Key, dan Taemin. Derap langkah yang beradu terdengar menggema di rumah besar yang lengang.

BAM.

Jonghyun membuka pintu lebar-lebar, bola matanya nyaris saja keluar. Dia tahu bahwa Onew telah mati, dia tahu bahwa Onew telah dibunuh. Hanya saja, melihat dengan mata kepala sendiri membuat perasaannya bercampur aduk.

“Siapa.. siapa yang berani melakukan ini semua?” Suara Jonghyun seperti tengah menahan teriakkan supaya tak keluar dari dalam tenggorokannya. Lelaki itu bersimpuh di dekat mayat Onew yang masih digenangi darah. Jonghyun menengadahkan kepalanya, menerawang. Giginya bergemeletuk. “Aku bersumpah akan membalaskan dendammu, hyung. Aku bersumpah tak akan membiarkannya berpijak di bumi ini lagi.”

Seseorang yang bersuara agak cempreng mencengkram bahu Jonghyun, “Hyungmian, tapi kita benar-benar tak punya waktu lagi,” lalu mengalihkan pandangannya ke tubuh Lee Jinki yang terkapar di atas lantai. Wajah tenang itu benar-benar hilang, tertelan darah yang menyelimuti hampir seluruh bagian tubuhnya. Juga pandangan teduh seorang Jinki tak akan terlihat kembali, lantaran kedua bola matanya yang telah terputus dari urat-uratnya. Menggelinding di sekitar tubuhnya.

“Minho, ambil foto dari semua ini, selidiki apapun yang mencurigakan di TKP. Aku dan orang-orangku yang akan mengurus manipulasi dan mengumpulkan semua data yang diperlukan. Dan kau,” diputarlah tubuhnya, menatap si mata kucing yang tadi meremas bahunya, “Kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan, Key.”

Kesemua namja itu segera melakukan tugasnya masing-masing, pengecualian untuk Taemin yang masih belum mengerti akan apa yang terjadi. “Hyung, apa maksud semua ini?” tanya adik tunggal Lee Jinki itu. Key meliriknya sebentar, lantas menariknya ke ruang tamu, di mana –mungkin- Taemin bisa merasa lebih tenang dan dapat berpikir jernih.

02.17 AM

“Jelaskan, Taemin,” ucap Key setelah dia dan Taemin mengambil tempat duduk.

“Maksud hyung, jelaskan apa?”

“Semua yang berhubungan dengan kejadian ini. Semuanya.”

Taemin merapatkan kedua kakinya, agaknya ia meremas lutunya sendiri dengan kedua tangan  yang dimilikinya. Pandangan lelaki itu ke bawah, ke lantai, seolah mengingat apa saja yang bisa diingat, berpikir, juga mencari jawaban di antara corak-corak lantai rumahnya.

“Seperti yang hyung tau, orang tua kami berada di Jepang sedari lima hari yang lalu. Sejak sore aku menghadiri undangan pesta tahun baru di sekolah sampai pukul satu. Di waktu itu aku sama sekali tak berkontak dengan Onew hyung, juga eomma dan appa. Sebelumnya Onew hyung berkata bahwa ia hanya ingin menghabiskan malam tahun baru di rumah, tapi aku juga tak tahu apakah dia keluar,”

Mata Key menyipit, terus memperhatikan dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Taemin. Key bisa menangkap perasaan Taemin yang tak menentu dari cara duduknya yang kaku. Sama sekali tak santai seperti Taemin yang pernah dia kenal.

Taemin melanjutkan, “Aku tak ingat tepatnya jam berapa saat sampai di rumah. Mungkin sekitar pukul satu. Tubuhku sungguh lelah, namun entah mengapa rasanya ada yang tak beres. Aku pun menuju kamar Onew hyung, memastikan bahwa firasatku salah. Namun.. namun..” napas Taemin mendadak memburu, pupilnya membesar. Lelaki itu dapat merasakan keringat dinginnya sendiri yang mengalir menyusuri kulitnya.

“Lanjutkan.”

“Aku tak tahu, hyung. Segalanya terasa begitu cepat. Kepalaku mendadak linglung, seperti bumi tengah dijungkir balikkan. Pintu kamar Onew hyung tidak dikunci, dan yang aku dapati adalah tubuh Onew hyung yang berlumur darah. Wajahnya rusak seperti habis dicakar atau apalah itu, dua bola matanya mencuat, isi perutnya keluar. Darah. Darah. Yang aku lihat itu darah!”

Bergegas bertindak, Key memutar kepala Taemin yang tengah meremas rambut acak-acakannya untuk menghadap Key. “Dengar, Lee Taemin. Semuanya baik-baik saja. Aku, Jonghyun hyung, dan Minho akan terus berusaha untuk mengungkap kasus ini.”

Seolah Key adalah instruktur untuk hidupnya, syaraf Taemin hanya terfokus pada lelaki yang ada di hadapnya itu. Mendengar dan mencamkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Namun tak boleh ada pihak lain yang tahu tentang pembunuhan ini.” Taemin mengerutkan kening. “Biarkan orang-orang tahu bahwa Lee Jinki mati karena sebuah kecelakaan, bukan hal lain. Tak boleh ada pihak selain kami yang mengusut lebih lanjut kematian Onew hyung, termasuk kau dan orang tuamu.”

Waeyo, hyung?”

Mengembuskan napas berat, Key mempertemukan mata kucingnya dengan kedua indra penglihatan Taemin. Memastikan bahwa namja itu benar-benar memperhatikannya, “Percayalah, Taemin. Onew hyung juga saudara kami, dan itu berarti kau saudara kami juga. Pada akhirnya, kami akan memberitahumu semuanya. Sekarang, ambil ponselmu, beritahu orang tuamu bahwa Onew hyung meninggal karena kecelakaan. Cukup itu. Arra?

Sedikit bergemetar, akhirnya Taemin menjawab, “Ne, a.. arra.”

Bangkit dan berjalan ke arah kamar Onew, mendadak Key menghentikan langkahnya. dia sedikit memiringkan muka, mendapati Taemin bersama ponselnya, “Annyeonghaseyo,” Key tak berutara, lantas kembali melangkah. Menyeringai.

.

02.17 AM

Kim Jonghyun melirik Minho yang tengah mengambil gambar mayat Onew dari berbagai sudut. Jonghyun meremas rambutnya sendiri, lantas menghirup rokoknya dalam-dalam yang entah sejak kapan diberinya api yang nyala. Lelaki itu mengambil ponsel dari dalam sakunya, menempelkan ditelinga hingga keluar suara berat dari sana.

“Ne, agassi?”

“Cepat datang ke rumah Onew hyung. ‘Bersihkan’ TKP, siapkan pemakaman untuknyabuat dokumen bahwa dia mati karena kecelakaan. Secara rahasia. Sekarang juga,” ucap Jonghyun cepat.

“T-tapi, apa yang sebenarnya terjadi dengan Onew-ssi?”

Yang ditanyai membalikkan tubuhnya, membuang puntung rokok yang –padahal- baru saja ia hisap keluar jendela, “Kau dibayar untuk melaksanakan perintah tanpa bertanya, Tuan Ahn. Camkan itu.” Klik.

Minho menghela napas setelah merasa cukup akan bidikan kameranya, ia menatap mayat Onew dengan nanar. Dua bola mata besarnya menerawang di genangan darah yang masih mulai mengering, dan dengan sendirinya bergumam.

***

Tahun yang baru kali ini dibuka dengan duka. Orang-orang mengenakan pakaian hitam, duduk rapi di bawah teduhnya pagi yang masih basah. Titik-titik air berjatuhan dari ujung dedaunan, meresap ke tanah yang juga basah. Diselimuti mendung gelap berkerut resah, kerabat dan teman masih menggenggam mawar merah.

Aku duduk di barisan paling depan, menatap foto ukuran besar Onew hyung yang dikalungi rangkaian bunga putih. Ya. Dia terbaring di sana. Peti di depan foto itu.

Diam-diam, aku selalu mengagumi sosoknya. Pandang yang damai, begitupula setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya. Begitu halus. Namun sekarang, ah, aku bahkan tak berani membayangkan betapa dingin kulit putihnya.

“Haruskah semewah ini, hyung?” aku berbisik, sedikit mendekat ke telinga Key hyung yang duduk tepat di samping kananku. Sedangkan di sisi kanannya terdapat Minho dan Jonghyun yang menggunakan kedok kacamata hitam untuk menutupi sendu pandangnya.

NeAs you know, Onew hyung adalah murid berpengaruh di sekolah, Taemin. Jika terlalu sederhana sedikit saja, orang-orang tentu akan menaruh curiga.”

Kusempatkan memutar pandangan ke pemakaman. Key hyung benar, semua orang tengah membicarakan kematian seorang Lee Jinki. Mungkin juga berdesas-desus akan kematiannya yang begitu tiba-tiba. Seperti apa yang tengah kupikirkan sekarang.

Aku merasakan ponselku bergetar. Ah, aku sampai lupa belum memeriksa ponsel setelah menelefon eomma dan appa tadi. Dan benar saja, puluhan SMS duka cita memenuhi inbox-ku. Kubaca pesan singkat itu satu persatu, tentu saja inti isinya sama persis. Namun terkadang, aku merasa terpaku pada satu titik. Entah apa dan mengapa.

Key hyung berbisik di dekat telingaku, “Ingat, Taemin. Siapapun yang menanyakan tentang hal ini. Katakanlah bahwa kau tak tahu apa-apa selain bahwa Onew hyung meninggal karena kecelakaan seorang diri,” dia mengingatkan.

Aku tak membalas dengan ucapan atau sekedar anggukan. Entahlah, ucapan mereka –Key, Jonghyun, dan Minho- terkadang membuatku hanya diangga seperti sebuah benda mati yang tak bisa apa-apa. Sebuah benda yang hanya harus tetap membisu.

“La..”

Baru saja mulutku membuka, tiba-tiba semua orang yang hadir di pemakaman ini berdiri. Dan langsung saja aku mengikuti mereka. Menundukkan kepala, membaca doa-doa dipimpin oleh seorang berambut putih yang berdiri di dekat peti mati hyung-ku. Lee Jinki.

Rangkaian doa telah selesai diucap. Sejenak kemudian, Jonghyun hyung, Minho dan Key hyung melangkah menuju peti. Spontan saja aku mengikuti mereka tanpa tahu apa yang harus dilakukan sebenarnya. Baiklah. Jujur, aku belum pernah ke pemakaman sebelumnya.

“Semoga engkau tenang di sana, hyung.” Aku melirik wajah mereka dari samping. Key hyung menaruh mawar merah yang sedari tadi ia genggam bawah foto besar Onew hyung tadi. Begitupula Minho dan Jonghyun hyung.

Kami berbalik, dan semua orang mulai melakukan hal yang sama dengan apa yang telah kami lakukan tadi. Beberapa guru dan teman satu kelas menepuk punggungku. Mengucap kalimat untuk tegar dan sebagiannya juga menitip salam kepada eomma dan appa. Aku hanya menanggapi dengan senyum simpul. Tanpa banyak bicara.

Kau tahu, terkadang aku merasa ini bukanlah kebenaran. Ini hanya mimpi dan ketika aku terbangun, semua keadaan akan kembali berjalan normal. Namun beberapa waktu yang lain, segala hal terasa begitu nyata dan menyiksa.

Matahari meninggi.

“Taemin-ah, kau tak mau pulang bersama kami?”

Aku menoleh. Upacara pemakaman seakan berlalu dengan cepat. Seolah tak mau diulas terlalu panjang. Tempat yang semula ramai telah lengang. Di hadapanku, Minho hyung nampak menunggu jawaban dengan wajahnya yang datar. Yang tak dapat kutebak hal gerangan apakah yang tengah ia pikirkan. Sama halnya dengan Jonghyun dan Key hyung, aku selalu merasa banyak yang tersembunyi di balik tawa mereka. Sesuatu yang mereka anggap aku terlalu dini untuk tahu.

Aniyo. Aku masih ingin di sini, hyung. Kalian pulang duluan saja. Gwenchanayo,” ucapku meyakinkan. Lelaki jangkung itu menenggelamkan tangannya ke saku. Kerap kali aku beranggapan bahwa dia tak pernah diajari untuk menghargai orang lain, setidaknya menatap orang yang sedang berbicara dengannya.

Aku lihat dua mata besarnya menerawang ke nisan Onew hyung. Lantas dia berkata, “Baiklah kalau begitu. Kami akan pulang terlebih dahulu,” Minho hyung tiba-tiba menepuk pundakku, “Dan jangan terlalu larut dalam kesedihan yang tak berguna, Taemin. Semua akan baik-baik saja.”

Si jangkung membalikkan tubuhnya sampai sebuah mobil jeep hitam berhenti di depan gerbang dan dia masuk ke dalam sana.

Hyung, mengapa justru mereka yang mengatur? Aku adalah aduk kandungmu. Dilahirkan dari rahim yang sama denganmu. Justru mereka-lah yang bukan siapa-siapa. Mereka hanya teman yang mengklaim diri sebagai saudaramu, hyung!”

Aku jatuh terduduk, menatap potret Onew hyung yang ditaruh di depan nisannya. “Tetapi, mengapa aku yang justru saudara kandungmu dianggap tak bisa melakukan apa-apa, hyung? Mengapa aku malahan dianggap tak berguna?!”

***

January 1st

Seoul, 10.04 AM

Choi Minho tak pernah menyukai teka-teki meskipun dia mampu memecahkannya. Namun lelaki itu tak juga membencinya. Menurutnya, kebenaran tak perlu berbelit-belit untuk terungkap, karena toh pada akhirnya semua akan ketahuan juga.

Minho menatap layar ponselnya kembali. ICDFA2363. Keningnya berkerut sesaat. Dia memutar kepala, memandangi rak-rak yang berjajar memenuhi bangunan maha luas itu. Entah berapa ratus buku tertata rapi di sana –rak itu, membuat indra penglihatannya lelah dan ingin menutup saja. Pandangannya berhenti pada sebuah rak dengan tulisan cukup besar di atasnya. Biografi.

Setengah berlari, lelaki jangkung itu menuju jajaran rak di sudut ruangan. Brak! Yang Minho sadari, tubuhnya telah menghantam seseorang, dan ia mendapati beberapa buku tebal berceceran di lantai.

Mianhae,” ucap lelaki itu singkat. Berjongkok, baru saja ia hendak memungut buku-buku yang jatuh tadi, namun sebuah tangan putih menepisnya kasar. Bangkit, Minho mendapati seorang perempuan dengan rambut panjang lurus dengan helaian yang nyaris menutupi sebagian wajahnya. Ah ya, dia mengenalnya.

“Emily Jung?” kata Minho sedikit terkejut, bukan karena perempuan yang tak sengaja ia tabrak adalah teman sekelasnya. Tetapi lebih karena apa yang ada di tangan perempuan itu. Buku-buku dengan sampul hitam bercorak darah. Emily bergegas pergi dari hadapan Minho bahkan tanpa mengucap apa-apa.

“Dasar aneh,” gumamnya. Tanpa mengindahkan hal itu lagi, segera saja Choi Minho melangkah menuju apa yang ditujunya.

.

ICDFA2363. Imperator Caesar Divi Filivs Avgvtvs. 23 Oktober 63 SM.” Namja berambut blonde itu mendongak, mendapati orang yang ditungguinya membanting buku biografi tebal ke atas mejanya. Ia tersenyum kecut, “September, Choi. Bukan Oktober.”

“Aku tak peduli. Jadi, katakan mengapa kau menyuruhku kemari dengan teka-teki bodohmu itu, No Minwoo.”

Lagi-lagi, Minwoo memamerkan seringainya, “Duduklah dulu, Choi. Tenanglah. Ini perpustakaan, bukan bar yang biasa menjadi rumah keduamu dan teman-temanmu itu.” Minho menghela napas dengan malas, jujur saja, lelaki itu sudah kelewat bosan beradu mulut dengan seorang No Minwoo.

“Han Soora. Teman sekelas kita masa SMP yang dulu pindah ke Incheon. Kau masih ingat?” Padahal lelaki yang ia ajak bicara belum memberi respon sedikit pun, namun Minwoo terlebih dulu melanjutkan ucapannya, “Dua bulan yang lalu, dia kembali ke Seoul. ICDFA2363 itu tadi, rumahnya ada di Interior Street nomor 236, blok 3. Dan aku ingin kau membunuhnya.”

Minho mengangkat sebelah alisnya, “Kau ingin aku membunuh Soora di rumahnya?”

“Em, secara teknis aku tak begitu peduli di mana dan bagaimana dia mati. Tempat tinggalnya hanya informasi untukmu. Aku sudah mengirim foto terbarunya ke e-mailmu.”

Minwoo memincingkan matanya ke perpustakaan yang tak ramai sama sekali, “Oh, dan cepat saja kau bunuh dia.”

Menyeringai, Minho membalas, “Aku bahkan belum mengatakan bersedia, Tuan No Minwoo.”

Minwoo terbahak, “Haha, aku bahkan tak yakin kau mau menolak.”

Merasa sudah tahu apa yang ia butuhkan, segera Minho menarik kursinya dan bangkit, membuang napas, “Okay, then¸ uang bisa kau transfer seperti biasa. Namun jika kau mencoba menghindar, tetaplah ingat bahwa aku akan selalu memburumu.”

Baru saja melangkah pergi, namun si blonde tadi memanggil namanya kembali, membuatnya –lagi-lagi- dengan tak berselera membalikkan tubuhnya.

“Aku turut berduka cita atas kematian kakakmu, Choi,” ungkap Minwoo menyeringai, memberi penekanan pada kata ‘kakak’. Yang diajak bicara tak mengindahkan, justru terus berlalu.

To be continued..

Nah lo, menurut kalian gimana part 1? Alur ruwet? Gak jelas? Just say it! : D

Sebenernya part 1 udah selesai BAHKAN siap publish. Tapi setelah itu, cerita dan plot-nya aku rombak abis-abisan, jadi semuanya aku ketik lagi dari awal *jadicurhat* #DUAKH. Coba cek aja deh prolog-nya, pasti gak nyambung sama part 1. Wuahaha.. XDD

Untuk part 1, bloody-nya masih segitu dulu, baru pemanasan LOL

Last but obviously not least, karena FF ini memang dibuat dengan penuh perjuangan *hallah* untuk siapapun yang baca, jangan lupa tinggalkan komen, oke?

Just reminder that ‘Psycho Addict is NOT dedicated to a silent reader.

Be a good reader, ya.. ^^~

 

Rise and Shine, Jangan Takut Walau Kau Berbeda

helmyshin1

 

17 thoughts on “Killing The Claustrophobia – Part 1

  1. Keren..!!
    Tapi aku rada gak srek dg cara author menggambarkan plot.y
    misal ketika tertawa, entah mengapa aku lebih suka dideskripsikan dengan kalimat penjelas daripada dialog.
    Dan POV nya juga mohon diperjelas thor, jadi bisa langsung masuk kedalam cerita.
    oke over all udah bagus, aku suka ide cerita cuman saran aja nih thor, tambahin genre mistery disini jadi readers bisa ngerasain penasaran dan slalu nunggu2 FF ini
    y’oloh saya kelewat cerewet yah hehe mianhae
    maaaaaaf banget thor kalo trkesan menggurui 🙂 gak ada maksud, sumpeh!
    hanya memberi kritik dan saran ^^
    well, next part aku tunggu dg alur yg lebih menantang lagi 😀
    Fighting!! 😉

    • Gak terkesan menggurui kok, aku malah seneng ada yang ngasih kritik..
      Buat penggambaran plot, selera orang kan beda2, ada yang lebih suka narasi, ada yang suka dialog. Takutnya kalo kebanyakan narasi entar readernya pusing baca xD

      Soal POV, itu aku emang sengaja bikin gitu bair reader turut mikir gimana sih ceritanya, bukan sekedar baca dan tahu..

      Soal genre Mistery, um, bisa dipertimbangkan buat jadi sub-genre.. hehe..

      Anyways, terimakasih buat komennya yang membangun 😀

  2. aku pernah baca ff kamu dimana ya…ffindo? tipikal cerita kamu banget yang butuh paahaman gini, genrenya pasti psychology.

    ide cerita aku suka. selalu kagum sama yang bisa nulis genre begini. dan penjabaran tentang pembunuhannya itu terasa banget. bener-bener bikin merinding. rata-rata kalo ada orang mati menyeramkan di rumahnya, pasti yang membunuh gak jauh-jauh dari keluarga/teman ya. aku masih menantikan tindakan taemin kedepannya soal kematian onew…

    jessica jung, gak tau kenapa aku ngerasa karakter dia yang paling cocok banget buat cerita begini. mungkin karena image ice princess-nya. dia dan key ini sama-sama sakit jiwa, ya? aku gak bisa nebak cerita begini-_- kasian banget kyu harus mati secepat itu ck.

    tadi sempet mikir kalo SHINee ini artis loh waktu mereka mau merahasiakan kematian onew LOL eh ternyata, mereka semacam pembunuh bayaran eh? baru ngeh waktu scene terakhir minho-minwoo. yang masih jadi pertanyaan adalah kenapa key membunuh onew? aku pikir yang adegan flashback two days ago bakal ngejelasin, tapi mungkin terlalu cepat ya.

    tulisannya rapi. dan semua genrenya masuk semua. kalo ini permulaan, terus selanjutnya gimana?;___; oh, untuk pov-nya yang tiba-tiba pake kyu itu aku sempet bingung karena dia kan bukan pemeran utama. selebihnya yang pake key/orang ketiga gak masalah. ditunggu next partnya. semangat!:D

    • Aku emang sengaja pake Jessica buat jadi cast FF ini, soalnya ‘aura’ dia emang cocok menurutku XDD

      hoho.. sepertinya prediksi kamu ada yang salah, deh? 🙂 But, tunggu aja part 2 ya..

      Terimakasih sudah membaca.. SEMANGAT ! ^^~

  3. DAEBAK.. 😀

    ceritanya bener2 seru, aku salut sama cara author menggambarkan karakter dan cerita sampai sedetail itu. Sebenernya rada serem juga baca cerita pembunuhan. Tapi genre ini bener2 bikin curious, dan jarang diangkat.. Kalopun ada aku paling suka kalau cerita itu karya author yg uda experinced 😀 /fly/

    Key sama Jessica sadis banget ngebunuhnya. Main tebas, congkel, hunus, tembak etc. :3 sampai speechless dan bikin perut bergejolak. Penasaran sama alasan dibalik pembunuhan yang dilakuin Key. Dan ga bisa ngebayangin gimana shocknya Minho, Jonghyun, dan Tetem kalau si pembunuh adalah… musuh dalam selimut.

    So, ditunggu part2 nya 😀 yang lebih deg-degan lagi

  4. Cerita’a keren, ya walaupun sempat bingung sma pov’a soal’a gk ada nama’a,
    Nnti critanya jessica ma key ada hubungan’a gk ?
    pnsaran jga ma alasan key bunuh onew,
    Ditunggu part 2 nya 🙂

  5. Keren…. Daebak dehhh…
    tpi dikasih POV donk chingu! *gakmaksallooo*
    aku jadi bingung ._.
    Ohhh yaaaa.. jadi yang bunuh Onew oppa 😦 itu Key oppa ya? -.-
    Truusss……
    Semua kecuali Taemin oppa 🙂 itu penjahat ya? -.-
    oohhh yaaaa truussss*haduhtanyamulu*
    Kenapa Key oppa bunuh Onew oppa sihh? 😥
    Yaudah cepet next chapter neee…
    ditunggu lhhooo 🙂

  6. Menurutku soal POV ga masalah tuh, baca 1 paragraf udh ketahuan.
    Trus, pembunuhannya, lumayan jleb waktu ‘putus’, tp yg lainnya bisa diterima^^ *pdhl baru 14thn*
    Then, iya, agak ga nyambung ama prolognya, kyx ‘lompat’ gitu..

    FFnya keren bgt! Jos gandos cetar membahenol 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s