[FF Freelance] Sweet Memories (Oneshot)

sweet memories

Sweet Memories  

by

Nurul HytChoi

Main Cast : Super Junior’s Siwon & SNSD’s YoonA || Other Cast : Super Junior’s Donghae ||  Genre : Romance, Drama & Angst || Length : Oneshoot || Rating : General || Disclaimer : This story pure is mine. All cast belongs to themself, family and God. I just use for complete your imagination. Apologize for same story with anyone

 

~*~(n_n)~*~

 

Musim semi oh musim semi. Pada akhirnya musim ini datang juga. Musim dimana rating-rating mulai kembali ditumbuhi dedaunan. Bunga-bunga yang bermekaran. Udara sejuk yang merasuk hingga ke rongga dada. Bukankah musim ini begitu indah?

Di sepanjang jalan kota Seoul yang baru memasuki musim semi masih saja terdapat sisa-sisa salju musim dingin kemarin. Berpantulkan sinar sang surya, putih salju itu menjadi obyek yang memanjakan mata. Hawa dingin yang biasa menemani rutinitas kini perlahan mulai tergantikan menjadi hawa kehangatan.

Seorang gadis tengah duduk manis di sebuah bangku taman dibawah teduhnya pohon mapple. Sepoi angin menerpa permukaan kulit putih tirusnya membuat anak rambutnya bermain ke udara. Mata gadis itu terpejam. Lekuk garis wajahnya begitu indah bak sang dewi. Sebuah maha karya yang teramat merugi bila dilewatkan. Sudut bibirnya tertarik membuat sebuah lengkungan bulan sabit.

“Hai Deer.” bisikan lembut itu bagai irama nan merdu yang masuk ke gendang telinganya. Perlahan tapi pasti mata terpejam itu mulai bergerak. Gadis itu menoleh kesamping tepatnya pada asal suara tadi. Ia tersenyum. Tersenyum manis terlampau manis bahkan.

“Apakah kau merindukanku?” tanya orang itu menatap gadis yang telah memanjakan matanya dengan senyum yang terukir dibibir gadis itu.

Gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Senyum itu masih setia menghiasi paras cantiknya. Kini orang itu yang tersenyum. Menciptakan lengkungan yang menggambarkan dua lesung pipit.

Oppa bahkan lebih merindukanmu. Ayo sini peluk Oppa. Kau tak boleh menyia-nyiakan kesempatan langkah ini,” kata namja itu. Ia merentangkan kedua tangan kekarnya, mengisyaratkan gadis itu dapat merengkuh dalam dekapannya. Dan gadis itu benar-benar tersenyum. Rona kebahagiaan melumuri parasnya. Ia masuk kedalam pelukan hangat sang namja. Hangat dan begitu nyaman. Rasanya sungguh enggan untuk sekedar membuang nafas. Ia kembali memejamkan mata menikmati belaian lembut sang namja yang mengelus rambutnya. Inginnya ia seperti ini, kebahagiannya hanya dengan berada di dekat namja ini.

Aigooo Deer, kau seperti tak bertemu denganku selama setahun saja. padahal kemarin kita baru bertemu.” Namja itu melepas dekapannya dan memandang kearah mata sang gadis.

Oppa, aku begini karna aku mencintaimu. Apa salah jika aku selalu merindukan kekasihku? Apa Oppa lebih suka jika aku tak pernah merindukanmu, eoh? Baiklah jika itu maumu.” Gadis itu mempoutkan bibirnya, menyilangkan kedua tangan didepan dada dan mengalihkan pandangannya dari sang namja. Melihat gadisnya marah namja itu justru tersenyum. Rasanya gadis ini begitu menggemaskan bahkan ketika marah sekalipun. Gadis itu mencuri pandang pada sang namja. Bingung beserta kesal kini yang ia rasakan melihat namja-nya tidak berusaha melakukan apa-apa agar dirinya tak lagi marah.

Oppa aku sedang marah padamu. Kenapa kau tak mencoba merayuku untuk memaafkanmu?” tukas gadis itu kemudian.

“Untuk apa aku harus merayumu. Sudah jelas kau pasti akan memaafkanku,” jawab namja itu enteng masih dengan senyum yang bertengger di bibirnya.

“Kenapa Oppa begitu menyebalkan..” gadis itu beranjak dari duduknya. Baru satu langkah seseorang menarik pergelangan tangannya membuatnya secara refleks jatuh terduduk. Bukan pada bangku taman itu lagi melainkan pada sebuah pangkuan namja tadi.

“Dan kenapa rusaku ini mudah sekali marah, huh?”

‘Bluss’

Semburat kemerahan tergambar jelas pada wajah gadis itu. Wajahnya memanas lantaran saat ini jarak antara dirinya dengan namja itu terlampau dekat. Sementara namja itu terus meneliti wajah gadisnya. Senyumnya mengembang. Ia merasa gadisnya begitu lucu saat ini.

Oppa jangan melihatku seperti itu.” Gadis itu menutupi wajahnya yang bersemu merah dengan kedua tangannya. Hal itu justru semakin membuat sang namja terkekeh geli.

“Kau memang pemalu Deer. Aku suka itu,” ungkap namja itu kemudian meraih tangan sang gadis yang menghalanginya memandang wajah gadis itu. Gadis itu semakin menundukkan kepalanya menghindari kontak mata dari namja didepannya. Namja itu menarik dagu sang gadis agar mata mereka dapat bertemu.

Saranghae Im Yoona,” ucap lembut namja itu. Sorot matanya begitu menenangkan.

Nado… nado saranghae Siwon Oppa,” balas gadis itu tak kalah lembut. Suaranya terdengar penuh kasih. Mereka saling melempar senyum.

***

 

Ditempat yang berbeda seorang namja tengah melajukan mobilnya ditengah kota seoul. Wajahnya terlihat berseri mengungkapkan kebahagiaan yang menyelimuti hatinya. Tak lama ia menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah sederhana. Ia segera bergegas turun dari mobilnya. Namja itu berjalan menuju pintu rumah sederhana itu. Belum sempat ia mengetuk pintu, seseorang telah membuka pintu coklat itu dari dalam.

Annyeong Bibi Jung” sapa namja itu pada wanita paruh baya yang sekarang tengah berada didepannya.

“Oh, Donghae-ah,” kata bibi jung terlihat sedikit terkejut dengan kedatangan Donghae. Sementara Donghae hanya mengangguk dan tersenyum menimpali.

“Apa Yoona ada didalam?” tanya donghae kemudian.

“Sayang sekali Hae-ah, Yoona sedang keluar. Dia tak ada didalam” sesal Bibi Jung, memperhatikan perubahan raut wajah Donghae.

“Tidak ada? Boleh aku tahu kemana dia?”

“Tadi dia bilang hanya ingin mencari ketenangan. Bibi tak tahu dia kemana..” jawab bibi jung. Raut wajah Donghae yang tadinya bahagia kini berubah menjadi kecewa.

“Ah mungkin dia ada di taman dekat sungai han. Kau seperti tak mengenalnya saja, Hae.” Bibi Jung menambahkan cepat. Donghae sedikit terkesiap dan mengangguk samar.

“Ah, Ye. Baiklah Bibi, aku permisi dulu. Aku akan mencarinya ke taman..” Donghae pamit seraya memberikan senyum terbaiknya, tidak lupa membungkukkan badannya sebelum benar-benar beranjak.

“Apa kau tak mau mampir untuk sekedar minum teh?” tawar Bibi Jung sebelum Donghae berbalik.

“Ah aniyo Bi, lain kali saja aku akan mampir..” tolak donghae secara halus. Bibi Jung mengangguk.

“Baiklah aku permisi Bi, Annyeong..” donghae mengedikan kepala. Setelah mendapat anggukan dan senyum hangat Bibi Jung, ia berlari kecil menuju mobilnya.

“Pemuda yang malang..” gumam Bibi Jung menatap kepergian Donghae.

***

 

“Hmm, lalu?”

“Lalu kakek itu kuantar pulang setelah aku tahu alamat rumahnya.”

Masih bertahan di sebuah bangku taman. Saat ini yoona dan siwon tengah bercerita seputar kejadian yang mereka alami. Meski sebenarnya atau lebih tepatnya Yoona lah yang bercerita sementara siwon memilih menjadi pendengar setia. Ini memang telah menjadi kebiasaan Yoona. Ia akan meceritakan segala rutinitas serta kejadian yang ia alami kepada sang kekasih. Dan siwon tak pernah mengeluh jika harus mendengar cerita panjang Yoona. Ia akan senantiasa menjadi pendengar setia dan sesekali memberi saran jika Yoona mengalami masalah, sekecil apapun itu.

Jika ditanya mengapa Siwon tak pernah mau bercerita pasti jawabannya; ‘mendengarkan ceritamu adalah ceritaku’ kalimat itu yang selalu ia berikan untuk Yoona.

Oppa..” panggil Yoona menelusupkan jemari lentiknya pada sela-sela rambut Siwon. Mengelus surai rambut hitam pekat milik Siwon yang berada dalam pangkuannya. Siwon hanya mendongak dan bergumam menjawab panggilan yoona.

“Apa Oppa benar-benar mencintaiku?” tanya yoona. Siwon terdiam. Ia bangkit memposisikan dirinya duduk disamping gadis tercintanya.

“Ada apa kau bertanya seperti itu, hmm?” Siwon memandang manik mata Yoona. Gadis itu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya gelisah.

“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku..” Yoona balas menatap siwon. Pandanganya menyiratkan ia benar-benar memohon. Lagi-lagi siwon terdiam sejenak hanya sejenak setelah itu ia mengulum senyum meraih jari-jari lentik Yoona dan menggenggamnya erat.

“Jangan khawatir aku tidak akan meninggalkanmu. Aku ada disini, Deer..” kata Siwon meyakinkan. Ia semakin mengeratkan genggamannya. Yoona mencoba untuk tersenyum kemudian merengkuh kedalam pelukan Siwon.

Gomawo Oppa..” Siwon membelai lembut rambut Yoona. Dihirupnya wangi rambut yeoja itu. Wangi yang ia sukai.

“Cinta tak butuh kata terimakasih karna cinta tak pernah menutut. Cinta memberi tanpa meminta balasan..” Siwon melepaskan pelukannya dan tersenyum memandang gadisnya.

Kajja!” tiba-tiba Siwon menarik tangan Yoona gadis itu mengerutkan dahi. “Kemana?” tanyanya.

“Jalan-jalan. Kita akan buat hari ini menyenangkan..” jawab Siwon mengerlingkan sebelah matanya. Yoona tersenyum mendengarnya. Dan akhirnya mereka beranjak pergi meniggalkan taman itu.

Baru saja mereka menghilang dari pandangan mata, sebuah mobil audi hitam menghentikan lajunya didekat taman itu. Kaca mobil itu terbuka menampakkan seorang namja berparas tampan didalamnya.

“Tidak ada. Apa mungkin Yoona sudah pergi?” tanyanya pada diri sendiri karna tak mendapat sesorang yang ia cari. Namja itu pun kembali melajukan mobilnya.

***

 

Gemuruh riuh teriakan manusia begitu menggema di tempat ini. Ya, Lotte World tak perlu ditanya lagi bagaimana taman bermain ini dapat menjadi pusat wisata yang wajib dikunjungi bagi pelancong yang mampir ke negeri gingseng ini.

Yoona berteriak kencang saat roller coaster itu telah melaju membelah hampir keseluruhan punjuru gedung. Jalur yang berliku dan belokan yang tajam tak membuatnya memejamkan mata. Ia justru tertawa lebar menikmati laju kereta ini. Sementara ia tak mendengar suara Siwon. Mungkin Siwon tertidur, pikirnya. Tapi itu terlalu mustahil mengingat saat ini mereka tengah berada dalam wahana yang menguji nyali. Atau mungkin lebih tepatnya Siwon sibuk mengatur isi perutnya agar tidak tersembur keluar.

Setelah dirasa cukup menjajaki wahana yang menguji nyali. Kini Siwon dan Yoona tengah menelusuri taman bermain ini. Sepanjang jalan mereka terus bergandengan tangan. Senyum itu tak pernah lepas dari bibir mereka.

“Kau bahagia?”

“Tentu saja. Apapun itu asal Oppa bersamaku, aku akan bahagia.” Yoona memamerkan senyum cerahnya yang dibalas senyum tenang Siwon.

Arasseo aku tahu itu karna aku tampan,” sahut Siwon yang langsung mendapat tatapan datar dari Yoona.

“Kau terlalu percaya diri, Tuan Choi.” Yoona memukul lengan Siwon membuat mereka tertawa bersama. Para pengunjung mengarahkan pandangannya pada dua sejoli itu. Yoona merasa apa ada yang aneh dengannya? Mengapa tatapan orang-orang seperti itu?

Ada yang tersenyum tak jelas, ada juga yang menggelengkan kepala. Yoona hanya bergidik dan memilih untuk tak peduli. Mereka hanya iri dengan kebahagiaan yang tengah ia rasakan saat ini, Yoona mengambil kesimpulan.

Oppa, aku mau ice cream.” Yoona merengek sambil bergelayut manja pada lengan Siwon. Namja itu mengulum senyum melihat sikap manja gadisnya.

“Baiklah. Kajja kita beli ice cream.”

Mereka berhenti didepan penjual ice craem.

Oppa aku mau rasa strowberry.”

No, no, no! Oppa yang membelikanmu jadi kau harus mau untuk hari ini makan ice cream rasa coklat.” Siwon menolak, memberi penjelasan. Dan hal itu sukses membuat Yoona mempoutkan bibir mungilnya.

“Kenapa harus begitu? Aku tidak suka rasa coklat. Aku maunya strowbery, strowberry, strowberry!” Yoona bersikeras tidak mau mengikuti kata Siwon.

 Siwon menggelengkan kepalanya. Si penjual ice cream memandang bingung juga aneh.

“Jadi mau rasa apa?” tanya penjual ice cream itu menengahi pertengkaran kecil Yoona dan Siwon.

“Strowberry!”

“Coklat!”

Dua jawaban berbeda bersamaan terlontar dari mulut masing-masing. Yoona memandang kesal kearah Siwon. Ia menghentakkan kaki meninggalkan Siwon dengan perasaan dongkol. Ia merasa kekasihnya itu jadi pemaksa. Apa susahnya membelikan ice cream rasa strowberry saja. Itu tidak akan membangkrutkan perusahaannya.

Sementara si penjual ice cream menggelengkan kepalanya “Orang yang aneh..” gumamnya.

“Kau marah padaku?” tanya Siwon begitu menyamai langkahnya dengan Yoona. Gadis itu tak menjawab dan terus berjalan tanpa memedulikan keberadaan Siwon.

Aigoo lihatlah betapa jeleknya rusaku saat marah..” goda Siwon, mencoba menghentikan acara ngambek Yoona. Namun itu juga tak menghentikan langkah Yoona.

“Marah itu tidak baik. Tuhan tidak menyukai hambanya yang suka marah-marah..” Lagi, Siwon merayu Yoona agar tidak marah.

“Bagaimana aku tak marah padamu Oppa?! Kau sendiri yang bilang hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan untuk kita tapi membelikan ice cream untukku saja Oppa tak mau.” Yoona berteriak menumpahkan kekesalannya. Setelahnya ia kembali berjalan.

Siwon mengulum senyum, senyum yang sulit diartikan. Kemudian ia menyusul Yoona. Setelah dapat menyamai lagkah Yoona. Siwon menelusupkan jari-jarinya diantara jemari Yoona membuat gadis itu menunduk menatap jemarinya kemudian menoleh kesamping, kearah siwon. Namja itu hanya tersenyum memamerkan lesung pipitnya tanpa menoleh. Pandangannya lurus ke depan.

“Maafkan Oppa, ne..” pintanya dengan suara lembut juga pandagan sendu. Siwon memandang dalam mata Yoona dan gadis itu tak lagi dapat menyimpan kesal pada namja didepannya. Namja ini benar-benar telah memenangkan hatinya.

“Kau maukan memaafkanku?” Yoona menganggukkan kepala, memberi jawaban. “Jangan ulangi lagi,” lirih Yoona.

Siwon menarik Yoona dalam pelukannya. Yoona merasakan kehangatan dalam setiap dekapan namja ini.

***

 

“Bibi, Aku pulang..”

“Oh Yoong, kau sudah pulang?”

Yoona mengganti sepatunya dengan sendal rumah kemudian berjalan menuju dapur, tempat Bibi Jung tengah memasak.

“Bibi masak apa?” tanya Yoona. Ia melihat sang Bibi yang masih sibuk dengan peralatan dapur.

“Kau mau Bibi masakan apa?”

“Emm apa saja terserah bibi. Apapun itu aku menyukainya.” Yoona tersenyum cerah kala mengatakan hal itu.

“Baiklah Bibi akan memasakkan yang pliang lezat untukmu,” balas Bibi Jung ikut tersenyum senang.

Arraseo, aku akan mandi dulu.” Yoona berjalan menuju tangga belum sempat ia menaiki tangga Bibi Jung menyampaikan sesuatu padanya.

“Oh ya Yoong, tadi Donghae kemari mencarimu..” kata Bibi Jung. Yoona mengernyeit. “Donghae Oppa?” gumamnya.

“Lalu?” tanya Yoona kemudian.

“Ku bilang kau ada di taman dekat sungai han. Apa kalian tak bertemu?”

Aniyo.” Yoona menggelengkan kepalanya.

“Ah mungkin Donghae Oppa datang setelah aku pergi bersama Siwon Oppa, makanya kami tidak bertemu,” jelas Yoona memperkirakan. Mendengar penuturan Yoona spontan Bibi Jung menghentikan aktivitasnya memotong sayuran.

“Baiklah Bi, aku ke atas dulu..” Yoona kembali meneruskan langkahnya menaiki tangga dan memasuki kamarnya yang berada di lantai dua.

Bibi jung menghela napas berat, “Apa dengan begitu kau bahagia, Yoong?” gumam Bibi Jung menerawang kearah pintu kamar Yoona yang masih bisa terlihat dari bawah.

Kedua orangtua Yoona telah meninggal dikarenakan kecelakaan tujuh belas tahun silam. Saat itu usia Yoona baru menginjak 5 tahun. Begitu pahit bukan? Di usia sedini itu telah ditinggal pergi orang yang di cintainya. Untung saja ada Bibi Jung, meski seorang pembantu rumah tangga namun ia berhati lembut. Ia tetap setia menggantikan majikannya menyayangi Yoona. Bibi Jung telah bekerja selam lebih dari 30 tahun pada keluarga Im. Tak heran jika ia begitu menyayangi Yoona. Yoona pun telah menganggap Bibi Jung sebagai ibu keduanya. Tak ada lagi keluarga bagi Yoona selain Bibi Jung.

***

 

Pagi di musim semi, angin di musim semi dan cinta di musim semi. Terasa begitu indah jika setiap waktu dapat menghabiskannya bersama orang yang kita cintai.

Pagi itu seperti biasa Yoona mengunjungi taman dekat sungai han guna bertemu dengan sang kekasih. Sesampainya ia disana yang ia lihat seseorang yang tengah berbaring di bangku taman, tempat biasa ia duduk. Orang itu menjadikan lengan bangku sebagai bantal. Sudut bibir Yoona tertarik melihat sosok yang berbaring itu adalah kekasihnya. Perlahan ia mulai mengendap-endap mendekati sang kekasih. Ia telah sampai di dekat Siwon. Ia berjongkok menyamakan posisinya dengan Siwon.

Dipandangnya wajah maskulin itu. Begitu tampan bak dewa. Jari lentik Yoona terulur menelusuri lekuk wajah Siwon. Dari dahi turun ke hidung mancung Siwon kemudian ke arah dua mata terpejam itu. Jemarinya masih terus bergerak hingga sampai pada bibir merah itu. Yoona kembali mengulum senyum. Digerakkannya jari telunjuknya pada bibir Siwon hingga beberapa kali ia memutar-mutarkan telunjuknya menjelajahi bibir siwon sampai akhirnya sang pemilik mulai terusik dan membuka matanya. Yoona membulatkan matanya karna Siwon tiba-tiba menggenggam tangannya.

“Apa yang kau lakukan?” kalimat pertama yang keluar dari mulut Siwon. Mata elangnya menatap tajam dalam mata Yoona. Jarak keduanya sangat dekat saat ini.

“Aku…. aku hanya….. hanya…” Yoona merasa tak dapat menemukan jawaban dalam otaknya. Yang ia pikirkan saat ini, ia gugup.

“Hanya?” tanya siwon menuntut kalimat Yoona.

“Emm…. ah aku gugup!” Yoona memejamkan mata merasakan degup jantungnya yang bekerja abnormal. Sontak Siwon tertawa keras melihat ekspresi wajah Yoona. Gadis ini terlalu jujur dan polos, tak pintar dalam menutupi perasaannya. Siwon bangkit masih dengan tertawa lepas tak menyadari Yoona sudah memasang wajah kesal. Tentu saja ia kesal. Siapa yang tidak kesal jika ditertawakan? Oleh kekasihmu sendiri bahkan.

“Hentikan tawamu Oppa! Tak ada yang lucu,” kesal Yoona mengkerucutkan bibirnya.

“Kau harus melihat betapa lucunya wajahmu tadi, deer.” Siwon masih saja tertawa.

“Berhenti atau aku akan….”

“Arraseo arraseo aku berhenti.” Siwon memotong ucapan Yoona sebelum gadis itu meneruskan ancamannya.

“Kemarilah! Oppa merindukanmu..” Siwon menarik bahu Yoona dan merangkulnya.

“Benarkah?”

“Apa wajahku ini terlihat meragukan?” timpal Siwon mendekatkan wajahnua pada wajah Yoona.

“Ah tidak, tidak!” jawab Yoona cepat dan memalingkan wajahnya dari Siwon ‘Kurasa wajahku kembali memerah’ batin Yoona.

Dan lagi-lagi Siwon dibuat geli atas tingkah gadisnya itu.

Oppa..” panggil Yoona. Kini ia menyandarkan kepalanya di pundak Siwon.

Ne?” Siwon memposisikan kepala Yoona agar senyaman mungkin di pundaknya. Ia memejamkan mata menikmati semilir angin musim semi.

“Ketika aku sedang rapuh maukah kau menjadi tempatku bersandar?”

“Tentu saja. Bahu ini selalu siap untuk menjadi sandaranmu kapanpun kau mau.”

“Ketika aku menangis maukah kau datang untuk sekedar memberiku senyum?”

“Kau bahkan tak hanya mendapat senyum dariku namun juga obat tangismu.”

“Apa kau akan selalu ada untukku?”

“Of course, my time is for you.” Nada suara Siwon terdengar tenang namun ada unsur ketegasan didalamnya.

“Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku.” Yoona memejamkan matanya dan menelusupkan jarinya di sela-sela jemari siwon. Setetes kristal bening mengalir dari ujung matanya.

Meraka berdua sama-sama terpejam merasakan hangatnya angin musim semi yang melambai-lambai menerpa wajah mereka. Beberapa dedaunan diterpa angin jatuh menghiasi bumi. Menghidupkan kesan mendalam untuk dua sejoli ini.

***

 

“Yoongie..” Mendengar namanya dipanggil Yoona mendongak. Dilihatnya seorang wanita paruh baya telah berdiri di sampingnya dengan membawa secangkit teh hangat.

“Oh, Bibi. Ada apa?”

“Kau sedang apa?” Bibi Jung balik bartanya seraya mengambil tempat duduk disebelah Yoona, meletakkan secangkir teh tadi di atas meja bundar. Saat ini mereka tengah berada di balkon belakang rumah. Terdapat sebuah taman kecil disana. Gerimis masih setia mengguyur bumi Seoul saat ini. Menimbulkan titik titik bening yang jatuh membasahi ranting dan dedaunan.

“Aku? Aku sedang merajut,” jawab Yoona menatap sekilas Bibi Jung kemudian kembali meneruskan aktivitasnya.

“Boleh Bibi tahu itu akan jadi apa?”

“Sebuah syal.” Yoona tersenyum cerah.

“Syal?” Bibi Jung mengernyit terdengar sebuah tuntutan penjelasan akan ucapan Yoona pada nada bicaranya.

Ne. Aku ingin membuatkan Siwon Oppa sebuah syal. Meski kutahu musim dingin telah berakhir tapi aku ingin memberikan kehangatan pada Siwon Oppa karna selama ini dia yang selalu memberikan kehangatan untukku dan kupikir syal dapat menjadi alternatif yang tepat. Lagipula kulihat akhir-akhir ini wajah Siwon Oppa terlihat pucat mungkin ia kurang sehat..” Diawal ia bercerita wajahnya nampak berseri-seri namun diakhir kalimatnya, Yoona terlihat murung. Tatapannya berubah sendu.

Entah sejak kapan Bibi Jung menitikan air mata. Sekuat tenaga Bibi Jung menahan lelehan itu namun tetap saja tidak bisa, yang ada justru air mata itu kian menderas. Tak kuasa menahannya lagi Bibi Jung beranjak pergi meninggalkan Yoona. Sementara Yoona masih menatap benang woll dan jarum rajut dihadapannya dengan tatapan kosong.

***

 

 

“Donghae-ya.”

Ne,  Bibi?” Kini Donghae tengah berada di ruang tengah rumah Bibi Jung, lebih tepatnya ia sekarang sedang menunggu kedatangan Yoona.

Sesaat Bibi Jung terdiam. Ia menunduk kemudian mendongak menarik napas dalam-dalm sebelum mengeluarkan kalimatnya.

“Bibi mohon tetaplah berada disisi Yoona. Jadilah sosok tempat Yoona bersandar. Bibi hanya takut jika Yoona mengetahui kenyataannya, ia akan semakin terluka dan tidak dapat tempat untuk bersandar..” Bibi Jung berujar, ada setetes air mata yang mengalir dari mata senjanya. Dadanya serasa sesak, serasa ada beban berat yang ia pikul.

Kini giliran Donghae yang terdiam, mencerna setiap kata yang terlontar dari wanita paruh baya didepannya ini.

“Aku akan melakukannya Bi. Yoona pantas bahagia..” kata Donghae akhirnya. Bibi Jung sedikit bernafas lega. Ia menghapus air matanya, mencoba untuk tersenyum. Bibi Jung kemudian bangkit dari duduknya.

“Bibi akan kemana?” tanya Donghae yang melihat Bibi Jung membuka pintu rumah.

“Bibi ada urusan sebentar..” Wanita paruh baya itu tersenyum lembut sebelum akhirnya beranjak.

***

 

Nunmul gateun siganui gang wie
Tteonaeryeoganeun geon han dabarui chueok
Geureohke ije dwi doraboni
Jeolmeumdo sarangdo aju sojunghaetguna

Eojenganeun uri dasi mannari
Eodiro ganeunji amudo moreujiman
Eonjenganeun uri dasi mannari
Heeojin moseup idaero
(Someday By Super Junior)

 

Siwon menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi sebuah gitar yang ia mainkan. Yoona nampak menikmati lagu yang Siwon bawakan. Entah mengapa lagu itu begitu terasa padanya.

Selesai Siwon bernyanyi, Yoona memberikan tepuk tangan meriahnya.

“Suaramu tidak terlalu buruk, Oppa.”

“Tentu saja, akukan rajin beribadah ke gereja..” Siwon menjawab dengan senyum mengembang.

Ne ne ne, aku tahu itu..” kata Yoona menimpali. Siwon hanya mengulum senyum. Ia meletakkan gitarnya di sampingnya kemudian merangkul pundak Yoona, menarik gadis itu untuk bersandar pada pundak kokohnya. Inilah yang selalu mereka lakukan. Memejamkan mata serta menikamati semilir angin.

Oppa, sebenarnya aku ada hadiah untukmu tapi hadiah itu belum dapat ku selesaikan.” Yoona buka suara.

“Apa itu?”

“Sesuatu yang akan menghangatkanmu. Tapi entah mengapa sulit sekali membuatnya.” Yoona mempoutkan bibirnya membuat Siwon gemas melihatnya.

“Apa itu sebuah syal?” tebak Siwon.

“Bagaimana Oppa bisa tahu?” Yoona memandang Siwon bingung.

“Ya, tak heran jika kau tidak dapat membuatnya. Kau kan memang payah merajut,” ledek Siwon.

Mwo? Kau bilang apa? Payah? Isssh yak! berhenti kau simba jelek!” Yoona memekik dan mulai mengejar Siwon yang telah berlari menghindari amukannya.

“Dimana-mana lari simba lebih kencang daripada rusa. Kau takkan bisa menagkapku, deer.”

“Lihat saja akan ku buat rekor baru.” Dan jadilah mereka kejar-kejaran mengelilingi bangku taman itu. Sampai akhirnya tak sengaja Siwon terpeleset mengakibatkan tubuhnya terjatuh.

“Huahahaha…..” Yoona yang menyaksikan kejadian itu justru tertawa lepas.

“Hyah mana boleh seperti itu?! Palli bantu kekasihmu berdiri!” titah Siwon tak terima ditertawakan. Yoona menggerutu namun pada akhirnya ia mau juga menyambut tangan Siwon yang sudah terulur. Siwon menarik sudut bibirnya dan sedetik kemudian Yoona telah jatuh diatas tubuhnya. Hal ini membuat Yoona terhenyak dan wajahnya yang tiba-tiba saja bersemu merah. Lagi dan lagi namja ini benar-benar hobi membuatnya gugup. Siwon melingkarkan tangannya pada pinggang Yoona. Mengunci agar gadis itu tidak kabur dari terkamannya.

“Apa yang kau lakukan, Oppa?” Suaranya bergetar. Sementara Siwon hanya memandang wajah Yoona. Ia membelai lembut kepala gadisnya.

“Kau tahu berapa besar cintaku padamu?” Yoona yang sedari tadi menunduk, mendongakkan kepala mendengar suara tenang Siwon. Bibir Siwon terlalu dekat dengan wajahnya membuatnya meremang. Yoona mengerjapkan mata dan menggeleng samar, menjawab pertanyaan Siwon.

“Tak terhingga dikali tak terhitung. Berapa jawabannya?” Yoona dapat merasakan kerja jantungnya yang berpacu berkali-kali lipat ditambah lagi hembusan nafas siwon menerpa wajahnya begitu menggelitik.

“Tidak tahu..” jawab Yoona polos.

Right. Kau benar, jawabannya memang tak tahu karna cinta tak diukur dari seberapa besar atau seberapa luas dan karna itu, aku tak pernah tahu seberapa besar cintaku padamu..” Siwon memberikan senyum terbaiknya. Yoona balas tersenyum malu.

“Ng… Oppa, bisakah kau lepaskan tanganmu dari pinggangku?” tanya Yoona hati-hati. Sejenak Siwon mengnyeritkan dahinya kemudian mengulum senyum dan  melepaskan pelukannya.

 

“Yoong…” Yoona baru saja berdiri dari posisinya tadi ketika mendengar seseorang memanggilnya, ia menoleh ke asal suara.

“Oh Bibi Jung, ada apa?” Bibi Jung berjalan mendekatinya.

“Ada yang ingin bertemu denganmu..” kata Bibi Jung merangkul pundak Yoona dan menuntunnya pulang.

“Eh…?” Yoona berhenti sejenak membuat Bibi Jung ikut berhenti dan mengikuti arah pandang Yoona yang menoleh kebelakang.

Yoona memandang Siwon seolah bertanya ‘apa tidak apa?’. Dilihatnya sang kekasih tersenyum mengiyakan seraya mengengguk. Yoona balas tersenyum simpul. Ia berkata tanpa suara ‘Besok bertemu lagi’ dan diangguki oleh Siwon.

***

 

Sepanjang perjalanan Yoona hanya memandang keluar jendela. Ternyata orang yang Bibi Jung bicarakan yang ingin bertemu dengannya adalah Lee Donghae. Saat ini mereka tengah berada didalam mobil. Donghae mengajak Yoona jalan-jalan, namun sepanjang mereka masuk mobil hingga kini Yoona maupun Donghae hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Yoona..” panggil Donghae memecahkan keheningan.

Nde Oppa?” Yoona menoleh kearah Donghae. Namja hanya tersenyum memandang Yoona.

“Tak apa. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Bisakah kau berikan senyummu sedikit saja..” pinta Donghae dengan suara lembut. Yoona terlihat sedikit ragu-rgu. Ia memaksakan bibirnya untuk bergerak.perlahan, sudut bibirnya tertarik untuk membuat sebuah lengkungan. Biar bagaimanapun ia tak boleh membuat namja ini kecewa. Dia, Lee Donghae sosok namja berhati lembut yang selama ini selalu ada untuknya. Menjaganya juga selalu berusaha membuatnya tersenyum dengan segala perhatiannya. Dan pada akhirnya Yoona hanya dapat memberikan Donghae senyuman tipis.

Donghae menghela napas pelan. Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah depertement store. Donghae keluar dari mobilnya berlari kecil menuju jok samping, tempat Yoona duduk. Ia kemudian membukakan pintu untuk Yoona.

“Gomawo Donghae Oppa. Tapi untuk apa kita kesini?”

“Kau akan tahu nanti,” jawab Donghae tersenyum tulus. Mereka mulai memasuki depertement store itu. Donghae dan Yoona melihat-lihat berbgai barang yang di sugukan dalam dapertement itu. Tiba-tiba Yoona melihat bebrapa syal. Ia menuju ke toko itu. Donghae mengikuti langkah Yoona.

“Syal? Apa kau berniat membelinya?” tanya Donghae melihat Yoona memilih beberapa syal.

Nde Oppa. Ah Oppa menurutmu syal yang bagaimana yang cocok untuk namja?” Donghae mengernyit. Untuk apa Yoona menanyakan hal itu. Apa Yoona berniat membelikannya syal? Tapi mana ada orang memebelikan sesuatu menanyakannya langsung pada orang yang ingin ia belikan, Donghae sibuk dengan pemikirannya sendiri.

“Emm.. ku rasa ini bagus.” Donghae bersuara seteah sesaat berkutat dengan pemikirannya. Ia menunjuk sebuah syal biru bermotif garis-garis putih.

“Ah iya seleramu sangat bagus, Oppa,” puji Yoona dengan wajah sumringah. Donghae hanya tersenyum mendengarnya.

“Untuk siapa?” tanya Donghae kemudian.

“Untuk Siwon Oppa. Kemarin aku sudah mencoba untuk merajutkan syal untuknya tapi baru setengah, benang wol ku telah habis. Kupikir tak apa jika membelikannya syal yang telah jadi saja tapi kalau aku ada waktu akan ku selesaikan rajutanku dan memberikannya dua syal,” cerita Yoona panjang lebar dengan raut wajah bahagia. Ia tak menyadari seseorang tengah teriris hatinya, seseorang tengah ngilu hatinya mendengar cerita Yoona yang begitu antusias. Seseorang itu Lee Donghae.

‘Yoong, kenapa kau tak pernah sampai seperti itu terhadapku? Kenapa harus dia? Kenapa?’ Donghae merasakan seribu belati menusuk ulu hatinya. Ia mencoba untuk tetap tersenyum. Berusaha unutk terlihat tegar mendapati kenyataan gadis yang teramat dicintainya tak pernah sedikitpun membalas cintanya. Ia sadar gadis itu hanya menganggapnya sebagai kaka, tak lebih. Begitulah cinta kadang menyenangkan tak jarang juga menyakitkan.

Oppa kenapa melamun? Aku sudah selesai.” Yoona berucap, menyadarkan Donghae sepenuhnya. Donghae terkesiap dan menghapus matanya yang basah, dilihatnya punggung Yoona yang sudah berjalan didepannya.

***

 

Oppa, kau payah. Bermain layangan saja kau tak bisa.” Yoona berteriak, meledek Layangan Siwon yang jauh ebih rendah dari layangannya.

 “Issshh kau curang, deer. Kau memberiku layangan gendut jelas saja layanganmu lebih tinggi,” kata Siwon tak mau kalah.

Mwo? Curang? Ya! Tak ada dalam kamus Im Yoon Ah kata curang!” Yoona membela diri. Ia semakin mengarahkan layangannya mengejek Siwon. Siwon pun tak mau kalah ia mengarahkan layangannya agar lebih tinggi namun tiba-tiba saja layangan itu putus.

“Yah yah yah…. aissshh! Benar-benar payah layangan itu..” rutuk Siwon kesal. Yoona tertawa keras melihat tingkah Siwon. Namja itu memincingkan matanya menatap Yoona.

“Kau mentertawakanku, eoh? Awas saja kau nona rusa!” Dengan cepat Siwon sudah berada didekat Yoona dan berhasil menggelitik gadis itu membuat gadis itu semakin menggencarkan tawanya.

“Yak! Oppa geli. Hentikan!”

 

Dibalik sebuah pohon besar terlihat seorang namja sedari tadi memperhatikan tawa Yoona. Kembali ia diserang rasa sakit yang teramat dalam. Ia memukul dadanya sendiri berharap rasa sakit itu dapat tergantikan namun sakit dalam hatinya bahkan melibihi sakit pada dadanya.

“Im Yoona kenapa kau tak juga sadar? Ada aku disini yang selalu setia menunggumu. Kenapa kau lakukan ini? Kenapa sedikitpun kau tak pernah melihatku?” Dari sudut matanya mengeluarkan cairan bening, menggambarkan kepedihannya yang tak pernah dianggap sebagai seorang pria oleh gadis itu. Namja itu meninggalkan tempat ia berpijak. Ia melangkahkan kakinya menjauh dari tempat persembunyiannya. Ia masuk kedalam mobil audi hitamnya dan sedetik kemudian telah benar-benar pergi.

***

 

Hari berganti hari, waktu terus berjalan. Dan seperti inilah seorang Im Yoon Ah menjalani kehidupannya. Pagi-pagi sekali Donghae telah berkunjung kerumah Yoona. Bibi jung mengijinkan Donghae untuk masuk kedalam kamar Yoona. Donghae mulai membuka pintu bercetkan pink itu. Sepi, tak terdapat penghuni kamar didalamnya. Kamar itu begitu rapi dan di desain minimalis namun bernuansa sangat gadis dengan warna-warna cerah.

“Kemana Yoona?” Donghae memasuki kamar itu. Ia melihat sebuah bingkai foto di atas nakas dekat tempat tidur. Ia meraih bingkai foto itu. Tersenyum getir memandangnya. Dalam foto itu terlihat gadis yang ia cintai begitu bahagia dalam dekapan namja disampingnya.

“Choi Siwon, kau sungguh beruntung dapat dicintai oleh gadis bernama Im Yoona. Bahkan sedetik pun ia tak pernah berpaling darimu..” Donghae menatap nanar foto itu.

Donghae kembali meletakkan bingkai foto itu pada tempatnya semula. Ia kembali berjalan, kali ini pandangannya berhenti pada sebuah kain putih di pojok kamar. Ia meraih kain putih itu dan menemukan sebuah lukisan indah dibaliknya. Seorang gadis yang tengah membaca buku tengah duduk manis di sebuah bangku taman. Lagi-lagi Donghae tersenyum getir. Ia tahu persisi siapa gerangan pelukis itu.

“Oh, Donghae Oppa!” Suara Yoona membuat Donghae refleks membalikkan badannya.

Yoona sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini. Lukisan itu, lukisan yang ia jaga dan tak pernah sekalipun ia tunjukkan pada siapapun kini telah terpampang bebas. Donghae yang menyadari perubahan wajah Yoona mengerti. Ia jadi sedikit tak enak.

Mianhae Yoong,” sesal Donghae kemudian.

Gwanchana” jawab Yoona datar lalu merebut kain putih yang berada di tangan Donghae. Segera ia menutup kembali lukisan itu.

“Yoona..” Donghae mencegah lengan yoona yang masih sibuk menutup lukisannya. Yoona menoleh dengan tatapan tak suka.

“Jangan seperti ini kumohon…” suara lembut Donghae terdengar bagai bom atom ditelinga Yoona. Yoona menghempaskan tangan donghae.

“Apa yang kau bicarakan! aku tak mengerti.” Yoona memalingkan wajahnya dengan menahan amarah.

“Kau tak bisa hidup seperti ini terus, Im Yoona. Ini sebuah kenyataan mau tak mau kau harus menerimanya.” suara Donghae masih terdengar lembut, matanya menyiratkan ia benar-benar memohon.

“Hentikan ucapanmu Lee donghae! Kau tidak tahu apa-apa. Ini kehidupanku kau tak berhak mengaturnya. Sama sekali tidak berhak!” tandas Yoona dengan amarah memburu. Matanya merah lantaran menahan emosi.

“Aku memang tak berhak mengatur hidupmu tapi apa kau tahu aku merasakan sakit melihat gadis yang kucintai menjadi terpuruk seperti ini. Aku mencintaimu Im Yoona, jauh sebelum kau mengenal Siwon. Aku yang lebih dulu mengenalmu tapi kau justru menjatuhkan hatimu padanya. Sadarlah Yoong dia sudah tiada. Choi siwon sudah meninggal dua tahun yang lalu. Itu adalah sebuah kenyataan yang harus kau terima!” kali ini Donghae yang tersulut emosi. Melihat Yoona, gadis yang dicintainya terus menyiksa diri dan bersikeras membuat kesabarannya benar-benar telah terkuras habis.

“TIDAK! ” Yoona memekik dengan mata yang mulai basah, nafasnya memburu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Donghae.

“Choi siwon telah meninggal dua tahun yang lalu, Yoona. Itu adalah kenyataan.” Yoona merasakan lututnya melemas, tubuhnya terhuyung. Ia hanya mampu menahan tubuhnya dengan lutut. Kedua tangannya menutup telinga. Ia tidak mau mendengar penuturan Donghae. Tidak! Tidak mau!

“Hentikan itu! Hentikan, hentikan!! Siwon Oppa belum meninggalkan. Dia masih hidup. Siwon Oppa masih hidup.” air mata Yoona tak lagi terbendung. Pertahanannya roboh sudah.

Donghae mengeram, menahan emosi yang siap meledak. Ia menarik tubuh Yoona, mencengkram kuat kedua pundak gadis itu ,“Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu, Yoona?! Kenapa kau tak juga sadar ia telah tiada. Ia telah pergi selama-lamanya dari hidupmu!” Donghae mengguncang tubuh Yoona yang lemas, berusaha mengembalikan Yoona pada kenyataan yang sebenarnya.

“Siwon Oppa belum meninggal hiks… dia masih hidup. Kumohon berhenti mengatakan ia telah tiada hiks…” Donghae melepas kasar cengkramannya. Ia meninju dinding kamar Yoona dengan begitu keras. Sementara Yoona telah berurai air mata, bersimpung diatas lantai.

Dengan erangan frustasi Donghae menoleh kearah Yoona. Pemandangan yang membuat ulu hatinya semakin teriris. Ia membuat gadis yang dicintainya menangis? Membentak dan melukai hati Yoona?

Donghae menyamakan tingginya dengan Yoona. Ia memejamkan mata dan menghela napas berat. Diraihnya kedua pundak Yoona. Kali ini ia tidak mencengkramnya melainkan menyurukan si pemilik agar menatap kearahnya

Perlahan Yoona mendongakkan kepala, menatap manik mata Donghae. Mendapat tatapan sendu dari seorang Lee Donghae.

“Siwon Oppa belum meninggal. Ia telah berjanji tidak akan meninggalkanku. Dia masih hidup, Donghae Oppa. Aku masih melihatnya tersenyum padaku. Kami bahkan pergi bersama ke Lotte World. Dia masih hidup..” suara lemah Yoona bagai hantaman tajam untuk Donghae. Betapa besar cinta gadis ini untuk seorang Choi Siwon.

“Yoona dengarkan aku. Aku tahu kau begitu mencintainya tapi sadarlah selama ini kau hanya bermain dengan halusinasimu. Dua tahun sudah kau selalu melakukan hal yang sama di hari dan jam yang sama. Setiap pagi kau selalu pergi ke taman untuk melakukan hal-hal yang biasa kau lakukan bersama Siwon. Dan selama dua tahun pula aku telah bersabar menunggumu. Berharap kau mau sedikit saja menengok kebelakang dan melihatku. Aku tahu ini berat untukmu tapi dia telah kembali kepangkuan-Nya. Tidakkah kau berpikir Tuhan sungguh menyayanginya? Tuhan memanggilnya agar ia dapat segera merasakan surga. Apa kau tega membuat ia menangis melihatmu terpuruk seperti ini?” Donghae berkata dengan suara lembut. Yoona semakin deras mengeluarkan air matanya. Ia menggeleng kuat.

“Aku mencintainya, Oppa. Dia begitu berharga untukku..” Donghae menarik Yoona dalam dekapannya, mengelus pelan punggung Yoona.

Arrseo. Aku mengerti..” Mereka sama-sama menangis. Menumpahkan kepedihan yang ada dalam diri mereka. Kepedihan akan sebuah kenyataan yang memng harus diterima.

***

Warna jingga langit Seoul kini bergantikan dengan awan hitam yang menyelubungi keseluruan kota. Hujan telah mennguyur bumi Seoul sejak siang tadi. Yoona menatap kosong kearah depan. Ia duduk menghadap jendela kamar, tak memedulikan petir yang menggelenggar di luar sana. Basah tanah itu mengingatkannya pada kejadian dua tahun silam.

Persis seperti sore ini, kala itu hujan juga tengah merajahi Seoul. Sore itu ditengah hujan lebat Im Yoona masih setia duduk di sebuah bangku taman. Ia tengah menanti kekasihnya, Choi Siwon. Mereka telah berjanji akan bertemu disini. Namun nyatanya sudah 3 jam ia menunggu, sang kekasih tak juga menampakkan batang hidungnya.

Yoona menunggu di bawah pohon mapple. Ia menggigil karna udara yang terasa sangat dingin menusuk permukaan kulitnya ditambah lagi ia tak membawa mantel. Beberapa kali ia menggosokan telapak tangannya menciptakan sedikit kehangatan pada dirinya sendiri.

Mianhae aku terlambat..” sebuah suara mengagetkannya. Membuatnya mendongak dan menoleh kesamping.

“Kenapa lama sekali? Apa kau tak tahu aku sudah 3 jam menunggumu” Siwon tersenyum simpul menanggapinya. Diraihnya jemari Yoona dan menggenggamnya erat. Berharap gadis itu mendapat kehangatan.

“Tadi ada urusan sebentar, deer. Mianhae ne” Siwon menatap Yoona dengan tatapan mendeuhkan, benar-benar penuh penyesalan.

“Ayo kita pulang. Hari sudah semakin gelap. Nanti Bibi Jung mencarimu..” Siwon sudah akan beranjak ketika Yoona mencegahnya, “Tapi ini masih hujan, Oppa.”

Siwon kembali mengulum senyum, senyum yang tidak dapat diartikan oleh Yoona. Dengan gerak cepat Siwon menarik tangan Yoona, mengajak gadis itu menerobos derasnya hujan. Gadis itu tak menolek ataupun mengelak. Ia merasakan kebahagiaan disetiap jengkalnya. Asal ia selalu berada didekat namja ini rasanya matipun tak apa apalagi jika hanya berhujan-hujanan.

Setelah berlarian menerobos hujan akhirnya mereka sampai di depan rumah Yoona. Nafas Yoona tersenggal karna Siwon mengajaknya berlari terlalu kencang. Siwon memperhatikan wajah Yoona. Ia mengulum senyum kemudian meraih wajah Yoona dan mengelus pipinya.

“Masuklah, kau pasti lelah. Segera ganti bajumu dan hangatkan tubuhmu agar tidak sakit..” ucapnya masih mengelus pipi Yoona.

Oppa tak masuk? Masuklah, hujan masih deras.” Yoona menghawatirkan keadaan Siwon, pasalnya mereka tadi kesini dengan berlari dan ia tak melihat mobil Siwon.

Gwanchana, aku bisa naik taxi.” Seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Yoona, Siwon kembali memberikan senyum terbaiknya. Siwon maju selangkah. Ia mengecup dahi Yoona membuat gadis itu memejamkan mata.

Lama Siwon mengecup dahi Yoona. Kecupan itu turun pada kedua mata terpejam Yoona kemudian ke pipi Yoona dan terakhir  pada bibir merah milik Yoona. Siwon mengulum lembut bibir Yoona. Gadis itu hanya menikmati sentuhan yang diberikan Siwon padanya.

“Sudah sana masuk!” titah Siwon begitu mengakhiri ciuman mereka. Yoona mengangguk. Ia melihat Siwon mulai berjalan membelakanginya. Namja itu berhenti dan menolehkan kepalanya kearah Yoona. Siwon benar-benar membalikkan badan dan kini telah memeluk Yoona erat.

Saranghae Deer..” Yoona tersenyum mendengar kaliamat Siwon.

Nado saranghae, Oppa..” Yoona balas memeluk Siwon.

“Apapun yang terjadi kau harus bahagia. Kau tidak boleh menangis apalagi sampai menyiksa dirimu sendiri.” Yoona mengernyit mendengar ucapan Siwon.

“Oppa, aku tak mengerti dengan ucapanmu.”

“Suatu saat nanti kau pasti akan mengerti.” Dengan berat hati Siwon melepaskan pelukannya. Ia kembali membelai rambut Yoona.

Oppa pergi..” pamit Siwon. Ada rasa tak rela dalam diri Yoona. Entahlah apa itu. Mendengar kalimat terakhir Siwon membuatnya gusar. Namun ia hanya dapat menatap punggung Siwon yang mulai menjauh di antara derasnya hujan. Yoona masih dapat melihat Siwon melambaikan tangan padanya. Yoona balas melambaikan tangan. Siwon juga tersenyum sangat manis. Senyum yang menyejukkan.

Saat ini Yoona baru menyadari apa arti dari kalimat Siwon. Ia menyadari hari itu adalah hari terakhirnya bersama Siwon. Senyum terakhir yang diberikan Siwon untuknya. Karna setelah ia masuk kedalam rumah ia mendapat kabar bahwa siwon mengalami kecelakaan ketika ingin menemuinya. Siwon meninggal di tempat dan itu berarti sosok yang mengajaknya berlari, menggenggam tangannya dan membelai rambutnya hanyalah roh siwon. Setelah kejadian itu seorang Im Yoon Ah hidup dalam halusinasinya. Ia menganggap Choi Siwon masih hidup. yang ia lakukan setiap harinya adalah menjalani kehidupan dengan bayangan Siwon. Tak heran jika orang-orang menganggapnya gila karna sering berbicara sendiri bahkan tertawa sendiri.

Dan hari ini luka itu kembali terkupas. Mengembalikannya pada satu titik keterpurukan.

Oppa, apa kabar?” sejenak Yoona menjeda kalimatnya. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan seiring dengan kesesakkan yang mulai memudar dalam hati.

“Bukankah aku orang jahat? Dua tahun lamanya aku tak pernah mengunjungi makammu. Kau marah, Oppa? Marahlah aku memang pantas kau benci.” Yoona mengambil nafas merasakan sesak dalam dadanya. Saat ini ia telah berada di depan makam Siwon.

“Aku tak benar-benar mendengarkan ucapanmu waktu itu. Seharusnya aku tak lagi menangis seperti apa yang kau katakan, seharusnya aku dapat bahagia apapun yang terjadi dan seharusnya aku tak menyiksa diriku sendiri. Tapi aku tak sanggup, Oppa. Sungguh tak sanggup untuk tidak melakukan itu semua. Aku tidak dapat melakukan apa yang kau pesankan untukku. Mianhae Oppa” suaranya bergetar. Ia berusaha menguatkan diri. Yoona memejamkan matanya, sekuat tenaga menghalau air mata yang siap meluncur.

“Kau tahu, Oppa? Fakta bahwa kau telah tiada sama halnya membunuh jiwaku. Kenyataan ini terlalu berat.”

“Namun aku tak pernah menyalahkan siapapun. Aku tahu pasti ada pelajaran berharga di balik semua ini. Terimakasih Oppa, terimakasih telah mengajarkanku cara mencintai. Terimakasih telah hadir dalam hidupku dan mengisi hari-hariku. Meski kau selalu berkata cinta tak butuh kata terimakasih namun tetap saja kata itu tak pernah lepas dari cinta.” Yoona menyeka bulir kristal bening yang begitu saja lolos dari sudut matanya. Ia kembali tersenyum, senyum getir.

Yoona memejamkan mata, menyatukan kedua tangannya. Ia memanjatkan doa, segala doa yang terbaik untuk sang kekasih yang teah berpuang ke pangkuan-Nya. Perlahan matanya terbuka. Hembusan angin langsung menyambutnya, serasa ikut menghibur duka hatinya. “Selamat jalan, Oppa..” lirihnya sebelum beranjak.

Kakinya melangkah menyusuri jalanan kota Seoul. Hingga akhirnya langkahnya terhenti di sebuah taman dekat sungai han. Perlahan Yoona mendekati bangku taman itu. Ia mendudukkan dirinya disana. Tangannya terulur mengelus bangku taman.

Lagi dan lagi ia tak dapat melaksanakan pesan Siwon. Buktinya saat ini ia tengah menangis. Tempat ini menyimpan sejuta kenangan indah bersama Siwon. Bangku ini telah menjadi saksi bisu pertemuan serta perpisahannya dengan Siwon. Tak ada lagi canda tawa itu. Tak ada lagi senyum lesung pipit itu. Takkan ada lagi daru nafas yang menghangatkan itu dan takkan ada lagi panggilan ‘Deer’ untuknya. Kini semua itu hanya menyisakan sebuah kenangan. Kenangan indah yang tersimpan dalam memori. Kepingan manis yang merajut sebuah bahagia.

Yoona memejmkan mata menikmati semilir angin musim semi. Ia menyangga tubuhnya dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas bangku. Rasanya sangat berbeda dengan kemarin. Ia tak lagi merasakan sosok Siwon di dekatnya. Ah, Lee Donghae. Tiba-tiba pikirannya mengarah pada namja berhati lembut itu. Namja itu sungguh baik padanya. Ia banyak berhutang pada Donghae. Saat ini namja itu tak lagi dapat menemaninya. Setelah kejadian itu Donghae memutuskan untuk pergi. Pergi dari kehidupan Yoona. Donghae menyadari bahwa Yoona sampai kapanpun tidak dapat membalas cintanya. Yoona hanya menganggapnya sebagai kakak, tak lebih. Donghae memilih unutk mencari cinta sejatinya yang dalam kasus ini jelas bukan Yoona. Gadis itu benar-benar berterimakasih pada Donghae.

Merasakan sebuah sentuhan lembut ditangannya, Yoona membuka mata dan menoleh ke samping. Senyumnya mengembang malihat orang yang dicintainya tengah tersenyum tulus untuknya. Orang itu, Choi Siwon terlihat begitu tampan dengan balutan kemeja putuh bersih. Tubuhnya bercahaya begitu juga dengan wajah tampannya.

“Hai… Deer,” sapanya lembut, “Siap memulai kehidupan baru?” Senyum itu tidak pernah berubah, tetap memancarkan ketulusan. Yoona hanya dapat memberikan senyum terbaik yang ia punya. Terlalu takut jika ia membuka mulut untuk sekedar berkata ‘Ya’ air matanya akan tumpah ruah.

Siwon mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona, mengecup kening gadis itu. Yoona memejamkan mata menikmati kecupan Siwon. Lama ia merasakan kecupan di dahinya hingga hembusan angin menyadarkannya. Ia membuka kedua matanya. Tidak ada. Sudah berakhir.

Namun bukan akhir dari segalanya, justru ini adalah awal yang baru untuknya.

“Terimakasih Tuhan telah mengahadirkan Siwon Oppa dalam hidupku. Terimakasih Siwon Oppa telah memberikan kenangan manis dalam hidupku. Dan terimakasih Donghae Oppa untuk segala kebaikanmu.”

 

~FIN~

Fiyuhh~ selesailah fic absurd ini^^ sebelumnya mau mengucapkan terimakasih untuk admin blog RFF yang telah bersedia menampung serta nge-post fic saya, terimakasih banyak^^

Kedua, terimakasih untuk readers setia RFF yang mau membaca OS ini *kalo ada sih huhu… J sebenarnya ini sudah pernah saya post dalam note facebook tapi dengan sedikit perubahan, dikiiiit banget cuma membenahi kata yang gak enak dibaca aja sih^^ mohon berikan kritik dan saran. Gomawo *bow*

20 thoughts on “[FF Freelance] Sweet Memories (Oneshot)

  1. Momentsnya bagusss sekaliiii
    Tapi agak sedih karena Yoona ditinggal Siwon
    Please make another ff with happy ending for Yoonwon
    Tq

  2. Bagus loh thor. Brasa banget pas lagi baca. Tapi brasa sedih juga kalo jadi cewek yang kehilangan kekasihnya. TT
    Bikin ff baru yah thor. Ga sabar nih.hihi

  3. Kenapa Ending-nya Sad???
    Hiks … Hiks … Hiks …
    Ditunggu FF YoonWon selanjut-nya!!!
    Tapi harus Happy Ending!!!

  4. Ceritany bagus, ku pkir momentny yoonwon itu nyata, ternyata hny halusinasi yoona eonni sj,
    Pdhl aku sdh senang bgt, sm kdekatanny Yoona dn Siwon oppa,
    Chingu, ff selanjtny happy ending ya..
    Gomawo 😉

  5. eih Nurul… FF mu ada disini…
    demen bgt sih ama sad ending buuukkk….
    senengnya dirimu mengombang-ambing perasaan pembaca sejak awal paragraf dan diakhir membuat ‘jleb’ pada kenyataan harus berakhir pada ending yang tidak diharapkan (?)
    Trus itu Oppa ikan-ku yang ganteng tujuh turunan gimana nasibnya? Kalo Yoona ga mau buat aku aja gpp sih.. #apaancuba

    Please, lain kali buat yg happy ending yaa…

  6. Sedih banget mewek adekan pas donghae oppa buka lukisanya yoona dari situ yaa ampun banjir deh nih air mata,kerennn tunggu ff lainnya saengie

  7. jadi itu hanya halisunasi yoong aja
    dan wonppa nya udah mati ? Oh God sad lg
    membutuhkan waktu yg lama untuk yoong menerima kenyataan klau wonppa mati ?? huhuhuhu
    #Sadagain

  8. Dari awal udah dapat fell kalau Siwon udah meninggal, ceritanya agak mirip ama film India Mohabetein tapi miripnya cuma dibagian orang yg udh meninggal, dianggap masih ada disampingnya melalui halusinasi…
    Finally, keren, bersih typo, fellnya dapet 🙂

  9. Omoo!!! Jumma!!! Ini yg d fb bukan??

    Huaaaaa!!! Aq gak mau baca lg deh, ntar mewek lg (˘̩̩̩^˘̩̩̩ƪ) … Ninggalin jejak aj #plak

  10. Aku bingung mau bilang apa huwaaaaa aku ampe nangis bacanyaaa.. sumpaaahh author ini sediihhh bgt…

    Aku udh curiga kalo siwon oppa udh gaada pas lg di lotte world, soalnya bnyak yg ngetawain yoona…
    ahhh knpaa sad ending??
    Tp bgus bgt loh thor crtanya dan bner2 mengharukan… aku aja ampe nangis .. nyeseeekkk bgt bacanyaaaa…

    good job thor 🙂

    Buat ff yoonwon lainnya ne???
    Gomawo…
    fighting 😀

  11. Sumpah! Ini keren bgt,walaupun sad ending tapi feelnya dpt bgt…..
    Rasanya sedih bgt….aku terharu bgt sm cintanya yoong eonni…..
    Sampai kapanpun YoonWon akan sll bersama….amiin!!

    Ditunggu ffmu yg laen thor….
    LoVe YoonWon
    (SiwonLoVeYoonA)

  12. Huaaaaaaa 😦
    Sedih bangeeettt 😦
    Aku kira Siwon sakit, ternyata kecelakaan.
    Aku udah ngira sih pas mereka di Lotte World orang-orang memandang mereka aneh, jangan-jangan Yoona berhalusinasi, ternyata bener :’)
    Aku suka sama memories nyaa :’)
    Bisa gitu ya orang yang ditinggal sama orang yang dicintainya berhalusinasi sampai 2 tahun lamanya .___.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s