[FF Freelance] Blind (Part 3)

blindcover

Title : Blind (Chapter 3)

Author : @diani3007

Main Cast :

~ [A-Pink] Jung Eunji

~ [Infinite] Lee Howon

~ [BTOB] Lee Minhyuk

~ [Girl’s Day] Lee Hyeri

Genre : Romance, Life, Angst

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Previous part: Part 1, Part 2

Disclaimer : ff ini terinspirasi dari sebuah drama Korea & sebuah film layar lebar Indonesia. Semoga ada yang mau baca, Happy Reading…

 

 

***

     Eunji meregangkan otot – ototnya, sesekali dia menguap. Dia memang masih mengantuk pagi ini, tapi dia harus tetap sekolah. Howon yang sedang menyetir hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat Eunji duduk di belakangnya. Ingin sekali dia berkenalan dengan Eunji, secara resmi. Karena selama ini, Howon dan Eunji selalu berkomunikasi di saat-saat yang tidak memungkinkan.

“Ekhem!” Howon mulai mencoba mengawali pembicaraan. Sementara Eunji hanya diam.

“Nona Eunji, alangkah baiknya kita berkenalan. Kau belum kenal aku kan?”

     Eunji masih diam. Dia diam bukan karena tidak ingin bicara, tapi dia sedang berpikir siapa orang yang sedang bicara dengannya itu. Suaranya sangat familiar menurutnya.

“Eee, Nona? Apa anda mendengarku?”

“Nde.”

“Nde?”

“Aku mendengarmu.”

“Arrasseo, jeoneun Lee Howon imnida. Mulai hari ini, aku adalah supir barumu.”

“Tanpa kau beri tahu pun aku sudah tahu. Lebih baik sekarang kau diam.”

“Apa aku tidak bisa mengobrol sedikit dengan Nona? Mari kita menjalin hubungan baik antara supir dan majikan.”

“Apa kau tidak mengerti arti kata ‘diam’?”

     Howon tidak membalas lagi ucapan Eunji. Dia tidak menyangka ternyata Eunji adalah orang yang sangat cuek, dingin, dan jujur… mungkin agak… menyebalkan.

     Keheningan berlangsung sangat lama. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk bicara, Eunji terlalu malas, sedangkan Howon terlalu takut. Ya, dia takut dengan sikap Eunji. Howon yakin, gadis seperti Eunji pasti suka mengadu. Dia takut bila keinginan Eunji tidak dituruti, Eunji justru bilang yang tidak-tidak pada orangtuanya, dan pada akhirnya dia dipecat.

***

     Eunji turun dari mobil dengan perlahan sambil mengeluarkan tongkatnya. Howon berusaha membantu namun Eunji selalu menolak. Tapi, hal itu tidak membuat Howon kesal, atau marah. Dia terlihat sangat sabar menghadapi Eunji. Dia ingin selalu menjaga Eunji seperti ini.

“Hati – hati, Nona.” Ucap Howon yang kesekian kalinya, namun tidak dihiraukan sama sekali oleh Eunji.

“Jangan mengikutiku sampai dalam,” ucap Eunji yang akhirnya angkat bicara.

“W..w..waeyo?”

“Ini perintah!”

“Ah, nde, arrasseo.”

     Eunji mulai berjalan lebih cepat menuju pintu masuk SLB tersebut. Tanpa sadar, dia menginjak batu hingga nyaris terjatuh. Saat itu juga, spontan Howon berlari menghampiri Eunji. Baru saja Howon akan memegangi Eunji, Eunji sudah angkat bicara lagi.

“Bukankah sudah kubilang jangan mengikutiku? Kau tidak dengar?” Tanya Eunji tanpa membalikkan badannya ke arah Howon. Howon menurunkan tangannya. Dia lalu menunduk.

“Mianhamnida.”

     Eunji tidak menghiraukan Howon lagi. Dia langsung masuk ke pintu masuk sekolahnya.

“Aaaiissshh, jinjja! Sepertinya ini akan sulit,” ucap Howon sambil mengacak rambutnya.

***

     Hyeri berjalan kaki menuju sekolahnya. Ketika sampai di perempatan, Hyeri hendak menyebrang. Jalanan sedang kosong saat itu, jadi dia menyebrang dengan langkah pelan sambil menundukkan kepalanya. Terdengar samar-samar suara mesin mobil.

TIIINN TIIIIIIINNNNNN CKIIIITTT

     Hyeri hanya menengok ke arah mobil yang nyaris menabraknya itu dengan wajah polos. Dia bahkan tidak berusaha menghindar. Pintu mobil terbuka, si pengemudi keluar.

“Ah, jeongmal jeosonghamnida! Neo gwenchana?” Tanya Minhyuk yang merupakan si pengemudi mobil.

     Hyeri diam saja. Dia terbengong-bengong melihat wajah tampan pacar author, eh salah, maksudnya wajah Minhyuk *keceplosan kan jadinya._.v/slap/. Minhyuk heran melihat Hyeri yang diam saja. Dia mencoba melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Hyeri, barangkali dia melamun.

“Ekkhhemm, jeogiyo. Neo gwenchana? Kenapa kau diam saja, huh?”

     Hyeri menggeleng cepat sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.

“Eoh, jeosonghamnida!” ucap Hyeri sambil membungkuk. Minhyuk semakin heran. Kenapa justru dia yang minta maaf?

“Kau ini kenapa?”

“Ah, nde?”

“Kenapa kau malah minta maaf padaku? Jelas-jelas aku yang salah. Aku mengemudikan mobilku terlalu cepat, Mianhamnida.”

“Ah, jinjjayo?”

“Mwo?”

     Beginilah Lee Hyeri. Dia selalu hilang control setiap bertemu namja tampan. Bicaranya jadi kemana-mana, bahkan kadang lupa kejadian yang baru saja terjadi.

“Ya, jangan main-main kau! Bicara yang benar!”

“A..aa..aniyo, mianhe, aku harus pergi!”

     Hyeri lalu berlari menjauhi Minhyuk yang masih memasang ekspresi herannya itu. Yeoja aneh!

***

     Eunji keluar dari sekolahnya. Dia berhenti di bawah pohon halaman depan sekolahnya. Tanpa dia sadari, Howon duduk tertidur di dekatnya, bersandar di pohon. Eunji berjongkok, membuat tubuhnya sejajar dengan Howon. Howon menguap sambil perlahan membuka matanya. Dia menoleh ke sebelah kanan dan membulatkan mata ketika melihat Eunji. Air mata Eunji jatuh.

“Eomma…hiks…aku tidak mau sekolah di sini, eomma…hiks… aku mau pulang saja! Aku tidak suka dengan teman – temanku, aku tidak suka dengan guruku, aku tidak suka dengan supir baruku…,” Eunji diam sejenak, menyeka air matanya, “…bahkan aku masih belum bisa menerima kalau aku buta, eomma!”

     Eunji menangis sangat kencang. Howon hanya terdiam di sampingnya, menatap iba ke arah Eunji. Eunji memeluk lututnya lalu menangis sambil menenggelamkan wajahnya. Tangan Howon terangkat untuk mengelus puncak kepala Eunji, namun dia menurunkannnya kembali. Dia sadar, dia tidak berhak.

“Kenapa anda kembali, Nona?”

     Eunji menegakkan kepalanya. wajahnya kini basah. Dia menoleh ke sebelah kiri.

“Kaukah itu?” Tanya Eunji tak yakin.

“Nde, aku Howon.”

“Kau masih di sini rupanya.”

“Anda belum menjawab pertanyaan saya, Nona.”

     Eunji mendesah. Dia menyandarkan kepalanya ke pohon sambil menatap langit yang samar-samar karena terhalang dedaunan.

“Aku belum pernah menangis di depan orang lain sebelumnya, karena aku paling anti menangis. Dulu, menangis dapat merusak imageku. Tapi untuk saat ini, aku menangis atau tidak pun tidak akan ada yang peduli.”

“Kenapa Nona bicara seperti itu?”

“Aku–“

“HOOEEEKKK!!”

     Eunji kaget mendengar suara Howon. Howon memegangi perutnya yang mual. Dan lagi-lagi kepalanya juga sakit saat itu.

“Aaakkhh…,” Howon mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.

“Howon-ssi, neo gwenchana?!” Tanya Eunji panik, namun tatapannya tetap lurus ke depan.

“Nan gwenchana.”

***

TOK TOK TOK

     Minhyuk mengetuk pintu rumah Eunji.

CKLEK

“Nde? Ah, Minhyuk-ah! Silakan masuk,” ucap Nyonya Jung.

     Minhyuk dan Nyonya Jung duduk behadapan.

“Ada apa kau kemari?”

“Apa Eunji ada?”

     Raut wajah Nyonya Jung agak berubah ketika mendengar pertanyaan MInhyuk. Nyonya Jung menghela nafas lalu kembali bicara.

“Mau ada perlu apa kau mencari Eunji?”

“Aku ingin mengajaknya jalan-jalan, cuaca hari ini cerah.”

“Apa kau tidak–“

“Arrasseo, sieomeoni. Tentu saja aku ingat perkataanmu. Keunde, aku yakin perlahan-lahan Eunji akan membuka hatinya lagi.”

“Maksudmu?”

“Izinkan aku mendekati Eunji, sieomeoni. Aku janji tidak akan menyakitinya, aku akan menjaganya. Jebalyo.”

“Keurae, kau kuizinkan. Keunde, sekarang Eunji sedang tidak ada di sini. Dia masih di sekolah.”

“Sekolah? Dia sekolah di mana sekarang?”

“Di SLB. Dia diantar supir barunya.”

“Supir baru?”

***

     Howon mengintip dari jendela ruang kelas Eunji. Di dalam, Eunji sedang melakukan perkenalan pada teman – temannya. Setelah mendengar nasihat Howon, akhirnya Eunji mau masuk juga ke kelas barunya itu.

“Nuguseyo?”

“Ya, Gabjagi!” ucap Howon kaget begitu melihat Minhyuk. Minhyuk terkekeh pelan.

“Apa kau supir baru Eunji?”

“Nde, annyeonghaseyo!” Howon membungkuk hormat. Minhyuk membalasnya.

“Kau, pulanglah,” ucap Minhyuk.

“Nde?”

“Kubilang pulang.”

“Wae?”

“Biar aku yang mengantar Eunji pulang.”

“Mwo? Keunde, bagaimana bisa aku menyerahkan Nona Eunji pada orang yang belum kukenal seperti anda?”

“Kau akan mengenalku.”

“Akan?”

“Hm,” Minhyuk mengangguk, “Karena aku adalah namja yang dijodohkan dengan Eunji, sekaligus namjachingunya.”

     Howon diam saja. Dia masih menunjukkan tatapan polosnya ke arah Minhyuk. Apa usahanya mendekati Eunji dengan cara menjadi supir pribadinya akan berhasil? Sedangkan saat ini dia sedang berhadapan dengan namjachingu Eunji.

“Jinjja?” Tanya Howon.

“Keurom. Wae? Kau tidak percaya?”

“A..aniyo,” ucap Howon sambil menunduk.

     Bel pulang sekolah berbunyi. Howon dan Minhyuk menoleh ke arah kelas Eunji bersamaan. Keduanya tersenyum begitu melihat Eunji yang sedang berusaha bangkit dari bangkunya, sama seperti teman – teman sekelasnya yang lain yang juga buta. Setelah Eunji berhasil bangkit dan berjalan keluar kelas dengan tongkat, Howon dan Minhyuk langsung menyambutnya.

“Nona Eunji!” ucap Howon.

“Eunji-ssi!” ucap Minhyuk. Mereka mengucapkannya secara bersamaan.

“Kalian siapa?” Tanya Eunji yang belum terlalu mengenal suara Howon dan Minhyuk. Apalagi mereka berdua bicara bersamaan.

“Sudah lupa suaraku?” Tanya Minhyuk.

“Minhyuk-ssi?”

“Nde, rupanya kau masih ingat,” ucap Minhyuk sambil tersenyum ramah ke arah Eunji. Dia pun berjalan mendekati Eunji lalu merangkul pundaknya.

“Waeyo?” Tanya Eunji.

“Aku yang akan mengantarmu pulang. Biar Howon pulang duluan, gwenchana?”

“Keunde, Tuan Minhyuk, saya–“

“Aniyo! Aku akan pulang dengan Howon, Minhyuk-ssi,” sela Eunji sambil melepaskan tangan Minhyuk yang merangkul pundaknya. Howon menatap Eunji tidak percaya.

“Mwo? Keunde wae? Kau masih belum mempercayaiku?”

“Kau lebih baik pulang saja, lagipula aku tidak memintamu untuk menjemputku ke sekolah.”

“Eunji-ssi…”

“Kajja, Howon-ssi, kita pulang.”

     Howon mengangguk cepat lalu segera membantu menuntun Eunji berjalan. Minhyuk menatap Howon geram. Aku juga bisa jadi supir Eunji, kenapa mesti menyewa orang seperti itu segala sih? Pikir Minhyuk dalam hatinya.

***

     Howon sesekali menatap ke arah kaca spion untuk melihat Eunji yang sedang duduk sambil memejamkan matanya. Tapi Howon tahu kalau Eunji tidak sedang tidur karena dia sesekali menggerakkan anggota tubuhnya.

“Ehm, kalau saya boleh tahu, kenapa Nona menolak tawaran Tuan Minhyuk?” Tanya Howon hati-hati.

“Kau tidak perlu tahu,” jawab Eunji masih dengan mata terpejam.

“Waeyo? Bukankah dia namjachingu Nona?”

“Mwo? Bukan!”

     Tanpa sadar, sebuah senyum terulas di wajah Howon.

“Jadi, bukan ya Nona?”

“Memangnya kenapa?”

“Aniyo.”

***

     Eunji dan Howon duduk di bawah pohon yang rindang di sebuah taman. Howon terus memperhatikan Eunji. Eunji tersenyum merasakan hembusan angin yang menerpa wajah dan sebagian rambut lurusnya.

“Rasanya benar-benar sejuk,” ucap Eunji. Howon diam saja dan masih memperhatikan Eunji. Ini pertama kalinya Howon melihat Eunji tersenyum. Ini pertama kalinya Howon melihat Eunji yang bahagia, bukan Eunji yang jutek, menyebalkan, kehilangan tujuan hidup, dan Eunji yang menangis.

“Seandainya saja aku bisa melihat pemandangan indah di hadapanku, aku pasti akan merasa sangat senang,” Eunji lalu menoleh ke arah Howon, membuat Howon agak bergidik kaget namun kemudian dia sadar bahwa Eunji tidak melihatnya, “gomawo sudah membawaku ke tempat ini.”

     Howon tersenyum lembut ke arah Eunji. Ingin rasanya dia mengelus puncak kepala Eunji saat itu juga.

“Nde, Nona. Aku juga ikut senang jika kau senang.”

     Eunji lalu kembali mengadahkan kepalanya ke arah langit. Setetes air mengalir dari matanya.

“Aku ingin menadapat kesempatan untuk melihat lagi, aku janji akan menggunakan mataku dengan baik, aku tidak akan mengecewakan orang tuaku, aku ingin…”

     Eunji tidak melanjutkan ucapannya. Dia menangis sambil menatap langit. Howon yang duduk di sampingnya hanya bisa menatap iba. Aku memang bodoh! Aku jadi seperti ini juga karena salahku, pikir Eunji dalam hati.

“Aku mau berubah. Bantu aku, Howon-ssi.”

***

     Minhyuk duduk di ruang tengah rumah Eunji sambil menatap bosan Nyonya Jung yang sedari tadi berjalan mondar-mandir.

“Sieommeoni, keumanhe! Aku pusing melihatnya!”

“Sudah kubilang kan, Minhyuk-ah, kau jangan  mendekati Eunji dulu. Kondisinya masih belum pulih dia pasti belum bisa menerimamu. Kenapa kau susah sekali diberi tahu, sih? Sekarang di mana dia?” Tanya Nyonya Jung sambil memijat pelipisnya.

“Arrasseo, mianhe, sieommeoni,” ucap Minhyuk sambil mengerucutkan bibir.

“Kita tunggu saja sampai Eunji pulang, kalau belum pulang juga, berarti kau yang harus bertanggung jawab!”

“Mwo? Kenapa aku?”

     Nyonya Jung tidak menjawab pertanyaan Minhyuk. Dia justru meninggalkan Minhyuk dan berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, dia duduk di kasurnya. Huh, Lee Minhyuk! Anak itu semakin lama semakin terlihat sifat aslinya. Dia itu begitu kekanak-kanakkan, pikir Nyonya Jung.

***

“Eomma, aku pulang!” ucap Eunji begitu sampai di rumahnya.

     Suara langkah kaki Nyonya Jung terdengar.

“Eunji-ya! aigoo, kau kemana saja? Kenapa baru pulang, huh? Ini kan sudah sore!” ucap Nyonya Jung sambil memeluk Eunji. Howon yang berdiri di sebelah Eunji hanya diam.

“Mianhe, eomma. Tadi Lee Howon mengajakku ke taman dulu. Lagipula, aku butuh udara segar, eomma.”

“Keurae, arrasseo. Keunde lain kali kau seharusnya kabari eomma! Eomma kan jadi khawatir.”

“Nde eomma, mianhe.”

     Nyonya Jung mengalihkan pandangannya ke arah Howon yang sedari tadi diam.

“Eunji-ya, kembalilah ke kamarmu,” ucap Nyonya Jung tanpa melepaskan tatapannya dari Howon yang kini menatapnya takut.

“Duduk, Howon-ssi.”

     Nyonya Jung dan Howon pun duduk berhadapan di ruang tengah.

“Ini hari pertama kau bekerja, dan kau sudah berani membawa Eunji pergi bersamamu?”

“Mianhamnida, Nyonya, saya tidak bermaksud–“

“Apa kau sadar? Kau kan hanya supir, Howon-ssi. Aku menerimamu bekerja di sini karena aku pikir kau akan bekerja dengan tulus menjadi supir sekaligus penjaga putriku. Keunde, bukan berarti kau bisa seenaknya membawa Eunji pergi tanpa pemberitahuanku.”

“Mianhamnida.”

“Aku hanya tidak ingin kau berharap banyak, Howon-ssi. Lagipula Eunji sudah memiliki calon suami. Jadi kuharap kau bisa mengerti dan segera sadar.”

     Howon diam sambil menunduk. Perkataan Nyonya Jung itu menyakitinya. Apa karena dia orang miskin, jadi dia tidak boleh menyukai yeoja secantik Eunji yang merupakan anak orang kaya? Sungguh tidak adil! Semua orang berhak untuk jatuh cinta. Dan semua orang juga berhak memiliki harapan, walau yang di harapkan itu mustahil sekalipun.

“Aa…a..algeseumnida. Saya akan menjaga Eunji dengan baik dan tidak akan membawaya pergi lagi tanpa sepengetahuan Nyonya.”

“Bagus.”

***

       Pukul tujuh pagi, Howon sudah bangun dari tidurnya. Dia lalu berjalan menuju kamar mandi. Baru saja sampai di depan pintu kamar mandi, Howon merasakan sakit lagi di kepalanya. ya, akhir-akhir ini da tidak meminum obatnya dengan teratur. Sehingga, bukan tidak mungkin jika penyakitnya bertambah… parah, mungkin?

     Howon merasa benar – benar sakit hingga dia jatuh terduduk. Dan lagi-lagi, sakit kepala itu tidak sendirian, melainkan didampingi oleh rasa mual. Howon bangkit lalu berjalan pelan masuk ke kamar mandi dan segera memuntahkan isi perutnya sampai menyemprot. Ya, pertanda buruk memang, muntah yang menyemprot. Hyeri yang kebetulan ada di sana terus memperhatikan Howon yang sedang muntah. Hyeri tidak diam saja melihat Howon muntah seperti itu. Dia penasaran apa yang menyebabkan oppanya menjadi sering mual dan sakit kepala.

     Hyeri pun berlari ke kamar Howon. Sesampainya di sana, dia membuka semua laci, lemari, dan tempat-tempat di kamar Howon dengan panik. Hingga ketika dia membuka lemari baju Howon, dia melihat beberapa botol yang berisikan obat kapsul. Tangan Hyeri bergetar ketika mencoba meraih botol itu kemudian membacanya. Matanya berair ketika membaca tulisan tersebut. Lee Howon, Penderita Kanker Otak Stadium Awal.

*TBC*

Gimana? Straight ya._.? di chapter2 ini memang konfliknya belum begitu muncul. Maaf buat typo ._.V

Tapi aku harap readers tetep setia baca ff ini dan selalu meninggalkan komentarnya. Buat silent readers, cepet tobat dan tinggalkan komentar anda!

Thanks for reading ^^

8 thoughts on “[FF Freelance] Blind (Part 3)

  1. keren thor…. ^^

    heaaah, sifat eommax eunji sombong jg yah… ckckckck….
    moga howon cpt sembuh…. kasian adekx yg gk pny sapa” lge…. 😦

    dtunggu part selanjutx thor… ^o^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s