[Oneshot] Why?

why

Title: Why?
Author: Lilaa
Main Cast: Kim Myungsoo (L – INFINITE) & Jung Soojung (Krystal – f(x)
Supporting cast: Nam Woohyun (INFINITE) & Lee Jieun (IU)
Rating: T?
Genre: Friendship, romance (maybe), sadness, hurt (?), comedy (little bit & gagal -,-)
Length: Only one shot! Only one shot! *loh kok nyanyi One shot ._.

Disclaimer: terutama, jangan jadi silent readers yak :3 mohon maaf kalo ada typo bertebaran dimana-mana ._. maaf juga kalo FF abal-abal ini keabal-abalannya di atas rata-rata jadi jelek banget :$ oh ya, ini MYUNGSTAL FIC (Myungsoo – Krystal) don’t like it, don’t read it ^^ biar gak ada sakit hati (?) *okeabaikanini* dan yang terakhir..

Happy Reading all~ ^^

~oOo~

Pagi yang indah. Burung-burung bernyanyi dengan indah. Matahari yang senantiasa menyinari kota Seoul yang tampak sangat cerah hari ini, sama seperti yeoja yang sedang cerah hatinya. Ia membuka matanya dan mendapati seorang namja tampan yang sudah tersenyum padanya.

“Kau sudah bangun, chagiya?” Tanya namja itu. Yeoja berambut panjang itu mengangguk dengan senyumannya. Entah mengapa ia merasakan hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.

Ia mengelus rambut cokelat gelap milik namja itu “Myungsoo-ya,” ucapnya. Namja itu tersenyum “ne?”

Yeoja yang bernama Soojung itu bergerak dan mendekatkan mulutnya pada telinga namja yang ia panggil Myungsoo itu, “Saranghaeyo” bisiknya.

Myungsoo terdiam, lalu ia mengembangkan senyumannya. Bukan, bukan senyuman tulus. Mungkin senyuman keterpaksaan?

“Hari ini kan pernikahan Jieun dengan Woohyun? Aku tak sabar melihat mereka nanti!” seru Soojung dengan semangat. Ia sangat senang dengan pasangan yang akan segera menikah hari ini. Jieun, sahabatnya dari dulu akan menikah dengan namja idaman Jieun dari dulu saat pertama kali mereka bertemu di SMP.

Myungsoo lagi-lagi terdiam, ia masih teringat dengan Jieun. Ya, Jieun.. Sebenarnya ia adalah yeoja yang ia cintai sebelum Soojung. Dan Woohyun, namja itu adalah namja populer selain dirinya di sekolah dulu. Tapi mereka tak terlalu dekat. Hanya sebatas teman biasa.

Soojung mendudukkan dirinya, lalu ia menggerakkan tangannya naik-turun untuk membuyarkan lamunan Myungsoo.

“Myungsoo-ya? Gwaenchanayo?” Tanyanya. Dengan sekejap lamunan Myungsoo buyar dan ia segera menggelengkan kepalanya.

“N-ne?” Tanya Myungsoo balik pada istrinya itu.

Soojung mempoutkan bibirnya, “Aniyo. Aku hanya bertanya padamu soal pernikahan Jieun dan Woohyun tadi. Dan kau langsung melamun. Melamun tentang apa?” Tanya Soojung meledek.

“Eh? Aniyo.. Tak apa.. Gwaenchanayo” jawab Myungsoo dengan cengiran anehnya.

“Ah gitu.. Geurae..”

Soojung sedang berkutit dengan komputernya, sejak tadi ia tak bisa berhenti mengetik keyboardnya. Sampai akhirnya ponselnya berbunyi, segera ia mengambil ponselnya yang tergeletak di sebelah komputernya. Itu adalah panggilan dari Jieun, sahabatnya. Langsung saja ia menggeserkan jari telunjuknya pada layar ponselnya untuk menjawab panggilan itu.

“Yobseyo? Waeyo, Jieun-ah?” tanyanya.

“Aniyo, apakah aku mengganggu? Kau sedang sibuk, kah?” Tanya Jieun balik dari seberang telepon.

“Eh, ani… tak apa. Memang ada apa?”

“Hm… kau akan datang kan nanti?”

“Hahaha.. tentu saja, Jieun”

“Ah, syukurlah… jujur aku sangat gugup! Aigoo!”

“Sudah, tenang. Semua akan baik-baik saja,” ucap Soojung menggantung omongannya.

“Haa~ tapi aku masih takut, gugup, eottokae?” keluh Jieun yang memang benar-benar gugup. Ia juga takut untuk acara pernikahannya nanti sore.

“Jieun-ah, dengar aku ne~ Semua akan baik-baik saja.” Nasihat Soojung sekali lagi.

“Ne, akan kucoba agar nanti tidak gugup! Fighting! Oh ya, Soojung-ah… nanti siang mau makan siang bersama denganku dan Woohyun? Kau juga boleh ajak Myungsoo. Di restoran seperti biasanya” ajak Jieun yang sudah mulai membaik.

“Ehm, nanti akan kuajak Myungsoo, ne”

“Ne ne ne! geurae, sampai bertemu nanti, Soojung-ah~ annyeong!”

“Ne~ annyeong~!”

Dan mereka berdua menutup sambungan telepon mereka barusan. Soojung melempar tubuhnya ke sofa yang ada di ruangannya.

“Hahaha~ apa Myungsoo akan merasa cemburu nanti saat makan siang bersama Jieun dan Woohyun? Kekeke~” ledek Soojung sendiri. “Mwo? Mengapa ia harus cemburu, eoh? Dia sudah menjadi milikku! Kyahaha~” tawa Soojung geli setelah melanjutkan perkataannya.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya dan memasukinya. Siapa lagi kalau bukan Myungsoo dengan wajah bingungnya melihat yeoja manis yang sedang tertawa geli di sofa itu.

“Waeyo? Mengapa kau tertawa?” Tanya Myungsoo lalu duduk di sebelah Soojung.

Soojung mulai berhenti tertawa dan menoleh Myungsoo dengan singkat, “Myungsoo-ya… mau ikut aku makan siang bersama Jieun dan Woohyun nanti? Ayolah~ jebal!” pinta Soojung.

“Emm…” Myungsoo tampak berpikir. “Aniyo, aku tak mau..” jawab Myungsoo akhirnya. Dengan segera Soojung yang tadinya berpose memohon dengan aegyo-nya langsung berpindah mempoutkan bibirnya dan menaruh kedua tangannya dipinggul, mencoba protes pada namja di hadapannya.

“Yak! Waeyo?! Kita sudah lama tak berkumpul lagi. Palingan aku dan Jieun saja! Sekarang waktu yang tepat, sebelum mereka menikah nanti sore! Ayolah, Myungsoo-ya. Jebal!” protes Soojung yang ujung-ujungnya juga memohon pada Myungsoo.

Myungsoo menghela nafasnya, ia tak bisa menang dari istrinya ini “Hah.. baiklah, aku ikut” jawabnya.

Soojung tersenyum bahagia atas kemenangannya, “Yes!” ia mengepalkan tangannya lalu berlari ke meja kerjanya dan mulai melanjutkan pekerjaannya dengan tampang bahagia. Sedangkan Myungsoo terdiam di sofa.

Myungsoo POV.

Aigoo, tuhan. Apa yang akan aku lakukan nanti di sana? Jien dan Woohyun di situ. Aku masih tak rela Jieun berada di sisi Woohyun. Aku ingin dia berada disisiku. Egois memang, aku sudah mempunyai seorang pendamping hidupku tetapi aku masih saja menginginkan yeoja lain yang pastinya bukan milikku.

Tapi apa boleh buat? Aku sudah terlanjur mencintainya terlebih dahulu dari Soojung.

Mianhae, Soojung-ah…

Mianhae…

“Myungsoo-ya, gwaenchanayo? Dari tadi kau melamun terus” tegur Soojung yang menguyak lamunanku tiba-tiba. Ia datang mendekatiku lalu duduk di sampingku.

“Waeyo? Apa kau sakit?” tanyanya lagi kini sambil menaruh punggung tangan kanannya di dahiku. “Aniyo, kau tak panas. Ada apa?”

“Aniyo, Soojung-ah. Nan gwaenchanayo, tak usah khawatirkan aku. Lanjutkan pekerjaanmu sana, aku akan balik ke ruanganku sebentar lagi ne” jawabku. Tentu saja aku tak akan memberitahu siapapun tentang ini. Aku tak mau melihat Soojung yang menangis hanya karena ulahku. Tak akan kubiarkan air matanya menetes hanya karenaku. Biar aku yang merasakan ini. Lagipula, aku yakin. Seiring waktu aku akan mencintai Soojung seutuhnya. Tidak seperti ini, aku masih mencintainya dengan separuh hati.

“Geurae, aku akan pergi ke ruanganmu nanti saat sudah hampir jam makan siang tiba.” Ucap Soojung lagi, aku mengangguk dengan diiringi senyuman yang kuberikan semanis mungkin padanya.

“Ne, aku balik dulu ne. annyeong” jawabku sembari memeluknya lalu kembali ke ruanganku.

Entah mengapa aku ingin waktu diperlambat selambat mungkin agar acara makan siang bersama mereka dapat diundur menjadi lama. Sekaligus pernikahan mereka nanti sore.

Myungsoo POV ends.

Dengan perlahan, Soojung mengetuk pintu ruangan Myungsoo lalu masuk kedalam ruangannya. “Myungsoo-ya? Kajja kita pergi” ucap Soojung. Myungsoo yang sedang mengetik di laptopnya itu menoleh Soojung. “Iya tunggu sebentar” jawabnya.

Soojung mengangguk lalu duduk dengan manis di sofa yang terdapat di ruangan Myungsoo. Beberapa menit kemudian, Myungsoo menutup laptopnya lalu berdiri menghampiri Soojung, “Kajja” ajaknya singkat. Dengan segera Soojung berdiri lalu menggenggam tangan Myungsoo lalu keluar.

.
.
.

Sampailah mereka di sebuah restoran yang cukup mewah bernuansa paris itu. Di mata dua manusia ini telah terlihat dua kekasih yang sedang duduk di sudut restoran dengan canda tawa dan senyuman yang terpancarkan dari wajah mereka. Dengan segera Soojung menarik pelan tangan Myungsoo mendekati Jieun dan Woohyun yang sudah berada disitu sebelum mereka datang.

“Annyeong Jieun-ah! Woohyun-ah, bagaimana kabarmu?” Tanya Soojung ramah sembari duduk di hadapan Jieun dan diikuti Myungsoo di belakangnya.

“Ah, annyeong~” balas mereka. “Aku baik-baik saja.. Hey, Myungsoo-ya! Lama tak bertemu ya..” Sapa Woohyun.

Myungsoo hanya tersenyum tipis “iya.”

Dengan segera Jieun memanggil pelayan restoran itu lalu memesan makanan sesuai pesanan keempat manusia itu.

Setelah bercanda tawa, beberapa pelayan datang sembari menaruh pesanan makanan mereka.

“Ah, kamshamnida..” Ucap Jieun dan Soojung pada pelayan itu. Woohyun & Myungsoo hanya tersenyum tipis.

Semuanya diam, sunyi. Sibuk dengan pikiran masing-masing dan menyantap makanan mereka. “Myungsoo-ya, jadi bagaimana hubunganmu dengan sahabatku yang bawel itu?” Tanya Jieun sekaligus meledek Soojung.

“Ya ya ya! Kau, Jieun-ah!” Jawab Soojung cepat.

“Mwo? Hm.. Kami.. Baik-baik saja~” jawab Myungsoo sedikit gugup, tetapi ia menutupi kegugupannya dengan senyuman.

Soojung yang mendengarnya ikut tersenyum, begitu juga dengan Woohyun & Jieun.

Beberapa menit berlalu, mereka mengisinya dengan berkomunikasi satu sama lain. Myungsoo, yang terlihat mendapatkan tekanan itu hanya bisa menutupinya.

“Jieun-ah..” Panggil Woohyun. Jieun menoleh dengan alisnya yang terangkat, “hm?” Gumamnya.

Woohyun menaruh tangannya di sudut bibir tipis Jieun lalu mengambil sebutir nasi yang tertempel disitu dan membuangnya.

Jieun hanya terdiam, ia masih shock sekaligus malu karena Woohyun melakukan itu saat berada di depan Myungsoo dan Soojung.

“Itu, ada nasi..” Ucap Woohyun cepat.

“Aigo~ kaliaan! Ciee~” seru Soojung yang meledek. Sedangkan Myungsoo hanya terdiam, separuh hatinya merasa sakit sekali saat melihat kejadian tadi.

“Em aku harus pergi ke kamar kecil sebentar” ucap Myungsoo.

“Gwaenchanayo?” Tanya Soojung sedikit khawatir.

Myungsoo tersenyum tipis dan mengangguk. Setelah itu ia berlalu begitu saja ke kamar kecil atau sering disebut dengan toilet.

“Arrgh!” Teriaknya frustasi, ia sudah sesak melihat kejadian tadi. “Mengapa aku menjadi begini, sih?!” Lanjutnya seraya menggosok rambutnya kasar. Ia membasuh wajahnya dan melihat bayangannya di kaca di depannya.

“Aku sudah mempunyai Soojung! Aku tak bisa menyakitinya!” Ucapnya mulai memelan.

“Walaupun aku memang tak akan diterima olehnya, aku akan berkata yang sejujurnya pada Jieun. Ya, aku akan berkata padanya”

“Myungsoo-ya, kajja kita pergi!” Ajak Soojung.

“Hm..” Jawabnya singkat lalu merekapun berjalan sampai memasuki mobil. Di dalam mobil sangat hening, hampa. Tak ada kata yang terlontar dari mulut mereka berdua.

“Sebenarnya ada apa dengan Myungsoo?” Batin Soojung. Hatinya memiliki firasat bahwa namja yang terlihat biasa saja itu sedang aneh hari ini. Entah mengapa, tetapi ia melihat Myungsoo sedikit berbeda. Myungsoo lebih pendiam dan lebih dingin dari biasanya.

“Myungsoo-ya, waeyo?” Tanya Soojung memberanikan diri untuk bertanya.

Myungsoo tak menoleh Soojung sedikitpun, ia terus menatap lurus kedepan berhubung ia sedang menyetir. “Maksudmu?” Tanyanya balik.

“Aniyo, aku merasa ada yang aneh dan berbeda darimu. Kau bersikap lebih dingin dari biasanya..” Yeoja itu menjawab dengan menunduk.

Myungsoo terdiam sejenak, kemudian membuka mulutnya untuk berbicara. “Aku tak apa-apa. Memang biasanya aku seperti ini..” Jawabnya lebih dingin. Soojung yang mendengar jawaban Myungsoo tadi hanya terdiam, ia masih bingung dengan sikap suaminya itu.

Suasana menjadi kembali hening, sampai 20 menit kemudian mereka sampai di sebuah taman yang sudah disulap menjadi tempat pernikahan yang sangat indah. Tak jauh dari tempat pernikahan itu, terdapat ruangan kecil yang tertutup. Sepertinya ruang untuk beristirahat yang dipakai untuk pengantinnya?

Seorang yeoja yang menggunakan dress putih selutut turun dari mobilnya. Dengan anggun ia berdiri dan berjalan di samping seorang namja tampan yang memakai suit berwarna hitam. Siapa lagi kalau bukan pasangan suami istri Kim Myungsoo dan Kim Soojung.

Mereka duduk di kursi yang tersedia di situ. Soojung yang memutar-mutar pandangannya mencari sosok sahabatnya itu. Ia berniat untuk pergi dulu ke sebuah toko bunga yang berada di dekat taman itu untuk membeli sebuket bunga untuk sahabatnya yang akan menikah sore itu juga.

“Em.. Myungsoo-ya, aku mau pergi ke toko bunga itu sebentar ya.. Untuk membeli sebuket bunga untuk Jieun dan Woohyun. Kau mau ikut?” Tanya Soojung.

“Aniyo, aku disini saja tak apa kan?” Tanya Myungsoo balik.

Soojung mengangguk, “geurae..” Ia mencium pipi kiri Myungsoo singkat “aku pergi dulu sebentar ya..” Lanjutnya. Myungsoo tersenyum dan mengangguk. Soojungpun mulai berjalan menjauh, pergi menghampiri toko bunga itu.

5 menit Myungsoo menunggu, belum ada tanda-tanda Soojung kembali. Myungsoo memutar otaknya keras, mencoba berpikir untuk menentukan apakah ia benar-benar akan mengatakan semua pada Jieun atau tidak. Sampai akhirnya, ia mendapatkan jawaban terakhirnya. Ia akan menemui Jieun sekarang dan memberitahu semuanya.

Dengan segera ia bangkit dari duduknya lalu pergi ke ruang tertutup kecil. Ia mengetuk pintunya, “Jieun-ah? Kau ada di dalam?” Tanyanya.

“Siapa itu?” Tanya seseorang dari dalam dan suara yang terdengar seperti suara Jieun.

“Ini aku, Myungsoo.” Jawab Myungsoo.

“Ah, Myungsoo-ya. Iya, ini aku Jieun. Masuklah..”

Myungsoo tersenyum dan memasuki ruangan itu. Hanya ada Jieun di situ. Ini kebetulan yang bagus sekali.

“Waeyo, Myungsoo-ya?” Tanya Jieun bingung sambil memasang sebuah jepitan putih di rambutnya. Ia sedang bersiap untuk pernikahannya yang akan dimulai sebentar lagi. Jieun sudah terlihat sangat anggun dan cantik dengan gaun pernikahannya dan beberapa aksesoris.

“Ehm.. Aku tau ini bukan waktu yang tepat, tetapi aku harus mengatakan ini sekarang padamu.” Jawab Myungsoo. Jieun yang sudah selesai berdandan langsung berdiri di hadapan Myungsoo, “katakan saja.. Ada apa?” Tanyanya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.

Myungsoo mengambil kedua telapak tangan Jieun lalu menggamnya erat. Matanya melihat lurus ke mata Jieun, penuh kasih sayang. Tersirat rasa kesedihan di matanya itu. Sedangkan Jieun yang tak tau hanya diam melihat Myungsoo.

“Aku..” Myungsoo menggantung perkataannya. Jieun masih terus menunggu perkataan Myungsoo. “Mencintaimu..” Lanjutnya. Senyuman yang terukir di wajah Jieun memudar seketika.

“Myungsoo-ya.. Tapi kau..” Jawab Jieun.

“Ya, aku tau aku sudah mempunyai pendamping hidupku, Soojung. Aku mencintainya, memang. Tapi aku mencintaimu lebih dulu saat pertama kali kita bertemu dulu..”

-flashback-

Seorang namja tampan sedang berjalan santainya di koridor sekolah. Di sepanjang koridor sekolah itu terlihat yeoja-yeoja yang berbisik-bisik saat melihat namja itu berjalan. Mereka terkagum-kagum dengan namja itu. Tapi namja itu tak menghiraukan mereka. Sampai akhirnya ada dua orang yeoja yang berlari. Dan salah satu yeoja itu menabraknya lalu terjatuh di samping namja itu.

Yeoja yang satu lagi itu menolong temannya yang terjatuh, “Kau tak apa, Soojung-ah?” Tanya yeoja itu. Yeoja yang terjatuh dan dipanggil ‘Soojung’ itu berdiri “aniyo, aku tak apa-apa” lalu ia menoleh kearah namja yang tak sengaja ia tabrak tadi.

“Mianhaeyo..” Ucapnya sembari tersenyum dan membungkuk. Yeoja di sebelahnya itu ikut tersenyum pada namja itu. Lalu mereka mulai berjalan biasa saja melalui namja tadi.

“Hey! Tunggu!” Teriak namja itu pada kedua yeoja tadi. Merasa dipanggil, kedua yeoja itu berhenti dan menoleh ke belakang.

“Kami?” Tanya yeoja yang tadi tak terjatuh itu.

Namja itu berlari mendekati mereka berdua dan mengangguk. “Kim Myungsoo imnida.. Kalian?” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

Kedua yeoja itu tersenyum. “Lee Jieun imnida” ucap yeoja yang bernama Jieun itu sambil mengulurkan tangannya, membalas jabatan tangan namja bernama Myungsoo itu. Lalu disusul dengan yeoja tadi yang terjatuh. “Jung Soojung imnida. Bangapseumnida~” ucapnya sambil membalas jabatan tangan namja itu.

-flashback ends-

“Aku selalu ingin mendekatimu dulu. Tetapi Soojung selalu yang mendekatiku dan ia menghalangku untuk pergi bersamamu. Kebetulan juga kau berkata padaku bahwa ia menyukaiku, dan kau mendukung dia agar mendapatkanku. Aku tak bisa menolak, demi kebahagiaanmu aku mau menjadi kekasih Soojung bahkan sekarang aku sudah menjadi suaminya..” Ucap Myungsoo mengambil jeda.

“Dan kau.. Aku dengar dari Soojung kau sangat menyayangi Woohyun. Jujur, hatiku sangat sakit saat mendengarnya. Dan kau tau, saat kau berdekatan dengannya itu sudah menggoreskan rasa sakit di hatiku.”

“Lalu, apakah kau mencintai Soojung?” Tanya Jieun.

“Ya, aku mencintainya. Tapi belum sepenuh hati”

“Tidak.. Tidak Myungsoo! Ini semua salah! Kau salah! Seharusnya kau mengucapkan janjimu dengan cinta sepenuh hatimu untuk Soojung-”

Brak!

Seseorang terjatuh dari luar pintu. Soojung, orang itu adalah Soojung dengan air matanya yang sudah mengalir dengan sangat deras.

“Soojung-ah!” Ucap Jieun yang melepaskan tangannya dari genggaman tangan Myungsoo lalu berlari kearah sahabatnya yang sedang berdiri menutupi wajahnya dengan tangan yang memegang sebuket bunga.

“Ma-maafkan kami.. Kami tak berbuat apa-apa kok.. Mianhae.. Jeongmal mianhae..” Lanjut Jieun meminta maaf pada sahabatnya itu. Myungsoo yang ada di situ hanya bisa diam, rasa bersalah sekaligus bingung merasuki dirinya.

Soojung menghapus air matanya, lalu ia berikan sebuket bunga yang ia beli beberapa menit yang lalu pada Jieun. Ia juga tersenyum dengan setulus mungkin pada Jieun. Ia sudah tau semuanya, bukan. Bukan Jieun yang salah. Bukan dia.. Ini juga bukan salah Myungsoo saja. Ini salahnya juga. Seandaikan saja ia tak seegois dulu, yang ingin mendapatkan Myungsoo tanpa memikirkan perasaan Myungsoo sendiri.

“Ini untukmu. Congratulations ya~ semoga langgeng hubungan kalian. Hahaha” ucap Soojung dengan tawa di akhir kalimatnya, di sela isakan tangisnya yang ia tahan. Jieun tersenyum dan sedikit bingung, langsung saja ia memeluk sahabat di depannya. “Gomawo, Soojung-ah.. Maafkan aku juga. Tapi benar, kami tak melakukan apa-apa disini tad-” ucapan Jieun terputus.

“Aniyo, bukan salahmu kok. Aku sudah tau semuanya. Maaf aku menguping pembicaraan kalian tadi” Soojung menunduk di akhir kalimatnya.

Soojung mencoba untuk bersabar. Ia tak mungkin meledakkan amarahnya dan rasa sakitnya di saat seperti ini. Di saat pernikahan sahabatnya akan dimulai. Ia mencoba untuk menarik nafas panjang lalu membuangnya, agar semua emosinya mereda dan tak akan ia ledakkan disini. Meskipun hatinya sakit. Sangat sakit.

“Mianhae, Soojung-ah..” Batin Myungsoo yang kini hanya bisa terdiam di antara kedua yeoja itu.

Ia merasa sangat bodoh. Ia sudah mengingkar janjinya yang tak akan membiarkan Soojung menangis karenanya. Ia merasakan rasa bersalah yang sangat besar.

Saat saat yang ditunggupun mulai. Pernikahan Jieun dan Woohyun sudah dimulai. Soojung yang duduk di sebelah Myungsoo hanya terdiam, mereka berdua hanya terdiam. Mereka fokus pada acara penting ini.

Jieun mulai berjalan dengan sebuket mawar di tangannya. Ia berhenti di depan Woohyun yang mengenakan suit warna putih dan berdiri dengan gagah dan tampannya. Mulai lah mereka mengucapkan janji suci mereka dengan cinta sepenuh hati mereka.

“Aku berharap bisa seperti mereka. Keduanya saling mencintai dengan seluruh hati mereka, bukan hanya satu orang saja. Tsk, tak adil.” Gumam Soojung.

Setelah selesai, semua orang bersorak sorai bahagia atas pernikahan ini. Jieun dan Woohyun tersenyum melihat ke semua arah.

“Chukkaeyo, Jieun-ah! Woohyun-ah!” Teriak Soojung.

Di dalam mobil Myungsoo, tak ada seorangpun yang melontarkan kata-kata. Keduanya diam. Hanya alunan musik ‘Only tears’ yang dinyanyikan oleh leader INFINITE, Kim Sunggyu yang berbunyi. Sampai akhirnya Myungsoo yang membuka mulut terlebih dahulu.

“Soojung-ah, gwaenchanayo? Mianhae..” Tanyanya.

Soojung tersenyum pada Myungsoo. Senyuman itu dibalas dengan tatapan bingung Myungsoo. Mengapa ia tersenyum?

“Aniyo, bukan kau yang salah.. Tapi aku” ucapnya. Dengan segera Myungsoo menghentikan mobilnya di pinggir jalan kota.

“Mwo?”

“Ya, seharusnya aku yang mengalah saat itu. Seharusnya aku tak boleh egois, aku ingin mendapatkanmu tanpa mengetahui perasaanmu yang sebenarnya. Maafkan aku..” Air mata Soojung mulai tumpah. Ia sudah menahannya dari tadi. Dan akhirnya semua tangisannya tumpah di sini.

Myungsoo terdiam, ia masih setia mendengarkan alasan Soojung.

“Aku kira hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan. tapi ternyata? huh.. Dan aku bingungnya, mengapa kau tak menjauhiku dari dulu? Atau mengapa kau tak meninggalkan dan mengabaikanku? Kenapa Myungsoo-ya?! Kenapa kau memaksa hatimu untuk selalu bersamaku sedangkan hatimu ada di yeoja lain?! Mengapa..” Soojung sudah tak tahan lagi. Tangisnya menjadi menderas. Kepalanya menunduk, bahunya naik turun karena tangisannya.

Myungsoo yang melihatnya menjadi iba, ia menyentuh rambut halus Soojung dan mengelusnya lembut.

“Maafkan aku, Soojung-ah..” Hanya itu yang bisa ia jawab untuk saat ini.

Soojung mengangkat kepalanya lalu menghapus air matanya sekilas. “Dan mengapa kau tak mencintaiku?” Tanya Soojung lagi. Kali ini suaranya mulai menghalus.

“Maafkan aku, Soojung-ah. Aku sudah mencoba untuk mencintaimu-”

Soojung menghentikan ucapan Myungsoo dengan menutup mulut Myungsoo dengan jari telunjuknya.

“Aku ingin kita berpisah..” Ucap Soojung dengan berat hati. Ia sudah terlalu sakit, ia juga tak tega melihat namja yang ia cintai menderita akibat terus menemaninya.

Myungsoo membulatkan matanya, “apa? Cerai maksudmu?” Tanyanya tak percaya.

Dengan perlahan, Soojung mengangguk. Air matanya terus mengalir.

“Tidak. Tidak. Kau sedang bercanda, kan?”

Soojung menggeleng dengan lemah.

“Dengar aku, Soojung-ah. Mengapa kau ingin kita bercerai? Apakah karena tadi? Aku hanya mengungkapkan perasaanku dulu pada Jieun.”

“Hiks.. Bukan, tapi.. Hiks.. Aku tak mau kau memaksa hatimu untuk mencintaiku seperti ini. Itu akan membuatmu sakit, kau tau. Lebih baik aku yang sakit hati, bukan kau..”

Myungsoo menunduk, “Aku tak mau”

“Waeyo?”

Myungsoo menatap lurus mata yeoja yang ada di depannya itu. Ia memandang rasa sakit yang tersirat di mata indah Soojung.

“Sekali dengar aku, ne. Aku memang masih belum mencintaimu sepenuh hati. Aku masih mencintaimu dengan setengah hati, memang. Tapi aku percaya seiringnya waktu aku akan mencintaimu tulus dan dengan sepenuh hatiku tanpa harus memaksa hatiku untuk mencintaimu sepenuhnya. Aku memang namja bodoh, yang sudah membuat yeojanya menangis seperti ini. Aku juga namja bodoh yang egois.” Myungsoo mengambil jeda dan masih terus menatap mata sendu milik Soojung.

“Masalah ini tak harus selesai dengan kata ‘cerai’. Tapi yang terpenting untuk menyelesaikan masalah ini adalah kepercayaan dari masing-masing. Aku percaya kau mencintaiku setulus hatimu. Kau juga harus percaya aku mencintaimu, dan aku akan mencintaimu setulus hatiku. Kau harus percaya itu. Aku akan menjagamu selamanya, Kim Soojung” lanjutnya.

“Saranghaeyo, Soojung-ah..” Ucap Myungsoo tulus dari hatinya. Terlihat dari matanya yang benar-benar serius kali ini. Soojung memejamkan matanya. Ia mencoba untuk mencerna kata-kata Myungsoo tadi. Ada benarnya juga. Memecahkan masalah ini harus berawal dari kepercayaan pada masing-masing.

“Aku akan percaya denganmu. Aku akan percaya dengan omonganmu, dan aku akan percaya dengan cintamu..” Jawab Soojung dengan senyumannya. Myungsoo ikut tersenyum lalu ia hapus air mata yang tersisa mengalir di pipi halus Soojung.

“Nado saranghaeyo, Kim Myungsoo”

1 tahun kemudian..

Seiring berjalannya waktu, benar saja cinta Myungsoo untuk Soojung semakin sempurna. Sebenarnya ia sudah melupakan dan melepas rasa cintanya pada Jieun beberapa hari setelah kejadian itu terjadi. Ia sadar betapa sayangnya ia pada istrinya itu.

Soojung menatap kosong makanan yang sudah ia masak tadi. Myungsoo belum juga pulang dari kantornya. Ia bilang masih ada kerjaan yang belum selesai, jadi Soojung pulang sendiri tanpa Myungsoo.

“Haish.. Myungsoo-ya, eodigayo?” Tanya Soojung sendiri yang sedang menunggu Myungsoo di meja makan. Diliriknya jam dinding yang tergantung itu, pukul 9 malam.

Ia mengambil makanan-makanan itu lalu menaruhnya di lemari makanan. “Nanti kalau dia mau makan ambil saja sendiri” ucapnya sendiri. Lalu ia berjalan kembali ke meja makan. Matanya sudah sangat berat, kepalanya terjatuh di atas meja. Perlahan matanya mulai tertutup.

Beberapa menit kemudian, seorang namja menggunakan kemeja kerja masuk kedalam rumahnya. Ya, namja itu adalah Myungsoo yang tersenyum pada yeoja -Soojung- yang sedang tertidur di meja makan. Ia menghampiri Soojung, “Ireona, tukang tidur” ucapnya sambil memahan tawa.

Myungsoo pabo. Ia mengatakan Soojung seorang tukang tidur tetapi ia sendiri adalah tukang tidur.

Soojung membuka matanya dan mulai mengangkat kepalanya menatap Myungsoo yang sedang menyengir macam kuda(?)

“Yak kau! Kau sendiri tukang tidur, pabo” ledek Soojung yang masih mengucak matanya. Soojung berdiri, dan entah apa yang ada dalam pikiran Myungsoo, ia mengangkat Soojung bridal style ke atas, ke kamar mereka.

“YAAAA!! KIM MYUNGSOO APA YANG KAU LAKUKAN?!”

“Bersenang-senaaaang~”

“KYAAAAAAAA!!!!! LEPASKAN AKU!”

A few weeks later…

Pagi ini cukup cerah. Sinar matahari mulai menembus gorden kamar keluarga kecil Kim -Myungsoo & Soojung-. Keduanya belum terbangun dari tidurnya, sampai Soojung yang langsung berlari menuju toilet yang ada di kamarnya.

Ia memuntahkan beberapa isi perutnya ke wastafel, dan memegangi perutnya yang sakit. “Aigoo.. Ada apa ini?” Tanyanya.

Tok tok tok

Dari luar terdengar ketukan, “Chagiya.. Gwaenchanayo?” Tanya Myungsoo dari luar. Dengan segera Soojung membuka pintu toilet itu “Mollayo, Myungsoo-ya.. Aku tak merasa lebih baik. Perutku sakit sekali” jawabnya jujur.

“Ehm.. Istirahatlah dulu.. Akan kubuatkan teh, ne?” Ucapnya. Soojung mengangguk. Myungsoo berjalan turun ke bawah untuk membuatkan Soojung secangkir teh hangat.

Tetapi bukannya beristirahat, Soojung malah mengubrak-abrik lemarinya. Myungsoo yang mendengar suara ubrak-abrik itu langsung berteriak “Soojung-ah, apa yang kau cari?”.

“Aniyo.. Tak apaa” teriak Soojung balik.

Myungsoo melanjutkan aktivitasnya tadi -membuat teh-. Setelah selesai, ia kembali naik ke atas dan tak melihat sosok Soojung di kamar. Ia menaruh cangkir teh itu di atas meja kecil lalu menunggu Soojung yang ia sangka berada di dalam toilet.

Beberapa menit kemudian..

“Aaaa!!!” Teriak Soojung dari dalam toilet. Dengan perasaan khawatir Myungsoo segera berlari dan mengetuk pintu toilet itu.

“Soojung-ah, gwaenchanayo?” Tanyanya khawatir.

Soojung membuka pintu toilet itu dan tersenyum lebar. Ia menunjukkan sebuah benda kecil yang menunjukkan ia positif hamil.

Myungsoo melihat benda yang dipegang Soojung lalu melihat Soojung lagi “Kau.. Hamil?” Tanya Myungsoo tak percaya.

Soojung mengangguk bahagia. Myungsoo ikut tersenyum. Soojung langsung memeluk Myungsoo. Dan Myungsoo membalas pelukan Soojung lebih erat.

“Dengar aku yaa~ selama kau hamil, jangan terlalu lelah, kerjaanmu bisa kau tunda kalau kau sudah sangat lelah, jangan banyak beraktivitas, dan makan yang terat-” ucapan Myungsoo terputus saat Soojung mencium pipi kanannya.

“Iya, eomma bawel! Oh ya, saranghaeyo~” ucap Soojung dengan eyesmile yang ia tunjukkan.

“Yak! Siapa yang eomma, eh?! Nado saranghaeyo~” jawab Myungsoo sambil merangkul bahu Soojung.

“Dengan sepenuh hatimu atau separuh hatimu?”

“Dengan sepenuh hatiku bahkan jiwaku. Gomawo, Soojung-ah..”

– The End –

~oOo~

Aduh ini ff apa banget deh ._. Mian, ne kalau ff ini jelek banget .-. Ini ff jelek bin ajaib nan gaje -.- Aduuh.. FF MCLF-nya belum dilanjutin ><“ yang part 4B-nya belum .-.

Yaa walaupun jelek, tapi readers tetep Comment ya~ kasih pendapatnya. Apakah bagus, jelek, jelek banget, apa aja.. Ada saran kah? Hahaha xD oke.. Ini FF agak gak nyambung juga, jadi harap dimaklumi aja yak ._.v sekali lagi.. Tolong komen ya, komentar readersdeul semua sangat berharga untuk para author :’) annyeong~ ^^

11 thoughts on “[Oneshot] Why?

  1. myungsoo dan krystal jadi calon ayah dan ibu, chukkaeyo..
    seru,, sekali ceritanya. awalnya sedih bgt lihat myungsoo yg kelihatannya cinta bgt sama jieun. tp endingnya tetep myungstal..
    argghh i like it 🙂

  2. Annyeong thor ku readers baru ^^
    aku suka ffnya MyungStalnay walau seedih di awal tapi bahagoa di akhir,
    myungstal jjang buat ff myungstal lagi ya thor ^^

  3. Annyeong!! Readers baru 😀
    Fanfictnya bagus chingu 🙂 happy end (yeayy) kan lebih banyak tuh ff myungstal yg sad end U,U
    Pokoknya Daebak deh!!
    Myungstal jjang!!

    N/B
    Hahah comentnya masih ada -_-v
    Chingu bagaimana kalau ff ini di sequel-in ?? Pasti seru tuh klo myungstal punya baby!! Dan happy end pula 😀 hohoho.. Segitu aja deh coment-ku.. Bye 🙂

  4. wah ffnya bagus diawal sempet sedih tapi pas diakhir berakhir bahagia dikira myungsoo dan soojung bakal berpisah ternyata tdk malah mereka dikaruniai anak…:)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s