Horns of Dilemma [PART 2 – END]

horns of dilemma

Title : Horns of Dilemma || Author : brokenpetals [Minrin1004] || Genre : Life, Romance || Main Cast : Tiffany Hwang, Nichkhun Horvejkul || Length : Two-shot || Rate : PG-15 || Artwork : Minrin1004 ||


Author’s POV

Binatang malam bersenandung merdu di antara ilalang yang menutupi sebuah gedung usang dengan jendela yang berdebu. Jelas terlihat tempat itu jarang didatangi orang. Pintu rapuh, lampu rusak, juga sebarisan semut hitam yang merayapi dinding-dindingnya.

Bangunannya terletak mengumpat di balik rerumputan liar, tak heran kenapa orang memilih meninggalkan gedung yang terletak di belakang rumah sakit besar dan sebuah kuburan Cina itu.

Namun rupanya gedung tersebut pernah menjadi tempat sembahyang. Terlihat dari barisan bangku-bangku yang memenuhi bagian dalamnya. Dan di barisan bangku terdepan seorang pria terlihat menunduk. Matanya nampak kering di bawah pejamannya, dengan alis yang bertaut ia menggumamkan sebaris kata, menciptakan sebuah bunyi samar diantara sunyi ruangan.

Ruangan itu gelap, hanya terbantu oleh pendar buram lilin yang tadi berserak di lantai kusam. Sedangkan di luar sana langit semakin gelap saja, pertanda malam sudah ada diatas kepala. Sebuah tarikan nafas berat terdengar jelas sebelum kalimat terakhir doanya keluar disertai sebuah Amin khusyuk. Ia membuka kedua matanya, mata yang terlihat sayu dan begitu lelah.

Ia berdiri, berbalik, dan berjalan keluar. Langkahnya pelan dan terkesan lemas, berayun gontai sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah kolam kecil di depan gedung yang baru saja ditinggalkannya. Ia berdiri disana, bersandar pada pagar kayu yang membatasi kolam dengan jalan kecil tempatnya berpijak.

Ia mengambil sebuah batu lalu melemparnya ke kolam itu, membuat genangannya goyang dan membuyarkan bayangan pohon disampingnya. Pikirannya semrawut di dalam kepalanya, hingga meninggalkan segurat ekspresi lelah di garis tegas wajah tampannya.

“Aku tak habis pikir kenapa kau senang sekali membuatku takut!”

Ia menggelengkan kepalanya. Tiffany, entah kenapa suara tingginya bisa terdengar sebegini jelas.

“Permisi?” panggil sebuah suara serak.

Pria itu menoleh menghadap seorang nenek yang membawa sebuket bunga.

‘Jangan-jangan hantu,’ pikirnya ngeri.

Nenek itu tersenyum saja melihat raut pria didepannya yang mengkerut ketakutan.

“Kau mau apa malam-malam kesini?” ujar si nenek dengan aksen Cina yang begitu kentara.

“Aku.. aku habis berdoa,” jawabnya bergetar dan si nenek mengangguk pelan.

Sosok itu berdehem melegakan tenggorokannya, “Tak banyak lagi kutemukan pria muda sepertimu datang untuk berdoa. Manusia sekarang akan pergi mabuk jika ada masalah,”

Tawa samar wanita itu terdengar seraya ia memicingkan matanya memperhatikan pria dihadapannya yang sudah kusut tak keruan. Ia lantas memindai sosok pucat itu dari wajah hingga ke ujung sepatunya.

“Nichkhun,” bisik sang nenek pelan memberi tahu diri sendiri.

Namun semesta berkata beda. Suasana sunyi di antara ilalang itu membuat Nichkhun mendengar apa yang baru saja disebutkan. Ia pun terkesiap saat nenek itu ternyata menyebut namanya.

“K-kau tahu namaku?!” ujarnya hampir menjerit.

Si nenek mengernyit melihatnya melotot begitu, ia lantas tertawa kecil lalu berlalu begitu saja. Dan dari tempatnya berdiri Nichkhun mengekorkan matanya pada punggung tua yang kini menuju satu blok makam di sisi gedung.

Nafasnya masih berkejaran saat sosok di depannya berhenti di salah satu makam. Ia berjongkok disana, menyingkirkan beberapa bunga yang sudah hitam dan mengering mati. Sosok itu lalu mengusap nisan yang mungkin kini berdebu tebal, meniupnya lalu mengusapnya lagi.

Nichkhun melangkah mendekat, setengah ragu setengah berani. Entah apa yang menggenangi pikirannya, hingga bisa-bisanya ia berani masuk ke dalam kompleks kuburan Cina tua dengan seorang nenek yang tengah berjongkok tak sampai 10 meter dari tempatnya berdiri.

Namun rasanya ia sudah terlalu jauh untuk mundur ke pagar lagi, maka ia terus saja meneruskan langkah ragu kakinya. Semakin dekat semakin jelas, suara gumam lagu tidur kuno yang menembus angin dingin malam. Nichkhun sedikit bergetar kedinginan.

Kemudian kakinya tak sengaja menginjak ranting kering hingga membuat lagu itu berhenti, si nenek pun berbalik menghadap sosoknya yang kini beku di belakang.

“M-maaf,” pinta Nichkhun pelan.

Si nenek yang sedetik lalu terlihat terkejut pun lantas tertawa melihat Nichkhun yang menggaruk lehernya canggung.

“Kau ada perlu denganku?” ujarnya pada Nichkhun.

Pria itu menggerakkan matanya kesana-kemari, mencari satu saja alasan yang setidaknya bisa terdengar masuk akal.

“Aku… mm—”

Si nenek mengernyit.

“Aku mau minta bungamu s-satu..”

Dari dalam hati Nichkhun merutuki diri sendiri, menyalahkan lidahnya yang berani-beraninya membuatnya terdengar begitu bodoh.

“Kalau begitu, tunggu sebentar, ya?” jawab si nenek menahan tawanya, menepuk-nepuk tanah di sampingnya berisyarat agar Nichkhun ikut duduk disana.

Dan mau tak mau ia akhirnya duduk juga. Meringkuk diantara makam memeluk kedua kakinya sendiri.

Lalu suara nyanyian yang tadi terdengarpun kembali dinyanyikan. Si nenek mengusap batu nisan di sampingnya dengan senyum yang begitu kaku, matanya coklat terang diterpa bulan yang menyala diantara awan.

“Bisa jadikah ini makam suamimu?” tanya Nichkhun mengganggu bait terakhir lagunya.

Si nenek tersenyum lagi. “Ini makam putri kecilku,”

Nichkhun mengangguk masih memeluk kedua kakinya, merasa sedikit tak enak kalau saja tadi perkataannya membuat sang nenek sedih lagi.

“Memangnya anakmu ada berapa?”

Wanita itu memainkan debu yang ada di sekitar kakinya, menulis beberapa huruf Cina lalu menghapusnya lagi. “Satu,”

“Maaf,” jawab Nichkhun kembali menunduk. “Tapi kenapa kesini malam-malam begini?” lanjutnya pelan.

Ia mengambil nafas panjang, “Anak ini bahkan belum pernah kulahirkan. Aku terlibat kecelakaan lalu lintas saat usia kandunganku memasuki bulan ke tujuh. Rahimku sobek, dan hari itu juga aku harus mengangkat rahim milikku.

Yah, rasanya saat-saat itu adalah masa kejatuhanku. Suamiku lumpuh semenjak hari itu. Dan setahun kemudian ia dipanggil Yang Maha Kuasa.

Memang, hari-hari selanjutnya aku tinggal sendirian. Tapi malam ini, entahlah, aku merasa kesepian.

Aku tak punya satu orang pun untuk kuajak bicara, maka aku tinggal bersama kucing liar yang kurawat setiap hari. Tapi malam ini dia pergi, dan aku.. rindu punya teman,”

Nichkhun menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya. Sekali lagi mencoba menahan rasa yang sudah tercampur baur di dalam dadanya.

Satu sisi ia kasihan, tapi di sisi yang lain ia juga merasa perlu dikasihani. Ia sedikit terbatuk lalu mengangkat kepalanya, di sampingnya sang nenek telah memasang wajah yang biasa. Ia tak senyum, tapi juga tak terlihat sendu.

“Kenapa tinggal sendirian? Kenapa tak mencari teman baru saat dulu kau masih muda?” tanyanya lagi.

“Kau tak tahu rasanya, aku kehilangan anak pertamaku sekaligus kehilangan harapan untuk mendapat gantinya dalam waktu yang bersamaan. Untuk menerima kenyataan bahwa kemampuanku untuk melahirkan lagi telah sampai di persen terbawah. Untuk mengetahui bahwa suamiku lumpuh permanen. Dan untuk berbesar hati membuang rencanaku untuk hidup bahagia bersama anak anak kecil yang akan memanggilku nenek nanti di masa depan. Saat itu aku terlalu sakit untuk jadi normal, aku bahkan hampir lupa bagaimana rasanya bahagia. Orang-orang akan baik padaku semata karena rasa kasihan. Dan hidup dari rasa kasihan adalah seburuk-buruknya bahagia,”

Pria itu beku sendiri. Ia bisa menjamin tak akan ada yang tega melihat wanita tua dihadapannya ini. Lalu seulas ia ingat wajah putranya, wajah bening yang kini mungkin kesakitan.

“Putraku ada di rumah sakit itu,” Nichkhun menunjuk punggung gedung yang terlihat gagah dari balik rumput liar. “Aku datang kesini untuk berdoa untuknya,” lanjutnya pelan.

Dari sudut matanya satu tetes air jatuh namun langsung di seka tangannya. Nichkhun menata hatinya sendiri, tak mau terlihat lemah apalagi di hadapan seorang perempuan.

“Aku tak menangis, aku hanya kelilipan,” ujar Nichkhun mengusap matanya yang basah.

“Kudoakan yang terbaik untuk putramu, Nichkhun,” jawab si nenek.

Tangan tuanya menarik dua tangkai bunga dari sebuket miliknya lalu memberikannya kepada pria itu.

“Ini untuk istrimu. Bilang padanya bahwa semua akan baik-baik saja, yakinilah ia bahwa kau tak akan kemana-mana. Jangan biarkan ia merasa sendirian, karena kuberi tahu kau, itu rasanya sangat tak enak,” bisik sang nenek.

Nichkhun sedikit tersenyum lalu mengangguk sekali lagi.

“Pulanglah, ini sudah malam,” wanita itu menepuk pundaknya sambil berdiri.

Ia lantas bangkit dan mulai bergegas keluar. Namun tiba-tiba si nenek menarik tangannya, membuat Nichkhun mengernyitkan dahi seakan tengah bertanya ‘apa?’

Sang nenek menarik name tag yang tergantung di dada Nichkhun.

“Aku tahu namamu dari situ,”

***

Tangannya menggenggam dua tangkai mawar, wajahnya segar dan badannya tegap. Ia berjalan masuk ke pelataran rumah sakit dengan percaya diri yang cukup besar.

Lantai demi lantai dilaluinya dengan cepat, beberapa dokter bahkan terlihat membungkuk menyapanya. Tak heran, Nichkhun adalah anak pemilik yayasan. Ayahnya masih memimpin direksi disana, dan rasanya hanya tinggal menghitung hari sampai tanggung jawab itu diturunkan padanya.

Langkah semangatnya berhenti di persimpangan koridor perawatan anak. Ia berdiri disana, memandang pada ujung koridor tempat seorang wanita berambut coklat berdiri memandangi bayi mungil dari balik sekat kaca. Ia berjalan mendekat.

“Ia tampan sepertiku, kan?” ujar Nichkhun membuat Tiffany terkesiap.

Ia langsung menyeka matanya dengan panik, namun pandangannya masih lekat pada bayi yang kini nampak pulas tidur di inkubator itu. Nichkhun menarik pundak istrinya, mencium lembut kening yang kini sudah pucat karena kelelahan.

“Aku percaya dia akan baik-baik saja,” lantunnya dengan suara yang begitu tenang.

Tiffany mengisak saat pria itu memeluknya, merasa tak lagi tahu apa dibalik tangis itu ia masih punya harapan.

“Aku sudah menandatanganinya. Surat donor itu, aku sudah menyetujuinya. Maafkan aku, Nichkhun,” katanya terputus oleh tangisnya sendiri.

Nichkhun mengusap punggung ringkih itu berulang-ulang. Mencoba menenangkan sosoknya yang sudah lemas di pelukannya.

“Itu memang yang sebenarnya kubutuhkan, Tiffany, hanya satu tanda tanganmu. Mereka bilang aku akan pulih setelah 6 bulan, itu tak ada artinya jika dibanding dengan menyelamatkan si tampan itu, kan?” jawab Nichkhun terdengar yakin.

Tiffany mengangguk di dalam peluknya, mulai tenang demi mengatur emosinya sendiri.

“Maaf karena pernah membentakmu, Nichkhun,” ujarnya terdengar canggung.

Pria itu pun tertawa geli, “Kukira kau tak akan menyesal,” sahutnya disambut pukulan kecil dari tangan Tiffany.

***

Keesokan paginya, fajar belum terbit sempurna saat Tiffany membuka matanya. Warna ungu bercampur jingga terlihat manis dari balik kaca. Wanita ayu itu melangkah menuju balkon kamar rawat tempatnya tadi bermalam lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Sejak malam tadi, Nichkhun mulai dirawat sebagai pra persiapan operasi besar yang akan memakan waktu lebih dari 12 jam itu. Walau sedikit gundahnya terobati dari dua tangkai bunga mawar yang diterimanya malam tadi, tetap saja, tidurnya tak lelap disengat ratusan rasa lain yang rasanya semakin menyesakkan saja.

Ia lalu menunduk menatap jemari lentiknya yang menenggerkan sebuah cincin pengikat. Tiffany memainkan cincin di jari manisnya itu sembari mengilas balik suasana saat ia mengucap sumpah di depan altar. Nichkhun, tak ada lagi alasan cintanya perlu diragukan.

Lantas ia berbalik mendekati Nichkhun yang masih menutup matanya rapat. Ia mengusap kepalanya, menyisiri rambutnya lalu mengusapi pipi polosnya.

“Selamat pagi,” sapa Tiffany saat melihat mata Nichkhun yang kini terbuka.

Pria itu tersenyum ragu, “Pagi,” balasnya singkat.

Wanita itu mengernyit lalu memicingkan matanya.

“Astaga, kau tak tidur semalaman?”

“A-aku—”

“Nichkhun, kau seharusnya istirahat!”

“Haaah, aku terlalu takut. Entahlah, semenit lalu rasanya aku sudah sangat siap, tapi kenapa jadi begini?” keluhnya mengacak-acak rambutnya sendiri.

Lalu suara pintu terbuka terdengar menggema di ruangan itu, menampilkan seorang suster muda yang berjalan masuk sembari mendorong kereta bayi bertudung putih.

“Selamat pagi. Aku mengantar si tampan ini untuk mendapat sarapannya,” ujar sang suster ramah sembari berjalan pelan mendekati mereka.

Tiffany membuka tudung putih itu, tersenyum melihat jagoannya tengah mengemut jempolnya sendiri. Nichkhun yang duduk di ranjang pun lalu mengintip putra kecilnya, ia tersenyum begitu bangga.

“Ah, tuan, kudengar operasi mu akan dilakukan malam ini, ya?” tanya si suster masih dengan senyum segarnya.

Nichkhun mengangguk mantap dan memberinya senyum lepas.

“Kudoakan semuanya berjalan lancar. Aku yakin anak ini kelak akan menjadi orang hebat,” lanjutnya lagi membawa senyum di bibir Tiffany.

“Kalau kuboleh tahu, siapa nama anak ini?”

Nichkhun menggeser duduknya ke sisi ranjang, ikut memandangi putra pertamanya dengan tatapan yang begitu bening sarat harap. Ia menyentuh tangan putranya dan langsung dibalas dengan genggaman yang rasanya begitu erat, hangat. Nichkhun tersenyum lagi.

“Aaron… Hope,”

***

 20111213174910268

“Karena pada wajah bening itu kutemukan kekuatan. Ia suci, bersih, jernih seumpama kapas baru. Tak perlu lagi kusimpan ragu dalam hatiku, untuk membangun cinta yang utuh pada sebuah harapan baru, dan kupanggil ia, Putraku.”

**The End**

29 thoughts on “Horns of Dilemma [PART 2 – END]

  1. Kerennn.. Kata2nya buat terharu, jadi tambah sayang sama orang tua:’)
    Ditunggu karya selanjutnya,hwaiting!^^)9

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s