Me and You

3644172225_eab8e4e346

 

Main cast : Cho Kyuhyun & Baek Su min

Married Life

cover find in google without editing

***

Kalau kau sudah mulai bisa belajar mencintaiku. Ingat aku dan aku akan datang secepatnya. Padamu.

Haneul mengintip gerak-gerik suaminya dari celah kecil pintu ruang kerja suaminya itu. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat wajah suaminya yang tampak lelah. Keinginan untuk masuk ke dalam ruangan itu, menanyakan kabar pria itu, dia urungkan. Dirinya tampak sama sekali tidak bisa ikut campur urusan ini. Haneul menutup pintu secara perlahan dan pergi ke kamarnya. Sampai di kamar dan merebahkan tubuh di atas kasurnya, gadis itu berpikir. Dia sudah mencoba menjadi istri yang baik. Membangunkan suaminya di pagi hari, menyiapkan segala keperluan suaminya, sampai membuat kotak makan siang untuk suaminya sendiri.  Gadis itu tersenyum singkat membayangkan semua yang telah dia lakukan untuk orang lain. untuk suaminya sendiri.

Membuat kotak makan siang sama sekali bukan keahliannya. Dia hanya suka membeli makanan dan meriasnya saja, menaruh di kotak makan lalu memberinya pada orang lain. Mengatakan kalau makanan di kotak makan itu adalah masakan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Namun, berbeda dengan kotak makan yang dia buat untuk suaminya. Dia selalu membuatnya sendiri. Dia juga yakin kalau makananannya masih bisa dimakan. Teringat lagi ketika Haneul bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan segala keperluan suaminya, membangunkan pria itu, sampai mengantarnya sampai pintu apartemen. Sama sekali bukan kebiasaan Haneul yang selalu bangun setelah jam sembilan pagi, tidak pernah mau menyiapkan sesuatu bahkan untuk dirinya sendiri. Namun, kebiasaan itu sudah dia ubah sejak dia menikah. Suatu pernikahan yang biasa saja. Seperti biasanya. Pernikahan antar keluarga.

Tidak ada konflik atau penolakan yang berarti dari suaminya saat itu. Semua berjalan biasa saja. Haneul masih berstatus sendiri saat itu, jadi, gadis itu pun menerima saja. Namun, belakangan setelah Haneul menikah, dirinya baru mengetahui bahwa suaminya telah memiliki kekasih saat perjodohan ini berlangsung. Haneul terdiam cukup lama memikirkan ini semua. Saat pernikahan berlangsung pun suaminya biasa saja. Seperti pria kebanyakan yang menikah. Ya. Hanya saja pria itu sedikit pendiam kepada Haneul.

Haneul terdiam. Merenung betapa banyak yang telah dia lakukan untuk pernikahan ini dan dia merasa suaminya tidak melakukan hal yang sama padanya. Suaminya tidak pernah belajar mencintainya seperti Haneul mencoba belajar mencintai suaminya sendiri.

Atau apakah Haneul hanya membayangkan kalau perlakuannya memang sudah baik padahal sebenarnya tidak. Suaminya benar-benar tertutup, bahkan Haneul sampai saat ini masih belum mengetahui apa pun yang suaminya sukai atau tidak suka. Pernikahan ini sudah berjalan lebih dari enam bulan dan setiap hari sama sekali tidak berarti.

Tiba-tiba saja, Haneul merasakan hatinya berdesir. Apakah seperti ini rasanya akan bercerai dengan seseorang yang bahkan baru saja dicintai? Apakah seperti ini rasanya membunuh cinta yang bahkan belum tumbuh sepenuhnya? Atau mungkin kah seperti ini rasanya saat kekasih suaminya dulu mengetahui tentang perjodohan ini. Betapa Haneul merasa dirinya benar-benar menjadi orang yang jahat.

Haneul menggelengkan kepalanya, mengubah posisi tidurnya membelakangi pintu kamar ketika suara derap langkah kaki suaminya yang sudah sangat dia hafal masuk ke dalam kamar. Haneul memejamkan matanya dan tidak menjawab panggilan suaminya sendiri. Dia meringkuk dan semakin meninggikan selimutnya sampai menutupi kepalanya sendiri. Gadis itu bisa merasakan suaminya mencium puncak kepala Haneul kemudian merebahkan tubuhnya sendiri di samping Haneul. Sedangkan Haneul sendiri masih tetap terjaga meski mata terpejam. Setelah menunggu beberapa saat sampai dia bisa merasakan suaminya sudah tertidur, dia membuka mata. Secara perlahan turun dari kasur dan keluar dari kamar. Sebelum kakinya berjalan menjauhi kamar, gadis itu menoleh sedikit pada suaminya yang telah tertidur.

“Kyuhyun ah, maafkan aku.”

***

Haneul memasuki ruang kerja suaminya dengan hati-hati. Mencoba untuk tidak menyentuh barang apa pun karena Haneul tahu suaminya sangat perhatian dengan semua barang yang ada di ruang kerjanya ini. Matanya menjalar ke seluruh ruangan. Dia belum pernah ke tempat ini. Suaminya tidak pernah mengizinkan siapa pun masuk ke tempat ini dan Haneul hanya bisa menghargai keputusan suaminya.

Saat matanya menangkap sebuah figura dengan keadaan tertutup di atas meja, tangannya dengan cepat mengangkat figura itu. Sekelebat, saat dia kembali mendirikan figura itu dia bisa melihat dirinya sendiri dan suaminya, hanya sekelebat saja karena yang ada bukan foto dirinya. Foto suaminya dengan gadis lain. Dilatarbelakangi menara eifel di malam hari. Seketika hatinya kembali berdesir, dia merasakan seluruh tubuhnya nyeri seperti sebuah luka tersayat di semua bagian. Tidak. Haneul tidak marah atau kesal. Dia hanya bingung. Begitu banyak pertanyaan dalam benaknya.

Jadi, apakah gadis di foto ini adalah kekasih suaminya? Apakah suaminya masih mencintai mantan kekasihnya itu? Sudah berapa lama suaminya menyimpan dan melihat foto ini setiap malamnya?

Haneul merasa dirinya benar-benar jahat. Dengan cepat dia meletakkan kembali figura itu seperti sedia kala. Kemudian, kembali ke kamar. Dia membaringkan tubuhnya menghadap suaminya. Menatap wajah suaminya begitu lekat. Sampai sudut terkecil, sampai bintik hitam yang mulai tumbuh di wajah suaminya. Sebegitu dekat sampai dia bisa mendengar helaan napas suaminya sendiri. Haneul memerhatikannya sangat lekat, mengingatnya sebaik mungkin, terus-menerus sampai Haneul bisa merasakan matahari mulai mengintip dibalik celah hordennya yang tebal. Dia masih saja memerhatikan wajah suaminya begitu lekat sampai mata suaminya bergerak sedikit dan Haneul sekejap terpejam. Waktunya sudah habis.

***

Kyuhyun terbangun dari tidurnya dengan kondisi tubuh yang kurang baik. Tampaknya semalaman dia tidur hanya menghadap ke kiri tanpa merubahnya dan berhasil membuat bahu kiriya sedikit sakit. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi ketika melihat istrinya berdiri di depan lemari besar yang berisi semua pakaianya. Kyuhyun tersenyum kecil melihatnya. Sejenak dia berharap kalau gadis yang sedang menyiapkan pakaian untuknya itu adalah Hyura. Kekasihnya dulu. Kyuhyun sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak perjodohan keluarganya dan Hyura pun tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, Kyuhyun pun menerima saja.

Istrinya selalu seperti ini. Selalu menyiapka semua keperluannya. Namun, istrinya benar-benar berbeda dengan Hyura. Istrinya tidak pernah bisa mencocokkan dasi yang akan dia pakai dengan pakaiannya. Gaya berpakaian yang istrinya pilihkan untuknya sama sekali tidak bagus. Berbeda sekali dengan Hyura yang selalu mengerti tentang gaya berpakaian. Istrinya pun selalu membuat kotak makan siang untuknya dengan menu yang sama sekali tidak dia suka. Selalu ada jenis sayuran di kotak makan siangnya dan itu membuat Kyuhyun kehilangan nafsu makanannya.

“Kyuhyun ah, kau baik-baik saja? Mengapa kau melamun?”

Pria itu tersentak saat merasakan sentuhan di pipinya. Dari jarak seperti ini, dia bisa melihat warna mata istrinya yang kecoklatan berbeda sekali dengan Hyura yang berawarna sedikit biru karena gadis itu memiliki darah eropa dari ayahnya. Haneul dan Hyura benar-benar berbeda.

“Aku sudah menyiapkan dasi untukmu dan aku yakin warnanya aku cocok. Kau akan memakai warna baju biru ini dengan dasi hitam ini, bagaimana?”

Kyuhyun terdiam. Sebenarnya dia bukan tidak mau memakai semua yang sudah disiapkan oleh Haneul, hanya saja dia hanya merasa aneh karena sebelum menikah, di dalam pikirannya hanya wajah Hyura yang terbayangkan olehnya yang akan menyiapkan segalanya, bukan Haneul.

“Kau mau memakai ini untukku? Aku janji ini yang terakhir kalinya.”

Kyuhyun kembali terdiam. Pria itu bisa melihat ada yang berbeda di matanya istrinya saat mengucapkan permintaannya itu.

“Apakah kau mau?” tanyanya lagi.

“Ya. Kau bisa memakainkannya untukku?”

Istrinya tersenyum dan mengangguk bersemangat. “Tentu saja.”

***

Kyuhyun sedang asik dengan Ipadnya ketika istrinya dengan tiba-tiba meletakkan kotak makan siang di sampingnya. Pria itu, seperti biasanya, sama sekali tidak peduli. Masih saja berkutat dengan Ipadnya. Membaca beberapa berita dari situs online. Dari sudut matanya, Kyuhyun bisa melihat istrinya yang sibuk dengan segala aktivitas. Meletakkan sendok, garpu, roti panggang, dan lainnya. Pria itu hanya diam tanpa memperhatikannya begitu saksama.

“Ayo kita makan.”

Pria itu mengunci Ipadnya lalu mulai beralih pada makanannya. Saat dia mulai memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya, matanya menangkap wajah istrinya yang sedang menatapnya sambil tersenyum.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun sambil mengunyah makanannya.

“Tidak. Hanya sedang memerhatikanmu saja. Apakah kau tahu kalau kau adalah pria yang tampan?”

Kyuhyun tertawa kecil mendengar pertanyaan dari istrinya. Dia tidak pernah mendengar perkataan semanis ini dari mulut istrinya. Pria itu menatap istrinya lumayana lama dan membuatnya sedikit tersadar. Pertanyaan istrinya ini benar-benar sama persis seperti apa yang diucapkan Hyura sebelum mereka berpisah dulu. Sejenak, Kyuhyun menundukkan kepalanya. Tidak bagus kalau dia terus mengingat mantan kekasihnya sementara istrinya ada di depan matanya sendiri.

“Kenapa kau tidak memakan makananmu?” tanya Kyuhyun untuk mengalihkan pembicaraan. Gadis di depannya tersenyum lalu menggeleng.

“Tidak. Aku ingin melihat caramu makan. Aku akan mengingatnya dengan baik,” jawab istrinya masih dengan senyuman yang mengembang.

“Kau bisa melihatku makan setiap hari, Haneul.”

“Tidak. Aku akan mengingatnya. Kita tidak tahu sampai kapan kita bisa bersama.”

Kyuhyun mendongakkan kepalanya, melihat wajah istrinya ketika telah menyelesaikan kalimatnya. Pria itu mengertukan keningnya.

“Tidak. Tidak apa-apa, Kyuhyun. Cepat berangkat atau kau akan telat. Kau mau atasanmu memarahimu?”

Pria itu masih saja memperhatikan gerak-gerik istrinya saat gadis itu tiba-tiba saja masuk ke dalam dapur dan tidak kembali. Perlu cukup lama bagi Kyuhyun untuk menunggu istrinya sebelum pria itu berangkat kerja. Kyuhyun sudah sampai di depan pintu apartemen dengan istrinya yang mengekor. Kyuhyun mencium kening istrinya lalu keluar dari apartemen. Setelah beberapa langkah, kaki pria itu terhenti. Aneh. Biasanya istrinya akan memeluknya dari belakang terlebih dahulu dan mengatakan kata-kata semangat untuknya. Namun, saat ini dia tidak bisa merasakannya. Kyuhyun memutar kepalanya lalu melihat istrinyamasih berdiri di ambang pintu apartemen dan memerhatikannya sambil tersenyum.

“Haneul, apa yang kau lakukan di situ?” tanya Kyuhyun sambil berjalan mendekat ke arah istrinya.

“Aku akan melihatmu sampai kau masuk ke dalam lift.”

“Masuk lah,” kata Kyuhyun sambil kembali mengecup puncak kepala istrinya.

“Tidak.”

“Haneul, dengarkan aku. Kau–”

“Kau mau memelukku, Kyuhyun?”

Pria itu terdiam cukup lama lalu memeluk istrinya cukup lama. Di ambang pintu, begitu saja. Kemudian Kyuhyun pergi dan Haneul menutup pintu apartemennya.

***

Jam makan siang. Biasanya, Kyuhyun akan melihat menu makanan yang dibawakan istrinya. Namun, kali ini tidak. Kyuhyun lupa membawa kotak makan siang miliknya dan dia sedikit lega karena tidak harus merasa bersalah untuk membuang makanan buatan istrinya atau memberinya pada Kyungmi, teman satu kubikelnya. Pria itu keluar dari kubikel lalu berjalan ke arah teman-temannya untuk makan siang bersama di cafetaria.

Saat dia sudah keluar dari lift di lantai satu, matanya menangkap sosok Haneul sambil menjinjing kotak makan siangnya di salah satu lift lainnya. Gadis itu tidak menyadari kehadiran Kyuhyun karena lebih fokus pada antriannya untuk masuk ke dalam lift. Kyuhyun mencoba untuk berjalan lebih cepat, tetapi setelah dia berjalan lumayan jauh, pria itu merasa semakin bersalah. Jadi, dia segera kembali ke lift dan menuju ruang kerjanya.

Tak lama bagi Kyuhyun untuk sampai pada ruang kerjanya. Dia melihat Haneul menaruh kotak makan siangnya di kubikel miliknya. Kyuhyun hampir saja menghampiri istrinya ketika Kyungmi tiba-tiba saja datang dan menghampiri istrinya dari sisi lain. Kyuhyun berhenti berjalan dan tersenyum ketika mendengar Kyungmi memuji istrinya yang baik.

“Haneul ssi, Kyuhyun sudah pergi ke cafetaria.” Samar-samar Haneul mendengar ucapan Kyungmi. Posisi pria itu kini berada di samping Kyungmi dan Haneul, tetapi karena terhalang oleh tembok pembatas ruangan, Kyuhyun bisa bersembunyi di balik tembok ini.

“Iya aku tahu. Aku sudah terlambat. Karena aku sudah berada di sini, aku tetap memberi kotak makan ini.”

“Kau tidak seharunya membawa kotak makan siang ini, Haneul ssi. Maaf sebelumnya, tetapi Kyuhyun jarang sekali memakan masakanmu.”

Kyuhyun membeku mendengar pernyataan dari Kyungmi. Tiba-tiba terselip di benaknya akan kemarahan istrinya atau kesedihan istrinya. Namun, ketika Kyuhyun melihat istrinya tersenyum, pria itu malah kebingungan.

“Oh. Ya, mungkin dia tidak suka makananku. Sampai saat ini aku masih tidak tahu makanan kesukaannya. Jadi, aku hanya menebak saja makanan yang dia suka. Kyungmi ssi, boleh aku minta tolong padamu?”

Kyuhyun bisa melihat wajah Kyungmi yang tersenyum getir lalu mengangguk bersemangat.

“Apakah kau mau memastikan Kyuhyun memakan makananku? Sedikit saja. Apakah kau mau memotretnya secara diam-diam? Sekali saja katakan padanya untuk memakan makananku. Selanjutnya, aku tidak akan pernah memaksanya lagi. Kyungmi ssi, apakah kau mau?”

“Ya. Tentu saja. Kau bisa mengadalkan aku, Haneul ssi.”

Setelah itu, Kyuhyun seperti kehabisan kata-kata. Istrinya terlalu sering mengatakan ‘terakhir kali’ hari ini. Mengapa dia tiba-tiba saja takut untuk kehilangan istrinya suatu saat nanti. Pria itu sedikit tersentak ketika melihat Haneul berjalan keluar dari ruangannya. Dia dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi dan terdiam lagi.

Dia seperti orang jahat. Jahat sekali.

***

“Tadi istrimu datang. Mengantar itu.”

Kyuhyun menoleh pada Kyungmi yang duduk di sebelah kubikelnya. Tatapan mata gadis itu masih berfokus pada layar komputer, tetapi tangannya menunjuk pada kotak makan di meja Kyuhyun. Pria itu mengangguk tanpa niatan untuk menjawab.

“Dia baik sekali. Aku akan memotretmu saat kau makan masakannya. Jadi, kau makan lah sedikit.”

Pria itu hanya menatap kotak makan siangnya. Segala pertanyaan berkecamuk di benaknya. Secara perlahan dia membuka kotak makan siang itu dan melihat jajangmyeon kesukaannya tampak sudah mekar, dingin, dan mungkin sudah tidak berselera lagi. Kyuhyun menatap kotak makannya agak lama. Ini hanya sekadar perkara kotak makan siang yang tertinggal. Namun, dia harus mengatakan apa kepada istri yang begitu perhatian pada suaminya sendiri. Mengantar kotak makan siang ke kantor suaminya sendiri.

“Jangan melamun. Cepat makan. Aku akan memotretmu.”

Kyuhyun menoleh dengan gerakan pelan lalu tersenyum kecut. Kyungmi sudah siap dengan ponsel miliknya sendiri, hendak memotret Kyuhyun.

“Kyungmi ssi, kau mau bantu aku?” kata Kyuhyun lemah. Terlihat sedikit frustasi dari raut wajahnya.

“Ada apa?”

“Makan makanan ini atau kau buang saja.”

Setelah itu, pria itu berjalan begitu saja meninggalkan kubikelnya, mengabaikan tatapan tidak percaya dari Kyungmi, dan membiarkan temannya itu berteriak memanggil namanya. Tanpa ada sedikit niatan apa pun untuk kembali ke mejanya dan memakan makanan istrinya. Dia harus meyakinkan dirinya sendiri sebelum dirinya juga terjebak. Dia harus memastikan bahwa dirinya masih mencintai Hyura dan tidak pernah melanggar janji untuk mengkhianati gadisnya itu. Kakinya berhenti di depan pintu lift. Masih sedikit kesal, Kyuhyun merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Dia menekan nomor satu sebagai panggilan cepatnya untuk Hyura. Kemudian setelah Hyura mengangkat teleponnya, pria itu tersenyum kecil.

“Kau ada waktu? Mau bertemu sebentar denganku? Ya. Sepulang kita kerja.”

Panggilan berhenti tepat ketika pintu lift terbuka. Lift membawanya kembali ke lantai bawah. Sebaiknya dia cepat-cepat membeli makan sebelum waktu makan siangnya berakhir. Kyuhyun menghela napas sebentar dan semakin bersemangat untuk bertemu dengan Hyura.

+++

Kyuhyun memainkan Ipadnya tidak bergairah. Secara bergantian dia membaca satu per satu berita yang ada di sebuah situs. Sesekali dia melihat ke arah pintu masuk restoran tempatnya kini berada. Dia akan bertemu dengan Hyura seperti janjinya tadi siang. Saat ini adalah pertama kalinya dia akan bertemu dengan Hyura. Pertama kalinya dia mengajak Hyura makan malam bersama. Pertama kalinya untuk melihat wajah gadis yang dicintainya setelah enam bulan dia menikah.

Kepala pria itu terangkat ketika seseorang duduk di depannya sambil tersenyum kecil dan merapatkan syal berwarna coklat di lehernya. Musim mulai berganti. Dingin mulai menusuk ke dalam kulit.

“Kau sendirian?” tanya Hyura sambil menoleh ke sekeliling. Tampak mencari seseorang. Sementara itu, Kyuhyun merasa bingung. Biasanya, mereka memang hanya pergi berdua.

“Tentu saja aku sendirian. Ada apa?”

“Kau tidak membawa istrimu? Aku pikir kau ingin mengenalkan istrimu padaku.”

Jawaban yang keluar dari mulut Hyura langsung membungkam mulut Kyuhyun. Senyumannya menghilang sudah. Kepalanya tertunduk dan tangannya tiba-tiba membuka buku menu yang tersedia tanpa mau membahas apa pun.

“Kyuhyun ah, kau baik-baik saja?”

Kepala itu terangkat. “Ya?” jawab Kyuhyun seadanya.

“Jangan katakan padaku kalau kau sedang bertengkar dengan istrimu. Ada apa?”

Pria itu masih terdiam. Dia berdeham sebentar lalu menatap Hyura dengan saksama. “Hyura ya, aku masih mencintaimu.”

Keduanya terdiam. Bunyi alunan musik dari restoran sangat menguasai telinga mereka masing-masing. Ada sebesit kelelahan di mata Kyuhyun dan pria itu bisa melihat raut kaget dari wajah Hyura. Pria itu menggengam tangan Hyura yang bebas dan mengatakannya sekali lagi.

“Aku masih mencintaimu, Hyura.”

“Kyuhyun ah, jangan bercanda. Kau pria beristri. Kau sudah memiliki istri.”

“Ya. Aku tahu. Pernikahan ini hanya perjodohan. Sewaktu-waktu aku bisa bercerai.”

Seketika mata Hyura menyipit lalu menyentakan tangan Kyuhyun dari genggamannya. “Jangan gila. Pernikahan tetap pernikahan.”

“Tapi aku tidak mencintainya.”

“Kau sudah mencintainya, Kyuhyun. Astaga. Apa kau belum pernah melakukan hubungan intim dengannya selama ini?”

“Tidak. Aku sudah melakukannya karena itu aku sangat merasa bersalah padamu.”

Kyuhyun bisa melihat wajah Hyura yang mengeras lalu menghela napas panjang. “Kyuhyun ah, dengarkan aku. Ada masalah di sini. Kita sudah berpisah dan kau sudah memiliki istri. Kyuhyun, kau sudah tahu aku sudah bertunangan, bukan? Kyuhyun ah, kita punya kehidupan masing-masing dan benar-benar berbeda.”

“Aku tahu. Tapi, aku tidak bisa,” elak Kyuhyun. Raut wajahnya serius. Tidak ada kepedihan di matanya. Seperti mata elang yang meyakinkan dunia bahwa hewan itu adalah raja di udara.

“Kau salah. Kau bukan tidak bisa, tetapi kau tidak mau. Dengarkan aku dengan baik. Aku tidak peduli dengan istrimu. Aku sama sekali tidak membelanya. Tapi, Kyuhyun, hidup seperti ini benar-benar melelahkan. Selama satu minggu aku menangis setiap hari ketika kita berpisah dan kau menikah. Aku seperti ingin mati, tetapi ini sama sekali tidak berguna.”

“Kau mudah mengatakannya karena kau sudah bertunangan. Kau sudah mencintai pria lain. Kau… ”

“Dengar aku lagi,” potong Hyura cepat. “Aku memang sudah mencintai orang lain. Tapi, apa kau pernah mempersilakan orang lain untuk mencintaimu? Tidak? Kyuhyun ah, istrimu pasti sangat mencintaimu. Wanita itu benar-benar sudah mencintaimu.”

“Kau berbohong.”

“Siapa yang bisa menahan menikah dengan pria bodoh dan menyebalkan sepertimu, Kyuhyun?”

“Dia tidak mencintaiku, Hyura. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai istri.”

“Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Kyuhyun ah, aku hanya ingin mengatakan aku tidak akan terkejut jika istrimu meninggalkanmu. Aku ingin kau tidak akan menyesal nantinya. Kyuhyun sadarlah.”

“Tidak, Hyura. Aku…”

“Terserah. Aku pulang.”

Suasana kembali hening. Tegang di wajahnya sudah menghilang. Kyuhyun seperti ingin cepat pulang. Dia ingin melihat apakah istrinya benar-benar mencintainya seperti apa yang dikatakan Hyura. Sekelebat wajah istrinya terbayang dan dengan cepat di keluar dari restoran. Melaju dengan mobilnya, membelah jalanan menuju apartemen.

+++

Hampir jam sepuluh malam. Dia melihat jam tangannya sekilas. Dia memasukan kode apartemennya dan membuka pintu. Pertama kali dia masuk, apartemennya benar-benar gelap. Seperti tidak penerangan sama sekali. Pria itu mengganti sepatunya dengan sandal rumah lalu berjalan menuju dapur untuk menegak segelas air. Namun, saat dia baru saja melangkah ke ruang televisi, lampu tetap tidak menyala. Lampu dapur juga tidak menyala. Cekatan, dia menyalakan lampu dan terkejut sendiri dengan hiasan yang tertempel di dinding di bagian ruang televisinya. Ada beberapa balon dan dia melihat istrinya tertidur di atas sofa.

Kyuhyun merapat, memerhatikan wajah istrinya. Dia tidak pernah menyadari memiliki wanita yang benar-benar rupawan. Tidak pernah menyadari memiliki istrinya yang begitu mencintainya. Dia tidak pernah menyadari itu. Tak sengaja matanya beralih ke meja yang ada di ruangan itu. Matanya menangkap sebuah foto rontgen. Tangan pria itu bergerak untuk mengambilnya, memerhatikannya lebih detail. Mata pria itu tiba-tiba saja berair. Seseorang sedang mengandung anaknya.

Hyura benar.

Setelah itu, mata Kyuhyun kembali lagi menangkap sebuah coretan tangan di atas kertas koran yang tergeletak di atas meja. Samar, tidak terlalu bisa dibaca, tetapi entah mengapa Kyuhyun bisa membacanya dengan sangat jelas. Tulisan istrinya.

Halo. Ini Kang Haneul. Istri Cho Kyuhyun. Aku sedang mengandung. Ada nyawa di dalam perutku. Ah! Kau tahu bagaimana rasanya? Ini aneh. Senang tapi aneh. Aku tidak sabar menunggu Kyuhyun pulang dan merayakan ini semua.

Oh! Hai, calon anakku, ini Ibu. Ayah memang selalu pulang malam, tetapi Ibu yakin setelah ada dirimu, Ayah akan selalu pulang lebih cepat. Nanti, setelah Ayah pulang kau bisa merasakan tangan Ayah menyentuhmu.

Ayah sedikit pendiam. Cuek. Ya, sedikit. Ayah pasti akan mencintaimu, akan menjagamu. Kau pasti akan membuatku cemburu. Tidak apa-apa. Asal Ayah mau mencintaimu, aku sudah sangat bahagia. Ayah sebentar lagi pulang. Aku harus katakan apa?

Anakku, ini rahasia. Aku tulis ini karena bosan menunggu ayahmu pulang. Ini rahasia, mm?

Ayah mungkin tidak mencintai Ibu, tetapi Ibu yakin Ayah akan mencintaimu. Jadi, kau tidak perlu khawatir.

Perlahan, Kyuhyun membelai rambut istrinya sambil tersenyum. Betapa dia ingin melihat mata coklat istrinya. Betapa dia rindu kotak makan yang tidak membuatnya berselera itu. Dengan foto rontgen di tangannya, pria itu menangis terisak. Dia benar-benar merasa tidak pantas untuk mendapatkan ini semua. Pria itu tidak menyangka dirinya sangat berarti bagi orang lain. Tangan pria itu menggenggam tangan istrinya. Masih menangis sambil terisak yang tidak bisa dia tahan lagi.

+++

Haneul membuka matanya secara tiba-tiba. Di dalam mimpi pun dia teringat dengan perayaan atas nyawa baru yang ada di tubuhnya. Gerakannya terhenti ketika tangan kirinya merasa tergenggam. Suaminya sedang tertidur dalam keadaan terduduk di sampingnya. Gadis itu tersenyum sambil menyentuh kepala suamiya dengan hati-hati. Tangan itu sedikit gemetar mengingat ini pertama kalinya dia berani menyentuh kepala suaminya. Tangan itu seperti kaku ketika merasakan rambut halus suaminya terselip di antara jarinya, menyatakan kalau dirinya sedang tidak bermimpi.

“Kyuhyun ah, sudah hampir jam tujuh,” bisik Haneul pelan. Dia menggerakan genggamannya, sedikit menggerakan tubuh suaminya untuk menyadarkan diri.

“Mm.”

“Sudah hampir jam tujuh,” kata Haneul lagi.

Kepala pria itu terangkat dan Haneul benar-benar terkejut melihat mata pria itu yang membengkak. Lantas tangannya menyentuh kedua mata itu.

“Ada apa?” tanya Haneul lirih.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya bahagia. Ini.”

Haneul tersenyum ketika suaminya menunjukan foto rontgen miliknya. Gadis itu tertawa kecil dan memberi bagian pada kyuhyun untuk ikut duduk di sofa. Haneul memeluk suaminya begitu erat.

“Maafkan aku. Aku pulang terlambat.”

“Aku senang. Tidak ada yang lain selain senang,” kata Haneul mengabaikan permintaan maaf dari suaminya. Gadis itu menghirup napas dalam-dalam. Dia benar-benar merasa bahagia.

“Bagaimana kalau kita merayakan anak kita? Makan siang bersama?”

Haneul mengangguk bersemangat. “Tentu saja. Aku mau.”

+++

Haneul sedang merapikan pakaian untuk makan siang bersama dengan suaminya, ketika ponselnya berbunyi. Nama Kyuhyun tertera di layar ponsel, membuatnya tersenyum kecil. Hari ini adalah hari yang benar-benar spesial untuknya. Hari terbahagia yang pernah dia rasakan seluruh hidupnya. Haneul seperti sudah mendapatkan semua kebahagiaannya.

“Halo? Mm. Aku sedang bersiap. Iya. Aku akan naik taksi dan tidak akan memakai high heels. Kau sudah di tempat?”

Haneul memegang ponselnya dengan susah payah. Kedua tangannnya sibuk untuk merapatkan mantelnya. Jadi, dia kedua tangannya harus bergantian menempelkan ponsel ke telinga.

“Aku akan keluar. Aku tutup.”

Dan gadis itu meninggalkan apartemennya. Apartemennya yang lengang.

+++

Kyuhyun tidak tahu lagi.

Dia bahkan tidak bisa mendengar apa pun lagi selain detak jantungnya sendiri. Terduduk di salah satu kursi di koridor rumah sakit sama sekali tidak bagus. Kedua tangannya menumpu tubuhnya sendiri. Dia bahkan tidak bisa mengingat apa yang sudah terjadi, apa yang menyebabkan dirinya berada di rumah sakit ini.

Kyuhyun hanya mengingat bagaimana istrinya berlari menyebrang untuk menghampirinya. Lampu untuk pejalan kaki sudah berwarna hijau, tetapi mobil hitam itu malah terus melaju. Menabrak istrinya. Kyuhyun bahkan tidak bisa lagi merasakan detak jantungnya saat istrinya terhempas di jalanan. Kakinya kaku. Terpaku. Selanjutnya, bagai roket di berlari menghampiri istrinya.

Seingat itu saja. Tidak ada yang lain. Kyuhyun yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa besok, atau besoknya, besoknya lagi, istrinya akan tersenyum sambil mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Namun, perkataan dokter sama sekali membunuh harapannya.

“Istrimu mengalami pendarahan hebat. Dia sudah melewati masa kritis, tetapi kita tidak tahu kapan dia akan sadar. Berat hati aku katakan istrimu sedang tahap koma. Bayinya tidak apa-apa, tetapi jika istrimu tidak kunjung sadar, anakmu bisa…. Kyuhyun ssi, maaf. Kami akan berusaha menolong istri dan anakmu.”

Dan Kyuhyun tidak tahu cara bernapas untuk keesokan hari.

+++

Apartemennya lengang. Balon-balon hiasan masih tertempel dan bau tubuh istrinya masih tercium di sofa. Pria itu menatap kesekeliling apartemennya. Kyuhyun bisa melihat istrinya memasak di dapur, masuk ke dalam kamar, mengganti pakaian, membalut tubuh gadis itu dengan mantel yang tebal. Selanjutnya, istrinya mengangkat telepon, tersenyum kecil dan pergi untuk menepati janji makan siang bersama.

Setelah itu, otak Kyuhyun berhenti lagi. Apartemennya bisu seperti rumah hantu. Tidak ada sosok yang bernyawa. Tidak menyeramkan, tetapi begitu mencekat. Pria itu terlamun di ranjangnya di kamar. Betapa dia masih mengingat dirinya tertidur sambil memeluk istrinya dari belakang.

Kyuhyun masih ingat.

Air mata pria itu sudah mengering bahkan sebelum keluar sedikit pun. Mata bengkaknya bahkan belum mengecil. Namun, hatinya sudah tidak bisa merasakan apa pun.

Langkah gontai, dia menuju lemari di pinggir ranjang. Kyuhyun membukanya dan semerbak harum istrinya menyeruak. Pandangannya kabur karena selaput bening itu hampir saja menetes. Sekelebat dia bisa membayangkan istrinya, setiap pagi memilih pakaian dan dasi untuknya. Setiap pagi gadis itu merasa bersalah karena tidak tepat memilih pakaian untuk suaminya.

Kaki itu akhirnya mengeluh, terjatuh di samping ranjang. Kyuhyun tidak bisa merasakan apa pun lagi selain sesak yang tidak tertahan. Gengsinya menguap. Dia butuh istrinya.

Kyuhyun bahkan belum mengatakan kalau makanan istrinya adalah makanan yang paling lezat, belum mengatakan pada istrinya kalau dia benar-benar beruntung. Kyuhyun belum mengatakan pada istrinya kalau dia sudah mencintai gadis itu.

Waktu seperti tidak merelakannya untuk mengatakan itu semua. Mungkin juga waktu sebenarnya sudah memberikan banyak waktu, tetapi pria itu tidak menyadarinya sama sekali.

Waktu sudah lelah memberi Kyuhyun kesempatan.

Biar pria itu mengerti arti kesempatan.

+++

“Ibu sudah membersihkan apartemenmu. Kau bisa mengganti pakaian dengan ini.”

Kyuhyun menoleh, mendapati ibunya berdiri sambil membawa tas besar. Pria itu mengangguk kecil, kembali mengalihkan padangannya pada istrinya yang sedang terbaring. Genggamannya tidak pernah terlepas.

“Ini. Ibu menemukannya. Sebenarnya, aku tidak ingin kau bertambah terluka, tetapi mungkin ini sesuatu yang ingin istrimu katakan.”

Kening Kyuhyun berkerut lalu menerima sebuah kertas dari Ibunya. Matanya mulai membaca secara perlahan. Kemudian dirinya kembali terisak. Amat terisak sampai dia menenggelamkan kepalanya di ranjang istrinya. Tangannya menggenggam dengan kuat. Dia benar-benar takut kehilangan.

Dia sudah kehilangan caranya bernapas dan dia mungkin akan kehilangan caranya untuk hidup.

+++

Kyuhyun lupa membawa kotak makan siangnya. Sandwich ini akhirnya aku yang makan. Lagipula, sungguh sangat tidak bagus makan siang dengan sandwich. Mungkin aku akan memasak sesuatu nanti.

Pria itu masih sama saja. Dia mungkin masih mencintai kekasihnya. Tapi aku sudah jadi istrinya, bukan? Harusnya aku marah!!!

Ini aneh. Apakah pria tidak bisa melihat seseorang yang begitu mencintainya? Apakah pria selalu setia seperti Kyuhyun mencintai kekasihnya? Apakah pria memang seperti itu?

Aku tidak mengenal mantan kekasih Kyuhyun, tetapi aku bisa melihat kebahagiaan dari foto mereka. Senyuman Kyuhyun yang tidak pernah aku lihat. Rangkulannya yang tidak pernah aku rasakan dan senyuman Kyuhyun ketika melihat foto kekasihnya yang tidak pernah aku dapatkan. Aku tidak marah karena Kyuhyun belum bisa melupakan masa lalunya. Namun, aku benar-benar lelah untuk merasa Kyuhyun mungkin akan mencintaiku. Perpisahan sudah aku pikirkan.

Tidak bisa. Aku tidak bisa pergi begitu saja. Sentuhan Kyuhyun setiap aku memeluknya, setiap dia menyentuh kepalaku, setiap dia mencium puncak kepalaku. Aku sudah merasa bahagia.

Ini bukan masalah Kyuhyun masih mencintai orang lain. Bukan masalah perempuan lain. Ini masalah diriku sendiri. Bagaimana aku bisa melihat seseorang yang aku cintai menderita seperti ini? Aku tidak pernah tahu apakah Kyuhyun sudah merencanakan pernikahannya dengan kekasihnya itu.

Aku tidak ingin dengar. Itu akan semakin membuatku merasa bersalah. Ah, aku benci situasi seperti ini.

Tidak apa-apa. Kyuhyun pasti akan mencintaiku. Hahaha.

Tidak. Tidak ada pria yang jahat, yang ada hanya pria yang sangat setia untuk mencintai seseorang yang dicintainya.

Tidak. Tidak ada perempuan yang menyedihkan, yang ada hanya perempuan yang mencoba untuk mengerti seseorang yang dicintainya.

 

The End.

24 thoughts on “Me and You

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s