[FF Freelance] When Man in Loves (Oneshot)

When Man in Loves

Title : When Man in Loves (Drabble Complication)

Author : Rut Lyvia (@lyviamidul)

Genre : Romance, Angst, Fluff

Rating : PG13+

Main Cast :

·         EXO Members

·         SNSD Members

Disclaimer :

·         Fiksi ini sudah pernah di post di exoshidaefanfic.wordpress.com dan lyviamidul.wordpress.com and please enjoy the fiction!

***

Baekhyun-Taeyeon

                Buku resep itu hampir saja sobek ketika seorang namja yang bernama Byun Baekhyun itu membalik halaman kian halaman yang terdapat di buku resep tersebut.

                “Argh!” Erangnya ketika melihat halaman buku resep itu sudah habis dia bulak-balik sedari tadi. Baekhyun berjalan ke dapur apartementnya yang tidak jauh dari tempat dia tadi, ruang tamu. Dia membuka laci demi laci di dapur tersebut layaknya seorang ibu rumah tangga yang sedang mencari bahan untuk masakannya nanti.

                “Hh, separahnya seorang laki-laki itu setidaknya mempunyai bahan makanan mentah di apartementnya.” Oceh Baekhyun sendiri. Dia berjalan lagi ke kamarnya. Di ambilnya dompet berwarna kecoklatan dan sebuah mantel tebal lalu memakainya, dia berjalan ke ambang pintu apartementnya beranjak untuk keluar dari sana, sebelumnya dia mengambil gantungan kunci bergambar Micky Mouse dengan beberapa kunci yang bergantung disana dan segera berlalu dari apartement itu.

                Dengan setengah berlari Baekhyun memasuki mobil berwarna hitam di basement apartementnya dan melaju ke tempat tujuannya sedari tadi, supermarket.

                Setibanya Baekhyun di supermarket, Baekhyun langsung berlari mengambil salah satu trolly yang telah disediakan oleh supermarket tersebut. Dia berjalan mengelilingi bilik demi bilik yang berisi bahan makanan. Baekhyun mengambil sayur, daging, bumbu dasar, dan sebagainya ke dalam trolly yang dia dorong itu. Tiba-tiba Baekhyun berhenti dan mengamati isi trollynya.

                “Apa saja yang sudah kuambil?” Baekhyun mengacak-acak isi trollynya yang hampir penuh itu. Dia menghela nafasnya kasar, mengacak rambutnya dengan tangan kirinya yang membuat orang-orang yang berjalan didekatnya langsung menatapnya dengan aneh.

                “Ck! Aku mau masak apa?!” Ocehnya lagi. Tiba-tiba ada seorang yeoja muncul dihadapannya.

                “Maaf, anda kenapa ya?” Tanya yeoja itu keheranan yang melihat Baekhyun frustasi seperti itu. Baekhyun menoleh ke arah yeoja itu.

                “Nu..nuguya?” Tanya Baekhyun.

                “Tiffany. Aku heran melihatmu frustasi seperti itu, hm..” Pernyataan Tiffany itu menggantung dan membuat Baekhyun mengangkat salah satu alisnya. Tiffany mendengkatkan mulutnya ke telinga Baekhyun. “Aku kasihan meiihatmu yang seperti dianggap mereka gila.” Bisik Tiffany sambil menatap beberapa anak sekolahan yang sedang menatap Baekhyun sinis dengan ujung ekor matanya.

                “O..oh, begitu. Hm, Tiffany-ssi, bisa bantu aku untuk mencarikan bahan makanan?” Tanya Baekhyun.

                “Makanan? Makanan apa?” Respon Tiffany.

                “Hm, makanan untuk seseorang yang baru wisuda.” Balas Baekhyun.

                “Yeojachingumu kah?” Tanya Tiffany.

                “Bingo! Kau bisa baca pikiran orang lain yah?” Tanya Baekhyun balik. Tiffany tidak merespon Baekhyun, Tiffany malah mengangguk mengerti seperti tahu apa yang Baekhyun permasalahkan kali ini. Tiffany melihat trolly yang Baekhyun dorong tadi dan menghelakan nafasnya.

                “Yeojachingumu ada sepuluh? Banyak sekali belanjaanmu!” Tebak Tiffany.

                “Aniyo. Aku bingung.” Kelak Baekhyun.

                “Baiklah. Semua bahan makanan yang kau beli itu bisa memasak beberapa makanan. Seperti makanan Eropa kebanyakannya. Jika diperhatikan kau mengambil daging import. Kusarankan untuk memasak Beef blackpepper. Itu mudah untuk disajikan.” Saran Tiffany. Kini senyum Baekhyun melebar, dia ingat bahwa di buku resep yang dia baca tadi ada resep yang bertuliskan ‘Beef Blackpepper’.

                “Uwaaa! Gamshahamnida. Aku benar-benar berterima kasih!” Kata Baekhyun sambil membungkukkan tubuhnya hampir 120 derajat.

                “Gwaenchana. Aku pergi dulu ya, salam kenal!” Kata Tiffany sambil berjalan melewati Baekhyun.

                “Byun Baekhyun. Namaku Byun Baekhyun.” Teriak Baekhyun sambil mendorong trollynya dengan cepat ke kasir, membayar semua belanjaanya dan segera kembali ke apartementnya.

                “3 jam lagi!” Baekhyun menyemangati dirinya sendiri ketika baru masuk di pintu apartementnya. Baekhyun langsung mengeluarkan semua belanjaanya dari plastic yang dia jinjing sedari tadi di atas meja makan. Baekhyun membuka buku resepnya, mencari halaman yang dia cari dengan berjudul ‘Beef Blackpepper’.

                “Aha! Aku rasa ini mudah.” Tebaknya ketika selesai membaca seluruh pengarahan untuk membuat ‘Beef Blackpepper’. Baekhyun mulai acara mengacak-acak dapurnya. Mencari perlatan memasak, bahan dasar, bumbu dasar, dan semua keperluan memasak lainnya. Kompor yang sedari tadi mati mulai menyala. Baekhyun juga sudah memasukkan beberapa bumbu-bumbu dasarnya yang menimbulkan harum di apartementnya.

                Tidak butuh waktu yang lama, sekitar 30 menit makanan yang dia masak sudah jadi sempurna. Walaupun ada beberapa luka yang di dapat karena melepuh oleh kecerobohannya yang memegang kuali panas itu dengan api menyala dibawahnya. Dia tersenyum puas, senyuman puas yang penuh keindahan oleh seorang Byun Baekhyun.

                “Taeyeon-ah, kau akan bangga mempunyai namjachingu seperti aku.” Pujinya kepada dirinya sendiri lalu berlalu memasuki kamar mandinya dengan niat membersihkan tubuhnya untuk menemui yeojachingunya yang sudah dia sebut tadi, Taeyeon.

                Kini Baekhyun sudah siap dengan kaos polos putih yang dibalut dengan blazer berwarna hitam, celana panjang hitam, dan sepatu berwarna abu-abu yang terpamang dengan jelas tanda centang disana. Dengan wajah yang berseri, tangan kanan yang menjinjing sebuah tas kecil berwarna merah yang berisi makanan yang dibuat tadi, Baekhyun keluar dari apartementnya. Menemui Taeyeon, itulah rencananya sekarang.

                Tok, tok, tok. Kira-kira itu suara yang keluar dari pintu yang diketuk oleh jari Baekhyun tadi. Terdengar langkah kaki dari dalam yang masuk di pendengaran Baekhyun. Tiba-tiba pintu itu terbuka, muncullah seorang yeoja berambut coklat dan dikuncir ke samping.

                “Baekhyunnie!” Panggil yeoja itu selaku yeojachingu Baekhyun yang bernama Kim Taeyeon. Baekhyun langsung memeluk erat Taeyeon dan mengecup puncak kepala yeoja itu.

                “Sudah menunggu lama?” Tanya Baekhyun.

                “Aniyo. Aku kan menunggu dirumahku sendiri.” Jawab Taeyeon.

                “Kau  kan tidak akan punya rumah sebelum menikah denganku, chagiya.” Rayu Baekhyun lalu menarik lengan Taeyeon dengan lembut masuk ke dalam rumahnya. Baekhyun memang sudah menganggap rumah orang tua Taeyeon ini sebagai rumahnya sendiri. Mereka memasuki dapur rumah Taeyeon.

                “Selamat atas wisudamu.” Kata Baekhyun.

                “Wisuda aku kan kemarin. Kau lupa? Bahkan kita sudah berfoto bersama.”

                “Aniyo. Aku ingin merayakannya.” Baekhyun mengeluarkan sebuah kotak dari tas kecil berwarna merah yang sedari tadi dia bawa dan memperlihatkannya kepada Taeyeon. Mata Taeyeon melebar melihat kotak yang berisi makanan itu.

                “Aku yang membuatnya, ini harus diabadikan!” Kata Baekhyun. Taeyeon mengangguk mengerti, dia mengeluarkan iPhonenya dan memotret makanan itu. Dimasukkanya ke jejaring social yang bernama Instagram dengan caption ‘Made by my Boyfriend. Gomawoyo Baekhyun.’

                Taeyeon dan Baekhyun duduk berhadapan di meja makan. Baekhyun tersenyum kepada Taeyeon, Taeyeonpun begitu.

                “Makanlah. Jangan pernah lupakan rasa makanan ini. Arrasseo?” Kata Baekhyun.

                “Aku tidak akan melupakannya jika kau memasaki ku lagi makanan seperti ini. Minimal seminggu sekali. Bagaimana?” Minta Taeyeon.

                “Baiklah. Karena aku mencintaimu, aku akan memasakkanya untukmu.” Kata Baekhyun.

When Baekhyun in Loves

***

Kris-Jessica

                “Dasar wanita dingin!”

                “Jangan mau berteman dengan wanita es sepertinya!”

                “Cih, tidak bisakah kau bersifat hangat dengan orang lain? Hanya bisa kepada namjachingumu yang bernama Kris itu? Pantas saja! Sama-sama berasal dari suku es.”

                Perkataan, ocehan, sindiran, ejekan dari teman-teman kampus Kris dan Jessica itu masih terngaung-ngaung di telinga Kris. Ketika Kris mengingat perkataan mereka tiba-tiba saja wajahnya memanas, tangannya terkepal kuat, dan rasanya Kris ingin menghabisi mereka satu per satu tidak memandang perempuan atau laki-laki.

                Sayangnya tidak bisa. Mengapa? Pertama, Kris tidak mau membuat Jessica kecewa karena perlakuan kasarnya. Kedua, mereka yang berkata seperti itu sedang tidak ada di hadapan Kris sekarang. Ketiga, Kris sedang memegang dua buah jarum besar dengan benang yang menyambungi kedua jarum itu yang menciptakan sebuah kain rajutan hangat berwarna pink dan putih. Ya, seorang Kris yang dikenal sebagai suku es itu sedang membuat sebuah syal yang sering dipakai orang untuk menghangatkan diri mereka, terutama ketika musim dingin.

                “Aw!” Keluh Kris ketika jarinya tertusuk dengan jarum besar itu, tidak parah tapi perih. Ntah sudah berapa kali jari telunjuk kanan dan kirinya sudah tertusuk untuk membuat sebuah syal untuk Jessica, yeojachingunya.

                “Kris, kau tertusuk lagi?” Tanya Henry, saudara Kris yang baru datang dari Canada beberapa jam yang lalu.

                “Iya, kenapa?” Tanya Kris balik dengan nada dinginnya yang mampu membuat seorang Henry menggigil secara tiba-tiba. Kadang-kadang Henry suka merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia mempunyai saudara seperti itu?

                “Tidak apa. Hanya sedikit khawatir.” Kata Henry.

                “Oh, thank you. Aku tidak tahu kau sebegitu perhatiannya denganku.” Kata Kris tanpa mengalihkan pandangannya dari syal yang dari tadi dia rajut. Tiba-tiba Kris menyudahi acara merajutnya dan tersenyum lebar.

                “Selesai.” Katanya langsung berlari ke kamarnya dan keluar lagi dengan sebuah paper bag yang berisi syal itu. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Jessica disana lalu memencet tombol hijau yang menandakan dia menghubungi  Jessica sekarang.

                “Jessica? Temui aku di taman biasa. Sekarang.” Tanpa tunggu jawaban dari Jessica, Kris sudah memutuskan panggilannya lalu menaiki motor besarnya dengan helm berwarna merah yang memberi kesan cocok dengan motornya langsung melaju ke taman dimana Kris sering bertemu dengan Jessica.

                Kris sudah sampai. Baru saja dia melepaskan helm yang dia gunakan, Kris sudah bisa menangkap seorang yeoja dengan rambut coklat terang duduk sendirian di bangku taman yang sedang menatap kosong lantai jalanan yang ada di taman itu. Kris langsung berlari ke yeoja yang dia tebak Jessica itu sambil memberikan paper bag nya.

                “Jess, ini untukmu.” Kris menyodorkan paper bag itu sambil tersenyum. Jessica menerimanya dengan dingin lalu berdiri menghadap Kris.

                “Aku pikir ada sesuatu yang penting. Bukankah ini bisa kau berikan besok ketika di kampus? Aku sampai membatalkan les vokal Suho, seharusnya aku mengajarnya sekarang.” Oceh Jessica. Kris langsung meletakkan telunjuknya yang panjang itu di bibir tipis Jessica. Secara tidak langsung Kris menyuruh Jessica untuk mengunci mulutnya.

                “Mianhaeyo. Gomawo atas ini.” Jessica menggerak-gerakkan paper bag yang sudah dia oegang sekarang.

                “Buka itu.” Perintah Kris. Jessica menurutinya, dia membuka paper bag yang berisi syal itu. Tiba-tiba senyumannya melebar. Tanpa basa-basi Jessica langsung memakai syal pemberian Kris yang berwarna putih pink itu.

                “Kau suka? It’s made by me.” Kata Kris.

                “Jinjjayo? Ahh, aku benar-benar berterima kasih.” Kata Jessica sambil menutup sebagian wajahnya dengan syal itu karena sangat malu, wajahnya pasti memerah sekarang. Kris langsung menarik Jessica ke dalam pelukannya.

                “Pakailah ini setiap hari. Aku akan membuatkanmu dua lagi.” Kata Kris. Kris bisa merasakan Jessica menganggguk dalam pelukannya itu.

                “Ya, pakailah setiap hari agar mereka tahu bahwa sepasang kekasih yang dikenal sebagai suku es ini juga butuh kehangatan.” Jelas Kris. Tiba-tiba tangan Jessica yang tadi diam saja langsung membalas pelukan Kris.

                “Ya, biarkan saja mereka.” Balas Jessica.

                “Ne. Karena mereka tidak tahu seberapa hangatnya cintaku padamu. Hangatnya cinta kita.” Kata Kris.

When Kris in Loves

***

Xiumin-Sunny

Waktu hampir menunjukkan menjelang pagi. Gumpalan asap hangat keluar dari cangkir yang penuh dengan kopi dari mesin salah satu di rumah sakit ini yang sedang digenggam oleh seorang namja tampan dan imut itu. Minseok selaku orang yang telah mengenggam secangkir kopi itu memutar badannya hendak meninggalkan mesin tersebut. Tiba-tiba sedikit dari kopi itu keluar dari cangkir dan mengenai tangannya sedikit.

                “Aish.” Hanya itu yang keluar dari mulut Minseok ketika dia merasa ada yang memanas di punggung tangannya.

                “Miahamnida. Saya tidak sengaja. Apakah kau baik-baik saja?” Tanya orang itu, namja. Minseok melihat ke orang itu.

                “Ya, tak apa.” Balas Minseok.

                “Jongdae imnida. Kim Jongdae imnida.” Tiba-tiba namja itu memperkenalkan diri kepada Xiumin.

                “Hah?” Respon Minseok.

                “Bolehkah kita berkenalan?” Tanya Jongdae.

                “Boleh. Namaku Minseok, Kim Minseok.

                “Wah! Marga kita sama.”

                “Ne. Hehehe.” Ketawa garing milik Minseok itu hampir membuat telinga Jongdae berdarah.

                “Kau menjaga siapa disini Minseok-ssi?” Tanya Jongdae. Minseok berjalan sambil memberi aba-aba untuk Jongdae agar mengikutinya. Tiba-tiba mereka berhenti di sebuah kamar bernomor 3032. Terlihat dari kaca besar yang tembus pandang itu ada seorang yeoja berambut pendek blonde terbaring lemas dengan selang besar di wajahnya.

                “Dia. Aku menjaganya, yeojachinguku.” Jawab Minseok dari pertanyaan Jongdae yang sedari tadi Minseok diami.

                “Hm, nasib kita sama.” Balas Jongdae.

                “Hah?” Respon Minseok.

                “Iya. Aku juga menjaga seorang yeoja disini. Sayangnya bukan yeojachinguku.” Kata Jongdae singat yang mampu membuat hati Minseok terketuk.

                “Oh begitu. Semua akan indah pada waktunya.” Minseok menatap jam tangan yang melingkar sempurna di lengan kirinya. Waktu menunjukkan pukul setengah 5 pagi. “Maaf Jongdae-ssi, aku harus menjaganya lagi.” Lanjut Minseok.

                “Okay. Nanti bisa makan siang bersama?” Ajak Jongdae.

                “Sure. Aku masuk dulu ya. Annyeong.” Pamit Minseok lalu masuk ke dalam ruangan yang sedari tadi mereka perhatikan dari luar. Minseok duduk di pinggir ranjang tersebut.

                “Sunkyu-ah, aku yakin suatu hari kau akan bangun. Minseok langsung mengelus punggung tangan Sunkyu yang ada jarum berasal dari infusan di dalamnya. Tiba-tiba mata Minseok memanas. Minseok menatap langit-langit ruangan rumah sakit itu untuk menahan jatuhnya air mata dari mata Minseok.

                “Seok-ah..­” Panggil seseorang yang mampu menggetarkan seluruh tubuh Minseok. Suara yang sudah dia tidak dengar selama 2 tahun belakangan ini. Suara milik yeojachingunya. Suara seorang Sunkyu yang sudah tidur panjang selama 2 tahun masuk ke dalam pendengaran Minseok. Dengan cepat Minseok melihat Sunkyu yang sudah membuka matanya sedikit, bibir tebal yang pucat itu memaksakan untuk menjadi sebuah lengkungan indah di wajahnya. Sungguh ini sebuah keajaiban bagi Minseok.

                “Sunkyu? Kau sadar?” Tanya Minseok. Sunkyu hanya mengangguk lemah.

                “Sudah berapa lama kau menungguku?” Suara Sunkyu yang bisa dibilang sangat kecil itu terdengar oleh Minseok. Padahal suara itu nyaris kalah kencang dengan suara penghangat ruangan ini.

                “2 tahun.” Jawaban singkat Minseok itu mampu membuat mata Sunkyu berkaca-kaca.

                “Uljima. Semua penantianku membuahkan hasil bukan?” Tanya Minseok. Sunkyu hanya bisa tersenyum, dia sangat tidak mempunyai tenaga untuk menjawab pertanyaan Minseok.

                “Aku panggil dokter dulu.” Kata Minseok lalu memencet tombol yang disediakan rumah sakit untuk memanggil dokter dalam waktu yang darurat dan duduk di pinggir ranjang lagi. Menatap Sunkyu lembut dan membelai rambutnya.

                “Sunkyu-ah, jangan tidur selama itu lagi.” Kata Minseok.

                “Kenapa? Mianhae.” Balas Sunkyu.

                “Karena aku tidak suka jika kau menguji kekuatan cintaku padamu. Terbukti sudahkan 2 tahun ini? Jangan sekali lagi kau mencobanya.” Suruh Minseok.

                “Tenang saja. Tidak akan pernah.” Ntah kekuatan dari mana Sunkyu bisa berani membalas perkataan Minsok itu dengan percaya diri. Minseok mendekatkan bibirnya ke dahi Sunkyu. Mencium dahi Sunkyu singkat dan berkata.

                “Gomawoyo sudah bangun lagi.”

When Minseok in Loves

***

Chanyeol-Tiffany

                “Ayolah, ajari aku!” Terdengar suara berat khas Chanyeol di tengah ruang tamu ini, di rumahnya.

                “Kumohon! Ini yang terakhir kali!” Mohonnya lagi. Ntah jawaban apa yang bterdengar di pendengarannya seorang diri yang mengakibatkan dia terus menerus memohon.

                “Ah! Gomawo!!” Suara Chanyeol tiba-tiba mengencang kesenangan ketika mendengar jawaban lagi disana. Chanyeol langsung melepaskan ponselnya yang sedari tadi menempel di telinganya.

                “Aku yang menang kali ini, Tiffany Hwang.” Kata Chanyeol lalu mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas kuliahnya. Sekarang dia sedang menempuh ilmunya di sebuah universitas di Seoul, Korea Selatan. Sebenarnya Chanyeol terbilang anak yang pintar di universitasnya. Tapi, dia suka sekali bermanja kepada yeojachingunya tadi yang bernama Tiffany Hwang. Tiffany sering mengajari Chanyeol pelajaran yang sebenarnya sudah dimengerti Chanyeol. Tiba-tiba Chanyeol beranjak keluar rumahnya dan berdiri di depan pintu rumahnya, menunggu kedatangan seorang Tiffany.

                Rambut merah itu sangat mencolok di tengah hari ini sehingga Chanyeol mudah mengenalinya. Seperti biasa, dia memamerkan senyum dan deretan giginya yang putih cemerlang itu. Tiffany, gadis yang berambut merah tadi langsung memasang wajah juteknya sambil menghampiri Chanyeol.

                “Jangan membohongiku lagi!” Ancam Tiffany. Ya, memang Tiffany sering menyadari bahwa dia dibodohi oleh Chanyeol yang sedang pura-pura bodoh dalam belajar.

                “Aniyo. Aku benar-benar tidak mengerti. Tadi saja ketika tugas sekolah saja aku dapat C, chagiya.” Kata Chanyeol sambil merangkul Tiffany dan masuk ke dalam rumahnya lalu duduk di sofa yang sudah disediakan di ruang tamunya rumah Chanyeol itu.

                Tiffany membuka halaman buku Chanyeol. Dia menghela nafas. Dari dulu hingga sekarang dia selalu lemah dalam pelajaran yang akan dia ajarkan kepada Chanyeol nanti.

                “Channie-ah, aku tidak mengerti pelajaran yang sedang kau pelajari sekarang. Mianhae.” Kata Tiffany sambil menundukkan kepalanya. Chanyeol menghela nafas, dia sangat membenci kata maaf. Aplagi kata itu keluar dari mulut Tiffany.

                “Mau berapa kali aku peringatkan?” Tanya Chanyeol geram.

                “Ne?” Tanya Tiffany balik heran.

                “Maaf.” Jawab Chanyeol singkat dan jutek. Tiffany langsung menundukkan kepalanya.

                “Ah, ne. kalau kai=u tidka mengijinkanku berkata maaf. Apa yang harus aku katakana jika aku salah?” Tanya Tiffany. Chanyeol tersenyum lagi.

                “Aku mencintaimu Chanyeol, sangat sangat sangat mencintaimu.” Kata Chanyeol. Tiffany langsung menatapnya sinis.

                “Ya! Bisa-bisanya meledekku seperti ini! Aku sedang serius!” Oceh Tiffany. Chanyeol langsung menatap Tiffany yang wajahnya sudah merah sekarang. Ntah karena marah atau malu karena rayuan payah dari Chanyeol tadi.

                “Aku yang serius. Baiklah kalau maumu begitu. Tapi benar kataku tadi, akutidak akan marah jika kau berkata seperti itu.” Kata Chanyeol. Tiffany menggeser sedikit posisi duduknya mendekat dengan Chanyeol.

                “Aku mencintaimu. Sangat sangat sangat mencintaimu Park Chanyeol.” Kata Tiffany. Chanyeol langsung merangkul kekasihnya itu yang mengembangkan senyuman Tiffany, bukan hanya bibirnya yang melengkung, matanya juga ikut melengkung.

                “Aku mau jujur.” Kata Chanyeol. Tiffany langsung menoleh ke Chanyeol dan memberi isyarat lewat matanya seperti ‘apa’.

                “Pelajaran yang tadi sudah selesai dibahas, sudah ditest, dan sudah dibagikan hasilnya. Aku dapat A.” Pengakuan Chanyeol itu langsung direspon Tiffany dengan mendorongnya keras hingga terjatuh dari sofa.

                “Kau membohongiku lagi kan!!” Teriak Tiffany.

                “Hei, hei, maafkan aku.” Kata Chanyeol sambil berusaha bangkit dari jatuhnya itu.

                “Tidak, aku membenci kata maaf.” Kata Tiffany. Chanyeol langsung menatap Tiffany dengan ujung ekornya. Kali ini Chanyeol yang terjebak dalam perangkap Tiffany.

                “Jadi aku harus berkata apa? ‘Aku mencintaimu Tiffany. Sangat sangat sangat mencintaimu?’” Tanya Chanyeol sambil menirukan suara Tiffany. Tiffany langsung menahan tawanya karena wajah Chanyeol yang sangat jelek ketika bicara seperti itu dan nada bicaranya yang aneh.

                “Tidak. Bukan itu.” Jawab Tiffany santai.

                “Jadi apa? Aku akan katakan itu jika masuk akal dan untukmu.” Kata Chanyeol itu langsung membuat wajah Tiffany memerah, tidak kalah dengan merah rambutnya sekarang. Dengan cepat Tiffany langsung berjalan ke hadapan Chanyeol.

                “Jadilah milikku selamanya. Aku berjanji aku tidak akan meninggalkanmu.” Kata Tiffany. Chanyeol langsung mendekap kepala Tiffany kedalam pelukannya, tepatnya di jantungnya.

                “Bisa mendengarnya?” Tanya Chanyeol. Tiffany langsung tersenyum.

                “Tidak perlu kau suruh seperti itu. Karena aku akan mencintaimu sepenuh hidupku. Don’t worry!” Kata Chanyeol. Tiffany dan Chanyeol semakin mempererat pelukannya. Chanyeol menghirup wangi rambut Tiffany sedangkan Tiffany mendengar detak jantung Chanyeol yang berdegup kencang saat ini.

When Chanyeol in Loves

***

Lay-Hyoyeon

                “Kyungsoo-ah, dimana kau letakkan ponselku?” Teriak Lay kepada saudaranya, Do Kyungsoo yang berada di kamarnya.

                “Di atas meja makan. Lihat saja!” Balasnya. Lay langsung berlari ke dapur. Dia sudah terlambta. Terlambat menghadiri pertemuan dia dengan yeojachingunya, Kim Hyoyeon. Lay sudah terlambat 15 menit. Ketika Lay sudah tiba di dapur, dia tidak melihat ponselnya sekalipun, mau di meja makan atau tempat lainnya.

                “Ya! Kyungsoo!” Teriak Lay. Kyungsoo langsung muncul dari kamarnya dan tersenyum.

                “Mian. Maksudku meja kamarku.” Kata Kyungsoo sambil berlari ke Lay dan menyodorkan ponsel Lay. Lay langsung mengambilnya kasar.

                “Dasar! Aku kembali jam 10.” Kata Lay lalu berlari ke pintu rumahnya.

                “Ya! Aku juga mau pergi! Jinjja!” Kata Kyungsoo tapi tidak di sahuti oleh Lay. Karena Lay sudah lenyap dari rumah itu.

                Lay berlari untuk mengunjungi sebuah café yang terbilang lumayan jauh dari rumahnya. Kendaraan di rumahnya sedang di bandara karena orang tuanya menitipnya disana, kendaraan Kyungsoo mau digunakan oleh Kyungsoo nanti, dan menunggu taksi itu benar-benar hal yang tidak mungkin. Kata-kata taksi saja tidak terlintas di otaknya. Yang dia ingat hanyalah Hyoyeon.

                Tiba-tiba hujan turun. Lay tidak berhenti merutuki dirinya sendiri. Kenapa tidak dari tadi saja dia pergi menemui Hyoyeon? Mengapa harus menunggu lima menit sebelum janjian baru mau jalan dan sialnya ponselnya lenyap entah kemana karena digunakan oleh Kyungsoo untuk ber-selca ria.

                Tak lama kemudian dia melihat seorang yeoja keluar dari café tujuannya, yeoja yang sangat dia kenali dan berambut blonde dan berpayung merah itu tidak asing di mata Lay.

                “Hyo!!” Panggil Lay. Yeoja itu menoleh ke Lay. Benar dugaan Lay, itu Hyoyeon. Hyoyeon langsung memasang wajahnya yang ceria. Sebenarnya tadi dia mau marah. Tiba-tiba marahnya padam ketika melihat Lay kebahasan karena air hujan.

                “Lay!” Panggil Hyoyeon lalu berlari ke arah Lay dan meneduhi Lay dengan payung yang dia pegang. Lay memberanikan diri untuk memegang pipi Hyoyeon dengan tangannya yang dingin karena kehujanan.

                “Kenapa terlambat?” Tanya Hyoyeon.

                “Mencari ponselku.” Jawab Lay. Hyoyeon langsung mendengus kesal. Bisa-bisanya Lay mengaretkan janjinya dengan Hyoyeon karena sebuah ponsel?

                “Mengecewakan.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Hyoyeon. Lay langsung mendekap Hyoyeon ke dalam pelukannya sedangkan Hyoyeon hanya meronta hingga payung yang Hyoyeon pegang jatuh ke tanah.

                “Lay! Kau basah!” Oceh Hyoyeon sambil mendorong-dorong dada Lay. Sedangkan Lay malah mempererat pelukannya kepada Hyoyeon.

                “Sadarlah, kau sudah basah kuyup sekarang.” Kata Lay sambil mengelus-elus kepala belakang Hyoyeon.

                “Kau yang membuatku basah!” Balas Hyoyeon.

                “Happy 1st Anniversarry, Hyo.” Kata Lay.  Hyoyeon langsung tersenyumlalu membalas pelukan Lay.

                “Happy 1st Anniversarry too, Lay.” Balas Hyoyoen.

                “Kau tidak akan melupakan perayaan kita tahun pertama ini kan?” Tanya Lay.

                “Tentu saja tidak bodoh! Di perayaan tahun pertama ini kau sudah membuatku kebasahan seperti ini.” Jawab Hyoyeon sambil melepas pelukannya dan mengambil payung merah yang jatuh tadi lalu meneduhkan dirinya dengan Lay. Lay langsung mengambil alih payung itu dari Hyoyeon, merangkul Hyoyeon dan berjalan ke arah rumah Hyoyeon.

                “Hyo, dengarkan ini baik-baik ya.” Pinta Lay. Hyoyeon langsung menatapnya dan mengangguk dengan cepat. Bisa terdengar bahwa sekarang Lay mengambil nafas panjang sebelum mengatakan perkataan yang ingin dia katakan itu.

                “Pertama, aku mencintaimu, sungguh.” Kata Lay. Hyoyeon hanya mengangguk.

                “Kedua, hanya kau yeojachinguku. Aku jujur.” Kata Lay. Hyoyeon langsung terkekeh pelan. Sangat aneh kelakuan Lay hari ini.

                “Ketiga, perayaan tahun kedua nanti kau sudah menjadi tunanganku.” Perkataan Lay tadi langsung membuat Hyoyeon terpaku ditempat. Lay yang merasa Hyoyeon tidak disampingnya lagi langsung memutar badannya menghadap ke Hyoyeon dan meneduhinya dari hujan.

                “Ya! Kenapa berhenti?” Tanya Lay.

                “Apa katamu?” Tanya Hyoyeon balik. Lay mengkerutkan keningnya.

                “Kenapa berhenti?” Tanya Lay dengan maksud mengulangi pertanyaanya.

                “Sebelumnya.” Balas Hyoyeon. Lay langsung mengetuk pelan kening Hyoyeon.

                “Bukankah sudah aku bilang tadi bahwa aku tidak mau mengulanginya? Seharusnya kau dengar baik-baik.” Kata Lay.

                “Hanya mau memastikan tahu!” Kata Hyoyeon. Lay langsung merangkul Hyoyeon dan mulai berjalan bersama lagi.

                “Apa yang kau dengar itu pasti benar. Jadi jangan memastikannya lagi.” Kata Lay.

                “Yakin?” Tanya Hyoyeon.

                “Ne. Jangan lupakan itu ya!” Kata Lay.

                “Ya, aku akan selalu mengingat perkataan itu.”

                “Jangan hanya itu, ingatlah bahwa aku selalu mencintaimu.” Kata Lay sambil mengecup puncak kepala Hyoyeon.

When Lay in Loves

***

Suho-Yuri

                “Suaraku..erhh..suaraku..” Erang Suho berkali-kali. Sudah hampir 5 jam dia berlatih menyanyi karena guru les vocalnya kemarin tidak mengajar dan hari ini juga. Padahal dia harus menyanyikan sebuah lagu untuk yeojachingunya, Kwon Yuri. Sebenarnya tidak ada acara special sehingga Suho harus menyanyi. Suho mau menyanyi karena Yuri sudah belajar mati-matian untuk menda[atkan nilai A+ untuk mata pelajarannya di universitasnya.

                “Satu..dua..tiga..Aaa..” Suho mengambil nada suara lagi. Lagi-lagi suaranya hilang karena berlatih secara terus-menerus. Tiba-tiba ponselnya bordering tanda panggilan masuk. Suho langsung melihat panggilan dari siapa itu dan itu dari Yuri. Tidak mungkin kan Suho mengangkat panggilan itu dengan suara setengah hilang? Itu hanya membuat Yuri khawatir. Suho tidak mengangkat panggilannya sampai panggilan itu terputus sendiri.

                Ketika panggilan itu terputus, Suho langsung mengirimkan sebuah pesan untuk Yuri.

                To : My Yuri

                Mianhaeyo, tadi kau di kamar mandi. Ada apa meneleponku?

                Tak lama kemudian balasan dari Yuri muncul.

                From : My Yuri

                Telepon aku lagi atau aku yang meneleponmu?

                Pertanyaan Yuri itu seakan-akan sebuah skak mat untuk Suho. Dengan cepat dia membalas.

                To : My Yuri

                Lewat pesan saja. Aku sedang malas mengeluarkan suara.

                Tiba-tiba ponsel Suho menyala lagi. Kenapa Yuri cepat sekali membalas pesan dari Suho?

                From : My Yuri

                Baiklah, aku meneleponmu.

                Tiba-tiba ponsel Suho bordering lagi. Kenapa Suho mempunyai yeojachingu seperti ini? Ntah ini overprotective, menyebalkan, atau terlalu sayang kepada Suho? Dengan mau tidak mau Suho mengangkat telepon itu.

                “Yeobosseyo?”

                “Hm?”

                “Kau kenapa? Gwaenchanayo?”

                “Gwae..ehm..gwaencaha.”

                “Kau kenapa? Suaramu kenapa seperti itu?”

                “Hm?”

                “Ya! Suho! Jawab aku!”

                “Ne. Da..datang kesi..sini saja.”

                “Tunggu aku.” Tiba-tiba sambungan itu terputus. Seuho menghela nafas panjang. Bagaimana bisa dia membuat wanita yang dia cintai dan wanita yang ingin dia bahagiakan hari ini malah khawatir akan dirinya sendiri? Poor Suho. Setelah itu Suho langsung ke dapur. Membuat teh hangat untuk dirinya dan Yuri nanti.

                Baru saja Suho duduk di sofanya dengan niat menunggu Yuri dating tapi pintu rumahnya sudah terbuka dan Yuri muncul dihadapannya. Bagaimana bisa dia dating secepat itu? Terbang kah?

                “Suho! Kau kenapa?” Tanya Yuri khawatir lalu menghampiri Suho yang duduk di sofa. Suho hanya menggelengkan kepalanya.

                “Jawab aku!” Minta Yuri. Suho bukannya menjawab malah memegangi lehernya. Yuri mengangguk mengerti lalu mengeluarkan iPad dari dalam tas yang dia bawa tadi.

                “Tulis apa yang kau ingin katakana.” Yuri memberikan iPadnya kepada Suho dan Suho menerimanya.

                ‘Suaraku habis.’ Itulah yang ditulis oleh Suho.

                “Kenapa bisa habis?” Tanya Yuri. Suho menulis lagi di iPadnya Yuri itu.

                ‘Berlatih menyanyi.’ Tulis Suho.

                “Berapa lama kau berlatih menyanyi?” Tanya Yuri. Suho menatap jam dinding rumahnya dan membuka telapak tangannya yang menunjukkan lima jarinya.

                “Aigoo, memangnya ada acara apa sampai menyanyi itu? Sayang sekali! Aku rindu suaramu.” Kata Yuri.

                “Aaa..aaa” Suho mengeluarkan suaranya. Suho mau rindu Yuri dengan suaranya hilang ketika mendengar suaranya. Tapi salah besar. Yuri malah makin khawatir.

                “Jaga suaramu!” Suruh Yuri. Suho langsung menulis sebuah kalimat panjang di iPad Yuri. Yuri mau mengintip tulisan apa yang ditulis Suho tapi Suho malah tidak memberi Yuri celah untuk mengintip.

                “Baiklah. Cepat sedikit tulisnya.” Kata Yuri. Tiba-tiba dengan mendadak Suho mengangkat iPad Yuri dan memperlihatkan sebuah tulisan panjang. Yuri yang membacanya hanya tersenyum puas lalu memeluik Suho erat. Apakah kalian penasaran dengan tulisan yang ditulis Suho? Kira-kira seperti ini.

                ‘Suaraku habis karena berlatih menyanyi. Aku berlatih menyanyi karena ingin merayakan nilai A+ milikmu itu. Mengapa? Karena terkadang aku tidak yakin bahwa dengan cintaku padamu kau sudah merasa puas. Cinta butuh pengorbanan bukan?’

                “Bodoh! Tapi tidak mengorbankan suaramu!” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Yuri. Suho memeluk Yuri dalam seakan-akan tiada hari esok untuk mereka berdua.

When Suho in Loves

***

Kyungsoo-Sooyoung

                “Sooyoungie, temui aku di atap sekolah nanti malam.” Kira-kira itu kalimat terakhir Kyungsoo yang di aucapkan kepada sahabat karibnya, Choi Sooyoung. Kini Kyungsoo sudah siap dengan kaos berwarna maroon dengan tulisan CK disana, celana denim, dan sepatu berwarna biru itu semakin memperlihatkan ketampanannya. Kini Kyungsoo berdiri di atap sekolah, dia sudah minta ijin kepada satpam setidaknya untuk meminjam atap sekolah ini untuk rencana dan acaranya.

                Di tengah-tengah atap sekolah ini ada sebuah meja dengan lilin diatasnya, makanan yang sudah disediakan oleh Kyungsoo itu tertutup rapat dengan penutupnya. Sekali lagi Kyungsoo memotret meja itu dengan ponselnya. Dia benar-benar senang dan ingin mengabadikannya. Kini dia melihat arlojinya, jarum arlojinya munjukkan pukul 6.55 yang menandakan orang yang dia tunggu sedari tadi seharusnya sampai 5 menit lagi.

                Choi Sooyoung, rasanya nama itu sudah mempengaruhi isi otak Kyungsoo. Dimana Kyungsoo berada pasti dia melihat dan mengingat Sooyoung walaupun hanya sebatas imajinasi saja. Tiba-tiba pintu yang sedari tadi tertutup terbuka. Muncullah seorang Choi Sooyoung dengan baju lengan panjang dan celana panjang yang dia kenakan itu memberikan kesan simple tapi cantik dan anggun. Apalagi handbag yang dia gunakan itu adalah handbag yang diberikan Kyungsoo ketika tahun baru kemarin.

                “Saengil Chukkahamnida.” Kata Kyungsoo. Sooyoung langsung tersenyum dan berjalan ke arah Kyungsoo.

                “Gomawo.” Jawaban singkat Sooyoung itu telah mengembangkan sebuah senyuman di wajah tampan seorang Kyungsoo.

                “Hm, silahkan duduk.” Ajak Kyungsoo sambil memberikan ruang untuk Sooyoung agar dia bisa duduk di bangku yang sudah disediakan. Sooyoung duduk diatasnya dan Kyungsoo duduk di bangku berhadapan dengan Sooyoung. Cahaya dari lilin itu menerangi mereka di malam hari ini.

                “Kau yang menyiapkan ini semua?” Tanya Sooyoung.

                “Iya. Apakah kau menyukainya?” Tanya Kyungsoo lagi.

                “Aku tersentuh.” Jawab Sooyoung. Sooyoung membuka penutup makanan yang sedari tadi menutup makanannya.

                “Enak kelihatannya.” Kata Sooyoung. Kyungsoo tertawa.

                “Jangan dilihat, makanlah.” Kata Kyungsoo sambil memulai acara makan mereka. Sooyoung mengangguk dan menyuapkan suapan pertama.

                “Hm, mashita!” Kata Sooyoung sambil tersenyum. Kyungsoo yang melihat Sooyoung senang juga tersenyum. Merekapun memakan makanan yang sudah disediakan hingga habis. Apalagi Sooyoung, tanpa sisa.

                Kini mereka menatap pemandangan Seoul dari atap sekolah mereka ini. Sooyoung menatap kendaraan yang masih berlalu-lalang dari atas sini. Sedangkan Kyungsoo malah memerhatikan Sooyoung yang tampil mengajubkan malam ini.

                “Kau cantik malam ini.” Pengakuan Kyungsoo itu membuat Sooyoung merasa malu. Ya, karena Sooyoung seorang humoris jadi dia bisa mengelak dengan mudah.

                “Jadi, kemarin aku jelek?” Tanya Sooyoung yang membuat Kyungsoo bungkam.

                “Tidak. Kau cantik setiap hari.” Jawab Kyungsoo. Sooyoung tersenyum sambil memeluk lengannya sendiri. Dingin malam itu mulai menyeruak ke tubuh mereka.

                “Gomawo.” Balas Sooyoung. Dengan tiba-tiba Kyungsoo memegang tangan Sooyoung, tidak ada penolakkan. Sooyoung malah tersenyum tapi tetap tidak melihat Kyungsoo.

                “Soo, aku mencintaimu.” Kata Kyungsoo. Tak ada respon. Kyungsoopun merasa jengkel.

                “Baiklah, aku dicuekin.” Kata Kyungsoo lagi. Sooyoung langsung menengok ke Kyungsoo.

                “Tidak, aku mendengarkanmu.” Balas Sooyoung.

                “Apa yang aku katakan?” Tanya Kyungsoo. Sooyoung memeras ujung bajunya.

                “Aku mencintaimu.” Dua kata indah itu keluar dari mulut Sooyoung. Kyungsoo langsung tersenyum puas lalu memeluk Sooyoung dari belakang dan meletakkan dagunya di atas bahu Sooyoung.

                “Aku juga mencintaimu.” Balas Kyungsoo. Sooyoung langsung memutar badannya.

                “Ya! Ini jebakan!” Protes Sooyoung.

                “Ini bukan jebakan. Kau yang menjebak dirimu sendiri.” Ledek Kyungsoo sambil menjulurkan lidahnya. Tiba-tiba Sooyoung langsung memeluk Kyungsoo.

                “Gomawoyo. Aku sudah menunggu pengakuanmu dari 3 tahun yang lalu.” Kata Sooyoung. Kyungsoo langsung membalas pelukannya dan tersenyum.

                “Ne. aku juga sudah mempersiapkan malam ini dari 1 minggu yang lalu. Mempersiapkan diriku sekitar 1 bulan yang lalu. Yang terakhir, mempersiapkan hatiku sepenuhnya untukmu sedari dulu.” Kata Kyungsoo.

                “Dari kapan?” Tanya Sooyoung.

                “Cinta tidak butuh awal kan? Jika ada awalnya pasti ada akhirnya. Aku tidak mau cinta kita ada akhirnya.” Jawab Kyungsoo.

When Kyungsoo in Loves

***

Luhan-Yoona-Kai

                Luhan merogoh isi dompetnya yang sudah kosong itu. Berkali-kali dia membuat sebuah harapan aneh. Harapan yang tiba-tiba ‘muncullah uang’. Padahal dompet itu sudah kosong, hanya ada selebar foto dirinya dari beribu foto narsis yang ada di ponselnya.

                “Ayolah! Ada uang! Aku mau bertemu dengannya!” Mohon Luhan. Tapi tetap saja tidak membuahkan haisl. Dompet itu tetap kosong. Mau tidak mau Luhan harus meminta pada umma atau Noonanya. Pertama-tama dia memasuki kamar noonanya yang sedang bermain laptop.

                “Jihyun noona, minta uang dong.” Minta Luhan dengan wajah mirisnya itu. Jihyun, selaku noonanya langsung memusatkan perhatiannya kepada adik semata wayangnya itu.

                “Berapa?” Tanya Jihyun langsung sambil membuka laci di salah satu meja di kamarnya.

                “Bubble tea.” Balas Luhan. Jihyun yang mengerti langsung mengeluarkan beberapa lebar uang dan memberikannya kepada adiknya itu.

                “Belikan satu untukku, coklat.” Mintanya lalu beralih kepada laptopnya lagi.

                “Gomawo!!” Ucap Luhan dengan semangat lalu berlari turun dan keluar rumah. Dengan cepat dia berlari ke kedai bubble tea yang tak jauh dari rumahnya. Tak lama kemudian dia sudah mengantri di kedai bubble tea itu. Dia hanya memerhatikan sang pelayan sekaligus pemilik kedai bubble tea ini dibanding menu yang sudah disediakan. Mengapa? Luhan sudah hafalbetul luar kepala apa saja yang ada di menu tersebut.

                Tiba saatnya Luhan memesan dan beruntungnya tidak ada pelanggan lagi dibelakangnya. Berarti Luhan bisa lebih lama lagi berbicara dengan pemilik kedai ini.

                “Coklat dan Hazelnut. Toppingnya seperti biasa ya.” Kata Luhan. Luhan dan pelayan itu sebenarnya tidak saling mengenal. Hanya sekedar tahu nama. Pelayan itu bernama Im Yoona, itu yang diketahui oleh Luhan. Pelanggan tetap itu bernama Xi Luhan, itu yang diketahui oleh Yoona. Tapi ada kenyaatn lebih perih lagi dibanding yang tadi. Kim Jongin, nama namjachingunya Im Yoona, itu kenyataan pedih dan perih yang diketahui oleh Luhan.

                Luhan tidak mengedipkan matanya sama sekali ketika memandangi pelayan yang didepannya sekarang. Tiba-tiba muncul namja dari arah lain ke arah Yoona dan memeluknya dari belakang. Hal itu membuat Luhan membuang pandangannya ke samping. Yoona yang merasa tidak enak dengan pelanggan tetapnya itu langsung berbsisik kepada namja itu, namjachingunya, Kim Jongin.

                “Jongin-ah, ada pelanggan.” Bisik Yoona. Jonginpun melepas pelukannya sedangkah Yoona masih melanjutkan acaranya membuat bubble tea itu. 2 gelas plastic besar bubble tea itu sudah di masukkan ke dalam plastik.

                “Luhan, ini pesananmu.” Kata Yoona kepada Luhan. Luhan menatap Yoona dan memberikan uang pas.

                “Terima kasih. Besok aku kembali lagi.” Kata Luhan sambil mengedipkan sebelah matanya.

                “Gomawo!” Teriak Yoona dari dalam sambil melambaikan tangannya.

                Kini Luhan berjalan kaki ke rumahnya, tidak berlari seperti orang yang dikejar oleh anjing rabies tadi. Sambil berjalan, menyedot minumannyam dan berfikir. Luhan berfikir, cinta itu tidak harus adil bukan? Tidak harus saling mencintai juga tak apa bukan? Yang penting kita mencintai orang itu dengan tulus walaupun dia tidak tahu seberapa pengorbanan untuk menemuinya. Ya, walapun merengek kepada noonanya sendiri juga termasuk kelakuan kekanak-kanakkan bagi namja yang berumur 18 tahun. Apalagi merengek karena segelas bubble tea.

                Luhan sudah memasuki teras rumahnya dan segera membuang gelas plastik bubble tea yang sudah kosong itu. Luhan menaiki tangga rumahnya dan memberikan bubble tea itu untuk noonanya di kamarnya. Setelah itu Luhan memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang rumahnya itu.

                “Im Yoona, aku mencintaimu sekarang. Tidak butuh balasan, selama aku bahagia aku merasa nyaman. Gomawoyo.

When Luhan in Loves

***

Chen-Seohyun-Tao

                “Aku sudah kenyang.” Pernyataan itu keluar dari mulut Seohyun. Jongdae selaku temannya hanya diam melihat kegalauan Seohyun. Jongdae merebahkan Seohyun di ranjang rumah sakit ini. Ya, Seohyun sedang sakit. Bukan sakit, bahkan lumpuh. Lumpuh sementara tentunya. Sudah malang nasibnya karena lumpuh sementara yang sial itu malah ditinggal oleh namjachingunya, Tao.

                Tao yang mengetahui Seohyun itu lumpuh tiba-tib asaja menghilang dari permukaan Seoul. Jongae sudah berusaha mencari dimana keberadaan Tao demi Seohyun tapi teteap saja nihl. Jongdae tak menemukannya.

                “Jongdae-ah, gomawo.” Kata Seohyun. Jongdae tersenyum lalu duduk di bangku samping ranjang Seohyun.

                “Aku sudah bosan mendengarnya.” Balas Jongdae. Seohyun malah tersenyum.

                “Aku sudah menyusahkanmu kan? Tidak ada Tao. Jadi kau yang mengurusiku. Orang tuaku saja tidak peduli, mereka hanya peduli dengan bisnis mereka di luar sana. Malang.” Seohyun mengasihani dirinya sendiri. Jongdae yang mendengarkannya pun merasa iba.

                “Tenang saja. Aku tidak akan pernah meninggalkan ruangan ini.” Kata Jongdae.

                “Bohong.” Balas Seohyun.

                “Hah?” Respon Jongdae.

                “Bohong kalau kau tidak pernah meninggalkanku di ruangan ini. Tadi subuh kau tidak ada, tadi saat aku tidur siang kau juga tidak ada.” Keluh Seohyun. Jongdae langsung mengeluarkan smirk miliknya. Smirk yang aneh tentunya.

                “Kau kesepian, eoh? Merindukanku?” Tanya Jongdae. Tiba-tiba Seohyun salah tingkah dan tersenyum.

                “Aniyo! Aku hanya bisa merasakannya.” Jawab Seohyun. Lagi-lagi Jongdae tersenyum senang.

                “Sebegitukah kau peka atasku? Bisa merasakan tidak ada aku disini? Omo.”

                “Baiklah, aku menyesal sudah berkata seperti itu.” Kata Seohyun.

                “Aku bercanda.” Balas Jongdae. Tiba-tiba suasana ruangan rumah sakit itu hening sampai Seohyun membuka pembicaraanya lagi.

                “Kalau aku tidak sembuh lagi bagaimana? Apakah kau akan menjagaku terus?” Tanya Seohyun.

                “Kau pasti sembuh. Ini bukan lumpuh permanen, hanya butuh terapi.” Jawab Jongdae.

                “Kalau membutuhkan waktu yang lama?” Tanya Seohyun lagi.

                “Tidak apa, aku akan menemanimu.” Jawab Jongdae.

                “Kalau begitu kapan kau mendapatkan yeojachingu?” Tanya Seohyun. Jongdae tersenyum kecut.

                “Aku yakin kalau aku akan mempunyai yeojachingu saat kau sembuh.”

                “Waeyo? Kenapa harus menungguku sembuh?”

                “Iya, agar kau tahu berapa besar dan kuatnya cintaku padamu dengan cara merawatmu. Aku akan menunggumu sembuh. Jika kau ingin menjadi yeojachinguku sekarang juga tak apa.” Dengan blak-blakkan Jongdae mengaku semua isi hatinya yang sudah dia pendam dari dulu. Jongdae langsung menggenggam kedua tangan Seohyun dan menatap manik mata Seohyun dalam.

                “Lupakan Tao. Lihat aku disini, lihat aku yang mencintaimu.”

When Jongdae in Loves

***

A-K-H-I-R-N-Y-A nih FF berakhir juga. Bagaiamana? Bagus? Gajelas? Jelek? Gak bermutu? Maaf jika tidak memuaskan. Ide udah buntu pas masuk bagian duo magnae dari SNSD ini. Terima kasih yang udah baca ya!!

4 thoughts on “[FF Freelance] When Man in Loves (Oneshot)

  1. Woaaaaa aku suka bget yeolfany nya ≧﹏≦♥ pkok klo pairingnya exofany suka bgetttttt ヽ(^。^)ノ daebakkkkkk!!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s