[FF Freelance] Romantic Guy (Oneshot)

Romantic Guy Cover

Title                : Romantic Guy

Aouthor          : A

Rating            : NC-17

Length            : Oneshot

Genre             : Lime and Romance

Email              : anggiwidiyanisautami@gmail.com

Main cast’s     : Park Shin Hye and Lee Donghae

Backsong        : Christina Perri (A Thousand Years) | Danity Kane (Stay With Me)

Disclaimer      :

Sebelumnya saya ingin menekankan bahwa FF ini tidak dianjurkan untuk para Readers dibawah umur 17tahun karena FF sungguh sangat tidak cocok bila dibaca Anda sekalian. Memang sengaja saya tidak mem-protec FF ini pasalnya saya tidak ingin menyulitkan para Readers (17tahun ke atas) untuk membaca karya saya yang GILA ini. Benar-benar tidak habis pikir saya akan membuat FF semacam ini dan itu sangat sulit serta membutuhkan albi yang sangat peka. Rasanya saya ingin menutupi wajah dengan bantal (/_\). FF ini terinspirasi dari film Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1. Selamat membaca maaf jika banyak typo-typo atau alur yang tidak jelas serta kata-kata yang sulit untuk dimengerti, karena saya buka manusia sempurna. Haha.

 

Romantic Guy by StorylineA©

M

ataku yang terpesona dengan tempat pernikahanku sendiri mulai terasa memproduksi air mata yang tak mampu kukeluarkan, semua tertahan pada kantong-kantong mataku. Jantungku yang berdegup kencangpun tak mau kalah meramaikan suasana yang kunanti-nanti selama ini dan kupikir Donghae-pun juga begitu. Semua seirama dengan nafas yang memburu dan tubuhku yang bergetar karena gugup dengan hal yang baru kali pertama kulakukan yakni pernikahan. Setelah ini orang-orang tidak akan memanggilku Shinhye-ah atau Park-ssi namun Lee-ssi. Hah, aku tidak habis pikir bagaimana aku akan menyadang panggilan baru itu, jujur saja baru kali ini aku minder bila mengenang hubunganku bersama namja yang tampan itu. Lee Donghae-ku.

Ketika pikiranku berfantasi kesana-kemari tiba-tiba juluran sebuah lengan yang berbalut kain hitam seperti salah satu gabungan sebuah jas menelusub melingkari lengan kiriku. Tangan yang berpigmen putih susu dengan sedikit kerutan dapat kutebak bahwa pria ini adalah Appa-ku.

Kulemparkan senyuman pada Beliau yang juga ikut gugup gara-gara melihat putrinya sendiri bergetaran diseluruh tubuh. Beliau membalas senyumanku dengan lembut dan lebar seraya menepuk-nepuk tanganku bak membubuhkan energi-energi yang luar biasa.

Beliau berbisik “Kau siap?”

Kontan kuanggukkan kepala samar dan lebih menegakkan tubuhku yang berbalut gaun putih beraksen bling-bling namun simple yang hanya menutupi hingga dada dibagian depan serta punggung bagian bawah dibagian belakang. Bahkan angin lembut yang berhembuspun, punggungku dapat merasakannya. Mahkota kepalaku yang terta apik dengan tertutup tudung transparan seperti jaring-jaring halus hingga menjulur kebawah dan sebuah buket mawar putih yang harum turut mempercantik penampilanku dihari special.

Kaki Appa melangkah terlebih dahulu baru diikuti langkahan kakiku, tanganku kutautkan begitu kencang pada lengan Appa yang membimbingku menuju altar. Kami berdua berjalan begitu pelan sembari menebarkan senyuman pada setiap tamu yang hadir. Semua tamu berdiri menyambutku yang telah tiba. Berjalan lurus dan hanya terfokus pada namja diujung sana yang mengenakan jas hitam, Donghae begitu tampan.

Sungguh aku tidak memperhatikan setiap tamu yang berdiri untukku, aku tidak melihat Omma, mertuaku, teman-temanku, bahkan kerabatku. Mataku hanya tertuju pada Donghae, cintaku yang sebentar lagi akan menjadi suamiku yang menemaniku untuk selamanya. Bila mengingat masa-masa pacaran antara aku dengannya, hari ini adalah masa yang sangat membahagiakan bagiku karena dapat menyatukan cinta yang sudah tetahan hampir lima tahun lamanya.

Senyum Donghae yang begitu sumringah terlihat jika ia sangat bahagia seperti aku, matanya tak henti-hentinya memandang diriku yang mulai tersipu malu. Kedua mata Donghae dapat kutangkap jika berkaca-kaca, ia ingin menangis. Jangan, jangan kumohon chagiya. Kau terlalu tampan jika untuk menangis.

Dan kali ini tembang milik Christina Perri yang berjudul A Thousand Years terdengar sayup ditelingaku, melayang bersama aroma sejuta bunga dihalaman belakang yang digubah menjadi tempat wedding super spektakuler bertemakan putih dan bunga. Sekonyong-konyong music bertarnsformasi menjadi lagu khas sebuah pernikahan yang familiar terdengar jika perhelatan pernikahan sedang berlangsung. Saat dimana sang pengantin berjalan menuju altar yang mengikat janji sacral untuk kedua insang yang bercinta.

Tak sadar jarak kami hampir mendekati altar mungkin tujuh langkah lagi, sebuah senyuman manis terlukis pada wajah Donghae yang tidak sabar menyentuh tanganku. namun disisi lain jantungku semakin berdebar-debar kencang melebihi batas wajar. Yang membuatku semakin goyah dalam berjalan hingga nyaris terjatuh. Untung saja lenganku terikat dengan lengan Appa, setidaknya dapat menanhanku dan memperkecil rasa malu.

“Hati-hati” kata Appa lirih.

Appa masih membimbingku menuju altar hingga kami sampai tepat didepan Donghae, dengan sigap tangan Appa melepaskan tanganku dan menyerahkan kepada Donghae. Dengan terbuka tangan Donghae menengadah tanganku lalu kedua jari-jari kami saling berselip membentuk sebuah genggaman erat. Sementara Appa meninggalkan tempatnya dan berkunjung pada kursi yang memang diruntuhkan untuknya.

“You’re beautiful”

“Thanks.” Balasku manis.

Kali ini giliran Donghae yang membimbingku untuk berjalan hingga depan meja Pendeta yang diatasnya sudah terdapat kitab injil bersampul coklat tua. Disamping kanan dan kiri berdirilah malaikat-malaikat kecil yang membawa buket dan kranjang bunga, semua menyapaku dengan senyum yang mereka miliki. Sangat lucu, apalagi mereka mengenakan mahkota yang terbuat dari ikatan bunga. Ingin rasanya memeluk anak-anak itu dasarnya aku juga menyukai anak kecil. Oh, kalian manis sekali.

Dalam jalanku, diam-diam kedua mataku melirik wajah Donghae yang begitu putih dan tampan. Senyumnya yang tak henti-hentinya ia tunjukan pada setiap orang ditempat ini karena bahagia dapat meminangku. Sebuah pencapaian yang lama dan sulit dapat berdiri disini, lima tahun menjalin hubungan dengan berbagai cobaan dan masalah namun bukankah itu bumbu sebuah hubungan jika ingin berjalan abadi? Berlum pernah Donghae berkata kasar padaku bahkan tangannya, membentakku saja tidak pernah. Kata-kata dan tindakkannya selalu baik dimataku.

“Kita hampir sampai. Palingkan pandanganmu!” tutur Donghae yang membuatku buyar akan pemikiranku mengenainya.

Setelah kami berdua sampai tepat didepan meja Pendeta, dengan lantang Pendeta yang kira-kira berumur 50-an itu menyerukan bagi para hadirin dan tamu untuk duduk kembali. dikarenakan upacara pernikahan akan segera dimulai. Tak terhelakan lagi aku semakin gugup saja, apakah Donghae juga gugup sepertiku? Entahlah, memikirkan diriku sendiri saja sudah tak karuhan, membuat keringat panas dingin disekujur tubuhku.

“Berdirilah dengan saling berhadapan!” suruh Pendeta ramah.

Kamipun menuruti permintaannya dan segera berpaling pandang untuk saling berhadapan, kedua tangan Donghae meraih kedua tanganku, lagi-lagi ia tersenyum lebar. Justru aku yang kini semakin gugup dibuatnya. Jempolnya kurasakan menekan-nekan halus kedalam permukaan tanganku memberikan sensasi nyaman seirama kuatur kembali setiap tarikan dan hembusan napasku yang tak beraturan.

“Kau, Lee Donghae bersediakah mencintai dan mengasihi Park Shin Hye sampai maut memisahkan kalian?”

“Saya bersedia”

“Kau, Lee Donghae bersediakah menerima Park Shin Hye sebagi istrimu sampai maut memisahkan kalian?”

“Saya bersedia”

Aku barus sadar diriku menangis setelah tiba waktunya bagiku untuk mengucapkan janji setia.

“Kau Park Shin Hye, bersediakah kau menemani Lee Donghae disaat senang maupun susah sampai maut memisahkan kalian?”

Kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya seirama dengan jawaban “Saya bersedia”

“Kau Park Shin Hye bersediakah menerima Lee Donghae menjadi suamimu sampai maut memisahkan kalian?”

“Saya bersedia”

“Dan untuk kalian berdua, bersediakah kalian akan selalu mencintai dan mengasihi pasangan kalian, menerima kelebihan maupun kekurangan pasangan kalian serta menemani pasangan disaat suka maupun duka sampai maut memisahkan kalian?”

“Kami bersedia.” jawab serempak antara aku dan Donghae.

Janji setia kami sederhana, kata-kata tradisional yang sudah diucapkan jutaan kali. Pendetapun menyatakan kami sah sebagi suami-istri, kemudian kedua tangan Donghae yang tadinya menggenggam tanganku terangkat, merengkuh wajahku dengan hati-hati, seolah-olah wajahku serapuh kelopak bunga putih. Aku berusaha mencerna, walaupun air mata mengaburkan pandanganku, fakta jika Donghae telah menjadi milikku.

Ia menurunkan kepalanya ke kepalaku, dan aku berjinjit sembari mengulurkan kedua lenganku memeluk lehernya. Ia mencium bibirku dengan lembut namun bergairah. Aku langsung terlupa akan semua hal ditempat ini entah tamu, orang tuaku, mertuaku, teman-teman, atau kerabat. Yang kuingat hanyalah Donghae dan perasaanku yang sangat mencintai Lee Donghae.

Aku masih menggelayut mesra padanya dan kedua bibir kami masih menyeka satu sama lain, aku suka ciuman Donghae. Donghae yang memulai menciumku, dan ia pula yang harus mengakhirinya tak memedulikan decakan dan dehaman para tamu. Akhirnya Donghae menahan wajahku dan menarik wajahku lalu menatapku. Lukisan senyum yang kusuka itu timbul lagi.

“Sarangata” cletuk Donghae.

“Nado sarangata” balasku seraya memberikan ciuman penutup pada bibirnya, ia pun membalas dengan kecupan pada dahiku.

Para tamu bersorak, dan Donghae memutar tubuh kami sehingga menghadap ke arah para tamu. Aku tak mampu mengalihkan pandanganku darinya untuk melihat mereka.

Ommaku yang pertama kali memelukku dengan berlinang air mata kemudian aku diserahkan ke kerumunan para tamu, berpindah dari satu pelukan ke pelukan lain. Aku dapat mengenali dengan jelas setiap orang yang memelukku dari yang sangat kukenal hingga samar-samar yang kukenal, mungkin itu teman dari keluarga Donghae. Mereka mengucapkan selamat atas pernikahan kami, terima kasih untuk semuanya.

………..

Pernikahan beralih dengan mulus ke pesta resepsi. Senja baru saja melingkup dibalik awan orange kemerah-merahan. Lampu-lampu di pepohonan berpendar-pendar membuat bunga-bunga putih berkilauan. Disini terdapat beribu-ribu bunga yang menghiasi setiap sudut tak terkecuali lantai dansa. Suasana sedikit mereda pasalnya  lantunan music romatis sedang mengiringi orang-orang yang berdansa tak terkecuali aku dan Donghae bersatu dengan desiran angin senja yang hangat dibulan Agustus.

Kedua lenganku melingkar pada leher Donghae, kedua tangan Donghae melingkar pada pinggangku yang terbuka, sedangkan dahi kami saling bersandar dan menyatu, kaki kami melangkah kecil untuk menciptakan sebuah gerakan hingga orang dapat melihat jika kami memang sedang berdansa. Hembusan nafasnya memantul pada kedua mataku yang sedikit membuat perih tetapi tak kuhiraukan terlalu.

“Apa kau sangat bahagia?” tutur Donghae sembari menarik tubuhku kedalam pelukannya yang lebih dekat.

Tawa kalengku terbuka “Sedikit”

“Mwo?”

Aku tertawa geli melihat ekspresinya. Menyadari bahwa ia sedang dikerjai dengan sigap bibirnya mencium bibirku.

“Dasar”

“Ada kejutan untukmu” timpal Donghae yang membuat penasaran diriku.

Lalu ia menjauh dariku dan berjalan menuju panggung mini yang disiapkan untuk gerombolan pemain music okestra. Ia tampak bercakap-capak sebentar dengan seorang paman yang membawa gitar kemudian sang paman memberikan kode pada anak buahnya untuk memainkan sebuah lagu. Permulaan terdengar suara piano kemudian diikuti biola dan Donghae-pun mulai bernyanyi Stay With Me milik Danity Kane

Stay with me

Don’t let me go

Cause I can be

Without you

Just stay with me

And hold me close

Because I’ve built my world around you

And I don’t wanna know whats it like without you

So stay with me

Just stay with me

Selesai merampungkan lagunya, Donghae bercakap sebentar dengan tangan kanannya membawa segelas anggur yang tinggal seperempatnya saja “Aku bahagia, sungguh aku sangat bahagia karena hari ini aku dapat menikahi gadis yang sangat kucintai, gadis yang selama lima tahun terakhir menemaniku. Ia selalu tersenyum bila disampingku dan jarang ia mengeluarkan air matanya. Ia gadis yang manja namun mandiri, kata-katanya yang kusukai adalah ‘sarangata Chagiya’. Gomapta kepada Tuhan dan kalian semua yang telah mendukung hubungan kami hingga sampai kejenjang ini. Aku dan gadis ini sangat bahagia, gadis yang cantik dan baik hati, ia sedang berdiri dilantai dansa dengan mengenakan gaun pengantin yang indah. Park Shin Hye…” kontan semua tamu memandang ke arahku “Sarangata.”

Semua bertepuk tangan dengan meriahnya dan disaat itu pula, air mataku tak terbendung dengan derasnya mengalir melewati pipiku dan terjatuh ke lantai dansa.

“Nado sarangata” ucapku lirih.

 

Pelepasan kamipun telah tiba, semua yang disini tinggal keluarga dekat dan beberapa teman dekat. Semua berkrumun didepan rumah Donghae, disana pula telah terpasang mobil hitam mewah milik Donghae. Sementara aku masih sibuk berganti baju dikamar Donghae, kamarnya terlalu rapi dan bersih jika diukur untuk seorang namja. Sebuah dress mini berwarna coklat marun telah menjadi pilihanku dengan lengan yang terbuka. Setahap demi setahap aku melepaskan gaun putih ini dari tubuhku dan segera memakai dress pilihanku.

Ketukan pintu terdengar begitu brisik ditelinganku “Masuklah!” seruku dengan marah.

Lalu aku tak menengok siapa gerangan orang yang berjalan mendekatiku, aku lebih memfokuskan pada merapikan penampilanku didepan cermin.

“Cepatlah! Suamimu sudah menunggu di bawah” terkak sebuah suara parau milik Appa.

Aku berpaling menghadap arah dimana Appa berdiri “Ne, sebentar lagi” diakhiri sebuah senyum kecil sambil masih sibuk membenarkan penampilanku.

“Koper sudah siap dibagasi, adikmu yang melakukannya”

“Sena? Bocah itu? jarang sekali ia perhatian padaku”

Appa terkekeh mendengarnya dan berhambur memelukku “Mulai sekarang kita tak lagi tinggal bersama dan aku tak bisa melihat kau bertengkar dengan adikmu tiap harinya, aku yakin Sena pasti sangat kehilangan dirimu” kemudian suranya semakin merendah “Kali ini aku harus melepaskan salah satu putriku untuk orang lain”

“Appa”

Suara tangisan Appa terpecah sedetik kemudian. Wajar jika Beliau bersikap sebegini jadinya karena akulah putrinya yang paling dekat dengannya dan selalu mengertinya. Setelah Appa dan Omma bercerai, Park Se Na lebih memilih tinggal dengan Omma dan aku bersama Appa. Jadi jarang jika Sena ada didekat Appa apalagi sosok seorang Omma. Aku juga merasa sedih harus membiarkan Appa tinggal sendiri, namun bagimana lagi ini saatnya aku hidup dengan suamiku. Appa aku berjanji, aku akan lebih sering-sering mengunjungimu. Dan kupastikan Sena juga menginap dirumah untuk menemani Appa walau hanya seminggu satu kali. Jangan bersedih Appa.

Prok.. prok.. prok… kelihatannya orangnya sedikit namun jika ditlisik dari unsur suara, sungguh terdengar riuh. Baru saja aku turun dari anak tangga bersama Appa langsung semua orang member tepukan tangan dan menyebarkan serpihan-serpihan kelopak bunga. Sesampainya disamping Donghae gilirannya sesi berpelukan

“Oh~putriku, Omma akan merindukanmu” kata Omma dengan memeluk erat tubuhku.

“Aku juga”

Beliau langsung menarik pelukannya dan mencium dahiku dan beralih pada Donghae, ia melakukan hal yang sama dengan suamiku.

“Onni?” tutur Sena seraya memelukku “Ada kejutan dalam kopermu”

“Mwo?”

“Jangan bertanya, kalau aku jawab namanya bukan kejutan” protes Sena yang sudah tak memelukku.

Pletakkk… sentilan manis kudaratkan pada dahi adikku ini “ Jika kau mengatakannya juga buka kejutan namanya, seharusnya kau menyimpannya”

“Cakkkk… dasar Onni galak”

Aku melihat disampingku juga terdapat mertuaku yang sedang memeluk Donghae. Saat-saat yang membahagiakan kini malah berubah menjadi haru karena kepergian kami untuk bermulan madu. Bukankah ini sudah biasa menjadi ritual pasangan pengantin baru? Tetapi kenapa mereka masih saja menangis? Aku sungguh tidak senang dengan suasana ini, aku ingin melihat senyum mereka yang merkah bukannya piluh.

Sesi berpelukanpun selesai dengan cepat Donghae membukakan pintu mobil untukku dan ia beralih memasuki mobil. Ia menghidupkan mobilnya tetapi sebelumnya kami memberikan lambaian tangan kepada keluarga dan teman-teman kami dilaur sana. Serempak mereka membalas lambaian tangan kami, aku melihat Appa yang hanya terdiam saja memandang kearahku. Ia tak akan dapat melihat diriku yang juga ikut menangis sepertinya karena kaca mobil ini berwarna hitam namun aku dapat melihat Beliau jika ia sedang menangis.

Rengkuhan tangan Donghae mengejutkannku, ia menandakan jika waktunya berangkat menuju tempat yang akupun tak mengetahuinya. Ini menjadi rahasia besar Donghae, tempat bulanmadu kami. Raungan mobil yang kuntumpangi ini merongrong dengan keras dan meluncur bak macan sedang mengejar mangsa. Aku beralih pada sepion mobil untuk melihat orang-orang yang masih diam memandangi kepergian kami hingga bayangan itu semakin mengecil dan hilang.

Isakan tangisku menjadi satu-satunya suara dalam mobil ini selain suara mesin mobil pastinya dan tangan Donghae masih merengkuh tanganku erat. Begitu fasihnya ia mengendari mobil bahkan hanya dengan satu tangan.

“Dimana tempatnya?” suaraku memecahkan keheningan.

“Sebuah tempat yang akan kau sukai” jawabnya.

“Ne, tapi dimana?”

“Sabarlah” terkanya dengan mesem.

Benar saja, ia kembali bermain kucing-kucingan denganku. Entahlah ingin kemana kami berbulan madu untuk pertama kalinya ini. Pikiranku terlalu lelah jika harus menerka-nerka dimana tujuan kami hinggap. Kutarik tangan Donghae hingga dadaku membawanya kedalam kelelahan, kusandarkan kepala pada kursi nyaman berkulit hitam kinclong dan terlelap. Tangan Donghae semakin merengkuh erat tanganku. hah, akhirnya dapat terlelap sebentar, kupastikan Donghae sedang tersenyum kali ini.

“Yeobo, bangunlah!” sebuah suara lembut merangsang pada gendang telingaku.

“Bangunlah!”

Kelopak mataku membuka ketika suara terakhir berhenti, mataku masih berkejab-kejab mengautkan radar penglihatan agar lebih jelas. Punggungku dan bahuku terasa nyeri dan panas mungkin karena terlalu lama bersandar pada kursi mobil. Aku mengerdikan bahu dan berpaling pada wajah Donghae yang berjarak hanya lima sentimeter saja dari wajahku.

“Kita sudah sampai” sergap Donghae gembira.

“Congmal?” tanyaku parau.

“Ne, kajja” ajak Donghae dengan melepaskan sit belt yang melintang miring pada tubuhku tapi aku malah tertunduk lesu bahkan mataku sangat sulit untuk membuka dengan lebar.

Donghae terkekeh melihat tingkahku yang seperti anak kecil lalu ia keluar mobil terlebih dahulu dan membuka pintu pada bagian kursiku. Ia menunduk dan meletakkan tangannya ke bagian kepalaku dan pinggangku, ia membopongku memasuki sebuah rumah berkaca yang bercahaya. Kepalaku tersandar pada dada bidangnya yang hanya berbalut kemeja putih, walau masih setengah sadar tapi aku dapat melihat ia tersenyum setiap melihatku.

Kami melewati pintu utama dengan sigap aroma wangi langsung membelalakkan mataku, tidak, tidak bahkan bau wangi ini bukan tercipta dari bunga segar namun ada campuran bakaran lilin terapi. Terpesonanya diriku ketika mendapati seluruh ruangan ini hanya berdinding kaca bahkan yang berdinding tembokpun hanya sedikit. Semua dekorasi, aksen, perabotan, dan cat terdominasi oleh warna putih dan abu-abu. Mulutku masih malas untuk bertanya pada Donghae hingga ia menurunkanku pada sebuah ruangan tepatnya sebuah kamar yang keseluruhannya berwarna putih dan coklat. Tubuhku masih terhyung ketika Donghae menurunkanku sehingga tangan Donghae perlu memegangi tubuhku agar tidak tersungkur ke lantai.

Semua sudut-sudut di kamar ini dihiasi bunga-bunga dan lilin-lilin yang cantik bahkan diatas ranjang kamipun bertaburan kelopak bunga berwarna merah dan putih. Aku tersenyum geli melihat keajaiban ini di depanku ini. Aku mulai gugup dan gerah melihat ini semua, rasa percaya diriku hampir low saja. Donghae yang menyadari istrinya gugup langsung membelai tengkukku, menghapus titik kringat. Aku menelan ludah dengan suara keras, masih memunggunginya.

“Kau butuh mandi?” ia menarik napas dalam-dalam, suaranya terdengar lebih santai waktu ia berbicara “Aku sudah menyuruh orang untu menyiapkan air hangat untukmu. Aku akan mengambil koper di mobil.” Aku mengangguk kaku, bibir Donghae menyapu leherku tepat dibawah telinga. Ia terkekeh saat menghembuskan napasnya “Jangan terlalu lama Nyonya Lee.” Aku terlonjak sedikit mendengar nama baruku. Namun bibir Donghae masih menyusuri leherku hingga ke pangkal bahu “ Aku menunggumu.”

Ia segera berlalu meninggalkanku untuk mengambil koper, sementara aku hanya dapat menyaksikan punggungnya yang semakin menghilang dan tertutup tirai transparan. Tanganku tanpa sadar menyisir rambut panjangku  dengan wajah tersipu-sipu yang kontan membuat tubuhku semakin gugup dan gugup. Kakiku yang telanjang berjalan lebih memasuki kamar yang super duper besar ini hingga aku mendengar percikan air yang kupastikan adalah sumber kamar mandi. Segera aku berlari kecil menuju kamar mandi.

Aku menarik nafas dalam-dalam didepan cermin yang membentang di atas konter panjang. Wajahku terlihat orang yang tertidur seharian bahkan rambut panjangku terlihat kusut. Kuambil air dan mencuci muka beberapa kali serta tidak lupa gosok gigi. Kulitku terasa lebih panas dan gerah, melihat air di bak mandi membuat hatiku ingin mandi sekalian. Kulepaskan dress yang menempel pada tubuhku seraya berjalan memasuki bak mandi yang berisi air hangat dan bunga-bunga lagi.

Kubersihkan setiap lekuk tubuhku dan menggosoknya hingga bersih dengan busa yang melimpah dari dalam kamar mandi, aku dapat mendengar bahwa Donghae telah tiba dan kupikir ia sedang membongkar isi koper yang kami bawa. Nafasku semakin memburu, kurasa mandi tengah malamku ini sudah selesai, rasa kesetpun dapat kurasakan pada kulit putih. Lalu kuberanjak dari bak mandi dan mengambil handuk putih yang terlipat tak jauh dari tempat kuberdiri.

Belum selesai handuk putih ini melingkari tubuhku tiba-tiba Donghae masuk kamar mandi sontak membuatku terkejut bahkan handuk yang tadinya separo melilit tubuhkupun terjatuh dilantai marmer yang dingin. Menyadari hal ini aku tidak bergerak sedikitpun, aku hanya terkekeh dengan wajah Donghae yang juga terkejut melihatku telanjang. Donghae pun membuka kancing kemejanya dan melepaskannya, ia langsung menghampiriku dan menatapku dalam dan berucap “Akan kubuat kau bahagia mala mini dan selamanya.” Tangan Donghae merengkuh tengkukku dan ia membungkukk untuk menciumku. Ciuman yang hangat dan mesra serta semakin lama makin panas. Kukumpulkan kepercayaan diriku untuk menggelayut pada lehernya, lehernya terasa licin dan aroma tubuhnya begitu merasuk pada lubang hidungku. Donghaepun semakin memelukku erat bahkan bibirnya semakin melumat bibirku dengan panas. Kami tak memperdulikan cairan saliva yang berceceran disekeliling bibir kami.

Kemudian Donghae membopongku keluar kamar mandi dan membaringkanku pada ranjang yang bertaburan bunga-bunga, ia melepaskan celananya sebelum meringkuhku di ranjang.  Tangan besarnya meremas lenganku, ia kembali mencium bibirku dan leherku hingga bahu bahkan lenganku. Ia selalu meninggalkan jejak ciuman pada kulitku dan aku hanya dapat menikamtinya.

Kedua tanganku meremas punggung Donghae yang telanjang, ia menyeka semua bantal disamping dan memberikan kuposisi ternyaman. Nafas kami yang memburu saling berhembus dalam wajah. Kutarik wajahku dari wajah Donghae dan terdiam seraya memandang wajah namja yang sekarang tidur bersamaku. Lalu ia mengecup kening, kedua mataku, hidung, dan bibirku.

“Aku akan melakukan dengan baik” janjinya padaku sambil membelai rambutku.

“Aku percaya padamu.” aku kembali menenggelamkan ciuman pada bibirnya.

Malam ini akan menjadi malam yang paling membahagiakan untuk kami, malam yang begitu istimewa dan panjang. Waktunya untuk bercinta. Malam ini tak akan pernah kulupakan.

 

Matahari, terasa panas di kulit punggungku yang terbuka, membangunkanku di pagi hari. Aku masih mersa lelah atas semalam namun aku tak ingin mempermasalahkannya. Walau mataku belum kubuka tetapi indra perabaku amsih berfungsi, jari-jari Donghae membelai punggungku membentuk pola-pola abstrak nyaris tidak menyentuhnya saat ia menyusurinya dengan ujung jari. Aku merasa nyaman dan cukup bahagia berbaring saja di sini selamanya, melihat tubuhku yang terkena sinar matahari, Donghae langsung menarik selimut pada bagian tubuhku yang terkena sinar matahari dan aku semakin meringkuh dalam peluknya.

“Kau sudah bangun, Yeobo?” terka Donghae lembut namun tetap terdengar parau.

Aku sengaja diam, membiarkan ia menerka-nerka sendiri.

Ia lalu mengglitikiku yang membuatku geli, tawaku memecah seketika itu juga “Yeobo hentikan!” tetap saja ia tak berhenti mengglitikiku.

“Aku tidak akan berhenti sebelum kau mengatakan ‘aku mencintaimu sayang’.” Ancamnya.

“Cihhh, sarangata Yeobo.”

Ia tersenyum lebar lalu meminta ciuman dariku. Aku tolak permintaannya dan menutupi bibirku dengan tanganku tetapi Donghae dengan paksa menarik tanganku dan mencuri ciuman itu.

“Akan kusiapkan sarapan untukmu, gadisku” ia beralih beranjak dari ranjang menuju kamar mandi dan tidak berapa lama Donghae keluar dengan mengenakan kaos V dan celana pendeknya yang sepadan, sementara aku masih berbaring diatas ranjang.

………….

Selesai bebersih diri, aku menghampiri meja rias dengan mengenakan pakaian berenda. Kusisir rambut panjangku dengan sisir yang telah tersedia lalu mengoleskan krim pada wajahku. Sekonyong-konyong benakku teringat pada kejutan di dalam koper yang di katakana Sena, mataku tersimpul pada koper yang belum kubuka sama sekali dipojok sana dengan sigap kuhampiri koper hitam besar itu dan membukanya.

Betapa terkejutnya aku mengetahui jika isi dalam koper itu adalah sebuah boneka beruang kesayanganku yang sudah diminta oleh Sena sejak masih duduk dibangku SMU. Aku tidak menyangka jika boneka beruangan ini akan kembali lagi apaku. Bila mengingat, kemarin-kemarin aku hanya dapat memandangnya sedih karena terletak di kamar Sena tapi sekarang boneka ini benar-benar kembali padaku. Oh~adikku itu, manis sekali walau menyebalkan.

Segera aku setengah berlari memeluk Donghae yang sedang sibuk dengan masakan yang terlihat seperti masakan eropa. Karena terlihat dari bahan bakunya. Kupeluk ia dari arah belakang dan mencium bahu lebarnya dengan gembira.

“Bonekaku kembali”

“Mwo?” seru Donghae tak mengerti.

“Boneka beruangku kembali. boneka yang diminta Sena saat masih SMU, kau ingat?” tuturku mengingatkan akan hal yang pernah kuceritakan.

Donghae terlihat berpikir sebelum akhirnya ia mengingatnya “Oh~itu, ne aku ingat. Lalu?”

“Aku sangat bahagia”

“Jinjja?”

“Ne, apa kau tidak bisa melihat kebahagiaanku?” protesku pada sosok namja yang kini telah menjadi suamiku ini.

Tangannya meletakkan spatula yang ia genggam dan berputar kearahku, dengan lembut tangannya menyapu wajahku dan rambutku kemudian ia memberikan ciuman pada leherku yang terbuka. Sungguh, saat ini aku merasa risih karena mengenakan pakian mini berenda bahkan bra dan CD-ku pun dapat terlihat. Perlahan ia melepaskan clemek yang mengikat pada tubuh kekarnya dan mendekapku erat kedalam pelukannya. Saat ini Donghae beralih mencium bibi basahku, aku suka ciumannya.

Perlahan kutarik wajahku menjauh darinya, kurapa mata, hidung, pipi, dan bibir Donghae yang bersinar bak malaikat karena terkena pantulan cahaya yang menerobos melalui jendela mungil dekat pentri dapur.

“Kau istriku yang tercantik” puji Donghae lirih.

“Aku tahu. Mau apa kita hari ini? Bagaimana jika jalan-jalan menikamti udara segar” usulku.

“Diluar terik matahari sedikit panas”

“Ngng, bagaimana jika menonton film terbaru”

“Ani”

Mulutku kukrucutkan untuk menandakan jika aku telah lelah bernegoisasi dengannya yang sontak disambutnya dengan ciuman lagi.

“Bagaimana jika membuat adik bayi, bukan kah kau ingin segera memiliki anak?”

“APA???”

Setengah mesem kupura-pura terkejut, aku sengaja untuk menolaknya. Baru saja tadi malam kita melakukannya masa’ sekarang harus juga.

“We?” protes Donghae sambil berkacak pinggang.

“Badanku sedang tidak enak, karena mandi terlalu larut tadi malam” oh Tuhan kuharap Donghae mengerti maksudku.

Dengan mata sipitnya ia menunduk mendekatkan wajahnya pada wajahku “Yeobo?” panggil Donghae lirih namun matanya melihat pada arah belakangku, itu membuatku sedikit ngeri.

“Mwo?” tanyaku jirih.

“Lihatlah ada seseorang disana!” tutur Donghae seraya membalikan badanku untuk memperlihatkan siapa gerangan orang yang dimaksud Donghae.

“Mana? Aku tak melihat apapun”

“Yakkkkk!!! Yeobo???” triakku ketika Donghae tiba-tiba membopongku.

“Turunkan aku!”

“Ani, Yeobo” ia tersenyum bahagia seraya membawaku menuju kamar.

Hahaha, pernah saat sebelum kami menikah. Donghae mengatakan jika ia ingin memiliki 11 anak, setelah itu ia kan mendirikan club bola bernamakan Lee United. Hahah, sungguh lucu keinginannya. Hah, bahagianya dapat menemukan pria seromatis Donghae. Namja baik, perhatian, menghargai, dan bertanggung jawab. Gomapta Tuhan telah mengirimkanku seorang suami yang menurutku terlalu sempurna ini. Kuharap janji sacral pada pernikahan kami dapat menjadi kenyataan, walau hanya maut yang dapat memisahkan raga dan cinta kami, Amin.

“Yeobo, sarangata”

“Nado sarangata, Yeobo.”

Donghae menciumku.

 

The End

 

 

 

 

Note : Oh God, rasanya aku terlalu gila saat membuat FF ini. Readers jangan pada muak ya saat baca FF ini. Ini hanya fiktif saja (maksud loh???) jangan lupa comment, kritik atau saran pada FF ini. Gomapta, mianata jika saya telah hilaf, MALUUU TUTUP MUKA!!! huhihihi J

27 thoughts on “[FF Freelance] Romantic Guy (Oneshot)

  1. woah daebak romantis,so sweet hah sampe speechless nih thor mau comment apa lagi pokoknya daebak lah ff nya!! ^^

    • ohh? yaa Tuhan benarkah? jadi saya orang pertama yang buatnya donggg. tersanjung saya jadinya. hahah makasih yaa 🙂

  2. kerennn bgt chingu (y) snyum² sendiri waktu baca hhaha..
    req dong chingu yg castnya park shin hye sama cho kyuhyun..:D

  3. Romantis, so sweet. Baru kali ini baca ff PSH dgn donghae.
    author knpa memasangkan dgn donghae ? (sekedar pngen tau) 😀

  4. Bagus author, romantic banget pasangan ini 🙂 tapi kalo boleh kasih saran, kasih sedikit konflik biar tambah perfect ^^ keep writing author-nim =))))

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s