Because It’s You (Saranghae) Part 3

ul-300x192

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 3

Author: Keyindra_94

Cast: Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior,

Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment.

Dont copy paste them without my permission.

So please don’t be a silent readers.

 

OST..

Time – Woohyun ‘Infinite’

Man In Love – Infinite

Still I Miss You – Infinite

 awas ranjau Typoo…

@*@*@*@*@*

Ketika mencintai seseorang, cintai apa adanya. Jangan berharap dia yang sempurna, karena kesempurnaan adalah ketika mencinta tanpa syarat.

Cinta adalah bagaiman sebuah cara bercerita tentang dirinya, cara menatap kepergiannya dan cara tersenyum, saat menatap indah wajahnya. Percaya, Jika rasa itu telah hadir.

Apabila salah satu pintu kebahagiaan tertutup, yang lain akan terbuka tapi selalu saja suatu pandangan akan memandang pintu yang telah tertutup itu terlalu lama hingga kan kita tidak nampak pintu lain yang telah pun terbuka untuk sebuah jalan baru.

*****

Terlihat disebuah ruangan besar sesosok lelaki tua tengah terduduk sendu menatap sebuah foto, tepatnya diruangan kerjanya. Lelaki tua yang kini menjabat sebagai direktur utama salah satu perusahaan di Seoul itu terlihat merindudukan seseorang saat kedua matanya menatap nanar wajah seseorang dalam bingkai foto tersebut. Lelaki tua itu menghembuskan napas panjang  lalu bergumam pelan.

“seandainya waktu itu bisa dirubah, mungkin Abeoji akan hidup bahagia bersama kau dan keluarga kecilmu. 20 tahun lebih kau meninggalkan abeojie tanpa memberi kabar, abeojie merindukanmu. Bagaimana kabarmu?. Bagaimana kabar istri dan anak tirimu? Apakah abeojie punya cucu?. Apakah kau bahagia dengan hidupmu?.”

Rentetan pertanyaan sedih dan penuh tanda tanya itu mengalir begitu saja dari lubuk hati lelaki tua tersebut saat ia tengah merindukan putra tunggal dan semata wayangnya. Putra lelaki yang seharusnya kini menjadi pewaris tunggal  perusahaan yang ia pimpin, menjadi penggantinya saat ia ingin menikmati masa tua bersama dengan cucu-cucunya.

“Sangwoo-ah. maafkan abeojie.” Desahnya menahan pilu merindukan keberadaan putranya.”

Ckrekkk…

“abeojie..” panggil sebuah suara pelan.

Seketika lelaki tua itu tersadar dari lamunannya yang sedari tadi berpusat pada sebuah foto yang dipandangnya. Lelaki tua itu segera menutup bingkai foto tersebut dan memasukkannya kedalam laci meja kantor.

“maafkan aku abeoji. Aku lancang masuk kedalam ruangan abeojie. Ini terpaksa aku lakukan karena sudah berulang kali aku mengetuk pintu ruangan abeojie namun tak mendapat respon. Terpaksa aku masuk ruangan ini, karena client-client menunggu abeoji untuk membicarakan tender yang akan aeoji lakukan.”

“oh ne. Gwenchana. Aku akan segera menemui mereka.”

Yeoja setengah baya  itu tersenyum manis menatap lelaki itu, yang tak lain dan tak bukan adalah sang ayah. lelaki tua itu kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangannya. Sementara yeoja setengah baya itu terdiam ditempat tanpa mengikuti sang ayah berjalan.

Mata yeoja itu menelingsik dalam apa yang baru saja dilakukan sang ayah hingga sang ayah tak memperhatikan dan mempedulikan panggilan darinya. Ia rasa akhir-akhir ini sikap sang ayah cenderung suka menyendiri dan  memperhatikan sesuatu. Sejak sang ayah sakit-sakitan kembali, sifat lelaki tua itu cenderung berubah drastis. Namun apakah itu?.

Beralaskan rasa ingin tahu yang menggebu, yeoja setengah baya itu memberanikan dirinya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sang ayah. ia kunci dari dalam ruangan keja sang ayah lalu dengan lancangnya mengobrak-abrik seluruh isi ruangan tersebut.

Beberapa menit kemudian….

 

‘tidak mungkin’

“ini semua tidak mungkin.” Yeoja itu melihat dengan seksama sebuah bingkai bergambar sebuah foto yang terlihat menguning. Yeoja itu tahu bahkan mengenal betul siapa sosok yang berada didalam bingkai foto tersebut.

“Sangwoo oppa..” lirihnya.

“andwe..dia..dia..dia tak mungkin kembali..” mendadak raut wajah yeoja itu berubah drastis. Ia tak tahu mengapa, ia menjadi ketakutan seperti ini. dengan cepat ia ke,mabalikan seperti semula barang yang telah ia ambil dan segera merapikan semuanya. seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Pikiran yeoja itu kembali teringat akan kejadian lebih dari 20 tahun itu. Kejadian yang membuatnya memiliki apa yang ia inginkan bahkan ia menguasainya.

“dia tidak boleh kembali. Sangwoo oppa dan keluarganya tak boleh kembali. Jika Sangwoo oppa kembali, bagaimana nasibku dan Yoona?. Sebelum abeoji meninggal aku harus menjadikan Yoona direktur utama diperusahaan ini dan akan kupastikan jika Im Yoona-lah pewaris tunggal dari Abeojie. Bukan anak kandung Kwon Sangwoo.”

Yeoja itu tertawa penuh kemanangan diikuti senyuman licik yang tersungging dari bibirnya. Kali ini rencana harus berhasil kembali. setelah 20 tahun lalu ia berusaha meyingkirkan kakak laki-lakinya itu dengan cara menghilangkan kepercayaan yang telah dipercayakan sang ayah terhadapnya. Kali ini ia harus bisa membuat Yoona menjadi pewaris tunggal dari semua aset dan harta milik sang ayah, bukan anak kandung dari lelaki yang dianggap sebagai kakaknya itu.

*****

Sore hari. Saat senja sudah datang menghampiri ujung hari dan menggantinya dengan suasana menjelang malam yang sebnetar lagi akan datang. Gadis itu melangkah degan pelan menyusuri setiap trotoar jalan. Pandanagan mata gadis itu tak henti-hentinya berpusat pada sebuah benda persegi panjang berbentuk hitam tersebut.

Ia sadar jika malam itu sangatlah bodoh saat bertemu kembali dengan namja yang beberapa hari ini membuatnya merasakan getaran-getaran aneh dalam dirinya. Apalagi kejadian bodoh yang ia alami hingga ponsel mereka berdua bisa tertukar.

Langkah Yuri terhenti seketika saat sepasang matanya menatap lekat gedug pencakar langit yang kini berdiri tepat didepan matanya. Ya, rumah sakit tempat Kim Jongwoon bekerja. apalagi alasan mereka berdua kalau tak ingin bertemu karena asal muasal ponsel mereka yang tertukar. Yuri mengehela napas panjang sambil sebelah tangannya memegang dadanya, berusaha menagkan jantungnya yang tiba-tiba saja berdegup kencang tak menentu saat membayangkan wajah lelaki itu.

‘kau ini kenapa Kwon Yuri?.’

Dengan langkah yang sedikit ragu-ragu, gadis itu memberanikan diri menemui Kim Jongwoon. Aneh memang saat beberapa jam lalu Kim Jongwoon memintanya untuk mengantarkan ponselnya memalui pembicaraan seluler, Yuri hanya menyetujuinya tanpa pikir panjang.

‘Kim Jongwoon’

Akhirnya kini Kwon Yuri sudah tepat berada didepan ruangan kerja milik seorang dokter muda bernama Kim Jongwoon. Perasaannya menjadi ragu antara ‘ketuk atau tidak’.

‘ketuk’

‘tidak’

‘ketuk’

‘tidak’

‘ketuk saja kalau begitu.’

Perlahan tangan Yuri mengepal, dengan sedikit keberaniannya ia mulai mengetuk pintu bertuliskan papan nama seorang Kim Jongwoon tersebut. namun sebuah suara berlawanan arah tiba-tiba menegurnya.

“nona. Apa yang anda sedang lakukan?.” Tanya seseorang yang diketahui adalah seorang suster. Lebih tepatnya adalah seorang asisten dari Kim Jongwoon tersebut.

“eh?. Aku?.. aku..aku sedang..”

“jika nona ingin memeriksakan diri anda tentang penyakit anda pada dokter Kim Jongwoon, anda bisa medaftar dan mengantri disini.” Ujar suster tersebut menghampiri dan mendekati Yuri.

“tapi..tapi.tapi..aku..”

“kalau begitu, silahkan isi biodata dan keluhan yang anda alami!.” Perintah suster tersebut. pasrah, ya mau bagaimana lagi Yuri harus mengikuti aturan dirumah sakit ini. bukankah sangatlah bodoh jika dia masuk begitu saja, semata-mata hanya ingin bertemu dan mengembalikan ponsel milik lelaki i itu.

 

One hour later….

“nona Kwon Yuri.” panggilnya setelah satu jam bergelut dengan rasa kantuk karena menunggu giliran. Kini tiba saatnya ia bertemu dengan Kim Jongwoon.

Krieett…

Baru selangkah memasuki ruangan tersebut pandangan mata Yuri menangkap sesosok namja yang baru saja melepas jas kerja berwarna putihnya tersebut. tampak sangat raut wajahnya yang lelah. Mungkin seharian ini namja itu melayani pasien yang banyak. Pikir Yuri.Namun mendadak tiba-tiba saja pikiran Yuri menjadi bercabang, dibalik wajahnya yang lelah sosok kharisma dengan wajah tampan yang ada tepat didepan matanya masih Yuri dapati. Mendadak pipi Yuri bersemu merah seketika.

‘astaga kau ini kenapa Kwon Yuri. ku akui memang jika lelaki itu sangatlah tampan, walau raut wajah lelah menutupinya’

“Annyeong haseo..” sapa Yuri ramah. Sebisa mungkin ia harus menghilangkan rasa gugupnya didepan namja ini. Namja itu spontan mendongak, mendapati sosok yang ia kenal dan juga membuat akhir-akhir ini tak bisa tidur karena memikirkannya.

“oh, ne..Kwon Yuri-sshi?. Duduklah!.” Perintahnya. Jongwoon menatap dengan seksama yeoja yang kini berada didepannya. Jongwoon bersikap datar seoalah-olah ia bersikap profesionalisme, namun tak dapat dipungkiri jika kedatangan Kwon Yuri yang tiba-tiba seperti ini menimbulkan efek yang bergejolak pada perasannya.

“ada yang bisa kubantu?. Ceritakan apa keluhanmu?. Mungkin aku bisa mengobati penyakitmu?.”

Mendengar rentetan pertanyaan itu spontan Yuri terdiam bingung. Sakit?. Dia tidak sedang sakit. Bukankah namja didepannya ini yang beberapa jam lalu menghubunginya dan memintanya untuk menemuinya. jinja?. Apakah lelaki ini mempunyai sifat pelupa?.

“eh?. Sakit?. Anii..aniii..aku datang kemari untuk memberikan ponsel anda dan meminta ponsel saya yang anda bawa kemarin?.”

“ponsel?.” Jongwoon mengernyit bingung.

“ne, aku meminta ponselku kembali dan menyerahkan ponsel milik anda. Ponsel kita tertukar.” Ucap Yuri pada akhirnya. Ia menatap Jongwoon sekilas yang menautkan salah satu alisnya.

“ah..ne aku lupa jika memintamu datang kemari untuk menukarkan ponsel kita masing-masing.” Sejenak Jongwoon mengeluarkan benda yang serupa pula dengan apa yang dimiliki Yuri. Namja itu kembali tersenyum manis seraya meletakkan ponsel tersebut diatas meja.

“Gamshamida dokter Kim. Mianhae atas kecerobohanku dua hari lalu. ne, saya permisi dahulu.” Yuri menundukkan badan seraya berpamitan pada Jongwoon, ia tak mau semakin dekat dengannya rasa gugup dan jantung berdebar itu semakin menderanya saat dirinya berada didekat Kim Jongwoon.

Baru beberapa langkah Yuri berjalan dan memutar knop pintu yang berada didepannya, sebuah tangan menarik pergelangan tangannya hingga yeoja itu membalikkan badan seketika dan menatap sosok Jongwoon kembali. tapi kali ini lebih dekat. “eeuhhmm Yuri-sshi. Jika kau tak keberatan bisakah kau menerima ajakku untuk makan malam bersama?. Aku juga minta maaf atas kecerobohanku. Aku mohon kau jangan menolaknya.”

“anggap ini sebagai permohonan maafku akibat kecelakaan waktu itu dan kecerobohanku karena membawa ponselmu begitu saja. jadi..bagaimana?.”

*****

Hari ini adalah tepat dimana ia tak bisa mengelak lagi dengan berbagai alasan. Lebih tepatnya hari ini memang sang eomma sudah mengatur acara pertemuan keluarga ini. raut wajah seorang Im Yoona mendadak menjadi tegang seketika. Hari ini ia akan bertemu dengan seorang lelaki yang akan dijodohkannya. Tetapi ia harus optimistik, ia bisa menerima kenyataan itu. Setidaknya itu pernyataan yang telah diucapkan Jongwoon pada dirinya.

“Yoong..kau tak usah tegang. Tenanglah.” Ucap sang kakek sambil mengusap pelan punggung Yoona.

“anii harabojie. Aku sedang tidak tegang sePerti apa yang harabeojie pikirkan.” Yoona tersenyum kikuk saat ia kini tak tahu harus melakukan apa selain menuruti permintaan sang ibu dan sang kakek.

“annyeong haseo.” Sapa sang kakek ramah saat melihat dua orang yang duduk dan sedang berbincang.

“oh, ne annyeong haseo Hyukjoon. Duduklah..bagaimana kabar kalian semua dan tentunya cucumu?. Apakah itu cucumu?.”

“aku dan Hyorin baik-baik saja. lihatlah cucuku. Bukankah dia sangat cantik?.” Lelaki itu menunjuk dan menatap kearah Yoona setelah sang kakek memperkenalkan Yoona dihadapan kedua orang tersebut.

“Yoong perkenalkan dirimu pada keluarga Choi.” Sang eomma sedikit menyenggol tangan Yoona pelan, kontan Yoona pun kemudian mencoba tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Sepertinya wajah lelaki paruh baya tesebut mirip dengan seseorang?. Tapi siapakah orang tersebut?.

“Joneun Im Yoona imnida, Bangapseuminida.”

“marga kalian berbeda?.” Kali ini yeoja disamping tuan Choi tersebut bertanya dengan heran.

“ne, Yoona mengikuti marga ayahnya. Karena Hyorin adalah putriku, maka mau tak mau cucuku harus bermarga sama dengan ayahnya.” Ucap sang kakek ringan.

Mereka berbicara dalam rona kehangatan layaknya sebuah keluarga yang saling mengenal. Beberapa menit kemudian saat mereka semua terlibat dalam pembicaraan ringan. Sesosok lelaki tiba-tiba muncul menghampiri meja tempat mereka semua berkumpul dan menikmati hidangan. Seketika itu pandangan mata Yoona berpusat pada sosok seseorang didepannya. Yoona berusaha melihat wajahnya. Sepertinya ia mengenal lelaki itu. Ya Tuhan, Ia tak mempercaya semua ini. Yoona sangat mengenal sosok lelaki itu, lelaki yang beberapa hari lalu menonton bioskop bersamanya.

“jeongsohamnida. Jeongmal mianhae aku tid….” kata-kata itu terhenti seketika saat mata milik lelaki itu menatap Yoona pula. Alangkah terkejutnya mereka berdua.

“Tuan Choi Siwon..” pekik Yoona terkaget.

“nona Im Yoona-sshi?.” Timpal mereka bersamaan. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.

Apakah mereka berdua mimpi bisa bertemu mendadak dalam keadaan seperti ini?. bahkan mereka berdua tidak mempercayainya sama sekali. Ternyata mereka berdua adalah korban perjodohan dari orang tua mereka masing-masing.

“jadi kalian sudah saling mengenal?.” Tanya kakek Yoona dengan mata yang berbinar senang.

“syukurlah kalau begitu. Pasti semuanya akan berjalan lancar.” Seloroh nyonya Choi sambil tersenyum sangat lebar. Mereka berdua memilih untuk terdiam dan tentu saja Yoona hanya bisa diam sambil sesekali meminum minumannya.

“kalian pasti mengerti maksud dari pertemuan ini?.” mereka berdua lantas mengangguk.

“kalian mempunyai waktu beberapa bulan untuk saling mengenal terlebih dahulu. Jadi siapkan diri kalian untuk segeran menikah.” Jelas Harabojie. Terlihat sangat raut wajah keduanya jelas begitu terkaget.

“tap..tapi..harabeojie.” elak Yoona.

“Siwon-ah. kalian berdua butuh penjajakan hubungan untuk lebih saling mengenal lagi. Bukankah kalian sudah saling mengenal, pasti kalian berdua akan cepat akrab.”   Mau tak mau itu pun harus dilakukan Siwon. dengan rasa canggung yang masih menghinggap Siwon memberanikan dirinya menggapai tangan Yoona dan menggenggamnya. Seketika itu Yoona menatapnya dan mau tak mau membalasnya dengan senyuman.

“kalian pergilah!. Kalian butuh waktu untuk saling berdua!.”

30 minutes later @Han River….

Kedua insan tersebut sama-sama terdiam tak tahu topik apa yang aka mereka berdua bicarakan. Mereka berdua terduduk didekat bibir sungai Han River tak jauh dari temapat parkiran mobil Siwon.

“Yoona-sshi..’” panggil Siwon pelan.

“pernahkah kau berpikir tentang semua ini?.”

“aniyo..sama sekali tak terpikirkan olehku tentang pertemuan kita kembali.”

“kau tahu pertemuan kita direstaurant untuk makan siang, kita tak sengaja menonton bioskop bersama, dan kejadian hari ini adalah karena satu hal..” ucap Siwon menggantung.

“apa itu?.” Tanya Yoona penasaran.

“Takdir. Ya,takdir Tuhan yang mempertemukan kita. Sungguh aku tidak akan memaksakan pernikahan ini jika kau tidak merasa nyaman,aku juga harus menyiapkan banyak hal sebelum itu terjadi. Aku tak akan memaksakan semuanya.”

“aku juga tak tahu. Kita serahkan saja semuanya pada Tuhan seiring berjalannya waktu. Apa hatiku bisa menerimamu atau tidak.”

Keduanya tersenyum lega  atas lontaran perkataan yang baru saja diucapkannya tadi. Ya mereka berdua tak langsung menelan secara utuh keinginan keluarga mereka masing-masing. Jika perasaan mereka masih berpusat pada sosok yang masih membayang-bayangi perasaan mereka.

*****

Sejauh mata memandang terlihat jelas garis cakrawala pantai nan indah saat sang surya telah tenggelam, terganti dengan suasana malam yang cukup indah dimusim semi seperti ini. Suara ombak berdesir ditepi pantai menggambarkan suasana malam yang indah.

Terlihat dua sosok kini saling berhadapan duduk ditepi pantai dengan menatap meja makan yang kini berada didepannya. Mereka berdua sibuk dengan perasaan masing-masing dan rasa yang bergulat dalam diri mereka. Kwon Yuri, sedari tadi duduk sambil merundukkan kepalanya sambil sesekali menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Sementara Kim Jongwoon masih sibuk dengan pandangannya menatap Yuri yang terlihat lucu dalam pandangannya. Hingga akhirnya mereka berdua larut dalam pembicaraan ringan.

“aku tak tahu jika anda adalah lulusan New York. Bukankah sangat hebat jika dalam usia semuda ini anda sudah menyandang sebagai dokter ahli bedah.” Puji Yuri. Gadis itu tertawa pelan saat suasana antara dirinya dengan Kim Jongwoon menjadi lebih akrab.

“kau ini bisa saja. aku seperti ini karena ada alasan yang mendasari. Ya, alasan utama yang mendasariku untuk mengambil keputusan untuk belajar tentang ilmu kedokteran.”

“Alasan?.”

“ya. Alasan mendasar yang menyebabkan aku menjadi seperti ini. alasan karena seseorang. Aku tak tahu orang itu lebih tepatnya siapa tapi yang aku tahu dia adalah seorang yeoja.” Desisnya pelan.

“apa dia kekasih anda dokter Kim?.” Tanya Yuri penasaran. Sesaat kemudian ia tersadar jika pertanyaan yang ia lontarkan terlalu jauh dari topik pembahasan mereka berdua. “ah, ne. Mianhae jika aku terlalu lancang menanyakan kehidupan anda.”

“tak apa. Aku malah senang jika bisa berbagi dengan seseorang tentang kisah hidupku.” Ujarnya tersenyum simpul yang menghiasi wajah tampannya.  Itu cukup membuat jantung Yuri berdegup kencang.

“dia bukan kekasihku. Namun dia adalah penyelamat nyawaku saat kecelakaan 4 tahun lalu di New York. Aku tak tahu siapa gadis itu, tapi bagiku gadis itu adalah malaikat penolongku. Dan alasan itu lah yang mendasariku melanjutkan study-ku. Aku ingin membantu gadis itu seandainya ia terluka karena menyelamatkanku. Dan aku berjanji akan menebus semua pengorbanan yang telah diberikannya padaku.”

Yuri sejenak terdiam mendengar cerita seksama sedikit pengalaman hidup Jongwoon. Gadis itu terenyuh seketika. Ia tak bisa membayangkan jika sosok yang kini berada didepan matanya pernah mengalami kecelakaan yang tragis. “dokter Kim..” panggilnya lirih.

“jika Tuhan menakdirkan anda untuk bertemu kembali dengan gadis tersebut maka akan ada banyak jalan anda terbuka untuk sekedar membalas jasa gadis tersebut. jadi yakinlah suatu hari nanti kalian pasti akan dipertemukan. Jika tidak Tuhan pasati menyiapkan rencana yang terbaik untuk kalian berdua.”

“ne..semoga saja.”

“berbicara tentang New York. Beberapa tahun lalu aku juga pernah mengalami insiden kecelakaan yang menakutkan pula disana. Aku tak tahu kapan kejadian itu terjadi. Yang aku ingat aku datang ke New York untuk mencari seseorang. Seseorang yang membuat kakak lelakiku jatuh terpuruk akan sebuah pengkhiatan. Ayah Hana sangat mencintai orang itu namun kecelakaan itu pula yang menghentikan upaya pencarianku untuk mencari ibu kandung Hana.”

“tapi aku percaya semua akan indah pada waktunya.” Lanjut Yuri mendesah lega. Ia mencoba memaksakan senyumnya.

“Kwon YuriI-sshi. Ayo kita menghibur diri kita. Sepertinya bulan sedang bersinar dengan indahnya. Ayo kita lihat lebih dekat lagi.”

Tangan Jongwoon menggandeng Yuri secara tak sengaja. Ia mengajak gadis itu berjalan cepat menuju tepi pantai untuk berdiri menatap indahnya malam dengan berbagai bintang yang menghiasinya.

Byurr..

“hei sudahlah jangan terlalu memikirkan masalahmu. Bukankah kau bilang sendiri jika semua indah pada waktunya.” Jongwoon terkekeh pelan seraya mencipratkan air ke wajah Yuri. gadis itu terhenyak seketika saat menyadari wajahnya basah seketika terkena air. entah apa yang memberanikan dirinya, Yuri berani membalas  perlakuan Kim Jongwoon dengan mecipratkan air pula pada wajah dan pakaian yang dikenakan olehnya.

Setengah jam mereka larut akan suasana kebersamaan yang indah itu. Kebersamaan yang tak mereka duga akan se-erat ini. Keduanya terlalu asyik dengan permainan yang mereka ciptakan sendiri. Hingga tak sadar jika malam sudah menjelang akan larut.

“eeuuhmm..dokter Kim. Sepertinya saya harus pulang. Ini sudah terlalu malam. Hana pasti menanyakan keberadaanku. Mianhae, tak bisa menemani anda lebih lama lagi.”

Jongwoon melirik arloji yang ia kenakan. Benar, ternyata waktu sudah menjelang malam. Ia harus segera bertanggung jawab memulangkan gadis ini. tangan Jongwoon mengulur pelan, kembali mengajak gadis itu untuk bergandengan tangan dengannya. “ayo..”

“eh?.” Seketika itu Yuri kembali salah tingkah hanya untuk menyambut uluran tangan namja itu. Dan tanpa diduga olehnya, tangan Yuri ditarik cepak oleh Jongwoon. Lelaki itu menggenggam tangannya erat.

‘Tuhan. Kenapa lelaki ini membuat jantungku berdebar tak karuan?’

 

Beberapa saat kemudian….

 

“Kwon Yuri-sshi. kita sudah sampai. Terima kasih kau mau menemaniku dan menerima tawaranku untuk makan malam bersama. Jujur baru kali ini aku mempunyai teman wanita sepertimu. Kau wanita hebat, bahkan diusia semuda ini kau mampu menghidupi seorang putri. Dan…”

Merasa tak mendapat respon Jongwoon pun melirik sosok yeoja yang berada disebelahnya. Ternyata dia sedang tidur. Jika dilihat lebih seksama ternyata wajah gadis ini tak pernah hilang kecantikannya, bahkah lebih cantik saat ia tertisur seperti ini. dengan mengumpulkan keberaniannya ia memberanikan diri menatap lekat wajah Yuri. entah alasan apa yang mendasarinya hingga lelaki itu merendahkan badannya dan mendongakkan kepalanya melihat tepat dari bawah dagunya, hanya untuk sekedar memandang lekat dari dekat wajah Kwon Yuri tersebut.

~Chuuppp..

Tanpa sengaja kepala Yuri terantuk kedepan karena begitu lelahnya tertidur. Ia tak sadar jika kini keduanya tengah menempelkan bibir secara tak sengaja. Jongwoon terbelalak kaget taat kala bibir gadis itu tak sengaja menempel dibibirnya. Ia merasakan sebuah rasa didalam hatinya yang begitu tak tentu.

‘apakah ia jatuh cinta?.’

Merasa ada sesuatu yang aneh Yuri mencoba membuka matanya. Ia tak sadar jika kini keduanya tengah menempelkan  bibir satu sama lain tanpa ada jarak sedikitpun. Spontanitas keduanya yang tersadar akan hal tersebut lalu menjauhkan dirinya masing-masing. Beberapa detik mereka merasakan ada sesuatu kecanggungan yang mendera karena kejadian tak disengaja itu.

“aku permisi dahulu dokter Kim.” Ujar Yuri seraya membuka pintu mobil dan mengeluarkan sebelah kakinya untuk keluar. Namun tanpa diduga kembali sebuah tangan menariknya pelan tanpa dan menghentikan langkahnya.

“mianhae..aku tak sengaja tadi. Tapi..aku..” sesal Jongwoon menatap sendu wajah Yuri.

“anii,, gwenchana..” ujar  mengakhiri pembicaraan lalu melepas tangan Jongwoon dan setelah itu keluar.

*****

Yoona berjalan pelan menuju kamarnya. Rasanya hari ini memang aneh. Bertemu dengan seorang lelaki yang baru saja ia kenal dan perjodohan gila yang diatur oleh harabojienya. Sungguh bahkan untuk mencari kebebasan pun rasanya Yoona sangat sulit. Hidupnya kini seakan ada diujung tanduk. Disatu sisi ia memilih tak ingin mengecewakan sang harabeojie karena ia terlalu menyayangi sang kakek tersebut, tapi disisi lain ia tak bisa membohongi perasaannya jika satu-satunya lelaki yang ia cintai hingga saat ini adalah ‘Kim Jongwoon’. Meski ia tak menampik kehadiran Choi Siwon dalam hidupnya.

“arrghh..” Yoona mengacak rambutnya frustasi. Ia menatap kacaunya dirinya didepan cermin. Mendadak pikirannya tertuju pada sebuah ponsel yang tergeletak didepan matanya.

‘Amber Liu. Cepat jemput aku secepatnya.. arraseo, aku butuh ketenangan saat ini juga.’

Klik..Yoona memantikan ponselnya. Gadis itu lantas mengganti gaun yang ia gunakan sedari tadi dengan pakaian clubbing, serta berdandan sedikit dan menggerai rambut panjangnya. Sepertinya clubbing adalah solusi untuk menghilangkan stress. Ia sudah jenuh dengan hidupnya yang sudah diatur. Sedetik kemudian Yoona menatap dirinya yang terpantul pada cermin tersebut. “It’s my lucky day.”

Tidak ada kata hari keberuntungan saat hidupnya kini berhubungan dengan kata ‘clubbing’. Ia ingin melupakan semuanya, ia ingin menjadi Im Yoona yang seutuhnya.

Gadis itu melangkah dengan pelan, mengendap-endap keluar rumah. Ia rasa ini sudah waktu masuk jam tidur bagi ibu dan kakeknya. Ia keluar dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, ia memberanikan diri untuk keluar rumah dengan memanjat pagar pintu keluar rumahnya. Saat ia mendapati mobil audy berwarna merah tersebut tepat berhenti didepannya.

Blamm..

“malam ini aku ingin besenang-senang hingga pagi. berapapun itu akan kubayar, jika hidupku tak diatur lagi. Aku ingin melupakan semuanya.” Ucap Yoona pada seorang yeoja yang duduk tepat didepan kemudi. Lalu sesaat kemudian yeoja muda itu dengan cepat melajukan mobilnya menjauhi tempat tersebut.

 

Sementara itu ditempat lain…

 

Selembar surat menguntai terjatuh kebawah. Warna putih surat tersebut sudah tampak hampir menguning. Surat tersebut telihat sangat rapi tersimpan disebuah kotak berbentuk persegi panjang bersama dengan benda-benda kenangan lainnya.

Choi Siwon menatap haru sebuah surat yang baru saja ia baca. Surat terakhir yang ia terima dari sosok sahabat dekat yang ia kenal 7 tahun lalu. pria itu menggumam pelan seraya mencari sebuah gambar yang masih juga tersimpan rapi pada kotak tersebut. Mata lelaki itu kemudian membentuk lengkungan tanda kebahagiaan saat detik selanjutnya ia memandang foto dirinya dan sosok sahabatnya.

“bagaimana kabarmu?. 7 tahun berlalu seperti apa dirimu saat ini?. terakhir kali kita berkomunikasi dengan surat yang kau berikan padaku. Bukankah kita berdua pernah berjanji, jika kelak kita dewasa nanti kita akan saling memperkenalkan yeojachingu kita masing-masing. Kau beruntung karena dalam surat ini kau menceritakan bagaimana hubunganmu dengan gadis yang kau kenal dan amat kau sayangi.”

Detik berikutnya Siwon kembali membuka kotak tersebut yang menampilkan sebuah foto pula.  Namun bukan foto sosok sahabatnya melainkan foto seorang gadis yang nampak tersenyum dengan gaun pengantin yang membalut tubuhnya. Ya. Bahkan foto tersebut baru saja diambil dan dikirim dari Las Vegas dua hari lalu.

“miyoung-ah. selamat menempuh hidup baru. Aku mencintaimu. Aku telah menepati janjiku untuk mencari yeoja lain dan melupakanmu. Setidaknya aku akan mencoba melupakan dirimu meski hatiku masih ada untukmu. saranghae Hwang Miyoung..” Siwon mengecup foto tersebut penuh kasih.

“sesuai janjiku aku tak mau kalah dari Donghae-ya. Meski cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi aku tak mau patah arah begitu saja. Hari ini aku bertemu dengan sosok wanita lain, ya semoga wanita itu bisa membuatku melupakan Hwang Miyoung.”

“Donghae-ya. Aku tak sabar ingin bertemu denganmu.”

*****

Sinar matahari tepat sudah berada diujung kepala.  Perlahan sosok seorang gadis yang tertidur dengan nyenyaknya mulai membuka kedua matanya saat sinar matahari mulai menelungsup masuk melalui celah jendela kecil didepannya.

Berkali-kali gadis itu mengerjapkankan matanya beusaha menyesuaikan cahaya diruagan itu. Begitu ia dapat Begitu ia dapat menangkap semua pantulan cahaya yang ada, ia mengarahkan pandangannya kesekeliling ruangan dan dapat dilihatnya sesosok dua perempuan yang jug tidur satu ranjanga yang sama dengannya,

“dimana ini?.” gumam Yoona bingung ambil berusaha mengingat-ingat kejadian yang terjadi pada dirinya. “arrgh..kepalaku..” Yoona memijit kepalanya yang terasa pusing dan berat. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam.

“Amber Liu. Irreona. Ini jam berapa?.” Tanya Yoona setelah tersadar.

“aku masih mengantuk Yoong. Jangan ganggu aku!.”

Sepertinya semalam mabuk berat hingga ia ta sadarkan diri seperti ini. perlahan mata Yoona melirik  jam yang berada disebelahnya. Jam 11 siang. “oh.” Gumamnya pelan.

“MWORAGO!!.” Teriaknya begitu saja saat waktu sudah menunjukkan tenagh hari. Ia teringat akan sesuatu jika hari ini ada beberapa deadline yang menunggu untuk segera dikerjakan.

“bisakah kau tak berteriak seperti ini Im Yoona!!. Aku masih mengantuk!!.” Teriakan Yoona pun dibalas oleh teriakan pula. Tanpa pikir panjang lagi diambilnya sebuah kunci yang kini berada didekatnya lalu pergi keluar dari hotel tersebut.

Bodoh!

Berkali-kali kalimat itu keluar dari mulut Im Yoona. Gadis itu kini berhenti tepat didepan sebuah boutique. Ia tak mungkin kembali ke kantor dan kerumahnya dalam keadaan pulang clubbing seperti ini. ia tahu, pasti akan menjadi mangsa dari ibunya sendiri.

Dengan langkah pelan Yoona keluar dari boutique tersebut seraya tersenyum lebar. Ia rasa tak sulit baginya untuk mengganti sebah penampilan. Hobinya clubbing tak menjadikan dirinya sebagai sosok gadia yang bisa munafik atas kehidupan yang ia dapat.

“ahjumma..”

Sebuah panggilan tak terduga dari sebuah suara memanggil Yoona dari arah berlawanan dilihatnya sesosok gadis kecil yang cantik tengah menatapnya dengan polos dan lugu.

“kau memanggilku?.” Tanya Yoona menata gadis kecil itu. Gadis kecil itu mengangguk kecil seraya mendekati seorang Yoona yang akan membuka pintu mobil.

“ini!.” ujarnya pada Yoona. Sesaat kemudian gadis kecil itu memberikan sesuatu pada Yoona. Yoona terhera seketika saat gadis kecil itu memberikan sebuah benda yang tak asing baginya. Dompet miliknya, mengapa bisa da ditangan gadis kecil itu?.

“ahjumma. Apa ini milikmu?.” Tanya gadis kecil itu sekali lagi.

“ah..ne. ini dompet milikku. Darimana kau mendapatkannya?.”

“tadi terjatuh saat ahjumma baru saja keluar dari toko tersebut.” gadis kecil itu tersenyum kembali. sekilas raut muka kedamaian yang penuh senyuman terpancar jelas dari wajah gadis kecil tersebut.

“hey. Mianhae ahujmma tak memperhatikanmu. Tapi jeongmal gomawoyo. Kau gadis kecil yang baik.”

“gwenchana ahjumma.”

“siapa namamu cantik?. Dimana orang tuamu?. Sepertinya kau barusaja pulang sekolah?.”tanya Yoona.

Gadis kecil itu mengangguk pelan. “Kwon Hana. Ahjumma bisa memanggilku Hana. Ahjumma neoumu yeppeo.”

“gomawo chagi. Berapa usiamu?. Dan dimana orang tuamu?. Yoona tersenyum kecil lalu mengusap pelan kepala Hana seraya mensejajarkan dirinya dengan tubuh kecil Hana.

“6 tahun ahjumma. Aku sedang berjalan-jalan sendiri dan menunggu bibiku untuk menjemput. Sebentar lagi Soojung ahjumma pasti akan datang.”

“bolehkah ahjumma menemanimu disini?.” Yoona memandang sejenak gadis kecil tersebut. ia merasakan sesuatu yang aneh saat ia mengamati dengan seksama wajah gadis kecil tersebut, namun ia tak tahu apakah itu.  Ada sesuatu yang berbeda dari dalam diri gadis kecil itu. Wajahnya seakan mengingatkan dirinya pada sesuatu. Tapi apa?.

*****

Kwon Yuri berjalan dengan santai tanpa mempedulikan pemandangan lalu lalang kampus disekitanrnya. Jangankan memperhatika keadaan sekitar, sejak kemarin ia bahkan tak bisa tertidur dengan nyenyak akibat kejadian yang selalu membuat jantungnya ingin melompat begitu saja. dimatanya kejadian kemarin adalah kejadian pertama untuknya saat berhadapan dengan namja. Namja itu selalu membuat hatinya berdebar tak karuan, namja itu yang membuat dirinya terlihat bodoh selalu dihadpannya, namja itu yang selalu membuat ia memikirkannya, dan namja itu pulalah yang mencuri first kiss nya. untuk pertama kalinnya. Dan entah mengapa ia justru tak membenci namja tersebut melainkan semakin memikirkan namja itu.

Yuri berjalan dengan dengan pikiran tak menentu, matanya tiba-tiba saja menangkap sosok seorang Kim Jongwoon kini berada didepannya dengan senyuaman manis yang menyambutnya, Jongwoon tersenyum manis seraya melambaikan tangannya menatap wajah Yuri. sedetik kemudian entah mengapa Yuri membalasnya dengan senyuman pula, ia terlalu bahagia saat lelaki itu membalasnya. Dan tanpa sadar yeoja itu melambaikan tangannya pula.

Namun sesaat kemudian wajah Kim Jongwoon berubah menjadi sosok seorang pria paruh baya dengan wajah diam yang mematikan. Yuri mengerjapkan matanya sesaat mengapa wajah Kim Jongwoon menjadi sangat mirip dengan dosen paling menatikan dijurusannya.

“Kwon Yuri-sshi. Apa yang kau lakukan?.” Tegur pria paruh baya tersebut saat melihat mahasiswa didikannya tersenyum sendiri layaknya orang yang tak waras.

“eh?. Kenapa wajah dokter Kim berubah menjadi seperti Yoon songsaemin?.” Tanya Yuri dengan polosnya, masih belum tersadar sepenuhnya dan menganggap jika orang didepannya tersebut adalah Kim Jongwoon.

“aku memang Yoon songsemin. Jika kau sedang dalam keadaan mabuk lebih baik kau jangan memasuki kelas!.” Ujarnya sedikit keras. Seketika itu Yuri tersadar dan menatap orang didepannya tersebut yang ternyata benar adalah songsaeminnya tersebut

“ah..mianhae..mianhae..mianhae..jeongmal mianhae..songsaemin. aku tak tahu jika it anda..saya pikir ada..”

“AKU SIAPA HEH?!.” Ucapnya sakartis layaknya harimau yang mau menelan mangsanya bulat-bulat. “cepat masuk kelas!.”

“ne..ne..gomawo..songsaemin..” ujarnya.

Plak…

Yuri menampar pipinya pelan serta tak lupa memukul kepalanya. Berharap semuanya adalah mimpi. Dan benar memang semuanya adalah fatamorgana dari Kim Jongwoon yang menghantui dirinya. Kenapa ia memikirkn lelaki itu?.

Kembali Yuri melanjutkan langkahnya memasuki kelas, ia melihat sekilas dari luar ruangan siapa yang mengajar. Lalu menghembuskan napasnya pelan. Sepertinya dosen baru kini yang tengah mengajar dikelasnya. Dengan hati-hati ia memasuki kelas dan duduk disebuah bangku kosong didekat teman baiknya. Kim Taeyeon.

“apakah dia dosen baru?.” Bisiknya pada Taeyeon.

“ne. Bukankah dia sangat tampan bukan. Dosen tersebut baru saja di­-import dari amerika. Tampan, muda pula. Begitu beruntungnya diriku bisa memiliki dosen seperti Choi Siwon songsaemin tersebut.”

“mwo?.” Oh. Jadi ia memiliki nama Choi Siwon. tapi ia tak heran juga. Mengapa para gadis-gadis yang menjadi teman sekelasnya menyimak dengan seksama apa yang tengah dijelaskan oleh dosen tampan tersebut.

Pandangan mata Yuri kini berubah kembali saat ia mentap dan menyimak penjelasan dosen tersebut. Wajah dosen muda tersebut berubah seketika menjadi Kim Jongwoon. Kim Jongwoon kini tengah memasukkan satu tangannya kesaku celana dan tersenyum manis pada Yuri. sedetik kemudian namja itu mengeluarkan sesuatu dibalik tangannya, sebuket bunga mawar merah yang akan ia berikan pada Yuri. Yuri kemudian menundukkan kepalanya saat wajahnya bersemu merah. Ia rasa hari ini harinya dipenuhi oleh sosok Kim Jongwoon.

“Kwon Yuri..saranghae..”

“nado..dokter Kim.” Yuri mengerjapkan mataya berharap itu adalah sebuah kenyataan. Satu tangannya menyangga rahang sambil menatap lelaki tersebut kini ia tersenyum sendiri.

PLUKK..

Sebuah lemparan kapur tulis sukses mendarat dikepalanya dari arah depan. seketika itu membuyarkan lamunannya dari seorang Kim Jongwoon.  “hey, nona jika kau tak ada niat untuk mengikuti kelasku, silahkan keluar dari kelas ini!.”

“siapa namamu!.” Tanya dosen Choi tersebut.

“Kwon Yuri.”

“oh, nona Kwon silahkan kau keluar kelas jika kau tak memperhatikan apa yang ku jelaskan!.”

“Kwon Yuri!.” desis sahabatnya yang mengetahui jika temannya kini tengah bersikap aneh.

*****

Jongwoon dan Yoona. Kedua insan tersebut kini tengah duduk berdua saling berhadapan. Keduanya tengah saling berkonsetrasi pada makan yang kini tersedia didepan matanya. Sesekali Yoona bercerita seputar kejadia yang ia alami beberapa hari lalu.

“Yoong, bagaimana acara pertemuannya?.” Tanya Jongwoon ingin tahu.

“pertemuan?.”

“ne, acara perjodohan antara dirimu dengan rekan bisnis harabojie mu?. Apa kau sudah mencintainya?.”

“ya!. Pertanyaan bodoh macam apa itu yang kau katakan barusan Jongwoon oppa?.” mendadak Yoona memekik kesal kearah Jongwoon yang justru ditanggapi gelak tawa dari Jongwoon.

“entahlah oppa. aku tak tahu. Lelaki itu tampan, cerdas dan berkharisma pula. Aku belum bisa menerimanya oppa. tapi hatiku juga tak bisa menolak akan kehadirannya.”

“kau hanya perlu bersabar Yoong. semuanya butuh proses. Aku tahu kau bisa menerima kehadiran lelaki itu.” Ujar Jongwoon seraya mengusap pelan pundak Yoona.

‘apakah aku bisa oppa. Jika seluruh hatiku kini hanya untukmu. aku mencintaimu oppa. bisakah kau sedikit saja mengerti tentang isi hatiku?.’

“aku akan mencobanya oppa. Semoga ia tahu dan mengerti isi hatiku.” Sebenarya perkataan Yoona menjurus pada sosok Kim Jongwoon, namun lelaki itu seakan tak menyadarinya jika gadis didepan matanya sekaligus teman baiknya itu kini mencintainya.

“Yoong. Aku ingin bertanya padamu. Apakah ciri-ciri orang sedang jatuh cinta?”

“mworago?.” Kaget Yoona.

“ne. Sepertinya syndrome jatuh cinta kini sedang menghampiriku.”

“kau jatuh cinta lagi oppa?.” ujar Yoona tak percaya.

“entahlah. Setelah sekian lama hatiku kosong karena seseorang. Sekarang aku mulai membuka hatiku kembali dengan menerima sosok dirinya.”

“maksudmu oppa.”

“aku tak tahu sejak kapan aku mencintainya. Yang jelas, kini hatiku sudah berpusat padanya.”

Cukup sudah terhenti sekarang perjalanan mendapatkan hati Kim Jongwoon. Elaki itu kini sudah mencitai seseorang. Tapi haruskah ia rela melihat hati Kim Jongwoon dimiliki seseorang selain dirinya?.

“nugu oppa?..”

“kau pernah bertemu dengannya saat dirumah sakit waktu itu Yoong. Dialah orangnya. Kwon Yuri, yeoja itu yang membuat aku bisa merasakan cinta kembali setelah hubunganku berakhir denga Park Jiyeon.

“tunggu dulu oppa?. yeoja itu..bukankah yeoja itu…” ucapnya menggantung sebelum ia kembali menatap seksama raut wajah Jongwoon.

__TBC__

 

Kaburr…lari….seret Woohyun Infinite..#kekekeke

ahjdfjhgnjhgt gj….ancur lagi cerita yang aku buat..

Mian baru nongoll..hehehe..#diseret readers..

Jeongmal mianhe ceritanya semakin gak jelas jluntrngannya..jangan salahkan saya, salahkan ide saya yang mampet bin seret ini..

Oke dipart ini aku mulai membuka konfliknya sedikit demi sedikit..jd jika kalian komplain banyak part Yulsungnya, itu karena mereka berdua adalah pembuka masalah yang akan menuju masalah  pada couple Yoona-Siwon.. dan untuk part Hana..aku akan sajikan di next episode..

Oke sekian dulu, author harap readers banyak yang comment jd biar semangat ngelanjutinnya.. yg jd silent readers author harap segeralah bertaubat..kali ini aku butuh minimal 40 comment biar part selanjutnya bisa publish cepat..

Jangan heran juga jika author menyarankan agar dengerin tu lagu Infinite..#maklum ane Inspirit..kekeke..

Ok sekian..pai..pai….#tebar cium….#big hug..

 

90 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 3

  1. Tuh kan mereka Jadi Jatuh cinta :)….mwo jadi Eommany Yoona itu jahat -_-…bagus deh siwon di jodohin sama Yoona biar bisa move on dari Tiffany eonni hahaha

  2. Yeoja itu kenapa emgnya eonn?? Kepooo kadar akut nihh bacanya kkk^^ bingung deh sebenrnya hana anknya yoong eonnie bukan si-_- ?
    Tak banyak cincong deh, ditunggu kelanjutannya ne eonn, trs hrs bkn happy ending^^fighting;;)

  3. awal bc ff ngira hana anaknya yuri krn langsung loncat part n trus mundur lg k part awal karena trnyt ff ny bagus banget,
    selain krn paling suka dgn ff yg jongwoon maincastny (specialis reader dgn kim jongwoon as main cast) , aplg dgn yuri pairingnya,

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s